Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (IV)

– 10 –

Perjalanan Pulang

Dalam perjalanan pulang, Laura berusaha untuk tidak memikirkan Jodi. Dia bahkan menduga kekasihnya itu tidak lagi memedulikannya. Buktinya Jodi tidak datang di acara ulang tahun mereka di Taman Aden. Padahal, Jodi  sendiri yang merancang acara itu, sampai Laura harus mengorbankan perayaan ulang bersama teman-temannya.

Kini Laura justru memikirkan pria yang telah menolong dirinya di telaga. Berdasarkan penuturan si kakek di rumah itu, dia yakin bahwa pria yang meminjamkan pakaian kepadanya itu tidak lain adalah Ardi. Dia masih mengingat suaranya yang khas: parau.

Sejak lulus SMP Laura memang tidak pernah lagi bertemu dengan Ardi. Gosip terakhir  yang masih dia ingat ialah, Ardi menyukai Lauren, sepupunya. Tapi Lauren menganggap Ardi hanya teman biasa. Laura sudah menduga kalau Lauren akan bersikap seperti itu. Dia tahu sepupunya itu, kalau soal pria, punya selera “khusus”. Mungkin karena Lauren merasa memiliki kemampuan supranatural, maka dia hanya tertarik pada orang yang dia anggap tidak biasa. Dan sialnya, dalam dugaan Laura, pria yang tidak biasa itu adalah Jodi, kekasihnya.

imageslaur

Dari perilakunya Laura bisa menebak bahwa Lauren menyukai Jodi. Namun sejauh ini Jodi di matanya bersikap biasa saja pada Lauren. Walaupun mereka intim, Jodi terlihat masih menjaga jarak keintiman itu sebatas sahabat. Tapi tetap saja Laura merasa cemburu pada Lauren. Kadang dia bahkan merasa bahwa perasaan cemburunya itulah yang “membantu” memelihara hubungannys dengan Jodi. Selebihnya adalah misteri, karena dia tidak sepenuhnya dapat memahami sikap Jodi yang dingin dan tidak pedulian.

 

Dan sekarang, ketika Laura sadar bahwa Jodi tidak mempedulikannya, dia justru bersimpati pada Ardi. Jodi membiarkannya dalam bahaya, di saat seperti itu, Ardi datang menolongnya. Dia merasa wajar kalau sekarang memiikirkan Ardi dan mengkhawatirkan keselamatannya.

***

Selagi pikiran Laura dipenuhi oleh kekhawatiran tentang keselamatan Ardi, si Boy mengeong. “Ayo, Boy, perjalanan kita masih jauh,” ujar Laura melihat Si Boy berhenti. “Kenapa, Boy, ada apa?”

Si Boy sekarang berbalik arah, berjalan mendekati gerbang sebuah rumah. Laura mengikutinya. Si Boy mendekati seekor kucing yang sedang menggelepar di luar pagar dekat tempat sampah yang tertutup rapat. Laura memperhatikan gerakan tubuh kucing itu, memastikan bahwa dia memang masih hidup. Ya, masih ada napasnya. Tapi Laura tidak tahu harus berbuat apa. Dipegangnya tubuh kucing itu. Kurus sekali, nyaris tinggal tulang. Kucing itu memberi respon dengan suara mengeong, tapi sangat lemah. 

7b3431f4101a3e99d860a73e469c63810239c5a7

Si Boy mendorong plastik yang diletakkan di tanah oleh Laura, dengan mulutnya. Plastik itu berisi makanan kucing pemberian dari si kakek di rumah tua. Laura mengerti. Dia mengeluarkan makanan itu dari plastik dan memberikannya pada si kucing. Dengan tubuh gontai kucing itu berusaha untuk berdiri, tapi gagal. Dia kembali terjatuh. Apa karena dia kelaparan, pikir Laura. Tangan Laura membantu tubuh kucing itu berdiri dan menyorongkan makanan ke mulutnya. Benar saja. Kucing itu makan dengan lahapnya. Tergesa-gesa sampai napasnya ngos-ngosan.

Laura masih memegangi tubuh kucing itu karena masih terasa limbung di tangannya. Kalau dilepaskan pasti jatuh lagi. Si Boy sepertinya tidak tertarik untuk ikut mencicipi makanan itu. Dia hanya memperhatikan dari dekat. Sesekali kucing kurus itu menatap Si Boy dengan mata yang lemah. Mendapat tatapan seperti itu, Si Boy melengoskan kepalanya, melihat ke arah lain. Beberapa menit kucing itu masih melahap makanan hingga nyaris tidak tersisa. Laura masih memegangi dan mengelus-elus tubuhnya. Untung saja dia membawa makanan itu. Padahal waktu si kakek memberinya dia sempat menolak. “Bawa saja, nanti kamu akan membutuhkannya.” Begitu kata si kakek. Kok dia bisa tahu kalau aku bakal membutuhkan makanan kucing ini, batin Laura.

