Categories
Puisi

[Puisi] Masyarakat Senja

 

tvsmith

MASYARAKAT SENJA

Senja berbaris mengenakan baju hitam. Orang-orang berdiri di atas jembatan, menunggu matahari terperosok ke dalam jurang. Dari sudut kota seorang pemuda datang tergopoh-gopoh, “Hai, lihat itu ada yang menangis di atas langit.” Suaranya perlahan-lahan menghilang ditelan kerumunan.

Sebuah peristiwa tengah disiapkan, untuk menyambut pergantian. Perempuan-perempuan menari di atas punggung kuda yang berlari kencang dari masa silam. Anak-anak dilemparkan ke atas bukit, dibekali panah beracun. Para resi keluar dari tempat pertapaan, memanggul senjata.

“Ada apa?” Pemuda itu masih belum mengerti.

Para nabi membawa kabar langit suci. Manusia membangun rumah sendiri-sendiri. Berdesakan dalam ruang sunyi, dengan sedikit lubang pintu untuk mengintip. Mereka hanya ke luar ketika langit mulai gelap. Malaikat-malaikat turun mengantarkan cahaya. Meninggalkannya di atas menara rumah-rumah Tuhan. Namun manusia mengurung diri. Dunia murung dalam keasingannya yang abadi.

Orang-orang itu menaiki bukit dan bersorak-sorai. Merayakan kemenangan atas matahari yang terperosok dalam kepala. Bumi hitam. Langit hitam. Dan segala yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Tapi di atas bukit, angkasa tidak bertuan. Dunia terlalu kecil untuk menjadi medan pertempuran yang tak berkesudahan.

Alam Sutera, 08/09/17

Puisi “Masyarakat Senja” dimuat dalam kumpulan puisi saya, Senja di Jakarta (2017)

Foto ilustrasi:

Senja di teluk Kinabalu, Sabah-Malaysia, 24 April 2018, bersama para sastrawan Malaysia dan Indonesia: Fatin Hamama, Fanny Jonathan, D. Kemalawati, Isbedy Setiawan ZS, Datuk Jasni Matlani, dkk.

 

Sabah3

 

Senja di Jakarta

Categories
Puisi

Bahagia Sekarang Juga

[Dibacakan dalam acara #KampanyeKebahagiaan #GerakanIndonesiaBahagia dalam Rangka Memperingati #HariKebahagiaanSedunia, oleh #YayasanIndonesiaBahagia, Taman Suropati, Jakarta Pusat, 25 Maret 2018].

YIB2

BAHAGIA SEKARANG JUGA

SESEORANG terbangun dari tidur di pagi hari
Ia mengamati sekelilingnya, mencari-cari sesuatu
Namun yang ditemukan hanya selimut, seprei, bantal, guling
Dan gadget yang memang selalu diletakkan di dekat bantal
Lalu ia mencarinya di bawah tempat tidur
Tapi yang dicarinya tetap tidak ada
Maka ia masuk lagi ke dalam selimut dan kembali tertidur
Ia berharap kebahagiaan yang hilang di pagi hari itu
Akan datang lagi dalam mimpinya.

Banyak orang terbangun dari tidur
Mencari kebahagiaan di sisa mimpinya tadi malam
Sebab mereka tidak mendapatkannya dalam kehidupan nyata
Sebab kehidupan nyata terlalu keras — terlalu kejam
Mimpi menjadi tempat petualangan yang menyenangkan
Terlepas dari penderitaan dan kesusahan hidup
Tapi kebahagiaan dalam mimpi hanya fatamorgana
Setiap orang akan terbangun — kembali ke dunia nyata
Dan berusaha mendapatkan kebahagiaan.

Tapi di mana kebahagiaan bisa didapat?
Di dalam rumah. Di kantor. Di tempat olahraga.
Di hotel mewah. Di gubuk reot.
Di restoran. Di kaki lima.
Di dalam badan. Di dalam hati.
Dalam jiwa. Dalam pikiran.

