Sementara Kita Saling Berbisik: Mengenang SDD

Pagi tadi saya membuka twitter dan mata saya tertumbuk ke trending topic di posisi paling atas: #PakSapardi. Saya curiga ada apa-apa, karena beberapa hari sebelumnya beliau masuk rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian, muncul lagi trending topic #EyangSapardi. Dengan tangan bergetar saya membuka trending topic tersebut, daaan… “kecurigaan” saya terbukti. Pak Sapardi Djoko Damono, sastrawan besar Indonesia yang akrab disapa SDD itu, meninggal dunia di Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan, pada hari Minggu, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB. Beliau meninggal di usia 80 tahun. Sebelumnya menderita beberapa penyakit (komplikasi).

Sastrawan-Sapardi-Djoko-Damono-Tutup-Usia-Foto-Prelo36496eb435756c1e

Deretan ucapan belasungkawa memenuhi linimasa twitter. Tidak sedikit juga yang mengutip sajak-sajaknya, atau mengungkapkan kenangan pribadinya bersama penyair “Hujan Bulan Juni” tersebut.  Dan hari ini di media sosial, orang seakan diberi tahu bahwa sajak SDD bukan hanya Hujan Bulan Juni, atau Aku Ingin, melainkan banyak, banyak sekali yang bagus, yang jarang diekspose, kecuali oleh mereka yang memang memiliki minat besar pada puisi, atau yang memiliki selera bahasa estetika. Memang yang terkenal dua sajak itu (Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin), bahkan saking terkenalnya sampai-sampai sajak Aku Ingin dicetak di surat-surat undangan pernikahan.

4Y6d1223

Sebenarnya selain dua sajak itu, sajak-sajak SDD yang lain juga tak kurang syahdunya, sebut saja misalnya Hatiku Selembar Daun, Pada Suatu Hari Nanti, Pertemuan, Dalam Diriku, Sementara Kita Saling Berbisik, dll. Sajak yang saya sebut terakhir itu, Sementara Kita Saling Berbisik (SKSB), adalah sajak favorit saya. Walaupun semua sajak SDD bagi saya selalu memiliki gema dalam diam, sajak SKSB bagi saya sangat istimewa karena seperti suara yang dibisikkan ke dalam jantung jiwa tentang apa yang tidak selalu saya pahami: hidup, cinta, perjalanan, waktu… !! Bahkan setiap kali saya berbicara dengan SDD saya merasa beliau sedang berbisik. Beliau memang tipe manusia yang lembut. Bicaranya lembut, tatapan matanya lembut, bahasa tubuhnya lembut. Itulah sebabnya puisi-puisi yang lahir dari tangan beliau juga puisi-puisi yang lembut.   

kita

Sebuah hukum alam mungkin berlaku, bahwa seorang pengarang akan lebih dikenal secara utuh setelah kematiannya. Sebab, setelah kematian itulah pengarang justru hidup selamanya. Karya-karyanya diburu, biografinya dibaca, legacy-nya diawetkan di museum ingatan.

Saya bergetar membaca salah satu bait sajak SDD yang satu ini: “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Larik sajak ini mengingatkan saya pada larik terkenal dari penyair “Binatang Jalang” Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Keduanya menegaskan kefanaan diri, namun melalui kefanaan itu ada keabadian.

tumblr_o85960FovT1vwv8yao1_640

Kenangan

Suatu hari di tahun 2011 saya berkunjung ke rumah Pak Sapardi Djoko Damono (SDD) di kompleks dosen UI di Ciputat, Tangerang Selatan. Setelah berbincang tentang segala hal dari soal kemacetan hingga kesehatan, saya menyerahkan sebuah naskah antologi puisi karya para mahasiswa saya di Swiss German University (SGU). Sejak tahun 2007 hingga sekarang saya mengajar mata kuliah bahasa dan budaya di kampus tersebut. Saya meminta beliau membacanya, dan kalau berkenan membuat kata pengantar, setidaknya membuat endorsemen barang satu dua kalimat. “Saya baca dulu,” ujarnya.

Keesokan harinya saya menerima pesan dari beliau, “Saya mau menulis kata pengantar, ya,” tulisnya. Alangkah senangnya saya. Saat saya masuk kelas,  saya beritahukan hal itu kepada mahasiswa saya, mereka pun senang. Sebab puisi-puisi SDD adalah puisi yang paling banyak dibaca oleh mahasiswa saya saat mereka harus tampil ke depan kelas membaca puisi.

Tidak sampai satu minggu Pak Sapardi  mengirimkan kata pengantar untuk buku itu ke email saya. Tidak sabar saya langsung membacanya. Di antaranya beliau menulis begini:

“Buku yang berisi kumpulan karangan mahasiswa SGU ini mengingatkan saya tentang pentingnya kebebasan siapa pun untuk mendapat akses ke pemahaman dan penciptaan bahasa. Boleh dikatakan bahwa para penulis ini belajar apa yang kita sebut “ilmu keras”, tetapi ternyata memiliki niat dan kemampuan untuk masuk ke dunia kreativitas yang mungkin dianggap “lembek”, yakni kesusastraan. Mungkin sekali sewaktu masih belajar di sekolah menengah, mereka dianggap tidak perlu mempelajari kesusastraan: tidak “sepantasnya” mengungkapkan pengalaman dan perasaan dalam karya sastra, tidak elok menulis esai tentang karya sastra. Namun, ternyata mereka memiliki minat dan kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut.”

Satu bulan kemudian buku yang memuat sekitar 80-an puisi itu terbit. Lalu saya mengantar beberapa mahasiswa SGU ke rumah Pak Sapardi untuk menyampaikan kado sebagai tanda ucapan terima kasih kepada beliau karena telah bersedia memberi kata pengantar buku mereka. Tentu mereka senang sekali; suatu kehormatan yang sangat besar bahwa buku antologi mahasiswa diberi kata pengantar oleh begawan sastra.

istana-angin-sgu

 

****

Puisi-puisi itu sendiri sebetulnya berasal dari tugas-tugas mahasiswa dalam kuliah yang saya ampu. Jumlah mahasiswa 250 orang dari semua jurusan, berarti ada 250 puisi yang saya seleksi dan terpilihlah 80 puisi yang dimuat dalam buku itu. Saya tidak tahu apakah sebelumnya pernah ada buku puisi yang terbit yang berasal dari tugas-tugas kelas. 

Saya teringat pesan yang disampaikan Pak Sapardi kepada para mahasiswa saya waktu berkunjung ke rumahnya itu. “Kalau kita mau mengembangkan bahasa Indonesia, kita harus menulis puisi, tidak ada cara lain,” ujarnya. Buku itu pun kemudian diluncurkan di kampus SGU dengan menghadirkan Pak Sapardi bersama penyair Agus R. Sardjono.

ClMEPg3VAAAIaD8

Pada Desember 2017 saya bertemu dengan SDD di Selangor, Malaysia,  dimana beliau dan saya diundang menjadi pembicara dalam suatu seminar tentang sastra Melayu. Saya berangkat bersama penyair Aan Mansyur. Dan di sana sudah ada beberapa sastrawan Indonesia yang juga diundang ke acara tersebut, antara lain Goenawan Mohamad, penyair Dorothea Rosa Herliani, novelis Nukila Amal, dll.

AAN - KL 08 des 17

Aan Mansyur, Penyair Ada Apa dengan Cinta 2

GM

Sarapan pagi bersama penyair senior Indonesia, Goenawan Mohamad dan seniman Malaysia, Pauline Fan

Begitu keluar dari ruang seminar, saya tunjukkan salah satu puisi saya di dalam buku Senja di Jakarta yang  berjudul Kursi Ruang Tunggu, sebagai “tanggapan” terhadap puisi beliau yang sangat terkenal, Hujan Bulan Juni, dan beliau membacanya terkekeh-kekeh..

SDD

KURSI RUANG TUNGGU

untuk SDD

kursi

tak ada yang lebih tabah dari kursi ruang tunggu;

dirahasiakannya resah rindunya pada kenangan

di bangsal tua itu.

tak ada yang lebih bijak dari kursi ruang tunggu;

dibiarkannya takdir meninggalkannya

di tempat terkutuk itu.

tak ada yang lebih arif dari kursi ruang tunggu;

dihapuskannya sisa-sisa airmatanya yang kering

di pelukan malam itu.

— Akasia Valley, Serpong – 5/8/17

Selamat jalan Eyang Sapardi

Yang fana adalah waktu, engkau abadi…

ahmadgaus-

Baca juga: Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

 

Published by

Ahmad Gaus

Sebutir debu di ujung sepatu

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s