Sementara Kita Saling Berbisik: Mengenang SDD

Pagi tadi saya membuka twitter dan mata saya tertumbuk ke trending topic di posisi paling atas: #PakSapardi. Saya curiga ada apa-apa, karena beberapa hari sebelumnya beliau masuk rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian, muncul lagi trending topic #EyangSapardi. Dengan tangan bergetar saya membuka trending topic tersebut, daaan… “kecurigaan” saya terbukti. Pak Sapardi Djoko Damono, sastrawanContinue reading “Sementara Kita Saling Berbisik: Mengenang SDD”

[Esai] Sastra Yang Membebaskan

Catatan Reflektif 8 Tahun Inovasi Puisi Esai Denny JA Oleh Ahmad Gaus AF *) Setiap puisi merindukan pembaca. Tapi di mana-mana ia dipenjara oleh bahasa. Maka, apa yang oleh Riffaterre (1978) disebut sebagai dialektika antara teks dan pembaca, sesungguhnya tidak terjadi. Bahkan yang terjadi saat ini justru sebaliknya, yakni tumbuhnya sekat-sekat pemisah (bahasa) yang kianContinue reading “[Esai] Sastra Yang Membebaskan”

Ambon Manise, Waktu Hujan Sore-Sore  

  Ambon Manise, Waktu Hujan Sore-Sore Oleh Ahmad Gaus AF   Bicara tentang Ambon adalah bicara tentang kebesaran masa lalu dan kegelisahan menatap masa depan. Di antara bangunan-bangunan tua, anak-anak muda berdiri menyaksikan sebuah kota peradaban gemilang. Ambon manise, mutiara yang berkilauan di timur Indonesia dengan sejarah yang agung dan heroik serta hari esok yangContinue reading “Ambon Manise, Waktu Hujan Sore-Sore  “

[Esai] Remy Sylado dan Gerakan Puisi Mbeling

Catatan Ahmad Gaus Pada 12 Juli 2015 lalu budayawan dan sastrawan Remy Sylado genap berusia 70 tahun. Sejak remaja, pria kelahiran Makassar 12 Juli 1945 ini telah aktif menulis puisi, esai, cerpen, novel, drama, kolom, kritik, roman, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Sebagai kado di hari ulang tahunnya, dan sekaligus doa untuk kesembuhannyaContinue reading “[Esai] Remy Sylado dan Gerakan Puisi Mbeling”

[Esai] LANGIT MAKIN MENDUNG

Catatan Ahmad Gaus KEHADIRAN KARYA-KARYA yang mengusung tema keagamaan menjadi fenomena tersendiri dalam kancah kesusastraan di tanah air.1)  Karya jenis ini biasanya muncul dalam dua corak: menjadikan agama sebagai pemecah persoalan atau menjadikan agama hanya sebagai latar belakang. Karya sastra corak pertama biasanya memperoleh sambutan positif dari khalayak, sementara corak kedua seringkali menimbulkan kontroversi. CerpenContinue reading “[Esai] LANGIT MAKIN MENDUNG”

Chairil Anwar dan Revolusi Puisi: Catatan di Hari Puisi Indonesia

Tanggal 28 April adalah hari kematian penyair besar Chairil Anwar, yang diperingati sebagai Hari Puisi Indonesia. Berikut catatan saya atas penyair pelopor Angkatan ’45 tersebut. Chairil Anwar dan Revolusi Puisi Indonesia Oleh Ahmad Gaus RASANYA MUSTAHIL membicarakan jatidiri puisi Indonesia tanpa menyebut nama Chairil Anwar. Sama mustahilnya dengan membicarakan jatidiri bangsa Indonesia tanpa menyebut BungContinue reading “Chairil Anwar dan Revolusi Puisi: Catatan di Hari Puisi Indonesia”

Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”

Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” (Siapa Yang Mendanai Program Ini?) Oleh Ahmad Gaus (Anggota Tim 8) SETELAH diluncurkan pada 3 Januari 2014 lalu di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terus menuai polemik. Salah satu titik polemik ialah: siapa yang mendanai program bukuContinue reading “Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh””

Bincang-bincang Puisi Esai di Singapura

Sabtu pekan lalu, 28 Desember 2013, dua buku puisi esai karya penulis Indonesia diluncurkan dan dibedah di Singapura. Dua buku tersebut masing-masing Imaji Cinta Halima karya Novriantoni Kahar dan Kutunggu Kamu di Cisadane karya Ahmad Gaus. Acara ini merupakan kerjasama antara Leftwrite Center, Jabatan Pengkajian Melayu National Universtity of Singapore (NUS) dan the Art House.Continue reading “Bincang-bincang Puisi Esai di Singapura”

[Esai] Membaca Puisi-puisi Gelap Afrizal Malna

Memutus Tradisi Sunyi dan Luka Membaca Puisi-Puisi Gelap Afrizal Malna Catatan Ahmad Gaus Puisi-puisi Afrizal Malna kerap dianggap menyimpang dari tradisi maupun wawasan estetika puisi yang pernah ada sebelumnya. Kefasihan penyair botak itu dalam memainkan kata-kata dan idiom-idiom yang digali dari khazanah dunia modern membedakannya dengan penyair lainnya. Ketika banyak penyair masih gamang menghadapi kemelutContinue reading “[Esai] Membaca Puisi-puisi Gelap Afrizal Malna”

Indonesia Lahir dari sebuah PUISI

Indonesia Lahir dari sebuah Puisi Catatan Ahmad Gaus Sosok negeri bernama Indonesia belum terbayang di benak Muhammad Yamin ketika ia menulis puisi berjudul Tanah Air pada tahun 1920. Konsep tanah air Indonesia boleh jadi masih terlalu abstrak, walaupun ide-ide tentang nasionalisme mulai dikumandangkan sejak awal abad ke-20. Bahkan, jika nasionalisme dikaitkan dengan kehendak untuk bebasContinue reading “Indonesia Lahir dari sebuah PUISI”