Tiga Puisi Cinta

floating-leaf

Puisi-Puisi Ahmad Gaus

 

SERIBU TAHUN LAGI

Kulayari malam dengan perahu

selembar daun yang jatuh dari mimpimu

laut gelap menunggu!

 

Kapal-kapal berlintasan di kepalaku

mengangkut udara kota yang beku

dan menaburkannya di sepanjang

aliran darahku.

 

Dengarlah!

Aku bukan pengelana yang gagah perkasa

menaklukkan badai, menembus rimba belantara

mencari cinta sampai ke ujung dunia

 

Aku hanya debu

mengikuti angin yang setia mengirim rindu

kepada dermaga dan batu-batu.

 

Tubuhku ringan tanpa beban

terapung-apung di tengah lautan

esok, tirai fajar akan membuka kelopak matamu

atau harus seribu tahun lagi menunggu!

 

  —  Bintaro, 22 Januari  2016

 

 

PENYATUAN

 

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

 

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

 

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

 

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

 

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

 

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

 
 

SURAT SENJA KEPADA PAGI

 

Jika kau tiba di bukit itu sore nanti

kemungkinan besar aku sudah pergi.

 

Tapi …

di bibir cakrawala

tidak jauh dari tempat pertama kita berjumpa

ada sebuah telaga

aku menunggumu di sana.

 

    —  Scarlet, Bandung – 5 Februari 2016