Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (VI)

– 12 –

 Mencari Susu Bayi

Pria itu menghidupkan sepeda motor dan langsung tancap gas. Hanya beberapa menit saja dia sudah masuk ke jalanan umum, dan langsung menuju minimarket yang biasa dikunjunginya. Ada beberapa orang pengunjung di dalam, tapi meja kasir kosong. Maka dia menghampiri petugas kasir yang tengah berjaga.

“Selamat datang di ***mart selamat berbelanja.” Petugas perempuan menyambutnya sambil tersenyum.

“Maaf, Mbak, saya cari susu bayi, di mana ya tempatnya?”

“Susu bayi lagi kosong, Mas, mungkin besok baru ada lagi.”

“Oh begitu. Di mana lagi ya yang ada?”

“Wah, nggak tahu, Mas, biasanya kalau satu kosong, di tempat lain juga kosong karena pemasoknya sama. Mungkin Mas bisa cari di toko-toko sembako.”

Tidak mau membuang-buang waktu, pria itu langsung pergi setelah mengucapkan terima kasih. Kembali dia berada di atas sepeda motor. Kali ini mencari toko sembako seperti saran petugas kasir. Sepanjang jalan umum itu dia memperlambat laju sepeda motornya sambil menengok ke kiri kanan jalan mencari toko sembako. Ada satu toko sembako yang dia ingat terletak di samping Gang Musyawarah. Tapi begitu dia ke sana, ternyata toko itu sudah tutup. Terpaksa dia mencari toko lain.

Baru beberapa meter meninggalkan tempat itu mesin sepeda motornya mendadak mati. Dituntunnya sepeda motor itu ke pinggir jalan dan dicoba dihidupkan lagi dengan cara menekan tombol start. Beberapa kali dicoba, tapi gagal. Harus diselah, pikirnya. Dia pun mencoba cara itu, tapi lagi-lagi tidak berhasil. Tidak salah lagi, pikirnya, ini pasti bensinnya habis. Dia teringat kemarin lusa bepergian jauh, dan pulangnya lupa mengisi bensin.

Akhirnya terpaksa dia menuntun sepeda motornya. Jalanan naik dan turun membuat tenaganya terkuras, keringatnya mengucur deras. Untungnya beberapa meter di depan sana ada tukang bensin eceran persis di depan sebuah warung kecil. Melihat itu, tenaganya seperti pulih kembali. Dituntunnya sepeda motor itu lebih cepat sampai ke depan lapak bensin.

32pertamax

“Pertalite dua liter ya, Mbak” ujarnya sambil membuka tutup tank. Si penjaga lapak bensin menarik selang dan mulai mengisi tank bensin motor yang tampaknya memang sudah kosong, sehingga diisi dua liter pun, bensin itu tidak muncul ke permukaan lubang pengisian.

Sebelum membayar, pria itu bertanya, “Maaf Mbak, eh, Ibu, warung ini punya siapa ya?”

“Ini punya saya juga, kenapa Mas?”

“Jual susu bayi nggak, Mbak, eh Bu?”

“Panggil saya mbak saja!! Wah, kalau itu enggak ada, Mas, harus cari di minimarket.”

“Saya sudah cari, Mbak, tapi lagi kosong semua. Belum ada pasokan lagi katanya.”

Pria itu mengeluarkan uang 20 ribuan dan memberikannya kepada penjual bensin. Namun ia masih bertanya. “Mbak, maaf, eee.. saya lagi kesulitan mencari susu bayi, padahal bayi di rumah saya sangat memerlukannya. Apa mbak, ee.. bisa membantu saya?”

“Maksudnya, membantu bagaimana ya?”

“Eee.., begini, aduh bagaimana menjelaskan ya. Maksud saya, ee.. maksud saya bisa nggak Mbak ikut ke rumah saya untuk menyusui bayi itu, cuma sekali ini saja. Nanti saya bayar. Maaf ya Mbak kalau saya lancang. Tapi saya terpaksa.”

“Oo, begitu. Saya mengerti. Tapi… bagaimana ya, ini kan sudah malam. Apa kata orang nanti kalau saya ke rumah Mas dan menyusui bayi. Kalau orang-orang tahu bisa jadi masalah, Mas.”

“Oo, nggak, Mbak. Rumah saya jauh dari rumah-rumah tetangga. Kalau kita ke sana nggak akan ada yang tahu. Nanti kalau sudah selesai secepatnya Mbak saya antar lagi ke sini. Tolonglah, Mbak, kasihan bayi itu?”

“Bayi itu anaknya si Mas?”

“Bukan, sih. Nanti saya ceritakan semuanya di rumah. Bagaimana, Mbak, pliss… bantu saya ya!?”

Pedagang itu terdiam. Sesaat dia menengok ke dalam warungnya. Si pria itu rupanya mengerti. Dia menyarankan agar warungnya tutup dulu sementara waktu. Dan dia akan membayar sebagai kompensasinya. Pedagang itu menatap wajah pria di hadapannya yang penuh harap.

“Begini saja. Saya juga ‘kan punya anak kecil. Di rumah saya ada persediaan susu bayi. Bagaimana kalau kita ambil ke rumah saya? Kalau setuju, warung saya tutup.”

Tanpa bertanya ba-bi-bu lagi si pria itu langsung menyetujui. Tidak lama kemudian keduanya sudah berada di atas sepeda motor menuju rumah sang pedagang. Tidak banyak percakapan di jalan, kecuali tentang jarak tempuh, karena si pria itu selalu bertanya apa masih jauh? Apa tidak ada jalan memotong. Akhirnya si pedagang itu meminta sepeda motor berhenti di dekat sebuah gardu pinggir jalan.

Suasana-Jalan-Mesjid-Al-Muhajirin-di-malam-hari-yang-tampak-telah-terang-benderang-setelah-dipasangi-lampu-jalan.

“Kalau mau jalan memotong, kita lewat sini,” ujarnya, menunjuk sebuah jalan di antara pohon dan semak belukar.

“Tapi jalan itu kecil sekali, Mbak. Dan motor saya juga tidak bisa melewati jembatan kayu ini.”

“Motormu ditaruh saja di belakang gardu itu. Aman, kok. Kita jalan lewat sini.”

Si pria itu menurut. Usai meletakkan sepeda motornya di tempat yang ditunjuk, dia mengikuti langkah si pedagang. Mereka berjalan melewati perkampungan penduduk dengan rumah-rumah yang belum terlalu padat. Wilayah itu masih didominasi oleh perkebunan yang luas hingga tampak seperti hutan kecil. Ada beberapa lahan kosong, lapangan bola, pemakaman umum, tanaman palawija, yang menandakan bahwa daerah itu cukup hidup. Bahkan di jalan sepi masih terlihat ada orang lewat, juga pedagang bakso, nasi goreng, atau tukang sate keliling. Mereka kerap saling menyapa.

“Pulang, Mbak? Kok tumben masih sore warungnya sudah tutup?”

Perempuan pedagang itu biasanya menjawab dengan ramah, walaupun hanya jawaban singkat.

Pertanyaan yang membuat perempuan pedagang itu tampak grogi berhubungan dengan pria itu. “Itu siapa, Mbak, saudara atau adik, kok saya baru lihat?”

Atau,

“Wah, sama orang baru, nih. Dari mana dia, Mbak?”

Pertanyaan sejenis itu tidak pernah dijawab oleh perempuan pedagang tersebut. Namun dia acuh tak acuh seperti tidak terganggu, kecuali mempercepat langkahnya untuk menghindari pertanyaan lain. Kini giliran pria yang berjalan bersamanya yang bertanya:

“Masih jauh nggak, Mbak? Perasaan saya kok nggak sampai-sampai, ya?”

“Nggak, kok, sebentar lagi kita sampai.”

images222

“Mbak setiap hari lewat jalan ini sendirian?”

‘Ya mau lewat mana lagi? Ini jalan memotong yang paling dekat.”

“Nggak takut, Mbak?”

“Apa yang harus ditakuti. Saya sudah biasa kok, setiap hari lewat jalan ini. Mas lihat sendiri ‘kan tadi banyak orang yang lewat sini juga. Lagi pula ini kampung saya dari dulu. Saya sudah hapal semua keadaan di sini.”

Tidak lama kemudian si pedagang itu menghentikan langkahnya. Dia memperhatikan pria yang bersamanya. Napasnya terengah. Maklum perjalanan itu memang lumayan jauh.

“Akhirnya kita sampai,” ucapnya.

“Yang mana rumahnya, Mbak?”

“Ini.” Pedagang itu menunjuk sebuah pohon.

“Lho, pohon ini?”

“Iya.”

images76

Pria itu terkejut, dan menggosok-gosok matanya dengan punggung tangan. Apa aku tidak salah lihat, pikirnya. Pohon itu, dia mulai ingat, adalah pohon pinggir telaga dimana beberapa waktu lalu dia menyaksikan seorang perempuan bersembunyi di baliknya sehabis mandi. Untuk meyakinkan penglihatannya, dia lalu beringsut beberapa langkah ingin melihat apakah benar di dekat pohon itu ada telaga. Sebuah pemandangan yang sangat dia kenal terhampar di depannya. Ya, telaga. Dan di seberang telaga itu tidak lain adalah pohon tempat dia bersembunyi sepanjang sore tadi.

Bulu kuduknya berdiri. Aku terjebak, pikirnya. Dia membalikkan badannya dengan maksud untuk berlari. Namun baru saja satu kakinya bergerak, perempuan tadi sudah berdiri persis di belakangnya dan mendorong tubuhnya hingga terperosok ke telaga. Hanya beberapa sentimeter sebelum tubuhnya jatuh ke dalam air, sekonyong-sekonyong sesosok bayangan melintas dan merenggut tubuhnya secepat kilat.

Perempuan itu berdiri mematung di depan telaga. Wajahnya tampak geram. Suasana hening di sekitarnya pecah oleh suara burung hantu, geuukk… geuuuk… geuukkkK..

Lanjut membaca ->  Laura & Burung Hantu (VII)

Laura & Burung Hantu (V)  <- Cerita sebelumnya

 

 

By Ahmad Gaus

Sebutir debu di ujung sepatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s