Categories
Novel

Laura & Burung Hantu

Sebuah Novel Remaja oleh Ahmad Gaus

Genre: Horor-Komedi

– 1 –

 Awal Mula

Hari ini genap 17 tahun usia Laura. Tidak ada acara potong kue dan tiup lilin. Tidak ada acara bersama teman-temannya. Padahal dia sudah berjanji pada momen sweet seventeen ini bakal membuat kejutan besar untuk teman-temannya. “Pokoknya kalau ada yang pingsan atau bunuh diri jangan nyalahin aku.” Begitu ucapan Laura tentang kejutan besar yang direncanakan di pesta ulang tahunnya. Teman-temannya dibuat penasaran.

Sayangnya, rencana pesta itu dia abaikan begitu saja tanpa pemberitahuan kepada teman-temannya, demi sebuah pesta lain. Ya, sebuah pesta lain yang dirancang oleh Jodi, kekasih Laura, yang juga berulang tahun hari ini. Pesta itu akan diadakan di sebuah taman dimana mereka pernah mengadakan pesta ulang tahun bersama dan berdua saja, saat mereka masih kanak-kanak 10 tahun lalu. Laura tidak bisa menolak ajakan itu. Dia takut mengecewakan Jodi — pria yang menjadi temannya sejak kecil, karena mereka bertetangga, dan usianya dua tahun di atas Laura.

Sampai sekarang sebenarnya Laura tidak mengerti mengapa dia mencintai Jodi, seorang pria yang senang menyendiri dan cenderung dingin, jauh dari kesan romantis. Lauren, saudara sepupu Laura yang punya kemampuan menerawang alam gaib, pernah mengatakan bahwa Jodi memiliki “mata mistik”. Mata itu, kata Lauren, sejenis mata burung malam yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang luar biasa.

3dbb60f1cf1582a02e4cbf8ab8ded69c

Tidak sepenuhnya Laura memercayai kata-kata itu. Kadang justru terbetik rasa cemburunya kepada Lauren karena dia sangat intim bergaul dengan Jodi. Mungkin kelebihan Lauren yang bisa menerawang alam supranatural itu yang membuatnya dekat dengan Jodi.

Riwayat hidup Jodi memang misterius bagi Laura. Jodi pernah raib saat dilahirkan. Dia ditemukan tiga hari kemudian di tepi sungai oleh pencari ikan dalam kondisi tubuh dipenuhi bekas gigitan hewan. Tapi dia selamat. Ibunya meninggal dunia saat melahirkan dirinya. Sedangkan ayahnya telah pergi entah ke mana sejak Jodi masih dalam kandungan.

***

Laura terbangun dari tidur siangnya oleh sebuah suara yang memecahkan kaca jendela. Dia mengira itu suara halilintar karena di luar sedang turun hujan. Tapi ternyata bukan. Dengan jelas dia melihat sekelompok burung hantu melemparkan sesosok tubuh penuh darah ke kamarnya.

“Jodi..!!?” Teriaknya. Laura terhenyak. Dunia tiba-tiba menjadi gelap dalam pandangannya. Bagaimana mungkin kekasih yang dicintainya mengalami nasib setragis itu justru di hari ulang tahunnya. Ke mana burung-burung laknat itu sekarang? Apa pula salah Jodi sampai mereka melakukan perbuatan biadab itu pada kekasihnya? Laura marah, tapi kemarahan itu dikalahkan oleh kesedihannya.

f156f4544388cafe48a01608ab9bf859

Laura meraba pipinya, sebutir airmata meleleh. Dia mencubit-cubit tangannya, dan terasa sakit. Ternyata peristiwa barusan itu hanya mimpi buruk. Tidak ada tubuh Jodi yang tadi terlempar keras sekali. Kaca jendela pun masih utuh. Dia bersyukur.

