Via Dolorosa: Jalan Penebusan Kristus

Via Dolorosa

Selamat menjalani Tri Hari Suci untuk para sahabat blogerku yang beragama Kristen/Katolik.

Pengorbanan ala Kristus masih dibutuhkan untuk membangun dunia yang lebih damai. Mari ikuti jalan penderitaan Yesus (Via Dolorosa). Mari bersama menuju Golgota.

Salam Kasih,

Ahmad Gaus

Please share this poster if you want to be a part of building a peaceful world:

****

Anda tertarik menulis biografi, bagaimana caranya? Baca tautan berikut ini: Menulis Biografi

 

Menulis Biografi

BANYAK orang yang suka membaca buku, tapi lebih banyak lagi yang suka membaca biografi. Kenapa? Karena dari biografi orang akan belajar tentang kehidupan seseorang. Adalah hal yang manusiawi belaka bahwa orang senang membaca cerita hidup orang lain. Dan buku biografi mewujudkan kesenangan itu.

Memang banyak jenis atau genre buku, dari buku-buku wacana, sastra, ilmu pengetahuan, buku tips atau “how to”, hingga komik dan panduan wisata. Namun buku biografi tetaplah jenis buku yang paling diminati.  Pasalnya, buku biografi bukan jenis buku berat yang harus berpikir keras untuk membacanya. Biografi hanya berisi cerita hidup sang tokoh — tentang kesuksesan, kebahagiaan, hobi, cita-cita, petualangan, kegagalan, kesulitan, perjuangan, dan tentu saja hal-hal yang lucu dalam pengalaman hidup sang tokoh. Semuanya human interest.

Sebuah biografi memang ditulis untuk membagikan cerita kehidupan kita kepada orang lain.  Cerita itu bisa menjadi inspirasi bagi pembaca tentang bagaimana sang tokoh mengatasi kesulitan, juga memberi semangat kepada pembaca.

Siapa yang boleh menulis biografi, atau memiliki buku biografi? Semua orang boleh. Jangan kira bahwa yang boleh mempunyai buku biografi hanya mantan-mantan presiden, pejuang, pengusaha sukses, diplomat hebat, selebriti papan atas. Tidak.

Pengalaman saya sendiri sebagai penulis biografi, sebagian tokoh yang saya tulis adalah “orang-orang biasa”, bukan tokoh besar. Mengapa mereka mau menulis biografi, karena mereka ingin berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, kolega, dan kelak untuk anak cucu. Itu saja sudah cukup memenuhi arti penting sebuah biografi.

Jadi, sekali lagi, tidak usah menjadi pahlawan dulu untuk membuat biografi. Jika anda seorang ayah/ibu, kakek/nenek, atau bahkan pemuda/pemudi yang ingin bercerita, anda pantas menulis biografi. Biarkan anda dikenal melalui buku anda sendiri. Biarkan anda dikenang oleh anak cucu, saudara, dan teman-teman anda melalui biografi anda. Sebab mereka tidak tahu riwayat hidup anda. Siapa yang akan membuat hidup anda menjadi berharga kalau bukan anda sendiri?

Bagus kalau anda bisa menulis biografi anda sendiri, tapi kalau tidak juga bukan masalah besar. Sebab, ada orang yang memang memiliki keahlian untuk melakukan itu. Saya termasuk orang yang berkhidmat pada pekerjaan itu sejak lama.

Sampai sekarang sudah puluhan buku biografi yang saya tulis, baik yang memakai nama saya sebagai writer, maupun sebagai ghost writer (penulis hantu) dimana nama saya tidak muncul karena sang tokoh menginginkan seolah dia sendiri yang menulis buku tersebut. Bagi saya sebagai penulis profesional tidak masalah, yang penting bayarannya cocok, heheee..

Dalam esai ini, sebagaimana yang anda lihat, saya sertakan beberapa buku biografi yang pernah saya tulis.

Jika anda berminat untuk menulis biografi, silakan hubungi saya di email: gaus.poem@gmail.com atau WA: 0857 5043 1305.

Salam,

Ahmad Gaus

Islam Peradaban versi Cak Nur

 
 
CAK NUR DAN ISLAM PERADABAN
 
 
Selamat ulang tahun ke-82 untuk Cak Nur (Nurcholish Madjid). Pemikir sejati tidak pernah mati !!
 
Cak Nur merupakan sosok yang fenomenal, sekaligus juga kontroversial, karena pikiran-pikirannya berbeda dari kebanyakan orang. Ia melawan arus, mengagetkan, dan membuat guncangan yang besar. Hal itu menunjukkan pengaruhnya yang penting. Kata cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Moeslim Abdurrahman (alm), pikiran-pikiran keislaman yang berkembang di Indonesia sejak tahun 1970-an hanyalah catatan kaki dari pemikiran Nucholish Madjid.
 
Mengapa Cak Nur menempati posisi yang begitu penting dalam diskursus keislaman di Indonesia? Pertama, tentu saja masalah otoritas. Ia tumbuh di lingkungan pesantren, kuliah di IAIN, dan belajar kepada maha guru Islam Prof Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Karya-karya intelektualnya memperlihatkan otoritas tersebut. Kedua, dia memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan/ tidak terpikirkan oleh orang lain. Dia pemikir sejati. Di antara tembok-tembok komunalisme yang menguat di kalangan Islam, Cak Nur mengetengahkan Islam sebagai ajaran fitrah, ajaran hanif, yang bersifat terbuka, dan lintas batas.
 
Itu yang sekarang hilang. Islam sekadar menjadi kategori sosiologis yang sempit, dan makin dibuat sempit oleh kecenderungan fanatik, fundamentalistik dan ototiter dalam memahami agama. Padahal kata Cak Nur, mengutip hadis Nabi, sebaik-baik agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyat as-samhah, yakni upaya terus menerus mencari kebenaran dengan lapang dada, toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa.
 
Manusia tidak boleh terpenjara di dalam kotak-kotak yang sempit. Sebab Islam itu rahmatan lil alamin. Kebaikan untuk semua. Maka salah satu kritik Cak Nur yang paling keras ialah terhadap komunalisme (seperti partai Islam, negara Islam, ideologi Islam, dsb). Karena di dalam kotak komunalisme semacam itu Islam menjadi sempit. Padahal Islam adalah rahmatan lil alamin.
 
Gagasan sekularisasi Cak Nur terkait dengan pandangan ini. Jadi yang dimaksud sekularisasi oleh Cak Nur ialah tauhid tapi dalam bahasa sosiologi. Tauhid yang benar ialah menduniawikan hal-hal yang memang bersifat duniawi (seperti ideologi, negara, partai) dan tidak mensakralkannya.
 
Ketiga, Cak Nur berani mengangkat perkara-perkara yang tidak diangkat oleh orang lain, oleh ulama lain. Ia adalah pemikir Islam pertama di Indonesia yang berani “membunyikan” ayat-ayat toleransi. Selama ini ayat-ayat toleransi dalam al-Quran ditelantarkan, dianggap tidak ada, atau disembunyikan karena kepentingan-kepentingan tertentu. Banyak sekali ayat-ayat yang berhubungan dengan toleransi agama di dalam al-Quran, tapi orang tahunya cuma satu, yaitu lakum dinukum waliyadin.
 
Mengapa? Karena para mubaligh menyampaikannya hanya itu.
Padahal lakum dinukum itu bukan ayat toleransi. Itu ayat tentang menyembah Tuhan. Kalau Cak Nur berbicara mengenai toleransi maka ia mengutip al-Baqarah 62, al-Maidah 69, Ass-Syura 13, dsb.
 
Karena orang salah memilih dalil, maka setiap kali bicara toleransi, justru yang terjadi ialah menutup kemungkinan lahirnya sikap-sikap toleran. Akibatnya adalah lahirnya kesadaran palsu tentang toleransi. Toleransi menjadi ajaran pinggiran yang dianggap tidak penting. Cak Nur mengingatkan bahwa toleransi adalah ajaran pokok dalam Islam karena semangatnya bertebaran dalam al-Quran. Bahkan juga terkandung di dalam rukun iman yang enam. Jadi toleransi adalah bagian integral dari keimanan itu sendiri.
 
“Islam Peradaban”
 
Dengan pandangan toleransi semacam itu, maka di tangan Cak Nur Islam menjadi agama yang sangat humanis. Biarkan orang beriman atau tidak sesuai dengan pilihan bebas mereka (Q18:29). Sebab, iman hanya bermakna kalau lahir dari kebebasan, bukan dipaksa. Bukan wewenang manusia untuk menghukumi mereka sesat, itu urusan Tuhan. Urusan manusia adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
 
Ketika Cak Nur bicara toleransi maka yang ia bicarakan ialah kemungkinan mengembangkan doktrin toleransi itu sejauh yang dimungkinkan oleh al-Quran sehingga menjadi upaya emansipasi. Kata-katanya yang sering dikutip adalah: “Semakin dekat orang Islam pada al-Quran maka ia semakin toleran; semakin jauh dari al-Quran maka ia semakin tidak toleran.”
 
Islam yang dikembangkan oleh Cak Nur ialah Islam Peradaban yang agung, yang terbuka; bukan Islam syariah yang parsial dan tertutup, apalagi Islam politik yang partisan. Pikiran-pikiran Cak Nur saat ini tumbuh subur dan berkembang di kalangan kaum muda lintas agama. Sedangkan di kampus-kampus Islam saya kira kurang dieksplorasi sehingga tidak ada lagi semacam revolusi teologi ala Cak Nur.
 
Yang terjadi justru kampus-kampus sekarang semakin gandrung kembali ke syariah semata-mata karena “pasar”, tanpa visi keislaman yang jelas dan komprehensif karena tidak mengerti Islam ini mau dibawa ke mana, kecuali ke perkara halal dan haram. Alangkah jauhnya. Haihaata, haihaata.. !!
 
Salam Peradaban,
 
Ahmad Gaus
Penulis buku “Api Islam Nurcholish Madjid”, Peneliti CSRC UIN Jakarta, dosen Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU), Tangerang.
 
Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang almarhum Nurcholish Madjid yang lahir pada tanggal/hari ini (17 Maret).
 
Versi lengkap dari tulisan saya di atas dimuat pagi ini di Geotimes, berikut saya seratakan link-nya:
 
Apabila anda merasa tulisan ini bermanfaat, mohon di-share. Terima kasih
 
 
 
 

Evie dan Fenomena Pindah Agama

Melintasi Batas Agama
Dulu Evie Yana Farida biasa dipanggil amoi, karena keturunan Tionghoa. Sekarang juga masih — kadang-kadang. Dulu dia tinggal di Karawaci Tangerang, daerah pecinan. Tapi sekarang rumah itu sudah menjadi kantor kelurahan. Keluarganya pindah ke Cianjur.
Dulu Evie beribadah di gereja dan kelenteng sekaligus, karena memang agamanya dua. Tapi belakangan tidak lagi, karena sudah memeluk Islam atau menjadi muallaf.
Walaupun pindah agama, Evie tidak meninggalkan agamanya sambil meludah, seperti banyak dilakukan oleh orang yang pindah agama. Maksud saya, ada para muallaf yang menjelek2kan agama sebelumnya, seperti ustadz YW yang mantan pendeta, ustadzah IH yang mantan biarawati, dll.
Memang orang-orang seperti ini akan diberi karpet merah dan tepuk tangan. Karena memang ada umat yang haus dengan “siraman rohani” semacam itu, tapi sebagian besar umat Islam tidak membutuhkannya. Cerita-cerita tentang kejelekan agama lain adalah sampah, masuk ke dalam tong sampah, dan yang menyampaikannya juga tidak akan lebih dari itu.
Setelah menjadi muallaf, Evie menjalankan agamanya dengan keyakinan yang penuh. Namun, sekali lagi, dia tetap memuliakan agama sebelumnya, dan juga agama-agama serta aliran/mazhab yang lain. Evie bahkan mendalami falsafah Budha, Hindu, Syeikh Siti Jenar, dll. Dia mendengarkan Buya Syakur, Gus Baha, Fahruddin Faiz, dll.
Dengan terus belajar dan membuka wawasan, Evie merasa (dalam kata-kata dia sendiri) “Lebih terang benderang sekarang bagaimana seharusnya kita mengamalkan agama kita.” Ia juga mengatakan babwa semakin banyak berteman dengan orang-orang dari agama/aliran lain, “semakin aku menyayangi dan konsisten dengan kepercayaanku.”
Evie mewakili apa yang dalam wacana teologi disebut “passing over” yakni melintas dari agama sendiri, mengenal dan menyelami agama-agama lain atau tradisi spiritualitas yang lain guna memperluas wawasan, memperkaya batin, dan mengerti orang lain. Secara sosiologis passing over juga berperan dalam menciptakan toleransi dan pembangunan perdamaian.
Hanya orang-orang yang memiliki keberanian, rasa kepercayaan diri yang kuat pada imannya, serta memiliki cinta yang tulus pada sesama, yang berani melakukan itu. Dan Evie memilikinya.
Atas keberaniannya itu, maka saya buatkan puisi khusus buat

Evie Yana Faridadi hari ulang tahunnya hari ini. Oh ya, Evie ini adik kelas saya waktu di pondok pesantren Daar el Qolam, Tangerang. Sekarang, atau sejak belasan tahun, dia mengajar di salah satu universitas ternama di Irak utara. Selamat ulang tahun Evie, semoga Allah selalu membimbingmu dan memberi yang terbaik untukmu.
Salam Passing Over
Ahmad Gaus.

 

Baca juga: Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

 

 

Gadis Kecilku

 

Dari Facebook Gaus Ahmad

Orangtua selalu mendoakan anaknya supaya cepat besar. Tapi begitu anaknya tumbuh besar, orangtua berharap dia kembali menjadi kanak. Ada kerinduan pada masa-masa dia begitu lucu, polos, manja, selalu ingin dilindungi. Ini mungkin sikap ambigu kebanyakan orangtua, termasuk saya.

Hari ini anak saya Echa (Raysa Falsafa Nahla) memasuki usianya yang ke-19. Cepat sekali waktu berlalu. Rasanya baru kemarin saya menggendong-gendong dia sambil melantunkan salawat, menyanyikan lagu Tukang Kayu, Burung Layang-Layang, Pepaya mangga pisang jambu… Dia sangat antusias mengikuti. Tapi kalau saya menyanyikan lagu dangdut, dia pura-pura sibuk sendiri, tidak mau dengar, apalagi kalau lagu Rhoma Irama.

Tiba-tiba sekarang dia sudah kuliah semester dua. Sambil kuliah dia juga bekerja. Hampir setiap hari saya antar-jemput dia. Tapi kalau gajian, uangnya justru dia dikasih ke mamanya. Kan aneh. Ini misteri hidup yang sulit dipecahkan..

Raysa ini anak yang kedua (bungsu). Anak pertama saya, Alifya Kemaya Sadra, malah sudah lulus kuliah, juga sudah bekerja. Kelakuannya sama, kalau gajian uangnya dikasih ke mamanya. Padahal saya yang anter2.

Dengan dua anak yang sudah menjadi gadis, saya pastikan bahwa saya memang sudah tua. Ya sudahlah, terima saja.

Selamat ultah ya Echa, ayah mohonkan doa dari teman-teman di Facebook untuk kebaikanmu. Alfu mabruk..

AYAH IDAMAN

 

Selamat Tahun Baru 2021, Para Blogger

HAPPY NEW YEAR 2021

Saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021 kepada teman-teman blogger, khususnya yang rajin mampir ke website saya. Semoga tahun 2021 membawa keberkahan, kesehatan, kebahagiaan untuk kita semua. Mohon maaf apabila postingan saya selama ini kurang memenuhi harapan para pembaca.

Saya akan tetap setia mengunjungi anda untuk berbagi tulisan-tulisan berupa puisi maupun esai. Website ini saya buat untuk wahana komunikasi bagi kita semua, karena itu jangan ragu (dan JANGAN PELIT 🙂 untuk menyapa, berdialog, memberi komen, like, share apabila ada tulisan yang dianggap bermanfaat untuk diketahui orang lain. 

Menulis adalah kebahagiaan yang tak terkira karena dengan menulis kita bisa menginspirasi orang lain. Menulis juga menjadi sarana untuk relaksasi dari rutinitas yang bikin jenuh dan stres. Karena itu menulislah… apa saja bisa ditulis. Kalau kita beruntung, menulis juga bernilai ekonomis alias mendatangkan uang. Setidaknya, itulah pengalaman saya selama 30 tahun terakhir ini…

Salam,

Ahmad Gaus

 

 

 

 

Kado Ulang Tahun untuk Prof. Komaruddin Hidayat

MANUSIA DAMAI

Di negeri yang penuh dengan pergolakan
Kita membutuhkan tempat yang damai
Semacam kepompong bagi calon kupu-kupu
Bukan untuk bersembunyi
Tapi untuk memandang dengan jelas diri sendiri

Di negeri yang dihuni oleh para pemberang
Kita membutuhkan manusia-manusia yang memiliki jiwa yang damai
Sebab hanya manusia damai yang bisa memberi kedamaian pada dunia

Di negeri yang penuh dengan huru-hara
Kita tidak lagi membutuhkan kata-kata
Sebab setiap kata akan menjadi bara

Ketika setiap orang berbicara maka diam adalah sikap yang bijaksana
Tiada guna lagi kata-kata karena setiap orang hanya ingin bicara
Jumlah mulut lebih banyak daripada telinga

Di negeri yang dihuni oleh orang-orang yang ketakutan
Kita butuh tempat yang aman
Kalau tidak ada di alam kenyataan
Kita harus membangunnya di alam pikiran
Biarkan burung-burung menjadi arsiteknya
Biarkan risik dedaunan menjadi musiknya

Selamat ulang tahun, Prof Komar
Benih-benih pikiran yang kau tebarkan telah tumbuh menjadi bunga mawar
Saat ini tidak mudah mencari sosok seperti engkau
Sosok yang selalu menghindari konflik
Sosok yang selalu mengajak orang beragama masuk ke dalam jiwa-spiritual yang damai
Kalau mau berteriak, katamu, berteriaklah di dalam jiwa
Jangan di luar, apalagi di jalanan, karena tidak sopan dan mengganggu ketenangan.

Ciputat, 18/10/20
Ahmad Gaus

______________

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat adalah Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Beliau pernah menjadi Rektor UIN Jakarta dua periode (2006 – 2014). Penulis buku dan kolumnis di berbagai media massa.  Saya dan beliau pernah berkolaborasi menulis dan menerbitkan sejumlah buku antara lain: Passing Over: Melintasi Batas-batas Agama; Islam, Negara dan Civil Society; Menjadi Indonesia, dll. 

Taken from my FB status: https://www.facebook.com/gaus.ahmad.92

Anak-Anak Panti Asuhan dan Cita-Cita Mereka

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit.. jikapun engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” ~ Ir. Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI

Kata-kata itu saya sampaikan kepada anak-anak Panti Asuhan Permate Batam, Kepulauan Riau, dalam suatu kunjungan di minggu petang lalu bersama para aktivis/ pekerja sosial Ilma Sovri Yanti Ilyas dan Farid Ari Fandi. Dengan anak-anak panti itu kami berbagi inspirasi seputar moto ‘man jadda wajada‘ (siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil). Rentang usia mereka dari pra sekolah hingga SMA.

IMG-20181202-WA0065

Saya bercerita tentang orang-orang besar yang hidupnya sangat sulit dan prihatin namun berkat kemauan kuat dan kerja keras akhirnya mereka berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak. Bung Karno, Bung Hatta, dll. Juga kisah seorang musisi terkenal Amerika yang keluar dari sekolah dan menjadi pedagang koran eceran, bekerja di toko sepatu, untuk menabung demi membeli gitar bekas. Tapi dari gitar bekas itulah Iahir lagu yang terkenal di seluruh dunia: I wanna lay you down on a bed of roses… (BJ).

Kuncinya adalah: man jadda wajada! Lalu anak-anak itu mengacungkan tangannya. Aku ingin jadi Bung Karno. Aku ingin jadi polisi. Aku ingin jadi pilot. Aku ingin jadi artis. Aku ingin sekolah ke Belanda. Aku ingin ke Amerika….

Lalu kami bersama-sama menyanyikan lagu “Di Timur Matahari” dan “Tukang Kayu”. Cukup satu kali saya memberi contoh, anak-anak itu langsung menghapal lirik lagunya: “Katakan padaku hai tukang kayu. Bagaimana caranya memotong kayu. Lihat, lihat, kawanku, beginilah caranya memotong kayu…..”

IMG-20181202-WA0049Anak-anak itu sangat manja, sangat menikmati saat kita mengelus kepalanya.. maka eluslah mereka walaupun dari jauh dengan doa dan dukungan nyata.

Rasulullah SAW bersabda: “Demi Yang Mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah). (Imam Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath, VIII/346. Hadist no. 8828).

Ditunggu uluran tangan Anda di:

YAYASAN PANTI ASUHAN PERMATE

NO REK BRI 033101000778533

No kontak ibu asuh panti, Ibu Siti: 085264400790

IMG_20181224_070547_091

Terima kasih, semoga Allah memberi kesehatan, keberkahan, umur panjang, dan rezeki yang berlimpah untuk anda yang mau berbagi dengan anak-anak yang bersemangat itu.

Wassalam,

Ahmad Gaus

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

berkaca-dari-toleransi-lintas-agama-di-bali_m_124308 

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

Pada momen lebaran tempo hari kita melihat banyak spanduk bertebaran yang bertuliskan ucapan selamat Idul Fitri dari umat non-Muslim. Ada yang dari lembaga atau ormas keagamaan, ada juga yang dari individu tokoh. Ada yang dipasang di pinggir jalan, ada juga yang dipasang di pintu gerbang gereja, vihara, lembaga keagamaan, dsb.

Sebaliknya, jarang sekali, atau mungkin tidak pernah ada ucapan serupa dari umat Islam terhadap umat lain pada momen perayaan hari besar mereka seperti Natal, Waisak, Galungan, dsb. Apalagi dipasang di masjid, misalnya, waahh.. bisa jadi masalah besar, Son. Padahal di negara-negara Islam di Timur-Tengah kaum muslim bikin spanduk ucapan seperti Selamat Natal itu sudah lumrah. Biasa saja. Tidak ribut haram, atau auto-murtad. Mungkin umat Islam di Indonesia lebih relijiyes kali ya, Son, hehe…

Bagaimana kaum muslim menunjukkan kerukunannya dengan umat lain? Ini ada sedikit cerita, Son. Masih seputar lebaran. Setiap hari raya Idul Fitri kita sering disuguhi foto atau video orang-orang Islam yang bersalaman dengan non-Muslim, atau orang non-Muslim bersilaturahmi ke rumah orang Islam, mencicipi ketupat lebaran dan opor ayam sambil mengobrol bersama. Lalu foto atau video itu diposting di media sosial dan diberi keterangan: “Inilah bukti toleransi agama di Indonesia”; atau, “Indahnya toleransi agama”; dan kalimat-kalimat sejenis itu yang melambungkan romantisme kehidupan beragama di negeri kita.

Padahal, senyatanya, hubungan antaragama di negeri kita tidak selezat ketupat lebaran dan opor ayam. Di depan mata kita masih ada orang gemar bikin keributan sambil meneriakan takbir, mengintimidasi orang yang berbeda pandangan, menutup rumah ibadah agama lain, mengusir orang satu kampung karena beda aliran agama — rumah mereka dibakar, harta mereka dijarah karena dianggap harta ghanimah, menyebarkan ujaran kebencian sambil mengutip ayat-ayat suci, dst.

banner--penolakan--alihfungsi-haris-gunawan-tirto-1

Alih-alih lezat seperti ketupat dan opor ayam, kehidupan beragama kita akhir-akhir ini justru sangat getir. Ada sebuah film anak (Naura & Genk Juara) yang dipaksa untuk ditarik dari peredaran hanya karena si penjahat dalam film itu berjenggot dan mengucap istigfar. Ada seruan pemerintah untuk beribadah di rumah saja selama Covid-19 dan jangan ke masjid. Larangan pemerintah itu dianggap anti-Islam, rezim sekular, antek Yahudi. Dalam skala yang lebih luas lagi, ada orang-orang yang menyebut pemilu dan pilpres yang lalu sebagai perang badar, perang antara orang Islam melawan kaum musyrik. Akibatnya suasana pemilu/pilpres waktu itu menjadi menjadi sangat panas karena diwarnai sentimen agama. 

nauradovwm7zu8aatri8

Orang-orang yang menunjukkan perilaku taat beragama akhir-akhir ini juga sangat mudah tersinggung dan gemar menggerakkan massa. Misalnya saja ada orang yang mengeluh soal berisiknya suara load speaker masjid. Langsung disikapi secara emosional, dianggap bahwa itu penodaan agama dan dimejahijaukan. Mengeluh menjadi tindakan pidana. Ada anjing dibawa masuk masjid, langsung dianggap penghinaan dan ajakan untuk perang. Padahal masalahnya bisa sangat sepele, misalnya si pembawa itu tidak tahu bahwa anjing oleh orang Islam dianggap binatang najis, walaupun pemiliknya mengganggap itu hewan kesayangan.

maxresdefault0

uJdB1rExoFQzb_GQ

Itulah senyatanya gambaran kehidupan beragama di tengah masyarakat kita akhir-akhir ini. Lalu kenyataan itu hendak ditutupi oleh foto orang Islam dan non-Islam makan ketupat lebaran bersama dan diberi keterangan “Indahnya toleransi agama di Indonesia.” Helooow…

Toleransi Membutuhkan Pengorbanan

Apa yang hendak dikatakan oleh foto/video semacam itu sebenarnya adalah gambaran kerukunan belaka. Bukan toleransi. Keduanya jelas berbeda. Sebab, toleransi men-syarat-kan anda untuk merelakan sesuatu yang anda tidak suka dilakukan oleh orang lain. Dan anda menerimanya dengan lapang dada. Itulah toleransi. Jadi misalnya di lingkungan anda mayoritas warganya Kristen, lalu ada warga Muslim yang mengadakan pengajian di rumahnya dengan memanggil banyak jamaah dan ustadz dari luar. Secara subjektif anda tidak suka, tapi anda merelakannya, anda mentolerir acara itu. Itulah toleransi. Coba aja periksa kamus, Cambridge, misalnya mendefinisikan toleransi sebagai:  Willingness to accept behavior and beliefs that are different from your own, although you might not agree with or approve of them: (https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/tolerance).   

Toleransi yang lebih tinggi lagi nilainya ketika anda bukan hanya mengizinkan acara-acara seperti di atas itu, tapi juga ikut mengamankannya, bahkan memberi sumbangan demi kelancaran acara tersebut. Itu kalau kamu punya uang, Son, hehe..

warga-muslim-di-desa-pakistan-ramai-ramai-iuran-bangun-gereja
Seorang muslim ikut membangun gereja di Pakistan. https://www.merdeka.com/dunia/warga-muslim-di-desa-pakistan-ramai-ramai-iuran-bangun-gereja.html

Begitulah persektif toleransi yang benar. Jadi memang berbeda dengan kerukunan. Makan ketupat bersama orang yang berbeda agama itu hanya kerukunan hidup biasa saja. Sama sekali tidak membutuhkan pengorbanan. Hal ini berbeda dengan toleransi yang membutuhkan pengorbanan. Kalau anda mengizinkan pendirian rumah ibadah yang berbeda agama di lingkungan anda, itu baru toleransi. Anda berkorban untuk itu. 

Maka penggambaran makan ketupat lebaran beda agama sebagai potret toleransi adalah sebentuk kesalahan berpikir yang menyesatkan. Bahkan bisa berbahaya karena menutupi kenyataan yang sebenarnya. Tapi sebagai gambaran kerukunan itu benar. Karena memang sejatinya begitulah masyarakat kita. Beda agama, suku, budaya, tidak pernah menjadi masalah karena masyarakat kita sudah hidup dalam perbedaan semacam itu ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

Para-jemaah-muslim-yang-turut-membantu-membangun-gereja
– Umat Islam di Alor, NTT, membangun gereja – https://www.boombastis.com/umat-islam-bantu-bangun-gereja/255663

Masalahnya adalah, ada faktor-faktor yang menghalangi transformasi dari kerukunan ke toleransi, sehingga hubungan antaragama dalam masyarakat cenderung stagnan, dan hanya berputar-putar di wilayah permukaan.  Artinya, di permukaan umat beragama tampak rukun, ditandai dengan makan ketupat lebaran atau opor ayam bersama. Tapi begitu dihadapkan pada persoalan seperti pembangunan rumah ibadah, bangunan kerukunan itu bisa langsung roboh dalam sekejap.

GUuqCNqimzUYoUs-800x450-noPad

index3

Faktor-faktor yang saya maksud  di atas, yang menghalangi transformasi dari kerukunan ke toleransi, di antaranya adalah menguatnya kelompok-kelompok pengusung ideologi islamisme yang tidak menghendaki hubungan antaragama yang intim karena dianggap membahayakan akidah, karena yang lain dianggap kafir. Selain itu juga ada faksi-faksi keagamaan yang terus menerus memainkan isu agama untuk kepentingan politik kekuasaan.  Dengan menyulut sentimen kebencian dan permusuhan antaragama, kelompok dan faksi-faksi semacam ini terus eksis dan mendapat dukungan massa.

Percayalah bahwa sejatinya tanah air kita ini bukan lahan yang subur bagi intoleransi agama. Secara spiritual, radikalisme agama pun tidak akan mendapat tempat untuk tumbuh di negeri yang kaya sekali dengan tradisi spiritualitas ini. Tapi memang, seperti  buah naga  yang tidak bisa tumbuh di tanah dengan kadar keasaman  pH 4, maka pH nya dinaikkan menjadi 7. Begitu pula di negeri kita akhir-akhir ini, ada yang terus menerus berusaha menaikkan kadar pH tanahnya agar dapat menjadi lahan subur bagi tumbuhnya intoleransi dan radikalisme.

Perlu edukasi yang lebih luas dan massif kepada umat beragama bahwa mereka bisa hidup dalam suasana yang lebih dari sekadar rukun tapi juga toleran.  Kehidupan toleransi akan melahirkan suasana yang lebih kondusif bagi perdamaian. Dan toleransi yang dimaksud di sini bukan makan ketupat bersama beda agama di hari raya lebaran. Bukan itu. Paham ora kamu, Son? :)))

 

Baca juga:

Isu dan Kasus Toleransi Agama di Indonesia

Para Penjahat Atas Nama Tuhan

 

Pesta Ulang Tahun di Masa Corona

IMG-20200529-WA0016

Namanya Alifya Kemaya Sadra, lulusan Sastra Inggris UIN Jakarta, 2020. Keahliannya menari dan main piano. Dia pernah menari di Istana Presiden di Bogor, di acara Gubernur DKI Jakarta, di pembukaan Asian Games 2018, di depan Ibu Airin saat ulang tahun Kota Tangsel, di parade kesenian di Beijing, China.

Kemarin lusa kami merayakan hari ulang tahunnya yang ke-22. Acaranya di rumah saja. Maklum ini masa pandemi C-19. Kami juga tidak mengundang siapa-siapa. Bahkan lilin ulang tahun pun benar-benar lilin biasa yang disiapkan untuk kalau mati lampu. Tapi tepat pukul 00.00 beberapa teman kuliahnya tiba-tiba datang bikin kejutan. Jadi ramai juga, akhirnya. 

IMG-20200529-WA0000

Dari dia kecil saya selalu mendoakannya sambil saya peluk dan usap rambutnya. Doanya selalu sama: cantik, baik, sehat, cerdas, banyak rezekinya. Terus baca al-Fatihah dan salawat Nabi, lalu ditiupkan ke kepalanya.  Walaupun sekarang dia udah dewasa, saya tetap melakukannya, dan dia selalu memintanya. Begitu pula adiknya, Raysa Falsafa Nahla, yang tahun ini lulus SMA, angkatan Corona katanya, jadi engga ada wisuda. Kesian bener. Doa sambil ditiupkan ke kepala itu saya dapat dari Abuya Dimyati, ulama-sufi Pandeglang, waktu masih bayi saya bawa ke rumah Abuya, dan beliau almarhum mendoakannya seperti itu. 

Semoga tercapai apa yang dicita-citakan, kakak..

IMG-20200607-WA0029