Kebahagiaan ada di mana-mana
Dan tidak pernah pergi ke mana-mana
Karena ia tidak berkaki
Tuhan tidak meletakkan kebahagiaan di tempat tersembunyi
Atau di puncak gunung tinggi
Tapi di dalam diri sebagai fitrah azali
Bakat bawaan manusia sejak dini.

Kebahagiaan tidak bisa dicuri
Sebab tidak akan ada yang mampu membelinya
Kebahagiaan juga tidak bisa ditukar
Sebab tidak ada intan permata yang senilai dengannya.

Setiap orang bisa patah hati kapan saja
Karena putus cinta, atau ditinggal pergi orang yang dicintai
Tapi kebahagiaan tidak boleh dibiarkan dibawa pergi
Karena ia adalah harta yang paling berharga
Kalau ia hilang, maka hidup kita akan sengsara
Selamanya dirundung kesepian.

Di zaman media sosial seperti sekarang
Setiap orang memiliki teman lebih dari yang dibutuhkan
Sepuluh, seratus, seribu, beribu-ribu
Tapi tetap saja banyak orang yang merasa kesepian
Banyaknya teman tidak menjamin seseorang bahagia
Semakin sering seseorang berbicara kepada orang lain
Mengadukan keluh kesah hidupnya
Ke hadapan ribuan orang yang tak terlihat
Semakin menunjukkan kesepiannya.

Beribu-ribu teman kita kumpulkan di dunia maya
Semata-mata karena kita dan mereka satu pemahaman
Satu pandangan agama, satu pilihan politik
Satu idola pemimpin yang sama
Kita tertawa-tawa dengan mereka
Sambil menggunjing orang lain
Yang tidak sama dengan kita
Padahal kita tidak pernah bertemu dengan mereka
Sementara orang-orang terdekat kita — Keluarga,
Saudara, Kerabat, Sahabat — dijauhi, dimusuhi
Dicurigai karena beda paham. Beda pilihan.
Beda pandangan politik.

Akhir-akhir ini kehidupan kita menjadi semakin panas
Karena politik telah masuk ke ruang-ruang keluarga
Tempat-tempat ibadah
Kelompok-kelompok arisan
Obrolan-obrolan warung kopi
Lingkungan perkantoran.

Tanpa kita sadari
Politik membawa virus perpecahan yang berbahaya
Dan lebih berbahaya lagi bila politik mengenakan baju agama
Sebab setiap orang akan menganggapnya kebenaran mutlak
Yang harus diperjuangkan dengan jiwa dan raga
Dan seringkali membabi-buta
Akibatnya kehidupan menjadi sumpek — pengap
Setiap orang mengintai pikiran orang lain
Sedikit saja salah bicara kita akan di-bully.

Di sekitar kita banyak orang yang hidupnya tidak bahagia
Yakni mereka yang gemar menghujat. Memfitnah. Menghina
Mengancam. Menebar teror. Menganggap rendah orang lain
Menyerang dan mencari-cari keburukan orang
Mereka itulah orang-orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Sedangkan orang-orang yang bahagia
Adalah mereka yang selalu menebar kebaikan
Menebar kasih sayang. Membagi energi positif
Memaafkan. Mengikhlaskan. Menutupi keburukan orang lain.

Apabila kebahagiaan kita telah direnggut
Oleh kebencian. Oleh permusuhan
Maka kehidupan kita sungguh dalam bahaya.

Kita harus mengatur ulang nafas hidup kita mulai sekarang
Mencegah kekuatan negatif memenuhi lingkungan kita
Menghentikan permusuhan atas nama politik dan agama
Atau atas nama apapun. Menebarkan kembali cinta
Menebarkan kasih sayang
Menjadi orang yang bahagia
Karena hanya orang yang bahagia yang dapat menularkan
Kebahagiaan kepada orang lain
Kepada dunia.

