Museum Cinta

 
Selamat Hari Museum Nasional, 12 Oktober 2021
 
Mengapa Museum Nasional dikenal  dengan sebutan Museum Gajah? Sambil  menjawab saya mengajak kalian untuk bermimpi membuat museum yang lain, yaitu museum cinta. Ya, siapa tahu suatu saat bisa menjadi kenyataan. Bukankah banyak capaian besar dalam sejarah manusia berawal dari mimpi?
 
***
 
MUSEUM CINTA
 
Ada sebuah museum dalam diriku
Aku sengaja membangunnya tanpa pagar dan pintu
Agar engkau bisa mengunjunginya setiap waktu.
 
Semua kenangan yang pernah kita lalui ada di dalamnya
Cinta, rindu, dan cemburu, tersimpan rapi di dalam lemari kaca
Agar terhindar dari debu, dan para pengunjung dapat melihat serta mengambil pelajaran darinya.
 
Aku berpikir, mungkin banyak juga orang yang memiliki pengalaman cinta seperti kita: bertemu, bercumbu, merindu, kemudian berpisah
Diam-diam mereka menyimpan semua itu sebagai kenangan dalam diri mereka —  itulah Museum Cinta.
 
Alangkah baiknya kalau kita kumpulkan mereka yang memiliki kenangan masa lalu, untuk membentuk semacam asosiasi atau perkumpulan
Kupikir bagus juga kalau ada Museum Cinta Nasional yang dikelola oleh Kemendikbud
Ini penting agar anak-anak yang berkunjung ke museum itu dapat belajar dari kegagalan cinta orang tua mereka.
 
 
Hari Museum Nasional
12 Oktober 2021
Ahmad Gaus

 

Imajinasi Islam

IMAJINASI ISLAM

Untuk Prof Komaruddin Hidayat

Suatu malam bulan jatuh di atas menara

Setangkup kubah meleleh bagaikan timah yang dipanaskan di atas bara

Bintang-bintang redup, dan langit kehilangan jejak

Nabi-nabi yang diutus untuk membangun surga dan menerangi dunia

Wahai sadarlah para pengembara yang tersesat di gurun sahara

Manusia tidak menghendaki surga ada di  muka bumi, sebab bumi terlalu kotor

Bumi hanya tempat untuk menumpahkan darah

Surga ada di atas langit

Di bawah pohon anggur

Di atas sungai susu

Di sela paha bidadari yang selalu perawan

Manusia membangun surga-surga imajiner

Tubuh mereka di atas bumi, tapi jiwa mereka di atas langit

Demikianlah perpecahan paling tragis dalam peradaban manusia

Sedangkan Tuhan adalah satu kesatuan

Pikiran manusialah yang memisah-misahkan

Yang wujud dan yang gaib

Yang jauh dan yang dekat

Timur dan barat

Hitam dan putih

Tuhan membuat garis lengkung pertemuan langit dan bumi

Manusia membangun tembok yang tegar atas nama keyakinan

Padahal Tuhan tidak ada di dalam perpecahan

Maka di manakah wahyu? Di mana agama?

Wahyu sudah menjadi debu yang menempel di kaki unta

Sedangkan agama tinggal rangkanya

Seperti layang-layang putus yang dikejar oleh anak-anak dan diperebutkan hingga robek

Tapi tidak usah berputus asa

Sebab kita masih bisa membayangkan dunia yang lain

Dunia yang berada di antara langit dan bumi

Tempat anak-anak bermain petak umpet dalam warna-warni pelangi

Perempuan-perempuan dengan bebas mengibarkan rambut mereka di cakrawala

Dan para lelaki menulis syair-syair cinta

Ciputat, 11/10/21

Ahmad Gaus

Puisi di atas dipersembahkan untuk sahabat saya, Prof Dr Komaruddin Hidayat sebagai kado ulang tahunnya yang ke-68 pada 18 Oktober 2021. Prof Komar adalah Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok. Hari ultahnya nanti akan dirayakan oleh teman-teman Caknurian secara daring yakni dengan diskusi buku, maupun luring alias makan-makan karena pandemi sudah berlalu. 🙂

Puisi di atas akan dibacakan pada kedua momen tersebut.

Don’t forget to follow my IG: @gauspoem

Biografi Seorang Bankir

BIOGRAFI SEORANG BANKIR
       Sebuah biografi ditulis tidak untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk meletakkan masa lalu pada tempat yang sewajarnya. Sebab, banyak hal dari masa lalu yang berserakan di jalan raya kehidupan, dan itu harus “ditertibkan”. Jika tidak, ia akan menjadi penghalang di jalan menuju masa depan. Bukankah banyak orang yang terpuruk karena beban masa lalu yang begitu berat?
       Di hadapan sang waktu, sebuah biografi menjadi semacam klarifikasi tentang diri sendiri. Tentang menjadi manusia yang bukan sekadar tubuh dan nyawa yang menghidupinya, tapi lebih penting lagi ialah bagaimana hidup itu dijalani.
       Tugas utama manusia bukanlah menjadi pahlawan tetapi bagaimana ia tidak menjadi “debu” yang tidak berguna bagi orang lain. Kecil ataupun besar peranan yang dimainkan oleh seseorang tidak ditentukan oleh tempat di mana ia berdiri melainkan oleh apa yang ia lakukan di tempat tersebut. Birokrat, politisi, bankir, pengusaha, selebriti, pejabat, hanyalah identitas yang fana. Kelak semuanya akan sirna digilas mesin waktu.
       Sang waktu mengalir bagaikan sungai menuju muara membawa segala material dalam perjalanannya. Begitu juga arus kehidupan. Semua yang dibawa dari masa lalu akan terangkut ke muara, ketika kita bertemu dengan Sang Pemilik Waktu.
       Di situlah, di sebuah masa yang tidak bisa didefinisikan, setiap kita akan ditanya tentang apa yang pernah kita lakukan dengan waktu. Ada yang mengatakan, tidak ada yang dapat kita lakukan terhadap masa lalu. Faktanya, setiap kita punya naluri alamiah untuk menuturkan masa lalu. Tujuannya untuk melakukan pencandraan, dan melepaskan beban di pundak. Kata sebuah pepatah, “Dengan mengatakan, engkau melepaskan.”
       Maka sekali lagi, sebuah biografi ditulis bukan untuk mengenang masa lalu tetapi untuk meletakkan masa lalu pada tempat yang sepantasnya. Dengan begitu beban di pundak terasa lepas. Jalan kehidupan terasa lempang, seperti sungai yang jernih mengalir ke muara.
       Selamat atas terbitnya buku biografi Kemal Ranadireksa, mantan direktur BNI. Kang QQ (baca: Kiki) begitu ia biasa disapa, adalah salah seorang perintis berdirinya Bank Mandiri, sebagai hasil merger empat bank pelat merah (BBD, BDN, BAPINDO, Bank EXIM). Kang QQ lalu dipercaya menjadi pemimpin Bank Mandiri regional Sumatera.
       Dan, ini yang penting, Kang QQ adalah suami tercinta dari teman kita, Rani Anggraeni Dewi, yang sekaligus juga memberi kata pengantar untuk buku ini. Jarang lho seorang istri memberi kata pengantar untuk buku suaminya., hehee.. Teh Rani adalah seorang trainer Living Values Education, Pre-Marital Counselor, dan Couple Relationship Therapist. Teh Rani juga belum lama ini meluncurkan buku berjudul “Untuk Apa Menikah”, yang langsung menjadi best seller dan diseminarkan di mana-mana.
       Terima kasih ya Teh Rani dan Kang QQ yang mempercayakan penulisan buku biografi ini kepada saya. Suatu kehormatan bisa menulis kisah hidup seorang bankir “gendeng”. 🙂
       Untuk teman-teman FB, kalau anda atau kerabat, kenalan, bos, mau menulis biografi silakan hubungi saya, mumpung ada diskon. 🙂

Andaikan Kau Datang

ANDAIKAN KAU DATANG

Selamat  ulang tahun, Om Yon Koeswoyo  (27 September 1940 – 5 Januari 2018), semoga berbahagia di alam sana, karena jasamu sungguh tak ternilai, menginspirasi, dan menghibur jutaan manusia di negeri ini. Sampai sekarang suaramu masih terus terdengar, lagu-lagumu terus diputar, amalmu terus mengalir. Bersama kedua saudaramu, Om Tonny dan Om Yok, plus Murry, kalian sungguh manusia-manusia pilihan.  Aku ingat waktu di SD dulu semua buku tulisku dan teman-teman bergambar Koes Plus dengan formasi lengkap, kami membacanya seperti sedang menyanyi: Yon, Yok, Tonny, Murry… padahal Om Tonny adalah yang tertua.

Om Yon, aku tahu hidupmu tidak selalu indah, tapi mungkin karena itu lagu-lagu kalian (Koes Plus), bercerita banyak hal dalam kehidupan, termasuk tragedi-tragedinya. Kalau bukan karena pengalaman sendiri, tidak mungkin syair dan nada lagu-lagu itu begitu menyentuh. Banyak lagu kalian yang membuat orang menangis seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Hidup Yang Sepi. ..

Engkau sendiri yang bilang bahwa lagu “Hidup Yang Sepi” adalah cerita hidupmu sendiri yang tidak pernah punya kekasih.  Sekalinya jatuh cinta pada seorang gadis, dia pergi melanglang buana meninggalkanmu, hingga engkau berkhayal dalam lagu “Andaikan Kau Datang” – walaupun lagu itu dibuat oleh abangmu, Tonny Koeswoyo, tapi kau melantunkannya begitu mengiris, menyayat hati. Juga lagu ini, Hatiku Beku:

Tolonglah, tolonglah aku
Mengapa beku hatiku
Bila itu ‘kan berlalu
‘Ku menunggu tiada tentu

Pernikahanmu yang pertama kandas karena engkau miskin dan terpuruk, sampai harus menyewakan rumah dan buka usaha jual-beli mobil.  Aku dengar cerita saat istrimu mau melahirkan engkau harus meminjam uang untuk membayar biaya persalinan yang hanya satu setengah juta rupiah saja.

Kalian (Koes Plus) adalah contoh bahwa memilih hidup menjadi seniman adalah sebuah penderitaan. Jatuh bangun dalam membangun  sebuah kelompok musik yang solid tidak mudah, dan kalian sudah mengalaminya: bubar, ditinggal pergi, gonta-ganti personil. Tapi dalam penderitaan itu kalian mengukir nama besar dan reputasi yang abadi.

Om Yon, dulu waktu di SD kami bertamasya ke Taman Mini (TMII) dengan bus carteran. Di seantero sudut TMII dipasang pengeras-pengeras suara yang melantunkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) seperti: Nusantara, Kolam Susu, Bis Sekolah, Diana, dll. Kalian hebat, karenanya terus diingat.  Aku menyukai semua aliran musik yang kalian bawakan, dari mulai Pop, Rock, Melayu, Dangdut, hingga Keroncong.

Sampai sekarang aku masih selalu mendengarkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) saat bekerja di depan laptop atau sedang bepergian.  Lagu berjudul “Rindu” (melayu), termasuk salah satu lagu favoritku, selain Mengapa, Manis dan Sayang, Sendiri dan Rahasia, Ya Fatimah… dll.

Lagu kalian tentang cinta, kerinduan, penderitaan, mengingatkan kita tentang kehidupan yang fana. Kalian sejatinya bukan hanya bernyanyi tapi juga melantunkan filosofi hidup yang dalam, luas, dan tidak bersekat. Karena itu musik di tangan kalian benar-benar wakil dari suara alam yang  indah dan memesona, universal dan menggetarkan jiwa.

Betapa tinggi elang akan terbang
Lebih jauh lagi tinggi lamunan
Betapa megah hidupmu kau bilang
Dalam tidurmu semua akan hilang

(Perasaan, Koes Plus)

Selamat ulang tahun Om Yon, selamat berbahagia di sisi Tuhan. Terima kasih Koes Plus, dan untuk Om Yok, semoga selalu sehat, panjang umur dan bahagia.

 

Salam,

Ahmad Gaus

 

Dari Seminar Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Di era demokrasi saat ini kita tidak perlu lagi berpikir hanya boleh ada satu organisasi profesi. Sebab, organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas), termasuk organisasi profesi, pada dasarnya adalah gerakan sosial mandiri yang hadir untuk memperjuangkan aspirasi anggotanya.

Dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas yang sangat tinggi seperti kita, dan lapisan yang begitu tebal, adalah absurd untuk membayangkan hanya ada satu organ yang memperjuangkan aspirasi masyarakat. Justru semakin banyak organ semakin baik. Mereka akan berkompetisi dan bekerja keras untuk kemaslahatan masyarakat, dan terutama para anggotanya.

Ormas adalah kekuatan civil society yang menjadi tulang punggung demokrasi. Tanpa civil society tidak ada akan demokrasi. Maka kehadiran IGI (Ikatan Guru Indonesia), walaupun sudah ada PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), harus dilihat dalam perspektif ini. Keduanya, juga yang lain kalau ada, berhak hadir untuk menyejahterakan masyarakat, terutama para anggotanya. Dan secara lebih luas, mereka juga berkontribusi pada perkembangan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Selamat buat IGI. Teruslah bekerja untuk anggota, teruslah berkarya untuk bangsa.

Terima kasih telah mengundang saya sebagai narasumber di  acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kemarin, 25 September 2021 di Swiss Belhotel, Serpong, kerjasama IGI dan Sekjen MPR RI. Semoga kelak kita bisa lagi berkolaborasi.

 

Salam,

Ahmad Gaus

Puisi Kemerdekaan

BANGSA MERDEKA
KALAU engkau bertanya kepadaku, benarkah kita sudah merdeka
Akan kutunjukkan kepadamu ribuan jendela di mata orang-orang tua yang duduk di atas kursi roda.
DI SANA engkau akan melihat bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
Tempat pembantaian manusia
Ladang-ladang tebu yang dibombardir
Kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
Dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.
KALAU engkau bertanya kepadaku mengapa kita harus merdeka
Akan kuajak kau pergi ke desa, melihat anak-anak berangkat ke sekolah
Melintasi pematang-pematang sawah
Menggendong tas berisi buku-buku sejarah yang berdarah
Dan sejumput impian mewah
KALAU engkau bertanya kepadaku apa arti merdeka
Akan kutunjukkan kepadamu pintu-pintu penjara
Tempat dulu orang-orang tua kita meringkuk di dalamnya
Disiksa oleh para penjarah bangsa.
DAN kalau engkau masih bertanya apakah kita sudah merdeka, untuk apa kita merdeka, dan apa arti merdeka
Kusarankan kau… masuklah ke dalam penjara.
Jakarta, 17 Agustus 2021
Ahmad Gaus AF

Kopi Kenangan

MANTAN DAN KENANGAN

Buat kamu yang sedang duduk menghadap jendela, yang membayangkan mantan menjelma di depan mata secara tiba-tiba, berhati-hatilah karena kamu sudah berada di atas menara halusinasi paling tinggi.

Kalau saya ada di situ saya akan beri kamu tangga supaya kamu bisa turun dengan perlahan dan hari-hati. Sebab kalau tidak, kamu akan terpeleset dan jatuh. Apalagi kalau melompat dari menara halusinasi itu. Kamu bisa mati konyol. Hanya gara-gara mantan.

Memang gampang-gampang susah melupakan mantan. Karena konon mantan itu seperti file di komputer yang walaupun sudah dihapus tapi sebenarnya masih ada di recycle bin. Atau seperti virus di flashdisk yang dihapus berkali-kali tapi datang lagi, muncul lagi. Jadi harus sering-sering dibersihkan.

Teman saya cerita, dia putus dengan pacarnya lalu nyambung lagi, terus putus lagi, nyambung lagi dan putus lagi. Begitu saja beberapa kali sampai akhirnya pacarnya menikah dengan orang lain. Capek juga kali ya, nggak ada kepastian soalnya.

Akhirnya dia menyimpulkan bahwa; “Mantan itu seperti benang yang putus. Bisa sih disatukan lagi tapi tidak akan sempurna, dan pasti meninggalkan bekas. Mantan mengajarkan kita arti kesabaran, keikhlasan, dan sekaligus kegoblokan karena kita harus membuang banyak waktu dalam hidup yang singkat ini untuk menjaga jodoh orang lain.” Rasain. 🙂

Jadi ingat ya, boleh ingat mantan tapi sekadarnya saja. Simpan mantan di recycle bin sebagai kenangan.

Salam kenangan

Ahmad Gaus

Follow my IG: @gauspoem

Esok Pagi Kau Buka Jendela

Catatan Ultah Pernikahan untuk JZ
Ini bukan puisi seperti yang biasa aku tulis di hari-hari istimewa. Hanya sebuah goresan air mata. Saat kamu terkurung sendiri di antara hidup dan mati. Saat napasmu tersengal, dan keringat dingin bercucuran. Namun tembok begitu angkuh, memisahkan kita yang hanya berjarak beberapa meter saja. “Doakan aku ya, jangan sampai mati karena Covid,” katamu. Aku terdiam. Di antara riuh hujan malam itu, suara batukmu terus terdengar. “Aku tidak bisa tidur,” katamu lagi. “Badanku meriang, tulang-tulangku remuk.”
Hujan semakin deras. Angin memukul-mukul jendela. Aku disergap kesunyian. Dingin merayap di punggungku. Ketika suaramu menghilang, aku mengintip dari sela pintu. Kudengar deru napasmu. Berat tertahan. Semoga kamu tertidur pulas dan besok pagi bangun kembali, jangan sampai tidak, doaku.
Dini hari itu pikiranku menerawang. Pada akhir Juni s.d. medio Juli lalu, 11 (sebelas) anggota keluargaku di Tangerang terpapar Covid-19 secara hampir bersamaan. Kakak, adik, kakak ipar, dan para keponakan. Dan mereka tinggal di rumah yang sama, rumah besar. Demi alasan keselamatan, kita memutuskan untuk tidak menjenguk, walaupun mereka sangat membutuhkan kehadiran kita. Tapi ketika aku mendengar kabar bahwa ibuku juga sakit, aku tidak peduli lagi dengan keselamatan. Aku berkali-kali ke sana, dan engkau menyertai, menembus zona merah. Begitulah… sampai ibuku benar-benar pulih, dan satu persatu keluargaku yang lain berangsur sembuh.
Kamu begitu kuat saat itu. Tapi… dua minggu kemudian kamu juga tumbang. “Penciumanku hilang,” katamu sore itu. Aku terkejut. Selama ini kita berpikir, corona begitu dekat. Tapi sekarang bukan hanya dekat. Ia sudah ada di rumah kita. Bersama kita. Akhirnya kita pun menjadi bagian dari pandemi global, dari sejarah dunia yang mengerikan.
10 hari telah berlalu. Kini kondisimu makin membaik. Dan hari ini, di ulang tahun ke-24 pernikahan kita, kamu bilang sudah bisa mencium aroma kopi dari cangkirku, meski masih samar. Kamu juga sudah bisa tertawa menonton drama Korea. Bersabarlah barang sebentar, demi syair lagu ini: “Esok pagi kau buka jendela, ‘kan kau dapati seikat kembang merah… ” (Ebiet G. Ade, Elegi Esok Pagi)
Selamat ultah pernikahan kita, Jumie Zaini. Selamat ultah juga untuk diriku sendiri. 😁
Salam peluk dari ruang tengah,
10 Agustus 2021
Ahmad Gaus

Melampaui Nurcholish Madjid

MELAMPAUI NURCHOLISH MADJID

Diam-diam, wacana Islam liberal terus menyeruak dan mengambil bentuk yang kian beragam. Islam liberal ala Nurcholish Madjid tahun 1970-an sudah dianggap kuno. Bahkan kerangka pikir Cak Nur konon sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah obsolet. Kini telah lahir generasi post Cak Nur yang lebih progresif, lebih liberal, selain murid-murid Cak Nur yang lain yang makin bergeser ke kanan dan menjadi pendukung gerakan-gerakan sektarian.

Bagaimana ceritanya? Yuk kita ngupi bareng di acara ini. Kita akan ngerumpi santai tentang murid-murid ideologis Cak Nur yang tercerai berai dalam berbagai sekte dan golongan. 😁

 

 

Rayap dan Laron

Selamat ulang tahun untuk maestro puisi sufistik:

Prof Dr Abdul Hadi WM.

Semoga selalu sehat dan terus berkarya. Sesuai janji saya kemarin, saya buatkan catatan kecil yang tayang di Geotimes.id, hari ini dan setangkai puisi yang dirangkum dari pikiran-pikiran Pak Hadi, sebagai kado ultah. Semoga berkenan.

 

Sastra Sufistik dari Hamzah Fansuri hingga Abdul Hadi WM

 

 

 

 

PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman

 

PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman

Oleh: Ahmad Gaus AF

Bagi para peminat kajian filsafat dan teologi, khususnya teologi antar-iman, Dr. Budhy Munawar-Rachman bukanlah nama yang asing. Dalam filsafat, Budhy mencarikan tempat yang memadai bagi filsafat Islam dalam dunia yang didominasi oleh filsafat Barat. Di kampus-kampus Islam ia mengajar filsafat Barat, di kampus umum ia mengajar filsafat Islam. Itu menunjukkan bahwa otoritasnya di kedua disiplin tersebut memang tidak diragukan.

Dalam teologi, yang dikembangkan oleh Budhy bukanlah Ilmu Kalam dalam pengertian tradisionalnya, bukan juga perbandingan agama (apalagi ini), melainkan perjumpaan agama-agama atau pencarian titik temu agama-agama (kalimatun sawaa) — mengikuti jejak gurunya, Nurcholish Madjid (Cak Nur). Dalam wacana keagamaan (Islam), Budhy memang menjadikan Cak Nur sebagai referensi utamanya, karena merasa cocok dengan posisi pemikirannya sendiri yang bercorak progresif. Budhy juga aktif mengembangkan pikiran-pikiran Cak Nur dengan bahan-bahannya sendiri dari khazanah filsafat timur dan barat.

Posisi Budhy terhadap Cak Nur kurang lebih sama dengan posisi Ibn Rusyd terhadap Aristoteles, yakni sebagai komentator dengan otoritas yang besar. Budhy menulis banyak buku mengenai pemikiran Cak Nur, salah satunya Ensiklopedi Nurcholish Madjid setebal 4000 halaman (4 jilid). Walaupun berguru secara kaffah kepada Cak Nur, bukan berarti Budhy tidak mengembangkan pemikiran sendiri. Sumbangannya yang terpenting ialah gagasan “passing over“, yang dapat disebut sebagai post-Caknurian. Melalui gagasan ini, Budhy menghadirkan harta karun yang terpendam dari agama-agama dan tradisi spiritualitas, dan sekaligus menawarkan peta jalan baru bagi perjumpaan agama-agama.

Passing over ialah “menyebrang dari satu budaya ke budaya yang lain, dari satu agama ke agama yang lain.” Yang dimaksud ‘menyebrang’ di sini bukan murtad atau menjadi muallaf, justru ini sangat dihindari, melainkan menyelam ke jantung tradisi agama/kepercayaan lain dan membuka diri untuk diperkaya oleh agama/kepercayaan lain tersebut. Jadi semacam ziarah spiritual. Dan sebagai ziarah, maka pada gilirannya proses ini diakhiri dengan gerakan kembali ke agama semula, namun dengan insight yang baru. Begitulah passing over. Dari situ akan diperoleh pengalaman-pengalaman rahasia yang bersifat mistik-spiritual.

Budhy bukan hanya berwacana. Dia sendiri yang memberi contoh (praktik) bahwa passing over itu bisa dilakukan, bahkan perlu, untuk memperkaya pengalaman religius dan spiritualitas, serta mencairkan hubungan antaragama yang membeku, bahkan cenderung mengeras akhir-akhir ini.

Para pemikir dan mistikus besar pada umumnya melakukan passing over sebelum mencapai pencerahan, sebut saja Mahatma Gandhi, yang melakukan passing over ke Kristen dan Islam, dengan tetap sebagai Hindu. Juga tokoh-tokoh seperti Louis Massignon, Henry Corbin, W.C. Smith, Sachiko Murata, William Chittick, Huston Smith, dan yang lainnya, melakukan passing over.

Budhy sendiri, setahu saya melakukan passing over ke Hindu, Katolik, Tao, dan Perenialisme. Budhy mengunjungi pusat-pusat spiritual di Tibet dan India, berguru di Brahma Kumaris, mengalami misa, praktik meditasi, Taichi, dll. Setelah menyebrang, Budhy kembali ke agamanya semula dengan pencerahan. Tidak menjadi muallaf Hindu, Katolik, atau lainnya. Budhy tetap seorang muslim yang saleh. Terakhir malah saya lihat dia menjadi khatib salat jumat pada Ramadan kemarin.

Istilah passing over berasal dari John S. Dunne, profesor teologi di Universitas Notre Dame (AS). Namun praktiknya telah dilakukan oleh para mistikus/sufi di masa lalu. Di Indonesia mungkin banyak juga yang melakukan itu, saya tidak tahu, tapi sejauh ini Budhy Munawar-Rachman lah yang merupakan konseptor sekaligus model atau prototipenya.

Dengan jaringan yang luas sebagai intelektual-aktivis, gagasan Budhy mengenai passing over memiliki pengaruh yang cukup mendalam di kalangan anak muda, satu generasi di bawahnya. Artinya, banyak anak muda yang mengikuti jejaknya. Ini jelas tidak bisa diabaikan, karena merupakan kontribusi penting bagi perjumpaan agama-agama dan dialog antar-iman di Indonesia, saat ini dan masa depan.

Melalui gagasan passing over Budhy juga menempati posisi yang unik dalam peta pemikiran dan diskursus keagamaan di tanah air. Tidak banyak orang seperti dia. Jika kalangan lintas agama ingin agama mereka dibicarakan oleh pihak luar, maka Budhy lah yang akan diundang. Bukan saja karena Budhy memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama mereka, melainkan juga karena mereka menaruh kepercayaan kepada Budhy yang selalu menebar karma baik, dalam ucapan, pikiran, dan tindakan.

Terakhir, walaupun Budhy dan saya sama-sama murid Nurcholish Madjid, bukan berarti kami selalu seia sekata. Dalam beberapa segi pemikiran Cak Nur kami sering berbeda pandangan. Bukan karena ego-intelektual, saya kira, tapi karena spektrum pemikiran Cak Nur itu sendiri yang memang sangat terbuka untuk ditafsirkan. Tapi walaupun sering berbeda pendapat, kami tidak pernah saling mengkafirkan, hehe.. Selamat ulang tahun, Budhy (22 Juni), doa-doa terbaik mengiringimu.

Catatan:

1. Tulisan Budhy Munawar-Rachman mengenai Passing Over dapat dibaca dalam bukunya, Islam Pluralis (Rajawali Press, 2004)

2. Saya dan Prof Komaruddin Hidayat pernah menyusun buku antologi lintas agama. Dan atas saran Budhy, buku itu diberi judul “Passing Over: Melintasi Batas Agama” (Gramedia, 1999, 2004)

Salam
AHMAD GAUS AF
Penulis dan editor, berkhidmat di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.

Tulisan ini sudah tayang di geotimes.id kemarin (21/06). Pemuatannya kembali di sini dan di FB atas izin redaksi dan tanpa perubahan.

https://geotimes.id/kolom/passing-over-ziarah-spiritual-ala-budhy-munawar-rachman/

 

Jangan Pura-Pura

Nyanyi dulu yuk.. 😁😁