Featured

Wawancara bersama Ahmad Gaus AF

Kebudayaan Milenial Belum Terbentuk

Jakarta, Swakarya.Com. Pada 23 Januari 2020 lalu, redaksi Swakarya dalam lawatan ke Jakarta menemui Ahmad Gaus AF, seorang penulis, penyair, dan dosen sastra dan kebudayaan di Swiss German University (SGU), Tangerang, Banten. Pada pertemuan tersebut, ditemani kopi dan pisang goreng keju coklat di Java Bean Cafe di sebuah mal di Jakarta Selatan, redaksi swakarya.com menyinggung seputar masalah kebudayaan, politik, teknologi informasi, dan budaya milenial. Berikut petikannya:

Bagaimana anda melihat eksistensi kebudayaan kita di era digital yang diserbu oleh budaya milenial sekarang ini?

Kebudayaan kita sekarang ini tanpa kebudayaan. Jadi kita hidup di era hampa budaya. Mengapa, karena yang disebut kebudayaan itu sebenarnya adalah pergerakan yang dinamis dari satu titik ke titik lain. Nah, itu kan tidak ada. Kebudayaan kita terkungkung oleh asumsi-asumsinya sendiri yang melawan arus, khususnya arus kebebasan yang melekat pada perkembangan teknologi informasi seperti sekarang.

Mengapa poinnya harus kebebasan?

Lho, logika dari teknologi informasi itu kebebasan. Walaupun itu bukan barang yang baru sebenarnya, karena sudah ada sejak Revolusi Perancis dan zaman Pencerahan, tapi kebebasan yang dibawa oleh teknologi informasi tidak bersifat politis melainkan kultural. Karena itu kalau bisa dikelola dengan tepat akan melahirkan kebudayaan baru yang sangat besar. Tapi ‘kan kita belum siap dengan konsekuensi itu, maka kita selalu melihat ada upaya untuk membuat pembatasan, bahkan pelarangan. Selain karena kebebasan masih dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, juga karena orang tidak mengerti bagaimana menggunakan kebebasan. Dikiranya kebebasan itu bebas menyebarkan hoax, ujaran kebencian, dsb. Padahal kalau logika teknologi informasi berupa kebebasan itu diapresiasi dengan benar pasti akan mendorong perubahan yang besar sekali dalam banyak aspek kehidupan kita. Sebab sebelumnya kita memang tidak memiliki tradisi kebebasan. Padahal itulah yang membuat bangsa-bangsa Barat maju dan modern. Kan itu yang dulu dibilang oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan.

Kalau begitu masalahnya ada di mana sebetulnya?

Masalahnya ada pada proses dialektika yang tidak selesai dalam transfer budaya teknologis. Konkretnya begini. Orang mungkin beradaptasi dengan teknologi modern, dan berinteraksi dengan lingkungan kultural yang dibentuknya. Tapi itu belum cukup. Untuk bisa melahirkan kebudayaan yang baru, orang harus melakukan identifikasi diri di dalam lingkungan sosio-kulturalnya. Sehingga ia menjadi bagian yang positif dari kebudayaan itu. Dengan cara seperti itu maka akan ada pelembagaan melalui tindakan, pembentukan narasi, produksi pengetahuan-pengetahuan baru, dsb, yang akan mendorong terbentuknya kebudayaan baru.

Apa itu juga yang menjadi problem kebudayaan milenial?

Ya sama. Kebudayaan milenial yang didasarkan pada teknologi internet itu tidak atau belum terbentuk karena proses dialektikanya yang tadi itu tidak selesai. Juga kerangka dasarnya belum terrumuskan sehingga belum mampu merumuskan pandangan dunia atau world view. Pada sebagian orang mungkin sudah. Sebagian lagi terbentuk secara sporadis. Sebagian lagi masih bingung mau mencari tempat di mana harus berdiri dalam arus perubahan ini.

Jadi maksudnya budaya milenial itu belum ada?

Belum. Karena budaya itu terbentuk ketika kerangka dasarnya sudah terrumuskan, baik melalui konvensi maupun narasi yang relatif stabil. Sehingga dari sudut sosiologi pengetahuan kita bisa melihat realitas sosial seperti apa yang dibayangkan. Sebab kebudayaan itu mula-mula memang imajinasi, yaitu imajinasi tentang masa kini dan masa depan. Kalau sekarang kan belum. Bagaimana budaya milenial mendefinisikan kehidupan, itu saja belum ada. Yang ada sekarang ini realitas semu tentang kebudayaan milenial sebagai produk dari revolusi teknologi informasi sejak awal milenium ketiga. Tapi sebenarnya tidak terjadi apa-apa, kecuali pergerakan di pasar mode dan gaya hidup karena istilah milenial saat ini lebih merupakan derivat dari kapitalisme juga. Jadi yang paling menonjol ya budaya konsumerisme juga.

Kebudayaan milenial itu idealnya seperti apa sih?

Saya tidak berbicara yang ideal. Tapi saya membayangkan kebudayaan milenial itu melahirkan sebuah paradigma baru yang membedakannya dengan kebudayaan-kebudayaan sebelumnya. Sebagai paradigma dia muncul dengan karakter yang sangat kuat dengan pemikiran-pemikiran tertentu yang memengaruhi orang yang hidup pada zamannya. Kalau semata-mata teknologi informasi itu membawa perubahan pada kehidupan manusia, itu jelas. Tapi perubahan ‘kan juga ada gradasinya. Pergeseran dari telpon rumah ke telpon genggam itu perubahan. Dari SMS ke BBM lalu ke WA itu semua perubahan. Tapi apakah perubahan-perubahan itu memberi dampak pada cara orang berpikir, sehingga secara kolektif melahirkan kebudayaan yang baru, ternyata kan tidak.

Berarti teknologi informasi gagal melahirkan perubahan budaya?

Mungkin kita tidak bicara soal gagal atau berhasilnya, sebab teknologi itu sendiri ‘kan produk budaya. Tapi kenyataan bahwa kita hidup di era teknologi informasi sekarang ini ternyata sama saja dengan ketika orang hidup di era teknologi pertanian. Pikiran kita belum banyak berubah. Teknologi informasi yang membawa kebebasan tidak lantas membuat orang mampu menghargai kebebasan. Karena itu kita masih menyaksikan orang dipersekusi karena memiliki pandangan politik yang berbeda, misalnya. Masih ada kelompok masyarakat yang menolak pendirian rumah ibadah agama lain, dsb. Itu contoh yang sangat telanjang bahwa teknologi informasi yang membawa nilai-nilai kebebasan, tidak menghalangi orang untuk berpikir sektarian dan bersikap primitif.

Apakah itu menunjukkan adanya kesenjangan antara produk teknologi modern dengan mindset masyarakatnya?

Bisa begitu. Sebab teknologi modern itu bukan kita yang buat, kita hanya konsumen. Jadi kesenjangan itu sudah tercipta secara apriori. Beda dengan ketupat, karena kita yang buat, lahir dari budaya kita, maka kita bisa menyatu dengan ketupat. Buktinya lebaran tanpa ketupat itu jadi nggak afdol ‘kan hehehe. Nah, jadi itulah yang membuat kita tidak bisa banyak berharap bahwa teknologi modern seperti internet dsb itu dengan sendirinya akan melahirkan suatu kebudayaan baru dalam masyarakat kita. Termasuk kebudayaan milenial itu.

Kalau begitu istilah kebudayaan milenial itu salah kaprah, dong?

Jelas. Malah saya menduga yang disebut budaya milenial itu tidak lain dari budaya pop, yang telah berkembang sejak dekade 1960-an. Hanya saja ini budaya pop tahap lanjut yang ditumbuhkan oleh internet dan media sosial, kalau budaya pop awal hanya oleh media massa konvensional.

Perkembangan dari media konvensional ke internet lalu melahirkan era digital, apakah itu bukan perubahan penting dalam kebudayaan?

Perubahan penting dalam industri belum tentu perubahan penting dalam kebudayaan. Sebab yang disebut era digital itu ‘kan industri 4.0 dan itu hanya kelanjutan belaka dari era industri gelombang pertama, kedua, dan ketiga. Tapi masalahnya apakah era teknologi informasi ini memperlihatkan sebuah retakan atau epistem atau diskontinuitas dari era sebelumnya sehingga bisa disebut sebagai lahirnya kebudayaan baru. Jadi epistem itulah yang menentukan apakah sebuah zaman bisa disebut zaman baru atau bukan.

Sekarang bagaimana anda melihat hubungan kebudayaan dengan politik?

Politik harus menjadi bagian dari kerangka besar kebudayaan. Ia harus dihidupi oleh nafas budaya, dan lahir sebagai anak budaya. Tapi yang terjadi di kita justru sebaliknya. Kebudayaan menjadi subordinat dari politik. Maka yang terjadi kebudayaan kita remuk redam dicengkram oleh tangan-tangan politik kekuasaan yang sama sekali tidak memiliki mata hati untuk melihat jauh ke depan. Politik menjadi anak durhaka kebudayaan.

Apa memang politik kita sudah separah itu?

Lho, kalau tidak percaya lihat saja bagaimana politik dengan leluasa membelah masyarakat berdasarkan identitas primordial seperti dalam Pilkada dan Pilpres tempo hari. Ini bukan saja berbahaya bagi perkembangan demokrasi tapi juga berbahaya bagi kebudayaan karena merobohkan bangunan besar kita sebagai bangsa. Imajinasi orang tentang budaya kita yang luhur itu luluh lantak. Dan itu sulit sekali dipulihkan karena residunya tertanam dalam pikiran yang sudah terkontaminasi oleh kebencian sektarian.

Kenapa itu bisa terjadi? Bukankah kebudayaan memiliki mekanisme recovery untuk memulihkan dirinya sendiri?

Logikanya begini. Kalau orang sehat dia punya antibodi untuk menangkal bakteri  yang menyerangnya. Tapi kalau dia sudah sakit, maka dia butuh antibiotik.

Jadi maksudnya kebudayaan kita sudah sakit?

Persisnya sudah tidak terurus. Karena kebudayaan kita memang sudah lama tidak dikerjakan dengan serius. Kebudayaan kita dibiarkan terombang-ambing di lautan globalisasi yang ganas. Paling jauh yang kita lakukan adalah penyelamatan budaya-budaya kita sendiri melalui apa yang disebut revitalisasi, kongres kebudayaan, dsb.  Tapi kegiatan-kegiatan semacam itu kalau tidak berhasil merumuskan masa depan Indonesia dengan jelas ya hanya berhenti sebagai proyek saja.

Terakhir, kapan kira-kira kebudayaan milenial itu akan benar-benar hadir di hadapan kita?

Kebudayaan milenial baru terbentuk dengan mapan kalau ia mampu membuat dirinya berbeda secara epistemik dengan kebudayaan-kebudayaan sebelumnya. Jadi kalau sudah ada diskontinuitas yang menampilkan karakter-karakter khusus, di situlah baru kita bisa bicara tentang budaya milenial. Kalau belum, ya nanti saja, hehee…

 

Biodata singkat:
Ahmad Gaus AF lahir di Tangerang, 10 Agustus 1968, dikenal sebagai penulis biografi, esais, dan penyair. Alumnus S1 Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta, dan S2 Universitas Paramadina, Jakarta, ini sehari-hari bekerja di Lembaga Sensor Film (LSF) RI. Ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Penerbit Paramadina, dan hingga sekarang masih mengampu mata kuliah bahasa dan kebudayaan di Swiss German University (SGU), Tangerang, Banten. Ia menulis biografi tokoh-tokoh pluralisme seperti Nurcholish Madjid dan Djohan Effendi. Selain itu ia juga menulis puisi. Buku puisinya yang sudah terbit adalah: Kutunggu Kamu Di Cisadane: Antologi Puisi Esai (2013) dan Senja di Jakarta (2017). Kini ia tengah menempuh program doktor ilmu politik di Universitas Nasional, Jakarta.***

Pewawancara: Tahir, swakarya.com

Sumber: https://swakarya.com/ahmad-gaus-af-kebudayaan-milenial-belum-terbentuk/

 

 

Featured

MATA IBU

ibu-01

Mata Ibu

Dari apakah Tuhan menciptakan mata ibu
Begitu luas hingga mampu menampung isi semesta
Tempat matahari beredar
Dan bulan yang selalu purnama
Bintang-bintang bertaburan di sana

Di dalam mata ibu ada lautan
Tempat aku berlayar menuju pulau tujuan
Kota-kota yang pernah aku kunjungi
Ada di dalamnya

Setiapkali kutatap mata ibu
Aku menemukan potret diriku
Dari bayi hingga tumbuh dewasa
Aku tetaplah kanak-kanak di matanya

Mata ibu tidak pernah terpejam
Walaupun sedang tertidur ia tahu
Ke mana aku berjalan

Mata ibu terbit sebelum fajar
Dan tidak pernah terbenam
Sepanjang siang
Sepanjang malam

Mata ibu lebih terang dari matahari
Karena mata ibu tidak menciptakan bayangan
Sehingga aku tidak bisa bersembunyi dari pandangannya

Mata ibu lebih tajam dari mata pedang
Setiap kali menatapku
Aku tersungkur dengan darah bercucuran
Dan luka-luka yang tak ingin kusembuhkan

Kelak bila tiba masanya 
Aku ingin mati dalam tatapan matanya

Gedung Film, 14/01/19

Featured

Inilah Para Pemenang Lomba Menulis Puisi Natal 2018

PADA tanggal 18 Desember lalu saya mengumumkan “Lomba Menulis Puisi Natal” melalui blog www.ahmadgaus.com yang dibuka sampai tanggal 24 Desember (kemarin). Pengumuman mengenai lomba itu sendiri saya sebar melalui media sosial twitter dan grup-grup WA, selain di blog ini. Tujuan dari lomba ini tiada lain ialah untuk menyambut dan menyemarakkan Natal 2018, dan sebagai tanda kasih saya untuk para sahabat di seluruh tanah air yang tengah bersuka cita merayakan Natal.

Sampai tadi malam (24 Desember Pk. 23.00) saya telah memilih 3 puisi terbaik dari sejumlah puisi yang dikirim ke email saya (gaus.poem@gmail.com). Hasil lomba ini saya umumkan di akun-akun media sosial saya: Gaus Ahmad (FB), Ahmad Gaus (Twitter), gausahmadgaus (Twitter ke-2) dan ahmadgaus68 (IG).

Saya ucapkan selamat kepada para pemenang. Anda berhak atas buku puisi saya “Senja di Jakarta” yang segera akan saya kirimkan setelah anda memberi alamat pengiriman ke email saya (gaus.poem@gmail.com. Terima kasih kepada semua warganet yang telah ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Untuk anda yang belum beruntung mendapatkan hadiah, tidak usah bersedih (huhuhu..)  Insya Allah dalam momen-momen tertentu saya adakan lomba lagi dengan hadiah buku terbaru lagi. (Doakan pada tahun 2019 akan terbit 3 buku terbaru saya (puisi, novel, dan karya akademik). Aminkan dooong.. hehe.

Berikut adalah puisi pemenang lomba yang saya urutkan dengan angka berdasarkan kategori juara 1, juara 2,dan juara 3. Selamat menikmati.

 

(1)

KURAYAKAN NATAL

Karya: Rendy Saselah (Manado)

Kurayakan natal di pelupuk ombak, dalam keriangan masa kecil menarikan riak gelombang utara
tempat leluhur mengaji laut

Pabila hari telah tiba di ujung kelender
serasa aku menjadi seorang bocah yang biasa melarungkan harapan. Dimana yang aku tuju pertama adalah kenangan yang berarak lewat denting lonceng gereja kampung halaman

Tetapi hari sudah membawaku terlampau jauh dari kenangan Sagu dan Ikan Bakar, terlebih dengung suara Ibu melantunkan tembang natal dari balik kelambu kamar tidurku

Oh kasiang e!

Bau garam laut, desir ombak terus saja mengusikku seakan memaksa bahwa aku harus kembali meniup lilin dua puluh lima desember di kampung halaman. Juga menyalakannya di atas kubur Opa dan Omaku dalam penantiannya menunggu Tuhan datang

Kurayakan natal, di pelupuk ombak
di laut yang sama, namun tak ada pasir, hanya bentang beton reklamasi tempat aku memandang kembang api berhamburan. Seketika kutandai utara, meraih senyum Ibu samar menitip kecup lewat arus yang membawaku merantau

Manado, 22 Desember 2018

 

(2)

MALAM NATAL 

— Karya: Samsara Natama (Depok)

 

Malam ini, Maranatha di Bumi.

Sejenak,

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang membara

Sang surya telah bertelut di angkasa

Merendahkan diri, haturkan hormat kepada sang purnama, lagi sang kartika

Yang menjadi saksi bisu atas kisah cinta Sang Raja,

 

Sejenak,

Kala dunia bercerita tentang kilau emas dan perak

Gemerlap lentera dan kehangatan lilin-lilin kecil, diiringi alunan merdu simfoni

Di bawah kemegahan dan kemeriahan langit-langit peneduh

Suara malaikat menaikkan pujian kepada Bapa,

 

Sesaat, waktu terhenti,

Di sekeliling lautan manusia

Yang terlarut dalam ribuan emosi dan jutaan memori

Mengenang suka, merindu asa, melepas jemu

Di tengah keheningan jiwa yang rapuh

Saat itulah aku memandang salib-Mu.

 

Berdiri, mengecap kata dengan bibirku

Duduk, melantunkan nada dalam hatiku

Tetapi, kedua mataku enggan berpaling dari lambang kasih terbesar itu

Yang tak ‘kan pernah ada lagi, dan yang tak sanggup siapa jua sandingi.

 

Sebab, aku sadar

Malam ini tercipta bukan untukku

Bukan juga untuk tercapainya segala angan

Akan penghargaan di atas telapak tangan

Atau bahkan, yang elok tersusun di bawah pohon sang Santa

Apalagi, serendah tuntutan hari besar semata.

 

Malam ini bukan tentang diriku

Natal bukan tentang hadiah yang kuingini, melainkan terwujudnya cara Tuhan menyatakan cinta-Nya kepada dunia

Natal ialah tentang Allah yang turun dari takhta kemuliaan, menjadi sama rendahnya dengan manusia

Natal ialah tentang cara Tuhan mengasihiku.

 

Malam ini,

Aku diam, mengingat janji dan kesetiaan-Nya.

Aku tenang, menikmati damai hadirat-Nya.

Menikmati kasih Tuhan secara utuh, dalam satu tahun langkah kehidupanku, hingga detik ini

Aku sungguh bersyukur atas semua itu.

 

Akhirnya, ketika lonceng berbunyi, aku hendak melangkah lagi

Meninggalkan euforia malam Natal di penghujung hari

Namun, cinta-Nya ‘kan terus menetap sepanjang waktu

Karenanya, kuhendak membagikan cinta itu kepadamu.

Sebab, Dia telah terlebih dulu mengasihiku.

 

Malam ini, Haleluya, Kristus t’lah lahir.

 

 

(3)

MERRY CHRISTMAS, MARZUKI

 — Karya: Citra Racindy (Medan)

 

Lonceng gereja bergema

Baju baru tersusun di lemari

Kulihat wajahmu penuh warna

Hari Natal kini telah menghampiri

 

Kelap kelip rumahmu kini penuh lampu berwarna

Di ruang tamu roti tersusun rapi

Kado-kado kecil terbungkus dengan bentuk yang berbeda

Aku turut merasakan kebahagianmu, Marzuki

 

Perasaan yang sama ketika aku menyambut Idul Fitri

Bahagia, sedih semua bercampur aduk

Bergegas aku pergi ke toko roti

Tok..tok..

Aku sudah di depan rumahmu membawa roti yang empuk

 

 

 

 

Featured

Bangsa Merdeka [Puisi]

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

ELEGI BULAN APRIL [Catatan kelam wabah Corona]

lockdown01

 

Elegi Bulan April

(Catatan kelam wabah Corona)

 

Ahmad Gaus

 

Kuantar Maret ke pintu gerbang dengan tubuh menggigil

Seperti melepas seekor burung merpati yang sakit pilek

Hujan terakhir telah kucatat pada petang hari yang muram

Pemakaman sepi dari orang-orang yang kehilangan keluarga,

kekasih, dan sahabat mereka

Tanah-tanah bercerita, kematian karena wabah penyakit

begitu lengang, begitu tiada

Seperti hidup itu sendiri yang hanya dilalui

 

Kita yang terbiasa merayakan kesedihan tak sanggup

menerima kenyataan bahwa mati adalah kesunyian

Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja

kita mengingkarinya dengan keramaian

dan bunyi-bunyian

 

Kita yang selalu berdoa melalui pengeras suara

kini hanya bisa mengirim doa dari pintu rumah yang tertutup rapat

Kendaraan dikunci, pasar-pasar dikunci, kota-kota dikunci

Besok tidak pasti siapa lagi yang akan diantarkan

oleh wabah ini ke pemakaman

Kita gelisah membayangkannya,

karena kita adalah tawanan paling lemah

dari ketidakpastian.

Ciputat, 01 April 2020

 

 

CORONA (Dewi Kahyangan)

 

Ahmad Gaus

 

Begitu banyak cerita tentang dirinya

Tapi dia tetaplah misteri

Ada yang bilang dia mikro-organisma belaka

Ada yang percaya dia adalah setan yang melarikan diri dari neraka

Atau para dewa yang turun ke bumi untuk kembali menguasai dunia

 

Aku sendiri lebih suka membayangkannya sebagai dewi kahyangan yang

datang berselendang bianglala

Begitu lembut namun perkasa, membentangkan sayapnya

dari timur ke barat

seperti menantang manusia

 

Dewi kahyangan meradang karena dicampakkan

dan kini menjelma kuntum mawar yang mengembara

dalam pikiran manusia

menusukkan duri-durinya dalam tidur mereka

 

Setiap malam orang-orang gelisah membayangkan kematian

kerlip bintang hilang dari pandangan

sajak-sajak cinta terasing dari kehidupan

hanya sosok tak kasat mata yang terbayang

seperti dewi kahyangan dalam cahaya bulan  

berjalan mendekat dan mengatakan ‘aku mencintaimu’

 

Ciputat, 01 April 2020

 

Puisi-puisi di atas dimuat juga dalam:

https://cakradunia.co/news/puisi-puisi-covid-19-ahmad-gaus/index.html#

——————–

Ahmad Gaus, adalah seorang dosen dan penulis. Ia mengajar matakuliah bahasa dan budaya di Swiss German University (SGU), Tangerang. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Kutunggu Kamu di Cisadane (Puisi Esai, 2013), dan Senja di Jakarta (2017).

Jangan Lockdown Cintamu

warga-beraktivitas-menggunakan-masker-di-kawasan-bundaran-hi

JANGAN LOCKDOWN CINTAMU

Karena Corona kau menjaga jarak
denganku
Bukan satu meter, tapi berpuluh-puluh
kilometer
Karena Corona kau bermuram durja
Padahal biasanya engkau selalu penuh
tawa
Karena Corona kau tak mau lagi
kucumbu
Padahal engkau penuh hasrat
menggebu
Aku memahami bahasa cintamu,
walau lebih halus dari virus Corona
Bersabarlah cintaku, sampai Corona
berlalu
Biar saja pemerintah me-lockdown
kota
Asal jangan kau lockdown cintamu

Ciputat 27 Maret ’20

BENARKAH CINTA ITU ADA?

beaach

Benarkah Cinta itu Ada?

Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last.
(Ronan Keating, If Tomorrow Never Comes)

 
Bumi bertanya kepada langit, ‘benarkah ada cinta di antara kita?’
Beribu tahun lamanya langit tidak menjawab
Namun terus mengirimkan airmata
Agar kehidupan di bumi tetap ada

Kalau cinta ada di bibir cakrawala
Aku akan melumatnya hingga berdarah
Agar senja menetes indah
Di tubuh kita

Kalau cinta ada di mata purnama
Aku akan memeras selaputnya yang indah
Agar pagi meneteskan darah
Di jiwa kita

Bahkan seandainya esok hari tak pernah tiba
Dan cinta di dunia ini ternyata tidak pernah ada
Aku tetap ingin bersama

–ahmadgaus

 

 

 

Tangsel Spring

Tangsel

TANGSEL SPRING

Kawan
Pintu gerbang selatan telah dibuka
Matahari telah menunggu lama untuk menyematkan bunga
Pada rambut gadis-gadis jelita
Pada celak mata para pemuda yang tertimbun lumpur peradaban kota

Di kafe-kafe pinggir jalan
Kita biasa berbagi masa depan dalam secangkir kopi hitam
Setiap impian selalu kandas sebelum azan magrib berkumandang

Lampu-lampu jalan bisa kau pindahkan ke tubuhmu
Taman-taman yang indah bisa kau lukis dalam pikiranmu
Tapi impian, tidak
Sebab ia hanya milik segelintir nyonya dan tuan

Aku tidak berbicara tentang kekuasaan
Sebab itu terlalu mewah untuk para gadis dan jejaka yang hanya butuh lapangan pekerjaan
Aku berbicara tentang tipu daya yang berdiri megah
Di lubuk-lubuk kesadaran

Turunlah ke jalan, kawan
Sebab kau tidak akan bisa melihat gelandangan dan pengangguran
Dari lantai atas menara yang menjulang
Juga tumpukan sampah yang menebarkan bau busuk dan penyakit
Tujuh turunan

Kita biasa melepas kejenuhan di taman jajan
Diiringi gitar para pengamen jalanan
Atau tertawa terbahak di kafe-kafe
Di antara dentuman musik cadas Scorpions hingga Iwan Fals — Wind of Change hingga Bento, Bongkar
Tapi kita lupa bahwa telinga punya saluran ke otak
Inilah tragedi kita

Kawan
Sekarang pintu gerbang selatan telah dibuka
Gadis-gadis berhijab atau berambut panjang tergerai
Para pemuda berpeci atau bertato
Orang-orang tua dan anak-anak
Siap berpesta menyambut musim semi yang akan datang

Ciputat, 9 Maret 2020
Ahmad Gaus AF

Sastra Yang Membebaskan

membebaskan-960x570

Catatan Reflektif 8 Tahun Inovasi Puisi Esai Denny JA

Oleh Ahmad Gaus AF *)

Setiap puisi merindukan pembaca. Tapi di mana-mana ia dipenjara oleh bahasa. Maka, apa yang oleh Riffaterre (1978) disebut sebagai dialektika antara teks dan pembaca, sesungguhnya tidak terjadi. Bahkan yang terjadi saat ini justru sebaliknya, yakni tumbuhnya sekat-sekat pemisah (bahasa) yang kian menebal antara puisi dan masyarakat.

Bahasa puisi, terus terang saja, lebih sulit dari bahasa asing. Sebelum memahami sebuah puisi, kita diingatkan oleh semacam adagium bahwa puisi ditulis bukan untuk dipahami tapi untuk dinikmati. Jadi terang bahwa preferensi bahasa seorang penyair sejak mulanya memang otoriter. Dalam pemahaman seperti itu, setiap penyair mengalienasi karya puisinya dari publik, dan sekaligus mendiskriminasi publik melalui bahasa. Pandangan semacam ini ditunjang oleh persepsi keindahan yang eksklusif. Publik dipaksa untuk menikmati sesuatu yang tidak mereka pahami.

Tentu saja tidak setiap ekspresi keindahan (bahasa) harus diperoleh melalui proses memahami. Kitab suci, misalnya, bisa dibaca orang sambil menitikkan air mata walaupun ia tidak memahami sama sekali maknanya. Sebab, meskipun disampaikan melalui bahasa, ayat suci bukan semata-mata aktivitas bahasa melainkan juga aktivitas teologis. Pembaca kitab suci meleburkan dirinya ke wilayah metafisika yang penuh rahasia. Tidak heran bila ayat-ayat suci lebih sering dibiarkan sebagai misteri yang tak terpahami. Pemahaman terhadapnya bahkan dinilai sebagai reduksi dan distorsi.

