Categories
Puisi

Puitisasi Pancasila

beda-hari-lahir-pancasila-1-juni-dengan-hari-kesaktian-pancasila-1-oktober-sejarah-peringatannya

 

PUITISASI PANCASILA

Tuhan Yang Mahaesa diseru dengan banyak nama

Tapi nama-nama itu tidak membuat Dia menjadi banyak

Tuhan Yang Mahaesa disembah umat berbeda agama

Tapi agama-agama itu tidak menjadikan Tuhan berbeda

Sebab Zat yang satu tidak dapat dibeda-bedakan

Dia yang satu, adalah simbol tertinggi persatuan manusia

Maka perbedaan-perbedaan di antara umat manusia

Dipersatukan oleh Tuhan Yang Mahaesa

Itulah keadilan tertinggi yang menciptakan keseimbangan di bumi  manusia

Karena itu ketidakadilan oleh manusia terhadap manusia lain membuat bumi berguncang

Menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab

Menyulut bara konflik dan pertikaian

Dan muara dari setiap pertikaian ialah perpecahan antara manusia dengan Tuhan

Itulah peristiwa paling tragis dalam peradaban manusia

Maka agama-agama menyerukan persatuan antara manusia dengan manusia

Dan kesatuan manusia dengan Tuhan Yang Mahaesa

——

Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2020

(Puisi ini pernah dibacakan di acara Komunitas Bela Indonesia, di Batam, 01 Desember 2018)

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] PENYATUAN

PENYATUAN

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

Categories
Puisi

Doa Penawar Rindu

e430c45c2a5452be915413e0638dd9ef

DOA PENAWAR RINDU

Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih
melebihi kerinduanku kepada-Mu
ampuni aku!
Sebab, aku bukan penguasa atas apapun
yang terbersit di hatiku
melainkan Engkau.
Dan jika kecintaanku pada kekasih
melebihi kecintaanku kepada-Mu
maafkan aku!
Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa
yang berdenyut di jantungku
melainkan Engkau.

Dalam zikir-zikir yang kulantunkan
untuk memuji nama-Mu
tanpa sadar kusebut pula namanya.
Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru!
Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku
melainkan atas izin-Mu juga.
Dan dalam sujud-sujud malamku
untuk mengagungkan-Mu
kuagungkan pula namanya di hatiku.
Jangan kutuk aku, Tuhan
walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!

Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu
kepada Engkau pula kelak akan bermuara
aku hanya pendayung waktu
rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu
untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku.
Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh
yang akan kujalani selama hidupku
dan rindu ini sebagai ibadah
yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.

Gedung Film, Maret 2016

Categories
Puisi

[Puisi] S

ae6871b3c7ac0d0d572f78aad4c3b0e6
Screenshot_2020-05-16-16-59-38-1-1

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] W

20200508_092641(1)

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Tentang Tulang Rusuk yang Dicuri oleh Kawanan Burung

bird

TENTANG TULANG RUSUK YANG DICURI OLEH KAWANAN BURUNG

– Untuk Neng Dara Affiah

Setiap manusia dikirim ke dunia untuk mencari tulang rusuknya yang hilang
Konon, sekawanan burung mencurinya di langit ketika manusia tertidur lelap
Lalu menurunkannya di suatu tempat di muka bumi
Setelah itu burung-burung berkicau sepanjang hari, sepanjang masa
Sampai tiba waktunya mereka harus kembali ke langit untuk menghadapi pengadilan.

Sebagian orang berhasil mendapatkan tulang rusuknya yang hilang itu
Sebagian lagi menemukan tulang rusuk yang salah
Sehingga tidak cocok untuk ditempatkan di bagian mana pun dalam dirinya
Bahkan, ya Allah, ada tulang rusuk yang terlepas dari genggaman burung ketika dibawa dari langit
Walhasil, tidak pernah sampai di muka bumi

Orang-orang senang memelihara burung karena dorongan hasrat primordial untuk membalas dendam
Padahal sebagian dari mereka harus kembali ke langit untuk mencari barang curiannya yang hilang dan dibawa ke bumi
Kita tidak akan memahami ini sampai mendengar suara-suara burung yang membangkitkan bulu kuduk.

Jakarta, 13 Maret 2019
Ahmad Gaus AF

Baca tulisan Neng Dara Affiah di sini:

https://www.qureta.com/post/menyoal-paham-teologi-tulang-rusuk?fbclid=IwAR2zllLhi9a5DVze7I8rHMn2SRG6mWc_0TEi-yVtgYi3p-4FKJZb77Iom1k

 

 

 

 

 

Categories
Puisi

[Poem] NIGHT SONG

night song
Illustration: https://clipartxtras.com/download/f1d25e8e219045ed723722d5d2301838b64bef4e.html

 

NIGHT SONG

Specks of dust in the night sky kept my loneliness in company.  The moon sits perfectly in the window.  Reluctantly contemplating to deliver message from the lover – who is the horizon.

I imagine he comes up to me, bringing about an influx of deafening silence in my chest.  Calling back seagulls, who flew miles away to another bay to make love.  Reminiscing memories buried in sand and stone.  In my shore the mist sleeping so soundly.  Coral reefs stood still waiting, and endlessly waiting for the souls  Souls who can resuscitate them with new life 

My tongue is squeezed under the foam.  Words cross the island, and they are worn out for carrying the truth And finally, place them under the rainbow stairs when strong winds hit the beach in the afternoon.

Accordingly, tonight my song flowed into the still lake.  Because, who else can play such beautiful a tone other than silence, and who else can blink a life soul other than the clear eyes.  

A poem by ahmad gaus, surabaya, Oct 04/17

 

 — Album Kenangan Pribadi —

IMG-20170822-WA0012
august 2017, tidung island, kepulauan seribu
Categories
Puisi

[Poem] Zombie City

72b67-infected___zombie_rpg_artwork__1_by_stayinwonderland-d7vsp8y
Illustration: https://ivantsaklev.wordpress.com/2015/06/24/infected-zombie-city/

 

ZOMBIE CITY

Zombies build cities from the ground up in the holy human soil. After such a great war, in which they undoubtedly trounce over humans, authority has changed hands.  New rules are born.  Laws are enforced way above zombie values.  Values pouring from the fresh blood of corpses that roam; from the dead who sought revenge. 

Who is responsible for all this?  Where earth must be rescued from the breeding of new zombies; from an energy so bleak vandalism, terrorism, fanaticism all interwoven in their nature.

Humans have nowhere to evacuate but to prepare for the next war.  We are to reclaim the ancestral land back from them.  The land they so disgustingly set foot on is now enclosed by the unwanted debris of zombies who roamed into human bodies. 

While new buildings are erected from piles of decapitated heads, the streets are made from loose hands.  And the lights were removed from the eyes hung on the roadside poles. 

The whole city is now under their control. We are to transform ourselves into super-zombies to defeat them.  Or else, we shall require help from the almighty extraterrestrials They who can attract all religious doctrines  Doctrines which have turned humans into zombies in the first place.

a poem by ahmad gaus