Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (III)

– 9 –

Pertemuan dengan Si Boy

Sementara itu, Laura mulai siuman ketika mendengar sebuah suara mengeong di telinganya. Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Saat matanya dibuka, dia tersentak melihat seekor kucing di depan matanya. Kucing jantan yang sangat dikenalinya.

“Boy, kenapa kamu ada di sini?”  

“Meoong,” kucing itu menjawab.

“Kamu sama siapa, Boy?”

“Meong.” Lagi-lagi kucing itu mengeong, tapi kali ini dia membalikkan badan sambil berjalan. Laura mengerti isyarat itu. Dia mengikuti dari belakang ke mana kucing yang dirawatnya dari kecil itu berjalan. Laura teringat saat-saat dia pertama kali memelihara Boy bayi. Kucing itu belum diberi nama.

“Tolong kamu rawat dia ya, Laura, di rumahku sudah terlalu banyak kucing.” Begitu kata-kata Maudi, teman Laura yang mengantarkan kucing kecil itu ke rumahnya. Laura dan keluarga mencari-cari nama yang pas untuk kucing jantan kecil itu. “Bagaimana kalau kita kasih nama Si Boy,” usul Laura. Kebetulan waktu itu sedang ramai sinetron Anak Jalanan di sebuah stasiun televisi di mana pemeran utamanya sangat terkenal, Si Boy, namanya. Semua setuju. Sejak itulah kucing kecil mereka dipanggil Si Boy.

tumblr_mvib0xnIhG1s0y297o1_500

Setelah mulai besar, pada tahun kedua, Si Boy menghilang. Berhari-hari Laura mencoba mencarinya hingga ke ujung-ujung gang dan perumahan penduduk, namun tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya dia pasrah. Teman-temannya mengatakan, kucing jantan kalau sudah besar akan pergi, mencari pasangan.

Laura tidak menyangka bahwa akhirnya bisa bertemu kembali dengan Si Boy. Tubuhnya tidak jauh berbeda dengan dulu saat pergi dari rumah. Kalau manusia, dia ini posturnya six pack. Tampak kekar dan jantan.

Lamunan Laura buyar ketika Si Boy berhenti di depan sebuah rumah yang letaknya terpencil, jauh dari rumah-rumah yang lain. Bahkan rumah itu nyaris tidak terlihat dari depan karena ditutupi pohon-pohon besar yang tumbuh di halamannya. Tapi tanaman kecil dan rumput-rumput di halamannya tampak rapi, menandakan bahwa rumah itu ada penghuninya.  

Si Boy terus berjalan di depan seperti memberi isyarat agar Laura mengikutinya sampai ke dalam. Namun Laura tampak ragu. Saat kakinya menginjak lantai teras dari ubin tua, dia menghentikan langkahnya. Telinganya seperti mendengar suara yang memanggil namanya. Matanya menyelidik ke seantero ruang depan. Tidak semua terlihat karena suasana remang dan cenderung gelap. Di langit-langit hanya ada lampu neon kecil tergantung seperti sudah terlepas dari pegangannya. Laura melangkah pelan.

 

044787400_1508826803-3__Haunted-House-Facade-Home-Building-Old-House-578218__Max_Pixel

“Laura!” Suara itu lagi, terdengar samar tapi cukup jelas dari mana asalnya. Laura menengok ke sebelah kiri, arah datangnya suara. Tidak ada siapapun di sana. Hanya rimbun daun bergerak-gerak ditiup angin. Namun sekonyong-konyong sebuah sinar bulat menyala seperti memberi isyarat pada Laura tentang keberadaannya. Mata burung hantu. Laura terkejut. Belum sempat dia bereaksi lebih jauh, Si Boy mengeong dari dalam seolah memanggilnya. Ragu-ragu Laura melangkah ke dalam. Matanya masih sempat melirik ke arah burung hantu untuk memastikan bahwa bukan burung itu yang memanggil namanya.

Si Boy membawa Laura melewati ruang tamu menuju sebuah kamar. Seorang pria tua berbaring di atas tempat tidur dari kayu, beralaskan kasur dengan seprei warna gelap sehingga menimbulkan suasana suram. Rupanya dia mengetahui kedatangan Laura, dan menyambutnya dengan suara batuk yang tertahan. Si Boy melompat ke atas tempat tidur. Orang itu bangun dari tidurnya, lalu meletakkan punggungnya pada sandaran kayu tempat tidur. Tangannya mengelus-elus kepala Si Boy. Terbetik rasa iri di hati Laura melihat kemanjaan Si Boy pada “majikannya” itu. 

“Jadi selama ini Boy tinggal di sini sama Kakek?” Laura membuka percakapan.  “Oh iya, maaf, nama saya Laura, saya dibawa ke sini oleh Si Boy. Ini kucing saya,” tambah Laura.

“Oh, namanya Boy,” sahutnya. Tangannya masih mengelus-elus kepala Si Boy. “Namamu sendiri siapa tadi?”

“Saya Laura, Kek.” Lalu dia menceritakan kisah Si Boy yang dia rawat sejak kecil, menghilang, sampai bertemu lagi di Taman Eden. Orang itu menggut-manggut.

“Kakek di sini tinggal sama siapa?”

“Kakek tinggal sama cucu. Dia itu yang menemukan kucing ini terkapar di pinggir jalan karena dilindas sepeda motor yang melarikan diri. Dia membawanya ke sini dan merawatnya hingga sembuh. Laura kaget mendengar itu. Didekatinya Si Boy dan tangannya mengelus-elus kepalanya.

“Di mana cucu kakek sekarang?” Tanya Laura.

“Dia lagi ke apotik membeli obat untuk kakek. Tapi katanya mau pulang agak malam karena mau datang ke acara ulang tahun temannya dulu.”

Laura tersentak mendengar si kakek menyebut kata ulang tahun, teringat hari ulang tahunnya sendiri, hari ini, yang berantakan akibat peristiwa yang sama sekali tidak diduganya. Teringat Jodi yang entah dimana keberadaannya. Kesal juga dia mengingat pacarnya itu. Dia juga terbayang wajah teman-temannya yang pasti sangat kecewa karena dia tidak memberi tahukan pembatalan pesta ulang tahunnya.

“Siapa nama cucu kakek? Dan siapa temannya yang ulang tahun itu?” Tanya Laura bertubi seakan tidak sabar.

“Ardi. Kalau nama temannya, Kakek tidak tahu.”

“Ardi? Rasanya saya kenal. Apa dia yang suaranya agak parau, yang dulu sekolahnya di SMP Pondok Pinang, dan pernah naksir sama Lauren?”

“Iya, betul,” jawab si kakek. “Tapi kakek tidak tahu kalau dia naksir sama Mama Lauren. Bukannya dia sudah meninggal dunia?”

“Lauren, Kek, sepupu saya, bukan Mama Lauren yang paranormal itu.” 

“Oohh…” sungut si kakek.

Tidak salah lagi, pikir Laura, itu pasti Ardi yang ditemuinya di telaga. Pantas saja aku hampir mengingat suaranya yang khas. Tapi kenapa dia ada di telaga? Kenapa dia tidak mau menampakkan muka? Apa dia malu, takut aku mengenalinya? Astaga, bagaimana keadaan dia sekarang? Apa masih di atas pohon? Berjubel pikiran di kepala Laura.  Lagi-lagi dia merasa bersalah.

“Kenapa, Nak, kok bengong.”

“Ah, enggak apa-apa, Kek, saya lagi mencoba mengingat-ingat karena sudah lama tidak ketemu dia.”

“Oh begitu. Kalau nanti kamu ketemu Ardi di jalan, kamu pasti kaget karena pakaiannya waktu tadi keluar rumah, sama dengan yang kamu pakai sekarang.”

Demi apa, Laura seperti disengat kalajengking. “Oh, iya, eeh, apa iya, Kek? Mungkin kebetulan saja, Kek. Semoga Ardi cepat pulang ya, Kek. Biar obatnya bisa cepat diminum. Oh iya, ngomong-ngomong saya mau pamit dulu, Kek, takut kemalaman. Salam saja sama Ardi.”

“Ya sudah, nanti kakek sampaikan,” ujar si kakek sambil bangkit dari tempat tidur untuk mengantar Laura ke halaman. Walaupun sudah tua, mungkin sekitar 70 tahunan, si kakek tampak masih gagah, jalannya masih tegap. Hanya saja dia sedang sakit batuk-batuk jadi kelihatan pucat dan lelah.

“Si Boy boleh saya bawa ya, Kek?”

