Nada Cinta

Perempuan yang Menangis di Jendela

 

Baca juga –>  Diagram Air Mata

Selamat Hari Puisi Sedunia

Selamat Hari Puisi Sedunia
21 Maret 2021
Ada orang yang bilang: Cinta itu indah walaupun tanpa kata-kata indah. Menurut saya, cinta akan lebih indah dengan kata-kata indah (puisi). Saya yakin anda setuju dengan pendapat saya.
Ada juga yang bilang bahwa: “Sebait puisi yang dihadiahkan untuk sang kekasih lebih bernilai daripada segenggam emas.” Kalau yang ini mungkin hanya laki-laki yang setuju. 😄😆

January Poem

Read another poem:

December Poem

KIDUNG CISADANE

 
KIDUNG CISADANE
 
Buku Kidung Cisadane karya penyair Rini Intama sampai sekarang merupakan salah satu — dari sedikit — buku puisi terbaik yang pernah saya baca. Teh Rini menyajikan syair-syair indah dengan lantunan irama dan diksi yang apik.
 
Lebih dari itu, ia juga memotret sejarah dan budaya masyarakat Tangerang dalam diorama puitika yang syahdu dan sekaligus mencekam; membawa kita pada kenangan masa lalu tentang masyarakat yang hidup berdampingan dengan rukun, damai, dan harmoni. Tidak ada sekat-sekat identitas suku, ras, dan agama yang sangat keras seperti sekarang.
 
Ini buku puisi, tapi juga buku tentang multikulturalisme. Di dalamnya ada 65 puisi yang berkisah tentang gedung-gedung tua, pasar lama, kuburan China, tari Cokek, kelenteng, masjid, rakit, gang-gang sempit, pasar tradisional, pinggiran kali Cisadane, dan lansekap kota tua yang menyimpan seribu kisah para leluhur. Tak pelak lagi, penulisnya memang secara sadar ingin memantik kesadaran historis melalui penggambaran akulturasi suku-suku Betawi, Sunda, Jawa, dan China di masa lalu.
Pada 2016 Kidung Cisadane masuk 5 Buku Puisi Terbaik versi Yayasan Hari Puisi Indonesia. Dan pada 2017, buku ini meraih Anugerah Acara Sastra dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) bidang Puisi pada tahun 2019 juga memasukkan buku ini sebagai Karya Sastra Unggulan.
Seandainya saya Walikota Tangerang, saya akan mewajibkan buku ini untuk dibaca di sekolah-sekolah di Tangerang. Tujuannya: agar murid-murid (dan juga para guru) memahami bahwa mereka hidup dan berpijak di tanah leluhur yang mewarisan nilai-nilai kemanusiaan universal, melampaui sekat-sekat identitas keagamaan, kesukuan, dan rasisme yang sempit. Jika mereka melupakan itu, apalagi mengingkarinya, nenek bilang akan kualat. Ngeri ‘kan?!
 
Tangerang adalah kota yang dibentuk oleh sejarah yang panjang yang melibatkan banyak aktor dari beragam latar belakang suku, agama, dan budaya. Justru itulah yang membuat kota ini heterogen, metropolis, dan potensial dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya. Itu pun kalau para pemegang otoritasnya punya imajinasi seluas cakrawala.
Berikut saya sajikan tiga puisi dalam buku tersebut:
MASJID JAMI KALIPASIR
Abad tujuhbelas yang membekas sunyi, di lembaran waktu kota ini
Mengetuk ingatan tentang syiar Islam berabad silam
Perahu kecil berlayar menuju lekuk tubuh sungai dan belukar
Dari kahuripan tanah makmur, hingga di bantaran cisadane sebelah timur
Membangun altar kebesaran, atas nama Tuhan yang mengirim pesan
Di tanah pecinan empat tiang kayu menyangga kubah bergambar teratai
Ada percakapan bulan dan cahaya semesta di atas dua makam tua
Aksara ayat di empat penjuru angin
Di sinilah bibit-bibit perjuangan tersemai
Kitab Tuhan dan suara azan dari menara mesjid bersujudlah langit dan bumi
Melintasi alam pagoda dan ekor naga adalah cahaya yang memandang langit
Di peradaban tua, manusia tetap saling mencinta hingga ke surga
(Intama, 2016:4)
RUMAHMU KINI : Kapitan Oei Dji San
Dua abad rumahmu di persimpangan Karawaci
Bercerita soal Si He Yuan, ladam kuda si penyangga cinta
Pada tiang kayu dan batu-batu zaman peradapan yang dingin
Aku membaca soal rumah besarmu yang kau tinggalkan
Tanpa pesan di dinding rumah atau pada batu nisan
Juga di perkebunan karetmu yang luas
(Intama, 2016: 2).
KOTA TUA
Di kota ini, dermaga tua tepian Cisadane menyimpan kisahnya
Air mengalir serupa kidung rindu sang bunda
Dan aroma melati makam pahlawan di tengah kota
Menabur nyanyian klasik para tetua tentang tanah-tanah yang merdeka (Intama, 2016: 6).
 
