Posted by: Ahmad Gaus | November 29, 2012

Kota-kota dalam Koloni Airmata

Kota-kota dalam Koloni Airmata
Puisi Ahmad Gaus

Hujan menepi pada dinding beton rumah-rumah yang menyekap ingatan tentang rasa sakit. Sejarah yang dikubur oleh cairan timah yang membeku dalam tubuh orang-orang yang mengaumkan kepedihan. Dalam reportoar para pembenci di atas panggung yang disulap menjadi zona perang.

Para penjaga malam negeri ini menjerit kesakitan. Mencabut luka satu demi satu reruntuhan peradaban yang telah asing. Orang-orang menjelma serigala—mencabik-cabik tubuh mereka sendiri, menggali urat nadi untuk menghanyutkan rasa sakit yang mengeras dalam genangan darah.

Mereka berbaris membentuk pasukan burung, berarak di atas langit yang robek oleh desingan peluru. Para malaikat melantunkan salawat, memisahkan roh-roh jahat dari butiran hujan—sebab hujan adalah airmata yang menguap ke angkasa, tangisan yang direnggut penguasa-penguasa durjana.

Kota-kota kini dalam koloni airmata dan kabut dan dingin yang menebal di setiap persendian. Orang-orang bergegas memburu bayangan langit yang runtuh menjadi percikan api. Semua mimpi berserakan dan terbakar. Sebab mereka tak mampu lagi membedakan warna senja dan fajar yang mulai menyingsing di kaki bukit.


Responses

  1. apa yahh artinya puisi ini, bingung..

  2. the amazing poem, but i dont understand🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: