Posted by: Ahmad Gaus | June 13, 2016

Puisi “Senandung Ramadan”

kultumLSF

Membaca puisi Senandung Ramadan dalam acara Kultum di Lembaga Sensor Film (LSF) Jakarta, 13 Juni 2016

SENANDUNG RAMADAN

Puisi Ahmad Gaus

 

Bila datang bulan Ramadan

aku terkenang kampung halaman

orang tua, sanak saudara, handai taulan

teman-teman kecilku, bermunculan bagaikan album kenangan

Dulu kami menyambut Ramadan dengan menggunduli kepala

sebagai simbol pembersihan diri, karena Ramadan bulan yang suci

beramai-ramai kami menceburkan diri ke sungai

mandi bersama menyucikan diri

karena bulan Ramadan bulan yang suci.

Di pagi hari, kami bergotong royong membersihkan mushalla

walaupun kecil, mushalla itu sangat  berarti

karena di situlah pertama kali kami belajar mengaji

belajar berwudu, salat, mendaras  Alquran

agar hidup punya pedoman.

Selepas senja matahari terbenam di cakrawala

perlahan-lahan hilal menampakkan wajahnya dari jendela surga.

Bulan puasa telah tiba

ya, bulan puasa telah tiba

bulan yang dinanti berjuta-juta umat manusia.

Beduk ditabuh, obor dinyalakan, kami berpawai keliling desa

menyalami orang-orang tua

memberi kabar Ramadan telah tiba.

Orang-orang di desa menyambut puasa dengan penuh suka cita

melantunkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir:

Subhanallah wal-hamdulillah wa Lailahaillallah wallahu akbar

kalimat-kalimat mulia yang lebih utama dari dunia dan seluruh isinya.

Ramadan adalah cerita yang selalu menggenang di pelupuk mata

salat tarawih berjamaah, makan sahur, buka puasa bersama

menggoreskan kenangan yang tak akan terlupakan.

Berpuluh tahun kemudian, hidup terasa berbeda

semakin dewasa, tubuh semakin dibuai kenikmatan dunia

tersesat di belantara kota, dimana semua serba ada

hasrat pada kemewahan memaksa orang menjadi manusia durjana

apa yang diingini harus tersedia, apa yang diminta harus ada

dengan menghalalkan segala cara

saling sikut, saling jegal

peduli setan agama dan moral

dikendalikan oleh keserakahan

terpukau oleh uang dan jabatan.

Di kota, bulan puasa terasa berbeda

anak-anak membakar petasan pengantar tawuran

orang-orang bertawaf di pusat-pusat perbelanjaan.

Di layar televisi, ibadah puasa menjadi komoditi

mubalig-mubalig selebriti menjajakan diri

nasihat-nasihatnya dibungkus promosi

kain sarungnya promosi, pakaiannya promosi

agama telah dibeli oleh agen-agen promosi.

Acara-acara Ramadan penuh dengan dagelan

ustadz-ustadz komedian menjadi tontonan

cerita hikmah Ramadan sekadar selingan

pengisi waktu menunggu azan.

Lalu apa yang tersisa dari bulan Ramadan

selain jualan, bualan, iklan?

Di kota, ibadah puasa terasa berbeda

orang-orang sibuk dengan urusan dunia

didera hidup yang tergesa-gesa

menjadi hamba-hamba waktu yang merana.

Bila datang bulan suci

aku teringat nasihat para sufi

agar mengendalikan nafsu-nafsu jasmani

memutus hasrat-hasrat duniawi.

Puasa membersihkan hati dari koloni setan-setan

sebab hati yang ditempati kawanan setan adalah hati yang sakit

dan hati yang sakit perlu pengobatan khusus

ketahuilah, tidak ada pengobatan yang lebih manjur dari lapar dan haus.

Hanya dengan mengalahkan keinginan badan, hati menjadi suci

dan hanya hati yang suci yang pantas menyambut bulan suci.

Maka betapa lancangnya aku

berani memasuki bulan suci dengan hati penuh benci.

Betapa lancangnya aku berani memasuki gerbang Ramadan yang mulia

dengan hati yang dipenuhi iri-dengki pada sesama.

Pada bulan Ramadan tubuh kita tawan

hasrat-hasratnya kita kalahkan

karena tubuhlah yang membuat kita jauh dari Tuhan.

Ibadah puasa membawa jiwa-jiwa kita terbang ke angkasa

dari atas sana kita melihat dunia bagaikan serpihan jelaga

terombang-ambing di samudra raya.

Bila datang bulan Ramadan

pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka

setan-setan dirantai, agar tidak mengganggu orang yang berpuasa

sebab puasa ibadah paling mulia, paling dicintai Allah Taala

sebab puasa hanya milik Allah semata.

Bila datang bulan Ramadan

aku terkenang kampung halaman

di mana aku dan teman-teman kecilku dibesarkan

dalam buaian suara azan

suara yang akan terus berkumandang

sampai suatu hari nanti aku dikuburkan

kembali ke haribaan Tuhan

itulah sebenar-benarnya kampung halaman…

______________________  oo00oo  ______________________

Saya menulis puisi Senandung Ramadan sambil mendengarkan lantunan Sholawat Thoriqiyyah dari Thoriqot Qodiriyah Naqsabandiyyah (TQN) yang amat sangat menyentuh hati. Saya sertakan link-nya semoga anda pun menyukainya.

 

Sholawat Thoriqiyyah

 Allâhumma Shalli wa Sallim ‘alâ Muhammadin wa Âli wa Shahbi Ajma’în
Allâhumma Shalli wa Sallim ‘alâ Muhammadin wa Âli wa Shahbi Ajma’în

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqom minallâhi Rabbil ‘Alamîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqom mirrûhi Jibrîral Amîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Anbiyâi wal Mursalîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqos Syuhadâi wal Mujâhidîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Khulafâir Rôsyidîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Ulamâi wal Âmilîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Auliâi wal Mukhlishîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqos Su’adâi wal Fâizîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Atqiyâi was Sholihîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Budalâi wal Qônitîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Asyifâi wadz Dzâkirîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Asyifâi wadz Dzâkirîn

(Sholawat Thoriqoh Qodiriyyah Naqsabandiyyah — Suryalaya)

Posted by: Ahmad Gaus | March 11, 2016

Cinta, Rindu, Airmata (puisi akhir pekan)

tears

puisi-puisi ahmad gaus

 

AKU BERTANYA

Aku bertanya pada cinta
sampai kapan akan membiarkan rindu
terbelenggu dalam penjara jiwa.
Ia menggelengkan kepala
menitikkan airmata!

Aku bertanya pada rindu
sampai kapan akan membiarkan cinta
terpenjara dalam belenggu kalbu.
Ia menangis pilu
menumpahkan airmatanya di bahuku!

Akhirnya aku bertanya pada airmata
sudikah ia mempertemukan
cinta dan rindu di taman pelaminan
dimana tak ada lagi kesedihan.
Ia pergi meninggalkanku
sambil menangis tersedu-sedu!

—  Gedung Film, Maret 2016

 

DOA PENAWAR RINDU

Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih
melebihi kerinduanku kepada-Mu
ampuni aku!
Sebab, aku bukan penguasa atas apapun
yang terbersit di hatiku
melainkan Engkau.
Dan jika kecintaanku pada kekasih
melebihi kecintaanku kepada-Mu
maafkan aku!
Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa
yang berdenyut di jantungku
melainkan Engkau.

Dalam zikir-zikir yang kulantunkan
untuk memuji nama-Mu
tanpa sadar kusebut pula namanya.
Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru!
Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku
melainkan atas izin-Mu juga.
Dan dalam sujud-sujud malamku
untuk mengagungkan-Mu
kuagungkan pula namanya di hatiku.
Jangan kutuk aku, Tuhan
walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!

Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu
kepada Engkau pula kelak akan bermuara
aku hanya pendayung waktu
rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu
untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku.
Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh
yang akan kujalani selama hidupku
dan rindu ini sebagai ibadah
yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.

Gedung Film, Maret 2016

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | February 7, 2016

Tiga Puisi Cinta

floating-leaf

Puisi-Puisi Ahmad Gaus

 

SERIBU TAHUN LAGI

Kulayari malam dengan perahu

selembar daun yang jatuh dari mimpimu

laut gelap menunggu!

 

Kapal-kapal berlintasan di kepalaku

mengangkut udara kota yang beku

dan menaburkannya di sepanjang

aliran darahku.

 

Dengarlah!

Aku bukan pengelana yang gagah perkasa

menaklukkan badai, menembus rimba belantara

mencari cinta sampai ke ujung dunia

 

Aku hanya debu

mengikuti angin yang setia mengirim rindu

kepada dermaga dan batu-batu.

 

Tubuhku ringan tanpa beban

terapung-apung di tengah lautan

esok, tirai fajar akan membuka kelopak matamu

atau harus seribu tahun lagi menunggu!

 

  —  Bintaro, 22 Januari  2016

 

 

PENYATUAN

 

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

 

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

 

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

 

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

 

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

 

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

 
 

SURAT SENJA KEPADA PAGI

 

Jika kau tiba di bukit itu sore nanti

kemungkinan besar aku sudah pergi.

 

Tapi …

di bibir cakrawala

tidak jauh dari tempat pertama kita berjumpa

ada sebuah telaga

aku menunggumu di sana.

 

    —  Scarlet, Bandung – 5 Februari 2016

Posted by: Ahmad Gaus | January 10, 2016

Aku Tidak Memesan Malam [puisi]

 

bulannn

AKU TIDAK MEMESAN MALAM

puisi ahmad gaus

 

Aku tidak memesan malam

ia datang begitu saja

dituangkan angin ke cangkir kopi

“Untuk apa?” tanyaku

“Aduklah, lalu minum,” katanya, “sebentar lagi sepi akan datang

ia akan menemanimu mengobrol.”

 

Hei, siapa pula yang memesan sepi?

aku sedang ingin sendiri

seisi rumah sudah kukeluarkan

kuletakkan di pinggir jalan

pakaian yang kukenakan telah kulucuti

kusedekahkan pada pengemis yang nyaris telanjang

bahkan tangan, kaki, alat vital, mata, telinga, hidung

telah kuberikan pada orang-orang yang lewat

terserah mau mereka apakan

aku ingin menyendiri

benar-benar sendiri.

 

Dunia sekelilingku telah menjadi asing

orang-orang tak kukenal hilir mudik

menuju tempat-tempat hiburan

merayakan malam dengan tangisan yang meriah

sebagian lagi berjubel di pusat-pusat perbelanjaan

memasukkan sepi ke kantong-kantong plastik.

 

Biarlah aku tetap seperti ini

tanpa malam, tanpa sepi

sebab keduanya sama saja:

telah tercemar oleh bau busuk keramaian

hanya kesendirian yang membuatku nyaman

hidup apa adanya, penuh kepasrahan

seperti bayi yang baru dilahirkan

dan dibuang ke dalam selokan

lalu menyusu dari polutan.

 

 

Ciputat, 10/1/2016

 

Posted by: Ahmad Gaus | December 17, 2015

Baris Terakhir [puisi]

 

penyair alwy

Dalam Gambar: Ahmad Syubbanuddin Alwy (alm)

 

BARIS TERAKHIR 

(Obituari untuk Penyair Alwy)

puisi ahmad gaus

 

Sunyi membentang di sepanjang jalanmu

duka nestapa bagai delima yang tumbuh tak kenal waktu

ada yang kau tatap dengan sorot mata sayu:

senjakala di seberang jendela

seakan dunia tengah menutup tabirnya

dan malam membawa selimut untuk menghangatkan puisi-puisimu.

 

Secangkir kopi belum cukup untuk mengiringi ceritamu tentang Cirebon

sampai dini hari, saat ayam berkokok mengabarkan pagi yang cerah

kantuk belum juga tiba

tapi memang, untuk apa kita tidur kalau dalam mimpi pun

harus melewati jalan-jalan yang berdarah

memandangi pohon-pohon yang terluka.

 

Pematang sawah telah kau pindahkah ke tubuhmu

ilalang dibiarkan tumbuh di kepalamu, dan pantai-pantai yang koyak

menjadi lidahmu yang gemetar setiap kali menyebut kenangan

tentang masa kanak-kanak yang indah: pesisir bendungan

dengan tanah segar, laut ganggang, mendung yang bagai salju

— semuanya telah berakhir, dan para pemimpin telah memaksa

jalan pikiranmu menjadi serdadu…

engkau berteriak, menggertak, menggebrak

tapi dunia tetap saja sunyi

seperti bentangan jurang di antara larik-larik sajakmu.