Sebelum menutup esai ini saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Teh Rini Intama yang berulang tahun pada 21 Februari, semoga panjang umur, berkah, dan tetap produktif menulis.
 
Sentuhan Puisi 1
 
SALAM,
Ahmad Gaus, dosen Bahasa dan Budaya, Swiss German University, SGU, Tangerang, dan penulis buku Kutunggu Kamu di Cisadane
 
Tulisan ini dalam versi lebih singkat sudah ditayangkan di Grup Facebook “Sejarah Kota Tangerang”, silakan bergabung kalau anda orang Tangerang atau tinggal di Tangerang.
 
 
Baca novel saya:

Indahnya Cinta Segitiga

Dua orang perempuan saling menyayangi. Tapi, keduanya mencintai pria yang sama. Cinta segitiga terjalin begitu saja. Ada cemburu. Ada marah. Ada curiga. Tapi kasih sayang di antara kedua perempuan itu membuat mereka harus menafsirkan kembali cintanya pada si pria. Mereka tidak ingin kehilangan sahabat, tapi juga tidak mau ditinggal kekasih. Akhirnya sebuah kompromi dilakukan. Cinta segitiga terjalin mesra.

Masalah baru muncul ketika datang seseorang yang lain (pria atau wanita, hayoo tebak?). Cinta segitiga akhirnya berkembang menjadi persegi panjang. Romantis, seru, menggairahkan, penuh kelembutan, dan sekaligus brutal. Ikuti kisahnya dalam novel Hujan dalam Pelukan di platform NovelMe, selagi masih gratis, sebelum di-setting di halaman berbayar.  Ini link-nya : https://share.novelme.id/starShare.html?novelId=22983

Mata yang Indah

“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

(“Resah”, oleh Payung Teduh)

MATA YANG INDAH

Mata yang indah
adalah seribu kunang-kunang
yang berpindah dari lembah
ke taman pedestrian
dan membawaku kembali duduk
di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.

Walau langit gelap
mata itu tetap purnama
tapi aku tak ingin menatapnya
karena aku akan tersiksa
maka kubiarkan kaki berjalan
dalam kegelapan.

Mata yang indah adalah muara
pelabuhan bagi biduk-biduk
resah dan kebahagiaan
dalam mata yang indah
kehidupan selalu basah
karena di kelopaknya yang rawan
hanya ada musim penghujan.

03/09/17
Rumah Budaya Nusantara
PUSPO BUDOYO, Tangsel.

Baca juga: [Puisi] Z

Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

Quote

“… selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.”

Ahmad Gaus yang bertindak sebagai pembicara utama berpendapat bahwa tidak ada perkembangan yang berarti dalam bahasa Indonesia sejak ia dibakukan, dipolakan dalam rumus bahasa yang baik dan benar. Yang terasa, ujarnya, justru kekakuan dalam berbahasa. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sangat formal yang hanya cocok digunakan di forum-forum resmi. Di luar itu, seperti dalam pergaulan, bahasa yang baik dan benar itu tidak bisa digunakan, “Lucu sekali kalau kita bercakap-cakap dengan teman menggunakan bahasa baku,” tandasnya.

Dijelaskan bahwa selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.

Ia mencontohkan bahasa dalam film-film Indonesia yang tidak maksimal mengeksplorasi kekayaan estetik bahasa Indonesia. Akibatnya film-film kita gagal menyajikan sentuhan seni yang paripurna, sebab kita hanya disuguhi cerita. Berbeda dengan film-film produksi luar yang mampu mengintegrasikan kecanggihan cerita, sinematografi, dan sekaligus keindahan bahasa. “Kalau film hanya mampu menampilkan bahasa yang sama dengan bahasa sehari-hari, lalu di mana unsur seninya. Bahasa film harusnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dari bahasa sehari-hari. Sebab salah satu fungsi film ialah mengedukasi, termasuk di dalamnya mengedukasi masyarakat agar memiliki selera bahasa yang berkelas.”

Tersingkirnya estetika dari bahasa Indonesia, menurut Gaus, disebabkan karena bahasa sudah dipisahkan dari sastra. Sehingga seperti jasad tanpa ruh, raga tanpa jiwa. Pendidikan sastra hanya menjadi bagian kecil dalam mata pelajaran bahasa. Ada komunitas sastrawan di satu pihak yang menjadi penguasa jagad sastra, di pihak lain ada masyarakat yang tidak mengenal sastra. Keduanya dipisahkan oleh tembok tinggi. Padahal di masa lalu masyarakat adalah pencipta karya sastra itu sendiri seperti yang terlihat dalam budaya berpantun. Saat ini pantun sudah hilang dari tradisi berbahasa, padahal anak-anak yang diajari pantun sejak dini akan tumbuh menjadi penutur bahasa yang baik. 

Akibat lebih jauh dari terpisahnya bahasa dan sastra ialah, bahasa kita menjadi sangat kaku dan kering. Belum lagi orientasi politik bahasa yang cenderung pada birokrasi dan peraturan. “Masak cuma mau memasukkan 3 perubahan sepele saja harus mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengubah EYD menjadi EBI. Ini menunjukkan rezim bahasa tidak mengerti persoalan dan minim wawasan,” tandas Gaus. Walhasil sejauh ini, bahasa Indonesia hanya dapat menjadi alat komunikasi dan tidak bisa menjadi ekspresi kebudayaan. Maka yang harus kita lakukan ialah memutus keterasingan masyarakat terhadap sastra. Bahasa butuh ruang untuk berkembang, dan salah satu medianya adalah karya sastra…”

Selengkapnya baca di sini: https://www.csrc.jalalon.com/news/diskusi-umum-masa-depan-bahasa-dan-sastra-indonesia-2

Aku Bertanya Pada Cinta

ee877e63d4bb767c294e093bbcda1e5c

AKU BERTANYA PADA CINTA

Aku bertanya pada cinta
sampai kapan akan membiarkan rindu
terbelenggu dalam penjara jiwa.
Ia menggelengkan kepala
menitikkan airmata!

Aku bertanya pada rindu
sampai kapan akan membiarkan cinta
terpenjara dalam belenggu kalbu.
Ia menangis pilu
menumpahkan airmatanya di bahuku!

Akhirnya aku bertanya pada airmata
sudikah ia mempertemukan
cinta dan rindu di taman pelaminan
dimana tak ada lagi kesedihan.
Ia pergi meninggalkanku
sambil menangis tersedu-sedu!

—  Gedung Film, Maret 2016

Baca juga: Mata yang Indah

 

Aku Tidak Memesan Malam

 

bulannn

AKU TIDAK MEMESAN MALAM

puisi ahmad gaus

 

Aku tidak memesan malam

ia datang begitu saja

dituangkan angin ke cangkir kopi

“Untuk apa?” tanyaku

“Aduklah, lalu minum,” katanya, “sebentar lagi sepi akan datang

ia akan menemanimu mengobrol.”

 

Hei, siapa pula yang memesan sepi?

aku sedang ingin sendiri

seisi rumah sudah kukeluarkan

kuletakkan di pinggir jalan

pakaian yang kukenakan telah kulucuti

kusedekahkan pada pengemis yang nyaris telanjang

bahkan tangan, kaki, alat vital, mata, telinga, hidung

telah kuberikan pada orang-orang yang lewat

terserah mau mereka apakan

aku ingin menyendiri

benar-benar sendiri.

 

Dunia sekelilingku telah menjadi asing

orang-orang tak kukenal hilir mudik

menuju tempat-tempat hiburan

merayakan malam dengan tangisan yang meriah

sebagian lagi berjubel di pusat-pusat perbelanjaan

memasukkan sepi ke kantong-kantong plastik.

 

Biarlah aku tetap seperti ini

tanpa malam, tanpa sepi

sebab keduanya sama saja:

telah tercemar oleh bau busuk keramaian

hanya kesendirian yang membuatku nyaman

hidup apa adanya, penuh kepasrahan

seperti bayi yang baru dilahirkan

dan dibuang ke dalam selokan

lalu menyusu dari polutan.

 

 

Ciputat, 10/1/2016

 

Remy Sylado dan Gerakan Puisi Mbeling

PuisiMbelingCover

Catatan Ahmad Gaus

Pada 12 Juli 2015 lalu budayawan dan sastrawan Remy Sylado genap berusia 70 tahun. Sejak remaja, pria kelahiran Makassar 12 Juli 1945 ini telah aktif menulis puisi, esai, cerpen, novel, drama, kolom, kritik, roman, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Sebagai kado di hari ulang tahunnya, dan sekaligus doa untuk kesembuhannya (karena beliau sedang sakit), berikut saya turunkan sebuah catatan atas gerakan sastra yang pernah dipeloporinya pada tahun 1970-an: Gerakan Puisi Mbeling. Catatan ini semula merupakan makalah penulis yang disampaikan pada diskusi sastra di kampus Swiss German University (SGU) pada Mei 2013. Makalah ini pun pernah saya kirimkan kepada Bang Remy dengan harapan mendapat masukan-masukan dari beliau. Melalui emailnya pada 18 Juli 2013 ia menjawab: “Oke, sudah saya baca. Silahkan saja dilanjutkan.”

______________________________

Mei Hwa perawan 16 tahun
Farouk perjaka 16 tahun
Mei Hwa masuk kamar jam 24.00
Farouk masuk kamar jam 24.00
Mei Hwa buka blouse
Farouk buka hemd
Mei Hwa buka rok
Farouk buka celana
Mei hwa buka BH
Farouk buka singlet
Farouk buka celana dalam
Mei Hwa telanjang bulat
Farouk telanjang bulat
Mei Hwa pakai daster
Farouk pakai kamerjas
Mei Hwa naik ranjang
Farouk naik ranjang
Lantas mereka tidurlah
Mei Hwa di Taipeh
Farouk di Kairo

– Remy Sylado –

Apa saja bisa dan boleh ditulis menjadi puisi, dan siapa saja bisa dan boleh menjadi penyair. Begitulah kesan yang muncul dalam gerakan puisi mbeling yang dipelopori oleh Remy Sylado pada tahun 1970-an. Puisi berjudul Kesetiakawanan Asia Afrika yang dikutip di atas adalah salah satu contoh puisi mbeling yang dimuat di majalah Aktuil, tempat Remy berkiprah sebagai redaktur yang mengasuh rubrik yang juga diberi nama “Puisi Mbeling”. Belakangan puisi-puisi karya Remy Sylado selama 30 tahun diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2004) dalam buku berjudul Puisi Mbeling Remy Sylado.

remy7
Remy Sylado: Pencetus Puisi Mbeling

Puisi mbeling lahir bersamaan dengan menguatnya konsolidasi politik pemerintah Orde Baru yang baru saja menaiki panggung kekuasaan. Euforia di kalangan politisi dan aktivis pergerakan yang telah berhasil menumbangkan rezim lama masih terasa. Berbagai harapan yang dipikulkan kepada pemerintahan baru kerapkali tidak menyisakan sikap kritisisme sebagaimana yang diperlihatkan pada era demonstrasi besar (1966). Alih-alih, justru yang muncul ialah usaha kolektif untuk menciptakan suasana kondusif dan “stabil”, bukan hanya dalam politik tapi juga sastra.

Penampakan salah satu edisi Majalah Aktuil, tempat lahirnya gerakan Puisi Mbeling.
Penampakan salah satu edisi Majalah Aktuil, tempat lahirnya gerakan Puisi Mbeling.

Sebagaimana dinyatakan oleh Remy Sylado, gerakan mbeling merupakan perlawanan yang diarahkan pada dua sasaran: pertama, estetika puisi yang tertawan dalam pikiran-pikiran konvensional yang melulu diungkap secara kabur dan gelap dalam bahasa berbunga-bunga sehingga puisi kehilangan tanggung jawabnya terhadap realitas, dan; kedua, situasi politik Orde Baru yang nyata dibingkai dalam gerontokrasi yang salah kaprah dengan slogan-slogan dari pejah gesang nderek bapak ke mikul dhuwur mendem jero.1)

Sebelum lahir sebagai genre puisi, gerakan mbeling sebenarnya telah muncul sebagai fenomena teater, dimana Remy Sylado melalui Dapur Teater 23761 di Bandung yang didirikannya mementaskan Genesis II, kemudian berturut-turut Exsodus II, dan Apocalypsis II. Dalam pentas-pentas teater itulah ia mengenalkan istilah mbeling. Anotasi II selalu disertakan sebagai lambang perlawanan terhadap yang sudah ada. Gerakan mbeling sebagai perlawanan budaya lewat teater juga diakui Remy sebagai reaksi terhadap WS Rendra dengan teaternya yang berpandangan bahwa perlawanan terhadap budaya mapan harus dilakukan dengan sikap urakan. Dalam Apologia Genesis II Remy menyatakan bahwa kata urakan dalam bahasa Jawa berkonotasi negatif: tidak sopan, tidak tahu aturan, dan kurang ajar. Karena itulah Remy, melalui teaternya, mengajukan kata “mbeling” yang lebih berkonotasi positif. Walaupun tetap bernuansa nakal, mbeling berasosiasi dengan pengertian pintar, mengerti sopan-santun, dan bertanggung jawab.

Gara-gara pementasan Genesis II itu Remy diinterogasi polisi Bandung selama hampir dua minggu. Namun peristiwa itu sekaligus mendorongnya untuk tetap menggunakan kata “mbeling” dan menjelaskan konsep di belakangnya sebagai budaya tandingan. Konsep itu kemudian ditransformasikan ke dunia puisi ketika pada tahun 1971 Remy bergabung dengan majalah Aktuil yang didirikan Denny Sabri, Toto Rahardjo, dan Sony Soeryatmadja. Kehadiran Remy di majalah hiburan dan musik yang berkantor di Jalan Lengkong Kecil 41, Bandung, itu menandai lahirnya gairah baru bersastra di kalangan remaja. Puisi yang semula dipandang sebagai benda pusaka yang sakral berubah menjadi barang biasa saja yang bisa ditulis oleh siapa saja. Melalui rubrik cerpen dan puisi mbeling yang diasuhnya, Remy mengajak kaum muda untuk bersastra.

Remy mengajak kaum muda bersastra ala mereka sendiri.
Remy mengajak kaum muda bersastra ala mereka sendiri.

Kesakralan puisi dan keangkeran majalah sastra menjadi alasan utama menjauhnya kaum muda dari budaya literasi yang sebenarnya berakar kuat di masyarakat. Kata-kata Chairil Anwar “yang bukan penyair tidak ambil bagian” justru menjadi pemicu untuk mengembalikan sastra (puisi) ke pangkuan khalayak. Gerakan puisi mbeling yang dipelopori Remy merupakan kritik terhadap fenomena onani dalam bersastra dimana para penyair menulis puisi untuk dibaca—karena hanya dipahami—oleh mereka sendiri. Gerakan ini diapresiasi oleh penyair Sapardi Djoko Damono sebagai “suatu usaha pembebasan”. Lebih lanjut Sapardi menulis:

Puisi rupanya telah menjadi bentuk sastra yang menarik minat orang-orang muda, terutama dalam masa perkembangannya sebagai sastrawan. Sajak-sajak yang dikirimkan ke majalah-majalah yang berprestasi tidak dapat segera dimuat… Sementara beberapa penyair mendapatkan tempat yang semakin kukuh dalam perkembangan puisi Indonesia, kaum muda yang baru mulai menulis itu merasakan semacam tekanan. Mereka merasa tidak bisa cepat tampil karena terhalang oleh tokoh-tokoh yang sudah ‘mapan’… Tambahan lagi kebanyakan mereka menetapkan kepenyairan berdasarkan dimuat atau tidaknya sajak-sajaknya dalam majalah sastra satu-satunya, Horison.2)

Sebagai gerakan perlawanan terhadap bahasa puisi yang berbunga-bunga namun gelap, puisi mbeling menawarkan konsep sebaliknya: puisi ditulis dengan bahasa biasa dan diusahakan terang-benderang. Dengan begitu, puisi bukan saja mudah dipahami sebagai pertanggungjawaban penyairnya terhadap realitas, namun ia juga membuka akses seluas-luasnya kepada siapa saja untuk menjadi penyair. Puisi tidak melulu harus berurusan dengan hal-hal yang agung dan mulia. Bisa saja ia menampilkan potret keseharian yang sepele. Simak, misalnya puisi berjudul “Sialan Banget” yang ditulis Remy Sylado: Sudah jatuh / dihimpit tangga // Hendak berdiri / digonggong anjing // Begitu lari terbirit / malah menginjak tahi.

Puisi itu menampilkan filosofi dari peribahasa yang sudah umum dikenal tentang situasi yang tidak menguntungkan. Namun oleh Remy, situasi itu diperburuk dengan menambahkan dua kesialan lainnya sehingga menimbulkan kesan tentang situasi yang benar-benar sial—sesuai dengan judulnya: Sialan Banget. Pilihan judul itu sendiri sudah keluar dari bahasa puisi yang “standar”. Sebagai sebuah eksperimentasi di tengah mainstream puisi serius yang mengusung narasi-narasi besar, puisi mbeling terbilang radikal dalam menjungkirbalikkan estetika perpuisian. Alih-alih, justru estetika itulah yang ingin dilawannya, antara lain dengan mensastrakan kosakata yang dianggap tabu untuk dimasukkan ke dalam puisi.

Suatu ketika di TIM
Puisi Mbeling: Menjungkirbalikkan estetika perpuisian.

Memang tidak selamanya perlawanan terhadap ketabuan itu berjalan mulus. Salah satu puisi Remy yang dimuat di majalah Aktuil pernah membuat berang pemerintah. Saat itu Departemen Penerangan mengancam akan mencabut Surat Izin Terbit (SIT) majalah Aktuil. Hanya setelah para pengelola Aktuil membayar upeti—sesuai kelaziman pada saat itu—ancaman tersebut dibatalkan. Puisi yang menimbulkan masalah itu berjudul “Pesan seorang ibu kepada putranya”, terdiri dari tiga kata dalam tiga baris: jangan / bilang / kontol.3)

Puisi mbeling memang terkesan main-main. Tapi justru dengan cara itu Remy mengajak kaum muda untuk menulis. Dunia tulis-menulis, termasuk sastra, dikesankan sebagai dunia yang dekat dengan keseharian, tempat untuk bergurau dan menuangkan gagasan apa saja tanpa harus mengerutkan dahi terlalu lama. Dan usahanya itu mendapat respon meruah dari kalangan muda. Sejak rubrik puisi mbeling dibuka, sepuluh ribuan penulis dari seluruh wilayah Indonesia dan di manca negara telah mengirimkan karya mereka, dan ratusan di antaranya telah dimuat. Tentu saja pemuatan itu tidak asal-asalan melainkan melalui proses yang disesuaikan dengan kriteria dan idealitas yang dicanangkan oleh gerakan mbeling. Remy sendiri menyebut dirinya dalam proses itu sebagai despot yang di tangannya ada wewenang untuk mengubah dan mengedit naskah-naskah yang masuk ke redaksi.4)

aktuilGodBless
Majalah Aktuil nyaris dibredel penguasa gara-gara memuat puisi mbeling “Jangan bilang k*nt*l”.

Di bawah asuhan Remy Sylado sebagai penjaga gawang rubrik puisi mbeling majalah Aktuil, tercatat juga nama-nama — yang belakangan dikenal sebagai sastrawan — yang ikut menyemarakkan kegairahan berpuisi mbeling: Abdul Hadi WM, Seno Gumira Ajidarma, Noorca Massardi, Yudistira M. Massardi, Adhi M. Massardi, Mustofa Bisri (dengan nama samaran Mustov Abi Sri) dan nama-nama lainnya. Sampai sekarang corak kepenyairan mereka masih kental dengan nuansa mbeling dalam pengertian menyuarakan protes sosial dengan bahasa yang lugas dan terbuka.

Selain itu, pengaruh puisi mbeling juga melintasi majalah Aktuil. Ketika Remy Sylado berpindah ke majalah Top, ia tetap melanjutkan gerakan puisi mbeling dengan membuka rubrik bertajuk Puisi Lugu. Dari sini, sebagaimana dicatat oleh penyair Heru Emka, virus mbeling menyebar ke berbagai media massa: majalah Stop, Astaga, Sonata, Yunior, dan lain-lain. Berbagai surat kabar mingguan yang terbit di Jakarta maupun di daerah juga ikut tertular virus mbeling dengan membuka rubrik serupa. Begitu juga beberapa majalah remaja. Gerakan puisi mbeling telah menjadi gerakan menulis puisi alternatif yang memiliki spirit “yang bukan penyair boleh ambil bagian”. Dan, menurut Heru Emka lagi, gerakan ini telah mewarnai lembaran sejarah sastra Indonesia pada era awal tahun 1970-an.

Apakah itu artinya setelah era 1970-an gerakan ini meredup? Masa pasang naik dan surut sebetulnya lumrah dalam dunia apapun. Puisi mbeling sebagai gerakan perlawanan atau budaya tandingan sejak awal pasti telah menyadari dirinya adalah subkultur. Dan sebagai subkultur ia tidak akan menjadi arus utama (mainstream) yang langgeng. Namun, ia juga tidak akan mati sebab di setiap masa selalu ada proses pemapanan tradisi, dan di situlah yang mbeling akan hadir sebagai alternatif dan oposisi. Tegasnya, puisi mbeling mengabadikan dirinya di seberang aneka arus utama, dan menjadi kritikus yang nakal atas berbagai bentuk kemapanan, baik dalam sastra maupun politik.

Ketika belakangan Remy Sylado menerbitkan kumpulan puisinya setelah 30 tahun berlalu, tentu ia tidak bermaksud mengenang atau memperingati puisi mbeling yang pernah berjaya pada masanya. Buku ini berisi 143 puisi Remy Sylado yang ditulis antara 1971-2002.5) Penerbitan buku ini menjadi semacam reminder bahwa dalam lembaran sejarah sastra Indonesia pernah lahir gerakan puisi mbeling yang mengharu-biru dunia perpuisian. Dan penulisan puisi jenis itu hingga kini masih terus dilakukan. Bahkan, berdasarkan alasan yang telah dikemukakan di atas, puisi mbeling akan terus ditulis.

Buktinya, pada tahun 2012 lalu terbit sebuah buku berjudul Suara-Suara Yang Terpinggirkan, yang diberi judul kecil (tambahan): Antologi Puisi Mbeling.6) Sebagaimana mudah ditebak, kehadiran buku ini sontak menimbulkan spekulasi bahwa puisi mbeling bangkit lagi,7) karena dianggap telah lama menghilang dari peredaran. Buku ini memuat ratusan puisi dari para penyair yang dulu pernah terlibat dalam gerakan puisi mbeling: Yudhistira ANM Massardi, Adhie M Massardi, Noorca M Masardi, Darmanto Jatman, Nugroho Suksmanto, Satmoko Budi Santoso, Abdul Hadi WM, Gus Mustofa Bisri, Hendrawan Nadesul, F. Rahardi, Landung Simatupang, Jose Rizal Manua, Heru Emka (editor buku ini), dan lain-lain.

terpinggirkan

Buku ini diberi kata pengantar oleh Remy Sylado, Sang Bapak Puisi Mbeling itu sendiri. Bagaikan sebuah pernyataan sikap, tulisan kata pengantar Remy Sylado diberi judul Mbeling: Masih Berlanjut. Di sana ia menegaskan: “Bagi saya mbeling pernah ada, dan terserah, apakah mbeling masih akan ada. Sebab, pendirian saya sekarang: ada atau tiada tetap ada.” Selain menguraikan latar belakang estetik dan politik kelahiran puisi mbeling, dalam pengantarnya, Remy sebenarnya lebih banyak memanfaatkan kesempatan itu untuk meluruskan sejarah puisi mbeling. Mengapa diluruskan, karena menurutnya telah ada yang mengaku-ngaku sebagai pencetus puisi mbeling.8)

Menarik bahwa dalam buku ini dimuat banyak puisi yang berdata tanggal baru dari para penyair muda. Ini menunjukkan bahwa puisi mbeling memang masih menarik minat para penyair generasi baru dan karena itu terus diproduksi. Jangan kaget juga bahwa para penyair yang kini dikenal sebagai sastrawan kenamaan seperti Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Sutardji Calzoum Bachri, Gus Mustofa Bisri, Ahmadun Yosi Herfanda, Beni Setia, dan lain-lain, ternyata adalah para pendukung puisi mbeling yang produktif.

Gerakan mbeling yang semula digulirkan di panggung teater itu telah bermetamorfosis menjadi gerakan puisi yang menyebal dari arus utama untuk melawan tirani, menertawakan kebodohan, dan meludahi kemunafikan orang-orang dengan kedudukan terhormat. Dan selama fakta-fakta semacam itu berlintasan di depan wajah kita, maka selama itu pula puisi mbeling akan terus ditulis. Di bawah ini adalah puisi-puisi mbeling yang dikutip dari antologi Suara-suara Yang Terpinggirkan, yang ditulis oleh beberapa penyair generasi baru.

MBELING 2011

Sungguh

Susah

Terlambat

Empatpuluh

Tahun

Ide

Sudah

Keburu

Macet

(Pandu Ganesha)

KETIKA ADA BINTANG JATUH

TUHAN…..

Apa keinginanMU??

(Palestina Nabila)

BUNTU

mandek

Sudah lelah mataku, otakku, jariku,

cukup sekian dan terima kasih

(Palestina Nabila)

OTAK UDANG

banyak yang bilang

ada udang di balik batu

barangkali

si udang tengah mencari

otaknya yang hilang

(Rini Febriani Hauri)

JADI PRESIDEN

Seandainya aku jadi presiden

Semua orang tak usah kerja

Uang kita cetak saja

Bagikan setiap hari

Petani tak usah ke sawah

Libur tiap hari

Sekolah juga tutup saja

Gurunya tak mau kerja

Orang sakit mati saja

Dokternya juga tak mau praktek lagi

Kita makan uang saja

Karena tak ada yang bisa dibeli

Makanya jangan pilih aku jadi presiden..

(Ren Ren Gumanti)

Karakter dari puisi-puisi di atas masih senada dengan puisi-puisi mbeling yang ditulis oleh Remy Sylado 40 tahun silam: terkesan lugu, semaunya, tidak peduli dengan kata-kata indah, melawan logika umum. Pendeknya, menyimpang dari penulisan puisi yang standar. Ya, begitulah. Namanya juga puisi mbeling. Namun, seperti yang dijelaskan oleh Remy sendiri, tidak semua tulisan berbentuk puisi yang dibuat main-main dan menekankan sifat-sifat pop adalah otomatis puisi mbeling.

Karena lahir dalam konteks perlawanan terhadap estetika puisi yang tertawan oleh pikiran konvensional dan counter culture terhadap kemunafikan politik yang muncul dalam bahasa-bahasa feodal, maka puisi mbeling membawa kredo tersendiri: pertanggungjawaban sastra terhadap realitas baik-buruk. Puisi yang main-main, menurut Remy, justru adalah puisi yang dibingkai dengan bahasa indah namun hanya bisa dinikmati sendiri oleh penulisnya. Padahal puisi akan dibaca oleh khalayak.

Lebih jauh Remy Sylado bahkan berpandangan bahwa di dalam puisi ada pesan-pesan kenabian dan relijiositas. “Puisi seyogianya mengandung nilai-nilai kawruh seperti yang terdapat dalam akar budaya Jawa,” ungkap Remy, yang  memperoleh Khatulistiwa Literary Award tahun 2002 melalui novel Kerudung Merah Kirmizi, dan Anugrah Sastra 2011 dari Komunitas Nobel Indonesia.[]

remy3

Biodata Remy Sylado:

REMY SYLADO lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya dibidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.

Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya diluar budayanya. Diluar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi. (Dikutip dari http://www.goodreads.com/author/show/541628.Remy_Sylado)

Catatan Kaki

  1. Remy Sylado, “Kata Pengantar”, dalam Heru Emka, ed., Suara-suara yang Terpinggirkan (Semarang: Kelompok Studi Sastra Bianglala, Mei 2012), hal. xv
  2. Sapardi Djoko Damono, Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (Jakarta, Gramedia, 1983), hal. 90
  3. Remy Sylado, “Kata Pengantar”, dalam Heru Emka, ibid.
  4. Ibid.
  5. Remy Sylado, Puisi Mbeling (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2004)
  6. Heru Emka, ed., Suara-suara yang Terpinggirkan (Semarang: Kelompok Studi Sastra Bianglala, Mei 2012).
  7. “Puisi mbeling bangkit lagi!” Begitu statemen pembukaan artikel berjudul “Mbeling” dalam Puisi “Urakan” yang ditulis Riza Multazam Luthfy sebagai ulasan buku Suara-Suara Yang Terpinggirkan, dalam Koran Jakarta, 1 Oktober 2012.
  8. Dalam hal ini Remy menyebut nama Jeihan. “Untuk banyak hal Jeihan adalah kawan akrab, tetapi untuk satu hal menyangkut mengaku-akunya sebagai pencetus puisi mbeling, saya tidak menghargainya,” tulis Remy dalam “Kata Pengantar”, ibid., hal. xix). Ia juga mengeritik penyair Soni Farid Maulana dan pengamat sastra Jakob Sumardjo yang menurutnya telah percaya begitu saja pada Jeihan. Keduanya masing-masing menulis prolog dan epilog untuk buku berjudul Mata mBeling Jeihan (Jakarta: Grasindo, 2000).

____________________________________________________

PARADE PEMBACAAN PUISI oleh Ahmad Gaus

Grandzuri29mei15
Reading poetry at “Program for Peace” held by CSRC-UIN Jakarta, Kondar Adenauer Stiftung, European Union, at Grand Zuri Hotel BSD, 29 May 2015.
artHouse2
Reading Poetry at Art House, Singapore 28 Dec 2013.
Bali22agus14
Reading Poetry at Campahan College, Ubud Bali, 22 Augs 2014.
Screen_20140922_212455
Hotel Borobudur, Jakarta, 22/9/2014, Poetry “Sufi Jadi Menteri” dedicated to Djohan Effendi.

N O V E L

“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”

Kisah pertempuran abadi dua kekuatan yang diwakili oleh dua karakter perempuan muda, baca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/18126

DUA HATI: Antologi Puisi Mini Multimedia

INI PUISI era digital, teks saja tidak cukup. Puisi dipadukan dengan audio-visual. Namanya Puisi Mini Multimedia (PMM), atau #eShortPoem

Di bawah ini beberapa PMM saya yang dibingkai dengan ilustrasi. Dua PMM lainnya saya buatkan versi videonya. Selamat menikmati 🙂

03-Jangkar

10-Rindu

06-Cupid

01-Dua Hati

07-Cemara

02-Perkasa
08-Kutukan
09-Pesta

Para Penjahat Atas Nama Tuhan

syiah2

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada hari ini (16/11/2013), saya menulis sebuah puisi terkait dengan kondisi kehidupan beragama di tanah air dewasa ini.

Para Penjahat Atas Nama Tuhan
Puisi Ahmad Gaus

Di manakah Tuhan
ketika rumah-Nya diserang
dan dihancurkan?

Engkau tidak akan tahu arti sedih
sebelum kakimu tergelincir dan berdarah
ketika menyeru Tuhan di tengah jerit kesakitan
dalam kobaran api yang membakar
rumah-rumah ibadah.

Engkau tidak akan mengerti
apa artinya terbuang
sampai merasakan sendiri bagaimana
iman direndahkan.

Anak-anak dan perempuan lari ketakutan
menunggu malaikat datang
membawa mereka terbang ke angkasa
bertemu dengan Tuhan yang bersemayam
di atas ‘aras.

Orang-orang tua bertanya
apakah Tuhan mereka telah binasa
dijebloskan ke dalam penjara?

Burung-burung gemetar
melihat orang-orang mengamuk
membawa senjata
batu dan parang.

Di manakah Tuhan
Ketika rumah-Nya disegel
dan dipagari kawat berduri?

Di negeri ini
iman dicurigai bagai sindikat
orang mau beribadah disamakan
dengan penjahat.

Di negeri ini
lebih mudah membuka panti pijat
daripada membuka rumah ibadat
orang mabuk difasilitasi
menyembah Tuhan dihalang-halangi.

Di negeri ini
orang mau beribadah dianggap
mengganggu ketertiban umum
sementara para penjahat yang mengatasnamakan Tuhan
bebas berkeliaran sambil berteriak
Allahu akbar
serang! kejar! bunuh!
Allahu akbar

Setiap hari para pemimpin berpidato
tentang Konstitusi
tapi di mana mereka bersembunyi
ketika orang yang berbeda keyakinan diteror
diinjak-injak?

Orang-orang dibiarkan
dianiaya di kampung mereka
menjadi pengungsi di negeri sendiri
hak hidup mereka direnggut
di hadapan para petinggi negeri.
Kemajemukan diancam
kebebasan disandera
orang-orang dengan pongahnya meringkus kebenaran
memaksakan kehendak dengan kekerasan.

Apakah Tuhan berduka
ketika umat-Nya terlunta-lunta?
Apakah Tuhan merasakan luka
melihat umat-Nya bertaburan isak tangis
dilempari genting dan pecahan kaca?

Jakarta, Hari Toleransi Internasional, 16/11/2013

Note:

Puisi ini dimuat di: http://www.satuharapan.com/read-detail/read/puisi-ahmad-gaus-para-penjahat-atas-nama-tuhan/pbb-toleransi-untuk-perdamaian-dan-masa-depan-berkelanjutan

Puisi ini juga dibacakan di berbagai forum pertemuan lintas agama.

Baca juga:

Beberapa Persoalan dalam Isu dan Kasus Toleransi Agama di Indonesia