Categories
Puisi

Aku dan Kambing

Kambing Wajah Hewan - Foto gratis di Pixabay

AKU DAN KAMBING

Seekor kambing melompat
dari tubuhku
menyelamatkan diri dari terkaman
hewan-hewan lain
yang lebih buas
di sana.

Di tempat pemotongan
ia bertanya
pada sebilah pisau
siapa yang harus disembelih:
dia atau aku?

Selamat Hari Raya Kurban, 31 Juli 2020

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (XI)

– 17 –

Pesan dari Koh Ahong

Keributan di depan apotek itu dipicu oleh masalah sepele. Pasalnya, tadi sore, seorang tukang parkir terlibat adu mulut dengan seorang pria yang memarkir sepeda motornya di depan apotek. Saat didekati, pengendara itu mengeluarkan dua keping uang lima ratus rupiah. Rupanya tukang parkir itu tersinggung sehingga dia mengomel. “Parkir lama banget cuma ngasih segini,” katanya sambil melemparkan uang recehan itu ke jalan raya.

Kini si pengendara sepeda motor yang tersinggung dengan tindakan itu. “Ngomong apa tadi kamu?” Tanya si pengendara sambil mendekati tukang parkir dan menjambak kerah bajunya. Tidak senang diperlakukan begitu, tukang parkir mendorong pria itu hingga tersungkur.

Pengantar Vs Tukang Parkir Berkelahi Diareal Pelabuhan Laut Bima ...

Hanya sepersekian detik dia maju lagi sambil menyerang tukang parkir dengan tendangan, namun tukang parkir itu berkelit ke samping. Bahkan dia berhasil menyarangkan pukulan tangannya ke wajah si pengendara. Si pengendara terjengkang. Saat bersiap untuk membalas, orang-orang berdatangan melerai perkelahian itu. Si pengendara itu pun segera menaiki sepeda motornya sambil sesumbar, “Awas lu, tunggu pembalasan gua. Gua Kelelawar Hitam,” ujarnya sambil menarik pedal gas.

Mendengar kata “Kelelawar Hitam”, orang-orang yang ada di situ terperanjat. Tidak ada yang tidak mengenal “Kelelawar Hitam”. Tapi sepengetahuan mereka, kelompok ini terdiri dari anak-anak muda yang baik. Tidak pernah membuat keributan. Bahkan kalau ada kejadian tawuran atau keributan, anak-anak Kelelawar Hitam itulah yang melerai atau mengusir para preman yang sedang terlibat tawuran. Karena itu mereka merasa heran ada yang mengaku kelompok Kelelawar Hitam yang menebar ancaman. Jangan-jangan ada kelompok lain yang sengaja ingin merusak citra Kelelawar Hitam. Begitu pikiran mereka.

Pengendara sepeda motor yang mengaku dari geng Kelelawar Hitam itu sudah menghilang dari pandangan. Orang-orang yang berkerumun di situ tetap mengingatkan tukang parkir untuk berhati-hati karena ada kemungkinan dia sebenarnya bukan geng Kelelawar Hitam tapi dari kelompok lain yang memang senang membuat keributan.

***

Benar saja. Malam hari sekitar pukul 07.00, orang yang terlibat perkelahian itu kembali lagi mendatangi tempat keributan tadi sore. Namun kali ini dia datang membawa pasukannya sekitar 15 orang. Yang dicari ternyata tidak ada, karena sudah berganti giliran dengan tukang parkir yang lain. Akhirnya mereka menghajar tukang parkir yang sedang berjaga, yang tidak tahu apa-apa. Bukan hanya itu, beberapa orang dari mereka juga mulai melempari apotek dengan batu. Dua perempuan berjilbab, petugas apotek itu, menjerit ketakutan. Koh Ahong, pemilik apotek, mengambil pistol dari laci meja. Namun belum sempat bertindak lebih jauh, sepotong kayu menghantam tangannya sehingga pistol itu terpental. “Masuk, masuk, kunci pintunya dari dalam,” dia memerintah kedua pegawainya. Sementara dia masih berusaha mengambil pistol yang terlempar ke bawah lemari etalase.

Patroli Bermotor Siap Berantas Preman dan Tawuran | Go Depok

Di luar apotek, tukang parkir masih terus dipukuli oleh para penyerang. Beberapa orang yang ada di sekitar lokasi hanya menyaksikan kejadian tersebut. Tidak ada yang berani mendekat. Apalagi melerai. Khawatir menjadi target amukan. Sampai kemudian datang seorang pria tua berusaha melindungi tukang parkir dengan cara memeluk tubuhnya. Tak ayal lagi pukulan para penyerang kini menghujani tubuhnya tanpa ampun. Sementara sebagian yang lain mengalihkan perhatian ke apotek. “Serbu!” Kata salah satu di antara mereka.

Para penyerang itu mencoba merangsek ke dalam apotek dengan mendobrak pintu. Namun sebelum aksi itu dilakukan, sebuah suara menyela lantang: “Berhenti!” Aksi mereka terhenti. Seorang pemuda berdiri tegap dengan mata menyala menantang para penyerang. Mereka terkejut. Dan dari raut mukanya terlihat mereka sangat ketakutan hingga serempak menuju kendaraannya dan tanpa aba-aba langsung meninggalkan tempat secara berbarengan.

Tukang parkir dibopong ke depan apotek oleh orang-orang yang mulai berdatangan. Kemudian diberi obat cair yang digosokkan ke bagian-bagian tubuhnya yang lebam akibat dipukuli.

“Untung ada bapak ini yang menolong saya. Terima kasih, Pak. Bapak benar-benar pemberani. Harusnya tadi saya sudah mati.” Tukang parkir itu bicara kepada orang tua yang tadi mendekapnya. “Tapi bapak tidak apa-apa?” tanyanya.

Orang tua itu menunjukkan bajunya yang robek di bagian samping dan belakang. “Saya tidak apa-apa,” ujarnya. Lalu dia mendekati pemuda yang berhasil menghalau para penyerang hanya dengan memelototi mereka.

“Kamu hebat, Dik. Mereka kabur semua,” katanya kepada pemuda itu seraya mengulurkan tangannya. Si pemuda menyambut dan menjabat tangan orang tua itu dengan erat. Koh Ahong menghampiri mereka dan memperlihatkan tangannya yang terluka akibat lemparan kayu. Dia lupa bahwa tangan kirinya masih memegang pistol. Ketika diingatkan oleh pemuda itu dia buru-buru menyelipkan pistol ke pinggangnya.

Orang-orang yang berkerumun di tempat itu pun mendekati si pemuda dan satu persatu menyalaminya dengan rasa kagum. Pemuda itu menyambut jabatan tangan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Koh Ahong menceritakan kronologi kejadian dari kasus perkelahian tadi sore hingga penyerangan oleh sekelompok orang barusan. Tak urung Koh Ahong penasaran dengan identitas pemuda yang berani itu.

“Adik ini siapa? Kenapa orang-orang itu seperti ketakutan melihat kedatanganmu, apa mereka mengenalmu?”

“Tidak, Koh, saya tidak mengenal mereka dan mereka pun tidak mengenal saya. Saya juga tidak tahu kenapa mereka kabur begitu melihat saya.”

“Kenapa Adik ada di sini? Apa hanya kebetulan lewat saja?”

“Saya sengaja ke sini Koh, rumah saya jauh, 30 menit dari sini. Saya ke sini mencari obat untuk mama saya. Saya sudah cari obat ini di semua apotek di tempat saya, dan tidak ada yang menjualnya. Lalu ada yang menyarankan saya ke sini, katanya di apotek ini obat-obatan lengkap.” Pemuda ini menjelaskan seraya menunjukkan resep obat di tangannya kepada Koh Ahong. Koh Ahong memperhatikan tulisan di kertas resep tersebut. Kemudian dia mengajak pemuda itu masuk ke dalam apotek. Orang tua yang bersama mereka mengiringi dari belakang.

Koh Ahong mempersilakan pemuda itu duduk. “Mereka mengaku geng Kelelawar Hitam. Tapi kita semua tahu tidak mungkin mereka melakukan itu. Citra mereka sejauh ini adalah penolong masyarakat. Tidak mungkin mereka tiba-tiba menjadi jahat. Tidak ada cerita mereka mau menyerang orang atau merampok. Saya yakin itu pasti kelompok lain yang mau menjatuhkan nama baik Kelelawar Hitam. Dulu memang ada musuh mereka, namanya Kapak Hitam, ini kelompok yang jahat dan sering bikin ulah. Tapi mereka sudah hilang dihabisi oleh geng Kelelawar Hitam. Tidak tahu juga kalau mereka sekarang muncul lagi. Tapi ya sudahlah. Saya sudah menelepon polisi untuk menyelidiki kasus ini,” ujar Koh Ahong panjang lebar.

“Dugaan saya juga bukan dari Kelelawar Hitam. Saya sering mendengar mereka anak-anak baik,” kata pemuda itu menimpali.

“Ok, biar saja itu nanti diurus polisi,” tukas Koh Ahong lagi, seraya matanya memperhatikan resep obat di tangannya. Lalu ia menatap pemuda di depannya seakan mengamati.

“Resep ini atas nama Ibu Vivien Aleissa, apa ini nama mamamu?” Tanya Koh Ahong

“Betul, Koh, itu mama saya.”

“Kamu tinggal di Jalan Gunung Semeru?”

“Ya, benar, Koh. Tapi tidak ada alamat di resep itu, kok Ngkoh tahu?”

“Namamu juga saya tahu, Jodi ‘kan?”

“Betul, Koh. Dari mana Ngkoh tahu?” Pemuda itu terkejut, karena tidak ada namanya tertulis di resep obat itu, juga alamat rumahnya.

“Saya tahu semua. Tapi tidak akan saya ceritakan sekarang. Yang penting sekarang kamu pulang dulu dan bawa obatnya, kebetulan di sini lagi ada, karena mamamu sangat membutuhkannya.” Usai berkata begitu Koh Ahong bangkit dari kursinya dan mengambil obat. Tidak lama kemudian dia kembali lagi membawa obat seperti yang tertulis dalam resep.

Sehat dan untung dari toko obat herbal

“Ini obatnya, yang ini 3x sehari, yang ini cukup satu kali setelah sarapan pagi,” jelas Koh Ahong.

“Baik, Koh, berapa harga semuanya?”

“Kamu sudah membayarnya lebih dari cukup. Sebab kalau tidak ada kamu, mungkin apotek ini sudah hancur, dan saya akan masuk penjara karena membunuh orang.” Koh Ahong berkata begitu sambil memperlihatkan pistol di pinggangnya.

“Ah Ngkoh bisa saja, saya hanya kebetulan, Koh.”

‘Ya sudah. Salam untuk mamamu, dia pasti kenal Koh Ahong. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, dan kondisi mamamu sudah membaik, datanglah ke rumah, ajak mamamu. Ok?” Ujar Koh Ahong sambil menyerahkan obat dan kartu namanya.

Tanpa banyak cakap, pemuda yang dipanggil Jodi itu mengiyakan. Setelah itu dia pamit diikuti oleh orang tua yang tadi ikut bersamanya. Di luar apotek orang masih berkerumun seperti ingin tahu apa yang dibicarakan di dalam. Dengan terpaksa, karena tidak biasa, Jodi berbicara di hadapan mereka. “Sudah selesai. Koh Ahong sudah menghubungi polisi untuk menyelidiki peristiwa ini. Ayo sekarang kita bubar,” ujarnya. Seakan mendengar perintah dari komandan, kerumunan itu pun membubarkan diri dengan tertib, kecuali petugas parkir yang masih terduduk di depan toko dengan wajah dan tubuh lebam. Tidak lama kemudian Koh Ahong memanggil tukang parkir itu ke dalam.

***

 Jodi naik ke atas sepeda motormya. Sebelum bertolak dia masih terlibat percakapan dengan orang tua yang sejak tadi mengikutinya.

“Bapak pulang ke mana? Mau saya antar?”

“Tidak usah, Dik, rumah saya dekat kok, dari sini. Lagi pula kamu ‘kan harus segera pulang karena obatnya ditunggu sama mamamu.”

“Ya kalau dekat ‘kan engga makan waktu juga, ayolah,” desak Jodi.

Lagi-lagi orang tua itu mengelak, mengatakan bahwa ia masih harus membeli sesuatu untuk dibawa pulang.  Dia kemudian mendekati Jodi. Sambil memegang tangkai kaca spion sepeda motor yang dinaiki Jodi, orang tua itu berucap: “Dik, saya tahu kenapa tadi orang-orang itu kabur saat kamu datang?”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kamu sebetulnya pemimpin mereka.”

“Astaga. Bapak menuduh saya, mencurigai saya? Menurut Bapak peristiwa tadi itu setingan. Menurut Bapak, saya yang menggerakkan orang-orang itu, dan ketika saya datang mereka harus bubar. Seperti di film-film, begitu? Lantas apa untungnya buat saya?” Suara Jodi terdengar tinggi.

“Sabar dulu, Dik, maksud saya bukan begitu.”

“Terus maksud Bapak apa, dong? Bapak mau bilang bahwa saya berniat memeras si Ngkoh itu karena berhasil mengusir para penyerang tadi? Bapak lihat ‘kan, saya ke sini mau menebus obat buat ibu saya. Tidak ada tujuan lain.”

“Dengar dulu, jangan terbawa emosi.” Orang tua itu mencoba menenangkan.

          “Ya habisnya Bapak menuduh saya seperti itu.”

Orang tua itu lebih mendekat ke arah Jodi, kemudian dia berbicara seperti berbisik. Tapi rupanya pemuda itu tidak berhasil menangkap apa yang dikatakan karena terlalu pelan. Ditambah lagi suara berisik dari lalu-lintas dan bunyi klakson kendaraan.

Jodi menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya memberi isyarat agar kata-kata tadi diulang lagi, sehingga orang tua itu mendekatkan mulutnya ke telinga Jodi, hampir menempel, lalu dia kembali membisikkan sesuatu. Dan secara refleks Jodi tertawa terbahak-bahak, “Hahahaaa… Bapak bisa saja,” ucapnya.

“Nah, begitu dong, selama ini kamu nggak pernah ketawa ‘kan? Hidupmu terlalu serius. Dik. Orang-orang jadi takut sama kamu, termasuk pacarmu.”

“Lho, kok Bapak tahu pacar saya?”

“Ah,  nggak, saya asal nebak saja,” jawab orang tua itu sambil tertawa. “Gerombolan preman saja takut sama kamu, apalagi pacarmu,” sambungnya lagi

“Hahahaaa… Bapak nih becanda terus. Ok deh, Pak, saya pulang sekarang ya.” Jodi berpamitan.

“Ya sudah. Hati-hati ya, Dik. Nanti di jalan kamu akan dicegat sama orang-orang yang tadi, dan jumlah mereka lebih banyak. Mereka berpakaian hitam-hitam dan bertopeng.” 

“Bapak serius?”

“Ah, nggak, saya cuma becanda, hehehee.”

Jodi terlihat kesal dengan candaan orang tua itu, tapi gayanya yang akrab dan bersahabat membuat Jodi ikut terbawa rileks. Bahkan sindirannya bahwa dia jarang tertawa diam-diam diakuinya. Selama ini dia tidak peduli dengan urusan orang lain, malah cenderung menarik diri dari pergaulan. Tidak suka berteman akrab dengan siapapun, apalagi nongkrong dengan anak-anak sebayanya sambil main gitar di ujung gang. Hanya dua orang yang ia akrabi, yaitu Laura, pacarnya, dan Lauren, temannya yang dia anggap sangat mengerti keadaan dirinya.

“Bang!” Tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari belakang. Jodi menengok. Dua orang pria mendekatinya. Dari pakaiannya mereka adalah tukang parkir.

Bagaimana menurutmu tentang profesi tukang parkir? - Quora

Mungkin menggantikan tukang parkir yang luka-luka akibat serangan sekelompok orang tadi. “Itu uangnya jatuh,” sambung orang itu.

 

Jodi melihat ke bawah. Ada selembar uang di dekat ban belakang. Orang itu membantu mengambilkan uang tersebut dan memberikannya pada Jodi.

“Tanpa melihat uang itu Jodi berujar, “Ambil saja, Mas, buat beli kopi.”

 “Wah terima kasih, Bang,” sahut orang itu, tidak menutupi kegembiraannya.

Jodi segera menghidupkan mesin sepeda motornya. Setelah berpamitan kepada kedua tukang parkir itu, dia langsung tancap gas. Kedua tukang parkir itu saling bercakap.

“Kayaknya orang itu sakti, ya. Cuma melotot saja orang-orang pada takut. Padahal umurnya masih kelihatan sangat muda.”

“Tapi kok aneh ya, kamu perhatikan nggak dari tadi dia berbicara sendiri saja.”

“Iya aku juga heran. Dia kayak ngobrol sama seseorang yang nggak kelihatan.”

“Mungkin itu jin piarannya. Makanya orang-orang tadi kabur semua begitu dia datang.”

“Serem juga ya kalau betul begitu.”

“Serem bagaimana, orang dia itu penolong, kok”

“Betul juga, sih.”

“Eh, lihat!” tukang parkir yang bertopi coklat tiba-tiba menunjukkan selembar uang di tangannya.

“Itu uang yang tadi jatuh? Yang dari orang itu?”

“Iya, memangnya yang mana lagi?!”

“Lho, itu ‘kan bukan uang sekarang, tapi dari zaman kapan ya? Aku tambah yakin orang yang tadi itu bukan manusia.”

Belum usai percakapan mereka, suara sirine terdengar. Sebuah mobil polisi berhenti di depan apotek. Dua orang petugas polisi turun dan menghampiri kedua tukang parkir. Mereka berbincang sebentar, lalu tukang parkir itu mengantarkan polisi ke dalam apotek untuk bertemu dengan Koh Ahong.

 

Lanjut membaca: Laura & Burung Hantu (XII)

   Laura & Burung Hantu (X) <– Cerita sebelumnya

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (X)

– 16 –

Cerita Tante Verlyn

Suara Si Boy yang mengeong dengan keras beberapa kali membangunkan Laura dari pingsan. Sekujur tubuhnya terasa lemas, tapi dia mencoba untuk bangkit dengan berpegangan pada pintu pagar rumah.

Viral Video Jemput Paksa Pejabat Positif Covid-19 di Kawarang ...

“Siapa yang membawa kita ke sini, Boy.” Laura bertanya pada kucing kesayangannya yang ternyata masih tetap bersama dia. Si Boy menjawab dengan mengeong keras.

“Kamu nggak apa-apa ‘kan?” Laura memeriksa tubuh Si Boy.

Sekonyong-konyong dari arah dalam halaman rumah itu terdengar suara, “Siapa itu?”

Laura sadar bicaranya pada Si Boy terlalu keras hingga terdengar oleh penghuni rumah. Kini dia mulai mengamati sekeliling. Di mana dia berada? Pertanyaan yang langsung terjawab sendiri ketika penghuni rumah itu keluar menghampirinya.

“Laura?”

“Ehh, Tante Verlyn. Maaf jadi mengganggu.”

“Oh nggak apa-apa. Kenapa di luar saja, ayo masuk. Kamu mau ketemu Lauren?” Tanya perempuan setengah baya yang tidak lain adalah ibunya Lauren. “Ayo sini, masuk dulu. Lauren lagi keluar,” sambungnya lagi.

Dengan badan yang masih lemas Laura melangkah mengikuti Tante Verlyn ke ruang tamu rumah yang cukup besar itu.

“Lauren ke mana Tante?”

“Tadi sih bilangnya ke luar, tapi tante nggak tahu ke luarnya ke mana. Soalnya tante juga lagi tidur. Dia bilangnya di WA.”

“Oh begitu, Tante.”

“Iya. Tapi biasanya kalau nggak bilang ke mana, dia nggak akan lama perginya. Coba tante hubungi dulu ya.” Tante Verlyn mengambil ponselnya di atas meja.

“Oh, nggak usah Tante. Saya nggak lama kok. Ini sekarang mau pulang.”

“Ee sebentar. Tunggu dulu. Tante mau menanyakan sesuatu, boleh ‘kan?”

“Boleh dong, Tante.”

***

Tante Verlyn mengambil posisi duduk persis di depan Laura. Dia memperhatikan wajah keponakannya yang usianya sebaya dengan Lauren. Si Boy yang berselonjor di samping Laura pun tak luput disapanya. Di rumah itu tidak ada kucing karena Lauren kurang menyukai hewan itu. Herannya Lauren malah menyukai burung. Maka di rumahnya ada beberapa sangkar burung berisi macam-macam jenis dari murai, cucak ijo, kepodang, hingga burung hantu.  Lauren sendiri yang mengurus burung-burung itu. Terutama dia sangat perhatian pada burung hantu. Ketika ayahnya mengingatkan Lauren bahwa burung hantu sebaiknya tidak dipelihara, Lauren marah. Akhirnya ayahnya mengalah.

Tante Verlyn memanggil pembantu rumah tangga dan memintanya membawakan minuman untuk Laura yang hanya meminta air putih hangat karena tubuhnya mulai merasakan dingin dari pakaiannya yang terkena percikan gerimis.

“Tante mau tanya soal Lauren, apa kamu merasakan ada yang berubah dari perilaku Lauren akhir-akhir ini?”

“Berubah bagaimana ya, Tante, saya nggak mengerti.”

“Jadi kamu nggak merasa Lauren sekarang beda dengan Lauren dulu.”

“Yang saya tahu Lauren sekarang agak misterius, Tante. Dia suka bicara yang saya nggak ngerti. Kayak menghapal mantra-mantra gitu. Terus dia suka bicara seperti meramal. Maaf kalau saya salah, Tante.”

6 Zodiak Ini Paling Sering Ketiban Sial, Mudah-mudahan Anda Tak ...

“Nah, itu. Maksud Tante, kamu tahu nggak Lauren suka berhubungan dengan siapa? Tante menduga itu sudah agak lama. Karena Tante perhatikan dari sejak dia kelas 10 perubahan itu sudah terlihat.”

“Kalau berhubungan dengan siapa, persisnya saya nggak tahu sih, Tante,  tapi dia berteman baik dengan Jodi.” Kata-kata Laura terhenti ketika dia menyebut Jodi. Dia khawatir tantenya mempunyai pikiran negatif tentang Jodi. Tapi ternyata tidak.

“Kalau Jodi sih tante tahu. Itu pacarmu, ‘kan? Dia ‘kan suka ke sini juga. Jodi itu anak baik. Kamu beruntung punya pacar seperti Jodi. Orang seperti itu tipe pria yang setia. Dari sosoknya kelihatan dia orang yang tegar, dan punya prinsip.”

Wajah Laura tersipu mendengar kekasihnya dipuji oleh Tante Verlyn, tapi di hatinya juga ada rasa tidak senang mendengar bahwa Jodi suka datang ke rumah ini. Dia ingin sekali menanyakan untuk keperluan apa Jodi datang ke sini dan seberapa sering. Tapi dia gagap untuk mengatakan itu. Mulutnya seakan terkunci rapat.

Sementara itu Tante Verlyn tidak memperhatikan perubahan pada raut muka Laura. Dia melanjutkan ceritanya tentang perilaku Lauren yang menurutnya berbeda dari biasanya. Kepada Laura dia mengisahkan bahwa neneknya, yakni mbahnya Lauren, adalah “orang pintar”. Dia dikenal pandai menyembuhkan orang sakit, terutama penyakit non-fisik seperti terkena guna-guna, santet, dan sejenisnya. Menurut cerita nenek Lauren, si Mbah itu memiliki perilaku yang berbeda dengan orang kebanyakan. Misalnya, pada malam-malam tertentu dia sama sekali tidak mau keluar kamar dan tidak mau diganggu. Dari kamarnya tercium semerbak wewangian yang agak aneh untuk penciuman orang biasa. Dia juga punya kebiasaan berpuasa berhari-hari.  Dan konon katanya, dia juga memelihara burung hantu.

Sampai di situ, Tante Verlyn menghela napas. Lalu ia melanjutkan lagi. Kali ini tentang kebiasaan Lauren yang mulai mirip dengan apa yang dilakukan oleh mbahnya, seperti suka mengurung diri di kamar, merapalkan mantra-mantra, dan juga memelihara burung hantu.

“Tante takut Lauren mewarisi ilmu mbahnya,” ujar tante Verlyn. “Sebab kata orang, ilmu orang-orang tua kita dulu bisa diwariskan kepada salah satu keturunannya secara tidak disadari oleh keturunannya itu sendiri. Jadi mereka terima begitu saja tanpa bisa menolak.”

“Tapi sejauh ini nggak berbahaya ‘kan, Tante? Maksud saya, tindakannya nggak membahayakan diri sendiri dan orang lain.”

 “Membahayakan sih nggak, cuma tante takut saja karena maunya tante dia hidup normal-normal saja seperti gadis-gadis yang lain. Akhir-akhir ini perilakunya lebih aneh lagi. Dia selalu menanyakan cincinnya yang katanya hilang. Cincin itu dia dapat dari seorang temannya, tapi tante tidak tahu siapa temannya itu. Cuma tante memang sempat mencoba memakai cincin itu, tapi kok aneh ya buat tante cincin itu terlalu berat untuk dipakai di jari tante, kayak besi baja,” ujar tante Verlyn.

“Saya juga pernah melihat Lauren memakai cincin itu, Tante, tapi terakhir ketemu dia sudah tidak dipakai lagi. Apa cincinnya yang hilang itu ya? Tapi menurut saya sih cincin itu biasa saja bentuknya, tidak ada yang aneh,” kisah Laura.

“Ya memang bentuknya biasa saja, tante juga nggak curiga apa-apa. Cuma berat saja.”

“Memang hilangnya di mana, Tante?”

“Di sekitar rumah ini! Lauren ‘kan biasa memandikan burung hantu piarannya pakai cincin itu, digosok-gosokkan ke badan burung itu, tante nggak mengerti apa maksudnya. Habis memandikan burung itu rupanya dia lupa cincin itu ditaruh di dekat sarangnya. Dia pergi ke luar sampai sore. Waktu pulang rupanya dia baru teringat, lalu dicarinya cincin itu di sarang burung, tapi sudah tidak ada. Tantelah yang jadi sasaran, dituduh menyembunykan cincin itu. Padahal buat apa tante menyimpan cincin itu, melihatnya saja tante nggak suka.” Tante Verlyn menjelaskan panjang lebar.

“Mungkin dia pikir tante membuang cincin itu karena nggak suka,” sela Laura.

“Mungkin juga. Tapi sekarang lain lagi ceritanya. Dia menyebut katanya kelompok Kelelawar Hitam yang mencuri cincin itu. Kamu tahu ‘kan geng Kelelawar Hitam, yang suka ada di kafe-kafe itu? Mereka itu ‘kan anak-anak baik. Mereka sangat bersahabat dengan siapa saja. Cuma namanya saja Kelelawar Hitam, jadi kedengaran seram. Lagi pula buat apa anak-anak itu mengambil cincin, ‘kan mereka anak laki-laki semua kalau tante tidak salah.”

Sekarang Laura mulai mengerti kenapa perilaku Lauren seperti yang selama ini disaksikannya sendiri. Tapi dia tidak berniat menceritakan beberapa peristiwa yang dia ketahui tentang Lauren kepada mamanya. Dalam percakapan itu Laura bersikap pasif dan memosisikan diri tidak mengetahui banyak tentang Lauren. Namun itu rupanya sudah cukup bagi Tante Verlyn karena, seperti diakuinya sendiri, selama ini dia tidak pernah bicara soal itu kepada siapa pun. Baru kali ini menceritakannya kepada Laura yang adalah keponakannya sendiri, sepupu Lauren. Walaupun tampak sedih, tapi dia berterima kasih kepada Laura karena mau menjadi teman curhatnya.

Suara bel berbunyi di pintu gerbang. “Nah, mungkin itu Lauren,” kata Tante Verlyn sambil berdiri. Laura ikut berdiri. Dia agak gelisah. Kalau benar itu Lauren, bagaimana dia harus bersikap. Karena sepanjang perjalanan tadi dia memendam amarah yang ingin segera ditumpahkan kepada Lauren. Tapi tidak mungkin dia memarahi Lauren di depan mamanya sendiri. Apalagi setelah mendengar cerita Tante Verlyn tentang masalah Lauren, dia memutuskan untuk menyimpan dulu kemarahannya. 

Ketika pintu gerbang dibuka, ternyata hanya seorang driver ojek online yang mengantarkan paket. “Lauren?” ucap si pengantar, yang dijawab ya oleh Tante Verlyn dan menerima paket itu. Pada saat bersamaan Laura berpamitan. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Salam untuk mamamu,” ujar Tante Verlyn.

***

Kini kembali Laura berada di jalan. Rintik gerimis dan embusan angin masih sesekali datang menerpa tubuhnya dan Si Boy. Namun mereka terus saja berjalan.

“Ayo Boy, sebentar lagi kita sampai,” katanya menyemangati kucing jantan itu. Saat hendak berbelok arah memasuki jalan perumahan, tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas dengan kecepatan sedang.

Video] Motor Lagi Ngebut di Jalan Perumahan, Tiba-tiba Ada Mobil ...

Laura yakin dengan penglihatannya. Lalu dia berteriak memanggil, “Jodi! Jodi!” Sayang sekali sepeda motor itu sudah cukup jauh dan melaju semakin kencang.

 

Lanjut membaca –> Laura & Burung Hantu (XI)

    Laura & Burung Hantu (IX) <– Cerita sebelumnya

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (IX)

15

Peristiwa-Peristiwa Itu

Rintik gerimis memaksa Laura untuk mempercepat langkahnya. Ketika angin berembus kencang dan melipatgandakan volume butiran hujan, ia menggendong dan mendekap Si Boy sambil berbungkuk untuk melindungi kucing kesayangannya itu dari terpaan air hujan. Namun saat gerimis menipis Si Boy meronta-ronta. Laura mengerti. Ia pun menurunkannya untuk berjalan sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang Laura masih memikirkan cerita penjaga rumah Ardi tentang Jodi dan Lauren. Walaupun penjaga rumah itu sempat bilang hanya bercanda, ia menangkap ada kebenaran dalam cerita itu. Kalau tidak, mana mungkin dia menyimpulkan bahwa Jodi dan Lauren berpacaran. Hati Laura semakin panas membayangkan kemesraan mereka di rumah Ardi. Dia merasa dibelakangi. Perlahan-lahan mulai terkuak hubungan mereka yang sebenarnya, yang selama ini ditutup-tutupi dengan berbagai sandiwara. Laura mulai menghubungkan beberapa kejadian yang disaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

***

Hari itu, beberapa bulan yang lalu, Laura menjenguk Jodi yang sedang dirawat di rumah sakit karena demam yang berlanjut. Dia kaget karena Lauren ternyata sudah ada di sana. Dan saat itu mereka berdua saja. Laura lebih kaget lagi karena saat dia membuka pintu kamar rawat inap, Lauren sedang menyuapkan bubur ke mulut Jodi yang terbaring lemah dengan mata setengah terpejam. Berbeda dengan Laura yang tampak emosi, Lauren terlihat santai.

Pamer Foto Genggaman Tangan Bareng Fakhrul Razi, Rina Nose Bikin ...

“Tante Vivien meminta aku menemani Jodi karena dia harus pulang cepat ada urusan penting. Tadi dia di sini.” Begitu alasan Lauren saat itu. Tante Vivien adalah bude dan sekaligus ibu angkat Jodi yang merawatnya sejak bayi. Pernikahan Tante Vivien dengan Om Arvin yang kini sudah berjalan 22 tahun belum dianugerahi anak kandung. Dia dan Om Arvin merawat dan membesarkan Jodi karena ibunya meninggal dunia saat melahirkan anak itu.

Laura menurunkan tensi emosinya. Dia tidak ingin memperburuk keadaan Jodi. Hanya dia sempat komplen, “Kok kamu nggak bilang-bilang sama aku?”

Lauren menjelaskan bahwa dia kebetulan lewat di RS itu sepulang dari rumah temannya. Laura memahami, dan masalah itu dianggap selesai. Namun ada satu peristiwa lain yang sekarang mulai jelas bagi Laura bahwa Lauren memang sengaja ingin menjauhkan dirinya dari Jodi.

Peristiwanya baru terjadi sebulan yang lalu. Lagi-lagi berawal dari Jodi yang sedang sakit demam. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Laura bahwa pria itu seakan tidak mempan dengan penyakit lain kecuali demam. Dan demamnya selalu tanpa sebab. Bolak-balik ke dokter. Berganti-ganti obat. Tapi selalu tidak ada obat yang cocok. Sampai akhirnya sembuh sendiri.

Saat sembuh itulah Lauren selalu mengesankan dirinya seolah dialah “dokternya” Jodi karena setelah minum “obat” dari Lauren, Jodi sembuh. Tidak heran kalau Tante Vivien sangat percaya pada Lauren dan selalu memuji-muji Lauren di hadapannya. Laura merasa itu sebagai sindiran halus bahwa Tante Vivien lebih menyukai Lauren daripada dirinya. Padahal, obat yang dimaksud Lauren itu hanya air putih yang entah diberi mantra apa sebab mulutnya selalu komat-kamit  sebelum memberikan air itu untuk diminum Jodi. Sekarang Laura mencurigai air itu mungkin semacam air pengasihan agar hati Jodi berpaling dari dirinya.

Close-up hand holding water glass | Free Photo

Sikap Tante Vivien yang berubah lebih menyayangi Lauren juga mungkin karena ia meminum air pengasihan dari Lauren yang tidak disadarinya. Begitu pikir Laura.

Namun saat itu Laura belum menaruh curiga terlalu jauh. Ketika Laura menjenguk Jodi di rumahnya, dan Lauren sudah lebih dulu ada di sana, dia masih menganggap hal itu kesalahannya sendiri karena terlambat datang. Bahkan sejujurnya dia bersyukur ada Lauren di sana karena kondisi Jodi waktu itu agak mencemaskan. Demamnya tinggi dan mulai kejang. Sementara mamanya sedang tidak ada di rumah.

Laura panik. Tapi Lauren terlihat biasa saja.

“Laura, tolong kamu cari kelapa ijo. Sekarang Jodi butuh itu untuk menurunkan panasnya,” ucap Lauren waktu itu.

“Aku cari sendirian? Malam-malam begini di mana ada orang jual kelapa ijo? Apa nggak menunggu Tante Vivien saja, siapa tahu mau dibawa ke rumah sakit?”

“Aku sudah hubungi Tante Vivien. Dia masih di Sentul. Satu jam lagi baru sampai. Lagi pula dia percaya sama aku. Dia bilang nggak usah dibawa ke rumah sakit. Sudahlah, kamu cari kelapa ijo saja, ya.”

Laura menarik napas panjang. Dia kesal dengan ucapan Lauren yang bernada perintah itu. Tapi dia merasa tidak punya pilihan. Bagaimanapun Jodi lebih penting daripada rasa kesalnya terhadap Lauren. Akhirnya Laura ke luar untuk mencari kelapa ijo, walaupun dia sendiri belum tahu ke mana harus pergi. Dia terus menyusuri pinggiran jalan yang ramai. Tiba-tiba dia teringat Acul, temannya yang dikenal anak pasar karena selalu membantu orang tuanya berdagang sayuran di pasar. Dia bermaksud menghubunginya untuk membantu mencari kelapa ijo. Namun saat merogoh kantong celananya, ponselnya tidak ditemukan. Dia baru sadar ponselnya tertinggal di atas meja kamar Jodi. Tanpa berpikir panjang dia berbalik arah dan kembali ke rumah Jodi.

Sesampainya di sana dia tercengang melihat apa yang terjadi. Lauren sedang mengucapkan kalimat-kalimat yang dia tidak mengerti, seperti mantra, lalu diusapkan ke tubuh Jodi. Tiba-tiba Lauren menarik kedua tangan Jodi sambil berucap, “Bangunlah, bangun Jaka Tarubku! Lihatlah aku, pandangi aku, bidadarimu, putri dari kahyangan.”

Berulang-ulang Lauren mengucapkan itu, sampai akhirnya Laura tidak tahan lagi dan masuk ke dalam kamar Jodi. “Apa yang kamu lakukan, Lauren?” Tanyanya.

Seperti biasanya, Lauren tampak tenang. Melihat Laura tegang, dia malah tersenyum. “Ini bagian dari terapi,” ujarnya singkat. “HP-mu tertinggal ya? Tadi aku mau panggil kamu tapi aku lihat kamu sudah jauh. Ya sudahlah, kamu tidak usah cari kelapa ijo lagi. Sebentar lagi Jodi sembuh, kok.”

Laura tidak tahu harus marah atau berterima kasih. Dia tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan Lauren saat menarik tangan Jodi. Tapi dia juga senang melihat Jodi yang mulai membaik.

***

Laura terus berjalan diiringi Si Boy. Sesekali dia menepi dan berteduh di bawah pohon bila gerimis diterpa angin. Di saat seperti itu lagi-lagi Si Boy digendong dan didekapnya untuk menghindari air hujan. Namun pikirannya tetap saja bergemuruh mengingat setiap perilaku Lauren terhadap Jodi.

Satu lagi peristiwa yang kini ditafsirkan oleh Laura sebagai “sandiwara” Lauren yang sangat norak. Suatu malam Lauren mengabarkan dirinya sakit dan minta Jodi menemuinya. Padahal saat itu Jodi sedang bersamanya makan malam di kafe tenda pinggir jalan. Yang membuat Laura kesal, Jodi menuruti saja permintaan Lauren hingga rela merusak kebersamaan malam itu.

Ini 4 Cara Duduk Cewek Saat Dibonceng Naik Motor & Kepribadiannya ...

Laura memaksa ingin ikut ke rumah Lauren, tapi Jodi malah mengantarkannya pulang ke rumah, tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Padahal sepanjang jalan di atas sepeda motor itu Laura tak henti-hentinya mengomel. Satu-satunya kalimat yang terucap dari mulut Jodi saat menurunkannya di depan rumah adalah, “Kamu harus percaya sama aku. Nggak usah terlalu baper.”

‘Ya aku percaya. Tapi kamu jangan lama-lama di sana. Aku tunggu di sini. Awas saja kalau nggak balik lagi.” Laura berkata setengah mengancam.

Tapi yang dikhawatirkan Laura justru terjadi. Jodi tidak kembali lagi. Bahkan HP-nya tidak bisa dihubungi, begitu juga Lauren. Lagi-lagi Laura masih mencoba berpikir positif. Karena dia masih ingat kata-kata Jodi: “Kamu harus percaya sama aku.”

***

Sekarang, setelah tahu bahwa Jodi dan Lauren sering bertemu diam-diam di rumah Ardi, Laura jadi kehilangan pikiran positifnya. Dia terus berjalan dengan emosi yang tak tertahan untuk segera bertemu dengan Jodi dan Lauren, dan ingin menumpahkan semua kekesalannya. Karena pikiran yang dipenuhi amarah itu dia tidak mendengar Si Boy mengeong berkali-kali dengan keras, sampai akhirnya mereka terjebak di jalan buntu.

“Kok kita ke sini, Boy. Di depan itu apa?” Laura mengamati pemandangan yang terhampar di depan matanya: sebuah telaga.

te

“Astaga. Kita tersesat, Boy,” ucapnya kaget. Tapi belum sempat berpikir apa yang harus dilakukan, sebuah tawa berderai di belakangnya. Laura menengok, tapi bersamaan dengan itu ia merasa tubuhnya didorong keras sekali dari belakang oleh seseorang yang tidak sempat dia perhatikan sosoknya. Tubuh Laura terjerembab ke dalam telaga.

 

Lanjut membaca –> Laura & Burung Hantu (X)

 Laura & Burung Hantu (VIII)  <– Cerita sebelumnya

Categories
Puisi

Burung Gereja dan Asal-Usul Toleransi Agama

Untuk Pendeta Albertus Patty
pdt-albertus-patty-_141225181351-431
Burung gereja yang setiap pagi berkerumun di halaman rumahku, hari ini raib entah ke mana
Tapi samar-samar kudengar kabar bahwa setiap minggu pagi mereka sibuk menyambut para jemaat yang akan melakukan misa-kebaktian di gereja
Sungguh perbuatan yang mulia, mereka mau meramaikan ibadat orang-orang yang berbeda agama, tanpa takut kehilangan akidah
Dulu, kata sahibul hikayat, burung gereja itu sebenarnya adalah burung-burung masjid
Mereka senang berkerumun di sekitar menara untuk mendengarkan azan
Hikayat mengatakan, mereka itu hewan yang paling religius, yang kehidupannya tidak pernah jauh dari rumah ibadah
Suatu hari, di halaman masjid diadakan sunatan massal
Mereka terkejut melihat “burung” anak-anak dipotong-potong begitu rupa dan mengucurkan darah
Kalau anak orang saja bisa dibuat begitu, bagaimana dengan kita. Begitu pikir mereka
30063030-288-k521091
Sejak itu mereka berbondong-bondong pindah ke gereja
Bermain dengan bebas di halaman gereja tanpa rasa takut dipotong, dan membuat sarang di sekitarnya
Para pendeta dan pastur tidak pernah berpikir untuk membaptis mereka, karena
jumlahnya terlalu banyak dan sulit diidentifikasi
Maka sampai sekarang, konon, burung-burung gereja itu tetap muslim
Mereka bersahabat baik dengan pastur/ pendeta dan para jemaat
Dan tanpa diminta mereka akan ikut menjaga acara-acara penting gereja seperti misa atau kebaktian
Itulah asal-usul toleransi agama
Kadang mereka juga dicap burung kafir atau burung murtad
Tapi mereka tidak peduli
 
***
Baca juga:

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (VIII)

– 14 –

Percakapan dengan Penjaga Rumah

 

Laura masih berdiri mematung di depan gerbang rumah Ardi sampai pemuda itu menghilang di balik pintu. Dia mengingat lagi Ardi yang lain, yang tinggal bersama si kakek di rumah tua, yang menolongnya meminjamkan pakaian dan sampai sekarang masih dikenakannya. Kalau keduanya orang yang sama tidak mungkin Ardi yang tinggal di rumah ini tidak bicara sedikit pun tentang peristiwa di telaga. Juga tentang baju dan celana yang dikenakan Laura. Tapi kenapa keduanya memiliki suara yang sama-sama parau. Rupanya kegelisahan Laura itu diperhatikan oleh penjaga rumah yang sejak tadi bersamanya.

“Kok melamun, Dik.”

“Oh nggak, Pak, eehh.. saya mau nanya. Bapak tahu nggak Ardi yang tinggal di rumah tua di sana.” Laura menunjuk ke satu arah yang tadi dilewatinya.

“Wah enggak tahu, Dik, saya nggak pernah ke mana-mana. Paling jauh ke pasar untuk belanja, dan enggak pernah lewat jalan itu juga. Memangnya kenapa, Dik?”

Laura menjelaskan peristiwa yang baru dialaminya di telaga, di rumah Ardi yang ditinggali oleh seorang kakek, hingga dia sampai ke rumah Ardi di sini. Penjaga rumah itu mendengarkan cerita Laura dengan raut muka serius. Namun alih-alih menyambung cerita Laura, dia malah menanyakan yang lain.

“Kalau sama Ardi yang ini ketemunya di mana, Dik?”

“Dia teman sekolah saya dulu waktu di SMP, Pak.”

“Oh teman sekolah. Ada juga teman-teman sekolah Ardi yang suka ke sini dua orang, laki-laki dan perempuan. Namanya Jodi kalau tidak salah. Kalau yang perempuan saya lupa namanya.” Penjaga rumah itu berkisah. Laura tidak bisa menutupi keterkejutannya mendengar nama Jodi disebut. Dia lalu menanyakan ciri-ciri perempuan yang datang bersama Jodi itu. Si penjaga rumah menjelaskan ciri-ciri fisik orang yang dimaksud, dari mulai tinggi badan, warna kulit, sampai panjang rambut, dengan sangat detil, hingga spontan Laura berkata, “Lauren.” Dan disambut cepat oleh penjaga rumah. “Betul, sekarang saya ingat namanya, Lauren.”

SHOOTING STAR

Laura merasa mulai melihat titik terang dari hubungan misterius antara Jodi dan Lauren. Selama ini dia hanya menduga-duga. “Ternyata Jodi selingkuh, dan Lauren menusukku dari belakang,” begitu pikir Laura. “Diam-diam ternyata mereka sering pergi bersama. Tapi mengapa mereka datang ke rumah Ardi, padahal Ardi yang menyukai Lauren sejak dulu. Hanya saja Lauren selalu mengabaikannya. Dia malah sangat agresif mendekati Jodi, sementara dia tahu Jodi tengah menjalin hubungan dengan aku, saudara sepupunya sendiri. Apa dia tidak malu.” Pikiran-pikiran itu berlintasan di kepala Laura. Antara marah, kesal, benci, dan cemburu, campur baur jadi satu. Pantas saja, pikirnya, Jodi tidak datang di pesta ulang tahun yang direncanakannya. Mungkin dia sedang merayakannya dengan Lauren.

“Pak, kalau boleh tahu, pacarnya Ardi siapa ya?” Entah kenapa tiba-tiba saja Laura mengajukan pertanyaan semacam itu.

“Ada sih, tapi saya kurang tahu yang mana, soalnya kadang yang datang ke sini beda-beda orangnya,” dengan polos penjaga rumah itu menjawab.

“Bukannya Lauren, Pak?”

“Lho, Lauren yang suka datang ke sini sama Jodi. Bukannya mereka itu berpacaran?”

“Dari mana bapak tahu mereka berpacaran?” Laura penasaran.

“Ya ‘kan kelihatan, dik. Beda kalau orang lagi sama-sama jatuh cinta.”

“Beda apanya?”

“Beda perilakunya.”

“Memang perilaku mereka bagaimana?”

“Bergandengan. Berpelukan. Apalagi kalau ditinggal sama Ardi keluar, pintu kamar mereka kunci, kita tidak tahu apa yang terjadi.”

One Shots ➳ Harry Potter. - Types: Cómo os besáis. - Wattpad

“Serius, Pak, mereka begitu?”

“Ah, enggak, saya cuma becanda, hehehee…”

Wajah Laura tampak kesal dengan jawaban itu. Dia sedang serius menyelidiki hubungan Jodi dan Lauren. Juga tentang pacar Ardi. Tapi si penjaga rumah itu malah bercanda. Namun diam-diam jauh di dalam hatinya dia bersyukur kalau itu tidak benar. Hanya saja Laura masih penasaran tentang teman-teman wanita Ardi yang sering datang ke sini, siapa mereka, dan siapa yang menjadi pacar Ardi.

Tapi kali ini Laura tidak berminat lagi menanyakan itu kepada si penjaga rumah. Dia ingin segera pulang, menemui Lauren untuk minta klarifikasi tentang semua yang baru saja diketahuinya dari penjaga rumah itu. Bagus kalau Jodi juga ada bersama Lauren sehingga dia bisa menyelesaikan semua urusan yang mengganjal di hatinya selama ini. Sementara itu Si Boy yang sejak tadi hanya diam kini mulai mengeong, dan mengeong lagi beberapa kali.

“Ya sudah deh, Pak, saya mau pamit. Tapi ngomong-ngomong kucing ini boleh ‘kan saya bawa ke rumah?” Tanya Laura. Dia mencari-cari kucing kurus yang tadi diberinya makanan. “Lho, ke mana ya, kucing itu?” Si penjaga pun mencari kucing itu, yang ternyata memang sudah tidak ada di tempatnya semula.

“Ke mana ya, Pak, kok bisa secepat itu dia menghilang?” Tanya Laura lagi.

“Ya bisa saja, mungkin kucing jadi-jadian.” Jawab si penjaga rumah.

“Kucing jadi-jadian bagaimana, Pak, saya nggak ngerti.”

“Maksudnya, mungkin saja dia itu bukan kucing betulan, ya bisa jin atau malaikat yang menyerupai bentuk kucing karena ada misi khusus.”

“Kok, ada misi khusus segala. Saya engga ngerti, Pak.”

“Misalnya tadi Dik Laura ‘kan lagi jalan terus lihat kucing kurus, terus dikasih makan, kalau orang lain ‘kan belum tentu. Nah, kucing itu sedang menguji, dan kamu lulus.”

“Bapak ngomong apa sih, saya jadi takut nih mau pulang. Takut ada apa-apa lagi.”

“Kamu nggak perlu takut. Orang baik seperti kamu, yang suka menolong sesama, menolong makhluk Allah, akan selalu ada yang melindungi. Walaupun kamu tidak melihatnya.”

Aaaa

“Sudahlah, Pak, jangan diterusin. Saya nggak ngerti juga. Sekarang saya mau pamit, ya.”

Setelah mengucapkan itu Laura langsung pergi diiringi Si Boy, tanpa menunggu jawaban dari orang itu. Dia hanya ingin segera bertemu dengan Jodi dan Lauren.

***

Beberapa saat kemudian dari balik pintu rumah itu, Ardi keluar dan bertanya kepada mamanya yang masih berdiri di teras.

“Kok mama nggak masuk. Ditanyain sama papa tuh,” ujar Ardi.

“Mama lagi perhatikan perempuan yang tadi ada di situ. Itu teman kamu?”

“Iya itu Laura, teman SMP dulu. Ke mana dia sekarang?”

“Itu yang mama lagi cari tahu. Tadi kelihatannya dia ngobrol sama orang. Mama kira itu teman kamu juga.”

“Ngobrol sama orang, siapa ya? Tadi waktu saya datang dia sendirian saja kok. Katanya habis dari kampung atas.” Ardi menunjuk ke kampung yang terletak di daerah yang tinggi. “Tadinya saya mau antar dia pulang, tapi kan Papa perlu Ardi.”

Penasaran, akhirnya Ardi melangkah ke depan gerbang rumahnya. Semua sudut dilihat. Tidak ada yang luput dari pengamatannya. Tapi suasana sepi. Tidak ada siapa pun di sana. []

 

Lanjut membaca –>  Laura & Burung Hantu (IX)

  Laura & Burung Hantu (VII)  <– Cerita sebelumnya

 

Categories
Esai

Sementara Kita Saling Berbisik: Mengenang SDD

Pagi tadi saya membuka twitter dan mata saya tertumbuk ke trending topic di posisi paling atas: #PakSapardi. Saya curiga ada apa-apa, karena beberapa hari sebelumnya beliau masuk rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian, muncul lagi trending topic #EyangSapardi. Dengan tangan bergetar saya membuka trending topic tersebut, daaan… “kecurigaan” saya terbukti. Pak Sapardi Djoko Damono, sastrawan besar Indonesia yang akrab disapa SDD itu, meninggal dunia di Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan, pada hari Minggu, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB. Beliau meninggal di usia 80 tahun. Sebelumnya menderita beberapa penyakit (komplikasi).

Sastrawan-Sapardi-Djoko-Damono-Tutup-Usia-Foto-Prelo36496eb435756c1e

Deretan ucapan belasungkawa memenuhi linimasa twitter. Tidak sedikit juga yang mengutip sajak-sajaknya, atau mengungkapkan kenangan pribadinya bersama penyair “Hujan Bulan Juni” tersebut.  Dan hari ini di media sosial, orang seakan diberi tahu bahwa sajak SDD bukan hanya Hujan Bulan Juni, atau Aku Ingin, melainkan banyak, banyak sekali yang bagus, yang jarang diekspose, kecuali oleh mereka yang memang memiliki minat besar pada puisi, atau yang memiliki selera bahasa estetika. Memang yang terkenal dua sajak itu (Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin), bahkan saking terkenalnya sampai-sampai sajak Aku Ingin dicetak di surat-surat undangan pernikahan.

4Y6d1223

Sebenarnya selain dua sajak itu, sajak-sajak SDD yang lain juga tak kurang syahdunya, sebut saja misalnya Hatiku Selembar Daun, Pada Suatu Hari Nanti, Pertemuan, Dalam Diriku, Sementara Kita Saling Berbisik, dll. Sajak yang saya sebut terakhir itu, Sementara Kita Saling Berbisik (SKSB), adalah sajak favorit saya. Walaupun semua sajak SDD bagi saya selalu memiliki gema dalam diam, sajak SKSB bagi saya sangat istimewa karena seperti suara yang dibisikkan ke dalam jantung jiwa tentang apa yang tidak selalu saya pahami: hidup, cinta, perjalanan, waktu… !! Bahkan setiap kali saya berbicara dengan SDD saya merasa beliau sedang berbisik. Beliau memang tipe manusia yang lembut. Bicaranya lembut, tatapan matanya lembut, bahasa tubuhnya lembut. Itulah sebabnya puisi-puisi yang lahir dari tangan beliau juga puisi-puisi yang lembut.   

kita

Sebuah hukum alam mungkin berlaku, bahwa seorang pengarang akan lebih dikenal secara utuh setelah kematiannya. Sebab, setelah kematian itulah pengarang justru hidup selamanya. Karya-karyanya diburu, biografinya dibaca, legacy-nya diawetkan di museum ingatan.

Saya bergetar membaca salah satu bait sajak SDD yang satu ini: “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Larik sajak ini mengingatkan saya pada larik terkenal dari penyair “Binatang Jalang” Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Keduanya menegaskan kefanaan diri, namun melalui kefanaan itu ada keabadian.

tumblr_o85960FovT1vwv8yao1_640

Kenangan

Suatu hari di tahun 2011 saya berkunjung ke rumah Pak Sapardi Djoko Damono (SDD) di kompleks dosen UI di Ciputat, Tangerang Selatan. Setelah berbincang tentang segala hal dari soal kemacetan hingga kesehatan, saya menyerahkan sebuah naskah antologi puisi karya para mahasiswa saya di Swiss German University (SGU). Sejak tahun 2007 hingga sekarang saya mengajar mata kuliah bahasa dan budaya di kampus tersebut. Saya meminta beliau membacanya, dan kalau berkenan membuat kata pengantar, setidaknya membuat endorsemen barang satu dua kalimat. “Saya baca dulu,” ujarnya.

Keesokan harinya saya menerima pesan dari beliau, “Saya mau menulis kata pengantar, ya,” tulisnya. Alangkah senangnya saya. Saat saya masuk kelas,  saya beritahukan hal itu kepada mahasiswa saya, mereka pun senang. Sebab puisi-puisi SDD adalah puisi yang paling banyak dibaca oleh mahasiswa saya saat mereka harus tampil ke depan kelas membaca puisi.

Tidak sampai satu minggu Pak Sapardi  mengirimkan kata pengantar untuk buku itu ke email saya. Tidak sabar saya langsung membacanya. Di antaranya beliau menulis begini:

“Buku yang berisi kumpulan karangan mahasiswa SGU ini mengingatkan saya tentang pentingnya kebebasan siapa pun untuk mendapat akses ke pemahaman dan penciptaan bahasa. Boleh dikatakan bahwa para penulis ini belajar apa yang kita sebut “ilmu keras”, tetapi ternyata memiliki niat dan kemampuan untuk masuk ke dunia kreativitas yang mungkin dianggap “lembek”, yakni kesusastraan. Mungkin sekali sewaktu masih belajar di sekolah menengah, mereka dianggap tidak perlu mempelajari kesusastraan: tidak “sepantasnya” mengungkapkan pengalaman dan perasaan dalam karya sastra, tidak elok menulis esai tentang karya sastra. Namun, ternyata mereka memiliki minat dan kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut.”

Satu bulan kemudian buku yang memuat sekitar 80-an puisi itu terbit. Lalu saya mengantar beberapa mahasiswa SGU ke rumah Pak Sapardi untuk menyampaikan kado sebagai tanda ucapan terima kasih kepada beliau karena telah bersedia memberi kata pengantar buku mereka. Tentu mereka senang sekali; suatu kehormatan yang sangat besar bahwa buku antologi mahasiswa diberi kata pengantar oleh begawan sastra.

istana-angin-sgu

 

****

Puisi-puisi itu sendiri sebetulnya berasal dari tugas-tugas mahasiswa dalam kuliah yang saya ampu. Jumlah mahasiswa 250 orang dari semua jurusan, berarti ada 250 puisi yang saya seleksi dan terpilihlah 80 puisi yang dimuat dalam buku itu. Saya tidak tahu apakah sebelumnya pernah ada buku puisi yang terbit yang berasal dari tugas-tugas kelas. 

Saya teringat pesan yang disampaikan Pak Sapardi kepada para mahasiswa saya waktu berkunjung ke rumahnya itu. “Kalau kita mau mengembangkan bahasa Indonesia, kita harus menulis puisi, tidak ada cara lain,” ujarnya. Buku itu pun kemudian diluncurkan di kampus SGU dengan menghadirkan Pak Sapardi bersama penyair Agus R. Sardjono.

ClMEPg3VAAAIaD8

Pada Desember 2017 saya bertemu dengan SDD di Selangor, Malaysia,  dimana beliau dan saya diundang menjadi pembicara dalam suatu seminar tentang sastra Melayu. Saya berangkat bersama penyair Aan Mansyur. Dan di sana sudah ada beberapa sastrawan Indonesia yang juga diundang ke acara tersebut, antara lain Goenawan Mohamad, penyair Dorothea Rosa Herliani, novelis Nukila Amal, dll.

SDD
Bersama penyair senior Sapardi Djoko Damono usai diskusi sastra di Shah Alam. Malaysia, 10 Des 2017

Begitu keluar dari ruang seminar, saya tunjukkan salah satu puisi saya di dalam buku Senja di Jakarta yang  berjudul Kursi Ruang Tungga, sebagai “tanggapan” terhadap puisi beliau yang sangat terkenal, Hujan Bulan Juni, dan beliau membacanya terkekeh-kekeh..

KURSI RUANG TUNGGU

untuk SDD

kursi

tak ada yang lebih tabah dari kursi ruang tunggu;

dirahasiakannya resah rindunya pada kenangan

di bangsal tua itu.

tak ada yang lebih bijak dari kursi ruang tunggu;

dibiarkannya takdir meninggalkannya

di tempat terkutuk itu.

tak ada yang lebih arif dari kursi ruang tunggu;

dihapuskannya sisa-sisa airmatanya yang kering

di pelukan malam itu.

— Akasia Valley, Serpong – 5/8/17

Selamat jalan Eyang Sapardi

Yang fana adalah waktu, engkau abadi…

ahmadgaus-

Baca juga: Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

 

Categories
Budaya

Hagia Shopia Siapa Punya?

Akhir-akhir ini banyak postingan beredar di grup-grup WA yang memuji-muji tindakan Erdogan yang mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid. Tindakan Presiden Turki itu dikaitkan dengan Sultan Muhamad al-Fateh di masa lalu yang lebih dulu merebut gereja Hagia Sophia itu dari umat Kristiani dan dijadikan masjid.

Gereja/Masjid Sophia itu selama ratusan tahun memang menjadi “rebutan” antara umat Kristiani dan umat Islam. Selama Kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia merupakan bangunan gereja. Era Kekaisaran Bizantium berakhir pada 1453 setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II dari Kekaisaran Ottoman. Kemudian status Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid.

200703-seibert-hagia-sophia-hero_awtsib

Setelah Turki menjadi republik, Presiden Kemal Attaturk “menetralkan” gereja/masjid itu menjadi museum pada 1934. Dengan demikian melepaskan kepemilikan emosional dari dua umat tsb. Bukan rumah ibadah Kristiani, bukan pula rumah ibadah Muslim. Melainkan situs warisan dunia milik peradaban Timur dan Barat, Islam dan Kristen.

Nah, pada 10 Juli lalu, Presiden Turki, Erdogan mengubah Hagia Shopia dari museum menjadi masjid. Padahal Hagia Sophia sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada 1985. Dengan status itu, maka perubahan fungsi bangunan harus dikonsultasikan dulu ke Unesco. Erdogan sama sekali mengabaikan itu. Tindakannya itu, yang mengatasnamakan kedaulatan negara, adalah tindakan sepihak, mengabaikan hak masyarakat internasional, tidak etis, dan sekaligus konyol.

Kalau diurut bahwa bangunan itu awal mulanya adalah gereja, tindakan itu juga sangat memalukan. Tidak menunjukkan sensitivitas dalam hubungan antar-agama. Tidak mendukung perdamaian dunia. Dan lebih serius lagi, tidak mencerminkan akhlak Nabi yang sangat menghornati rumah ibadah agama lain. Para khalifah dan sahabat Nabi pun tidak pernah ada yang melakukan itu.

Itulah mengapa banyak umat Islam tidak bahagia dengan keputusan Erdogan tsb. Karena ini menyangkut “perasaan’, hubungan baik Islam dan Kristen, serta masalah sopan santun. Coba bayangkan kalau Masjid Cordoba di Spanyol diubah menjadi gereja (karena dulunya memang gereja) oleh pemerintah di sana karena dia punya kuasa untuk melakukan itu. Bagaimana perasaan umat Islam. Begitulah sekarang yang dirasakan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia.

Dulu khalifah Umar bin Khatab menaklukkan Yerusalem. Pemimpin umat Katolik di sana sudah memberikan kunci gereja terbesar kepadanya untuk dijadikan masjid. Tapi Umar menolaknya. Beliau membiarkan gereja itu tetap sebagai gereja. Itulah akhlak Islam.

agiasofia-thumb-large-thumb-large-thumb-large

Ketika sahabat Nabi, Khalid bin Walid menaklukkan Damascus, beliau dan pasukannya membutuhkan tempat untuk shalat Jumat. Banyak gereja-gereja besar yang bisa dialihfungsikan menjadi masjid. Tapi beliau tidak mau melakukannya. Tidak terpikir untuk mengubah gereja menjadi masjid karena akan melukai hati orang-orang Kristen. Beliau mengajak pasukannya untuk membangun masjid sendiri. Begitulah akhlak Islam.

ckGJWLAsvj
Paus Fransiscus

Nah, Haga Shopia ini sudah lebih seribu tahun berdiri sebagai gereja, lalu orang Islam mengubahnya menjadi masjid. Attaturk pernah menjadikannya situs netral dengan menjadikannya museum yang berarti bisa diakses dan sekaligus dibanggakan oleh umat Islam maupun Kristen. Sekonyong-konyong, minggu lalu, Erdogan mengubahnya menjadi masjid. Dunia tersentak. Paus Fransiscus bersedih. Dan sebagai muslim, saya sungguh malu.[]

 

Tulisan ini juga dimuat di:

https://arrahim.id/gaus/tindakan-erdogan-untuk-hagia-sophia-cukup-memalukan/

-Ahmad Gaus-

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (VII)

– 13 –

Tamu Malam Hari

Sosok bayangan yang merenggut tubuh pria itu bergerak sangat cepat bagaikan kilat. Dalam sekejap dia sudah berada di suatu tempat, dan secepat itu pula menghilang. Perempuan penunggu telaga pun dibuat termangu. Bahkan si pria yang bersamanya sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi.

Dan sekarang, pria itu sudah tergeletak di teras rumahnya. Beberapa lama dia pingsan, sampai kemudian terbangun oleh tangisan seorang bayi. Dengan cepat dia masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi bayi yang sejak tadi ditinggalkannya.

Bayi itu masih di tempatnya semula, di atas sofa, dihalangi oleh kursi agar tidak jatuh ke lantai. Di atas meja dilihatnya secarik kertas bertulisan: “Kakek ke luar dulu cari obat.” Gila, pikirnya, dia tinggalkan bayi ini sendirian. Bagaimana kalau terjadi apa-apa, misalnya ada orang masuk dan mencurinya. Sekarang.ini lagi marak pencurian anak untuk diperjualbelikan.

011087071208c4f2458121eadd27996a

Tangisan bayi itu semakin keras, membuat si pria terlihat panik. Dalam pikiannya hanya satu: bayi itu lapar. Tapi susu tidak ada. Dia sudah mencarinya ke luar, malah terjebak masuk hutan. Sepeda motornya bahkan tertinggal di gardu pinggir jalan. Dia semakin kalut. Dia berjalan ke dapur dan mencari-cari sesuatu yang  bisa dijadikan makanan pengganti susu. Hanya ada nasi dan lauk pauk. Tidak mungkin memberikannya pada si bayi. Dia berjalan ke kamar tidurnya. Ada sepotong roti di atas meja, sisa perjalanan kemarin lusa.  Di sebelahnya tergeletak sebungkus biskuit. Dia mendapat ide. Diraihnya roti dan biskuit tersebut dan dia kembali ke dapur. Kali ini dia mengambil gula. Dimasukkannya gula itu ke dalam setengah gelas air hangat, dan diaduk.

Setelah air di dalam gelas itu suam-suam kuku, dia tuangkan ke dalam mangkuk kecil dicampur dengan biskuit yang sudah dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil. Lalu dengan hati-hati pria itu memasukkan biskuit yang sudah larut dalam air gula ke mulut bayi. Tampak bibir si bayi bergerak-gerak. Namun tidak lama kemudian kepalanya meronta ke kiri-kanan seperti menolak asupan di mulutnya. Gerakan itu juga membuat cairan gula dan biskuit itu meleleh dari mulutnya. Pria itu mencoba lagi menyuapi, tapi hal yang sama terulang lagi, hingga dia merasa putus asa, dan meletakkan mangkuk kecil itu di atas meja.

Ketika dia berpikir apa lagi yang akan dilakukan, suara ketukan terdengar di pintu. Apakah itu si kakek, pikirnya. Biasanya kalau si kakek langsung membuka pintu tanpa mengetuk. Suara ketukan terdengar lagi. Tiga kali.

83ac7e8ffb3e4cb80d81c65070d24ec0

“Siapa?” Tanya pria itu.

“Aku mau antar titipan dari kakekmu,” jawab seseorang di balik pintu. Suara seorang perempuan. Pria itu tidak langsung membukakan pintu. Dia masih teringat peristiwa yang baru saja dialamnya dengan seorang perempuan pedagang yang membawanya terjebak di hutan. Jangan-jangan dia lagi, pikirnya. Alih-alih menuju pintu, dia pergi ke ruang belakang mengambil senapan angin – senapan tua milik si kakek yang biasa digunakan untuk menembak tikus di rumah.  

“Tok, tok, tok.” Pintu diketuk lagi

“Tunggu sebentar,” jawab pria itu sambil mengokang senapan dan bersiap membuka pintu.

          “Bawa titipan apa dari kakek?” Sekali lagi ia memastikan ketika langkahnya tinggal satu meter dari pintu.

“Susu bayi,” jawab orang itu.

Wajah pria itu berubah senang. Ahh, kebetulan, pikirnya. Pintu pun dibuka. Seorang perempuan setengah baya, ya, dan wajahnya pernah dia kenal.

“Mbak….?” Suara pria itu terputus

“Resti.” Jawab perempuan itu. “Masak lupa, sih?!”

“Oh iya Mbak Resti. Lho ‘kan memang sudah lama sekali kita nggak ketemu, Mbak.”

“Betul juga ya, ada sekitar 5 tahun saya pergi dari kampung ini,” jelas perempuan itu. Dia menatap benda panjang yang berada di tangan tuan rumah. “Kok, bawa-bawa senapan. Apa mau menembak saya?”

“Eeh, nggak, Mbak. Tadi, anu, saya lagi mengejar tikus. Soalnya banyak banget tikus di sini.

“Oh, gitu.”

“Ayo masuk, Mbak Resti, jangan berdiri di situ terus!”

Perempuan yang dipanggil Mbak Resti itu masuk dengan kantong plastik berisi susu bayi di tangannya. Dia mengikuti tuan rumah ke ruang tengah di mana sang bayi masih terlihat meronta-ronta di atas sofa sambil menangis.

“Kasihan ya kayaknya dia lapar,” ujar perempuan itu.

“Iya, Mbak, makanya saya senang sekali kakek nitipin susu ini. Ngomong-ngomong dulu Mbak Resti merantau ke… ee… ke mana itu, saya lupa?” Pria itu bertanya sambil meraih kotak susu bayi dan langsung membuka segelnya.

“Ah cuma ke Kalimantan, ikut suami tugas di Pontianak. Dan sekarang kontrak kerjanya sudah habis. Jadi saya pulang kampung.”

“Jadi suami Mbak Resti kerja di mana sekarang?”

“Dia buka toko kecil-kecilan. Itu yang di seberang kantor pos.”

“Tapi kok bisa ketemu kakek saya, bagaimana ceritanya?”

“Ya di toko itu. Dia beli susu ini dan nitip ke saya untuk diantarkan, karena dia ada urusan dulu, katanya.” Mbak Resti menjelaskan.

Si pria manggung-manggut, tangannya merobek kemasan susu dan mulai menuangkannya ke dalam gelas di atas meja.

“Sebentar ya Mbak, saya mau ambil air panas dulu,” ucapnya seraya berjalan ke arah dapur. “Ngomong-ngomong Mbak Resti mau minum apa?” Dia bertanya dari dapur. Tidak ada jawaban. Hanya suara tangis bayi yang terdengar lebih nyaring.

Usai menuangkan air panas ke dalam gelas dan mengaduknya, pria itu kembali ke ruang tengah. Tapi sekarang sepi. Perempuan itu sudah tidak ada di tempat. “Mbak, Mbak Resti.” Dia memanggil-manggil. Karena tidak ada sahutan, dia melangkah ke luar. Pintu yang sejak tadi tidak ditutup itu mengembuskan udara dingin dari luar.

Pria itu kembali memanggil-manggil Mbak Restu. Tapi tetap tidak ada jawaban. Dicarinya perempuan itu di setiap sudut teras dan halaman. Tetap tidak ditemukan. Bulu kuduknya berdiri. Dia melangkah ke dalam untuk mengambil senapan. Betapa kagetnya dia, sebab si bayi pun sudah tidak ada lagi di tempatnya.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (VIII)

 Laura & Burung Hantu (VI)  <-  Cerita sebelumnya

 

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (VI)

– 12 –

 Mencari Susu Bayi

Pria itu menghidupkan sepeda motor dan langsung tancap gas. Hanya beberapa menit saja dia sudah masuk ke jalanan umum, dan langsung menuju minimarket yang biasa dikunjunginya. Ada beberapa orang pengunjung di dalam, tapi meja kasir kosong. Maka dia menghampiri petugas kasir yang tengah berjaga.

“Selamat datang di ***mart selamat berbelanja.” Petugas perempuan menyambutnya sambil tersenyum.

“Maaf, Mbak, saya cari susu bayi, di mana ya tempatnya?”

“Susu bayi lagi kosong, Mas, mungkin besok baru ada lagi.”

“Oh begitu. Di mana lagi ya yang ada?”

“Wah, nggak tahu, Mas, biasanya kalau satu kosong, di tempat lain juga kosong karena pemasoknya sama. Mungkin Mas bisa cari di toko-toko sembako.”

Tidak mau membuang-buang waktu, pria itu langsung pergi setelah mengucapkan terima kasih. Kembali dia berada di atas sepeda motor. Kali ini mencari toko sembako seperti saran petugas kasir. Sepanjang jalan umum itu dia memperlambat laju sepeda motornya sambil menengok ke kiri kanan jalan mencari toko sembako. Ada satu toko sembako yang dia ingat terletak di samping Gang Musyawarah. Tapi begitu dia ke sana, ternyata toko itu sudah tutup. Terpaksa dia mencari toko lain.

Baru beberapa meter meninggalkan tempat itu mesin sepeda motornya mendadak mati. Dituntunnya sepeda motor itu ke pinggir jalan dan dicoba dihidupkan lagi dengan cara menekan tombol start. Beberapa kali dicoba, tapi gagal. Harus diselah, pikirnya. Dia pun mencoba cara itu, tapi lagi-lagi tidak berhasil. Tidak salah lagi, pikirnya, ini pasti bensinnya habis. Dia teringat kemarin lusa bepergian jauh, dan pulangnya lupa mengisi bensin.

Akhirnya terpaksa dia menuntun sepeda motornya. Jalanan naik dan turun membuat tenaganya terkuras, keringatnya mengucur deras. Untungnya beberapa meter di depan sana ada tukang bensin eceran persis di depan sebuah warung kecil. Melihat itu, tenaganya seperti pulih kembali. Dituntunnya sepeda motor itu lebih cepat sampai ke depan lapak bensin.

32pertamax

“Pertalite dua liter ya, Mbak” ujarnya sambil membuka tutup tank. Si penjaga lapak bensin menarik selang dan mulai mengisi tank bensin motor yang tampaknya memang sudah kosong, sehingga diisi dua liter pun, bensin itu tidak muncul ke permukaan lubang pengisian.

Sebelum membayar, pria itu bertanya, “Maaf Mbak, eh, Ibu, warung ini punya siapa ya?”

“Ini punya saya juga, kenapa Mas?”

“Jual susu bayi nggak, Mbak, eh Bu?”

“Panggil saya mbak saja!! Wah, kalau itu enggak ada, Mas, harus cari di minimarket.”

“Saya sudah cari, Mbak, tapi lagi kosong semua. Belum ada pasokan lagi katanya.”

Pria itu mengeluarkan uang 20 ribuan dan memberikannya kepada penjual bensin. Namun ia masih bertanya. “Mbak, maaf, eee.. saya lagi kesulitan mencari susu bayi, padahal bayi di rumah saya sangat memerlukannya. Apa mbak, ee.. bisa membantu saya?”

“Maksudnya, membantu bagaimana ya?”

“Eee.., begini, aduh bagaimana menjelaskan ya. Maksud saya, ee.. maksud saya bisa nggak Mbak ikut ke rumah saya untuk menyusui bayi itu, cuma sekali ini saja. Nanti saya bayar. Maaf ya Mbak kalau saya lancang. Tapi saya terpaksa.”

“Oo, begitu. Saya mengerti. Tapi… bagaimana ya, ini kan sudah malam. Apa kata orang nanti kalau saya ke rumah Mas dan menyusui bayi. Kalau orang-orang tahu bisa jadi masalah, Mas.”

“Oo, nggak, Mbak. Rumah saya jauh dari rumah-rumah tetangga. Kalau kita ke sana nggak akan ada yang tahu. Nanti kalau sudah selesai secepatnya Mbak saya antar lagi ke sini. Tolonglah, Mbak, kasihan bayi itu?”

“Bayi itu anaknya si Mas?”

“Bukan, sih. Nanti saya ceritakan semuanya di rumah. Bagaimana, Mbak, pliss… bantu saya ya!?”

Pedagang itu terdiam. Sesaat dia menengok ke dalam warungnya. Si pria itu rupanya mengerti. Dia menyarankan agar warungnya tutup dulu sementara waktu. Dan dia akan membayar sebagai kompensasinya. Pedagang itu menatap wajah pria di hadapannya yang penuh harap.

“Begini saja. Saya juga ‘kan punya anak kecil. Di rumah saya ada persediaan susu bayi. Bagaimana kalau kita ambil ke rumah saya? Kalau setuju, warung saya tutup.”

Tanpa bertanya ba-bi-bu lagi si pria itu langsung menyetujui. Tidak lama kemudian keduanya sudah berada di atas sepeda motor menuju rumah sang pedagang. Tidak banyak percakapan di jalan, kecuali tentang jarak tempuh, karena si pria itu selalu bertanya apa masih jauh? Apa tidak ada jalan memotong. Akhirnya si pedagang itu meminta sepeda motor berhenti di dekat sebuah gardu pinggir jalan.

Suasana-Jalan-Mesjid-Al-Muhajirin-di-malam-hari-yang-tampak-telah-terang-benderang-setelah-dipasangi-lampu-jalan.

“Kalau mau jalan memotong, kita lewat sini,” ujarnya, menunjuk sebuah jalan di antara pohon dan semak belukar.

“Tapi jalan itu kecil sekali, Mbak. Dan motor saya juga tidak bisa melewati jembatan kayu ini.”

“Motormu ditaruh saja di belakang gardu itu. Aman, kok. Kita jalan lewat sini.”

Si pria itu menurut. Usai meletakkan sepeda motornya di tempat yang ditunjuk, dia mengikuti langkah si pedagang. Mereka berjalan melewati perkampungan penduduk dengan rumah-rumah yang belum terlalu padat. Wilayah itu masih didominasi oleh perkebunan yang luas hingga tampak seperti hutan kecil. Ada beberapa lahan kosong, lapangan bola, pemakaman umum, tanaman palawija, yang menandakan bahwa daerah itu cukup hidup. Bahkan di jalan sepi masih terlihat ada orang lewat, juga pedagang bakso, nasi goreng, atau tukang sate keliling. Mereka kerap saling menyapa.

“Pulang, Mbak? Kok tumben masih sore warungnya sudah tutup?”

Perempuan pedagang itu biasanya menjawab dengan ramah, walaupun hanya jawaban singkat.

Pertanyaan yang membuat perempuan pedagang itu tampak grogi berhubungan dengan pria itu. “Itu siapa, Mbak, saudara atau adik, kok saya baru lihat?”

Atau,

“Wah, sama orang baru, nih. Dari mana dia, Mbak?”

Pertanyaan sejenis itu tidak pernah dijawab oleh perempuan pedagang tersebut. Namun dia acuh tak acuh seperti tidak terganggu, kecuali mempercepat langkahnya untuk menghindari pertanyaan lain. Kini giliran pria yang berjalan bersamanya yang bertanya:

“Masih jauh nggak, Mbak? Perasaan saya kok nggak sampai-sampai, ya?”

“Nggak, kok, sebentar lagi kita sampai.”

images222

“Mbak setiap hari lewat jalan ini sendirian?”

‘Ya mau lewat mana lagi? Ini jalan memotong yang paling dekat.”

“Nggak takut, Mbak?”

“Apa yang harus ditakuti. Saya sudah biasa kok, setiap hari lewat jalan ini. Mas lihat sendiri ‘kan tadi banyak orang yang lewat sini juga. Lagi pula ini kampung saya dari dulu. Saya sudah hapal semua keadaan di sini.”

Tidak lama kemudian si pedagang itu menghentikan langkahnya. Dia memperhatikan pria yang bersamanya. Napasnya terengah. Maklum perjalanan itu memang lumayan jauh.

“Akhirnya kita sampai,” ucapnya.

“Yang mana rumahnya, Mbak?”

“Ini.” Pedagang itu menunjuk sebuah pohon.

“Lho, pohon ini?”

“Iya.”

images76

Pria itu terkejut, dan menggosok-gosok matanya dengan punggung tangan. Apa aku tidak salah lihat, pikirnya. Pohon itu, dia mulai ingat, adalah pohon pinggir telaga dimana beberapa waktu lalu dia menyaksikan seorang perempuan bersembunyi di baliknya sehabis mandi. Untuk meyakinkan penglihatannya, dia lalu beringsut beberapa langkah ingin melihat apakah benar di dekat pohon itu ada telaga. Sebuah pemandangan yang sangat dia kenal terhampar di depannya. Ya, telaga. Dan di seberang telaga itu tidak lain adalah pohon tempat dia bersembunyi sepanjang sore tadi.

Bulu kuduknya berdiri. Aku terjebak, pikirnya. Dia membalikkan badannya dengan maksud untuk berlari. Namun baru saja satu kakinya bergerak, perempuan tadi sudah berdiri persis di belakangnya dan mendorong tubuhnya hingga terperosok ke telaga. Hanya beberapa sentimeter sebelum tubuhnya jatuh ke dalam air, sekonyong-sekonyong sesosok bayangan melintas dan merenggut tubuhnya secepat kilat.

Perempuan itu berdiri mematung di depan telaga. Wajahnya tampak geram. Suasana hening di sekitarnya pecah oleh suara burung hantu, geuukk… geuuuk… geuukkkK..

Lanjut membaca ->  Laura & Burung Hantu (VII)

Laura & Burung Hantu (V)  <- Cerita sebelumnya

 

 

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (V)

– 11 –

Kisah Pakaian Laura

Sementara itu pria yang berada di telaga masih berusaha mendekati pakaian perempuan yang tengah mandi. Dia merangkak dengan hati-hati sekali karena tidak ingin melakukan kesalahan dua kali, seperti saat dahan yang diinjaknya patah dan menimbulkan suara. Akibatnya perempuan itu sempat naik ke darat dan memperhatikan sekeliling. Untung saja perempuan itu tidak mendongak ke atas pohon di mana Ardi bersembunyi.

Kini jarak dirinya dengan pakaian perempuan itu tinggal satu meter. Dia makin mendekat, dan makin hati-hati. Begitu tangannya meraih pakaian itu, seekor katak melompat dan menjatuhkan tubuhnya persis di atas tumpukan pakaian. Refleks pria itu menarik kembali tangannya seraya matanya melihat ke arah telaga. Dia khawatir perempuan itu memergoki perbuatannya. Tapi rupanya perempuan itu tidak menyadari apa yang terjadi. Dia masih asik berenang ke sana ke mari. Kadang cukup lama menyelam, dan saat muncul di permukaan air tubuhnya melonjak ke atas seperti seorang perenang profesional yang tengah menunjukkan kepiawaiannya. Dia tidak peduli bagian pinggulnya mencuat ke pemukaan air.

1c93ae52f950fb958120362eab7a694d

Pria itu ragu-ragu untuk mengusir katak di atas pakaian. Dia takut katak itu terkejut dan melompat ke semak-semak hingga menimbulkan suara gaduh. Dia terdiam beberapa lama, sampai sebuah pikiran terlintas di kepalanya: Kalau aku ambil pakaian ini, lantas bagaimana perempuan itu nanti? Apakah dia harus meninggalkan tempat ini dalam keadaan bertelanjang? Kalau aku bisa menutup tubuhku dengan daun-daunan seperti yang kulakukan sekarang dan  bisa pulang dengan mengendap-endap? Tapi perempuan itu, bagaimana?

Tidak ada jalan keluar. Lebih tepatnya, pria itu tidak tega membiarkan perempuan tersebut nanti pergi tanpa busana. Dia menghela napas perlahan, dan mulai menggeser posisinya mendekati pohon tempat dia bersembunyi sejak sore tadi. Dia tercenung sambil menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. Pandangan matanya menerobos keremangan malam di pinggiran hutan yang letaknya tidak terlalu jauh dari perumahan penduduk itu. 

***

Hari semakin gelap. Bulan hanya sepotong, dan cahayanya redup tertutup awan. Suara kecipak air terdengar semakin jarang. Pria itu melongok ke arah telaga untuk melihat situasi. Rupanya perempuan itu masih berendam. Pria itu memakai kembali daun-daun penutup tubuhnya. Dan tanpa menengok lagi ke arah telaga ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati meninggalkan tempat tersebut tanpa peduli lagi dengan perempuan itu dan pakaian yang hendak dicurinya.

Namun baru beberapa meter kakinya melangkah tiba-tiba terdengar sebuah suara yang cukup keras dari telaga. “Huuuuuu….!!” Sontak pria itu menengok ke belakang. Ternyata suara itu berasal dari perempuan yang kini telah berada di darat. Suaranya seperti orang yang menghembuskan udara dari mulut karena kedinginan. Benar saja, perempuan itu terlihat seperti menyilangkan kedua tangan  menutupi tubuhnya seolah menahan gigil. Tapi anehnya, dia berada di daratan yang bersebrangan dengan tempat dia meletakkan pakaiannya.

Pria itu menjadi penasaran. Dia berbalik, dan sambil terbungkuk berjalan ke tempat pakaian. Semua pakaian masih ada di tempat semula. Lantas kenapa perempuan itu naik ke darat di seberang sana. Apakah dia lupa meletakkan pakaiannya di sini. Sekilas dia melihat perempuan itu mengeringkan rambut dengan sebuah kain sambil duduk di sebuah akar pohon besar. Gerimis yang datang tiba-tiba dihempaskan angin kencang membuat pandangan di sekitar menjadi kabur.

gerimis

Perempuan di seberang sana kini bahkan menghilang dari pandangan. Angin kencang berembus lagi melontarkan butir-butir gerimis menimpa dedauan menimbulkan bunyi kesiur. Ketika angin berhenti, samar-samar sosok itu muncul lagi dari balik pohon. Kini dia telah mengenakan pakaian putih. Namun ketika angin kencang berembus lagi, perempuan itu kembali menghilang di balik pohon.

Bersamaan dengan itu, sebuah suara lain terdengar — suara tangis bayi. Dan suaranya bukan dari seberang sana melainkan tidak jauh dari tumpukan pakaian. Pria itu menyelidik ke bawah rumpun tempat sebuah sosok bergerak-gerak dan mengeluarkan tangisan. Didekatinya sosok itu. Benar, bayi yang tampaknya baru berumur beberapa hari. Sebagian tubuhnya dipenuhi bekas gigitan hewan.

Tanpa memedulikan lagi perempuan yang berada di seberang sana, pria itu segera memakai pakaian yang berada di depannya, pakaian milik Laura. Setelah itu diambilnya si bayi tersebut dan didekapnya, lalu dia berlari sekencang-kencangnya.

D1167_17_001_0004_600

Pria itu tidak menengok ke belakang lagi. Pandangannya fokus pada jalan yang akan dilaluinya. Dia melewati jalan-jalan kecil di perkebunan yang hanya mendapat pencahayaan samar dari lampu-lampu jalan di kejauhan. Tapi rupanya dia sudah hapal benar jalan-jalan itu sehingga kecepatan berlarinya tidak membelokkan arah yang dituju.

Lima belas kemudian dia sudah tiba di halaman rumahnya. Tanpa mengetuk pintu rumah dia langsung membukanya dan berlari ke dalam. Lalu meletakkan bayi yang dibawanya di atas kursi sofa.

“Siapa itu yang kau bawa?” Seorang pria tua menegurnya dari arah belakang.

“Bayi, Kek. Aku menemukan dia di pinggir hutan.” Dia menjawab tanpa menengok. “Sekarang aku harus ke luar mencari susu untuk dia,” tambahnya. Hanya sekilas dia menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana bisa menemukan bayi itu kepada orang yang dia panggil kakek itu. Sesaat kemudian dia mengambil uang dari laci meja dan bersiap untuk ke luar mencari susu bayi. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

“Si Belang mana, Kek?” Dia menanyakan kucingnya.

“Eee.. begini..,” si kakek tampak grogi. “Tadi ada seorang perempuan datang ke sini bersama Si Belang, lalu dia izin membawa kucing itu ke rumahnya. Dia bilang besok akan datang lagi ke sini untuk bilang sama kamu.”

“Perempuan? Dia membawa Si Belang? Siapa dia, Kek?”

“Kakek tidak tahu, katanya dia kenal sama kamu.”

 “Ya sudahlah, nanti saja kita bahas lagi. Aku mau ke luar dulu mencari susu bayi.”

Pria itu segera beranjak pergi tanpa menutup pintu rumah. Si kakek mendekati bayi itu. Dia perhatikan bagian-bagian tubuhnya yang dipenuhi luka bekas gigitan hewan. “Jadi aku harus merawat lagi anak-anak hantu sampai besar, sampai mereka punya sayap dan pergi sendiri dari rumah ini,” bisik si kakek, sambil menatap tajam bayi itu.

 

Lanjut membaca:  Laura & Burung Hantu (VI)

  Laura & Burung Hantu (IV) <-  Cerita sebelumnya

 

 

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (IV)

– 10 –

Perjalanan Pulang

Dalam perjalanan pulang, Laura berusaha untuk tidak memikirkan Jodi. Dia bahkan menduga kekasihnya itu tidak lagi memedulikannya. Buktinya Jodi tidak datang di acara ulang tahun mereka di Taman Aden. Padahal, Jodi  sendiri yang merancang acara itu, sampai Laura harus mengorbankan perayaan ulang bersama teman-temannya.

Kini Laura justru memikirkan pria yang telah menolong dirinya di telaga. Berdasarkan penuturan si kakek di rumah itu, dia yakin bahwa pria yang meminjamkan pakaian kepadanya itu tidak lain adalah Ardi. Dia masih mengingat suaranya yang khas: parau.

Sejak lulus SMP Laura memang tidak pernah lagi bertemu dengan Ardi. Gosip terakhir  yang masih dia ingat ialah, Ardi menyukai Lauren, sepupunya. Tapi Lauren menganggap Ardi hanya teman biasa. Laura sudah menduga kalau Lauren akan bersikap seperti itu. Dia tahu sepupunya itu, kalau soal pria, punya selera “khusus”. Mungkin karena Lauren merasa memiliki kemampuan supranatural, maka dia hanya tertarik pada orang yang dia anggap tidak biasa. Dan sialnya, dalam dugaan Laura, pria yang tidak biasa itu adalah Jodi, kekasihnya.

imageslaur

Dari perilakunya Laura bisa menebak bahwa Lauren menyukai Jodi. Namun sejauh ini Jodi di matanya bersikap biasa saja pada Lauren. Walaupun mereka intim, Jodi terlihat masih menjaga jarak keintiman itu sebatas sahabat. Tapi tetap saja Laura merasa cemburu pada Lauren. Kadang dia bahkan merasa bahwa perasaan cemburunya itulah yang “membantu” memelihara hubungannys dengan Jodi. Selebihnya adalah misteri, karena dia tidak sepenuhnya dapat memahami sikap Jodi yang dingin dan tidak pedulian.

 

Dan sekarang, ketika Laura sadar bahwa Jodi tidak mempedulikannya, dia justru bersimpati pada Ardi. Jodi membiarkannya dalam bahaya, di saat seperti itu, Ardi datang menolongnya. Dia merasa wajar kalau sekarang memiikirkan Ardi dan mengkhawatirkan keselamatannya.

***

Selagi pikiran Laura dipenuhi oleh kekhawatiran tentang keselamatan Ardi, si Boy mengeong. “Ayo, Boy, perjalanan kita masih jauh,” ujar Laura melihat Si Boy berhenti. “Kenapa, Boy, ada apa?”

Si Boy sekarang berbalik arah, berjalan mendekati gerbang sebuah rumah. Laura mengikutinya. Si Boy mendekati seekor kucing yang sedang menggelepar di luar pagar dekat tempat sampah yang tertutup rapat. Laura memperhatikan gerakan tubuh kucing itu, memastikan bahwa dia memang masih hidup. Ya, masih ada napasnya. Tapi Laura tidak tahu harus berbuat apa. Dipegangnya tubuh kucing itu. Kurus sekali, nyaris tinggal tulang. Kucing itu memberi respon dengan suara mengeong, tapi sangat lemah. 

7b3431f4101a3e99d860a73e469c63810239c5a7

Si Boy mendorong plastik yang diletakkan di tanah oleh Laura, dengan mulutnya. Plastik itu berisi makanan kucing pemberian dari si kakek di rumah tua. Laura mengerti. Dia mengeluarkan makanan itu dari plastik dan memberikannya pada si kucing. Dengan tubuh gontai kucing itu berusaha untuk berdiri, tapi gagal. Dia kembali terjatuh. Apa karena dia kelaparan, pikir Laura. Tangan Laura membantu tubuh kucing itu berdiri dan menyorongkan makanan ke mulutnya. Benar saja. Kucing itu makan dengan lahapnya. Tergesa-gesa sampai napasnya ngos-ngosan.

Laura masih memegangi tubuh kucing itu karena masih terasa limbung di tangannya. Kalau dilepaskan pasti jatuh lagi. Si Boy sepertinya tidak tertarik untuk ikut mencicipi makanan itu. Dia hanya memperhatikan dari dekat. Sesekali kucing kurus itu menatap Si Boy dengan mata yang lemah. Mendapat tatapan seperti itu, Si Boy melengoskan kepalanya, melihat ke arah lain. Beberapa menit kucing itu masih melahap makanan hingga nyaris tidak tersisa. Laura masih memegangi dan mengelus-elus tubuhnya. Untung saja dia membawa makanan itu. Padahal waktu si kakek memberinya dia sempat menolak. “Bawa saja, nanti kamu akan membutuhkannya.” Begitu kata si kakek. Kok dia bisa tahu kalau aku bakal membutuhkan makanan kucing ini, batin Laura.

Setelah makanan di kantong plastik habis, napas kucing itu terengah-engah. Tapi sekarang tubuhnya sudah bisa berdiri tegak, sehingga Laura melepaskan tangannya. Tidak jauh dari pagar rumah itu dia melihat keran air. Dia terpikir untuk mengambil air dan memberi si kucing minum. Matanya mencari-cari tempat penampungan air. Baru saja dia berdiri, seseorang menghampirinya.

“Lagi apa, dik?” Tanyanya.

“Ini, Pak, habis ngasih makan kucing, kayaknya dia lapar, sekarang saya lagi cari tempat air untuk dia minum,” Jawab.

“Waduh, dik, jangan deh. Sebaiknya cepat pergi dari sini. Kalau majikan saya tahu dia akan marah. Dia engga suka kucing dikasih makan, nanti kebiasaan datang terus ke sini.”

Laura mengerti sekarang. Si bapak itu pasti asisten rumah tangga atau tukang kebun pemilik rumah besar ini. “Lho, tapi kucing ini kelaparan, Pak. Lihat, badannya kurus sekali.”

“Ya, saya juga tahu, dik. Tapi mau bagaimana lagi. Saya pernah ngambil makanan kucing ras di dalam rumah untuk ngasih makan kucing-kucing kampung yang datang ke sini. Tapi majikan saya tahu dan dia marah besar. Sejak itu saya tidak pernah lagi ngasih makan kucing kampung.” Bapak itu menjelaskan. Laura melirik ke teras rumah itu. Tampak beberapa kucing ras sedang bercengkrama. Sebagai penyuka kucing dia senang melihat tingkah mereka yang menggemaskan. Tapi kucing kampung yang dia beri makan juga lucu. Setelah makan kenyang, kucing itu menggesek-gesekan tubuhnya ke kaki Laura.

“Adik suka kucing, ya? Sama dengan anak saya,” ujar bapak itu lagi.

“Iya, Pak. Kalau begitu bapak bawa saja kucing ini ke rumah bapak biar dipelihara sama anak bapak,” usul Laura.

 “Wah, rumah saya jauh, dik, di Rangkas Bitung, bagaimana saya membawanya.”

 “O, begitu, bagaimana kalau kucing ini saya bawa ke rumah saya, boleh ‘kan, Pak?”

Baru saja selesai Laura mengatakan itu, sebuah mobil mendekati rumah. Lampunya yang menyorot tepat ke dirinya menyilaukan mata Laura sehinga dia harus menutupinya dengan siku.

“Cepat, dik, pergi dari sini. Itu anak majikan saya. Nanti dia memarahi saya,” kata bapak itu.

Laura menuruti kata-kata itu. Dia bersiap pergi. Namun sekonyong-konyong pintu mobil terbuka dan seorang pria turun langsung menyapanya. “Laura?!”

Tentu saja Laura terkejut. Dan lebih terkejut lagi begitu mengetahui orang yang menyapanya dengan suara parau. “Ardi? Kamu Ardi, ‘kan?”

“Iya, aku Ardi. Senang kamu masih ingat aku.”

“Lho, kok kamu di sini? Bukannya rumahmu di sana?” Laura menunjuk ke arah belakang, lokasi rumah tua milik si kakek. 

 “Dari dulu rumahku di sini, Laura, nggak pernah ke mana-mana,” jawab pria itu. “Kamu dari mana dan mau ke mana?”

“Aku dari… eeh, dari sana”. Laura menunjuk ke sembarang arah. “Dan sekarang aku mau pulang.”

Dari dalam rumah terdengar seseorang membuka pintu. Seorang perempuan setengah baya keluar dan memanggil Ardi. “Cepat, Ardi, obatnya ditunggu papa,” ujarnya.

“Sebentar, Ma,” sahut Ardi. Dia berjalan lebih dekat ke arah Laura.

“Oh ya, Laura, maaf papaku sedang sakit, aku harus masuk karena dia membutuhkan obat ini. Dan maaf lagi aku tidak bisa mengantarmu pulang. Lain waktu kita ketemu lagi ya. Salam untuk Jodi dan… Lauren.” Usai mengucapkan itu Ardi menjabat tangan Laura, kemudian dengan langkah tergesa melenggang ke dalam.

Lanjut membaca ->  Laura & Burung Hantu (V)

 Laura & Burung Hantu (III)  <-  Cerita sebelumnya