Kidung Natal

Selamat Natal untuk Langit dan Bumi, dan seluruh penghuninya…

 

Sumber FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159606722922599&set=a.375767877598

MAKNA PERSAHABATAN

Perayaan ulang tahun Prof Komaruddin Hidayat, Rektor UIII, di kediamannya di Ciputat, Tangsel, 23 Oktober 2022. Dan seperti biasa, saya kebagian tugas menulis dan membaca puisi 🙂

Kali ini saya membaca puisi berduet dengan Ibu dr. CSP Wekadigunawan, PhD.

 

MAKNA PERSAHABATAN
Di tengah gurun sahara kehidupan yang gersang
Persahabatan ialah oase yang menyejukkan
Di tengah karut marut suasana kota yang semakin individualistik
Persahabatan menjadi taman yang indah
Tempat berkumpulnya aneka bunga, kumbang, dan kupu-kupu
Mereka tidak pernah berebut cahaya matahari
Bila angin bertiup lembut di sore hari
Mereka menari bersama, menanti senja yang teduh
Menikmati orkestra keindahan di kaki langit
Persahabatan memberi kita rasa aman dari perasaan terkucil dan tersisihkan
Membawa kita pada martabat kemanusiaan yang luhur
Sebab di dalamnya ada empati, kepedulian, kepercayaan
Bersahabat tidak harus bersepakat
Tidak pula harus seiring sejalan dalam suasana yang memabukkan
Tidak !
Sebab persahabatan tidak membatasi kebebasan
Setiap orang berhak hidup dalam lingkaran persahabatan tanpa dipersoalkan asal-usulnya, pekerjaannya, jabatannya, suku bangsanya, keyakinannya, dan pilihan politiknya
Di dalam persahabatan setiap orang bebas berekspresi
Bebas menjadi diri sendiri, sebrengsek apapun dia
Tanpa rasa takut dijauhi, atau ditinggalkan
Seorang sahabat akan berkata
“Kamu benar-benar brengsek, tapi tidak apa-apa. Aku tetap menyayangimu.”
Sebelum digerogoti oleh rayap-rayap kebencian, persahabatan tumbuh secara alamiah
Menghubungkan unit-unit kehidupan di alam semesta
Seperti hubungan antara hujan dan pepohonan, bunga dan kupu-kupu, angin dan burung layang-layang
Semua nampak tentram dan harmonis
Tapi ketika badai datang, burung layang-layang terhempas, bunga dan kupu-kupu terhempas
Hujan yang biasanya lembut dan romantis tiba-tiba mengamuk, menghancurkan tanaman
Seperti itu pula kebencian
Ia memiliki daya rusak yang hebat di dalam masyarakat kita
Keluarga, sahabat, handai tolan, tercerai berai akibat badai kebencian yang bertiup dengan kencang
Badai kebencian itu bisa ditiupkan oleh siapa saja yang tengah dirasuki oleh nafsu kekuasaan, nafsu ekonomi, dan nafsu religius
Para peniup terompet kebencian dapat berujud orang saleh ataupun pendosa, politisi ataupun ulama dan pendeta, pejabat ataupun rakyat jelata
Mereka menebarkan kebencian, karena hanya dalam suasana kebencian mereka dapat menarik keuntungan dalam bentuk uang, kekuasaan politik, atau kepuasan religius
Dalam masyarakat yang dirasuki oleh kebencian, setiap orang dipandang rendah dan dihina
Presiden dihina
Menteri dihina
Ulama dihina
Cendekiawan dihina
Guru dihina
Setiap orang kehilangan martabat dan harga diri
Karena satu sama lain saling menghina dan dihina
Akibatnya, kita kehilangan teladan
Tidak ada lagi sosok panutan
Dan masyarakat yang kehilangan teladan dan panutan adalah masyarakat yang sakit
Apa yang dapat kita lakukan ialah melebarkan lingkaran persahabatan
Untuk membentengi masyarakat dari para penebar kebencian
Sebelum masyarakat kita benar-benar rusak
Dan kita kehilangan masa depan yang lebih baik untuk anak-cucu kita
Maka biarkan teman-teman kita berbeda dengan kita: karakternya, pilihan hidupnya, hobi dan cita-citanya
Sepanjang mereka tidak berlaku jahat dan mencelakakan
Mereka tetap sahabat kita
Dalam suka, dalam duka, kita akan tetap bersama dan saling menyayangi
Itulah makna persahabatan
“In good times and bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That’s what friends are for
For good times and bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for”
– Dionne Warwick, That’s What Friends are For –
Ciputat, 23 Oktober 2022

 

Sakit Itu Indah

Menjenguk Budhy Munawar-Rachman

 

Bersama kawan-kawan dari berbagai kampus dan LSM menjenguk Dr. Budhy Munawar-Rachman, dosen filsafat STF Driyarkara, Jakarta, dan pegiat dialog antariman. Budhy terjatuh di satu ruas jalan di Kupang pekan lalu. Ia mengalami patah tulang belakang, dan sudah menjalani operasi, Saat ini sudah ada di rumah, di kawasan Bintaro, Tangsel.

Untuk menghibur Budhy, saya menulis puisi dan dibacakan oleh Ibu dokter CSP Wekadigunawan, PhD.

Berikut puisinya:

SAKIT ITU INDAH
Setiap kita pasti pernah menderita sakit
Dan itu adalah tanda yang paling jelas bahwa kita masih hidup
Sebab hanya orang mati yang tidak merasakan sakit
Orang sehat, sekali waktu, perlu sakit
Dan berusaha untuk sembuh
Saat kembali sehat, ia seperti kendaraan yang baru keluar dari bengkel sehabis tune up
Ia terasa ringan karena onderdil yang rusak telah diganti atau diperbarui
Kondisi kendaraan itu seperti baru
Manusia pun seperti itu
Kalau tidak pernah sakit, organ-organ dalam tubuh tidak pernah diperbarui
Sekali rusak, fatal sekali akibatnya
Maka sakit itu indah
Ia adalah anugrah alam yang menandai kehidupan yang terus bergerak, berputar, dan memperbarui dirinya
Ia adalah cara alam menjaga keseimbangan
Jangan pernah berpikir untuk menghabisi penyakit sampai ke akar-akarnya
Seperti yang dilakukan oleh dunia medis modern
Sebab kalau engkau melakukan itu, alam akan mempertahankan dirinya dengan cara menciptakan penyakit baru entah bernama kanker, covid, atau apapun penyakit yang tidak pernah ada sebelumnya.
Kalau tidak begitu, dunia akan kiamat
Saat kita terbaring sakit, adalah momen petualangan untuk mencari diri sendiri yang hilang saat kita sehat
Di dalam petualangan itu, kita akan menemukan pertumbuhan diri
Menjadi lebih bijak dan lebih rendah hati
Tumbuh di dalam penderitaan dan rasa sakit akan membuka cakrawala kesadaran yang tidak pernah kita duga
Akhirnya, mari kita renungkan kata-kata bijak dari Kura-kura Ninja: “Rasa sakit hanya ada dalam pikiran.”
Mungkin maksudnya, kita harus memiliki pikiran yang melampaui rasa sakit
Biarlah penyakit itu datang kalau memang sudah waktunya
Tapi pikiran kita jangan ikut sakit
Bintaro, 16 Oktober 2022
Ahmad Gaus

 

Mimpi Terindah

Tidak Ada Puisi Hari Ini

 

TIDAK ADA PUISI HARI INI

Tidak ada puisi hari ini
Hanya sebatang lilin redup
Yang kulukis dengan bingkai matahari
Dan aku ada di sana
Membangun rumah sederhana
Dari kerikil dan tangkai bunga

Sementara engkau menyuapi anak-anak
Dengan biji-biji bintang
Yang meleleh di angkasa

Tidak ada puisi hari ini, kekasihku
Biarkan daun dan bunga berbicara sendiri
Biarkan bulan menangis sendiri
Dan biarkan cinta menjadi matang
Dalam kesunyiannya yang abadi

Jakarta, 10 Agustus 2022
Ahmad Gaus

Terima kasih atas ucapan dan doa teman-teman FB di ultah saya hari ini, yang bersamaan waktunya dengan ultah pernikahan perak kami. Doa yang sama untuk anda semua.

Salam Bahagia

Sumber dari FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159296211467599&set=a.375767877598&notif_id=1660140924708921&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

 

 

Hidup Terlalu Menarik untuk Dibenci

 
DISTORSI
Untuk A
 
Hidup terlalu menarik untuk dibenci. Janganlah berlebihan! Luka yang kau tanggung tidak pernah sebesar gunung.Kekecewaan sudah dibagi rata. Dan penderitaan, kau tahu, setiap pagi dan sore hari diangkut oleh tukang sampah, pemulung, dan pedagang keliling. Kepahitan hidup ada di gelas-gelas kopi yang tersaji di kafe-kafe tempat anak-anak muda bercengkrama.
 
Gerbong-gerbong kereta yang lalu lalang setiap saat di kotamu mengangkut berton-ton keringat dan air mata. Kalau engkau duduk saja di stasiun itu, dan menunggu dewa datang menjemputmu, engkau telah memutus persahabatan dengan kenyataan.
 
Bersikaplah toleran, beri sedikit kesempatan kepada hidup untuk membela diri. Percayalah pada kebohongan-kebohongan besar yang datang secara alami. Bukan kebohongan yang dipaksakan.
 
Sisakan sedikit kepercayaan pada cinta. Itu sudah cukup. Dan sekali-kali, bacalah puisi, agar jiwamu hidup, agar engkau tahu ada cara lain dalam memandang kehidupan.
 
Ciputat, 21 Juni 2022
 
Ahmad Gaus
Foto hanya pemanis, apa yang tertera di kaos bisa saja hanya fiksi.
 
Mungkin gambar 1 orang dan dalam ruangan
 
Sumber FB saya:
 

Tuan Penyair

Selamat ulang tahun, Raja Penyair Lampung, Isbedy Stiawan ZS

 

Sumber FB saya:

Muazin Bangsa: Puisi untuk Buya Syafii Maarif

BUYA SYAFII MAARIF
ManusiaTerbaik Kiriman Tuhan
Duka cita mendalam atas wafatnya Buya Syafii (Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif) hari ini, 27 Mei 2022. Beliau almarhum adalah salah satu manusia terbaik yang dikirim oleh Tuhan untuk bangsa Indonesia. Beliau pemikir idealis. cendekiawan besar, pelaku hidup zuhud, dan muadzin bangsa..
MUAZIN BANGSA
— Untuk Buya Syafii Maarif
Suara azan yang meluncur dari bibirmu
Terdengar setiap saat
Mengingatkan orang-orang bahwa seluruh hidup adalah salat
Maka setiap orang dalam setiap aktivitasnya harus selalu menghadap kepada Tuhan
Seakan dia sedang menunaikan salat
Karena dia harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya di hadapan Tuhan
Takbir yang kau kumandangkan, Buya
Lebih keras dari suaramu yang ringkih
Bergumul dengan teriakan-teriakan takbir di jalan raya
Yang terlontar dari mulut para oportunis politik yang berkolaborasi dengan para penjual agama
Takbirmu, Buya, merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa
Menyebarkan kedamaian dan rasa aman pada semua orang
Sedangkan takbir mereka menyuarakan kesombongan, menebarkan ketakutan.
Takbirmu, Buya, sebuah pengakuan bahwa tidak ada yang berhak merasa besar
Sebab kebesaran hanya milik Tuhan Yang Maha Besar
Sedangkan takbir mereka, meringkus kebenaran menjadi milik mereka sendiri
Merampas kebesaran Tuhan ke tangan mereka sendiri.
Buya, Buya, tubuhmu renta, tapi jiwamu selalu muda, dan menyala-nyala
Membakar tempat tidur anak-anak muda
Hingga mereka berlompatan dari mimpi
Bangkit dan lemparkan selimutmu
Bangsa ini tidak sedang baik-baik saja
Korupsi, diskriminasi, intoleransi, masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini
Aku selalu ingat pesanmu, Buya, jadilah generasi yang lebih baik dari generasi kami
Terima kasih, Buya
Terima kasih atas keteladanan yang engkau wariskan
Sikap yang lurus, kesederhanaan, dan keberanian
Selamat jalan, Buya. Selamat berjumpa dengan Tuhan Yang Mahakasih yang selalu engkau rindukan.
Ciputat, 27 Mei 2022
Wassalam
Ahmad Gaus

Puisi Saya di Kalender 2022

Apakah anda pernah melihat sebuah kalender yang di dalamnya terdapat puisi? Biasanya foto/gambar, atau lukisan ya?

Kalau belum pernah, berarti puisi-puisi saya adalah yang pertama masuk kalender, dan bisa masuk MURI kan? Hehehee

Ya, kalender UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) tahun 2022 memuat 12 puisi saya. Tidak mudah membuat puisi-puisi itu karena harus sesuai dengan gambar/ilustrasi yang diminta. Tapi  berkat “tirakat” akhirnya jadi juga, dan kalendernya sudah terbit. Sayang sekali tidak ada versi digital sehingga tidak bisa saya bagikan.