Namun, di dalam puisi, kasus semacam ini adalah tragedi. Sebab puisi sepenuhnya merupakan aktivitas bahasa. Dan yang dimaksud bahasa di sini ialah gabungan unsur-unsur kata dan konteks atau aktivitas non-linguistik di lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Maka untuk memahami sebuah kata kita harus melihatnya di dalam konteks sosial yang membentuknya. Hubungan antara keduanya oleh Wittgenstein disebut language games (permainan bahasa). Dan di dalam language games inilah bahasa dilihat sebagai aktivitas sosial yang diwujudkan, konkret, dan ekspresif terhadap kebutuhan manusia. Language games tertanam dalam bentuk kehidupan. Membayangkan sebuah bahasa, kata Wittgenstein, berarti membayangkan suatu bentuk kehidupan.

Apa hubungannya dengan puisi? Sebagai aktivitas bahasa, puisi juga merupakan arena language games.  Karena itu, para penyair tidak bisa membangun otonomi keindahan bahasa secara eksklusif di luar konvensi publik, sampai harus mengorbankan penalaran bahasa umum. Jika itu terjadi, maka sebenarnya mereka tengah melakukan praktik monopoli bahasa atas nama estetika sastra. Dalam logika itu, perkembangan bahasa menjadi sangat elitis karena dikendalikan oleh rezim kesusastraan yang otoriter.

***

Hampir semua genre puisi modern memiliki karakteristik seperti itu, kecuali puisi esai. Secara historis puisi esai dilahirkan sebagai sebuah gerakan sastra untuk mengembalikan puisi ke pangkuan masyarakat. Sebab disadari, selama ini puisi dan masyarakat saling menjauh akibat “tembok bahasa” yang terpancang di antara keduanya, yang diciptakan oleh para penyair.

Puisi esai lahir pada 2012 lalu dengan terbitnya buku Atas Nama Cinta karya Denny JA yang memuat lima buah puisi esai bertemakan diskriminasi berdasarkan perbedaan ras, sekte agama, orientasi seksual, dan pandangan agama. Dari segi bentuknya puisi esai berbeda dengan puisi lirik. Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan perasaan melalui simbol dan metafor. Sedangkan puisi esai mengungkap realitas melalui bahasa konvensional, karena itu mudah dimengerti oleh pembaca. Dalam sejarah perpuisian di Indonesia, puisi lirik merupakan puisi arus utama, dan telah menjadi paradigma dalam penulisan puisi. Puisi esai menawarkan genre baru penulisan puisi yang berusaha keluar dari arus utama tersebut dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.

Menurut perintisnya, Denny JA, kelahiran puisi esai diilhami oleh tulisan John Barr, pemimpin Poetry Foundation, Amerika Serikat, yang menerbitkan majalah Poetry: A Magazine of Verse. Dalam tulisannya yang berjudul American Poetry in New Century (2006), Barr menyatakan bahwa puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisan puisi mengalami stagnasi, dan tak ada perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi. Menurut Barr, para penyair asik masyuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas. Barr merindukan puisi dan sastra seperti di era Shakespeare. Saat itu, puisi menjadi magnet yang dibicarakan, diapresiasi publik, dan bersinergi dengan perkembangan masyarakat yang lebih luas.

Jadi sekali lagi, puisi esai lahir sebagai kritik atas kecenderungan puisi modern yang mengalienasi diri dari publik, dan mendiskriminasi publik melalui bahasa. Dulu ada penyair besar yang membuat kredo puisi “membebaskan kata dari makna” sehingga puisi menjadi mantra. Kini, puisi esai “mengembalikan makna ke kata” sehingga puisi menjadi bahasa. Dulu, seorang penyair mengatakan tentang puisi bahwa “yang bukan penyair tidak ambil bagian”. Kini, puisi esai membuat kredo “yang bukan penyair boleh ambil bagian.” Dan faktanya, ratusan penulis puisi esai yang telah menerbitkan buku memang bukanlah penyair; mereka adalah guru, siswa, aktivis, wartawan, buruh, bahkan juga ibu rumah tangga.

Puisi esai adalah puisi panjang berbabak dan mengandung konflik layaknya sebuah naskah drama untuk dipentaskan. Puisi esai mengangkat isu-isu sosial yang bergetar dalam dinamika masyarakat Indonesia kontemporer. Namun, bukan isu itu sendiri tampaknya yang menimbulkan kontroversi, melainkan penamaannya sebagai puisi esai yang dianggap orang sebagai janggal dan mengada-ada. Selama ini, dalam anggapan umum, puisi dan esai adalah nama yang masing-masing memiliki definisi tersendiri. Keduanya telah berdiri sebagai bangunan ontologis yang mapan. Menyatukan keduanya begitu saja adalah tindakan sewenang-wenang. Tulisan ini tidak akan menyinggung lagi kontroversi tersebut karena sudah banyak ditulis orang, di antaranya tulisan-tulisan yang terhimpun dalam buku Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia (2014) dan Pergolakan Puisi Esai (2018).

Buku puisi esai Atas Nama Cinta diterbitkan sebagai salah satu program Indonesia Tanpa Diskriminasi yang juga diinisiasi oleh Denny JA. Karena itu, isi buku tersebut ialah isu-isu seputar diskriminasi agama, gender, ras, dan orientasi seksual. Semua isu tersebut, menurut Denny, tidak cocok bila disampaikan dalam tulisan biasa atau tulisan akademik karena hanya akan bernilai informatif belaka. Sedangkan ia menginginkan sebuah tulisan yang menyentuh hati, menggugah rasa kemanusiaan sesuai dengan isu yang diangkatnya. Ia membutuhkan medium lain. Dan ia memilih puisi. Namun, puisi-puisi yang ia kenal selama ini dirasa kurang bisa menampung gejolak batin yang mendesak-desak untuk segera ditumpahkan. “Saya seperti sedang hamil tua,” ujarnya, saat mencari medium untuk menyalurkan kegelisahannya menyaksikan kasus-kasus diskriminasi yang belakangan marak terjadi. Dan sebagaimana diakuinya sendiri, melalui suatu permenungan yang panjang, akhirnya ia menemukan sebuah medium yang kemudian ia beri nama puisi esai. Sebagaimana umumnya karya sastra, puisi esai adalah fiksi. Namun, Denny JA mencantumkan fakta peristiwa kongkrit dalam puisi-puisi esainya, yang dibuat dalam catatan kaki, sehingga secara keseluruhan puisi esai dapat dibaca seperti  sebuah karya  semi dokumenter. Jelas ini tidak lazim.

Kalaupun puisi konvensional bisa saja mencantumkan catatan kaki, biasanya catatan kaki itu hanya difungsikan untuk menuliskan keterangan istilah atau hal-hal teknis tertentu. Tapi dalam puisi esai, catatan kaki ialah bagian integral dari tubuh puisi. Betapa tidak, kisah-kisah yang diangkat di dalam puisi esai justru dibangun dari fakta peristiwa yang ada di dalam catatan kakinya. Hal ini berbanding terbalik dengan karya-karya akademik dimana gagasan pokok membangun catatan kaki, dengan demikian catatan kaki hanya sebagai pelengkap, bahkan dalam suatu tulisan ilmiah popular catatan kaki itu bisa saja dihilangkan demi efisiensi atau tujuan lainnya. Dalam puisi esai tidak bisa. Tubuh puisi dan catatan kakinya adalah satu kesatuan. Seperti raga dan jiwanya. Jika salah satunya hilang maka ia tidak menjadi puisi esai. Bahkan tidak menjadi puisi, dan tidak pula menjadi esai. Itulah ke-“celaka”-an puisi esai yang dituduhkan oleh banyak orang. Tapi tidak setiap ke-”celaka”-an adalah buruk.  Dalam kasus puisi esai, jelas sekali bahwa kritik dan kecaman yang diarahkan kepadanya, termasuk dan terutama kepada Denny JA selaku penggagasnya, justru membuatnya semakin matang dan berwibawa.

Kredo puisi esai, “mengembalikan puisi ke pangkuan masyarakat” dan “yang bukan penyair boleh ambil bagian”, sejatinya merupakan concern segenap masyarakat bahasa yang mendambakan kembalinya jiwa bahasa yang selama ini dianggap menghilang. Jiwa atau estetika bahasa telah terkubur oleh gejala birokratisasi bahasa dan alienasi puisi dari masyarakat. Yang terakhir ini merupakan ironi yang nyaris tidak pernah disadari, sebab seharusnya puisi berperan merawat dan mengembangkan estetika bahasa publik. Namun yang terjadi, puisi justru menjadi aktor dalam diskriminasi estetika bahasa publik. Puisi juga tidak mampu melawan kecenderungan birokratisasi bahasa oleh rezim bahasa yang berpotensi mematikan kreativitas.

***

Sebenarnya sudah lama sastra kita, dan khususnya puisi, merampas keindahan bahasa publik. Apa yang disebut indah dalam bahasa akan selalu dirujuk ke puisi. Di luar puisi tidak ada keindahan bahasa. Di luar puisi hanya laporan penelitian atau paper akademik dengan bahasa yang keras, percakapan yang sumir, pidato yang tak bermutu, debat politik yang garing, lirik-lirik lagu yang buruk, dst., dst.

Sastra kita, lagi-lagi khususnya puisi, adalah satu-satunya pemegang hak cipta keindahan bahasa. Dalam paradigma estetika yang eksklusif dan otoriter itulah para penyair memisahkan sastra dari bahasa publik. Akibatnya, bahasa publik tumbuh terpisah di luar wilayah kesusastraan dan menjadi wilayah tersendiri di bawah rezim bahasa negara yang berkutat pada aturan kuno: “bahasa yang baik dan benar”. Ini jelas sebuah anomali. Sebab dalam sejarahnya, bahasa dan sastra selalu menyatu dan menjadi milik masyarakat seperti dalam representasi pantun, syair, dan peribahasa. Tapi ketiganya telah menghilang pula dari bahasa kita.

Akibat lebih jauh dari terpisahnya bahasa dan sastra ialah, bahasa kita menjadi kaku dan “kering”. Belum lagi orientasi politik bahasa yang cenderung birokratis. Sekadar memasukkan tiga perubahan sepele saja, misalnya, negara harus mengeluarkan peraturan yang mengubah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yang telah berlaku sejak 1972, menjadi EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) [Peraturan Menteri dan Kebudayaan RI Nomor 50 Tahun 2015].. Ini menunjukkan bahwa rezim bahasa lebih banyak berpikir tentang “peraturan”.

Politik “bahasa yang baik dan benar” adalah regulasi yang berorientasi pada penyeragaman. Seperti halnya rezim sastra, rezim bahasa pun tak kurang kejamnya dalam menindas bahasa masyarakat. Rezim bahasa tidak peduli kebiasaan lidah masyarakat yang selalu membunyikan konsonan ‘p’ dalam “mempengaruhi”, “mempunyai”, “mempesona”, dll.. Atas nama aturan semua bunyi “p” yang mengikuti awalan me- harus diluluhkan (memengaruhi, memunyai, memesona). Cara pengucapan yang baru itu sungguh asing di lidah masyarakat yang sejak duduk di bangku sekolah terbiasa menyanyikan lagu, “Aku seorang kapiten, mem[p]unyai pedang panjang.” Rezim bahasa telah mengubah bentukan kata “terdiri dari” menjadi “terdiri atas”, “sekitar 10 meter” menjadi “sekira 10 meter”. Tidak peduli bahwa semua itu sudah menjadi bahasa tutur yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Kalau ada orang menulis “Selamat HUT RI yang ke-74” dia akan dibilang bodoh karena menganggap ada 74 negara Indonesia. Tapi apa benar ada orang sebodoh itu, yang menganggap ada begitu banyak Indonesia? Bukankah yang dia maksud adalah HUT RI, dan bukan RI-nya. Jadi siapa yang bodoh?

Maka, alih-alih tumbuh dengan sehat, bahasa Indonesia mengalami involusi — seperti tidak tahu harus berkembang ke mana. Ia tidak bisa digunakan dalam pergaulan, sehingga anak-anak muda merasa perlu menciptakan bahasa sendiri (bahasa gaul). Perkembamgan bahasa dalam paradigma “baik dan benar” pada gilirannya juga menjadi momok bagi masyarakat. Dan akhirnya melahirkan perlawanan diam-diam. Bahasa alay, misalnya, tumbuh di kalangan remaja. Begitu juga bahasa pergaulan media sosial seperti mager, gabut, santuy, kepo, pansos, dll., yang bahkan telah menjadi bahasa masyarakat. Film-film kita juga tidak terlihat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Begitu juga lirik-lirik lagu yang kualitasnya kian hari kian buruk. Sudah tidak baik, tidak benar, tidak indah pula. Padahal dulu, lagu adalah puisi, dan puisi bisa diadaptasi atau langsung dijadikan lagu yang popular, dinyanyikan oleh masyarakat.

Mengapa sekarang kita sulit sekali mendapatkan lirik lagu yang memenuhi kaidah baik dan benar (ragam baku) sekaligus indah (ragam sastra) dan disukai masyarakat, seperti lagu-lagu Bimbo, Franky & Jane, Ebiet G. Ade, Chrisye, Iwan Fals, M. Mashabi, Rhoma Irama? Jawabannya karena bahasa telah dipisahkan dari sastra secara struktural — seperti pemisahan TNI-Polri. Pendidikan bahasa pada gilirannya serupa belaka dengan latihan baris-berbaris. Ketika orang mencipta lagu, ia hanya berpikir tengah menggunakan bahasa sebagai alat komunkasi. Tidak menyadari bahwa ia tengah menulis puisi. Tatkala orang membuat film, ia hanya berpikir tentang cinematografi, tidak berpikir bahwa film adalah juga karya sastra yang seharusnya disajikan dalam bahasa puisi. Film-film kita tidak maksimal mengeksplorasi kekayaan estetik bahasa Indonesia. Akibatnya film-film kita gagal menyajikan sentuhan seni yang paripurna, sebab kita hanya disuguhi cerita. Berbeda dengan film-film produksi luar negeri yang mampu mengintegrasikan kecanggihan cerita, sinematografi, dan sekaligus keindahan bahasa.

Logika ini bisa diteruskan ke bentuk-bentuk lain ekspresi bahasa seperti acara-acara televisi, pidato pejabat, debat politik, khutbah jumat, dll., yang semuanya tidak lagi merefleksikan keindahan bahasa Indonesia. Fungsi bahasa menjadi terbatas. Eksplorasinya pun sangat miskin. Krisis estetika dalam bahasa publik tampaknya tak terelakkan. Hal ini, sekali lagi, terjadi akibat proses alienasi puisi dari masyarakat oleh rezim sastra, dan pada saat bersamaan menguatnya birokratisasi bahasa masyarakat oleh rezim bahasa.

***

Kalau puisi esai berhasil dengan dwitunggal kredonya: “mengembalikan puisi ke pangkuan masyarakat” dan “yang bukan penyair boleh ambil bagian”, maka ada harapan bahwa bahasa akan tumbuh dengan sehat. Bahasa dan sastra akan kembali menyatu, dan keduanya kembali menjadi milik masyarakat. Dulu masyarakat kita adalah pencipta (kreator) bahasa, seperti yang terlihat dalam produksi pantun, syair, peribahasa, dll. Sekarang masyarakat hanya sebagai pengguna bahasa. Namun itu dapat dimaklumi. Karena dalam posisi ketertindasan struktural yang diciptakan oleh rezim sastra dan rezim bahasa, masyarakat tidak akan berminat pada dunia kreativitas, dan akan mendahulukan hal-hal yang lebih penting dalam hidup mereka seperti beras, minyak goreng, listrik, iuran BPJS, dan sejenisnya.

Puisi esai lahir untuk membebaskan masyarakat dari ketertindasan itu. Dengan merintis puisi esai, Denny JA telah membuka pintu ijtihad dalam sastra (dan khususnya puisi), yang selama ini dianggap tertutup rapat. Di ruang yang kini telah terbuka itu, berbagai kemungkinan baru dapat terjadi di tengah masyarakat dan dilakukan oleh masyarakat sendiri menyangkut kreativitas dalam bahasa maupun sastra.

Denny JA selaku perintis puisi esai mungkin orang yang paling bahagia saat ini, sebab inovasinya di bidang sastra itu telah membuahkan hasil. Delapan tahun silam, ketika ia menerbitkan buku puisi esainya yang pertama, Atas Nama Cinta (2012), ia menerima berbagai cemooh dan hinaan. Dan belakangan tudingan itu semakin deras dan keras ketika namanya masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014). Ia dituduh berada di balik proyek buku yang menghebohkan itu. Tapi ia bergeming, dan terus saja menulis, sambil memperluas kemungkinan teoritis baru bagi puisi esai yang sudah kadung dilahirkannya. Belakangan ia bahkan menyebut puisi esai sebagai genre baru sastra. Tentu saja dengan sejumlah argumen yang cukup meyakinkan. Tak pelak, serangan terhadap dirinya atas klaim tersebut kian menjadi-jadi. Lagi-lagi ia bergeming. Alih-alih surut langkah menghadapi kritik dan cercaan, ia malah membuat proyek nasional penulisan puisi esai yang melibatkan 170 penulis dari 34 propinsi di Indonesia.

Gagasan ini mendapat sorotan tajam dan sekaligus penolakan dari berbagai komunitas sastra karena dianggap manipulasi sastra. Sejumlah petisi dibuat. Tidak tanggung-tanggung, petisi itu disampaikan pula kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Para penandatangan petisi meminta pemerintah untuk ikut menghentikan proyek manipulatif tersebut. Menyikapi derasnya penolakan tersebut, Denny JA dengan santai bertanya, di mana salahnya orang berkarya? Dan apa urusannya dengan intervensi pemerintah, bukankah kebebasan berkreasi merupakan milik paling berharga para seniman, mengapa harus diserahkan kepada pemerintah?

Tahun lalu buku-buku tersebut diterbitkan dan diluncurkan, terdiri dari 34 buku puisi esai dari 34 provinsi. Jumlah penulis yang terlibat adalah 176 orang, dan masing masing menulis puisi esai dengan tema kearifan lokal masing-masing provinsi. Dari 34 buku puisi esai di setiap provinsi akan lahir 34 skenario film dengan durasi @50 menit. Ini serial film mini pertama yang semua skenarionya berdasarkan puisi esai.

Dalam menyemarakkan gerakan puisi esai, berbagai lomba juga telah diselenggarakan, yaitu lomba menulis puisi esai tingkat Asean yang karya-karya pemenangnya sudah dibukukan; lomba resensi buku puisi esai terbesar dan pertama yang semua resensinya dimuat di Facebook, yang juga sudah diterbitkan dalam sebuah buku; dan lomba kritik sastra pertama soal puisi esai yang menggunakan Vlog. Selain itu telah terbit pula 5 (lima) buku puisi esai karya para pelajar SMA dari lima pulau. Juga telah diluncurkan puisi esai hasil karya 10 penyair Indonesia dan Malaysia yang secara khusus mengangkat isu soal hubungan 2 negara. Jadi total telah terbit 80 buku puisi esai.

Pada 2020 ini genap 8 tahun sudah usia puisi esai. Berbagai reaksi pro-kontra masih terus bermunculan, seakan menyediakan ruang bagi dirinya untuk diuji dalam laboratorium sejarah sastra. Sejauh ia mampu menyerap berbagai kritik itu menjadi vitamin, sejauh itu pula ia akan tumbuh dan berkembang. Faktanya sudah 8 tahun terakhir polemik seputar puisi esai terus bergulir. Kehebohannya seakan tak kunjung usai. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kegaduhan yang ditimbulkan oleh puisi esai dan perintisnya, Denny JA, merupakan yang paling keras sejak kemerdekaan. Diakui atau tidak, Denny JA akhirnya menjadi fenomena tersendiri dalam sastra. Selain karena kegaduhan-kegaduhan itu, juga karena visinya tentang masa depan sastra, dan khususnya puisi, yang ia kaitkan dengan era baru yang meniscayakan kebutuhan pada puisi genre baru, dengan kemasan baru, cara penyajian baru, dan melibatkan seni marketing dalam pemasaran produknya, sehingga lebih dikenal masyarakat. Semua itu fenomena baru, belum pernah ada dalam sastra Indonesia. []

*) Ahmad Gaus AF, adalah dosen Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU) Tangerang, dan salah seorang anggota tim penulis buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014). Buku puisinya yang sudah terbit adalah Istana Angin (antologi bersama, 2011), Kutunggu Kamu di Cisadane (antologi tunggal, 2013) dan Senja di Jakarta (antologi tunggal, 2017).

PANGGILAN BENDERA

bendera3

Panggilan Bendera

Puisi Ahmad Gaus

Bendera di halaman rumahku
berkibar ragu-ragu
mungkin karena ia tidak tahu
kenapa harus berkibar
dan untuk apa
untuk siapa

Bendera di halaman rumahku
berkibar malu-malu
mungkin karena ia merasa asing
berada di antara bendera lain
yang lebih tinggi darinya
bendera partai
bendera golongan
bendera isme
bendera sekte

Benderaku gamang
memandang ke bawah tanah
takut terjatuh
mendongak ke atas langit
terlalu jauh
sebab tanah tak lagi basah oleh darah
putra-putri ibu pertiwi yang mati
mempertahankan negeri
langit tak lagi hitam
oleh asap dentuman meriam

Sejarah telah pergi
benderaku ditinggal sendiri
anak-anak negeri mengibarkan
bendera mereka sendiri-sendiri

Akhirnya benderaku tak mau berkibar
hanya melambai-lambai
seperti memanggilku dan
berkata, “Turunkan aku segera
dan sembunyikan
dalam lemari!”

 

Bumi Pertiwi, 14/8/17

SEBUAH KAMAR

room2

SEBUAH KAMAR

Akhirnya kau pergi juga
kulipat daun pintu dan diam-diam
kumasukkan ke dalam tasmu
suatu hari nanti kau akan teringat
sebuah kamar di kepalaku
yang pintunya selalu terbuka — menghadap ke laut
tempat kau biasa berbaring seperti turis asing
sambil menikmati suara ombak
burung-burung camar menarik-narik rambutmu
hingga kau tertidur dan bermimpi
sedang berada di salon kecantikan
kau berdandan begitu meriah
seperti kota yang tengah berulang tahun.

“Aku pergi sekarang,” Katamu melepas pelukan.
“Duniaku menunggu di sana.”

Kota telah bersiap menyambutmu
berhias dengan lampu dari kunang-kunang
jalan-jalannya terbuat dari lidah orang-orang
yang tak kau kenal
gedung-gedungnya menjulang tinggi
melebihi keangkuhanmu
masuklah ke sana melalui pintu yang kuletakkan
di dalam tasmu, dan carilah kamar kosong
yang menghadap ke laut.

 

Jakarta, Juli 2019
IG: ahmadgaus68

 

 

 

SARJANA TUA

Ini bukan lagu satire Iwan Fals yang menohok sarjana muda pencari kerja setelah empat tahun lamanya bergelut dengan buku, dan ternyata ijazahnya sia-sia…!!

Ini sarjana tua yang benar-benar menghabiskan waktu belasan tahun lamanya hanya untuk meraih gelar es dua.

Alhamdulillah ala kulli hal..

391A8205

Foto: Prosesi wisuda saya pada 27 April 2019 di Auditorium  Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, oleh Rektor Prof Dr Firmansjah.

Barangkali ada yang penasaran dengan tesis saya, berikut adalah abstraknya

GERAKAN PEMBARUAN PEMIKIRAN ISLAM NURCHOLISH MADJID DAN PARA PENERUSNYA: Analisis Wacana Kritis atas Lahirnya Gerakan Post-Pembaruan.

“Gerakan pembaruan pemikiran Islam yang dipelopori oleh Nurcholish Madjid pada dasawarsa 1970-an dan 1990-an menegaskan dua agenda utama yaitu: pembaruan teologi politik dan pembaruan keimanan. Penelitian ini ingin melihat bagaimana gerakan tersebut terbentuk, sejauhmana ia mampu memengaruhi wacana publik pada masanya dan masa sesudahnya, dan mampukah ia melahirkan gerakan penerusnya, atau gerakan yang melampauinya baik dari segi bentuk maupun substansinya.”

“Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nurcholish Madjid telah berhasil dengan gemilang membangun praktik diskursif yang membuat gerakan dan agenda pembaruannya menjadi wacana dominan dan memberi pengaruh yang sangat besar baik dalam debat publik keagamaan selama tiga dasawarsa terakhir maupun dalam kehidupan sosial politik dan keagamaan kaum Muslim. Selain itu, gerakan ini juga telah melahirkan generasi penerus di masa ketika formasi-formasi diskursif telah berubah, relasi-relasi kuasa diruntuhkan, dan kebenaran dikondisikan kembali.”

“Generasi ini melanjutkan dan sekaligus merevisi beberapa bagian dari gagasan pembaruan Nurcholish melalui strategi diskursif yang berbeda, sehingga dapat disebut sebagai gerakan Post-Pembaruan.”

Kata Kunci: Gerakan Pembaruan, Nurcholish Madjid, Analisis Wacana Kritis, Gerakan Post-Pembaruan

Jumlah halaman: 218+ix
Daftar pustaka: 123 (1970 – 2018)

Tesis ini sedang saya kembangkan menjadi sebuah naskah buku. Untuk keperluan itu judulnya saya ubah (lihat daftar isi di bawah). Sengaja saya infokan di sini, siapa tahu ada penerbit yang melihat dan tertarik untuk menerbitkannya. Kalau tidak, ya tidak apa-apa juga. Saya akan simpan saja untuk kenang-kenangan anak-cucu.

Salam hormat
AHMAD GAUS

Outline buku

GERAKAN POST-PEMBARUAN:
Arus Besar Reformasi Pemikiran Islam Pasca Nurcholish Madjid

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II NURCHOLISH MADJID DAN GERAKAN PEMBARUAN

Pemikiran Islam

Sikap Politik

Gerakan Pembaruan

BAB III DUA AGENDA PEMBARUAN NURCHOLISH MADJID

Pembaruan Teologi Politik

Pembaruan Keimanan

Pengaruh Gerakan Pembaruan

BAB IV GERAKAN POST-PEMBARUAN

Jaringan Islam Liberal

Fiqih Lintas Agama

Membela Kebebasan Beragama

BAB V PEMIKIRAN POST-NURCHOLISH

Tradisi Nurcholishian

Neo-Nurcholishme

Nurcholish Kanan Vs Nurcholish Kiri

Komposisi dan Prospek Nurcholish Tengah

Para Pemikir Post-Nurcholish

BAB VI PENUTUP

Kesimpulan dan Rekomendasi

 

Note:

Kalau ada penerbit tertarik menerbitkan buku ini silakan hubungi saya di nomor berikut ini: 0857 5043 1305

 

 

 

 

 

Ahmad Wahib dan Pergolakan Pemikiran Islam

Wahib
Ahmad Wahib adalah nama yang sangat sering disebut ketika kita membicarakan perkembangan pemikiran Islam. Siapakah dia? Seberapa menarik pemikiran-pemikirannya sehingga ia tetap dikenang sebagai pemberontak pemikiran dan namanya menjadi legenda? Dan mengapa penting sekali “menghidupkan kembali” Ahmad Wahib dalam diskursus keislaman kita sekarang?
Dalam video ini, Ahmad Gaus AF mengupasnya untuk Anda. #AhmadWahib #AhmadGaus #PemikiranIslam #Islam
Wahib 3
Wahib 2
Salam,
Ahmad Gaus

Politik Berwajah Agama

Berapa banyak anda kehilangan teman dan saudara selama Pilpres kemarin? Berapa dalam luka yang ditorehkan oleh kebencian akibat beda pilihan?

Ideologisasi politik elektoral membuat orang bersikap irasional dan mendorongnya menciptakan musuh-musuh imajiner. Kehidupan kita yang semula baik-baik saja, tiba-tiba berantakan dihempas badai politik berbungkus isu agama yang menjadi sangat absurd. Pesta demokrasi tiba-tiba berubah menjadi perjuangan Islam. Siapa yang tidak satu kubu dengan kita, imannya tidak sempurna.

Dan kini, ketika rakyat masih berkubang dalam permusuhan akibat “perang badar”, para politisi penjual agama itu sdh bagi-bagi kekuasaan, sebagian sudah siap-siap masuk senayan tanpa menengok lagi ke belakang; tanpa mempedulikan rasa sakit sosial akibat politik pecah belah yang mereka lakukan.

Lalu apa yang harus kita lakukan ke depannya kalau begitu?

Simak video berikut yang dibuat oleh demokrasi.id