Bincang-bincang Puisi Esai di Singapura

puisi esai launch

Sabtu pekan lalu, 28 Desember 2013, dua buku puisi esai karya penulis Indonesia diluncurkan dan dibedah di Singapura. Dua buku tersebut masing-masing Imaji Cinta Halima karya Novriantoni Kahar dan Kutunggu Kamu di Cisadane karya Ahmad Gaus. Acara ini merupakan kerjasama antara Leftwrite Center, Jabatan Pengkajian Melayu National Universtity of Singapore (NUS) dan the Art House.

Selain mengundang langsung dua penulis puisi esai Indonesia, acara yang bertajuk Pembaharuan Sastra: Puisi Esai dalam Gerakan Pemikiran, ini juga menghadirkan Dr Azhar Ibrahim dari NUS dan Mohamed Imran dari the Reading Group Singapura. Acara dimulai dari pukul 10 s.d 12 siang waktu setempat.

Dalam mengantarkan sesi diskusi, Mohamed Imran mengatakan bahwa puisi esai telah menarik perhatian kalangan peminat dan pemerhati sastra di Singapura, terutama terkait dengan pembaruan di ranah sastra dan sekaligus sebagai gerakan pemikiran. “Kita mengetahui bahwa dua pembicara ini bukan hanya penulis puisi tapi juga aktivis yang sudah lama bergiat dalam gerakan Islam progresif di Indonesia,” ujar Imran. “Apa yang mereka tulis dalam buku mereka masing-masing tentunya tidak jauh dari apa yang menjadi concern mereka selama ini sebagai intelektual dan aktivis,” tambah pendiri the Reading Group Singapura tersebut.

sin1
Novriantoni, Gaus, dan Imran

Ahmad Gaus yang tampil sebagai pembicara pertama mengulas peta sastra Indonesia modern dan dimana posisi puisi esai. Menurutnya, puisi esai sebagai sebuah gerakan lahir dengan terbitnya buku Atas Nama Cinta karya Denny JA yang memuat lima buah puisi esai bertemakan diskriminasi berdasarkan perbedaan ras, sekte agama, orientasi seksual, dan pandangan agama. Dari segi bentuknya puisi esai berbeda dengan puisi lirik. Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan perasaan melalui simbol dan metafor. Sedangkan puisi esai mengungkap realitas melalui bahasa konvensional. Dalam sejarah perpuisian di Indonesia, puisi lirik merupakan puisi arus utama, dan telah menjadi paradigma dalam penulisan puisi. Puisi esai menawarkan genre baru penulisan puisi yang berusaha keluar dari arus utama tersebut dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.

Kelahiran puisi esai, lanjut Gaus, diilhami oleh tulisan John Barr yang mengatakan bahwa puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisan puisi mengalami stagnasi, dan tak ada perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi. Menurut John Barr, para penyair asik masyuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas. Barr merindukan puisi dan sastra seperti di era Shakespeare. Saat itu, puisi menjadi magnet yang dibicarakan, diapresiasi publik, dan bersinergi dengan perkembangan masyarakat yang lebih luas.

Sementara itu Novriantoni Kahar yang tampil sebagai pembicara berikutnya menuturkan pengalamannya menyampaikan gagasan-gagasan keislaman dalam bentuk puisi. Selama ini, ujarnya, ia banyak menulis kolom atau artikel ilmiah populer di surat kabar dan majalah. Sebagai pengamat pemikiran dan gerakan Islam, ia merasa mendapatkan media baru dalam menyampaikan kegelisahannya secara impulsif dan personal. Puisi esai baginya merupakan pengalaman baru dalam berwacana. Alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini menulis kisah-kisah cinta dalam antologi Imaji Cinta Halima yang bulan November lalu juga diluncurkan di Jakarta. Dengan setting dunia Timur-tengah, buku puisi esai Novri hampir semuanya terkait dengan pergulatan perempuan Muslimah dalam menyikapi moderitas.

Dr Azhar Ibrahim Alwee yang menjadi pembahas pada acara tersebut menandaskan pentingnya karya-karya sastra selalu diletakkan dalam setting sejarah yang rill. Menurut dosen dari National University of Singapore ini, puisi esai semangatnya sejalan dengan yang selama ini dikenal sebagai puisi memori sosial. Di dalam puisi jenis ini, isu-isu yang menjadi perhatian publik dibawa ke dalam karya puisi. “Dengan cara seperti itu, masyarakat menjadi akrab dengan puisi,” tutur Azhar di hadapan para peserta yang hadir dari kalangan aktivis, dosen, pegiat seni, termasuk sastrawan ternama Singapura Mohamed Latiff dan Suratman Markasan.

Untuk uraian lengkap dari Novri dan Azhar lihat link berikut:
http://inspirasi.co/forum/post/3423/catatan_perjalanan_muhibah_sastra_di_singapura#.UsIYcckR_NI.twitter

artHouse2
Setelah sesi peluncuran dan diskusi buku, saya membacakan sebuah puisi berjudul “Sehelai Kain dari Surga” yang pernah saya posting juga di WordPress dan Kompasiana.

IMG02635-20131228-1148
Andy, seorang pengajar muda sastra di sekolah Singapura membaca penggalan puisi berjudul “Gereja Tua” dari buku Kutunggu Kamu Di Cisadane karya Ahmad Gaus

Posted by Gaus, 31 Dec 2013. Follow my twitter: @AhmadGaus / Facebook: Gaus Ahmad

[Esai] Membaca Puisi-puisi Gelap Afrizal Malna

Afrizal4

Memutus Tradisi Sunyi dan Luka
Membaca Puisi-Puisi Gelap Afrizal Malna
Catatan Ahmad Gaus

Puisi-puisi Afrizal Malna kerap dianggap menyimpang dari tradisi maupun wawasan estetika puisi yang pernah ada sebelumnya. Kefasihan penyair botak itu dalam memainkan kata-kata dan idiom-idiom yang digali dari khazanah dunia modern membedakannya dengan penyair lainnya. Ketika banyak penyair masih gamang menghadapi kemelut budaya industri dan teknologi, Afrizal memilih untuk bergelut di dalamnya dan menjadikannya sebagai kancah pergulatan estetik dan intelektualnya.1)

Zaman peralihan yang mengantarkan masyarakat dari budaya agraris ke budaya industri memang menimbulkan sejumlah anomali nilai dan sekaligus ketegangan eksistensial manusia di hadapan produk teknologi. Dan itu terutama dialami oleh masyarakat kota (urban) yang menjadi lokus perenungan Afrizal. Sebagai penyair, ia tidak berdiri di ruang hampa. Dan sebagai pewaris tradisi kepenyairan ia sendiri kerap tidak sungkan-sungkan mengakui wawasan estetikanya dipengaruhi oleh para penyair sebelumnya. Seorang budayawan bahkan mengatakan bahwa puisi-puisi Afrizal ialah hasil eksplorasi dari puisi Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri.2)

Yang unik dari puisi-puisi Afrizal memang sudut pandangnya yang dominan pada dunia benda di lingkungan budaya modern (urban). Penyair melukiskan dunia modern beserta objek-objeknya sedemikian rupa sehingga menciptakan nuansa dan gaya puitik tersendiri.3) Karena ruang (kota) yang dipilihnya sendiri sebagai kancah pergulatan, dan ia menjadikan dirinya sendiri sebagai bagian dari “benda” di ruang itu, dan berdialog secara mesra dengan televisi, kabel, pabrik, hotel, pecahan kaca, maka ia tidak mengalami kesunyian atau terluka. Inilah yang menjadikan dirinya unik

Bisa dibilang, puisi-puisi Afrizal Malna adalah anti-tesis dari puisi-puisi tentang sunyi dan luka dari para penyair raksasa sebelumnya: sunyi yang duka dan kudus (Amir Hamzah), sunyi yang buas dan menderu (Chairil Anwar), dan sunyi yang absurd dan menyayat – sepisaupa sepisaupi, sepisausepi (Sutardji Calzoum Bachri). Jika mainstream puisi sunyi meneriakkan kegelisahan eksistensial aku-lirik, puisi-puisi Afrizal meneriakkan hak hidup seluruh makhluk yang bernyawa maupun tak, untuk mengada bersama.

Dalam puisi-puisi Afrizal, aku-lirik berubah menjadi aku-publik4) — lagi-lagi menjadi antitesis dari tradisi puisi sebelumnya — yang beranggotakan: televisi, bensin, coklat, saputangan, gerobak, sandal jepit, lemari, kucing, toilet, linggis, nenek moyang, panci, kartu nama, pabrik, sejarah, pipa air, parfum, popok bayi, dan nama-nama benda yang hanya biasa disebut dalam kamus, bukan dalam puisi. Benda-benda itu dihidupkan, dibunyikan, bahkan diberi loudspeaker.

Puisi Afrizal adalah puisi tentang keramaian dan kebisingan di supermarket, kios elektronik, jalan raya, jembatan, lobi hotel, bioskop, dan lain-lain. Apakah itu kebisingan yang sesungguhnya (sungguh-sungguh ramai) ataukah sekadar halusinasi sang penyairnya (Afrizal Malna), itu soal lain. Apakah sang penyair menikmati keberadaannya di tengah benda-benda yang bercampur dari masa lalu dan masa sekarang itu, atau justru refleksi dari rasa cemasnya, itu juga soal lain. Esai ini tidak berminat pada pendekatan psikologi. Di tengah gemuruh estetika kesunyian, kehadiran benda-benda yang ditabuh secara bersamaan itu menjadi penting, sebab ia berpotensi memutus tradisi sunyi dan luka dalam penciptaan puisi, dan lahirnya pergerakan baru dalam proses kreatif.

Afrizal01

Kita tahu bahwa resonansi Nyanyi Sunyi Amir Hamzah terus terbawa hingga ke masa-masa penulisan puisi kontemporer. Kesunyian dan luka menyelinap dengan perkasa ke alam bawah sadar para penyair. Ia menjadi melodi yang terus diperdengarkan dalam bait-bait puisi hujan, senja, angin, cemara, laut, pasar, masjid, hingga pabrik terompet. Puisi Afrizal memperdengarkan melodi yang berbeda. Sebab melodi itu diletakkan di dalam ruang yang berisik yang di dalamnya ada benda-benda lain, sehingga suara hujan tidak melulu terdengar sebagai ritme kesunyian.

Tentu saja puisi Afrizal tidak bebas sama sekali dari desah kesunyian, tetapi sunyi pada Afrizal bukan sunyi yang kudus, atau buas, atau absurd seperti pada para penyair sebelumnya, melainkan sunyi yang pejal, yang diisi oleh benda yang kongkret dan memiliki ukuran.5) Karena itu ia tidak mengelak dari sunyi dengan bersimpuh di hadapan Tuhan, sebab Tuhan sendiri ialah benda dalam puisinya. Ingat ketika ia berusaha meminjamkan “sebait tuhan” kepada penyair Sutardji Calzoum Bachri, dalam puisi “Matahari Bachri” — apapun makna konotasi dari frase itu.6)

Jika bagi para penyair seluruh ruang berisi tuhan, maka dalam puisi afrizal ruang ini berisi benda-benda, tuhan hanya salah satu di antaranya. Menarik bagaimana ia menyusun benda-benda itu dalam puisi-puisinya, memberi mereka hak untuk muncul ke permukaan dan dikenal sebagai bagian yang sah dari semesta dan perkembangan zaman. Untuk memahami amanat dalam puisinya mungkin harus mengetahui makna di balik benda-benda itu. Atau, jangan-jangan seperti Sutardji Calzoum Bachri yang membebaskan kata dari makna, Afrizal pun berusaha membebaskan benda dari kungkungan makna konvensionalnya.7) Berikut beberapa puisi Afrizal:

Warisan Kita

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku, genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku, meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku, lumbung berasku, ani-aniku.

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku, pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, penumbuk padiku, selimutku, baju dinginku, panci masakku, topiku. Bicara lagi kucing-kucingku… pisau

1989

Masyarakat Rosa

Dari manakah aku belajar jadi seseorang yang tidak aku kenal, seperti belajar menyimpan diri sendiri. Dan seperti usiamu kini, mereka mulai mengira dan meyakini orang banyak, bahwa aku bernama Rosa.

Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki kartu nama. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Mahluk baru itu kian membesar jadi sejumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa membuat aku menggigil saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarnya. Rosa membesar jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

Ayahku bernama Rosa pula, ibuku bernama Rosa pula, seperti para kekasihku pula bernama Rosa. Mereka memanggilku pula sebagai Rosa, seperti memanggil diri dan anak-anak mereka. Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang selalu baru.

Rosa berhembus dari gaun biru dan rambut basah, dari bibir yang memahami setiap kata, lalu menyebarkan berlembar-lembar cermin jadi Rosa. Tetapi jari-jemarinya kemudian basah dan membiru, ketika menggenggam mikropon yang menghisap dirinya. Di depan layar televisi, ia menggenang: “Itu adalah Rosa, seperti menyerupai diriku.” Gelombang Rosa berhembus, turun seperti pecahan-pecahan kaca. Rosa menjelma jadi lelaki di situ, seperti perempuan yang menjelma jadi Rosa.

Rosa, tontonlah aku. Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera dan fotocopy. Tetapi kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, nasionalisme, keadilan dan kemakmuran, seperti menyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. Semua nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. Orang-orang bernama Rosa, menepi saling memperbanyak diri. Mereka bertatapan: Rosa … dunia wanita dan lelaki itu, mengenakan kacamata hitam. Mereka mengunyah permen karet, turun dari layar-layar film, dan bernyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikropon pecah itu.

1989

Mitos-mitos Kecemasan

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat-saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. burung-burung beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.

1985

Migrasi dari Kamar Mandi

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain. Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran dengan ke- matian dalam pikiran: “Neraka adalah orang-orang lain.” Tak ada yang memberi tahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi setelah hari-hari kemerdekaan, di Peka- longan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan lama dari tebu, udang dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, alat-alat pembakar bahasa. Tetapi mikropon meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.

Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggalkan dirinya sendiri. Migrasi telah kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari rotasi-rotasi yang hilang, dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah orang lain.

1993

***

Barangsiapa mencari amanat dalam puisi-puisi di atas niscaya ia akan kecewa. Tapi untunglah rumusan sesuatu itu puisi atau bukan tidak terletak pada amanat yang bisa diserap. Ada hal lain yang lebih membahagiakan orang ketika membaca puisi yakni penghayatan yang intens terhadapnya. Bisa dimengerti atau membingungkan adalah ranah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa puisi, bagaimanapun, adalah bahasa yang dikreasi oleh penyairnya, bukan bahasa yang sudah lecek karena terlalu sering digunakan orang. Hanya karena sulit dimengerti, puisi-puisi Afrizal Malna kerap juga disebut sebagai puisi gelap, entah penyebutan itu berkonotasi positif atau negatif.

Adalah Sapardi Djoko Damono yang melihat adanya kesejajaran puisi Warisan Kita, yang dikutip di atas, dengan puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri dalam hal aspek bunyi yang menyerupai mantra. Menurut penyair senior itu, terdapat ketegangan antara tulisan dan ucapan dalam puisi-puisi Afrizal Malna. Namun ia juga menambahkan bahwa dua penyair itu (Sutardji dan Afrizal) mampu menjalin kata, larik, dan baitnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah bangunan puisi yang solid.8)

Bukan soal benar bahwa Afrizal dipengaruhi oleh Sutardji, bahkan juga oleh para penyair lain sebelumnya. Sebab atmosfer pernafasannya ialah wawasan estetika yang sudah terbentuk secara mapan, yang bisa ditelusuri hingga Raja Ali Haji. Lihat puisinya “Buku Harian dari Gurindam Duabelas”, yang memperlihatkan kefasihannya membaca masa lalu: Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah permulaan kalam.” Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra, barang-barang elektronik juga… Jelas bahwa Afrizal meletakkan lokus kreativitasnya pada sinopsis historia puisi yang terserak di alam bawah sadarnya sebagai penyair. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ: “para nabi, sutra, dan barang-barang elektonik juga” menandai pergerakan di ruang kreativitasnya.

Bahkan puisinya yang berjudul “ChanelOO” bisa disepadankan dengan puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Tuan”. Perhatikan dan bandingkan keduanya.

Chanel OO

Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman

Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.

1983

Tuan
Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.9)

Keterpengaruhan bukanlah sebuah cacat bagi seorang penyair. Bahkan secara ekstrim TS Elliot berkata: “Penyair teri meminjam, penyair kakap mencuri.” Tidak ada penyair — dan pada umumnya penulis — yang lahir sebagai penyair. Ia belajar dari para pendahulunya, mencerna, dan menerima pengaruh mereka dengan lapang dada. Masalahnya, apakah dia selamanya berada di bawah bayang-bayang pendahulunya atau bertumbuh menjadi dirinya sendiri. Afrizal, rasanya, telah menjadi Afrizal yang kita kenal dengan puisi-puisi uniknya yang mudah dibedakan dengan puisi-puisi dari penyair lain, baik pendahulunya maupun yang semasanya. Bahkan pada awal 1990-an pernah lahir genre puisi “Afrizalian” yang menjadi mainstream kuat, yakni puisi dengan mosaik bercitraan dunia urban dan berwarna gelap.10) Ini menandakan bahwa Afrizal memberikan pengaruh penting pada perpuisian Indonesia mutakhir.

Afrizal02

Afrizal telah menerbitkan sejumlah antologi di antaranya Narasi dari Semangka dan Sepatu, Yang Berdiam dalam Mikropon, Mitos-mitos Kecemasan, Membaca Kembali Dada, dan Arsitektur Hujan. Yang disebut terakhir itu bagi saya merupakan masterpiece-nya karena menunjukkan kematangannya sebagai penyair. Antologi puisi lainnya, Abad Yang Berlari, walaupun telah memperlihatkan jatidirinya sebagai penyair yang berbeda dengan yang lain, masih memperlihatkan pencarian bentuk dan penyempurnaan wawasan estetik. Sejajar dengan puisi-puisi awal Amir Hamzah dalam Buah Rindu sebelum mencapai taraf kematangan dalam Nyanyi Sunyi. Adapun puisi-puisi Afrizal sesudah periode Abad Yang Berlari seperti yang termuat dalam antologi Kalung dari Teman (1998) dan Dalam Rahim Ibu Tak Ada Anjing (2003), dapat disebut sebagai pemapanan proses kreativitasnya dalam kerangka wawasan estetika yang sama. Belakangan ia juga menerbitkan kembali puisi-puisinya dalam antologi Pada Bantal Berasap.

Dan kini, atau nanti, setiap kita membaca sebuah puisi semacam itu, dengan tanpa melihat penulisnya kita bisa mengatakan itu puisi Afrizal, atau setidaknya — jika ternyata ditulis oleh penyair lain — bercorak Afrizalian. Itu saja sudah cukup membuktikan bahwa penyair yang lahir di Jakarta, 7 Juni 1957, ini adalah somebody dalam gelanggang sastra di tanah air. Sambil menutup uraian ini, mari kita nikmati lagi puisi-puisi Afrizal Malna.

Kebiasaan Kecil Makan Coklat

“Aku tak suka kakimu berbunyi.”
“Ini coklat, seperti cintaku padamu.”

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat di situ, menyusun persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994

Lembu yang Berjalan

Aku bersalaman. Burung berita telah terbang memeluk sayapnya sendiri. Kota telah pergi jauh sampai ke senja. Aku bersalaman. Matahari yang bukan lagi pusat, waktu yang bukan lagi hitungan. Angin telah pergi, tidak lagi ucapkan kotamu, tak lagi ucapkan namamu. Aku bersalaman. Mengecup pesawat TV sendiri… tak ada lagi, berita manusia.

1984

Gadis Kita

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Ja- ngan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

1985

Buku Harian dari Gurindam Duabelas

Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah permulaan kalam.” Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra, barang-barang elektronik juga. Tetapi seseorang mencarimu hingga Piz Gloria, kubah-kubah putih yang mengirimku hingga Senggigi. 150 tahun kematian Friedrich Holderlin, jadi penyair lagi di situ, hanya untuk menjaga cinta. Gerimis membawa kota-kota lain lagi, tanaman palma dan kenangan di jendela: Siti berlari-lari, menyapu halaman jadi buah mangga, apel, dan kecapi juga.

Kini dia bukan lagi kisah batu-batu, pelarian tempo dulu, atau seorang biu mengajar menyapu. Kini setiap tubuhnya membaca Gurindam Duabelas, mengirim buku harian, untuk masa silam seluruh unggas. Kita saling mencari, di antara pikiran yang dicurigai, lebih dari letusan, menumbangkan sebuah bahasa di malam hari. “Puan-puan dan Tuan-tuan,” kata Siti,”aku melayu dari Pejanggi.” … Dan sungai Siak jadi sepi, jadi lebih dalam lagi dari Gurindam Duabelas.

Lenganmu, membuat bahasa lain lagi di situ; untuk orang-orang di pelabuhan, menjual beras, sayuran, radio, ikan-ikan juga. Dan aku berlari-lari. Ada rumah di situ, setelah jalan berkelok. Ini untukmu, bahasa dari letusan itu, penuh suaramu melulu.

1993

Asia Membaca

Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Tapi kami masih hadapi langit yang sama, tanah yang sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi, jadi batu dalam pesawat-pesawat TV; setelah waktu-waktu yang menghancurkan, dan cerita lama memanggili lagi dari negeri lain, setiap kata jadi berbau bensin di situ. Dan kami terurai lagi lewat baju-baju lain. Asia. Kapal-kapal membuka pasar, mengganti naga dan lembu dengan minyak bumi. Membawa kami ke depan telpon berdering.

Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan.Mengantar pembisuan jadi jalan-jalan di malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta yang lain lagi, mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca, menulis yang tak boleh ditulis.

Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman. Asia. Kami pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta kata. Asia hanya ditemui, seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat bahasa dilahirkan.

Asia.

1985

CATATAN AKHIR

1. Joko Pinurbo, “Puisi Indonesia, Jelajah Estetik dan Komitmen Sosial”, Jurnal Kebudayaan Kalam 13, 1999.

2. Tommy F. Awuy , “Sastra Indonesia Kontemporer” dalam Jurnal Budaya Kolong 3, Th. I, 1996)

3. Esai ini mengutip dari Wikipedia Indonesia dari buku Barbara Hatley. ”Nation, ‘Tradition’, and Constructions of the Feminine in Modern Indonesian Literature,” dalam Imagining Indonesia, ed. J. Schiller and B. Martin Schiller, hal. 93, dikutip dari Harry Aveling, Rahasia Membutuhkan Kata: Puisi Indonesia 1966-1998 (diterjemahkan dari Secrets Need Words, Indonesian Poetry 1966-1998 oleh Wikan Satriati), IndonesiaTera, 2003.

4. Bagi penyair Agus R. Sarjono, perubahan dari aku-lirik menjadi aku-publik dalam puisi-puisi Afrizal Malna memperlihatkan kegelisahan eksistensial penyairnya. Lihat esai Agus R Sarjono, “Puisi Indonesia Mutakhir” dalam Ulumul Qur’an, No. 1/VIII/1998.

5. Puisi-puisi Afrizal banyak menggunakan penanda bilangan, misalnya: ”5 sentimeter dari kiri”, “500 meter dari bahasa yang telah kau campakkan”, “karikatur 15 menit”, ”cerita dari 2 hijau”, “biografi Yanti setelah 12 menit”, “pulogadung dari peta 15 menit”, “1 menit dari halaman rumahku”, ”cerita dari tata bahasa 16.000 liter minyak tanah yang berjalan di depanku”, 16.000 liter jadi lehermu, 16.000 liter minyak tanah mulai mencium bau warganegara”

6. Puisi ini dimuat dalam buku Abad yang Berlari (Lembaga Penerbit Altermed, Yayasan Lingkaran Merahputih, 1984), hal. 21), demikian: …. Mabukmu membawa penyair kepada keperihan kamus-kamus, bachri. kepada siapa mengajari tuhan kepada siapa mengajari bintang-bintang. langit menurunkan mataharimu setangga-setangga. dan tanah terus berkibar menyimpan hidup dalam rahasia-rahasia. // Di kubur mabuk, lonceng oleng, kita hanya barisan kata-kata, bachri. siapkan rumput di padang-padang telanjang. aku pinjamkan sebait tuhan untukmu

7. Dalam salah salah satu esainya, pengamat budaya Tommy F. Awuy menyatakan bahwa puisi-puisi Afrizal Malna memaknai benda-benda bukan sesuatu yang “an sich”; setiap benda menjadi simbol masing-masing, bahkan kadang satu benda merupakan wakil dari sekian banyak simbol. Lihat, Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan (Yogyakarta, Bentang, 1995).

8. Sapardi Djoko Damono, “Kelisanan dan Keberaksaraan, Kasus Puisi Indonesia Mutakhir”, Jurnal Kebudayaan Kalam 13, 1999.

9. Dikutip dari 3: Buku Puisi Sapardi Djoko Damono (Jakarta: Editium, 2010), hal. 72.

10. Lihat, Ahmadun Yosi Herfanda, “Heterogenitas Puisi Indonesia Mutakhir”, Republika, Minggu, 10 Juni 2007.

 

______________________________________________________________________________________________________
INFO PELATIHAN MENULIS
______________________________________________________________________________________________________

Para siswa SMP dan SMA dari 30 sekolah di kota Ambon dan Maluku Tengah mengikuti pelatihan menulis di bawah bimbingan Ahmad Gaus, bertempat di Imperial Inn, Ambon, 23 Oktober 2013.

Ambon WriterPreneurship3 Ambon Writerpreneurship

____________________________________
Pelatihan menulis bersama Ahmad Gaus dan para narasumber dari MizanGrup, Kompas, Gatra, SCTV, diadakan setiap Kamis sore di auditorium CSRC, Gedung PBB lantai 2 UIN Jakarta.

_____________________________________

CSRC2

Pelatihan Menulis di CSRC UIN Jakarta

Sesuai dengan aturan PSBB dan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, pelatihan menulis untuk sementara waktu beralih ke dunia maya alias online via Zoom meeting. Silakan jika anda berminat baca infonya dalam flyer berikut:

Indonesia Lahir dari sebuah PUISI

f-hormat

Indonesia Lahir dari sebuah Puisi
Catatan Ahmad Gaus

Sosok negeri bernama Indonesia belum terbayang di benak Muhammad Yamin ketika ia menulis puisi berjudul Tanah Air pada tahun 1920. Konsep tanah air Indonesia boleh jadi masih terlalu abstrak, walaupun ide-ide tentang nasionalisme mulai dikumandangkan sejak awal abad ke-20. Bahkan, jika nasionalisme dikaitkan dengan kehendak untuk bebas dari penjajahan, puisi Yamin tidak mengekspresikan kehendak tersebut. Ia hanya bertutur tentang keindahan alam tanah airnya, yakni Sumatera. Mengapa Sumatera, tentu saja karena Yamin lahir di pulau yang dulu dikenal dengan sebutan Swarnadwipa (pulau emas) itu, tepatnya di Sawah Lunto, pada 24 Agustus 1903.

Yamin telah mulai memupuk karirnya sebagai penulis di usia belasan tahun. Karya-karya pertamanya dipublikasikan dalam jurnal berbahasa Belanda, Jong Sumatera. Namun Yamin menulis dalam bahasa Melayu, dan ini dinilai sebagai bentuk kepeloporannya dalam merintis penggunaan bahasa Indonesia yang kelak diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II, 1928 di Jakarta.

Puisi berjudul Tanah Air dimuat di Jong Sumatera Nomor 4 Tahun III, 1920. Puisi ini dianggap penting oleh para pengamat sastra karena merupakan karya pertama yang mencoba keluar dari pakem puisi lama yang lazim ditulis dalam empat larik pada setiap baitnya, sementara Yamin menulisnya dalam sembilan larik. Dan lebih penting lagi, puisi Tanah Air termasuk karya sastra generasi pertama yang mengangkat tema kebangsaan, walaupun dalam pengertian yang masih berkonotasi kedaerahan. Berikut adalah puisi Tanah Air:

Pada batasan bukit Barisan
Memandang aku, ke bawah memandang
Tampaklah Hutan rimba dan ngarai
Lagipun sawah, sungai yang permai
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.

Sesayup mata, hutan semata
Bergunung bukit, lembah sedikit
Jauh di sana, disebelah situ
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga
Bukannya janat bumi kedua
Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatera, namanya, yang kujunjungi.

Pada batasan, bukit barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai
Tampaklah air, air segala
Itulah laut, samudera Hindia
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah kepasir lalu berderai
Ia memekik berandai-randai:
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
“Harumkan nama, selatan utara !”

Puisi itu terdiri dari tiga bait dan masing-masing baitnya memuat sembilan larik. Bentuk ini sudah keluar dari konvensi persajakan tradisional seperti syair atau pantun yang setiap baitnya terdiri dari empat larik dan taat pada keharusan memuat sampiran pada dua larik pertama dan isi pada dua larik terakhir. Eksperimentasi ini telah berhasil membangun pola estetika tersendiri yang membuat perbedaan dengan pola estetika pantun dan syair dalam puisi lama.

Perubahan itu memang tidak bersifat radikal dalam arti memutus sama sekali pola persajakan dengan tradisi sebelumnya karena kita masih bisa merasakan rima sajak pada beberapa lariknya, misalnya kalau kita penggal larik-larik itu dengan tanda “/” maka akan terasa rimanya: Sesayup mata/hutan semata. Bergunung bukit/lembah sedikit. Atau larik ini: Pada batasan/bukit barisan. Memandang ke pantai/ teluk permai.

Yamin

Bukan soal besar apakah Yamin sengaja membiarkan pengaruh persajakan tradisional mewarnai puisinya, ataukah ia memang dengan sadar tidak hendak meninggalkan sama sekali tradisi puisi lama. Yang jelas, dengan puisi Tanah Air itu Yamin telah merintis tradisi sastra Nusantara yang mengarah ke bentuk yang lebih modern.

Memang ada pandangan berbeda mengenai kedudukan puisi Yamin, termasuk puisi-puisinya yang lain selain Tanah Air. Teeuw, misalnya, mengatakan bahwa puisi-puisi Yamin belum memperlihatkan corak puisi modern… terjebak klise… dan ulangan-ulangan yang tak ada artinya.1) Namun demikian, para pengamat pada umumnya menganggap wajar hal itu terjadi karena tidak mudah memutus sama sekali tradisi puisi lama yang telah mapan sebelumnya, terutama pola pantun dan syair.2)

Pada tahun 1922, puisi Tanah Air diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul yang sama, dan merupakan buku puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan.3) Di dalam buku ini dimuat 15 puisi masing-masing terdiri atas dua bait dan masing-masing baitnya memuat sembilan larik. Jadi di usianya yang belum genap 20 tahun Yamin telah menjadi penyair perintis bagi kelahiran tradisi baru puisi Nusantara. Di masa kemudian puisi-puisi Yamin muda juga diterbitkan dalam sebuah buku Armijn Pane yang memuat judul-judul: Permintaan, Cita-cita, Cinta, Asyik, Pagi-pagi, Gembala, Awan, Tenang, Gubahan, Perasaan, Keluhan, Ibarat, Kenangan, Gamelan, Gita Gembala, Kemegahan, dan Niat.4)

Puisi Tanah Air memang belum secara ekspisit menyebut “Indonesia”. Nama Indonesia muncul pada tahun 1928 sebagai kelanjutan dari kesadaran nasionalisme yang makin sering disuarakan oleh kalangan penulis dan kaum intelektual. Pada tahun ini Yamin menulis puisi Tumpah Darahku, dan di situ kata tanah air tidak lagi berkonotasi Sumatera tempat kelahirannya melainkan telah memperoleh wujud konkretnya sebagai kesatuan geografis yang hendak diperjuangkan untuk lepas dari penjajahan asing. Apa yang tergambar di benak Yamin tentang tanah air pada periode tersebut? Mari kita simak puisinya berikut ini:

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gemunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya.

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya tanah airku

Pada puisi berjudul Tumpah Darahku itu kita memang masih merasakan nuansa musikal seperti pada puisi-puisi lama dalam beberapa akhir lariknya. Namun yang lebih penting sebenarnya isi dari puisi itu sendiri yang tidak lagi mendendangkan keindahan kampung halaman melainkan perasaan yang mengharu-biru pada keelokan sebuah negeri di garis katulistiwa. Konsep tanah air telah mengalami transfomasi makna dari pulau Sumatera menjadi sebuah kawasan bernama Indonesia. Estetika romantisme telah berganti wujud menjadi estetika heroisme dimana pesan politiknya sangat kentara sungguhpun puisi itu sejatinya mendendangkan keindahan bumi pertiwi.

Kongres Pemuda II tahun 1928 tercatat sebagai cikal-bakal kemerdekaan Indonesia. Tanpa peristiwa tersebut, konon, Indonesia tidak akan pernah lahir sebagai sebuah bangsa. Jika momen itu begitu penting, maka puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin juga sama pentingnya, sebab ia menandai pergerakan zaman dari era kolonialisme menuju kemerdekaan. Teks Sumpah Pemuda jelas terbaca sebagai kelanjutan puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin, sebab dialah yang merumuskannya.5) Teks Sumpah Pemuda itu berbunyi demikian:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Rasa cinta Yamin yang mendalam pada tanah air (Sumatera) yang ditulis dengan nada romantis dalam puisi Tanah Air bersinggungan dengan gemuruh perjuangan di ranah politik nasional. Realitas itu mendorongnya untuk segera mengubah haluan romantisme kedaerahan menuju kesadaran nasionalisme yang lebih luas. Perubahan makna tanah air dalam puisi Tanah Air secara ekspisit tercermin pada larik Indonesia namanya tanah airku dalam puisi Tumpah Darahku.

Dua puisi Yamin itu memang harus dilihat dalam garis kontinum – puisi yang kedua merupakan kelanjutan dari puisi yang pertama. Sebab dalam teks Sumpah Pemuda yang dirumuskan Yamin, yang dimaksud bertumpah darah satu ialah tanah air, dan yang dimaksud tanah air ialah Indonesia.

Dalam garis kontinum itulah puisi Tanah Air berada di urutan pertama kategori puisi-puisi yang menyuarakan spirit nasionalisme,6) sekaligus memperlihatkan peranan penting karya sastra dalam mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

 

Catatan Akhir

1). A. Teeuw, Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (Djakarta: Jajasan Pembangunan, 1953), hal. 51-53.

2). Suyono Suyatno, Juhriah, dan Joko Adi Sasmito, eds., Antologi Puisi Indonesia Periode Awal (Jakarta: Pusat Bahasa, 2000), hal. 15.

3). http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Yamin

4). Armin Pane, Sajak-sajak Muda Mr. Muhammad Yasin (Jakarta: Firma Rada, 1954).

5). Dalam kapasitasnya sebagai sekretaris Kongres, Yamin bertugas meramu rumusan Sumpah Pemuda. “Rancangan sumpah itu ditulis Yamin sewaktu Mr Sunario berpidato di sesi terakhir kongres,” tulis Majalah Tempo edisi 2 November 2008 dalam artikel “Secarik Kertas untuk Indonesia”.

6). Lebih jauh mengenai puisi-puisi yang menyuarakan nasionalisme ini lihat, S. Amran Tasai, Maini Trisna Jayawati, dan Ni Nyoman Subardini, eds., Semangat Nasionalisme dalam Puisi Sebelum Kemerdekaan (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2002), hal. 98.

______________________________________________

Mengenang BUYA HAMKA dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Buya_Hamka01

“Terlalu gegabah menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen.” – HB Jassin

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Catatan Ahmad Gaus

(Berikut adalah esai untuk mengenang Buya Hamka yang wafat pada tanggal 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun. Beliau almarhum adalah seorang ulama dan sekaligus sastrawan besar yang dimiliki bangsa kita. Selamat membaca).

ADA CERITA menarik dari Kutaraja (kini Banda Aceh). Setiap Rabu malam, orang-orang berkerumun di stasiun kereta menunggu kiriman majalah Pedoman Masjarakat yang terbit di Medan. Mereka bukan hanya agen penjual majalah itu, tapi juga ratusan pembaca yang tidak sabar ingin membaca kelanjutan kisah “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” yang dimuat di majalah itu secara bersambung pada 1938.1] Penulis cerita bersambung itu ialah Hamka, nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang juga pengasuh dan pendiri majalah mingguan Pedoman Masjarakat.

Hamka menuturkan bahwa ia mendapat banyak surat dari pembaca—atau tepatnya, penggemar—cerita Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sebagian surat itu berisi pengungkapan kesan mereka setelah membaca kisah cinta tragis antara Zainuddin dan Hayati yang dikungkung adat dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. “Seakan-akan Tuan menceritakan nasibku sendiri,” tulis seorang pemuda dalam suratnya.2]

Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, cerita bersambung itu akhirnya diterbitkan dalam bentuk novel dengan judul yang sama pada 1939. Hamka menulis novel itu berdasarkan kisah nyata tentang kapal Van Der Wijck yang berlayar dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Tanjung Priok, Jakarta, dan tenggelam di Laut Jawa, timur laut Semarang, pada 21 Oktober 1936. Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijck yang dibangun pada tahun 1936 di Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, sebagai tanda terima kasih masyarakat Belanda kepada para nelayan yang telah banyak membantu saat kapal itu tenggelam. Dan Hamka mengabadikannya dalam sebuah novel.

van-der-wijck2

Walaupun peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck itu benar-benar terjadi, kisah yang ditulis Hamka dalam novel itu tentu saja fiksi belaka. Sebagaimana umumnya karya sastra yang baik dibangun di atas serpihan kejadian nyata, Hamka pun mengolah tragedi yang memilukan itu dalam kisah fiksi yang diberi badan peristiwa konkret dengan plot yang apik sehingga imajinasi pembacanya memiliki pijakan di dunia faktual. Karakter utamanya (Zainuddin, Hayati, dan Aziz) seolah pribadi-pribadi yang benar-benar hidup dan mewakili potret kaum muda pada masa itu ketika mereka berhadapan dengan arus perubahan sementara kakinya berpijak pada adat dan tradisi.

Kepiawaian Hamka dalam menyampaikan kritiknya atas tradisi boleh jadi melanjutkan kesuksesan pendahulunya Marah Rusli dalam roman Siti Nurbaya yang melegenda itu. Keduanya juga sama-sama berkisah tentang adat dan kawin paksa. Dan keduanya berujung kematian tokoh-tokoh utamanya. Bedanya, Siti Nurbaya menimbulkan dampak yang sangat kuat dan melintasi zaman karena ide ceritanya itu sendiri, sementara Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck melahirkan guncangan keras karena kontroversi yang menyertai ide cerita. Siti Nurbaya adalah kisah cinta di atas panggung tradisi. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga kisah cinta yang sama namun sekaligus kisah tentang kesusastraan di pentas pertarungan politik. Belum pernah ada perdebatan yang begitu keras tentang sebuah novel melebihi karya Hamka ini. Novel ini dituduh sebagai plagiat dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sastrawan Prancis).3]

Sebagaimana novel Siti Nurbaya, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga berkisah tentang cinta yang tak sampai. Tokoh utamanya, Zainuddin, adalah anak dari Pendekar Sutan yang diasingkan ke Cilacap karena membunuh mamaknya dalam sebuah perselisihan harta warisan. Setelah bebas ia pergi ke Makassar dan di kota ini menikah dengan Daeng Habibah. Dari pernikahan inilah lahir Zainuddin. Setelah orangtuanya meninggal, Zainuddin pergi ke Batipuh, Padang Panjang, yang merupakan kampung halaman ayahnya. Sayangnya, di sana ia tidak diperlakukan dengan baik karena dianggap bukan anak Minang. Maklum walaupun ayahnya seorang Minang, ibunya orang Bugis sehingga putuslah pertalian darah menurut garis matrilinear yang bernasabkan kepada ibu.

Sungguhpun begitu Zainuddin menjalin cinta dengan Hayati, gadis Minang yang prihatin terhadap nasibnya dan sering mencurahkan kesedihan hatinya kepada Hayati. Sebagai gadis keturunan bangsawan, tentu saja keluarga Hayati mencegahnya berhubungan dengan Zainuddin yang bukan orang Minang dan tidak jelas pula masa depannya. Keluarga Hayati memilih Aziz yang asli Minang dan berasal dari keluarga terpandang. Hayati harus tunduk pada kesepakatan keluarga, walaupun hatinya condong pada Zainuddin.

Zainuddin menganggap Hayati telah berkhianat. Akhirnya dengan membawa perasaan luka ia pergi ke Jakarta, kemudian pindah ke Surabaya. Sementara itu Hayati dan Aziz yang telah menikah juga pergi ke Surabaya dan tinggal di sini karena alasan pekerjaan. Tanpa sengaja, dalam suatu acara keduanya bertemu dengan Zainuddin yang telah menjadi orang sukses. Sedangkan kehidupan ekonomi Aziz dan Hayati semakin lama semakin memburuk. Aziz jatuh miskin sampai-sampai ia dan istrinya harus menumpang di rumah Zainuddin. Tak tahan menahan penderitaan, Aziz akhirnya bunuh diri dan sebelumnya meninggalkan pesan agar Zainuddin menjaga Hayati.

Zainuddin yang pernah dikhianati merasa sulit untuk menerima kembali Hayati. Perasaan cinta yang masih menyala dicoba untuk dipadamkan. Bahkan ia meminta Hayati untuk kembali ke kampung halaman di Batipuh, walaupun wanita itu merajuknya: “Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !…..Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”. (hal. 198)

Hayati pun pulang dengan menumpang kapal Van Der Wijck. Namun nasib malang menimpanya. Kapal yang ditumpanginya tenggelam di Laut Jawa. Zainuddin yang mendengar berita itu langsung menuju rumah sakit di Tuban. Sayang nyawa Hayati tidak dapat diselamatkan. Sejak peristiwa itu Zainuddin sering mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dan dimakamkan di samping pusara Hayati.

Ujung cerita tragis tampaknya menjadi pilihan untuk menyampaikan pesan bahwa cinta yang merupakan pangkal kebahagiaan seseorang sering dikorbankan demi martabat keluarga atau keturunan. Novel ini ditulis sebagai kritik terhadap beberapa tradisi dalam adat Minang saat itu yang tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat.4] Penulisnya sangat berwenang melakukan itu karena ia hidup dalam kumparan masa tersebut. Sehingga ia bukan hanya merekam sejarah, melainkan juga sang pelaku yang fasih dengan kultur masyarakat Minang dan perubahannya pada zaman itu.5]

Sejak awal novel ini diterbitkan berpindah dari satu penerbit ke penerbit lain. Mula-mula penerbit swasta, kemudian mulai tahun 1951 oleh Balai Pustaka. Lalu pada tahun 1961 oleh Penerbit Nusantara. Hingga tahun 1962 novel ini telah dicetak lebih dari 80 ribu eksemplar. Setelah itu penerbitannya diambilalih oleh Bulan Bintang.6] Tidak hanya di Indonesia, Van Der Wijck juga berkali-kali dicetak di Malaysia. Hingga kini novel ini terus dicetak, bahkan tahun ini (2013) novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sedang dibuat film layar lebarnya.

Tenggelam3

Reaksi negatif dari sejumlah pembaca Muslim telah muncul saat pertama novel ini diterbitkan. Mereka menolak membacanya dan mengatakan bahwa seorang ulama tidak sepatutnya mengarang cerita tentang percintaan. Dalam sebuah tulisan di Pedoman Masyarakat No. 4 1938, Hamka seolah membela diri menyatakan bahwa tidak sedikit roman yang berpengaruh positif terhadap pembacanya seperti roman tahun 1920-an dan 1930-an yang mengupas adat kolot, pergaulan bebas, kawin paksa, poligami, dan bahaya pembedaan kelas.7]

Tidak berhenti di situ, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menghadapi batu sandungan lebih keras pada 1962, yakni 24 tahun sejak pertama diterbitkan. Seorang penulis bernama Abdullah SP membuat esai berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat” yang dimuat di Harian Bintang Timur 7 September 1962. Dalam esai itu ia menilai bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ialah hasil jiplakan dari novel Magdalena karya sastrawan Mesir Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi yang juga hasil saduran dari novel Sous les Tilleuls karya pengarang Prancis, Alphonse Karr.

Untuk membuktikan tuduhannya Abdullah SP membuat perbandingan dengan metode “idea-script” dan “idea-sketch” yang menjajarkan dua novel itu secara detail dalam bentuk tabel perbandingan. Metode perbandingan semacam ini baru pertama dilakukan sepanjang sejarah sastra Indonesia. Dan dari hasil perbandingan itu Abdullah SP menemukan banyak kemiripan, sehingga ia menuduh Hamka sebagai plagiator. Karuan saja tuduhan itu memicu polemik, lebih-lebih serangan terhadap Hamka tidak berhenti pada esai tersebut melainkan berlanjut dengan dibuatnya kolom khusus di Harian Bintang Timur yang berjudul “Varia Hamka” dalam lembaran kebudayaan Lentera yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Plagiat

Kasus ini terus bergulir menjadi polemik lantaran muncul pada era pertentangan ideologi yang cukup keras antara kubu seniman kiri Lekra versus kubu Manifes Kebudayaan. Para sastrawan Manifes Kebudayaan membela Hamka dari tuduhan para seniman Lekra. Kedudukan Hamka sebagai anggota Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai yang dilarang oleh Presiden Soekarno pada Agustus 1960, memperkeras polemik dan membawanya ke ranah politik—bukan semata polemik sastra. Lekra banyak menentang agama. Oleh sebab itu, Hamka yang merupakan ulama dianggap sebagai salah satu target penting.8] Kubu Abdullah SP (yang konon adalah nama samaran dari Pramoedya Ananta Toer sendiri) berhadapan dengan kubu HB Jassin bersama para sastrawan yang ikut membela Hamka yakni Anas Makruf, Ali Audah, Wiratmo Soekito, Asrul Sani, Rusjdi, Umar Junus, Soewardi Idris, dan lain-lain.

Serangan terhadap Hamka berlangsung berbulan-bulan “dengan bahasa yang sangat kasar dan tak layak sama sekali dimuat dalam ruang kebudayaan Lentera dan telah menjadi fitnah terhadap pribadi dan keluarga sastrawan tersebut.”9] Dalam sebuah pembelaannya terhadap Hamka, HB Jassin menulis bahwa Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukanlah karya plagiat. Menurutnya, yang disebut plagiat adalah pengambilan karangan orang lain sebagian atau seluruhnya dan membubuhkan nama sendiri seolah-olah kepunyaannya. Di samping plagiat, ada saduran, yaitu karangan yang jalan ceritanya dan bahan-bahannya diambil dari suatu karangan lain, misalnya cerita luar negeri disesuaikan dengan alam sendiri (Indonesia) dengan mengubah nama-nama dan suasananya. Saduran itu pun harus disebutkan nama pengarang aslinya. Selain “plagiat” dan “saduran”, ada juga “pengaruh”, yakni hasil ciptaan pengarang sendiri mendapat pengaruh pikiran atau filsafat pengarang lain, baik disengaja maupun tidak.

Jassin

Menurut HB Jassin dalam pengantar buku Manfaluthi yang kemudian diterjemahkan menjadi Magdalena (1963), memang antara dua novel itu terdapat ada kemiripan plot, pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang mengingatkan kepada Magdalena, tetapi ada pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalahan sendiri. Sekiranya ada niat pada Hamka untuk menyadur Magdalena Manfaluthi, lanjutnya, maka kepandaian Hamka melukiskan lingkungan masyarakat dan menggambarkan alam serta manusianya, kemahirannya melukiskan seluk-beluk adat istiadat serta keahliannya membentangkan latar belakang sejarah masyarakat Islam di Minangkabau, mengangkat ceritanya itu jadi ciptaan Hamka sendiri.

Atas dasar itu, Jassin berpandangan bahwa karya Hamka bukan plagiat atau jiplakan, karena Hamka tidak hanya menerjemahkan dan membubuhkan nama sendiri dalam terjemahan itu, melainkan ia menciptakan karya dengan seluruh kepribadiannya. Karena itu, “terlalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen.”

Bagaimana sikap Hamka sendiri atas kasus yang menimpanya. Dalam majalah Gema Islam (1962) ia menulis: “Tjatji maki dan sumpah-serapah terhadap diri saja dengan mengemukakan tuduhan bahwa buku Tenggelamnja Kapal Van der Wijck jang saja karang 24 tahun jang lalu, adalah sebuah plagiat, atau djiplakan, atau hasil tjurian atau sebuah skandal besar, tidaklah akan dapat mentjapai maksud mereka untuk mendjatuhkan dan menghantjurkan saja. Dengan memaki-maki dan menjerang demikian persoalan belumlah selesai.”

Hamka akhirnya memang lebih banyak bersikap pasif. Ia menyatakan bahwa kalau ada orang yang menunggu-nunggu dirinya membalas segala serangan dan hinaan itu, maka mereka akan lelah menunggu karena ia tidak akan membalas. Yang ia tunggu, ujarnya, adalah terbentuknya satu Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah, yang apabila Panitia tersebut memandang perlu untuk menanyainya, maka ia akan bersedia memberikan keterangan.

Pada tanggal 19 November 1962, Bintang Timur memuat pernyataan bahwa redaksi menerima larangan dari Peperda (Penguasa Perang Daerah) agar persoalan Hamka tidak dimuat lagi di lembar kebudayaan Lentera. Namun pro-kontra kasus itu sudah terlanjur membesar sehingga larangan dari Peperda itu seolah dianggap sepi. Polemik terus bergulir selama kurang lebih 3 tahun, sampai terjadinya peristiwa yang disebut G30S/PKI 1965 yang benar-benar mengubur kasus tersebut.

Sisi lain yang menarik dari karya Hamka ialah pelabelan sastra Islam padahal tidak satu pun ada petuah agama yang terkandung di dalamnya (secara eksplisit). Baik di dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck maupun karya lainnya yang terkenal seperti Di Bawah Lindungah Kabah dan Merantau Ke Deli, sastrawan kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini sangat piawai menyisipkan nilai-nilai keislaman secara implisit.

Merantau

Hal ini berbeda dengan para penulis karya islami yang banyak bermunculan akhir-akhir ini yang sangat gamblang menggunakan simbol-simbol Islam, bahkan mengutip ayat-ayat Quran atau hadis, sehingga karya novel hampir menyerupai kitab fikih. Pada Hamka, penyebutan kata Islam bisa dihitung dengan jari, alih-alih mengutip Quran. Hal ini menarik perhatian kritikus sastra Jakob Soemardjo. Ia menilai bahwa Hamka lebih mengutamakan substansi keislaman ketimbang pemaparan tentang hukum-hukum Islam secara eksplisit. “Hamka memasukkan nilai-nilai agama secara universal, sehingga umat di luar Islam juga tertarik untuk menikmatinya,” kata Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung itu.10]

Mungkin karena sifatnya yang tidak verbalistik itulah maka karya-karya Hamka menjadi abadi. Sampai wafatnya pada 24 Juli 1981, Hamka akan terus dikenang sebagai pengarang yang berdedikasi pada kesusastraan di tanah air. Kabar terakhir yang menggembirakan ialah bahwa selain akan difilmkan, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan akan diterbitkan di Mesir. Buku Hamka ini merupakan langkah awal penerjemahan buku-buku Indonesia ke dalam bahasa Arab.11]

Catatan
1. Sebagaimana dituturkan kolega Hamka yang juga wartawan dan penulis terkenal, M. Yunan Nasution, lihat: http://buyahamka.org/ mengenang-sastrawan-besar-hamka/

2. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008

3. Polemik mengenai kasus ini telah didokumentasikan, di antaranya dalam buku: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dalam Polemik, editor Junus Amir Hamzah dengan bantuan penuh HB Jassin (Jakarta: Mega Book Store, 1963); Aku Mendakwa Hamka Plagiat! Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 oleh Muhidin M Dahlan (Yogyakarta: ScriPtaManent dan Merakesumba, 2011)

4. HB Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 63

5. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008

6. Maman S. Mahayana, Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hal. 168

7. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008

8. Maman S Mahayana, Oyon Sofyan, dan Ahmad Dian, Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern (Jakarta: Grasindo, 1995), hal. 78–79

9. DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk (Jakarta: Mizan, 1995), hal. 40, catatan kaki no. 1

10. “Berdakwah Tanpa Mengajari”, Jurnal Nasional, 31 Agustus 2008

11. http://www.antaranews.com/berita/334814/novel-tenggelamnya-kapal-van-der-wijch-menyapa-pembaca-arab diakses pada 14 Juni 2013

 

Baca juga puisi tentang Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai

Follow my Instagram: @gauspoem and let me know by DM if you want me to follow you back

Membaca Kembali Pram: Gonjang-Ganjing BUMI MANUSIA

pram2

Esai ini berasal dari makalah diskusi memperingati wafatnya Pramoedya Ananta Toer yang diselenggarakan oleh Sanggar Kaki Langit, Tangerang, 30 April 2013. Saya posting di sini setelah diperbaiki dan dilengkapi dengan catatan kaki. Selamat membaca. Semoga bermanfaat. Ahmad Gaus

BUMI MANUSIA

Duapuluh tahun sebelum menerbitkan Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer menulis sebuah esai berjudul “Dengan Datangnya Lenin Bumi Manusia Lebih Kaya”. Dalam esai ini Pram memuji keberhasilan Lenin dalam memimpin revolusi yang mengantarkan Uni Sovyet menjadi negara besar. Keberhasilan revolusi Indonesia 1945, ujarnya, tidak bisa dilepaskan dari peran Uni Sovyet mengingat bantuannya yang sangat besar di bidang politik, ekonomi, maupun persenjataan militer. Pram memuji Lenin yang menurutnya telah menciptakan surga di dunia, di mana rakyat telah memiliki segala yang dibutuhkannya.1)

Frase “Bumi Manusia” akhirnya menjadi judul novel Pram yang ditulis semasa ia menjadi tahanan politik di pulau Buru akibat sepak-terjangnya dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat—organisasi yang ditengarai berafiliasi kepada PKI). Dan lantaran itu pula novel Bumi Manusia kerap dikaitkan dengan ajaran Leninisme, yang tidak lain berarti Komunisme.2) Pada 21 Desember 1979 Pram dibebaskan dari tahanan dan mendapatkan surat pembebasan yang menyatakan bahwa secara hukum ia tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI.

Delapan bulan setelah pembebasannya, pada Agustus 1980, novel Pram yang berjudul Bumi Manusia itu diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra. Hanya dalam waktu 12 hari, novel itu habis terjual 5.000 eksemplar. Tiga bulan kemudian Hasta Mitra membuat cetakan ketiga dan berhasil menjual 10.000 eksemplar. Dalam setahun (1980-1981), Bumi Manusia telah dicetak ulang 10 kali. Melihat prestasi tersebut–yang terbilang luar biasa di masa itu—sejumlah penerbit di Hongkong, Malaysia, Belanda, dan Australia mendekati Hasta Mitra untuk mendapat hak terjemahan. (Sampai tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 35 bahasa).

bumi manusia

Setelah satu tahun beredar di masyarakat, pada bulan Mei 1981, Kejaksaan Agung melarang peredaran Bumi Manusia karena dianggap mempropagandakan ajaran-ajaranKomunisme. Pram menyangkal tuduhan tersebut karena tidak sepatah kata pun dari ajaran-ajaran Komunisme disebut dalam novel itu. Banyak pengamat menyayangkan bahwa Kejaksaan Agung telah menilai sebuah karya sastra secara sewenang-wenang. Namun, dalam SK-052/JA/5/1981 keluaran Jaksa Agung disebutkan bahwa pelarangan itu sepenuhnya adalah keputusan politik dan tidak ada kaitannya dengan nilai sastra.

Benarkah Pram menyebarkan paham komunis dalam Bumi Manusia walaupun tidak secara eksplisit menyebut sepatah pun ajaran itu? Seorang peneliti, Pamela Allen, melihat keterkaitan Bumi Manusia dengan esai yang ditulis Pram 20 tahun sebelumnya yang berjudul “Dengan Datangnya Lenin Bumi Manusia Lebih Kaya” yang telah disebutkan di atas. Menurut Allen, tetralogi Bumi Manusia3) bisa dibaca sebagai manifesto dari posisi filosofis, keterlibatan politik, dan visi Pramudya untuk masa depan. Benih dari novel ini, kata Allen, bisa ditemukan dalam esai tersebut.4) Statemen itu memang bisa diartikan bahwa pijakan ideologis karya Pram ialah leninisme atau komunisme. Tapi menganut paham komunis dan berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa sebelum 1965 adalah hal yang lumrah bagi sebagian orang. Bukan saja karena PKI bisa dilacak asal-usulnya pada Sarikat Islam (Merah), tapi juga PKI merupakan kekuatan politik pertama di tanah air yang berani melancarkan pemberontakan pada penjajah Belanda (1926-1927). Walaupun pemberontakan itu gagal, ia telah memberi rasa bangga pada sebagian orang untuk berafiliasi dengan PKI.

Masalahnya, Bumi Manusia terbit setelah PKI menjadi barang haram dan ideologinya dikutuk di mana-mana. Alhasil terbitnya novel ini menimbulkan polemik yang cukup keras. Bukan hanya Kejaksaan Agung yang melarangnya, para sastrawan penggagas Manifes Kebudayaan yang dulu merupakan musuh ideologis Pram melibatkan diri dalam polemik tersebut. Setelah polemik panjang novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka yang dituduh plagiat oleh Pram dalam surat kabar Bintang Timur yang diasuhnya pada 1962, kini giliran novel Bumi Manusia yang menyulut polemik serupa. Wiratmo Sukito, Rendra, Goenawan Mohamad, Sori Siregar, dan sejumlah sastrawan lain melibatkan diri dalam polemik Bumi Manusia ini.5)

Sebagai sastrawan kubu Manifes Kebudayaan yang pernah diserang habis-habisan oleh sastrawan kubu Lekra yang dikomandani oleh Pram di masa Orde Lama, tentu mudah dipahami bahwa respon kelompok pertama bersifat negatif. Wiratmo Sukito, misalnya, mengatakan bahwa karya Pram fenomenal karena berhasil menjadi raja di tengah-tengah novel pop, sementara untuk ukuran sastra dunia ia tidak memiliki arti.6) Sastrawan Umar Junus bahkan menulis bahwa tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia dimotivasi oleh paham tentang kelas, tanpa konsep dosa dan banyak adegan amoral. Ia mencontohkan beberapa bagian dalam novel tersebut, seperti hubungan seks Minke dan Annelis sebelum menikah, sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Kata-kata terakhir dalam Bumi Manusia—“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”—oleh Junus ditangkap sebagai adegan yang mengacu pada kegiatan PKI di Indonesia. Junus lalu mencap Bumi Manusia sebagai novel yang berbahaya bagi generasi muda. Anak-anak yang tidak mempunyai pengalaman dengan kejahatan komunisme, ujarnya, bisa terpengaruh oleh Bumi Manusia.7)

Selain diserang, pujian juga bertaburan untuk Bumi Manusia dan Pram sebagai pengarangnya. Pengamat sastra Jacob Sumarjo menulis, “Dengan karyanya yang pertama setelah pengarangnya hampir selama 15 tahun lenyap dari percaturan budaya dan sastra Indonesia (lantaran ditahan selama itu), maka ia membuktikan dirinya bahwa Pramoedya Ananta Toer tetap novelis milik Indonesia sampai saat ini.”8) Penulis lain, Parakitri, menuturkan: “Dengan novel ini [Bumi Manusia] Pramoedya dengan sekali hantam telah mencairkan kebekuan sastra Indonesia yang belakangan ini hanyut berputar-putar dalam inovasi-inovasi teknik, berpilin-pilin dalam kegelisahan dan kekosongan jiwa perseorangan…”9)

Setelah pelarangan itu, Bumi Manusia menghilang dari peredaran, namun tidak benar-benar lenyap. Tetralogi novel berikutnya terbit berturut-turut pada dasawarsa yang sama: Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988), semuanya beredar di bawah tanah dalam bentuk stensilan atau fotokopi. Memiliki dan membacanya ialah perbuatan terlarang dan dianggap subversif. Sejumlah aktivis mahasiswa yang kedapatan membawa, membaca, dan mengedarkan buku-buku tersebut harus mendekam di penjara, seperti yang dialami Bonar Tigor Naipospos, Bambang Subono, dan Bambang Isti Nugroho dari Kelompok Studi Sosial Palagan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Di luar penilaian tentang ajaran komunis yang tersirat dalam Bumi Manusia seperti yang dituduhkan banyak pihak, novel ini sebenarnya mengangkat kisah seorang pribumi bernama Minke — yang belakangan diketahui sebagai penggambaran atas sosok Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) tokoh pers nasional — yang berani memberontak terhadap penindasan penjajah atas bangsanya. Mengambil setting pada akhir abad ke-19, novel ini mengajak pembacanya masuk ke lorong waktu masa silam. Bumi Manusia memang novel sejarah. Dan, seperti dikatakan George Lukacs, novel sejarah yang baik ialah yang membawa masa lampau kepada kita dan membuat kita mengalami sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada masa silam itu.10)

Novel diawali oleh kisah cinta antara Minke (lelaki pribumi) dengan Annelies (perempuan keturunan Indo-Belanda). Minke yang belajar di sekolah Belanda H.B.S Surabaya mengenal Annelies secara kebetulan ketika seorang teman sekelasnya membawa dia berkunjung ke rumah perempuan itu. Di rumah itu Minke juga berkenalan dengan ibunda Annelies, Sanikem atau nama Eropanya Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang dinikahi secara tidak sah oleh tuan Mellema (Belanda). Minke dan Annelies saling jatuh cinta, dan kemudian menikah secara Islam, tanpa kehadiran ayahnya (Mellema).

minke

Setelah kematian tuan Mellema, Nyai Ontosoroh diseret ke pengadilan dengan perkara hak asuhnya terhadap Annelies. Penggugatnya ialah keluarga istri sah tuan Mellema. Dalam pengadilan putih tersebut status perkawinan Minke dan Annelies juga dibicarakan, Dan hakim menyatakan tidak sah di mata hukum. Karuan saja Minke berontak.Ia merasa telah menikahi Annelies secara sah sesuai dengan hukum Islam. Maka ia menulis artikel di sebuah surat kabar bahwa mereka telah menghina dan menentang hukum Islam. Tulisan itu kemudian disebar ke seluruh kampung hingga dibaca oleh warga dan para pemuka agama.

Ketika Nyai Ontosoroh gagal mempertahankan hak asuh atas anaknya dan Minke gagal mempertahankan status pernikahannya dengan Annelies, maka pengadilan memutuskan perempuan itu harus dikirim ke Belanda.Masyarakat yang sudah dikondisikan oleh statemen-statemen Minke tentang pengadilan Belanda yang menghina hukum Islam, datang dengan amarah yang menggelegak Mereka mengepung rumah Nyai Ontosoroh untuk mencegah Belanda memasuki rumah itu.Namun mereka pun gagal mencegah Belanda mengambil Annelies.Annelies harus pergi meninggalkan Minke dan Nyai Ontosoroh.
“Kita kalah, Ma,” kata Minke pada mertuanya.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” jawab Nyai Ontosoroh.
Sebagaimana sering dikatakan Pram sendiri bahwa ia hanya menulis tentang nasionalisme. Tulisan-tulisannya ber-setting sejarah yang ia konstruksi sebagai pergulatan rakyat dan orang-orang kecil, bukan sejarah sebagai narasi besar yang melulu bercerita tentang orang-orang hebat, pahlawan; dan sejarah yang dikonstruksi secara politik untuk mendukung rezim tertentu.

Berbagai pujian kepada Pram bertebaran di media internasional menyusul terbitnya tetralogi Bumi Manusia dalam berbagai bahasa:

“Pramoedya Ananta Toer selain seorang pembangkang paling masyhur adalah juga Albert Camus-nya Indonesia. Kesamaan terdapat di segala tingkat, belum lagi kemampuannya mengkonfrontasikan berbagai masalah monumental dengan kenyataan kesehari-harian yang paling sederhana.” (The San Fransisco Chronicle)

“Pramoedya Ananta Toer adalah seorang master cemerlang dalam mengisahkan liku-liku emosi, watak dan aneka motivasi yang serba rumit.” (The New York Times)

“Penulis ini berada sejauh separoh dunia dari kita, namun seni-budaya dan rasa kemanusiaannya sedemikian anggunnya menyebabkan kita langsung merasa seakan sudah lama mengenalnya dan dia pun sudah mengenal kita sepanjang usia kita.” (USA Today)

“Pramoedya Ananta Toer, kandidat Asia paling utama untuk Hadiah Nobel.” (Time)

Demikian kutipan-kutipan yang dinukil dari cover belakang novel tersebut. Tetralogi Bumi Manusia telah mengantarkan Pram ke pentas internasional dimana dia disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra. Dan dia satu-satu orang yang pernah dicalonkan untuk mendapat hadiah bergengsi itu. Namun sampai akhir hayatnya Hadiah Nobel itu tidak pernah ia terima. Dan tak pernah ada orang yang tahu persis apa sebabnya.

Kehebohan lainnya ialah saat sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 ini diberi Anugerah Magsaysay di bidang jurnalisme, sastra, dan seni komunikasi kreatif oleh Yayasan Ramon Magsaysay di Filipina pada 19 Juli 1995. Beberapa kalangan memperingatkan Yayasan Ramon Magsaysay untuk tidak melupakan apa yang telah dilakukan Pram di tahun 1960-an yakni membungkam kreativitas sastrawan dan seniman Manifes Kebudayaan yang bersebrangan secara ideologis dengan Lekra dimana Pram berada.

Penolakan atas hadiah untuk Pram ditandatangani nama-nama besar: Taufiq Ismail, HB Jassin, Mochtar Lubis, Asrul Sani, Rendra, Danarto, Mochtar Pabottingi, Rachmat Djoko Pradopo, Abdul Rachman Saleh, Ikranagara, Wiratmo Soekito, Rosihan Anwar, Bokor Hutasuhut, DS Moeljanto, Leon Agusta, Misbach Jusa Biran, Amak Baljun, Chairul Umam, Slamet Sukrinanto, Syu’bah Asa, SM Ardan, dan beberapa nama lain. Dua di antara mereka, HB Jassin dan Mochtar Lubis, juga pernah mendapat penghargaan Magsaysay di zaman Orde Lama.

Mochtar Lubis yang pernah dituduh Pram sebagai kaki-tangan imperialis mengancam akan mengembalikan hadiah yang pernah diterimanya jika Yayasan Magsaysay memberi hadiah serupa kepada Pram. Dan ia benar-benar membuktikan ucapannya itu ketika Yayasan tetap memberi hadiah kepada Pram. Mochtar Lubis merasa tidak pantas duduk bersanding dengan Pram. Kedua pengarang ini berada dalam pandangan politik yang berseberangan. Mochtar terlibat dengan organisasi-organisasi blok barat dengan simpati Amerika, sementara Pramoedya mengembangkan sikap nasionalis radikal dan bergabung dengan Lekra.11)

Keberatan serupa ditulis oleh WS Rendra: “Di Indonesia, PKI dan Lekra mengganyang, menindas, meneror dan membantu pencekalan terhadap para penandatangan Manifes Kebudayaan dan para lawan politik mereka yang lain. Bahkan mereka melakukan pembakaran buku-buku yang dianggap anti revolusi. Dan selama itu terjadi, Pramoedya Anata Toer tidak berbuat apa-apa yang berarti membela para seniman dan cendekiawan yang tertindas, tercekal dan terbentur. Malahan ikut berpidato di auditorium Universitas Gadjah Mada dan menulis di surat kabar yang isinya mendukung aksi PKI dan Lekra itu. Waktu itu ia adalah anggota Lekra yang memimpin lembaga sastranya. Dan terhadap pembakaran buku yang terjadi ia juga tidak mengeluarkan suara protesnya. Inilah segi-segi ideologi dan praktek politik yang saya tentang dari Pramoedya Ananta Toer, seorang yang sebagai sastrawan tetap saya bela dan kegumi dari dulu sampai sekarang.”12)

Di tengah keriuhan kontroversi, muncul suara dari kalangan sastrawan/budayawan muda yang mendukung Pram menerima penghargaan Yayasan Magsaysay. Mereka menyampaikan statemen yang bertitel “Pernyataan Kaum Muda untuk Kebudayaan” yang ditandatangani antara lain oleh Ariel Heryanto, Arif Budiman, Acep Zamzam Noor, Isti Nugroho, Halim HD, Sitok Srengenge, Tommy F. Awuy, Wiji Thukul, Hilmar Farid, Mudji Sutrisno, dan beberapa nama lain. Salah satu poin pernyataan itu demikian: “Wacana kebudayaan Indonesia hingga kini belum beranjak dari pengobaran tema dan konflik lama yang bersemangat primordialistik. Masa depan membutuhkan kebudayaan yang demokratis, toleran, dan siap menerima yang lain. Oleh sebab itu, wacana pengembangan kebudayaan masa depan seyogyanya bersih dari konflik-konflik masa silam yang tidak relevan untuk masa kini.”

MAGSAYSAY

Bagaimana Pram menanggapi polemik itu?13) Tampaknya ia tidak mau ambil pusing. Ia tetap menerima penghargaan itu — yang diwakili oleh istrinya, Maimunah, karena ia sendiri dicekal ke luar negeri. Dan Yayasan Ramon Magsaysay menanggapai polemik itu dengan enteng. Dalam sebuah pernyataannya disebutkan: “Yayasan mengetahui Pramoedya sebagai anggota Lekra yang di tahun 1960-an menyerang pengarang-pengarang terkemuka. Dalam kondisi serang-menyerang itu memang ada pihak yang menderita. Tetapi, itu terjadi 30 tahun lalu, yang membuat kedua pihak menderita. Pramoedya sendiri dipenjara 14 tahun karena dituduh komunis, karyanya masih tidak diizinkan terbit di Indonesia, dan dia dilarang bepergian ke luar negeri.”

Perseteruan Pram dengan para sastawan Manifes Kebudayaan seperti menghidupkan kembali pertarungan ideologis di pentas seni pada masa Orde Lama. Pram dengan ideologinya yang didukung oleh partai yang paling dekat dengan kekuasaan tentu saja berada di atas angin. Namun musim berganti, kekuasaan roboh. Pram ditahan, dikucilkan, dan dirampas hak-haknya sebagai manusia. Ia menuliskan penderitaannya: “Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan. Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa… Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar. Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa saya tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa. Dalam buku saya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang terbit pada 1990 juga terdapat daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak pernah pula ada tindakan.”

Pernyataan itu diberi judul “Saya Bukan Nelson Mandela” yang ditulis Pram sebagai jawaban terhadap Goenawan Mohamad yang sebelumnya menulis “Surat Terbuka untuk Pramoedya Ananta Toer”. Keduanya dimuat dalam Tempo edisi April 2000. Walaupun bersikap “keras” terhadap Pram, Goenawan tetap mengagumi, bahkan sejak SMA, bahwa “Pram adalah seorang novelis dan penulis prosa yang memukau.” Sisi lain Pram baru diketahuinya ketika Pram memimpin lembar kebudayaan Lentera di harian pagi Bintang Timur dimana tulisan-tulisannya banyak menyerang dan menghantam siapa saja yang berbeda atau kontra-revolusi. “Adakah yang terasa pahit di sana adalah cerminan kegeraman eksistensial, atau suatu protes sosial: marah kepada hidup yang hanya kadang-kadang memberi momen yang ringkas untuk bahagia?” tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir di Majalah Tempo edisi Agustus 1995, yang berjudul PRAM.

Sungguh tak mudah memotret sastrawan yang wafat pada 30 April 2006 di usia 81 tahun itu. Ia tegak dalam kontroversi, puja-puji dan kutukan, serta sikapnya yang tidak peduli karena “sudah kehilangan kepercayaan” dan “sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia”. Tapi esai ini ingin diakhiri dengan pengakuan bahwa Pram ialah —mengutip kata-kata Ben Anderson dalam Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia — “pengarang Indonesia terbesar” dan yang “mengagetkan dunia sastra” (A. Teeuw), bahkan juga para pejabat, sampai-sampai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran yang melarang semua lembaga di bawahnya membaca dan memiliki novel Bumi Manusia.

Catatan:

1). Dipublikasikan di harian Bintang Timur pada 22 April 1960, dikutip dari DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, Prahara Budaya: Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk. (Jakarta: Mizan, 1995), hal. 67-71

2). Komunisme ialah marxisme sebagaimana ditafsirkan oleh Lenin (1870-1924). Lenin menambahkan ajaran tentang perebutan kekuasaan oleh Partai Komunis yang tidak ada dalam ajaran Karl Marx (1818-1883).

3). Tetralogi Bumi Manusia merupakan 4 novel terpisah dalam satu kesatuan cerita yang ditulis Pram di pulau Buru selama masa penahanan, yaitu, selain Bumi Manusia: Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).

4). Pamela Allen, Membaca dan Membaca Lagi, Reinterpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995, Terj. Bakdi Soemanto (Magelang: Indonesia Tera, 2004), hal. 32

5). Ady Asmara, Analisa Ringan Kemelut Roman Karya Pulau Buru Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer (Yogyakarta: CV Nur Cahaya, 1981).

6). Wawancara Wiratmo Sukito, dikutip dari Majalah TIRAS, 1 Juni 1995.

7). Dikutip dari Pamela Allen, Membaca, dan Membaca Lagi, hal. 57

8). Dikutip dari Ady Asmara, Analisa Ringan Kemelut Roman Karya Pulau Buru Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, hal. 38

9). Dikutip dari Ady Asmara, ibid., hal. 46-47

10). George Lukacs, The Historical Novel (London: Merlin Press, 1962), p. 53

11). David T. Hill, Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922 – 2004) sebagai Pemimpin Redaksi dan Pengarang, terjemahan Warief Djajanto Basorie dan Hanna Rambe (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011), hal. 229

12). WS Rendra, “Hadiah Magsaysay dan Pramoedya”, Kompas, 14 Agustus 1995

13). Dokumen mengenai kontroversi ini bisa dibaca dalam AS Laksana, ed., Polemik Hadiah Magsaysay (Jakarta: ISAI dan Jaringan Kerja Budaya, 1997).

Mengapa Orang Saleh Masuk Neraka? Tentang “Robohnya Surau Kami”

film aa navis

Rumah Produksi Rupa Kata Cinema tahun ini akan memproduksi film “Robohnya Surau Kami”, yang diangkat dari cerpen legendaris karya sastrawan Minang, AA Navis. Seberapa menarik karya cerpen tersebut? Berikut catatan iseng saya:

ROROHNYA SURAU KAMI

Mengapa cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis yang terbit tahun 1955 masih terus dibaca orang hingga sekarang? Sebenarnya bukan hanya dibaca tapi juga dikagumi dan dipuji sebagai salah satu karya sastra terbaik dalam genre cerpen di negeri ini. Banyak jawaban bisa diberikan. Salah satunya adalah, ia merupakan hasil eksplorasi estetik penulisnya terhadap latar budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Dengan begitu karya sastra memiliki akar pada kultur penulisnya (dalam hal ini kultur Minang).[1] Selain itu, cerpen ini juga menjadi fenomenal karena keberaniannya mengangkat tema yang secara kritis menyinggung kepicikan penganut agama.[2] Tema kritis semacam ini memang muncul juga kelak pada Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin. Namun kritisisme dan nilai estetika pada kedua cerpen ini tetap bisa dibedakan.

Robohnya Surau Kami membuktikan bahwa karya sastra yang baik tidak harus selalu dikaitkan dengan pengaruh sastra Barat. Di tengah derasnya pengaruh asing pada budaya baca-tulis di tanah air tahun 1950-an, cerpen justru semakin mengokohkan keberadaannya dengan mengangkat kultur etnis. Di masa sesudah perang, cerpen menempati kedudukan yang utama dalam kesusastraan Indonesia, ditandai dengan kenyataan bahwa hampir semua majalah membuka rubrik cerpen, dan banyaknya antologi cerpen yang terbit pada masa ini.[3] Tentu tidak semuanya merupakan karya sastra, atau harus dikaitkan dengan sastra. Namun, para sastrawan mulai menaruh perhatian pada cerpen lebih dari masa-masa sebelumnya yang melulu pada puisi dan novel/roman. Karya-karya sastra dalam genre cerpen pun bermunculan, dan Robohnya Surau Kami merupakan salah satu puncaknya.

Cerpen Robohnya Surau Kami kembali diterbitkan pada tahun 1986 bersama dengan 9 (sembilan) cerpen lainnya karya AA Navis.[4] Karena Robohnya Surau Kami dianggap sebagai masterpiece maka ia dijadikan judul buku. Sebagaimana judulnya, surau (mushalla di daerah Minang) menjadi latar utama dalam cerpen ini, dengan tokoh utama sang Kakek yang menjadi penjaga surau. Sang Kakek menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk beribadah dan mengabdikan diri di surau. Ia memiliki keluarga tapi lebih mementingkan Tuhan. Ibadah lebih penting daripada mencari nafkah. Sedangkan untuk kehidupan sehari-harinya ia memperoleh dari sedekah orang-orang kampung.

robohnya-surau-kami1

Sang kakek juga dikenal memiliki keahlian mengasah pisau. Dan untuk itu ia sering diminta bantuan oleh warga kampung. Ia tidak meminta bayaran untuk pekerjaan tersebut, tapi menerima pemberian apa saja sebagai pengganti jasanya. Suatu hari datang Ajo Sidi yang meminta tolong agar pisaunya diasahkan. Ajo Sidi ini dikenal sebagai orang yang pandai bercerita. Ia pun menuturkan cerita kepada Sang Kakek tentang Haji Saleh, seorang alim yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah. Namun, setelah meninggal dunia, Haji Saleh justru dimasukan ke dalam neraka bersama orang-orang saleh lainnya. Mereka pun lalu protes kepada Tuhan, mengira Tuhan khilaf atau salah mengambil keputusan.

Tuhan bertanya apa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka menjawab bahwa selama hidup di dunia waktunya dihabiskan untuk beribadah, bahkan sampai melupakan keluarga semata-mata demi menyembah Tuhan. Bahkan di antara mereka ada yang sudah naik haji berkali-kali, dan bergelar syeikh. Lalu Tuhan menjawab: “… kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Mereka tercengang mendengar jawaban itu. Lalu Haji Saleh bertanya kepada malaikat yang menggiring mereka, “Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”

Sang Kakek merasa tertekan oleh cerita Ajo Sidi tersebut. Ia merasa dirinyalah haji Saleh dalam cerita itu. Ia pun terus merenung dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Mendengar kakek penjaga surau meninggal dunia, warga kampung segera mengurus jenazahnya dan mengantarkannya ke pemakaman. Hanya Ajo Sidi yang tidak terlihat. Ternyata hari itu ia tetap pergi bekerja, dan sebelum berangkat ia hanya berpesan kepada istrinya agar membelikan kain kafan tujuh lapis untuk mengafani jenazah kakek penjaga surau.

Sepeninggal sang kakek, surau yang dulu teduh dan nyaman itu tidak terawat lagi. Anak-anak kerap bermain di tempat yang nyaris tak terlihat lagi seperti surau itu. Bahkan, bilik dan lantai kayu surau itu dijadikan sebagai persediaan kayu bakar bagi warga kampung.

Dari segi tema, cerpen ini memang bukan satu-satunya yang mengangkat isu agama dan menyelipkan kritik pedas terhadap fenomena kehidupan beragama dalam masyarakat saat itu. Sastrawan lain, seperti Ramadhan KH, menulis cerpen Antara Kepercayaan, yang mengeritik gejala intoleransi di antara umat Islam dan Kristen.[5] Bahkan WS Rendra juga menulis cerpen senada berjudul Mungkin Parmo Kemasukan Setan yang mengeritik disiplin ketat yang diterapkan dalam asrama yang dikelola pastor katolik. Parmo yang tinggal di asrama itu suatu saat berlibur di rumah orang tuanya melampiaskan keterkungkungannya dengan tindakan semua gue.[6]

robohnya-surau-kamiAAnavis

Selain Robohnya Surau Kami, buku karya AA Navis ini memuat 9 cerpen lain: Anak Kebanggaan, Angin dari Gunung, Dari Masa ke Masa, Datangnya dan Perginya, Menanti Kelahiran, Nasihat-Nasihat, Penolong, Topi Helm, dan Pada Pembotakan Terakhir. Semua cerpen itu ditulis dalam semangat yang sama sebagai kritik sosial. Karena itu di dalamnya penuh dengan sindiran-sindiran satir atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Membaca antologi Robohnya Surau Kami sekali lagi kita diingatkan bahwa karya sastra memang tidak bisa dipisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat tempat karya itu dilahirkan. Kreativitas bersastra adalah hasil penjelajahan atas realitas sosial di lingkungan penulisnya.

AA Navis atau nama panjangnya Ali Akbar Navis yang lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 17 November 1924, sangat piawai menggali ide-ide cerita dari lingkungan budaya yang sangat dikenalinya, sehingga karya yang dihasilkannya memiliki akar pada kultur penulisnya. Di situlah terletak kekuatan antologi Robohnya Surau Kami. Selain antologi ini, AA Navis juga menghasilkan karya-karya lain: Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963), Kemarau: Sebuah Novel (1967), Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi: sebuah novel (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975), Bertanya Kerbau Pada Pedati: Kumpulan Cerpen (2002), Gerhana: Novel (2004), dan lain-lain sekitar 65 karya sastra, 22 buku antologi bersama sastrawan dari dalam dan luar negeri, serta 106 karya ilmiah.

aanaviskaryadandunianya_21185

Pengamat sastra A. Teeuw menilai bahwa A.A. Navis sebenarnya bukan seorang pengarang besar, melainkan seorang pengarang yang menyuarakan suara Sumatera di tengah konsep Jawa (pengarang Jawa) sehingga ia layak disebut sebagai pengarang “Angkatan Terbaru”.[7] Maklum pada masa itu dominasi pengarang Sumatera mulai memudar bersamaan dengan munculnya para pengarang baru yang berasal dari Jawa atau Sunda.[8] Penilaian A. Teeuw benar, tapi harus diberi catatan bahwa, khususnya Robohnya Surau Kami, memang berlatar budaya etnik Sumatera (dhi Minang), namun suara yang terdengar keras adalah persoalan praktek keagamaan (Islam) dan lingkungan alam Indonesia. Perhatikan ucapan ini: “Aku beri kau negeri Indonesia yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh….”

Pada umumnya orang hanya tahu bahwa Robohnya Surau Kami meraih hadiah lomba cerpen dari majalah Kisah pada tahun 1955. Jarang yang tahu bahwa hadiah tersebut adalah hadiah kedua, sedangkan pemenang hadiah pertama ialah cerpen Kejantanan di Sumbing karya Subagio Sastrowardoyo.[9] Yang menarik, sebagaimana dikemukakan oleh sastrawan Abrar Yusra, Robohnya Surau Kami justru lebih terkenal daripada cerpen Kejantanan di Sumbing yang mendapat hadiah pertama.[10]

Catatan
1. Damhuri Muhammad, Darah-Daging Sastra Indonesia (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), hal. 5

2. Maman S. Mahayana, Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia (Magelang: Indonesia Tera, 2001), hal. 102

3. Maman S. Mahayana, ibid., hal. 103

4. AA Navis, Robohnya Surau Kami (Jakarta: Gramedia, 1986).

5. Dimuat di Majalah Prosa, 1955, diterbitkan kembali dalam Satyagraha Hoerip, ed., Ceritera Pendek Indonesia, I (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Dep. P dan K, 1979), hal. 234-45

6. Maman S. Mahayana, ibid., hal.102

7. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/753/A.A.Navis

8. Maman S Mahayan, Akar Melayu, op.cit., hal. 100

9. Korrie Layun Rampan, Leksikon Susastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), hal. 3 dan 447

10. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/753/A.A.Navis

==================================

N O V E L

“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”

Kisah pertempuran abadi dua kekuatan yang diwakili oleh dua karakter perempuan muda, baca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/18126


INFO PELATIHAN MENULIS ONLINE

Menulis itu menyenangkan. Banyak orang menemukan kembali gairah hidupnya setelah diperkenalkan dengan dunia tulis-menulis, sebab di dalam aktivitas itu ada energi gerak yang memutar baling-baling kehidupan menuju dunia tanpa batas: dunia imajinasi. Jika anda muak dengan realitas di sekeliling anda, ciptakanlah realitas lain yang menyenangkan di dunia imajinasi. Semakin banyak orang yang dapat anda bawa masuk ke dunia imajinasi anda, semakin besar kemungkinan imajinasi itu menjadi kenyataan. Menulis itu menyenangkan. Ratusan orang telah membuktikannya dalam berbagai pelatihan menulis yang saya pandu. Ayo ikut kelas online menulis kreatif:

Flyer RMD

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

HUJAN BULAN JUNI

Hujan Bulan Juni3

Bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika hujan rindu ingin bercumbu dengan bunga-bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu…

“Hujan Bulan Juni” memperlihatkan kekuatan Sapardi sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan….

— Catatan Ahmad Gaus

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi di atas berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono — biasa disingkat SDD — yang ditulis pada 1989 dan dimuat dalam antologi (kumpulan karangan) dengan judul yang sama. Hujan Bulan Juni merupakan puisi yang sangat terkenal dan dideretkan dalam jajaran puisi cinta romantis bersama dengan puisi Aku Ingin yang juga dimuat dalam antologi ini.1) Esai ini tidak secara khusus membahas Hujan Bulan Juni sebagai sebuah puisi melainkan sebagai antologi yang di dalamnya terdapat 96 puisi karya SDD, yang bulan ini (Juni 2013) kembali diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia.

Pertamakali Hujan Bulan Juni diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia (Grasindo) pada tahun 1994. Kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit Editum pada tahun 2009 tanpa perubahan yang berarti. Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni ditulis antara tahun 1964-1994. Sebagian besar puisi di dalamnya pernah terbit dalam antologi Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Proses penyeleksian puisi yang pernah terbit dalam antologi yang berbeda-beda untuk diterbitkan kembali dalam buku Hujan Bulan Juni menunjukkan bahwa buku ini memang dianggap (paling) penting oleh penulisnya.

Hujan Juni

SDD memilih sendiri sajak-sajaknya untuk buku ini dari sekian ratus sajak yang pernah dihasilkannya selama 30 tahun (1964 – 1994). Mengenai ini ia menulis bahwa ada “sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku.”2) SDD memang tidak menjelaskan apa sesuatu yang mengikat itu. Namun, akunya, sajak-sajak lain tidak dimasukkan dalam antologi ini karena suasananya — atau entah apanya — agak berbeda dengan buku ini.

Secara sepintas lalu judul buku Hujan Bulan Juni yang diambil dari salah satu judul puisinya menunjukkan bahwa suasana yang ingin dibangun dalam buku ini ialah suasana “hujan” dengan berbagai konotasi dan metafornya. Dari 96 puisi yang dimuat dalam Hujan Bulan Juni terdapat 9 judul puisi yang memakai kata “hujan”. Judul-judul tersebut adalah: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Hujan dalam Komposisi 1, Hujan dalam Komposisi 2, Hujan dalam Komposisi 3, Di Beranda Waktu Hujan, Kuhentikan Hujan, Hujan Bulan Juni, Hujan-Jalak-dan-Daun-Jambu, Percakapan Malam Hujan. Dan satu judul yang senada: Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang.

Kata “hujan” juga disebut dalam berbagai puisinya: Pada Suatu Pagi Hari, Dalam Doa II, Aku Ingin, Puisi Cat Air untuk Rizki, Sepasang Sepatu Tua, dan sebagainya. Kalau boleh menyebut puisi di luar antologi ini yang juga menggunakan kata hujan, simak saja misalnya “Di Sebuah Halte Bis” (Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana), “Lirik untuk Lagu Pop” (jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis), dan “Kepompong Itu” (…ketika kau menutup jendela waktu hari hujan).

Walaupun banyak kumpulan puisi yang bertemakan hujan, tapi jelas tidak ada yang “basah-kuyup” melebihi Hujan Bulan Juni. Belum lagi puisi tentang hujan yang tidak dimasukkan dalam antologi ini seperti “Tajam Hujanmu” dan “Kuterka Gerimis”, yang dimuat dalam antologi Perahu Kertas.

Playing-in-the-Rain2

Jika selama ini puisi-puisi tentang hujan selalu dikaitkan dengan kesendirian, kehampaan, kerinduan, dan kesepian, maka tidak terlalu keliru pandangan bahwa SDD ialah penyair sunyi yang melanjutkan tradisi Amir Hamzah dan Chairil Anwar, terutama pada puisi-puisi awalnya. Simak misalnya bait dalam puisi yang ditulis pada tahun 1967 berikut: Hujan turun sepanjang jalan/ Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan/ Kembali bernama sunyi..

Mengapa hujan begitu istimewa di mata penyair SDD, tentu ada rahasia yang ingin dia kemukakan melalui pelukisannya atas peristiwa alam tersebut. Berikut tiga contoh puisi berbeda tentang hujan, yang ditulis dalam rentang waktu berjauhan:

Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
— swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan,
telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
— menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

1982

Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang.”

1973

Hjan bln Juni

Hujan Turun Sepanjang Jalan

Hujan turun sepanjang jalan…
Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan…
Kembali bernama sunyi…
Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali…
Tak ada yang menolaknya…kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia…
Tatkala angin basah tak ada bermuat debu…
Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru…

1967

Tidak ada diksi yang istimewa dalam ketiga puisi di atas. Semua kata dipungut dari perbendaharaan sehari-hari yang ada di sekitar kita dan akrab: jalan, selokan, mantel, sepatu, pohon, pintu, jendela, debu, tiang listrik. Kata-kata sederhana itu juga dirangkai dalam larik dan bait yang sederhana, nyaris tidak ada dentuman yang tercipta oleh bangunan puisi tersebut. Ia hanya menceritakan suasana saat hujan turun. Cara berceritanya pun sangat sederhana, tidak meledak-ledak.

Namun di balik kesederhanaannya, puisi-puisi tersebut menjadikan benda-benda itu seakan hidup. Kita dapat membayangkan Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. SDD sangat piawai menghidupkan suasana melalui kata-kata yang sederhana. Bait-bait yang tersusun dari kata-katanya menjadi sangat indah manakala kita hanyut terbawa oleh suasana yang ia hidupkan melalui proses imagery atau penggambaran. Sang penyair pada dasarnya memang seperti pelukis yang menggambarkan sesuatu dengan kata-kata sehingga apa yang dia lihat dan rasakan juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca.3) Di dalam suasana yang sudah dihidupkan oleh penyairnya melalui kata-kata (pada contoh tiga puisi di atas), kita tidak lagi bertemu dengan hujan sebagai benda mati, melainkan makhluk hidup entah malaikat atau manusia, bahkan seseorang yang misterius namun humoris seperti pada puisi “Percakapan Malam Hujan”.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni yang menjadi judul antologi ini, goresan tangan SDD pada kanvas puisinya bahkan terasa lebih lembut. Kesederhanaan kata tetap dijaga. Bangunan puisi tegak dengan tiang pancang bait-bait yang transparan. Pengungkapannya halus, alur pikirnya jernih. Puisi ini sering diartikan sebagai ketabahan dari seseorang yang sedang menanti. Sebab, bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika ia (hujan) ingin bertemu dengan pohon bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu.

Di sini SDD tidak lagi bicara tentang sunyi yang gelisah. Ia bahkan tidak menonjolkan si aku-lirik. Kalaupun ada, si aku-lirik hanya menceritakan perilaku hujan yang merahasiakan rindu, menghapus jejak, dan membiarkan isi hatinya. Hujan dipersonifikasi sebagai makhluk yang berjiwa dengan sifat dan perilaku tertentu. Ini juga tampak pada ketiga puisi di atas.

Dengan menerbitkan kembali puisi-puisinya dalam Hujan Bulan Juni yang merefleksikan aneka pengalaman batin dan perjalanan hidup yang terus bergerak, SDD tampaknya ingin jatidiri kepenyairannya dilihat kembali, tidak melulu diletakkan di ruang sunyi. Sebab, sebagaimana diakuinya dalam kata pengantar buku ini, ia tidak tahu apakah selama 30 tahun itu ada perubahan stilistik dan tematik dalam puisinya. Seorang penyair, ujarnya, belajar dari banyak pihak: keluarga, penyair lain, kritikus, teman, pembaca, tetangga, masyarakat luas, koran, televisi, dan sebagainya.

Esai ini berpandangan bahwa SDD tidak hendak menancapkan tonggak kepenyairannya di ruang estetika sunyi yang telah terbangun dengan megahnya sejak masa kejayaan Amir Hamzah. Kita tahu bahwa puisi-puisi awal SDD, kendatipun dipandang sebagai pembebasan dan penemuan baru,4) tetap saja diletakkan di dalam mainstream puisi tentang kesunyian. Salah satu puisinya, Solitude (1965), yang menyuarakan “jagat sunyi” bahkan disebut sebagai visi estetika kepenyairannya, dimana puisi-puisi sebelum dan sesudah itu hanyalah… “dinamika visi estetik dalam keseluruhan kepenyairan SDD.”5) Senada dengan itu, penyair Goenawan Mohamad menyebut antologi puisi SDD yang pertama, Duka-Mu Abadi, sebagai Nyanyi Sunyi kedua (setelah Nyanyi Sunyi yang pertama diciptakan oleh Amir Hamzah).6)

Jika kesunyian dipandang sebagai tema utama dalam puisi-puisi Sapardi, lantas di mana letak kepeloporannya dalam jagat perpuisian tanah air? Bukankah tema itu telah sangat mapan di tangan para penyair besar sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, dan puncaknya pada Sutardji Calzoum Bachri? Jika kita memotret SDD dari Duka-Mu Abadi memang akan terbentang hamparan kesunyian yang—boleh jadi—merupakan kelanjutan dari “tradisi” perpuisian sebelumnya, kendatipun ia membunyikan kesunyian itu dengan cara yang berbeda. Namun saya berpandangan bahwa Hujan Bulan Juni-lah yang merupakan tonggak kepenyairan SDD. Antologi ini memperlihatkan kekuatan SDD sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan.

Hujan Bulan Juni2

Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni lebih dari sekadar membunyikan kesunyian melalui ungkapan perasaan yang melimpah, melainkan juga menghadirkan kesadaran intelektual penyairnya. Sejumlah puisinya tentang kematian, misalnya, memang menghadirkan kesunyian yang mencekam, namun jika dicermati lagi sebenarnya merupakan renungan filosofis yang mendalam, seperti pada puisi Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, Saat Sebelum Berangkat, Iring-iringan di Bawah Matahari, Dalam Kereta Bawah Tanah Chicago, Ajaran Hidup, dan lain-lain. Begitu juga puisi-puisinya Tiga Lembar Kartu Pos, Pada Suatu Hari Nanti, Dalam Diriku, Tuan, Yang Fana Adalah Waktu, dan lain-lain, yang bertemakan hidup, waktu, dan Tuhan — semuanya merupakan lukisan kesunyian yang, lagi-lagi, merefleksikan perenungan intelektual yang dalam.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni SDD mempertentangkan dua realitas, membuat paradoks (hujan yang turun di musim kemarau), yang memungkinkan keniscayaan, sebagai gambaran dari pribadinya yang senantiasa terlibat dan optimistis. Paradoks atau pertentangan itulah yang menjadi kekuatan khas SDD sebagai seorang penyair. Hal itu juga tercermin dari pemakaian kata-kata yang sederhana namun menyimpan makna yang dalam.7).

Seraya menutup uraian ini mari kita simak tiga puisi dari antologi Hujan Bulan Juni yang menjelaskan paradoks yang dimaksud.

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga penuh darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya.

1980

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

1978

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.

1980

Catatan:

1). Puisi Aku Ingin hanya terdiri dari dua bait: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Salah satu indikasi kepopularan dua puisi tersebut ialah telah dibuat musikalisasi puisi oleh Ags. Arya Dipayana (Aku Ingin), dan H. Umar Muslim (Hujan Bulan Juni). Puisi Hujan Bulan Juni juga telah dikomikkan oleh Mansjur Daman, komikus silat pencipta serial Mandala. Sementara itu puisi Aku Ingin sering dicetak dalam surat-surat undangan pernikahan.

2). Kata Pengantar Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni (Jakarta: Grasindo, 1994).

3). A.F. Scott, Curren Literary Term: A Concise Dictionary (London: The Macmilland Press, 1980), p. 139). Lebih jauh mengenai penggambaran (imagery) atau gambar (image) dalam puisi lihat juga, Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994) dan Suminto A. Sayuti, Puisi dan Pengajarannya (Yogyakarta: Yasbut FKSS IKIP Muhammadiyah, 1985).

4). Pengakuan ini disampaikan oleh Goenawan Mohamad. Dikutip dari Hasan Aspahani, “Kenapa Mesti Ada Sore Hari? Kajian Ringkas Duka-Mu Abadi Hingga Kolam”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., Membaca Sapardi (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hal. 253

5). Suminto A. Sayuti, “Puisi Sapardi: Sebuah Jagat Sunyi”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 57

6). Dikutip dari Suminto A. Sayuti, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 61

7). Maman S. Mahayana, “Paradoks”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 161

_________________________________

SDD

Foto 1: Bersama Sapardi Djoko Damono di Selangor, Malaysia

———————————-

Saat bertemu di Selangor, Malaysia, saya tunjukkan salah satu puisi saya di dalam buku Senja di Jakarta yang  berjudul Kursi Ruang Tungga, sebagai “tanggapan” terhadap puisi beliau Hujan Bulan Juni, dan beliau membacanya terkekeh-kekeh..

Kursi SDD

Podcast untuk puisi ini ada di sini –>  Kursi Ruang Tunggu

Follow my instragram @gauspoem and let me know by DM if you want me to follow you back