Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (VIII)

– 14 –

Percakapan dengan Penjaga Rumah

 

Laura masih berdiri mematung di depan gerbang rumah Ardi sampai pemuda itu menghilang di balik pintu. Dia mengingat lagi Ardi yang lain, yang tinggal bersama si kakek di rumah tua, yang menolongnya meminjamkan pakaian dan sampai sekarang masih dikenakannya. Kalau keduanya orang yang sama tidak mungkin Ardi yang tinggal di rumah ini tidak bicara sedikit pun tentang peristiwa di telaga. Juga tentang baju dan celana yang dikenakan Laura. Tapi kenapa keduanya memiliki suara yang sama-sama parau. Rupanya kegelisahan Laura itu diperhatikan oleh penjaga rumah yang sejak tadi bersamanya.

“Kok melamun, Dik.”

“Oh nggak, Pak, eehh.. saya mau nanya. Bapak tahu nggak Ardi yang tinggal di rumah tua di sana.” Laura menunjuk ke satu arah yang tadi dilewatinya.

“Wah enggak tahu, Dik, saya nggak pernah ke mana-mana. Paling jauh ke pasar untuk belanja, dan enggak pernah lewat jalan itu juga. Memangnya kenapa, Dik?”

Laura menjelaskan peristiwa yang baru dialaminya di telaga, di rumah Ardi yang ditinggali oleh seorang kakek, hingga dia sampai ke rumah Ardi di sini. Penjaga rumah itu mendengarkan cerita Laura dengan raut muka serius. Namun alih-alih menyambung cerita Laura, dia malah menanyakan yang lain.

“Kalau sama Ardi yang ini ketemunya di mana, Dik?”

“Dia teman sekolah saya dulu waktu di SMP, Pak.”

“Oh teman sekolah. Ada juga teman-teman sekolah Ardi yang suka ke sini dua orang, laki-laki dan perempuan. Namanya Jodi kalau tidak salah. Kalau yang perempuan saya lupa namanya.” Penjaga rumah itu berkisah. Laura tidak bisa menutupi keterkejutannya mendengar nama Jodi disebut. Dia lalu menanyakan ciri-ciri perempuan yang datang bersama Jodi itu. Si penjaga rumah menjelaskan ciri-ciri fisik orang yang dimaksud, dari mulai tinggi badan, warna kulit, sampai panjang rambut, dengan sangat detil, hingga spontan Laura berkata, “Lauren.” Dan disambut cepat oleh penjaga rumah. “Betul, sekarang saya ingat namanya, Lauren.”

SHOOTING STAR

Laura merasa mulai melihat titik terang dari hubungan misterius antara Jodi dan Lauren. Selama ini dia hanya menduga-duga. “Ternyata Jodi selingkuh, dan Lauren menusukku dari belakang,” begitu pikir Laura. “Diam-diam ternyata mereka sering pergi bersama. Tapi mengapa mereka datang ke rumah Ardi, padahal Ardi yang menyukai Lauren sejak dulu. Hanya saja Lauren selalu mengabaikannya. Dia malah sangat agresif mendekati Jodi, sementara dia tahu Jodi tengah menjalin hubungan dengan aku, saudara sepupunya sendiri. Apa dia tidak malu.” Pikiran-pikiran itu berlintasan di kepala Laura. Antara marah, kesal, benci, dan cemburu, campur baur jadi satu. Pantas saja, pikirnya, Jodi tidak datang di pesta ulang tahun yang direncanakannya. Mungkin dia sedang merayakannya dengan Lauren.

“Pak, kalau boleh tahu, pacarnya Ardi siapa ya?” Entah kenapa tiba-tiba saja Laura mengajukan pertanyaan semacam itu.

“Ada sih, tapi saya kurang tahu yang mana, soalnya kadang yang datang ke sini beda-beda orangnya,” dengan polos penjaga rumah itu menjawab.

“Bukannya Lauren, Pak?”

“Lho, Lauren yang suka datang ke sini sama Jodi. Bukannya mereka itu berpacaran?”

“Dari mana bapak tahu mereka berpacaran?” Laura penasaran.

“Ya ‘kan kelihatan, dik. Beda kalau orang lagi sama-sama jatuh cinta.”

“Beda apanya?”

“Beda perilakunya.”

“Memang perilaku mereka bagaimana?”

“Bergandengan. Berpelukan. Apalagi kalau ditinggal sama Ardi keluar, pintu kamar mereka kunci, kita tidak tahu apa yang terjadi.”

One Shots ➳ Harry Potter. - Types: Cómo os besáis. - Wattpad

“Serius, Pak, mereka begitu?”

“Ah, enggak, saya cuma becanda, hehehee…”

Wajah Laura tampak kesal dengan jawaban itu. Dia sedang serius menyelidiki hubungan Jodi dan Lauren. Juga tentang pacar Ardi. Tapi si penjaga rumah itu malah bercanda. Namun diam-diam jauh di dalam hatinya dia bersyukur kalau itu tidak benar. Hanya saja Laura masih penasaran tentang teman-teman wanita Ardi yang sering datang ke sini, siapa mereka, dan siapa yang menjadi pacar Ardi.

Tapi kali ini Laura tidak berminat lagi menanyakan itu kepada si penjaga rumah. Dia ingin segera pulang, menemui Lauren untuk minta klarifikasi tentang semua yang baru saja diketahuinya dari penjaga rumah itu. Bagus kalau Jodi juga ada bersama Lauren sehingga dia bisa menyelesaikan semua urusan yang mengganjal di hatinya selama ini. Sementara itu Si Boy yang sejak tadi hanya diam kini mulai mengeong, dan mengeong lagi beberapa kali.

“Ya sudah deh, Pak, saya mau pamit. Tapi ngomong-ngomong kucing ini boleh ‘kan saya bawa ke rumah?” Tanya Laura. Dia mencari-cari kucing kurus yang tadi diberinya makanan. “Lho, ke mana ya, kucing itu?” Si penjaga pun mencari kucing itu, yang ternyata memang sudah tidak ada di tempatnya semula.

“Ke mana ya, Pak, kok bisa secepat itu dia menghilang?” Tanya Laura lagi.

“Ya bisa saja, mungkin kucing jadi-jadian.” Jawab si penjaga rumah.

“Kucing jadi-jadian bagaimana, Pak, saya nggak ngerti.”

“Maksudnya, mungkin saja dia itu bukan kucing betulan, ya bisa jin atau malaikat yang menyerupai bentuk kucing karena ada misi khusus.”

“Kok, ada misi khusus segala. Saya engga ngerti, Pak.”

“Misalnya tadi Dik Laura ‘kan lagi jalan terus lihat kucing kurus, terus dikasih makan, kalau orang lain ‘kan belum tentu. Nah, kucing itu sedang menguji, dan kamu lulus.”

“Bapak ngomong apa sih, saya jadi takut nih mau pulang. Takut ada apa-apa lagi.”

“Kamu nggak perlu takut. Orang baik seperti kamu, yang suka menolong sesama, menolong makhluk Allah, akan selalu ada yang melindungi. Walaupun kamu tidak melihatnya.”

Aaaa

“Sudahlah, Pak, jangan diterusin. Saya nggak ngerti juga. Sekarang saya mau pamit, ya.”

Setelah mengucapkan itu Laura langsung pergi diiringi Si Boy, tanpa menunggu jawaban dari orang itu. Dia hanya ingin segera bertemu dengan Jodi dan Lauren.

***

Beberapa saat kemudian dari balik pintu rumah itu, Ardi keluar dan bertanya kepada mamanya yang masih berdiri di teras.

“Kok mama nggak masuk. Ditanyain sama papa tuh,” ujar Ardi.

“Mama lagi perhatikan perempuan yang tadi ada di situ. Itu teman kamu?”

“Iya itu Laura, teman SMP dulu. Ke mana dia sekarang?”

“Itu yang mama lagi cari tahu. Tadi kelihatannya dia ngobrol sama orang. Mama kira itu teman kamu juga.”

“Ngobrol sama orang, siapa ya? Tadi waktu saya datang dia sendirian saja kok. Katanya habis dari kampung atas.” Ardi menunjuk ke kampung yang terletak di daerah yang tinggi. “Tadinya saya mau antar dia pulang, tapi kan Papa perlu Ardi.”

Penasaran, akhirnya Ardi melangkah ke depan gerbang rumahnya. Semua sudut dilihat. Tidak ada yang luput dari pengamatannya. Tapi suasana sepi. Tidak ada siapa pun di sana. []

 

Lanjut membaca –>  Laura & Burung Hantu (IX)

  Laura & Burung Hantu (VII)  <– Cerita sebelumnya

 

By Ahmad Gaus

Sebutir debu di ujung sepatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s