Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (VII)

– 13 –

Tamu Malam Hari

Sosok bayangan yang merenggut tubuh pria itu bergerak sangat cepat bagaikan kilat. Dalam sekejap dia sudah berada di suatu tempat, dan secepat itu pula menghilang. Perempuan penunggu telaga pun dibuat termangu. Bahkan si pria yang bersamanya sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi.

Dan sekarang, pria itu sudah tergeletak di teras rumahnya. Beberapa lama dia pingsan, sampai kemudian terbangun oleh tangisan seorang bayi. Dengan cepat dia masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi bayi yang sejak tadi ditinggalkannya.

Bayi itu masih di tempatnya semula, di atas sofa, dihalangi oleh kursi agar tidak jatuh ke lantai. Di atas meja dilihatnya secarik kertas bertulisan: “Kakek ke luar dulu cari obat.” Gila, pikirnya, dia tinggalkan bayi ini sendirian. Bagaimana kalau terjadi apa-apa, misalnya ada orang masuk dan mencurinya. Sekarang.ini lagi marak pencurian anak untuk diperjualbelikan.

011087071208c4f2458121eadd27996a

Tangisan bayi itu semakin keras, membuat si pria terlihat panik. Dalam pikiannya hanya satu: bayi itu lapar. Tapi susu tidak ada. Dia sudah mencarinya ke luar, malah terjebak masuk hutan. Sepeda motornya bahkan tertinggal di gardu pinggir jalan. Dia semakin kalut. Dia berjalan ke dapur dan mencari-cari sesuatu yang  bisa dijadikan makanan pengganti susu. Hanya ada nasi dan lauk pauk. Tidak mungkin memberikannya pada si bayi. Dia berjalan ke kamar tidurnya. Ada sepotong roti di atas meja, sisa perjalanan kemarin lusa.  Di sebelahnya tergeletak sebungkus biskuit. Dia mendapat ide. Diraihnya roti dan biskuit tersebut dan dia kembali ke dapur. Kali ini dia mengambil gula. Dimasukkannya gula itu ke dalam setengah gelas air hangat, dan diaduk.

Setelah air di dalam gelas itu suam-suam kuku, dia tuangkan ke dalam mangkuk kecil dicampur dengan biskuit yang sudah dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil. Lalu dengan hati-hati pria itu memasukkan biskuit yang sudah larut dalam air gula ke mulut bayi. Tampak bibir si bayi bergerak-gerak. Namun tidak lama kemudian kepalanya meronta ke kiri-kanan seperti menolak asupan di mulutnya. Gerakan itu juga membuat cairan gula dan biskuit itu meleleh dari mulutnya. Pria itu mencoba lagi menyuapi, tapi hal yang sama terulang lagi, hingga dia merasa putus asa, dan meletakkan mangkuk kecil itu di atas meja.

Ketika dia berpikir apa lagi yang akan dilakukan, suara ketukan terdengar di pintu. Apakah itu si kakek, pikirnya. Biasanya kalau si kakek langsung membuka pintu tanpa mengetuk. Suara ketukan terdengar lagi. Tiga kali.

83ac7e8ffb3e4cb80d81c65070d24ec0

“Siapa?” Tanya pria itu.

“Aku mau antar titipan dari kakekmu,” jawab seseorang di balik pintu. Suara seorang perempuan. Pria itu tidak langsung membukakan pintu. Dia masih teringat peristiwa yang baru saja dialamnya dengan seorang perempuan pedagang yang membawanya terjebak di hutan. Jangan-jangan dia lagi, pikirnya. Alih-alih menuju pintu, dia pergi ke ruang belakang mengambil senapan angin – senapan tua milik si kakek yang biasa digunakan untuk menembak tikus di rumah.  

“Tok, tok, tok.” Pintu diketuk lagi

“Tunggu sebentar,” jawab pria itu sambil mengokang senapan dan bersiap membuka pintu.

          “Bawa titipan apa dari kakek?” Sekali lagi ia memastikan ketika langkahnya tinggal satu meter dari pintu.

“Susu bayi,” jawab orang itu.

Wajah pria itu berubah senang. Ahh, kebetulan, pikirnya. Pintu pun dibuka. Seorang perempuan setengah baya, ya, dan wajahnya pernah dia kenal.

“Mbak….?” Suara pria itu terputus

“Resti.” Jawab perempuan itu. “Masak lupa, sih?!”

“Oh iya Mbak Resti. Lho ‘kan memang sudah lama sekali kita nggak ketemu, Mbak.”

“Betul juga ya, ada sekitar 5 tahun saya pergi dari kampung ini,” jelas perempuan itu. Dia menatap benda panjang yang berada di tangan tuan rumah. “Kok, bawa-bawa senapan. Apa mau menembak saya?”

“Eeh, nggak, Mbak. Tadi, anu, saya lagi mengejar tikus. Soalnya banyak banget tikus di sini.

“Oh, gitu.”

“Ayo masuk, Mbak Resti, jangan berdiri di situ terus!”

Perempuan yang dipanggil Mbak Resti itu masuk dengan kantong plastik berisi susu bayi di tangannya. Dia mengikuti tuan rumah ke ruang tengah di mana sang bayi masih terlihat meronta-ronta di atas sofa sambil menangis.

“Kasihan ya kayaknya dia lapar,” ujar perempuan itu.

“Iya, Mbak, makanya saya senang sekali kakek nitipin susu ini. Ngomong-ngomong dulu Mbak Resti merantau ke… ee… ke mana itu, saya lupa?” Pria itu bertanya sambil meraih kotak susu bayi dan langsung membuka segelnya.

“Ah cuma ke Kalimantan, ikut suami tugas di Pontianak. Dan sekarang kontrak kerjanya sudah habis. Jadi saya pulang kampung.”

“Jadi suami Mbak Resti kerja di mana sekarang?”

“Dia buka toko kecil-kecilan. Itu yang di seberang kantor pos.”

“Tapi kok bisa ketemu kakek saya, bagaimana ceritanya?”

“Ya di toko itu. Dia beli susu ini dan nitip ke saya untuk diantarkan, karena dia ada urusan dulu, katanya.” Mbak Resti menjelaskan.

Si pria manggung-manggut, tangannya merobek kemasan susu dan mulai menuangkannya ke dalam gelas di atas meja.

“Sebentar ya Mbak, saya mau ambil air panas dulu,” ucapnya seraya berjalan ke arah dapur. “Ngomong-ngomong Mbak Resti mau minum apa?” Dia bertanya dari dapur. Tidak ada jawaban. Hanya suara tangis bayi yang terdengar lebih nyaring.

Usai menuangkan air panas ke dalam gelas dan mengaduknya, pria itu kembali ke ruang tengah. Tapi sekarang sepi. Perempuan itu sudah tidak ada di tempat. “Mbak, Mbak Resti.” Dia memanggil-manggil. Karena tidak ada sahutan, dia melangkah ke luar. Pintu yang sejak tadi tidak ditutup itu mengembuskan udara dingin dari luar.

Pria itu kembali memanggil-manggil Mbak Restu. Tapi tetap tidak ada jawaban. Dicarinya perempuan itu di setiap sudut teras dan halaman. Tetap tidak ditemukan. Bulu kuduknya berdiri. Dia melangkah ke dalam untuk mengambil senapan. Betapa kagetnya dia, sebab si bayi pun sudah tidak ada lagi di tempatnya.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (VIII)

 Laura & Burung Hantu (VI)  <-  Cerita sebelumnya

 

By Ahmad Gaus

Sebutir debu di ujung sepatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s