“Kalau itu, kamu harus bilang dulu sama Ardi. Nanti kalau dia nanya, kakek bingung jawabnya.”

“Tapi dia mau ikut saya tuh, Kek, lihat.”  Laura menunjuk Si Boy yang menggesek-gesekkan badan ke kakinya seperti tidak mau ditinggal. “Saya ‘kan sudah tahu rumah kakek, jadi nanti saya bisa ke sini lagi untuk bilang sama Ardi. Ya, Kek, pliss.”

“Ya sudah kalau begitu, tapi ini makanannya dibawa juga.”

“Tidak usah, Kek. Di rumah saya banyak makanan kucing. Saya selalu menyiapkan untuk kucing-kucing kampung yang suka datang ke rumah.”

“Sudah, bawa saja, nanti kamu akan membutuhkannya.”

Laura tidak bisa menolak. Diambilnya makanan kucing yang terbungkus kantong plastik itu. Mereka berjalan ke arah teras, beberapa meter dari kamar tidur, karena rumah itu cukup besar, namun terkesan sepi karena tidak ada siapa-siapa lagi selain si kakek, Ardi, dan Si Boy.

Pada dinding ruang tengah tergantung beberapa foto perempuan, laki-laki, dan anak-anak tanggung. Tapi Laura tidak berniat untuk menanyakan perihal mereka karena merasa harus cepat pergi. Mendekati pintu depan, tiba-tiba Laura mengambil posisi di sebelah si kakek, dan memegangi tangannya.  

“Kek, kenapa Kakek memelihara burung hantu?”

“Kakek tidak memelihara burung hantu, mereka yang datang sendiri ke sini, hehee.”

“Mereka? Berarti banyak dong?” Kejar Laura.

“Ya, banyak, tapi datang dan pergi. Mereka ke sini cuma numpang tidur karena di rumah kakek masih banyak pohon besar. Tapi sebenarnya mereka itu burung hantu jadi-jadian.”

“Maksud Kakek? Saya nggak ngerti.”

“Burung hantu jadi-jadian itu tadinya manusia, karena melakukan kesalahan maka dia dikutuk jadi burung hantu.”

“Kakek serius? Saya takut, Kek.”

“Hehehe… Nggak. Kakek cuma becanda.”

Secara refleks tangan Laura memukul bahu si kakek. Dan si kakek pura-pura meringis kesakitan. Mereka masih berdiri di pintu bagian dalam. Melanjutkan percakapan yang sebenarnya dibuat-buat oleh Laura untuk menekan perasaan takutnya.

ghosts-gespenter-spooky-horror-40748_bfxguc

Matanya kembali menerawang seisi ruangan rumah. Tidak ada kesan angker, hanya saja lampu penerangannya memang kurang. Di beberapa sudut bahkan terlihat ada vas bunga lengkap dengan isinya. Tapi dia tidak tahu itu bunga asli atau plastik. Kalau itu hasil tangan Ardi, berarti punya jiwa seni juga anak itu, pikir Laura.

“Kek, apa betul ada nenek tua d sekitar sini yang suka menyihir kupu-kupu jadi burung hantu.” Laura masih penasaran perihal burung hantu.

“Kalau itu memang ada riwayatnya. Tapi tidak semua jenis kupu-kupu. Hanya kupu-kupu yang dulunya jelmaan dari bidadari yang disihir jadi burung hantu. Karena si nenek itu iri hati, dia ingin jadi bidadari tapi sudah terlalu tua. Makanya kupu-kupu bidadara itu yang jadi korbannya.”

“Serius, Kek?”

“Enggak, kakek cuma becanda, hehehee.”

Lagi-lagi Laura melayangkan tinjunya ke bahu si kakek.  Di balik candaan-candaannya, Laura merasakan aura misteri pada diri si kakek, tapi dia mencoba untuk rileks dan akrab.

“Ya sudah, kalau mau pergi silakan, hati-hati di jalan. Nanti kalau ketemu Ardi tolong kasih tahu dia kakek nunggu obatnya, jangan terlalu malam. Nanti kakek keburu tidur.”

Setelah berpamitan sekali lagi, Laura meninggalkan halaman rumah itu diiringi Si Boy.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (IV)

Laura & Burung Hantu (II) ⇐  Cerita sebelumnya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s