Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (XIII)

– 19 –

Hubungan Angel dan Jodi

Angel memasuki kamarnya, mengambil ponsel dan membaca kembali chating terakhir dengan Jodi. “Jod, tolongin kakak, kalau memang benar kamu tahu cincin kakak ada di tangan siapa, segera beritahu. Nanti kakak traktir kamu makan.” Isi chating itu menggantung karena tidak ada balasan, padahal sudah berlalu dua minggu. Selama itu pula Jodi tidak pernah memberi kabar lagi. Terakhir mereka sempat membicarakan perihal hilangnya cincin Angel itu.

Secara refleks Angel menekan nomor ponsel Jodi untuk menghubunginya. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya dilemparkannya ponsel miliknya ke atas tempat tidur, dan dia merebahkan diri. Sambil memandangi langit-langit kamar, Angel mencoba mengingat-ingat sebuah nama yang pernah disebut oleh Jodi. “Lauren? Ya, Lauren.” Tapi dia tidak mengenal perempuan itu. Jodi hanya menceritakan sekilas tentang Lauren yang menurut Jodi kemungkinan memegang cincin miliknya. Tapi dari mana Lauren mendapatkan cincin itu, Jodi tidak menceritakan.

Angel sendiri mengenal Jodi secara tidak sengaja saat dia berada di tempat parkir di sebuah mal. Saat itu suasana sepi karena sudah malam. Tiba-tiba Angel didatangi tiga orang bertopeng yang berusaha merebut tasnya persis ketika dia meletakkan pantatnya di jok mobil. Karena dalam posisi tidak siap, dia tidak sempat melakukan perlawanan. Namun refleks dia berteriak, rampok, rampok. Tidak ada orang di situ, hingga para perampok itu leluasa melarikan diri.

Tas Dirampas, Pelaku juga Bacok Wisatawan Asal Spanyol ...

 

Di tempat yang tidak terlalu jauh dari situ, terdengar suara berisik. Dia penasaran dan mencoba mendekati asal suara tersebut. Kali ini dia sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk apabila diserang oleh para perampok. Dia berjalan dengan gerakan bela diri. Ternyata tiga perampok yang baru saja merebut tasnya itu sudah bersimpuh di hadapan seorang pemuda. Dan tas Angel dipegang tangan kiri pemuda itu. Ingin sekali Angel menghajar ketiga perampok itu karena kesal dan sekaligus memberi pelajaran. Tapi si pemuda mencegahnya. Dua dari tiga perampok itu terlihat meringis kesakitan. Mungkin pemuda itu sudah menghajarnya. Namun setelah itu dia malah membiarkan ketiga perampok itu pergi. Bahkan tanpa rasa penasaran untuk membuka topeng wajah dari ketiganya.

Itulah momen perkenalan Angel dengan pemuda yang memperkenalkan diri bernama Jodi itu. Angel merasa terkesan dengan momen perkenalan yang unik itu. Dan sejak itu, Angel sering berhubungan dengan Jodi. dia bahkan merasakan debar yang aneh apabila berada di dekat Jodi. Hanya saja dia berusaha untuk menahan diri karena usia Jodi cukup jauh di bawahnya, terpaut 5 tahun. Apalagi Jodi pun memanggilnya dengan sebutan “kakak”.

Persahabatan itu terus dipupuk walaupun mereka di tinggal di wilayah yang berbeda. Hanya sesekali mereka bertemu untuk makan bersama, selebihnya hanya berhubungan lewat chating Whatsapp. Karena merasa sudah akrab, Angel mengeluhkan cincinnya yang hilang kepada Jodi, dan apa konsekuensinya bagi hidup dia terutama untuk perusahaannya. Dia mengetahui Jodi memiliki kelebihan tertentu yang bersifat magis, karena itu dia berharap Jodi bisa membantunya mencari cincin itu dengan penglihatan mata batinnya. Sementara Jodi merasa dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa.

Kembali Angel mengetik chat WA di ponselnya:

“Jodi, tolong pertemukan kakak sama Lauren, dong.”

[Pesan masuk, tapi belum dibaca]

Hati-Hati 4 Perubahan Mengerikan Pada Tubuh ini Mengintaimu Jika ...

“Kalau nanti ketemu Lauren dan dia mengembalikan cincin itu, kakak akan kasih hadiah yang menarik untuk kamu dan Lauren.”

[Pesan masuk, tapi belum dibaca]

“Jodi, sebenarnya kamu sudah punya pacar apa belum, sih? Kok nggak pernah cerita?”

[Pesan masuk, tapi belum dibaca]

“Jodi, Lauren itu pacar kamu bukan?”

[Pesan masuk, tapi belum dibaca]

Angel lelah mengetik dan menatap layar ponselnya namun jawaban yang ditunggu dari Jodi tidak kunjung muncul. Bahkan dibaca pun belum. Di antara sadar dan tidak karena mata yang mengantuk, Angel menulis lagi:

“Jodi, kakak pernah hampir jatuh cinta sama kamu, lho. Tapi kakak pikir usia kita terpaut cukup jauh ya, 5 tahun, menurut kamu bagaimana? Apa bisa berpacaran dengan usia yang jauh?”

[Pesan masuk, tapi belum dibaca]

“Jodi, kalau benar Lauren itu pacar kamu, kakak akan bunuh dia.”

[Pesan masuk, tapi belum dibaca]

 

Turis Inggris Tewas demi Selamatkan Istri dan Anak dari Penyusup ...

Angel tertidur dengan ponsel masih menyala di tangannya. Seseorang masuk menyelinap ke dalam kamarnya melalui pintu yang tidak sempat ditutup rapat itu.

BERSAMBUNG ke bagian terakhir. Sabar ya 🙂

     Laura & Burung Hantu (XII) <– Cerita sebelumnya

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (XII)

– 18 –

Kelelawar Hitam

Perempuan itu berdiri di atas matras karet. Ia baru saja menyelesaikan latihan yoga. Usianya 24 tahun. Tubuhnya semampai seperti Mikha Tambayong. Bibirnya penuh berisi seperti bibir Ariel Tatum. Jari-jari tangannya panjang dan halus seperti jemari Baekhyun EXO. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya panjang sebahu, ikal dan hitam berkilau. Wajahnya oriental dan feminin. Tapi… jangan salah. Dia seorang pesilat. Dia sangat disegani oleh anak-anak buahnya yang rata-rata pria. Dia bernama Angel, nama panjangnya Angelica Rumatan. Anak-anak buahnya kerap memanggil dia Bidadari Hitam, karena senang memakai pakaian serba hitam. Dan lebih dari itu, dialah pemimpin geng Kelelawar Hitam yang sangat disegani.

√ 10 Gerakan Yoga untuk Mengecilkan Perut bagi Pemula (Efektif)

Angel adalah satu-satunya perempuan di rumah itu. Tapi mungkin lebih tepat disebut gudang daripada rumah, karena bentuk rumah hanya terlihat dari depan dan ruang tamu. Sedangkan dari ruang tamu sampai ke belakang berbentuk ruang persegi empat dengan panjang-lebar sekitar 10×20 Meter. Di situ terlihat tumpukan kain, alat-alat sablon dan konveksi, serta mesin-mesin jahit modern. Angelica adalah anak perempuan semata wayang dari pasangan suami-istri yang sudah meninggal karena kecelakaan mobil beberapa tahun silam. Dia menerima warisan rumah itu sendirian dan uang di bank ratusan juta rupiah.

Setelah lulus kuliah jurusan bisnis dan manajeman, Angel melanjutkan usaha konveksi orangtuanya. Karyawannya ada 15 orang, laki-laki dan perempuan. Tapi belakangan semua pegawai perempuan mengundurkan diri dengan alasan menikah, pulang kampung, pindah kerja ke pabrik, dan sebagainya. Satu-satunya pegawai perempuan yang tersisa adalah asisten pribadinya. Namun itu pun hanya bertahan selama 3 bulan. Setelah ditinggalkan oleh pegawai perempuan yang lain, dia pun berhenti. Lebih tepatnya dipecat karena dituduh mencuri cincin warisan orang tua Angel. Sebuah cincin yang konon tidak dijual di toko mana pun karena ibunya pun mewarisi itu dari neneknya. Di dalam mimpi, Angel didatangi oleh neneknya menanyakan cincin itu dengan nada penuh amarah. Mimpi itu sering sekali muncul sehingga Angel merasa sangat terganggu.

Sebelum hilang, Angel memperlakukan cincin itu biasa saja, karena dia tidak tahu hal ihwal dan kegunaannya, kecuali bahwa cincin itu diwarisi secara turun temurun dari neneknya. Itu saja. Bahkan dia juga jarang memakainya karena merasakan cincin itu terlalu “berat” untuk jari manisnya. Hanya kalau harus keluar rumah dia memakai cincin tersebut sebagai perhiasan. Namun sehari-harinya cincin itu lebih sering berada di dalam laci meja perhiasan di kamarnya.

Baru setelah hilang, dan neneknya sering datang dalam mimpinya menanyakan cincin tersebut, muncul rasa penasaran Angel pada cincin itu. Tapi semuanya sudah terlambat, karena sekarang cincin itu sudah tidak ada lagi di tangannya. Akibat mimpi-mimpi itulah dia mencecar asistennya untuk mengakui perbuatannya dan mengembalikan cincin miliknya, karena dialah satu-satunya orang yang diperbolehkan oleh Angel keluar-masuk kamarnya. Bahkan sering numpang tidur di sana. Namun si asisten itu tetap tidak mengakui. Akhirnya Angel memecatnya.

  Dalam salah satu mimpinya, sang nenek mengatakan bahwa selama cincin itu belum ditemukan, usaha konveksinya akan terus merugi. Dan memang itulah yang dialami oleh Angel akhir-akhir ini. Sebaliknya kalau cincin itu ada di tangannya, usaha apapun yang dilakukannya akan maju pesat. Itulah alasan kenapa kini Angel sangat menyesali kehilangan cincin itu, dan berjanji akan mencarinya sampai di mana pun.

***

Suatu hari ada dua orang pria melamar kerja sebagai tenaga konveksi. Angel langsung menerima keduanya karena memang sedang membutuhkan pegawai untuk produksi dan ekspansi usaha, tanpa mengecek latar belakang mereka. Ternyata, belakangan diketahui bahwa kedua pria itu mantan narapidana. Pada mulanya Angel berniat memecat keduanya karena khawatir dengan masa lalu mereka. Namun niat itu urung dilakukan lantaran ada suatu peristiwa yang membuatnya harus mempertahankan keduanya.

Peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu. Saat itu rumah-gudang Angel disatroni kawanan perampok bersenjata tajam. Kebetulan malam itu kedua pegawainya yang mantan narapidana tengah bekerja lembur untuk mengejar target produksi. Saat kawanan perampok itu masuk dengan mencongkel pintu depan, Angel masih terjaga. Dialah saat itu yang pertama kali disekap oleh perampok karena keluar dari kamarnya setelah mendengar suara-suara yang mencurigakan.

Polisi Buru Perampok Juragan Bagan dan Pembobol ATM

Dengan bekal ilmu bela diri yang dimilikinya, Angel berhasil menghajar salah satu perampok yang menyekapnya hingga terkapar. Ketika empat perampok yang lainnya bersiap menyerang Angel dengan senjata tajam, dari arah belakang muncul dua pegawainya yang langsung menghantam mereka dengan besi. Para perampok itu menggelepar.

Saat kedua pegawainya menghunus pisau untuk menghabisi nyawa para perampok, Angel menahannya. “Cukup, biarkan mereka pergi! Asal tahu saja bahwa mereka datang ke tempat yang salah,” tegas Angel.

“Jangan dulu keluar!” Salah seorang pegawai berusaha mencegah para perampok yang hendak keluar. “Kita cek dulu apa mereka sudah berhasil mengambil barang-barang di sini.”

“Kami belum mengambil apapun,” kata perampok yang masih tergeletak di bawah todongan pisau pegawai Angel.

Pegawai itu menginjak tangan si perampok hingga ia menjerit, “Ampun, ampun.”

Angel memerintahkan pegawai yang satu lagi untuk mengecek barang-barang di rumah itu. Televisi, laptop, mesin konveksi, 5 buah sepeda motor milik pegawai dan satu mobil sedan milik Angel, masih ada di tempatnya.  “Aman,” ujar si pegawai itu.

Masih dengan todongan pisau ketiganya menghalau kawanan perampok itu keluar rumah. Seorang pegawai mengancam, “Lain kali lihat-lihat dulu kalau mau merampok. Kalau nggak kasihan udah gua mampusin lu.”

Dengan penuh ketakutan para perampok itu hengkang dengan kendaraan mereka yang diparkir di halaman. Karena pertimbangan tertentu Angel tidak melaporkan kasus perampokan itu ke pihak berwajib.

Hutang budi itulah yang membuat Angel tetap mempertahankan kedua pegawai tersebut. Namun lebih dari itu, Angel terkesan dengan saran dari keduanya mengenai cara bagaimana menemukan cincinnya yang hilang, yang menyebabkan usaha konveksinya terus-menerus mengalami kerugian. Saran itu awalnya cukup janggal dan menggelikan. Namun karena kedua pegawainya meyakinkan Angel bahwa itu bisa dilakukan, akhirnya Angel setuju.

Sejak itulah kedua pegawainya setiap malam mempunyai tugas khusus mengunjungi kafe-kafe, mendekati setiap perempuan yang duduk di kafe dan memperhatikan jari-jari tangan mereka. Tidak sulit bagi mereka membedakan cincin yang dikenakan para perempuan dengan cincin yang sedang mereka cari karena Angel memberi tahu dengan detil ciri-ciri cincin tersebut. Namun sejauh itu mereka belum berhasil menemukan perempuan yang memakai cincin dengan ciri-ciri yang ditunjukkan oleh Angel.

Banyak Pilihan Suasana, Kafe Ini Cozy & Nyaman Kongkow Bareng ...

Perlahan tapi pasti, usaha konveksi yang dijalankan oleh Angel benar-benar kolaps. Tidak ada lagi pesanan, sehingga tidak ada produksi. Pegawainya yang berjumlah 15 orang terancam diberhentikan, karena Angel tidak sanggup lagi membayar mereka. Di saat seperti itulah kedua pegawainya yang mantan narapidana kembali mengajukan saran yang janggal, namun Angel lagi-lagi merasa terkesan. Para karyawan yang semuanya laki-laki diberi pelatihan olahraga keras oleh kedua mantan narapidana tersebut. Rupanya mereka dipersiapkan untuk menjadi “pasukan khusus”.

Sadar bahwa mereka akan menjadi pengangguran, akhirnya mereka memilih untuk bertahan hidup walaupun harus menjadi: trouble maker. Ya, di bawah bayang-bayang kesulitan hidup dan susahnya mencari pekerjaan, mereka sudah siap mencari uang dengan cara apa saja.

***

Mereka membagi pasukan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menamakan diri Kapak Hitam, terdiri dari tujuh orang, dan kelompok kedua diberi nama Kelelawar Hitam, terdiri dari delapan orang. Setiap kelompok dipecah menjadi dua sehingga masing-masing kelompok beranggotakan 3 dan 4 orang. Dan inilah tugas khusus mereka: Pada malam-malam tertentu pasukan Kelelawar Hitam mengunjungi kafe-kafe tempat anak-anak muda berkumpul untuk ngopi. Mereka memakai kaos bergambar kelelawar. Mereka ikut berbaur bersama para pengunjung kafe. Dan tidak lama berselang datanglah sekelompok pemuda untuk memeras para pengunjung sambil menakut-nakuti mereka dengan kapak hitam. Tak pelak lagi keributan terjadi. Ketakutan dan teriakan terdengar. Saat itulah para pemuda berkaos kelelawar hitam tadi mengusir para perusuh setelah memukuli mereka dan merampas kapaknya.

Setelah berhasil mengusir pasukan yang mereka sebut Kapak Hitam, mereka berkata kepada para pengunjung kafe bahwa mereka adalah Kelelawar Hitam – geng motor yang dibentuk dengan tujuan untuk memberantas pengedar narkoba, pemalak, dan preman. Para pengunjung terkagum-kagum.

Di tempat lain, dua kelompok itu melakukan aksi yang sama, dan selalu diakhiri dengan ending yang sama. Cara mereka beroperasi sangat rapi dan terkoordinasi seperti layaknya kelompok mafia profesional. Dari hari ke minggu, minggu ke bulan, begitu seterusnya mereka beroperasi hingga geng Kelelawar Hitam menjadi pembicaraan ramai di kalangan masyarakat, khususnya anak-anak muda, sebagai geng penyelamat.

Kafe Remang-remang Kerap Picu Keributan, Ini Respons Tegas Satpol PP..

Babak kedua dari drama itu adalah branding sebagai kelompok yang ditakuti oleh Kapak Hitam. Mereka tetap beroperasi di kafe-kafe tempat anak muda nongkrong. Setiap kali kelompok Kapak Hitam masuk ke dalam kafe dan mulai berteriak mengacungkan kapak, maka kelompok Kelelawar Hitam dengan seragam khasnya berdiri. Hanya dengan tindakan seperti itu kelompok Kapak Hitam langsung melarikan diri. Kesan yang terbentuk di benak para pengunjung adalah citra heroik kelompok Kelelawar Hitam. Seantero kota mengenal reputasi kelompok ini sebagai geng patriot yang baik hati.

Dan inilah drama babak ketiga yang mereka bawakan: Sekarang semua anggota geng mengenakan kaos bergambar kelelawar. Mereka berkunjung ke kafe-kafe setiap malam. Dan tidak ada lagi pasukan Kapak Hitam yang datang membuat kerusuhan. Berminggu-minggu mereka melakukan itu sehingga para pengunjung melupakan kelompok Kapak Hitam. Yang ada dalam pikiran mereka sekarang tinggal pasukan Kelelawar Hitam dengan reputasi yang sangat baik sebagai penjaga ketertiban, pengusir preman, dan pembekuk pengedar narkoba, sekalipun yang terakhir ini belum pernah mereka lakukan. Tapi sebagai retorika selalu mereka katakan hal itu untuk mendongkrak citra. Dan mereka berhasil.

Ujungnya adalah bisnis. Karena nama Kelelawar Hitam sudah begitu popular dengan kebaikannya, mereka bekerjasama dengan kafe-kafe menjual segala atribut bergambar kelewaran hitam dari mulai kaos, syal, masker untuk berkendara sepeda motor, hingga bendera kecil berbentuk segitiga untuk dipasang di kendaraan. Usaha konveksi Angel kembali berjalan karena kaos dan segala atribut itu diproduksi di perusahaannya. Bahkan usaha merela lebih produktif lagi setelah berhasil memasukkan kaos dan atribut-atribut itu ke toko-toko pakaian.

Angel berutang budi kepada para pegawainya yang kreatif, berani, sekaligus loyal pada dirinya. Dia sangat menyayangi mereka. Karena itu dia mengalami dilema yang sangat besar ketika menerima kabar bahwa salah satu pegawainya terlibat perkelahian di sebuah apotek dan membawa-bawa nama geng Kelelawar Hitam. Sebab nama itu telah memiliki citra yang sangat baik di masyarakat. Tapi yang sangat dia sesali adalah perkelahian itu melibatkan pasukannya tanpa sepengetahuan Angel.

“Maafkan kami, Kak, kami sangat menyesal karena terbawa emosi mendengar salah seorang teman kami dipukuli. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Begitu mereka menyampaikan alasan kepada Angel yang mereka panggil kakak. Angel dengan mudah memaafkan perilaku mereka. Namun dia penasaran dengan cerita tentang seorang pemuda yang membuat anak-anak buahnya melarikan diri terbirit-birit.

Dengan serius Angel mendengarkan penuturan mereka tentang ciri-ciri anak muda itu, dari mulai tinggi badan, kurus atau gemuk, model rambut, mata, hidung, dan sebagainya. Setelah informasi itu dirasa cukup, Angel mengambil kesimpulan dengan yakin dan berkata pada dirinya sendiri: ‘Jodi. tidak salah lagi. Sebab hanya dia laki-laki yang memiliki mata burung hantu. Dan saat marah, kekuatan magis terpancar dari tubuhnya sehingga membuat ciut nyali siapapun yang bermaksud jahat kepadanya. Itulah yang dialami oleh anak buah Angel. Tapi untuk apa dia ada di daerah ini?’

Angel tidak mengatakan itu kepada anak buahnya. “Ya sudah, sekarang kalian boleh bubar,” ujarnya. “Tapi tolong kalian pikirkan bagaimana cara memulihkan kembali citra Kelelawar Hitam di mata masyarakat. Sebab kalau tidak, usaha kita bisa bangkrut. Tidak ada lagi yang akan memesan barang-barang kita.”

 

Lanjut membaca Laura & Burung Hantu (XIII)

    Laura & Burung Hantu (XI)  <– Cerita sebelumnya