Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (X)

– 16 –

Cerita Tante Verlyn

Suara Si Boy yang mengeong dengan keras beberapa kali membangunkan Laura dari pingsan. Sekujur tubuhnya terasa lemas, tapi dia mencoba untuk bangkit dengan berpegangan pada pintu pagar rumah.

Viral Video Jemput Paksa Pejabat Positif Covid-19 di Kawarang ...

“Siapa yang membawa kita ke sini, Boy.” Laura bertanya pada kucing kesayangannya yang ternyata masih tetap bersama dia. Si Boy menjawab dengan mengeong keras.

“Kamu nggak apa-apa ‘kan?” Laura memeriksa tubuh Si Boy.

Sekonyong-konyong dari arah dalam halaman rumah itu terdengar suara, “Siapa itu?”

Laura sadar bicaranya pada Si Boy terlalu keras hingga terdengar oleh penghuni rumah. Kini dia mulai mengamati sekeliling. Di mana dia berada? Pertanyaan yang langsung terjawab sendiri ketika penghuni rumah itu keluar menghampirinya.

“Laura?”

“Ehh, Tante Verlyn. Maaf jadi mengganggu.”

“Oh nggak apa-apa. Kenapa di luar saja, ayo masuk. Kamu mau ketemu Lauren?” Tanya perempuan setengah baya yang tidak lain adalah ibunya Lauren. “Ayo sini, masuk dulu. Lauren lagi keluar,” sambungnya lagi.

Dengan badan yang masih lemas Laura melangkah mengikuti Tante Verlyn ke ruang tamu rumah yang cukup besar itu.

“Lauren ke mana Tante?”

“Tadi sih bilangnya ke luar, tapi tante nggak tahu ke luarnya ke mana. Soalnya tante juga lagi tidur. Dia bilangnya di WA.”

“Oh begitu, Tante.”

“Iya. Tapi biasanya kalau nggak bilang ke mana, dia nggak akan lama perginya. Coba tante hubungi dulu ya.” Tante Verlyn mengambil ponselnya di atas meja.

“Oh, nggak usah Tante. Saya nggak lama kok. Ini sekarang mau pulang.”

“Ee sebentar. Tunggu dulu. Tante mau menanyakan sesuatu, boleh ‘kan?”

“Boleh dong, Tante.”

***

Tante Verlyn mengambil posisi duduk persis di depan Laura. Dia memperhatikan wajah keponakannya yang usianya sebaya dengan Lauren. Si Boy yang berselonjor di samping Laura pun tak luput disapanya. Di rumah itu tidak ada kucing karena Lauren kurang menyukai hewan itu. Herannya Lauren malah menyukai burung. Maka di rumahnya ada beberapa sangkar burung berisi macam-macam jenis dari murai, cucak ijo, kepodang, hingga burung hantu.  Lauren sendiri yang mengurus burung-burung itu. Terutama dia sangat perhatian pada burung hantu. Ketika ayahnya mengingatkan Lauren bahwa burung hantu sebaiknya tidak dipelihara, Lauren marah. Akhirnya ayahnya mengalah.

Tante Verlyn memanggil pembantu rumah tangga dan memintanya membawakan minuman untuk Laura yang hanya meminta air putih hangat karena tubuhnya mulai merasakan dingin dari pakaiannya yang terkena percikan gerimis.

“Tante mau tanya soal Lauren, apa kamu merasakan ada yang berubah dari perilaku Lauren akhir-akhir ini?”

“Berubah bagaimana ya, Tante, saya nggak mengerti.”

“Jadi kamu nggak merasa Lauren sekarang beda dengan Lauren dulu.”

“Yang saya tahu Lauren sekarang agak misterius, Tante. Dia suka bicara yang saya nggak ngerti. Kayak menghapal mantra-mantra gitu. Terus dia suka bicara seperti meramal. Maaf kalau saya salah, Tante.”

6 Zodiak Ini Paling Sering Ketiban Sial, Mudah-mudahan Anda Tak ...

“Nah, itu. Maksud Tante, kamu tahu nggak Lauren suka berhubungan dengan siapa? Tante menduga itu sudah agak lama. Karena Tante perhatikan dari sejak dia kelas 10 perubahan itu sudah terlihat.”

“Kalau berhubungan dengan siapa, persisnya saya nggak tahu sih, Tante,  tapi dia berteman baik dengan Jodi.” Kata-kata Laura terhenti ketika dia menyebut Jodi. Dia khawatir tantenya mempunyai pikiran negatif tentang Jodi. Tapi ternyata tidak.

“Kalau Jodi sih tante tahu. Itu pacarmu, ‘kan? Dia ‘kan suka ke sini juga. Jodi itu anak baik. Kamu beruntung punya pacar seperti Jodi. Orang seperti itu tipe pria yang setia. Dari sosoknya kelihatan dia orang yang tegar, dan punya prinsip.”

Wajah Laura tersipu mendengar kekasihnya dipuji oleh Tante Verlyn, tapi di hatinya juga ada rasa tidak senang mendengar bahwa Jodi suka datang ke rumah ini. Dia ingin sekali menanyakan untuk keperluan apa Jodi datang ke sini dan seberapa sering. Tapi dia gagap untuk mengatakan itu. Mulutnya seakan terkunci rapat.

Sementara itu Tante Verlyn tidak memperhatikan perubahan pada raut muka Laura. Dia melanjutkan ceritanya tentang perilaku Lauren yang menurutnya berbeda dari biasanya. Kepada Laura dia mengisahkan bahwa neneknya, yakni mbahnya Lauren, adalah “orang pintar”. Dia dikenal pandai menyembuhkan orang sakit, terutama penyakit non-fisik seperti terkena guna-guna, santet, dan sejenisnya. Menurut cerita nenek Lauren, si Mbah itu memiliki perilaku yang berbeda dengan orang kebanyakan. Misalnya, pada malam-malam tertentu dia sama sekali tidak mau keluar kamar dan tidak mau diganggu. Dari kamarnya tercium semerbak wewangian yang agak aneh untuk penciuman orang biasa. Dia juga punya kebiasaan berpuasa berhari-hari.  Dan konon katanya, dia juga memelihara burung hantu.

Sampai di situ, Tante Verlyn menghela napas. Lalu ia melanjutkan lagi. Kali ini tentang kebiasaan Lauren yang mulai mirip dengan apa yang dilakukan oleh mbahnya, seperti suka mengurung diri di kamar, merapalkan mantra-mantra, dan juga memelihara burung hantu.

“Tante takut Lauren mewarisi ilmu mbahnya,” ujar tante Verlyn. “Sebab kata orang, ilmu orang-orang tua kita dulu bisa diwariskan kepada salah satu keturunannya secara tidak disadari oleh keturunannya itu sendiri. Jadi mereka terima begitu saja tanpa bisa menolak.”

“Tapi sejauh ini nggak berbahaya ‘kan, Tante? Maksud saya, tindakannya nggak membahayakan diri sendiri dan orang lain.”

 “Membahayakan sih nggak, cuma tante takut saja karena maunya tante dia hidup normal-normal saja seperti gadis-gadis yang lain. Akhir-akhir ini perilakunya lebih aneh lagi. Dia selalu menanyakan cincinnya yang katanya hilang. Cincin itu dia dapat dari seorang temannya, tapi tante tidak tahu siapa temannya itu. Cuma tante memang sempat mencoba memakai cincin itu, tapi kok aneh ya buat tante cincin itu terlalu berat untuk dipakai di jari tante, kayak besi baja,” ujar tante Verlyn.

“Saya juga pernah melihat Lauren memakai cincin itu, Tante, tapi terakhir ketemu dia sudah tidak dipakai lagi. Apa cincinnya yang hilang itu ya? Tapi menurut saya sih cincin itu biasa saja bentuknya, tidak ada yang aneh,” kisah Laura.

“Ya memang bentuknya biasa saja, tante juga nggak curiga apa-apa. Cuma berat saja.”

“Memang hilangnya di mana, Tante?”

“Di sekitar rumah ini! Lauren ‘kan biasa memandikan burung hantu piarannya pakai cincin itu, digosok-gosokkan ke badan burung itu, tante nggak mengerti apa maksudnya. Habis memandikan burung itu rupanya dia lupa cincin itu ditaruh di dekat sarangnya. Dia pergi ke luar sampai sore. Waktu pulang rupanya dia baru teringat, lalu dicarinya cincin itu di sarang burung, tapi sudah tidak ada. Tantelah yang jadi sasaran, dituduh menyembunykan cincin itu. Padahal buat apa tante menyimpan cincin itu, melihatnya saja tante nggak suka.” Tante Verlyn menjelaskan panjang lebar.

“Mungkin dia pikir tante membuang cincin itu karena nggak suka,” sela Laura.

“Mungkin juga. Tapi sekarang lain lagi ceritanya. Dia menyebut katanya kelompok Kelelawar Hitam yang mencuri cincin itu. Kamu tahu ‘kan geng Kelelawar Hitam, yang suka ada di kafe-kafe itu? Mereka itu ‘kan anak-anak baik. Mereka sangat bersahabat dengan siapa saja. Cuma namanya saja Kelelawar Hitam, jadi kedengaran seram. Lagi pula buat apa anak-anak itu mengambil cincin, ‘kan mereka anak laki-laki semua kalau tante tidak salah.”

Sekarang Laura mulai mengerti kenapa perilaku Lauren seperti yang selama ini disaksikannya sendiri. Tapi dia tidak berniat menceritakan beberapa peristiwa yang dia ketahui tentang Lauren kepada mamanya. Dalam percakapan itu Laura bersikap pasif dan memosisikan diri tidak mengetahui banyak tentang Lauren. Namun itu rupanya sudah cukup bagi Tante Verlyn karena, seperti diakuinya sendiri, selama ini dia tidak pernah bicara soal itu kepada siapa pun. Baru kali ini menceritakannya kepada Laura yang adalah keponakannya sendiri, sepupu Lauren. Walaupun tampak sedih, tapi dia berterima kasih kepada Laura karena mau menjadi teman curhatnya.

Suara bel berbunyi di pintu gerbang. “Nah, mungkin itu Lauren,” kata Tante Verlyn sambil berdiri. Laura ikut berdiri. Dia agak gelisah. Kalau benar itu Lauren, bagaimana dia harus bersikap. Karena sepanjang perjalanan tadi dia memendam amarah yang ingin segera ditumpahkan kepada Lauren. Tapi tidak mungkin dia memarahi Lauren di depan mamanya sendiri. Apalagi setelah mendengar cerita Tante Verlyn tentang masalah Lauren, dia memutuskan untuk menyimpan dulu kemarahannya. 

Ketika pintu gerbang dibuka, ternyata hanya seorang driver ojek online yang mengantarkan paket. “Lauren?” ucap si pengantar, yang dijawab ya oleh Tante Verlyn dan menerima paket itu. Pada saat bersamaan Laura berpamitan. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Salam untuk mamamu,” ujar Tante Verlyn.

***

Kini kembali Laura berada di jalan. Rintik gerimis dan embusan angin masih sesekali datang menerpa tubuhnya dan Si Boy. Namun mereka terus saja berjalan.

“Ayo Boy, sebentar lagi kita sampai,” katanya menyemangati kucing jantan itu. Saat hendak berbelok arah memasuki jalan perumahan, tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas dengan kecepatan sedang.

Video] Motor Lagi Ngebut di Jalan Perumahan, Tiba-tiba Ada Mobil ...

Laura yakin dengan penglihatannya. Lalu dia berteriak memanggil, “Jodi! Jodi!” Sayang sekali sepeda motor itu sudah cukup jauh dan melaju semakin kencang.

 

Lanjut membaca –> Laura & Burung Hantu (XI)

    Laura & Burung Hantu (IX) <– Cerita sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s