Muazin Bangsa: Puisi untuk Buya Syafii Maarif

BUYA SYAFII MAARIF
ManusiaTerbaik Kiriman Tuhan
Duka cita mendalam atas wafatnya Buya Syafii (Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif) hari ini, 27 Mei 2022. Beliau almarhum adalah salah satu manusia terbaik yang dikirim oleh Tuhan untuk bangsa Indonesia. Beliau pemikir idealis. cendekiawan besar, pelaku hidup zuhud, dan muadzin bangsa..
MUAZIN BANGSA
— Untuk Buya Syafii Maarif
Suara azan yang meluncur dari bibirmu
Terdengar setiap saat
Mengingatkan orang-orang bahwa seluruh hidup adalah salat
Maka setiap orang dalam setiap aktivitasnya harus selalu menghadap kepada Tuhan
Seakan dia sedang menunaikan salat
Karena dia harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya di hadapan Tuhan
Takbir yang kau kumandangkan, Buya
Lebih keras dari suaramu yang ringkih
Bergumul dengan teriakan-teriakan takbir di jalan raya
Yang terlontar dari mulut para oportunis politik yang berkolaborasi dengan para penjual agama
Takbirmu, Buya, merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa
Menyebarkan kedamaian dan rasa aman pada semua orang
Sedangkan takbir mereka menyuarakan kesombongan, menebarkan ketakutan.
Takbirmu, Buya, sebuah pengakuan bahwa tidak ada yang berhak merasa besar
Sebab kebesaran hanya milik Tuhan Yang Maha Besar
Sedangkan takbir mereka, meringkus kebenaran menjadi milik mereka sendiri
Merampas kebesaran Tuhan ke tangan mereka sendiri.
Buya, Buya, tubuhmu renta, tapi jiwamu selalu muda, dan menyala-nyala
Membakar tempat tidur anak-anak muda
Hingga mereka berlompatan dari mimpi
Bangkit dan lemparkan selimutmu
Bangsa ini tidak sedang baik-baik saja
Korupsi, diskriminasi, intoleransi, masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini
Aku selalu ingat pesanmu, Buya, jadilah generasi yang lebih baik dari generasi kami
Terima kasih, Buya
Terima kasih atas keteladanan yang engkau wariskan
Sikap yang lurus, kesederhanaan, dan keberanian
Selamat jalan, Buya. Selamat berjumpa dengan Tuhan Yang Mahakasih yang selalu engkau rindukan.
Ciputat, 27 Mei 2022
Wassalam
Ahmad Gaus

Caknurian Review Edisi Khusus: Ultah Bu Omi

Hari ini, 25 Januari 2022, adalah hari ulang tahun Ibu Omi (istri almarhum Cak Nur). Walaupun usianya sudah terbilang senja (73 thn), beliau tetap aktif mengisi seminar dan forum-forum pemikiran Islam. Saat ini bahkan ada kader-kader pemikir muda Caknurian yang melanjutkan pemikiran-pemikiran progresif Nurcholish Madjid. Ibu Omi selalu menyemangati anak-anak muda ini untuk terus mengembangan pikiran Islam yang inklusif-pluralis sebagaimana dulu diperjuangkan oleh Cak Nur sepanjang hidupnya.

Selamat ulang tahun, Bu Omi, semoga sehat terus dan bahagia walau menjalani hari tua seorang diri, karena anak-anak (Mikel dan Nadia) di luar negeri.

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

 

 

Islam Progresif di Singapura

Anak-anak muda Muslim (Melayu) di Singapura beruntung punya mentor seperti Mohamed Imran Mohamed Taib . Dia adalah benteng terhadap penetrasi ideologi ekstremisme dan sekaligus menjadi representasi muslim progresif dengan pergaulan lintas regional dan lintas iman.
Dalam 15 tahun terakhir Imran aktif mengembangkan jaringan dan membina hubungan dengan kalangan LSM/NGO, lembaga riset, kampus, aktivis pergerakan Islam, maupun intelektual bebas di Indonesia dan Malaysia.
Setidaknya dalam setahun dua kali dia membawa anak-anak muda muslim Singapura datang ke Indonesia dan berdialog dengan kalangan yang saya sebutkan di atas. Dengan begitu mereka mengetahui isu-isu mutakhir atau wacana yang tengah menjadi perbincangan publik. Mereka menyambangi Wahid Institute, Paramadina, CSRC UIN Jakarta, dan lain-lain termasuk sejumlah pesantren.
Imran sangat akrab dengan gagasan-gagasan Islam progresif dari tokoh-tokoh seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, KH Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, dll. Semula saya tidak menduga bahwa pikiran-pikiran kontroversial dari para pemikir seperti Harun, Cak Nur, Gus Dur, bisa diperkenalkan kepada kalangan Muslim Melayu di Singapura. Tapi Imran dengan rileks saja membawa pikiran mereka ke majelis pengajian Melayu hingga diskusi di kedai-kedai kopi pinggir jalan.
Belasan tahun hal itu ia lakukan melalui kelompok minoritas kreatif (creative minority) bernama The Reading Group (RG). Diskusi-diskusi di RG meluas dari masalah agama hingga sains, filsafat, sastra. Tak jarang para pemikir/aktivis dari Indonesia diundang ke forum ini.
Sekarang, entah sudah berapa banyak alumni RG di bawah mentoring Imran. Tapi yang pasti mereka adalah anak-anak muda yang sudah terbebaskan dari belenggu eksklusivisme religius yang rentan terhadap paparan ideologi ekstremis .
Maka saat ini, cara berpikir anak-anak muda Muslim Singapura tidak jauh berbeda dengan kaum muda NU dan Muhammadiyah yang progresif di Indonesia.
Jika anda, periset atau akademisi ingin mengetahui perkembangan Islam progresif di Singapura maka Imran adalah orang yang tepat untuk tempat bertanya. Dia adalah tokoh kunci dalam perkembangan ini, selain Azhar Ibrahim (NUS), teman seperjuangannya.
Selamat ulang tahun sahabatku, Imran, semoga selalu sehat dan dapat mempertahankan stamina dalam perjuangan yang masih panjang.
Jakarta, 10 Januari 2022
Ahmad Gaus
Mungkin gambar 1 orang dan teks

Lam Sinar Buleun

 

Bang Fachry, Mentor Intelektual

Selamat ulang tahun untuk mentor kita, bang Fachry Ali. Beliau adalah tokoh sentral kebangkitan intelektualisme Islam sejak empat dasawarsa terakhir. Karya-karyanya telah saya (kita) baca sejak masa SMA.

Tulisannya dalam bentuk buku maupun kolom di media massa menjadi semacam peta untuk memahami isu-isu keislaman yang muncul pada masa itu.

Bang Fachry termasuk generasi pertama di lingkungan intelektual Ciputat (IAIN/UIN) yang membangun tradisi menulis di media massa.
Alur pikirnya sistematis, gaya bahasanya lugas, selera humornya menyerupai Gus Dur. Kebetulan ia sangat dekat dengan Gus Dur, selain dengan Cak Nur tentu saja, yang merupakan seniornya di HMI. Kalau tidak salah Gus Dur pernah menyebut Fachry Ali sebagai NU cabang HMI.

Di kalangan pembaca intelektual, nama Fachry Ali disebut dengan penuh kekaguman. Banyak mahasiswa, termasuk saya saat itu, rela membobok celengan sendiri (artinya bukan celengan teman) demi membeli koran atau majalah kalau di sana ada tulisan Fachry Ali.

Sebagai tanda persahabatan dan terima kasih telah menemani masa remaja saya dengan bacaan-bacaan bergizi, saya buatkan sebuah puisi sekaligus sebagai kado ultah. Semoga berkenan. Sekali lagi selamat ulang tahun, bang Fachry, semoga panjang umur, sehat selalu, dan terus menebar manfaat bagi banyak orang. 🙏

 

 

Sebuah Kedai di Akhir Zaman

Jodoh itu ada di tangan Tuhan. Kalau sepasang kekasih beda agama/keyakinan ternyata harus berjodoh, siapa yang bisa menghalangi? Di antara kendala-kendala teologis dan sosiologis, orang yang berani membuka jalan bagi pasangan beda agama yang ingin menikah pastilah dia orang hebat. karena dia melawan arus dan pemahaman ortodoks tentang pernikahan.

Teman saya, Ahmad Nurcholish, adalah salah satu orang hebat yang saya maksud. Dengan bekal pengetahuan agama dari pesantren, pemahaman terhadap kitab-kitab klasik, dan pengalaman interaksi lintas agama dan keyakinan, dia mewakafkan seluruh hidupnya untuk membantu orang-orang yang merasa kesulitan untuk melangsungkan pernikahan beda agama. Sampai saat ini sudah ribuan orang yang dia bantu  mewujudkan impian mereka untuk hidup dalam ikatan pernikahan, walaupun beda agama.

Dalam pandangan keagamaan, Nurcholish yang kini Direktur ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) mengikuti jejak Gus Dur dan Cak Nur, dua raksasa pluralisme Islam yang pernah dimiliki bangsa ini.

Selamat ulang tahun, kawan.

 

 

 

 

Melampaui Nurcholish Madjid

MELAMPAUI NURCHOLISH MADJID

Diam-diam, wacana Islam liberal terus menyeruak dan mengambil bentuk yang kian beragam. Islam liberal ala Nurcholish Madjid tahun 1970-an sudah dianggap kuno. Bahkan kerangka pikir Cak Nur konon sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah obsolet. Kini telah lahir generasi post Cak Nur yang lebih progresif, lebih liberal, selain murid-murid Cak Nur yang lain yang makin bergeser ke kanan dan menjadi pendukung gerakan-gerakan sektarian.

Bagaimana ceritanya? Yuk kita ngupi bareng di acara ini. Kita akan ngerumpi santai tentang murid-murid ideologis Cak Nur yang tercerai berai dalam berbagai sekte dan golongan. 😁

 

 

Islam Peradaban versi Cak Nur

 
 
CAK NUR DAN ISLAM PERADABAN
 
 
Selamat ulang tahun ke-82 untuk Cak Nur (Nurcholish Madjid). Pemikir sejati tidak pernah mati !!
 
Cak Nur merupakan sosok yang fenomenal, sekaligus juga kontroversial, karena pikiran-pikirannya berbeda dari kebanyakan orang. Ia melawan arus, mengagetkan, dan membuat guncangan yang besar. Hal itu menunjukkan pengaruhnya yang penting. Kata cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Moeslim Abdurrahman (alm), pikiran-pikiran keislaman yang berkembang di Indonesia sejak tahun 1970-an hanyalah catatan kaki dari pemikiran Nucholish Madjid.
 
Mengapa Cak Nur menempati posisi yang begitu penting dalam diskursus keislaman di Indonesia? Pertama, tentu saja masalah otoritas. Ia tumbuh di lingkungan pesantren, kuliah di IAIN, dan belajar kepada maha guru Islam Prof Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Karya-karya intelektualnya memperlihatkan otoritas tersebut. Kedua, dia memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan/ tidak terpikirkan oleh orang lain. Dia pemikir sejati. Di antara tembok-tembok komunalisme yang menguat di kalangan Islam, Cak Nur mengetengahkan Islam sebagai ajaran fitrah, ajaran hanif, yang bersifat terbuka, dan lintas batas.
 
Itu yang sekarang hilang. Islam sekadar menjadi kategori sosiologis yang sempit, dan makin dibuat sempit oleh kecenderungan fanatik, fundamentalistik dan ototiter dalam memahami agama. Padahal kata Cak Nur, mengutip hadis Nabi, sebaik-baik agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyat as-samhah, yakni upaya terus menerus mencari kebenaran dengan lapang dada, toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa.
 
Manusia tidak boleh terpenjara di dalam kotak-kotak yang sempit. Sebab Islam itu rahmatan lil alamin. Kebaikan untuk semua. Maka salah satu kritik Cak Nur yang paling keras ialah terhadap komunalisme (seperti partai Islam, negara Islam, ideologi Islam, dsb). Karena di dalam kotak komunalisme semacam itu Islam menjadi sempit. Padahal Islam adalah rahmatan lil alamin.
 
Gagasan sekularisasi Cak Nur terkait dengan pandangan ini. Jadi yang dimaksud sekularisasi oleh Cak Nur ialah tauhid tapi dalam bahasa sosiologi. Tauhid yang benar ialah menduniawikan hal-hal yang memang bersifat duniawi (seperti ideologi, negara, partai) dan tidak mensakralkannya.
 
Ketiga, Cak Nur berani mengangkat perkara-perkara yang tidak diangkat oleh orang lain, oleh ulama lain. Ia adalah pemikir Islam pertama di Indonesia yang berani “membunyikan” ayat-ayat toleransi. Selama ini ayat-ayat toleransi dalam al-Quran ditelantarkan, dianggap tidak ada, atau disembunyikan karena kepentingan-kepentingan tertentu. Banyak sekali ayat-ayat yang berhubungan dengan toleransi agama di dalam al-Quran, tapi orang tahunya cuma satu, yaitu lakum dinukum waliyadin.
 
Mengapa? Karena para mubaligh menyampaikannya hanya itu.
Padahal lakum dinukum itu bukan ayat toleransi. Itu ayat tentang menyembah Tuhan. Kalau Cak Nur berbicara mengenai toleransi maka ia mengutip al-Baqarah 62, al-Maidah 69, Ass-Syura 13, dsb.
 
Karena orang salah memilih dalil, maka setiap kali bicara toleransi, justru yang terjadi ialah menutup kemungkinan lahirnya sikap-sikap toleran. Akibatnya adalah lahirnya kesadaran palsu tentang toleransi. Toleransi menjadi ajaran pinggiran yang dianggap tidak penting. Cak Nur mengingatkan bahwa toleransi adalah ajaran pokok dalam Islam karena semangatnya bertebaran dalam al-Quran. Bahkan juga terkandung di dalam rukun iman yang enam. Jadi toleransi adalah bagian integral dari keimanan itu sendiri.
 
“Islam Peradaban”
 
Dengan pandangan toleransi semacam itu, maka di tangan Cak Nur Islam menjadi agama yang sangat humanis. Biarkan orang beriman atau tidak sesuai dengan pilihan bebas mereka (Q18:29). Sebab, iman hanya bermakna kalau lahir dari kebebasan, bukan dipaksa. Bukan wewenang manusia untuk menghukumi mereka sesat, itu urusan Tuhan. Urusan manusia adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
 
Ketika Cak Nur bicara toleransi maka yang ia bicarakan ialah kemungkinan mengembangkan doktrin toleransi itu sejauh yang dimungkinkan oleh al-Quran sehingga menjadi upaya emansipasi. Kata-katanya yang sering dikutip adalah: “Semakin dekat orang Islam pada al-Quran maka ia semakin toleran; semakin jauh dari al-Quran maka ia semakin tidak toleran.”
 
Islam yang dikembangkan oleh Cak Nur ialah Islam Peradaban yang agung, yang terbuka; bukan Islam syariah yang parsial dan tertutup, apalagi Islam politik yang partisan. Pikiran-pikiran Cak Nur saat ini tumbuh subur dan berkembang di kalangan kaum muda lintas agama. Sedangkan di kampus-kampus Islam saya kira kurang dieksplorasi sehingga tidak ada lagi semacam revolusi teologi ala Cak Nur.
 
Yang terjadi justru kampus-kampus sekarang semakin gandrung kembali ke syariah semata-mata karena “pasar”, tanpa visi keislaman yang jelas dan komprehensif karena tidak mengerti Islam ini mau dibawa ke mana, kecuali ke perkara halal dan haram. Alangkah jauhnya. Haihaata, haihaata.. !!
 
Salam Peradaban,
 
Ahmad Gaus
Penulis buku “Api Islam Nurcholish Madjid”, Peneliti CSRC UIN Jakarta, dosen Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU), Tangerang.
 
Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang almarhum Nurcholish Madjid yang lahir pada tanggal/hari ini (17 Maret).
 
Versi lengkap dari tulisan saya di atas dimuat pagi ini di Geotimes, berikut saya seratakan link-nya:
 
Apabila anda merasa tulisan ini bermanfaat, mohon di-share. Terima kasih
 
 
 
 

International Webinar on Cak Nur’s Humanism Thought

Nurcholish Madjid (affectionately known as Cak Nur) is one of Indonesia’s leading public intellectual and a respected Islamic scholar and reformist. On 30.08.20, The Reading Group collaborated in an online discussion called “Agama Kemanusiaan Pasca Nurcholish Madjid” (Humanistic Religion Post-Nurcholish Madjid), with three other institutions who are at the forefront of keeping his legacy alive: the Nurcholish Madjid Society, Jakarta; Centre for the Study of Religion and Culture (CSRC), Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta; and the Centre for Pesantren Studies, Bogor.

The session featured Ahmad Gaus from CSRC; Dr Azhar Ibrahim from the National University of Singapore; and Huda Ramli from Sisters in Islam, Malaysia. Executive Director of Nurcholish Madjid Society, Fachrurozi Majid gave the Keynote Address and Nur Hikmah of The Reading Group moderated the session.
The session focused on Cak Nur’s key message of humanism that flows from his religious philosophy. Fachrurozi, in his Keynote Address spoke of Cak Nur’s main contributions to society and calls for the continuation of his message, particularly that of uplifting the conditions of the marginalised in society through the humanitarian approach.
Ahmad Gaus, who had written extensively on Cak Nur including a biography called ‘Api Islam’ (The Torch of Islam), emphasised the ‘tauhid’ (radical monotheism) of Cak Nur. Cak Nur’s ‘tauhid’ would not admit any form idolatry, including that of power, wealth or the state. This is where Cak Nur’s pluralism stands out: any denial of diversity in order to concentrate and monopolise truth and power, is to imitate God – hence, idolatrous.
There is no doubt that Cak Nur had brought religious thought beyond the ‘traditionalist’ and ‘modernist’ divide in the Malay-Indonesian world, exemplified by two mass-based movements, Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. Since his clarion call for ‘Pembaruan Pemikiran Islam’ (Renewal of Islamic Thought) in the 1970s, Cak Nur situates his project as that of ‘preserving from the past what is good, and taking from the present what is better’.
This project was realised through the formation of Paramadina, an organisation that promotes what Cak Nur calls as ‘masyarakat madani’ (civil society), a term no doubt, derived from his reading of American sociologist, Robert N. Bellah. This term had also inspired the concept of ‘Islam madani’ (civil Islam) that was later promoted by Anwar Ibrahim in Malaysia, although it took a different trajectory under the state-led project of Islamisation.
According to Dr Azhar Ibrahim, whose past postdoctoral research in Copenhagen University drew on Cak Nur’s public theology, the humanist agenda of Cak Nur has yet to be appreciated in its fullness. The humanistic approach is not confined to religious thought but must be realised in other sectors of society, including education. Cak Nur himself, is an educator par excellence, having studied under a leading Islamic scholar and reformist, Professor Fazlur Rahman in Chicago University.
Despite all these, Cak Nur’s reformist views remain controversial within certain segments of society. Huda Ramli, who works for Sisters in Islam in Malaysia, reminds the audience of attempts to discredit Cak Nur’s thought under the amorphous term ‘liberal Islam’. There is currently a standing fatwa against ‘liberal Islam’, which made people afraid to explore views propounded by the likes of Cak Nur. The attacks against ‘liberal Islam’, it was noted, came from within the environment of politicisation of Islam, whose proponents are known as ‘Islamists’.
Hence, it is crucial to first critique the ideas of political Islam before Cak Nur’s humanistic views can take root. It must not escape observers that Cak Nur had anticipated the hardening of political Islam back in the 1970s, hence his call for “Islam, Yes; Islamic Party, No!” – which caused a stir in Indonesian society that reverberated throughout the region, particularly in Malaysia where the ruling party, UMNO was faced with the challenge of the Islamist party, PAS who called for Islam to be the basis of governance.
In the final analysis, whether one agrees or not with Cak Nur’s reformism, he remains as one of the formidable ulama of the contemporary Malay-Indonesian world. His vision for a civil religion – one that is tolerant, compassionate, democratic and open to religious diversity – is suited for a modern world that has to grapple with a multitude of problems in the spheres of politics, economy, education and social relations.
At the end of the day, it is important to remember that Cak Nur’s core approach is to highlight the ‘good of religion’ more than the ‘truth of religion’. No one can disagree on the good that religion brings to human civilisation, but not all can agree on the truth in every religion. The good, therefore, is inclusive and can be a unifying factor; while truth remains subjective, contested and even personal to every individual. The focus on the good is also what makes us human.
Fifteen years after his passing on, Cak Nur’s message remains relevant. In fact, it is more urgent considering that humanity is currently faced with the problems of violent extremism, sectarianism, terrorism and threats to the environment, including the pandemic and global climate change. Cak Nur’s values-based approach to religion and society can be invigorating for those who want to go beyond the current impasse in Islamic thought.
Written by: Mohamed Imran, taken from Facebook:

Ahmad Wahib dan Pergolakan Pemikiran Islam

Wahib
Ahmad Wahib adalah nama yang sangat sering disebut ketika kita membicarakan perkembangan pemikiran Islam. Siapakah dia? Seberapa menarik pemikiran-pemikirannya sehingga ia tetap dikenang sebagai pemberontak pemikiran dan namanya menjadi legenda? Dan mengapa penting sekali “menghidupkan kembali” Ahmad Wahib dalam diskursus keislaman kita sekarang?
Dalam video ini, Ahmad Gaus AF mengupasnya untuk Anda. #AhmadWahib #AhmadGaus #PemikiranIslam #Islam
Wahib 3
Wahib 2
Salam,
Ahmad Gaus

[Puisi] Elegi untuk Ibu Omi

 

omi1

ELEGI UNTUK IBU OMI *)

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di sisi jendela
Di tepi pagi yang sunyi
Memandangi bunga-bunga di taman
Tumbuh, merekah, kemudian layu dan jatuh ke bumi
Menikmati kicau burung-burung di halaman
Sebelum mereka terbang satu persatu menuju cakrawala

Seperti itu pula orang-orang yang kita cintai
Keluarga, sahabat, handai taulan
Satu demi satu mereka pergi meninggalkan kita
Sebagian telah berpulang menuju keabadian
Sebagian lagi masih menunggu antrian
Di simpang jalan kehidupan

Mereka yang pergi bukan tidak mencintai kita
Tapi masing-masing punya dunia sendiri
Dunia yang tidak bisa kita kunjungi sekalipun hanya dalam mimpi (begitu kata penyair Libanon-Amerika, Khalil Gibran, dalam puisi “On Children”)
Dunia yang dibangun untuk masa depan mereka yang lebih baik
Agar kelak, mereka pun dapat menikmati hidup bahagia seperti kita
Duduk dekat jendela
Ditemani secangkir teh di sore hari yang sunyi

Kesunyian bukanlah tragedi
Seperti ranting tua yang jatuh ke jalan
Dilindas roda kendaraan
Bukan!

Kesunyian itu seperti tsunami yang berdiam di dalam botol
Menunggu tangan-tangan malaikat menumpahkannya di kanvas kehidupan
Dari kesunyian lahir bayi-bayi mungil bernama kearifan, kebijakan, dan peradaban

Kesunyian adalah sahabat lama yang kita nantikan
Sebab dialah yang akan menemani kita
Mengumpulkan serpihan jiwa yang berserakan
Di sepanjang perjalanan

Kesunyian menguji kesabaran kita hingga batas terjauh
Untuk menghubungkan dua dunia
Yang fana dan yang baqa

Kesunyian bukanlah alasan untuk merasa sunyi
Sebab seluruh semesta ini, kata penyair sufi Jalaluddin Rumi, ada di dalam diri
Mengapa kita harus merasa sunyi

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di tepi jendela, di ujung senja yang sunyi
Tapi kita semua membutuhkan kesunyian
Sebab pada dasarnya kita memang harus belajar mempersiapkan diri
Menuju kesunyian yang abadi.

PIM 3 Jakarta, 26/01/2019

*) Ibu Omi Komaria Madjid adalah istri almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), cendekiawan, guru bangsa, dan pemimpin besar revolusi pemikiran yang pernah dimiliki bangsa ini.

Note:
Puisi ini dibacakan di acara pertemuan Caknurian II dan tasyakuran ulang tahun ke-70 Ibu Omi Madjid di Pondok Indah Mal 3, Jakarta. Terima kasih kepada Prof Komaruddin Hidayat sebagai host acara, dan Kiai Ulil Abshar Abdalla yang menginspirasi lahirnya puisi ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang hadir di acara ini. Ingatlah: Semua akan berpuisi pada waktunya. 😂

omi2

omi3

 

 

 

 

[Memoar] Api Yang Membakar Jiwa

Puslitbang

API YANG MEMBAKAR JIWA

Pagi sampai siang ini (11/12/2018) berlangsung diskusi buku “Djohan Effendi, Sang Pelintas Batas” oleh Puslitbang Kemenag RI. Djohan Effendi pernah menjadi Kepala Litbang Depag, kemudian menjadi Menteri Sekretaris Negara di masa Presiden Abdurrahman Wahid. Tapi orang lebih mengenal Djohan sebagai intelektual dan aktivis gerakan Islam. Saya diundang ke acara ini sebagai penulis biografi Djohan Effendi, dan Dr. Neng Dara Affiah, M.Hum hadir sebagai pembahas.

Dua tema kunci dalam pemikiran Djohan Effendi adalah pluralisme dan kebebasan beragama. Itu juga yang menjadi titik temu dari para tokoh pergerakan pada masa itu dgn nama-nama yang menonjol spt Cak Nur, Gus Dur, Dawam, Wahib, dll. Walaupun begitu masing-masing tokoh punya ciri tersendiri dalam membawa pemikiran mereka ke publik.

Berbeda dengan rekan-rekannya spt Cak Nur dan Gus Dur yang cenderung menggebu-gebu, Djohan cenderung pendiam dan mengambil tempat di belakang layar: merajut solidaritas antar-kelompok dan menggerakkan aksi. Berbeda dengan mereka yang lazim berbicara mengenai hal-hal besar semisal peradaban, umat, bahkan masa depan Islam. Djohan lebih tertarik pada hal-hal sederhana seperti iman yang bersifat pribadi, kehidupan spiritual, puisi sufistik, hingga nasib kelompok sempalan alias aliran sesat. Djohan bahkan memposisikan dirinya sebagai pembela “aliran sesat”.

Dari Djohan kita belajar pentingnya dialog agama sebagai aktivitas yang dapat menjembatani perbedaan dan mereduksi sikap saling curiga. Kesediaan untuk berdialog membutuhkan kesadaran agama yang bersifat terbuka (teologi inklusif).

Dari dialog agama Djohan melangkah lebih jauh ke dialog antariman. Praksis dialog agama selama ini hanya melahirkan toleransi sosial. Dan toleransi jenis ini masih rapuh dan mudah terjatuh pada sikap saling curiga. Dialog antariman menukik lebih jauh ke dasar keyakinan, namun dilakukan dengan hati yang tulus untuk saling memahami, bukan menghakimi.

Dialog antariman inilah yang kini berkembang menjadi semacam trend di kalangan anak-anak muda yang memiliki keberanian untuk melintas (pass over) di antara agama-agama. Dari dialog semacam ini lahir sikap saling menghargai yang otentik dan sejati di antara para pemeluk agama. Bukan sekadar basa-basi sosial.

Posisi Djohan di antara tokoh-tokoh di atas menjadi unik. Dia terlibat aktif dalam gerakan pembaruan, tapi Bapak Pembaruan ialah Cak Nur; dia juga tidak diragukan lagi perannya dalam wacana dan aksi toleransi, tapi Bapak Toleransi telah disematkan orang kepada Gus Dur. Lalu di mana posisi Djohan Effendi?

Djohan adalah perintis solidaritas lintas batas. Djohan adalah BAPAK DIALOG ANTARIMAN. Inilah posisinya yang paling tepat. Posisi ini tidak ditempati oleh dua raksasa lainnya: Cak Nur dan Gus Dur.

Berbeda dengan Cak Nur dan Gus Dur yang datang dengan seruan massif, ideologis, dan intelektual, Djohan hadir di lubuk hati dengan seruan personal dan emosional. Dalam ungkapan teman saya, Budhy Munawar Rachman,  Djohan itu “api yang membakar jiwa”. Mungkin maksudnya berbeda dengan Gus Dur dan Cak Nur sebagai “api yang membakar kota”. 😃😃.

Demikian ringkasan presentasi saya.

 

Takes Mansion & Hotel, Jakarta, 11/12/18
Ahmad Gaus AF

(Dari laman Facebook Gaus Ahmad, 11.12.2018)

 

 

 

 

[Puisi] Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Kepada Nurcholish Madjid)

Rektor Universitas Paramadina  Nurcholish Majid, wajah, Jakarta 12 Juli 2000 [TEMPO/ Bernard Chaniago; 30d/348/2000; 2000/07/20].
Cak Nur

Hari ini, 29 Agustus 2015 genap sepuluh tahun wafatnya Nurcholish Madjid (29 Agustus 2005). Untuk mengenang almarhum saya menulis sebuah puisi yang judulnya diambil dari buku karya beliau, Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Paramadina, 1992). Puisi ini saya bacakan di sela-sela diskusi “Mengenang 10 Tahun Wafatnya Cak Nur” yang diadakan oleh ISAIS (Institute for Southeast Asian Islamic Studies) UIN Suska Riau, pada Kamis 27 Agustus lalu. Diskusi yang dipandu oleh Ali Hasan Palawa dan digelar di aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska tersebut menghadirkan tiga penulis buku tentang Cak Nur sebagai narasumber yaitu Budhi Munawar Rachman (Penulis Ensiklopedi Nurcholish Madjid), Muhammad Wahyuni Nafis (penulis buku Cak Nur Sang Guru Bangsa, dan saya sendiri, Ahmad Gaus, selaku penulis buku Api Islam Nurcholish Madjid).

GausSusqa2

Diskusi Refleksi 10 Tahun Mengenang Wafatnya Nurcholish Madjid di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 27 Agustus 2015.

PINTU-PINTU MENUJU TUHAN

 Kepada Nurcholish Madjid, ‘Allah yarham’

Oleh: Ahmad Gaus

BANYAK pintu menuju Tuhan

Kita berdiri di satu pintu pilihan

Walaupun harus berdesakan

Walaupun harus berhimpitan.

PARA sufi mengajarkan

Semua jalan musyahadah kepada Tuhan

Akan sampai juga pada tujuan

Karena disinari cahaya-cahaya kebenaran.

DAN CAHAYA-cahaya itu terang adanya

Dalam Kitab yang pasti kebenarannya

Walladzina jahadu finaa

Lanahdiyannahum subulanaa

(Mereka yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami

Akan Kami tunjukkan berbagai jalan Kami QS. Al-Ankabut:29/69).

JIKA engkau harus memegang satu kebenaran

Silakan, tapi jangan lupa bersikap toleran

Sebab kebenaran yang engkau pertengkarkan

Nisbi adanya, bukan mutlak-mutlakan.

BANYAK pintu menuju Tuhan

Banyak jalan menuju kebenaran

Mengapa harus memaksa orang lain berada di satu jalan

Berdesakan, berhimpitan, berjatuhan.

MEREKA yang mendapat petunjuk Tuhan

Adalah orang-orang beriman

Mereka mungkin bersimpangan jalan

Namun menuju satu tujuan.

SEPERTI ribuan sungai yang mengalir

Semua bergerak menuju hilir

Tidak ada satu pun yang mangkir

Semua bermuara di samudra akhir.

(WALLAHU a’lam bis-shawab)

TUHAN Maha Tahu yang benar

Engkau dan aku hanya mengerti sekadar

Karena itu tidak patut membuat onar

Menuding orang lain sesat dan tersasar.

______________________