Kebahagiaan adalah kekuatan fitrawi yang suci
Yang tidak boleh hilang dalam keadaan apapun
Dan tidak boleh dibiarkan orang lain merusaknya
Dengan alasan apapun
Karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan
Maka hanya orang-orang yang bahagia pula
Yang dapat menjumpai-Nya.

Maka tumbuhkanlah perasaan bahagia
Saat sehat maupun sakit
Saat kaya maupun miskin

Hidup hanya sesaat
Alangkah merugi orang yang tidak bahagia

Maka berbahagialah
Saat sendiri maupun di keramaian
Saat datang maupun pergi
Saat bebas maupun tertindas
Kebijakan tertinggi ialah ketika orang mampu bahagia dalam keadaan menderita

Hidup bahagia tidak membutuhkan alasan
Karena bahagia sendiri adalah alasan untuk hidup
Tidak ada nanti atau esok untuk bahagia
Melainkan sekarang
Bahagia sekarang juga
Bahagia
Sekarang
Juga.

Jakarta, 25.03.18

Ahmad Gaus

YIB Puisi

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Bangsa Merdeka

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

 

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Kepada Yth. Cebong dan Kampret

 

 

Kepada Yth.
CEBONG DAN KAMPRET

Sebuah negeri tergelincir dari tanganku
Jatuh ke dalam kolam
Sekawanan burung masuk ke tubuhku
Membawa reruntuhan kota
Ekosistem kehidupan telah berubah
Dan aku terpaksa menyesuaikan diri
Meminum air yang bercampur dengan puing-puing bangunan yang belum lama berdiri dan runtuh
Menghirup udara yang tercemar dari polusi besi-besi tua yang gemar berteriak.

Aku tidak tahu kapan pastinya tubuhku bermutasi
Ekor dan sayapku tumbuh begitu saja
Meniru orang-orang, aku pun mulai bisa berenang seperti anak katak
Dan belajar terbang seperti kelelawar
Menyusup ke dalam kepala orang lain dan mencuri pikiran mereka
Kutanam di tengah kota yang telah mati
Dan tumbuh menjadi pohon dengan daun-daun yang dapat berbicara
Menggantikan lidah yang sudah hangus karena tidak pernah berhenti saling menista.

Orang-orang terbangun dari tidur dengan isi kepala dipenuhi burung.
Mereka berhamburan dari mulut dan lubang telinga
Terbang ke sana ke mari memenuhi seantero kota
Kaki mereka mencengkram batu-batu yang menyala
Dan dijatuhkan di atas pemukiman warga
Penduduk berlarian ke luar rumah dengan wajah menengadah dan mulut menganga
Menelan batu-batu itu sampai memenuhi perut mereka
Lalu meledak seperti bom bunuh diri
Langit gelap gulita. Bumi rata.

Apakah semua harus dihancurkan dulu?
Sebelum dibangun kembali oleh anak-anak yang belum lahir
Anak-anak manusia — bukan anak katak atau kelelawar.

 

Pontianak, 31 Juli 2018

Wassalam,

Ahmad Gaus AF
penulis, aktivis

Note: Puisi “Cebong dan Kampret” dibacakan di Aula Universitas Tanjung Pura, Pontianak, 31 Juli 2018. Dibacakan kembali dalam pertemuan para aktivis Komunitas Bela Indonesia (KBI) di Hotel Best Western Premier The Hive, Jakarta, 7 Agustus 2018

Pontianak Untan

“Pertemuan Komunitas Bela Indonesia, Jakarta, 7 Agustus 2018”

Best Western Premier The Hive Jkt

Komunitas Bela Indonesia

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Ode Untuk Mas Dawam

Sebuah puisi didedikasikan kepada Mas Dawam (Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo) yang wafat pada 30 Mei 2018 di Jakarta. Beliau almarhum dikenal sebagai tokoh LSM, cendekiawan muslim ahli ekonomi, pendiri dan pemimpin jurnal Ulumul Quran. Puisi dibacakan di resto hotel Gren Melia, Jakarta, 2 Juni 2018 dalam pertemuan para aktivis dan murid-murid Mas Dawam.

 

ODE UNTUK MAS DAWAM

Dia yang pergi diam-diam
Meninggalkan bara api dalam pikiran
Penyendiri yang idealis-romantis
Pemikir revolusioner yang kesepian

Betapa malu kita
Berdiri di atas makamnya
Dengan api yang hampir padam
Sekarang baru kita merasakan
Kehilangan, setelah lama mengabaikan
Karena sibuk menumpuk
Sampah-sampah percakapan
Wacana-wacana yang tak berguna bagi peradaban

Sedangkan dia manusia pendiam
Tapi seorang pemberani dengan kedalaman
Dia hanya bicara kalau melihat ketidakadilan
Maka setiap katanya telah matang benar
Direbus dalam pikiran
Mulutnya dibungkam oleh kesibukan
Mengkaji ayat-ayat Tuhan
Dalam kitab suci dan alam semesta
Dan hanya dibuka manakala dia
Tidak tahan melihat kebodohan

Betapa kerdil kita, terbungkuk
Di hadapan orang besar seperti dia
Yang menulis kata demi kata
Dari ensiklopedia ayat-ayat Tuhan
Sambil merangkak dalam keterbatasan

Mas Dawam, Mas Dawam
Sosok pemberani
Manusia langka

Tidak seperti kita
Manusia kebanyakan
Pengecut yang takut berpikir
Melarikan diri dari kebebasan

Sedangkan dia
Pikirannya terus mengembara
Menembus hutan belantara
Tubuhnya dimakan usia
Jasadnya dihimpit derita
Tapi jiwanya tak berhenti juga
Menulis kebebasan manusia
Sebab hanya dengan itu
Anak-anak adam menjadi mulia

TMP Kalibata dan Ciputat
31.05 / 01.06 — 2018

Ahmad Gaus AF

 

dawam1

dawam2

dawam3

 

 

 

Categories
Uncategorized

[Puisi] Yang Mendobrak Kebekuan (Ode untuk Nurcholish Madjid)

Untuk mengenang sang guru, Nurcholish Madjid, yang wafat pada 29 Agustus 2005, saya menulis puisi sebagai ekspresi rasa takzim kepada beliau almarhum. Puisi ini juga dibacakan di halaman taman Bintaro Exchange Mall pada 28 Oktober 2017 dalam acara peluncuran Maestro Indonesia, sebuah film tentang tokoh-tokoh Indonesia yang digarap oleh Mira Lesmana dan Riri Riza.

Gambar mungkin berisi: Ulil Abshar Abdalla, di panggung, berdiri dan teks

YANG MENDOBRAK KEBEKUAN

— Puisi Ahmad Gaus

Ode untuk Nurcholish Madjid
(17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005)

TUAN yang tengah beristirah di sana
izinkan saya bertanya
sekadar menepis rasa gundah gulana
benarkah di alam sana ada pengadilan pikiran?
benarkah para malaikat membawa palu godam
untuk menghantam kepala
para pemikir bebas seperti tuan?
apa yang tuan katakan, jika para malaikat bertanya
di mana letak pikiran: di atas, di bawah,
ataukah di samping iman?

TUAN yang sedang berbaring tenang
zaman kini tidak jauh berbeda
dengan zaman tuan
iman dan akal dibenturkan
pikiran ditundukkan di bawah kuasa
kebenaran yang mengatasnamakan Tuhan
tombak persekusi ditancapkan di kepala
orang-orang yang berbeda pandangan.

MAKA kebenaran menjadi makhluk buas
yang mengerikan.

PERNAHKAH tuan mendengar
suara-suara zaman yang ketakutan
orang-orang bersembunyi di rumah Tuhan
bertakbir sambil mengasah pedang.

ZAMAN kini tidak jauh berbeda
dengan zaman tuan
penuh huru-hara dan pergolakan
politik dicampuradukkan dengan iman
sehingga orang tidak bisa membedakan
suara Tuhan dengan bisikan setan
kebaikan agama dengan kepentingan segelintir
orang yang rakus kekuasaan
maka benar belaka tuan berkata:
agama dan politik harus dipisahkan
yang sakral dan yang profan harus dibedakan
supaya agama tidak diperjualbelikan
ditunggangi oleh politikus-politikus
bajingan.

PERNAHKAH tuan melihat, para penakut berlarian
dari gempuran zaman yang konon dikuasai setan
bersembunyi dalam selimut kejumudan
sementara tuan yang melawan dengan pikiran dinistakan,
disesatkan, diusir dari jamaah,
dibuang dari keramaian.

TAPI memang, di mana-mana orang senang
dengan keramaian, seperti kawanan domba
yang selalu berkerumun
sedangkan harimau berjalan sendirian
seperti tuan.

TUAN kesatria pemikiran
Di zaman penuh ketidakpastian saya teringat tuan
berdiri di kelokan jalan, berani bersimpangan
menyelamatkan akal pikiran.

MASIH terngiang suara tuan
sayup-sayup seperti tengah bergumam
namun sanggup mendobrak dinding malam
membangunkan orang-orang yang tidur
berselimut kejumudan.

POHON pengetahuan yang tuan tanam
sepanjang musim panas dan hujan
telah tumbuh berbuah pencerahan
namun angin topan selalu datang mengancam
untuk merobohkan.

DI zaman kerancuan pikir seperti sekarang
sungguh saya rindu pandangan-pandangan tuan
yang mendobrak kebekuan;
saya rindu gemuruh ombak pikiran tuan
yang menghantam karang
hidup menjadi samudera renungan
di kedalamannya kerang mutiara
berserakan.**  [Ditulis di Jakarta, 23/08/2017]

 

Related image
Buku karya saya diterbitkan Kompas tahun 2010

 

Categories
Puisi

[Puisi] WHEN I NEED YOU

Image result for leo sayer

WHEN I NEED YOU

Hari sudah malam ketika rindu datang mengetuk pintu rumahku
Kukatakan bahwa cinta telah pergi beberapa jam yang lalu
Namun ia tetap bergeming, alih-alih berlalu dari mataku
Sesaat kemudian ia melepaskan sepatu dan melenggang ke ruang tamu

“Sudah larut malam,” ujarku, “aku mau tidur.”

“Apa kau yakin bisa tidur?” Ia malah mengejekku.

Lalu sekonyong-konyong ia memutar musik dari gawainya
Suara Leo Sayer yang jernih mengalun begitu saja,

“When I need you
I just close my eyes and I’m with you
And all that I so want to give you
It’s only a heartbeat away…”

Akhirnya kami menikmati malam itu dengan lagu-lagu oldies yang menyimpan banyak kenangan.

Ciputat, 23/08/18

Hari sudah malam ketika rindu datang mengetuk pintu rumahku
Kukatakan bahwa cinta telah pergi beberapa jam yang lalu
Namun ia tetap bergeming, alih-alih berlalu dari mataku
Sesaat kemudian ia melepaskan sepatu dan melenggang ke ruang tamu

“Sudah larut malam,” ujarku, “aku mau tidur.”

“Apa kau yakin bisa tidur?” Ia malah mengejekku.

Lalu sekonyong-konyong ia memutar musik dari gawainya
Suara Leo Sayer yang jernih mengalun begitu saja,

“When I need you
I just close my eyes and I’m with you
And all that I so want to give you
It’s only a heartbeat away…”

Akhirnya kami menikmati malam itu dengan lagu-lagu oldies yang menyimpan banyak kenangan.

Ciputat, 23/08/18