Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Penggalan Buku Puisi

Bu Guru Jangan Pergi.. [Puisi Hari Guru]

Kp tanjung lebak

Anak-anak sekolah di Kampung Tanjung, Lebak, Banten, meniti sebuah jembatan rusak yang hanya dihubungkan dengan satu tali terbentang di atas Sungai Ciberang. REUTERS/Beawiharta

BU GURU JANGAN PERGI…

/1/

Hujan lagi di awal Juni
Halaman sekolah seperti kandang sapi
Padahal ini hari Senin — hari upacara
Murid-murid biasanya menaikkan bendera
Mendengarkan amanat kepala sekolah
Mengheningkan cipta
Lalu Ibu Mutia menutup upacara
Sambil mengajak murid-murid
Menyanyikan lagu
Di Timur Matahari1)

Pagi ini hujan turun deras
Murid-murid datang berpayung
Daun talas, daun pisang
Ada juga yang basah kuyup —
Belepotan lumpur
Terpeleset di pematang sawah.

Pukul tujuh kurang lima menit
Lonceng sekolah dibunyikan
Anak-anak berlarian
Guru-guru beranjak dari kursi
Menuju ruang kelas
Buku absensi dibacakan
Pelajaran dimulai.

Ke mana Ibu Mutia
Murid-murid kelas III menunggu
Duduk tertib — tangan dilipat di atas meja
Selesai membaca doa
Tapi Ibu Mutia belum datang juga
Tidak ada kabar berita.

/2/

Di depan pintu ruang kelas III
Pak Burhan menghentikan langkahnya
Perlahan, kepala sekolah itu membuka pintu
Anak-anak, mana Ibu Guru?
Belum datang, Pak! dijawab serempak.

Pak Burhan khawatir
Anak-anak akan belajar tanpa guru lagi
Walaupun sudah terbiasa begitu
Menjadi murid-murid mandiri
Belasan tahun sejak SD Inpres itu berdiri2)
Selalu kekurangan tenaga pengajar
Guru yang ada mengajar segala rupa.

Apakah Ibu Mutia sakit
Apakah tugas mengajarnya sudah selesai
Dan kembali ke kampusnya di Jakarta
Untuk menyusun tugas akhir kuliah
Sebagaimana pernah dikatakannya?
Tidak ada kabar berita.

Kepala sekolah itu memasuki ruang kelas
Baiklah, hari ini Bapak yang mengajar
Menggantikan Ibu Mutia!

/3/

Sekolah itu telah meluluskan ratusan murid
Semuanya warga dusun Cikuya
Orang tua mereka bekerja sebagai buruh
Menggarap sawah milik tuan tanah
Hasil panen habis untuk makan
Anak-anak cukup sekolah sampai SD
Bisa baca-tulis dan hitung

Dengan ijazah SD di tangan
Mereka pergi ke kota
Bekerja di pabrik-pabrik
Setiap bulan mengirimkan uang
Meringankan biaya hidup di kampung.

Anak-anak yang dulu belajar di SD Inpres itu
Telah menikah dan beranak pinak
Lalu kembali menitipkan anak-anak mereka
Kepada Pak Burhan
Di sekolah itu juga
Setelah lulus berangkat ke kota
Menjadi buruh di pabrik-pabrik.

Pak Burhan gundah
Ia seperti memutar nasib warga kampung
Dalam roda kemiskinan yang akut
Diwariskan dari generasi ke generasi
Tanpa ujung.

/4/

Mutia mengenal dusun Cikuya tanpa sengaja
Saat itu ia duduk di bangku kuliah semester 7
IKIP Rawamangun Jakarta
Mengisi liburan semester — Januari 1997
Ia mendaki Gunung Ciremai, Jawa Barat
Bersama kelompok pecinta alam kampus
Cuaca buruk dan tanpa pemandu
Mereka tersesat.

Cahaya lampu
Nun jauh di sana
Petunjuk satu-satunya
Ke mana mereka menuju
Seorang penduduk mengantar mereka
Ke rumah kepala desa
Di sana mereka bermalam
Rumah paling besar di dusun itu.

Pagi hari Mutia terbangun
Lebih awal dari teman-temannya
Berjalan ia sendiri
Menghirup udara segar
Alam desa yang sangat indah.

Mutia teringat tanah kelahirannya
Desa terpencil di Lebak Selatan
Bukit-bukit hijau memanjang
Sungai yang mengalir deras — jernih airnya
Ladang-ladang yang luas
Mutia menghabiskan masa kecilnya di sana
Sebelum pindah ke Jakarta
Bersama orang tuanya.

Tidak jauh dari rumah kepala desa
Berdiri gedung sekolah dasar
Sangat sederhana
Seseorang memarkir sepeda motor
Di halaman sekolah
Mutia menghampirinya
Memperkenalkan diri —
Mahasiswa Ilmu Keguruan di Jakarta
Pecinta alam yang tersesat.

Pria separuh baya itu tertawa
Ia ternyata kepala sekolah
Pak Burhan namanya
Bercerita tentang keadaan sekolah
Tenaga pengajar yang sedikit
Buku bacaan anak-anak di perpustakaan
Yang sudah usang.

Murid-murid mulai berdatangan
Berseragam putih-merah – tanpa sepatu
Memutus percakapan mereka
Mutia segera pulang
Teman-temannya sudah menunggu.

/5/

Mutia berdiri di depan kampusnya yang megah
Mengamati setiap lekuk bangunan
Gedung-gedung fakultas yang berdiri gagah
Mahasiswa-mahasiswi bertampang keren.

Kepala Mutia tiba-tiba terasa berat
Seperti dibentur-benturkan ke tembok
Bangunan SD di dusun Cikuya.

Mahasiswa-mahasiswi lalu lalang
Turun dari kendaraan
Murid-murid SD di sana
Pergi ke sekolah tanpa alas kaki
Baju seragam mereka kumal.

Kenapa kamu, Mutia, pagi-pagi sudah melamun?
Teman sekelasnya, Ferdy, menyapa.

Oh nggak, lagi kurang enak badan aja.
Mutia menjawab sekenanya.

Kalau begitu mari aku antar pulang.

Terima kasih, Fer, aku bisa ikut kuliah kok.

Keduanya berjalan menuju kelas
Tanpa bercakap
Beberapa menit terlambat
Kuliah sudah berlangsung
Dosen sedang menjelaskan
Paedagogi …bla.. bla.. bla…
Andragogi… bla.. bla.. bla…

Mutia tidak tertarik
Pikirannya melayang jauh
Ke dusun Cikuya.

/6/

Menjelang akhir masa perkuliahan
Mahasiswa harus mencari pengalaman mengajar
Mutia menghadap ke bagian akademik
Menyebutkan nama: SD Inpres Cikuya
Tekadnya sudah bulat
Ingin mengabdikan ilmunya di sana.

Surat pengantar dari kampus sudah di tangan
Koper untuk membawa pakaian
Segera disiapkan
Lusa ia akan berangkat.

Teman-teman Mutia merasa heran
Kampung itu terlalu jauh untuk seorang perempuan
Mereka memilih tempat mengajar yang dekat
Di sekolah-sekolah di ibukota
Mutia meneguhkan keyakinan
Ia berangkat sendirian.

/7/

Pak Burhan terkejut melihat Mutia datang
Diantar kepala desa
Biasanya Pak Kades hanya lewat saja, batinnya
Kalau ada undangan rapat warga
Petugas desa yang mengantar.

Dik Mutia ini ingin praktek mengajar di sini, kata Pak Kades
Pak Burhan, kepala sekolah, manggut-manggut
Dipandanginya Mutia — seperti tidak percaya
Tiga bulan lalu
Ia berbincang dengan wanita muda itu
Di halaman sekolah ini
Sekarang dia kembali lagi
Untuk mengajar murid-muridnya.

Dengan tangan terbuka kami menerima
Kebetulan di sini kekurangan guru, kata Pak Burhan

Pak Kades menuturkan
Selama menjalani praktikum mengajar
Mutia akan tinggal di rumahnya
Biaya hidup dan keperluannya
Akan ditanggung oleh kepala desa
Supaya tidak memberatkan sekolah.

Pak Burhan manggut-manggut
Dipandanginya Mutia
Gadis kota, cantik, penampilannya modern
Kenapa dia mau mengajar di sini
Kampung terpencil
Apakah ada sesuatu yang dia cari?

Baiklah kalau begitu saya pamit dulu, ujar Pak Kades
Pikiran Pak Burhan buyar seketika
Disalaminya Pak Kades
Lalu diantar ke gerbang sekolah.

Hari itu Mutia belum mulai mengajar
Pak Burhan hanya menjelaskan silabus
Melihat-lihat lingkungan sekolah
Berkenalan dengan guru-guru.

Besok Ibu Mutia mulai masuk
Mengajar di kelas III, kata Pak Burhan
Tapi jangan kaget, pada jam-jam tertentu
Ibu Mutia harus mengisi kelas-kelas kosong
Maklum kami kekurangan guru, ia melajutkan.

Baik Pak, sampai bertemu besok!
Mutia melangkah pulang
Menuju rumah kepala desa.

/8/

Horeee.. bu guru baru..
Kita punya bu guru baru..
Murid-murid kelas III berteriak
Mutia tersenyum, berdiri di depan pintu
Murid-murid berbaris masuk ke kelas
Satu persatu mencium tangan ibu guru.

Perasaan canggung bercampur gembira
Saat Mutia dipanggil “ibu guru”
Ingatannya melayang ke masa lalu
Saat dia seusia mereka
Mengenakan rok berwarna merah
Apa cita-citamu, Mutia? tanya ibu Soleha waktu itu
Ingin menjadi guru, Bu! jawab Mutia.

Hari pertama mengajar
Mutia mengajukan pertanyaan serupa
Kepada murid-murid di kelasnya
Dan mereka menjawab,
Ingin menjadi guru, Bu!
Sebagian menyebut dokter, insinyur.

Apakah dunia di kampung ini tidak berputar
Guru, dokter, insinyur — Mutia terpana
Semua itu impian anak-anak pada zamannya
Generasi tahun 1970-an
Di kota-kota besar
Impian anak-anak sudah berubah
Menjadi pengusaha, arsitek, pengacara
wartawan, politisi, artis…

Kata Pak Burhan
Anak-anak itu sebenarnya tidak mengerti
Cita-cita yang mereka katakan
Setelah lulus dari sini
Mereka tetap akan ke kota
Menjadi buruh pabrik
Mutia berusaha tertawa — tapi hatinya nyeri
Mendengar penjelasan Pak Burhan.

Mutia mengajar murid-muridnya dengan impian
Imajinasi dibawa ke atas langit
Bulan purnama menyalakan harapan
Bintang-bintang bertaburan
Murid-muridnya senang
Bukan alang kepalang.

