Mata yang Indah

“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

(“Resah”, oleh Payung Teduh)

MATA YANG INDAH

Mata yang indah
adalah seribu kunang-kunang
yang berpindah dari lembah
ke taman pedestrian
dan membawaku kembali duduk
di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.

Walau langit gelap
mata itu tetap purnama
tapi aku tak ingin menatapnya
karena aku akan tersiksa
maka kubiarkan kaki berjalan
dalam kegelapan.

Mata yang indah adalah muara
pelabuhan bagi biduk-biduk
resah dan kebahagiaan
dalam mata yang indah
kehidupan selalu basah
karena di kelopaknya yang rawan
hanya ada musim penghujan.

03/09/17
Rumah Budaya Nusantara
PUSPO BUDOYO, Tangsel.

Baca juga: [Puisi] Z

[Puisi] Ketupat Lebaran

lebaranketupat

KETUPAT LEBARAN

Anak-anak membakar petasan di ujung gang dan dilemparkan begitu saja ke arahku

Senyampang ledakan persis di wajahku, aku terlempar jauh sekali

Ke masa kanak-kanak, di bawah pohon kelapa

Ketika nenekku mengajari menganyam ketupat.

“Nanti malam malaikat-malaikat akan turun,” katanya. “Kita beri mereka makanan enak supaya nanti kita ditunjuki jalan ke surga.”

Malam hari kulihat banyak sekali ketupat di mushalla tempat kami salat tarawih

Tapi usai qunut dan witir para jamaah melahap ketupat-ketupat itu dan sebagian dibawa pulang hingga tidak ada yang tersisa.

“Aku tidak melihat para malaikat makan ketupat, ke mana mereka?” Tanyaku.

Imam tarawih, yang tidak lain adalah kakekku, menjelaskan bahwa para malaikat akan datang di sepertiga malam. Maka malam itu aku dan teman-teman berjaga di mushalla. Sebagian memukul bedug dan yang lain saling memijat bergantian dengan cara menginjak badan. Tidak ada satu pun yang mengaji karena kami khawatir malaikat datang tanpa diketahui.

Lewat tengah malam listrik padam. Tapi langit begitu terang. Para malaikat beriringan membawa obor yang dibuat oleh nenekku. Menyebrangi sungai yang masih jernih dan luas di kampungku.

Penduduk mengikuti para malaikat itu dari belakang. Kakekku menyerukan agar semua berbaris rapi menuju sebuah bukit. Itulah tempat keutamaan, katanya, di mana para nabi telah menunggu ribuan tahun lamanya.

“Terus berjalan, terus!” Kakekku berseru lagi. Semua mengikuti perintahnya, menembus malam yang diterangi cahaya obor. Makin jauh kami berjalan suasana makin sunyi. Sampai ke lereng bukit. Kami mendengar rumputan dan batu-batu bertakbir.

Dari kejauhan aku mendengar sayup-sayup bunyi petasan berubah perlahan-lahan menjadi suara takbir. Melesap masuk ke lorong waktu yang sangat panjang, yang menghubungkan ruh dan jasadku.

Malam ini aku melihat almarhum kakek dan nenekku turun dari bukit membawa ketupat.

Ciputat, 04-06-2019

Ahmad Gaus