Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (V)

– 11 –

Kisah Pakaian Laura

Sementara itu pria yang berada di telaga masih berusaha mendekati pakaian perempuan yang tengah mandi. Dia merangkak dengan hati-hati sekali karena tidak ingin melakukan kesalahan dua kali, seperti saat dahan yang diinjaknya patah dan menimbulkan suara. Akibatnya perempuan itu sempat naik ke darat dan memperhatikan sekeliling. Untung saja perempuan itu tidak mendongak ke atas pohon di mana Ardi bersembunyi.

Kini jarak dirinya dengan pakaian perempuan itu tinggal satu meter. Dia makin mendekat, dan makin hati-hati. Begitu tangannya meraih pakaian itu, seekor katak melompat dan menjatuhkan tubuhnya persis di atas tumpukan pakaian. Refleks pria itu menarik kembali tangannya seraya matanya melihat ke arah telaga. Dia khawatir perempuan itu memergoki perbuatannya. Tapi rupanya perempuan itu tidak menyadari apa yang terjadi. Dia masih asik berenang ke sana ke mari. Kadang cukup lama menyelam, dan saat muncul di permukaan air tubuhnya melonjak ke atas seperti seorang perenang profesional yang tengah menunjukkan kepiawaiannya. Dia tidak peduli bagian pinggulnya mencuat ke pemukaan air.

1c93ae52f950fb958120362eab7a694d

Pria itu ragu-ragu untuk mengusir katak di atas pakaian. Dia takut katak itu terkejut dan melompat ke semak-semak hingga menimbulkan suara gaduh. Dia terdiam beberapa lama, sampai sebuah pikiran terlintas di kepalanya: Kalau aku ambil pakaian ini, lantas bagaimana perempuan itu nanti? Apakah dia harus meninggalkan tempat ini dalam keadaan bertelanjang? Kalau aku bisa menutup tubuhku dengan daun-daunan seperti yang kulakukan sekarang dan  bisa pulang dengan mengendap-endap? Tapi perempuan itu, bagaimana?

Tidak ada jalan keluar. Lebih tepatnya, pria itu tidak tega membiarkan perempuan tersebut nanti pergi tanpa busana. Dia menghela napas perlahan, dan mulai menggeser posisinya mendekati pohon tempat dia bersembunyi sejak sore tadi. Dia tercenung sambil menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. Pandangan matanya menerobos keremangan malam di pinggiran hutan yang letaknya tidak terlalu jauh dari perumahan penduduk itu. 

***

Hari semakin gelap. Bulan hanya sepotong, dan cahayanya redup tertutup awan. Suara kecipak air terdengar semakin jarang. Pria itu melongok ke arah telaga untuk melihat situasi. Rupanya perempuan itu masih berendam. Pria itu memakai kembali daun-daun penutup tubuhnya. Dan tanpa menengok lagi ke arah telaga ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati meninggalkan tempat tersebut tanpa peduli lagi dengan perempuan itu dan pakaian yang hendak dicurinya.

Namun baru beberapa meter kakinya melangkah tiba-tiba terdengar sebuah suara yang cukup keras dari telaga. “Huuuuuu….!!” Sontak pria itu menengok ke belakang. Ternyata suara itu berasal dari perempuan yang kini telah berada di darat. Suaranya seperti orang yang menghembuskan udara dari mulut karena kedinginan. Benar saja, perempuan itu terlihat seperti menyilangkan kedua tangan  menutupi tubuhnya seolah menahan gigil. Tapi anehnya, dia berada di daratan yang bersebrangan dengan tempat dia meletakkan pakaiannya.

Pria itu menjadi penasaran. Dia berbalik, dan sambil terbungkuk berjalan ke tempat pakaian. Semua pakaian masih ada di tempat semula. Lantas kenapa perempuan itu naik ke darat di seberang sana. Apakah dia lupa meletakkan pakaiannya di sini. Sekilas dia melihat perempuan itu mengeringkan rambut dengan sebuah kain sambil duduk di sebuah akar pohon besar. Gerimis yang datang tiba-tiba dihempaskan angin kencang membuat pandangan di sekitar menjadi kabur.

gerimis

Perempuan di seberang sana kini bahkan menghilang dari pandangan. Angin kencang berembus lagi melontarkan butir-butir gerimis menimpa dedauan menimbulkan bunyi kesiur. Ketika angin berhenti, samar-samar sosok itu muncul lagi dari balik pohon. Kini dia telah mengenakan pakaian putih. Namun ketika angin kencang berembus lagi, perempuan itu kembali menghilang di balik pohon.

Bersamaan dengan itu, sebuah suara lain terdengar — suara tangis bayi. Dan suaranya bukan dari seberang sana melainkan tidak jauh dari tumpukan pakaian. Pria itu menyelidik ke bawah rumpun tempat sebuah sosok bergerak-gerak dan mengeluarkan tangisan. Didekatinya sosok itu. Benar, bayi yang tampaknya baru berumur beberapa hari. Sebagian tubuhnya dipenuhi bekas gigitan hewan.

Tanpa memedulikan lagi perempuan yang berada di seberang sana, pria itu segera memakai pakaian yang berada di depannya, pakaian milik Laura. Setelah itu diambilnya si bayi tersebut dan didekapnya, lalu dia berlari sekencang-kencangnya.

D1167_17_001_0004_600

Pria itu tidak menengok ke belakang lagi. Pandangannya fokus pada jalan yang akan dilaluinya. Dia melewati jalan-jalan kecil di perkebunan yang hanya mendapat pencahayaan samar dari lampu-lampu jalan di kejauhan. Tapi rupanya dia sudah hapal benar jalan-jalan itu sehingga kecepatan berlarinya tidak membelokkan arah yang dituju.

Lima belas kemudian dia sudah tiba di halaman rumahnya. Tanpa mengetuk pintu rumah dia langsung membukanya dan berlari ke dalam. Lalu meletakkan bayi yang dibawanya di atas kursi sofa.

“Siapa itu yang kau bawa?” Seorang pria tua menegurnya dari arah belakang.

“Bayi, Kek. Aku menemukan dia di pinggir hutan.” Dia menjawab tanpa menengok. “Sekarang aku harus ke luar mencari susu untuk dia,” tambahnya. Hanya sekilas dia menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana bisa menemukan bayi itu kepada orang yang dia panggil kakek itu. Sesaat kemudian dia mengambil uang dari laci meja dan bersiap untuk ke luar mencari susu bayi. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

“Si Belang mana, Kek?” Dia menanyakan kucingnya.

“Eee.. begini..,” si kakek tampak grogi. “Tadi ada seorang perempuan datang ke sini bersama Si Belang, lalu dia izin membawa kucing itu ke rumahnya. Dia bilang besok akan datang lagi ke sini untuk bilang sama kamu.”

“Perempuan? Dia membawa Si Belang? Siapa dia, Kek?”

“Kakek tidak tahu, katanya dia kenal sama kamu.”

 “Ya sudahlah, nanti saja kita bahas lagi. Aku mau ke luar dulu mencari susu bayi.”

Pria itu segera beranjak pergi tanpa menutup pintu rumah. Si kakek mendekati bayi itu. Dia perhatikan bagian-bagian tubuhnya yang dipenuhi luka bekas gigitan hewan. “Jadi aku harus merawat lagi anak-anak hantu sampai besar, sampai mereka punya sayap dan pergi sendiri dari rumah ini,” bisik si kakek, sambil menatap tajam bayi itu.

 

Lanjut membaca:  Laura & Burung Hantu (VI)

  Laura & Burung Hantu (IV) <-  Cerita sebelumnya

 

 

By Ahmad Gaus

Sebutir debu di ujung sepatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s