Sambil menunggu hujan reda, Laura berdandan, memoles pipinya dengan bedak tipis, menyentuh bibirnya dengan lipstick merah tipis, lalu mengenakan T-Shirt dan celana jeans. Sebelum pergi dia menyempatkan diri membersihkan lantai kamar dengan tissu dari bercak-bercak darah yang berceceran. Sejurus kemudian dia keluar kamar, mengunci pintu dari luar pelan sekali, lalu mengendap-endap agar tidak ada penghuni rumah yang melihatnya.

 

– 2 –

Percakapan dengan Kupu-Kupu

Di Taman Aden, Laura duduk seorang diri, menunggu Jodi —  kekasih pujaan hati. Awan tipis turun di rambutnya. Pelangi sore menyelinap di bola matanya. Daun-daun seperti kaca. Memantulkan sisa air hujan di pipinya.

Rembang petang mulai mengambang, yang ditunggu tak kunjung datang. Lamunannya melayang, memandang seekor kupu-kupu hinggap di putik kembang.

“Hai, siapa namamu?” tanya gadis itu.

“Aku Luna, kamu siapa?” kupu-kupu itu balik bertanya.

“Aku Laura. Senang bisa berkenalan denganmu, Luna.”

Kupu-kupu bernama Luna itu hanya tersenyum.

“Sayapmu cantik sekali, Luna, bolehkah aku meminjamnya sebentar saja?”

Luna tidak menjawab. Bahkan tidak memedulikannya. Ia merapikan bajunya yang sempat tersangkut di dahan bunga. Tangannya direntangkan. Sayapnya diangkat. Pertanda siap terbang kembali.

“Luna, jika kau meminjamkan sayapmu, aku akan memberimu hadiah baju yang cantik.” Laura membujuk.

710197d181c0ae75af7f51eca104f3af

Kupu-kupu itu tetap bungkam. Kini ia terbang ke tangkai bunga yang lebih tinggi. Laura terus berusaha mendekatinya. Karena lalai, Luna hinggap di daun yang basah. Kakinya terpeleset, sepatunya terjatuh. Untung saja Laura berhasil meraihnya. Luna tersenyum.

“Karena kau telah menyelamatkanku, maka permintaanmu kupenuhi, ambillah sayap ini dan terbanglah ke mana suka, tapi ingat kau harus sudah ada di taman ini lagi sebelum hari menjadi gelap. Sebab kalau sudah malam, taman ini jadi tempat bermain kawanan burung hantu.

“Burung hantu?” Laura kaget. Luna menjelaskan bahwa taman ini dulunya adalah kuburan massal korban pembantaian tentara Jepang. Banyak di antara mereka yang bahkan belum benar-benar mati sudah dikuburkan di bawah todongan senjata.

Mendengar penuturan itu Laura jadi ragu untuk terbang dengan sayap kupu-kupu Luna. Namun Luna meyakinkan bahwa dia akan mendapatkan pengalaman menarik yang belum pernah dialaminya. Benar juga, pikir Laura. Tiba-tiba dia melompat senang. Dipeluknya kupu-kupu itu sambil diciuminya. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari tubuh Laura. Tapi tingginya hampir sama. Sesaat kemudian tubuh Laura melesat ke udara. Sayap-sayapnya terbentang indah bagai bidadari.

Seorang pria yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dari tempat tersembunyi, diam-diam mengikuti Laura dari belakang.

 

– 3 –

Perjumpaan dengan Bidadari

Dari ketinggian Laura memandangi taman-taman, melewati perbatasan kota, memasuki pedesaan, melintasi perbukitan. Akhirnya dia tiba di suatu tempat yang cukup jauh. Tempat yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya.

Pria yang mengintainya dari taman masih terus mengikutinya. Kadang dia berjalan, kadang berlari, mengikuti laju kecepatan Laura.

“Hai, suara apa itu,” bisik Laura sambil menengok ke arah datangnya suara. Lalu dia mencoba mendekat. Pada jarak tertentu dengan jelas dia menyaksikan pemandangan langka: perempuan-perempuan sedang asik bercengkrama di sebuah telaga. Jumlah mereka tujuh orang. Laura terus mendekat ke arah mereka. Warna pelangi berpendar di permukaan air. Tubuh-tubuh molek itu menyelam dan berenang ke sana kemari. Bagaikan kawanan angsa yang telah lama merindukan air.

Kini Laura telah berdiri di tepi telaga. “Haaaai.., bolehkah aku bergabung dengan kalian?” Dia berkata setengah berteriak.

IMG-20191025-WA0001

Perempuan-perempuan itu saling menatap satu sama lain. Tidak ada yang menjawab. Tapi dari cara mereka memandang tersirat rasa kagum. Gadis yang berdiri di hadapan mereka seperti bidadari bumi.

Air di permukaan telaga berkilauan. Meriak, memantulkan cahaya tubuh sang gadis. Perempuan-perempuan yang sedang mandi itu pun terpana. Mereka berseru secara bersamaan, “Ayo, kemari!” Laura tersenyum riang. Lalu menceburkan diri. Berenang bersama mereka.

Pria yang sejak tadi mengikuti Laura menyaksikan dari jauh. Menikmati suara kecipak air dan tawa renyah mereka. Seperti musik riang yang tak putus-putus.

***

Hari mulai senja. Cahaya matahari menipis. Warnanya memantul berkilauan di telaga. Perempuan-perempuan itu mulai menepi dan naik ke daratan. Samar-samar si pria melihat mereka tergesa-gesa mengenakan pakaian. Lalu memasangkan sayap pada lengan masing-masing.

“Kami pamit dulu ya, lain waktu kita bertemu lagi, sebab kami harus pulang sebelum gelap,” ujar mereka kepada Laura.  

Usai berkata mereka melesat terbang ke angkasa. Tinggallah gadis itu mematung seorang diri. Terpana, seakan tidak percaya apa yang baru saja terjadi: Dia mandi bersama perempuan-perempuan kahyangan yang selama ini hanya dia baca dari cerita legenda.

bidadari

Sementara itu pria yang sejak tadi mengikutinya, masih berada di kejauhan. Tiba-tiba dia teringat bahwa Laura harus segera kembali ke Taman Aden karena ditunggu oleh Luna. Dia ingin mengingatkan, kalau Laura terlambat kembali ke Taman Aden, kupu-kupu cantik itu bisa menjadi sasaran empuk kawanan burung hantu.

Segera dia menghampiri Laura, dan terpana menatap sosok tubuh di hadapannya. Tapi dengan cepat dia memalingkan wajah dan tubuhnya. Untuk menghindari tatap muka karena khawatir Laura mengenalinya.

“Laura, cepat kenakan pakaianmu dan kau harus segera mengembalikan sayap itu pada Luna, apakah kau lupa janjimu?” Dia berkata sambil membelakangi gadis itu.

“Hey, siapa kau, dan dari mana tahu namaku dan Luna?” sergapnya.

“Sudahlah, bukan waktunya untuk bertanya. Sekarang kau harus segera pulang karena Luna dalam bahaya.”

Tiba-tiba saja Laura menjerit kecil. Pria itu terkejut dan bertanya, “Kenapa Laura, ada apa?”

“Pakaianku hilang,” tegasnya.

Pria itu makin terkejut. Gila, pikirnya, ke mana pakaian itu, masak sampai terbawa oleh bidadari-bidadari tadi, tidak mungkin. Atau… jangan-jangan dicuri orang. Kalau ya, berarti ada orang lain di tempat ini selain dirinya saat para bidadari mandi. Tapi siapa pencuri itu, kurang ajar betul, umpatnya dalam hati.

“Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau Luna menderita gara-gara aku,” Laura berkata seperti meratap.

“Ya, jangan sampai dia menjadi makanan empuk burung hantu. Sangat mengerikan,” sahut si pria.

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Sebentar, apakah sayap itu masih ada?”

“Ada, hanya pakaianku yang hilang.”

“Kalau begitu kau tetap bisa ke sana, jadi pergilah sekarang juga dan segera temui Luna.”

“Apa? Maksudmu aku harus pergi dalam keadaan tanpa pakaian seperti ini?”

Pria itu terdiam. Benar juga, batinnya. Dia berpikir keras, apa yang harus dilakukan. Sementara waktunya tinggal beberapa saat saja menjelang gelap. Kasihan sekali kalau Luna — kupu-kupu yang cantik jelita itu — harus menjadi santapan burung hantu.

“Cepat katakan apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa lagi berpikir jernih sekarang. Atau… hhhmm.. aku curiga, jangan-jangan kau sendirilah yang menyembunyikan pakaianku.”

Betapa kagetnya pria itu mendapat serangan yang begitu mendadak dan tak terduga. Tapi sepertinya dia tidak hendak berdebat, karena tahu Laura sedang bingung.

“Terserah kalau kau menuduhku melakukan itu. Yang jelas kau tidak punya banyak waktu lagi. Kalau kau setuju, aku akan pinjamkan pakaianku.”

d7ccc2f6aceb0d239d0636e675aab7b7

Laura terdiam. Tidak memberi jawaban. Si Pria menduga bahwa Laura merasa ragu dengan pakaiannya, sehingga dia menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakannya itu, celana jeans dan kaos, model unisex jadi tidak masalah jika Laura memakainya.

“Tidak usah mengajari aku soal itu,” tandas Laura.

“Ok, kalau begitu aku anggap kau setuju. Sekarang berbaliklah karena aku mau melepaskan pakaianku untuk kau kenakan.”

Tanpa bertanya lagi Laura membalikkan badan. Tidak lama kemudian terdengar suara si pria.

“Sekarang kau boleh gunakan pakaianku dan segera temui Luna. Jangan lupa kembali lagi ke sini karena aku menunggu pakaianku.”

Suara itu terdengar dari atas. Laura mendongakkan kepala. Pria itu memang di atas pohon. Tanpa pakaian. Mungkin dia malu, atau takut serangan binatang malam. Samar-samar Laura mengingat suara pria itu, seperti suara seseorang yang pernah dia kenal. Tapi dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir, dan segera mengenakan celana jeans dan kaos milik pria tersebut. Dalam sekejap dia sudah melayang di udara.

Cover-1-1

 

– 4 –

Pengakuan Burung Hantu

Laura tiba di Taman Aden ketika hari mulai gelap. Matahari tinggal merahnya. Semu remang dan pudar. Bulan sudah naik ke singgasana malam. Laura mencari-cari dimana Luna. Di setiap sudut taman, tangkai-tangkai bunga. Tapi dia tidak menemukannya. Hatinya mulai gelisah.

“Luna, Luna, di mana kamu..?”

Tidak ada jawaban. Bulu kuduknya merinding mengingat kata-kata Luna sebelum dia pergi. Jadi santapan burung hantu!!

“Jangan sampai terjadi! Jangan sampai!”

Sekonyong-konyong dia mendengar suara burung hantu. Jantungnya seakan copot. Dia mendekati arah suara itu. Pada sebatang dahan yang nyaris tertutup daun. Di situlah seekor burung hantu bertengger. Sikap tubuhnya murung. Tatapannya layu.

“Hey, aku sedang mencari kupu-kupu bernama Luna, apa kau melihatnya?”

Burung hantu itu terdiam. Laura mulai curiga, jangan-jangan burung hantu itu yang menyantap Luna.

“Kamu sedang apa di sini?” Suara Laura terdengar emosi.

“Kalau siang hari taman ini memang milik kupu-kupu, tapi menjelang malam, tempat ini menjadi milik kami.” Burung hantu itu menjelaskan. “Dulu aku juga seekor kupu-kupu, seperti Luna, lalu dikutuk jadi burung hantu.”

544fcdca85d7193d6bdefad18193bd51

“Bagaimana bisa?” Tanya Laura penasaran.

“Ini ulah nenek sihir. Dia bilang ini tempatnya dari zaman penjajahan Jepang dulu.”

“Apa menurutmu, Luna juga disihir menjadi burung hantu?”

“Ya,” jawab burung hantu itu singkat.

“Lalu di mana dia sekarang?”

“Dia pergi ke arah utara, menuju sebuah telaga.”

“Telaga? Untuk apa?”

“Setiap kupu-kupu yang dikutuk jadi burung hantu akan pergi ke telaga untuk mencuri pakaian bidadari. Kalau dia berhasil, pakaian itu diberikan kepada nenek sihir. Sebagai imbalannya, nenek sihir akan mengubah wujudnya kembali menjadi kupu-kupu.”

Pikiran Laura semakin kalut mendengar penuturan burung hantu. Ingin sekali dia segera pergi ke telaga, tapi hatinya agak cemas. Bagaimana kalau yang dia temui bukan Luna tetap malah si nenek sihir. Salah-salah malah dia sendiri yang disihir menjadi burung hantu.

***

Pria di atas pohon masih menunggu Laura kembali. Suasana makin gelap. Tidak ada lagi sisa cahaya matahari. Pandangan di sekitar telaga benar-benar pekat. Perlahan-lahan muncul rembulan. Sinarnya menerobos daun-daun. Air telaga kembali terlihat.

Dan…. pria itu menggosok-gosok matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesosok tubuh perempuan berjalan mendekati tepian telaga. Astaga, dia memakai pakaian Laura yang hilang. Apakah itu Laura? Matanya dipicingkan untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bukan Laura. Ya, itu bukan Laura. Rambut Laura hanya sedikit di bawah bahu, tidak sepanjang itu.

Begitu tiba di pinggir telaga, perempuan itu melepaskan pakaiannya dan siap untuk menceburkan dirinya ke telaga. Pria itu semakin yakin bahwa perempuan itu bukan Laura.

Tapi siapa perempuan itu, kenapa dia mencuri pakaian Laura. Sejumput pertanyaan berkelebat di kepala pria itu. Matanya kembali memperhatikan perempuan itu berenang ke sana ke mari. Sendiri saja, namun dia kelihatan sangat lepas dan senang.

1c93ae52f950fb958120362eab7a694d

Terbetik pikiran untuk mengambil pakaian perempuan itu selagi dia menyelam, dan memberikannya pada Laura. Ide yang bagus, pikirnya. Maka dia mulai memindahkan pegangan tangan dan kakinya ke dahan yang lebih rendah. Sayang sekali dia kurang hati-hati. Dahan yang dipijaknya tidak kuat menahan beban tubuhnya, sehingga membuatnya patah, dan jatuh ke tanah, brukkk..!!!

Suara itu mengagetkan perempuan tersebut yang baru saja muncul dari dalam air. Matanya menyelidik dari mana datangnya suara. Dia bergerak ke tepian. Pria itu bersembunyi di balik dahan. Hati-hati sekali. Setelah merasa cukup aman, pandangannya kembali memperhatikan gerak-gerik perempuan tersebut yang mulai naik ke tepian telaga dan mendekati pakaiannya.

Air telaga masih bercucuran dari rambut dan tubuhnya. Benar-benar kecantikan yang sempurna, persis para bidadari yang telah terbang kembali ke kahyangan. Atau, jangan-jangan memang itu salah satu dari mereka yang sengaja kembali ke sini, tapi untuk apa? Mengapa pula memakai pakaian Laura.

Dan, byuurr… ternyata perempuan itu kembali menceburkan diri ke telaga. Berenang bebas ke sana ke mari. Muncul dan menyelam berkali-kali. Pria itu kini nekad untuk mencuri pakaiannya dan diberikan kepada pemiliknya: Laura.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (II)

12 replies on “Laura & Burung Hantu”

woooooo luar biasa sereeeeem bingits…kisah y menarik…top markotop di buat jantung q bergetar2 tunggu kisah terbaru selanjutnya kisahnya😃🤗🤗

woooooo luar biasa sereeeeem bingits…kisah y menarik…top markotop di buat jantung q bergetar2 tunggu kisah terbaru selanjutnya kisahnya😃🤗🤗
dari Stai Ar-Ridho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s