Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (XI)

– 17 –

Pesan dari Koh Ahong

Keributan di depan apotek itu dipicu oleh masalah sepele. Pasalnya, tadi sore, seorang tukang parkir terlibat adu mulut dengan seorang pria yang memarkir sepeda motornya di depan apotek. Saat didekati, pengendara itu mengeluarkan dua keping uang lima ratus rupiah. Rupanya tukang parkir itu tersinggung sehingga dia mengomel. “Parkir lama banget cuma ngasih segini,” katanya sambil melemparkan uang recehan itu ke jalan raya.

Kini si pengendara sepeda motor yang tersinggung dengan tindakan itu. “Ngomong apa tadi kamu?” Tanya si pengendara sambil mendekati tukang parkir dan menjambak kerah bajunya. Tidak senang diperlakukan begitu, tukang parkir mendorong pria itu hingga tersungkur.

Pengantar Vs Tukang Parkir Berkelahi Diareal Pelabuhan Laut Bima ...

Hanya sepersekian detik dia maju lagi sambil menyerang tukang parkir dengan tendangan, namun tukang parkir itu berkelit ke samping. Bahkan dia berhasil menyarangkan pukulan tangannya ke wajah si pengendara. Si pengendara terjengkang. Saat bersiap untuk membalas, orang-orang berdatangan melerai perkelahian itu. Si pengendara itu pun segera menaiki sepeda motornya sambil sesumbar, “Awas lu, tunggu pembalasan gua. Gua Kelelawar Hitam,” ujarnya sambil menarik pedal gas.

Mendengar kata “Kelelawar Hitam”, orang-orang yang ada di situ terperanjat. Tidak ada yang tidak mengenal “Kelelawar Hitam”. Tapi sepengetahuan mereka, kelompok ini terdiri dari anak-anak muda yang baik. Tidak pernah membuat keributan. Bahkan kalau ada kejadian tawuran atau keributan, anak-anak Kelelawar Hitam itulah yang melerai atau mengusir para preman yang sedang terlibat tawuran. Karena itu mereka merasa heran ada yang mengaku kelompok Kelelawar Hitam yang menebar ancaman. Jangan-jangan ada kelompok lain yang sengaja ingin merusak citra Kelelawar Hitam. Begitu pikiran mereka.

Pengendara sepeda motor yang mengaku dari geng Kelelawar Hitam itu sudah menghilang dari pandangan. Orang-orang yang berkerumun di situ tetap mengingatkan tukang parkir untuk berhati-hati karena ada kemungkinan dia sebenarnya bukan geng Kelelawar Hitam tapi dari kelompok lain yang memang senang membuat keributan.

***

Benar saja. Malam hari sekitar pukul 07.00, orang yang terlibat perkelahian itu kembali lagi mendatangi tempat keributan tadi sore. Namun kali ini dia datang membawa pasukannya sekitar 15 orang. Yang dicari ternyata tidak ada, karena sudah berganti giliran dengan tukang parkir yang lain. Akhirnya mereka menghajar tukang parkir yang sedang berjaga, yang tidak tahu apa-apa. Bukan hanya itu, beberapa orang dari mereka juga mulai melempari apotek dengan batu. Dua perempuan berjilbab, petugas apotek itu, menjerit ketakutan. Koh Ahong, pemilik apotek, mengambil pistol dari laci meja. Namun belum sempat bertindak lebih jauh, sepotong kayu menghantam tangannya sehingga pistol itu terpental. “Masuk, masuk, kunci pintunya dari dalam,” dia memerintah kedua pegawainya. Sementara dia masih berusaha mengambil pistol yang terlempar ke bawah lemari etalase.

Patroli Bermotor Siap Berantas Preman dan Tawuran | Go Depok

Di luar apotek, tukang parkir masih terus dipukuli oleh para penyerang. Beberapa orang yang ada di sekitar lokasi hanya menyaksikan kejadian tersebut. Tidak ada yang berani mendekat. Apalagi melerai. Khawatir menjadi target amukan. Sampai kemudian datang seorang pria tua berusaha melindungi tukang parkir dengan cara memeluk tubuhnya. Tak ayal lagi pukulan para penyerang kini menghujani tubuhnya tanpa ampun. Sementara sebagian yang lain mengalihkan perhatian ke apotek. “Serbu!” Kata salah satu di antara mereka.