Setelah makanan di kantong plastik habis, napas kucing itu terengah-engah. Tapi sekarang tubuhnya sudah bisa berdiri tegak, sehingga Laura melepaskan tangannya. Tidak jauh dari pagar rumah itu dia melihat keran air. Dia terpikir untuk mengambil air dan memberi si kucing minum. Matanya mencari-cari tempat penampungan air. Baru saja dia berdiri, seseorang menghampirinya.

“Lagi apa, dik?” Tanyanya.

“Ini, Pak, habis ngasih makan kucing, kayaknya dia lapar, sekarang saya lagi cari tempat air untuk dia minum,” Jawab.

“Waduh, dik, jangan deh. Sebaiknya cepat pergi dari sini. Kalau majikan saya tahu dia akan marah. Dia engga suka kucing dikasih makan, nanti kebiasaan datang terus ke sini.”

Laura mengerti sekarang. Si bapak itu pasti asisten rumah tangga atau tukang kebun pemilik rumah besar ini. “Lho, tapi kucing ini kelaparan, Pak. Lihat, badannya kurus sekali.”

“Ya, saya juga tahu, dik. Tapi mau bagaimana lagi. Saya pernah ngambil makanan kucing ras di dalam rumah untuk ngasih makan kucing-kucing kampung yang datang ke sini. Tapi majikan saya tahu dan dia marah besar. Sejak itu saya tidak pernah lagi ngasih makan kucing kampung.” Bapak itu menjelaskan. Laura melirik ke teras rumah itu. Tampak beberapa kucing ras sedang bercengkrama. Sebagai penyuka kucing dia senang melihat tingkah mereka yang menggemaskan. Tapi kucing kampung yang dia beri makan juga lucu. Setelah makan kenyang, kucing itu menggesek-gesekan tubuhnya ke kaki Laura.

“Adik suka kucing, ya? Sama dengan anak saya,” ujar bapak itu lagi.

“Iya, Pak. Kalau begitu bapak bawa saja kucing ini ke rumah bapak biar dipelihara sama anak bapak,” usul Laura.

 “Wah, rumah saya jauh, dik, di Rangkas Bitung, bagaimana saya membawanya.”

 “O, begitu, bagaimana kalau kucing ini saya bawa ke rumah saya, boleh ‘kan, Pak?”

Baru saja selesai Laura mengatakan itu, sebuah mobil mendekati rumah. Lampunya yang menyorot tepat ke dirinya menyilaukan mata Laura sehinga dia harus menutupinya dengan siku.

“Cepat, dik, pergi dari sini. Itu anak majikan saya. Nanti dia memarahi saya,” kata bapak itu.

Laura menuruti kata-kata itu. Dia bersiap pergi. Namun sekonyong-konyong pintu mobil terbuka dan seorang pria turun langsung menyapanya. “Laura?!”

Tentu saja Laura terkejut. Dan lebih terkejut lagi begitu mengetahui orang yang menyapanya dengan suara parau. “Ardi? Kamu Ardi, ‘kan?”

“Iya, aku Ardi. Senang kamu masih ingat aku.”

“Lho, kok kamu di sini? Bukannya rumahmu di sana?” Laura menunjuk ke arah belakang, lokasi rumah tua milik si kakek. 

 “Dari dulu rumahku di sini, Laura, nggak pernah ke mana-mana,” jawab pria itu. “Kamu dari mana dan mau ke mana?”

“Aku dari… eeh, dari sana”. Laura menunjuk ke sembarang arah. “Dan sekarang aku mau pulang.”

Dari dalam rumah terdengar seseorang membuka pintu. Seorang perempuan setengah baya keluar dan memanggil Ardi. “Cepat, Ardi, obatnya ditunggu papa,” ujarnya.

“Sebentar, Ma,” sahut Ardi. Dia berjalan lebih dekat ke arah Laura.

“Oh ya, Laura, maaf papaku sedang sakit, aku harus masuk karena dia membutuhkan obat ini. Dan maaf lagi aku tidak bisa mengantarmu pulang. Lain waktu kita ketemu lagi ya. Salam untuk Jodi dan… Lauren.” Usai mengucapkan itu Ardi menjabat tangan Laura, kemudian dengan langkah tergesa melenggang ke dalam.

Lanjut membaca ->  Laura & Burung Hantu (V)

 Laura & Burung Hantu (III)  <-  Cerita sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s