Categories
Puisi

[Puisi] Batu Tidak Ingin Menjadi Manusia

Makhluk-makhluk itu muncul begitu saja
dari bongkahan batu
menjelma burung-burung yang lapar
terbang mengelilingi kota
mencari sisa-sisa makanan dan bangkai
untuk memenuhi kebutuhan
manusia

Di malam hari makhluk-makhluk itu
kembali menjadi batu
tapi batu-batu yang berekor api
berlintasan bagai anak-anak panah
yang dilepaskan

Maka banyak peristiwa di malam hari:
bintang yang pecah berkeping-keping
bidadari-bidadari yang menjerit
dilemparkan dari surga
kabut hitam yang masuk ke telinga
mengubah dirinya menjadi serigala
mengaumkan ancaman
dan menghilang begitu saja
di kegelapan

Bulan mengirimkan sinarnya masuk
ke dalam kepala
Tapi jangan salah, kepala adalah gudang

tempat penyimpanan senjata
tempat penyanderaan musuh-musuh
temboknya dipenuhi kawat berduri
dan dijaga oleh makhluk-makhluk halus

Makhluk-makhluk itu mengambil batu
untuk melempari bulan
hingga bulan terluka dan menangis
menjeritkan nyanyian-nyanyian gaib
seperti lolongan anjing yang tersekap
oleh ketakutannya sendiri

Batu-batu itu tertawa melengking
memercikkan api dari ekor-ekornya
seperti ingin membakar bumi
memusnahkan masyarakat manusia

Begitu marahnya batu kepada manusia
padahal, berabad-abad lamanya
manusia dan batu hidup berdampingan
secara damai
sampai kemudian konflik tak terhindarkan
saat manusia merenggut batu-batu itu
dari tempat mereka bersemadi
untuk melempari manusia lain sampai mati
dan merampas kehormatannya

Batu akhirnya tahu tabiat buruk manusia
yang gemar membunuh dan
memakan bangkai saudaranya
maka batu tidak pernah bermimpi
menjadi manusia
mereka hanya ingin kembali ke habitatnya
berzikir menyucikan diri
berdiam diri selamanya
dalam meditasi abadi

Palangkaraya, 09/10/18

Categories
Puisi

[Puisi] November Rain

 

November Rain

Setiap kali hujan turun
engkau bertanya di mana kekasihmu
pada tanah basah
melepaskan diri dari
membawa bayang-bayang

Rintik hujan meninggalkan kecupan
yang kini menjadi danau
di keningmu

Lalu engkau berusaha mencintai hujan
karena ragu dengan perasaanmu
akan mengalir ke laut
atau bersikeras menjadi awan

 

Ciputat, 10/11/18

IG: ahmadgaus68

Categories
Puisi

[Puisi] Cerita Pagi

margo

CERITA PAGI

Kabut turun di rooftop
lembut dan tipis seperti
gaun tidurmu

Aku terjatuh dari tangga angin
waktu mematahkan tangkai sayap
peri kegelapan

Kulihat kau duduk di sana
di antara kursi-kursi kosong

Menyanyikan sepotong lagu hitam
menikam musnah segala
yang dirindu

Burung-burung beterbangan
dari rambutmu!

Depok, 18/11/18

IG: ahmadgaus68

 

Categories
Puisi

[Puisi] Sebuah Masjid dalam Diriku

2151222-mosque-1580970565

Sebuah masjid dalam diriku
Posted in my IG: ahmadgaus68
Categories
Puisi

[Puisi] SENJA DI JAKARTA

Terima kasih kepada sahabatku, Abdullah Sajad, yang membuat musikalisasi puisi karya saya, SENJA DI JAKARTA. Silakan dinikmati sambil nyeruput kopi dan membayangkan seorang kekasih duduk di sampingmu 🙂

 

SENJA DI JAKARTA

tubuhku berulang kali menjadi dinding, kekasihku

menahan rasa sakit dan gemuruh angin yang dikirim

dari gedung-gedung yang selalu berisik

di jantung kota

 

kisah-kisah konspirasi menjerat mimpiku

di kursi-kursi tua yang lelah menunggumu

untuk menghapus peluh dari tanganku

yang tidak berhenti berderak

 

di sudut kota matahari sore menerobos

jendela apartemen yang tidak pernah dibuka

burung gereja menyanyikan mars perjuangan

awan hitam berbaris seperti pasukan demonstran

yang marah, ingin merubuhkan pagar istana

intrik, makar, konspirasi, apalagi

 

semua huru-hara ini, kekasihku,

masih akan berlangsung

memekakan telingaku yang sudah rata

dengan jalanan

pandanganku yang selalu nanar

kehilangan taman bunga

 

duduklah, aku ingin menikmati lagi

bibir senja, rambutmu yang berkilau langit sutra

matamu yang bening bagai air telaga

aku ingin mereguk lagi segelas teh

dan ciuman hangat

 

sebelum senja berlalu

memetik bunga mawar di kelopak matamu

 