 

Hidup memang tidak pernah memberimu waktu untuk beristirahat

setiap kali engkau selesai membangun rumah

saat itu juga rumahmu ambruk

akhirnya engkau membuat rumah dari sajak

tidak memerlukan semen, batu bata, keramik, dan genteng

semua sudah terlalu mahal kini

cukup kata-kata, ia bisa menjadi rumah abadi

yang penting terus disusun dengan sabar dan tekun

walhasil, sampai juga engkau

pada baris terakhir yang begitu syahdu: kematian

 

Ciputat, 17/12/15

 

——————

 

***

Penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy, meninggal dunia pada 2 November 2015. Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 26 Agustus 1962 yang kerap dijuluki “Raja Penyair Cirebon” dan “Sastrawan Santri” ini telah menerbitkan buku puisinya yang berjudul Bentangan Sunyi (1996). Karya-karyanya juga termuat dalam beberapa antologi seperti Puisi Indonesia (1987), Titian antar Bangsa (1988), Negeri Bayang-bayang (1996) dan Cermin Alam (1997). Selamat jalan, Mas Alwy. Semoga damai di sisi-Nya.

Posted by: Ahmad Gaus | December 2, 2015

Ambon Manise, Waktu Hujan Sore-Sore  

 

ambonmaniz

Ambon Manise, Waktu Hujan Sore-Sore

Oleh Ahmad Gaus AF

 

Bicara tentang Ambon adalah bicara tentang kebesaran masa lalu dan kegelisahan menatap masa depan. Di antara bangunan-bangunan tua, anak-anak muda berdiri menyaksikan sebuah kota peradaban gemilang. Ambon manise, mutiara yang berkilauan di timur Indonesia dengan sejarah yang agung dan heroik serta hari esok yang tengah didefinisikan kembali. Ambon manise, tempat lahirnya musisi-musisi papan atas negeri ini; kota teluk yang tak pernah gagal menampilkan keindahan senja dalam panorama laut, burung camar, dan perahu nelayan; kota penghasil rempah-rempah terbaik di dunia, yang dibangun oleh patriotisme para pejuang dan dikenang oleh airmata anak-anak rantau dalam alunan lagu Sio Mama.

Dahulu kala, kota ini merupakan tujuan para pengembara Eropa yang membawa misi suci untuk memancangkan hasrat akan kemegahan (gold), kejayaan (glory), dan ketuhanan (gospel). Dari aspek tradisi dan sumber daya alam, Ambon memiliki segalanya. Sampai sekarang, tradisi pela-gandong masih menjadi rujukan utama bagi siapapun manakala orang berbicara tentang toleransi agama dengan basis kearifan lokal.

Dua kekuatan kolonial yang berekspansi ke timur saat itu, Portugis dan Belanda, menjadikan Ambon sebagai pusat aktivitas dan pertahanan mereka. Pada mulanya, jual-beli rempah-rempah menjadi alasan utama kedatangan mereka. Namun melihat eksotisme alam dan kelimpahan sumber daya mengubah motiv komersial menjadi penguasaan. Pada tahun 1522 Portugis membuat monopoli perdagangan cengkeh dan pala dan menentukan harga yang sangat rendah sehingga amat merugikan rakyat. Dalam usahanya menguasai suatu wilayah, mereka juga tak segan-segan bertindak sewenang-wenang dan kejam terhadap rakyat yang tidak berdaya. Hal ini membuat rakyat bersikap antipati.

Jasa terbesar Portugis adalah pembangunan benteng kota Laha pada tahun 1575. Tahun itulah yang kemudian ditetapkan sebagai momen berdirinya kota Ambon. Namun 30 tahun kemudian, pada 23 Maret 1605, Belanda datang dan berhasil merebut benteng kota Laha dari Portugis sehingga Ambon jatuh ke tangan pendatang baru tersebut. Pada mulanya Belanda datang dengan niat yang sama: perdagangan. Namun niat itu pun segera berubah dengan dibentuknya VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie (Perusahaan Perdagangan Hindia Timur) pada 1605 dengan tujuan utamanya memonopoli perdagangan rempah-rempah. Rakyat kembali menjadi korban. Periode selanjutnya ialah penindasan demi penindasan sampai kemudian muncul gelombang perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura, Anthony Ribok, Paulus Tiahahu, Martha Christina Tiahahu, Latumahina, Said Perintah, dan Thomas Pattiwael.

patung-martha christina tiahahu barry kusuma

Patung Martha Christina Tiahahu, Salah Satu Pahlawan Ambon

       Dalam sebuah penyerbuan besar-besaran yang dilakukan tentara Belanda terhadap rakyat, Kapitan Pattimura ditangkap dan kemudian dihukum mati oleh Belanda pada tanggal 15 Mei 1817. Di depan tiang gantung, alih-alih menyerah kepada Belanda, Pattimura justru kembali mengobarkan semangat rakyat untuk terus berjuang melawan Belanda dengan kata-katanya yang sangat terkenal: “Pattimura tua boleh mati, tetapi akan muncul Pattimura-Pattimura muda.”

Sampai sekarang, hari wafatnya Kapitan Pattimura itu selalu diperingati setiap tahun dengan pawai obor, untuk menghormati jasa-jasa beliau dalam memimpin perlawanan rakyat menghadapi kekuatan militer Belanda yang sangat besar dan kuat. Perang Pattimura adalah perang nasional dimana Pattimura berhasil menggalang dukungan dari Bali, Sulawesi, dan Jawa, selain dari kerajaan Ternate dan Tidore. Tentu akan sulit memetakan sejarah kemerdekaan Indonesia seandainya tidak pernah ada perlawanan rakyat Ambon terhadap kolonial Belanda. Dan mereka bisa dikalahkan hanya karena politik adu domba, tipu muslihat, dan bumi hangus oleh pihak Belanda.

Lanskap sejarah ini memberi landasan yang kuat bagi masyarakat Ambon — dan Maluku pada umumnya — untuk menjadi bagian penting dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai daerah yang pertamakali mengobarkan perang terhadap penjajah, Ambon berada di baris pertama dalam perkara menegakkan martabat bangsa. Tanpa Ambon dan sejarah patriotismenya, NKRI tidak akan pernah ada.

***

       Ambon kini tengah mematut diri di depan cermin sejarah yang berbeda — sejarah konflik saudara yang baru saja usai kemarin petang, yang belum seratus persen pulih dari trauma. Kondisi ini kadang menyulitkan warga dan para pembuat kebijakan untuk membuat peta jalan (road map) baru bagi sejumput harapan akan kehidupan hari esok yang lebih cerah. Konflik dan perdamaian sama-sama memiliki peluang untuk tumbuh di atas reruntuhan gedung-gedung yang terbakar. Di sudut-sudut jalan, dimana bangunan-bangunan yang rusak akibat kerusuhan massal masih terlihat, anak-anak muda berkumpul, bermain gitar, dan bernyanyi bersama, seakan sedang mengubur memori kelam tentang konflik yang mengerikan itu. Tapi ingatan bukanlah ruang kedap suara. Jerit pilu sanak famili dan kerabat yang menjadi korban konflik kerap masih terngiang di seantero kota yang belakangan menjadi habitat yang keras bagi anak-anak muda.

Seorang aktivis perdamaian, Elsye Syauta Latuheru, yang saya temui di kantornya di kota Ambon di penghujung bulan Agustus 2013 menuturkan hal yang amat pedih tentang anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang keras sebagai dampak ikutan (by-product) dari konflik besar Muslim-Kristen tahun 1999 dan seterusnya. Konflik itu menggoncangkan seluruh sendi kehidupan masyarakat, meluluh-lantakkan perekonomian, dan menghancur-leburkan harapan. Anak-anak ini, ujar Elsye, mewarisi lingkungan sosial yang terbelah antara “kami” dan “mereka”. Kaum Muslim dan Kristen memahami posisi mereka dalam batas yang tegas: di luar kami tidak ada yang lain selain musuh. Bahasa yang dibangun adalah bahasa kekerasan. Bahkan, kekerasan cenderung menjadi pola anak-anak muda dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Runtuhnya perekonomian masyarakat, sempitnya lapangan kerja, dan menguatnya segregasi atau pemisahan total antara Muslim dan Kristen di ruang-ruang publik, ikut memperumit pemulihan rasa aman dan integrasi sosial pasca konflik. Ditambah lagi stereotip yang terus dibangun di antara dua komunitas yang bertikai, seakan ingin mewariskan dendam kepada generasi penerus. Elsye menuturkan, anak-anak Ambon kini cenderung pesimistik menatap masa depan, sebab apapun yang mereka bangun akan porak-poranda manakala konflik kembali pecah. “Itu sangat berbahaya dan kita ingin menghentikan semuanya,” tandas Elsye yang aktif mengunjungi daerah-daerah rawan konflik untuk meyakinkan warga bahwa perdamaian masih bisa dirajut dengan kebersamaan, bahwa dendam dan permusuhan hanya memperparah keadaan serta mempersuram masa depan Ambon.

Tentu saja Elsye tidak sendirian. Dalam 10 tahun terakhir banyak kalangan di Ambon yang menyadari betapa konflik berkepanjangan telah membuat mereka terisolasi dari dunia luar; orang takut datang ke Ambon; biro-biro perjalanan menutup agen; investor angkat kaki; reputasi Ambon sebagai kota teladan toleransi terancam pudar. Maka, ibarat sebuah pendulum yang mulai bergerak ke arah berlawanan, kini kesadaran tentang perdamaian menjadi matra baru bagi warga yang merindukan masa-masa indah hidup bersama walaupun berbeda agama. Saling berbagi kebahagiaan di hari-hari besar seperti Natal dan Idul Fitri mulai dihidupkan kembali. Konser-konser seni dan festival musik yang melibatkan anak-anak muda dari dua komunitas agama gencar dilakukan, tidak hanya di ballroom hotel dan ruang-ruang pertunjukan namun juga di alun-alun kota, bahkan di trotoar jalan.

Di antara para pegiat perdamaian, peran kalangan pendidik atau guru jelas tidak bisa diabaikan. Tatkala segregasi sosial menguat, ada kebijakan anak-anak Muslim hanya boleh bersekolah di wilayah Muslim, dan sebaliknya anak-anak Kristen hanya boleh bersekolah di wilayah Kristen. Kebijakan yang disebut “rayonisasi” ini dibuat dalam jangka pendek untuk mengantisipasi kemungkinan konflik terulang jika dua komunitas bercampur. Namun dalam jangka panjang dalam rangka pembangunan perdamaian yang permanen, kebijakan ini justru kontraproduktif. Para guru sadar benar akan hal itu. Maka, berbagai upaya mereka lakukan untuk mempertemukan dua komunitas remaja Muslim dan Kristen dalam berbagai event yang mereka buat, seperti perkemahan lintas agama dan festival seni dan olahraga. Untuk para guru dibuat program live-in dimana guru Muslim akan menginap di rumah atau wilayah Kristen dan begitu pula sebaliknya guru Kristen menginap di rumah seorang Muslim di wilayah Muslim. Semua itu adalah proses belajar kembali untuk hidup bersama dan berbaur — sesuatu yang sesungguhnya sangat lumrah dalam masyarakat Ambon sebelum konflik 1999 pecah.

Bagaimanapun, segregasi di dunia pendidikan harus segera diakhiri karena di sanalah anak-anak belajar mengenal lingkungan mereka. Lingkungan sekolah sangat menentukan bagaimana pola pikir anak-anak dibentuk. Jika lingkungan sekolah dibuat homogen (Islam saja atau Kristen saja) sementara masyarakat bercorak heterogen, maka sekolah sebenarnya tengah mengasingkan anak-anak dari realitas sosial mereka sendiri; sekolah menjadi ruang isolasi yang memperkokoh tembok-tembok perbedaan. Dalam upaya mempercepat pembauran dan integrasi sosial seperti yang terus diupayakan dalam 10 tahun terakhir, sekolah justru harus menjadi pelopor. Sayangnya, pemerintah tampaknya belum berani mengambil langkah peleburan kembali secara total sekolah-sekolah yang tersegregasi selama bertahun-tahun, padahal tokoh-tokoh masyarakat dan para aktivis perdamaian telah bersuara keras mengeritik kebijakan pemerintah tersebut. Beruntunglah mereka tidak berputus ada dan kehilangan semangat. Para tokoh dan aktivis perdamaian ini terus bergerilya menebarkan benih-benih perdamaian di kalangan akar rumput, termasuk di lingkungan sekolah dengan melibatkan para pendidik (guru).

Buku berjudul Cerita dari Ambon ini mendokumentasikan kerja-kerja bina damai yang dilakukan kalangan LSM (lembaga swadaya masyarakat) dengan melibatkan para pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Banyak cerita mengharukan tentang bagaimana para pendidik berjuang menyambungkan kembali tali-tali persaudaraan yang sempat terputus di antara generasi muda berbeda agama sebagai akibat dari konflik sosial orang-orang tua mereka di masa lalu. Benih-benih perdamaian disebarkan melalui berbagai aktivitas di lingkungan sekolah, antara guru dengan guru, guru dengan murid, dalam berbagai event pertemuan antar-sekolah, dan sebagainya. Selain itu, nilai-nilai perdamaian juga diintegrasikan ke dalam materi-materi pengajaran. Tujuannya agar anak-anak didik menghirup udara damai kapan pun dan di mana pun mereka berada, menumbuhkan rasa aman, dan menatap masa depan bersama dengan perasaan optimis.

Ada 31 guru SMP/Tsanawiyah dan SMA/Aliyah yang menuturkan pengalamannya dalam buku ini. Mereka pada mulanya adalah para peserta (seluruhnya berjumlah 40 guru) pada workshop “Program Bina Damai Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Civil Society” atau Enhancing Protection and Respect for Religious Freedom and Human Rights in Indonesia” yang selenggarakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) IAIN Ambon, dengan dukungan dari The Asia Foundation (TAF).

Workshop ini merupakan upaya melakukan intervensi program pendidikan berperspektif perdamaian di Ambon sebagai hasil dari kegiatan needs assessment atau riset pendahuluan yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2013. Kegiatan needs assessment yang dimaksud dilakukan oleh tiga orang peneliti CSRC yakni Chaider S. Bamualim, Muchtadlirin, dan saya sendiri (Ahmad Gaus AF). Awalnya, ketiga peneliti melakukan observasi dan wawancara mendalam dengan kalangan stake holders perdamaian di Ambon, yakni para tokoh adat, pemuka agama, aktivis perdamaian, tokoh pemuda, tokoh LSM, dan para pendidik (guru). Akhirnya, hasil temuan needs assessment mengerucut pada rekomendasi melakukan intervensi program perdamaian di dunia pendidikan.

Kami memandang penting dunia pendidikan dalam membangun perdamaian karena masa depan Ambon terletak di pundak generasi muda yang kini tengah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Dan hitam-putihnya cara berpikir mereka sangat ditentukan oleh para pendidik. Untuk itu CSRC UIN Jakarta, ARMC IAIN Ambon, dan TAF mengundang para guru untuk urun rembuk mengenai pembinaan perdamaian di kalangan generasi muda. Dari lingkungan pendidikan, suara perdamaian akan teresonansi ke ruang publik sehingga tercipta suasana dialog, komunikasi, dan kerjasama yang produktif di antara kelompok-kelompok lintas agama dan etnik.

Rekomendasi dari kegiatan needs assessment itu kemudian menelurkan workshop yang dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu: “Workshop Format Ideal Pendidikan Perdamaian di Ambon” dan “Workshop Integrasi Nilai-nilai Perdamaian ke dalam Sistem Pembelajaran Sekolah”, yang diselenggarakan pada 16-20 Juni 2014. Menyusul kemudian “Workshop Strategi Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian di Ambon” pada tanggal 19-21 Agustus 2014, dan “Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon” yang dilaksanakan 22-23 Agustus 2014.

Untuk melihat sejauh mana program tersebut berhasil memengaruhi para guru dalam mengambil inisiatif perdamaian di lingkungan sekolah masing-masing, CSRC merasa perlu membuat evaluasi dengan melakukan pengamatan lapangan dan wawancara mendalam dengan para alumni program. Dalam hal ini CSRC menurunkan 3 (tiga) orang peneliti yakni Idris Hemay, Hidayat al-Fannanie, dan Tutur Ahsanul Mustofa, untuk menemui mereka secara terpisah dimana setiap peserta program menuturkan pengalamannya mempraktikkan materi-materi yang mereka peroleh selama mengikuti workshop dalam aktivitas di sekolah masing-masing. Kisah-kisah mereka yang diturunkan dalam buku ini merupakan cerita yang mengandung the most significant change (MSC), yakni cerita yang berhubungan dengan perubahan-perubahan paling penting yang terjadi di lapangan pasca program workshop “Bina Damai di Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Masyarakat Sipil”.

Sebagian besar guru yang menjadi peserta workshop adalah mereka yang mengajar di lingkungan sekolah yang nyaris homogen, kalau ia seorang Muslim mengajar di sekolah yang hampir seratus persen murid dan gurunya beragama Islam, begitu juga sebaliknya seorang guru Kristen mengajar di sekolah yang mayoritas murid dan gurunya beragama Kristen. Kondisi inilah yang dideteksi sebagai bom waktu di masa depan, sehingga perlu segera dilakukan antisipasi dengan menanamkan benih-benih perdamaian di kalangan para peserta didik agar mereka siap untuk hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat plural.

Beragam cara dilakukan para guru untuk menyampaikan pesan-pesan damai di sekolah sehingga kelak terbawa ke lingkungan yang lebih besar: masyarakat. Beberapa kisah yang mengandung the most significant change (MSC) atau cerita tentang perubahan-perubahan penting yang dilakukan para guru di antaranya menyangkut aktivitas bagaimana mereka mengubah mindset siswa dengan cara:

  • Memasukan nilai-nilai perdamaian ke dalam indikator penilaian sikap siswa;
  • Menyampaikan materi tentang toleransi;
  • Mengadakan outbound agar siswa bisa berbaur dengan yang lainnya;
  • Memutarkan film-film yang berisi pesan bagaimana hidup harmonis di tengah keberagaman tanpa rasa benci dan curiga.

Beberapa indikator lain tentang adanya perubahan penting dapat dilihat dari metode yang dipraktikkan secara berbeda-beda oleh setiap guru. Rasanya editor tidak perlu mengupas satu persatu atau bagian per bagian dari cerita MSC dalam buku ini. Silakan pembaca menikmati sendiri alur kisah mereka supaya dapat langsung merasakan pergulatan para pendidik dalam menegakkan nilai-nilai perdamaian di kalangan siswa/remaja.

Dalam praktiknya, kegiatan ini dari mulai needs assessment sampai workshop dan evaluasi, tidak hanya melibatkan kalangan pendidikan, namun juga tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah. Sebab kami sadar bahwa proses bina damai sendiri — walaupun dimulai di sekolah — tidak mungkin dilakukan tanpa melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pada kegiatan workhsop keempat yang diselenggarakan pada 22-23 Agustus 2014, misalnya, kami mengundang kalangan agamawan, tokoh pemuda, pejabat kementerian agama propinsi Maluku, kepala sekolah, pengelola yayasan-yayasan pendidikan, para guru, aktivis LSM, dan kalangan pers. Pada kesempatan itu pula mereka membentuk “Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian di Maluku” yang secara bersama-sama dideklarasikan demi terlaksananya konsep pendidikan perdamaian di Ambon. Aliansi ini berada di bawah koordinasi Abidin Wakano dengan 3 ketua, yaitu Theo Latumahina, Embong Salampessy, dan Heny L. Likliwatil. Aliansi ini akan mensosialisasikan deklarasi tersebut kepada masyarakat luas, pemerintah dan DPRD, yang diharapkan akan mengeluarkan peraturan daerah (Perda) untuk menjadi payung bagi terimplementasinya pendidikan perdamaian di Ambon.

workshop-advokasi5

“Deklarasi Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian di Maluku”

       Kisah-kisah yang tertuang dalam buku ini menjadi bukti kuatnya kehendak para pendidik di Ambon untuk mewariskan masa depan Ambon yang damai kepada generasi penerus. “Konflik telah menjadi masa lalu, dan tidak seorang pun yang ingin memutar kembali jarum waktu,” tandas Heny L. Liklikwatil, guru agama Kristen di SMPN 9 dalam sebuah percakapan sore hari dengan penulis dan seorang aktivis perdamaian Ambon, di kediamannya di desa Halong (kini negeri adat), 1 September 2013. Saat percakapan berlangsung hujan turun begitu deras. Sambil menyeruput teh panas di tengah obrolan yang kian seru, teman saya menyenandungkan lagu Waktu Hujan Sore-Sore, lagu yang sangat terkenal dari Ambon sehingga sudah seperti lagu nasional karena setiap anak sekolah di negeri ini mengenal lagu tersebut. Menurut kawan saya, lagu itu menceritakan keceriaan orang-orang Ambon dalam menjadikan momen hujan sebagai momen kebersamaan: tua-muda, laki-perempuan, Muslim-Kristen berbaur, bernyanyi, dan berdansa bersama.

Waktu hujan sore-sore kilat sambar pohon kenari
E jojaro deng mongare mari dansa dan menari
Pukul tifa toto buang kata balimbing di kereta
Nona dansa dengan tuan jangan sindir nama beta
E menari sambil goyang badanee
Menari lombo pegang lenso manisee
Rasa ramai jangan pulang duluee

E menari sambil goyang badanee
Menari lombo pegang lenso manisee
Rasa ramai jangan pulang duluee

       Kini inisiatif perdamaian telah diambil, aksi telah dilakukan, gema takbir dan nyanyian kudus telah dikumandangkan bersama, Salam-Sarane karja rame-rame atau Muslim-Kristen bekerja bersama-sama karena telah disatukan dalam semangat kearifan lokal orang basudara. Semoga semuanya menjadi bola salju yang terus bergulir dan membesar, membentuk kekuatan baru dalam menancapkan kembali fondasi sosial yang lebih kokoh, menjadikan Ambon manise sebagai baileo (rumah adat) bersama bagi warga Muslim dan Kristen.[]

 

Wassalam, Editor

Ahmad Gaus AF

 

Catatan: Tulisan ini adalah ‘Kata Pengantar’ saya selaku editor untuk buku Cerita dari Ambon, terbitan CSRC-UIN Jakarta dan The Asia Foundation, 2015.

Posted by: Ahmad Gaus | August 29, 2015

Puisi: Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Kepada Nurcholish Madjid)

Rektor Universitas Paramadina  Nurcholish Majid, wajah, Jakarta 12 Juli 2000 [TEMPO/ Bernard Chaniago; 30d/348/2000; 2000/07/20].

Cak Nur

Hari ini, 29 Agustus 2015 genap sepuluh tahun wafatnya Nurcholish Madjid (29 Agustus 2005). Untuk mengenang almarhum saya menulis sebuah puisi yang judulnya diambil dari buku karya beliau, Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Paramadina, 1992). Puisi ini saya bacakan di sela-sela diskusi “Mengenang 10 Tahun Wafatnya Cak Nur” yang diadakan oleh ISAIS (Institute for Southeast Asian Islamic Studies) UIN Suska Riau, pada Kamis 27 Agustus lalu. Diskusi yang dipandu oleh Ali Hasan Palawa dan digelar di aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska tersebut menghadirkan tiga penulis buku tentang Cak Nur sebagai narasumber yaitu Budhi Munawar Rachman (Penulis Ensiklopedi Nurcholish Madjid), Muhammad Wahyuni Nafis (penulis buku Cak Nur Sang Guru Bangsa, dan saya sendiri, Ahmad Gaus, selaku penulis buku Api Islam Nurcholish Madjid).

GausSusqa2

Diskusi Refleksi 10 Tahun Mengenang Wafatnya Nurcholish Madjid di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 27 Agustus 2015.

PINTU-PINTU MENUJU TUHAN

 Kepada Nurcholish Madjid, ‘Allah yarham’

Oleh: Ahmad Gaus

BANYAK pintu menuju Tuhan

Kita berdiri di satu pintu pilihan

Walaupun harus berdesakan

Walaupun harus berhimpitan.

PARA sufi mengajarkan

Semua jalan musyahadah kepada Tuhan

Akan sampai juga pada tujuan

Karena disinari cahaya-cahaya kebenaran.

DAN CAHAYA-cahaya itu terang adanya

Dalam Kitab yang pasti kebenarannya

Walladzina jahadu finaa

Lanahdiyannahum subulanaa

(Mereka yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami

Akan Kami tunjukkan berbagai jalan Kami QS. Al-Ankabut:29/69).

JIKA engkau harus memegang satu kebenaran

Silakan, tapi jangan lupa bersikap toleran

Sebab kebenaran yang engkau pertengkarkan

Nisbi adanya, bukan mutlak-mutlakan.

BANYAK pintu menuju Tuhan

Banyak jalan menuju kebenaran

Mengapa harus memaksa orang lain berada di satu jalan

Berdesakan, berhimpitan, berjatuhan.

MEREKA yang mendapat petunjuk Tuhan

Adalah orang-orang beriman

Mereka mungkin bersimpangan jalan

Namun menuju satu tujuan.

SEPERTI ribuan sungai yang mengalir

Semua bergerak menuju hilir

Tidak ada satu pun yang mangkir

Semua bermuara di samudra akhir.

(WALLAHU a’lam bis-shawab)

TUHAN Maha Tahu yang benar

Engkau dan aku hanya mengerti sekadar

Karena itu tidak patut membuat onar

Menuding orang lain sesat dan tersasar.

______________________

Posted by: Ahmad Gaus | July 15, 2015

Remy Sylado dan Gerakan Puisi Mbeling

PuisiMbelingCover

Catatan Ahmad Gaus

Pada 12 Juli 2015 lalu budayawan dan sastrawan Remy Sylado genap berusia 70 tahun. Sejak remaja, pria kelahiran Makassar 12 Juli 1945 ini telah aktif menulis puisi, esai, cerpen, novel, drama, kolom, kritik, roman, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Sebagai kado di hari ulang tahunnya, dan sekaligus doa untuk kesembuhannya (karena beliau sedang sakit), berikut saya turunkan sebuah catatan atas gerakan sastra yang pernah dipeloporinya pada tahun 1970-an: Gerakan Puisi Mbeling. Catatan ini semula merupakan makalah penulis yang disampaikan pada diskusi sastra di kampus Swiss German University (SGU) pada Mei 2013. Makalah ini pun pernah saya kirimkan kepada Bang Remy dengan harapan mendapat masukan-masukan dari beliau. Melalui emailnya pada 18 Juli 2013 ia menjawab: “Oke, sudah saya baca. Silahkan saja dilanjutkan.”

______________________________

Mei Hwa perawan 16 tahun
Farouk perjaka 16 tahun
Mei Hwa masuk kamar jam 24.00
Farouk masuk kamar jam 24.00
Mei Hwa buka blouse
Farouk buka hemd
Mei Hwa buka rok
Farouk buka celana
Mei hwa buka BH
Farouk buka singlet
Farouk buka celana dalam
Mei Hwa telanjang bulat
Farouk telanjang bulat
Mei Hwa pakai daster
Farouk pakai kamerjas
Mei Hwa naik ranjang
Farouk naik ranjang
Lantas mereka tidurlah
Mei Hwa di Taipeh
Farouk di Kairo

– Remy Sylado –

Apa saja bisa dan boleh ditulis menjadi puisi, dan siapa saja bisa dan boleh menjadi penyair. Begitulah kesan yang muncul dalam gerakan puisi mbeling yang dipelopori oleh Remy Sylado pada tahun 1970-an. Puisi berjudul Kesetiakawanan Asia Afrika yang dikutip di atas adalah salah satu contoh puisi mbeling yang dimuat di majalah Aktuil, tempat Remy berkiprah sebagai redaktur yang mengasuh rubrik yang juga diberi nama “Puisi Mbeling”. Belakangan puisi-puisi karya Remy Sylado selama 30 tahun diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2004) dalam buku berjudul Puisi Mbeling Remy Sylado.

remy7

Remy Sylado: Pencetus Puisi Mbeling

Puisi mbeling lahir bersamaan dengan menguatnya konsolidasi politik pemerintah Orde Baru yang baru saja menaiki panggung kekuasaan. Euforia di kalangan politisi dan aktivis pergerakan yang telah berhasil menumbangkan rezim lama masih terasa. Berbagai harapan yang dipikulkan kepada pemerintahan baru kerapkali tidak menyisakan sikap kritisisme sebagaimana yang diperlihatkan pada era demonstrasi besar (1966). Alih-alih, justru yang muncul ialah usaha kolektif untuk menciptakan suasana kondusif dan “stabil”, bukan hanya dalam politik tapi juga sastra.

Penampakan salah satu edisi Majalah Aktuil, tempat lahirnya gerakan Puisi Mbeling.

Penampakan salah satu edisi Majalah Aktuil, tempat lahirnya gerakan Puisi Mbeling.

Sebagaimana dinyatakan oleh Remy Sylado, gerakan mbeling merupakan perlawanan yang diarahkan pada dua sasaran: pertama, estetika puisi yang tertawan dalam pikiran-pikiran konvensional yang melulu diungkap secara kabur dan gelap dalam bahasa berbunga-bunga sehingga puisi kehilangan tanggung jawabnya terhadap realitas, dan; kedua, situasi politik Orde Baru yang nyata dibingkai dalam gerontokrasi yang salah kaprah dengan slogan-slogan dari pejah gesang nderek bapak ke mikul dhuwur mendem jero.1)

Sebelum lahir sebagai genre puisi, gerakan mbeling sebenarnya telah muncul sebagai fenomena teater, dimana Remy Sylado melalui Dapur Teater 23761 di Bandung yang didirikannya mementaskan Genesis II, kemudian berturut-turut Exsodus II, dan Apocalypsis II. Dalam pentas-pentas teater itulah ia mengenalkan istilah mbeling. Anotasi II selalu disertakan sebagai lambang perlawanan terhadap yang sudah ada. Gerakan mbeling sebagai perlawanan budaya lewat teater juga diakui Remy sebagai reaksi terhadap WS Rendra dengan teaternya yang berpandangan bahwa perlawanan terhadap budaya mapan harus dilakukan dengan sikap urakan. Dalam Apologia Genesis II Remy menyatakan bahwa kata urakan dalam bahasa Jawa berkonotasi negatif: tidak sopan, tidak tahu aturan, dan kurang ajar. Karena itulah Remy, melalui teaternya, mengajukan kata “mbeling” yang lebih berkonotasi positif. Walaupun tetap bernuansa nakal, mbeling berasosiasi dengan pengertian pintar, mengerti sopan-santun, dan bertanggung jawab.

Gara-gara pementasan Genesis II itu Remy diinterogasi polisi Bandung selama hampir dua minggu. Namun peristiwa itu sekaligus mendorongnya untuk tetap menggunakan kata “mbeling” dan menjelaskan konsep di belakangnya sebagai budaya tandingan. Konsep itu kemudian ditransformasikan ke dunia puisi ketika pada tahun 1971 Remy bergabung dengan majalah Aktuil yang didirikan Denny Sabri, Toto Rahardjo, dan Sony Soeryatmadja. Kehadiran Remy di majalah hiburan dan musik yang berkantor di Jalan Lengkong Kecil 41, Bandung, itu menandai lahirnya gairah baru bersastra di kalangan remaja. Puisi yang semula dipandang sebagai benda pusaka yang sakral berubah menjadi barang biasa saja yang bisa ditulis oleh siapa saja. Melalui rubrik cerpen dan puisi mbeling yang diasuhnya, Remy mengajak kaum muda untuk bersastra.

Remy mengajak kaum muda bersastra ala mereka sendiri.

Remy mengajak kaum muda bersastra ala mereka sendiri.

Kesakralan puisi dan keangkeran majalah sastra menjadi alasan utama menjauhnya kaum muda dari budaya literasi yang sebenarnya berakar kuat di masyarakat. Kata-kata Chairil Anwar “yang bukan penyair tidak ambil bagian” justru menjadi pemicu untuk mengembalikan sastra (puisi) ke pangkuan khalayak. Gerakan puisi mbeling yang dipelopori Remy merupakan kritik terhadap fenomena onani dalam bersastra dimana para penyair menulis puisi untuk dibaca—karena hanya dipahami—oleh mereka sendiri. Gerakan ini diapresiasi oleh penyair Sapardi Djoko Damono sebagai “suatu usaha pembebasan”. Lebih lanjut Sapardi menulis:

Puisi rupanya telah menjadi bentuk sastra yang menarik minat orang-orang muda, terutama dalam masa perkembangannya sebagai sastrawan. Sajak-sajak yang dikirimkan ke majalah-majalah yang berprestasi tidak dapat segera dimuat… Sementara beberapa penyair mendapatkan tempat yang semakin kukuh dalam perkembangan puisi Indonesia, kaum muda yang baru mulai menulis itu merasakan semacam tekanan. Mereka merasa tidak bisa cepat tampil karena terhalang oleh tokoh-tokoh yang sudah ‘mapan’… Tambahan lagi kebanyakan mereka menetapkan kepenyairan berdasarkan dimuat atau tidaknya sajak-sajaknya dalam majalah sastra satu-satunya, Horison.2)

Sebagai gerakan perlawanan terhadap bahasa puisi yang berbunga-bunga namun gelap, puisi mbeling menawarkan konsep sebaliknya: puisi ditulis dengan bahasa biasa dan diusahakan terang-benderang. Dengan begitu, puisi bukan saja mudah dipahami sebagai pertanggungjawaban penyairnya terhadap realitas, namun ia juga membuka akses seluas-luasnya kepada siapa saja untuk menjadi penyair. Puisi tidak melulu harus berurusan dengan hal-hal yang agung dan mulia. Bisa saja ia menampilkan potret keseharian yang sepele. Simak, misalnya puisi berjudul “Sialan Banget” yang ditulis Remy Sylado: Sudah jatuh / dihimpit tangga // Hendak berdiri / digonggong anjing // Begitu lari terbirit / malah menginjak tahi.

Puisi itu menampilkan filosofi dari peribahasa yang sudah umum dikenal tentang situasi yang tidak menguntungkan. Namun oleh Remy, situasi itu diperburuk dengan menambahkan dua kesialan lainnya sehingga menimbulkan kesan tentang situasi yang benar-benar sial—sesuai dengan judulnya: Sialan Banget. Pilihan judul itu sendiri sudah keluar dari bahasa puisi yang “standar”. Sebagai sebuah eksperimentasi di tengah mainstream puisi serius yang mengusung narasi-narasi besar, puisi mbeling terbilang radikal dalam menjungkirbalikkan estetika perpuisian. Alih-alih, justru estetika itulah yang ingin dilawannya, antara lain dengan mensastrakan kosakata yang dianggap tabu untuk dimasukkan ke dalam puisi.

Suatu ketika di TIM

Puisi Mbeling: Menjungkirbalikkan estetika perpuisian.

Memang tidak selamanya perlawanan terhadap ketabuan itu berjalan mulus. Salah satu puisi Remy yang dimuat di majalah Aktuil pernah membuat berang pemerintah. Saat itu Departemen Penerangan mengancam akan mencabut Surat Izin Terbit (SIT) majalah Aktuil. Hanya setelah para pengelola Aktuil membayar upeti—sesuai kelaziman pada saat itu—ancaman tersebut dibatalkan. Puisi yang menimbulkan masalah itu berjudul “Pesan seorang ibu kepada putranya”, terdiri dari tiga kata dalam tiga baris: jangan / bilang / kontol.3)

Puisi mbeling memang terkesan main-main. Tapi justru dengan cara itu Remy mengajak kaum muda untuk menulis. Dunia tulis-menulis, termasuk sastra, dikesankan sebagai dunia yang dekat dengan keseharian, tempat untuk bergurau dan menuangkan gagasan apa saja tanpa harus mengerutkan dahi terlalu lama. Dan usahanya itu mendapat respon meruah dari kalangan muda. Sejak rubrik puisi mbeling dibuka, sepuluh ribuan penulis dari seluruh wilayah Indonesia dan di manca negara telah mengirimkan karya mereka, dan ratusan di antaranya telah dimuat. Tentu saja pemuatan itu tidak asal-asalan melainkan melalui proses yang disesuaikan dengan kriteria dan idealitas yang dicanangkan oleh gerakan mbeling. Remy sendiri menyebut dirinya dalam proses itu sebagai despot yang di tangannya ada wewenang untuk mengubah dan mengedit naskah-naskah yang masuk ke redaksi.4)

aktuilGodBless

Majalah Aktuil nyaris dibredel penguasa gara-gara memuat puisi mbeling “Jangan bilang k*nt*l”.

Di bawah asuhan Remy Sylado sebagai penjaga gawang rubrik puisi mbeling majalah Aktuil, tercatat juga nama-nama — yang belakangan dikenal sebagai sastrawan — yang ikut menyemarakkan kegairahan berpuisi mbeling: Abdul Hadi WM, Seno Gumira Ajidarma, Noorca Massardi, Yudistira M. Massardi, Adhi M. Massardi, Mustofa Bisri (dengan nama samaran Mustov Abi Sri) dan nama-nama lainnya. Sampai sekarang corak kepenyairan mereka masih kental dengan nuansa mbeling dalam pengertian menyuarakan protes sosial dengan bahasa yang lugas dan terbuka.

Selain itu, pengaruh puisi mbeling juga melintasi majalah Aktuil. Ketika Remy Sylado berpindah ke majalah Top, ia tetap melanjutkan gerakan puisi mbeling dengan membuka rubrik bertajuk Puisi Lugu. Dari sini, sebagaimana dicatat oleh penyair Heru Emka, virus mbeling menyebar ke berbagai media massa: majalah Stop, Astaga, Sonata, Yunior, dan lain-lain. Berbagai surat kabar mingguan yang terbit di Jakarta maupun di daerah juga ikut tertular virus mbeling dengan membuka rubrik serupa. Begitu juga beberapa majalah remaja. Gerakan puisi mbeling telah menjadi gerakan menulis puisi alternatif yang memiliki spirit “yang bukan penyair boleh ambil bagian”. Dan, menurut Heru Emka lagi, gerakan ini telah mewarnai lembaran sejarah sastra Indonesia pada era awal tahun 1970-an.

Apakah itu artinya setelah era 1970-an gerakan ini meredup? Masa pasang naik dan surut sebetulnya lumrah dalam dunia apapun. Puisi mbeling sebagai gerakan perlawanan atau budaya tandingan sejak awal pasti telah menyadari dirinya adalah subkultur. Dan sebagai subkultur ia tidak akan menjadi arus utama (mainstream) yang langgeng. Namun, ia juga tidak akan mati sebab di setiap masa selalu ada proses pemapanan tradisi, dan di situlah yang mbeling akan hadir sebagai alternatif dan oposisi. Tegasnya, puisi mbeling mengabadikan dirinya di seberang aneka arus utama, dan menjadi kritikus yang nakal atas berbagai bentuk kemapanan, baik dalam sastra maupun politik.

Ketika belakangan Remy Sylado menerbitkan kumpulan puisinya setelah 30 tahun berlalu, tentu ia tidak bermaksud mengenang atau memperingati puisi mbeling yang pernah berjaya pada masanya. Buku ini berisi 143 puisi Remy Sylado yang ditulis antara 1971-2002.5) Penerbitan buku ini menjadi semacam reminder bahwa dalam lembaran sejarah sastra Indonesia pernah lahir gerakan puisi mbeling yang mengharu-biru dunia perpuisian. Dan penulisan puisi jenis itu hingga kini masih terus dilakukan. Bahkan, berdasarkan alasan yang telah dikemukakan di atas, puisi mbeling akan terus ditulis.

Buktinya, pada tahun 2012 lalu terbit sebuah buku berjudul Suara-Suara Yang Terpinggirkan, yang diberi judul kecil (tambahan): Antologi Puisi Mbeling.6) Sebagaimana mudah ditebak, kehadiran buku ini sontak menimbulkan spekulasi bahwa puisi mbeling bangkit lagi,7) karena dianggap telah lama menghilang dari peredaran. Buku ini memuat ratusan puisi dari para penyair yang dulu pernah terlibat dalam gerakan puisi mbeling: Yudhistira ANM Massardi, Adhie M Massardi, Noorca M Masardi, Darmanto Jatman, Nugroho Suksmanto, Satmoko Budi Santoso, Abdul Hadi WM, Gus Mustofa Bisri, Hendrawan Nadesul, F. Rahardi, Landung Simatupang, Jose Rizal Manua, Heru Emka (editor buku ini), dan lain-lain.

terpinggirkan

Buku ini diberi kata pengantar oleh Remy Sylado, Sang Bapak Puisi Mbeling itu sendiri. Bagaikan sebuah pernyataan sikap, tulisan kata pengantar Remy Sylado diberi judul Mbeling: Masih Berlanjut. Di sana ia menegaskan: “Bagi saya mbeling pernah ada, dan terserah, apakah mbeling masih akan ada. Sebab, pendirian saya sekarang: ada atau tiada tetap ada.” Selain menguraikan latar belakang estetik dan politik kelahiran puisi mbeling, dalam pengantarnya, Remy sebenarnya lebih banyak memanfaatkan kesempatan itu untuk meluruskan sejarah puisi mbeling. Mengapa diluruskan, karena menurutnya telah ada yang mengaku-ngaku sebagai pencetus puisi mbeling.8)

Menarik bahwa dalam buku ini dimuat banyak puisi yang berdata tanggal baru dari para penyair muda. Ini menunjukkan bahwa puisi mbeling memang masih menarik minat para penyair generasi baru dan karena itu terus diproduksi. Jangan kaget juga bahwa para penyair yang kini dikenal sebagai sastrawan kenamaan seperti Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Sutardji Calzoum Bachri, Gus Mustofa Bisri, Ahmadun Yosi Herfanda, Beni Setia, dan lain-lain, ternyata adalah para pendukung puisi mbeling yang produktif.

Gerakan mbeling yang semula digulirkan di panggung teater itu telah bermetamorfosis menjadi gerakan puisi yang menyebal dari arus utama untuk melawan tirani, menertawakan kebodohan, dan meludahi kemunafikan orang-orang dengan kedudukan terhormat. Dan selama fakta-fakta semacam itu berlintasan di depan wajah kita, maka selama itu pula puisi mbeling akan terus ditulis. Di bawah ini adalah puisi-puisi mbeling yang dikutip dari antologi Suara-suara Yang Terpinggirkan, yang ditulis oleh beberapa penyair generasi baru.

MBELING 2011

Sungguh

Susah

Terlambat

Empatpuluh

Tahun

Ide

Sudah

Keburu

Macet

(Pandu Ganesha)

KETIKA ADA BINTANG JATUH

TUHAN…..

Apa keinginanMU??

(Palestina Nabila)

BUNTU

mandek

Sudah lelah mataku, otakku, jariku,

cukup sekian dan terima kasih

(Palestina Nabila)

OTAK UDANG

banyak yang bilang

ada udang di balik batu

barangkali

si udang tengah mencari

otaknya yang hilang

(Rini Febriani Hauri)

JADI PRESIDEN

Seandainya aku jadi presiden

Semua orang tak usah kerja

Uang kita cetak saja

Bagikan setiap hari

Petani tak usah ke sawah

Libur tiap hari

Sekolah juga tutup saja

Gurunya tak mau kerja

Orang sakit mati saja

Dokternya juga tak mau praktek lagi

Kita makan uang saja

Karena tak ada yang bisa dibeli

Makanya jangan pilih aku jadi presiden..

(Ren Ren Gumanti)

Karakter dari puisi-puisi di atas masih senada dengan puisi-puisi mbeling yang ditulis oleh Remy Sylado 40 tahun silam: terkesan lugu, semaunya, tidak peduli dengan kata-kata indah, melawan logika umum. Pendeknya, menyimpang dari penulisan puisi yang standar. Ya, begitulah. Namanya juga puisi mbeling. Namun, seperti yang dijelaskan oleh Remy sendiri, tidak semua tulisan berbentuk puisi yang dibuat main-main dan menekankan sifat-sifat pop adalah otomatis puisi mbeling.

Karena lahir dalam konteks perlawanan terhadap estetika puisi yang tertawan oleh pikiran konvensional dan counter culture terhadap kemunafikan politik yang muncul dalam bahasa-bahasa feodal, maka puisi mbeling membawa kredo tersendiri: pertanggungjawaban sastra terhadap realitas baik-buruk. Puisi yang main-main, menurut Remy, justru adalah puisi yang dibingkai dengan bahasa indah namun hanya bisa dinikmati sendiri oleh penulisnya. Padahal puisi akan dibaca oleh khalayak.

Lebih jauh Remy Sylado bahkan berpandangan bahwa di dalam puisi ada pesan-pesan kenabian dan relijiositas. “Puisi seyogianya mengandung nilai-nilai kawruh seperti yang terdapat dalam akar budaya Jawa,” ungkap Remy, yang  memperoleh Khatulistiwa Literary Award tahun 2002 melalui novel Kerudung Merah Kirmizi, dan Anugrah Sastra 2011 dari Komunitas Nobel Indonesia.[]

remy3

Biodata Remy Sylado:

REMY SYLADO lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya dibidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.

Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya diluar budayanya. Diluar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi. (Dikutip dari http://www.goodreads.com/author/show/541628.Remy_Sylado)

Catatan Kaki

  1. Remy Sylado, “Kata Pengantar”, dalam Heru Emka, ed., Suara-suara yang Terpinggirkan (Semarang: Kelompok Studi Sastra Bianglala, Mei 2012), hal. xv
  2. Sapardi Djoko Damono, Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (Jakarta, Gramedia, 1983), hal. 90
  3. Remy Sylado, “Kata Pengantar”, dalam Heru Emka, ibid.
  4. Ibid.
  5. Remy Sylado, Puisi Mbeling (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2004)
  6. Heru Emka, ed., Suara-suara yang Terpinggirkan (Semarang: Kelompok Studi Sastra Bianglala, Mei 2012).
  7. “Puisi mbeling bangkit lagi!” Begitu statemen pembukaan artikel berjudul “Mbeling” dalam Puisi “Urakan” yang ditulis Riza Multazam Luthfy sebagai ulasan buku Suara-Suara Yang Terpinggirkan, dalam Koran Jakarta, 1 Oktober 2012.
  8. Dalam hal ini Remy menyebut nama Jeihan. “Untuk banyak hal Jeihan adalah kawan akrab, tetapi untuk satu hal menyangkut mengaku-akunya sebagai pencetus puisi mbeling, saya tidak menghargainya,” tulis Remy dalam “Kata Pengantar”, ibid., hal. xix). Ia juga mengeritik penyair Soni Farid Maulana dan pengamat sastra Jakob Sumardjo yang menurutnya telah percaya begitu saja pada Jeihan. Keduanya masing-masing menulis prolog dan epilog untuk buku berjudul Mata mBeling Jeihan (Jakarta: Grasindo, 2000).

____________________________________________________________________________

Ahmad Gaus, adalah pengampu Matakuliah Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia, Swiss German University (SGU) – BSD City – Tangerang

____________________________________________________________________________

PARADE PEMBACAAN PUISI oleh Ahmad Gaus

Grandzuri29mei15

Reading poetry at “Program for Peace” held by CSRC-UIN Jakarta, Kondar Adenauer Stiftung, European Union, at Grand Zuri Hotel BSD, 29 May 2015.

artHouse2

Reading Poetry at Art House, Singapore 28 Dec 2013.

Bali22agus14

Reading Poetry at Campahan College, Ubud Bali, 22 Augs 2014.

Screen_20140922_212455

Hotel Borobudur, Jakarta, 22/9/2014, Poetry “Sufi Jadi Menteri” dedicated to Djohan Effendi.

Posted by: Ahmad Gaus | June 13, 2015

LANGIT MAKIN MENDUNG

buku langit mendung

Catatan Ahmad Gaus

KEHADIRAN KARYA-KARYA yang mengusung tema keagamaan menjadi fenomena tersendiri dalam kancah kesusastraan di tanah air.1)  Karya jenis ini biasanya muncul dalam dua corak: menjadikan agama sebagai pemecah persoalan atau menjadikan agama hanya sebagai latar belakang. Karya sastra corak pertama biasanya memperoleh sambutan positif dari khalayak, sementara corak kedua seringkali menimbulkan kontroversi. Cerpen Langit Makin Mendung masuk dalam kategori kedua. Ia bukan saja menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat, tapi juga memancing kontroversi di kalangan agamawan dan ahli hukum sampai kasusnya dibawa ke pengadilan.

Cerpen Langit Makin Mendung ditulis oleh seorang yang memakai nama samaran Kipandjikusmin. Cerpen ini dimuat di Majalah Sastra, Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968 yang dipimpin oleh HB Jassin. Kontroversi yang ditimbulkan oleh cerpen ini terkait dengan isinya yang terang-terangan mempersonifikasi Tuhan dan menggambarkan sosok Nabi Muhammad yang selama ini dianggap tabu oleh kaum Muslim.

Diceritakan bahwa Nabi Muhammad meminta izin kepada Tuhan untuk turun ke muka bumi dengan alasan ingin mengetahui apa yang menyebabkan umatnya akhir-akhir ini lebih banyak dimasukkan ke dalam neraka. Dan Tuhan memberinya izin karena alasan itu dianggap cukup kuat. Jutaan penduduk surga sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk melepas Muhammad ke bumi. Upacara pelepasan diadakan di sebuah lapangan terbang disaksikan seluruh penghuni surga dan dipimpin oleh Nabi Adam yang menyampaikan pidato pelepasan melalui sebuah alat pengeras suara. Di akhir pidatonya Nabi Adam mengatakan: “Akhir kata Saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad S.A.W harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, Saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif agar mereka semua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad! Hidup persatuan Rakyat Sorga dan Bumi!” “Ganyang!!!” (Berjuta suara menyahut serempak).

Muhammad segera menuju bumi menaiki buraq – kuda sembrani yang dulu menjadi kendaraannya sewaktu melakukan Mi’raj. Secepat kilat buraq melesat ke arah bumi, sementara itu Jibril yang digambarkan sudah tua terengah-engah mengikutinya di belakang. Mendadak, sebuah sputnik Rusia melayang di angkasa hampa udara. Dua kendaraan berbeda teknologi itu pun bertabrakan dan keduanya hancur tanpa sisa. Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas. Ketika menengok ke bawah Muhammad mengira itu adalah neraka. Maka Jibril segera meralatnya:  “Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka, Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh.”

Selanjutnya dikisahkan bahwa Muhammad dan Jibril mengubah diri mereka menjadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di Monas. Percakapan di puncak yang digambarkan sebagai menara emas bikinan pabrik Jepang itu menyindir Soekarno yang disebut sebagai nabi palsu dengan ajaran Nasakomnya yang telah menggerogoti jiwa prajurit-prajurit dan mendarah daging pada sebagian ulama.

Tidak hanya penggambaran tentang Muhammad dan Jibril, namun juga penggambaran tentang Tuhan, seperti kejadian yang mengisahkan para nabi yang protes kepada Tuhan: “Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal dan kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti….. Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia….”

Dialog-dialog terjadi antara Muhammad dan Jibril yang sarat dengan sindiran terhadap kondisi sosial tanah air masa pada masa itu. Diceritakan bahwa penduduk negeri ini 90 persen beragama Islam tetapi justru segala macam perilaku jahat, nista, lacur, munafik, tumbuh subur di mana-mana. Tidak lupa pula diselipkan sindiran tajam terhadap prilaku para pejabat pemerintah seperti kegemaran mereka berfoya-foya, minum alkohol, dan main perempuan.

“Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang sudah tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng yang spesial diundang. Patih-patih dan Menteri tak mau kalah gaya. Tinggal para hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.”

 “Tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas. Beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir…Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis. Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah. Anjing-anjing istana mendangkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!”

Setelah menyasar berbagai masalah dari ideologi, poligami, utang luar negeri, hingga kondisi rakyat yang kebanyakan hidup susah dan kelaparan, cerpen ini diakhiri dengan sebuah pernyataan: “Rakyat rata-rata memang pemaaf serta baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan lapang dada. Hati mereka bagai mentari, betapapun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi.”

Setelah pemuatannya di majalah Sastra bulan Agustus 1968, kontan cerpen ini menyulut kehebohan. Berbagai kecaman datang, terutama dari umat Islam yang menganggap karya Kipandjikusmin itu menghina Islam. Kantor majalah Sastra di Jakarta didemonstrasi oleh kelompok-kelompok masyarakat dan dindingnya dicoreti dengan kata-kata makian. Reaksi massa yang sangat keras muncul di Medan sehingga Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara melarang peredaran majalah edisi tersebut. HB Jassin selaku penanggung jawab majalah Sastra tutup mulut tentang siapa sebenarnya Kipandjikusmin itu. Akibat pilihan sikapnya itu akhirnya ia harus berhadapan dengan pengadilan untuk mempertanggungjawabkan pemuatan cerpen tersebut di majalahnya.

jassin

HB JASSIN

Ada yang menduga bahwa Kipandjikusmin tidak lain adalah HB Jassin sendiri yang menulis dengan nama samaran.

Di kalangan sastrawan sendiri terjadi polemik panjang baik menyangkut batas-batas imajinasi karya sastra maupun pengadilan atas kasus Langit Makin Mendung. Puluhan artikel bermunculan di media massa baik yang pro maupun kontra dengan melibatkan nama-nama besar: Goenawan Mohammad, Taufik Ismail, A.A. Navis, Wiratmo Soekito, Bur Rusuanto, Bahrum Rangkuti, Buya Hamka, dan lain-lain. Isu polemik berkembang dari persoalan sastra ke masalah agama, hukum, dan politik, yang berlangsung selama sekitar tiga tahun (1968-1970).2)

Dalam pledoinya di persidangan, HB Jassin menyatakan: “Kami telah dilain-tafsirkan dan karena perlainan tafsir itu orang mengira kami telah menghina mereka, menghina kepercayaan mereka yang adalah kepercayaan dan keyakinan kami juga. Kami dengan tulus ikhlas meminta maaf kepada mereka yang mengganggap bahwa kami telah menghina, dan kami pun memohon maaf kepada Allah Maha Kuasa, yang kami tahu adalah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.”

Setelah menyampaikan permohonan maaf, Jassin tetap dengan pendiriannya: “Saya berpendapat bahwa cerita pendek Langit Masih Mendung adalah hasil imajinasi, mempunyai dunia lain dan karena itu tidak bisa diukur dengan kaidah-kaidah agama.” Jassin pun mulai mempertanyakan tuntutan hukum atas karya sastra. Katanya, “Dengan kesadaran minta perhatian buat perbedaan antara dunia imajinasi seniman dan dunia realitas dengan hukum positifnya, karena keputusan Saudara Hakim yang kurang tepat akan mempunyai akibat merugikan bagi masa depan kreativitas para seniman, bukan saja di Ibukota, tapi terutama di daerah-daerah”.

hamkaa

HAMKA: “Murtad saya dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat di majalah saya.”

Pembelaan HB Jassin tampaknya sia-sia. Majelis Hakim tetap memvonisnya dengan pidana penjara selama satu tahun dengan masa percobaan dua tahun karena dianggap melakukan penodaan agama (pasal 156a KUHP). Ia menerima putusan tersebut tapi bukan berarti sikapnya surut dalam membela kebebasan imajinasi. Masih terkait kasus itu ia menulis dalam majalah Horison: “Sesuatu karya haruslah dianggap sebagai alat penggungah pikiran, disetujui ataupun tidak disetujui isinya, masing-masing orang berhak untuk menyenanginya atai tidak menyenanginya, tapi orang tidak berhak menghancurkannya, seperti orang juga tidak berhak membunuh penciptanya.”

Mengapa Jassin mau membela dan menanggung akibat dari perbuatan yang tidak dilakukannya? Jawabannya tentu karena dia lahir-batin mencintai sastra dan hidup untuk sastra. Begitu gigihnya ia membela Langit Makin Mendung dan menyembunyikan identitas penulisnya sampai-sampai ada yang menduga bahwa Kipandjikusmin tidak lain adalah HB Jassin sendiri yang menulis dengan nama samaran.

Dua bulan setelah heboh itu Kipandjikusmin bicara kepada majalah Kami edisi 22 Oktober 1968 bahwa ia tidak bermaksud menghina agama Islam melainkan hanya menertawakan aneka kebodohan di masa rezim Soekarno. Tentang personifikasi hal-hal yang selama ini dianggap tabu, ia menandaskan bahwa itu semata-mata hasrat pribadinya untuk mengadakan komunikasi langsung dengan Tuhan, Nabi Muhammad, sorga, dll.

Teka-teki tentang siapa Kipandjikusmin yang sebenarnya baru terkuak dua tahun kemudian (1970). Kepada Usamah, redaktur pelaksana Ekspress yang dipimpin Goenawan Mohamad, Kipandjikusmin mengaku nama aslinya adalah Soedihartono. Ia menempuh pendidikan di Akademi Pelayaran Nasional, dan selama 6 tahun menjalani wajib dinas di Jakarta. Setelah itu ia tidak pernah menulis lagi. Namanya ditelan oleh arus gelombang kesusastraan yang—meminjam kata-kata Goenawan Mohamad seputar kasus ini—menentramkan dan bukan yang menggelisahkan.3)

Posisi Kipandjikusmin memang terpojok. Para sastrawan pada umumnya tidak membela dirinya maupun karyanya yang dianggap buruk, melainkan membela kebebasan imajinasi. Sebagian, seperti Hamka, tidak membela dirinya dan karyanya melainkan membela HB Jassin yang harus menjadi tameng karena kepengecutan Kipandjikusmin yang tidak menampakkan batang hidungnya ketika kasus itu merebak ke permukaan. Para sastrawan seperti Bur Rasuanto, Ali Audah, Taufiq Ismail, menganggap Langit Makin Mendung sebagai karya yang buruk atau bermutu rendah.

Hanya HB Jassin yang membela ketiganya: penulisnya, mutu karyanya, dan kebebasan imajinasi. Dan tampaknya Jassin konsisten, sebab seandainya Langit Makin Mendung bukan karya sastra yang bermutu tentunya tidak akan dimuat di majalah Sastra yang dipimpinnya. Hal ini berbeda dengan Hamka, misalnya, yang mengatakan bahwa majalah Panji Masyarakat yang dipimpinnya tidak akan memuat karya semacam itu. “Murtad saya dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat.” Jadi alasannya ialah agama, bukan sastra.

Kalau kita setuju kepada penilaian sebagian sastrawan tentang buruknya mutu sastra Langit Makin Mendung, maka karya itu dengan sendirinya akan terhapus dalam lembaran sejarah sastra. Sialnya, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara banyak karya sastra yang dinilai bermutu tinggi tenggelam ditelan zaman dan dalam ingatan masyarakat, Langit Makin Mendung terus saja dibicarakan. Melintasi zaman. Rupanya keburukan sebuah karya tidak selalu identik dengan kesia-siaan atau mudah dilupakan. []

Catatan:

  1. Kajian mutakhir mengenai ini lihat, Marwan Saridjo, Sastra dan Agama (Jakarta: Penamadani, 2006).
  2. Duduk perkara dan polemik sekitar kasus ini kini telah dibukukan. Lihat, Muhidin M. Dahlan dan Mujib Hermani (eds.), Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen “Langit Makin Mendung” Ki Pandjikusmin (Jakarta: Melibas, 2004).
  3. Ibid., hal. 166.

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

******************************************

___________________________________________________

PELATIHAN MENULIS Bersama AHMAD GAUS

____________________________________________________________

Menulis itu menyenangkan. Banyak orang menemukan kembali gairah hidupnya setelah diperkenalkan dengan dunia tulis-menulis, sebab di dalam aktivitas itu ada energi gerak yang memutar baling-baling kehidupan menuju dunia tanpa batas: dunia imajinasi. Jika anda muak dengan realitas di sekeliling anda, ciptakanlah realitas lain yang menyenangkan di dunia imajinasi. Semakin banyak orang yang dapat anda bawa masuk ke dunia imajinasi anda, semakin besar kemungkinan imajinasi itu menjadi kenyataan. Bukankah sebelum menjadi tanah air yang riil, Indonesia ialah negeri yang diimajinasikan (imagined community, kata Ben Anderson) oleh penyair Muhammad Yamin, dll? Begitu juga Amerika Serikat yang pada mulanya dibentuk oleh imajinasi dalam Pocahontas, Rip van Winkle, dll.

Menulis itu menyenangkan. Ratusan orang (pelajar/santri, mahasiswa, dosen, umum) telah membuktikannya dalam berbagai pelatihan menulis yang saya pandu. Yuk ikuti pelatihan menulis, ada kelas regular, ada juga in house training. Hubungi: 0818-829-193

Para Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi Mengikuti Pelatihan Menulis Karya Ilmiah dan Karangan Kreatif, 23-24 Maret 2015

Para Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi Mengikuti Pelatihan Menulis Karya Ilmiah dan Karangan Kreatif, 23-24 Maret 2015

Para siswa/i SMP sekota Ambon mengikuti pelatihan menulis bersama Ahmad Gaus, 19  Nopember 2013

Para siswa/i SMP sekota Ambon mengikuti pelatihan menulis bersama Ahmad Gaus, 19 Nopember 2013 

Posted by: Ahmad Gaus | September 8, 2014

DUA HATI: Antologi Puisi Mini Multimedia

INI PUISI era digital, teks saja tidak cukup. Puisi dipadukan dengan audio-visual. Namanya Puisi Mini Multimedia (PMM), atau #eShortPoem

Di bawah ini beberapa PMM saya yang dibingkai dengan ilustrasi. Dua PMM lainnya saya buatkan versi videonya. Selamat menikmati🙂

03-Jangkar

10-Rindu

06-Cupid

01-Dua Hati

07-Cemara

02-Perkasa
08-Kutukan
09-Pesta

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2014

TABAH – Lagu Kenangan Saat di Asrama

IMG-20140831-WA000

Foto alumni Ponpes Darun Najah (DN) Angkatan 15 (lulus tahun 1992) saat reuni di Kuningan-Cirebon, 30/8/14. Photo Courtesy: Jumiatie


Kalau anda pernah tinggal di asmara mungkin pernah juga mendengar lagu di bawah ini. Biasanya dinyanyikan saat kumpul bersama, acara api unggun, renungan malam, dsb. Lagu ini membuat para penghuni asrama mampu bertahan dari cobaan dan penderitaan bertubi-tubi, atau sebaliknya, nangis berdarah-darah, hehehe. Saya sendiri pertamakali mendengarnya waktu mondok di ponpes Darqo long long agooo…

TABAH

Daku kini tiada berarti
hidup di dalam derita
siang malam dirundung malang
hidup di dalam gemblengan.

Datang terang penyuluh hati
kuatkan iman selalu
tabahkanlah lapangkan dada
jauh dari putus asa.

Binatang jalang

HARI INI tanggal 26 Juli adalah hari kelahiran Chairil Anwar, yang diperingati sebagai Hari Puisi Indonesia. Berikut catatan saya atas penyair pelopor Angkatan ’45 tersebut.

Chairil Anwar dan Revolusi Puisi Indonesia
Oleh Ahmad Gaus

RASANYA MUSTAHIL membicarakan jatidiri puisi Indonesia tanpa menyebut nama Chairil Anwar. Sama mustahilnya dengan membicarakan jatidiri bangsa Indonesia tanpa menyebut Bung Karno. Bukan kebetulan bahwa keduanya hidup di zaman yang sama, zaman revolusi, dan sama-sama menjadi patriot bagi revolusi itu sendiri, walaupun di antara keduanya ada selisih usia yang cukup jauh — Chairil Anwar lahir pada 1922 dan Bung Karno lahir pada 1901.

Daya ledak (“explosive power”) terkuat dalam sajak-sajak Chairil Anwar — yang membuatnya terus bergema keras hingga sekarang — sebenarnya juga karena di dalamnya ada mengandung spirit besar dari orang-orang besar semisal Bung Karno itu. Dalam hal anti-kolonialisme Chairil tidak tanggung-tanggung menempatkan dirinya satu barisan dan satu jiwa, dengan Bung Karno, sebagaimana dapat dibaca dalam sajak “Persetujuan dengan Bung Karno” ini:

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Posisi Chairil sebagai penyair-patriotik tidak bisa diabaikan karena sajak-sajaknya yang memberi kesaksian atas zaman yang sedang bergolak tersebut (Aku, Prajurit Jaga Malam, Krawang-Bekasi, 1943, Diponegoro, adalah sebagian dari sajak-sajak yang dimaksud). Bahkan lebih dari sekadar memberi kesaksian tapi juga mampu menghadirkan suasana dan emosi yang kuat pada saat sajak itu ditulis.
Dalam sajak Krawang-Bekasi yang merupakan sajak saduran dari The Young Dead Soldier karya Archibald MacLeish, Chairil juga menyebut tokoh-tokoh penting bangsa ini: Kenang, kenanglah kami/ Teruskan, teruskan jiwa kami/ Menjaga Bung Karno/ menjaga Bung Hatta/ menjaga Bung Sjahrir (1948). Sedangkan dalam sajak Diponegoro ia menulis: … /Di depan sekali tuan menanti/ Tak gentar/ Lawan banyaknya seratus kali/ …/ Sekali berarti/ Sudah itu mati.

Sajak-sajak di atas menempatkan Chairil sebagai penyair paling penting sepanjang sejarah republik. Nama Chairil bukan semata-mata identik dengan sajak namun juga dengan perjuangan kemerdekaan. Tidak setiap penyair memiliki reputasi semacam itu – walaupun hidup di zaman yang sama. Sebagian ada yang tenggelam kemudian hilang ditelan waktu. Chairil terus hidup. Ia benar-benar perwujudan dari kepercayaan mistik bahwa karya seseorang membuatnya tak pernah mati.

Salah satu karya Chairil berjudul “Aku” terus dibaca hingga sekarang. Bahkan bisa dikatakan, sampai saat ini tidak ada puisi di Indonesia yang terkenal melebihi puisi “Aku”. Anak-anak sekolah tingkat dasar sampai pejabat tinggi sangat akrab dengan puisi ini. Dalam buku-buku pelajaran bahasa Indonesia, puisi ini juga masih dicantumkan, dihapalkan, dan dibaca (dideklamasikan) oleh para siswa dalam momen-momen tertentu. Di panggung-panggung agustusan yang tiap tahun digelar di seluruh pelosok negeri, puisi “Aku” masih menjadi pilihan paling favorit untuk dibacakan, selain Krawang-Bekasi.

Puisi “Aku” mengandung spirit pemberontakan terhadap penindasan (penjajahan Jepang). Itulah yang menempatkan Chairil tidak hanya dianggap sebagai penyair tapi juga pejuang. Kosakata yang digunakannya dalam sajak itu adalah kosakata keseharian yang mudah dipahami sehingga siapa saja bisa menikmatinya tanpa kendala bahasa. Itu pula yang membuka aksesnya pada pemahaman awam dan membuatnya sangat popular. Dan sebagaimana dituturkan seorang kritikus sastra, melalui sajak itu Chairil mendayagunakan bentuk, bunyi, dan metafora yang gamblang untuk menikamkan sentakan akustik pada pembacanya.1) Mari kita simak puisi tersebut:

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Sajak itu terdapat dalam antologi Deru Campur Debu 2) dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus,3) yang keduanya merupakan antologi sajak tunggal Chairil Anwar. Selama masa kepenyairannya yang terbilang pendek, Chairil telah menulis 70 sajak.4) Semuanya diterbitkan dalam buku yang berbeda. Selain dalam dua buku di atas, sajak-sajak Chairil juga terdapat dalam Tiga Menguak Takdir yang ditulis bersama Asrul Sani dan Rivai Apin,5) serta dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45.6)

Puluhan tahun kemudian seorang sastrawan dan editor, Pamusuk Eneste, mengumpulkan kembali sajak-sajak Chairil Anwar yang berserakan dalam berbagai antologi dan menerbitkannya di bawah judul Aku Ini Binatang Jalang, yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1986. Buku ini memuat seluruh sajak Chairil Anwar. Sangat beralasan bahwa judul buku ini tidak mengambil salah satu dari judul-judul sajak Chairil, melainkan dari salah satu baris dalam sajak “Aku” yang terkenal itu. Frase “Aku Ini Binatang Jalang” dengan jelas mewakili karakter kepenyairan Chairil Anwar yang diketahui publik sebagai seorang pendobrak yang revolusioner.

Dalam gaya pengucapan dan pilihan diksi sajak-sajak Chairil boleh dibilang tanpa preseden. Pendahulunya, Amir Hamzah, memang bisa disebut sang pendobrak juga. Bahkan Chairil juga menyebut Amir Hamzah sebagai puncak dari angkatan Pujangga Baru. Penyair tersebut diakuinya telah berhasil mendekonstruksi bahasa lama dan menyajikan bahasa Indonesia yang cemerlang.

Namun, di hadapan kebesaran Amir Hamzah, Chairil justru menjadi “binatang jalang” yang meletakkan gaya baru dalam pemakaian bahasa puisi dan membuat perbedaan yang cukup menonjol dengan pendahulunya tersebut. Dan karena itu sering disebut sebagai pelopor pembaruan bahasa puisi. Sejauhmana penyebutan ini absah, mari kita lihat dalam beberapa puisinya.

Pertama-tama di sini akan ditampilkan dua buah puisi karya Chairil yaitu Nisan, yang merupakan puisi awalnya, dan Derai-Derai Cemara,7) yang merupakan puisi terakhirnya. Setelah itu kita akan melihat puisi-puisinya yang lain.

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta..
Oktober 1942

Derai-Derai Cemara
cemara menderai sampai jauh
terasa hari jadi akan malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Membaca puisi Nisan dan Derai-Derai Cemara terasa seperti membaca pantun dengan rima berselang a-b-a-b. Puisi jenis ini mendominasi khazanah sastra Melayu dengan berbagai jenisnya: pantun nasihat, pantun muda-mudi, pantun agama, pantun adat, dan sebagainya. Penulisan puisi berpola pantun Melayu sebenarnya sudah mulai jarang dilakukan oleh para penyair sejak masa Pujangga Baru. Bahkan Sutan Takdir Alisjahbana mengejeknya sebagai ocehan nenek-nenek yang tidak ada kerja.8) Para penyair, termasuk Chairil, mulai menulis dalam bentuk soneta, yang merupakan tradisi sastra Eropa dengan jumlah baris empat belas (4-4-3-3). Setelah diejek dan ditinggalkan, kedudukan pantun bergeser dari tradisi tulis menjadi tradisi lisan. Lalu mengapa Chairil masih menulis puisi bergaya ucap pantun seperti di atas? Apakah dia tidak mendengar suara-suara miring terhadap puisi asli Nusantara tersebut? Bandingkan dua puisinya di atas dengan dua contoh pantun berikut:

Pantun Kiasan

Berburu ke padang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi

Pantun agama

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

Bunyi sajak akhir dua puisi Chairil serupa dengan bunyi sajak akhir dua pantun Melayu di atas. Bagaimana seorang Chairil yang menyebut diri binatang jalang dan disebut sebagai sang pemberontak terhadap pola pengucapan bahasa lama bergaya pantun bisa terjerumus menggunakan persajakan pantun itu sendiri? Kalau kita cermati dua contoh pantun di atas memang tampak serupa, tapi tidak sama, dengan dua puisi Chairil. Ciri pantun Melayu yang tiap barisnya terdiri atas dua periodus,9) dan tiap periodus terdiri atas dua kata (contoh: asam kandis, asam gelugur). tidak muncul secara konsisten dalam puisi Chairil, kecuali pada larik: cemara menderai sampai jauh, dan hidup hanya menunda kekalahan.

Dalam pantun Melayu selalu terdapat sampiran (dua baris pertama) dan isi (dua baris penutup). Lagi-lagi itu pun tidak terlihat dalam puisi Nisan maupun Derai-Derai Cemara. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua larik dalam puisi Chairil adalah isi. Jadi, walaupun puisi Nisan dan Derai-Derai Cemara, berima akhir a-b-a-b sehingga terasa seperti pantun, tampaknya rima itu hanya dimanfaatkan oleh Chairil untuk menghasilkan nada yang seirama supaya terdengar seperti musik yang mengalun indah. Alhasil, puisi Chairil bukanlah pantun dalam pengertian konvensional.

Juga, berbeda dengan puisi-puisi dari pujangga lain yang juga mulai “memberontak” terhadap pola persajakan Melayu konvensional seperti Roestam Effendi dan Amir Hamzah, yang sesungguhnya masih terasa kental kemelayuannya dengan bahasa mendayu-dayu, “puisi pantun” Chairil dibangun dengan susunan kata-kata yang hampir sepenuhnya berbunyi Indonesia yang sedang berteriak menegaskan kemandirian bahasanya sendiri.

Dalam Aku Ini Binatang Jalang yang menghimpun semua puisi Chairil Anwar, tergambar dengan jelas bagaimana pergumulan bahasa Indonesia yang sudah kadung diikrarkan sebagai bahasa persatuan (dalam Sumpah Pemuda) namun berdiri gamang di pundak kejayaan bahasa Melayu yang berabad-abad telah menjadi lingua franca. Bukan hanya citra adiluhung yang melekat dalam bahasa kawasan itu yang menjadi beban untuk ditinggalkan. Namun, estetika sastra yang dibangun dengan kosakata Melayu yang indah telah menempatan puisi ke posisi sakral dengan daya pukau yang mencekam seperti pada puisi-puisi Amir Hamzah.

Puisi-puisi dalam Aku Ini Binatang Jalang merupakan pemberontakan terhadap corak bahasa melankolis yang lazim muncul pada puisi para penyair sebelumnya. Kosakata “binatang jalang” adalah contoh—walaupun jelas bukan satu-satunya—yang menegaskan bahwa efek impresif puisi tidak harus bergantung pada kesakralan kosakata yang digunakannya. Kosakata yang tak suci, “duniawi”, dan dipungut dari jalanan, juga mampu menghadirkan kesan mendalam pada sebuah bangunan puisi. Kalau sampai waktuku/ Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu. Bait ini, kalau diartikan sebagai kepasrahan pada ajal yang bersemayam dalam misteri ilahiyah, sungguh merupakan ungkapan yang tak senonoh dan angkuh. Dan keangkuhan itu dipertegas lagi: Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih perih. Puisi ini ditutup dengan bait yang merupakan ungkapan antiklimaks: Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Apakah dengan memasukkan kosakata yang banal dan tak elok seperti “peluru”, “meradang”, “menerjang”, “luka”, “bisa”, “tidak peduli”, nilai puisi itu menjadi rendah dan kehilangan impresinya? Dengan menilik makna intrinsiknya, puisi itu bukan saja tidak kehilangan daya pukaunya, bahkan justru memberi efek yang lebih tajam pada pesan yang dikandungnya. Dua baris terakhir menegaskan elan vital bagi kehidupan yang ingin terus dijalani selamanya tanpa peduli bahwa ajal menanti persis di hadapannya dengan sikap sempurna.

Puisi-puisi Aku, Nisan, Derai-Derai Cemara, Yang Terampas dan Yang Putus, bahkan juga Cintaku Jauh Di Pulau, berbicara tentang kematian sebagai teka-teki yang kadang dipertanyakan, kadang diterima dengan pasrah sebagai kemestian, dan bahkan ditunggu:

Yang Terampas dan Yang Putus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru
dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
berlaku beku

1949

kelam dan angin lalu

Pribadi si “Aku” yang tegar dalam sosok “binatang jalang” seakan lenyap ditelan kepasrahan dan penerimaan pada nasib manusia yang harus berjumpa dengan ajal di setiap tikungan. Bahkan jiwa yang revolusioner dan menggebu-gebu seperti tunduk menyerah tatkala si “Aku” diperbudak oleh perasaan cinta seperti pada: Hampa, Pemberian Tahu, dan Senja Di Pelabuhan Kecil. Dalam puisi-puisi cintanya yang lebih optimistik seperti Taman, Lagu Biasa, dan Sajak Putih, memang tidak ada ruang bagi kesedihan, dimana kesedihan sudah didendangkan: sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba/ meriak muka air kolam jiwa/ dan dalam dadaku memerdu lagu/ menarik menari seluruh aku (Sajak Putih). Namun jeritan sentimentil dalam puisi-puisi cinta itu tetap terasa kental. Dalam puisi berjudul Doa di bawah ini, si “Aku” bahkan tampak menyerah:

Doa
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal berkedip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpulang

13 November 1943

Kepasrahan semacam itu menjadi anomali pada jiwa yang selalu menikmati kegelisahan dan tidak pernah peduli, sehingga menimbulkan pertanyaan: Apakah ini merupakan kelemahan bagi si “Aku” yang mendakwa diri “binatang jalang”?10) Jawaban dari pertanyaan itu ialah pertanyaan yang lain: Jika bukan dari jiwa yang sentimentil, mungkinkah akan tumbuh cinta yang revolusioner terhadap tanah air? Apa yang bergelora dalam diri Chairil Anwar kalau bukan rasa cinta yang sentimentil terhadap negerinya, yang melahirkan puisi-puisi: Merdeka, Diponegoro, Cerita buat Dien Tamaela, Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, 1943, Catetan Tahun 1946, Prajurit Jaga Malam, dsb? Hanya jiwa yang sentimentil yang menggerakkan tangan seseorang untuk mampu menuliskan rasa cintanya yang mendalam pada tanah air. Pangakuan seperti ini disampaikan pula oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono dalam epilog buku Aku Ini Binatang Jalang: “Bagaimanapun, Chairil Anwar tampil lebih menonjol sebagai sosok yang penuh semangat hidup dan sikap kepahlawanan…. Bahkan sebenarnya… salah seorang penyair kita yang memperhatikan kepentingan sosial dan politik bangsa.”

Sampai sekarang ungkapan-ungkapan yang diambil dari sajak-sajak Chairil Anwar masih terus diingat dan dikutip: Sekali berarti, Sudah itu mati (Diponegoro), Hidup hanya menunda kekalahan (Derai-Derai Cemara), Nasib adalah kesunyian masing-masing (Pemberian Tahu), Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian (Karawang-Bekasi), Sedang dengan cermin aku enggan berbagi (Penerimaan), Orang ngomong anjing nggonggong (Kesabaran), Aku mau hidup seribu tahun lagi (Aku), dan lain-lain.

Sekali berarti

Tidak bisa dipungkiri bahwa puisi Aku merupakan puisi yang paling terkenal dari Chairil Anwar. Namun, mereduksi Chairil menjadi sekadar Aku tentu sebuah simplifikasi. Seluruh puisinya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena dalam keseluruhannya tergambar salah satu tonggak terpenting dalam perkembangan sastra Indonesia. Jika pada Nyanyi Sunyi-nya Amir Hamzah kita membaca kesepian yang mencekam, maka pada Aku Ini Binatang Jalang kita membaca kesepian yang menggelora. Dalam kata-kata Afrizal, sepi dihadirkan sebagai makhluk yang buas.11)

Dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, H.B. Jassin menyebut Chairil Anwar sebagai orang yang pertama-tama merintis jalan dan membentuk aliran baru dalam kesusastraan Indonesia. Para penyair yang lahir sesudahnya pun tidak luput dari pengaruhnya, baik dalam soal wawasan estetik maupun orientasi kepenyairan. Wawasan estetikanya yang membunyikan kesepian eksistensial manusia (sebagai hamba Tuhan maupun bangsa terjajah) menjadi lagu penuh gejolak mudah ditemukan pada generasi penyair sesudahnya.12)

Sajak-sajak Chairil Anwar memang tidak sama sekali memutus zamannya dengan zaman sebelumnya. Tetapi ia membuat perbedaan yang sangat besar, yang dapat diletakkan di atas “reruntuhan” gaya bahasa lama. Dan, boleh jadi hal ini juga terkait dengan hidupnya yang selalu berdiri di atas “reruntuhan”. Kedua orangtuanya bercerai saat ia masih remaja. Setelah dewasa dan menikahi Hapsah, pernikahan itu juga akhirnya kandas karena kesulitan ekonomi yang terus mendera. Ia pernah berjualan buku untuk menyambung hidup. Dan pernah mendekam dipenjara Cipinang karena kasus pencurian. Sekolahnya hanya sampai tingkat menengah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dan itu pun tidak selesai.

Namun demikian, Chairil menguasai sejumlah bahasa asing yang memungkinkannya membaca karya-karya para pengarang internasional seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Karya-karya para pengarang itulah yang mempengaruhi tulisan-tulisannya.

Masa kepenyairan Chairil yang singkat sebanding belaka dengan usianya yang relatif pendek. Ia mati muda. Lahir di di Medan pada 25 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949. Jika masa kepenyairannya dihitung sejak publikasi sajaknya yang pertama “Nisan” pada tahun 1942 (ketika dia berusia dua puluh tahun) maka Chairil menulis sajak hanya selama 7 tahun (sampai ia wafat pada 1949). Selama masa yang pendek itu ia menulis 70 buah sajak asli, 10 terjemahan, 4 saduran, dan 6 prosa asli dan 4 terjemahan.

Karya sadurannya yang sangat popular ialah Kerawang-Bekasi, yang sering dianggap sebagai karyanya sendiri. Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide) dan Kena Gempur (1951, John Steinbeck). Karya Chairil sendiri bisa ditemukan dalam berbagai terjemahan bahasa asing seperti bahasa Inggris: “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); bahasa Spanyol: “Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); dan bahasa Jerman: Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978).

Tanggal lahir Chairil 26 Juli ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia yang selalu diperingati setiap tahun dengan berbagai acara sastra. Penetapan ini memperluas spektrum pengaruhnya di dunia perpuisian di tanah air, setelah sebelumnya dikukuhkan oleh Paus Sastra HB Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45. Menilik karya-karya dan pengaruhnya yang melintasi zaman, padahal rentang kepenyairannya terbilang sangat pendek (7 tahun), maka Chairil Anwar sangat pantas atas penghargaan-penghargaan tersebut.

Catatan:

1. Pernyataan ini dikemukakan esais Geger Riyanto ketika membandingkan puisi-puisi Afrizal Malna dan Chairil Anwar. Lihat tulisannya, “Afrizal dan Puisi Peristiwa”, Kompas, 10 Maret 2013.

2. Diterbitkan oleh Dian Rakyat, Jakarta, dan merupakan kumpulan puisi pertama Chairil Anwar. Buku ini memuat 45 judul puisi. Juga diterbitkan oleh Penerbit Pembangunan, Jakarta, 1966.

3. Diterbitkan oleh Dian Rakyat, Jakarta. Sampai tahun 2007 telah mengalami cetak ulang 16 kali. Dan sesuai judulnya buku ini dibagi dua bagian: Bagian I. Kerikil Tajam berisi 29 puisi, Bagian II. Yang Terampas dan Yang Putus berisi 9 puisi.

4. Jika dihitung dari puisi pertamanya, “Nisan”, yang bertanggal Oktober 1942 sampai meninggalnya pada 28 april 1949, maka masa kepenyairannya kurang dari 7 tahun.

5. Diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, 1950.

6. HB Jassin, ed., Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (Jakarta: Gunung Agung, 1983)

7. Dalam buku Aku Ini Binatang Jalang, sang editor Pamusuk Eneste, menurunkan puisi-puisi Chairil Anwar secara kronologis, yang menempatkan “Nisan” di awal dan “Derai-Derai Cemara” di akhir urutan.

8. Mengenai pudarnya tradisi penulisan pantun sejak tahun 1930-an, lihat pengantar Ajip Rosidi dalam bukunya Pantun Anak Ayam (Jakarta: Pustaka Jaya, 2006).

9. Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), hal. 8 dan 9.

10. Persoalan ini pernah dikemukakan, misalnya, oleh Arif Budiman yang menyatakan bahwa si Binatang Jalang itu sudah menyerah, sebab tanpa Tuhan ia akan “remuk dan hilang bentuk”, sehingga merasa perlu untuk mengetuk pintu Tuhan dan kemudian “tidak bisa berpaling”. Lihat Arief Budiman, Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)

11. Afrizal Malna, “Chairil dalam Kardus Masa Kini”, Kompas, 28 April 2013

12. Dalam sebuah esainya, penyair Afrizal Malna mengatakan bahwa mainstream puisi ala Chairil Anwar sangat sulit ditinggalkan pada masa-masa sesudahnya. Lihat, Afrizal Malna, “Kota Di Bawah Bayangan Api”, Kompas, 17 Maret 2013. Sastrawan Nur Zen Hae dalam sebuah ceramah pada peluncuran dua buku kumpulan puisi Goenawan Mohamad, 70 Puisi dan Don Quixote, di Jakarta, pada 27 Juli 2011 mengatakan bahwa perjalanan kepenyairan Goenawan Mohamad memperoleh pengaruh dari Chairil Anwar, selain dari Amir Hamzah dan Miguel de Cervantes Saavedra.

Note: Esai ini pernah dimuat dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh karya Jamal D. Rachman, dkk (Kepustakaan Populer Gramedia, 2014).

_________

Ahmad Gaus adalah seorang penulis dan trainer #Writerpreneurship. Telah menulis 25 buku dan ratusan esai. Mengampu pelatihan menulis dengan metode #WriteNow di berbagai sekolah, pesantren, kampus, dan umum. Kontak email: gausaf@yahoo.com || twitter: @AhmadGaus || Mobile 0818.829.193

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,437 other followers