Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (II)

– 5 –

Dilema Laura

Laura masih berpikir apakah dia harus kembali ke telaga untuk mencari kupu-kupu Luna. Bagaimanapun dia merasa bersalah karena terlambat datang dan membuat Luna harus dikutuk menjadi burung hantu. Dia ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya.

Selain itu, dia juga punya janji untuk mengembalikan pakaian yang melekat di tubuhnya kepada pria misterius yang tiba-tiba muncul di dekat telaga. Orang itu pasti sedang menunggu-nunggu kedatangannya. Sebab berada di atas pohon di malam hari tanpa pakaian pasti tersiksa sekali.

Laura membulatkan hatinya untuk kembali ke telaga. Tapi itu berarti dia harus pulang dulu ke rumah untuk berganti pakaian, untuk dirinya sendiri. Apakah waktunya cukup? Sebab hari senakin gelap, dan dia tidak punya cukup keberanian untuk bepergian sendiri di malam hari. Belum lagi sayap kupu-kupu Luna yang masih dia pakai, mau disimpan di mana kalau dia pulang dulu ke rumah?

Sungguh dia berharap Jodi segera datang. Semua akan teratasi kalau pria itu ada di sini sekarang. Dalam penantian yang tidak pasti, dia memantapkan diri untuk pulang dulu ke rumahnya. Sementara dia mulai melepaskan sayap-sayap milik Luna. Hati-hati sekali karena takut tergores atau robek. Masalahnya kemudian, sayap-sayap itu mau diletakkan di mana, di tanah atau digantung di atas dahan. Sama-sama tidak aman.

Laura berpikir untuk menutup sayap-sayap itu dengan dedaunan. Agar aman. Paling tidak untuk sementara waktu, sampai dia kembali lagi dari rumah ke sini. Dia pun mulai memetik daun-daun di sekitar itu dalam jumlah yang cukup untuk menutupi sayap kupu-kupu Luna.

232928_620

Pekerjaannya hampir selesai ketika burung hantu yang tadi bercakap-cakap dengannya terbang menjauh sambil berbunyi. Suaranya sangat menyayat, seperti menangis, geuukk… geuuuuukkk.. geuuukkkkkk….!! Laura menghela nafas. Bulu kuduknya berdiri. Dia membayangkan, apa jadinya kalau nenek sihir datang ke situ. Dan dia sendirian di taman yang mulai gelap. Sementara Jodi tak kunjung datang.

Setelah selesai mengamankan sayap kupu-kupu Luna, kakinya mulai melangkah. Kelihatan sangat tergesa, karena ingin segera meninggalkan tempat itu. Belum sampai keluar dari pintu taman, tiba-tiba sesosok tubuh datang menyergapnya. Posturnya tinggi dan besar. Menyamai pohon-pohon di sekitar taman. Di antara perasaan takut dan nekat, Laura menabrak sosok tersebut — tindakan yang justru membuat tubuhnya terpental lagi ke belakang. Dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

– 6 –

 Di Negeri Kahyangan

Di pintu gerbang langit, para penjaga Negeri Kahyangan mencegah seorang perempuan yang akan masuk ke dalam istana.

“Stop! Stop!” Teriak mereka. “Siapa kau, dan mau ke mana?”

“Aku mau ke dalam, karena di sana tempatku.” Perempuan itu tetap melangkahkan kakinya seperti tidak peduli.

“Tunggu!” Para penjaga mulai emosi. “Kau pasti bukan bidadari karena bau parfummu sangat asing.”

“Parfum?” Perempuan itu terkejut. Tiba-tiba dia teringat sesuatu: ya, tas dan semua isinya, termasuk parfum, tertinggal di taman karena terburu-buru. Tapi dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya di depan para penjaga pintiu gerbang Negeri Kahyangan. Sejenak dia terdiam. Matanya menatap tajam para penjaga.

 

img_20140620171234_53a4091239b30

“Bagaimana aku harus membuktikan bahwa aku adalah seorang bidadari seperti mereka yang ada di dalam,” tukasnya.

“Kau jelas berbohong. Mana mungkin seorang bidadari memiliki tahi lalat di wajah,” tukas salah seorang penjaga.

Secara refleks perempuan itu meraba-raba wajahnya, dan menemukan tahi lalat yang terletak di dagu sebelah kiri. Dia bahkan tidak tahu dan tidak menyadari bahwa di wajahnya ada tahi lalat sebesar kacang hijau. Sejak kapan tahi lalat itu ada di sana, tanyanya dalam hati.

“Kau tahu, tahi lalat di wajah hanya dimiliki bidadari utama, Permaisuri Agung dari Yang Mulia Raja Kahyangan. Oh ya, satu lagi, setiap bidadari ada tanda merah di punggungnya. Coba sekarang buka pakaianmu.” Suara si penjaga meninggi.

“Heeh, aku tahu protokol resmi Istana Kahyangan. Kalian tidak berhak memintaku melepas pakaian. Kalau Raja tahu beliau pasti akan murka.”

Para penjaga kehilangan kesabaran. Dengan gerakan cepat mereka memaksa membuka pakaian yang melekat di tubuh perempuan itu. Namun perempuan itu pun tidak kalah cepat. Dengan sekuat tenaga dia menendang tubuh salah seorang penjaga hingga tersungkur menabrak pintu gerbang. Benturan itu menimbulkan suara keras hingga terdengar ke dalam. Beberapa pengawal istana keluar dan mendekati pintu gerbang. Dengan sigap mereka membangunkan si penjaga yang masih terkapar.

d1cjme0-598ab521-9584-48f6-b476-f7612abf566e

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Perempuan itu berlari ke dalam. Sang Raja Negeri Kahyangan yang tengah duduk di singgasana dilewatinya begitu saja. Tapi Raja itu tersenyum saja. Dia sudah terbiasa melihat tingkah laku aneh, manja, cuek, cengeng, dari para bidadarinya di Negeri Kahyangan.

Para pengawal dan penjaga istana masuk ke dalam dan memberi tahu Raja apa yang baru saja terjadi dan siapa sebenarnya perempuan tadi. Sang Raja lagi-lagi hanya tersenyum. “Biarkan saja, namanya juga anak perempuan,” begitu ujarnya. Para pengawal dan penjaga istana mundur satu persatu meninggalkan Raja.

Di bagian dalam istana, perempuan itu bertemu dengan bidadari-bidadari yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang tengah bersolek, merawat kuku, main congklak, ada juga yang tengah kerokan karena masuk angin.  

Tanpa menyapa mereka, perempuan itu masuk ke sebuah kamar. Para bidadari yang mengetahui itu saling pandang. Sebab aturan di sini tidak boleh masuk kamar kecuali pada saat jam tidur. Dan saat ini belum waktunya. Seorang bidadari menghitung jumlah mereka yang ada di ruangan. Ada tujuh. Berarti yang tadi masuk ke kamar bukan salah satu dari mereka. Keheranan menyelimuti wajah mereka. Tapi tidak ada yang berani masuk ke kamar karena itu melanggar aturan. Akibatnya bisa fatal, dijemur atau membersihkan semua toilet istana.

 

– 7 –

Misteri Cincin dan Burung Hantu

Seorang penasihat Istana Kahyangan berjalan tergopoh menuju ruang tengah, di mana Raja duduk di atas kursi kebesaran. Setelah membungkuk tanda hormat, dia duduk bersimpuh di hadapan Sang Raja. Tunduk. Tak ada kata terucap. Dia menunggu Sang Raja bicara.

“Ada apa, wahai penasihat istana yang budiman?”

“Mohon izin, Tuan Raja, saya mau melaporkan sesuatu yang penting.”

“Silakan.”

Penasihat itu terdiam sejenak, menarik napas, dan mulai bicara dengan kepala yang tetap tertunduk.

“Maaf, Tuan Raja, tadi hamba melihat seekor burung hantu masuk ke dalam istana, bahkan melewati Tuan Raja di sini, dan kemudian menyelinap ke ruang para bidadari. Jika Tuan Raja mengizinkan, hamba akan memeriksa keberadaan burung itu dan menanyakan apa tujuannya masuk ke dalam istana.”

Sang Raja terdiam. Dia menghubungkan kata-kata penasihat istana dengan laporan para penjaga pintu gerbang tentang seorang perempuan yang memaksa masuk ke dalam istana. Padahal, para penjaga dan pengawal istana sudah berusaha untuk mencegahnya.

Dia tidak salah dengar bahwa yang mereka laporkan itu adalah perempuan, bukan burung hantu. Bahkan dia sendiri melihat dengan mata kepalanya, orang yang lewat di hadapannya tadi adalah seorang perempuan. Bagaimana bisa penasihatnya mengatakan itu burung hantu. Apakah ada perisiwa lain, tanyanya dalam hati.

“Baiklah,” sang Raja mulia angkat bicara, “laporan saya terima. Untuk saat ini biar saya dan Permaisuri Agung yang akan menanganinya. Sementara penasihat yang budiman boleh meninggalkan ruangan. Terima kasih atas laporan yang sangat penting ini.”

Penasihat istana itu pergi meninggalkan Raja seorang diri. Sejurus kemudian Sang Raja bangkit dari kursi kebesarannya untuk menemui Permaisuri Agung di kamarnya. Mereka lalu mendiskusikan langkah-langkah yang akan diambil untuk membuktikan laporan penasihat dan para penjaga istana. Akhirnya disepakati, Permaisuri Agung yang akan menyelidiki keberadaan seorang perempuan yang dicurigai menyamar sebagai burung hantu tersebut.

***

Di ruangan yang sangat besar dan mewah para bidadari masih asik bergunjing tentang perempuan yang masuk ke kamar sebelum waktunya. Sebagian dari mereka ingin menerobos ke kamar dan melihat sendiri perempuan itu, namun yang lain mencegahnya dengan keras. “Sebaiknya segera kita laporkan ke Permaisuri Agung,” usul salah satu dari mereka.

“Jangan dulu,” sergah yang lain. “Kalau ingatanku tidak salah, orang itu adalah perempuan yang ikut mandi bersama kita di telaga pinggir hutan.”

Mendengar itu semua terkesiap. Beberapa bidadari lain membenarkan. Perempuan itu tidak lain adalah teman mandi mereka. Bahkan mereka telah merasa akrab dengan perempuan itu, dan memintanya untuk bergabung lagi saat mereka turun ke telaga.

“Sebaiknya kita tunggu waktu tidur, dan saat itu kita temui dia bersama-sama. Siapa tahu dia mau tinggal di sini. Kita punya teman baru.” Kata-kata itu diucapkan oleh bidadari berambut pirang dengan penuh semangat. Hampir saja yang lain ikut bersorak karena gembira. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Bidadari berambut coklat berdiri dan membukakan pintu. Ternyata Permaisuri Agung. Setelah mengucapkan salam, dia memasuki ruangan dengan langkah anggun. Para bidadari menundukkan kepala dalam posisi duduk.

images22

“Anak-anak, apakah benar tadi ada seekor burung hantu masuk ke ruangan ini?” Permaisuri Agung bertanya.

“Bukan burung hantu, Bu Suri.” Para bidadari itu berebut menjawab.

“Lantas, apa?”

“Yang kami lihat adalah seorang perempuan.”

“Perempuan? Di mana dia sekarang?”

Para bidadari serempak menunjuk salah satu kamar yang tertutup.

“Boleh ibu masuk ke sana?” Permaisuri Agung meminta izin, yang langsung direspon anggukan kepala oleh semuanya.

“Kalau Ibu Suri mengizinkan, saya mau ikut,” kata bidadari berambut biru.

“Lho, kenapa tidak. Ayo semuanya ikut Ibu.”

Ajakan itu disambut gembira. Para bidadari bangkit dari duduk mereka dan mengiringi Permaisuri Agung. “Ketuk pintunya pelan-pelan,” pinta Ibu Suri. Salah satu bidadari mengikuti petunjuk Ibu Suri. Beberapa kali pintu diketuk namun tidak ada jawaban. Diulang lagi. Namun tetap tidak ada respon.

“Bagaimana kalau kita buka saja pintunya, Bu Suri?”

“Hush, tidak sopan,” Jawab Ibu Suri. Dia lalu memejamkan mata. Cukup lama, seperti sedang berdoa. Bidadari yang berambut ungu dan yang berambut pink ikut memejamkan mata, sementara yang lain saling melempar senyum atau menutup mulutnya dengan tangan karena nyaris tak bisa menahan tawa melihat dua orang temannya serius berdoa.

Persis ketika Permaisuri Agung membuka matanya, pintu kamar ikut terbuka. 

“Woooww….” Seru mereka serempak

“Tidak usah teriak-teriak begitu. “Ayo, siapa yang mau masuk duluan?” Permaisuri Agung menawarkan. Tanpa dikomando, semua menyerbu ke dalam kamar, seolah ingin lebih dulu bertemu dengan perempuan yang mereka kenal di telaga itu.

Ternyata tidak ada siapa pun di kamar itu. Mereka menyisir seluruh ruangan, termasuk kolong tempat tidur, toilet, hingga dalam lemari. Yang mereka cari tidak ada. Sekonyong-konyong seorang dari mereka berseru, “Hai, lihat, aku menemukan sesuatu,” ujarnya sambil menunjukkan sebuah cincin yang diambilnya dari atas meja. Semua mata mengarah ke benda kecil namun terlihat manis itu.

cincin2

“Bagus, ya, coba aku pakai,” kata bidadari berambut coklat.

“Hush, jangan dulu, nanti ada apa-apanya lho,” sergah yang lain.

“Seperti cincin pernikahan, ya?.”

“Sok tahu, memangnya kamu pernah melihat orang ijab Kabul.”

“Bukan, itu cincin pengasihan.”

“Hahahahaaa…”

“Hadeuh. Sudah, sudah, kalian ini bercanda terus. Sini cincinnya ibu pegang. Sekarang coba kalian perhatian petunjuk-petunjuk yang ada di sini untuk mencari tahu ke mana perginya perempuan itu?” Permaisuri Agung mengeluarkan titah. Kembali semuanya menyelidiki sekeliling ruangan. Tidak ada petunjuk apapun yang mereka lihat. Kecuali, jendela. Ya, mereka baru sadar, mengapa jendela kamar itu terbuka.

“Apa mungkin dia keluar lewat jendela itu?”

“Ya, bisa saja.”

“Tapi kalau dia datang ke sini, kenapa harus melarikan diri?”

“Mungkin dia malu sama kita.”

“Huh, ada-ada saja.”

“Mungkin dia lagi mencari seseorang, tapi dikasih alamat palsu.”

“Kok, kayak lagu dangdut.”

“Hahahaaa…”

“Eh, jangan-jangan dia ke sini mau mencuri sesuatu.”

“Wah, kalau begitu kita harus lihat barang-barang kita.”

“Betul, aku mau periksa gaun yang aku beli di Pondok Indah tahun lalu, kalau sampai hilang, gawat.”

“Ya, aku juga menyimpan T-Shirt baruku di lemari. Itu hanya bisa dibeli di factory outlet di Bandung, di sini mana ada.”

Pertanyaan dan percakapan penuh keheranan tidak terbendung. Hanya Permaisuri Agung yang tampak tenang. “Anak-anak, coba lihat, apa itu yang bergerak-gerak di dahan di luar jendela.” Semua mata melongok ke luar. Seekor burung hantu mengibas-ibaskan sayapnya, kemudian terbang sambil berbunyi, geuuukk… geuuukk… geuuuuukk…. Suaranya makin jauh, lalu hilang ditelan kesunyian.

– 8 –

Rapat Terbatas di Istana Kahyangan

Di ruang tengah, Raja memanggil kembali penasihat istana untuk mengadakan rapat terbatas. Kali ini rapat dihadiri oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Raja memulai rapat terbatas itu dengan mempersilakan Permaisuri Agung menceritakan hasil penyelidikannya.

Semua peserta rapat mendengarkan dengan serius penuturan dari Permaisuri Agung. Tidak ada cerita yang terlewat, termasuk soal burung hantu temuan adanya cincin yang misterius.

Kemudian Sang Raja bicara: “Jadi apa yang dikatakan oleh penasihat itu benar, bahwa ada burung hantu masuk ke istana. Juga ada perempuan yang masuk ke ruangan bidadari. Bagaimana penasihat yang budiman menjelaskan hubungan antara perempuan dan burung hantu itu?”

“Baik, Tuan Raja. Menurut hasil terawangan hamba, perempuan dan burung hantu itu dua makhluk yang berbeda. Keduanya datang dari bumi. Tapi mereka datang bersamaan mengikuti rute para bidadari sepulang dari telaga.”

Penasihat itu berhenti sejenak, menarik napas dan melihat reaksi Sang Raja dan Bu Suri yang tampaknya masih ingin mendengarkan penjelasannya lebih jauh.

“Karena sekarang mereka sudah ada di sini. Kita harus mencari dan menemukan mereka. Sebab kalau tidak, dampaknya bisa mengancam pertahanan dan keamanan negeri kita.”

olympus1

Sang Raja terlihat antusias. Dia meminta seorang pengawal untuk memanggil kepala pasukan tempur istana. Sesaat kemudian Sang Raja melanjutkan rapat. Sekarang dia minta pendapat Ahli Hikmah tentang cincin yang ditemukan di kamar bidadari.

Orang yang dipanggil Ahli Hikmah itu menggeser posisi duduknya agak ke depan. Dengan kepala tertunduk dia mulai bicara.

“Dalam pandangan hamba yang dhaif ini, cincin itu bukan sembarang cincin. Di dalamnya tersimpan semacam chip dan alat penyadap untuk merekam semua denyut nadi kehidupan di negeri kita. Mungkin rapat kita ini juga sudah terekam datanya di sana. Tapi Tuan Raja tidak perlu khawatir, karena hamba bisa mengecoh data rekaman di dalamnya menjadi file-file yang tidak bisa dibaca.”

Raja dan Permaisuri Agung tersenyum lega. Bersamaan dengan itu kepala pasukan tempur istana tiba dengan atribut dan seragam resmi. Usai memberi hormat pada Raja dan Permaisuri Agung, dia mengambil posisi duduk di belakang penasihat istana.

Sebelum Raja kembali bicara, penasihat kedua mengangkat tangannya. “Maaf Tuan Raja, apakah saya boleh menyampaikan sesuatu.” Sang Raja mempersilakan.

“Begini Tuan Raja, beberapa kali hamba mengatakan agar Tuan Raja lebih keras lagi menerapkan disiplin kepada para bidadari. Sebab akhir-akhir ulah mereka sudah keterlaluan. Kalau mereka turun ke bumi, mereka bukan hanya mandi di telaga, tapi juga jalan-jalan ke mal. Bahkan ada yang belanja pakaian dan perhiasan.”

Mendengar itu Sang Raja hanya tersenyum. Begitu juga Permaisuri Agung. Hal ini menimbulkan kesan di mata mereka bahwa Raja dan Ibu Suri terlalu memanjakan para bidadari. Padahal ulah mereka belakangan ini dianggap berbahaya oleh para pengawal dan penjaga Istana Kahyangan. Kedatangan burung hantu dan perempuan itu bukti ulah mereka juga. Tapi Raja dan Bu Suri tidak pernah menegur mereka atau pura-pura tidak tahu. Ini membuat mereka kesal.

Penasihat kedua itu kembali melanjutkan. “Kalau ini terus-menerus kita biarkan, lama-lama mereka akan nonton di bioskop atau nongkrong di kafe. Ini sangat berbahaya bagi kedaulatan bangsa kita.”

Kali ini Sang Raja terdiam. Siku kanannya menyenggol tangan Bu Suri. Berharap dia menanggapi kata-kata penasihat kedua. Namun Ibu Suri tetap terdiam. Akhirnya Sang Raja juga yang bicara.

“Ya, saya dan Ibu Suri memang sengaja memberi kebebasan kepada para bidadari untuk berinteraksi dengan makhluk bumi. Mereka itu adalah mata dan telinga kita untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di bumi.”

Raja terdiam sejenak memperhatikan raut muka para peserta rapat. Wajah kepala pasukan tempur terlihat sumringah. Mungkin dia senang karena apa yang dipikirkan Raja sudah lama juga menjadi pikirannya. Pendidikan militer yang dijalaninya selama ini juga menekankan pentingnya menggunakan mata dan telinga ketiga untuk menyadap informasi dari pihak musuh. Sementara para penasihat dan pengawal istana tetap tertunduk.

Raja melanjutkan: “Apa yang dikatakan penasihat kedua itu benar dan memang sudah terjadi. Jangan kira saya tidak tahu aktivitas para bidadari selama turun ke bumi. Mereka ikut meramaikan acara car free day, membawa-bawa bendera khilafah dalam aksi demo di Bundaran HI, dan menyaksikan Festival Musik Melayu di pantai Ancol. Saya tahu semua. Tapi saya perlu informasi itu. Karena itu saya biarkan.”

Ibu Suri tersenyum kecil. Tapi yang lain terdiam. Mereka mungkin tidak menyangka para bidadari itu turun ke bumi bukan semata-mata untuk mandi di telaga seperti kisah-kisah yang mereka sebarkan selama ini agar manusia berimajinasi tentang keajaiban negeri kahyangan. Rupanya mereka mengemban tugas yang cukup berat. Tak terbayang kalau mereka sampai tertangkap satpol PP saat mengikuti aksi demo, lalu digiring ke Polda Metro Jaya, apa yang akan terjadi.

Karena semua masih terdiam, Raja melanjutkan lagi: “Baiklah, berdasarkan masukan-masukan dalam rapat ini, saya perintahkan kepala pasukan tempur beserta anak buah untuk mencari dan menemukan perempuan dan burung hantu itu. Tangkap mereka hidup-hidup.”

Kalimat penutup itu diucapkan Raja dengan nada tinggi, membuat mereka yang hadir mendongakkan kepala, dan merasa sekarang mereka punya Raja yang tegas dan bijaksana.

“Sementara itu,” Raja melanjutkan, “saya akan mengutus dua orang bidadari turun ke bumi untuk mencari si pemilik cincin ini dan menyelidiki apa motiv mereka. Kalau benar ini aksi spionase, kita akan kirim pasukan tempur.”

Semua tercengang. Dari nada bicara dan muatan kata-katanya, mereka tahu Raja sedang tidak main-main.

Saat mereka terdiam, Ahli Hikmah mengacungkan tangan sehingga Raja mengurungkan niatnya untuk bicara lagi. Raja mempersilakan dia bicara. Rupanya dia meminta izin untuk memegang cincin yang tergeletak di depan Ibu Suri. Dia genggam cincin itu erat sekali, kemudian dilepas, dipindahkan letaknya hanya dipegang ujung telunjuk dan ibu jari. Dia pandangi cincin itu seperti tengah menerawang. Dan, katanya, “Tuan Raja, mereka sudah terjebak sendiri. Cincin ini mengandung data-data keadaan di bumi saat ini. Mungkin tujuan mereka semula, data-data itu untuk memancing respon kondisi Negeri Kahyangan. Tapi mereka salah, karena temperatur suhu dan cuaca di sini justru menimbulkan respon terbalik. Perangkat mereka tidak berfungsi, justru data-data bumi yang muncul di sini.”

Tak terkira senangnya Raja dan Ibu Suri mendengar penjelasan dari Ahli Hikmah. Tidak sia-sia dia mengangkat Ahli Hikmah itu menjadi cendekiawan istana. Namun kekaguman itu tidak keluar dari mulutnya. Memang bukan kebiasaan Raja untuk memuji orang. Dia manggut-manggut saja sudah dirasa cukup sebagai pujian. Sang Ahli Hikmah kemudian mengambil ballpoint dan membuat semacam peta dan sketsa yang tidak dimengerti oleh peserta rapat. Usai melakukan itu dia menjelaskan.