Para penyerang itu mencoba merangsek ke dalam apotek dengan mendobrak pintu. Namun sebelum aksi itu dilakukan, sebuah suara menyela lantang: “Berhenti!” Aksi mereka terhenti. Seorang pemuda berdiri tegap dengan mata menyala menantang para penyerang. Mereka terkejut. Dan dari raut mukanya terlihat mereka sangat ketakutan hingga serempak menuju kendaraannya dan tanpa aba-aba langsung meninggalkan tempat secara berbarengan.

Tukang parkir dibopong ke depan apotek oleh orang-orang yang mulai berdatangan. Kemudian diberi obat cair yang digosokkan ke bagian-bagian tubuhnya yang lebam akibat dipukuli.

“Untung ada bapak ini yang menolong saya. Terima kasih, Pak. Bapak benar-benar pemberani. Harusnya tadi saya sudah mati.” Tukang parkir itu bicara kepada orang tua yang tadi mendekapnya. “Tapi bapak tidak apa-apa?” tanyanya.

Orang tua itu menunjukkan bajunya yang robek di bagian samping dan belakang. “Saya tidak apa-apa,” ujarnya. Lalu dia mendekati pemuda yang berhasil menghalau para penyerang hanya dengan memelototi mereka.

“Kamu hebat, Dik. Mereka kabur semua,” katanya kepada pemuda itu seraya mengulurkan tangannya. Si pemuda menyambut dan menjabat tangan orang tua itu dengan erat. Koh Ahong menghampiri mereka dan memperlihatkan tangannya yang terluka akibat lemparan kayu. Dia lupa bahwa tangan kirinya masih memegang pistol. Ketika diingatkan oleh pemuda itu dia buru-buru menyelipkan pistol ke pinggangnya.

Orang-orang yang berkerumun di tempat itu pun mendekati si pemuda dan satu persatu menyalaminya dengan rasa kagum. Pemuda itu menyambut jabatan tangan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Koh Ahong menceritakan kronologi kejadian dari kasus perkelahian tadi sore hingga penyerangan oleh sekelompok orang barusan. Tak urung Koh Ahong penasaran dengan identitas pemuda yang berani itu.

“Adik ini siapa? Kenapa orang-orang itu seperti ketakutan melihat kedatanganmu, apa mereka mengenalmu?”

“Tidak, Koh, saya tidak mengenal mereka dan mereka pun tidak mengenal saya. Saya juga tidak tahu kenapa mereka kabur begitu melihat saya.”

“Kenapa Adik ada di sini? Apa hanya kebetulan lewat saja?”

“Saya sengaja ke sini Koh, rumah saya jauh, 30 menit dari sini. Saya ke sini mencari obat untuk mama saya. Saya sudah cari obat ini di semua apotek di tempat saya, dan tidak ada yang menjualnya. Lalu ada yang menyarankan saya ke sini, katanya di apotek ini obat-obatan lengkap.” Pemuda ini menjelaskan seraya menunjukkan resep obat di tangannya kepada Koh Ahong. Koh Ahong memperhatikan tulisan di kertas resep tersebut. Kemudian dia mengajak pemuda itu masuk ke dalam apotek. Orang tua yang bersama mereka mengiringi dari belakang.

Koh Ahong mempersilakan pemuda itu duduk. “Mereka mengaku geng Kelelawar Hitam. Tapi kita semua tahu tidak mungkin mereka melakukan itu. Citra mereka sejauh ini adalah penolong masyarakat. Tidak mungkin mereka tiba-tiba menjadi jahat. Tidak ada cerita mereka mau menyerang orang atau merampok. Saya yakin itu pasti kelompok lain yang mau menjatuhkan nama baik Kelelawar Hitam. Dulu memang ada musuh mereka, namanya Kapak Hitam, ini kelompok yang jahat dan sering bikin ulah. Tapi mereka sudah hilang dihabisi oleh geng Kelelawar Hitam. Tidak tahu juga kalau mereka sekarang muncul lagi. Tapi ya sudahlah. Saya sudah menelepon polisi untuk menyelidiki kasus ini,” ujar Koh Ahong panjang lebar.

“Dugaan saya juga bukan dari Kelelawar Hitam. Saya sering mendengar mereka anak-anak baik,” kata pemuda itu menimpali.

“Ok, biar saja itu nanti diurus polisi,” tukas Koh Ahong lagi, seraya matanya memperhatikan resep obat di tangannya. Lalu ia menatap pemuda di depannya seakan mengamati.

“Resep ini atas nama Ibu Vivien Aleissa, apa ini nama mamamu?” Tanya Koh Ahong

“Betul, Koh, itu mama saya.”

“Kamu tinggal di Jalan Gunung Semeru?”

“Ya, benar, Koh. Tapi tidak ada alamat di resep itu, kok Ngkoh tahu?”

“Namamu juga saya tahu, Jodi ‘kan?”

“Betul, Koh. Dari mana Ngkoh tahu?” Pemuda itu terkejut, karena tidak ada namanya tertulis di resep obat itu, juga alamat rumahnya.

“Saya tahu semua. Tapi tidak akan saya ceritakan sekarang. Yang penting sekarang kamu pulang dulu dan bawa obatnya, kebetulan di sini lagi ada, karena mamamu sangat membutuhkannya.” Usai berkata begitu Koh Ahong bangkit dari kursinya dan mengambil obat. Tidak lama kemudian dia kembali lagi membawa obat seperti yang tertulis dalam resep.

Sehat dan untung dari toko obat herbal

“Ini obatnya, yang ini 3x sehari, yang ini cukup satu kali setelah sarapan pagi,” jelas Koh Ahong.

“Baik, Koh, berapa harga semuanya?”

“Kamu sudah membayarnya lebih dari cukup. Sebab kalau tidak ada kamu, mungkin apotek ini sudah hancur, dan saya akan masuk penjara karena membunuh orang.” Koh Ahong berkata begitu sambil memperlihatkan pistol di pinggangnya.

“Ah Ngkoh bisa saja, saya hanya kebetulan, Koh.”

‘Ya sudah. Salam untuk mamamu, dia pasti kenal Koh Ahong. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, dan kondisi mamamu sudah membaik, datanglah ke rumah, ajak mamamu. Ok?” Ujar Koh Ahong sambil menyerahkan obat dan kartu namanya.

Tanpa banyak cakap, pemuda yang dipanggil Jodi itu mengiyakan. Setelah itu dia pamit diikuti oleh orang tua yang tadi ikut bersamanya. Di luar apotek orang masih berkerumun seperti ingin tahu apa yang dibicarakan di dalam. Dengan terpaksa, karena tidak biasa, Jodi berbicara di hadapan mereka. “Sudah selesai. Koh Ahong sudah menghubungi polisi untuk menyelidiki peristiwa ini. Ayo sekarang kita bubar,” ujarnya. Seakan mendengar perintah dari komandan, kerumunan itu pun membubarkan diri dengan tertib, kecuali petugas parkir yang masih terduduk di depan toko dengan wajah dan tubuh lebam. Tidak lama kemudian Koh Ahong memanggil tukang parkir itu ke dalam.

***

 Jodi naik ke atas sepeda motormya. Sebelum bertolak dia masih terlibat percakapan dengan orang tua yang sejak tadi mengikutinya.

“Bapak pulang ke mana? Mau saya antar?”

“Tidak usah, Dik, rumah saya dekat kok, dari sini. Lagi pula kamu ‘kan harus segera pulang karena obatnya ditunggu sama mamamu.”

“Ya kalau dekat ‘kan engga makan waktu juga, ayolah,” desak Jodi.

Lagi-lagi orang tua itu mengelak, mengatakan bahwa ia masih harus membeli sesuatu untuk dibawa pulang.  Dia kemudian mendekati Jodi. Sambil memegang tangkai kaca spion sepeda motor yang dinaiki Jodi, orang tua itu berucap: “Dik, saya tahu kenapa tadi orang-orang itu kabur saat kamu datang?”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kamu sebetulnya pemimpin mereka.”

“Astaga. Bapak menuduh saya, mencurigai saya? Menurut Bapak peristiwa tadi itu setingan. Menurut Bapak, saya yang menggerakkan orang-orang itu, dan ketika saya datang mereka harus bubar. Seperti di film-film, begitu? Lantas apa untungnya buat saya?” Suara Jodi terdengar tinggi.

“Sabar dulu, Dik, maksud saya bukan begitu.”

“Terus maksud Bapak apa, dong? Bapak mau bilang bahwa saya berniat memeras si Ngkoh itu karena berhasil mengusir para penyerang tadi? Bapak lihat ‘kan, saya ke sini mau menebus obat buat ibu saya. Tidak ada tujuan lain.”

“Dengar dulu, jangan terbawa emosi.” Orang tua itu mencoba menenangkan.

          “Ya habisnya Bapak menuduh saya seperti itu.”

Orang tua itu lebih mendekat ke arah Jodi, kemudian dia berbicara seperti berbisik. Tapi rupanya pemuda itu tidak berhasil menangkap apa yang dikatakan karena terlalu pelan. Ditambah lagi suara berisik dari lalu-lintas dan bunyi klakson kendaraan.

Jodi menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya memberi isyarat agar kata-kata tadi diulang lagi, sehingga orang tua itu mendekatkan mulutnya ke telinga Jodi, hampir menempel, lalu dia kembali membisikkan sesuatu. Dan secara refleks Jodi tertawa terbahak-bahak, “Hahahaaa… Bapak bisa saja,” ucapnya.

“Nah, begitu dong, selama ini kamu nggak pernah ketawa ‘kan? Hidupmu terlalu serius. Dik. Orang-orang jadi takut sama kamu, termasuk pacarmu.”

“Lho, kok Bapak tahu pacar saya?”

“Ah,  nggak, saya asal nebak saja,” jawab orang tua itu sambil tertawa. “Gerombolan preman saja takut sama kamu, apalagi pacarmu,” sambungnya lagi

“Hahahaaa… Bapak nih becanda terus. Ok deh, Pak, saya pulang sekarang ya.” Jodi berpamitan.

“Ya sudah. Hati-hati ya, Dik. Nanti di jalan kamu akan dicegat sama orang-orang yang tadi, dan jumlah mereka lebih banyak. Mereka berpakaian hitam-hitam dan bertopeng.” 

“Bapak serius?”

“Ah, nggak, saya cuma becanda, hehehee.”

Jodi terlihat kesal dengan candaan orang tua itu, tapi gayanya yang akrab dan bersahabat membuat Jodi ikut terbawa rileks. Bahkan sindirannya bahwa dia jarang tertawa diam-diam diakuinya. Selama ini dia tidak peduli dengan urusan orang lain, malah cenderung menarik diri dari pergaulan. Tidak suka berteman akrab dengan siapapun, apalagi nongkrong dengan anak-anak sebayanya sambil main gitar di ujung gang. Hanya dua orang yang ia akrabi, yaitu Laura, pacarnya, dan Lauren, temannya yang dia anggap sangat mengerti keadaan dirinya.

“Bang!” Tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari belakang. Jodi menengok. Dua orang pria mendekatinya. Dari pakaiannya mereka adalah tukang parkir.

Bagaimana menurutmu tentang profesi tukang parkir? - Quora

Mungkin menggantikan tukang parkir yang luka-luka akibat serangan sekelompok orang tadi. “Itu uangnya jatuh,” sambung orang itu.

 

Jodi melihat ke bawah. Ada selembar uang di dekat ban belakang. Orang itu membantu mengambilkan uang tersebut dan memberikannya pada Jodi.

“Tanpa melihat uang itu Jodi berujar, “Ambil saja, Mas, buat beli kopi.”

 “Wah terima kasih, Bang,” sahut orang itu, tidak menutupi kegembiraannya.

Jodi segera menghidupkan mesin sepeda motornya. Setelah berpamitan kepada kedua tukang parkir itu, dia langsung tancap gas. Kedua tukang parkir itu saling bercakap.

“Kayaknya orang itu sakti, ya. Cuma melotot saja orang-orang pada takut. Padahal umurnya masih kelihatan sangat muda.”

“Tapi kok aneh ya, kamu perhatikan nggak dari tadi dia berbicara sendiri saja.”

“Iya aku juga heran. Dia kayak ngobrol sama seseorang yang nggak kelihatan.”

“Mungkin itu jin piarannya. Makanya orang-orang tadi kabur semua begitu dia datang.”

“Serem juga ya kalau betul begitu.”

“Serem bagaimana, orang dia itu penolong, kok”

“Betul juga, sih.”

“Eh, lihat!” tukang parkir yang bertopi coklat tiba-tiba menunjukkan selembar uang di tangannya.

“Itu uang yang tadi jatuh? Yang dari orang itu?”

“Iya, memangnya yang mana lagi?!”

“Lho, itu ‘kan bukan uang sekarang, tapi dari zaman kapan ya? Aku tambah yakin orang yang tadi itu bukan manusia.”

Belum usai percakapan mereka, suara sirine terdengar. Sebuah mobil polisi berhenti di depan apotek. Dua orang petugas polisi turun dan menghampiri kedua tukang parkir. Mereka berbincang sebentar, lalu tukang parkir itu mengantarkan polisi ke dalam apotek untuk bertemu dengan Koh Ahong.

 

Lanjut membaca: Laura & Burung Hantu (XII)

   Laura & Burung Hantu (X) <– Cerita sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s