Jalan Berbelok Ke Baitullah: Untuk Ulil Abshar Abdalla

Gus Ulil Ultah

Selamat ulang tahun untuk sahabatku, Ulil Abshar Abdalla. Setelah Cak Nur dan Gus Dur, dialah yang berani melawan otoritarianisme pemikiran agama. Sebagaimana kedua pendahulunya tersebut, Ulil menolak penafsiran tunggal atas teks-teks agama. Segala kemungkinan tafsir ia beberkan dengan disiplin keilmuan pesantren yang dikuasainya.

Hasilnya ialah: Islam menjadi agama yang terbuka. Tidak ada, dan memang tidak boleh ada, monopoli atas tafsir agama. Ijtihad yang ditempuh Ulil membuka jalan bagi banyak orang untuk mendekati Islam dari berbagai sisinya. Bahkan mereka yang semula jauh dari ajaran agama, termasuk pada pemabuk, pembangkang, dan para pendosa lainnya, merasa nyaman dengan jenis Islam yang diperkenalkan oleh Ulil. Mereka merasa diterima, dan diberi akses kepada Tuhan melalui pintu mereka sendiri.

Ini tentu berbeda dengan pemahaman mainstream yang menempatkan agama semata-mata sebagai urusan surga-neraka, halal-haram, dan sejenis itu. Atas ijtihadnya itu, Ulil dikagumi dan diikuti oleh banyak orang, tapi juga dibenci oleh yang lainnya. Ia pernah difatwa “halal darahnya” oleh Forum Ulama Umat Islam (FUUI).

Namun pikiran-pikiran Ulil terus bergulir dan mendapatkan tempat tersendiri di benak kaum Muslim, khususnya anak-anak muda yang tengah mencari Islam yang berbeda dengan “Islam mainstream” yang bagi mereka sudah terlalu kolot untuk bisa menjawab kebutuhan masa kini.

Sekali lagi, selamat ultah Gus Ulil.  Sebuah puisi khusus saya buatkan untuk Anda di hari yang istimewa ini.

Salam,

Ahmad Gaus

 

 

 

 

 

Burung Rajawali: Kado Ultah untuk Denny JA

Denny JA adalah pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan konsultan politik. Ia telah berjasa mengantarkan ratusan orang menjadi kepala daerah (gubernur, walikota/bupati), dan menjadi arsitek kemenangan SBY dan Jokowi sebagai presiden masing-masing dua periode. Ia telah memperoleh banyak penghargaan untuk aktivitasnya di dunia survei opini publik dan konsultan politik. Selamat ulang tahun, brader.

Yang Pergi di Hari Rabu

Kenangan untuk Sahabatku, Nanang Tahqiq
YANG PERGI DI HARI RABU
Dia telah pergi untuk selamanya
Aku terpana, kematian datang tanpa melihat kalender
Padahal tahun baru sudah di depan pintu
Masa pandemi mungkin juga akan segera berlalu
Dan kita bisa duduk bersama lagi, berdebat tentang teologi yang sudah lama mati
Sambil menyeruput kopi dan menghembuskan asap tembakau ke langit tinggi
Dia memiliki mata yang tajam
Seperti mata burung hantu di waktu malam
Setajam pikirannya yang bisa menguak gelapnya persoalan
Pandangannya jernih seperti air telaga
Tapi kadang dia juga menjadi orang yang paling rumit
Pikirannya berkelok-kelok di jalan lurus
Mencari jalan lain yang tak biasa
Membuat orang geleng-geleng kepala
Suatu pagi di musim hujan ia datang ke rumahku mengembalikan buku yang dia pinjam
Aku tidak terkejut saat dia mengambil buku itu dari dalam tas, dia juga mengeluarkan golok
Kata temanku, Irfan Abubakar, Nanang Tahqiq itu intelektual sekaligus jawara Banten.
Maka tidak heran bila buku dan golok disimpan di tas yang sama.
Dia punya tulang rahang yang keras dengan bibir yang cenderung bersungut
Mengesankan dia seorang yang bertemperamen keras
Padahal dari semua sahabatku, tidak ada yang lebih lembut dari dia
Tidak ada suara tawa yang keras melebihi kerasnya suara tawa dia
Menunjukkan bahwa dia orang yang sangat menyenangkan
Dia seorang agamawan dengan jiwa seni yang meruah
Dia berkhutbah, tapi juga menyanyi.
Aku masih ingat, puluhan tahun lalu di pondok, dia duduk di teras kamarnya sambil memetik gitar
Menyanyikan lagu Seruling di Lembah Sunyi
Suaranya melengking-menyayat
Dia jawara berhati lembut, intelektual berjiwa seniman, dosen yang aktivis, perekat tali silaturahmi dan sekaligus penggerak solidaritas.
Selamat jalan, Kak Nanang Tahqiq. Saya bersaksi engkau adalah salah satu orang terbaik yang pernah saya kenal.
Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bi husnil khatimah
Ciputat, 30 Desember 2020
Ahmad Gaus
Keterangan Foto:
Alm. Nanang Tahqiq bersama Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj dalam sebuah seminar.
Note: Nanang Tahqiq adalah dosen Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan dosen Program Studi Agama Islam Universitas Paramadina. Almarhum juga merupakan alumnus Pondok Pesantren Daar el Qolam, Banten. Saya (GA) adalah adik kelas dan sekaligus muridnya di pondok. Almarhum meninggal dunia hari ini, Rabu 30 Desember 2020/15 Jumadil Akhir 1442 H. Lahu ‘l-Fatihah

Tuhan Sudah Menunggu

Untuk teman-teman yang merayakan Natal #2020, saya mengucapkan:

SELAMAT NATAL UNTUK KITA SEMUA

Semoga damai di bumi, damai di hati

Saya suguhkan sebuah puisi sebagai kado Natal untuk teman-teman semua. Selamat menikmati. 

 

Tuhan menunggu5

Baca juga: Cerita Natal Seorang Gadis Kecil