Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Pemikiran Islam

SARJANA TUA

Ini bukan lagu satire Iwan Fals yang menohok sarjana muda pencari kerja setelah empat tahun lamanya bergelut dengan buku, dan ternyata ijazahnya sia-sia…!!

Ini sarjana tua yang benar-benar menghabiskan waktu belasan tahun lamanya hanya untuk meraih gelar es dua.

Alhamdulillah ala kulli hal..

391A8205

Foto: Prosesi wisuda saya pada 27 April 2019 di Auditorium  Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, oleh Rektor Prof Dr Firmansjah.

Barangkali ada yang penasaran dengan tesis saya, berikut adalah abstraknya

GERAKAN PEMBARUAN PEMIKIRAN ISLAM NURCHOLISH MADJID DAN PARA PENERUSNYA: Analisis Wacana Kritis atas Lahirnya Gerakan Post-Pembaruan.

“Gerakan pembaruan pemikiran Islam yang dipelopori oleh Nurcholish Madjid pada dasawarsa 1970-an dan 1990-an menegaskan dua agenda utama yaitu: pembaruan teologi politik dan pembaruan keimanan. Penelitian ini ingin melihat bagaimana gerakan tersebut terbentuk, sejauhmana ia mampu memengaruhi wacana publik pada masanya dan masa sesudahnya, dan mampukah ia melahirkan gerakan penerusnya, atau gerakan yang melampauinya baik dari segi bentuk maupun substansinya.”

“Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nurcholish Madjid telah berhasil dengan gemilang membangun praktik diskursif yang membuat gerakan dan agenda pembaruannya menjadi wacana dominan dan memberi pengaruh yang sangat besar baik dalam debat publik keagamaan selama tiga dasawarsa terakhir maupun dalam kehidupan sosial politik dan keagamaan kaum Muslim. Selain itu, gerakan ini juga telah melahirkan generasi penerus di masa ketika formasi-formasi diskursif telah berubah, relasi-relasi kuasa diruntuhkan, dan kebenaran dikondisikan kembali.”

“Generasi ini melanjutkan dan sekaligus merevisi beberapa bagian dari gagasan pembaruan Nurcholish melalui strategi diskursif yang berbeda, sehingga dapat disebut sebagai gerakan Post-Pembaruan.”

Kata Kunci: Gerakan Pembaruan, Nurcholish Madjid, Analisis Wacana Kritis, Gerakan Post-Pembaruan

Jumlah halaman: 218+ix
Daftar pustaka: 123 (1970 – 2018)

Tesis ini sedang saya kembangkan menjadi sebuah naskah buku. Untuk keperluan itu judulnya saya ubah (lihat daftar isi di bawah). Sengaja saya infokan di sini, siapa tahu ada penerbit yang melihat dan tertarik untuk menerbitkannya. Kalau tidak, ya tidak apa-apa juga. Saya akan simpan saja untuk kenang-kenangan anak-cucu.

Salam hormat
AHMAD GAUS

Outline buku

GERAKAN POST-PEMBARUAN:
Arus Besar Reformasi Pemikiran Islam Pasca Nurcholish Madjid

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II NURCHOLISH MADJID DAN GERAKAN PEMBARUAN

Pemikiran Islam

Sikap Politik

Gerakan Pembaruan

BAB III DUA AGENDA PEMBARUAN NURCHOLISH MADJID

Pembaruan Teologi Politik

Pembaruan Keimanan

Pengaruh Gerakan Pembaruan

BAB IV GERAKAN POST-PEMBARUAN

Jaringan Islam Liberal

Fiqih Lintas Agama

Membela Kebebasan Beragama

BAB V PEMIKIRAN POST-NURCHOLISH

Tradisi Nurcholishian

Neo-Nurcholishme

Nurcholish Kanan Vs Nurcholish Kiri

Komposisi dan Prospek Nurcholish Tengah

Para Pemikir Post-Nurcholish

BAB VI PENUTUP

Kesimpulan dan Rekomendasi

 

Note:

Kalau ada penerbit tertarik menerbitkan buku ini silakan hubungi saya di nomor berikut ini: 0857 5043 1305

 

 

 

 

 

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus

Bunga Rampai dari Malaysia

 

Selangor 10 des 17

 

sdd.jpg
Jauh-jauh ke Malaysia ketemu tetangga, Prof. Sapardi Djoko Damono (SDD) yang tinggal di Ciputat juga, 3 km dari rumah saya, hehe. Saya tunjukkan dalam buku ini ada puisi yang saya tulis untuk beliau berjudul “Kursi Ruang Tunggu” yang notebene merupakan adaptasi dari puisi beliau yang sangat terkenal, “Hujan Bulan Juni”; dan beliau terkekeh-kekeh.

 

GM
Sarapan pagi bersama Goenawan Mohamad dan Pauline Fan di Hotel Grand Bluewave, Selangor, 9 Desember 2017.

 

AAN - KL 08 des 17
Perjalanan dari KL ke Selangor bersama Aan Mansyur, penyair “Ada Apa dengan Cinta 2”

 

IMG-20171210-WA0018
Diskusi panel dengan tema: “Kesusastraan Agama dalam Bahasa Melayu Nusantara” bersama Dr. Azhar (Singapura), Eekmal (Malaysia), dan Mustaqim (Malaysia), di Museum Sultan Shah Alam, Selangor, 10 Desember 2017.

 

Senja di Jakarta

Buku SENJA DI JAKARTA sedang dicetak lagi, karena banyak yang pesan dan saya kehabisan stok. Tapi insya Allah akhir tahun ini (2017) sudah selesai dan anda bisa pesan mulai sekarang: via WA 085750431305. Harga Rp. 50.000,- belum ongkos kirim. Setiap buku yang dipesan akan ditandatangani. 🙂

 

 

 

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus

SENJA DI JAKARTA

BukuSenja
Buku puisi terbaru saya sudah terbit pada November 2017 oleh Penerbit Kosa Kata Kita

 

 

 

RG
Peluncuran Buku Puisi “SENJA DI JAKARTA” di The Reading Group, Singapura, 3 November 2017

 

jean
Ms Jean dan Buku SENJA DI JAKARTA, di ajang Singapore Writers Festival, 4 November 2017

 

Riri
Riri Riza, Produser dan Sutradara; mau diapain ini buku, Mas? hehe..
Irena
Dibaca di kelas Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU) Tangerang,oleh Irena, Mahasiswi Smst 5 Jurusan Biomedical Engineering
Mekah
Alhamdulillah, sudah sampai di depan Kabah

 

Imi
Sudah ada di Jepang juga..

 

Fadiah
Testimoni, Fadiah (Singapura)
KKK
ETALASE

Jika anda berminat membeli buku ini sila menghubungi nomor telp/WA: 0857.5043.1305

 

Salam Puisi,

AHMAD GAUS

 

 

 

 

 

 

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Esai Kolom

Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”

jamal2

Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”
(Siapa Yang Mendanai Program Ini?)

Oleh Ahmad Gaus
(Anggota Tim 8)

SETELAH diluncurkan pada 3 Januari 2014 lalu di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terus menuai polemik. Salah satu titik polemik ialah: siapa yang mendanai program buku ini? Sebagai anggota Tim 8 yang melahirkan buku tersebut saya merasa perlu menjelaskan ini agar tidak muncul kesalahpahaman dan fitnah—yang sebenarnya sudah terjadi, bahkan merajalela.

Mula-mula polemik itu berlangsung di media sosial, terutama fesbuk dan twitter. Sebagian sastrawan dan pegiat sastra menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap hasil kerja tim yang menghasilkan buku tersebut. Sebagian orang menulis di blog, dan ada beberapa pegiat sastra yang menulis di media cetak. Tak perlu dijelaskan rumor dan gosip yang disebar melalui broadcast messenger dan pesan pendek (SMS) yang ditujukan kepada Tim 8.

Terhadap polemik-polemik itu sikap kami pertama-tama tentu harus menerima ketidakpuasan tersebut. Namun, ketika ketidakpuasan itu diekspresikan melalui hujatan, caci-maki, bahkan fitnah, kami merasa itu sudah tidak proporsional. Belakangan, sebagian pegiat sastra bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan mengeluarkan petisi yang berisi ajakan kepada publik untuk melakukan aksi boikot, mendesak pemerintah menarik buku itu dari peredaran, bahkan juga berencana membakar buku tersebut.

Ketika diwawancarai wartawan apa pendapat saya perihal rencana boikot dan aksi pembakaran itu, saya katakan bahwa aksi itu sangat memprihatinkan. Sastrawan seharusnya memberi pencerahan kepada masyarakat tentang bagaimana cara berbeda pendapat, bukan memberi contoh tindakan anti-intelektual dan cenderung barbar. Para penandatangan petisi itu akan dicatat oleh sejarah sebagai orang-orang yang ikut membungkam kebebasan berpendapat. Mereka tidak berhak bicara apapun lagi tentang kebebasan berkarya jika mereka sendiri ingin mengambil paksa hak itu dari orang lain, dan mereka hendak melakukan itu dengan meminjam tangan kekuasaan.

Kenapa Denny JA?

Titik krusial lain dari polemik itu adalah masuknya nama Denny JA ke dalam buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tersebut. Kami Tim 8 terdiri dari Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, Maman S Mahayana, Acep Zamzam Noer, Nenden Lilis Aisyah, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, dan Ahmad Gaus, tentu memiliki pertimbangan mengapa nama Denny JA dianggap pantas masuk ke dalam buku tersebut. Argumen-argumen mengenai ini sudah kami jelaskan panjang lebar di dalam buku setebal 767 halaman. Namun, para pencerca itu rupanya tidak mau menerima penjelasan tersebut, atau jangan-jangan malah belum membacanya. Lebih gawat lagi ada yang menuduh kami (Tim 8) telah “dibeli” oleh Denny JA supaya namanya dimasukkan. Walhasil, buku tersebut dianggap tidak valid sebagai karya akademik.

Tim 8 sebetulnya dibentuk sendiri oleh beberapa orang dari kami, kemudian mengajak yang lainnya. Dananya pun tidak dimintakan kepada pemerintah (APBN), sehingga Tim ini sebenarnya tidak bertanggung jawab kepada pemerintah atau publik kecuali pertanggungjawaban akademik karena ini karya ilmiah. Beberapa orang dari Tim 8 menghubungi para filantrofis seperti ET dan FE yang pernah berencana membuat majalah sastra namun belum terealisasi. Ternyata, mereka mau mendanai kegiatan ini. Tentu tidak etis menyebut nama lengkap orang-orang ini sampai mereka sendiri yang mengatakannya. Tapi yang pasti, di negara demokrasi masyarakat sipil mengambil inisiatif mendanai kegiatan apa saja dibolehkan, asalkan bukan kegiatan makar atau tindakan kriminal. Demikian juga kegiatan membuat ranking, misalnya ranking; 20 politisi paling kontroversial sepanjang masa, 30 pejabat negara berpakaian paling rapi, 10 artis paling dibenci, dst. Kita boleh tidak setuju, tapi tidak boleh melarang publikasi hasil ranking tersebut.

Kembali ke masalah mengapa nama Denny JA masuk ke dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Banyak orang menanyakan hal itu kepada saya, karena sayalah yang ditunjuk oleh Tim 8 untuk menulis bagian itu. Selain menulis tentang Denny JA, saya juga menulis artikel tentang Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, dan Ayu Utami. Nama yang terakhir ini pun dipersoalkan oleh beberapa penulis senior (perempuan) yang hadir dalam acara peluncuran buku di PDS HB Jassin yang menganggapnya tidak pantas masuk ke dalam daftar tersebut. Saya jawab, baca saja dulu sampai tuntas karena di situ ada argumennya, kalau sudah membaca tetapi tidak setuju juga, berarti memang kita berbeda paham. Kalau berbeda paham, kita harus saling menghargai, dan tidak perlu memaksa kami menghapus nama itu dari buku.

Tentang pertanyaan mengapa nama Denny JA masuk ke dalam daftar itu, jawaban saya adalah, justru aneh kalau nama dia tidak masuk. Sebab, dialah yang paling fenomenal dengan puisi esainya sekarang ini. Denny JA adalah wakil kontemporer dari dinamika sastra dalam 3 tahun terakhir. Sampai saat ini saya belum mendengar ada penyair yang karya puisinya dibaca oleh begitu banyak orang seperti puisi esai yang digagas oleh Denny JA. Hanya satu tahun setelah buku puisi esainya yang berjudul Atas Nama Cinta dipublikasikan di web (2012), puisi itu dibaca oleh hampir 8 juta orang dengan ribuan respon, seperti bisa dilihat di website puisi-esai.com. Sebagai perbandingan, di kalangan selebriti saja, rekor semacam itu hanya bisa dicapai oleh Agnes Monica yang video youtube-nya “Matahariku” dihit oleh 7 juta netters.

Bagi saya ini prestasi Denny JA yang sangat fenomenal, dan sekaligus keajaiban puisi esai yang baru berkembang namun telah memikat begitu banyak orang. Sebab saya pernah membaca sebuah buku yang di situ ditulis bahwa ada penyair yang menerbitkan buku puisinya 1000 eksemplar, dan sudah lebih dari 20 tahun menumpuk di gudang alias tidak terjual. Artinya, masyarakat tidak meminati puisi itu. Padahal setiap puisi ditulis untuk dibaca. Denny JA menulis puisi yang diminati dan dibaca masyarakat, yaitu puisi esai, puisi yang bahasanya mudah dipahami, dan pesannya jelas karena berbicara tentang realitas masyarakat. Lima puisi esai Denny JA itu semuanya berbicara tentang isu-isu diskriminasi orientasi seksual, gender, keyakinan, ras, dan pandangan agama. Semua isu itu riil, ada dan menjadi persoalan dalam masyarakat kita.

Puisi di Era Cyber

Yang paling penting dalam puisi esai-nya Denny JA ialah mengubah isi kepala orang tentang apa yang disebut puisi. Selama ini mainstream puisi kita ialah puisi liris yang berbicara tentang daun, angin, hujan, pohon cemara, atau dalam ungkapan Rendra: “tentang anggur dan rembulan”. Puisi esai berbicara tentang manusia di dalam sejarah yang kongkrit, tentang isu-isu yang bergetar dalam komunitas. Mungkin itu sebabnya puisi esai Denny JA sangat digemari (tapi sekaligus juga dibenci oleh sebagian sastrawan sehingga selalu dihujat-hujat sebagai bukan puisi).

Sekarang zaman sudah berubah. Sastra sekarang berkembang di dunia cyber. Ini juga yang mungkin tidak diperhatikan oleh para sastrawan kita. Padahal saat ini kebanyakan anak muda tidak membaca puisi kecuali di internet. Denny JA melihat peluang itu untuk menyosialisasikan karya-karya puisinya. Dan dia berhasil memkampanyekan temuan barunya itu (puisi esai) melalui website yang diakses oleh banyak orang.

Para penghujat seharusnya melihat dan menghargai sisi ini. Bukan melulu mempersoalkan bahwa dia bukan sastrawan, atau orang baru di dunia sastra, dan seterusnya. Apakah dunia sastra begitu sakralnya sehingga “orang luar” tidak boleh menulis puisi. Rupanya bagi mereka itu, persoalan Denny JA ialah dia bukan saja “orang luar” yang menulis puisi tapi juga “orang luar” yang sangat gegabah mengubah bentuk puisi yang sudah mapan. Bagi kami Tim 8, puisi-puisi esai Denny JA telah mencapai bentuk yang otonom sebagai sebuah karya yang memiliki estetika yang berbeda dengan puisi lirik. Sebagai bukti bahwa inovasi itu telah absah sebagai sebuah karya yang otonom ialah lahirnya buku-buku puisi esai dari penulis lain (saat ini telah terbit 10 buku puisi esai).

Tim 8 memilih Denny JA karena sesuai dengan kriteria yang dibuat, terutama kriteria nomor 4 yaitu: “Dia menempati posisi pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang, dan akhirnya menjadi semacam konvensi, fenomena, dan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.”

Saya kira sastrawan jenis ini tidak terlalu banyak. Kita bisa menyebut Chairil Anwar yang melawan konvensi bahasa Melayu ala Amir Hamzah yang notebene Raja Penyair Pujangga Baru. Kemudian WS Rendra yang mengembalikan puisi dari kata ke bahasa. Lalu Sutardji Calzoum Bachri yang membebaskan kata dari makna, dan sedikit nama lainnya. Denny JA membuat inovasi baru dalam penulisan puisi yang menurut John Barr, seorang pengamat sastra Amerika, sudah puluhan tahun tidak mengalami perubahan berarti. Denny JA mengembalikan puisi dari kalangan elit penyair ke pangkuan khalayak. Jika dulu orang berpegang pada ungkapan Chairil Anwar: “Yang bukan penyair tidak ambil bagian.” Maka sekarang, melalui kredo puisi esainya, Denny JA menyeru: “Yang bukan penyair pun boleh ambil bagian”. Dulu tidak terbayang bahwa pengacara, hakim, pengusaha, politisi, dsb, menulis puisi karena mereka bukan penyair. Sekarang, seperti seruan Denny JA, mereka dapat menulis puiis berdasarkan problem yang mereka temukan dalam profesinya masing-masing. Puisi esai membuka kemungkinan untuk itu, karena puisi esai pada dasarnya “cara baru beropini” melalui karya sastra.

Penutup

Tulisan ini tidak hendak membela Denny JA sebagai pribadi, melainkan meluruskan hujatan dan fitnah keji yang menimpa Tim 8. Denny JA dipilih karena dia memang layak. Dan Tim 8 tidak dibeli untuk menentukan pilihan itu. Semua nama yang dibawa oleh setiap anggota Tim ke dalam forum diperdebatkan secara bebas dan bertanggungjawab, dalam arti bisa dijelaskan dengan argumen proporsional, tidak mengada-ada. Tapi sejak awal kami memang menyadari bahwa apapun yang kami hasilkan pasti akan menimbulkan kontroversi. Hanya saja, yang tidak kami bayangkan ialah munculnya hujatan dan cercaan yang sama sekali di luar batas nilai-nilai kebudayaan sastra.

Belum lama ini sastrawan yang karyanya tidak dipilih sebagai juara oleh tim juri Katulistiwa Literary Award (KLA) marah-marah dan menggugat keabsahan dewan juri. Polemik merebak di jejaring sosial. Sampai-sampai ada sastrawan yang menulis bahwa para juri pemilihan itu sama sekali tidak bermutu. Pilihan mereka menunjukkan rendahnya selera mereka terhadap sastra, lemahnya pengetahuan mereka, dan kurangnya wawasan mereka. Begitu dia menggugat dewan juri. Lucunya, juri KLA yang kemarin lusa digugat itu kini justru mengolok-olok kami (Tim 8). Rupanya dia sudah lupa bagaimana rasanya sebagai juri yang dihujat dan dicurigai.

Menanggapi polemik tersebut, Richard Oh yang menyelenggarakan acara tahunan KLA tersebut menulis di akun twitternya pada tanggal 27 November 2013, pk 12.05 AM, sbb: “Salah satu ketidakmajuaan sastra kita di dunia rupanya bukan pada kurangnya karya-karya bagus, tapi semangat sikut-menyikut antar sastrawan.”

Sesungguhnya saya berharap bahwa apa yang dikatakan Richard Oh itu tidak benar. Dan dengan ini saya tutup artikel ini, semoga dapat memberi penjelasan memadai sehingga tidak ada lagi fitnah dan hujatan kepada Tim 8 yang telah bersusah payah menyusun buku ini. Terima kasih.

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Esai Puisi Resensi Buku

Bincang-bincang Puisi Esai di Singapura

puisi esai launch

Sabtu pekan lalu, 28 Desember 2013, dua buku puisi esai karya penulis Indonesia diluncurkan dan dibedah di Singapura. Dua buku tersebut masing-masing Imaji Cinta Halima karya Novriantoni Kahar dan Kutunggu Kamu di Cisadane karya Ahmad Gaus. Acara ini merupakan kerjasama antara Leftwrite Center, Jabatan Pengkajian Melayu National Universtity of Singapore (NUS) dan the Art House.

Selain mengundang langsung dua penulis puisi esai Indonesia, acara yang bertajuk Pembaharuan Sastra: Puisi Esai dalam Gerakan Pemikiran, ini juga menghadirkan Dr Azhar Ibrahim dari NUS dan Mohamed Imran dari the Reading Group Singapura. Acara dimulai dari pukul 10 s.d 12 siang waktu setempat.

Dalam mengantarkan sesi diskusi, Mohamed Imran mengatakan bahwa puisi esai telah menarik perhatian kalangan peminat dan pemerhati sastra di Singapura, terutama terkait dengan pembaruan di ranah sastra dan sekaligus sebagai gerakan pemikiran. “Kita mengetahui bahwa dua pembicara ini bukan hanya penulis puisi tapi juga aktivis yang sudah lama bergiat dalam gerakan Islam progresif di Indonesia,” ujar Imran. “Apa yang mereka tulis dalam buku mereka masing-masing tentunya tidak jauh dari apa yang menjadi concern mereka selama ini sebagai intelektual dan aktivis,” tambah pendiri the Reading Group Singapura tersebut.

sin1
Novriantoni, Gaus, dan Imran

Ahmad Gaus yang tampil sebagai pembicara pertama mengulas peta sastra Indonesia modern dan dimana posisi puisi esai. Menurutnya, puisi esai sebagai sebuah gerakan lahir dengan terbitnya buku Atas Nama Cinta karya Denny JA yang memuat lima buah puisi esai bertemakan diskriminasi berdasarkan perbedaan ras, sekte agama, orientasi seksual, dan pandangan agama. Dari segi bentuknya puisi esai berbeda dengan puisi lirik. Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan perasaan melalui simbol dan metafor. Sedangkan puisi esai mengungkap realitas melalui bahasa konvensional. Dalam sejarah perpuisian di Indonesia, puisi lirik merupakan puisi arus utama, dan telah menjadi paradigma dalam penulisan puisi. Puisi esai menawarkan genre baru penulisan puisi yang berusaha keluar dari arus utama tersebut dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.

Kelahiran puisi esai, lanjut Gaus, diilhami oleh tulisan John Barr yang mengatakan bahwa puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisan puisi mengalami stagnasi, dan tak ada perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi. Menurut John Barr, para penyair asik masyuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas. Barr merindukan puisi dan sastra seperti di era Shakespeare. Saat itu, puisi menjadi magnet yang dibicarakan, diapresiasi publik, dan bersinergi dengan perkembangan masyarakat yang lebih luas.

Sementara itu Novriantoni Kahar yang tampil sebagai pembicara berikutnya menuturkan pengalamannya menyampaikan gagasan-gagasan keislaman dalam bentuk puisi. Selama ini, ujarnya, ia banyak menulis kolom atau artikel ilmiah populer di surat kabar dan majalah. Sebagai pengamat pemikiran dan gerakan Islam, ia merasa mendapatkan media baru dalam menyampaikan kegelisahannya secara impulsif dan personal. Puisi esai baginya merupakan pengalaman baru dalam berwacana. Alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini menulis kisah-kisah cinta dalam antologi Imaji Cinta Halima yang bulan November lalu juga diluncurkan di Jakarta. Dengan setting dunia Timur-tengah, buku puisi esai Novri hampir semuanya terkait dengan pergulatan perempuan Muslimah dalam menyikapi moderitas.

Dr Azhar Ibrahim Alwee yang menjadi pembahas pada acara tersebut menandaskan pentingnya karya-karya sastra selalu diletakkan dalam setting sejarah yang rill. Menurut dosen dari National University of Singapore ini, puisi esai semangatnya sejalan dengan yang selama ini dikenal sebagai puisi memori sosial. Di dalam puisi jenis ini, isu-isu yang menjadi perhatian publik dibawa ke dalam karya puisi. “Dengan cara seperti itu, masyarakat menjadi akrab dengan puisi,” tutur Azhar di hadapan para peserta yang hadir dari kalangan aktivis, dosen, pegiat seni, termasuk sastrawan ternama Singapura Mohamed Latiff dan Suratman Markasan.

Untuk uraian lengkap dari Novri dan Azhar lihat link berikut:
http://inspirasi.co/forum/post/3423/catatan_perjalanan_muhibah_sastra_di_singapura#.UsIYcckR_NI.twitter

artHouse2
Setelah sesi peluncuran dan diskusi buku, saya membacakan sebuah puisi berjudul “Sehelai Kain dari Surga” yang pernah saya posting juga di WordPress dan Kompasiana.

IMG02635-20131228-1148
Andy, seorang pengajar muda sastra di sekolah Singapura membaca penggalan puisi berjudul “Gereja Tua” dari buku Kutunggu Kamu Di Cisadane karya Ahmad Gaus

Posted by Gaus, 31 Dec 2013. Follow my twitter: @AhmadGaus / Facebook: Gaus Ahmad

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Penggalan Buku Puisi

Bu Guru Jangan Pergi.. [Puisi Hari Guru]

Kp tanjung lebak

Anak-anak sekolah di Kampung Tanjung, Lebak, Banten, meniti sebuah jembatan rusak yang hanya dihubungkan dengan satu tali terbentang di atas Sungai Ciberang. REUTERS/Beawiharta

BU GURU JANGAN PERGI…

/1/

Hujan lagi di awal Juni
Halaman sekolah seperti kandang sapi
Padahal ini hari Senin — hari upacara
Murid-murid biasanya menaikkan bendera
Mendengarkan amanat kepala sekolah
Mengheningkan cipta
Lalu Ibu Mutia menutup upacara
Sambil mengajak murid-murid
Menyanyikan lagu
Di Timur Matahari1)

Pagi ini hujan turun deras
Murid-murid datang berpayung
Daun talas, daun pisang
Ada juga yang basah kuyup —
Belepotan lumpur
Terpeleset di pematang sawah.

Pukul tujuh kurang lima menit
Lonceng sekolah dibunyikan
Anak-anak berlarian
Guru-guru beranjak dari kursi
Menuju ruang kelas
Buku absensi dibacakan
Pelajaran dimulai.

Ke mana Ibu Mutia
Murid-murid kelas III menunggu
Duduk tertib — tangan dilipat di atas meja
Selesai membaca doa
Tapi Ibu Mutia belum datang juga
Tidak ada kabar berita.

/2/

Di depan pintu ruang kelas III
Pak Burhan menghentikan langkahnya
Perlahan, kepala sekolah itu membuka pintu
Anak-anak, mana Ibu Guru?
Belum datang, Pak! dijawab serempak.

Pak Burhan khawatir
Anak-anak akan belajar tanpa guru lagi
Walaupun sudah terbiasa begitu
Menjadi murid-murid mandiri
Belasan tahun sejak SD Inpres itu berdiri2)
Selalu kekurangan tenaga pengajar
Guru yang ada mengajar segala rupa.

Apakah Ibu Mutia sakit
Apakah tugas mengajarnya sudah selesai
Dan kembali ke kampusnya di Jakarta
Untuk menyusun tugas akhir kuliah
Sebagaimana pernah dikatakannya?
Tidak ada kabar berita.

Kepala sekolah itu memasuki ruang kelas
Baiklah, hari ini Bapak yang mengajar
Menggantikan Ibu Mutia!

/3/

Sekolah itu telah meluluskan ratusan murid
Semuanya warga dusun Cikuya
Orang tua mereka bekerja sebagai buruh
Menggarap sawah milik tuan tanah
Hasil panen habis untuk makan
Anak-anak cukup sekolah sampai SD
Bisa baca-tulis dan hitung

Dengan ijazah SD di tangan
Mereka pergi ke kota
Bekerja di pabrik-pabrik
Setiap bulan mengirimkan uang
Meringankan biaya hidup di kampung.

Anak-anak yang dulu belajar di SD Inpres itu
Telah menikah dan beranak pinak
Lalu kembali menitipkan anak-anak mereka
Kepada Pak Burhan
Di sekolah itu juga
Setelah lulus berangkat ke kota
Menjadi buruh di pabrik-pabrik.

Pak Burhan gundah
Ia seperti memutar nasib warga kampung
Dalam roda kemiskinan yang akut
Diwariskan dari generasi ke generasi
Tanpa ujung.

/4/

Mutia mengenal dusun Cikuya tanpa sengaja
Saat itu ia duduk di bangku kuliah semester 7
IKIP Rawamangun Jakarta
Mengisi liburan semester — Januari 1997
Ia mendaki Gunung Ciremai, Jawa Barat
Bersama kelompok pecinta alam kampus
Cuaca buruk dan tanpa pemandu
Mereka tersesat.

Cahaya lampu
Nun jauh di sana
Petunjuk satu-satunya
Ke mana mereka menuju
Seorang penduduk mengantar mereka
Ke rumah kepala desa
Di sana mereka bermalam
Rumah paling besar di dusun itu.

Pagi hari Mutia terbangun
Lebih awal dari teman-temannya
Berjalan ia sendiri
Menghirup udara segar
Alam desa yang sangat indah.

Mutia teringat tanah kelahirannya
Desa terpencil di Lebak Selatan
Bukit-bukit hijau memanjang
Sungai yang mengalir deras — jernih airnya
Ladang-ladang yang luas
Mutia menghabiskan masa kecilnya di sana
Sebelum pindah ke Jakarta
Bersama orang tuanya.

Tidak jauh dari rumah kepala desa
Berdiri gedung sekolah dasar
Sangat sederhana
Seseorang memarkir sepeda motor
Di halaman sekolah
Mutia menghampirinya
Memperkenalkan diri —
Mahasiswa Ilmu Keguruan di Jakarta
Pecinta alam yang tersesat.

Pria separuh baya itu tertawa
Ia ternyata kepala sekolah
Pak Burhan namanya
Bercerita tentang keadaan sekolah
Tenaga pengajar yang sedikit
Buku bacaan anak-anak di perpustakaan
Yang sudah usang.

Murid-murid mulai berdatangan
Berseragam putih-merah – tanpa sepatu
Memutus percakapan mereka
Mutia segera pulang
Teman-temannya sudah menunggu.

/5/

Mutia berdiri di depan kampusnya yang megah
Mengamati setiap lekuk bangunan
Gedung-gedung fakultas yang berdiri gagah
Mahasiswa-mahasiswi bertampang keren.

Kepala Mutia tiba-tiba terasa berat
Seperti dibentur-benturkan ke tembok
Bangunan SD di dusun Cikuya.

Mahasiswa-mahasiswi lalu lalang
Turun dari kendaraan
Murid-murid SD di sana
Pergi ke sekolah tanpa alas kaki
Baju seragam mereka kumal.

Kenapa kamu, Mutia, pagi-pagi sudah melamun?
Teman sekelasnya, Ferdy, menyapa.

Oh nggak, lagi kurang enak badan aja.
Mutia menjawab sekenanya.

Kalau begitu mari aku antar pulang.

Terima kasih, Fer, aku bisa ikut kuliah kok.

Keduanya berjalan menuju kelas
Tanpa bercakap
Beberapa menit terlambat
Kuliah sudah berlangsung
Dosen sedang menjelaskan
Paedagogi …bla.. bla.. bla…
Andragogi… bla.. bla.. bla…

Mutia tidak tertarik
Pikirannya melayang jauh
Ke dusun Cikuya.

/6/

Menjelang akhir masa perkuliahan
Mahasiswa harus mencari pengalaman mengajar
Mutia menghadap ke bagian akademik
Menyebutkan nama: SD Inpres Cikuya
Tekadnya sudah bulat
Ingin mengabdikan ilmunya di sana.

Surat pengantar dari kampus sudah di tangan
Koper untuk membawa pakaian
Segera disiapkan
Lusa ia akan berangkat.

Teman-teman Mutia merasa heran
Kampung itu terlalu jauh untuk seorang perempuan
Mereka memilih tempat mengajar yang dekat
Di sekolah-sekolah di ibukota
Mutia meneguhkan keyakinan
Ia berangkat sendirian.

/7/

Pak Burhan terkejut melihat Mutia datang
Diantar kepala desa
Biasanya Pak Kades hanya lewat saja, batinnya
Kalau ada undangan rapat warga
Petugas desa yang mengantar.

Dik Mutia ini ingin praktek mengajar di sini, kata Pak Kades
Pak Burhan, kepala sekolah, manggut-manggut
Dipandanginya Mutia — seperti tidak percaya
Tiga bulan lalu
Ia berbincang dengan wanita muda itu
Di halaman sekolah ini
Sekarang dia kembali lagi
Untuk mengajar murid-muridnya.

Dengan tangan terbuka kami menerima
Kebetulan di sini kekurangan guru, kata Pak Burhan

Pak Kades menuturkan
Selama menjalani praktikum mengajar
Mutia akan tinggal di rumahnya
Biaya hidup dan keperluannya
Akan ditanggung oleh kepala desa
Supaya tidak memberatkan sekolah.

Pak Burhan manggut-manggut
Dipandanginya Mutia
Gadis kota, cantik, penampilannya modern
Kenapa dia mau mengajar di sini
Kampung terpencil
Apakah ada sesuatu yang dia cari?

Baiklah kalau begitu saya pamit dulu, ujar Pak Kades
Pikiran Pak Burhan buyar seketika
Disalaminya Pak Kades
Lalu diantar ke gerbang sekolah.

Hari itu Mutia belum mulai mengajar
Pak Burhan hanya menjelaskan silabus
Melihat-lihat lingkungan sekolah
Berkenalan dengan guru-guru.

Besok Ibu Mutia mulai masuk
Mengajar di kelas III, kata Pak Burhan
Tapi jangan kaget, pada jam-jam tertentu
Ibu Mutia harus mengisi kelas-kelas kosong
Maklum kami kekurangan guru, ia melajutkan.

Baik Pak, sampai bertemu besok!
Mutia melangkah pulang
Menuju rumah kepala desa.

/8/

Horeee.. bu guru baru..
Kita punya bu guru baru..
Murid-murid kelas III berteriak
Mutia tersenyum, berdiri di depan pintu
Murid-murid berbaris masuk ke kelas
Satu persatu mencium tangan ibu guru.

Perasaan canggung bercampur gembira
Saat Mutia dipanggil “ibu guru”
Ingatannya melayang ke masa lalu
Saat dia seusia mereka
Mengenakan rok berwarna merah
Apa cita-citamu, Mutia? tanya ibu Soleha waktu itu
Ingin menjadi guru, Bu! jawab Mutia.

Hari pertama mengajar
Mutia mengajukan pertanyaan serupa
Kepada murid-murid di kelasnya
Dan mereka menjawab,
Ingin menjadi guru, Bu!
Sebagian menyebut dokter, insinyur.

Apakah dunia di kampung ini tidak berputar
Guru, dokter, insinyur — Mutia terpana
Semua itu impian anak-anak pada zamannya
Generasi tahun 1970-an
Di kota-kota besar
Impian anak-anak sudah berubah
Menjadi pengusaha, arsitek, pengacara
wartawan, politisi, artis…

Kata Pak Burhan
Anak-anak itu sebenarnya tidak mengerti
Cita-cita yang mereka katakan
Setelah lulus dari sini
Mereka tetap akan ke kota
Menjadi buruh pabrik
Mutia berusaha tertawa — tapi hatinya nyeri
Mendengar penjelasan Pak Burhan.

Mutia mengajar murid-muridnya dengan impian
Imajinasi dibawa ke atas langit
Bulan purnama menyalakan harapan
Bintang-bintang bertaburan
Murid-muridnya senang
Bukan alang kepalang.

/9/

Murid-murid Mutia anak-anak Sunda
Semuanya beragama Islam
Sama dengan teman-teman sekolahnya dulu
Di Lebak Selatan.

Ia mengalami tekanan batin
Saat diajak orangtuanya pindah ke Jakarta
Berinteraksi dengan teman-teman baru
Berlainan suku, bahasa, agama.

Lama ia menutup diri
Menghindari pergaulan
Takut — cemas
Pribadinya menjadi introvert
Sampai usia remaja-dewasa
Sampai ia mampu membebaskan diri
Melalui latihan-latihan peran
Dalam kegiatan teater kampus.

Mutia takut murid-muridnya seperti dia
Tumbuh dengan pikiran terbelenggu
Melihat dunia dari lubang jarum
Di kepalanya ada satu pilihan
Lulus sekolah menjadi buruh pabrik.

Ia mengajak murid-muridnya
Bermain sandiwara
Mempraktikkan hidup di kota besar
Bergaul dengan aneka macam manusia.

Lain waktu mereka diajak bermain peran
Beberapa murid ditunjuk sebagai aktor peraga
Menjadi pejabat tinggi, pengusaha kaya
pengacara, arsitek, wartawan…3)

Pelajaran menggambar lebih beragam
Tidak hanya gunung kembar
Dengan jalan lurus menuju celah gunung
Matahari mengintip di tengah-tengahnya
Mutia memperlihatkan lukisan mahakarya
Para maestro dunia.

Tak jarang Mutia membawa murid-muridnya
Belajar di luar kelas
Di bawah pohon
Di pesawahan sehabis panen
Pikiran anak-anak terbentang
Dunia tidak bertepi.

Murid-muridnya dari kelas I sampai VI
Menganggapnya sebagai teman
Tapi beberapa guru mulai berguncing
Mutia dituduh menyimpang
Tidak mengerti cara mengajar.

Pak Burhan mulai terganggu
Laporan dari para guru datang setiap saat
Mendesak agar Mutia diberhentikan.

Suatu hari ia memanggil Mutia
Menanyakan bagaimana dia mengajar
Mutia menjelaskan A-B-C-D
Mengutip Gordon Dryden hingga Bobby De Porter4)
Guru-guru metode pendidikan kontemporer
Pak Burhan manggut-manggut
Antara mengerti dan tidak.

Jam sekolah usai
Guru-guru dipanggil menghadap kepala sekolah
Tiga guru pria, dua guru perempuan
Pak Burhan menjelaskan tentang Mutia
Sebagian mereka tetap tidak menerima
Mutia dianggap melawan aturan
Ia harus dikeluarkan
Atau Pak Burhan akan kehilangan
Sebagian guru yang menolak Mutia.

/10/

Hampir tiga bulan
Mutia mengajar di SD Inpres Cikuya
Kewajiban dari kampus hanya 1 bulan
Tapi ia memperpanjang sendiri masa praktikumnya
Murid-muridnya senang
Bisa belajar sambil bermain.

Murid-murid perempuan bilang,
Ibu Mutia pintar dan baik
Murid-murid pria bilang,
Ibu Mutia pintar dan cantik
Seperti bintang — enak dipandang.

Guru-guru pria pun diam-diam bersaing
Merebut perhatian Mutia
Rambutnya ikal tergerai
Bulu mata lentik panjang
Tubuh molek dayang sumbi.

Tapi hari itu Mutia tidak datang
Tanpa kabar berita
Pak Kades pun bingung
Pagi tadi, katanya, hujan turun deras
Tapi Mutia tetap berangkat ke sekolah
Membawa payung.

/11/

Senja turun di kaki gunung Ciremai
Gelap menyelimuti dusun Cikuya
Para petani yang pulang dari sawah
Dikejutkan oleh suara meminta tolong
Teriakan yang nyaris tidak terdengar
Dari sebuah gubuk kosong di tepi hutan.

Beberapa orang mendekati arah suara
Mengintip dari celah bilik
Samar-samar – hanya terdengar suara
Tangisan yang tertahan.

Para petani itu saling memandang
Kemudian… braakkk!!
Pintu gubuk dibuka paksa
Seorang perempuan tak berdaya
Mulutnya disumpal kain
Kakinya dibelenggu
Tangan diikat di belakang kursi.

“Ibu Guru!” Mereka mengenalinya
Kain penyumpal dan tali pengikat dilepaskan
Para petani menuntun Mutia
Dibawa ke rumah Pak Kades.

Terbata-bata
Mutia bertutur
Pak Kades menyodorkan air putih
Istrinya mengintip di balik pintu
Pak Burhan menyelinap di antara kerumunan
Orang-orang yang mulai berdatangan
Mutia menarik nafas,

Tadi pagi dua orang pria bertopeng
Mencegat di jalan ke sekolah
Membekap mulut saya
Menyeret saya ke gubuk itu
Mengikat kaki dan tangan saya
Mereka pergi di tengah hujan lebat.

Mutia terisak
Ia tidak melanjutkan ceritanya
Merahasiakan percakapan dua pria bertopeng itu
Samar-samar terngiang
Mereka menunggu perintah selanjutnya
Dari seseorang.

/12/

Pagi itu Mutia berangkat ke sekolah
Diantar Pak Kades
Tiga bulan terasa pendek
Jalan-jalan itu begitu akrab
Gedung sekolah telah menyatu dengan dirinya
Dan anak-anak itu — bagaimana perasaannya
Hari itu dia akan meninggalkan mereka.

Pak Burhan memahami
Mutia harus kembali ke Jakarta
Melanjutkan kuliahnya.

Acara pelepasan dilakukan mendadak
Di halaman sekolah
Murid-murid berbaris, seperti upacara bendera
Pak Burhan menyampaikan kata perpisahan
Mutia menyampaikan salam pamitan
Murid-murid berlari
Menghampiri Mutia

Bu Guru jangan pergi!
Bu Guru jangan pergi!

Mutia terisak
Melambaikan tangan
Berat — kakinya melangkah
Murid-murid mengiringinya
Sambil bernyanyi,

Di timur matahari mulai bercah’ya
Bangun dan berdiri kawan semua
Marilah mengatur barisan kita
Pemudi-pemuda Indonesia…!!

Catatan Akhir

1). Lagu ini diciptakan oleh WR Supratman, yang juga dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

2). SD Inpres adalah sekolah-sekolah tingkat dasar yang didirikan oleh pemerintah antara tahun 1970-1980 melalui Instruksi Presiden (Inpres) No 10 Tahun 1971 dengan tujuan untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan tiingkat dasar khususnya di wilayah-wilayah terpencil. Lihat, http://repository.upi.edu/operator/upload/d_adp_039732_chapter1.pdf

3). Tentang metode pendidikan melalui media sandiwara, bermain peran, dll, lihat buku-buku Utomo Dananjaya, Media Pembelajaran Aktif, Bandung, Nuansa Cendekia, 2010, dan Sekolah Gratis: Esai-Esai Pendidikan Yang Membebaskan, Jakarta, Paramadina, 2005.

4). Gordon Dryden (dan Dr Jeannette Vos) terkenal dengan metode baru pendidikan yang dinamakan revolusi cara belajar. Karya mereka The Learning Revolution telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Kaifa (2000). Bobby De Porter terkenal dengan bukunya Quantum Teaching (Kaifa, 2000). Metode mereka pada umumnya menekankan keterlibatan aktif peserta didik dan proses belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan (fun).

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Pengantar Buku

Menjadi Penulis dan Kaya Raya

GoodWriter

KATA PENGANTAR Oleh DENNY JA
Menjadi Penulis dan Kaya Raya?

Apakah penulis bisa kaya secara materi? Siapa penulis terkaya saat ini? Apa yang ditulisnya? Bagaimana agar bisa seperti mereka? Apakah menjadi kaya raya harus menjadi tujuan utama penulis? Itulah rangkaian pertanyaan yang muncul setelah membaca buku singkat Ahmad Gaus: WriterPreneurship.

Majalah Forbes tahun 2012 memilih 10 penulis terkaya. Di antara mereka yang terkaya adalah James Patterson, dengan penghasilan setahun $94 million. Urutan kedua: Stephen King, dengan penghasilan setahun $39 million. Di antara 10 besar itu terdapat juga nama Bill O’Reilly, dengan penghasilan setahun $24 million.

Menarik!! Penulis di dunia maju bisa sekaya itu. Dalam waktu setahun penghasilan James Patterson mendekati 1 trilyun rupiah. Yang ditulis juga beragam. James Patterson sendiri penulis kuliner. Yang ia tulis resep masakan super lezat, yang membuat bukunya laku jutaan kopi. Stephen King penulis dengan jenis yang lain. Ia menulis novel horor dan misteri. Aneka novelnya dijadikan film. Sementara Bill O’Reilly penulis yang berbeda lagi. Ia banyak menganalisa masalah politik dan menjadi host di TV Fox News.

Menjadi penulis tidak hanya menulis fiksi seperti novel atau puisi. Banyak hal yang bisa direkam dalam buku: resep masakan, riset politik, gosip artis. Dari contoh di atas, materi tulisan yang fiksi, sampai yang sangat serius, semua bisa laku di pasar. Dan banyak jenis tulisan yang ternyata bisa mengantar penulisnya menjadi super rich! Penulisnya tidak hanya kaya, tapi super kaya raya!

-o0o-

Di tahun 20-an, kita mengenal para Founding Fathers seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim. Mereka dikenal sebagai generasi pemikir pejuang dan pejuang pemikir. Umumnya mereka penulis dan intelektual serta menjadi politisi sekaligus. Mereka sangat kaya imajinasi, namun secara material tidak termasuk kaya raya. Di zaman itu bahkan terkesan menjadi penulis atau intelektual itu harus siap hidup secara asketis: kaya batinnya tapi miskin harta. Penulis membuat seseorang harus siap menjadi pemikir dan pejuang. Mereka harus siap hidup sederhana.

Zaman sudah berubah. Penulis yang menjadi pemikir dan pejuang tetap dirindukan. Namun saya sendiri ikut mengkampanyekan perlunya jenis intelektual dan penulis lain. Saya menyebutnya intelektual entrepreneur atau entrepreneur intelektual. Yaitu jenis intelektual yang punya spirit entrepreneurship dan akibatnya kaya raya.

Lebih baik bagi penulis atau intelektual jika ia kaya raya. Dengan menjadi kaya, ia bisa membuat penelitian dan karya secara mandiri. Ia bisa membiayai kegiatan kemasyarakatannya sendiri. Bahkan dengan kaya raya, ia bisa membantu beasiswa untuk orang lain, membangun perpustakaan publik dan kerja sosial. Yang lebih penting lagi, dengan menjadi kaya raya, intelektual atau penulis itu akan punya banyak waktu luang untuk berkarya. Ia juga tidak di bawah kendali orang lain karena ia tidak dibiayai oleh siapapun.

Secara moral, tak ada masalah menjadi kaya. Bahkan saya mengikuti etik calvinis yang dipuji Max Weber. Orang yang kaya di dunia itu, sejauh itu ia peroleh dengan cara yang halal, dan digunakan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan publik, itu adalah tanda orang yang dipilih Tuhan. Saya juga ingin menerapkan prinsip ini untuk dunia penulisan. Penulis yang kaya raya karena karyanya, dengan cara yang halal, adalah penulis yang merupakan “orang pilihan” Tuhan.

Dalam usia menjelang lima puluh tahun, saya banyak berjumpa teman lama yang dulu menjadi intelektual dan penulis yang inspiring. Namun di masa tua, hidupnya serba kesulitan. Ia bahkan tak memiliki biaya untuk berobat ke rumah sakit. Banyak pula yang akhirnya terpaksa bekerja dan “menggadaikan” kapasitas intelektualnya untuk kepentingan yang tak sepenuhnya sejalan dengan visinya.
Saya menganggap ini kesalahan bersikap. Jika sejak awal menjadi penulis dan intelektual selalu dikaitkan dengan hidup sederhana dan rela miskin, itu akibatnya.

-o0o-

Saya sendiri contoh penulis yang melakukan “hijrah” agar bisa kaya raya. Saya mendapatkan rekor MURI sebagai penulis paling produktif yag memiliki program tetap di aneka media sekaligus. Pernah di satu periode, saya menjadi kolumnis tetap beberapa koran yang wajib menulis seminggu sekali di satu koran. Ada tiga sampai lima koran yang harus saya layani sekaligus. Pada saat yang sama saya juga menjadi Host di TV seminggu sekali. Pada saat yang sama saya juga menjadi host di radio seminggu sekali. Semua kerja saya itu sudah dipublikasikan dalam 20 buku sekaligus.

Namun dengan kerja keras seperti itu, tetap saja secara materi tak bisa berlimpah. Sementara saya sudah mempunyai “ideologi,” bahwa penulis harus juga kaya raya. Itulah awal saya melakukan hijrah. Saya mengubah diri saya menjadi penulis jenis lain. Yang saya tulis bukan lagi opini, tapi hasil riset. Target pasar saya bukan lagi publik dan media, tapi pribadi dan partai.

Sayapun menulis begitu banyak hasil survei opini publik. Jika James Patterson penulis terkaya itu menulis resep makan lezat, saya menulis resep untuk menang di pemilu dan pilkada. Bedanya, tulisan survei opini publik saya itu tak bisa dinikmati publik luas. Pembelinya para calon pemimpin yang ingin menang pemilu dan pilkada dengan harga yang mahal sekali. Hidup sayapun berubah.

-o0o-

Buku yang ditulis oleh Ahmad Gaus cukup informatif dari sisi bagaimana menjadi penulis. Bahkan buku ini sangat praktis karena dilengkapi dengan tips dan panduan latihannya. Dengan membaca buku ini, seseorang mudah sekali menguasai ketrampilan menulis.

Yang perlu ditambah dari buku Ahmad Gaus itu justru dari sisi entrepreneurshipnya. Yaitu aneka tips untuk berpikir out of the box, dan menjadi kaya raya melalui penulisan itu. Informasi jenis itu memang tak perlu diberikan oleh buku yang lebih menekankan pada ketrampilan menulis. Sisi entrepreneurship dapat dilengkapi sendiri oleh siapapun yang berminat. Sudah banyak sekali buku yang mengajarkan action plan menjadi kaya raya dari apapun situasinya.

Namun buku Gaus sudah memulai suatu spirit yang benar. Bahwa penulis itu bisa kaya raya dengan karya tulisnya. Saya merevisi pernyataan Gaus itu dengan versi yang lebih keras. Ukuran berhasil atau tidaknya penulis itu adalah kaya raya. Jika ia tidak kaya raya, berarti ia belum menjadi penulis yang berhasil! Ia belum menjadi penulis yang karyanya diburu publik. Ia belum menjadi penulis yang membuat target pasarnya rela mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan manfaat dari karyanya.

Mungkinkah penulis menjadi kaya raya tapi karyanya buruk? Itu hal yang mustahil. Baik dan buruk itu sangat relatif. Tak ada lagi penilaian tunggal mengenai baik dan buruk. Tak ada seorang kritikus di atas sana yang menjadi pemberi fatwa ini karya baik dan itu karya buruk. Publik lah yang menjadi penilainya. Jika karya tulis itu dicari dan pembelinya rela mengeluarkan dana besar untuk karya itu, per definisi itu sudah menjadi karya yang bagus. Mungkin ini kontroversial tapi sehat! ***

*) Denny J.A, seorang intelektual entrepreneur yang kini bergiat dalam gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Buku di atas bisa diperoleh di Gramedia seluruh Indonesia, atau pesan pada penerbitnya via Mahmud: 021.74707560

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Puisi

Para Penyair dan Sastrawan Bicara tentang Buku Puisi Esai Ahmad Gaus

Buku terbaru karya Ahmad Gaus “Kutunggu Kamu Di Cisadane: Antologi Puisi Esai.” (KomodoBook, 2012). Kata Pengantar Oleh: Jamal D. Rahman (Pemimpin Redaksi Majalah Sastra HORISON). /  @AhmadGaus

APA KATA MEREKA tentang BUKU INI

Membaca puisi esai Ahmad Gaus menjadi peluang untuk melihat persoalan kemanusiaan tidak hitam-putih, melainkan penuh kejutan seperti lagu-lagu dangdut Indonesia yang perkasa. – Acep Zamzam Noor, Penyair

Puisi esai adalah gagasan menantang, khususnya bagi penyair yang intelektual. Ahmad Gaus memenuhi tantangan itu. Lewat antologinya ini, ia mencoba menguji kesungguhan kita sebagai bangsa yang bhinneka tunggal ika. – Agus R. Sarjono, Penyair.

Gaus itu peka soal puisi dan tajam soal esai. Ketika ia menulis puisi esai, karyanya asik dibaca karena temanya tajam dan bahasanya indah. – Denny JA, Penulis Buku Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai

Kedalaman sufistik dan ketajaman sosio-antropologis menunjukkan pengalaman empirik penulisnya dalam menyelami kehidupan. Kelima puisi esai ini menarik, menggugah dan mencerdaskan. – Fakhrunnas MA Jabbar, Sastrawan dan Budayawan

Melalui puisi-puisi esainya Gaus memotret dunia yang kongkrit dan merefleksikannya dengan bahasa yang indah dan jernih. – Ahmadun Yosi Herfanda, Penyair dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

_________________________________________________________________________

Pesan buku ini via Mobile: 0818829193/ PIN 21907D51. Jabodetabek Rp35.000.00/ Jawa dan Luar Jawa Rp45.000.00

______________  Follow me at twitter @AhmadGaus  ____________________