PANGGILAN BENDERA

bendera3

Panggilan Bendera

Puisi Ahmad Gaus

Bendera di halaman rumahku
berkibar ragu-ragu
mungkin karena ia tidak tahu
kenapa harus berkibar
dan untuk apa
untuk siapa

Bendera di halaman rumahku
berkibar malu-malu
mungkin karena ia merasa asing
berada di antara bendera lain
yang lebih tinggi darinya
bendera partai
bendera golongan
bendera isme
bendera sekte

Benderaku gamang
memandang ke bawah tanah
takut terjatuh
mendongak ke atas langit
terlalu jauh
sebab tanah tak lagi basah oleh darah
putra-putri ibu pertiwi yang mati
mempertahankan negeri
langit tak lagi hitam
oleh asap dentuman meriam

Sejarah telah pergi
benderaku ditinggal sendiri
anak-anak negeri mengibarkan
bendera mereka sendiri-sendiri

Akhirnya benderaku tak mau berkibar
hanya melambai-lambai
seperti memanggilku dan
berkata, “Turunkan aku segera
dan sembunyikan
dalam lemari!”

 

Bumi Pertiwi, 14/8/17

SEBUAH KAMAR

room2

SEBUAH KAMAR

Akhirnya kau pergi juga
kulipat daun pintu dan diam-diam
kumasukkan ke dalam tasmu
suatu hari nanti kau akan teringat
sebuah kamar di kepalaku
yang pintunya selalu terbuka — menghadap ke laut
tempat kau biasa berbaring seperti turis asing
sambil menikmati suara ombak
burung-burung camar menarik-narik rambutmu
hingga kau tertidur dan bermimpi
sedang berada di salon kecantikan
kau berdandan begitu meriah
seperti kota yang tengah berulang tahun.

“Aku pergi sekarang,” Katamu melepas pelukan.
“Duniaku menunggu di sana.”

Kota telah bersiap menyambutmu
berhias dengan lampu dari kunang-kunang
jalan-jalannya terbuat dari lidah orang-orang
yang tak kau kenal
gedung-gedungnya menjulang tinggi
melebihi keangkuhanmu
masuklah ke sana melalui pintu yang kuletakkan
di dalam tasmu, dan carilah kamar kosong
yang menghadap ke laut.

 

Jakarta, Juli 2019
IG: ahmadgaus68

 

 

 

KAMU DAN BUKU

Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei 2019

Gambar mungkin berisi: 1 orang
KAMU DAN BUKU

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku
Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku
Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman
Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.

Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu
Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan
Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu
Sebab waktuku tidak akan cukup.

Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu
Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain
Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks
Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan
Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu
Tapi itu salah kamu juga, sih
Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu
Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.

Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial
Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku
Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat
Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks

Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran
Banyak penerbit sudah gulung tikar
Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah

Tapi itu hanya kesedihanku belaka
Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.

Gedung Film, 17 Mei 2019
Ahmad Gaus

 

Dalam Fana

01-fana

 

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
aku adalah debu purba
dihempas angin negeri-negeri tua
mencari tempatku di alam semesta
namun tak ada

aku adalah setitik air
berkelana mencari samudera
ingin melebur dalam keluasannya
namun tak sampai jua

kuikuti jalan fana
dalam fana wujudku tiada
aku melihat tidak dengan mata
mendengar tidak dengan telinga
berkata tidak dengan mulut
meraba tidak dengan tangan
mencium tidak dengan hidung
sebab indraku terputus
segala yang ada pupus

pikiranku sirna karena aku tidak membutuhkannya
perasaanku sirna karena aku tidak mengindahkannya
pikiran dan perasaan membuatku
terpenjara dalam ruang dan waktu
sedang burung-burung jiwaku
datang dan pergi tak kenal waktu

aku tidak hidup di bawah langit
aku tidak hidup di atas bumi
sebab langit dan bumi tidak ada
ruang dan waktu tidak ada
dan dalam tidak ada apa-apa
hanya DIA yang mutlak ada

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
bersama Sang Ada

Puisi: Ahmad Gaus

02-fana

Kultum Ramadan di Gedung Film, Jl. MT Haryono Kav. 47-48, Jakarta, 09 Mei 2019

 

Tuhan Tidak Bermain Dadu

Dice

 

TUHAN TIDAK BERMAIN DADU

Tuhan ada di antara anak-anak yang berkumpul untuk bermain kelereng
Mula-mula, Dia membantu mereka menarik garis batas pelemparan dengan cermat
Lalu memastikan kelereng-kelereng yang akan dibidik berada di titik gravitasi agar tidak tergelincir ke lubang hitam
Atau berbenturan dengan planet-planet lain di jagat raya.

Ketika aturan sudah dibuat, Dia tinggalkan anak-anak itu karena tidak ingin mengusik kegembiraan mereka.

Kemudian Dia pergi ke tanah lapang untuk menyaksikan anak-anak lain yang sedang asik bermain layang-layang
Tidak ada aturan baru dalam permainan ini.
Semua sudah ditetapkan di zaman permulaan
Begitu tertulis dalam kitab-kitab suci
Maka Dia duduk-duduk saja di bawah pohon
Sambil sesekali menahan angin dari utara agar tidak bertiup terlalu kencang.

Ada satu permainan anak yang paling Dia sukai yaitu gangsing — permainan tradisional yang sudah hampir punah
Perputaran gangsing pada satu poros menyerupai tarian sufi
Meliuk-liuk ke segala arah dengan kaki menancap di bumi
Seperti para sufi yang berperan sebagai paku bumi agar bumi tetap memiliki keseimbangan

Tapi, wallahi, aku tidak pernah melihat Dia bermain dadu
Mengundi perkara-perkara besar menyangkut kelangsungan hidup sebuah bangsa.
Terlalu beresiko untuk keseimbangan semesta.

 

Pamulang, Tangerang Selatan, 17.04.19
Ahmad Gaus

Ideologi dan Utopia

utopia

 

IDEOLOGI DAN UTOPIA

Setiap lelaki hidup dengan mimpi yang jatuh dari sebatang pohon. Mereka mengira itulah cinta paling agung yang disemaikan oleh semesta dan tumbuh di tubuh perempuan — dimana sungai-sungai mengalir deras, bukit-bukit berbaris, dan lahan perkebunan terbentang luas

Dunia adalah mimpi para lelaki dengan perempuan yang hanya terlihat bulu matanya di hutan cemara, dan betisnya yang menyala-nyala di cakrawala. Tapi itulah yang menggerakkan kaki-kaki mereka untuk berkelana membuka daerah-daerah baru pertanian, pertambangan, dan perdagangan.

Politik belum ada waktu itu, sehingga tidak ada ketentuan yang mengatur kapan matahari harus terbit, dan di mana harus terbenam. Satu-satunya simbol kehidupan ialah perempuan itu sendiri, karena tubuh mereka adalah bumi. Itu sebabnya para lelaki senang bertawaf mengelilingi bumi, mencari pintu masuk ke dalamnya melalui rahim perempuan.

Bangsa-bangsa baru didirikan belakangan, setelah kaum perempuan mau membuka rahim mereka dan melahirkan konstitusi. Pasal-pasal perang dan perdamaian ditulis dengan huruf-huruf tebal di mulut rahim. Agar para lelaki tahu di mana mereka harus mati, jika politik tidak mampu memberi cinta dan kebahagiaan.

 

Harris Hotel, Sentul, Bogor
23 Februari 2019
IG: ahmadgaus68

TAN EK TJOAN [puisi Imlek]

Featured

Tan

Tan Ek Tjoan

Sebuah bendera berkibar di atas sepotong roti
Melantunkan nada yang terus bertahan
Dari gegap-gempita nyanyian revolusi
Hingga huru-hara zaman yang bergerak makin ke kanan

Tanah airku, kisah Tan, berada di sebelah kiri jalan
Di antara deretan toko yang kerap menjadi sasaran penjarahan
Nasionalismeku terhimpit di halaman buku-buku sejarah yang tak pernah dibaca
Maka kucetak saja negeriku dengan roti gambang, bimbam, roti cokelat oles, dan nougat.

Roti-roti bernyanyi di atas gerobak dorong
Terseok-seok di gang-gang kecil pinggiran kota
Menyapa orang-orang kampung untuk menemani mereka minum teh di pagi dan sore hari

Roti, roti, roti...
Sebuah nyanyian dari masa lalu yang menyayat jiwa
Roti, roti, roti…
Sepenggal sejarah yang menitikkan airmata

— a poem by ahmad gaus

SELAMAT IMLEK SEMOGA DI TAHUN INI REZEKI KITA BERTAMBAH BANYAK

 

Elegi untuk Ibu Omi

 

omi1

ELEGI UNTUK IBU OMI *)

 

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di sisi jendela
Di tepi pagi yang sunyi
Memandangi bunga-bunga di taman
Tumbuh, merekah, kemudian layu dan jatuh ke bumi
Menikmati kicau burung-burung di halaman
Sebelum mereka terbang satu persatu menuju cakrawala

Seperti itu pula orang-orang yang kita cintai
Keluarga, sahabat, handai taulan
Satu demi satu mereka pergi meninggalkan kita
Sebagian telah berpulang menuju keabadian
Sebagian lagi masih menunggu antrian
Di simpang jalan kehidupan

Mereka yang pergi bukan tidak mencintai kita
Tapi masing-masing punya dunia sendiri
Dunia yang tidak bisa kita kunjungi sekalipun hanya dalam mimpi (begitu kata penyair Libanon-Amerika, Khalil Gibran, dalam puisi “On Children”)
Dunia yang dibangun untuk masa depan mereka yang lebih baik
Agar kelak, mereka pun dapat menikmati hidup bahagia seperti kita
Duduk dekat jendela
Ditemani secangkir teh di sore hari yang sunyi

Kesunyian bukanlah tragedi
Seperti ranting tua yang jatuh ke jalan
Dilindas roda kendaraan
Bukan!

Kesunyian itu seperti tsunami yang berdiam di dalam botol
Menunggu tangan-tangan malaikat menumpahkannya di kanvas kehidupan
Dari kesunyian lahir bayi-bayi mungil bernama kearifan, kebijakan, dan peradaban

Kesunyian adalah sahabat lama yang kita nantikan
Sebab dialah yang akan menemani kita
Mengumpulkan serpihan jiwa yang berserakan
Di sepanjang perjalanan

Kesunyian menguji kesabaran kita hingga batas terjauh
Untuk menghubungkan dua dunia
Yang fana dan yang baqa

Kesunyian bukanlah alasan untuk merasa sunyi
Sebab seluruh semesta ini, kata penyair sufi Jalaluddin Rumi, ada di dalam diri
Mengapa kita harus merasa sunyi

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di tepi jendela, di ujung senja yang sunyi
Tapi kita semua membutuhkan kesunyian
Sebab pada dasarnya kita memang harus belajar mempersiapkan diri
Menuju kesunyian yang abadi.

 

PIM 3 Jakarta, 26/01/2019

*) Ibu Omi Komaria Madjid adalah istri almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), cendekiawan, guru bangsa, dan pemimpin besar revolusi pemikiran yang pernah dimiliki bangsa ini.

Note:
Puisi ini dibacakan di acara pertemuan Caknurian II dan tasyakuran ulang tahun ke-70 Ibu Omi Madjid di Pondok Indah Mal 3, Jakarta. Terima kasih kepada Prof Komaruddin Hidayat sebagai host acara, dan Kiai Ulil Abshar Abdalla yang menginspirasi lahirnya puisi ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang hadir di acara ini. Ingatlah: Semua akan berpuisi pada waktunya. 😂

omi2

omi3

 

 

 

 

Surat Kecil untuk Tuhan

surat kecil1

SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Anak-anak lahir dari rahim semesta. Tangisan mereka adalah musik paling tua yang diciptakan oleh hening. Hingga seisi alam hanyut dalam alunan isaknya. Langit ikut mendengar dan menumpahkan airmata. Anak-anak membawa alat musik, berlarian di jalan-jalan, karena hujan adalah isak tangis mereka sendiri. Setiap butirnya dikumpulkan dan diberikan kepada orang-orang yang lewat — mengira itulah orangtua mereka.

Anak-anak berasal dari negeri asing. Seperti para pengungsi yang datang bergelombang. Ada yang beruntung mendapat suaka, belaian tangan bapak, dan pasokan air susu yang berlimpah dari payudara ibunya. Namun sebagian lagi menjadi para pengungsi yang tersesat. Mereka dibesarkan oleh debu, tembok berduri, dan gerbong-gerbong kosong, tempat mereka memandang langit —  dari mana mereka dikirim.

Dan malam ini Kau lihat sendiri, mereka berusaha sembunyi-sembunyi, mencuri bulan dengan galah yang ujungnya diberi belati. 

puisi: ahmad gaus

(Terinspirasi oleh film “Surat Kecil untuk Tuhan” produksi Falcon Picture yang beredar di bioskop bulan Juni 2017)

20140615_215958_sekolah-kolong-jembatan

 

Sarah Mae

 

dark

SARAH MAE

Sarah Mae sudah pergi dari rumah ini sejak kemarin lusa. Ia hanya berpamitan pada daun pintu yang selalu terbuka — walaupun tidak pernah tahu siapa yang ditunggu; dan pada seekor burung piaran yang tidak berhenti bernyanyi karena selalu kesepian. Tidak ada yang tahu mengapa Sarah pergi, dan ke mana. Jejak kakinya pun hanya mengantar dia sampai halaman.

Tapi memang, rumah yang ditinggali Sarah akhir-akhir ini sudah hampir meleleh karena hawa panas dari tubuh para penghuninya. Setiap hari ada saja suara jeritan dari alat -alat rumah tangga yang dilemparkan ke muka orang. Dan sebenarnya rumah ini pun sudah penuh, tapi para penghuninya masih saja mengajak orang lain untuk masuk.

Sarah tidak bisa tinggal di rumah yang membayangkan dirinya taman surga, tapi setiap hari disirami air kencing. Ia marah ketika ruang perpustakaannya difungsikan sebagai toilet; buku-buku koleksinya dipakai untuk melempar anjing — hanya karena anjing itu mengajari mereka cara hidup bertetangga.

Orang-orang di rumah ini memang lebih sering kesurupan daripada membaca. Lebih suka berteriak-teriak daripada berusaha mencari akalnya yang hilang.

Sarah Mae pergi karena tidak tahan melihat rumahnya terus-menerus dirusak oleh para penghuninya sendiri. Besok atau lusa mungkin orang-orang akan menyusulnya.

 

Puisi di atas dimuat dalam buku “Senja di Jakarta” (Ahmad Gaus, 2017)

 

MATA IBU

ibu-01

Mata Ibu

Dari apakah Tuhan menciptakan mata ibu
Begitu luas hingga mampu menampung isi semesta
Tempat matahari beredar
Dan bulan yang selalu purnama
Bintang-bintang bertaburan di sana

Di dalam mata ibu ada lautan
Tempat aku berlayar menuju pulau tujuan
Kota-kota yang pernah aku kunjungi
Ada di dalamnya

Setiapkali kutatap mata ibu
Aku menemukan potret diriku
Dari bayi hingga tumbuh dewasa
Aku tetaplah kanak-kanak di matanya

Mata ibu tidak pernah terpejam
Walaupun sedang tertidur ia tahu
Ke mana aku berjalan

Mata ibu terbit sebelum fajar
Dan tidak pernah terbenam
Sepanjang siang
Sepanjang malam

Mata ibu lebih terang dari matahari
Karena mata ibu tidak menciptakan bayangan
Sehingga aku tidak bisa bersembunyi dari pandangannya

Mata ibu lebih tajam dari mata pedang
Setiap kali menatapku
Aku tersungkur dengan darah bercucuran
Dan luka-luka yang tak ingin kusembuhkan

Kelak bila tiba masanya 
Aku ingin mati dalam tatapan matanya

Gedung Film, 14/01/19