Sudut Pandang

Tentang Mengubah Sudut Pandang
Sepanjang hari ini (Kamis, 4/02/2021) saya mengikuti rapat kerja (Raker) CSRC-UIN Jakarta, karena saya salah satu peneliti senior CSRC, katanya. 🙂
Sambil mendengarkan paparan dari Buya Azra alias Prof Azyumardi Azra, Dr. Yeni Ratnaningsih, Dr. Chaider S. Bamualim, Idris Hemay (Direktur CSRC), Irfan Abubakar (Dewan Penasihat), saya orat-oret puisi atas pesanan Gus Solah yang memandu acara ini. Maka jadilah puisi ini, yang terinspirasi oleh paparan Bu Yeni tentang “how to change your perspective..” Ini puisinya yang juga sudah saya bacakan di acara tanpa kopi, snack, dan rokok tsb 🙂 :
***
SUDUT PANDANG
– Untuk teman-teman CSRC-UIN Jakarta
Kalau kita ingin mencari sumber kekayaan maka
kita harus membuka hutan
Tapi kalau kita pergi sendirian kita akan diterkam
harimau, sang penguasa hutan
Kita akan mati konyol
Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita
Kalau kita ingin terlihat oleh yang lain
maka kita harus terbang ke langit tinggi
Tapi di sana pun ada rajawali
Kita akan mati dimangsa si penguasa langit itu
Kita bisa selamat dari terkaman harimau
kalau kita pergi ke hutan bersama kawanan gajah
Tapi, dengan begitu, kita akan menjadi gajah
Kita bisa selamat dari cengkraman rajawali
kalau kita bergabung bersama kawanan burung walet.
Tapi ingat, kita pun akan menjadi burung walet
Lalu bagaimana supaya kita tidak menjadi salah satu
dari gajah, atau salah satu dari burung walet?
Kalau kita pergi ke hutan kita harus menjadi harimau
Kalau kita terbang ke langit kita harus menjadi rajawali
Sebab hutan tidak bisa diubah. Langit tidak bisa diubah
Tapi kita bisa mengubah cara pandang kita terhadapnya
Lalu memposisikan diri kita di sana
Ciputat, 4 Februari 2021
Ahmad Gaus

Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

Quote

“… selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.”

Ahmad Gaus yang bertindak sebagai pembicara utama berpendapat bahwa tidak ada perkembangan yang berarti dalam bahasa Indonesia sejak ia dibakukan, dipolakan dalam rumus bahasa yang baik dan benar. Yang terasa, ujarnya, justru kekakuan dalam berbahasa. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sangat formal yang hanya cocok digunakan di forum-forum resmi. Di luar itu, seperti dalam pergaulan, bahasa yang baik dan benar itu tidak bisa digunakan, “Lucu sekali kalau kita bercakap-cakap dengan teman menggunakan bahasa baku,” tandasnya.

Dijelaskan bahwa selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.

Ia mencontohkan bahasa dalam film-film Indonesia yang tidak maksimal mengeksplorasi kekayaan estetik bahasa Indonesia. Akibatnya film-film kita gagal menyajikan sentuhan seni yang paripurna, sebab kita hanya disuguhi cerita. Berbeda dengan film-film produksi luar yang mampu mengintegrasikan kecanggihan cerita, sinematografi, dan sekaligus keindahan bahasa. “Kalau film hanya mampu menampilkan bahasa yang sama dengan bahasa sehari-hari, lalu di mana unsur seninya. Bahasa film harusnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dari bahasa sehari-hari. Sebab salah satu fungsi film ialah mengedukasi, termasuk di dalamnya mengedukasi masyarakat agar memiliki selera bahasa yang berkelas.”

Tersingkirnya estetika dari bahasa Indonesia, menurut Gaus, disebabkan karena bahasa sudah dipisahkan dari sastra. Sehingga seperti jasad tanpa ruh, raga tanpa jiwa. Pendidikan sastra hanya menjadi bagian kecil dalam mata pelajaran bahasa. Ada komunitas sastrawan di satu pihak yang menjadi penguasa jagad sastra, di pihak lain ada masyarakat yang tidak mengenal sastra. Keduanya dipisahkan oleh tembok tinggi. Padahal di masa lalu masyarakat adalah pencipta karya sastra itu sendiri seperti yang terlihat dalam budaya berpantun. Saat ini pantun sudah hilang dari tradisi berbahasa, padahal anak-anak yang diajari pantun sejak dini akan tumbuh menjadi penutur bahasa yang baik. 

Akibat lebih jauh dari terpisahnya bahasa dan sastra ialah, bahasa kita menjadi sangat kaku dan kering. Belum lagi orientasi politik bahasa yang cenderung pada birokrasi dan peraturan. “Masak cuma mau memasukkan 3 perubahan sepele saja harus mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengubah EYD menjadi EBI. Ini menunjukkan rezim bahasa tidak mengerti persoalan dan minim wawasan,” tandas Gaus. Walhasil sejauh ini, bahasa Indonesia hanya dapat menjadi alat komunikasi dan tidak bisa menjadi ekspresi kebudayaan. Maka yang harus kita lakukan ialah memutus keterasingan masyarakat terhadap sastra. Bahasa butuh ruang untuk berkembang, dan salah satu medianya adalah karya sastra…”

Selengkapnya baca di sini: https://www.csrc.jalalon.com/news/diskusi-umum-masa-depan-bahasa-dan-sastra-indonesia-2