Posted by: Ahmad Gaus | August 28, 2018

Bangsa Merdeka [Puisi]

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | November 14, 2018

Musikalisasi Puisi SENJA DI JAKARTA

Terima kasih kepada sahabatku, Abdullah Sajad, yang membuat musikalisasi puisi karya saya, SENJA DI JAKARTA. Silakan dinikmati sambil nyeruput kopi dan membayangkan seorang kekasih duduk di sampingmu 🙂

 

SENJA DI JAKARTA

tubuhku berulang kali menjadi dinding, kekasihku

menahan rasa sakit dan gemuruh angin yang dikirim

dari gedung-gedung yang selalu berisik

di jantung kota

 

kisah-kisah konspirasi menjerat mimpiku

di kursi-kursi tua yang lelah menunggumu

untuk menghapus peluh dari tanganku

yang tidak berhenti berderak

 

di sudut kota matahari sore menerobos

jendela apartemen yang tidak pernah dibuka

burung gereja menyanyikan mars perjuangan

awan hitam berbaris seperti pasukan demonstran

yang marah, ingin merubuhkan pagar istana

intrik, makar, konspirasi, apalagi

 

semua huru-hara ini, kekasihku,

masih akan berlangsung

memekakan telingaku yang sudah rata

dengan jalanan

pandanganku yang selalu nanar

kehilangan taman bunga

 

duduklah, aku ingin menikmati lagi

bibir senja, rambutmu yang berkilau langit sutra

matamu yang bening bagai air telaga

aku ingin mereguk lagi segelas teh

dan ciuman hangat

 

sebelum senja berlalu

memetik bunga mawar di kelopak matamu

 

Di Hari Puisi,  26 Juli 2017

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | November 5, 2018

Puisi, Daun, dan Bunga di Musim Semi

Buku Puisi Heri2

Kata Pengantar Ahmad Gaus untuk Buku Puisi Heri Mulyadi, “Elegi Cinta, Cerita Kata.”

Puisi, Daun, dan Bunga di Musim Semi

ADA yang mengatakan bahwa setiap puisi adalah hasil proses kreatif. Pernyataan ini benar belaka. Tapi tidak cukup. Puisi ialah imajinasi, yaitu proses pra-kreasi. Keduanya tentu berkelindan, namun saya merasa perlu membedakannya beberapa saat setelah saya menyimak puisi-puisi penyair Heri Mulyadi dalam buku ini. Berekspresi dalam puisi artinya meletakkan atau menyusun bahan-bahan yang tersedia (ide, suasana, peristiwa, objek-objek) ke dalam bangunan puisi. Namun karena puisi ialah karya seni, maka berlakulah apa yang dipercayai para seniman bahwa “in art, we are doing more than just putting materials or actions or combining ideas together.”

Karya seni, termasuk puisi, merefleksikan proses penciptaan yang rumit karena aktivitas semacam itu menuntut seniman untuk memiliki kemampuan melihat hal-hal yang tak terlihat, atau dalam kata-kata Nancy McCormick (2018), the ability to see objects in things not readily seen or observed. Nancy bahkan percaya bahwa sebuah karya seharusnya memang lahir dari hasil “melihat”, bukan lahir dari hasil kreativitas belaka. Itulah yang disebut imajinasi. Sedangkan kreativitas ialah the ability to produce an idea in a new way. Jadi memang berbeda.

Di mana istimewanya puisi-puisi Heri Mulyadi bila dilihat dari kacamata itu? Sebagian puisi yang dimuat dalam buku ini merupakan hasil “penglihatan” Heri yang mampu menerobos alam fenomena yang kasat mata, menyingkap rahasia-rahasia di balik kenyataan keras, dan meletakkan imajinasinya dalam horison pandangan mata yang berlapis-lapis. Sebagian lainnya adalah puisi-puisi yang lahir dari proses pengendapan pikiran dan perasaan yang diekspresikan dalam bait-bait puisi yang terkesan “komunikatif”. Pikiran dan perasaan ada pada setiap orang, namun tidak setiap orang mampu mengekspresikan dengan cara seorang penyair menyampaikannya. Orang-orang memilih jalan lurus dan verbal, penyair memilih jalan menikung dan terjal. Heri lebih sering memilih jalan yang kedua.

Mari kita simak puisi Heri di bawah ini:

 

Mengejar Tuhan

 

Di jalan zonder debu ini,  angin berkesiut

menyesaki ruang, mengembara

membekap buana, meniupkan

selendang pelangi, berselimut

malam, berpayung hujan

 

Kisahkanlah: jika sejumput rindu datang,

orang ramai berteriak atas nama tuhan,

masihkah zikir, doa-doa kasih

bagi gembala tersesat, dewa dewi yang

bersemayam di nirwana,

tapa brata pengendali jiwa,

meredam amarah,

benci dan dendam?

 

Di deru angin kutemui wajah

rupa-rupa tuhan, aku tersungkur:

sujudku belum lagi sampai

 

kutanya adam,  ibrahim,  musa dan isa:

pulanglah, katanya, usah engkau berebut

mengejar tuhan

lalu torehkan luka

budha melambai di kejauhan, kidungkan

bhagawat para pariah: jangan kau mati

sebelum mati

muhammad berbisik, jangan buat kedustaan!

 

Padang-Palembang,  27 Februari 2018

 

Puisi di atas merefleksikan pengembaraan imajinasi yang konsisten pada objek yang bisu, jauh, dan gaib. Nama-nama dan diksi yang dipilih adalah nomenklatur religius (sebagai representasi kesucian, keagungan) yang dibenturkan dengan fenomena kemanusiaan yang profan dengan hasrat-hasrat manusiawinya seperti amarah, benci dan dendam. Adalah sifat manusia memiliki ambisi untuk mengejar kekuasaan, kedudukan, harta, dan sejenisnya. Juga, manusia sangat bernafsu menguasai kebenaran (yang direpresentasikan oleh judul puisi ini: Mengejar Tuhan). Masalahnya, jika setiap orang/kelompok berebut kebenaran sambil menghalau yang lain, maka yang akan terjadi ialah luka-luka, dan bahkan kebenaran itu sendiri menjauh: … usah engkau berebut/ mengejar tuhan / lalu torehkan luka.. / budha melambai di kejauhan.

Heri melakukan dialog imajiner dengan para nabi dan orang-orang suci sebagai upaya mencari jawaban atas apa yang ia lihat di alam fenomena yang boleh jadi tak nampak pada pandangan mata orang lain. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan lirih dan retoris. Realitas yang keras ditransendensikan. Dan ia mampu mengekspresikannya dalam bait-bait puisi yang sublim tanpa harus menggunakan metafora yang sulit dijangkau jejaknya. Namun  jelas bahwa ia berada cukup lama di alam imajinasi pra-kreasi sebelum menemukan bentuk pengungkapan dalam bait-bait puisi yang indah dan sublim. Puisi-puisi Heri yang bercorak seperti ini adalah: Nyanyian Senja Jeselton Point, Elegi Cinta, Mencari, Semburat, Penjahat Cinta, Malappuram Suatu Malam, Kidung Petang Bharata Pura, dan yang lainnya.

***

Sampai saat ini orang percaya bahwa puisi ialah ekspresi pikiran dan perasaan penulisnya. Dalam arti ini, puisi menjadi sosok kembar sang pengarang. Namun saya ingin menegaskan bahwa kompleksitas sebuah puisi tidak mungkin dirujuk sepenuhnya pada biografi sang pengarang yang tengah dilanda perasaan tertentu (jatuh cinta, bahagia, kecewa, marah, rindu, dan sebagainya). Juga tidak pada pikirannya yang tengah disusupi aneka problem, misalnya. Banyak puisi yang lahir begitu saja dari pohon imajinasi, muncul seperti daun dan bunga di musim semi.

Dalam pemahaman seperti ini, tidak setiap puisi memiliki hubungan dengan kenyataan yang terasakan atau terpikirkan, yang di dalamnya telah mengandung makna secara inhern. Justru tugas puisi ialah, dalam bahasa Riffaterre, creating of meaning (menciptakan makna). Dan tidak ada makna yang lebih agung dari sesuatu yang berada di luar pikiran dan perasaan manusia yang nisbi. Maka kehadiran Sang Penyair menjadi syarat bagi sebuah puisi agung. DIA -lah yang menulis, sedangkan si penyair hanya perantara, media yang mengantarkan suara Sang Pemilik makna. Dalam buku ini banyak puisi Heri yang merupakan ungkapan ketundukan seorang hamba kepada Sang Khaliq, kepasrahan hidup yang fana pada keabadian. Salah satu contoh puisi seperti itu ialah Perjalanan ke Mihrab 45.

Para teoritikus sastra pada umumnya bicara soal makna, tapi melupakan potensi makna, yang mengelilingi sebuah puisi. Maksud saya, makna terdapat dalam lipatan-lipatan teks, sementara potensi makna berada di luar teks. Kalau bukan dengan pemahaman seperti ini niscaya kita akan kesulitan membaca bait terakhir puisi Heri yang berjudul Perjalanan tersebut karena pesan yang terlahir lebih dari apa yang disampaikan. Berikut penggalan puisi tersebut:

 

Tak ada perayaan untukmu

karena jalan masihlah panjang

terus dan teruslah

beribu mihrab menunggu di ujung sajadah

 

Atau bait pertama dari puisi berjudul Kidung Petang Bharata Pura ini:

 

Bernyanyilah petang di jalan sunyi

hening melukis langit bermandi tembaga

seekor belibis rindu sarang

dan burung-burung kuntul tak lelah

mematuk paruh di kemilau Bharata Pura yang bisu

 

Sebagian puisi Heri dapat dibaca secara normatif, namun sebagian lagi mengajak kita bertamasya dalam labirin semiotika dimana tanda jejaknya harus ditafsir secara hati-hati. Setiap objek, ide, situasi, merepresentasikan makna tersendiri yang bekerja dalam jalinan teks puisi. Tujuannya menciptakan kejutan, paradoks, penajaman makna, atau pemerkayaan pesan yang hendak disampaikan.

Karena tanda tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tanda-tanda lainnya, maka sebuah puisi kadang menjadi jebakan bukan saja bagi pembaca yang menafsir namun juga bagi sang penyair. Penyair yang tidak hati-hati dalam menjalin tanda akan menyajikan puisi yang retak, cacat, bahkan anarkis. Pembaca sendiri akan terjerumus ke dalam lorong gelap tanpa pintu. Sebagian besar puisi Heri berhasil keluar dari jebakan ini. Namun pada beberapa puisi ia tampaknya, entah sengaja atau tidak, lebih menampakkan subjektivitas yang sebenarnya cukup berbahaya bagi pembacaan umum. Puisi yang bernada politik niscaya kurang mampu melejitkan cakrawala imajinasi dan menampung keragaman sudut pandang.

Puisi sebenarnya adalah campuran antara yang bukan puisi dan puisi itu sendiri. Gagasan yang kita sampaikan, posisi kita dalam sebuah peristiwa atau isu, intensi atau niat kita menyampaikannya — semua itu berada di luar puisi, bukan puisi, atau istilah resminya ekstra estetika. Sedangkan “yang puisi” itu sendiri, atau lingkaran estetika, mencakup semua unsur lahir-batin yang membentuk puisi seperti penyusunan larik dan bait, pemilihan diksi, gaya bahasa, rima, irama, alur, daya gugah, daya pikat, daya cekam, keharuan, imajinasi, dan unsur inovasi.

