Posted by: Ahmad Gaus | February 7, 2016

Tiga Puisi Cinta

floating-leaf

Puisi-Puisi Ahmad Gaus

 

SERIBU TAHUN LAGI

Kulayari malam dengan perahu

selembar daun yang jatuh dari mimpimu

laut gelap menunggu!

 

Kapal-kapal berlintasan di kepalaku

mengangkut udara kota yang beku

dan menaburkannya di sepanjang

aliran darahku.

 

Dengarlah!

Aku bukan pengelana yang gagah perkasa

menaklukkan badai, menembus rimba belantara

mencari cinta sampai ke ujung dunia

 

Aku hanya debu

mengikuti angin yang setia mengirim rindu

kepada dermaga dan batu-batu.

 

Tubuhku ringan tanpa beban

terapung-apung di tengah lautan

esok, tirai fajar akan membuka kelopak matamu

atau harus seribu tahun lagi menunggu!

 

  —  Bintaro, 22 Januari  2016

 

 

PENYATUAN

 

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

 

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

 

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

 

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

 

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

 

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

 
 

SURAT SENJA KEPADA PAGI

 

Jika kau tiba di bukit itu sore nanti

kemungkinan besar aku sudah pergi.

 

Tapi …

di bibir cakrawala

tidak jauh dari tempat pertama kita berjumpa

ada sebuah telaga

aku menunggumu di sana.

 

    —  Scarlet, Bandung – 5 Februari 2016


Responses

  1. Waaww… Rajutan kata yang sungguh mengesankan Pak…
    Membuatku terinspirasi menenun sebuah puisi, sesaat sebelum mataku ditelan mimpi malam tadi

    *belum ada judul*

    Padahal fajar telah mekar begitu lama
    Langit masih saja berdusta dengan bahasa cuaca
    Samudera mengirimkan airmatanya
    Ke serambi jantungku yang membatu
    Dalam diam yang paling rahasia

    Kelopak fajar telah sangat basah
    Betapa jelitanya dedaunan yang jatuh patah
    Memasrahkan diri pada sejarah
    Lalu matamu
    Menelan jejak di sepanjang jalan
    Aku kau tanggalkan
    Sendirian
    Pada jejak hujan yang pecah
    Tumpah ruah disepanjang ingatan yang berlubang

    Entah terus, entah putus
    Entah berhenti, entah mati
    Langkahku terpatah di sebuah halaman rumah
    Lalu aku, mengetuk tiap pintu untuk bertamu
    Untuk kedua kalinya, kita terpaut dalam pertemuan yang kebetulan

    Sedang butiran air sibuk menyapu atap
    Duri menusuk waktu dengan butiran yang runcing
    Tiba-tiba senyap
    Kita terlarung dalam tatap
    Bagaimana detik melenyap
    Menjadi abadi?
    Seperti warna kopi
    Aku kehilangan lagi

    Apakah yang mungkin selain aksara dan cinta
    Sedang hatiku masih terpenjara disana
    Di hitam matamu yang tak terjemahkan

    Sebab aku tak boleh berdusta
    Kukatakan pada senja:
    Kubiarkan dia memagar malam untuk matanya
    Jangan biarkan hujan singgah
    Aku selalu mengawasinya
    Lewat angin yang disapa dengan ribuan nama

    • Terima kasih Lia, wah kalau soal puisi kamu gak ada lawannya, bisa nulis secepat itu dan hasilnya bagus.. salut deeehh. Menulis terus ya.

  2. Siap pak… mohon bimbingannya yaa pak🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: