Puisi dan Shalawat di Ultah Ulil Abshar Abdalla

Helo teman-teman bloger, saya suguhkan rekaman acara milad Gus Ulil Abshar Abdalla pada Jumat lalu (14/01/2022) yang menghadirkan narasumber Prof Musdah Mulia, Prof Mulyadi Kartanegara, Dr. Neng Dara Affiah, Pendeta Dr. Martin Sinaga, Dr. Rizal Malarangeng, KH Yahya C. Staquf (Ketum PB NU), dll.

Saya diminta membaca puisi yang saya tulis untuk Ulil di hari ultahnya tsb, yang berjudul “Jalan Berbelok ke Baitullah.”

Silakan anda simak testimoni para pakar tentang tokoh kontroversial Ulil Abshar Abdalla yang menggegerkan jagat raya keislaman selama 20 tahun terakhir. Tapi kalau mau langsung ke bagian saya membaca puisi dan melantunkan salawat silakan di menit ke 1.58.58.

Sebaiknya anda klik Watch on Youtube. Jangan lupa like, komen, dan subscribe kanal Caknurian Urban Sufism ya. Trm kasih, lho. 🙂

NOBEL SASTRA UNTUK DENNY JA ?

Kawan saya, Denny JA sudah resmi menjadi salah satu kanditat dalam ajang penghargaan sastra paling bergengsi di dunia yakni Penghargaan Nobel (Nobel Prize) yang bermarkas di Swedia. Para pemenang biasanya diumumkan di akhir tahun.

Adalah Komunitas Puisi Esai Asean (KPEA) yang mendaftarkan nama Denny JA ke Swedish Academy, panitia Nobel bidang sastra. KPEA adalah komunitas sastra terbesar di dunia. Karena itu, wajar saja kalau mereka berkepentijngan akan lahirnya pemenang penghargaan Nobel Sastra dari kawasan Asia Tenggara, yang sejauh ini memang belum pernah ada. Padahal penghargaan Nobel sudah berusia 120 tahun.

Salah satu kriteria Nobel ialah bahwa kandidat haruslah seorang inovator atau pembaharu di bidangnya. Dalam hal ini saya kira Denny JA sudah cukup mumpuni. Ia merintis apa yang disebut Puisi Esai. Berbeda dengan puisi lain, puisi esai ditulis berdasarkan fakta yang berdenyut dalam dinamika sosial dan sejarah. Ditulis panjang berbabak, tokoh-tokoh dalam puisi esai adalah manusia kongkret. Di tangan Denny JA, puisi menjadi media untuk menyuarakan isu-isu kemanusiaan seperti diskriminasi dan hak asasi manusia. Visinya ialah kesetaraan umat manusia. Puisi esai juga menjadi sastra diplomasi yang melibatkan sastrawan-sastrawan besar dari negeri-negeri jiran Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand. Di kalangan mereka, Denny JA disebut sebagai Bapak Puisi Esai. Dalam sepuluh tahun terakhir sudah terbit 150 buku puisi esai yang merekam dinamika dan isu-isu sosial dari 34 provinsi, termasuk buku-buku puisi esai dari negeri-negeri jiran di atas.

Beberapa tahun lalu, sebelum pandemi, saya sempat bertemu dan mengobrol dengan Denny, Elza, Jonminofri, Satrio, dll, di acara ulang tahun seorang teman. Di situ Denny sempat menanyakan perihal kriteria penghargaan Nobel Sastra. Jonminofri selaku wartawan senior menjelaskan prosedurnya, antara lain mendaftarkan atau didaftarkan oleh pihak lain. Karena tidak mungkin panitia mencari sendiri kandidat dari ribuan sastrawan di muka bumi.

Elza dan Satrio menambahkan bahwa karya-karya yang diajukan harus sudah dalam bahasa Inggris. Saya, karena awam dalam soal tersebut, hanya bilang bahwa kalau ingin mencapai kejayaan maka harus sering-sering puasa Nabi Daud. 😄

Setelah itu saya tidak pernah bertemu dia lagi. Tiba-tiba, akhir tahun lalu, ramai pemberitaan mengenai Denny JA kandidat Nobel Sastra. Saya pun mengecek. Ternyata benar, karya-karyanya sekitar 300-an sudah tersedia dalam bahasa Inggris. Dan nama Denny JA sudah didaftarkan oleh KPEA.
Kontroversi pun merebak, disertai sinisme dan caci maki.

Tapi saya sudah lama mengenal Denny. Dia bukan tipe orang yang gentar dengan polemik dan kritik. Dia putra Palembang yang mewarisi darah Sriwijaya yang bergolak di laut Karimata dan Melaka. Dia hanya fokus pada tujuan besarnya. Bahkan ada kesan, dia menikmati hujatan dan sumpah serapah yang ditujukan pada dirinya. Semakin dicecar semakin berkibar. Dia berpegang pada kata-kata “To avoid criticism say nothing, do nothing, and be nothing”. Dan dia menolak menjadi nothing.

Lagi pula, dalam kasus Nobel Sastra, banyak pemenangnya yang dihujat dan dianggap tidak pantas seperti belum lama ini dialami oleh Bob Dylan (Amerika Serikat), Abdulrazak Gumah (Tanzania), dll. Tokh mereka jalan saja. Dan dunia tetap berputar..

Saya senang mendengar cerita dari Elza bahwa Denny belakangan rajin melakoni puasa Nabi Daud. Alhamdulillah. Usaha sudah dilakukan, doa dipanjatkan, dan nama sudah didaftarkan. Soal kalah menang itu urusan belakangan. Yang penting ikut berlomba dulu. Sebab, hidup yang berguna memang harus diperjuangkan. Tidak ada makan siang yang gratis, bukan?

Hari ini Denny JA berulang tahun. Sebagai kawan saya berdoa semoga ia selalu dianugerahi kesehatan, keberkahan, dan panjang umur. Dan semoga apa yang dicita-citakan tercatat di lauhil mahfudz dan beroleh ridho dari Allah SWT. Puisi ultahnya saya posting ulang dari tahun lalu karena masih relevan. 😆

Jakarta, 4 Januari 2022
Ahmad Gaus

 

 

Mawar dan Pedang

Dr. Neng Dara Affiah adalah seorang aktivis gender. Pemikirannya dipengaruhi oleh Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, khususnya dalam gagasan toleransi dan kebebasan beragama. Ketika puisi ini saya posting di FB dan grup WA Cak Nurian, ia senang sekali, dan mengatakan bahwa puisi ini akan dibingkai dan digantung di dinding rumahnya. Selamat ultah, teteh. Semoga perjuanganmu menjadi inspirasi bagi adik-adik di generasimu. – Gaus

 

Pikiran Musim Semi

Selamat Ulang Tahun untuk Novriantoni Kahar, teman seperjuangan dalam menegakkan keadilan dalam memandang perbedaan dan menolak diskriminasi dalam segala bentuknya…

Sebuah Kedai di Akhir Zaman

Jodoh itu ada di tangan Tuhan. Kalau sepasang kekasih beda agama/keyakinan ternyata harus berjodoh, siapa yang bisa menghalangi? Di antara kendala-kendala teologis dan sosiologis, orang yang berani membuka jalan bagi pasangan beda agama yang ingin menikah pastilah dia orang hebat. karena dia melawan arus dan pemahaman ortodoks tentang pernikahan.

Teman saya, Ahmad Nurcholish, adalah salah satu orang hebat yang saya maksud. Dengan bekal pengetahuan agama dari pesantren, pemahaman terhadap kitab-kitab klasik, dan pengalaman interaksi lintas agama dan keyakinan, dia mewakafkan seluruh hidupnya untuk membantu orang-orang yang merasa kesulitan untuk melangsungkan pernikahan beda agama. Sampai saat ini sudah ribuan orang yang dia bantu  mewujudkan impian mereka untuk hidup dalam ikatan pernikahan, walaupun beda agama.

Dalam pandangan keagamaan, Nurcholish yang kini Direktur ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) mengikuti jejak Gus Dur dan Cak Nur, dua raksasa pluralisme Islam yang pernah dimiliki bangsa ini.

Selamat ulang tahun, kawan.

 

 

 

 

Kota Santri

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021

Kalau engkau pergi ke kota santri

Sampaikan salamku pada gadis manis di asrama putri 🙂 🙂

 

Follow my instagram: @gauspoem

Let me know by DM if you want me to follow you back

 

 

Museum Cinta

 
Selamat Hari Museum Nasional, 12 Oktober 2021
 
Mengapa Museum Nasional dikenal  dengan sebutan Museum Gajah? Sambil  menjawab saya mengajak kalian untuk bermimpi membuat museum yang lain, yaitu museum cinta. Ya, siapa tahu suatu saat bisa menjadi kenyataan. Bukankah banyak capaian besar dalam sejarah manusia berawal dari mimpi?
 
***
 
MUSEUM CINTA
 
Ada sebuah museum dalam diriku
Aku sengaja membangunnya tanpa pagar dan pintu
Agar engkau bisa mengunjunginya setiap waktu.
 
Semua kenangan yang pernah kita lalui ada di dalamnya
Cinta, rindu, dan cemburu, tersimpan rapi di dalam lemari kaca
Agar terhindar dari debu, dan para pengunjung dapat melihat serta mengambil pelajaran darinya.
 
Aku berpikir, mungkin banyak juga orang yang memiliki pengalaman cinta seperti kita: bertemu, bercumbu, merindu, kemudian berpisah
Diam-diam mereka menyimpan semua itu sebagai kenangan dalam diri mereka —  itulah Museum Cinta.
 
Alangkah baiknya kalau kita kumpulkan mereka yang memiliki kenangan masa lalu, untuk membentuk semacam asosiasi atau perkumpulan
Kupikir bagus juga kalau ada Museum Cinta Nasional yang dikelola oleh Kemendikbud
Ini penting agar anak-anak yang berkunjung ke museum itu dapat belajar dari kegagalan cinta orang tua mereka.
 
 
Hari Museum Nasional
12 Oktober 2021
Ahmad Gaus

 

Biografi Seorang Bankir

BIOGRAFI SEORANG BANKIR
       Sebuah biografi ditulis tidak untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk meletakkan masa lalu pada tempat yang sewajarnya. Sebab, banyak hal dari masa lalu yang berserakan di jalan raya kehidupan, dan itu harus “ditertibkan”. Jika tidak, ia akan menjadi penghalang di jalan menuju masa depan. Bukankah banyak orang yang terpuruk karena beban masa lalu yang begitu berat?
       Di hadapan sang waktu, sebuah biografi menjadi semacam klarifikasi tentang diri sendiri. Tentang menjadi manusia yang bukan sekadar tubuh dan nyawa yang menghidupinya, tapi lebih penting lagi ialah bagaimana hidup itu dijalani.
       Tugas utama manusia bukanlah menjadi pahlawan tetapi bagaimana ia tidak menjadi “debu” yang tidak berguna bagi orang lain. Kecil ataupun besar peranan yang dimainkan oleh seseorang tidak ditentukan oleh tempat di mana ia berdiri melainkan oleh apa yang ia lakukan di tempat tersebut. Birokrat, politisi, bankir, pengusaha, selebriti, pejabat, hanyalah identitas yang fana. Kelak semuanya akan sirna digilas mesin waktu.
       Sang waktu mengalir bagaikan sungai menuju muara membawa segala material dalam perjalanannya. Begitu juga arus kehidupan. Semua yang dibawa dari masa lalu akan terangkut ke muara, ketika kita bertemu dengan Sang Pemilik Waktu.
       Di situlah, di sebuah masa yang tidak bisa didefinisikan, setiap kita akan ditanya tentang apa yang pernah kita lakukan dengan waktu. Ada yang mengatakan, tidak ada yang dapat kita lakukan terhadap masa lalu. Faktanya, setiap kita punya naluri alamiah untuk menuturkan masa lalu. Tujuannya untuk melakukan pencandraan, dan melepaskan beban di pundak. Kata sebuah pepatah, “Dengan mengatakan, engkau melepaskan.”
       Maka sekali lagi, sebuah biografi ditulis bukan untuk mengenang masa lalu tetapi untuk meletakkan masa lalu pada tempat yang sepantasnya. Dengan begitu beban di pundak terasa lepas. Jalan kehidupan terasa lempang, seperti sungai yang jernih mengalir ke muara.
       Selamat atas terbitnya buku biografi Kemal Ranadireksa, mantan direktur BNI. Kang QQ (baca: Kiki) begitu ia biasa disapa, adalah salah seorang perintis berdirinya Bank Mandiri, sebagai hasil merger empat bank pelat merah (BBD, BDN, BAPINDO, Bank EXIM). Kang QQ lalu dipercaya menjadi pemimpin Bank Mandiri regional Sumatera.
       Dan, ini yang penting, Kang QQ adalah suami tercinta dari teman kita, Rani Anggraeni Dewi, yang sekaligus juga memberi kata pengantar untuk buku ini. Jarang lho seorang istri memberi kata pengantar untuk buku suaminya., hehee.. Teh Rani adalah seorang trainer Living Values Education, Pre-Marital Counselor, dan Couple Relationship Therapist. Teh Rani juga belum lama ini meluncurkan buku berjudul “Untuk Apa Menikah”, yang langsung menjadi best seller dan diseminarkan di mana-mana.
       Terima kasih ya Teh Rani dan Kang QQ yang mempercayakan penulisan buku biografi ini kepada saya. Suatu kehormatan bisa menulis kisah hidup seorang bankir “gendeng”. 🙂
       Untuk teman-teman FB, kalau anda atau kerabat, kenalan, bos, mau menulis biografi silakan hubungi saya, mumpung ada diskon. 🙂

Andaikan Kau Datang

ANDAIKAN KAU DATANG

Selamat  ulang tahun, Om Yon Koeswoyo  (27 September 1940 – 5 Januari 2018), semoga berbahagia di alam sana, karena jasamu sungguh tak ternilai, menginspirasi, dan menghibur jutaan manusia di negeri ini. Sampai sekarang suaramu masih terus terdengar, lagu-lagumu terus diputar, amalmu terus mengalir. Bersama kedua saudaramu, Om Tonny dan Om Yok, plus Murry, kalian sungguh manusia-manusia pilihan.  Aku ingat waktu di SD dulu semua buku tulisku dan teman-teman bergambar Koes Plus dengan formasi lengkap, kami membacanya seperti sedang menyanyi: Yon, Yok, Tonny, Murry… padahal Om Tonny adalah yang tertua.

Om Yon, aku tahu hidupmu tidak selalu indah, tapi mungkin karena itu lagu-lagu kalian (Koes Plus), bercerita banyak hal dalam kehidupan, termasuk tragedi-tragedinya. Kalau bukan karena pengalaman sendiri, tidak mungkin syair dan nada lagu-lagu itu begitu menyentuh. Banyak lagu kalian yang membuat orang menangis seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Hidup Yang Sepi. ..

Engkau sendiri yang bilang bahwa lagu “Hidup Yang Sepi” adalah cerita hidupmu sendiri yang tidak pernah punya kekasih.  Sekalinya jatuh cinta pada seorang gadis, dia pergi melanglang buana meninggalkanmu, hingga engkau berkhayal dalam lagu “Andaikan Kau Datang” – walaupun lagu itu dibuat oleh abangmu, Tonny Koeswoyo, tapi kau melantunkannya begitu mengiris, menyayat hati. Juga lagu ini, Hatiku Beku:

Tolonglah, tolonglah aku
Mengapa beku hatiku
Bila itu ‘kan berlalu
‘Ku menunggu tiada tentu

Pernikahanmu yang pertama kandas karena engkau miskin dan terpuruk, sampai harus menyewakan rumah dan buka usaha jual-beli mobil.  Aku dengar cerita saat istrimu mau melahirkan engkau harus meminjam uang untuk membayar biaya persalinan yang hanya satu setengah juta rupiah saja.

Kalian (Koes Plus) adalah contoh bahwa memilih hidup menjadi seniman adalah sebuah penderitaan. Jatuh bangun dalam membangun  sebuah kelompok musik yang solid tidak mudah, dan kalian sudah mengalaminya: bubar, ditinggal pergi, gonta-ganti personil. Tapi dalam penderitaan itu kalian mengukir nama besar dan reputasi yang abadi.

Om Yon, dulu waktu di SD kami bertamasya ke Taman Mini (TMII) dengan bus carteran. Di seantero sudut TMII dipasang pengeras-pengeras suara yang melantunkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) seperti: Nusantara, Kolam Susu, Bis Sekolah, Diana, dll. Kalian hebat, karenanya terus diingat.  Aku menyukai semua aliran musik yang kalian bawakan, dari mulai Pop, Rock, Melayu, Dangdut, hingga Keroncong.

Sampai sekarang aku masih selalu mendengarkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) saat bekerja di depan laptop atau sedang bepergian.  Lagu berjudul “Rindu” (melayu), termasuk salah satu lagu favoritku, selain Mengapa, Manis dan Sayang, Sendiri dan Rahasia, Ya Fatimah… dll.

Lagu kalian tentang cinta, kerinduan, penderitaan, mengingatkan kita tentang kehidupan yang fana. Kalian sejatinya bukan hanya bernyanyi tapi juga melantunkan filosofi hidup yang dalam, luas, dan tidak bersekat. Karena itu musik di tangan kalian benar-benar wakil dari suara alam yang  indah dan memesona, universal dan menggetarkan jiwa.

Betapa tinggi elang akan terbang
Lebih jauh lagi tinggi lamunan
Betapa megah hidupmu kau bilang
Dalam tidurmu semua akan hilang

(Perasaan, Koes Plus)

Selamat ulang tahun Om Yon, selamat berbahagia di sisi Tuhan. Terima kasih Koes Plus, dan untuk Om Yok, semoga selalu sehat, panjang umur dan bahagia.

 

Salam,

Ahmad Gaus

 

Dari Seminar Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Di era demokrasi saat ini kita tidak perlu lagi berpikir hanya boleh ada satu organisasi profesi. Sebab, organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas), termasuk organisasi profesi, pada dasarnya adalah gerakan sosial mandiri yang hadir untuk memperjuangkan aspirasi anggotanya.

Dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas yang sangat tinggi seperti kita, dan lapisan yang begitu tebal, adalah absurd untuk membayangkan hanya ada satu organ yang memperjuangkan aspirasi masyarakat. Justru semakin banyak organ semakin baik. Mereka akan berkompetisi dan bekerja keras untuk kemaslahatan masyarakat, dan terutama para anggotanya.

Ormas adalah kekuatan civil society yang menjadi tulang punggung demokrasi. Tanpa civil society tidak ada akan demokrasi. Maka kehadiran IGI (Ikatan Guru Indonesia), walaupun sudah ada PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), harus dilihat dalam perspektif ini. Keduanya, juga yang lain kalau ada, berhak hadir untuk menyejahterakan masyarakat, terutama para anggotanya. Dan secara lebih luas, mereka juga berkontribusi pada perkembangan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Selamat buat IGI. Teruslah bekerja untuk anggota, teruslah berkarya untuk bangsa.

Terima kasih telah mengundang saya sebagai narasumber di  acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kemarin, 25 September 2021 di Swiss Belhotel, Serpong, kerjasama IGI dan Sekjen MPR RI. Semoga kelak kita bisa lagi berkolaborasi.

 

Salam,

Ahmad Gaus

Esok Pagi Kau Buka Jendela

Catatan Ultah Pernikahan untuk JZ
Ini bukan puisi seperti yang biasa aku tulis di hari-hari istimewa. Hanya sebuah goresan air mata. Saat kamu terkurung sendiri di antara hidup dan mati. Saat napasmu tersengal, dan keringat dingin bercucuran. Namun tembok begitu angkuh, memisahkan kita yang hanya berjarak beberapa meter saja. “Doakan aku ya, jangan sampai mati karena Covid,” katamu. Aku terdiam. Di antara riuh hujan malam itu, suara batukmu terus terdengar. “Aku tidak bisa tidur,” katamu lagi. “Badanku meriang, tulang-tulangku remuk.”
Hujan semakin deras. Angin memukul-mukul jendela. Aku disergap kesunyian. Dingin merayap di punggungku. Ketika suaramu menghilang, aku mengintip dari sela pintu. Kudengar deru napasmu. Berat tertahan. Semoga kamu tertidur pulas dan besok pagi bangun kembali, jangan sampai tidak, doaku.
Dini hari itu pikiranku menerawang. Pada akhir Juni s.d. medio Juli lalu, 11 (sebelas) anggota keluargaku di Tangerang terpapar Covid-19 secara hampir bersamaan. Kakak, adik, kakak ipar, dan para keponakan. Dan mereka tinggal di rumah yang sama, rumah besar. Demi alasan keselamatan, kita memutuskan untuk tidak menjenguk, walaupun mereka sangat membutuhkan kehadiran kita. Tapi ketika aku mendengar kabar bahwa ibuku juga sakit, aku tidak peduli lagi dengan keselamatan. Aku berkali-kali ke sana, dan engkau menyertai, menembus zona merah. Begitulah… sampai ibuku benar-benar pulih, dan satu persatu keluargaku yang lain berangsur sembuh.
Kamu begitu kuat saat itu. Tapi… dua minggu kemudian kamu juga tumbang. “Penciumanku hilang,” katamu sore itu. Aku terkejut. Selama ini kita berpikir, corona begitu dekat. Tapi sekarang bukan hanya dekat. Ia sudah ada di rumah kita. Bersama kita. Akhirnya kita pun menjadi bagian dari pandemi global, dari sejarah dunia yang mengerikan.
10 hari telah berlalu. Kini kondisimu makin membaik. Dan hari ini, di ulang tahun ke-24 pernikahan kita, kamu bilang sudah bisa mencium aroma kopi dari cangkirku, meski masih samar. Kamu juga sudah bisa tertawa menonton drama Korea. Bersabarlah barang sebentar, demi syair lagu ini: “Esok pagi kau buka jendela, ‘kan kau dapati seikat kembang merah… ” (Ebiet G. Ade, Elegi Esok Pagi)
Selamat ultah pernikahan kita, Jumie Zaini. Selamat ultah juga untuk diriku sendiri. 😁
Salam peluk dari ruang tengah,
10 Agustus 2021
Ahmad Gaus

Melampaui Nurcholish Madjid

MELAMPAUI NURCHOLISH MADJID

Diam-diam, wacana Islam liberal terus menyeruak dan mengambil bentuk yang kian beragam. Islam liberal ala Nurcholish Madjid tahun 1970-an sudah dianggap kuno. Bahkan kerangka pikir Cak Nur konon sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah obsolet. Kini telah lahir generasi post Cak Nur yang lebih progresif, lebih liberal, selain murid-murid Cak Nur yang lain yang makin bergeser ke kanan dan menjadi pendukung gerakan-gerakan sektarian.

Bagaimana ceritanya? Yuk kita ngupi bareng di acara ini. Kita akan ngerumpi santai tentang murid-murid ideologis Cak Nur yang tercerai berai dalam berbagai sekte dan golongan. 😁