Tapi kalau anda penasaran puisi-puisi seperti apa yang saya buat untuk 12 halaman kalender UIII tersebut, saya akan kirimkan ke email anda versi PDF nya.

Kirim email ke email saya, katakan bahwa anda ingin kelender itu. Email saya: gaus.poem@gmail.com, nanti kalender PDF akan saya kirimkan.

Contoh puisi saya dalam kalender ada di bawah

Terima kasih

Gaus

Meditasi Bulan Purnama

Selamat ulang tahun untuk teman yang sedang sakit, Indah Ariani semoga lekas sembuh; dan semoga berkah di usianya. Terima kasih telah menjadi host yang setia selama 2 tahun lebih di acara Caknurian Urban Sufism With Komaruddin Hidayat

 

Caknurian Review Edisi Khusus: Ultah Bu Omi

Hari ini, 25 Januari 2022, adalah hari ulang tahun Ibu Omi (istri almarhum Cak Nur). Walaupun usianya sudah terbilang senja (73 thn), beliau tetap aktif mengisi seminar dan forum-forum pemikiran Islam. Saat ini bahkan ada kader-kader pemikir muda Caknurian yang melanjutkan pemikiran-pemikiran progresif Nurcholish Madjid. Ibu Omi selalu menyemangati anak-anak muda ini untuk terus mengembangan pikiran Islam yang inklusif-pluralis sebagaimana dulu diperjuangkan oleh Cak Nur sepanjang hidupnya.

Selamat ulang tahun, Bu Omi, semoga sehat terus dan bahagia walau menjalani hari tua seorang diri, karena anak-anak (Mikel dan Nadia) di luar negeri.

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

 

 

Ketika Kebaya Diganti Hijab

Banyak orang Sunda marah kepada Arteria Dahlan (AD) karena politisi itu ingin memecat seorang pejabat yang berbicara bahasa Sunda dalam rapat.

Mereka bilang AD songong, tidak menghargai budaya Sunda. Ramai-ramai mereka meminta AD meminta maaf kepada masyarakat Sunda.

Pertanyaan saya, apakah mereka pernah marah dan menuntut ketika Rizieq Shihab mengganti ucapan salam yang sangat dimuliakan oleh orang Sunda, Sampurasun, menjadi CampurRacun?

Ketika KEBAYA Sunda dibuang dan diganti HIJAB syar’i, ketika sanggul dihinakan dan diganti dengan cadar, ketika tari Jaipong yang sangat fenomenal itu diharamkan, apakah mereka marah?

TIDAK. Karena mereka sendiri yang melakukannya. Sebagai orang Sunda saya kira kita lebih baik melakukan introspeksi diri, tidak perlu menyalah-nyalahkan orang lain yang merusak budaya kita, karena orang-orang dalam kita sendiri lebih sadis menghancurkan budaya Sunda kita.

Kita harus menyelamatkan budaya Sunda kita yang luhur dan agung dari kerusakan lebih jauh yang diakibatkan oleh penghambaan kita kepada budaya gurun,

Para nenek sepuh kita sudah ratusan tahun memeluk Islam, tapi mereka tetap menghargai budaya Sunda. Mereka tidak memakai hijab syar’i, apalagi cadar (ajaran dari mana ini) tapi memakai kebaya dan tiung/kerudung busana khas kita. Dan mereka tetap terlihat sopan.

Islam kita dari dulu ialah Islam yang ramah terhadap tradisi. Islam disebarkan melalui media-media seni dan budaya, maka Islam bisa diterima. Sebab kalau Islam dulu datang-datang menguasai dan berpretensi merusak budaya, pasti akan ditolak. Islam Sunda berbeda dengan Islam Arab, masing-masing punya keunikan dan lokalitas sendiri. Kita, orang Sunda, bisa menjadi Islam. Tidak perlu menjadi orang Arab di tanah Sunda. Budaya Sunda itu agung, luhur, mulia, itu warisan para karuhun yang harus kita jaga dan kembangkan.

Berikut surat saya untuk Nining, perempuan Sunda yang pindah ke Bulan karena ingin mengenalkan budaya Sunda ke negeri kahyangan.

 

 

Sumber: dari FB saya

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10158973966342599&set=a.375767877598&notif_id=1642853225644273&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif