Categories
Puisi

[Puisi] Cerita Natal Seorang Gadis Kecil

lourdes church front
Sumber ilustrasi: http://mikesbogotablog.blogspot.com/2015/04/the-new-face-of-iglesia-de-lourdes.html

 

CERITA NATAL SEORANG GADIS KECIL

Aku berdiri di halaman gereja
Anak-anak bergaun palma
Menghias pohon Natal dengan lampu aneka warna
Bunga-bunga gladiola, langit merah saga.

Saat lonceng dibunyikan, mereka berlarian
Kemudian larut dalam doa yang dilantunkan
Damai dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kejauhan aku mendengar suara azan
Dibawa angin senja berteluk awan
Azan dan kidung Tuhan saling bersahutan
Menjalin nada, orkestra kehidupan.

Seorang gadis kecil menghampiriku

“Pakailah ini,” katanya menyodorkan topi santa

Aku terdiam. Lama. Kemudian dengan halus aku menolaknya
Ia nampak kecewa. Matanya berkaca-kaca
Aku membungkukkan badan dan berbisik ke telinganya

“Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi topi itu terlalu kecil buat kepalaku!”

Ia tersenyum mengerti

“Kalau begitu ambillah ini,” ujarnya menyodorkan replika pohon Natal, “Tanamlah di tubuhmu!”

“Maaf sayang, ini pun aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya lahan untuk menanamnya,
seluruh tubuhku sudah dipenuhi masjid!”

Ia terdiam. Aku yakin dia tidak mengerti apa yang kukatakan.

Tapi ia bertanya lagi, “Apakah di halaman masjid tidak boleh ditanami pepohonan?”

Aku tersentak. Akhirnya kuraih dia dalam pelukan
Kujelaskan bahwa halaman masjid sekarang penuh oleh kendaraan yang parkir. Tidak ada tempat untuk menanam pohon lagi.
Dia tertunduk. Sedih.

“Jangan kuatir, sayang, pohon Natal ini akan kutanam di samping masjid, dan akan kurawat, setuju?”

Dia mengangguk.

“Terima kasih, Om, Natal itu untuk anak-anak!” ucapnya tersenyum.

Aku pun tersenyum, walaupun tidak mengerti maksud ucapannya.

***

Tangerang Selatan, 24 Desember 2016
Ahmad Gaus

Categories
Puisi

[Puisi] Menjaring Bayang-Bayang

Bogor4

MENJARING BAYANG-BAYANG

Aku dan bayang-bayangku adalah satu kesatuan
Ke timur atau ke barat, ke utara atau ke selatan
Kami selalu pergi bersama-sama
Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kegelapan

Di dalam gelap aku tidak pernah bertanya ke mana bayang-bayangku pergi
Dan dia tidak pernah peduli apa yang aku lakukan

Aku membutuhkan bayang-bayangku
Karena dia memberitahu aku tentang cahaya
Tapi aku juga takut dengan bayang-bayangku sendiri
Karena dia menjelmakan sisi yang paling gelap dari diriku

Aku dan bayang-bayang tidak pernah saling mengejar
Karena kami memahami posisi masing-masing
Kadang dia ada di belakang mengikutiku
Kadang dia di depan dan aku yang mengikutinya

Bayang-bayang selalu melekat padaku
Tapi aku tidak memilikinya
Dia adalah milik cahaya
Bahkan aku tidak mengenalinya
Hanya kegelapan yang mengenalinya dengan baik
Karena dia adalah anak kandung kegelapan

Cahaya dan kegelapan bersaing menjaring bayang-bayangku
Hasilnya adalah gambaran diriku dalam satu dimensi… gelap dan tidak utuh!
Itulah sebabnya aku tidak percaya pada bayang-bayangku sendiri
Walaupun aku tahu dia akan terus bersamaku
Sampai nanti aku mati

Catatan:
Puisi dibacakan dalam workshop Lembaga Sensor Film (LSF) “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now” di Ibis Styles, Bogor, 1 September 2018

Bogor1
Bersama Hasanuddin Ali (di samping kiri saya), penulis buku “Millennial Nusantara” yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop LSF “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now”.
Bogor5
Bersama teman-teman LSF. Ketua LSF, Dr. Ahmad Yani Basuki duduk di tengah (berjaket hitam)

 

Categories
Puisi

[Puisi] Bahagia Sekarang Juga

[Dibacakan dalam acara #KampanyeKebahagiaan #GerakanIndonesiaBahagia dalam Rangka Memperingati #HariKebahagiaanSedunia, oleh #YayasanIndonesiaBahagia, Taman Suropati, Jakarta Pusat, 25 Maret 2018].

YIB2

BAHAGIA SEKARANG JUGA

SESEORANG terbangun dari tidur di pagi hari
Ia mengamati sekelilingnya, mencari-cari sesuatu
Namun yang ditemukan hanya selimut, seprei, bantal, guling
Dan gadget yang memang selalu diletakkan di dekat bantal
Lalu ia mencarinya di bawah tempat tidur
Tapi yang dicarinya tetap tidak ada
Maka ia masuk lagi ke dalam selimut dan kembali tertidur
Ia berharap kebahagiaan yang hilang di pagi hari itu
Akan datang lagi dalam mimpinya.

Banyak orang terbangun dari tidur
Mencari kebahagiaan di sisa mimpinya tadi malam
Sebab mereka tidak mendapatkannya dalam kehidupan nyata
Sebab kehidupan nyata terlalu keras — terlalu kejam
Mimpi menjadi tempat petualangan yang menyenangkan
Terlepas dari penderitaan dan kesusahan hidup
Tapi kebahagiaan dalam mimpi hanya fatamorgana
Setiap orang akan terbangun — kembali ke dunia nyata
Dan berusaha mendapatkan kebahagiaan.

Tapi di mana kebahagiaan bisa didapat?
Di dalam rumah. Di kantor. Di tempat olahraga.
Di hotel mewah. Di gubuk reot.
Di restoran. Di kaki lima.
Di dalam badan. Di dalam hati.
Dalam jiwa. Dalam pikiran.

Kebahagiaan ada di mana-mana
Dan tidak pernah pergi ke mana-mana
Karena ia tidak berkaki
Tuhan tidak meletakkan kebahagiaan di tempat tersembunyi
Atau di puncak gunung tinggi
Tapi di dalam diri sebagai fitrah azali
Bakat bawaan manusia sejak dini.

Kebahagiaan tidak bisa dicuri
Sebab tidak akan ada yang mampu membelinya
Kebahagiaan juga tidak bisa ditukar
Sebab tidak ada intan permata yang senilai dengannya.

Setiap orang bisa patah hati kapan saja
Karena putus cinta, atau ditinggal pergi orang yang dicintai
Tapi kebahagiaan tidak boleh dibiarkan dibawa pergi
Karena ia adalah harta yang paling berharga
Kalau ia hilang, maka hidup kita akan sengsara
Selamanya dirundung kesepian.

Di zaman media sosial seperti sekarang
Setiap orang memiliki teman lebih dari yang dibutuhkan
Sepuluh, seratus, seribu, beribu-ribu
Tapi tetap saja banyak orang yang merasa kesepian
Banyaknya teman tidak menjamin seseorang bahagia
Semakin sering seseorang berbicara kepada orang lain
Mengadukan keluh kesah hidupnya
Ke hadapan ribuan orang yang tak terlihat
Semakin menunjukkan kesepiannya.

Beribu-ribu teman kita kumpulkan di dunia maya
Semata-mata karena kita dan mereka satu pemahaman
Satu pandangan agama, satu pilihan politik
Satu idola pemimpin yang sama
Kita tertawa-tawa dengan mereka
Sambil menggunjing orang lain
Yang tidak sama dengan kita
Padahal kita tidak pernah bertemu dengan mereka
Sementara orang-orang terdekat kita — Keluarga,
Saudara, Kerabat, Sahabat — dijauhi, dimusuhi
Dicurigai karena beda paham. Beda pilihan.
Beda pandangan politik.

Akhir-akhir ini kehidupan kita menjadi semakin panas
Karena politik telah masuk ke ruang-ruang keluarga
Tempat-tempat ibadah
Kelompok-kelompok arisan
Obrolan-obrolan warung kopi
Lingkungan perkantoran.

Tanpa kita sadari
Politik membawa virus perpecahan yang berbahaya
Dan lebih berbahaya lagi bila politik mengenakan baju agama
Sebab setiap orang akan menganggapnya kebenaran mutlak
Yang harus diperjuangkan dengan jiwa dan raga
Dan seringkali membabi-buta
Akibatnya kehidupan menjadi sumpek — pengap
Setiap orang mengintai pikiran orang lain
Sedikit saja salah bicara kita akan di-bully.

Di sekitar kita banyak orang yang hidupnya tidak bahagia
Yakni mereka yang gemar menghujat. Memfitnah. Menghina
Mengancam. Menebar teror. Menganggap rendah orang lain
Menyerang dan mencari-cari keburukan orang
Mereka itulah orang-orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Sedangkan orang-orang yang bahagia
Adalah mereka yang selalu menebar kebaikan
Menebar kasih sayang. Membagi energi positif
Memaafkan. Mengikhlaskan. Menutupi keburukan orang lain.

Apabila kebahagiaan kita telah direnggut
Oleh kebencian. Oleh permusuhan
Maka kehidupan kita sungguh dalam bahaya.

Kita harus mengatur ulang nafas hidup kita mulai sekarang
Mencegah kekuatan negatif memenuhi lingkungan kita
Menghentikan permusuhan atas nama politik dan agama
Atau atas nama apapun. Menebarkan kembali cinta
Menebarkan kasih sayang
Menjadi orang yang bahagia
Karena hanya orang yang bahagia yang dapat menularkan
Kebahagiaan kepada orang lain
Kepada dunia.

Kebahagiaan adalah kekuatan fitrawi yang suci
Yang tidak boleh hilang dalam keadaan apapun
Dan tidak boleh dibiarkan orang lain merusaknya
Dengan alasan apapun
Karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan
Maka hanya orang-orang yang bahagia pula
Yang dapat menjumpai-Nya.

Maka tumbuhkanlah perasaan bahagia
Saat sehat maupun sakit
Saat kaya maupun miskin

Hidup hanya sesaat
Alangkah merugi orang yang tidak bahagia

Maka berbahagialah
Saat sendiri maupun di keramaian
Saat datang maupun pergi
Saat bebas maupun tertindas
Kebijakan tertinggi ialah ketika orang mampu bahagia dalam keadaan menderita

Hidup bahagia tidak membutuhkan alasan
Karena bahagia sendiri adalah alasan untuk hidup
Tidak ada nanti atau esok untuk bahagia
Melainkan sekarang
Bahagia sekarang juga
Bahagia
Sekarang
Juga.

Jakarta, 25.03.18

Ahmad Gaus

YIB Puisi

 

 

 

Categories
Puisi

Gereja Tua

gerejatua

PUISI ESAI AHMAD GAUS

Gereja Tua

/1/

AZAN magrib bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin seperti lomba tarik suara
Orang-orang bergegas pergi sembahyang.

Sejak pulang dari Tanah Suci
Nasruddin tidak pernah lagi datang ke masjid
Salat berjamaah ataupun ikut pengajian
Setiap malam Jumat.

Para tetangga merasa heran
Berharap Nasruddin menjadi haji mabrur
Menggantikan imam masjid yang sudah tua
Menjadi amil1) dan mengurus pengajian
Harapan mereka sia-sia.

Seorang tetangga menyindir
Nasruddin hajinya mardud2), ditolak oleh Tuhan
Penampilannya tidak mencerminkan seorang haji
Tidak pernah terlihat memakai sorban
Apalagi peci haji.

Ada juga yang mengatakan
Nasruddin merasa malu karena bohong
Ia sebenarnya tidak pergi ke Mekah
Tapi ke tempat lain di luar negeri.

Para tetangga masih ingat
Hari pertama Nasruddin tiba dari Tanah Suci
Mereka menyalaminya penuh haru
Nasruddin tampak kaku dan pendiam
Tidak ada cerita yang keluar dari mulutnya
Bagaimana suasana di Baitullah
Wukuf di Padang Arafah
Bermalam di Mina
Melontar jumrah aqabah.

Nasruddin tidak membawa buah tangan
Sajadah, tasbih, dan semua yang diharapkan
Dari orang yang pulang haji
Bahkan sebutir korma pun tidak ada
Jangankan air zam-zam.

Yang lebih mengherankan
Beberapa hari sebelum Nasruddin tiba di tanah air
Ada seekor unta yang diantar entah oleh siapa
Dan kini diikat di depan rumahnya.

Para tetangga bergunjing menertawakan
Baru kali ini ada orang pulang haji membawa unta!
Ha.. ha.. ha.. ha…
Mengapa tidak sekalian saja Kabahnya dibawa!
Hi.. hi.. hi.. hi…

/2/
Nasruddin menutup telinga
Mereka tidak memahami unta
Hewan itu saksi hidup Nabi Muhammad
Setia menemaninya berdagang di Syam3)
Membawanya hijrah ke Madinah
Saat berada dalam ancaman kafir Mekah.

Setiap pagi Nasruddin memandikan unta itu
Kain yang digunakannya terbuat dari bahan halus
Kain yang kasar bisa melukai kulitnya yang bagus
Ia tidak habis pikir bagaimana hewan yang jinak itu
Bisa menaklukkan gurun pasir yang buas.

Unta selalu disebut dalam buku sejarah Islam
Tidak ada hewan yang menyaingi kesetiaannya
Mendampingi perjuangan Nabi dan para sahabat
Tapi jasanya jarang diingat.

Nasruddin menjelaskan itu kepada keluarganya
Seperti para tetangga, mereka juga tidak mengerti
Bahkan menginginkan unta itu segera dijual
Atau mereka akan melepaskannya
Saat Nasruddin tertidur.

Nasruddin kasihan kepada untanya
Para tetangga mencibir
Keluarga sendiri tidak bisa menerima
Akhirnya ia menitipkan unta itu di sebuah gereja
Yang digembala sahabatnya — Pendeta Martin

/3/

Gereja itu sudah ada sejak zaman Belanda
Di papan nama tertulis Gereja Pelita Suci
Tapi warga kampung Setu
Menyebutnya gereja lilin
Pada malam-malam tertentu
Jemaah gereja menyanyi dan berdoa
Sambil memegang lilin yang menyala
Menarik perhatian anak-anak kampung
Yang pulang mengaji.

Sudah tiga puluh tahun
Pendeta Martin tinggal di gereja itu
Melayani Tuhan dan para jemaat
Sekali waktu membuka pengobatan umum
Untuk orang-orang Muslim
Di sekitar gereja.

Pohon palem tua tumbuh di depan gereja
Daunnya dianggap sebagai simbol
Kemenangan dari dosa dan kematian
Ketika Yesus memasuki Yerusalem
Sebelum Ia disalibkan.4)

Di mata Nasruddin
Pohon palem itu seperti pohon kurma
Buahnya yang kering adalah makanan unta
Di batang palem itu dia mengikat untanya
Setiap malam.

Pendeta Martin menyukai unta milik Nasruddin
Sering terlihat bercengkrama di depan gereja
Seperti berbicara kepada manusia
Sebelum Nasruddin datang
Memberi makan dan memandikan untanya.

/4/

Pendeta Martin seorang alim
Memahami dengan baik seluk beluk unta
Suatu pagi dia menjelaskan kepada Nasruddin
Unta adalah makhluk Tuhan yang unik
Perangainya sopan dan memiliki aura religius
Ia mengutip Kitab Kejadian 24 5)
Kata unta disebut 16 kali.

Sambil bercakap dengan Pendeta Martin
Nasruddin memandikan untanya dengan kain basah
Campuran air hangat dan minyak zaitun
Ia mengelus punggung onta itu
Membayangkan di atasnya pernah duduk
Nabi Muhammad, rasul utusan Tuhan

Nasruddin percaya kepada Pendeta Martin
Unta memiliki aura religius
Dalam Alquran Tuhan berfirman,
Tidakkah mereka memperhatikan
Bagaimana unta-unta itu diciptakan?6)

Pendeta Martin menjelaskan Injil Lukas 18:25
Gambaran orang-orang berharta yang sulit masuk surga
Bagaikan sulitnya unta masuk ke lubang jarum.

Nasruddin heran, apakah Tuhan berbicara buruk tentang unta?
Sang Pendeta menepis, itu hanya metafora
Orang-orang Yahudi kaya memiliki kebiasaan
Harta mereka dibawa di kiri-kanan punggung unta
Mereka tidak bisa memasuki pintu
Rumah-rumah Yahudi yang menyerupai lubang jarum
Bentuknya sempit dan memanjang
Siapa yang ingin memasuki lubang itu
Harus melepaskan hartanya.

/5/

Minggu kedua setelah pulang haji
Nasruddin berlatih menaiki unta
Lekuk punggungnya bagaikan bukit Tursina
Tempat Nabi Musa menerima wahyu.

Di atas punggung unta
Nasruddin membayangkan Rasulullah
Berhijrah ke Madinah
Di sana kaum Anshar berebut
Menghendaki Nabi tinggal di rumah mereka
Nabi membiarkan untanya berhenti sendiri
Dan unta itu duduk di pelataran
Rumah milik Abu Ayyub al-Anshari
Di situlah Nabi tinggal.

Di Madinah banyak orang berilmu
Memilih profesi sebagai konsultan unta
Mereka dibayar oleh para saudagar kaya
Setelah menaksir kemampuan hewan itu
Menyesuaikan diri dengan padang pasir
Tidak makan dan minum
Selama berminggu-minggu.

/6/

Unta hewan yang pintar
Nabi memperlakukannya begitu mulia
Tidak sia-sia Nasruddin membelinya
Jauh-jauh dari Arab
Ditentang keluarganya sendiri
Ditertawakan oleh para tetangga
Dianggap orang gila.

Masih terngiang di telinganya
Cemoohan orang-orang yang curiga
Nasruddin naik haji hanya terpaksa
Karena semua keluarganya sudah haji
Ia juga tidak pernah mengikuti latihan manasik7)
Menghapalkan doa tawaf dan sa’i.

Di dalam pesawat menuju Jedah
Para calon haji sibuk membaca buku
Fikih panduan menunaikan ibadah haji
Nasruddin membaca buku-buku ekonomi
Ia ingin umat Islam maju
Bisa membangun teknologi tinggi
Supaya pergi ke Tanah Suci
Naik pesawat buatan sendiri.

Ustadz pembimbing haji menegurnya
Meluruskan niat menuju Mekah
Meminta ampun di depan Kabah
Menghapus dosa-dosa.

/7/

Ketika pulang haji
Nasruddin bercerita kepada Pendeta Martin
Tujuannya pergi ke Tanah Suci
Bukan untuk menghapus dosa
Bukan pula mencari pahala
Ia ingin menyelami denyut nadi
Negeri para nabi dilahirkan
Tempat yang disucikan
Pertaruhan orang-orang beriman.

Banyak orang berkali-kali naik haji
Lebih banyak yang tidak mampu memaksakan diri
Menjual harta benda, sawah, dan ladang
Semua dipertaruhkan demi iman
Tapi ibadah haji dibisniskan
Dana umat diselewengkan.

Pendeta Martin terkejut
Semua umat beragama punya tabiat sama
Menjual agama untuk kepentingan pribadi.

Kita harus berbuat sesuatu, kata Nasruddin
Pendeta Martin mengamini
Umat di bawah bernasib sama
Hidup susah dan menderita
Kondisi yang subur untuk diadu domba
Bukan soal Islam atau Kristen
Kemiskinan tidak pandang agama.

Pagi hingga petang
Malam hingga larut
Nasruddin dan Pendeta Martin selalu berdiskusi
Apa yang bisa dilakukan untuk umat
Percakapan tentang buku-buku dan kitab suci
Makin mengakrabkan keduanya.

Unta Nasruddin senang berada di gereja tua itu
Para jemaat sangat menyayanginya
Mengajaknya bercakap-cakap
Memperlakukannya sebagai manusia.

/8/

Setiap pagi Nasruddin menuntun unta
Kadang berada di punggungnya
Berjalan mengelilingi kampung
Menyisir tepi-tepi jalanan kota.

Orang-orang yang melihat Nasruddin
Menganggapnya manusia aneh
Menunggang unta di tengah kemacetan
Terjepit di antara ribuan kendaraan bermotor.

Nasruddin tidak peduli
Naik unta dianggap peristiwa historis
Napak tilas perjalanan agama Islam
Dari zaman Nabi Muhammad.

Di punggung unta ada sejarah
Kapitalisme perdagangan kaum Muslim masa awal8)
Terpancar dari Madinah ke Baghdad
Granada, Cordoba, Damaskus
Lalu Paris, New York, London
Pusat-pusat kapitalisme dunia
Tumbuh pesat di atas kuburan
Sejarah peradaban Islam.

/9/

Suatu hari Nasruddin dan untanya
Masuk ke pelataran kantor-kantor perbankan
Bursa efek dan pusat-pusat bisnis
Perbelanjaan modern.

Nasruddin melihat untanya seperti gelisah
Membandingkan keadaan ekonomi negeri Syam
Yang ramai di zaman Nabi Muhammad
Dengan perekonomian di zaman ini.

Nasruddin membiarkan saja
Ia ingin unta itu tahu dunia sudah berbeda
Jauh keadaannya dibandingkan 14 abad silam
Kaum Muslim hidup dalam kapitalisme global
Di bawah kendali negara-negara industri maju
Dan mereka bukan pemeluk agama Muhammad.

Unta itu menatap Nasruddin
Pandangannya kosong
Mulutnya bergerak-gerak,

“Siapa saya sekarang?” tanyanya

“Kamu adalah masa lalu,” jawab Nasruddin.

Ia tahu pernyataan itu sangat keras
Bisa melukai perasaan unta
Tapi ia sengaja mengatakan itu
Agar untanya mengerti
Dunia masa kini bukan lagi miliknya.

“Apakah saya masih berguna?”

“Masih, tapi sekadar alat analisa?”

“Apa bisa lebih spesifik?” tanya unta itu penasaran.

Nasruddin menjelaskan,

Begini. Kamu adalah simbol perekonomian kaum Muslim
Tapi itu dulu, ketika ekonomi Islam masih sangat dominan
Sekarang dunia sudah berubah
Tidak bisa lagi dijelaskan melalui sudut pandang Islam
Perkembangan ekonomi global
Didominasi oleh sistem kapitalisme Barat
Semuanya ahistoris dalam sejarah Islam.

Unta itu menyibakkan ekornya
Matanya berkejap-kejap
Seperti sedang menutupi perasaannya
Sesaat kemudian,

Baiklah, bukannya saya tidak mau disalahkan
Tapi rasanya kurang fair kalau hanya melihat dari pihak saya
Ini pasti ada yang salah dengan umat Islam sendiri.

Nasruddin terperangah
Ia merasa unta itu mulai menebar tuduhan
Memfitnah kaum Muslim.

“Apa yang salah dengan umat Islam?” kejar Nasruddin

Unta itu menatap Nasruddin
Ia tahu majikannya mulai kesal
Lalu ia melanjutkan,

Lihat, apa yang dilakukan kaum Muslim
Selama berabad-abad
Mereka hanya mengutak-atik syariah
Bertengkar soal akidah
Perkara semacam itu tidak pernah selesai
Di zaman saya dulu, pembebasan Islam itu kongkrit
Pesan-pesan Alquran sangat hidup
Tapi sekarang menjadi abstrak
Kaum Muslim tidak mampu menghidupkannya
Mereka tertidur selama berabad-abad
Seperti para pemuda Ashabul Kahfi
Ketika bangun dunia sudah berubah
Mereka tidak sanggup hidup
Akhirnya memilih mati.

Kata-kata itu seperti godam
Palu besar yang dipukulkan ke kepala Nasruddin
Matanya dipenuhi kunang-kunang
Samar-samar menatap cahaya
Lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala.

/10/

Hari mulai senja
Nasruddin menuntun untanya
Memasuki halaman gereja
Tapi langkahnya terhalang
Garis polisi di sekeliling pagar
Batu-batu berserakan di bagian dalam
Genting yang hancur dan pecahan kaca.

Suasana di dalam gelap dan sepi
Azan magrib berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin
Seperti tangisan para jemaat gereja.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menghampiri Nasruddin dan bercerita
Tapi pagi puluhan massa datang dari mana
Menyerang gereja dan memukuli Pendeta Martin
Sekarang dia dirawat di rumah sakit.

Bumi yang dipijak berguncang
Langit tidak mengirimkan berita
Orang-orang itu membantu Nasruddin
Membawa untanya ke dekat masjid
Nasruddin bergegas menuju rumah sakit
Bibirnya tak henti membaca doa.

Malang tak dapat ditolak
Beberapa menit sebelum ia datang
Pendeta Martin sudah berpulang
Menghadap Tuhan Bapak
Di kerajaan surga.

/11/

Gereja itu masih dikelilingi garis polisi
Batu-batu dan pecahan genting dilumat sepi
Sesepi kematian penghuninya yang tragis
Berita ini jangan dieksposes, kata petugas
Nanti memancing kemarahan yang lebih besar
Semua sudah ditangani pihak berwajib.

Pendeta Martin pergi terlalu cepat
Banyak pekerjaan sudah dibuat
Membangun solidaritas
Menghilangkan sekat-sekat
Antarumat beragama.

Nasruddin bersandar di pohon palem
Membayangkan orang-orang dari mana
Datang sambil meneriakkan takbir
Menyerang
Lalu menghilang.

Beberapa jemaat gereja menghampiri Nasruddin
Menghiburnya dengan kutipan Alkitab
Seorang dari mereka berkata,

Tuan, bila gereja ini masih diizinkan ada
Sudilah Tuan membiarkan unta ini
Tetap tinggal di sini bersama kami
Seperti pesan Bapak Pendeta sebelum wafat
Kami berjanji akan merawatnya
Sebaik Tuan menyayanginya.

Nasruddin tertunduk
Tangannya mengusap punggung unta
Di atasnya pernah duduk
Seorang Nabi utusan Tuhan
Kemudian ia berbisik ke telinga unta,

Kita akan tinggal di sini
Saya akan menggantikan Bapak Pendeta
Menjaga gereja ini.

Azan zuhur berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan
Di kampung Setu.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menyalami jemaat gereja
Menyampaikan belasungkawa
Seorang yang bersurban dan berpeci haji
Menghampiri Nasruddin dan berkata,

Biarlah unta ini kami bawa
Kami akan buatkan rumah untuknya
Di samping masjid.

Catatan Kaki

1. Amil adalah orang yang bertugas mengurus jenazah. Biasa dibedakan dengan amil zakat yaitu orang atau lembaga yang bertugas dalam pengumpulan dan pengelolaan zakat.

2. Status haji mardud didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani: “Tidak ada talbiyah bagimu dan tidak ada keberuntungan atasmu karena makananmu haram, pakaianmu haram, dan hajimu mardud (ditolak).” Biasanya dibedakan dengan haji makbul yaitu haji yang diterima karena terpenuhi syarat-syaratnya, dan dibedakan juga dengan haji mabrur yaitu haji yang sejati, karena ibadah haji mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik.

3. Negeri Syam sekarang dikenal dengan nama Suriah. Sejak usia 12 tahun Muhammad telah sering diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang di Syam. Uraian yang lengkap mengenai ini lihat Imam Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Jld 1, Jakarta, Darul Falah, Cet. V, 2005.

4. Daun palem adalah simbol dari kemenangan, diasosiasikan dengan kejayaan Yesus memasuki kota Yerusalem. Lihat, Yohanes 12:12-13.

5. Kejadian 24 adalah bagian dari Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Termasuk dalam kumpulan kitab Taurat yang disusun oleh Musa. Lihat, http;//id.wikipedia.org/wiki/Kejadian_24

6. Surat al-Ghasiyah ayat 17: Afalaa yandhuruuna ila ‘i-ibili kayfa khuliqat

7. Manasik = tata cara pelaksanaan ibadah haji

8. Istilah kapitalisme perdagangan (commercial capitalism) berasal dari seorang sosiolog dan historian Prancis, Maxime Rodinson, yang meyakini bahwa masyarakat Muslim awal mempraktikkan kapitalisme jenis ini. Lihat Maxime Rodinson, Islam and Capitalism (terjemahan Inggris oleh Brian Pearce), London, Allen Lane, 1974. Lihat juga, Gene W. Heck, Charlemagne, Muhammad, and the Arab Roots of Capitalism, Walter de Gruyter, 2006

Puisi di atas adalah salah satu puisi yang dimuat dalam buku Ahmad Gaus, Kutunggu Kamu di Cisadane: Antologi Puisi Esai (KomodoBook, 2012)

Follow My Twitter @AhmadGaus
Face Book: Gaus Ahmad
Email: gausaf@yahoo.com
_______________________________

Categories
Puisi

Kota-kota dalam Koloni Airmata

Kota-kota dalam Koloni Airmata
Puisi Ahmad Gaus

Hujan menepi pada dinding beton rumah-rumah yang menyekap ingatan tentang rasa sakit. Sejarah yang dikubur oleh cairan timah yang membeku dalam tubuh orang-orang yang mengaumkan kepedihan. Dalam reportoar para pembenci di atas panggung yang disulap menjadi zona perang.

Para penjaga malam negeri ini menjerit kesakitan. Mencabut luka satu demi satu reruntuhan peradaban yang telah asing. Orang-orang menjelma serigala—mencabik-cabik tubuh mereka sendiri, menggali urat nadi untuk menghanyutkan rasa sakit yang mengeras dalam genangan darah.

Mereka berbaris membentuk pasukan burung, berarak di atas langit yang robek oleh desingan peluru. Para malaikat melantunkan salawat, memisahkan roh-roh jahat dari butiran hujan—sebab hujan adalah airmata yang menguap ke angkasa, tangisan yang direnggut penguasa-penguasa durjana.

Kota-kota kini dalam koloni airmata dan kabut dan dingin yang menebal di setiap persendian. Orang-orang bergegas memburu bayangan langit yang runtuh menjadi percikan api. Semua mimpi berserakan dan terbakar. Sebab mereka tak mampu lagi membedakan warna senja dan fajar yang mulai menyingsing di kaki bukit.

Categories
Penggalan Buku Puisi

Hukum Bermazhab dalam Sastra dan Pintu Ijtihad Puisi yang Tidak Pernah Ditutup

Pengantar untuk Buku Puisi Esai:
KUTUNGGU KAMU DI CISADANE
Oleh Ahmad Gaus

Duapuluh tahun kemudian saya kembali menulis puisi. Selama rentang waktu itu saya hanya menulis artikel opini atau kolom di media massa, serta sejumlah buku. Dunia puisi sudah saya tinggalkan, dan nyaris tidak pernah diingat lagi. Saya sudah menganggapnya sebagai masa lalu, catatan kelam dalam karir kepenulisan saya.

Tahun 1991 adalah puncak kebencian saya terhadap puisi—kurun waktu di mana saya banyak menulis dan mengirimkan puisi-puisi saya ke media massa, tapi tidak pernah dimuat. Akhirnya saya muat sendiri dalam majalah mahasiswa yang saya pimpin. Mungkin ini pelajaran penting: seorang penulis tidak perlu bisa menuangkan gagasannya ke dalam semua bentuk tulisan. Saya merasa tidak berbakat menulis karya fiksi seperti puisi dan cerpen (cerita pendek). Ada cerpen yang saya tulis sejak tahun 2007 dan sampai sekarang belum juga selesai. Ada juga puisi yang saya selesaikan selama 3 tahun, padahal puisi itu pendek saja. Mungkin karena saya menuliskannya dengan keraguan yang sempurna—keraguan bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair!

Tetapi, saya memang tidak bercita-cita menjadi penyair. Bahkan sampai sekarang. Perkara dulu—saat remaja—saya suka menulis puisi, biasanya karena sedang jatuh cinta. Ada juga puisi-puisi yang saya tulis karena perasaan “dendam” kepada sejumlah penyair yang begitu licik bermain dengan kata-kata. Sejak duduk di bangku Tsanawiyah/SMP saya membaca puisi-puisi karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan yang lainnya, dengan kekaguman yang meletup-letup. Lalu saya mencoba meniru mereka, menulis puisi. Kemudian saya mengirimkannya ke media massa. Untuk sebagian besar saya tidak tahu nasib puisi-puisi itu, mungkin masuk dalam keranjang sampah. Ada juga redaksi yang berbaik hati mengembalikannya dalam amplop tertutup, dan saya membukanya dengan tangan gemetar di toilet sekolah. Isinya selalu saja: Anda belum beruntung!

Maka saya segera memutar haluan. Energi dan waktu tidak ingin lagi disia-siakan untuk sesuatu yang tidak pasti. Saya kembali melanjutkan kebiasaan menulis artikel opini. Sejak duduk di bangku kelas 2 Aliyah/SMA artikel dan esai saya sudah dimuat di beberapa koran. Saya masih ingat honor pertama saya dikirimkan melalui pos wesel dan nyangkut di Balai Desa. Bapak Ketua RT di kampung saya, Haji Aman namanya, memberikannya kepada saya saat bertemu di mushalla sebelum salat magrib. Sambil menyerahkan itu, entah mengapa dia begitu iseng mengumumkan kepada para jamaah salat magrib jumlah yang tertera dalam wesel sebesar Rp7.500,00. Itu tahun 1986.

Ketika mulai duduk di bangku kuliah, tulisan-tulisan saya mengalir lebih deras. Bahkan saat duduk di semester empat, saya diberi kehormatan untuk mengisi kolom tetap di harian Jayakarta (kalau tidak salah diterbitkan oleh Kodam Jaya). Koran itu, seperti juga koran-koran lainnya hanya membuka rubrik budaya pada edisi minggu. Saya pun kerap membaca puisi-puisi dari para penyair yang tersebar di koran-koran edisi minggu itu. Tentu saja saya juga membaca majalah sastra seperti Horison. Jadi, walaupun tidak menulis puisi, diam-diam saya tetap menikmatinya.

Hampir semua puisi yang saya baca di media massa sebenarnya merupakan puisi yang sulit untuk dipahami. Saya sendiri menikmatinya bukan terutama karena saya dapat memahaminya, melainkan justru karena saya tidak memahaminya. Ada pola yang—entah dari mana dan sejak kapan—membentuk semacam kesadaran dalam diri saya bahwa semakin sulit sebuah puisi dipahami, semakin baik bagi saya. Semakin abstrak bahasanya semakin indah.

Membaca puisi ialah memasuki lorong-lorong gelap yang saya tidak tahu apakah di kiri-kanannya ada ranjau dan di ujung sana ada jurang. Tapi saya sudah terbiasa menikmati berada di dalam kegelapan itu. Sebuah puisi—seperti juga sebuah lukisan—yang mendorong lahirnya banyak penafsiran menunjukkan kekayaan makna puisi tersebut. Guru bahasa Indonesia saya di SMA dulu mengatakan bahwa puisi Chairil Anwar yang berjudul “Nisan” ditafsirkan berbeda-beda oleh para pengamat sastra asing. Begitu juga puisi pendek dari Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran, isinya hanya satu baris /”Bulan di atas kuburan”/ namun menimbulkan ragam penafsiran. Semakin banyak tafsir semakin baik, karena itu berarti puisi tersebut sangat kaya makna.

***
Belakangan saya tahu bahwa pola pikir semacam itu tidak bebas pengaruh. Ada semacam discourse dalam dunia perpuisian yang menghegemoni kesadaran publik bahwa yang disebut puisi ialah “ini”, bukan “itu”. Estetika puisi ialah “begini”, dan bukan “begitu”. Mungkin itu yang membuat puisi semakin rigid. Dunianya dikelilingi oleh tembok tinggi, di dalamnya hanya terdapat para penyair yang duduk satu meja dengan sesama penyair sambil minum anggur, mendiskusikan hal-hal penting tentang senja dan pohon cemara. Sementara itu—mengutip Chairil Anwar—“mereka yang bukan penyair tidak ambil bagian.”

Di tangan para penyairlah, hidup dan matinya puisi dipertaruhkan. Publik tidak ambil bagian karena mereka hanya konsumen—seperti umat dalam tradisi keagamaan yang harus ikut saja apa kata ulama. Hukum mana yang boleh diikuti dan tidak, sudah ada ketentuannya. Para penyair juga kerap diperlakukan seperti ulama yang kepada mereka dinisbatkan mana karya puisi dan mana yang bukan, mana sekte kepenyairan yang benar dan mana aliran sesat. Puisi-puisi jenis baru tidak tercipta karena seakan-akan ada paham bahwa “pintu ijtihad sudah ditutup”. Para penyair baru harus mengikuti saja salah satu mazhab yang sudah ada.

Jika benar begitu, maka inilah saat dimana dunia perpuisian sebenarnya justru membutuhkan lahirnya tradisi baru yang memberi nafas baru bagi dunia literasi. Sejarah kesusastraan di tanah air mencatat adanya dinamika pembaruan semacam itu, dan meletakkannya dalam arus perubahan budaya. Begitulah pergeseran dari Angkatan Balai Pustaka ke Pujangga Baru, kemudian Angkatan 1945, dan seterusnya. Karena itu, kelahiran tradisi baru dalam penulisan puisi sejatinya akan memulihkan fungsi pembaruan dalam kesusastraan.

Atas dasar itu, saya sangat terkesan bahwa seorang Sapardi Djoko Damono memberi apresiasi yang begitu besar terhadap puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta. Kita tahu bahwa Sapardi merupakan salah satu “paradigma” dalam dunia perpuisian modern di tanah air. Ia menjadi kiblat bagi banyak penyair muda. Karya-karyanya diakui telah menjelma menjadi kerajaan estetika tersendiri—estetika lirisisme, seperti yang mengemuka dalam diskusi “Imperium Puisi Liris” di Bentara Budaya Jakarta, Maret 2008. Sebagian karya puisi yang lahir dari tangan penyair-penyair muda, saya kira, juga bercorak sapardian.

Puisi-puisi esai karya Denny JA adalah kekecualian terhadap paradigma sapardian tersebut. Puisi sapardian bercorak liris, sementara puisi Denny JA bercorak esai—maka kemudian diberi nama “puisi esai”, sebuah gabungan istilah yang juga baru dalam kesusastraan Indonesia.

Kenyataan bahwa Sapardi memberi apresiasi dan dorongan bagi lahirnya karya-karya puisi jenis baru, memperlihatkan bahwa ia tidak ingin melihat puisi Indonesia terperangkap dalam statisme. Ada kerinduan terhadap terobosan, karena selama puluhan tahun penulisan puisi mengalami stagnasi, tidak ada perubahan yang berarti. Padahal, “pintu ijtihad” untuk menciptakan puisi-puisi jenis baru tidak pernah ditutup, dan mazhab-mazhab dalam sastra juga bermunculan, misalnya dulu ada mazhab sastra realisme sosial, mazhab sastra untuk sastra—yang merupakan derivasi dari ideologi seni untuk seni (l’art pour l’art), mazhab sastra kontekstual yang dipelopori oleh Ariel Heriyanto dan Arief Budiman, dan belakangan ada mazhab sastra dakwah.

***
Saya sendiri, pada mulanya, membaca puisi-puisi esai Denny JA dengan perasaan heran dan penuh tanya; ini puisi atau bukan? Kok penuturannya bercerita. Rupanya pengaruh paradigma lirisisme masih sangat kuat dalam kesadaran saya, sehingga nyaris kehilangan perspektif untuk menilai sebuah karya puisi yang bukan dari mazhab lirisisme.

Setelah berulang-ulang membacanya, saya meyakini puisi jenis ini sebenarnya yang biasa dibaca di panggung-panggung agustusan karena mudah dipahami. Saya menyebut panggung agustusan untuk menunjukkan bahwa popularitas sebuah puisi ialah ketika ia dibaca oleh masyarakat awam di atas panggung, dan agustusan adalah panggung yang paling populis.

Membaca puisi esai mengingatkan saya pada jenis tulisan opini. Di dalamnya ada gagasan yang tidak disembunyikan. Dituangkan dalam format puisi, namun cara bertuturnya esai. Yakni, dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Bukankah puisi itu sendiri sebenarnya ialah komunikasi? Saya berpikir bahwa siapa saja bisa membuat puisi semacam ini—yang bukan penyair pun bisa ambil bagian!

Maka saya mulai menulis kembali puisi, setelah lebih dari dua puluh tahun tidak melakukannya. Melalui puisi esai, saya menemukan cara baru beropini. Dan inilah lima buah puisi esai saya yang dimuat dalam antologi ini, yang semuanya memotret dinamika kehidupan sosio-politik dan religius di tanah air beserta para aktornya.
***

Seperti halnya ritual-ritual dalam agama Islam yang saya peluk, dimana ada hukum yang fleksibel untuk mengikuti salah satu mazhab, maka pilihan saya untuk bermazhab pada puisi esai ini pun ada di dalam kerangka fleksibilitas tersebut. Sebagai penganut mazhab Syafii saya tidak menuduh sesat penganut mazhab Hanafi, Hanbali, Maliki, bahkan Dja’fari (Syiah). Sebagai penganut mazhab puisi esai, saya juga tidak hendak menisbikan mazhab puisi liris, puisi eMbeling, dan sebagainya. Bahkan saya tetap mengapresiasi, menikmati, dan seandainya mampu, mencipta puisi-puisi jenis itu.

Kiranya tidak perlu saya menjelaskan satu persatu dari lima puisi esai saya yang dimuat dalam buku ini. Saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya. Sebagai mazhab baru dalam sastra Indonesia, puisi esai niscaya terus mencari bentuk melalui berbagai kreasi, walaupun mungkin tidak akan ada, dan memang tidak perlu ada, bentuk final dan standar. Puisi-puisi saya ini boleh jadi hanya salah satu varian saja dari apa yang dinamakan puisi esai itu.

Sebelum menutup pengantar ini, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tulus kepada banyak pihak yang memungkinkan terbitnya buku ini. Pertama-tama saya harus berterima kasih kepada Denny JA yang terus mendorong agar buku ini segera diterbitkan. Kritik, saran, dan masukan-masukannya telah menjadi bagian dari karya ini baik yang disampaikan melalui email maupun dalam berbagai pertemuan di Ciputat School—sebuah forum yang difasilitasi oleh Denny JA untuk menginspirasi pencerahan budaya.

Teman-teman lain di Ciputat School yang membaca naskah awal puisi-puisi ini juga ikut memberi masukan, bahkan kritik yang pedas, sehingga acapkali saya tidak bisa tidur nyenyak atas kritik-kritik tersebut. Namun saya tahu semuanya dilakukan dengan tulus demi kesempurnaan yang relatif. Para pegiat Ciputat School yang saya maksud ialah: Elza Peldi Taher, Jonminofri, Ihsan Ali Fauzi, Zuhairi Misrawi, Anick HT, Neng Dara Affiah, Novriantoni Kahar, Budhy Munawar-Rachman, Nur Iman Subono, Ali Munhanif, Jojo Rahardjo, dan lain-lain yang tidak cukup halaman untuk menyebutkannya satu persatu.

Teman-teman di Jurnal Sajak juga telah banyak memberi dukungan. Mereka adalah Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Tugas Suprianto, dan khususnya Jamal D Rahman, yang bersedia meluangkan waktu menulis kata pengantar untuk buku ini.

Akhirnya, buku ini dipersembahkan kepada para bidadari yang selalu menyemarakkan hari-hari saya dengan canda dan tawa mereka: istri tercinta, Jumiatie Zaini dan anak-anak kami, Alifya Kemaya Sadra dan Raysa Falsafa Nahla, serta keponakan kami yang tinggal bersama kami, Winda Widyana.
Karya ini jelas sangat jauh dari sempurna untuk dipublikasikan. Namun saya berpegang pada satu adagium di dunia penulisan: Terbitkan karyamu hari ini, besok engkau buat yang lebih baik lagi! Selamat membaca.

Ciputat, 1 Juli 2012
Ahmad Gaus

_________________________________________________________________________________________________________
Buku KUTUNGGU KAMU DI CISADANE tersedia di gerai-gerai Gramedia. Anda juga bisa memesan melalui alamat2 di bawah ini:

FB: Gaus Ahmad
Twitter: @AhmadGaus
Email: gausaf@yahoo.com
PIN: 21907D51
_________________________________________________________________________________________________________

Categories
Pengantar Buku

Islam, The State, and Civil Society

Contemporary Islamic Movements and Thought

The Editors’ Introduction

by Komaruddin Hidayat and Ahmad Gaus AF

Throughout Indonesia’s history as an independent nation, Islam and the state have struggled with each other as separate, competing entities.1 This struggle reached one of its peaks during the Constitutional Assembly’s Sessions (1956-1959), when Islamic groups took a stance opposed to that of secular nationalists. The Islamic groups fought for Islam to serve as the country’s foundation, while the secular nationalists insisted on Pancasila philosophy [ed. note: belief in one God; a just and civilized humanity; national unity; democracy and social justice] instead. As both groups clung fiercely to their own arguments and opinions, the Constitutional Assembly found itself at a deadlock, unable to resolve the problem.  This in turn led President Sukarno to take charge of the Assembly’s agenda and to issue the famous Presidential Decree, which returned the country to the 1945 Constitution.

This story has become a classic, and perhaps too traumatic to ever repeat. But the fact that the problem was unresolved is exactly why it has remained stored in the vault of history, with the opposing arguments passed on from generation to generation. Each succeeding generation has always been tempted to reopen the old history vault and rehash the Constitutional Assembly’s debate transcripts, page after page.

Since the Constitutional Assembly, the problem concerning the relationship between Islam and the state has grown more ideological and political, overshadowing the academic discourses that were so productive in the nineteen-fifties.2 Indeed, the debate about the relationship between Islam and the state has assumed an academic form since the early days, such as the nineteen-thirties debate between Soekarno and Mohammad Natsir.3 The political struggle to actualize the idea of an Islamic state did not occur until the Constitutional Assembly’s Conference, where Islam suffered the above-mentioned “defeat.” But this precedent had a lasting, negative impact on the relationship between the state and Islam, which has carried over to subsequent periods.

As Islam’s leverage as a political force declined, Masyumi leaders – who had been militant supporters of the Islamic state during the Constitutional Assembly’s Sessions – were imprisoned without trial by the Soekarno Regime.4 Masyumi was then disbanded in the late sixties on the grounds that some of its main leaders (e.g. Mohammad Natsir and Sjafruddin Prawiranegara) were involved in the PRRI rebellion. When the Soekarno regime fell and these leaders were released from prison, intending to revive Masyumi, the Soeharto regime did not permit it.5 As a substitute, Soeharto allowed the formation of a new party to represent the Islamic community, which was later named Parmusi (Partai Muslimin Indonesia, or the Indonesian Muslims Party—founded in 1968). As it turned out, the Soeharto Regime was motivated not by good will towards the Islamic community, but because Suharto felt it would be easier to control Islam as a political force through this rump party.

In the 1971 Elections, Parmusi received only 5.3% of the votes as the “heir” of Masyumi, while Golkar – the political machine of the Soeharto regime, or the “New Order” – won 62.8% of the votes.6 From this election result, it is clear that Islam as a political force had faded in Indonesia. The New Order Regime did not treat political Islam any better than had the previous Soekarno regime. In fact, the antagonism worsened, due to Soeharto’s government policies in the seventies and early eighties.7

This antagonism brought about a crisis, as evidenced by the worsening relationship between Islam and the state. The Tanjung Priok incident8 was one of several “uncontainable explosions” that characterized the mounting crisis. The mid-eighties also witnessed other incidents, like the bombing of the ancient Buddhist temple of Borobudur in Central Java and the bombing of Bank Central Asia (BCA) in Jakarta, by Islamic groups.

Not all Islamic forces were drawn into conflict with the ruling regime, from the Old Order under Soekarno to the New Order under Soeharto. Outside the political mainstream and commotion that struggled to establish an Islamic order from the fifties to the eighties, a different tide arose bearing other voices. These voices represent a Hegelian synthesis in the dialectical clash that occurred between Islamic groups and the ruling regime. They were born in the form of socio-cultural and intellectual movements.

The socio-cultural movements in question were the Nahdhatul Ulama (NU) and the Muhammadiyah – the world’s largest and second-largest mass Muslim organizations. NU was actually one of the Islamic groups that struggled for Islam to serve as the country’s foundation during the 1956-1959 Constitutional Assembly’s Sessions. But when the Soekarno regime issued its decree mandating a return to the 1945 Constitution, the NU easily accepted this decision, while other Islamic groups did not. When the Soeharto regime established Pancasila as the only foundation for political and religious organizations in 1983/84, the NU readily accepted this decision as well. The NU proved itself to be highly flexible in confronting various political situations.9 Despite accusations of its being opportunistic—due to this flexible stance—the NU remains to this day the largest Islamic organization in Indonesia, with the largest number of followers (nearly 40 million).

Muhammdiyah – which withdrew earlier from the practical political arena (in 1971, vs. the NU in 1984), was also in the ranks of what came to be known as the Islamic cultural movement. Its advocates believed that Islamization should occur in the form of culturalization, not politization. They also believed that any Islamic movement should be more of a cultural rather than political movement. This kind of attitude emerging from the Muhammadiyah—and also the NU—“represents a more substantial understanding of the relationship between Islam and politics, or between Islam and the state in Indonesia.”10

Beside the NU and Muhammadiyah, there also appeared voices from intellectual movements attempting to find “a solution to the disharmony between Islam and the state.”11 These intellectual movements offered alternative thoughts about the Islam-state relationship, which differed from those of preceding Muslim activists. Led by Nurcholish Madjid, who was the General Chairman of PB HMI [the central headquarters of the Muhhamadiyah Youth Organization], these intellectual movements called for a renewal of Islamic thought and a rejuvenation of religious understanding.

Their calls broke through the stiff relationship between Islam and the state, but also incited controversy among the Islamic community—a risk that they must have anticipated. The revolutionary power and controversial nature of this movement was evident in the ideas they expressed, such as “Islam Yes, Islamic Party No”; the need for secularization and liberalization; and their sharp criticism of the idea of an Islamic state, which they called a mere apology.12 What they aimed to accomplish was to emerge from the old paradigms and thought patterns concerning the relationship between Islam and the state, and to offer a viewpoint different from that of mainstream thought.

Nurcholish Madjid, the “locomotive” behind these intellectual movements, regarded the Islamic state as an apologetic tendency of Muslims when confronted by modern Western ideologies such as democracy, socialism, communism and others. This apology in the face of modern ideologies led to an ideological-political appreciation of Islam, which in turn led to a desire for an “Islamic State,” comparable to democratic states, socialist states, communist states, etc.15 Nurcholish believed that this apology was a form of psychological and emotional compensation for Muslims’ low self-esteem in facing a modern life dominated by Western lifestyles. Through a totalitarian idealization of Islam, Islamist activists wished to prove that Islam was superior, or at least on a par with Western civilization and its modern ideologies in the realm of economics, politics, social life, etc.—i.e., fields where the Islamic community had suffered total defeat.

In light of this analysis, Nurcholish pointed out that the Islamist apology would not prove effective in the long run. After lending the Islamic community temporary satisfaction and self-esteem, he wrote, “These ideas would turn out to be false in the end, and come back as a boomerang to strike the Islamic community.”14 Nurcholish’s criticisms of the idea of an “Islamic State” shifted the mainstream Islamic paradigm, and also gave a sense of theological security to Muslims, in that they could remain good Muslims without having to establish an Islamic State or become a member of an Islamic Party.

This paradigm shift is readily evident in the fact that from the post-Independence era (Soekarno’s regime) to early New Order (Soeharto’s regime), the political formulas used by Islamic activists constantly clashed with other groups, i.e., nationalists and non-Muslims. The intellectual movements established by Nurcholish and his friends, on the other hand, attempted to “formulize a nationally acceptable relationship between Islam and the state.”15 This was carried out by reducing the legalistic-formalistic tendencies that Nurcholish observed had become so acute among the Islamic community, which he called “fiqihism.” [“obsession with Islamic law”]16

Insofar as bridging the gap between Islamic groups and nationalist groups (most of whom actually came from the Islamic community, but rejected the idea of an Islamic State), Nurcholish and friends were relatively successful. The question then emerged as to how to put these ideas and discourses into political action, so as not to remain a mere intellectual discourse or awareness. The actions of Islamic political activists from Nurcholish’s generation have demonstrated how these ideas might work in practice. The clearest example of this can be seen in the career of Akbar Tandjung. The former General Chairman of PB HMI [the Muhammadiyah’s youth wing] joined Golkar [Soeharto’s political party], which was clearly not an Islamic party. Akbar took this controversial step—his Islamic colleagues had wanted him to join an Islamic party—not without reason. In his own words:

Nurcholish’s “liberal” ideas have of course inspired HMI activists to enter the political arena. Nurcholish believes that we should fight for universal values, instead of Islamic symbols. So I believe that to fight for these values on a practical level, one does not necessarily have to be a member of an Islamic Party. I believe that the Islamic people’s aspirations can be fulfilled without Islamic parties.17

Akbar represents a new generation of political Islam that was formed by the Islamic thought renewal movement a la Nurcholish Madjid—something that had been unimaginable until then.

Meanwhile, on the level of governmental bureaucracy, Nurcholish Madjid’s ideas were given form and substance by figures like Munawir Sjadzali.18 Munawir served as the Minister of Religion for two back-to-back terms (1983-1993). His ideas about the reactualization of Islamic teachings helped give direction to the intellectual movements that had emerged since the nineteen seventies. This has placed him as one of the key and most influential figures of Islamic thought renewal in Indonesia.19 Similar to renewal discourses in the seventies, Munawir Sjadzali’s thoughts revolved around the concept of the Islamic State. His views were in line with those of Nurcholish Madjid and Kyai Haji Abdurrahman Wahid, and not unlike those of Syaikh Ali Abd al-Raziq from Egypt, who said that the concept of the Islamic state did not exist, nor did what was called an “Islamic State.”20

Indeed, the roots of Munawir’s thoughts about Islam – as Dawam Rahardjo has observed – revolved around the theories of Islamic state and government. As the Minister of Religion in the New Order, which the Islamic community viewed as an un-Islamic regime, Munawir faced a difficult task of convincing Muslims to accept Pancasila as the country’s foundation and ideology, as well as of their own ideology. He viewed Pancasila as a result of ijtihad (interpretation) that was, at least, in line with the most fundamental of Islamic teachings—a situation similar to the Islamic state and governmental system in the era of Khulafa’ al Rasyidin, which was a result of the collective ijtihad of the Islamic community at that time.21

Actually, long before Nurcholish and his friends criticized the idea of the “Islamic State,” Munawir had already written a book called Analyse: Mungkinkah Negara Indonesia Bersendikan Islam? (Analysis: Can the Nation of Indonesia be Based upon Islam?) in the nineteen fifties. At that time he used a pen name, Ibnu Amatillah. Perhaps he did not want to expose himself to personal attacks engendered by his criticism of the concept of an “Islamic State” at a time when the Islamic mainstream was zealously and emotionally supporting the establishment of an “Islamic State.” Munawir’s ideas may be regarded as too advanced for their time.22 In that book, as well as in his other works such as Islam dan Tata Negara (Islam and the State System), Munawir expressed his belief that all historical processes, including the succession of power from the Prophet to Abu Bakar, Umar, Utsman and Ali (the Prophet’s companions), were simply the result of human initiative and ijtihad. There were no instructions from the Prophet, let alone from God, about how a polity should be created. In other words, political issues have always been a fully rational issue.23

Certainly, during the nineteen fifties through the eighties – when Islam and the Indonesian state struggled intensively – we never heard of the term or the idea of civil society. But during the nineteen seventies, various socio-cultural groups (especially the NU and Muhammadiyah) and Islamic intellectual movements a la Munawir, Nurcholish and friends actually created a socio-cultural movement to build civil society from the ground up. Had the concept of civil society been as widely developed and understood at that time as it is today, it would have added much color to the dialectic and struggle between Islam and the state.

Today, clearly fewer Indonesians speak about the Islamic State. But the occasional maneuvers that demand a return to the Jakarta Charter or the national adoption of Islamic Shari’a, are a continuation of the idea of the Islamic State. It massively resurfaced, for example, during an MPR [national legislative session] session in 2000, when Islamic groups like FPI, KISDI, KAMMI, PII, HAMMAS, DDII, etc. rallied their followers at the DPR/MPR [legislative] building to voice their aspirations. In this case, the forces of Islamic civil society – represented by the NU and Muhammadiyah, and scholars such as Nurcholish Madjid – were among those who rejected the call for an Islamic State.24

The concept of civil society increasingly strengthens and informs Indonesia’s Islamic socio-cultural movements, for they share the same vision. In the concept of civil society, the people are not subordinate to the state, but its equal partner. This is also the case in Islam, especially Sunni Islam, where a religious institution must not force its concepts upon its followers or rule based on the claims or prerogatives of a single group. In Islam, power is civil power, as expressed through a consensus of the people. It is the people themselves who are the source of legitimate power. And therefore, those who possess political power may be toppled or relieved of that power, should the people wish it.25 It is this kind of civil society concept that is endorsed by the various socio-cultural Islamic groups and Islamic intellectual movements a la Nurcholish Madjid, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Munawir Sjadzali, etc.

After Islamic socio-cultural movements like the NU and Muhammadiyah withdrew from practical politics, they began to focus their activities on reinforcing civil society. Muslim youths – both belonging to groups affiliated to these two Islamic mass organizations, or to independent ones – are not thinking about the “Islamic State” anymore, either. They tend to spend more of their thought and energy on empowering civil society, by introducing progressive discourses, enhancing democracy and civil freedom, advocating issues such as gender and citizen rights, publishing, training, etc.

The essays compiled in this book are largely written by young Muslim who hold such an Islamic vision and orientation. They view their religion through the lens of the future. For example, they respect the legacy and traditions of classical thought, but are not reluctant to criticize it, if they feel that idealization of these classical legacies by certain Islamic groups today is excessive. The ideas of the past were born in response to the needs of their own time. Changing times bring about different needs, and thus a need for new formulations of thoughts and ideas. It is in this area that the contributors to this volume are now delving.

Today many of them are continuing their studies either within or outside Indonesia. Some are NGO activists or professors at universities. Their names are widely familiar to Indonesians because of their activities, their articles in the mass media or in books. As the editors of this volume, we will not describe the thoughts of the young contributors to this book one by one. We will let them speak for themselves about their concerns.

The articles compiled in this book are published as a tribute to the late Munawir Sjadzali, who has left us. Although a large age difference—three generations—separates many of the authors from that of Munawir Sjadzali, his ideas remain close to them, and have even come to form their inspiration and spirit.

Pak Mun—as he was intimately called—died on Friday, July 23, 2004 at Pondok Indah Hospital, Jakarta. He had been treated in the hospital since June 8, 2004, for stroke and complications of several diseases. The late Pak Munawir was known as an educator, diplomat, bureaucrat and thinker. As an educator, he was known for his brilliant ideas for improving Islamic education system and the future quality of Muslim scholars. Islamic professors from leading universities in the West today have not forgotten Munawir Sjadzali’s great deeds, for he was the one who fought to establish those channels of study in the West while he was serving as Indonesia’s Minister of Religion. The Special Programs for Madrasah Aliyah Project (MAPK), which opened in 1988 and later yielded many top-quality young scholars, was also the fruit of his labor.

As a diplomat, Munawir Sjadzali was a polite and well-respected figure in the international world. As a bureaucrat, he was known to be clean and honest—there have never been negative rumors about him during his service as a public official or afterwards. And as a thinker, he did not sit idly by the sidelines, when he witnessed the symptoms of rigid thinking befall the Islamic community. He will be remembered as one of the locomotives of Islamic thought renewal in Indonesia.

Munawir Sjadzali dedicated most of his life to the public welfare through his many careers, which he executed with hard work and no nonsense. Indeed, he conveyed his deep and “establishment-challenging” thoughts clearly and calmly, almost without ambition or fiery provocation. When in the nineteen eighties, for example, he voiced the need for the reinterpretation of Islamic law – concerning inheritance, bank interest, etc. – he was actually calling for scientific discussions of a kind that have long since disappeared from the Islamic intellectual mainstream.

A harsh polemic emerged when he voiced his reinterpretation ideas once again in Paramadina’s KKA forum in the late eighties. Nevertheless, he was not viewed as a controversial person seeking popularity. This was because his opinions were actually on many people’s minds; only they were reluctant to express their thoughts because the reinterpretation of Islamic law was considered a sensitive issue.  Undeterred by such considerations – because he considered it to be a real problem that Muslims faced every day – Munawir was convinced that the issue of reinterpretation must be openly addressed.

Now Munawir Sjadzali has passed on. But his legacy – the inspiration to delve into the essence of Islamic teachings – will always live on. To remember Munawir is to remember his spirit in capturing the dynamics of Islamic teachings, which he believed were flexible and could follow the turning wheels of time, as long as its adherents were able to correctly understand the spirit of the Qur’an.

This book aims to remember, and to eulogize, the figure, spirit, struggles and thoughts of Prof. Dr. Munawir Sjadzali, MA. It is hoped that the readers, especially the young generation, can benefit from his lifelong works and devotion.

In closing, we as editors would like to express our deepest gratitude to the family of the late Munawir Sjadzali, who have put their trust in us to compile this book. It would not have been completed without the help of many people, especially the involvement of the authors. For that we also express our appreciation and thanks to the various writers who have contributed their thoughts to this book.

We requested almost all of the articles in this book from the authors. We asked them to write especially about certain themes that we have arranged. However, we included some articles beyond the ones we requested, for their content is significant and should be widely read and known. For these articles, we included information regarding their source at the end of each article.

Of course, not all of the articles in this book are directly related to the figure or thoughts of the late Munawir Sjadzali. Ever since the origin of this project, it has been agreed that this book will address progressive discourses and issues in Islam, especially Islam in Indonesia, and that Pak Mun’s thoughts would be the source of inspiration. That is why the writers we have chosen are those who could be “imaginary students” of the late Munawir Sjadzali, whom we know to have been a progressive thinker.

As for books by and about Pak Mun himself that have been published by the Paramadina Foundation, there was one entitled Kontekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzi, MA. (The Contextualization of Islamic Teachings: 70 Years Prof Dr. H. Munawir Sjadzi, MA.) published in 1995 in association with IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia).  Following that, in 1997 Paramadina published a small book by Pak Munawir entitled Ijtihad Kemanusiaan (Humanistic Interpretation). As such, this is his third book published by Paramadina. We hope this volume will benefit us all, and happy reading.

Endnotes

1 The relationship between the two is described as “a story of antagonism and distrust by both sides.” See, for example, Bahtiar Effendy, Islam dan Negara; Transforamasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia (Jakarta; Paramadina, 1998), p. 60. Of course it should be noted that the relational problem between Islam and the state has also been a concern of Islamic movements all over the world, not only in Indonesia. See, for example, Abdurrahman Wahid, Mengurai Hubungan Agama dan Negara (Jakarta; Grasindo, 1999), p. 63.

2 In the fifties, many books were published on the theme of the relationship between Islam and the State, among others: Mukthar Yahya, Islam Dan Negara, Padang Pandjang, Poestaka Sa’adijah, 1946; H.S. Fachruddin, Politik dan Islam, Medan, 1951; Abu Hanifah, Soal Agama dalam Negara Modern, Djakarta, 1949; Muhammad Saleh Suaidy, Persoalan Negara Islam, Djakarta: Perbaikan, 1953; Zainal Abidin Ahmad, Membentuk Negara Islam, Djakarta: Widjaya, 1956; M. Hasbi Ash Shiddieqy, Dasar-Dasar Pemerintahan Islam, Medan, 1950; Zainal Abidin Ahmad, Islam dan Parlementarisme, Bandung, Indonesia: Aliran Islam, 1950; Mohammad Iqbal dan M. Natsir, Dapatkah Dipisahkan Politik dari Agama? Djakarta: Mutiara, 1954; Khalifa Abdul Hakim dan Syarif Usman, Konsepsi Asasi Tatanegara Islam: Ditambah Dengan Pendapat Alim Ulama Seluruh Pakistan dan Pendapat Alim Ulama Seluruh Indonesia, Djakarta: Fa. Sudjas, 1953; Ibnu Amatillah, M. Sj., Mungkinkah Negara Indonesia Bersendikan Islam: Analyse, Tjet. 1. ed. Semarang: Usaha Taruna, 1950. For further information, read also Luthfi Assyaukanie’s article in this book.

3 The Natsir vs. Soekarno polemic was recorded, in part, in the writings, Arti Agama dalam Negara; Mungkinkah Quran Mengatur Negara; Islam “Demokrasi?” etc. See Mohammad Natsir, Capita Selecta (Jakarta: Bulan Bintang, 1973). Soekarno himself had already written many articles about Islam, one of which incited this polemic, viz., Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dari Negara? (Why Has Turkey Separated Religion and State?), published in Panji Islam magazine, 1938.

4 Ahmad Syafii Maarif, “Dialog Dua Generasi”, introduction in Tidak Ada Negara Islam: Surat-Surat Politik Nurcholish Madjid—Mohamad Roem (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1997), p. xi.

5 Ahmad Syafii Maarif, ibid.

6 R. William Liddle, Pemilu-Pemilu Orde Baru: Pasang Surut Kekuasaan Politik (Jakarta: LP3ES, 1992), p. 10. Other Islamic parties also received little support, like PSII (2.39%), Perti (0.70%), while NU was politically moderate (18.67%). The utter defeat of these Islamic parties, according to Harold Crouch, was because the New Order regime had succeeded in creating “an unfavorable condition for political parties” (quoted from Bahtiar Effendy, Islam dan Negara, p. 116).

7 Among these policies were: permitting gambling to increase revenue for the city of Jakarta’s local government; the 1973 bill of marriage; the government’s suggestion in 1978 legislative session to upgrade the status of traditional beliefs to recognize these as a religion, like Islam; and the adoption of Pancasila as the only foundation for all sociopolitical forces, which for the Islamic community meant that they had to replace Islam with Pancasila as their political party’s or socio-cultural movement’s foundation.

8 The Tanjung Priok Incident, which occurred on September 12, 1984, was incited by the Islamic community’s feeling offended by military thugs, who entered a mosque in a densely-populated area without taking off their shoes and then poured ditch water on the walls. These actions angered Islamic activists, who subsequently launched a major demonstration, which was met by the police with gunfire. This tragedy took the lives of 63 Muslims, left 100 badly wounded, and 171 disappeared.

9 Such an approach is not without religious basis. Kyai Haji Abdurrahman Wahid has explained that it follows a fiqh rule that says, ma la yudraku kulluh la yutraku julluh, which means “That which cannot be gained fully is not to be omitted completely.” As a whole, he said, of course Muslims initially hoped for a formal adoption of the Islamic State, but with the birth of the Indonesian Republic, we must accept the most important thing in it, which is the existence of a country that allows Muslims to follow and express their religious teachings. (See Mengurai Hubungan Agama dan Negara, p. 341).

10 M. Din Syamsuddin, Islam dan Politik Era Orde Baru (Jakarta: Logos, 2001), p. 156.

11 Bahtiar Effendy, Islam dan Negara, p. 126.

12 See Nurcholish Madjid’s paper, “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” and “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”, republished in Charles Kurzman (ed.), Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-Isu Global (Jakarta: Paramadina, 2001), p. 484-503

13 Ibid., p. 501.

14 Ibid., p. 502.

15 Bahtiar Effendy, “Islam dan Negara di Indonesia: Munawir Sjadzali dan Pengembangan Dasar-Dasar Teologi Baru Politik Islam”, in Kontekstualisasi Ajaran Islam, 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA (Jakarta; Paramadina and IPHI, 1995), p. 404.

16 See “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”, republished in Charles Kurzman (ed.), Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-Isu Global (Jakarta, Paramadina, 2001), p. 503).

17 M. Deden Ridwan and M. Muhajirin, Membangun Konsensus: Pemikiran dan Praktek Politik Akbar Tandjung (Jakarta: Sinar Harapan, 2003), p. 127.

18 Bahtiar Effendy, “Islam dan Negara di Indonesia: Munawir Sjadzali dan Pengembangan Dasar-Dasar Teologi Baru Politik Islam,” in Kontekstualisasi Ajaran Islam, 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA (Jakarta; Paramadina and IPHI, 1995), p. 410.

19 See M. Dawam Rahardjo’s article in the preface to this book.

20 Ibid.

21 Ibid.

22 See Luthfi Assyaukanie’s article in this book.

23 Ibid.

24 See, “Tiga Tokoh Islam Tolak Piagam Jakarta”, Republika, August 11, 2000, republished in Kurniawan Zein and Saripudin HA, Ed., Syariat Islam Yes, Syariat Islam No: Dilema Piagam Jakarta dalam Amandemen UUD 1945 (Jakarta; Paramadina, 2001), p. 203.

25 Fahmi Huwaydi, Demokrasi, Oposisi, dan Masyarakat Madani, translated (Bandung: Mizan, 1996), p. 197-198.

Komaruddin Hidayat, Prof. Ph.D., Professor of Islamic Philosophy at Universitas Islam Negeri (UIN/State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta. He earned his doctorate in philosophy from the Middle East University in Ankara, Turkey. In 1997 Dr. Hidayat was appointed Executive Director of Paramadina Foundation, then as the Executive Director of Madania Education Institution. He is currently a member of Paramadina Foundation’s Board of Patrons. A former reporter for Panjimas magazine, Dr. Hidayat is a prolific author whose writings often appear in numerous leading national newspapers and magazines such as Kompas, Republika, Koran Tempo, Suara Karya, Majalah Tempo, Gatra, Forum, and many others. His published works include Memahami Bahasa Agama (Understanding the Language of Religion; Paramadina, 1996), Agama Masa Depan (Religion of the Future; Paramadina, 1996), Tragedi Raja Midas (The Tragedy of King Midas; Paramadina, 1999), Fikih Lintas Agama [co-author] (Interreligious Jurisprudence; Paramadina, 2003). He was previously the Director of Perguruan Tinggi Agama Islam (Islamic Tertiary Education) at the Indonesian government’s Department of Religion.  During the 2004 Elections, he was the head of Central Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu, the Elections Observer Committee). He is currently the Dean of the Graduate School at the Islamic State University, Jakarta.

Ahmad Gaus AF, is Libforall Foundation’s Director of Publications, where he is responsible for translating the best work of progressive Indonesian Muslims into Arabic and English.  Chief Editor at Paramadina Publishing from 1999-2005, Mr. Gaus is an alumnus of the Communications Department at Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP/Institute for Social and Political Science) in Jakarta, Indonesia. He studied religion at Pondok Pesantren (Islamic boarding school) Daar el-Qolam under the tutelage of Dr. Kyai Haji Ahmad Rifai Arief. While in college, Mr. Gaus was a member of Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI/Indonesian National Studients’ Movement in Greater Jakarta) Jakarta Raya, and a visiting student at several religious schools (pesantren salafiyah, affiliated with the Nahdlatul Ulama). In 1998, together with several intellectuals and activists, Mr. Gaus founded the Indonesian Institute for Civil Society (INCIS), an NGO that promotes advocacy and empowerment in the field of social politics. He was INCIS’s Program Officer in a study of “ethnic conflicts,” performed in collaboration with LP3ES-OTI. He was also an associate researcher at P3M under Kyai Haji Masdar F. Mas’udi.

Mr. Gaus’s career as a writer began in middle school, when he contributed to the teenage, education and culture sections of many Sunday newspapers. His articles, columns, features and book reviews have been published in newspapers and magazines including: Kompas, Media Indonesia, Republika, Suara Karya, Majalah Gatra, MATRA, GAMMA, Panjimas, Petra Journal, Kultur Journal, etc. He is the co-author of Fikih Lintas Agama (Interreligious Jurisprudence: Paramadina, 2003), edited several anthologies by Nurcholish Madjid, such as Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi (In the Name of Experience: Practicing Religion and Nationhood in a Time of Transition; Paramadina, 2002), Dialog Ramadlan Bersama Cak Nur (Ramadan Dialog with Cak Nur; Paramadina, 2000), Kaki Langit Peradaban Islam (Horizons of Islamic Culture; Paramadina, 1997), Masyarakat Religius (Religious Society; Paramadina, 1997). With Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, he edited Passing Over: Melintasi Batas Agama (Passing Over: Crossing the Boundaries of Religion; Gramedia-Paramadina, 1998).  He contributed hundreds of entries for Ensiklopedi Islam untuk Pelajar (Islamic Encyclopedia for Students; Jakarta, PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002).
http://www.libforall.org/programs-islam-state-civilsociety.01.html


© 2003 – 2010 LibForAll Foundation