Categories
Puisi

Mata yang Indah

“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

(“Resah”, oleh Payung Teduh)

MATA YANG INDAH

Mata yang indah
adalah seribu kunang-kunang
yang berpindah dari lembah
ke taman pedestrian
dan membawaku kembali duduk
di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.

Walau langit gelap
mata itu tetap purnama
tapi aku tak ingin menatapnya
karena aku akan tersiksa
maka kubiarkan kaki berjalan
dalam kegelapan.

Mata yang indah adalah muara
pelabuhan bagi biduk-biduk
resah dan kebahagiaan
dalam mata yang indah
kehidupan selalu basah
karena di kelopaknya yang rawan
hanya ada musim penghujan.

03/09/17
Rumah Budaya Nusantara
PUSPO BUDOYO, Tangsel.

Baca juga: [Puisi] Z

Categories
Puisi

Lukisan Flamboyan

 

Lukisan Flamboyan

Seperti sungai yang mengalir

ribuan tahun lamanya menuju muara

aku pun ingin menujumu

beribu-ribu tahun lagi.

Seperti angin yang berembus

menaburkan pupuk pada putik-putik kembang

aku pun ingin menyemaikan rindu

pada kelopak hatimu.

Langit kujadikan kanvas

tintanya air mata dan hujan

dan engkau yang terus berlari membawa keranjang

memunguti bunga-bunga flamboyan.

Aku ingin melukismu lagi

menggoreskan warna-warni pelangi pada rambut

dan bola matamu yang menyala

berguguran seperti cahaya.

Ciputat, 06/06/11

Baca juga: SEBUAH KAMAR

Categories
Puisi

HATI

 

HATI

Setiap minggu pagi
aku menggiling hatiku
di mesin cuci
dengan detergen pembersih noda
dan cairan pewangi.

Kalau hari cerah
aku menjemurnya
di halaman rumah
tapi akhir-akhir ini banyak pencuri
bikin aku was was saja.

Bayangkan kalau sampai hatiku hilang
besok aku menemuimu membawa apa?

– IG: ahmadgaus68

Baca juga: DUA HATI

Categories
Puisi

Sketsa Hujan

 

Sketsa Hujan

 

Siapa yang memberimu bunga

dan mengalungi lehermu dengan api?

Engkau masih terlelap dalam mimpi

ketika aku memunguti sisa-sisa butiran hujan
dan menyelipkannya di gaunmu yang terbakar.

Jendela kamarmu dipenuhi rumput ilalang
engkau terjaga dan memahat
airmatamu dengan kabut
menjadi patung-patung duka
lalu menghiasnya dalam bingkai waktu yang beku

Musim ini segera berlalu

tapi engkau masih saja terlelap

dalam mimpi panjangmu
sementara di luar

orang-orang berlarian
berebut hujan.

Chennai – India, 15/08/07

— Puisi ini dimuat dalam buku ISTANA ANGIN: Bunga Rampai Puisi Kampus (LotusBooks, 2011 )

 

Baca juga:

Hujan Bulan Desember

November Rain

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

Categories
Puisi

Puitisasi Pancasila

beda-hari-lahir-pancasila-1-juni-dengan-hari-kesaktian-pancasila-1-oktober-sejarah-peringatannya

 

PUITISASI PANCASILA

Tuhan Yang Mahaesa diseru dengan banyak nama

Tapi nama-nama itu tidak membuat Dia menjadi banyak

Tuhan Yang Mahaesa disembah umat berbeda agama

Tapi agama-agama itu tidak menjadikan Tuhan berbeda

Sebab Zat yang satu tidak dapat dibeda-bedakan

Dia yang satu, adalah simbol tertinggi persatuan manusia

Maka perbedaan-perbedaan di antara umat manusia

Dipersatukan oleh Tuhan Yang Mahaesa

Itulah keadilan tertinggi yang menciptakan keseimbangan di bumi  manusia

Karena itu ketidakadilan oleh manusia terhadap manusia lain membuat bumi berguncang

Menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab

Menyulut bara konflik dan pertikaian

Dan muara dari setiap pertikaian ialah perpecahan antara manusia dengan Tuhan

Itulah peristiwa paling tragis dalam peradaban manusia

Maka agama-agama menyerukan persatuan antara manusia dengan manusia

Dan kesatuan manusia dengan Tuhan Yang Mahaesa

——

Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2020

(Puisi ini pernah dibacakan di acara Komunitas Bela Indonesia, di Batam, 01 Desember 2018)

 

 

Categories
Puisi

PENYATUAN

PENYATUAN

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

Categories
Puisi

Doa Penawar Rindu

e430c45c2a5452be915413e0638dd9ef

DOA PENAWAR RINDU

Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih
melebihi kerinduanku kepada-Mu
ampuni aku!
Sebab, aku bukan penguasa atas apapun
yang terbersit di hatiku
melainkan Engkau.
Dan jika kecintaanku pada kekasih
melebihi kecintaanku kepada-Mu
maafkan aku!
Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa
yang berdenyut di jantungku
melainkan Engkau.

Dalam zikir-zikir yang kulantunkan
untuk memuji nama-Mu
tanpa sadar kusebut pula namanya.
Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru!
Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku
melainkan atas izin-Mu juga.
Dan dalam sujud-sujud malamku
untuk mengagungkan-Mu
kuagungkan pula namanya di hatiku.
Jangan kutuk aku, Tuhan
walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!

Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu
kepada Engkau pula kelak akan bermuara
aku hanya pendayung waktu
rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu
untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku.
Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh
yang akan kujalani selama hidupku
dan rindu ini sebagai ibadah
yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.

Gedung Film, Maret 2016

Baca juga: HATI

Categories
Puisi

[Puisi] Ketupat Lebaran

lebaranketupat

KETUPAT LEBARAN

Anak-anak membakar petasan di ujung gang dan dilemparkan begitu saja ke arahku

Senyampang ledakan persis di wajahku, aku terlempar jauh sekali

Ke masa kanak-kanak, di bawah pohon kelapa

Ketika nenekku mengajari menganyam ketupat.

“Nanti malam malaikat-malaikat akan turun,” katanya. “Kita beri mereka makanan enak supaya nanti kita ditunjuki jalan ke surga.”

Malam hari kulihat banyak sekali ketupat di mushalla tempat kami salat tarawih

Tapi usai qunut dan witir para jamaah melahap ketupat-ketupat itu dan sebagian dibawa pulang hingga tidak ada yang tersisa.

“Aku tidak melihat para malaikat makan ketupat, ke mana mereka?” Tanyaku.

Imam tarawih, yang tidak lain adalah kakekku, menjelaskan bahwa para malaikat akan datang di sepertiga malam. Maka malam itu aku dan teman-teman berjaga di mushalla. Sebagian memukul bedug dan yang lain saling memijat bergantian dengan cara menginjak badan. Tidak ada satu pun yang mengaji karena kami khawatir malaikat datang tanpa diketahui.

Lewat tengah malam listrik padam. Tapi langit begitu terang. Para malaikat beriringan membawa obor yang dibuat oleh nenekku. Menyebrangi sungai yang masih jernih dan luas di kampungku.

Penduduk mengikuti para malaikat itu dari belakang. Kakekku menyerukan agar semua berbaris rapi menuju sebuah bukit. Itulah tempat keutamaan, katanya, di mana para nabi telah menunggu ribuan tahun lamanya.

“Terus berjalan, terus!” Kakekku berseru lagi. Semua mengikuti perintahnya, menembus malam yang diterangi cahaya obor. Makin jauh kami berjalan suasana makin sunyi. Sampai ke lereng bukit. Kami mendengar rumputan dan batu-batu bertakbir.

Dari kejauhan aku mendengar sayup-sayup bunyi petasan berubah perlahan-lahan menjadi suara takbir. Melesap masuk ke lorong waktu yang sangat panjang, yang menghubungkan ruh dan jasadku.

Malam ini aku melihat almarhum kakek dan nenekku turun dari bukit membawa ketupat.

Ciputat, 04-06-2019

Ahmad Gaus

Categories
Puisi

[Puisi] S

ae6871b3c7ac0d0d572f78aad4c3b0e6
Screenshot_2020-05-16-16-59-38-1-1

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] U

Screenshot_2020-05-09-11-55-00-1-1

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Untuk Sang Maestro

 

DIDI

Setiap musisi yang

dilahirkan oleh waktu tidak

akan mengalami kematian karena

waktu akan mengabadikan namanya

dalam lagu yang tidak selalu dinyanyikan

tapi kita akan selalu mendengarnya

kapan pun dan di mana-mana.

#RIP Sang Maestro

 

Categories
Puisi

[Puisi] W

20200508_092641(1)