“Tuan Raja, kita harus hati-hati mengutus bidadari ke bumi, sebab saat ini bumi tengah dilanda wabah virus Corona. Apalagi Jakarta, termasuk daerah yang paling rawan terpapar virus mematikan tersebut. Hamba membaca file di cincin ini sudah banyak orang yang mati karena virus ini. Sebagian menampakkan gejala berat, dan sebagian lagi gejala ringan. Bahkan ada yang tidak menampakkan gejala sama sekali, tapi mereka terserang virus ini dan mati.”

virus_covid_19

Sang Ahli Hikmah menjelaskan panjang lebar. Sesekali tangannya membuat coretan pada kertas di tangannya. Tiba-tiba seorang pengawal istana menyela. “Maaf, hamba mendengar ada seorang bidadari yang masuk angin sehingga perlu dkerok dan minum wedang jahe. Jangan-jangan dia termasuk orang yang terpapar virus itu?”

“Oh, tidak,” sergah Ahli Hikmah. “Gejala virus Corona itu sesak napas dan demam tinggi. Tidak usah khawatir. Kalau masuk angin mungkin karena mereka terlalu lama berendam di air, atau minum es dawet yang terlalu dingin.”

Mereka manggut-manggut. Raja mengambil alih kendali rapat. Keputusan sudah dibuat bahwa dia memerintahkan pasukan untuk mencari perempuan penyusup dan burung hantu, dan satu hal lagi, dia akan mengutus dua orang bidadari ke bumi untuk menyelidiki pemilik cincin dan tujuannya mengirimkan cincin itu ke negerinya. Informasi dari Ahli Hikmah dicermati dan akan menjadi bagian dari kebijakannya tersebut.

“Pasukan pencari harus mulai bergerak dari sekarang. Saya tidak memberi batas waktu untuk menangkap mereka, tapi lebih cepat lebih baik. Tentang siapa bidadari yang akan diutus ke bumi akan kita bicarakan besok. Tapi teknisnya bisa kita bahas secara singkat sekarang. Apa ada usulan lain?” Tanya Sang Raja.

“Begini Tuan Raja,” Ahli Hikmah bicara lagi. “Sebaiknya rencana mengutus bidadari ke bumi itu ditunda dulu, mengingat semua wilayah sekarang sedang menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) akibat penyebaran virus Corona. Ini terlalu berisiko buat mereka. Kecuali  mereka mengikuti protokol kesehatan WHO seperti yang tertera di sini.” Ahli Hikmah menunjukkan cincin dan coretan-coretan yang dia buat. Lalu dia menjelaskan kewajiban memakai masker, social distancing, dan sering cuci tangan.

20200415102713-Picture1

Raja dan Bu Suri tertawa mendengar penjelasan itu, karena mereka tidak membayangkan bidadari memakai masker. Tapi apa boleh buat kalau memang itu protokolnya harus diikuti. Ahli Hikmah itu kemudian membentangkan peta. Ia menunjukkan beberapa daerah yang akan dijadikan tempat turun para bidadari di bumi. Sekonyong-konyong Sang Raja menunjuk dua titik yang paling terang.

“Mungkin bagus kalau turun di sini, atau di sini,” kata Sang Raja.

“Maaf, Tuan Raja, ini daerah Bekasi, zona merah. Dan ini Bogor, juga zona merah. Sangat beresiko kalau para bidadari itu turun di sini. Saya pribadi mengusulkan, sebaiknya mereka turun di sini.” Semua mata peserta rapat memperhatikan titik yang ditunjukkan oleh Ahli Hikmah. Tulisan di peta itu terbaca oleh mereka: Pondok Aren.

Setelah rapat yang memakan waktu sekitar satu jam itu, akhirnya kesepakatan dicapai. Raja dan Ibu Suri terlihat sangat gembira. Begitu juga para penjaga, pengawal, penasihat istana, kepala pasukan tempur, dan para ahli. Semua meninggalkan ruang rapat dengan perasaan berbunga, disaksikan oleh sepasang mata yang sejak tadi mengikuti rapat itu diam-diam, tanpa sepengetahuan mereka.

Lanjut baca Laura & Burung Hantu (III)

Laura & Burung Hantu (I)  Cerita sebelumnya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s