Jakarta, 26 Juli 2017

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Daun dan Bunga di Musim Semi

Buku Puisi Heri2

Kata Pengantar Ahmad Gaus untuk Buku Puisi Heri Mulyadi, “Elegi Cinta, Cerita Kata.”

Puisi, Daun, dan Bunga di Musim Semi

ADA yang mengatakan bahwa setiap puisi adalah hasil proses kreatif. Pernyataan ini benar belaka. Tapi tidak cukup. Puisi ialah imajinasi, yaitu proses pra-kreasi. Keduanya tentu berkelindan, namun saya merasa perlu membedakannya beberapa saat setelah saya menyimak puisi-puisi penyair Heri Mulyadi dalam buku ini. Berekspresi dalam puisi artinya meletakkan atau menyusun bahan-bahan yang tersedia (ide, suasana, peristiwa, objek-objek) ke dalam bangunan puisi. Namun karena puisi ialah karya seni, maka berlakulah apa yang dipercayai para seniman bahwa “in art, we are doing more than just putting materials or actions or combining ideas together.”

Karya seni, termasuk puisi, merefleksikan proses penciptaan yang rumit karena aktivitas semacam itu menuntut seniman untuk memiliki kemampuan melihat hal-hal yang tak terlihat, atau dalam kata-kata Nancy McCormick (2018), the ability to see objects in things not readily seen or observed. Nancy bahkan percaya bahwa sebuah karya seharusnya memang lahir dari hasil “melihat”, bukan lahir dari hasil kreativitas belaka. Itulah yang disebut imajinasi. Sedangkan kreativitas ialah the ability to produce an idea in a new way. Jadi memang berbeda.

Di mana istimewanya puisi-puisi Heri Mulyadi bila dilihat dari kacamata itu? Sebagian puisi yang dimuat dalam buku ini merupakan hasil “penglihatan” Heri yang mampu menerobos alam fenomena yang kasat mata, menyingkap rahasia-rahasia di balik kenyataan keras, dan meletakkan imajinasinya dalam horison pandangan mata yang berlapis-lapis. Sebagian lainnya adalah puisi-puisi yang lahir dari proses pengendapan pikiran dan perasaan yang diekspresikan dalam bait-bait puisi yang terkesan “komunikatif”. Pikiran dan perasaan ada pada setiap orang, namun tidak setiap orang mampu mengekspresikan dengan cara seorang penyair menyampaikannya. Orang-orang memilih jalan lurus dan verbal, penyair memilih jalan menikung dan terjal. Heri lebih sering memilih jalan yang kedua.

Mari kita simak puisi Heri di bawah ini:

 

Mengejar Tuhan

 

Di jalan zonder debu ini,  angin berkesiut

menyesaki ruang, mengembara

membekap buana, meniupkan

selendang pelangi, berselimut

malam, berpayung hujan

 

Kisahkanlah: jika sejumput rindu datang,

orang ramai berteriak atas nama tuhan,

masihkah zikir, doa-doa kasih

bagi gembala tersesat, dewa dewi yang

bersemayam di nirwana,

tapa brata pengendali jiwa,

meredam amarah,

benci dan dendam?

 

Di deru angin kutemui wajah

rupa-rupa tuhan, aku tersungkur:

sujudku belum lagi sampai

 

kutanya adam,  ibrahim,  musa dan isa:

pulanglah, katanya, usah engkau berebut

mengejar tuhan

lalu torehkan luka

budha melambai di kejauhan, kidungkan

bhagawat para pariah: jangan kau mati

sebelum mati

muhammad berbisik, jangan buat kedustaan!

