Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

Revolusi dalam Selimut [Puisi]

 

REVOLUSI DALAM SELIMUT

Orang hilang menempelkan poster dirinya di pusat keramaian. Pagi hari ketika penduduk sibuk membangunkan pasar yang tertidur di bawah jembatan layang. Seseorang melihatnya berlari mengenakan baju perang, lalu menyelinap ke dalam kamar.

Jendela masih asik bercakap-cakap dengan halaman. Berarti Tuhan sudah pergi pagi ini, pikirnya. Maka diambilnya pedang yang tergantung di dinding dan diselipkan ke dalam selimut. Ia pun tertidur sambil memeluk guling yang terbuat dari kulit perempuan.

Dalam mimpi di pagi hari itu ribuan orang mengeluk-elukkannya sebagai raja. Duduk manis di singgasana dan berkhutbah tentang azab Tuhan bagi siapa saja yang tertidur saat api revolusi dikobarkan. Kemudian ia membujuk orang-orang untuk memenggal kepala mereka dan menggantungkannya di pintu kota.

Waspadalah! Orang-orang saling menyapa dalam rupa manusia. Tapi di tubuh mereka tidak ada siapa-siapa, kecuali api yang ragu-ragu mau membakar kota atau dirinya.

 

16/5/2017

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

Cerita Natal Seorang Gadis Kecil

 

CERITA NATAL SEORANG GADIS KECIL

Aku berdiri di halaman gereja
Anak-anak bergaun palma
Menghias pohon Natal dengan lampu aneka warna
Bunga-bunga gladiola, langit merah saga.

Saat lonceng dibunyikan, mereka berlarian
Kemudian larut dalam doa yang dilantunkan
Damai dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kejauhan aku mendengar suara azan
Dibawa angin senja berteluk awan
Azan dan kidung Tuhan saling bersahutan
Menjalin nada, orkestra kehidupan.

Seorang gadis kecil menghampiriku

“Pakailah ini,” katanya menyodorkan topi santa

Aku terdiam. Lama. Kemudian dengan halus aku menolaknya
Ia nampak kecewa. Matanya berkaca-kaca
Aku membungkukkan badan dan berbisik ke telinganya

“Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi topi itu terlalu kecil buat kepalaku!”

Ia tersenyum mengerti

“Kalau begitu ambillah ini,” ujarnya menyodorkan replika pohon Natal, “Tanamlah di tubuhmu!”

“Maaf sayang, ini pun aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya lahan untuk menanamnya,
seluruh tubuhku sudah dipenuhi masjid!”

Ia terdiam. Aku yakin dia tidak mengerti apa yang kukatakan.

Tapi ia bertanya lagi, “Apakah di halaman masjid tidak boleh ditanami pepohonan?”

Aku tersentak. Akhirnya kuraih dia dalam pelukan
Kujelaskan bahwa halaman masjid sekarang penuh oleh kendaraan yang parkir. Tidak ada tempat untuk menanam pohon lagi.
Dia tertunduk. Sedih.

“Jangan kuatir, sayang, pohon Natal ini akan kutanam di samping masjid, dan akan kurawat, setuju?”

Dia mengangguk.

“Terima kasih, Om, Natal itu untuk anak-anak!” ucapnya tersenyum.

Aku pun tersenyum, walaupun tidak mengerti maksud ucapannya.

***

Tangerang Selatan, 24 Desember 2016
Ahmad Gaus

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

Cinta Perawan Rima

 

Rima

 

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

Datang dan Pergi [Puisi]

enjoy sunset

 

DATANG DAN PERGI

Ada yang datang seperti kabut
begitu tenang dan lembut
merambat di tepi-tepi hati
lalu pergi
dengan hati-hati.

Ada yang datang seperti ombak
keras mendesak-desak
menghentak batu karang
lalu menghilang.

Ada juga yang datang seperti hujan

membasahi halaman demi halaman
catatan di buku harian
dan hanya bertahan
sebagai kenangan.

Ada lagi yang datang seperti senja
merah saga.

Yang datang dan pergi tidak pernah tahu
di mana aku berdiri menunggu
berpura-pura menjadi
daun pintu.

Pasar Minggu, 28/08/17

[Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta”, 2017]

Senja di Jakarta

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

Homo Homini Lupus [Puisi]

HOMO HOMINI LUPUS

Di antara terang dan gelap ada dinding yang tak terlihat. Semacam kaca atau, katakanlah, spektrum yang memisahkan keasingan. Ia berpindah-pindah tempat dari mata ke ruang tahanan, dari hidung ke gudang senjata, dari telinga ke medan pertempuran. Maka pancaindra selalu dihantui mimpi buruk.

Suatu malam, saat kau berada di dalam barisan untuk memerangi manusia, sekumpulan makhluk mengintai dari dinding itu. Mula-mula ada suara gaduh. Kemudian pecahan kaca. Lalu darah berceceran.

Orang-orang dalam barisan itu memunguti pecahan-pecahan kaca yang berserakan dan memakannya. Doa-doa dilantunkan setengah berteriak. Semakin lama semakin banyak orang yang datang. Makhluk-makhluk itu mendekat dan mencekik leher mereka hingga doa-doa yang mereka teriakkan berhamburan menjelma binatang buas. Dalam sekejap saja, ruang di antara terang dan gelap itu berubah menjadi medan perang.

Malam melambaikan tangan dengan cakar-cakarnya yang tajam. Engkau tak sabar menunggu pagi untuk memastikan bahwa yang tergeletak di jalan itu bukan tubuhmu.

22/07/17

Puisi di atas dimuat dalam buku “Senja di Jakarta” (2017), jika anda berminat hubungi Nomor WA: 0857-50431305

Senja di Jakarta

 

 

 

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

PERSEKUSI

persecution

PERSEKUSI

Batu-batu yang jatuh dari langit berlarian di tubuhku seperti kawanan serigala. Taring-taringnya mengancamku di balik cermin; dan matanya mengirimkan dendam. Mereka tidak peduli mulutku sudah lama terkunci, tak bisa lagi menjadi pengeras suara yang melontarkan lolongan mereka ke angkasa. Terus saja mereka melolong sepanjang malam.

Dan aku benar-benar tak bisa tidur, sebab suara-suara itu sangat mengganggu, seperti jeritan orang-orang di ruang penyiksaan. Akhirnya kuputuskan untuk masuk lebih jauh lagi — ke jantungku, urat-urat sarafku, pembuluh-pembuluh darahku…

Rupanya inilah negeri masa kanak-kanakku; negeri elok nan damai. Tapi huru-hara itu datang seperti hujan batu yang ditimpakan dari langit dan merenggut semuanya: keluarga, sanak-saudara, sahabat, handai taulan. Gedung-gedung yang megah dan taman-taman yang indah, terkubur batu.

Sudut-sudut kota dijaga kawanan serigala dengan sorot mata penuh dendam. Mereka akan mengejar siapa saja yang menghina pemimpin serigala, mencabik-cabik tubuhnya, dan melemparkannya ke neraka.

03/06/17

Puisi ini dimuat dalam buku “Senja di Jakarta” (2017), jika anda berminat hubungi Nomor WA: 0857-5043-1305

sdd.jpg

Bersama penyair senior Sapardi Djoko Damono di Festival Bahasa dan Persuratan Melayu, Selangor Malaysia, Des 2017

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

Sajak Orang Mati

hipwee-The-Dead-Mother

Lukisan: The Dead Mother karya Edvard Munch

 

SAJAK ORANG MATI

Orang-orang mati bangkit dari kubur dan menghapus nama mereka di batu nisan. Dunia membeku dalam dinginnya kain kafan. Dan tubuh, sekejap saja tinggal tulang belulang. Tapi dunia baru bisa lagi ditegakkan di atas langit yang tak memisahkan kehidupan dan maut. Seperti juga surga dan neraka, seperti juga terang dan gelap.  Di antara keduanya ada ambiguitas, di mana kebenaran selalu disingkirkan.

Orang-orang mati berkabar tentang padang tak bernama. Ruang-ruang yang tak dibentuk oleh murka, waktu yang bebas dari angkara. Orang-orang mati merobek kain kafan dan menghancurkan tulang belulang mereka sendiri. Setelah itu penciptaan kembali.  Waktu menjanjikan keabadian pada orang-orang pilihan, jiwa-jiwa yang hidup dalam kebebasan.

07/07/17

Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta” (2017)

BukuSenja

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

IMAM BESAR

Info buku baru:
KHUTBAH-KHUTBAH IMAM BESAR

Pikiran-pikiran penting tidak selalu harus dituangkan dalam buku ilmiah yang tebalnya berjilid-jilid. Saya menemukan banyak pencerahan justru dalam buku kumpulan khutbah Jumat Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. (Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta). Saya kira bagus sekali buku ini dimiliki/dibaca oleh para mubalig/khatib untuk memperkaya wawasan. Ide-idenya segar dan pemaparannya lugas. Buku ini juga dikerjakan oleh salah satu penulis dan sekaligus editor terbaik di negeri ini, eh di abad ini 🙂 Di bawah ini saya sertakan kata pengantar editornya.

Tebal buku: 354 Halaman
Diterbitkan kerjasama CSRC UIN JAKARTA dan Penerbit Imani. Tersedia di toko buku Gramedia atau hubungi Penerbit Imani 0851-0000-7692

khutbah-khutbah-imam-besar

 

Kata Pengantar Editor

I M A M  B E S A R

Oleh Ahmad Gaus AF

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., adalah satu dari sedikit cendekiawan Muslim yang mampu menggabungkan kecendekiawanan dan keulamaan.  Sebagai cendekiawan, ia memiliki reputasi yang gemilang dalam mewacanakan gagasan-gagasan kontemporer dalam konteks kajian dan dinamika pemikiran keislaman seperti demokrasi, toleransi, kesetaraan gender, dan sejenisnya. Tulisan-tulisannya seputar gagasan itu tersebar di berbagai media massa nasional maupun internasional. Untuk tujuan serupa ia juga tampil sebagai narasumber di forum-forum seminar baik di dalam maupun luar negeri.

Pengalaman akademiknya diperoleh di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif HIdayatullah, Jakarta, tempatnya belajar hingga memperoleh gelar doktor, dan kemudian mengabdi sebagai dosen, lalu menjadi Pembantu Rektor III di kampus yang sama. Selama menempuh studi doctoral, ia juga menjadi mahasiswa yang menjalani program PhD di McGill University, Montreal,Kanada (1993-1994), dan Leiden University, Belanda (1994-1995). Ia juga menjadi sarjana tamu di Shopia University, Tokyo (2001), sarjana tamu di Soas University of London (2001-2002), dan sarjana tamu di Georgetown University, Washington DC (2003-2004).

Pengalaman-pengalaman itu niscaya ikut membentuk visi intelektualnya sebagai sarjana Muslim yang harus mensinergikan tradisi ortodoksi pesantren —  tempatnya belajar di masa kecil dan remaja — dengan tradisi keilmuan Barat modern. Dengan dasar-dasar keilmuan Islam yang kokoh, Prof. Nasaruddin tampaknya tidak mengalami kesulitan manakala harus menyerap peradaban Barat modern, yang intinya tidak lain ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kebebasan. Dua hal itu bukan sesuatu yang asing dalam khazanah keislaman. Bahkan etos keilmuan dan kebebasan dalam Islam telah pernah mewujud dalam peradaban gemilang di masa lalu, jauh sebelum lahir apa yang kini dinamakan peradaban Barat.

Prof. Nasaruddin jelas memahami hal itu, sebagaimana tampak dalam tulisan-tulisannya, dan karena itu ia rileks saja berhadapan dengan gagasan-gagasan Barat kontemporer yang bagi kebanyakan sarjana Muslim lain masih sulit diterima, disebabkan oleh hambatan psikologis maupun teologis. Sementara Prof. Nasaruddin — seperti dikatakannya dalam salah satu materi dalam buku ini — berpegang pada adagium klasik: Hikmah itu barang hilangnya kaum Muslim maka di mana saja diketemukan harus diambil. Sebut saja misalnya gagasan tentang emansipasi perempuan yang di dunia Barat lahir pada abad ke-19. Ketika gagasan itu dibawa ke dunia Islam muncul penolakan, bukan semata-mata karena ia gagasan Barat, melainkan bahwa selama berabad-abad kaum Muslim telah memiliki “pedoman” sendiri tentang kedudukan perempuan, baik yang diderivasi dari tradisi fikih maupun tafsir dan hadis.

Pandangan umum tentang perempuan ialah sebagai makhluk lemah, memiliki hak terbatas dibanding laki-laki, hanya boleh berkiprah di ruang domestik, dan sebagainya. Maka ide-ide kebebasan perempuan dengan sendirinya tidak popular, bahkan ditolak karena dianggap berbahaya dapat merusak kehidupan perempuan, dan akhirnya menghancurkan sendi-sendi tatanan sosial Islami.

Di tengah berbagai penolakan, Prof. Nasaruddin termasuk cendekiawan Muslim pertama yang aktif dan berani mengarusutamakan wacana kesetaraan gender, bahkan disertasi doktornya mengangkat isu ini.  Ia melakukan semacam dekonstruksi atas penafsiran yang bias maskulin yang telah diterima dan berlangsung berabad-abad. Sebagai cendekiawan aktivis, tentu saja ia tidak bekerja sendirian mewacanakan gagasan ini, melainkan membangun jaringan dengan para aktivis lain yang memiliki kesamaan visi. Jika saat ini kita melihat kaum perempuan Muslim Indonesia memiliki ruang yang lebih leluasa untuk berkiprah dalam kehidupan publik, maka peran Prof. Nasaruddin tidak bisa dibilang kecil.

Ketika orang ramai berdebat mengenai kedudukan jilbab dari sisi hukum Islam, Prof. Nasaruddin memberi sumbangan penting dari sisi antropologi. Ia menguak aspek-aspek kebudayaan dan konstruksi sosial atas jilbab. Dengan demikian polemik mengenai masalah ini tidak melulu menjadi urusan fikih dan tafsir. Tulisannya mengenai antropologi jilbab tersebar luas dan sangat diperhatikan publik, sekaligus menjadi dokumen penting yang menjadi penanda lahirnya perspektif yang berbeda dalam memahami isu-isu keumatan di luar disiplin keislaman tradisional seperti fikih, tafsir, hadits, dan sejenisnya.

***

Sebagai seorang ulama, Prof. Nasaruddin menempatkan dirinya dalam jajaran agamawan kelas satu di negeri ini. Pengalamannya menjadi “guru ngaji keliling” di Amerika, Eropa, dan Australia, yang membawa misi menjelaskan Islam moderat, ke seluruh dunia, membuatnya cukup matang ketika harus berhadapan dengan isu-isu panas di dalam negeri yang kerap membenturkan agama dan politik, atau kerasnya isu antaragama.

Untuk yang terakhir ini, bukan pula hal yang asing buat Prof. Nasaruddin karena sejak tahun 1990-an ia sudah terbiasa menjalin pergaulan lintas agama, bahkan ia juga ikut mendirikan forum “Masyarakat Dialog Antaragama”. Dalam tema interfaith ini juga, dan dalam kapasitas sebagai cendekiawan, ia aktif mengisi seminar di forum-forum internasional. Dengan pengalaman yang luas dalam interaksi lintas agama, ia pun diangkat menjadi anggota dari Tim Penasihat Inggris-Indonesia yang didirikan oleh mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, khususnya terkait dialog agama dan peradaban. Maka tidak heran pula bila nama Nasaruddin Umar masuk dalam 500 Most Influental Muslims in the World. Ia juga salah seorang penggagas pembangunan Masjid Ground Zero, masjid di bekas reruntuhan menara WTC di Amerika Serikat.

Pada 2002, ia diangkat menjadi Guru Besar dalam bidang tafsir di UIN Jakarta. Suatu prestasi yang kian mengukuhkan otoritas keulamaannya. Masa-masa berikutnya ia juga dipercaya memegang jabatan di pemerintahan dari mulai Direktur Jenderal pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Kementrian Agama RI, hingga menjadi Wakil Menteri Agama RI 2011 – 2014. Pada Januari 2016, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mengukuhkan Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, yang sebelumnya dijabat oleh Prof. Dr. K.H. Ali Mustofa Yakub.

Imam besar masjid negara tentu bukan posisi sembarangan. Ia bukan sekadar simbol keulamaan tetapi juga simbol persatuan Islam itu sendiri, dan sekaligus simbol integrasi Islam dan negara. Sebab masjid Istiqlal tidak semata-mata dilihat sebagai tempat ibadah melainkan juga tempat interaksi antara ulama, umara’ (pemerintah), dan umat (rakyat). Maka pada momen peringatan peristiwa-peristiwa penting seperti Nuzulul Quran, Isra’ Miraj, hingga Salat Idul Fitri dan Idul Adha’, presiden dan para pejabat tinggi negara dan para ulama akan bertemu di sana, berbaur dengan umat. Pada saat itu, yang menjadi pemimpin bukanlah presiden atau ketua DPR melainkan Imam Masjid Istiqlal. Dari situlah tampak betapa agungnya kedudukan seorang imam pada sebuah masjid yang melambangkan persatuan umat, ulama, dan umara’.

Jauh sebelum menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin adalah imam tetap di Masjid At-Tin, sebuah masjid besar di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur. Di sana ia juga menjadi pengajar materi keislaman untuk para jamaah maupun umum. Bukan hanya di situ, ia juga menjadi imam dan pengajar di berbagai masjid besar di wilayah DKI Jakarta. Materi yang dibawakannya dari mulai fikih, tafsir, hingga tasawuf. Prof. Nasaruddin juga pernah menjadi Rektor Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ), Jakarta. Sebagai ulama, Prof Nasaruddin memang cukup lengkap, karena bahan bacaannya memang sangat luas, dari teks-teks keislaman klasik (kitab kuning) hingga buku-buku kontemporer berbahasa asing. Itulah sebabnya, keulamaan menyatu dengan kecendekiawanan pada diri Sang Imam ini.

Prof. Nasaruddin juga dikenal memiliki pergaulan yang dekat dengan para ulama di dunia Arab dan Timur Tengah seperti Wahbah Zuhaili, Yusuf al-Qaradhawy, dan lain-lain. Dan di tanah air silaturahmi dan persahabatannya dengan para ulama tak mengenal batas.  Ulama dari berbagai aliran diakrabinya, dari yang moderat sampai yang “keras”. Para ulama itu bukan hanya kawan dialog tapi juga tempatnya bertanya. Tidak peduli latar belakangannya apa dan dari mana. Namun ia punya prinsip yang teguh bahwa Islam harus menjadi perekat, bukan pemisah. Dan jalan yang ditempuhnya mengikuti teladan para walisongo: dakwah dengan cara yang lembut, sehingga Islam muncul dengan wajah yang humanis.

Benang merah dari pemikiran Prof. Nasaruddin ialah Islam rahmatan lil alamin. Ia mencoba mencari bentuk-bentuk hubungan yang paling maslahat antara Islam dan isu-isu kontemporer, termasuk di dalamnya isu politik, toleransi agama, jihad, radikalisme, terorisme, lingkungan hidup, hingga isu-isu spesifik di dalam kehidupan dan praktik tasawuf. Perspektif yang ditawarkan Prof. Nasaruddin ialah tawasuth (moderasi), tawazun (proporsional), dan tasamuh (toleransi).

***

Semua tema dalam buku ini dikemas dalam perspektif tersebut di atas sehingga apapun materi yang disampaikan maka di ujungnya kita akan melihat sebuah titik cahaya bernama Islam rahmatan lil alamin, Islam yang menampilkan wajah agung sekaligus lembut, yang membawa pesan-pesan cinta dan kebaikan untuk seluruh alam.

Buku ini merekam sebagian pemikiran Prof. Nasaruddin dalam beragam tema. Disajikan dalam kemasan khutbah Jumat, karena sebagian memang berasal dari materi khutbah Jumat yang pernah disampaikannya di berbagai mimbar masjid, sedangkan sebagian lainnya disunting dari tulisan-tulisan kolom di berbagai media massa. Adapun kebutuhan untuk menyajikannya sebagai buku khutbah agar dapat diakses oleh para penceramah yang memerlukan bahan untuk berceramah atau berkhutbah. Sampai sekarang forum khutbah Jumat masih dianggap sebagai forum yang efektif dalam berdakwah. Dan editor memandang bahwa pikiran-pikiran yang ada dalam buku ini penting untuk dijadikan bahan dakwah sehingga diketahui oleh publik yang lebih luas.

Tidak ada tujuan khusus dalam mengklasifikasi tema-tema dalam buku ini sehingga tersusun seperti ini. Editor mengabaikan kronologi berdasarkan waktu ataupun memberi prioritas pada materi tertentu. Semua disajikan begitu saja secara bebas. Jika diperlukan, para pengguna itu sendiri yang akan memilih mana topik atau tema yang akan disampaikan. Pengguna juga dapat saja mengubah kutipan dalil dari ayat Quran, hadis, maupun sumber lain yang dianggap lebih tepat untuk topik terkait. Sebab sebagian tulisan, khususnya yang berasal dari kolom media massa, tidak menyertakan rujukan dalil, sehingga editorlah yang melengkapinya. Dan itu bisa saja kurang pas, atau ada yang lebih tepat.

Terima kasih kepada Prof. Nasaruddin Umar yang telah mempercayakan editing buku ini kepada saya. Pertemanan saya dengan beliau sudah terjalin lebih 20-an tahun, sehingga saya relatif memahami pandangan keagamaan dan visi intelektualnya. Akhirnya, semoga buku ini memberi manfaat untuk publik Islam, dan tentunya secara khusus dapat mewakili sikap dan pandangan penulisnya, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A, Imam Besar Masjid Negara, Istiqlal, yang mendambakan sebuah Islam yang agung, Islam rahmatan lil alamin. []

 

Jakarta, 26 Februari 2018

AHMAD GAUS AF

Editor buku ini, adalah seorang aktivis dan penulis. Ia juga peneliti senior di CSRC-UIN Jakarta; mengajar di Swiss German University (SGU); pernah aktif di Paramadina.

IMG-20180611-WA0017

Bersama Prof Dr KH Nasaruddin Umar di Paramadina, Jakarta

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 3, 2018

Menjaring Bayang-Bayang

Bogor4

MENJARING BAYANG-BAYANG

Aku dan bayang-bayangku adalah satu kesatuan
Ke timur atau ke barat, ke utara atau ke selatan
Kami selalu pergi bersama-sama
Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kegelapan

Di dalam gelap aku tidak pernah bertanya ke mana bayang-bayangku pergi
Dan dia tidak pernah peduli apa yang aku lakukan

Aku membutuhkan bayang-bayangku
Karena dia memberitahu aku tentang cahaya
Tapi aku juga takut dengan bayang-bayangku sendiri
Karena dia menjelmakan sisi yang paling gelap dari diriku

Aku dan bayang-bayang tidak pernah saling mengejar
Karena kami memahami posisi masing-masing
Kadang dia ada di belakang mengikutiku
Kadang dia di depan dan aku yang mengikutinya

Bayang-bayang selalu melekat padaku
Tapi aku tidak memilikinya
Dia adalah milik cahaya
Bahkan aku tidak mengenalinya
Hanya kegelapan yang mengenalinya dengan baik
Karena dia adalah anak kandung kegelapan

Cahaya dan kegelapan bersaing menjaring bayang-bayangku
Hasilnya adalah gambaran diriku dalam satu dimensi… gelap dan tidak utuh!
Itulah sebabnya aku tidak percaya pada bayang-bayangku sendiri
Walaupun aku tahu dia akan terus bersamaku
Sampai nanti aku mati

Catatan:
Puisi dibacakan dalam workshop Lembaga Sensor Film (LSF) “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now” di Ibis Styles, Bogor, 1 September 2018

Bogor1

Bersama Hasanuddin Ali (di samping kiri saya), penulis buku “Millennial Nusantara” yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop LSF “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now”.

Bogor5

Bersama teman-teman LSF. Ketua LSF, Dr. Ahmad Yani Basuki duduk di tengah (berjaket hitam)

 

Posted by: Ahmad Gaus | August 29, 2018

Masyarakat Senja [Puisi]

 

tvsmith

MASYARAKAT SENJA

Senja berbaris mengenakan baju hitam. Orang-orang berdiri di atas jembatan, menunggu matahari terperosok ke dalam jurang. Dari sudut kota seorang pemuda datang tergopoh-gopoh, “Hai, lihat itu ada yang menangis di atas langit.” Suaranya perlahan-lahan menghilang ditelan kerumunan.

Sebuah peristiwa tengah disiapkan, untuk menyambut pergantian. Perempuan-perempuan menari di atas punggung kuda yang berlari kencang dari masa silam. Anak-anak dilemparkan ke atas bukit, dibekali panah beracun. Para resi keluar dari tempat pertapaan, memanggul senjata.

“Ada apa?” Pemuda itu masih belum mengerti.

Para nabi membawa kabar langit suci. Manusia membangun rumah sendiri-sendiri. Berdesakan dalam ruang sunyi, dengan sedikit lubang pintu untuk mengintip. Mereka hanya ke luar ketika langit mulai gelap. Malaikat-malaikat turun mengantarkan cahaya. Meninggalkannya di atas menara rumah-rumah Tuhan. Namun manusia mengurung diri. Dunia murung dalam keasingannya yang abadi.

Orang-orang itu menaiki bukit dan bersorak-sorai. Merayakan kemenangan atas matahari yang terperosok dalam kepala. Bumi hitam. Langit hitam. Dan segala yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Tapi di atas bukit, angkasa tidak bertuan. Dunia terlalu kecil untuk menjadi medan pertempuran yang tak berkesudahan.

Alam Sutera, 08/09/17

Puisi “Masyarakat Senja” dimuat dalam kumpulan puisi saya, Senja di Jakarta (2017)

Foto ilustrasi:

Senja di teluk Kinabalu, Sabah-Malaysia, 24 April 2018, bersama para sastrawan Malaysia dan Indonesia: Fatin Hamama, Fanny Jonathan, D. Kemalawati, Isbedy Setiawan ZS, Datuk Jasni Matlani, dkk.

 

Sabah3

 

Senja di Jakarta

Posted by: Ahmad Gaus | August 28, 2018

Bahagia Sekarang Juga

[Dibacakan dalam acara #KampanyeKebahagiaan #GerakanIndonesiaBahagia dalam Rangka Memperingati #HariKebahagiaanSedunia, oleh #YayasanIndonesiaBahagia, Taman Suropati, Jakarta Pusat, 25 Maret 2018].

YIB2

BAHAGIA SEKARANG JUGA

SESEORANG terbangun dari tidur di pagi hari
Ia mengamati sekelilingnya, mencari-cari sesuatu
Namun yang ditemukan hanya selimut, seprei, bantal, guling
Dan gadget yang memang selalu diletakkan di dekat bantal
Lalu ia mencarinya di bawah tempat tidur
Tapi yang dicarinya tetap tidak ada
Maka ia masuk lagi ke dalam selimut dan kembali tertidur
Ia berharap kebahagiaan yang hilang di pagi hari itu
Akan datang lagi dalam mimpinya.

Banyak orang terbangun dari tidur
Mencari kebahagiaan di sisa mimpinya tadi malam
Sebab mereka tidak mendapatkannya dalam kehidupan nyata
Sebab kehidupan nyata terlalu keras — terlalu kejam
Mimpi menjadi tempat petualangan yang menyenangkan
Terlepas dari penderitaan dan kesusahan hidup
Tapi kebahagiaan dalam mimpi hanya fatamorgana
Setiap orang akan terbangun — kembali ke dunia nyata
Dan berusaha mendapatkan kebahagiaan.

Tapi di mana kebahagiaan bisa didapat?
Di dalam rumah. Di kantor. Di tempat olahraga.
Di hotel mewah. Di gubuk reot.
Di restoran. Di kaki lima.
Di dalam badan. Di dalam hati.
Dalam jiwa. Dalam pikiran.

Kebahagiaan ada di mana-mana
Dan tidak pernah pergi ke mana-mana
Karena ia tidak berkaki
Tuhan tidak meletakkan kebahagiaan di tempat tersembunyi
Atau di puncak gunung tinggi
Tapi di dalam diri sebagai fitrah azali
Bakat bawaan manusia sejak dini.

Kebahagiaan tidak bisa dicuri
Sebab tidak akan ada yang mampu membelinya
Kebahagiaan juga tidak bisa ditukar
Sebab tidak ada intan permata yang senilai dengannya.

Setiap orang bisa patah hati kapan saja
Karena putus cinta, atau ditinggal pergi orang yang dicintai
Tapi kebahagiaan tidak boleh dibiarkan dibawa pergi
Karena ia adalah harta yang paling berharga
Kalau ia hilang, maka hidup kita akan sengsara
Selamanya dirundung kesepian.

Di zaman media sosial seperti sekarang
Setiap orang memiliki teman lebih dari yang dibutuhkan
Sepuluh, seratus, seribu, beribu-ribu
Tapi tetap saja banyak orang yang merasa kesepian
Banyaknya teman tidak menjamin seseorang bahagia
Semakin sering seseorang berbicara kepada orang lain
Mengadukan keluh kesah hidupnya
Ke hadapan ribuan orang yang tak terlihat
Semakin menunjukkan kesepiannya.

Beribu-ribu teman kita kumpulkan di dunia maya
Semata-mata karena kita dan mereka satu pemahaman
Satu pandangan agama, satu pilihan politik
Satu idola pemimpin yang sama
Kita tertawa-tawa dengan mereka
Sambil menggunjing orang lain
Yang tidak sama dengan kita
Padahal kita tidak pernah bertemu dengan mereka
Sementara orang-orang terdekat kita — Keluarga,
Saudara, Kerabat, Sahabat — dijauhi, dimusuhi
Dicurigai karena beda paham. Beda pilihan.
Beda pandangan politik.

Akhir-akhir ini kehidupan kita menjadi semakin panas
Karena politik telah masuk ke ruang-ruang keluarga
Tempat-tempat ibadah
Kelompok-kelompok arisan
Obrolan-obrolan warung kopi
Lingkungan perkantoran.

Tanpa kita sadari
Politik membawa virus perpecahan yang berbahaya
Dan lebih berbahaya lagi bila politik mengenakan baju agama
Sebab setiap orang akan menganggapnya kebenaran mutlak
Yang harus diperjuangkan dengan jiwa dan raga
Dan seringkali membabi-buta
Akibatnya kehidupan menjadi sumpek — pengap
Setiap orang mengintai pikiran orang lain
Sedikit saja salah bicara kita akan di-bully.

Di sekitar kita banyak orang yang hidupnya tidak bahagia
Yakni mereka yang gemar menghujat. Memfitnah. Menghina
Mengancam. Menebar teror. Menganggap rendah orang lain
Menyerang dan mencari-cari keburukan orang
Mereka itulah orang-orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Sedangkan orang-orang yang bahagia
Adalah mereka yang selalu menebar kebaikan
Menebar kasih sayang. Membagi energi positif
Memaafkan. Mengikhlaskan. Menutupi keburukan orang lain.

Apabila kebahagiaan kita telah direnggut
Oleh kebencian. Oleh permusuhan
Maka kehidupan kita sungguh dalam bahaya.

Kita harus mengatur ulang nafas hidup kita mulai sekarang
Mencegah kekuatan negatif memenuhi lingkungan kita
Menghentikan permusuhan atas nama politik dan agama
Atau atas nama apapun. Menebarkan kembali cinta
Menebarkan kasih sayang
Menjadi orang yang bahagia
Karena hanya orang yang bahagia yang dapat menularkan
Kebahagiaan kepada orang lain
Kepada dunia.

Kebahagiaan adalah kekuatan fitrawi yang suci
Yang tidak boleh hilang dalam keadaan apapun
Dan tidak boleh dibiarkan orang lain merusaknya
Dengan alasan apapun
Karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan
Maka hanya orang-orang yang bahagia pula
Yang dapat menjumpai-Nya.

Maka tumbuhkanlah perasaan bahagia
Saat sehat maupun sakit
Saat kaya maupun miskin

Hidup hanya sesaat
Alangkah merugi orang yang tidak bahagia

Maka berbahagialah
Saat sendiri maupun di keramaian
Saat datang maupun pergi
Saat bebas maupun tertindas
Kebijakan tertinggi ialah ketika orang mampu bahagia dalam keadaan menderita

Hidup bahagia tidak membutuhkan alasan
Karena bahagia sendiri adalah alasan untuk hidup
Tidak ada nanti atau esok untuk bahagia
Melainkan sekarang
Bahagia sekarang juga
Bahagia
Sekarang
Juga.

Jakarta, 25.03.18

Ahmad Gaus

YIB Puisi

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | August 28, 2018

Bangsa Merdeka [Puisi]

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

« Newer Posts - Older Posts »

Categories