Posted by: Ahmad Gaus | June 17, 2013

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

HUJAN BULAN JUNI

Hujan Bulan Juni3

Bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika hujan rindu ingin bercumbu dengan bunga-bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu…

“Hujan Bulan Juni” memperlihatkan kekuatan Sapardi sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan….
__________________________________________________________________________

Catatan Ahmad Gaus
__________________________________________________________________________

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi di atas berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono — biasa disingkat SDD — yang ditulis pada 1989 dan dimuat dalam antologi (kumpulan karangan) dengan judul yang sama. Hujan Bulan Juni merupakan puisi yang sangat terkenal dan dideretkan dalam jajaran puisi cinta romantis bersama dengan puisi Aku Ingin yang juga dimuat dalam antologi ini.1) Esai ini tidak secara khusus membahas Hujan Bulan Juni sebagai sebuah puisi melainkan sebagai antologi yang di dalamnya terdapat 96 puisi karya SDD, yang bulan ini (Juni 2013) kembali diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia.

Pertamakali Hujan Bulan Juni diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia (Grasindo) pada tahun 1994. Kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit Editum pada tahun 2009 tanpa perubahan yang berarti. Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni ditulis antara tahun 1964-1994. Sebagian besar puisi di dalamnya pernah terbit dalam antologi Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Proses penyeleksian puisi yang pernah terbit dalam antologi yang berbeda-beda untuk diterbitkan kembali dalam buku Hujan Bulan Juni menunjukkan bahwa buku ini memang dianggap (paling) penting oleh penulisnya.

Hujan Juni

SDD memilih sendiri sajak-sajaknya untuk buku ini dari sekian ratus sajak yang pernah dihasilkannya selama 30 tahun (1964 – 1994). Mengenai ini ia menulis bahwa ada “sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku.”2) SDD memang tidak menjelaskan apa sesuatu yang mengikat itu. Namun, akunya, sajak-sajak lain tidak dimasukkan dalam antologi ini karena suasananya — atau entah apanya — agak berbeda dengan buku ini.

Secara sepintas lalu judul buku Hujan Bulan Juni yang diambil dari salah satu judul puisinya menunjukkan bahwa suasana yang ingin dibangun dalam buku ini ialah suasana “hujan” dengan berbagai konotasi dan metafornya. Dari 96 puisi yang dimuat dalam Hujan Bulan Juni terdapat 9 judul puisi yang memakai kata “hujan”. Judul-judul tersebut adalah: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Hujan dalam Komposisi 1, Hujan dalam Komposisi 2, Hujan dalam Komposisi 3, Di Beranda Waktu Hujan, Kuhentikan Hujan, Hujan Bulan Juni, Hujan-Jalak-dan-Daun-Jambu, Percakapan Malam Hujan. Dan satu judul yang senada: Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang.

Kata “hujan” juga disebut dalam berbagai puisinya: Pada Suatu Pagi Hari, Dalam Doa II, Aku Ingin, Puisi Cat Air untuk Rizki, Sepasang Sepatu Tua, dan sebagainya. Kalau boleh menyebut puisi di luar antologi ini yang juga menggunakan kata hujan, simak saja misalnya “Di Sebuah Halte Bis” (Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana), “Lirik untuk Lagu Pop” (jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis), dan “Kepompong Itu” (…ketika kau menutup jendela waktu hari hujan).

Walaupun banyak kumpulan puisi yang bertemakan hujan, tapi jelas tidak ada yang “basah-kuyup” melebihi Hujan Bulan Juni. Belum lagi puisi tentang hujan yang tidak dimasukkan dalam antologi ini seperti “Tajam Hujanmu” dan “Kuterka Gerimis”, yang dimuat dalam antologi Perahu Kertas.

Playing-in-the-Rain2

Jika selama ini puisi-puisi tentang hujan selalu dikaitkan dengan kesendirian, kehampaan, kerinduan, dan kesepian, maka tidak terlalu keliru pandangan bahwa SDD ialah penyair sunyi yang melanjutkan tradisi Amir Hamzah dan Chairil Anwar, terutama pada puisi-puisi awalnya. Simak misalnya bait dalam puisi yang ditulis pada tahun 1967 berikut: Hujan turun sepanjang jalan/ Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan/ Kembali bernama sunyi..

Mengapa hujan begitu istimewa di mata penyair SDD, tentu ada rahasia yang ingin dia kemukakan melalui pelukisannya atas peristiwa alam tersebut. Berikut tiga contoh puisi berbeda tentang hujan, yang ditulis dalam rentang waktu berjauhan:

Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
— swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan,
telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
— menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

1982

Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang.”