/9/

Murid-murid Mutia anak-anak Sunda
Semuanya beragama Islam
Sama dengan teman-teman sekolahnya dulu
Di Lebak Selatan.

Ia mengalami tekanan batin
Saat diajak orangtuanya pindah ke Jakarta
Berinteraksi dengan teman-teman baru
Berlainan suku, bahasa, agama.

Lama ia menutup diri
Menghindari pergaulan
Takut — cemas
Pribadinya menjadi introvert
Sampai usia remaja-dewasa
Sampai ia mampu membebaskan diri
Melalui latihan-latihan peran
Dalam kegiatan teater kampus.

Mutia takut murid-muridnya seperti dia
Tumbuh dengan pikiran terbelenggu
Melihat dunia dari lubang jarum
Di kepalanya ada satu pilihan
Lulus sekolah menjadi buruh pabrik.

Ia mengajak murid-muridnya
Bermain sandiwara
Mempraktikkan hidup di kota besar
Bergaul dengan aneka macam manusia.

Lain waktu mereka diajak bermain peran
Beberapa murid ditunjuk sebagai aktor peraga
Menjadi pejabat tinggi, pengusaha kaya
pengacara, arsitek, wartawan…3)

Pelajaran menggambar lebih beragam
Tidak hanya gunung kembar
Dengan jalan lurus menuju celah gunung
Matahari mengintip di tengah-tengahnya
Mutia memperlihatkan lukisan mahakarya
Para maestro dunia.

Tak jarang Mutia membawa murid-muridnya
Belajar di luar kelas
Di bawah pohon
Di pesawahan sehabis panen
Pikiran anak-anak terbentang
Dunia tidak bertepi.

Murid-muridnya dari kelas I sampai VI
Menganggapnya sebagai teman
Tapi beberapa guru mulai berguncing
Mutia dituduh menyimpang
Tidak mengerti cara mengajar.

Pak Burhan mulai terganggu
Laporan dari para guru datang setiap saat
Mendesak agar Mutia diberhentikan.

Suatu hari ia memanggil Mutia
Menanyakan bagaimana dia mengajar
Mutia menjelaskan A-B-C-D
Mengutip Gordon Dryden hingga Bobby De Porter4)
Guru-guru metode pendidikan kontemporer
Pak Burhan manggut-manggut
Antara mengerti dan tidak.

Jam sekolah usai
Guru-guru dipanggil menghadap kepala sekolah
Tiga guru pria, dua guru perempuan
Pak Burhan menjelaskan tentang Mutia
Sebagian mereka tetap tidak menerima
Mutia dianggap melawan aturan
Ia harus dikeluarkan
Atau Pak Burhan akan kehilangan
Sebagian guru yang menolak Mutia.

/10/

Hampir tiga bulan
Mutia mengajar di SD Inpres Cikuya
Kewajiban dari kampus hanya 1 bulan
Tapi ia memperpanjang sendiri masa praktikumnya
Murid-muridnya senang
Bisa belajar sambil bermain.

Murid-murid perempuan bilang,
Ibu Mutia pintar dan baik
Murid-murid pria bilang,
Ibu Mutia pintar dan cantik
Seperti bintang — enak dipandang.

Guru-guru pria pun diam-diam bersaing
Merebut perhatian Mutia
Rambutnya ikal tergerai
Bulu mata lentik panjang
Tubuh molek dayang sumbi.

Tapi hari itu Mutia tidak datang
Tanpa kabar berita
Pak Kades pun bingung
Pagi tadi, katanya, hujan turun deras
Tapi Mutia tetap berangkat ke sekolah
Membawa payung.

/11/

Senja turun di kaki gunung Ciremai
Gelap menyelimuti dusun Cikuya
Para petani yang pulang dari sawah
Dikejutkan oleh suara meminta tolong
Teriakan yang nyaris tidak terdengar
Dari sebuah gubuk kosong di tepi hutan.

Beberapa orang mendekati arah suara
Mengintip dari celah bilik
Samar-samar – hanya terdengar suara
Tangisan yang tertahan.

Para petani itu saling memandang
Kemudian… braakkk!!
Pintu gubuk dibuka paksa
Seorang perempuan tak berdaya
Mulutnya disumpal kain
Kakinya dibelenggu
Tangan diikat di belakang kursi.

“Ibu Guru!” Mereka mengenalinya
Kain penyumpal dan tali pengikat dilepaskan
Para petani menuntun Mutia
Dibawa ke rumah Pak Kades.

Terbata-bata
Mutia bertutur
Pak Kades menyodorkan air putih
Istrinya mengintip di balik pintu
Pak Burhan menyelinap di antara kerumunan
Orang-orang yang mulai berdatangan
Mutia menarik nafas,

Tadi pagi dua orang pria bertopeng
Mencegat di jalan ke sekolah
Membekap mulut saya
Menyeret saya ke gubuk itu
Mengikat kaki dan tangan saya
Mereka pergi di tengah hujan lebat.

Mutia terisak
Ia tidak melanjutkan ceritanya
Merahasiakan percakapan dua pria bertopeng itu
Samar-samar terngiang
Mereka menunggu perintah selanjutnya
Dari seseorang.

/12/

Pagi itu Mutia berangkat ke sekolah
Diantar Pak Kades
Tiga bulan terasa pendek
Jalan-jalan itu begitu akrab
Gedung sekolah telah menyatu dengan dirinya
Dan anak-anak itu — bagaimana perasaannya
Hari itu dia akan meninggalkan mereka.

Pak Burhan memahami
Mutia harus kembali ke Jakarta
Melanjutkan kuliahnya.

Acara pelepasan dilakukan mendadak
Di halaman sekolah
Murid-murid berbaris, seperti upacara bendera
Pak Burhan menyampaikan kata perpisahan
Mutia menyampaikan salam pamitan
Murid-murid berlari
Menghampiri Mutia

Bu Guru jangan pergi!
Bu Guru jangan pergi!

Mutia terisak
Melambaikan tangan
Berat — kakinya melangkah
Murid-murid mengiringinya
Sambil bernyanyi,

Di timur matahari mulai bercah’ya
Bangun dan berdiri kawan semua
Marilah mengatur barisan kita
Pemudi-pemuda Indonesia…!!

Catatan Akhir

1). Lagu ini diciptakan oleh WR Supratman, yang juga dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

2). SD Inpres adalah sekolah-sekolah tingkat dasar yang didirikan oleh pemerintah antara tahun 1970-1980 melalui Instruksi Presiden (Inpres) No 10 Tahun 1971 dengan tujuan untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan tiingkat dasar khususnya di wilayah-wilayah terpencil. Lihat, http://repository.upi.edu/operator/upload/d_adp_039732_chapter1.pdf

3). Tentang metode pendidikan melalui media sandiwara, bermain peran, dll, lihat buku-buku Utomo Dananjaya, Media Pembelajaran Aktif, Bandung, Nuansa Cendekia, 2010, dan Sekolah Gratis: Esai-Esai Pendidikan Yang Membebaskan, Jakarta, Paramadina, 2005.

4). Gordon Dryden (dan Dr Jeannette Vos) terkenal dengan metode baru pendidikan yang dinamakan revolusi cara belajar. Karya mereka The Learning Revolution telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Kaifa (2000). Bobby De Porter terkenal dengan bukunya Quantum Teaching (Kaifa, 2000). Metode mereka pada umumnya menekankan keterlibatan aktif peserta didik dan proses belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan (fun).

Categories
Penggalan Buku

Hujan Lebat di Pasir Ris

rainBeach

/24/ Hujan Lebat di Pasir Ris

TENDA-TENDA yang berjajar di tepi pantai diterpa angin kencang. Matahari sore membiaskan cahaya merah pudar di kaki langit. Posisi pantai yang terletak di timur laut mata angin itu memang tidak sepenuhnya menyajikan keindahan panorama sunset. Namun keindahan yang sesungguhnya telah terpatri di hati Sally.

Ia merasa semua perhatian dari teman-teman barunya tertumpah kepadanya. Belum pernah ia merasa begitu dimanja — sejak tubuhnya terbenam di dunia yang sangat keras, dunia yang memaksanya untuk berdiri di atas kaki yang lunglai. Kini ia tahu ada dunia lain yang sangat bersemangat. Dunia yang hidup dalam pikiran anak-anak muda yang begitu optimis melihat ke depan.

Ini adalah hari ketiga ia dan Jihan berkumpul bersama teman-teman barunya di Singapura. Kadang ia merasa cemburu kepada Jihan yang begitu mudah berkomunikasi dengan mereka melalui bahasa orang-orang terpelajar yang tidak selalu ia pahami. Tapi Jihan memang berhak atas semua itu karena dia berpendidikan tinggi, berwawasan luas, berparas cantik, bertubuh sempurna, dan semua predikat baik yang pantas disandangkan kepadanya.

Sedangkan dirinya? Seorang perempuan kampung yang hanya sempat belajar satu tahun di perguruan tinggi. Itu pun di kota kecil yang jauh dari fasilitas modern seperti di kota besar. Terlintas rasa sesal bahwa ia pernah mengambil keputusan berhenti kuliah. Tapi perasaan itu segera ditepis. Ia tidak ingin menyalahkan orangtuanya. Situasilah yang memaksanya mengambil keputusan itu. Sejak ayahnya meninggal, ia mengambil tanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga, karena ia anak tertua. Saat itu, Mega adiknya baru duduk di bangku kelas satu SMA dan si bungsu Fitri masih kelas lima SD. Keduanya membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah. Ia harus bekerja. Mengadu nasib di Jakarta. Kota yang kejam bagi mereka yang lemah.

Tapi Sally tidak merasa lemah. Ia hanya merasa sedih. Kesedihan yang mendadak muncul saat ia berada di puncak bahagia, berkumpul bersama anak-anak muda yang tak henti-henti mencandainya dengan cerita-cerita lucu, sambil menunggu sesi barbeque setelah lelah berdiskusi.

Sally merasa gamang untuk tertawa. Hanya senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya. Ia tahu, anak-anak muda itu tulus. Sejak perkenalan beberapa hari lalu, ia merasa mereka bahkan sangat memanjakannya. Jihan yang baik hati seperti sengaja menciptakan situasi agar seluruh perhatian anak-anak muda itu dicurahkan kepadanya. Aaaahh… Jihan memang seperti seorang kakak yang mengemong adiknya. Tapi kini perhatian itu membuatnya jengah. Ia tersudut — oleh perasaannya sendiri.

“Ayo, makanan sudah siap.” Seseorang berteriak.

Tangan-tangan bersilangan di atas meja. Sendok dan garpu beradu. Mulut-mulut mulai mengunyah. Tapi Sally tetap diam. Jihan membantu menyiapkan satu porsi untuknya.

“Makan dulu, Sal,” ujarnya lembut, seperti tahu temannya sedang gelisah memikirkan sesuatu.

“Kamu ingat si peneror itu lagi?”

“Bukan, Jihan, aku ingat ibu dan adik-adikku, kenapa aku tidak memberitahu mereka soal kepergianku ke sini. Firasatku tidak enak.”

“Ah.. itu kan perasaanmu saja, Sal. Ya sudah, kalau begitu kamu hubungi saja mereka sekarang, supaya kamu merasa tenang.”

Saran yang baik. Sally mengambil telepon genggam dari dalam tasnya, berniat menulis pesan kepada adik-adiknya. Namun ia mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali telepon genggam itu. Teman-teman yang lain memperhatikan tingkah laku Sally yang berbeda dari biasanya.

“Sally, kok tidak makan?” tanya Ana.

Mereka yang tengah asik menikmati barbeque menoleh ke arah Sally hampir bersamaan, membuatnya grogi. Tapi ia merasakan semua tatapan itu memancarkan getaran simpati dan perhatian pada dirinya. Tidak ingin merusak suasana, akhirnya ia memutuskan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Jihan.

“Terima kasih, Ana, rasa laparku baru muncul setelah melihatmu makan begitu lahap,” kata Sally. Kelakarnya memancing gelak tawa.

-o0o-

“Jangan pergi terlalu jauh, Sal,” teriak Jihan.

“Tidak, aku cuma mau menikmati angin pantai,” jawab Sally.

Pasir putih terhampar seperti butiran mutiara. Cahaya matahari sore yang masih tersisa hanya mampu mengintip dari balik awan yang mulai menebal. Anak-anak remaja berwajah oriental berkejaran di atas pasir basah. Tawa mereka berderai saat lidah ombak berhasil menyentuh kaki-kaki putih telanjang.

Sally terus melangkah menyusuri tepian pantai. Semakin menjauh dari teman-temannya yang kembali melanjutkan obrolan sehabis makan. Angin yang menerpa wajahnya terasa basah, entah karena mengandung butiran air laut atau rintik gerimis. Ia tidak peduli. Kakinya terus diayunkan.

Tiba-tiba ia teringat Bahar. Ia merasa bersalah telah menyia-nyiakan cinta pria itu. Mungkin ia akan lebih nyaman bersama Bahar, karena sama-sama dari kampung. Bukan bersama teman-teman barunya yang semuanya orang pandai — berpendidikan tinggi. Mereka lebih cocok dengan Jihan, gadis kota yang sangat mandiri, cantik, dan intelek.

Sally merindukan Bahar ada di sisinya. Tapi di mana Bahar sekarang? Apakah ia sudah kembali bekerja di kapal pesiar di Thailand setelah pertemuannya di kampung hanya meninggalkan perasaan kecewa, sebab Sally tidak memberinya kepastian apapun.

Kini Sally merasa itu adalah tindakan yang bodoh, yang membuatnya sangat tersiksa. Ia ingin Bahar ada di sampingnya. Bergandengan tangan. Berkejaran. Bergulingan di atas pasir — seperti pernah mereka lakukan saat di kampung, di kaki bukit, di area perkebunan tomat. Kalau hujan deras mengguyur ia ingin berada dalam pelukan pria itu. Berdua saja mencari tempat berlindung, atau membiarkan hujan membasahi tubuh mereka. So sweet…!!

Dan ilusi itu terlalu kuat untuk ditepis. Sosok Bahar menguasai pikirannya, dan menjelma di hadapannya.

“Kang Bahar.”

“Salimah.”

“Kok ada di sini?”

“Kenapa Kang Bahar juga ada di sini?”

“Kapalku merapat karena cuaca buruk, tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Thailand.”

“Kalau saya sedang bersembunyi, Kang.”

“Bersembunyi? Dari siapa?”

“Dari orang-orang yang akan membunuhku.”

“Siapa yang akan membunuhmu, Limah? Memang kamu salah apa?”

“Aku tidak salah, Kang, tapi aku dijebak.”

Sekonyong-konyong suara petir menggema. Sally tersentak. Tubuhnya limbung. Bahar meraih tubuh itu. Tubuh yang sudah sangat dikenalnya. Suara petir kembali menyalak. Kali ini disertai hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya. Bahar membopong tubuh Sally, membawanya berlindung di bawah pohon.

Di tempat lain Jihan dan teman-temannya berlarian meninggalkan tenda yang meliuk-liuk diterjang angin dan hujan deras. Tempat yang aman ialah ruang dalam restoran. Tapi pengunjung yang terlalu banyak dan semua masuk ke dalamnya membuat restoran yang luas itu terasa sempit.

“Man Sally? Mana Sally?” Beberapa orang bertanya kepada Jihan. Tampak wajah-wajah yang cemas.

“Tadi pergi ke sana.” Jihan menyahut, menunjuk ke satu arah.

“Kamu susullah dia, Imran, nanti dia tersesat.” Suara Rosnidar bergetar.

Bagaikan mendapat aba-aba, Imran dan kawan-kawan bergegas menerobos hujan. Berlari ke arah yang ditunjuk oleh Jihan. Suara petir bersahutan dengan debur ombak. Mereka terus berlari. Berharap bisa menemukan Sally. Sebelum langit benar-benar gelap.[]

________________
Tulisan di atas adalah cuplikan dari novel terbaru saya yang akan terbit Januari 2013, berjudul PENULIS HANTU.

Saran/respon via Twiter: @AhmadGaus FaceBook: Gaus Ahmad email: gausaf@yahoo.com PIN 21907D51

Categories
Penggalan Buku Puisi

Hukum Bermazhab dalam Sastra dan Pintu Ijtihad Puisi yang Tidak Pernah Ditutup

Pengantar untuk Buku Puisi Esai:
KUTUNGGU KAMU DI CISADANE
Oleh Ahmad Gaus

Duapuluh tahun kemudian saya kembali menulis puisi. Selama rentang waktu itu saya hanya menulis artikel opini atau kolom di media massa, serta sejumlah buku. Dunia puisi sudah saya tinggalkan, dan nyaris tidak pernah diingat lagi. Saya sudah menganggapnya sebagai masa lalu, catatan kelam dalam karir kepenulisan saya.

Tahun 1991 adalah puncak kebencian saya terhadap puisi—kurun waktu di mana saya banyak menulis dan mengirimkan puisi-puisi saya ke media massa, tapi tidak pernah dimuat. Akhirnya saya muat sendiri dalam majalah mahasiswa yang saya pimpin. Mungkin ini pelajaran penting: seorang penulis tidak perlu bisa menuangkan gagasannya ke dalam semua bentuk tulisan. Saya merasa tidak berbakat menulis karya fiksi seperti puisi dan cerpen (cerita pendek). Ada cerpen yang saya tulis sejak tahun 2007 dan sampai sekarang belum juga selesai. Ada juga puisi yang saya selesaikan selama 3 tahun, padahal puisi itu pendek saja. Mungkin karena saya menuliskannya dengan keraguan yang sempurna—keraguan bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair!

Tetapi, saya memang tidak bercita-cita menjadi penyair. Bahkan sampai sekarang. Perkara dulu—saat remaja—saya suka menulis puisi, biasanya karena sedang jatuh cinta. Ada juga puisi-puisi yang saya tulis karena perasaan “dendam” kepada sejumlah penyair yang begitu licik bermain dengan kata-kata. Sejak duduk di bangku Tsanawiyah/SMP saya membaca puisi-puisi karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan yang lainnya, dengan kekaguman yang meletup-letup. Lalu saya mencoba meniru mereka, menulis puisi. Kemudian saya mengirimkannya ke media massa. Untuk sebagian besar saya tidak tahu nasib puisi-puisi itu, mungkin masuk dalam keranjang sampah. Ada juga redaksi yang berbaik hati mengembalikannya dalam amplop tertutup, dan saya membukanya dengan tangan gemetar di toilet sekolah. Isinya selalu saja: Anda belum beruntung!

Maka saya segera memutar haluan. Energi dan waktu tidak ingin lagi disia-siakan untuk sesuatu yang tidak pasti. Saya kembali melanjutkan kebiasaan menulis artikel opini. Sejak duduk di bangku kelas 2 Aliyah/SMA artikel dan esai saya sudah dimuat di beberapa koran. Saya masih ingat honor pertama saya dikirimkan melalui pos wesel dan nyangkut di Balai Desa. Bapak Ketua RT di kampung saya, Haji Aman namanya, memberikannya kepada saya saat bertemu di mushalla sebelum salat magrib. Sambil menyerahkan itu, entah mengapa dia begitu iseng mengumumkan kepada para jamaah salat magrib jumlah yang tertera dalam wesel sebesar Rp7.500,00. Itu tahun 1986.

Ketika mulai duduk di bangku kuliah, tulisan-tulisan saya mengalir lebih deras. Bahkan saat duduk di semester empat, saya diberi kehormatan untuk mengisi kolom tetap di harian Jayakarta (kalau tidak salah diterbitkan oleh Kodam Jaya). Koran itu, seperti juga koran-koran lainnya hanya membuka rubrik budaya pada edisi minggu. Saya pun kerap membaca puisi-puisi dari para penyair yang tersebar di koran-koran edisi minggu itu. Tentu saja saya juga membaca majalah sastra seperti Horison. Jadi, walaupun tidak menulis puisi, diam-diam saya tetap menikmatinya.

Hampir semua puisi yang saya baca di media massa sebenarnya merupakan puisi yang sulit untuk dipahami. Saya sendiri menikmatinya bukan terutama karena saya dapat memahaminya, melainkan justru karena saya tidak memahaminya. Ada pola yang—entah dari mana dan sejak kapan—membentuk semacam kesadaran dalam diri saya bahwa semakin sulit sebuah puisi dipahami, semakin baik bagi saya. Semakin abstrak bahasanya semakin indah.

Membaca puisi ialah memasuki lorong-lorong gelap yang saya tidak tahu apakah di kiri-kanannya ada ranjau dan di ujung sana ada jurang. Tapi saya sudah terbiasa menikmati berada di dalam kegelapan itu. Sebuah puisi—seperti juga sebuah lukisan—yang mendorong lahirnya banyak penafsiran menunjukkan kekayaan makna puisi tersebut. Guru bahasa Indonesia saya di SMA dulu mengatakan bahwa puisi Chairil Anwar yang berjudul “Nisan” ditafsirkan berbeda-beda oleh para pengamat sastra asing. Begitu juga puisi pendek dari Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran, isinya hanya satu baris /”Bulan di atas kuburan”/ namun menimbulkan ragam penafsiran. Semakin banyak tafsir semakin baik, karena itu berarti puisi tersebut sangat kaya makna.

***
Belakangan saya tahu bahwa pola pikir semacam itu tidak bebas pengaruh. Ada semacam discourse dalam dunia perpuisian yang menghegemoni kesadaran publik bahwa yang disebut puisi ialah “ini”, bukan “itu”. Estetika puisi ialah “begini”, dan bukan “begitu”. Mungkin itu yang membuat puisi semakin rigid. Dunianya dikelilingi oleh tembok tinggi, di dalamnya hanya terdapat para penyair yang duduk satu meja dengan sesama penyair sambil minum anggur, mendiskusikan hal-hal penting tentang senja dan pohon cemara. Sementara itu—mengutip Chairil Anwar—“mereka yang bukan penyair tidak ambil bagian.”

Di tangan para penyairlah, hidup dan matinya puisi dipertaruhkan. Publik tidak ambil bagian karena mereka hanya konsumen—seperti umat dalam tradisi keagamaan yang harus ikut saja apa kata ulama. Hukum mana yang boleh diikuti dan tidak, sudah ada ketentuannya. Para penyair juga kerap diperlakukan seperti ulama yang kepada mereka dinisbatkan mana karya puisi dan mana yang bukan, mana sekte kepenyairan yang benar dan mana aliran sesat. Puisi-puisi jenis baru tidak tercipta karena seakan-akan ada paham bahwa “pintu ijtihad sudah ditutup”. Para penyair baru harus mengikuti saja salah satu mazhab yang sudah ada.

Jika benar begitu, maka inilah saat dimana dunia perpuisian sebenarnya justru membutuhkan lahirnya tradisi baru yang memberi nafas baru bagi dunia literasi. Sejarah kesusastraan di tanah air mencatat adanya dinamika pembaruan semacam itu, dan meletakkannya dalam arus perubahan budaya. Begitulah pergeseran dari Angkatan Balai Pustaka ke Pujangga Baru, kemudian Angkatan 1945, dan seterusnya. Karena itu, kelahiran tradisi baru dalam penulisan puisi sejatinya akan memulihkan fungsi pembaruan dalam kesusastraan.

Atas dasar itu, saya sangat terkesan bahwa seorang Sapardi Djoko Damono memberi apresiasi yang begitu besar terhadap puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta. Kita tahu bahwa Sapardi merupakan salah satu “paradigma” dalam dunia perpuisian modern di tanah air. Ia menjadi kiblat bagi banyak penyair muda. Karya-karyanya diakui telah menjelma menjadi kerajaan estetika tersendiri—estetika lirisisme, seperti yang mengemuka dalam diskusi “Imperium Puisi Liris” di Bentara Budaya Jakarta, Maret 2008. Sebagian karya puisi yang lahir dari tangan penyair-penyair muda, saya kira, juga bercorak sapardian.

Puisi-puisi esai karya Denny JA adalah kekecualian terhadap paradigma sapardian tersebut. Puisi sapardian bercorak liris, sementara puisi Denny JA bercorak esai—maka kemudian diberi nama “puisi esai”, sebuah gabungan istilah yang juga baru dalam kesusastraan Indonesia.

Kenyataan bahwa Sapardi memberi apresiasi dan dorongan bagi lahirnya karya-karya puisi jenis baru, memperlihatkan bahwa ia tidak ingin melihat puisi Indonesia terperangkap dalam statisme. Ada kerinduan terhadap terobosan, karena selama puluhan tahun penulisan puisi mengalami stagnasi, tidak ada perubahan yang berarti. Padahal, “pintu ijtihad” untuk menciptakan puisi-puisi jenis baru tidak pernah ditutup, dan mazhab-mazhab dalam sastra juga bermunculan, misalnya dulu ada mazhab sastra realisme sosial, mazhab sastra untuk sastra—yang merupakan derivasi dari ideologi seni untuk seni (l’art pour l’art), mazhab sastra kontekstual yang dipelopori oleh Ariel Heriyanto dan Arief Budiman, dan belakangan ada mazhab sastra dakwah.

***
Saya sendiri, pada mulanya, membaca puisi-puisi esai Denny JA dengan perasaan heran dan penuh tanya; ini puisi atau bukan? Kok penuturannya bercerita. Rupanya pengaruh paradigma lirisisme masih sangat kuat dalam kesadaran saya, sehingga nyaris kehilangan perspektif untuk menilai sebuah karya puisi yang bukan dari mazhab lirisisme.

Setelah berulang-ulang membacanya, saya meyakini puisi jenis ini sebenarnya yang biasa dibaca di panggung-panggung agustusan karena mudah dipahami. Saya menyebut panggung agustusan untuk menunjukkan bahwa popularitas sebuah puisi ialah ketika ia dibaca oleh masyarakat awam di atas panggung, dan agustusan adalah panggung yang paling populis.

Membaca puisi esai mengingatkan saya pada jenis tulisan opini. Di dalamnya ada gagasan yang tidak disembunyikan. Dituangkan dalam format puisi, namun cara bertuturnya esai. Yakni, dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Bukankah puisi itu sendiri sebenarnya ialah komunikasi? Saya berpikir bahwa siapa saja bisa membuat puisi semacam ini—yang bukan penyair pun bisa ambil bagian!

Maka saya mulai menulis kembali puisi, setelah lebih dari dua puluh tahun tidak melakukannya. Melalui puisi esai, saya menemukan cara baru beropini. Dan inilah lima buah puisi esai saya yang dimuat dalam antologi ini, yang semuanya memotret dinamika kehidupan sosio-politik dan religius di tanah air beserta para aktornya.
***

Seperti halnya ritual-ritual dalam agama Islam yang saya peluk, dimana ada hukum yang fleksibel untuk mengikuti salah satu mazhab, maka pilihan saya untuk bermazhab pada puisi esai ini pun ada di dalam kerangka fleksibilitas tersebut. Sebagai penganut mazhab Syafii saya tidak menuduh sesat penganut mazhab Hanafi, Hanbali, Maliki, bahkan Dja’fari (Syiah). Sebagai penganut mazhab puisi esai, saya juga tidak hendak menisbikan mazhab puisi liris, puisi eMbeling, dan sebagainya. Bahkan saya tetap mengapresiasi, menikmati, dan seandainya mampu, mencipta puisi-puisi jenis itu.

Kiranya tidak perlu saya menjelaskan satu persatu dari lima puisi esai saya yang dimuat dalam buku ini. Saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya. Sebagai mazhab baru dalam sastra Indonesia, puisi esai niscaya terus mencari bentuk melalui berbagai kreasi, walaupun mungkin tidak akan ada, dan memang tidak perlu ada, bentuk final dan standar. Puisi-puisi saya ini boleh jadi hanya salah satu varian saja dari apa yang dinamakan puisi esai itu.

Sebelum menutup pengantar ini, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tulus kepada banyak pihak yang memungkinkan terbitnya buku ini. Pertama-tama saya harus berterima kasih kepada Denny JA yang terus mendorong agar buku ini segera diterbitkan. Kritik, saran, dan masukan-masukannya telah menjadi bagian dari karya ini baik yang disampaikan melalui email maupun dalam berbagai pertemuan di Ciputat School—sebuah forum yang difasilitasi oleh Denny JA untuk menginspirasi pencerahan budaya.

Teman-teman lain di Ciputat School yang membaca naskah awal puisi-puisi ini juga ikut memberi masukan, bahkan kritik yang pedas, sehingga acapkali saya tidak bisa tidur nyenyak atas kritik-kritik tersebut. Namun saya tahu semuanya dilakukan dengan tulus demi kesempurnaan yang relatif. Para pegiat Ciputat School yang saya maksud ialah: Elza Peldi Taher, Jonminofri, Ihsan Ali Fauzi, Zuhairi Misrawi, Anick HT, Neng Dara Affiah, Novriantoni Kahar, Budhy Munawar-Rachman, Nur Iman Subono, Ali Munhanif, Jojo Rahardjo, dan lain-lain yang tidak cukup halaman untuk menyebutkannya satu persatu.

Teman-teman di Jurnal Sajak juga telah banyak memberi dukungan. Mereka adalah Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Tugas Suprianto, dan khususnya Jamal D Rahman, yang bersedia meluangkan waktu menulis kata pengantar untuk buku ini.

Akhirnya, buku ini dipersembahkan kepada para bidadari yang selalu menyemarakkan hari-hari saya dengan canda dan tawa mereka: istri tercinta, Jumiatie Zaini dan anak-anak kami, Alifya Kemaya Sadra dan Raysa Falsafa Nahla, serta keponakan kami yang tinggal bersama kami, Winda Widyana.
Karya ini jelas sangat jauh dari sempurna untuk dipublikasikan. Namun saya berpegang pada satu adagium di dunia penulisan: Terbitkan karyamu hari ini, besok engkau buat yang lebih baik lagi! Selamat membaca.

Ciputat, 1 Juli 2012
Ahmad Gaus

_________________________________________________________________________________________________________
Buku KUTUNGGU KAMU DI CISADANE tersedia di gerai-gerai Gramedia. Anda juga bisa memesan melalui alamat2 di bawah ini:

FB: Gaus Ahmad
Twitter: @AhmadGaus
Email: gausaf@yahoo.com
PIN: 21907D51
_________________________________________________________________________________________________________

Categories
Penggalan Buku

Fadilah Surat Al-Fatihah

Buku yang merekam perjalanan hidup Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan-pemikir paling kontroversial dengan gagasan-gagasan yang menggetarkan.

Kutipan dari buku Api Islam:

Fadilah Surat Al-Fatihah. Jakarta berdarah. Sore itu, 12 Mei 1998, hari-hari panjang demonstrasi mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, berakhir duka. Kerumunan mahasiswa yang terkonsentrasi di depan kampus Trisakti, Jakarta Barat, berlarian tunggang langgang sesaat setelah terdengar letusan senjata api. Empat orang mahasiswa tersungkur, dan tewas. Di tengah keremangan malam yang mulai merambat jeritan mahasiswa demonstran bersahutan dengan bunyi letusan senjata. Dan malam itu pula, gerakan reformasi berada di puncak gamang: Apakah tentara berpihak pada rezim yang ingin mereka rubuhkan?

Tampaknya tidak semua tentara. Sore di hari yang sama Nurcholish sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa perwira tentara di Hotel Hilton yang mengundangnya untuk memberi masukan-masukan mengenai situasi politik. Tapi pertemuan itu segera bubar karena tiba-tiba Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono—saat itu Kepala Staf Teritorial/Kaster ABRI, yang memprakarsai pertemuan—mendapat laporan tentang penembakan di Trisakti itu.

Rabu, 13 Mei, Jakarta dibakar api kerusuhan. Buntut penembakan di Trisakti telah mengobarkan kemarahan massa. Tapi siapa yang menyulut api, siapa yang merusak gedung-gedung, siapa yang mengerahkan massa untuk menjarah pusat-pusat perbelanjaan, dan menimbulkan situasi chaos di mana-mana? Tidak ada yang tahu! Aparat keamanan hanya berjaga-jaga di jalan-jalan. Saat itu Presiden Soeharto sedang berada di Kairo, Mesir, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Kelompok 15 (G-15). Pada 13 Mei, Soeharto bertemu masyarakat Indonesia di Kedutaan Besar Indonesia di Kairo. Ucapan Soeharto dalam pertemuan itu muncul menjadi berita utama harian Kompas dengan judul, ”Bila Rakyat Tidak Menghendaki, Presiden Siap Mundur”.

Pertemuan di Mabes ABRI

Suasana di tanah air masih mencekam. Pada 14 Mei, Susilo Bambang Yudhoyoni kembali mengundang Nurcholish ke Mabes ABRI di Cilangkap, untuk melanjutkan pertemuan dua hari sebelumnya di Hilton. Nurcholish menyiapkan butir-butir pikiran yang akan disampaikan di Mabes untuk mengakhiri situasi yang makin tidak menentu. Intinya, ia mengusulkan Presiden Soeharto mudur, namun tetap dengan cara yang baik. Maka, butir-butir pikiran itu ia beri judul “Semuanya Harus Berakhir dengan Baik” (husnul khatimah).

Dalam perjalanan, ia ditelpon oleh Goenawan Mohamad yang mengingatkan tentang agenda pertemuan antara Goenawan, Amien Rais, Nurcholish, dan beberapa yang lain di tempat Toeti Herati. Goenawan kaget ketika Nurcholish mengatakan ia sedang dalam perjalanan ke Mabes ABRI. Spontan dia tanya, mau apa? Mau menyampaikan pikiran, jawab Nurcholish. Lalu ia membacakan pokok-pokok pikirannya kepada Goenawan Mohamad.

Di Cilangkap, di depan sebuah tim yang terdiri dari para perwira tinggi militer, Nurcholish membacakan pokok-pokok pikirannya dalam dua halaman. Semuanya ia tujukan kepada Presiden Soeharto yang ia minta untuk menyampaikan pidato di depan rakyatnya dan mengakui telah membuat kesalahan serta meminta maaf atas kesalahan tersebut. Selanjutnya ia mengusulkan beberapa hal yang harus disampaikan Presiden Soeharto sebagai berikut:

1.  Menegaskan tekad untuk memimpin sendiri tindakan melancarkan koreksi total terhadap berbagai penyimpangan dan penyelewengan di segala bidang, khususnya yang terjadi pada masa‑masa terakhir ini.

2.  Menyesalkan terjadinya krisis moneter dan ekonomi dahsyat (yang juga telah melanda negara‑negara tetangga) ini, meskipun sebetulnya tidak seorang pun dapat meramalkan bakal terjadi (seperti diakui oleh James Wolfensohn, Presiden Bank Dunia sendiri), dan meskipun para ahli kemudian dapat menerangkan sebab‑sebabnya.

3.  Menyudahi semua kekeliruan itu, khususnya yang menyangkut proses‑proses kebijakan politik yang mengakibatkan terjadinya kolusi, korupsi, kroniisme dan nepotisme.

4.  Akan mengadakan reshuffle kabinet sehingga menteri‑menteri yang anti‑reformasi dan yang tidak mendapat simpati rakyat dapat diganti dengan tokoh‑tokoh pro‑reformasi dan yang mendapat simpati rakyat.

5.  Menyatakan bersedia mundur dari jabatan kepresidenan secepat mungkin melalui cara‑cara damai dan konstitusional.

6.  Bersama seluruh rakyat dan segenap jajaran ABRI bertekad memulihkan kesehatan ekonomi nasional dan melaksanakan reformasi sosial‑politik menyeluruh, membimbing bangsa Indonesia memasuki tahun 2000 dan millenium ketiga.

7.  Berseru kepada seluruh rakyat untuk mendukung pelaksanaan tekad itu dalam semangat ketabahan dan kesediaan berkorban yang setinggi‑tingginya.

8.  Untuk memulai itu semua, Presiden dan seluruh keluarga Presiden bersedia menyerahkan kekayaan pribadi mereka untuk kepentingan bangsa dan negara.

9.  Reformasi sosial‑politik harus segera dituangkan dalam ketentuan‑ketentuan legal‑formal‑konstitusional, dengan mengubah semua perundang‑undangan sosial‑politik yang ada, dan menghapus sama sekali ketentuan‑ketentuan yang menghasilkan sistem masyarakat yang tidak adil, terbuka dan demokratis.

10.     Berdasarkan undang‑undang politik baru itu, harus segera diadakan pemilihan umum, paling lambat sudah terlaksana pada tanggal 10 Januari (Hari Ampera), tahun 2000.

11.     Dalam waktu dua bulan, harus sudah berlangsung Sidang Umum MPR hasil pemilihan umum itu, dan pada tanggal 11 Maret (Hari Supersemar), tahun 2000, sudah terpilih Presiden dan Wakil Presiden baru, yang kemudian harus membentuk kabinet melalui proses terbuka dalam waktu satu bulan.

12.     Tenggang waktu selama 20 bulan dari sekarang sampai terselenggaranya pemilihan umum 10 Januari 2000 tersebut digunakan sebaik‑baiknya untuk melaksanakan sebagian usaha pemulihan ekonomi di bidang yang paling mendesak (seperti penyediaan sembilan bahan pokok yang secukup‑cukupnya), dengan memanfaatkan sebaik‑baiknya janji bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Menurut Nurcholish, dengan cara itu maka kepemimpinan Presiden Soeharto dapat berakhir secara husnul khatimah. “Inilah jalan keluar terbaik, jalan tengah, yang mengandung semangat menang sama menang (win‑win solution) dan tidak ada pihak yang merasa dipermalukan,” ungkapnya. Selesai dibacakan, reaksi para jenderal beragam. Ada yang bilang: Nah, sekarang ada jalan keluar. Ada juga yang bertanya: Lantas siapa yang mau menyampaikan ini kepada Presiden Soeharto? Ternyata, tidak ada yang berani.

Nurcholish izin pulang. Tapi, kerusuhan masih berkobar. Malah, makin tak terkendali, sehingga orang-orang di Mabes ABRI menganjurkan supaya ia tetap berada di sana. Tapi Nurcholish tetap bersikeras untuk pulang karena kuatir dengan keluarga. Beberapa personel tentara mengawalnya sampai ke rumah. Sepanjang jalan suasana Jakarta seperti neraka yang dipenuhi kobaran api. Motor, mobil, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dibakar massa

Doa Saadillah Mursyid

Keesokan harinya, Jumat 15 Mei, Malik Fadjar mengusulkan agar poin-poin pikiran Nurcholish itu disampaikan kepada Presiden Soeharto melalui Quraish Shihab, sebagai Menteri Agama dengan memakai momen Jumatan di Masjid Baiturrahim, Kompleks Istana. Pagi itu Soeharto akan tiba di  Jakarta dari lawatan ke Mesir. Pagi-pagi sekali Nurcholish dan Malik Fadjar menuju kediaman Quraish Shihab. Ternyata Quraish Shihab tidak bisa Jumatan dengan Presiden Soeharto karena menerima delegasi Muslimat NU, sampai mepet dengan waktu Jumatan. “Kalau menunggu ada yang mau menyampaikan kepada Pak Harto tidak sampai-sampai, karena para jenderal pun tidak ada yang berani, ya kita harus cari cara lain,” ujar Nurcholish.

Cara lain itu diusulkan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib: bergerilya melalui pers. Maka pada Minggu 17 Mei Nurcholish dan kawan-kawan mengadakan konferensi pers di Hotel Wisata. Besoknya, Senin 18 Mei, hasil konferensi itu dimuat di media massa. Dan itu dibaca oleh Saadillah Mursyid, Menteri Sekretaris Negara. Hari itu ia mengontak Nurcholish dan memintanya untuk bertemu. Nurcholish datang ke kantor Saadillah, dan di situ sudah ada Fahmi Idris, Utomo Dananjaya, dan beberapa yang lain. Di situ mereka kembali menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam konferensi pers yang sebenarnya ditujukan untuk Presiden Soeharto.

Ternyata, Saadilah menyetujui semua pikiran tersebut dan berjanji akan menyampaikannya kepada Presiden Soeharto hari itu juga. Ia mengatakan bahwa dirinya memang sedang mencari bahan yang akan disampaikan kepada Presiden Soeharto, karena sepanjang perjalanan dari Mesir Soeharto selalu menanyakan soal itu. Saadillah terutama terkesan dengan usulan husnul khatimah (berakhir dengan baik)dari Nurcholish, karena seandainya Presiden Soeharto harus turun, pikirnya, ia tidak boleh dinistakan. Saadillah lalu memejamkan mata, berdoa. Nurcholish dan kawan-kawan tahu ia sedang menguatkan hati. Kemudian mereka bersama-sama membaca surat al-Fatihah, agar pesan itu sampai kepada Presiden Soeharto.

Diundang ke Cendana

Dari kantor Saadillah Mursyid, Nurcholish menuju kantor Majalah Ummat untuk bertemu dengan Amien Rais dan kawan-kawan dari unsur-unsur gerakan reformasi untuk merencanakan seruan kepada masyarakat agar membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran pada 20 Mei untuk memaksa Soeharto mundur.  Pembatalan itu dilakukan karena Amien Rais telah membaca gelagat akan timbul bentrokan antara rakyat dengan tentara, setelah ia menyaksikan sendiri tank-tank panser bersiaga di sudut-sudut jalan. Disepakati seruan akan dilakukan melalui televisi.  Setelah itu Nurcholish pulang.

Baru menginjakkan kaki di lantai rumahnya, ia menerima telepon dari Saadillah Mursyid, yang menyampaikan bahwa Soeharto ingin bicara. Di ujung telepon Soeharto bercakap kepada Nurcholish dan memintanya datang ke kediamannya di Jl. Cendana saat itu juga. Nurcholish menjawab bahwa ia tidak bisa pergi karena blokade keamanan yang begitu ketat. Lalu dikirimlah mobil dari Cendana disopiri seorang perwira menengah bernama Joko. Nurcholish dibawa masuk ke rumah Soeharto lewat pintu belakang karena pintu depan dipenuh wartawan.

Ditemani Saadillah Mursyid, Nurcholish duduk berhadapan dengan Soeharto. Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Setelah saling menyapa dan menanyakan kabar masing-masing, Soeharto meminta Nurcholish untuk menceritakan apa yang sedang terjadi di luar. Menganggap itu sebagai kesempatan baik, Nurcholish menuturkan secara detil aks-aksi reformasi yang berujung pada kerusuhan besar yang melanda Jakarta ketika Soeharto sedang berada di Mesir (11-15 Mei). Dan hari ini, 18 Mei, kata Nurcholish, elemen-elemen gerakan reformasi telah menduduki gedung DPR/MPR. “Karena itu saya datang ke sini tidak dengan pertimbangan bulan atau hari, pertimbangan per jam juga tidak, malah per menit juga tidak. Saya datang ke sini dengan pertimbangan detik per detik.”

Soeharto mendengarkan dengan tekun. Lalu dengan lugu ia bertanya, “Reformasi itu apa, sih, Cak Nur?” Akhirnya momen yang ditunggu itu datang, dan Nurcholish segera menyahut, “Reformasi itu artinya Pak Harto turun.” Mendengar itu, Soeharto tertawa cekakakan sambil mengangkat  tangannya, ya saya turun, saya sudah kapok jadi presiden, katanya. Lalu Soeharto menyatakan, “Saya dari dulu memang ingin turun. Tetapi soalnya adalah, oleh Harmoko dan teman‑temannya di MPR saya ini diapusi, dibohongi, bahwa rakyat masih membutuhkan saya, malah didorong‑dorong, dipaksa‑paksa untuk naik lagi.”

Soeharto lalu mengatakan bahwa ia akan segera mengumumkan pengunduran dirinya.

“Kapan?” tanya Nurcholish.

“Besok,” jawab Soeharto.

“Lho, kok cepat sekali?” Nurcholish kaget.

“Lho, katanya tadi hitungannya detik,” Soeharto membalik ucapan Nurcholish.

Nurcholish tertawa karena tidak menduga jawaban seperti itu. Soeharto berencana mengumumkan pengunduran dirinya, namun sebelum itu ingin bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat. Sejurus kemudian Saadillah mencacat beberapa nama. Dan semuanya tokoh Islam. Kemudian ia memberikannya kepada Soeharto. “Karena Mas Saadillah ini seorang ulama, maka yang ada dalam benaknya hanya ulama, yang kemudian diprotes oleh orang non-Muslim, kok hanya orang Islam saja yang diundang,” tutur Nurcholish.

Ada sembilan nama yang diberikan oleh Saadillah Mursyid kepada Soeharto untuk diundang yaitu Abdurrahman Wahid, Ahmad Bagja, Ali Yafie, Anwar Harjono, Emha Ainun Najib, Ilyas Rukhiyat, Mahrus Amin, Malik Fajar, Soetrisno Muhdam, dan Nurcholish sendiri. Pertemuannya sendiri ditentukan besok Selasa, 19 Mei, pukul sembilan pagi, di Istana Merdeka. Nurcholish sebenarnya mengusulkan nama Amien Rais untuk diundang, tapi Soeharto keberatan, “Ah, nanti dulu, deh,” ujarnya.

Komite Reformasi

Pagi hari sebelum berangkat ke Istana, kesembilan tokoh itu berkumpul di rumah Malik Fajar, di Jl. Indramayu nomor 14, Jakarta Pusat. Rupanya,  di sana sudah ada Amien Rais dan kawan-kawan. Dalam pertemuan itu Nurcholish menegaskan bahwa mereka datang ke Istana bukan untuk menghadap, tetapi karena dipanggil. Menurutnya, hal itu penting sekali karena menyangkut wibawa moral dan legitimasi. Ia mengutip kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam al‑Ghazali, yang menegaskan bahwa seorang ulama haram menghadap pejabat, tetapi ia wajib datang kalau dipanggil.

Mereka tiba di Istana agak terlambat karena harus menunggu beberapa teman yang lain, yaitu Emha Ainun Najib, Malik Fajar dan Cholil Badawi (yang akan menggantikan Anwar Harjono yang tidak bisa datang karena sakit). Sebelumnya, Nurcholish juga mengajak Yusril Ihza Mahendra, karena dia ahli hukum tata negara. Maka, ketika dia masuk, protokol Istana kaget, karena dia tidak diundang. Nurcholish bilang, ini pembantunya Mas Saadillah. Karena tidak ada kursi untuk Yusril, ia menyuruh protokol Istana mencarikan kursi. Sambil menunggu Soeharto, ia kembali menyampaikan kepada para ulama yang diundang itu bahwa yang akan mereka sampaikan kepada Presiden Soeharto ialah bahwa hingga detik ini orang tetap menghendaki supaya Pak Harto mundur.

Nurcholish meminta Yusril duduk di antara dirinya dan Soeharto, karena dia diperlukan untuk membahas persoalan-persoalan konstitusional. Nurcholish sendiri bertindak sebagai juru bicara dalam pertemuan itu. Pertemuan itu sebenarnya dirancang untuk berlangsung hanya setengah jam. Tetapi, akhirnya berlangsung sampai dua setengah jam. Sebab, rupanya Soeharto sendiri sudah mempersiapkan teks versi dia sehingga terjadi tarik menarik pendapat yang cukup alot. Di antaranya, dalam teks itu ada ide mengenai Dewan Reformasi yang dipersoalkan oleh para tokoh. Kemudian Soeharto memanggil Jenderal Wiranto. Rupanya ide itu dari dia. Setelah didiskusikan, namanya diubah menjadi Komite Reformasi.

Tapi, sebenarnya para tokoh tidak setuju dengan idenya, bukan namanya. Karena itu, Nurcholish segera menyatakan bahwa kalau nanti Pak Harto membentuk komite ini, tolong anggotanya jangan diambil dari yang hadir di situ. Soeharto kaget, kenapa? Tanyanya. Kami ini dalam posisi tercurigai, kata Nurcholish, semata-mata datang ke sini saja sudah dicurigai, meskipun bukan kami yang menghendaki tapi Pak Harto, tapi hal ini sulit dijelaskan kepada masyarakat. “Kalau nanti Pak Harto memasukkan kami dalam komite ataupun dalam kabinet yang di-reshuffle, kami menjadi seperti rupiah, kurs kami jatuh,” ujar Nurcholish. Mendengar itu Soeharto tertawa. Kemudian Yusril mengoreksi. Dalam perkembangan dialog itu Yusril banyak memberi koreksian sehingga teks yang disiapkan oleh Soeharto menjadi banyak coretan. Itu sebabnya ketika membacakan teks tersebut Soeharto tersendat-sendat.

Sampai pertemuan selesai, para tokoh yang hadir di situ akhirnya memang tidak ada yang bersedia duduk dalam Komite Reformasi. Ketika teks itu dibacakan oleh Soeharto di hadapan pers disaksikan oleh jutaan rakyat melalui televisi, ia tetap mengumumkan akan membentuk Komite Reformasi. Suara itu bergema hampa di udara, karena yang ditunggu oleh rakyat bukan itu, melainkan pernyataan Soeharto mundur sebagai presiden.

Namun, Soeharto belum menyerah. Ia masih berencana membentuk Komite Refomasi. Ia membujuk Nurcholish untuk duduk sebagai ketua. Nurcholish tidak mau. Kemudian ia menurunkan lagi, tidak apa-apa kalau tidak mau jadi ketua asal mau jadi anggota. Nurcholish tetap tidak mau. Bagaimana kalau dicantumkan sebagai salah satu orang yang ikut membentuk? Katanya. Tapi Nurcholish tetap menolak. “Pak Harto terus mendesak saya, sampai kira-kira jam tujuh malam, tanggal 20 Mei itu,” jelas Nurcholish. Karena Nurcholish tetap tidak mau, akhirnya Soeharto benar-benar menyerah. “Jika orang yang moderat seperti Cak Nur tidak lagi mempercayai saya, maka sudah saatnya bagi saya untuk mundur,” tegasnya.

Presiden Soeharto Mundur

Pada jam sepuluh malam itu juga ada konfirmasi bahwa Soeharto mau mundur. Nurcholish dan kawan-kawan segera berkumpul untuk merencanakan konferensi pers di Jalan Indramayu nomor 14 Jakarta. Mereka menyusun poin-poin yang akan disampaikan ke publik. Mereka sudah tahu Soeharto mundur dan akan digantikan oleh BJ Habibie. Nurcholish berujar: “Kekuasaan Habibie harus kita beri isian cek, tidak boleh menulis sendiri isi ceknya. Bukan cek kosong!” Konferensi pers itu terlaksana jam setengah satu pagi, tanggal 21 Mei, dengan poin-poin sebagai berikut:

Kami adalah pribadi-pribadi warga negara yang merasa ikut terpanggil memenuhi kewajiban bersama menyangga keutuhan Bangsa dan Negara, dengan ini menyatakan:

1. Sesudah BJ Habibie dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan UUD 1945, menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Soeharto atas sikap beliau yang arif bijaksana dan penuh kebesaran jiwa memenuhi keinginan masyarakat luas untuk berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia dalam rangka Reformasi.

2. Kami bersepakat bahwa Presiden BJ Habibie memimpin pemerintahan transisi sampai dengan Sidang Umum MPR baru dalam waktu 6 bulan.

3. Presiden harus segera menyusun Kabinet Reformasi yang sepenuhnya mencerminkan pluralitas masyarakat Indonesia, dan yang terdiri dari orang-orang yang bersih dari kolusi, korupsi, kroniisme dan nepotisme.

4. Pemerintah harus secepat mungkin melahirkan paket UU Politik, UU Anti Monopoli, UU Anti Korupsi serta UU Pers; sesuai dengan ide dan aspirasi Reformasi.

5. Pemerintah harus menyelenggarakan Pemilu dan Sidang Umum MPR dalam 6 (enam) bulan berdasarkan paket Pemilu yang baru.

6. Pemerintah harus dengan sungguh-sungguh dan secara efektif melaksanakan pemberantasan korupsi, kolusi, kroniisme dan nepotisme.

Pagi hari itu juga, Kamis tanggal 21 Mei, Presiden Soeharto benar-benar mengumumkan pengunduran dirinya. Di Credentials Room, Istana Merdeka, ia membacakan pidatonya yang terakhir, sebagai berikut:

“Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan secara tertib, damai, dan konstitusional.”

“Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun demikian, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan Komite tersebut.”

“Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.”

“Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan Fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis 21 Mei 1998.”

“Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi. Sesuai Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden RI, Prof Dr Ir BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003. Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945.”

“Mulai hari ini pula Kabinet Pembangunan VI demisioner dan kepada para menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya saudara wakil presiden sekarang juga akan melaksanakan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung RI.”

Setelah membacakan pidato pengunduran dirinya, Soeharto menyerahkan kepemimpinan negara kepada wakilnya, Prof Dr Ing BJ Habibie. Dengan gagap Habibie menerima penyerahan itu, sebab tadi malam ia ingin berbicara dengan Soeharto namun ditolak tanpa alasan. Sebagaimana dituturkan dalam buku Detik-Detik Yang Menentukan (2006), malam itu Habibie sama sekali tidak bisa tidur, dan berkali-kali membaca surat al-Fatihah agar Tuhan memberinya jalan keluar dari kebingungan yang melandanya. Pagi ini pun, sebelum ke Istana Merdeka, ia masih ingin bertemu Soeharto di Cendana, juga ditolak. Tiba-tiba Soeharto menyatakan mundur dan menyerahkan kepemimpinan negara kepada dirinya. Setelah itu, semua yang hadir di situ menyalami Habibie dan mengucapkan selamat. Ribuan mahasiswa yang berkumpul di gedung DPR/MPR bersorak meneriakkan kemenangan reformasi, kemudian melakukan sujud syukur. Banyak yang terharu sampai menitikkan air mata.

Lima Tahun Empat Presiden

Besoknya Habibie dilantik. Sebelumnya, tokoh ICMI Sofyan Effendy mendatangi Nurcholish unutk meminta draft pidato yang akan dibaca oleh Habibie sebagai pidato penukuhan. Nurcholish membuat draft dengan tetap memasukkan poin-poin yang dibacakan saat konferensi pers menyambut mundurnya Soeharto, yaitu bahwa Habibie adalah presiden sementara dengan tugas melaksanakan Pemilu secepat-cepatnya. Namun, draft itu tidak dibaca oleh Habibie, yang menginginkan menjadi presiden hingga tahun 2003. Tapi karena suasana reformasi tidak menghendaki Habibie, akhirnya dia menyesuaikan diri. Pada 28 Mei 1998 ia mengadakan pertemuan konsultasi dengan Pimpinan DPR beserta Pimpinan Fraksi-fraksi, yang menyepakati untuk mempercepat pemilu, yaitu pada 7 Juni 1999.

Pada Sidang Umum MPR tanggal 19 Oktober 1999 Pidato Pertanggungjawaban Habibie sebagai presiden ditolak MPR, sehingga ia mundur dari pencalonan sebagai presiden periode berikutnya. Selanjutnya MPR memilih KH Abdurrahman Wahid dan Megawati sebagai presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 1999. Karena berbagai kasus yang menimpanya, KH Abdurrahman Wahid akhirnya dimakjulkan oleh MPR melalui Sidang Istimewa pada 23 Juli 2001.

MPR kemudian mengangkat Wakil Presiden Megawati sebagai presiden. Megawati memimpin negeri ini sampai tahun 2004. Di masa pemerintahannyalah pemilu presiden secara langsung dilaksanakan. Dan dalam pemilu itu ia mengalami kekalahan, sehingga harus menyerahkan tongkat kepemimpinan negeri kepada Susilo Bambang Yudhoyono, salah seorang menteri dalam kabinetnya, yang maju melalui Partai Demokrat. Dalam lima tahun Indonesia telah memiliki empat orang presiden.

Jalan ke Istana

Pada 2003, Nurcholish mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pemilu yang akan digelar pada 5 Juli 2004. Kesediaannya untuk menjadi calon presiden mengagetkan banyak orang, sebab selama ini ia dikenal sangat konsisten menempatkan dirinya di pihak oposisi. Yang lebih mengagetkan lagi tentu saja karena ia telah ditempatkan sebagai cendekiawan guru bangsa lantaran peranannya dalam menurunkan Presiden Soeharto secara husnul khatimah dan seruan-seruan moralnya yang dijadikan rujukan para tokoh nasional dalam menjalankan negeri ini.

Tapi Nurcholish mengatakan bahwa kesediaannya itu karena ia didorong oleh berbagai pihak dan ia tidak bisa mengelak. “Saya tidak mau memupus harapan-harapan mereka,” ujarnya. Taufik Kiemas, Ketua Dewan Pembina PDIP dan suami Presiden RI 2001-2004 Megawati Soekarnoputri, percaya bahwa Nurcholish tidak berambisi menjadi presiden melainkan sekadar ingin memberi pendidikan politik kepada bangsa. “Kalau Cak Nur berambisi menjadi presiden, maka dulu ia mau ditunjuk Pak Harto menjadi Ketua Komite Reformasi, setelah itu dialah yang akan menggantikan Pak Harto; tapi nyatanya dia tidak mau,” ujarnya.

Taufik mengatakan bahwa saat itu Nurcholish bukannya lari dari tanggung jawab, sebab dia yang pertama meminta Pak Harto mundur langsung di hadapan Pak Harto, melainkan karena terlalu berhitung dengan dukungan yang akan diperolehnya. Dia, lanjut Taufik, melihat bahwa basis dukungan utamanya di HMI tidak terlalu kuat karena HMI sendiri terpecah. “Mestinya dulu Cak Nur jadi ketua GMNI, dan orang-orang nasionalis seperti PDIP pasti akan mendukungnya karena pikiran kami bulat-bulat sama dengan Cak Nur,” ungkap Taufik.

Mendengar bahwa Nurcholish akan maju sebagai calon presiden, para aktivis HMI Cabang Malang, Jawa Timur, langsung menurunkan foto Presiden Megawati di dinding dan menggantinya dengan foto Nurcholish Madjid. Padahal, saat itu Nurcholish belum mengumumkan secara resmi pencalonannya sebagai presiden, baru sebatas menggulirkan wacana di media. Namun, bagi sebagian anggota HMI, kanda Nurcholish sangat pantas untuk didukung karena integritas yang telah ditunjukkannya selama ini, baik moral maupun intelektual. Kenyataan bahwa Nurcholish bukan orang partai, justru dilihat oleh mereka sebagai kekuatannya, karena dengan begitu ia melintasi garis batas politik komunal. Kekuatannya ialah pribadinya sendiri.

Nurcholish sendiri mengaku sangat tersiksa dengan dorongan teman-teman dan media yang terus-menerus menantangnya agar “Jangan cuma pandai ngomong, tunjukkan kalau memang mampu!” Nurcholish menjawab bahwa dirinya memang “lebih suka diskusi”, “membaca buku”, dan lagi “tidak bisa baris-berbaris”. Namun, karena tidak mau memupus harapan, akhirnya Nurcholish mau maju sebagai calon presiden.

Maka, pada 28 April 2003, ia secara resmi dan terbuka menyatakan kesediaannya untuk menjadi calon presiden dalam jumpa pers di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta. Di situ ia menyebut pencalonannya sebagai wacana lunak, “Soalnya saya capek ditanya, mau atau tidak. Kalau saya bilang ya, itu soft yes. Saya tidak mau memupus harapan,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa pendekatan yang akan dilakukannya adalah pendekatan platform, bukan figur. Sepuluh butir platform yang diberi judul “Membangun Kembali Indonesia” dibacakan Nurcholish dalam konferensi pers tersebut:

Pertama, mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelolaan negara.

Kedua, menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekwen.

Ketiga, melaksanakan rekonsiliasi nasional.

Keempat, merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah.

Kelima, mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi: kebebasan sipil khusus pers dan akademik, pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan.

Keenam, meningkatkan ketahanan dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat, personel dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai birokrasi.

Ketujuh, memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan kebhinekaan dan keekaan dan serta pembangunan otonomisasi.

Kedelapan, meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara.

Kesembilan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara.

Kesepuluh, mengambil peran aktif dalam usaha bersama meningkatkan perdamaian dunia.

Sepuluh platform itu kemudian dimuat dalam buku Indonesia Kita yang ditulis di Mekah saat Nurcholish menunaikan ibadah umrah. Buku ini bukan hanya berisi uraian panjang mengenai 10 platform itu, melainkan juga uraian mengenai gerakan reformasi yang menurutnya harus terus dilakukan untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi dan politik negara dan bangsa Indonesia. Ia juga menguraikan secara panjang lebar proses terbentuknya negara-bangsa Indonesia, pasang surut pelaksanaan demokrasi Indonesia, dan berbagai harapan menyongsong masa depan.

Berbagai reaksi bermunculan setelah Nurcholish mengumumkan kesediaan menjadi calon presiden. Seperti pikiran-pikiran yang selama ini dikemukakannya yang selalu menimbulkan polemik, demikian juga pernyataan kesediaannya menjadi calon presiden. Seorang sejarawan dan budayawan Dr. Kuntowijoyo, menyindir Nurcholish secara pedas dalam tulisan berjudul “Begawan Jadi Capres” di harian Republika (7/06/2003). Kunto menulis: “Politik menghancurkan pamor Sang Begawan! Kita yatim piatu. Mengejar barang kecil, kehilangan barang besar! Mulai dari nol! Ditinggal pemimpin! Kita cemas! Masa depan gelap! Dicari, pemimpin yang setia umat!”

Ratusan artikel bertaburan di media massa. Pro dan kontra. Berbagai diskusi digelar menghadirkan para pengamat, melihat baik-buruknya seorang Nurcholish maju sebagai capres. Bahkan sebuah buku ditulis secara khusus oleh Hartono Ahmad Jaiz untuk mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan siapa Nurcholish Madjid itu, judulnya Kursi Panas Pencalonan Nurcholish Madjid sebagai Presiden (2003). Buku itu menguraikan rekam jejak Nurcholish sejak mencetuskan gagasan sekularisasi tahun 1970 hingga pernyataan kontemporernya bahwa “setan gundul pun kalau terpilih dalam Pemilu secara demokratis maka harus kita terima.” Paramadina sendiri menerbitkan sebuah buku yang merupakan suntingan dari pandangan pro-kontra di media massa, yang judulnya diambil dari judul artikel Kuntowijoyo yang juga dimuat dalam buku itu, Begawan Jadi Capres (2003).

Kesediaan Nurcholish menjadi calon presiden tidak hanya menjadi perbincangan para politisi melainkan juga orang-orang yang jauh dari politik. Dalam sebuah pelatihan The 7 Habits of Highly Effective People pada Juli 2003 di Cilandak, Jakarta, instruktur utamanya, Ibu Judo, menuturkan, “Saya mendukung Cak Nur, bukan karena paham apa programnya, melainkan karena saya percaya.” Dalam sesi pelatihan berjudul emotional bank account (rekening bank emosi), ia mengajarkan pentingnya menjadi orang baik karena dengan begitu orang akan dipercaya. “Jika pilihan Cak Nur menjadi capres nanti terbukti salah, ia akan dimaafkan karena tabungan kebaikannya lebih banyak dari kesalahannya,” tegasnya.

Bagi Sudhamek AWS, Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), di mana Nurcholish duduk dalam Dewan Konsultatifnya, Nurcholish adalah pelopor pembaruan politik karena ide-idenya seperti pentingnya oposisi loyal, civil society, demokrasi, Pancasila sebagai common platform bangsa,  pluralisme, dan hak asasi manusia. Nurcholish, kata Sudhamek, melihat pluralisme di Indonesia harus dihormati sebagai investasi bangsa. Falsafah Bhinneka Tunggal Ika dinyatakan tetap relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Keberagaman dan kemajemukan merupakan bekal berharga bangsa Indonesia. Menghadapi krisis multidimensi saat ini, termasuk pertentangan antaragama, kemampuan saling memahami dan menerima kemajemukan menjadi hal yang harus diupayakan. “Menurut Cak Nur, masing-masing agama memiliki kebenarannya. Perbedaan dalam kehidupan beragama, hanya sisi sekunder, yakni simbol-simbol agama. Apabila agama sudah menjadi transenden, paham dan cita-cita yang mengendap lama dalam ajaran agama akan terwujud, yaitu wawasan yang universal,” ujar  Sudhamek, yang bersama Nurcholish mendirikan “National plus school” Sevilla, nama sebuah kota di propinsi Andalusia-Spanyol, di mana peradaban barat dan timur bertemu.  Seperti halnya, Ibu Judo, Sudhamek pun percaya kepada Nurcholish, dan karena itu pula ia mendukung pencalonan Nurcholish sebagai presiden.

Dalam konferensi pers itu Nurcholish menyebut adanya tim sukses yang ”nyentrik” yang akan menggodok strategi penggalangan dukungan. Tim nyentrik itu bernama PMKI (Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia). Orang-orang dalam tim ini seperti Sudirman Said, Kemal Stamboel, Erry Riyana Hardjapamekas, dan lain-lain, adalah para aktivis MTI (Masyarakat Transparansi Indonesia), yang aktif mengkampanyekan gerakan anti-korupsi. Sejak semula tim ini sadar untuk tidak mematok target material. “Yang penting bagi kita waktu itu ialah sosialisasi gagasan-gagasan Cak Nur, bukan aspek politik praktisnya,” kata Widjayanto, seorang aktivis PMKI. Lembaga ini, lanjutnya, akan berkoordinasi dengan jaringan di daerah-daerah, volunteer dan simpatisan yang mendukung gagasan-gagasan pembaruan politik Nurcholish untuk membangun sistem politik yang adil, terbuka, dan demokratis.

Tim “nyentrik” dari PMKI inilah yang mengatur jadwal safari politik Nurcholish ke daerah-daerah. Kegiatan yang mereka lakukan lebih banyak diskusi publik dan sesekali “menumpang” kampanye dalam sebuah partai yang mengundang Nurcholish untuk bicara dalam rapat akbar. Puluhan ribu orang hadir dalam kampanye PNBK (Partai Nasional Banteng Kemerdekaan) di Semarang, sampai-sampai Ketua Umum partai ini, Eros Djarot, mengatakan terus terang bahwa kehadiran orang-orang itu pasti bukan karena dirinya melainkan karena Nurcholish. Di Padang, Sumatera Barat, kehadiran Nurcholish juga dieluk-elukkan ribuan massa yang membanjiri kampanye Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ketika Edi Sudradjat, Ketua Umum PKPI, mengajak Nurcholish untuk menjadi juru kampanye partai tersebut.

PMKI kemudian menjadi lembaga yang sangat progresif dalam mensosialisasikan gagasan-gagasan Nurcholish di berbagai daerah, melebihi apa yang bisa dilakukan oleh Paramadina, yang hanya berkutat di Jakarta. Dalam prakteknya, apa yang dilakukan Nurcholish dengan kampanye itu ialah ceramah agama, hanya temanya demokrasi. “Dari berbagai perjalanan itu kami jadi tahu bahwa Cak Nur sangat populer dan pikiran-pikirannya diterima, termasuk di kalangan pesantren,” tutur Widjayanto.

Pada 30 Juni 2003 Nurcholish menyatakan akan mengikuti konvensi nasional Partai Golkar, yakni ajang penjaringan calon presiden yang dibuka untuk umum di luar para kader partai itu sendiri. Alasannya, menurut Nurcholish, konvensi merupakan tradisi politik yang bagus seperti pengalaman di Amerika. Konvensi juga memungkinkan proses rekrutmen yang terbuka dan bersifat bottom up. Namun ia menegaskan bahwa di Amerika proses konvensi tidak diikuti oleh pengurus partai, sebab hal itu akan membuat persaingan menjadi tidak seimbang.

Keikutsertaan Nurcholish dalam konvensi Partai Golkar dikecam banyak kalangan mengingat rekam jejak Golkar di masa lalu yang ikut mendukung dan menjadi bagian dari Orde Baru yang runtuh karena kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Mereka tidak yakin Golkar akan berlaku jujur dalam proses tersebut. “Banyak kalangan yang menyarankan agar saya mundur karena mereka meragukan proses konvensi akan berjalan secara adil,” katanya seperti dikutip Koran Tempo (23/07/2003).

Kendati mengaku akan mempertimbangkan masukan-masukan itu, Nurcholish tetap bersikukuh karena menurutnya konvensi merupakan tradisi politik baru yang harus didukung. Lagi pula, ujarnya, ia akan konsisten dengan sepuluh platform yang dibuatnya. Baru belakangan ia mengalami sendiri apa yang dikatakan orang itu benar. Dalam safari kampanye ke kantong-kantong Golkar di daerah untuk menjajakan platform-nya ia selalu ditanya tentang apa yang akan dia berikan kepada mereka. “Kalau visi kami sudah punya, Cak Nur, yang kami perlukan sekarang ialah gizi (uang).”

Semula Nurcholish menduga hal itu hanya gurauan, tapi setelah banyak daerah yang dikunjunginya mengatakan hal yang sama, maka ia mulai memikirkan ulang keikutsertaannya dalam konvensi. “Kalau saya kasih gizi (uang) berati saya membatalkan diri sendiri karena kita komitmen menegakkan good governance,” katanya (Gatra, 31/07/2003). Situasi ini diperburuk oleh keikutsertaan Ketua Umum Golkar, Akbar Tandjung, dalam konvensi. Maka, dalam sebuah forum di Medan, Sumatera Utara, 30 Juli 2003, Nurcholish menyatakan mundur dari konvensi Partai Golkar dengan cara tidak mengembalikan formulir isian, padahal ia sudah mengantongi dukungan dari 14 DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Golkar.

Setelah mundur dari konvensi Golkar, Nurcholish menggalang kekuatan dengan koalisi partai-partai kecil. Namun partai-partai ini tidak memperoleh suara signifikan dalam Pemilu legislatif 5April 2004. Pada 6 Mei 2004 Nurcholish terbang ke Amerika untuk memenuhi undangan sebagai pembicara dalam seminar yang diselenggarakan oleh Harvard University. Saat itu hanya beberapa hari menjelang penutupan waktu pendaftaran calon presiden di KPU (Komisi Pemilihan Umum). Artinya, Nurcholish tidak mendaftar. Ia memang sudah memutuskan untuk tidak maju dalam Pemilu Presiden 5 Juli 2004.

Cak Nur telah Pergi

Persis pada hari pemungutan suara untuk Pemilu Presiden, 5 Juli 2004, Nurcholish yang baru pulang dari bilik suara terkulai lemah dan muntah-muntah. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta. Dr. Hermansyur Kartowisastro yang menangani pemeriksaan menyatakan bahwa Nurcholish mengalami gejala gagal hati. Maka atas rekomendasinya, Nurcholish kemudian dibawa ke China untuk menjalani transplantasi (pencangkokan) hati di RS Taiping People Hospital, Guangzhou. Operasi cangkok hati itu berhasil dengan baik, dan untuk menjalani perawatan pasca operasi ia disarankan untuk dipindah ke Singapura. Sejak 19 Agustus 2004 ia dirawat di National University Hospital (NUH) Singapura.

Cukup lama Nurcholish menjalani perawatan di NUH. Sampai kondisinya dianggap cukup baik, pada 17 Februari 2005 ia diperbolehkan pulang ke Tanah Air. Namun di Tanah Air kesehatannya kembali memburuk, sehingga pada 15 Agustus ia dilarikan ke RSPI yang dulu menanganinya sebelum menjalani operasi di China. Selama menjalani perawatan di sini, kabar tentang kondisi kesehatannya menjadi berita yang selalu menghiasi media massa. Setiap hari orang berdatangan menjenguknya. Kadang ia mampu berbincang dengan para tamu yang mengunjunginya, tapi lebih sering tidak tahu siapa yang datang karena letih dan terlelap.

Dan petang itu, Senin, 29 Agustus 2005, ketika jam dinding menunjuk ke angka dua lewat lima, ketika matahari mulai condong ke barat, Nurcholish mengerahkan tenaga yang tersisa untuk menggerak-gerakkan bibirnya. Ia tersenyum lima kali untuk istri, anak-anaknya, dan para sahabat yang mendampinginya. Setelah itu, ia menutup mata. Cak Nur telah pergi untuk selamanya! “Kita harus merelakan Cak Nur pergi untuk beristirahat karena dia sudah terlalu capek,” ujar Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dalam wawancara di radio sesaat setelah Nurcholish wafat. Gus Dur mengatakan bahwa Cak Nur sama dengan dirinya yang tak pernah memikirkan kesehatannya sendiri ketika harus melakukan apa yang menjadi panggilan hatinya. Kesehatan Cak Nur, katanya, memburuk ketika disibukkan oleh kampanye sebagai calon presiden.

Jauh sebelum dinyatakan menderita gejala gagal hati oleh dokter, Cak Nur pernah terbaring di Rumah Sakit Pasar Minggu pada Maret 2003 karena keretakan di tulang kaki akibat jatuh dari tangga rumahnya di Kota Wisata Cibubur, Jakarta Timur. Saat itu ia sedang turun dari lantai dua rumahnya, dan mengira kakinya telah menginjak tangga terakhir. Ternyata satu tangga lagi ia lewati, sehingga ia terjerembab. Pada hari ketiga ia dirawat, seseorang bernama Ustadz Latif dari Pejaten menjenguknya di pagi hari. “Saya mendoakan Cak Nur cepat sembuh,” katanya, “Dan membatalkan pencalonan Cak Nur sebagai presiden.” Lalu ia menjelaskan bahwa jatuh dari tangga itu peristiwa yang didahulukan Tuhan sebagai isyarat. Kemudian dengan khusu’ ia membacakan surat al-Fatihah.[]

Berminat membeli buku ini, hubungi Patricius/Kompas: 08158925350