Puisi Saya di Kalender 2022

Apakah anda pernah melihat sebuah kalender yang di dalamnya terdapat puisi? Biasanya foto/gambar, atau lukisan ya?

Kalau belum pernah, berarti puisi-puisi saya adalah yang pertama masuk kalender, dan bisa masuk MURI kan? Hehehee

Ya, kalender UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) tahun 2022 memuat 12 puisi saya. Tidak mudah membuat puisi-puisi itu karena harus sesuai dengan gambar/ilustrasi yang diminta. Tapi  berkat “tirakat” akhirnya jadi juga, dan kalendernya sudah terbit. Sayang sekali tidak ada versi digital sehingga tidak bisa saya bagikan.

Tapi kalau anda penasaran puisi-puisi seperti apa yang saya buat untuk 12 halaman kalender UIII tersebut, saya akan kirimkan ke email anda versi PDF nya.

Kirim email ke email saya, katakan bahwa anda ingin kelender itu. Email saya: gaus.poem@gmail.com, nanti kalender PDF akan saya kirimkan.

Contoh puisi saya dalam kalender ada di bawah

Terima kasih

Gaus

Meditasi Bulan Purnama

Selamat ulang tahun untuk teman yang sedang sakit, Indah Ariani semoga lekas sembuh; dan semoga berkah di usianya. Terima kasih telah menjadi host yang setia selama 2 tahun lebih di acara Caknurian Urban Sufism With Komaruddin Hidayat

 

Caknurian Review Edisi Khusus: Ultah Bu Omi

Hari ini, 25 Januari 2022, adalah hari ulang tahun Ibu Omi (istri almarhum Cak Nur). Walaupun usianya sudah terbilang senja (73 thn), beliau tetap aktif mengisi seminar dan forum-forum pemikiran Islam. Saat ini bahkan ada kader-kader pemikir muda Caknurian yang melanjutkan pemikiran-pemikiran progresif Nurcholish Madjid. Ibu Omi selalu menyemangati anak-anak muda ini untuk terus mengembangan pikiran Islam yang inklusif-pluralis sebagaimana dulu diperjuangkan oleh Cak Nur sepanjang hidupnya.

Selamat ulang tahun, Bu Omi, semoga sehat terus dan bahagia walau menjalani hari tua seorang diri, karena anak-anak (Mikel dan Nadia) di luar negeri.

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

 

 

Ketika Kebaya Diganti Hijab

Banyak orang Sunda marah kepada Arteria Dahlan (AD) karena politisi itu ingin memecat seorang pejabat yang berbicara bahasa Sunda dalam rapat.

Mereka bilang AD songong, tidak menghargai budaya Sunda. Ramai-ramai mereka meminta AD meminta maaf kepada masyarakat Sunda.

Pertanyaan saya, apakah mereka pernah marah dan menuntut ketika Rizieq Shihab mengganti ucapan salam yang sangat dimuliakan oleh orang Sunda, Sampurasun, menjadi CampurRacun?

Ketika KEBAYA Sunda dibuang dan diganti HIJAB syar’i, ketika sanggul dihinakan dan diganti dengan cadar, ketika tari Jaipong yang sangat fenomenal itu diharamkan, apakah mereka marah?

TIDAK. Karena mereka sendiri yang melakukannya. Sebagai orang Sunda saya kira kita lebih baik melakukan introspeksi diri, tidak perlu menyalah-nyalahkan orang lain yang merusak budaya kita, karena orang-orang dalam kita sendiri lebih sadis menghancurkan budaya Sunda kita.

Kita harus menyelamatkan budaya Sunda kita yang luhur dan agung dari kerusakan lebih jauh yang diakibatkan oleh penghambaan kita kepada budaya gurun,

Para nenek sepuh kita sudah ratusan tahun memeluk Islam, tapi mereka tetap menghargai budaya Sunda. Mereka tidak memakai hijab syar’i, apalagi cadar (ajaran dari mana ini) tapi memakai kebaya dan tiung/kerudung busana khas kita. Dan mereka tetap terlihat sopan.

Islam kita dari dulu ialah Islam yang ramah terhadap tradisi. Islam disebarkan melalui media-media seni dan budaya, maka Islam bisa diterima. Sebab kalau Islam dulu datang-datang menguasai dan berpretensi merusak budaya, pasti akan ditolak. Islam Sunda berbeda dengan Islam Arab, masing-masing punya keunikan dan lokalitas sendiri. Kita, orang Sunda, bisa menjadi Islam. Tidak perlu menjadi orang Arab di tanah Sunda. Budaya Sunda itu agung, luhur, mulia, itu warisan para karuhun yang harus kita jaga dan kembangkan.

Berikut surat saya untuk Nining, perempuan Sunda yang pindah ke Bulan karena ingin mengenalkan budaya Sunda ke negeri kahyangan.

 

 

Sumber: dari FB saya

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10158973966342599&set=a.375767877598&notif_id=1642853225644273&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

Islam Progresif di Singapura

Anak-anak muda Muslim (Melayu) di Singapura beruntung punya mentor seperti Mohamed Imran Mohamed Taib . Dia adalah benteng terhadap penetrasi ideologi ekstremisme dan sekaligus menjadi representasi muslim progresif dengan pergaulan lintas regional dan lintas iman.
Dalam 15 tahun terakhir Imran aktif mengembangkan jaringan dan membina hubungan dengan kalangan LSM/NGO, lembaga riset, kampus, aktivis pergerakan Islam, maupun intelektual bebas di Indonesia dan Malaysia.
Setidaknya dalam setahun dua kali dia membawa anak-anak muda muslim Singapura datang ke Indonesia dan berdialog dengan kalangan yang saya sebutkan di atas. Dengan begitu mereka mengetahui isu-isu mutakhir atau wacana yang tengah menjadi perbincangan publik. Mereka menyambangi Wahid Institute, Paramadina, CSRC UIN Jakarta, dan lain-lain termasuk sejumlah pesantren.
Imran sangat akrab dengan gagasan-gagasan Islam progresif dari tokoh-tokoh seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, KH Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, dll. Semula saya tidak menduga bahwa pikiran-pikiran kontroversial dari para pemikir seperti Harun, Cak Nur, Gus Dur, bisa diperkenalkan kepada kalangan Muslim Melayu di Singapura. Tapi Imran dengan rileks saja membawa pikiran mereka ke majelis pengajian Melayu hingga diskusi di kedai-kedai kopi pinggir jalan.
Belasan tahun hal itu ia lakukan melalui kelompok minoritas kreatif (creative minority) bernama The Reading Group (RG). Diskusi-diskusi di RG meluas dari masalah agama hingga sains, filsafat, sastra. Tak jarang para pemikir/aktivis dari Indonesia diundang ke forum ini.
Sekarang, entah sudah berapa banyak alumni RG di bawah mentoring Imran. Tapi yang pasti mereka adalah anak-anak muda yang sudah terbebaskan dari belenggu eksklusivisme religius yang rentan terhadap paparan ideologi ekstremis .
Maka saat ini, cara berpikir anak-anak muda Muslim Singapura tidak jauh berbeda dengan kaum muda NU dan Muhammadiyah yang progresif di Indonesia.
Jika anda, periset atau akademisi ingin mengetahui perkembangan Islam progresif di Singapura maka Imran adalah orang yang tepat untuk tempat bertanya. Dia adalah tokoh kunci dalam perkembangan ini, selain Azhar Ibrahim (NUS), teman seperjuangannya.
Selamat ulang tahun sahabatku, Imran, semoga selalu sehat dan dapat mempertahankan stamina dalam perjuangan yang masih panjang.
Jakarta, 10 Januari 2022
Ahmad Gaus
Mungkin gambar 1 orang dan teks

Simfoni untuk Boni

Selamat ulang tahun, Mas Boni (Dr. Nur Iman Subono) sehat selalu dan jangan lupa bahagia.

 

 

 

 

RESOLUSI 2022

Selamat tahun baru untuk teman-teman blogger semua. Semoga di tahun ini hidup kita lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Mengikuti teman-teman yang menyambut tahun baru dengan resolusi 2022, saya pun membuat resolusi sederhana. Resolusi ini ditulis di sela-sela pesta old & new di kompleks perumahan saya tadi malam, setelah saya menyumbangkan beberapa lagu gambus dengan suara emas saya. 😁😁

Pernikahan Perak

Selamat merayakan Pernikahan Perak untuk sepasang merpati pondok, akhi ‘l kabir ustadz Amin al-Gontoriyah dan ukhti shagirah Nurul Afifah al-Ulujamiyah (Darun Najah). Semoga selalu sakinah mawadah wa rahmah wa berkah wa ni’mah. 🙂 🙂

 

 

Diambil dari Facebook saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10158934637527599&set=a.375767877598&notif_id=1640744416497513&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

 

 

Senyum Kristus

Saya mengucapkan Selamat Natal untuk para sahabat Kristiani yang merayakan. Juga untuk teman-teman Muslim yang akhir-akhir ini ramai saling mengucapkan selamat natal di antara mereka, karena semakin bertumbuh kesadaran bahwa agama-agama adalah warisan bersama umat manusia.

Saya persembahkan sebuah puisi untuk siapa saja yang saling menyayangi, dan tak jera menebarkan rahmat untuk semesta.

 

Ahmad Gaus

 

Puisi ini menimbulkan keributan di FB saya, cek di sini:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10158927153537599&set=a.10154549639912599&notif_id=1640348552948032&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

 

Baca juga

Cerita Natal Seorang Gadis Kecil

Puisi Hari Ibu

ibu-01

 

MATA IBU

Dari apakah Tuhan menciptakan mata ibu
Begitu luas hingga mampu menampung isi semesta
Tempat matahari beredar
Dan bulan yang selalu purnama
Bintang-bintang bertaburan di sana

Di dalam mata ibu ada lautan
Tempat aku berlayar menuju pulau tujuan
Kota-kota yang pernah aku kunjungi
Ada di dalamnya

Setiapkali kutatap mata ibu
Aku menemukan potret diriku
Dari bayi hingga tumbuh dewasa
Aku tetaplah kanak-kanak di matanya

Mata ibu tidak pernah terpejam
Walaupun sedang tertidur ia tahu
Ke mana aku berjalan

Mata ibu terbit sebelum fajar
Dan tidak pernah terbenam
Sepanjang siang
Sepanjang malam

Mata ibu lebih terang dari matahari
Karena mata ibu tidak menciptakan bayangan
Sehingga aku tidak bisa bersembunyi dari pandangannya

Mata ibu lebih tajam dari mata pedang
Setiap kali menatapku
Aku tersungkur dengan darah bercucuran
Dan luka-luka yang tak ingin kusembuhkan

Kelak bila tiba masanya
Aku ingin mati dalam tatapan matanya

Hari Ibu, 22 Desember 2021

Ahmad Gaus

Mawar dan Pedang

Dr. Neng Dara Affiah adalah seorang aktivis gender. Pemikirannya dipengaruhi oleh Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, khususnya dalam gagasan toleransi dan kebebasan beragama. Ketika puisi ini saya posting di FB dan grup WA Cak Nurian, ia senang sekali, dan mengatakan bahwa puisi ini akan dibingkai dan digantung di dinding rumahnya. Selamat ultah, teteh. Semoga perjuanganmu menjadi inspirasi bagi adik-adik di generasimu. – Gaus

 

Tanpa Puisi, Bahasa Indonesia akan Mati

Sahabat puisi, dengarin lagi podcast saya ya, kali ini dibuat oleh teamnya Prof Jajang Jahroni dari UIN Jakarta. Di sini saya juga membaca puisi, selamat mendengarkan 🙂