 

Padang-Palembang,  27 Februari 2018

 

Puisi di atas merefleksikan pengembaraan imajinasi yang konsisten pada objek yang bisu, jauh, dan gaib. Nama-nama dan diksi yang dipilih adalah nomenklatur religius (sebagai representasi kesucian, keagungan) yang dibenturkan dengan fenomena kemanusiaan yang profan dengan hasrat-hasrat manusiawinya seperti amarah, benci dan dendam. Adalah sifat manusia memiliki ambisi untuk mengejar kekuasaan, kedudukan, harta, dan sejenisnya. Juga, manusia sangat bernafsu menguasai kebenaran (yang direpresentasikan oleh judul puisi ini: Mengejar Tuhan). Masalahnya, jika setiap orang/kelompok berebut kebenaran sambil menghalau yang lain, maka yang akan terjadi ialah luka-luka, dan bahkan kebenaran itu sendiri menjauh: … usah engkau berebut/ mengejar tuhan / lalu torehkan luka.. / budha melambai di kejauhan.

Heri melakukan dialog imajiner dengan para nabi dan orang-orang suci sebagai upaya mencari jawaban atas apa yang ia lihat di alam fenomena yang boleh jadi tak nampak pada pandangan mata orang lain. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan lirih dan retoris. Realitas yang keras ditransendensikan. Dan ia mampu mengekspresikannya dalam bait-bait puisi yang sublim tanpa harus menggunakan metafora yang sulit dijangkau jejaknya. Namun  jelas bahwa ia berada cukup lama di alam imajinasi pra-kreasi sebelum menemukan bentuk pengungkapan dalam bait-bait puisi yang indah dan sublim. Puisi-puisi Heri yang bercorak seperti ini adalah: Nyanyian Senja Jeselton Point, Elegi Cinta, Mencari, Semburat, Penjahat Cinta, Malappuram Suatu Malam, Kidung Petang Bharata Pura, dan yang lainnya.

***

Sampai saat ini orang percaya bahwa puisi ialah ekspresi pikiran dan perasaan penulisnya. Dalam arti ini, puisi menjadi sosok kembar sang pengarang. Namun saya ingin menegaskan bahwa kompleksitas sebuah puisi tidak mungkin dirujuk sepenuhnya pada biografi sang pengarang yang tengah dilanda perasaan tertentu (jatuh cinta, bahagia, kecewa, marah, rindu, dan sebagainya). Juga tidak pada pikirannya yang tengah disusupi aneka problem, misalnya. Banyak puisi yang lahir begitu saja dari pohon imajinasi, muncul seperti daun dan bunga di musim semi.

Dalam pemahaman seperti ini, tidak setiap puisi memiliki hubungan dengan kenyataan yang terasakan atau terpikirkan, yang di dalamnya telah mengandung makna secara inhern. Justru tugas puisi ialah, dalam bahasa Riffaterre, creating of meaning (menciptakan makna). Dan tidak ada makna yang lebih agung dari sesuatu yang berada di luar pikiran dan perasaan manusia yang nisbi. Maka kehadiran Sang Penyair menjadi syarat bagi sebuah puisi agung. DIA -lah yang menulis, sedangkan si penyair hanya perantara, media yang mengantarkan suara Sang Pemilik makna. Dalam buku ini banyak puisi Heri yang merupakan ungkapan ketundukan seorang hamba kepada Sang Khaliq, kepasrahan hidup yang fana pada keabadian. Salah satu contoh puisi seperti itu ialah Perjalanan ke Mihrab 45.

Para teoritikus sastra pada umumnya bicara soal makna, tapi melupakan potensi makna, yang mengelilingi sebuah puisi. Maksud saya, makna terdapat dalam lipatan-lipatan teks, sementara potensi makna berada di luar teks. Kalau bukan dengan pemahaman seperti ini niscaya kita akan kesulitan membaca bait terakhir puisi Heri yang berjudul Perjalanan tersebut karena pesan yang terlahir lebih dari apa yang disampaikan. Berikut penggalan puisi tersebut:

 

Tak ada perayaan untukmu

karena jalan masihlah panjang

terus dan teruslah

beribu mihrab menunggu di ujung sajadah

 

Atau bait pertama dari puisi berjudul Kidung Petang Bharata Pura ini:

 

Bernyanyilah petang di jalan sunyi

hening melukis langit bermandi tembaga

seekor belibis rindu sarang

dan burung-burung kuntul tak lelah

mematuk paruh di kemilau Bharata Pura yang bisu

 

Sebagian puisi Heri dapat dibaca secara normatif, namun sebagian lagi mengajak kita bertamasya dalam labirin semiotika dimana tanda jejaknya harus ditafsir secara hati-hati. Setiap objek, ide, situasi, merepresentasikan makna tersendiri yang bekerja dalam jalinan teks puisi. Tujuannya menciptakan kejutan, paradoks, penajaman makna, atau pemerkayaan pesan yang hendak disampaikan.

Karena tanda tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tanda-tanda lainnya, maka sebuah puisi kadang menjadi jebakan bukan saja bagi pembaca yang menafsir namun juga bagi sang penyair. Penyair yang tidak hati-hati dalam menjalin tanda akan menyajikan puisi yang retak, cacat, bahkan anarkis. Pembaca sendiri akan terjerumus ke dalam lorong gelap tanpa pintu. Sebagian besar puisi Heri berhasil keluar dari jebakan ini. Namun pada beberapa puisi ia tampaknya, entah sengaja atau tidak, lebih menampakkan subjektivitas yang sebenarnya cukup berbahaya bagi pembacaan umum. Puisi yang bernada politik niscaya kurang mampu melejitkan cakrawala imajinasi dan menampung keragaman sudut pandang.

Puisi sebenarnya adalah campuran antara yang bukan puisi dan puisi itu sendiri. Gagasan yang kita sampaikan, posisi kita dalam sebuah peristiwa atau isu, intensi atau niat kita menyampaikannya — semua itu berada di luar puisi, bukan puisi, atau istilah resminya ekstra estetika. Sedangkan “yang puisi” itu sendiri, atau lingkaran estetika, mencakup semua unsur lahir-batin yang membentuk puisi seperti penyusunan larik dan bait, pemilihan diksi, gaya bahasa, rima, irama, alur, daya gugah, daya pikat, daya cekam, keharuan, imajinasi, dan unsur inovasi.

Tidak semua orang berhasil masuk ke dalam lingkaran estetika ini dengan gemilang. Bahkan mereka yang sudah terbiasa menulis puisi, atau penyair, kadang masih termangu-mangu di beranda depan lingkaran estetika. Lihat saja bagaimana beberapa waktu lalu banyak orang yang tiba-tiba menjadi penyair yang menulis puisi tandingan untuk puisi berjudul Ibu Indonesia karya Sukmawati Sukarnoputri yang menghebohkan itu. Ramai-ramai menulis puisi untuk sekadar menghujat. Jadilah puisi seperti slogan-slogan kampanye yang dijejali banyak narasi di luar daya tampung puisi itu sendiri. Jadilah puisi seperti retorika atau propaganda yang dipenuhi semua hal, kecuali puisi itu sendiri.

Sebagai seorang penyair yang telah melahirkan banyak karya, saya melihat Heri Mulyadi cukup piawai dalam menjalin kata, mencipta makna, merangkai pesan, membawa masuk unsur-unsur ekstra-estetika ke dalam tubuh puisi dengan halus dan cermat. Walhasil, sebagai seorang seniman yang menyerukan keindahan, Heri tampaknya tetap setia berada di dalam lingkaran estetika puisi sebagaimana saya maksudkan di atas. Selamat menikmati puisi-puisi sang penyair kelahiran Tanjungkarang, Lampung, ini.[]

 

Gedung Film, Oktober 2018

Ahmad Gaus AF, Dosen Sastra dan Budaya, Swiss German University (SGU) – Tangerang

 

Buku Puisi Heri
Jika Anda berminat membeli buku ini sila hubungi penerbitnya: 082178522158
Categories
Puisi

[Puisi] O CLARA, MANGE WISA KO

jemb sukarno
Jembatan Sukarno, Manado

O CLARA, MANGE WISA KO

Selamat malam, Clara
maukah kau temani aku sejenak saja
menyusuri tepian pantai di sana
atau sekadar bercengkrama di dermaga
menunggu saat purnama tiba
di seberang jembatan Sukarno

Aku ingin mendengar sekali lagi
deru nafasmu yang terengah
seperti isyarat bahwa ada sesuatu
yang tengah berubah

Di lorong-lorong kota
seribu gereja menunggu
sebuah lilin yang masih menyala
lonceng-lonceng makin keras dibunyikan
ayat-ayat suci makin keras dibacakan
udara kota berhimpitan

Maka kau harus terus menjaga
agar api itu tetap menyala
sebab kalau sampai padam
seluruh kota ini akan gelap gulita
lalu kau mau ke mana
mange wisa ko, Clara?

Manado, 28 Oktober 2018
Ahmad Gaus
penulis, aktivis

 

Deklarasi manado
Deklarasi Sumpah Pemuda Milenial oleh Jaringan Komunitas Bela Indonesia (KBI), di Jembatan Sukarno, Manado, 28 Oktober 2018

Unsrat manado