Categories
Puisi

[Puisi] Jangan Lockdown Cintamu

warga-beraktivitas-menggunakan-masker-di-kawasan-bundaran-hi

JANGAN LOCKDOWN CINTAMU

Karena Corona kau menjaga jarak
denganku
Bukan satu meter, tapi berpuluh-puluh
kilometer
Karena Corona kau bermuram durja
Padahal biasanya engkau selalu penuh
tawa
Karena Corona kau tak mau lagi
kucumbu
Padahal engkau penuh hasrat
menggebu
Aku memahami bahasa cintamu,
walau lebih halus dari virus Corona
Bersabarlah cintaku, sampai Corona
berlalu
Biar saja pemerintah me-lockdown
kota
Asal jangan kau lockdown cintamu

Ciputat 27 Maret ’20

Categories
Puisi

BENARKAH CINTA ITU ADA?

beaach

Benarkah Cinta itu Ada?

Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last.
(Ronan Keating, If Tomorrow Never Comes)

Bumi bertanya kepada langit, ‘benarkah ada cinta di antara kita?’
Beribu tahun lamanya langit tidak menjawab
Namun terus mengirimkan airmata
Agar kehidupan di bumi tetap ada

Kalau cinta ada di bibir cakrawala
Aku akan melumatnya hingga berdarah
Agar senja menetes indah
Di tubuh kita

Kalau cinta ada di mata purnama
Aku akan memeras selaputnya yang indah
Agar pagi meneteskan darah
Di jiwa kita

Bahkan seandainya esok hari tak pernah tiba
Dan cinta di dunia ini ternyata tidak pernah ada
Aku tetap ingin bersama

–ahmadgaus

Baca juga:  Lukisan Flamboyan

 

 

Categories
Puisi

Tangsel Spring

Tangsel

TANGSEL SPRING

Kawan
Pintu gerbang selatan telah dibuka
Matahari telah menunggu lama untuk menyematkan bunga
Pada rambut gadis-gadis jelita
Pada celak mata para pemuda yang tertimbun lumpur peradaban kota

Di kafe-kafe pinggir jalan
Kita biasa berbagi masa depan dalam secangkir kopi hitam
Setiap impian selalu kandas sebelum azan magrib berkumandang

Lampu-lampu jalan bisa kau pindahkan ke tubuhmu
Taman-taman yang indah bisa kau lukis dalam pikiranmu
Tapi impian, tidak
Sebab ia hanya milik segelintir nyonya dan tuan

Aku tidak berbicara tentang kekuasaan
Sebab itu terlalu mewah untuk para gadis dan jejaka yang hanya butuh lapangan pekerjaan
Aku berbicara tentang tipu daya yang berdiri megah
Di lubuk-lubuk kesadaran

Turunlah ke jalan, kawan
Sebab kau tidak akan bisa melihat gelandangan dan pengangguran
Dari lantai atas menara yang menjulang
Juga tumpukan sampah yang menebarkan bau busuk dan penyakit
Tujuh turunan

Kita biasa melepas kejenuhan di taman jajan
Diiringi gitar para pengamen jalanan
Atau tertawa terbahak di kafe-kafe
Di antara dentuman musik cadas Scorpions hingga Iwan Fals — Wind of Change hingga Bento, Bongkar
Tapi kita lupa bahwa telinga punya saluran ke otak
Inilah tragedi kita

Kawan
Sekarang pintu gerbang selatan telah dibuka
Gadis-gadis berhijab atau berambut panjang tergerai
Para pemuda berpeci atau bertato
Orang-orang tua dan anak-anak
Siap berpesta menyambut musim semi yang akan datang

Ciputat, 9 Maret 2020
Ahmad Gaus AF