Categories
politik

Politik Berwajah Agama

Berapa banyak anda kehilangan teman dan saudara selama Pilpres kemarin? Berapa dalam luka yang ditorehkan oleh kebencian akibat beda pilihan?

Ideologisasi politik elektoral membuat orang bersikap irasional dan mendorongnya menciptakan musuh-musuh imajiner. Kehidupan kita yang semula baik-baik saja, tiba-tiba berantakan dihempas badai politik berbungkus isu agama yang menjadi sangat absurd. Pesta demokrasi tiba-tiba berubah menjadi perjuangan Islam. Siapa yang tidak satu kubu dengan kita, imannya tidak sempurna.

Dan kini, ketika rakyat masih berkubang dalam permusuhan akibat “perang badar”, para politisi penjual agama itu sdh bagi-bagi kekuasaan, sebagian sudah siap-siap masuk senayan tanpa menengok lagi ke belakang; tanpa mempedulikan rasa sakit sosial akibat politik pecah belah yang mereka lakukan.

Lalu apa yang harus kita lakukan ke depannya kalau begitu?

Simak video berikut yang dibuat oleh demokrasi.id

 

 

Categories
Puisi

KAMU DAN BUKU

Selamat Hari Buku Nasional

 

7db004b68cf48ed66353bde533b8cc5f

KAMU DAN BUKU

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku
Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku
Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman
Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.

Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu
Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan
Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu
Sebab waktuku tidak akan cukup.

Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu
Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain
Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks
Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan
Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu
Tapi itu salah kamu juga, sih
Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu
Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.

Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial
Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku
Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat
Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks

Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran
Banyak penerbit sudah gulung tikar
Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah

Tapi itu hanya kesedihanku belaka
Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.

Gedung Film, 17 Mei 2019
Ahmad Gaus
Baca juga: Jalan Terjal

Categories
Pemikiran Islam Puisi

Dalam Fana

 

Dalam Fana

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
aku adalah debu purba
dihempas angin negeri-negeri tua
mencari tempatku di alam semesta
namun tak ada

aku adalah setitik air
berkelana mencari samudera
ingin melebur dalam keluasannya
namun tak sampai jua

kuikuti jalan fana
dalam fana wujudku tiada
aku melihat tidak dengan mata
mendengar tidak dengan telinga
berkata tidak dengan mulut
meraba tidak dengan tangan
mencium tidak dengan hidung
sebab indraku terputus
segala yang ada pupus

pikiranku sirna karena aku tidak membutuhkannya
perasaanku sirna karena aku tidak mengindahkannya
pikiran dan perasaan membuatku
terpenjara dalam ruang dan waktu
sedang burung-burung jiwaku
datang dan pergi tak kenal waktu

aku tidak hidup di bawah langit
aku tidak hidup di atas bumi
sebab langit dan bumi tidak ada
ruang dan waktu tidak ada
dan dalam tidak ada apa-apa
hanya DIA yang mutlak ada

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
bersama Sang Ada

Puisi: Ahmad Gaus

02-fana

Puisi ini dibacakan dalam Kultum Ramadan di Gedung Film, Jl. MT Haryono Kav. 47-48, Jakarta, 09 Mei 2019

img-20180914-wa0025-5b9fc9d6c112fe1a6f654a32