Posted by: Ahmad Gaus | August 28, 2018

Bangsa Merdeka [Puisi]

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 17, 2018

AUTOBIOGRAPHY OF A BIRD

 

AUTOBIOGRAPHY OF A BIRD

A Poem by Ahmad Gaus

It’s been three days my bird in the cage doesn’t want to eat. And last night, when I gave food, he refused it smoothly. “I’m not hungry. I just need a pen.” I was surprised to hear that request. “What for?” I ask. “I want to write a biography.” Then I put the pen in the cage.

In the morning I found the bird lying lifeless. On the wings a sign reads: “Lord, my life and death are yours. Today I return everything to you, except these wings. Give them to those who crave freedom.”

Bandung, September 15, 2018

Burung

Ahmad Gaus is a writer and social activist. His activities is around tolerance and religious freedom. His dream is to let go of all the birds in cages all over the world. He wrote a number of poems in two anthologies: I Await You on Cisadane River (2013) and Twilight in Jakarta (2017). He also teaches language and culture courses at Swiss German University (SGU) in Tangerang, Indonesia. Besides writing poetry, he also wrote in social, cultural, religious, and political issues.

———————————————————————————————————–

Caged Bird – Poem by Maya Angelou

The free bird leaps
on the back of the wind
and floats downstream
till the current ends
and dips his wings
in the orange sun rays
and dares to claim the sky.

But a bird that stalks
down his narrow cage
can seldom see through
his bars of rage
his wings are clipped and
his feet are tied
so he opens his throat to sing.

The caged bird sings
with fearful trill
of the things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom

The free bird thinks of another breeze
and the trade winds soft through the sighing trees
and the fat worms waiting on a dawn-bright lawn
and he names the sky his own.

But a caged bird stands on the grave of dreams
his shadow shouts on a nightmare scream
his wings are clipped and his feet are tied
so he opens his throat to sing

The caged bird sings
with a fearful trill
of things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom.

About the Author

Maya Angelou
Born on April 4, 1928, in St. Louis, Missouri, writer and civil rights activist Maya Angelou is known for her 1969 memoir, I Know Why the Caged Bird Sings, which made literary history as the first nonfiction best-seller by an African-American woman. In 1971, Angelou published the Pulitzer Prize-nominated poetry collection Just Give Me a Cool Drink of Water ‘Fore I Die. She later wrote the poem “On the Pulse of Morning”—one of her most famous works—which she recited at President Bill Clinton’s inauguration in 1993. Angelou received several honors throughout her career, including two NAACP Image Awards in the outstanding literary work (nonfiction) category, in 2005 and 2009. She died on May 28, 2014.

Posted by: Ahmad Gaus | September 13, 2018

Zombie City

 

ZOMBIE CITY

The zombies build cities in human lands. After a great war, and humans can be defeated, power changes hands. New rules are created. Laws are enforced above zombie values. The value is pouring from the fresh blood of corpses that roam; from dead people who want revenge.

Who is responsible for humanity after some of them turn into zombies? Whereas the earth must be saved from the reproduction of new zombies; from black energy, vandalism, terrorism, fanaticism, and all the zombies forming factors.

Humans have no place to evacuate, except to prepare for the next war. Reclaim the ancestral land from the zombies. The land they stepped on was now surrounded by pieces of the zombie body that roamed into human bodies.

Meanwhile new buildings are arranged from a pile of heads. The streets are made from loose hands. And the lights were removed from the eyes hung on the roadside poles.

The whole city is now controlled by the zombies. Humans must transform themselves into super-zombies to defeat them. Or, asking for help from extraterrestrials attracts all religious doctrines that have turned humans into zombies.

—————————- a poem by ahmad gaus ——————————————————————

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 12, 2018

After The Truth No Longer Exists

 

gm

Breakfast with Indonesian poet and author, Goenawan Mohamad, and Malaysian Artist, Pauline Fan at the Grand Bluewave Hotel, Selangor, Malaysia, December 9, 2017.

 

AFTER THE TRUTH NO LONGER EXISTS

To: Goenawan Mohamad

 

After the truth no longer exists

Why do we still linger here

Preaching the greatness of God

Has not everyone become God for himself?

 

In the past times, the truth was hoisted

under the banner of the revolution

Brought to the battlefield

With a firm boundary between goodness and evil

But now the revolution no longer exists

War has become a stale story

 

Today’s truth is a believed lies

A falsehood that goes viral

Who cares, as long as people still believe

 

The truth has become a carcass slaughtered in a crowd

Thrown into a silent abyss

Like leaves falling to the earth

Hit by rain or a storm

Who cares?

 

Then, is there anything worth remembering

After the truth no longer exists

Besides the aroma of a cup of coffee

And birds chirping in the morning

 

September, 2018

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 6, 2018

NOCTURNO [a poem]

 

NOCTURNO

My body is a book — full of scribbles
my friends write down all the events there
with pencils, river water, gadgets, coffee shops
social media, cinemas, and many more
I don’t even have a slit to write my life story on my own body
but yea, never mind
after all, people won’t care
except what they want to write on my body
once upon a time I just followed a bird’s invitation
fly and sing at the top of the tree
here is more free, he said
from a distance I get goose bumps watching my body
get blackened full of scribbles.

————

a poem by ahmad gaus

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

The Dream

 

 

THE DREAM

 

When I sat at dawn

Searching for the remnants of my dream last night

The shadow of your wings

The beauty of your voice

Singing like a bird

Chase away my loneliness.

You’ve been singing in beauty

And I am the sky — echoing your voice in the wind

When it suddenly blew hard

My dreams fell to pieces.

But I did not despair

Picked them up

Over and over again

As I did not wanna lose you

Even though in my dream.

●●●

a poem by ahmad gaus

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

Revolusi dalam Selimut [Puisi]

 

REVOLUSI DALAM SELIMUT

Orang hilang menempelkan poster dirinya di pusat keramaian. Pagi hari ketika penduduk sibuk membangunkan pasar yang tertidur di bawah jembatan layang. Seseorang melihatnya berlari mengenakan baju perang, lalu menyelinap ke dalam kamar.

Jendela masih asik bercakap-cakap dengan halaman. Berarti Tuhan sudah pergi pagi ini, pikirnya. Maka diambilnya pedang yang tergantung di dinding dan diselipkan ke dalam selimut. Ia pun tertidur sambil memeluk guling yang terbuat dari kulit perempuan.

Dalam mimpi di pagi hari itu ribuan orang mengeluk-elukkannya sebagai raja. Duduk manis di singgasana dan berkhutbah tentang azab Tuhan bagi siapa saja yang tertidur saat api revolusi dikobarkan. Kemudian ia membujuk orang-orang untuk memenggal kepala mereka dan menggantungkannya di pintu kota.

Waspadalah! Orang-orang saling menyapa dalam rupa manusia. Tapi di tubuh mereka tidak ada siapa-siapa, kecuali api yang ragu-ragu mau membakar kota atau dirinya.

 

16/5/2017

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

Cerita Natal Seorang Gadis Kecil

 

CERITA NATAL SEORANG GADIS KECIL

Aku berdiri di halaman gereja
Anak-anak bergaun palma
Menghias pohon Natal dengan lampu aneka warna
Bunga-bunga gladiola, langit merah saga.

Saat lonceng dibunyikan, mereka berlarian
Kemudian larut dalam doa yang dilantunkan
Damai dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kejauhan aku mendengar suara azan
Dibawa angin senja berteluk awan
Azan dan kidung Tuhan saling bersahutan
Menjalin nada, orkestra kehidupan.

Seorang gadis kecil menghampiriku

“Pakailah ini,” katanya menyodorkan topi santa

Aku terdiam. Lama. Kemudian dengan halus aku menolaknya
Ia nampak kecewa. Matanya berkaca-kaca
Aku membungkukkan badan dan berbisik ke telinganya

“Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi topi itu terlalu kecil buat kepalaku!”

Ia tersenyum mengerti

“Kalau begitu ambillah ini,” ujarnya menyodorkan replika pohon Natal, “Tanamlah di tubuhmu!”

“Maaf sayang, ini pun aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya lahan untuk menanamnya,
seluruh tubuhku sudah dipenuhi masjid!”

Ia terdiam. Aku yakin dia tidak mengerti apa yang kukatakan.

Tapi ia bertanya lagi, “Apakah di halaman masjid tidak boleh ditanami pepohonan?”

Aku tersentak. Akhirnya kuraih dia dalam pelukan
Kujelaskan bahwa halaman masjid sekarang penuh oleh kendaraan yang parkir. Tidak ada tempat untuk menanam pohon lagi.
Dia tertunduk. Sedih.

“Jangan kuatir, sayang, pohon Natal ini akan kutanam di samping masjid, dan akan kurawat, setuju?”

Dia mengangguk.

“Terima kasih, Om, Natal itu untuk anak-anak!” ucapnya tersenyum.

Aku pun tersenyum, walaupun tidak mengerti maksud ucapannya.

***

Tangerang Selatan, 24 Desember 2016
Ahmad Gaus

Posted by: Ahmad Gaus | September 5, 2018

Cinta Perawan Rima

 

Rima

 

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

Datang dan Pergi [Puisi]

enjoy sunset

 

DATANG DAN PERGI

Ada yang datang seperti kabut
begitu tenang dan lembut
merambat di tepi-tepi hati
lalu pergi
dengan hati-hati.

Ada yang datang seperti ombak
keras mendesak-desak
menghentak batu karang
lalu menghilang.

Ada juga yang datang seperti hujan

membasahi halaman demi halaman
catatan di buku harian
dan hanya bertahan
sebagai kenangan.

Ada lagi yang datang seperti senja
merah saga.

Yang datang dan pergi tidak pernah tahu
di mana aku berdiri menunggu
berpura-pura menjadi
daun pintu.

Pasar Minggu, 28/08/17

[Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta”, 2017]

Senja di Jakarta

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

Homo Homini Lupus [Puisi]

HOMO HOMINI LUPUS

Di antara terang dan gelap ada dinding yang tak terlihat. Semacam kaca atau, katakanlah, spektrum yang memisahkan keasingan. Ia berpindah-pindah tempat dari mata ke ruang tahanan, dari hidung ke gudang senjata, dari telinga ke medan pertempuran. Maka pancaindra selalu dihantui mimpi buruk.

Suatu malam, saat kau berada di dalam barisan untuk memerangi manusia, sekumpulan makhluk mengintai dari dinding itu. Mula-mula ada suara gaduh. Kemudian pecahan kaca. Lalu darah berceceran.

Orang-orang dalam barisan itu memunguti pecahan-pecahan kaca yang berserakan dan memakannya. Doa-doa dilantunkan setengah berteriak. Semakin lama semakin banyak orang yang datang. Makhluk-makhluk itu mendekat dan mencekik leher mereka hingga doa-doa yang mereka teriakkan berhamburan menjelma binatang buas. Dalam sekejap saja, ruang di antara terang dan gelap itu berubah menjadi medan perang.

Malam melambaikan tangan dengan cakar-cakarnya yang tajam. Engkau tak sabar menunggu pagi untuk memastikan bahwa yang tergeletak di jalan itu bukan tubuhmu.

22/07/17

Puisi di atas dimuat dalam buku “Senja di Jakarta” (2017), jika anda berminat hubungi Nomor WA: 0857-50431305

Senja di Jakarta

 

 

 

 

 

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

PERSEKUSI

persecution

PERSEKUSI

Batu-batu yang jatuh dari langit berlarian di tubuhku seperti kawanan serigala. Taring-taringnya mengancamku di balik cermin; dan matanya mengirimkan dendam. Mereka tidak peduli mulutku sudah lama terkunci, tak bisa lagi menjadi pengeras suara yang melontarkan lolongan mereka ke angkasa. Terus saja mereka melolong sepanjang malam.

Dan aku benar-benar tak bisa tidur, sebab suara-suara itu sangat mengganggu, seperti jeritan orang-orang di ruang penyiksaan. Akhirnya kuputuskan untuk masuk lebih jauh lagi — ke jantungku, urat-urat sarafku, pembuluh-pembuluh darahku…

Rupanya inilah negeri masa kanak-kanakku; negeri elok nan damai. Tapi huru-hara itu datang seperti hujan batu yang ditimpakan dari langit dan merenggut semuanya: keluarga, sanak-saudara, sahabat, handai taulan. Gedung-gedung yang megah dan taman-taman yang indah, terkubur batu.

Sudut-sudut kota dijaga kawanan serigala dengan sorot mata penuh dendam. Mereka akan mengejar siapa saja yang menghina pemimpin serigala, mencabik-cabik tubuhnya, dan melemparkannya ke neraka.

03/06/17

Puisi ini dimuat dalam buku “Senja di Jakarta” (2017), jika anda berminat hubungi Nomor WA: 0857-5043-1305

sdd.jpg

Bersama penyair senior Sapardi Djoko Damono di Festival Bahasa dan Persuratan Melayu, Selangor Malaysia, Des 2017

 

Posted by: Ahmad Gaus | September 4, 2018

Sajak Orang Mati

hipwee-The-Dead-Mother

Lukisan: The Dead Mother karya Edvard Munch

 

SAJAK ORANG MATI

Orang-orang mati bangkit dari kubur dan menghapus nama mereka di batu nisan. Dunia membeku dalam dinginnya kain kafan. Dan tubuh, sekejap saja tinggal tulang belulang. Tapi dunia baru bisa lagi ditegakkan di atas langit yang tak memisahkan kehidupan dan maut. Seperti juga surga dan neraka, seperti juga terang dan gelap.  Di antara keduanya ada ambiguitas, di mana kebenaran selalu disingkirkan.

Orang-orang mati berkabar tentang padang tak bernama. Ruang-ruang yang tak dibentuk oleh murka, waktu yang bebas dari angkara. Orang-orang mati merobek kain kafan dan menghancurkan tulang belulang mereka sendiri. Setelah itu penciptaan kembali.  Waktu menjanjikan keabadian pada orang-orang pilihan, jiwa-jiwa yang hidup dalam kebebasan.

07/07/17

Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta” (2017)

BukuSenja

Older Posts »

Categories