Umat Islam pun Merayakan Natal

TASYAKURAN NATAL LINTAS AGAMA

Akhirnya, pecah juga telur itu. Jika selama ini terdapat pandangan umum bahwa umat Islam tidak boleh merayakan Natal, dan dalam kenyataannya memang belum pernah terjadi. Maka pada Senin 26 Desember 2022 lalu, pandangan itu GUGUR.

Ya, pada hari itu, para sahabat Caknurian mengadakan Tasyakuran Natal Lintas Agama di kediaman Ibu Omi Komaria Madjid (istri alm. Nurcholish Madjid atau Cak Nur).

Selaku Ketua Panitia, saya mengundang berbagai kalangan untuk hadir di acara ini. Bukan hanya teman-teman Katolik dan Protestan tapi juga Hindu, Konghucu, Bahai, Penghayat, dll. Saat sambutan, saya membuka acara dengan menyanyikan beberapa lagu rohani seperti Mari Berhimpun, Dari Pulau dan Benua (In Excelsis Deo). Teman-teman Kristiani langsung menyambut dengan menyanyikan bersama lagu-lagu itu. Tapi, yang saya takjub, kawan-kawan Muslim juga ikut menyanyikan lagu itu dan hapal pula liriknya.

Bagi saya ini adalah satu petunjuk bahwa jauh di lubuk hati kita, walaupun kita beda agama, sesungguhnya kita mudah tersentuh dengan hal-hal yang bersifat keruhanian. Agama kita berbeda, tapi kita bersama dalam dimensi spiritual, yakni bahwa Tuhan kita satu dan sama. Agama-agama hanya jalan, Tuhanlah yang menjadi tujuannya. Saya ingat kata-kata Cak Nur bahwa, agama-agama adalah satu, tapi namanya berbeda-beda, sebab semua agama berasal dari Tuhan yang Esa.

Berikut adalah kesaksian Pdt Rainy Hutabarat mengenai acara tsb, dan kebetulan beliau juga yang menyampaikan tausiyah hikmah Natal di hadapan kami, sekitar 70-an orang dari berbagai agama dan kepercayaan.

Rainy Hutabarat:
Pernahkah anda mendengar lagu Natal “Dari Pulau dan Benua” dilantunkan oleh seorang muslim, bahkan habib? Atau lagu “Hai Mari Berhimpun?” Atau “Malam Kudus?” Saya pernah, persis 26 Desember kemarin. Inilah pertama kalinya saya mendengar teman-teman muslim menyanyikan lagu Natal. Dengan suara yang elok dan fasih mengucapkan syair-syair lagu.
Bagi saya, inilah “jalan lain” perayaan dan silaturahmi Natal. Jalan-jalan iman dari umat beragam agama yang bersama-sama merayakan Allahnya. Sebuah komunitas ladang iman.
Berawal dari ajakan seorang sahabat untuk perayaan dan silaturahmi Natal di rumah Ibu Omi, istri dari Cak Nur almarhum. Karena saya mengenal Cak Nur walau umumnya lewat tulisan-tulisannya di Kompas, saya langsung bisa menebak ke mana jiwa dari acaranya. Tapi sungguh saya tak menduga ditembak menyampaikan renungan singkat berhubung si pengajak harus sertijab.
Dasar anak dari keluarga L4B Menteng, maka renungan tak jauh-jauh dari tugas sehari-hari. Tema Natal PGI mengenai Jalan Lain dari teks Injil Matius tentang Orang Majus menjadi dasar refleksi. Jalan lain yang dibaca dari kacamata rohani memiliki kerentanan pada konteks tertentu, misalnya, pengungsi (refugees) dan perempuan korban kekerasan seksual. Tantangannya: bagaimana membaca “jalan lain” bagi para pengungsi? Bagi perempuan korban kekerasan?
Jalan lain butuh rambu-rambu HAM agar pembacaan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan universal khususnya berpihak pada kelompok rentan dan korban kekerasan.
Renungan singkat dari saya disusul dengan refleksi dari Martin L Sinaga , puisi Rumi.dibacakan Rani Anggraini Dewi, Achmad Nurcholis, Lukman Hakim Saifudin, Komarudin Hidayat, celutukan Gaus Ahmad dan rekan lainnya secara spontan. Bak panel dalam seminar yang memercikkan inspirasi, menantang wawasan dan keberanian mempertanyakan yang dipandang baku.
Sebuah tarian Sufi dari Rumi-Turki, Whirling Dervish (lihat video) merupakan wujud refleksi yang lain. Bagi saya tarian itu ibarat mantra yang dilantunkan berulang dalam meditasi, dengan dupa harum daya batin dan ekstase.
Sebuah perayaan dan silaturahmi Natal yang menunjuk kepada jalan lain merayakan kehadiran Allah.
Keterangan lengkap mengenai acara ini lihat twitter saya:

Kidung Natal

Selamat Natal untuk Langit dan Bumi, dan seluruh penghuninya…

 

Sumber FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159606722922599&set=a.375767877598

Agama dan Musik

 

Mungkin gambar 1 orang dan teks

Sahabat saya, Mohammad Shofan, hari ini berulang tahun. Saya mau memberi kado spesial berupa puisi. Tapi saya mau cerita dulu mengenai manusia unik ini.

Saya teringat pertama kali bertemu Shofan tahun 2007 di kantor Mas Dawam (alm. Prof Dawam Rahardjo), di Empang Tiga, Ps Minggu. Waktu itu Shofan baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai dosen di sebuah universitas Islam di Jawa Timur. Itu gara-gara Shofan menulis artikel di media massa tentang bolehnya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal.

Otoritas kampus tidak bisa menerima pandangan semacam itu. Mengucapkan selamat Natal itu haram. Titik. Akibatnya, Shofan kehilangan pekerjaan, sedangkan dia harus menafkahi keluarganya. Berita itu tersebar luas, dan artikelnya sendiri menjadi kontroversi. Bahkan menjadi topik bahasan oleh intelektual muda Muhammadiyah, Pradana Boy dalam tesis yang berjudul “In Defence of Pure Islam: The Conservative-Progressive Debate Within Muhammadiyah.”

Mendengar berita pemecatan itu, seorang aktivis dialog antariman, Dr. Budhy Munawar Rachman , membawa Shofan ke Jakarta bertemu Mas Dawam, seorang pembela kebebasan beragama yang sangat militan. Budhy dan Mas Dawam mencarikan pekerjaan baru untuk Shofan di Jakarta. Bukan hanya itu, Mas Dawam juga menulis sebuah artikel panjang sebagai pembelaan terhadap Shofan dengan judul: Membaca Shofan, Membaca Masa Depan Muhammadiyah.

Di bawah asuhan Mas Dawam, Shofan semakin percaya diri mengembangkan pandangan-pandangannya seputar pluralisme dan kebebasan beragama yang dipublikasikan di media massa seperti Kompas, Tempo, Jakarta Post, dll. Salah satu bukunya Pluralisme Menyelamatkan Agama-Agama, termasuk karya yang dianggap sesat oleh banyak kalangan. Dia pun dicekal di banyak forum. Tapi dia santai saja. Dia belajar dari orang-orang yang dianggap sebagai gurunya seperti Buya Syafii, Gus Dur, Cak Nur, dan Dawam sendiri. Mereka ini sudah kenyang dengan tuduhan-tuduhan semacam itu. Tapi rileks saja.

Saat ini Shofan menjabat sebagai direktur program Maarif Institute, sebuah lembaga prestisius di lingkungan Muhammadiyah, yang didirikan oleh alm Buya Syafii Maarif.
Kegiatannya akhir-akhir ini antara lain membuat podcast mengenai isu-isu kontemporer dengan narasumber tokoh-tokoh pluralis-humanis seperti Najib Burhani , Ulil Abshar Abdalla , Mediaa Zainul Bahri , Martin L Sinaga , Luthfi Idetopia Albertus Patty , Siti Ruhaini, dan lain-lain termasuk saya sendiri. Shofan kini juga kandidat doktor bidang pemikiran Islam di UIN Jakarta. Semoga cepat selesai.

Itu satu cerita. Cerita lainnya soal musik. Saya baru tahu belakangan bahwa Shofan adalah penggemar fanatik Rhoma Irama. Bahkan ia juga yang menulis biografi Rhoma Irama. Dia sering diomeli bang Rhoma karena dianggap liberal. Tapi mereka berteman baik.

Suatu hari kami berada di Ambon untuk pertemuan lintas agama. Pada sore hari di sela-sela acara kami dibawa oleh Dr. Abidin Wakano ke Kafe Hatukau di pinggir pantai. Sambil menunggu matahari terbenam di teluk Ambon, kami menikmati kopi dan pisang keju. Malam harinya ada live music yang saat itu hanya menyajikan lagu-lagu dangdut. Tiba-tiba saja Shofan naik ke panggung dan membawakan lagu Rhoma Irama, saya lupa judulnya. Para pengunjung berdecak kagum karena suara dan gayanya benar-benar mirip Rhoma Irama. Tepuk tangan pun bergemuruh.

Tidak mau kalah, Dr. Abidin Wakano naik ke pentas juga menyanyikan lagu, kalau tidak salah judulnya Hilang Tak Berkesan, dari Mashabi. Tapi suaranya lebih mirip suara Broery Marantika. Teman saya yang lain, Irfan Abubakar tidak bisa menyanyi dangdut, padahal dia pengagum berat Nita Talia dan Lilis Karlina. Tapi karena dipaksa akhirnya dia menyanyi juga, membawakan lagu Judika.

Saya sendiri waktu diminta tampil untuk menyanyi lagu dangdut sempat ragu, maklum saya hanya terbiasa dengan lagu-lagu Metallica, Scorpions, Nirvana, dan Nining Meida. Tapi karena dipaksa akhirnya saya nyanyi juga membawakan lagu Tanamor dari Muchsin Alatas. Irfan terkejut melihat saya bisa menyanyi, apalagi saya hapal lagu itu. Teman- teman yang lain seperti Kee Enal dan Muchtadlirin seingat saya hanya jadi penonton 😁😁

Kembali ke Shofan. Saya bilang kepada dia bahwa sebelum diislamkan oleh Rhoma Irama, musik dangdut dinikmati oleh semua orang. Setelah diberi label, ia menjadi terbatas. Bagaimana penjelasanmu? Tanya saya. Sampai sekarang Shofan belum menjawab pertanyaan saya itu. 😁

Selamat ulang tahun, Shofan.

Ciputat, 23 November 2022
Ahmad Gaus

Sumber FB saya:

 

Puisi Para Pengembara

PARA PENGEMBARA
Untuk Abdul Rachman
Jalan berbelok di tepi hutan itu
Tidak ada yang memiliki
Orang-orang yang pernah melewatinya
Juga tidak kembali
Mungkin mereka telah sampai di tujuan
Atau mencari jalan lain
Atau membuka jalan baru supaya dapat dilalui oleh orang lain
Tidak ada yang tahu
Selama mereka tidak membuat kerusakan di muka bumi
Alam akan menemani
Sebab ia menyukai para pengembara yang berani
Menyeberangi samudra birunya
Menembus hutan-hutannya
Menegakkan kaki-kaki langitnya
Alam akan memberi mereka, para pengembara itu, cahaya matahari.
Ciputat, 1 November 2022
Ahmad Gaus
Selamat ulang tahun sahabat Abdul Rachman
Semoga konsisten di jalan yang telah dipilihkan oleh Tuhan. 😁
FOTO:
Minggu lalu Rachman dan keluarga Komunitas Eden berkunjung ke rumah kami, melepas kangen karena sudah 20-an tahun tidak bertemu. Kebetulah di rumah saya lagi ada Yusep Prihanto , teman Rachman juga. Senang lihat si kembar putri Rachman sudah besar.
Rachman beberapa kali masuk penjara karena tuduhan penistaan agama Islam. Tapi ia dan komunitas Eden tidak pernah surut, terus berpegang pada keyakinan mereka,Β  dan menyebarkan ajaran mereka tentang perdamaian agama-agama melalui internet dan berbagai paltform media sosial. Kenapa mereka dimusuhi.? Di mana salahnya mengajak orang pada perdamaian?
Saya sendiri senang sekali bisa berdialog dengan Rachman dan Komunitas Eden karena dapat menambah wawasan tentang keimanan sendiri dan orang lain.
Dari Facebook saya:

MAKNA PERSAHABATAN

Perayaan ulang tahun Prof Komaruddin Hidayat, Rektor UIII, di kediamannya di Ciputat, Tangsel, 23 Oktober 2022. Dan seperti biasa, saya kebagian tugas menulis dan membaca puisi πŸ™‚

Kali ini saya membaca puisi berduet dengan Ibu dr. CSP Wekadigunawan, PhD.

 

MAKNA PERSAHABATAN
Di tengah gurun sahara kehidupan yang gersang
Persahabatan ialah oase yang menyejukkan
Di tengah karut marut suasana kota yang semakin individualistik
Persahabatan menjadi taman yang indah
Tempat berkumpulnya aneka bunga, kumbang, dan kupu-kupu
Mereka tidak pernah berebut cahaya matahari
Bila angin bertiup lembut di sore hari
Mereka menari bersama, menanti senja yang teduh
Menikmati orkestra keindahan di kaki langit
Persahabatan memberi kita rasa aman dari perasaan terkucil dan tersisihkan
Membawa kita pada martabat kemanusiaan yang luhur
Sebab di dalamnya ada empati, kepedulian, kepercayaan
Bersahabat tidak harus bersepakat
Tidak pula harus seiring sejalan dalam suasana yang memabukkan
Tidak !
Sebab persahabatan tidak membatasi kebebasan
Setiap orang berhak hidup dalam lingkaran persahabatan tanpa dipersoalkan asal-usulnya, pekerjaannya, jabatannya, suku bangsanya, keyakinannya, dan pilihan politiknya
Di dalam persahabatan setiap orang bebas berekspresi
Bebas menjadi diri sendiri, sebrengsek apapun dia
Tanpa rasa takut dijauhi, atau ditinggalkan
Seorang sahabat akan berkata
“Kamu benar-benar brengsek, tapi tidak apa-apa. Aku tetap menyayangimu.”
Sebelum digerogoti oleh rayap-rayap kebencian, persahabatan tumbuh secara alamiah
Menghubungkan unit-unit kehidupan di alam semesta
Seperti hubungan antara hujan dan pepohonan, bunga dan kupu-kupu, angin dan burung layang-layang
Semua nampak tentram dan harmonis
Tapi ketika badai datang, burung layang-layang terhempas, bunga dan kupu-kupu terhempas
Hujan yang biasanya lembut dan romantis tiba-tiba mengamuk, menghancurkan tanaman
Seperti itu pula kebencian
Ia memiliki daya rusak yang hebat di dalam masyarakat kita
Keluarga, sahabat, handai tolan, tercerai berai akibat badai kebencian yang bertiup dengan kencang
Badai kebencian itu bisa ditiupkan oleh siapa saja yang tengah dirasuki oleh nafsu kekuasaan, nafsu ekonomi, dan nafsu religius
Para peniup terompet kebencian dapat berujud orang saleh ataupun pendosa, politisi ataupun ulama dan pendeta, pejabat ataupun rakyat jelata
Mereka menebarkan kebencian, karena hanya dalam suasana kebencian mereka dapat menarik keuntungan dalam bentuk uang, kekuasaan politik, atau kepuasan religius
Dalam masyarakat yang dirasuki oleh kebencian, setiap orang dipandang rendah dan dihina
Presiden dihina
Menteri dihina
Ulama dihina
Cendekiawan dihina
Guru dihina
Setiap orang kehilangan martabat dan harga diri
Karena satu sama lain saling menghina dan dihina
Akibatnya, kita kehilangan teladan
Tidak ada lagi sosok panutan
Dan masyarakat yang kehilangan teladan dan panutan adalah masyarakat yang sakit
Apa yang dapat kita lakukan ialah melebarkan lingkaran persahabatan
Untuk membentengi masyarakat dari para penebar kebencian
Sebelum masyarakat kita benar-benar rusak
Dan kita kehilangan masa depan yang lebih baik untuk anak-cucu kita
Maka biarkan teman-teman kita berbeda dengan kita: karakternya, pilihan hidupnya, hobi dan cita-citanya
Sepanjang mereka tidak berlaku jahat dan mencelakakan
Mereka tetap sahabat kita
Dalam suka, dalam duka, kita akan tetap bersama dan saling menyayangi
Itulah makna persahabatan
“In good times and bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That’s what friends are for
For good times and bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for”
– Dionne Warwick, That’s What Friends are For –
Ciputat, 23 Oktober 2022

 

Sakit Itu Indah

Menjenguk Budhy Munawar-Rachman

 

Bersama kawan-kawan dari berbagai kampus dan LSM menjenguk Dr. Budhy Munawar-Rachman, dosen filsafat STF Driyarkara, Jakarta, dan pegiat dialog antariman. Budhy terjatuh di satu ruas jalan di Kupang pekan lalu. Ia mengalami patah tulang belakang, dan sudah menjalani operasi, Saat ini sudah ada di rumah, di kawasan Bintaro, Tangsel.

Untuk menghibur Budhy, saya menulis puisi dan dibacakan oleh Ibu dokter CSP Wekadigunawan, PhD.

Berikut puisinya:

SAKIT ITU INDAH
Setiap kita pasti pernah menderita sakit
Dan itu adalah tanda yang paling jelas bahwa kita masih hidup
Sebab hanya orang mati yang tidak merasakan sakit
Orang sehat, sekali waktu, perlu sakit
Dan berusaha untuk sembuh
Saat kembali sehat, ia seperti kendaraan yang baru keluar dari bengkel sehabis tune up
Ia terasa ringan karena onderdil yang rusak telah diganti atau diperbarui
Kondisi kendaraan itu seperti baru
Manusia pun seperti itu
Kalau tidak pernah sakit, organ-organ dalam tubuh tidak pernah diperbarui
Sekali rusak, fatal sekali akibatnya
Maka sakit itu indah
Ia adalah anugrah alam yang menandai kehidupan yang terus bergerak, berputar, dan memperbarui dirinya
Ia adalah cara alam menjaga keseimbangan
Jangan pernah berpikir untuk menghabisi penyakit sampai ke akar-akarnya
Seperti yang dilakukan oleh dunia medis modern
Sebab kalau engkau melakukan itu, alam akan mempertahankan dirinya dengan cara menciptakan penyakit baru entah bernama kanker, covid, atau apapun penyakit yang tidak pernah ada sebelumnya.
Kalau tidak begitu, dunia akan kiamat
Saat kita terbaring sakit, adalah momen petualangan untuk mencari diri sendiri yang hilang saat kita sehat
Di dalam petualangan itu, kita akan menemukan pertumbuhan diri
Menjadi lebih bijak dan lebih rendah hati
Tumbuh di dalam penderitaan dan rasa sakit akan membuka cakrawala kesadaran yang tidak pernah kita duga
Akhirnya, mari kita renungkan kata-kata bijak dari Kura-kura Ninja: “Rasa sakit hanya ada dalam pikiran.”
Mungkin maksudnya, kita harus memiliki pikiran yang melampaui rasa sakit
Biarlah penyakit itu datang kalau memang sudah waktunya
Tapi pikiran kita jangan ikut sakit
Bintaro, 16 Oktober 2022
Ahmad Gaus

 

Mimpi Terindah

Tidak Ada Puisi Hari Ini

 

TIDAK ADA PUISI HARI INI

Tidak ada puisi hari ini
Hanya sebatang lilin redup
Yang kulukis dengan bingkai matahari
Dan aku ada di sana
Membangun rumah sederhana
Dari kerikil dan tangkai bunga

Sementara engkau menyuapi anak-anak
Dengan biji-biji bintang
Yang meleleh di angkasa

Tidak ada puisi hari ini, kekasihku
Biarkan daun dan bunga berbicara sendiri
Biarkan bulan menangis sendiri
Dan biarkan cinta menjadi matang
Dalam kesunyiannya yang abadi

Jakarta, 10 Agustus 2022
Ahmad Gaus

Terima kasih atas ucapan dan doa teman-teman FB di ultah saya hari ini, yang bersamaan waktunya dengan ultah pernikahan perak kami. Doa yang sama untuk anda semua.

Salam Bahagia

Sumber dari FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159296211467599&set=a.375767877598&notif_id=1660140924708921&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

 

 

Puisi Ulang Tahun untuk Nisa Alwis

Nisa Alwis adalah lilin di tengah kegelapan. Kok bisa? Ya ikuti saja facebook nya, insya Allah banyak pencerahan dari alumni Pesantren Darun Najah dan Monash University, Australia ini.

Sumber FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159245759567599&set=a.375767877598

Oh ya Nisa juga menulis buku berjudul PUBER, yang melawan habis-habisan gerakan jilbabisasi di Indonesia.

Puisi Ulang Tahun untuk Dr. Imam Suhardjo

“Jangan suka meremehkan orang tua, kalian belum tentu sampai di usia ini.” Kami pun terdiam, sambil cengar-cengir. Kata-kata Pak Imam itu sungguh tajam. Dan benar.
Saya, Pak Imam Suhardjo , dan beberapa teman lain, adalah anggota partai tangga — sebutan untuk orang-orang yang suka berkumpul di tangga lantai 8 kantor kami, gedung film, dalam rangka melestarikan khazanah tembakau nusantara. 😁
Saat itu kami tengah berbincang tentang lift kantor yang belakangan sering mati. Bahkan sudah banyak pegawai dan tamu terjebak di dalamnya. Lalu seorang teman bilang, mulai saat ini kita naik turun lantai 8 lewat tangga saja. Jangan.pakai lift. “Tapi bagaimana dengan Pak Imam, apa masih kuat?” Ujarnya. Maka tercetuslah kata-kata Pak Imam seperti di atas itu, yang membuat kami terdiam.
“Sebenarnya saya ini masih muda. Masih mahasiswa kok,” lanjut Pak Imam, sambil tertawa. Benar, saat itu Pak Imam tengah mengikuti program S3 ilmu komunikasi di UNPAD.
Dan tahun lalu, di usianya yang ke-73, ia berhasil meraih gelar doktor dengan disertasi mengenai komunikasi elit politik PPP. Sebelumnya ia pernah menjadi anggota DPR RI dari partai kabah tsb.
Kami saling mengenal karena pernah sama-sama bekerja di LSF, Lembaga Sensor Film (2016-2020) yang berkantor di Gedung Film, Jl. MT Haryono, Jaksel, dimana Pak Imam sebagai komisioner, dan saya tukang bersih-bersih.
Di mata saya Pak Imam adalah seorang pekerja yang tekun dan pembelajar yang setia, buktinya ia meraih gelar doktor di usianya yang tidak remaja lagi. Ia juga pribadi yang hangat, ramah, suka humor, dan senang tertawa.
Setiap kembali dari kampung halamannya di Jember, Jawa Timur, ia mesti memberi tahu para anggota partai tangga, “Aku bawa tembakau madura,” katanya. Maka di sela-sela Ishoma, kami berkumpul di tangga lantai 8. Ia kerap bercerita tentang keunggulan tembakau madura, kontras dengan nasib para petaninya yang sering terpuruk karena tidak diperhatikan oleh pemerintah.
Sejak 2020 saya dan Pak Imam sudah selesai bertugas di LSF.
Saya dengar atap lantai 8 gedung film ambruk. Dan teman-teman saya yang masih bertugas di sana mengungsi ke Gedung Kemendikbud di Senayan. Tapi kenangan di gedung film tetap membekas, karena di sana banyak cerita.
Selamat ulang tahun, Pak Imam. Semoga sehat selalu.
Sumber FB saya:
Late post in my website πŸ™‚

API ISLAM BUNG KARNO

Ini tentang Bung Karno — Sang Proklamator, dan sekaligus mata air pemikiran kebangsaan yang tak pernah kering. Menurut teman saya, Hasto Kristiyanto, Indonesia merdeka karena visi besar para pendiri bangsa. Tapi Indonesia menjadi bangsa besar karena imajinasi.
Itulah yang menonjol pada sosok Bung Karno, ketika ia menggali Pancasila; ketika menggagas Konferensi Asia-Afrika untuk membangun dunia baru tanpa imperialisme, kolonialisme, dan neo-kolonialisme; ketika mendorong bangsa-bangsa lain di Asia-Afrika untuk berani memproklamasikan kemerdekaan seperti Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Pakistan. Itu hanya bisa lahir dari orang yang punya imajinasi, lanjut Hasto.
Saya setuju. Tidak setiap orang, termasuk para pemikir, punya imajinasi. Pikiran adalah bumi, imajinasi adalah cakrawala. Pikiran bisa dibatasi oleh pagar besi, atap bangunan, tradisi, dogma, dan semacamnya. Tapi imajinasi tidak.
Bung Karno adalah seorang pembaca yang tekun. Bacaannya bukan hanya karya-karya intelektual namun juga karya-karya sastra. Saya kira yang terakhir inilah yang berperan besar dalam membentangkan cakrawala imajinasi Bung Karno. Sastra pula yang membuat tulisan-tulisannya bernyawa, bertenaga, dan terus hidup.
Dalam suatu sesi sidang di Majelis Konstituante, Bung Karno membahas novel (puisi epik) The Divine Comedy karya sastrawan Italia abad pertengahan Dante Alighieri yang ia anologikan dengan jalannya revolusi Indonesia. Saya kira itu menarik. Bagaimana seorang presiden masih menyempatkan diri membaca karya sastra. Dan dari situ pula ia menggali berbagai inspirasi.
Tanggal 6 Juni lalu, bertepatan dengan hari lahir si Bung Besar itu, Hasto Kristiyanto, berhasil mempertahankan disertasinya di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat. Disertasinya yang berjudul. “Diskursus Pemikiran Geopoliitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara” diganjar dengan predikat kelulusan tertinggi “summa cum laude.”
Kemarin lusa, Jumat malam saya memenuhi undangan Sekjen DPP PDI-Perjuangan tsb untuk bertemu di basecamp-nya di Menteng. Kami membicarakan satu dua hal, dan tentu juga mendiskusikan disertasinya tsb dengan “disaksikan” oleh Bung Karno dan Ibu Megawati.
Diskusi lainnya seputar “api Islam” Bung Karno — ini istilah Soekarno sendiri untuk memberi jiwa pada tulisan-tulisannya mengenai Islam. Mas Hasto meminta saya untuk memikirkan kembali api Islam, dan mewujudkannya dalam bentuk program. Ia tahu saya pernah menulis buku dengan judul Api Islam, yang melihat benang merah pemikiran Cak Nur dan Bung Karno. Kapan dan seperti apa programnya? Ya tunggu saja tanggal mainnya.
Terima kasih hasil jepretan foto-fotonya ya Indah Nataprawira
Ahmad Gaus.
Sumber: dari FB saya:
Status ini dimuat juga oleh media online di sini:

Seratus Tahun Chairil Anwar

SATU ABAD CHAIRIL ANWAR

Hari ini, 26 Juli 2022, seratus tahun usia Chairil Anwar — penyair Binatang Jalang, yang berseru “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Dia lahir 26 Juli 1922, dan wafat 28 April 1949. Dalam usia yang relatif singkat, ia telah melahirkan puluhan sajak yang hampir seluruhnya terkenal. Beberapa di antaranya bahkan dihapal di luar kepala oleh anak-anak di bangku sekolah, seperti sajak-sajak “Aku”, “Derai-Derai Cemara”, “Yang Terampas dan Yang Putus”, dll. Tiga sajak itu pula yang menginspirasi saya menulis sajak ini.

Walaupun umur Chairil Anwar ‘hanya’ 27 tahun, tapi usianya panjang. Dan sejatinya dia tetap hidup karena karya-karyanya. Ini persis gambaran dari kata-kata Pramoedya Ananta Toer: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sumber FB:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159274168982599&set=a.375767877598