Museum Cinta

 
Selamat Hari Museum Nasional, 12 Oktober 2021
 
Mengapa Museum Nasional dikenal  dengan sebutan Museum Gajah? Sambil  menjawab saya mengajak kalian untuk bermimpi membuat museum yang lain, yaitu museum cinta. Ya, siapa tahu suatu saat bisa menjadi kenyataan. Bukankah banyak capaian besar dalam sejarah manusia berawal dari mimpi?
 
***
 
MUSEUM CINTA
 
Ada sebuah museum dalam diriku
Aku sengaja membangunnya tanpa pagar dan pintu
Agar engkau bisa mengunjunginya setiap waktu.
 
Semua kenangan yang pernah kita lalui ada di dalamnya
Cinta, rindu, dan cemburu, tersimpan rapi di dalam lemari kaca
Agar terhindar dari debu, dan para pengunjung dapat melihat serta mengambil pelajaran darinya.
 
Aku berpikir, mungkin banyak juga orang yang memiliki pengalaman cinta seperti kita: bertemu, bercumbu, merindu, kemudian berpisah
Diam-diam mereka menyimpan semua itu sebagai kenangan dalam diri mereka —  itulah Museum Cinta.
 
Alangkah baiknya kalau kita kumpulkan mereka yang memiliki kenangan masa lalu, untuk membentuk semacam asosiasi atau perkumpulan
Kupikir bagus juga kalau ada Museum Cinta Nasional yang dikelola oleh Kemendikbud
Ini penting agar anak-anak yang berkunjung ke museum itu dapat belajar dari kegagalan cinta orang tua mereka.
 
 
Hari Museum Nasional
12 Oktober 2021
Ahmad Gaus

 

Biografi Seorang Bankir

BIOGRAFI SEORANG BANKIR
       Sebuah biografi ditulis tidak untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk meletakkan masa lalu pada tempat yang sewajarnya. Sebab, banyak hal dari masa lalu yang berserakan di jalan raya kehidupan, dan itu harus “ditertibkan”. Jika tidak, ia akan menjadi penghalang di jalan menuju masa depan. Bukankah banyak orang yang terpuruk karena beban masa lalu yang begitu berat?
       Di hadapan sang waktu, sebuah biografi menjadi semacam klarifikasi tentang diri sendiri. Tentang menjadi manusia yang bukan sekadar tubuh dan nyawa yang menghidupinya, tapi lebih penting lagi ialah bagaimana hidup itu dijalani.
       Tugas utama manusia bukanlah menjadi pahlawan tetapi bagaimana ia tidak menjadi “debu” yang tidak berguna bagi orang lain. Kecil ataupun besar peranan yang dimainkan oleh seseorang tidak ditentukan oleh tempat di mana ia berdiri melainkan oleh apa yang ia lakukan di tempat tersebut. Birokrat, politisi, bankir, pengusaha, selebriti, pejabat, hanyalah identitas yang fana. Kelak semuanya akan sirna digilas mesin waktu.
       Sang waktu mengalir bagaikan sungai menuju muara membawa segala material dalam perjalanannya. Begitu juga arus kehidupan. Semua yang dibawa dari masa lalu akan terangkut ke muara, ketika kita bertemu dengan Sang Pemilik Waktu.
       Di situlah, di sebuah masa yang tidak bisa didefinisikan, setiap kita akan ditanya tentang apa yang pernah kita lakukan dengan waktu. Ada yang mengatakan, tidak ada yang dapat kita lakukan terhadap masa lalu. Faktanya, setiap kita punya naluri alamiah untuk menuturkan masa lalu. Tujuannya untuk melakukan pencandraan, dan melepaskan beban di pundak. Kata sebuah pepatah, “Dengan mengatakan, engkau melepaskan.”
       Maka sekali lagi, sebuah biografi ditulis bukan untuk mengenang masa lalu tetapi untuk meletakkan masa lalu pada tempat yang sepantasnya. Dengan begitu beban di pundak terasa lepas. Jalan kehidupan terasa lempang, seperti sungai yang jernih mengalir ke muara.
       Selamat atas terbitnya buku biografi Kemal Ranadireksa, mantan direktur BNI. Kang QQ (baca: Kiki) begitu ia biasa disapa, adalah salah seorang perintis berdirinya Bank Mandiri, sebagai hasil merger empat bank pelat merah (BBD, BDN, BAPINDO, Bank EXIM). Kang QQ lalu dipercaya menjadi pemimpin Bank Mandiri regional Sumatera.
       Dan, ini yang penting, Kang QQ adalah suami tercinta dari teman kita, Rani Anggraeni Dewi, yang sekaligus juga memberi kata pengantar untuk buku ini. Jarang lho seorang istri memberi kata pengantar untuk buku suaminya., hehee.. Teh Rani adalah seorang trainer Living Values Education, Pre-Marital Counselor, dan Couple Relationship Therapist. Teh Rani juga belum lama ini meluncurkan buku berjudul “Untuk Apa Menikah”, yang langsung menjadi best seller dan diseminarkan di mana-mana.
       Terima kasih ya Teh Rani dan Kang QQ yang mempercayakan penulisan buku biografi ini kepada saya. Suatu kehormatan bisa menulis kisah hidup seorang bankir “gendeng”. 🙂
       Untuk teman-teman FB, kalau anda atau kerabat, kenalan, bos, mau menulis biografi silakan hubungi saya, mumpung ada diskon. 🙂

Andaikan Kau Datang

ANDAIKAN KAU DATANG

Selamat  ulang tahun, Om Yon Koeswoyo  (27 September 1940 – 5 Januari 2018), semoga berbahagia di alam sana, karena jasamu sungguh tak ternilai, menginspirasi, dan menghibur jutaan manusia di negeri ini. Sampai sekarang suaramu masih terus terdengar, lagu-lagumu terus diputar, amalmu terus mengalir. Bersama kedua saudaramu, Om Tonny dan Om Yok, plus Murry, kalian sungguh manusia-manusia pilihan.  Aku ingat waktu di SD dulu semua buku tulisku dan teman-teman bergambar Koes Plus dengan formasi lengkap, kami membacanya seperti sedang menyanyi: Yon, Yok, Tonny, Murry… padahal Om Tonny adalah yang tertua.

Om Yon, aku tahu hidupmu tidak selalu indah, tapi mungkin karena itu lagu-lagu kalian (Koes Plus), bercerita banyak hal dalam kehidupan, termasuk tragedi-tragedinya. Kalau bukan karena pengalaman sendiri, tidak mungkin syair dan nada lagu-lagu itu begitu menyentuh. Banyak lagu kalian yang membuat orang menangis seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Hidup Yang Sepi. ..

Engkau sendiri yang bilang bahwa lagu “Hidup Yang Sepi” adalah cerita hidupmu sendiri yang tidak pernah punya kekasih.  Sekalinya jatuh cinta pada seorang gadis, dia pergi melanglang buana meninggalkanmu, hingga engkau berkhayal dalam lagu “Andaikan Kau Datang” – walaupun lagu itu dibuat oleh abangmu, Tonny Koeswoyo, tapi kau melantunkannya begitu mengiris, menyayat hati. Juga lagu ini, Hatiku Beku:

Tolonglah, tolonglah aku
Mengapa beku hatiku
Bila itu ‘kan berlalu
‘Ku menunggu tiada tentu

Pernikahanmu yang pertama kandas karena engkau miskin dan terpuruk, sampai harus menyewakan rumah dan buka usaha jual-beli mobil.  Aku dengar cerita saat istrimu mau melahirkan engkau harus meminjam uang untuk membayar biaya persalinan yang hanya satu setengah juta rupiah saja.

Kalian (Koes Plus) adalah contoh bahwa memilih hidup menjadi seniman adalah sebuah penderitaan. Jatuh bangun dalam membangun  sebuah kelompok musik yang solid tidak mudah, dan kalian sudah mengalaminya: bubar, ditinggal pergi, gonta-ganti personil. Tapi dalam penderitaan itu kalian mengukir nama besar dan reputasi yang abadi.

Om Yon, dulu waktu di SD kami bertamasya ke Taman Mini (TMII) dengan bus carteran. Di seantero sudut TMII dipasang pengeras-pengeras suara yang melantunkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) seperti: Nusantara, Kolam Susu, Bis Sekolah, Diana, dll. Kalian hebat, karenanya terus diingat.  Aku menyukai semua aliran musik yang kalian bawakan, dari mulai Pop, Rock, Melayu, Dangdut, hingga Keroncong.

Sampai sekarang aku masih selalu mendengarkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) saat bekerja di depan laptop atau sedang bepergian.  Lagu berjudul “Rindu” (melayu), termasuk salah satu lagu favoritku, selain Mengapa, Manis dan Sayang, Sendiri dan Rahasia, Ya Fatimah… dll.

Lagu kalian tentang cinta, kerinduan, penderitaan, mengingatkan kita tentang kehidupan yang fana. Kalian sejatinya bukan hanya bernyanyi tapi juga melantunkan filosofi hidup yang dalam, luas, dan tidak bersekat. Karena itu musik di tangan kalian benar-benar wakil dari suara alam yang  indah dan memesona, universal dan menggetarkan jiwa.

Betapa tinggi elang akan terbang
Lebih jauh lagi tinggi lamunan
Betapa megah hidupmu kau bilang
Dalam tidurmu semua akan hilang

(Perasaan, Koes Plus)

Selamat ulang tahun Om Yon, selamat berbahagia di sisi Tuhan. Terima kasih Koes Plus, dan untuk Om Yok, semoga selalu sehat, panjang umur dan bahagia.

 

Salam,

Ahmad Gaus

 

Dari Seminar Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Di era demokrasi saat ini kita tidak perlu lagi berpikir hanya boleh ada satu organisasi profesi. Sebab, organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas), termasuk organisasi profesi, pada dasarnya adalah gerakan sosial mandiri yang hadir untuk memperjuangkan aspirasi anggotanya.

Dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas yang sangat tinggi seperti kita, dan lapisan yang begitu tebal, adalah absurd untuk membayangkan hanya ada satu organ yang memperjuangkan aspirasi masyarakat. Justru semakin banyak organ semakin baik. Mereka akan berkompetisi dan bekerja keras untuk kemaslahatan masyarakat, dan terutama para anggotanya.

Ormas adalah kekuatan civil society yang menjadi tulang punggung demokrasi. Tanpa civil society tidak ada akan demokrasi. Maka kehadiran IGI (Ikatan Guru Indonesia), walaupun sudah ada PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), harus dilihat dalam perspektif ini. Keduanya, juga yang lain kalau ada, berhak hadir untuk menyejahterakan masyarakat, terutama para anggotanya. Dan secara lebih luas, mereka juga berkontribusi pada perkembangan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Selamat buat IGI. Teruslah bekerja untuk anggota, teruslah berkarya untuk bangsa.

Terima kasih telah mengundang saya sebagai narasumber di  acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kemarin, 25 September 2021 di Swiss Belhotel, Serpong, kerjasama IGI dan Sekjen MPR RI. Semoga kelak kita bisa lagi berkolaborasi.

 

Salam,

Ahmad Gaus

Esok Pagi Kau Buka Jendela

Catatan Ultah Pernikahan untuk JZ
Ini bukan puisi seperti yang biasa aku tulis di hari-hari istimewa. Hanya sebuah goresan air mata. Saat kamu terkurung sendiri di antara hidup dan mati. Saat napasmu tersengal, dan keringat dingin bercucuran. Namun tembok begitu angkuh, memisahkan kita yang hanya berjarak beberapa meter saja. “Doakan aku ya, jangan sampai mati karena Covid,” katamu. Aku terdiam. Di antara riuh hujan malam itu, suara batukmu terus terdengar. “Aku tidak bisa tidur,” katamu lagi. “Badanku meriang, tulang-tulangku remuk.”
Hujan semakin deras. Angin memukul-mukul jendela. Aku disergap kesunyian. Dingin merayap di punggungku. Ketika suaramu menghilang, aku mengintip dari sela pintu. Kudengar deru napasmu. Berat tertahan. Semoga kamu tertidur pulas dan besok pagi bangun kembali, jangan sampai tidak, doaku.
Dini hari itu pikiranku menerawang. Pada akhir Juni s.d. medio Juli lalu, 11 (sebelas) anggota keluargaku di Tangerang terpapar Covid-19 secara hampir bersamaan. Kakak, adik, kakak ipar, dan para keponakan. Dan mereka tinggal di rumah yang sama, rumah besar. Demi alasan keselamatan, kita memutuskan untuk tidak menjenguk, walaupun mereka sangat membutuhkan kehadiran kita. Tapi ketika aku mendengar kabar bahwa ibuku juga sakit, aku tidak peduli lagi dengan keselamatan. Aku berkali-kali ke sana, dan engkau menyertai, menembus zona merah. Begitulah… sampai ibuku benar-benar pulih, dan satu persatu keluargaku yang lain berangsur sembuh.
Kamu begitu kuat saat itu. Tapi… dua minggu kemudian kamu juga tumbang. “Penciumanku hilang,” katamu sore itu. Aku terkejut. Selama ini kita berpikir, corona begitu dekat. Tapi sekarang bukan hanya dekat. Ia sudah ada di rumah kita. Bersama kita. Akhirnya kita pun menjadi bagian dari pandemi global, dari sejarah dunia yang mengerikan.
10 hari telah berlalu. Kini kondisimu makin membaik. Dan hari ini, di ulang tahun ke-24 pernikahan kita, kamu bilang sudah bisa mencium aroma kopi dari cangkirku, meski masih samar. Kamu juga sudah bisa tertawa menonton drama Korea. Bersabarlah barang sebentar, demi syair lagu ini: “Esok pagi kau buka jendela, ‘kan kau dapati seikat kembang merah… ” (Ebiet G. Ade, Elegi Esok Pagi)
Selamat ultah pernikahan kita, Jumie Zaini. Selamat ultah juga untuk diriku sendiri. 😁
Salam peluk dari ruang tengah,
10 Agustus 2021
Ahmad Gaus

Melampaui Nurcholish Madjid

MELAMPAUI NURCHOLISH MADJID

Diam-diam, wacana Islam liberal terus menyeruak dan mengambil bentuk yang kian beragam. Islam liberal ala Nurcholish Madjid tahun 1970-an sudah dianggap kuno. Bahkan kerangka pikir Cak Nur konon sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah obsolet. Kini telah lahir generasi post Cak Nur yang lebih progresif, lebih liberal, selain murid-murid Cak Nur yang lain yang makin bergeser ke kanan dan menjadi pendukung gerakan-gerakan sektarian.

Bagaimana ceritanya? Yuk kita ngupi bareng di acara ini. Kita akan ngerumpi santai tentang murid-murid ideologis Cak Nur yang tercerai berai dalam berbagai sekte dan golongan. 😁

 

 

Rayap dan Laron

Selamat ulang tahun untuk maestro puisi sufistik:

Prof Dr Abdul Hadi WM.

Semoga selalu sehat dan terus berkarya. Sesuai janji saya kemarin, saya buatkan catatan kecil yang tayang di Geotimes.id, hari ini dan setangkai puisi yang dirangkum dari pikiran-pikiran Pak Hadi, sebagai kado ultah. Semoga berkenan.

 

Sastra Sufistik dari Hamzah Fansuri hingga Abdul Hadi WM

 

 

 

 

PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman

 

PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman

Oleh: Ahmad Gaus AF

Bagi para peminat kajian filsafat dan teologi, khususnya teologi antar-iman, Dr. Budhy Munawar-Rachman bukanlah nama yang asing. Dalam filsafat, Budhy mencarikan tempat yang memadai bagi filsafat Islam dalam dunia yang didominasi oleh filsafat Barat. Di kampus-kampus Islam ia mengajar filsafat Barat, di kampus umum ia mengajar filsafat Islam. Itu menunjukkan bahwa otoritasnya di kedua disiplin tersebut memang tidak diragukan.

Dalam teologi, yang dikembangkan oleh Budhy bukanlah Ilmu Kalam dalam pengertian tradisionalnya, bukan juga perbandingan agama (apalagi ini), melainkan perjumpaan agama-agama atau pencarian titik temu agama-agama (kalimatun sawaa) — mengikuti jejak gurunya, Nurcholish Madjid (Cak Nur). Dalam wacana keagamaan (Islam), Budhy memang menjadikan Cak Nur sebagai referensi utamanya, karena merasa cocok dengan posisi pemikirannya sendiri yang bercorak progresif. Budhy juga aktif mengembangkan pikiran-pikiran Cak Nur dengan bahan-bahannya sendiri dari khazanah filsafat timur dan barat.

Posisi Budhy terhadap Cak Nur kurang lebih sama dengan posisi Ibn Rusyd terhadap Aristoteles, yakni sebagai komentator dengan otoritas yang besar. Budhy menulis banyak buku mengenai pemikiran Cak Nur, salah satunya Ensiklopedi Nurcholish Madjid setebal 4000 halaman (4 jilid). Walaupun berguru secara kaffah kepada Cak Nur, bukan berarti Budhy tidak mengembangkan pemikiran sendiri. Sumbangannya yang terpenting ialah gagasan “passing over“, yang dapat disebut sebagai post-Caknurian. Melalui gagasan ini, Budhy menghadirkan harta karun yang terpendam dari agama-agama dan tradisi spiritualitas, dan sekaligus menawarkan peta jalan baru bagi perjumpaan agama-agama.

Passing over ialah “menyebrang dari satu budaya ke budaya yang lain, dari satu agama ke agama yang lain.” Yang dimaksud ‘menyebrang’ di sini bukan murtad atau menjadi muallaf, justru ini sangat dihindari, melainkan menyelam ke jantung tradisi agama/kepercayaan lain dan membuka diri untuk diperkaya oleh agama/kepercayaan lain tersebut. Jadi semacam ziarah spiritual. Dan sebagai ziarah, maka pada gilirannya proses ini diakhiri dengan gerakan kembali ke agama semula, namun dengan insight yang baru. Begitulah passing over. Dari situ akan diperoleh pengalaman-pengalaman rahasia yang bersifat mistik-spiritual.

Budhy bukan hanya berwacana. Dia sendiri yang memberi contoh (praktik) bahwa passing over itu bisa dilakukan, bahkan perlu, untuk memperkaya pengalaman religius dan spiritualitas, serta mencairkan hubungan antaragama yang membeku, bahkan cenderung mengeras akhir-akhir ini.

Para pemikir dan mistikus besar pada umumnya melakukan passing over sebelum mencapai pencerahan, sebut saja Mahatma Gandhi, yang melakukan passing over ke Kristen dan Islam, dengan tetap sebagai Hindu. Juga tokoh-tokoh seperti Louis Massignon, Henry Corbin, W.C. Smith, Sachiko Murata, William Chittick, Huston Smith, dan yang lainnya, melakukan passing over.

Budhy sendiri, setahu saya melakukan passing over ke Hindu, Katolik, Tao, dan Perenialisme. Budhy mengunjungi pusat-pusat spiritual di Tibet dan India, berguru di Brahma Kumaris, mengalami misa, praktik meditasi, Taichi, dll. Setelah menyebrang, Budhy kembali ke agamanya semula dengan pencerahan. Tidak menjadi muallaf Hindu, Katolik, atau lainnya. Budhy tetap seorang muslim yang saleh. Terakhir malah saya lihat dia menjadi khatib salat jumat pada Ramadan kemarin.

Istilah passing over berasal dari John S. Dunne, profesor teologi di Universitas Notre Dame (AS). Namun praktiknya telah dilakukan oleh para mistikus/sufi di masa lalu. Di Indonesia mungkin banyak juga yang melakukan itu, saya tidak tahu, tapi sejauh ini Budhy Munawar-Rachman lah yang merupakan konseptor sekaligus model atau prototipenya.

Dengan jaringan yang luas sebagai intelektual-aktivis, gagasan Budhy mengenai passing over memiliki pengaruh yang cukup mendalam di kalangan anak muda, satu generasi di bawahnya. Artinya, banyak anak muda yang mengikuti jejaknya. Ini jelas tidak bisa diabaikan, karena merupakan kontribusi penting bagi perjumpaan agama-agama dan dialog antar-iman di Indonesia, saat ini dan masa depan.

Melalui gagasan passing over Budhy juga menempati posisi yang unik dalam peta pemikiran dan diskursus keagamaan di tanah air. Tidak banyak orang seperti dia. Jika kalangan lintas agama ingin agama mereka dibicarakan oleh pihak luar, maka Budhy lah yang akan diundang. Bukan saja karena Budhy memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama mereka, melainkan juga karena mereka menaruh kepercayaan kepada Budhy yang selalu menebar karma baik, dalam ucapan, pikiran, dan tindakan.

Terakhir, walaupun Budhy dan saya sama-sama murid Nurcholish Madjid, bukan berarti kami selalu seia sekata. Dalam beberapa segi pemikiran Cak Nur kami sering berbeda pandangan. Bukan karena ego-intelektual, saya kira, tapi karena spektrum pemikiran Cak Nur itu sendiri yang memang sangat terbuka untuk ditafsirkan. Tapi walaupun sering berbeda pendapat, kami tidak pernah saling mengkafirkan, hehe.. Selamat ulang tahun, Budhy (22 Juni), doa-doa terbaik mengiringimu.

Catatan:

1. Tulisan Budhy Munawar-Rachman mengenai Passing Over dapat dibaca dalam bukunya, Islam Pluralis (Rajawali Press, 2004)

2. Saya dan Prof Komaruddin Hidayat pernah menyusun buku antologi lintas agama. Dan atas saran Budhy, buku itu diberi judul “Passing Over: Melintasi Batas Agama” (Gramedia, 1999, 2004)

Salam
AHMAD GAUS AF
Penulis dan editor, berkhidmat di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.

Tulisan ini sudah tayang di geotimes.id kemarin (21/06). Pemuatannya kembali di sini dan di FB atas izin redaksi dan tanpa perubahan.

https://geotimes.id/kolom/passing-over-ziarah-spiritual-ala-budhy-munawar-rachman/

 

Puisi Ulang Tahun Alifya K Sadra

ALIFYA

Kemarin lusa, 29 Mei 2021, anak pertama saya, Alifya Kemaya Sadra tepat berumur 22 tahun. Teman-temannya merayakan secara sederhana di rumah sambil menikmati bakso buatan mama Alif yang terkenal paling uenaak se-Tangsel 🙂

Sebagai ayah teladan dan idaman, saya menulis puisi dan membacakannya di depan teman-teman Alif, dan sempat divideokan oleh anak saya yang kedua, Raysa Falsafa Nahla. Di twiter saya video itu saya posting dan menanyakan siapa ayah yang menulis puisi untuk anak gadisnya yang  berulang tahun dan membacakannya, kalau tidak ada berarti saya ayah yang langka, heheee..

Perkara Toa

Selebriti  Zaskia Adya Mecca belum lama ini mengeluhkan soal suara loud speaker masjid atau toa yang terlalu keras ketika membangunkan sahur. Dalam status instagramnya, Zaskia menilai bahwa cara membangunkan sahur seperti itu tidak etis dan tidak menghargai orang lain.

Kontan saja Zaskia menuai kecaman dari para netizen. Mereka menyebut bahwa Zaskia sudah terkena sindrom Islamofobia. Yakni, tidak suka dengan segala sesuatu yang berbau syiar Islam.

Benarkah masalahnya sesederhana itu? Masalah toa masjid sudah lama menjadi persoalan yang dikeluhkan warga secara bisik-bisik karena mereka tahu apa risikonya kalau mengangkat masalah itu ke permukaan.  Tentu kita masih ingat seorang ibu bernama Meliana di Tanjung Balai, Sumut, yang divonis 18 bulan penjara pada 2018 lalu hanya gara-gara mengeritik loud speaker masjid.

Saat itu ia meminta kepada petugas masjid agar volume speaker suara azan dikecilkan.
Kasus itu pun segera menjadi rumor yang beredar di kalangan warga lengkap dengan bumbu-bumbu penyedapnya. Mereka pun mencari tahu asal-usul agama dan kesukuan Meliana. Walhasil, kasus “sepele” itu berhasil digoreng dan meletup menjadi  isu SARA. Rumah Meliana, warga keturunan Tionghoa beragama Konghucu, itu dirusak.  Bersamaan dengan itu, rumah ibadah vihara yang ada di kota itu pun dibakar warga.

 

 

Kita bertanya-tanya, benarkah orang tidak boleh terusik ketenangannya dengan suara berisik dari loud speaker masjid? Kalau tidak boleh, berarti alangkah otoriter cara kita beragama. Kita tidak mau tahu urusan ketenangan orang lain. Kita merasa penting dan mendesak sekali mengumandangkan azan, pengajian, ceramah, dll., melalui toa, dan orang tidak boleh terganggu. Ini kepentingan agama, kepentingan Tuhan, kalian tidak boleh protes atau merasa terganggu. Begitu kira-kira cara berpikir mereka.

Suatu hari Rasulullah SAW beritikaf di masjid, lalu beliau mendengar orang membaca Al-Quran dengan suara keras. Rasulullah kemudian menyingkap tirai dan berkata, ‘Ketahuilah, setiap kamu sedang bermunajat kepada Tuhan. Jangan sebagian kalian menyakiti sebagian yang lain. Jangan juga sebagian kalian meninggikan suara atas sebagian lainnya dalam membaca.’ Atau ia berkata, ‘dalam shalat,’” (HR Abu Dawud).

Hadits ini menjadi sandaran pendapat Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Ba’alawi menjelaskan bahwa tadarus Al-Quran, zikir atau semacamnya yang membuat “kebisingan” dilarang karena dapat mengganggu orang yang sedang shalat. Selanjutnya ia mengatakan, zikir dan sejenisnya, termasuk membaca Al-Quran, dengan suara keras di masjid hukumnya tidak makruh kecuali jika menggangu konsentrasi orang yang sedang shalat atau mengusik orang yang sedang tidur.

Dalil-dalil di atas saya pinjam dari pandangan KH Taufik Damas yang menanggapi kasus yang sama — karena sebagian orang memang masih membutuhkan dalil. Sebetulnya untuk perkara-perkara menyangkut muamalah dan hidup bertetangga kita tidak memerlukan dalil-dalil, sebab kita memiliki akal sehat, adab, sopan santun, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Keterlaluan kalau berteriak-teriak lewat toa atau pengeras suara, merasa tidak mengganggu orang lain.

Toa juga tidak satu, melainkan banyak, diarahkan ke empat penjuru angin, dan dari banyak masjid yang berdekatan pula, sehingga satu sama lain saling  berbenturan, menimbulkan kebisingan yang luar biasa. Dan orang lain tidak boleh merasa terganggu. Kalau merasa tergangggu berarti dia anti-Islam, islamofobia, bahkan melakukan penodaan agama dan bisa dipenjara, rumahnya dirusak, viharanya dihancurkan, seperti yang dialami oleh Ibu Meliana dalam contoh di atas.

Kalian waras? Kalian ini sedang beragama atau sedang kesurupan?

Salam Waras dalam Beragama

Ahmad Gaus

 

Via Dolorosa: Jalan Penebusan Kristus

Via Dolorosa

Selamat menjalani Tri Hari Suci untuk para sahabat blogerku yang beragama Kristen/Katolik.

Pengorbanan ala Kristus masih dibutuhkan untuk membangun dunia yang lebih damai. Mari ikuti jalan penderitaan Yesus (Via Dolorosa). Mari bersama menuju Golgota.

Salam Kasih,

Ahmad Gaus

Please share this poster if you want to be a part of building a peaceful world:

****

Anda tertarik menulis biografi, bagaimana caranya? Baca tautan berikut ini: Menulis Biografi

 

Menulis Biografi

BANYAK orang yang suka membaca buku, tapi lebih banyak lagi yang suka membaca biografi. Kenapa? Karena dari biografi orang akan belajar tentang kehidupan seseorang. Adalah hal yang manusiawi belaka bahwa orang senang membaca cerita hidup orang lain. Dan buku biografi mewujudkan kesenangan itu.

Memang banyak jenis atau genre buku, dari buku-buku wacana, sastra, ilmu pengetahuan, buku tips atau “how to”, hingga komik dan panduan wisata. Namun buku biografi tetaplah jenis buku yang paling diminati.  Pasalnya, buku biografi bukan jenis buku berat yang harus berpikir keras untuk membacanya. Biografi hanya berisi cerita hidup sang tokoh — tentang kesuksesan, kebahagiaan, hobi, cita-cita, petualangan, kegagalan, kesulitan, perjuangan, dan tentu saja hal-hal yang lucu dalam pengalaman hidup sang tokoh. Semuanya human interest.

Sebuah biografi memang ditulis untuk membagikan cerita kehidupan kita kepada orang lain.  Cerita itu bisa menjadi inspirasi bagi pembaca tentang bagaimana sang tokoh mengatasi kesulitan, juga memberi semangat kepada pembaca.

Siapa yang boleh menulis biografi, atau memiliki buku biografi? Semua orang boleh. Jangan kira bahwa yang boleh mempunyai buku biografi hanya mantan-mantan presiden, pejuang, pengusaha sukses, diplomat hebat, selebriti papan atas. Tidak.

Pengalaman saya sendiri sebagai penulis biografi, sebagian tokoh yang saya tulis adalah “orang-orang biasa”, bukan tokoh besar. Mengapa mereka mau menulis biografi, karena mereka ingin berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, kolega, dan kelak untuk anak cucu. Itu saja sudah cukup memenuhi arti penting sebuah biografi.

Jadi, sekali lagi, tidak usah menjadi pahlawan dulu untuk membuat biografi. Jika anda seorang ayah/ibu, kakek/nenek, atau bahkan pemuda/pemudi yang ingin bercerita, anda pantas menulis biografi. Biarkan anda dikenal melalui buku anda sendiri. Biarkan anda dikenang oleh anak cucu, saudara, dan teman-teman anda melalui biografi anda. Sebab mereka tidak tahu riwayat hidup anda. Siapa yang akan membuat hidup anda menjadi berharga kalau bukan anda sendiri?

Bagus kalau anda bisa menulis biografi anda sendiri, tapi kalau tidak juga bukan masalah besar. Sebab, ada orang yang memang memiliki keahlian untuk melakukan itu. Saya termasuk orang yang berkhidmat pada pekerjaan itu sejak lama.

Sampai sekarang sudah puluhan buku biografi yang saya tulis, baik yang memakai nama saya sebagai writer, maupun sebagai ghost writer (penulis hantu) dimana nama saya tidak muncul karena sang tokoh menginginkan seolah dia sendiri yang menulis buku tersebut. Bagi saya sebagai penulis profesional tidak masalah, yang penting bayarannya cocok, heheee..

Dalam esai ini, sebagaimana yang anda lihat, saya sertakan beberapa buku biografi yang pernah saya tulis.

Jika anda berminat untuk menulis biografi, silakan hubungi saya di email: gaus.poem@gmail.com atau WA: 0857 5043 1305.

Salam,

Ahmad Gaus