Posted by: Ahmad Gaus | June 3, 2013

Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

“Aku Ingin Jadi Peluru”

Wiji Thukul2

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

– Wiji Thukul, Solo, 1986 –

Puisi-puisi Wiji Thukul yang dimuat dalam antologi Aku Ingin Jadi Peluru,1) membuktikan bahwa puisi mampu menjadi saksi atas sebuah zaman. Kata-katanya bagaikan bidikan kamera yang mengabadikan setiap momen yang dilihat dan dirasakan untuk dituangkan dalam puisi. Pada Wiji Thukul, momen puitik ialah seluruh hidupnya di sebuah masa yang penuh gejolak dan ketidakpastian. Kehidupannya yang sulit sebagai orang pinggiran tak pernah lelah ia bela. Namun apa lacur, ia harus berhadapan dengan tembok-tembok kekuasaan yang membuatnya tetap terpinggirkan. Dan ia sadar tidak sendirian. Lingkungan terdekatnya sendiri semuanya orang melarat. Bapaknya tukang becak, istrinya buruh jahit, mertuanya pedagang barang rongsokan, tetangga dan teman-temannya adalah buruh pabrik yang dibayar murah, dan jutaan orang lain yang bernasib sama dengan mereka.

Itulah momen-momen puitik penyair Wiji Thukul. Hidupnya sama sekali tidak indah. Realitas yang disaksikan di sekelilingnya juga tidak indah. Begitu juga wajah kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas orang-orang pinggiran. Ia terlibat dan menyelami penderitaan orang kecil lalu menyuarakannya dengan lantang. Itulah sebabnya kita tidak akan menemukan kata-kata mendayu-dayu dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Kata-katanya sangat lugas, bahkan jika dibandingkan dengan puisi-puisi pamplet WS Rendra yang kerap masih menggunakan metafor. Bahkan Wiji Thukul dengan sadar menghindari metafor karena menganggapnya tidak perlu. Dalam sebuah puisi yang ditujukan kepada sahabatnya Prof. Dr. W.F. Wertheim (sosiolog Belanda, ahli Asia Tenggara) yang berjudul “Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?” ia menulis:

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek –biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku –4 th– melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA

Puisi itu ditulis ketika ia menjadi aktivis yang paling dicari oleh rezim Orde Baru. Ada banyak cerita di balik itu. Majalah Tempo edisi 13-19 Mei 2013 membuat edisi khusus mengenang tragedi 1998 yang menulis laporan utama Teka-Teki Wiji Thukul. Pada sampul depan tertulis pertanyaan: Siapa yang telah menghabisinya? Pertanyaan itu hingga sekarang tidak (belum) terjawab. Sejak dinyatakan hilang, tidak ada yang tahu pasti apakah ia masih hidup atau sudah mati. Laporan edisi khusus Tempo itu mencoba mengurai jejak-jejak Wiji Thukul sejak menjadi aktivis hingga saat menjadi buron dan kemudian menghilang. Tempo juga melampirkan suplemen berupa buku kecil yang diberi judul “Para Jendral Marah-marah: Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian”.

Dalam kata pengantar Tempo disebutkan bahwa buku kecil itu mencoba melengkapi berbagai antologi puisi Thukul yang sudah terbit dan untuk memberi gambaran sekilas macam apa puisi penyair kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 itu. Antologi yang dimaksud ialah: Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda, 1994), dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).

Antologi yang disebut terakhir boleh dibilang paling lengkap karena memuat 5 kumpulan puisi yang sebelumnya pernah terbit, yaitu Lingkungan Kita Si Mulut Besar (46 puisi), Ketika Rakyat Pergi (16 puisi), Darman dan Lain-lain (16 puisi), Puisi Pelo (29 puisi), dan Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi). Buku kecil yang dimuat sebagai suplemen Majalah Tempo memang merupakan puisi-puisi Thukul yang belum disiarkan secara luas. Manuskripnya sendiri berupa tulisan tangan berasal dari sahabat Thukul yang pernah menjadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia, Stanley Adi Prasetya. Thukul memberikan kepadanya sekitar pertengahan Agustus 1996 sebelum menuju pelarian. Baru belakangan Stanley mempublikasikannya dalam tulisan berjudul Puisi Pelarian Wiji Thukul sebagai bagian dari artikelnya di jurnal Dignitas Volume VIII Nomor 1 Tahun 2012, yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat.

Esai ini tidak merujuk pada kumpulan puisi tersebut, namun wajib menyebutkannya karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Wiji Thukul baik sebagai aktivis maupun penyair yang menjadi korban dari puisi-puisi yang ditulisnya. Bagaimanapun, antologi Aku Ingin Jadi Peluru telah cukup memberi gambaran estetika kepenyairan Thukul, selain merupakan antologi yang paling lengkap, bukan saja dari segi jumlahnya (karena dihimpun dari 5 kumpulan puisinya yang terbit terdahulu) tapi juga dari coraknya yang beragam, tidak melulu tentang pemberontakan.

Orang yang tidak menyukai puisi-puisi abstrak dan rumit dapat memilih Aku Ingin Jadi Peluru sebagai sahabat apresiasi yang cukup menantang. Namun jangan salahkan penulisnya jika setelah membaca itu ia merasa tidak nyaman sebab “bait-baitnya lebih mendatangkan kegelisahan daripada kesenangan.”2) Mungkin karena ia tidak menyuguhkan keindahan imajiner yang meliuk-liuk.

Wiji Thukul

Ada dua hal yang sangat menonjol dalam setiap puisi di sini: bahasanya lugas dan pesannya jelas. Pada umumnya puisi-puisi Thukul bertutur tentang kehidupan orang-orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas. Namun, ia memberi kekuatan pada mereka bahwa harapan masih ada kalau mau melawan. Hal itu tampak jelas pada puisi yang dikutip di awal tulisan ini. Juga pada puisi berikut:

Tentang Sebuah Gerakan

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

1989

Apa artinya jika “aku” diganti dengan “setiap orang”? Ia telah melepaskan kepentingan pribadinya! Tapi ia bukan pahlawan yang ingin membela orang lain. Ia berangkat dari persoalannya sendiri, bahwa ia butuh rumah, butuh pangan yang cukup, butuh pakaian untuk menutupi kemaluannya. Ini kepentingan pribadi. Lalu ia menyadarkan banyak orang lain yang nasibnya sama untuk bangkit menuntut. Sebab pekerjaan besar semacam itu tidak mungkin ia pikul sendiri. Inilah yang menarik dari puisi di atas. Tampak seperti sebuah kalimat prosa. Tapi, bahkan kalau kita susun menjadi paragraf biasa, bukan dalam bentuk puisi yang tersusun ke bawah, kita tetap akan kesulitan menyebutnya karangan prosa. Sebabnya ialah, ia mengunci akhir bait pertama dengan kalimat puisi “ingat: setiap orang!” Kalimat puisi itu lebih hidup lagi pada bait ketiga: aku bukan orang suci/ yang bisa hidup dari sekepal nasi/ dan air sekendi. Bukan hanya maknanya yang terbangun dalam susunan logis, namun ia juga memperhatikan betul rima akhir.

Dalam puisi ini Thukul mengajak orang-orang yang senasib dengannya untuk memikirkan sebuah gerakan yang akan mengubah hidup mereka. Namun ia tidak memaksa orang-orang lain itu, karenanya ajakan itu hanya disampaikan dengan pertanyaan semacam gumam pada diri sendiri: aku berpikir tentang gerakan/ tapi mana mungkin/ kalau diam?

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Thukul (bait 2 dan 4) mengesankan rasa ragu untuk menggeneralisasi nasibnya dengan nasib orang lain. Dalam wawancaranya yang dimuat di bagian akhir buku ini, Wiji Thukul menyatakan: “… saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut pahlawan karena berjasa memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat. Mereka semua masuk dalam puisi saya. Jadi saya tidak membela siapa pun. Cuma secara kebetulan, dengan membela diri sendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang sementara ini entah di mana.”

Terlepas dari pengakuan itu, puisi-puisi Wiji Thukul memang menjadi api yang membakar harapan banyak orang akan sebuah perubahan. Ia bukan hanya menyuarakan pemberontakan namun juga ancaman yang apabila dibaca secara post-factum tampak jelas kebenarannya, seperti dalam puisi berjudul “Bunga dan Tembok” ini:

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

di dalam keyakinan kami
di mana pun – tiran harus tumbang!

Solo, 87-88


Menurut kesaksian seorang sahabatnya, Moelyono, syair-syair Wiji Thukul mengalami pergeseran dari semula bertemakan cerita kehidupan orang tuanya yang miskin, hidupnya yang serba sulit karena Thukul menikah usia muda, menjadi protes sosial yang menghantam kekuasaan. Kesaksian itu benar belaka. Dan setelah periode itu, puisi-puisinya basah kuyup oleh suara kutukan dan pemberontakan. Dalam Puisi Sikap, misalnya, ia benar-benar menegaskan sikapnya terhadap kekuasaan yang dikecamnya sampai mati: (….) andai benar/ ada kehidupan lagi nanti/ setelah kehidupan ini/ maka aku kuceritakan/ kepada semua makhluk/ bahwa sepanjang umurku dulu/ telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku/ dan kuhabiskan hidupku/ untuk menentangmu/ hei penguasa zalim

Puisi itu bertanggal 24 Januari ’97, artinya ditulis pada masa kekuasaan mencapai puncak keangkuhannya sambil mengabaikan suara-suara yang menginginkan perubahan. Puisi yang senada dengan itu misalnya Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa, dimana ia menulis: aku bukan artis pembuat berita/ tapi aku memang selalu/ kabar buruk buat/ penguasa. Masih banyak lagi puisinya yang memekakan telinga para penguasa: Catatan, Tong Potong Roti, Tentang Sebuah Gerakan, Bunga dan Tembok, Peringatan, Sajak Suara, dan lain-lain.

Puisi-puisi Wiji Thukul kerap dianggap menyalahi unsur estetika dalam sastra, tidak puitis, bahasanya vulgar dan menghantam. Namun, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Muryadi, ketika ditanya alasan majalahnya mengangkat laporan khusus mengenai Wiji Thukul, menyatakan justru dengan bahasa seperti itu puisi-puisi Wiji Thukul sangat menakutkan penguasa. Ia membongkar kejahatan yang selama ini disembunyikan. Budayawan Mudji Sutrisno menyebut bahwa puisi bagi Wiji Thukul ialah senjata. Aktivis Fadjroel Rachman mengemukakan hal senada. Di tangan Wiji Thukul, ujarnya, puisi menjadi suara rakyat tertindas yang lantang menentang kezaliman penguasa, karena Thukul menjadi bagian dari rakyat tertindas itu sendiri. Thukul adalah rakyat yang bersuara melalui media puisi. Tidak peduli ia akan disebut penyair atau bukan. Hal ini berbeda dengan Chairil Anwar yang menyatakan: yang bukan penyair tidak ambil bagian.3)

Sebelum dikenal sebagai penyair pemberontak dengan bahasa yang lugas dan keras, Wiji Thukul menulis puisi-puisi bernada lirih yang berkisah tentang kehidupan pribadinya, keluarganya, lingkungannya, dan tentang Tuhan. Puisi-puisi dalam kategori ini cukup banyak: Baju Loak Sobek Pundaknya, Sajak Ibu, Tujuan Kita Satu Ibu, Hujan, Dalam Kamar 6 x 7 Meter, Gentong Kosong, Apa yang Berharga dari Puisiku, Catatan Hari Ini, Catatan Suram, Darman, Gumam Sehari-hari, Kota ini Milik Kalian, Sajak Tiga Bait, dan lain-lain.

Dalam sebuah puisi yang judulnya cukup panjang, “Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai”, Wiji Thukul menulis: … selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini// ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana/ mereka dapat memandang dan merasakan/ kesedihan dan kebahagiaan/ tak ada menjadi miliknya// Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu. Larik terakhir itu mengingatkan kita pada larik puisi Doa dari Chairil Anwar: Tuhanku aku hilang bentuk-remuk. Sama-sama bersimpuh di hadapan Tuhan, namun Chairil tampak berusaha untuk menyatu dan pasrah total, sementara Wiji Thukul tidak menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Tuhan, semacam pemberontakan juga namun dengan cara yang lembut.

Tak pelak lagi, Wiji Thukul adalah “binatang jalang” yang lain di masa yang berbeda dengan Chairil Anwar. Ia bahkan telah mengorbankan hidupnya untuk sebuah perjuangan berdarah-darah demi perubahan hidup bangsanya. Dan ia percaya bahwa “suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!/ di dalam keyakinan kami di mana pun – tiran harus tumbang!” (Bunga dan Tembok).

Dan sebagaimana kata-kata dalam puisi Chairil Anwar yang sering dikutip, kata-kata Wiji Thukul pun telah menjadi slogan yang sangat terkenal dan diteriakkan dalam aksi-aksi demonstrasi menentang kelaliman. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari puisi Wiji Thukul:

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan, apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu pemberontakan!!! (Sajak Suara)

Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam. (Peringatan)

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan! (Peringatan)

Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu, ia ingin bicara mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan? (Sajak suara)

Jika kami bunga engkau adalah tembok, tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji suatu saat kami akan tumbuh bersamad dengan keyakinan: engkau harus hancur! dalam keyakinan kami di manapun – tirani harus tumbang! (Bunga dan tembok)

Mogoklah maka kau akan melihat dunia mereka jembatan ke dunia baru dunia baru ya dunia baru. (Bukan Kata Baru)

Kami satu: buruh kami punya tenaga jika kami satu hati kami tahu mesin berhenti sebab kami adalah nyawa yang menggerakkannya. (Makin Terang Bagi Kami)

Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu. (Satu Mimpi Satu Barisan)

. . . sajakku adalah kebisuan yang sudah kuhancurkan sehingga aku bisa mengucapkan dan engkau mendengarkan, sajakku melawan kebisuan. (Satu Mimpi Satu Barisan)

Jika tak ada mesin ketik aku akan menulis dengan tangan, jika tak ada tinta hitam aku akan menulis dengan arang, jika tak ada kertas aku akan menulis pada dinding, jika menulis dilarang aku akan menulis dengan tetes darah! (Penyair)

Aku berpikir tentang gerakan tapi mana mungkin kalau diam? (Tentang Sebuah Gerakan)

Aku menulis aku penulis terus menulis sekalipun teror mengepung. (Puisi Di Kamar)

Penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh. (Puisi Menolak Patuh)

Kita tidak sendirian kita satu jalan, tujuan kita satu ibu: pembebasan! (Tujuan Kita Satu Ibu)

Kausiksa aku sangat keras hingga aku makin mengeras, kaupaksa aku terus menunduk tapi keputusan tambah tegak. (Derita Sudah Naik Seleher)

Aku bukan artis pembuat berita tapi memang aku selalu kabar buruk buat para penguasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Puisiku bukan puisi tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan. Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti. Ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah. Ia tak mati-mati. Telah kubayar apa yang dia minta umur-tenaga-luka. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Kata-kata itu selalu menagih padaku ia selalu berkata: kau masih hidup! aku memang masih utuh dan kata-kata belum binasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Penyair Goenawan Mohamad menulis bahwa Wiji Thukul tidak bisa dipisahkan dari perubahan politik Indonesia menjelang akhir abad ke-20, ketika demokratisasi bergerak lagi melintasi penindasan, kekerasan, bahkan pembunuhan. Goenawan percaya bahwa Thukul sebenarnya seorang pemenang. Tapi ia pemenang yang tak membawa pialanya ke rumah. Ketika rezim yang dilawannya runtuh, ia hilang. Mungkin ia diculik dan dibunuh seperti beberapa aktivis prodemokrasi lain, tanpa meninggalkan jejak.4)

Bagaimanapun nasib Wiji Thukul saat ini, masih hidup atau sudah mati, puisi-puisinya akan terus dibaca. Sebab setiap karya yang ditulis dengan darah dan airmata, akan terus bergema sepanjang masa. Benar ia hilang tanpa jejak, tapi suaranya melambung ke angkasa, suara yang mewakili rasa sakit kemanusiaan yang direnggut secara paksa.

Catatan

1) Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, editor: Dorothea Rosa Herliany (Magelang: IndonesiaTera, 2000)

2) Solichan Arif, “Cerita Wiji Thukul si Penyair Hilang”, http://www.koran-sindo.com/node/313947

3) Disarikan dari diskusi “Wiji Thukul: Sebuah Angka Peradaban yang Hilang”, yang disiarkan TVRI pada 27 Mei 2013, dipandu oleh Soegeng Sarjadi.

4) Goenawan Mohamad, “Thukul”, Catatan Pinggir, Tempo, 13-19 Mei 2013


Responses

  1. aku bukan orang suci
    yang bisa hidup dari sekepal nasi
    dan air sekendi
    aku butuh celana dan baju
    untuk menutup kemaluanku


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: