Posted by: Ahmad Gaus | August 23, 2018

YANG MENDOBRAK KEBEKUAN: Ode untuk Nurcholish Madjid

Untuk mengenang sang guru, Nurcholish Madjid, yang wafat pada 29 Agustus 2005, saya menulis puisi sebagai ekspresi rasa takzim kepada beliau almarhum. Puisi ini juga dibacakan di halaman taman Bintaro Exchange Mall pada 28 Oktober 2017 dalam acara peluncuran Maestro Indonesia, sebuah film tentang tokoh-tokoh Indonesia yang digarap oleh Mira Lesmana dan Riri Riza.

Gambar mungkin berisi: Ulil Abshar Abdalla, di panggung, berdiri dan teks

YANG MENDOBRAK KEBEKUAN

— Puisi Ahmad Gaus

Ode untuk Nurcholish Madjid
(17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005)

TUAN yang tengah beristirah di sana
izinkan saya bertanya
sekadar menepis rasa gundah gulana
benarkah di alam sana ada pengadilan pikiran?
benarkah para malaikat membawa palu godam
untuk menghantam kepala
para pemikir bebas seperti tuan?
apa yang tuan katakan, jika para malaikat bertanya
di mana letak pikiran: di atas, di bawah,
ataukah di samping iman?

TUAN yang sedang berbaring tenang
zaman kini tidak jauh berbeda
dengan zaman tuan
iman dan akal dibenturkan
pikiran ditundukkan di bawah kuasa
kebenaran yang mengatasnamakan Tuhan
tombak persekusi ditancapkan di kepala
orang-orang yang berbeda pandangan.

MAKA kebenaran menjadi makhluk buas
yang mengerikan.

PERNAHKAH tuan mendengar
suara-suara zaman yang ketakutan
orang-orang bersembunyi di rumah Tuhan
bertakbir sambil mengasah pedang.

ZAMAN kini tidak jauh berbeda
dengan zaman tuan
penuh huru-hara dan pergolakan
politik dicampuradukkan dengan iman
sehingga orang tidak bisa membedakan
suara Tuhan dengan bisikan setan
kebaikan agama dengan kepentingan segelintir
orang yang rakus kekuasaan
maka benar belaka tuan berkata:
agama dan politik harus dipisahkan
yang sakral dan yang profan harus dibedakan
supaya agama tidak diperjualbelikan
ditunggangi oleh politikus-politikus
bajingan.

PERNAHKAH tuan melihat, para penakut berlarian
dari gempuran zaman yang konon dikuasai setan
bersembunyi dalam selimut kejumudan
sementara tuan yang melawan dengan pikiran dinistakan,
disesatkan, diusir dari jamaah,
dibuang dari keramaian.

TAPI memang, di mana-mana orang senang
dengan keramaian, seperti kawanan domba
yang selalu berkerumun
sedangkan harimau berjalan sendirian
seperti tuan.

TUAN kesatria pemikiran
Di zaman penuh ketidakpastian saya teringat tuan
berdiri di kelokan jalan, berani bersimpangan
menyelamatkan akal pikiran.

MASIH terngiang suara tuan
sayup-sayup seperti tengah bergumam
namun sanggup mendobrak dinding malam
membangunkan orang-orang yang tidur
berselimut kejumudan.

POHON pengetahuan yang tuan tanam
sepanjang musim panas dan hujan
telah tumbuh berbuah pencerahan
namun angin topan selalu datang mengancam
untuk merobohkan.

DI zaman kerancuan pikir seperti sekarang
sungguh saya rindu pandangan-pandangan tuan
yang mendobrak kebekuan;
saya rindu gemuruh ombak pikiran tuan
yang menghantam karang
hidup menjadi samudera renungan
di kedalamannya kerang mutiara
berserakan.**  [Ditulis di Jakarta, 23/08/2017]

 

Related image

Buku karya saya diterbitkan Kompas tahun 2010

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: