Dalam Fana

01-fana

 

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
aku adalah debu purba
dihempas angin negeri-negeri tua
mencari tempatku di alam semesta
namun tak ada

aku adalah setitik air
berkelana mencari samudera
ingin melebur dalam keluasannya
namun tak sampai jua

kuikuti jalan fana
dalam fana wujudku tiada
aku melihat tidak dengan mata
mendengar tidak dengan telinga
berkata tidak dengan mulut
meraba tidak dengan tangan
mencium tidak dengan hidung
sebab indraku terputus
segala yang ada pupus

pikiranku sirna karena aku tidak membutuhkannya
perasaanku sirna karena aku tidak mengindahkannya
pikiran dan perasaan membuatku
terpenjara dalam ruang dan waktu
sedang burung-burung jiwaku
datang dan pergi tak kenal waktu

aku tidak hidup di bawah langit
aku tidak hidup di atas bumi
sebab langit dan bumi tidak ada
ruang dan waktu tidak ada
dan dalam tidak ada apa-apa
hanya DIA yang mutlak ada

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
bersama Sang Ada

Puisi: Ahmad Gaus

02-fana

Kultum Ramadan di Gedung Film, Jl. MT Haryono Kav. 47-48, Jakarta, 09 Mei 2019

 

Tuhan Tidak Bermain Dadu

Dice

 

TUHAN TIDAK BERMAIN DADU

Tuhan ada di antara anak-anak yang berkumpul untuk bermain kelereng
Mula-mula, Dia membantu mereka menarik garis batas pelemparan dengan cermat
Lalu memastikan kelereng-kelereng yang akan dibidik berada di titik gravitasi agar tidak tergelincir ke lubang hitam
Atau berbenturan dengan planet-planet lain di jagat raya.

Ketika aturan sudah dibuat, Dia tinggalkan anak-anak itu karena tidak ingin mengusik kegembiraan mereka.

Kemudian Dia pergi ke tanah lapang untuk menyaksikan anak-anak lain yang sedang asik bermain layang-layang
Tidak ada aturan baru dalam permainan ini.
Semua sudah ditetapkan di zaman permulaan
Begitu tertulis dalam kitab-kitab suci
Maka Dia duduk-duduk saja di bawah pohon
Sambil sesekali menahan angin dari utara agar tidak bertiup terlalu kencang.

Ada satu permainan anak yang paling Dia sukai yaitu gangsing — permainan tradisional yang sudah hampir punah
Perputaran gangsing pada satu poros menyerupai tarian sufi
Meliuk-liuk ke segala arah dengan kaki menancap di bumi
Seperti para sufi yang berperan sebagai paku bumi agar bumi tetap memiliki keseimbangan

Tapi, wallahi, aku tidak pernah melihat Dia bermain dadu
Mengundi perkara-perkara besar menyangkut kelangsungan hidup sebuah bangsa.
Terlalu beresiko untuk keseimbangan semesta.

 

Pamulang, Tangerang Selatan, 17.04.19
Ahmad Gaus

Tentang Tulang Rusuk yang Dicuri oleh Kawanan Burung

bird

TENTANG TULANG RUSUK YANG DICURI OLEH KAWANAN BURUNG

– Untuk Neng Dara Affiah

Setiap manusia dikirim ke dunia untuk mencari tulang rusuknya yang hilang
Konon, sekawanan burung mencurinya di langit ketika manusia tertidur lelap
Lalu menurunkannya di suatu tempat di muka bumi
Setelah itu burung-burung berkicau sepanjang hari, sepanjang masa
Sampai tiba waktunya mereka harus kembali ke langit untuk menghadapi pengadilan.

Sebagian orang berhasil mendapatkan tulang rusuknya yang hilang itu
Sebagian lagi menemukan tulang rusuk yang salah
Sehingga tidak cocok untuk ditempatkan di bagian mana pun dalam dirinya
Bahkan, ya Allah, ada tulang rusuk yang terlepas dari genggaman burung ketika dibawa dari langit
Walhasil, tidak pernah sampai di muka bumi

Orang-orang senang memelihara burung karena dorongan hasrat primordial untuk membalas dendam
Padahal sebagian dari mereka harus kembali ke langit untuk mencari barang curiannya yang hilang dan dibawa ke bumi
Kita tidak akan memahami ini sampai mendengar suara-suara burung yang membangkitkan bulu kuduk.

Jakarta, 13 Maret 2019
Ahmad Gaus AF

Baca tulisan Neng Dara Affiah di sini:

https://www.qureta.com/post/menyoal-paham-teologi-tulang-rusuk?fbclid=IwAR2zllLhi9a5DVze7I8rHMn2SRG6mWc_0TEi-yVtgYi3p-4FKJZb77Iom1k

 

 

 

 

 

 

RAMAI-RAMAI MEM-BULLY IWAN FALS

 

Fals

 

Di Medsos, khususnya Twitter, Iwan Fals dibully oleh orang-orang yang mengaku dulu sebagai penggemar fanatiknya. Bahkan banyak yang bilang kaset-kaset Bang Iwan sudah mereka bakar. Alasannya, mereka tidak suka Iwan Fals mendukung Jokowi. Begitu panasnya politik pilpres sampai baranya menghanguskan akal sehat.

Saya tetap menyukai dan mendengarkan lagu-lagu Nissa Sabyan dan Rhoma Irama walaupun mereka pendukung Prabowo, dan saya pendukung Jokowi. Tidak ada stigma apapun pada diri saya terhadap mereka. Apalagi membenci mereka hanya karena beda pilihan politik.

Para seniman berhak memiliki afiliasi politik. Di situlah mereka, seperti umumnya kita, bersikap “partisan”. Tapi karya-karya mereka tetap untuk semua kalangan. Lintas batas golongan dan waktu. Jadi, mengapa harus dikaitkan dengan politik yang hanya bersifat musiman. Lewat April nanti juga semua kembali ke habitat masing-masing. Memangnya kamu dapat apa dari Pilpres sampai harus membenci orang begitu rupa? Mau jadi menteri? Dan, ngomong-ngomong, dibandingkan dengan Iwan Fals, kamu sudah berbuat apa untuk bangsa ini? Karyamu apa?

Bandung, 2 Feb 2019
IG: ahmadgaus68

 

Masyarakat Senja [Puisi]

 

tvsmith

MASYARAKAT SENJA

Senja berbaris mengenakan baju hitam. Orang-orang berdiri di atas jembatan, menunggu matahari terperosok ke dalam jurang. Dari sudut kota seorang pemuda datang tergopoh-gopoh, “Hai, lihat itu ada yang menangis di atas langit.” Suaranya perlahan-lahan menghilang ditelan kerumunan.

Sebuah peristiwa tengah disiapkan, untuk menyambut pergantian. Perempuan-perempuan menari di atas punggung kuda yang berlari kencang dari masa silam. Anak-anak dilemparkan ke atas bukit, dibekali panah beracun. Para resi keluar dari tempat pertapaan, memanggul senjata.

“Ada apa?” Pemuda itu masih belum mengerti.

Para nabi membawa kabar langit suci. Manusia membangun rumah sendiri-sendiri. Berdesakan dalam ruang sunyi, dengan sedikit lubang pintu untuk mengintip. Mereka hanya ke luar ketika langit mulai gelap. Malaikat-malaikat turun mengantarkan cahaya. Meninggalkannya di atas menara rumah-rumah Tuhan. Namun manusia mengurung diri. Dunia murung dalam keasingannya yang abadi.

Orang-orang itu menaiki bukit dan bersorak-sorai. Merayakan kemenangan atas matahari yang terperosok dalam kepala. Bumi hitam. Langit hitam. Dan segala yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Tapi di atas bukit, angkasa tidak bertuan. Dunia terlalu kecil untuk menjadi medan pertempuran yang tak berkesudahan.

Alam Sutera, 08/09/17

Puisi “Masyarakat Senja” dimuat dalam kumpulan puisi saya, Senja di Jakarta (2017)

Foto ilustrasi:

Senja di teluk Kinabalu, Sabah-Malaysia, 24 April 2018, bersama para sastrawan Malaysia dan Indonesia: Fatin Hamama, Fanny Jonathan, D. Kemalawati, Isbedy Setiawan ZS, Datuk Jasni Matlani, dkk.

 

Sabah3

 

Senja di Jakarta

Bahagia Sekarang Juga

[Dibacakan dalam acara #KampanyeKebahagiaan #GerakanIndonesiaBahagia dalam Rangka Memperingati #HariKebahagiaanSedunia, oleh #YayasanIndonesiaBahagia, Taman Suropati, Jakarta Pusat, 25 Maret 2018].

YIB2

BAHAGIA SEKARANG JUGA

SESEORANG terbangun dari tidur di pagi hari
Ia mengamati sekelilingnya, mencari-cari sesuatu
Namun yang ditemukan hanya selimut, seprei, bantal, guling
Dan gadget yang memang selalu diletakkan di dekat bantal
Lalu ia mencarinya di bawah tempat tidur
Tapi yang dicarinya tetap tidak ada
Maka ia masuk lagi ke dalam selimut dan kembali tertidur
Ia berharap kebahagiaan yang hilang di pagi hari itu
Akan datang lagi dalam mimpinya.

Banyak orang terbangun dari tidur
Mencari kebahagiaan di sisa mimpinya tadi malam
Sebab mereka tidak mendapatkannya dalam kehidupan nyata
Sebab kehidupan nyata terlalu keras — terlalu kejam
Mimpi menjadi tempat petualangan yang menyenangkan
Terlepas dari penderitaan dan kesusahan hidup
Tapi kebahagiaan dalam mimpi hanya fatamorgana
Setiap orang akan terbangun — kembali ke dunia nyata
Dan berusaha mendapatkan kebahagiaan.

Tapi di mana kebahagiaan bisa didapat?
Di dalam rumah. Di kantor. Di tempat olahraga.
Di hotel mewah. Di gubuk reot.
Di restoran. Di kaki lima.
Di dalam badan. Di dalam hati.
Dalam jiwa. Dalam pikiran.

Kebahagiaan ada di mana-mana
Dan tidak pernah pergi ke mana-mana
Karena ia tidak berkaki
Tuhan tidak meletakkan kebahagiaan di tempat tersembunyi
Atau di puncak gunung tinggi
Tapi di dalam diri sebagai fitrah azali
Bakat bawaan manusia sejak dini.

Kebahagiaan tidak bisa dicuri
Sebab tidak akan ada yang mampu membelinya
Kebahagiaan juga tidak bisa ditukar
Sebab tidak ada intan permata yang senilai dengannya.

Setiap orang bisa patah hati kapan saja
Karena putus cinta, atau ditinggal pergi orang yang dicintai
Tapi kebahagiaan tidak boleh dibiarkan dibawa pergi
Karena ia adalah harta yang paling berharga
Kalau ia hilang, maka hidup kita akan sengsara
Selamanya dirundung kesepian.

Di zaman media sosial seperti sekarang
Setiap orang memiliki teman lebih dari yang dibutuhkan
Sepuluh, seratus, seribu, beribu-ribu
Tapi tetap saja banyak orang yang merasa kesepian
Banyaknya teman tidak menjamin seseorang bahagia
Semakin sering seseorang berbicara kepada orang lain
Mengadukan keluh kesah hidupnya
Ke hadapan ribuan orang yang tak terlihat
Semakin menunjukkan kesepiannya.

Beribu-ribu teman kita kumpulkan di dunia maya
Semata-mata karena kita dan mereka satu pemahaman
Satu pandangan agama, satu pilihan politik
Satu idola pemimpin yang sama
Kita tertawa-tawa dengan mereka
Sambil menggunjing orang lain
Yang tidak sama dengan kita
Padahal kita tidak pernah bertemu dengan mereka
Sementara orang-orang terdekat kita — Keluarga,
Saudara, Kerabat, Sahabat — dijauhi, dimusuhi
Dicurigai karena beda paham. Beda pilihan.
Beda pandangan politik.

Akhir-akhir ini kehidupan kita menjadi semakin panas
Karena politik telah masuk ke ruang-ruang keluarga
Tempat-tempat ibadah
Kelompok-kelompok arisan
Obrolan-obrolan warung kopi
Lingkungan perkantoran.

Tanpa kita sadari
Politik membawa virus perpecahan yang berbahaya
Dan lebih berbahaya lagi bila politik mengenakan baju agama
Sebab setiap orang akan menganggapnya kebenaran mutlak
Yang harus diperjuangkan dengan jiwa dan raga
Dan seringkali membabi-buta
Akibatnya kehidupan menjadi sumpek — pengap
Setiap orang mengintai pikiran orang lain
Sedikit saja salah bicara kita akan di-bully.

Di sekitar kita banyak orang yang hidupnya tidak bahagia
Yakni mereka yang gemar menghujat. Memfitnah. Menghina
Mengancam. Menebar teror. Menganggap rendah orang lain
Menyerang dan mencari-cari keburukan orang
Mereka itulah orang-orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Sedangkan orang-orang yang bahagia
Adalah mereka yang selalu menebar kebaikan
Menebar kasih sayang. Membagi energi positif
Memaafkan. Mengikhlaskan. Menutupi keburukan orang lain.

Apabila kebahagiaan kita telah direnggut
Oleh kebencian. Oleh permusuhan
Maka kehidupan kita sungguh dalam bahaya.

Kita harus mengatur ulang nafas hidup kita mulai sekarang
Mencegah kekuatan negatif memenuhi lingkungan kita
Menghentikan permusuhan atas nama politik dan agama
Atau atas nama apapun. Menebarkan kembali cinta
Menebarkan kasih sayang
Menjadi orang yang bahagia
Karena hanya orang yang bahagia yang dapat menularkan
Kebahagiaan kepada orang lain
Kepada dunia.

Kebahagiaan adalah kekuatan fitrawi yang suci
Yang tidak boleh hilang dalam keadaan apapun
Dan tidak boleh dibiarkan orang lain merusaknya
Dengan alasan apapun
Karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan
Maka hanya orang-orang yang bahagia pula
Yang dapat menjumpai-Nya.

Maka tumbuhkanlah perasaan bahagia
Saat sehat maupun sakit
Saat kaya maupun miskin

Hidup hanya sesaat
Alangkah merugi orang yang tidak bahagia

Maka berbahagialah
Saat sendiri maupun di keramaian
Saat datang maupun pergi
Saat bebas maupun tertindas
Kebijakan tertinggi ialah ketika orang mampu bahagia dalam keadaan menderita

Hidup bahagia tidak membutuhkan alasan
Karena bahagia sendiri adalah alasan untuk hidup
Tidak ada nanti atau esok untuk bahagia
Melainkan sekarang
Bahagia sekarang juga
Bahagia
Sekarang
Juga.

Jakarta, 25.03.18

Ahmad Gaus

YIB Puisi

 

 

 

Bangsa Merdeka [Puisi]

Featured

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

YANG MENDOBRAK KEBEKUAN: Ode untuk Nurcholish Madjid

Untuk mengenang sang guru, Nurcholish Madjid, yang wafat pada 29 Agustus 2005, saya menulis puisi sebagai ekspresi rasa takzim kepada beliau almarhum. Puisi ini juga dibacakan di halaman taman Bintaro Exchange Mall pada 28 Oktober 2017 dalam acara peluncuran Maestro Indonesia, sebuah film tentang tokoh-tokoh Indonesia yang digarap oleh Mira Lesmana dan Riri Riza.

Gambar mungkin berisi: Ulil Abshar Abdalla, di panggung, berdiri dan teks

YANG MENDOBRAK KEBEKUAN

— Puisi Ahmad Gaus

Ode untuk Nurcholish Madjid
(17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005)

TUAN yang tengah beristirah di sana
izinkan saya bertanya
sekadar menepis rasa gundah gulana
benarkah di alam sana ada pengadilan pikiran?
benarkah para malaikat membawa palu godam
untuk menghantam kepala
para pemikir bebas seperti tuan?
apa yang tuan katakan, jika para malaikat bertanya
di mana letak pikiran: di atas, di bawah,
ataukah di samping iman?

TUAN yang sedang berbaring tenang
zaman kini tidak jauh berbeda
dengan zaman tuan
iman dan akal dibenturkan
pikiran ditundukkan di bawah kuasa
kebenaran yang mengatasnamakan Tuhan
tombak persekusi ditancapkan di kepala
orang-orang yang berbeda pandangan.

MAKA kebenaran menjadi makhluk buas
yang mengerikan.

PERNAHKAH tuan mendengar
suara-suara zaman yang ketakutan
orang-orang bersembunyi di rumah Tuhan
bertakbir sambil mengasah pedang.

ZAMAN kini tidak jauh berbeda
dengan zaman tuan
penuh huru-hara dan pergolakan
politik dicampuradukkan dengan iman
sehingga orang tidak bisa membedakan
suara Tuhan dengan bisikan setan
kebaikan agama dengan kepentingan segelintir
orang yang rakus kekuasaan
maka benar belaka tuan berkata:
agama dan politik harus dipisahkan
yang sakral dan yang profan harus dibedakan
supaya agama tidak diperjualbelikan
ditunggangi oleh politikus-politikus
bajingan.

PERNAHKAH tuan melihat, para penakut berlarian
dari gempuran zaman yang konon dikuasai setan
bersembunyi dalam selimut kejumudan
sementara tuan yang melawan dengan pikiran dinistakan,
disesatkan, diusir dari jamaah,
dibuang dari keramaian.

TAPI memang, di mana-mana orang senang
dengan keramaian, seperti kawanan domba
yang selalu berkerumun
sedangkan harimau berjalan sendirian
seperti tuan.

TUAN kesatria pemikiran
Di zaman penuh ketidakpastian saya teringat tuan
berdiri di kelokan jalan, berani bersimpangan
menyelamatkan akal pikiran.

MASIH terngiang suara tuan
sayup-sayup seperti tengah bergumam
namun sanggup mendobrak dinding malam
membangunkan orang-orang yang tidur
berselimut kejumudan.

POHON pengetahuan yang tuan tanam
sepanjang musim panas dan hujan
telah tumbuh berbuah pencerahan
namun angin topan selalu datang mengancam
untuk merobohkan.

DI zaman kerancuan pikir seperti sekarang
sungguh saya rindu pandangan-pandangan tuan
yang mendobrak kebekuan;
saya rindu gemuruh ombak pikiran tuan
yang menghantam karang
hidup menjadi samudera renungan
di kedalamannya kerang mutiara
berserakan.**  [Ditulis di Jakarta, 23/08/2017]

 

Related image

Buku karya saya diterbitkan Kompas tahun 2010

 

WHEN I NEED YOU

Image result for leo sayer

WHEN I NEED YOU

Hari sudah malam ketika rindu datang mengetuk pintu rumahku
Kukatakan bahwa cinta telah pergi beberapa jam yang lalu
Namun ia tetap bergeming, alih-alih berlalu dari mataku
Sesaat kemudian ia melepaskan sepatu dan melenggang ke ruang tamu

“Sudah larut malam,” ujarku, “aku mau tidur.”

“Apa kau yakin bisa tidur?” Ia malah mengejekku.

Lalu sekonyong-konyong ia memutar musik dari gawainya
Suara Leo Sayer yang jernih mengalun begitu saja,

“When I need you
I just close my eyes and I’m with you
And all that I so want to give you
It’s only a heartbeat away…”

Akhirnya kami menikmati malam itu dengan lagu-lagu oldies yang menyimpan banyak kenangan.

Ciputat, 23/08/18

Hari sudah malam ketika rindu datang mengetuk pintu rumahku
Kukatakan bahwa cinta telah pergi beberapa jam yang lalu
Namun ia tetap bergeming, alih-alih berlalu dari mataku
Sesaat kemudian ia melepaskan sepatu dan melenggang ke ruang tamu

“Sudah larut malam,” ujarku, “aku mau tidur.”

“Apa kau yakin bisa tidur?” Ia malah mengejekku.

Lalu sekonyong-konyong ia memutar musik dari gawainya
Suara Leo Sayer yang jernih mengalun begitu saja,

“When I need you
I just close my eyes and I’m with you
And all that I so want to give you
It’s only a heartbeat away…”

Akhirnya kami menikmati malam itu dengan lagu-lagu oldies yang menyimpan banyak kenangan.

Ciputat, 23/08/18

Bunga Rampai dari Malaysia

 

Selangor 10 des 17

 

sdd.jpg

Jauh-jauh ke Malaysia ketemu tetangga, Prof. Sapardi Djoko Damono (SDD) yang tinggal di Ciputat juga, 3 km dari rumah saya, hehe. Saya tunjukkan dalam buku ini ada puisi yang saya tulis untuk beliau berjudul “Kursi Ruang Tunggu” yang notebene merupakan adaptasi dari puisi beliau yang sangat terkenal, “Hujan Bulan Juni”; dan beliau terkekeh-kekeh.

 

GM

Sarapan pagi bersama Goenawan Mohamad dan Pauline Fan di Hotel Grand Bluewave, Selangor, 9 Desember 2017.

 

AAN - KL 08 des 17

Perjalanan dari KL ke Selangor bersama Aan Mansyur, penyair “Ada Apa dengan Cinta 2”

 

IMG-20171210-WA0018

Diskusi panel dengan tema: “Kesusastraan Agama dalam Bahasa Melayu Nusantara” bersama Dr. Azhar (Singapura), Eekmal (Malaysia), dan Mustaqim (Malaysia), di Museum Sultan Shah Alam, Selangor, 10 Desember 2017.

 

Senja di Jakarta

Buku SENJA DI JAKARTA sedang dicetak lagi, karena banyak yang pesan dan saya kehabisan stok. Tapi insya Allah akhir tahun ini (2017) sudah selesai dan anda bisa pesan mulai sekarang: via WA 085750431305. Harga Rp. 50.000,- belum ongkos kirim. Setiap buku yang dipesan akan ditandatangani. 🙂

 

 

 

Cinta, Rindu, Airmata (puisi akhir pekan)

tears

puisi-puisi ahmad gaus

 

AKU BERTANYA

Aku bertanya pada cinta
sampai kapan akan membiarkan rindu
terbelenggu dalam penjara jiwa.
Ia menggelengkan kepala
menitikkan airmata!

Aku bertanya pada rindu
sampai kapan akan membiarkan cinta
terpenjara dalam belenggu kalbu.
Ia menangis pilu
menumpahkan airmatanya di bahuku!

Akhirnya aku bertanya pada airmata
sudikah ia mempertemukan
cinta dan rindu di taman pelaminan
dimana tak ada lagi kesedihan.
Ia pergi meninggalkanku
sambil menangis tersedu-sedu!

—  Gedung Film, Maret 2016

 

DOA PENAWAR RINDU

Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih
melebihi kerinduanku kepada-Mu
ampuni aku!
Sebab, aku bukan penguasa atas apapun
yang terbersit di hatiku
melainkan Engkau.
Dan jika kecintaanku pada kekasih
melebihi kecintaanku kepada-Mu
maafkan aku!
Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa
yang berdenyut di jantungku
melainkan Engkau.

Dalam zikir-zikir yang kulantunkan
untuk memuji nama-Mu
tanpa sadar kusebut pula namanya.
Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru!
Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku
melainkan atas izin-Mu juga.
Dan dalam sujud-sujud malamku
untuk mengagungkan-Mu
kuagungkan pula namanya di hatiku.
Jangan kutuk aku, Tuhan
walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!

Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu
kepada Engkau pula kelak akan bermuara
aku hanya pendayung waktu
rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu
untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku.
Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh
yang akan kujalani selama hidupku
dan rindu ini sebagai ibadah
yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.

Gedung Film, Maret 2016

 

 

Tiga Puisi Cinta

floating-leaf

Puisi-Puisi Ahmad Gaus

 

SERIBU TAHUN LAGI

Kulayari malam dengan perahu

selembar daun yang jatuh dari mimpimu

laut gelap menunggu!

 

Kapal-kapal berlintasan di kepalaku

mengangkut udara kota yang beku

dan menaburkannya di sepanjang

aliran darahku.

 

Dengarlah!

Aku bukan pengelana yang gagah perkasa

menaklukkan badai, menembus rimba belantara

mencari cinta sampai ke ujung dunia

 

Aku hanya debu

mengikuti angin yang setia mengirim rindu

kepada dermaga dan batu-batu.

 

Tubuhku ringan tanpa beban

terapung-apung di tengah lautan

esok, tirai fajar akan membuka kelopak matamu

atau harus seribu tahun lagi menunggu!

 

  —  Bintaro, 22 Januari  2016

 

 

PENYATUAN

 

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

 

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

 

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

 

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

 

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

 

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

 
 

SURAT SENJA KEPADA PAGI

 

Jika kau tiba di bukit itu sore nanti

kemungkinan besar aku sudah pergi.

 

Tapi …

di bibir cakrawala

tidak jauh dari tempat pertama kita berjumpa

ada sebuah telaga

aku menunggumu di sana.

 

    —  Scarlet, Bandung – 5 Februari 2016