Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (IX)

15

Peristiwa-Peristiwa Itu

Rintik gerimis memaksa Laura untuk mempercepat langkahnya. Ketika angin berembus kencang dan melipatgandakan volume butiran hujan, ia menggendong dan mendekap Si Boy sambil berbungkuk untuk melindungi kucing kesayangannya itu dari terpaan air hujan. Namun saat gerimis menipis Si Boy meronta-ronta. Laura mengerti. Ia pun menurunkannya untuk berjalan sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang Laura masih memikirkan cerita penjaga rumah Ardi tentang Jodi dan Lauren. Walaupun penjaga rumah itu sempat bilang hanya bercanda, ia menangkap ada kebenaran dalam cerita itu. Kalau tidak, mana mungkin dia menyimpulkan bahwa Jodi dan Lauren berpacaran. Hati Laura semakin panas membayangkan kemesraan mereka di rumah Ardi. Dia merasa dibelakangi. Perlahan-lahan mulai terkuak hubungan mereka yang sebenarnya, yang selama ini ditutup-tutupi dengan berbagai sandiwara. Laura mulai menghubungkan beberapa kejadian yang disaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

***

Hari itu, beberapa bulan yang lalu, Laura menjenguk Jodi yang sedang dirawat di rumah sakit karena demam yang berlanjut. Dia kaget karena Lauren ternyata sudah ada di sana. Dan saat itu mereka berdua saja. Laura lebih kaget lagi karena saat dia membuka pintu kamar rawat inap, Lauren sedang menyuapkan bubur ke mulut Jodi yang terbaring lemah dengan mata setengah terpejam. Berbeda dengan Laura yang tampak emosi, Lauren terlihat santai.

Pamer Foto Genggaman Tangan Bareng Fakhrul Razi, Rina Nose Bikin ...

“Tante Vivien meminta aku menemani Jodi karena dia harus pulang cepat ada urusan penting. Tadi dia di sini.” Begitu alasan Lauren saat itu. Tante Vivien adalah bude dan sekaligus ibu angkat Jodi yang merawatnya sejak bayi. Pernikahan Tante Vivien dengan Om Arvin yang kini sudah berjalan 22 tahun belum dianugerahi anak kandung. Dia dan Om Arvin merawat dan membesarkan Jodi karena ibunya meninggal dunia saat melahirkan anak itu.

Laura menurunkan tensi emosinya. Dia tidak ingin memperburuk keadaan Jodi. Hanya dia sempat komplen, “Kok kamu nggak bilang-bilang sama aku?”

Lauren menjelaskan bahwa dia kebetulan lewat di RS itu sepulang dari rumah temannya. Laura memahami, dan masalah itu dianggap selesai. Namun ada satu peristiwa lain yang sekarang mulai jelas bagi Laura bahwa Lauren memang sengaja ingin menjauhkan dirinya dari Jodi.

Peristiwanya baru terjadi sebulan yang lalu. Lagi-lagi berawal dari Jodi yang sedang sakit demam. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Laura bahwa pria itu seakan tidak mempan dengan penyakit lain kecuali demam. Dan demamnya selalu tanpa sebab. Bolak-balik ke dokter. Berganti-ganti obat. Tapi selalu tidak ada obat yang cocok. Sampai akhirnya sembuh sendiri.

Saat sembuh itulah Lauren selalu mengesankan dirinya seolah dialah “dokternya” Jodi karena setelah minum “obat” dari Lauren, Jodi sembuh. Tidak heran kalau Tante Vivien sangat percaya pada Lauren dan selalu memuji-muji Lauren di hadapannya. Laura merasa itu sebagai sindiran halus bahwa Tante Vivien lebih menyukai Lauren daripada dirinya. Padahal, obat yang dimaksud Lauren itu hanya air putih yang entah diberi mantra apa sebab mulutnya selalu komat-kamit  sebelum memberikan air itu untuk diminum Jodi. Sekarang Laura mencurigai air itu mungkin semacam air pengasihan agar hati Jodi berpaling dari dirinya.

Close-up hand holding water glass | Free Photo

Sikap Tante Vivien yang berubah lebih menyayangi Lauren juga mungkin karena ia meminum air pengasihan dari Lauren yang tidak disadarinya. Begitu pikir Laura.

Namun saat itu Laura belum menaruh curiga terlalu jauh. Ketika Laura menjenguk Jodi di rumahnya, dan Lauren sudah lebih dulu ada di sana, dia masih menganggap hal itu kesalahannya sendiri karena terlambat datang. Bahkan sejujurnya dia bersyukur ada Lauren di sana karena kondisi Jodi waktu itu agak mencemaskan. Demamnya tinggi dan mulai kejang. Sementara mamanya sedang tidak ada di rumah.

Laura panik. Tapi Lauren terlihat biasa saja.

“Laura, tolong kamu cari kelapa ijo. Sekarang Jodi butuh itu untuk menurunkan panasnya,” ucap Lauren waktu itu.

“Aku cari sendirian? Malam-malam begini di mana ada orang jual kelapa ijo? Apa nggak menunggu Tante Vivien saja, siapa tahu mau dibawa ke rumah sakit?”

“Aku sudah hubungi Tante Vivien. Dia masih di Sentul. Satu jam lagi baru sampai. Lagi pula dia percaya sama aku. Dia bilang nggak usah dibawa ke rumah sakit. Sudahlah, kamu cari kelapa ijo saja, ya.”

Laura menarik napas panjang. Dia kesal dengan ucapan Lauren yang bernada perintah itu. Tapi dia merasa tidak punya pilihan. Bagaimanapun Jodi lebih penting daripada rasa kesalnya terhadap Lauren. Akhirnya Laura ke luar untuk mencari kelapa ijo, walaupun dia sendiri belum tahu ke mana harus pergi. Dia terus menyusuri pinggiran jalan yang ramai. Tiba-tiba dia teringat Acul, temannya yang dikenal anak pasar karena selalu membantu orang tuanya berdagang sayuran di pasar. Dia bermaksud menghubunginya untuk membantu mencari kelapa ijo. Namun saat merogoh kantong celananya, ponselnya tidak ditemukan. Dia baru sadar ponselnya tertinggal di atas meja kamar Jodi. Tanpa berpikir panjang dia berbalik arah dan kembali ke rumah Jodi.

Sesampainya di sana dia tercengang melihat apa yang terjadi. Lauren sedang mengucapkan kalimat-kalimat yang dia tidak mengerti, seperti mantra, lalu diusapkan ke tubuh Jodi. Tiba-tiba Lauren menarik kedua tangan Jodi sambil berucap, “Bangunlah, bangun Jaka Tarubku! Lihatlah aku, pandangi aku, bidadarimu, putri dari kahyangan.”

Berulang-ulang Lauren mengucapkan itu, sampai akhirnya Laura tidak tahan lagi dan masuk ke dalam kamar Jodi. “Apa yang kamu lakukan, Lauren?” Tanyanya.

Seperti biasanya, Lauren tampak tenang. Melihat Laura tegang, dia malah tersenyum. “Ini bagian dari terapi,” ujarnya singkat. “HP-mu tertinggal ya? Tadi aku mau panggil kamu tapi aku lihat kamu sudah jauh. Ya sudahlah, kamu tidak usah cari kelapa ijo lagi. Sebentar lagi Jodi sembuh, kok.”

Laura tidak tahu harus marah atau berterima kasih. Dia tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan Lauren saat menarik tangan Jodi. Tapi dia juga senang melihat Jodi yang mulai membaik.

***

Laura terus berjalan diiringi Si Boy. Sesekali dia menepi dan berteduh di bawah pohon bila gerimis diterpa angin. Di saat seperti itu lagi-lagi Si Boy digendong dan didekapnya untuk menghindari air hujan. Namun pikirannya tetap saja bergemuruh mengingat setiap perilaku Lauren terhadap Jodi.

Satu lagi peristiwa yang kini ditafsirkan oleh Laura sebagai “sandiwara” Lauren yang sangat norak. Suatu malam Lauren mengabarkan dirinya sakit dan minta Jodi menemuinya. Padahal saat itu Jodi sedang bersamanya makan malam di kafe tenda pinggir jalan. Yang membuat Laura kesal, Jodi menuruti saja permintaan Lauren hingga rela merusak kebersamaan malam itu.

Ini 4 Cara Duduk Cewek Saat Dibonceng Naik Motor & Kepribadiannya ...

Laura memaksa ingin ikut ke rumah Lauren, tapi Jodi malah mengantarkannya pulang ke rumah, tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Padahal sepanjang jalan di atas sepeda motor itu Laura tak henti-hentinya mengomel. Satu-satunya kalimat yang terucap dari mulut Jodi saat menurunkannya di depan rumah adalah, “Kamu harus percaya sama aku. Nggak usah terlalu baper.”

‘Ya aku percaya. Tapi kamu jangan lama-lama di sana. Aku tunggu di sini. Awas saja kalau nggak balik lagi.” Laura berkata setengah mengancam.

Tapi yang dikhawatirkan Laura justru terjadi. Jodi tidak kembali lagi. Bahkan HP-nya tidak bisa dihubungi, begitu juga Lauren. Lagi-lagi Laura masih mencoba berpikir positif. Karena dia masih ingat kata-kata Jodi: “Kamu harus percaya sama aku.”

***

Sekarang, setelah tahu bahwa Jodi dan Lauren sering bertemu diam-diam di rumah Ardi, Laura jadi kehilangan pikiran positifnya. Dia terus berjalan dengan emosi yang tak tertahan untuk segera bertemu dengan Jodi dan Lauren, dan ingin menumpahkan semua kekesalannya. Karena pikiran yang dipenuhi amarah itu dia tidak mendengar Si Boy mengeong berkali-kali dengan keras, sampai akhirnya mereka terjebak di jalan buntu.

“Kok kita ke sini, Boy. Di depan itu apa?” Laura mengamati pemandangan yang terhampar di depan matanya: sebuah telaga.

te

“Astaga. Kita tersesat, Boy,” ucapnya kaget. Tapi belum sempat berpikir apa yang harus dilakukan, sebuah tawa berderai di belakangnya. Laura menengok, tapi bersamaan dengan itu ia merasa tubuhnya didorong keras sekali dari belakang oleh seseorang yang tidak sempat dia perhatikan sosoknya. Tubuh Laura terjerembab ke dalam telaga.

 

Lanjut membaca –> Laura & Burung Hantu (X)

 Laura & Burung Hantu (VIII)  <– Cerita sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s