Posted by: Ahmad Gaus | December 25, 2018

Inilah Para Pemenang Lomba Menulis Puisi Natal 2018

PADA tanggal 18 Desember lalu saya mengumumkan “Lomba Menulis Puisi Natal” melalui blog www.ahmadgaus.com yang dibuka sampai tanggal 24 Desember (kemarin). Pengumuman mengenai lomba itu sendiri saya sebar melalui media sosial twitter dan grup-grup WA, selain di blog ini. Tujuan dari lomba ini tiada lain ialah untuk menyambut dan menyemarakkan Natal 2018, dan sebagai tanda kasih saya untuk para sahabat di seluruh tanah air yang tengah bersuka cita merayakan Natal.

Sampai tadi malam (24 Desember Pk. 23.00) saya telah memilih 3 puisi terbaik dari sejumlah puisi yang dikirim ke email saya (gaus.poem@gmail.com). Hasil lomba ini saya umumkan di akun-akun media sosial saya: Gaus Ahmad (FB), Ahmad Gaus (Twitter), gausahmadgaus (Twitter ke-2) dan ahmadgaus68 (IG).

Saya ucapkan selamat kepada para pemenang. Anda berhak atas buku puisi saya “Senja di Jakarta” yang segera akan saya kirimkan setelah anda memberi alamat pengiriman ke email saya (gaus.poem@gmail.com. Terima kasih kepada semua warganet yang telah ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Untuk anda yang belum beruntung mendapatkan hadiah, tidak usah bersedih (huhuhu..)  Insya Allah dalam momen-momen tertentu saya adakan lomba lagi dengan hadiah buku terbaru lagi. (Doakan pada tahun 2019 akan terbit 3 buku terbaru saya (puisi, novel, dan karya akademik). Aminkan dooong.. hehe.

Berikut adalah puisi pemenang lomba yang saya urutkan dengan angka berdasarkan kategori juara 1, juara 2,dan juara 3. Selamat menikmati.

 

(1)

KURAYAKAN NATAL

Karya: Rendy Saselah (Manado)

Kurayakan natal di pelupuk ombak, dalam keriangan masa kecil menarikan riak gelombang utara
tempat leluhur mengaji laut

Pabila hari telah tiba di ujung kelender
serasa aku menjadi seorang bocah yang biasa melarungkan harapan. Dimana yang aku tuju pertama adalah kenangan yang berarak lewat denting lonceng gereja kampung halaman

Tetapi hari sudah membawaku terlampau jauh dari kenangan Sagu dan Ikan Bakar, terlebih dengung suara Ibu melantunkan tembang natal dari balik kelambu kamar tidurku

Oh kasiang e!

Bau garam laut, desir ombak terus saja mengusikku seakan memaksa bahwa aku harus kembali meniup lilin dua puluh lima desember di kampung halaman. Juga menyalakannya di atas kubur Opa dan Omaku dalam penantiannya menunggu Tuhan datang

Kurayakan natal, di pelupuk ombak
di laut yang sama, namun tak ada pasir, hanya bentang beton reklamasi tempat aku memandang kembang api berhamburan. Seketika kutandai utara, meraih senyum Ibu samar menitip kecup lewat arus yang membawaku merantau

Manado, 22 Desember 2018

 

(2)

MALAM NATAL 

— Karya: Samsara Natama (Depok)

 

Malam ini, Maranatha di Bumi.

Sejenak,

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang membara

Sang surya telah bertelut di angkasa

Merendahkan diri, haturkan hormat kepada sang purnama, lagi sang kartika

Yang menjadi saksi bisu atas kisah cinta Sang Raja,

 

Sejenak,

Kala dunia bercerita tentang kilau emas dan perak

Gemerlap lentera dan kehangatan lilin-lilin kecil, diiringi alunan merdu simfoni

Di bawah kemegahan dan kemeriahan langit-langit peneduh

Suara malaikat menaikkan pujian kepada Bapa,

 

Sesaat, waktu terhenti,

Di sekeliling lautan manusia

Yang terlarut dalam ribuan emosi dan jutaan memori

Mengenang suka, merindu asa, melepas jemu

Di tengah keheningan jiwa yang rapuh

Saat itulah aku memandang salib-Mu.

 

Berdiri, mengecap kata dengan bibirku

Duduk, melantunkan nada dalam hatiku

Tetapi, kedua mataku enggan berpaling dari lambang kasih terbesar itu

Yang tak ‘kan pernah ada lagi, dan yang tak sanggup siapa jua sandingi.

 

Sebab, aku sadar

Malam ini tercipta bukan untukku

Bukan juga untuk tercapainya segala angan

Akan penghargaan di atas telapak tangan

Atau bahkan, yang elok tersusun di bawah pohon sang Santa

Apalagi, serendah tuntutan hari besar semata.

 

Malam ini bukan tentang diriku

Natal bukan tentang hadiah yang kuingini, melainkan terwujudnya cara Tuhan menyatakan cinta-Nya kepada dunia

Natal ialah tentang Allah yang turun dari takhta kemuliaan, menjadi sama rendahnya dengan manusia

Natal ialah tentang cara Tuhan mengasihiku.

 

Malam ini,

Aku diam, mengingat janji dan kesetiaan-Nya.

Aku tenang, menikmati damai hadirat-Nya.

Menikmati kasih Tuhan secara utuh, dalam satu tahun langkah kehidupanku, hingga detik ini

Aku sungguh bersyukur atas semua itu.

 

Akhirnya, ketika lonceng berbunyi, aku hendak melangkah lagi

Meninggalkan euforia malam Natal di penghujung hari

Namun, cinta-Nya ‘kan terus menetap sepanjang waktu

Karenanya, kuhendak membagikan cinta itu kepadamu.

Sebab, Dia telah terlebih dulu mengasihiku.

 

Malam ini, Haleluya, Kristus t’lah lahir.

 

 

(3)

MERRY CHRISTMAS, MARZUKI

 — Karya: Citra Racindy (Medan)

 

Lonceng gereja bergema

Baju baru tersusun di lemari

Kulihat wajahmu penuh warna

Hari Natal kini telah menghampiri

 

Kelap kelip rumahmu kini penuh lampu berwarna

Di ruang tamu roti tersusun rapi

Kado-kado kecil terbungkus dengan bentuk yang berbeda

Aku turut merasakan kebahagianmu, Marzuki

 

Perasaan yang sama ketika aku menyambut Idul Fitri

Bahagia, sedih semua bercampur aduk

Bergegas aku pergi ke toko roti

Tok..tok..

Aku sudah di depan rumahmu membawa roti yang empuk

 

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | August 28, 2018

Bangsa Merdeka [Puisi]

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | May 17, 2019

KAMU DAN BUKU

Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei 2019

Gambar mungkin berisi: 1 orang
KAMU DAN BUKU

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku
Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku
Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman
Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.

Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu
Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan
Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu
Sebab waktuku tidak akan cukup.

Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu
Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain
Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks
Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan
Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu
Tapi itu salah kamu juga, sih
Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu
Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.

Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial
Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku
Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat
Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks

Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran
Banyak penerbit sudah gulung tikar
Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah

Tapi itu hanya kesedihanku belaka
Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.

Gedung Film, 17 Mei 2019
Ahmad Gaus

 

Posted by: Ahmad Gaus | May 9, 2019

Dalam Fana

01-fana

 

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
aku adalah debu purba
dihempas angin negeri-negeri tua
mencari tempatku di alam semesta
namun tak ada

aku adalah setitik air
berkelana mencari samudera
ingin melebur dalam keluasannya
namun tak sampai jua

kuikuti jalan fana
dalam fana wujudku tiada
aku melihat tidak dengan mata
mendengar tidak dengan telinga
berkata tidak dengan mulut
meraba tidak dengan tangan
mencium tidak dengan hidung
sebab indraku terputus
segala yang ada pupus

pikiranku sirna karena aku tidak membutuhkannya
perasaanku sirna karena aku tidak mengindahkannya
pikiran dan perasaan membuatku
terpenjara dalam ruang dan waktu
sedang burung-burung jiwaku
datang dan pergi tak kenal waktu

aku tidak hidup di bawah langit
aku tidak hidup di atas bumi
sebab langit dan bumi tidak ada
ruang dan waktu tidak ada
dan dalam tidak ada apa-apa
hanya DIA yang mutlak ada

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
bersama Sang Ada

Puisi: Ahmad Gaus

02-fana

Kultum Ramadan di Gedung Film, Jl. MT Haryono Kav. 47-48, Jakarta, 09 Mei 2019

 

Posted by: Ahmad Gaus | April 17, 2019

Tuhan Tidak Bermain Dadu

Dice

 

TUHAN TIDAK BERMAIN DADU

Tuhan ada di antara anak-anak yang berkumpul untuk bermain kelereng
Mula-mula, Dia membantu mereka menarik garis batas pelemparan dengan cermat
Lalu memastikan kelereng-kelereng yang akan dibidik berada di titik gravitasi agar tidak tergelincir ke lubang hitam
Atau berbenturan dengan planet-planet lain di jagat raya.

Ketika aturan sudah dibuat, Dia tinggalkan anak-anak itu karena tidak ingin mengusik kegembiraan mereka.

Kemudian Dia pergi ke tanah lapang untuk menyaksikan anak-anak lain yang sedang asik bermain layang-layang
Tidak ada aturan baru dalam permainan ini.
Semua sudah ditetapkan di zaman permulaan
Begitu tertulis dalam kitab-kitab suci
Maka Dia duduk-duduk saja di bawah pohon
Sambil sesekali menahan angin dari utara agar tidak bertiup terlalu kencang.

Ada satu permainan anak yang paling Dia sukai yaitu gangsing — permainan tradisional yang sudah hampir punah
Perputaran gangsing pada satu poros menyerupai tarian sufi
Meliuk-liuk ke segala arah dengan kaki menancap di bumi
Seperti para sufi yang berperan sebagai paku bumi agar bumi tetap memiliki keseimbangan

Tapi, wallahi, aku tidak pernah melihat Dia bermain dadu
Mengundi perkara-perkara besar menyangkut kelangsungan hidup sebuah bangsa.
Terlalu beresiko untuk keseimbangan semesta.

 

Pamulang, Tangerang Selatan, 17.04.19
Ahmad Gaus

Posted by: Ahmad Gaus | March 12, 2019

Tentang Tulang Rusuk yang Dicuri oleh Kawanan Burung

bird

TENTANG TULANG RUSUK YANG DICURI OLEH KAWANAN BURUNG

– Untuk Neng Dara Affiah

Setiap manusia dikirim ke dunia untuk mencari tulang rusuknya yang hilang
Konon, sekawanan burung mencurinya di langit ketika manusia tertidur lelap
Lalu menurunkannya di suatu tempat di muka bumi
Setelah itu burung-burung berkicau sepanjang hari, sepanjang masa
Sampai tiba waktunya mereka harus kembali ke langit untuk menghadapi pengadilan.

Sebagian orang berhasil mendapatkan tulang rusuknya yang hilang itu
Sebagian lagi menemukan tulang rusuk yang salah
Sehingga tidak cocok untuk ditempatkan di bagian mana pun dalam dirinya
Bahkan, ya Allah, ada tulang rusuk yang terlepas dari genggaman burung ketika dibawa dari langit
Walhasil, tidak pernah sampai di muka bumi

Orang-orang senang memelihara burung karena dorongan hasrat primordial untuk membalas dendam
Padahal sebagian dari mereka harus kembali ke langit untuk mencari barang curiannya yang hilang dan dibawa ke bumi
Kita tidak akan memahami ini sampai mendengar suara-suara burung yang membangkitkan bulu kuduk.

Jakarta, 13 Maret 2019
Ahmad Gaus AF

Baca tulisan Neng Dara Affiah di sini:

https://www.qureta.com/post/menyoal-paham-teologi-tulang-rusuk?fbclid=IwAR2zllLhi9a5DVze7I8rHMn2SRG6mWc_0TEi-yVtgYi3p-4FKJZb77Iom1k

 

 

 

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | February 24, 2019

Ideologi dan Utopia

utopia

 

IDEOLOGI DAN UTOPIA

Setiap lelaki hidup dengan mimpi yang jatuh dari sebatang pohon. Mereka mengira itulah cinta paling agung yang disemaikan oleh semesta dan tumbuh di tubuh perempuan — dimana sungai-sungai mengalir deras, bukit-bukit berbaris, dan lahan perkebunan terbentang luas

Dunia adalah mimpi para lelaki dengan perempuan yang hanya terlihat bulu matanya di hutan cemara, dan betisnya yang menyala-nyala di cakrawala. Tapi itulah yang menggerakkan kaki-kaki mereka untuk berkelana membuka daerah-daerah baru pertanian, pertambangan, dan perdagangan.

Politik belum ada waktu itu, sehingga tidak ada ketentuan yang mengatur kapan matahari harus terbit, dan di mana harus terbenam. Satu-satunya simbol kehidupan ialah perempuan itu sendiri, karena tubuh mereka adalah bumi. Itu sebabnya para lelaki senang bertawaf mengelilingi bumi, mencari pintu masuk ke dalamnya melalui rahim perempuan.

Bangsa-bangsa baru didirikan belakangan, setelah kaum perempuan mau membuka rahim mereka dan melahirkan konstitusi. Pasal-pasal perang dan perdamaian ditulis dengan huruf-huruf tebal di mulut rahim. Agar para lelaki tahu di mana mereka harus mati, jika politik tidak mampu memberi cinta dan kebahagiaan.

 

Harris Hotel, Sentul, Bogor
23 Februari 2019
IG: ahmadgaus68

Posted by: Ahmad Gaus | February 5, 2019

TAN EK TJOAN

Tan

Tan Ek Tjoan

Sebuah bendera berkibar di atas sepotong roti
Melantunkan nada yang terus bertahan
Dari gegap-gempita nyanyian revolusi
Hingga huru-hara zaman yang bergerak makin ke kanan

Tanah airku, kisah Tan, berada di sebelah kiri jalan
Di antara deretan toko yang kerap menjadi sasaran penjarahan
Nasionalismeku terhimpit di halaman buku-buku sejarah yang tak pernah dibaca
Maka kucetak saja negeriku dengan roti gambang, bimbam, roti cokelat oles, dan nougat.

Roti-roti bernyanyi di atas gerobak dorong
Terseok-seok di gang-gang kecil pinggiran kota
Menyapa orang-orang kampung untuk menemani mereka minum teh di pagi dan sore hari

Roti, roti, roootii..
Sebuah nyanyian dari masa lalu yang menyayat jiwa
Roti, roti, roootii..
Sepenggal sejarah yang menitikkan airmata

Serpong, 05/02/2019

IG: ahmadgaus68

SELAMAT IMLEK 2019, SEMOGA DI TAHUN INI REZEKI KITA BERTAMBAH BANYAK

imlek-2019-shio-babi-tanah

Posted by: Ahmad Gaus | February 3, 2019

RAMAI-RAMAI MEM-BULLY IWAN FALS

 

Fals

 

Di Medsos, khususnya Twitter, Iwan Fals dibully oleh orang-orang yang mengaku dulu sebagai penggemar fanatiknya. Bahkan banyak yang bilang kaset-kaset Bang Iwan sudah mereka bakar. Alasannya, mereka tidak suka Iwan Fals mendukung Jokowi. Begitu panasnya politik pilpres sampai baranya menghanguskan akal sehat.

Saya tetap menyukai dan mendengarkan lagu-lagu Nissa Sabyan dan Rhoma Irama walaupun mereka pendukung Prabowo, dan saya pendukung Jokowi. Tidak ada stigma apapun pada diri saya terhadap mereka. Apalagi membenci mereka hanya karena beda pilihan politik.

Para seniman berhak memiliki afiliasi politik. Di situlah mereka, seperti umumnya kita, bersikap “partisan”. Tapi karya-karya mereka tetap untuk semua kalangan. Lintas batas golongan dan waktu. Jadi, mengapa harus dikaitkan dengan politik yang hanya bersifat musiman. Lewat April nanti juga semua kembali ke habitat masing-masing. Memangnya kamu dapat apa dari Pilpres sampai harus membenci orang begitu rupa? Mau jadi menteri? Dan, ngomong-ngomong, dibandingkan dengan Iwan Fals, kamu sudah berbuat apa untuk bangsa ini? Karyamu apa?

Bandung, 2 Feb 2019
IG: ahmadgaus68

 

Posted by: Ahmad Gaus | January 27, 2019

Elegi untuk Ibu Omi

 

omi1

ELEGI UNTUK IBU OMI *)

 

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di sisi jendela
Di tepi pagi yang sunyi
Memandangi bunga-bunga di taman
Tumbuh, merekah, kemudian layu dan jatuh ke bumi
Menikmati kicau burung-burung di halaman
Sebelum mereka terbang satu persatu menuju cakrawala

Seperti itu pula orang-orang yang kita cintai
Keluarga, sahabat, handai taulan
Satu demi satu mereka pergi meninggalkan kita
Sebagian telah berpulang menuju keabadian
Sebagian lagi masih menunggu antrian
Di simpang jalan kehidupan

Mereka yang pergi bukan tidak mencintai kita
Tapi masing-masing punya dunia sendiri
Dunia yang tidak bisa kita kunjungi sekalipun hanya dalam mimpi (begitu kata penyair Libanon-Amerika, Khalil Gibran, dalam puisi “On Children”)
Dunia yang dibangun untuk masa depan mereka yang lebih baik
Agar kelak, mereka pun dapat menikmati hidup bahagia seperti kita
Duduk dekat jendela
Ditemani secangkir teh di sore hari yang sunyi

Kesunyian bukanlah tragedi
Seperti ranting tua yang jatuh ke jalan
Dilindas roda kendaraan
Bukan!

Kesunyian itu seperti tsunami yang berdiam di dalam botol
Menunggu tangan-tangan malaikat menumpahkannya di kanvas kehidupan
Dari kesunyian lahir bayi-bayi mungil bernama kearifan, kebijakan, dan peradaban

Kesunyian adalah sahabat lama yang kita nantikan
Sebab dialah yang akan menemani kita
Mengumpulkan serpihan jiwa yang berserakan
Di sepanjang perjalanan

Kesunyian menguji kesabaran kita hingga batas terjauh
Untuk menghubungkan dua dunia
Yang fana dan yang baqa

Kesunyian bukanlah alasan untuk merasa sunyi
Sebab seluruh semesta ini, kata penyair sufi Jalaluddin Rumi, ada di dalam diri
Mengapa kita harus merasa sunyi

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di tepi jendela, di ujung senja yang sunyi
Tapi kita semua membutuhkan kesunyian
Sebab pada dasarnya kita memang harus belajar mempersiapkan diri
Menuju kesunyian yang abadi.

 

PIM 3 Jakarta, 26/01/2019

*) Ibu Omi Komaria Madjid adalah istri almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), cendekiawan, guru bangsa, dan pemimpin besar revolusi pemikiran yang pernah dimiliki bangsa ini.

Note:
Puisi ini dibacakan di acara pertemuan Caknurian II dan tasyakuran ulang tahun ke-70 Ibu Omi Madjid di Pondok Indah Mal 3, Jakarta. Terima kasih kepada Prof Komaruddin Hidayat sebagai host acara, dan Kiai Ulil Abshar Abdalla yang menginspirasi lahirnya puisi ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang hadir di acara ini. Ingatlah: Semua akan berpuisi pada waktunya. 😂

omi2

omi3

 

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | January 22, 2019

Surat Kecil untuk Tuhan

surat kecil1

SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Anak-anak lahir dari rahim semesta. Tangisan mereka adalah musik paling tua yang diciptakan oleh hening. Hingga seisi alam hanyut dalam alunan isaknya. Langit ikut mendengar dan menumpahkan airmata. Anak-anak membawa alat musik, berlarian di jalan-jalan, karena hujan adalah isak tangis mereka sendiri. Setiap butirnya dikumpulkan dan diberikan kepada orang-orang yang lewat — mengira itulah orangtua mereka.

Anak-anak berasal dari negeri asing. Seperti para pengungsi yang datang bergelombang. Ada yang beruntung mendapat suaka, belaian tangan bapak, dan pasokan air susu yang berlimpah dari payudara ibunya. Namun sebagian lagi menjadi para pengungsi yang tersesat. Mereka dibesarkan oleh debu, tembok berduri, dan gerbong-gerbong kosong, tempat mereka memandang langit —  dari mana mereka dikirim.

Dan malam ini Kau lihat sendiri, mereka berusaha sembunyi-sembunyi, mencuri bulan dengan galah yang ujungnya diberi belati. 

puisi: ahmad gaus

(Terinspirasi oleh film “Surat Kecil untuk Tuhan” produksi Falcon Picture yang beredar di bioskop bulan Juni 2017)

 

Posted by: Ahmad Gaus | January 17, 2019

Sarah Mae

 

dark

SARAH MAE

Sarah Mae sudah pergi dari rumah ini sejak kemarin lusa. Ia hanya berpamitan pada daun pintu yang selalu terbuka — walaupun tidak pernah tahu siapa yang ditunggu; dan pada seekor burung piaran yang tidak berhenti bernyanyi karena selalu kesepian. Tidak ada yang tahu mengapa Sarah pergi, dan ke mana. Jejak kakinya pun hanya mengantar dia sampai halaman.

Tapi memang, rumah yang ditinggali Sarah akhir-akhir ini sudah hampir meleleh karena hawa panas dari tubuh para penghuninya. Setiap hari ada saja suara jeritan dari alat -alat rumah tangga yang dilemparkan ke muka orang. Dan sebenarnya rumah ini pun sudah penuh, tapi para penghuninya masih saja mengajak orang lain untuk masuk.

Sarah tidak bisa tinggal di rumah yang membayangkan dirinya taman surga, tapi setiap hari disirami air kencing. Ia marah ketika ruang perpustakaannya difungsikan sebagai toilet; buku-buku koleksinya dipakai untuk melempar anjing — hanya karena anjing itu mengajari mereka cara hidup bertetangga.

Orang-orang di rumah ini memang lebih sering kesurupan daripada membaca. Lebih suka berteriak-teriak daripada berusaha mencari akalnya yang hilang.

Sarah Mae pergi karena tidak tahan melihat rumahnya terus-menerus dirusak oleh para penghuninya sendiri. Besok atau lusa mungkin orang-orang akan menyusulnya.

 

Puisi di atas dimuat dalam buku “Senja di Jakarta” (Ahmad Gaus, 2017)

 

Posted by: Ahmad Gaus | January 14, 2019

MATA IBU

ibu-01

Mata Ibu

Dari apakah Tuhan menciptakan mata ibu
Begitu luas hingga mampu menampung isi semesta
Tempat matahari beredar
Dan bulan yang selalu purnama
Bintang-bintang bertaburan di sana

Di dalam mata ibu ada lautan
Tempat aku berlayar menuju pulau tujuan
Kota-kota yang pernah aku kunjungi
Ada di dalamnya

Setiapkali kutatap mata ibu
Aku menemukan potret diriku
Dari bayi hingga tumbuh dewasa
Aku tetaplah kanak-kanak di matanya

Mata ibu tidak pernah terpejam
Walaupun sedang tertidur ia tahu
Ke mana aku berjalan

Mata ibu terbit sebelum fajar
Dan tidak pernah terbenam
Sepanjang siang
Sepanjang malam

Mata ibu lebih terang dari matahari
Karena mata ibu tidak menciptakan bayangan
Sehingga aku tidak bisa bersembunyi dari pandangannya

Mata ibu lebih tajam dari mata pedang
Setiap kali menatapku
Aku tersungkur dengan darah bercucuran
Dan luka-luka yang tak ingin kusembuhkan

Kelak bila tiba masanya 
Aku ingin mati dalam tatapan matanya

Gedung Film, 14/01/19

Older Posts »

Categories