Tidak semua orang berhasil masuk ke dalam lingkaran estetika ini dengan gemilang. Bahkan mereka yang sudah terbiasa menulis puisi, atau penyair, kadang masih termangu-mangu di beranda depan lingkaran estetika. Lihat saja bagaimana beberapa waktu lalu banyak orang yang tiba-tiba menjadi penyair yang menulis puisi tandingan untuk puisi berjudul Ibu Indonesia karya Sukmawati Sukarnoputri yang menghebohkan itu. Ramai-ramai menulis puisi untuk sekadar menghujat. Jadilah puisi seperti slogan-slogan kampanye yang dijejali banyak narasi di luar daya tampung puisi itu sendiri. Jadilah puisi seperti retorika atau propaganda yang dipenuhi semua hal, kecuali puisi itu sendiri.

Sebagai seorang penyair yang telah melahirkan banyak karya, saya melihat Heri Mulyadi cukup piawai dalam menjalin kata, mencipta makna, merangkai pesan, membawa masuk unsur-unsur ekstra-estetika ke dalam tubuh puisi dengan halus dan cermat. Walhasil, sebagai seorang seniman yang menyerukan keindahan, Heri tampaknya tetap setia berada di dalam lingkaran estetika puisi sebagaimana saya maksudkan di atas. Selamat menikmati puisi-puisi sang penyair kelahiran Tanjungkarang, Lampung, ini.[]

 

Gedung Film, Oktober 2018

Ahmad Gaus AF, Dosen Sastra dan Budaya, Swiss German University (SGU) – Tangerang

 

Buku Puisi Heri

Jika Anda berminat membeli buku ini sila hubungi penerbitnya: 082178522158

Posted by: Ahmad Gaus | November 1, 2018

O CLARA, MANGE WISA KO

jemb sukarno

Jembatan Sukarno, Manado

O CLARA, MANGE WISA KO

Selamat malam, Clara
maukah kau temani aku sejenak saja
menyusuri tepian pantai di sana
atau sekadar bercengkrama di dermaga
menunggu saat purnama tiba
di seberang jembatan Sukarno

Aku ingin mendengar sekali lagi
deru nafasmu yang terengah
seperti isyarat bahwa ada sesuatu
yang tengah berubah

Di lorong-lorong kota
seribu gereja menunggu
sebuah lilin yang masih menyala
lonceng-lonceng makin keras dibunyikan
ayat-ayat suci makin keras dibacakan
udara kota berhimpitan

Maka kau harus terus menjaga
agar api itu tetap menyala
sebab kalau sampai padam
seluruh kota ini akan gelap gulita
lalu kau mau ke mana
mange wisa ko, Clara?

Manado, 28 Oktober 2018
Ahmad Gaus
penulis, aktivis

 

Deklarasi manado

Deklarasi Sumpah Pemuda Milenial oleh Jaringan Komunitas Bela Indonesia (KBI), di Jembatan Sukarno, Manado, 28 Oktober 2018

Unsrat manado

Posted by: Ahmad Gaus | October 17, 2018

KASIH TAK SAMPAI

jembatan siti n

Jembatan Siti Nurbaya, Padang

 

KASIH TAK SAMPAI

— Untuk SN

akhirnya kujumpai kau di sini
di atas sungai batang arau
sebuah jembatan terbentang
menghubungkan bukit hijau
dan masa lampau
yang mengambang di udara

deretan kisah lama masih ada
tragedi dan roman airmata
gedung-gedung tua yang berhimpitan
di sepanjang tepian
kupandangi lagi matamu, bibirmu
rambutmu yang dipintal cakrawala

kapal-kapal datang dan pergi
tapi engkau tetap berdiri
bertahan dengan cintamu
di ambang waktu

Padang, 14/10/18

 

Padang

Pantai Padang– di bukit sana terletak makam Siti Nurbaya, tokoh legendaris dalam roman karya Marah Rusli.

Posted by: Ahmad Gaus | October 4, 2018

GOD IS NOT HERE

is

GOD IS NOT HERE

 

There is another who incites the wall

Hiding in an old microphone

His words scattered in the air

Splitting the city in two

 

And suddenly I lost you

Every time I call, you infiltrate the rock

Closing all doors from the sound of the wind

Waves

Chirping birds in open fields

 

Even the sun is now halved

One you take home

The rest is the darkness that you put on my face

Likewise highways, residential areas, art buildings, houses of worship.

Everyone stepped on someone else’s body to fly the flag

Faith resides above the head that ignites fire

 

People shout to God

But God isn’t here

In a split

I vaguely saw His face there

At the end of the road

Waving hands

—————

Oct 04 2018

Ahmad Gaus AF

 

10-Rindu

Posted by: Ahmad Gaus | September 23, 2018

Pro-Kontra Islam Nusantara

Kuliah Twitter seputar Pro-kontra Islam Nusantara
Oleh Ahmad Gaus AF — penulis, aktivis, dosen ilmu kebudayaan
isnu

Salah satu buku yang diterbitkan sebagai referensi mengenai Islam Nusantara

1. Hari-hari ini pro-kontra Islam Nusantara kembali mencuat. Beberapa daerah di Sumatera terang-terangan menolak Islam Nusantara. Untuk menanggapi isu tersebut saya mau kultwit sedikit, sekadar apresiasi dan kritik. Yang berminat silakan gelar tikar. Siapkan kopi (+ rokok). 🙂 Tagarnya: #Isnus

2. Islam Nusantara adalah Islam yang beradaptasi dengan budaya lokal — budaya khas Nusantara dan tidak ada di kawasan-kawasan Islam lain seperti Arab dan Timur Tengah, Asia Tengah, dan lain-lain. #Isnus

3. Hasil adaptasi Islam dan budaya Nusantara telah melahirkan — misalnya — tradisi lebaran, tabuh beduk, ketupat lebaran, halal bihalal, sarung, dll. Itulah #Isnus

4. Konsep #Isnus merefleksikan kerendah-hatian Islam dalam melihat budaya setempat sebagai produk sejarah panjang dan telah melahirkan adat, norma, sistem sosial, dan sebagainya. Maka ada kaidah fikih, al-adat muhakkamah (adat dapat menjadi hukum), artinya tidak harus hukum Islam. #Isnus

5. Faktanya ada Islam Sunda, Islam Jawa, Islam Ambon, dll, yang merupakan ekspresi kultural. Ini bukan aliran Islam tersendiri. Sebab sistem tauhid dan peribadatannya sama belaka. #Isnus

6. Menurut cendekiawan Minang, Prof Azyumardi Azra, filosofi “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” adalah contoh refleksi Islam Nusantara. Islam datang dan menyebar melalui proses pribumisasi. #Isnus

7. Dengan begitu #Isnus berarti membumikan Islam di kawasan Nusantara, agar agama ini bersenyawa dengan — dan memiliki akar dalam — budaya setempat. Sehingga Islam dan budaya saling mengisi, bukan saling menolak atau bersaing yang akan melahirkan konflik.

8. Budaya lokal sudah ada sebelum agama Islam masuk, bagaimana mungkin Islam mau menyainginya? Lebih produktif kalau bersinergi dalam proses akulturasi dan asimilasi, sehingga lahir peradaban hibrid yang menunjukkan kekayaan sebuah bangsa. #Isnus

9. Akulturasi ialah ketika Islam sebagai unsur asing datang ke Nusantara dan berjumpa dengan budaya setempat. Budaya setempat mau menerima dan mengolahnya menjadi budaya sendiri. Masjid Menara Kudus adalah contoh akulturasi di mana Islam berpadu dengan budaya Hindu yang sudah lama ada. #Isnus

10. Asimilasi ialah ketika Islam yang dari tanah Arab diterima sebagai agama di Nusantara tapi unsur-unsur  budaya Arabnya tidak. Maka Muslim Indonesia berislam dengan budaya mereka sendiri. Lebaran dan opor ayamnya adalah contoh asimilasi ini. #Isnus

11. Tentu saja sebagai nilai, Islam itu universal dan kosmopolitan. Tapi sebagai realitas sosial ia akan harus menyesuaikan diri dengan konteks budaya lokal. #Isnus

12. Dulu dakwah Wali Songo bisa diterima oleh masyarakat karena mereka memanfaatkan budaya lokal Nusantara seperti wayang. Maka proses islamisasi yang sukses di Nusantara sebenarnya berutang budi pada budaya-budaya Nusantara. #Isnus

13. Dengan kata lain, Islam Nusantara ialah Islam yang mengakar pada budaya-budaya Nusantara yang beragam, sehingga artikulasi budaya Islam bisa berbeda di berbagai wilayah, namun mereka dipersatukan oleh tauhid yang sama.

14. Budaya-budaya Nusantara yang beragam memberi corak tersendiri pada wajah Islam di sini, yang memperlihatkan pluralitas. Majalah Time menyebut “smiling Islam” (Islam yg tersenyum),  moderat dan toleran. Bukan wajah Islam yang marah seperti di wilayah-wilayah konflik di Timur Tengah. #Isnus

15. Kawasan Islam Arab dan Islam Persia pernah tumbuh menjadi kawasan peradaban yang tinggi. Tapi kawasan Islam Nusantara belum melahirkan peradaban yang tinggi (kecuali dalam tingkat tertentu, peradaban literasi). Inilah tantangan #Isnus.

16. Apakah saya setuju sepenuhnya dengab gagasan #Isnus ini? Secara substansi saya sangat setuju. Sebab inilah wajah Islam yang masih dapat diharapkan mampu memberi sumbangan pada perdamaian dunia. Namun sebagai konsep saya meragukan validitasnya. Mengapa?

17. Menurut Wikipedia, Nusantara is a Javanese word (istilah Jawa).. based on the Majapahit concept of state. Tidak heran kalau pihak yang kontra mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Jawa. #Isnus

18. Menurut Wikipedia, kawasan Nusantara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina. Setelah Majapahit runtuh, maka yang disebut Nusantara telah menjadi kawasan geopolitik imajiner. #Isnus

19. Maka problem Islam Nusantara ialah terminologi, dari politik ke budaya. Tidak mudah menghilangkan trauma hegemoni politik Jawa atas wilayah-wilayah lain. Dan ini yang terbaca dari penolakan Sumatera atas gagasan #Isnus.

20. Di Malaysia, istilah nusantara berkonotasi budaya, sedangkan istilah melayu berkonotasi politik. Tapi di Indonesia justru sebaliknya. Maka istilah Islam Nusantara secara psikologis masih dipahami sebagai perpanjangan politik Jawa dan jawanisasi. #Isnus

21. Mempertimbangkan istilah atau kata amatlah penting dalam membangun konsep karena di dalamnya ada discourse. Seperti kata Konghucu, “semua tergantung istilah;” atau “kata membangun dunia” (Freire); atau “pada mulanya adalah kata” (Bibel), atau Pertama-tama ialah nama (QS 2:31). #Isnus

22. Kalau yang ingin dituju oleh konsep Islam Nusantara ialah menampilkan aspek budaya-budaya Islam di Indonesia, maka istilah “Islam Melayu” atau “Islam Melayu-Nusantara” sebetulnya lebih memadai secara konseptual. #Isnus

23. Bahasa Melayu sejak dulu telah menjadi bahasa kawasan. Penyebaran Islam di kawasan ini pun menggunakan bahasa Melayu. Bersamaan dengan itu budaya Melayu telah menjadi bagian penting dari budaya umat Islam di seluruh Indonesia. #Isnus

24. Budaya Melayu adalah satu-satunya budaya yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai budaya kawasan. Saya pernah membahas ini dalam seminar di Pekan Baru, Riau. Ini link-nya:

25. Akhirnya, soal pro-kontra Islam Nusantara  ini saran saya: jangan menerima membabi buta. Jangan juga menolak asal menolak tanpa memahami substansi yang ditolak. Apalagi menyebar hoax yang aneh-aneh tentang #Isnus, Kata pepatah: “Annasu aduwwun limaa jahilu” (manusia itu musuh atas apa yang tidak diketahuinya). 

26. Demikian kuliah singkat saya tentang Islam Nusantara #Isnus. Terima kasih atas atensi, retweet, dan respon semua tweeps. Semoga bermanfaat. Sekarang izinkan saya kembali menikmati lagu-lagu Melayu kesukaan saya: “Selayang Pandang”:

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 19, 2018

NIGHT SONG

 

NIGHT SONG

Specks of dust in the night sky kept my loneliness in company.  The moon sits perfectly in the window.  Reluctantly contemplating to deliver message from the lover – who is the horizon.

I imagine he comes up to me, bringing about an influx of deafening silence in my chest.  Calling back seagulls, who flew miles away to another bay to make love.  Reminiscing memories buried in sand and stone.  In my shore the mist sleeping so soundly.  Coral reefs stood still waiting, and endlessly waiting for the souls  Souls who can resuscitate them with new life 

My tongue is squeezed under the foam.  Words cross the island, and they are worn out for carrying the truth And finally, place them under the rainbow stairs when strong winds hit the beach in the afternoon.

Accordingly, tonight my song flowed into the still lake.  Because, who else can play such beautiful a tone other than silence, and who else can blink a life soul other than the clear eyes.  

A poem by ahmad gaus, surabaya, Oct 04/17

 

 — Album Kenangan Pribadi —

IMG-20170822-WA0012

august 2017, tidung island, kepulauan seribu

Posted by: Ahmad Gaus | September 17, 2018

AUTOBIOGRAPHY OF A BIRD

 

AUTOBIOGRAPHY OF A BIRD

A Poem by Ahmad Gaus

It’s been three days my bird in the cage doesn’t want to eat. And last night, when I gave food, he refused it smoothly. “I’m not hungry. I just need a pen.” I was surprised to hear that request. “What for?” I ask. “I want to write a biography.” Then I put the pen in the cage.

In the morning I found the bird lying lifeless. On the wings a sign reads: “Lord, my life and death are yours. Today I return everything to you, except these wings. Give them to those who crave freedom.”

Bandung, September 15, 2018

Burung

Ahmad Gaus is a writer and social activist. His activities is around tolerance and religious freedom. His dream is to let go of all the birds in cages all over the world. He wrote a number of poems in two anthologies: I Await You on Cisadane River (2013) and Twilight in Jakarta (2017). He also teaches language and culture courses at Swiss German University (SGU) in Tangerang, Indonesia. Besides writing poetry, he also wrote in social, cultural, religious, and political issues.

———————————————————————————————————–

Caged Bird – Poem by Maya Angelou

The free bird leaps
on the back of the wind
and floats downstream
till the current ends
and dips his wings
in the orange sun rays
and dares to claim the sky.

But a bird that stalks
down his narrow cage
can seldom see through
his bars of rage
his wings are clipped and
his feet are tied
so he opens his throat to sing.

The caged bird sings
with fearful trill
of the things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom

The free bird thinks of another breeze
and the trade winds soft through the sighing trees
and the fat worms waiting on a dawn-bright lawn
and he names the sky his own.

But a caged bird stands on the grave of dreams
his shadow shouts on a nightmare scream
his wings are clipped and his feet are tied
so he opens his throat to sing

The caged bird sings
with a fearful trill
of things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom.

About the Author

Maya Angelou
Born on April 4, 1928, in St. Louis, Missouri, writer and civil rights activist Maya Angelou is known for her 1969 memoir, I Know Why the Caged Bird Sings, which made literary history as the first nonfiction best-seller by an African-American woman. In 1971, Angelou published the Pulitzer Prize-nominated poetry collection Just Give Me a Cool Drink of Water ‘Fore I Die. She later wrote the poem “On the Pulse of Morning”—one of her most famous works—which she recited at President Bill Clinton’s inauguration in 1993. Angelou received several honors throughout her career, including two NAACP Image Awards in the outstanding literary work (nonfiction) category, in 2005 and 2009. She died on May 28, 2014.

Posted by: Ahmad Gaus | September 13, 2018

Zombie City

 

ZOMBIE CITY

Zombies build cities from the ground up in the holy human soil. After such a great war, in which they undoubtedly trounce over humans, authority has changed hands.  New rules are born.  Laws are enforced way above zombie values.  Values pouring from the fresh blood of corpses that roam; from the dead who sought revenge. 

Who is responsible for all this?  Where earth must be rescued from the breeding of new zombies; from an energy so bleak vandalism, terrorism, fanaticism all interwoven in their nature.

Humans have nowhere to evacuate but to prepare for the next war.  We are to reclaim the ancestral land back from them.  The land they so disgustingly set foot on is now enclosed by the unwanted debris of zombies who roamed into human bodies. 

While new buildings are erected from piles of decapitated heads, the streets are made from loose hands.  And the lights were removed from the eyes hung on the roadside poles. 

The whole city is now under their control. We are to transform ourselves into super-zombies to defeat them.  Or else, we shall require help from the almighty extraterrestrials They who can attract all religious doctrines  Doctrines which have turned humans into zombies in the first place.

a poem by ahmad gaus

Posted by: Ahmad Gaus | September 12, 2018

After The Truth No Longer Exists

 

gm

Breakfast with Indonesian poet and author, Goenawan Mohamad, and Malaysian Artist, Pauline Fan at the Grand Bluewave Hotel, Selangor, Malaysia, December 9, 2017.

 

AFTER THE TRUTH NO LONGER EXISTS

To: Goenawan Mohamad

 

When the truth exists no more

Why do we still linger here

Preaching the omnipotence of God

Has not everyone turned God for himself?

Past times, the truth hoisted

Under the banner of the revolution 

Brought onto the battlefield

With a firm boundary between clandestine and evil

But now the revolution no longer exists

War is just another stale story 

Today’s truth is a believed lies

A falsehood went viral

No one hardly cares so long as people bought it 

The truth has become a beautiful remains slaughtered in a crowd 

Thrown into a voiceless abyss

Like leaves falling to the earth

Heavily hit by rain or a storm Who cares? 

But is there anything worth a grain of salt to remember

When all of us know that the truth no longer exists

Besides the familiar smell of a cup of coffee

And birds chirping in the morning 

 

September, 2018. Poem by: Ahmad Gaus

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 6, 2018

NOCTURNO [a poem]

 

NOCTURNO

My body is a book — full of scribbles
my friends write down all the events there
with pencils, river water, gadgets, coffee shops
social media, cinemas, and many more
I don’t even have a slit to write my life story on my own body
but yea, never mind
after all, people won’t care
except what they want to write on my body
once upon a time I just followed a bird’s invitation
fly and sing at the top of the tree
here is more free, he said
from a distance I get goose bumps watching my body
get blackened full of scribbles.

My body is a book — full of scribbles
my friends write down all the events there
with pencils, river water, gadgets, coffee shops
social media, cinemas, and many more
I don’t even have a slit to write my life story on my own body
but yea, never mind
after all, people won’t care
except what they want to write on my body
once upon a time I just followed a bird’s calling
to fly and sing at the top of the tree
here is more free, he said
away from a distance I get goose bump watching my body
get filled full of scribbles.

— a poem by ahmad gaus

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

The Dream

 

 

THE DREAM

 

When I sat at dawn

Searching for the remnants of my dream last night

The shadow of your wings

The beauty of your voice

Singing like a bird

Chase away my loneliness.

You’ve been singing in beauty

And I am the sky — echoing your voice in the wind

When it suddenly blew hard

My dreams fell to pieces.

But I did not despair

Picked them up

Over and over again

As I did not wanna lose you

Even though in my dream.

●●●

a poem by ahmad gaus

 

 

Older Posts »

Categories