1973

Hjan bln Juni

Hujan Turun Sepanjang Jalan

Hujan turun sepanjang jalan…
Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan…
Kembali bernama sunyi…
Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali…
Tak ada yang menolaknya…kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia…
Tatkala angin basah tak ada bermuat debu…
Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru…

1967

Tidak ada diksi yang istimewa dalam ketiga puisi di atas. Semua kata dipungut dari perbendaharaan sehari-hari yang ada di sekitar kita dan akrab: jalan, selokan, mantel, sepatu, pohon, pintu, jendela, debu, tiang listrik. Kata-kata sederhana itu juga dirangkai dalam larik dan bait yang sederhana, nyaris tidak ada dentuman yang tercipta oleh bangunan puisi tersebut. Ia hanya menceritakan suasana saat hujan turun. Cara berceritanya pun sangat sederhana, tidak meledak-ledak.

Namun di balik kesederhanaannya, puisi-puisi tersebut menjadikan benda-benda itu seakan hidup. Kita dapat membayangkan Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. SDD sangat piawai menghidupkan suasana melalui kata-kata yang sederhana. Bait-bait yang tersusun dari kata-katanya menjadi sangat indah manakala kita hanyut terbawa oleh suasana yang ia hidupkan melalui proses imagery atau penggambaran. Sang penyair pada dasarnya memang seperti pelukis yang menggambarkan sesuatu dengan kata-kata sehingga apa yang dia lihat dan rasakan juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca.3) Di dalam suasana yang sudah dihidupkan oleh penyairnya melalui kata-kata (pada contoh tiga puisi di atas), kita tidak lagi bertemu dengan hujan sebagai benda mati, melainkan makhluk hidup entah malaikat atau manusia, bahkan seseorang yang misterius namun humoris seperti pada puisi “Percakapan Malam Hujan”.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni yang menjadi judul antologi ini, goresan tangan SDD pada kanvas puisinya bahkan terasa lebih lembut. Kesederhanaan kata tetap dijaga. Bangunan puisi tegak dengan tiang pancang bait-bait yang transparan. Pengungkapannya halus, alur pikirnya jernih. Puisi ini sering diartikan sebagai ketabahan dari seseorang yang sedang menanti. Sebab, bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika ia (hujan) ingin bertemu dengan pohon bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu.

Di sini SDD tidak lagi bicara tentang sunyi yang gelisah. Ia bahkan tidak menonjolkan si aku-lirik. Kalaupun ada, si aku-lirik hanya menceritakan perilaku hujan yang merahasiakan rindu, menghapus jejak, dan membiarkan isi hatinya. Hujan dipersonifikasi sebagai makhluk yang berjiwa dengan sifat dan perilaku tertentu. Ini juga tampak pada ketiga puisi di atas.

Dengan menerbitkan kembali puisi-puisinya dalam Hujan Bulan Juni yang merefleksikan aneka pengalaman batin dan perjalanan hidup yang terus bergerak, SDD tampaknya ingin jatidiri kepenyairannya dilihat kembali, tidak melulu diletakkan di ruang sunyi. Sebab, sebagaimana diakuinya dalam kata pengantar buku ini, ia tidak tahu apakah selama 30 tahun itu ada perubahan stilistik dan tematik dalam puisinya. Seorang penyair, ujarnya, belajar dari banyak pihak: keluarga, penyair lain, kritikus, teman, pembaca, tetangga, masyarakat luas, koran, televisi, dan sebagainya.

Esai ini berpandangan bahwa SDD tidak hendak menancapkan tonggak kepenyairannya di ruang estetika sunyi yang telah terbangun dengan megahnya sejak masa kejayaan Amir Hamzah. Kita tahu bahwa puisi-puisi awal SDD, kendatipun dipandang sebagai pembebasan dan penemuan baru,4) tetap saja diletakkan di dalam mainstream puisi tentang kesunyian. Salah satu puisinya, Solitude (1965), yang menyuarakan “jagat sunyi” bahkan disebut sebagai visi estetika kepenyairannya, dimana puisi-puisi sebelum dan sesudah itu hanyalah… “dinamika visi estetik dalam keseluruhan kepenyairan SDD.”5) Senada dengan itu, penyair Goenawan Mohamad menyebut antologi puisi SDD yang pertama, Duka-Mu Abadi, sebagai Nyanyi Sunyi kedua (setelah Nyanyi Sunyi yang pertama diciptakan oleh Amir Hamzah).6)

Jika kesunyian dipandang sebagai tema utama dalam puisi-puisi Sapardi, lantas di mana letak kepeloporannya dalam jagat perpuisian tanah air? Bukankah tema itu telah sangat mapan di tangan para penyair besar sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, dan puncaknya pada Sutardji Calzoum Bachri? Jika kita memotret SDD dari Duka-Mu Abadi memang akan terbentang hamparan kesunyian yang—boleh jadi—merupakan kelanjutan dari “tradisi” perpuisian sebelumnya, kendatipun ia membunyikan kesunyian itu dengan cara yang berbeda. Namun saya berpandangan bahwa Hujan Bulan Juni-lah yang merupakan tonggak kepenyairan SDD. Antologi ini memperlihatkan kekuatan SDD sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan.

Hujan Bulan Juni2

Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni lebih dari sekadar membunyikan kesunyian melalui ungkapan perasaan yang melimpah, melainkan juga menghadirkan kesadaran intelektual penyairnya. Sejumlah puisinya tentang kematian, misalnya, memang menghadirkan kesunyian yang mencekam, namun jika dicermati lagi sebenarnya merupakan renungan filosofis yang mendalam, seperti pada puisi Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, Saat Sebelum Berangkat, Iring-iringan di Bawah Matahari, Dalam Kereta Bawah Tanah Chicago, Ajaran Hidup, dan lain-lain. Begitu juga puisi-puisinya Tiga Lembar Kartu Pos, Pada Suatu Hari Nanti, Dalam Diriku, Tuan, Yang Fana Adalah Waktu, dan lain-lain, yang bertemakan hidup, waktu, dan Tuhan — semuanya merupakan lukisan kesunyian yang, lagi-lagi, merefleksikan perenungan intelektual yang dalam.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni SDD mempertentangkan dua realitas, membuat paradoks (hujan yang turun di musim kemarau), yang memungkinkan keniscayaan, sebagai gambaran dari pribadinya yang senantiasa terlibat dan optimistis. Paradoks atau pertentangan itulah yang menjadi kekuatan khas SDD sebagai seorang penyair. Hal itu juga tercermin dari pemakaian kata-kata yang sederhana namun menyimpan makna yang dalam.7).

Seraya menutup uraian ini mari kita simak tiga puisi dari antologi Hujan Bulan Juni yang menjelaskan paradoks yang dimaksud.

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga penuh darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya.

1980

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

1978

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.

1980

Catatan:

1). Puisi Aku Ingin hanya terdiri dari dua bait: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Salah satu indikasi kepopularan dua puisi tersebut ialah telah dibuat musikalisasi puisi oleh Ags. Arya Dipayana (Aku Ingin), dan H. Umar Muslim (Hujan Bulan Juni). Puisi Hujan Bulan Juni juga telah dikomikkan oleh Mansjur Daman, komikus silat pencipta serial Mandala. Sementara itu puisi Aku Ingin sering dicetak dalam surat-surat undangan pernikahan.

2). Kata Pengantar Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni (Jakarta: Grasindo, 1994).

3). A.F. Scott, Curren Literary Term: A Concise Dictionary (London: The Macmilland Press, 1980), p. 139). Lebih jauh mengenai penggambaran (imagery) atau gambar (image) dalam puisi lihat juga, Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994) dan Suminto A. Sayuti, Puisi dan Pengajarannya (Yogyakarta: Yasbut FKSS IKIP Muhammadiyah, 1985).

4). Pengakuan ini disampaikan oleh Goenawan Mohamad. Dikutip dari Hasan Aspahani, “Kenapa Mesti Ada Sore Hari? Kajian Ringkas Duka-Mu Abadi Hingga Kolam”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., Membaca Sapardi (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hal. 253

5). Suminto A. Sayuti, “Puisi Sapardi: Sebuah Jagat Sunyi”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 57

6). Dikutip dari Suminto A. Sayuti, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 61

7). Maman S. Mahayana, “Paradoks”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 161

_________________________________

PELATIHAN MENULIS Bersama AHMAD GAUS

Menulis itu menyenangkan. Banyak orang menemukan kembali gairah hidupnya setelah diperkenalkan dengan dunia tulis-menulis, sebab di dalam aktivitas itu ada energi gerak yang memutar baling-baling kehidupan menuju dunia tanpa batas: dunia imajinasi. Jika anda muak dengan realitas di sekeliling anda, ciptakanlah realitas lain yang menyenangkan di dunia imajinasi. Semakin banyak orang yang dapat anda bawa masuk ke dunia imajinasi anda, semakin besar kemungkinan imajinasi itu menjadi kenyataan. Bukankah sebelum menjadi tanah air yang riil, Indonesia ialah negeri yang diimajinasikan (imagined community, kata Ben Anderson) oleh penyair Muhammad Yamin, dll? Begitu juga Amerika Serikat yang pada mulanya dibentuk oleh imajinasi dalam Pocahontas, Rip van Winkle, dll.

Menulis itu menyenangkan. Ratusan orang telah membuktikannya dalam berbagai pelatihan menulis yang saya pandu. Yuk ikuti pelatihan menulis, ada kelas regular, ada juga in house training.

Kontak Person dan Tempat Pelatihan
Sylvia Nurman: 0217445173/ Mobile: 081310954010 (CSRC UIN Jkt)
Rini: 0217499361/ Mobile 085692077919 (Meeting Hall, Futsal Camp, Ciputat)
Untuk Pelatihan In House Training: 0818829193

CSRC2

GoodWriter

Pesan buku ini hubungi Vera: 021-74707560


Responses

  1. Mengagumkan sekali memang karya-karya dari Sapardi🙂

    • Terima kasih atas apresiasinya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: