Tidak Ada Puisi Hari Ini

 

TIDAK ADA PUISI HARI INI

Tidak ada puisi hari ini
Hanya sebatang lilin redup
Yang kulukis dengan bingkai matahari
Dan aku ada di sana
Membangun rumah sederhana
Dari kerikil dan tangkai bunga

Sementara engkau menyuapi anak-anak
Dengan biji-biji bintang
Yang meleleh di angkasa

Tidak ada puisi hari ini, kekasihku
Biarkan daun dan bunga berbicara sendiri
Biarkan bulan menangis sendiri
Dan biarkan cinta menjadi matang
Dalam kesunyiannya yang abadi

Jakarta, 10 Agustus 2022
Ahmad Gaus

Terima kasih atas ucapan dan doa teman-teman FB di ultah saya hari ini, yang bersamaan waktunya dengan ultah pernikahan perak kami. Doa yang sama untuk anda semua.

Salam Bahagia

Sumber dari FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159296211467599&set=a.375767877598&notif_id=1660140924708921&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

 

 

Puisi Ulang Tahun untuk Nisa Alwis

Nisa Alwis adalah lilin di tengah kegelapan. Kok bisa? Ya ikuti saja facebook nya, insya Allah banyak pencerahan dari alumni Pesantren Darun Najah dan Monash University, Australia ini.

Sumber FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159245759567599&set=a.375767877598

Oh ya Nisa juga menulis buku berjudul PUBER, yang melawan habis-habisan gerakan jilbabisasi di Indonesia.

Puisi Ulang Tahun untuk Dr. Imam Suhardjo

“Jangan suka meremehkan orang tua, kalian belum tentu sampai di usia ini.” Kami pun terdiam, sambil cengar-cengir. Kata-kata Pak Imam itu sungguh tajam. Dan benar.
Saya, Pak Imam Suhardjo , dan beberapa teman lain, adalah anggota partai tangga — sebutan untuk orang-orang yang suka berkumpul di tangga lantai 8 kantor kami, gedung film, dalam rangka melestarikan khazanah tembakau nusantara. 😁
Saat itu kami tengah berbincang tentang lift kantor yang belakangan sering mati. Bahkan sudah banyak pegawai dan tamu terjebak di dalamnya. Lalu seorang teman bilang, mulai saat ini kita naik turun lantai 8 lewat tangga saja. Jangan.pakai lift. “Tapi bagaimana dengan Pak Imam, apa masih kuat?” Ujarnya. Maka tercetuslah kata-kata Pak Imam seperti di atas itu, yang membuat kami terdiam.
“Sebenarnya saya ini masih muda. Masih mahasiswa kok,” lanjut Pak Imam, sambil tertawa. Benar, saat itu Pak Imam tengah mengikuti program S3 ilmu komunikasi di UNPAD.
Dan tahun lalu, di usianya yang ke-73, ia berhasil meraih gelar doktor dengan disertasi mengenai komunikasi elit politik PPP. Sebelumnya ia pernah menjadi anggota DPR RI dari partai kabah tsb.
Kami saling mengenal karena pernah sama-sama bekerja di LSF, Lembaga Sensor Film (2016-2020) yang berkantor di Gedung Film, Jl. MT Haryono, Jaksel, dimana Pak Imam sebagai komisioner, dan saya tukang bersih-bersih.
Di mata saya Pak Imam adalah seorang pekerja yang tekun dan pembelajar yang setia, buktinya ia meraih gelar doktor di usianya yang tidak remaja lagi. Ia juga pribadi yang hangat, ramah, suka humor, dan senang tertawa.
Setiap kembali dari kampung halamannya di Jember, Jawa Timur, ia mesti memberi tahu para anggota partai tangga, “Aku bawa tembakau madura,” katanya. Maka di sela-sela Ishoma, kami berkumpul di tangga lantai 8. Ia kerap bercerita tentang keunggulan tembakau madura, kontras dengan nasib para petaninya yang sering terpuruk karena tidak diperhatikan oleh pemerintah.
Sejak 2020 saya dan Pak Imam sudah selesai bertugas di LSF.
Saya dengar atap lantai 8 gedung film ambruk. Dan teman-teman saya yang masih bertugas di sana mengungsi ke Gedung Kemendikbud di Senayan. Tapi kenangan di gedung film tetap membekas, karena di sana banyak cerita.
Selamat ulang tahun, Pak Imam. Semoga sehat selalu.
Sumber FB saya:
Late post in my website 🙂

API ISLAM BUNG KARNO

Ini tentang Bung Karno — Sang Proklamator, dan sekaligus mata air pemikiran kebangsaan yang tak pernah kering. Menurut teman saya, Hasto Kristiyanto, Indonesia merdeka karena visi besar para pendiri bangsa. Tapi Indonesia menjadi bangsa besar karena imajinasi.
Itulah yang menonjol pada sosok Bung Karno, ketika ia menggali Pancasila; ketika menggagas Konferensi Asia-Afrika untuk membangun dunia baru tanpa imperialisme, kolonialisme, dan neo-kolonialisme; ketika mendorong bangsa-bangsa lain di Asia-Afrika untuk berani memproklamasikan kemerdekaan seperti Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Pakistan. Itu hanya bisa lahir dari orang yang punya imajinasi, lanjut Hasto.
Saya setuju. Tidak setiap orang, termasuk para pemikir, punya imajinasi. Pikiran adalah bumi, imajinasi adalah cakrawala. Pikiran bisa dibatasi oleh pagar besi, atap bangunan, tradisi, dogma, dan semacamnya. Tapi imajinasi tidak.
Bung Karno adalah seorang pembaca yang tekun. Bacaannya bukan hanya karya-karya intelektual namun juga karya-karya sastra. Saya kira yang terakhir inilah yang berperan besar dalam membentangkan cakrawala imajinasi Bung Karno. Sastra pula yang membuat tulisan-tulisannya bernyawa, bertenaga, dan terus hidup.
Dalam suatu sesi sidang di Majelis Konstituante, Bung Karno membahas novel (puisi epik) The Divine Comedy karya sastrawan Italia abad pertengahan Dante Alighieri yang ia anologikan dengan jalannya revolusi Indonesia. Saya kira itu menarik. Bagaimana seorang presiden masih menyempatkan diri membaca karya sastra. Dan dari situ pula ia menggali berbagai inspirasi.
Tanggal 6 Juni lalu, bertepatan dengan hari lahir si Bung Besar itu, Hasto Kristiyanto, berhasil mempertahankan disertasinya di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat. Disertasinya yang berjudul. “Diskursus Pemikiran Geopoliitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara” diganjar dengan predikat kelulusan tertinggi “summa cum laude.”
Kemarin lusa, Jumat malam saya memenuhi undangan Sekjen DPP PDI-Perjuangan tsb untuk bertemu di basecamp-nya di Menteng. Kami membicarakan satu dua hal, dan tentu juga mendiskusikan disertasinya tsb dengan “disaksikan” oleh Bung Karno dan Ibu Megawati.
Diskusi lainnya seputar “api Islam” Bung Karno — ini istilah Soekarno sendiri untuk memberi jiwa pada tulisan-tulisannya mengenai Islam. Mas Hasto meminta saya untuk memikirkan kembali api Islam, dan mewujudkannya dalam bentuk program. Ia tahu saya pernah menulis buku dengan judul Api Islam, yang melihat benang merah pemikiran Cak Nur dan Bung Karno. Kapan dan seperti apa programnya? Ya tunggu saja tanggal mainnya.
Terima kasih hasil jepretan foto-fotonya ya Indah Nataprawira
Ahmad Gaus.
Sumber: dari FB saya:
Status ini dimuat juga oleh media online di sini:

Seratus Tahun Chairil Anwar

SATU ABAD CHAIRIL ANWAR

Hari ini, 26 Juli 2022, seratus tahun usia Chairil Anwar — penyair Binatang Jalang, yang berseru “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Dia lahir 26 Juli 1922, dan wafat 28 April 1949. Dalam usia yang relatif singkat, ia telah melahirkan puluhan sajak yang hampir seluruhnya terkenal. Beberapa di antaranya bahkan dihapal di luar kepala oleh anak-anak di bangku sekolah, seperti sajak-sajak “Aku”, “Derai-Derai Cemara”, “Yang Terampas dan Yang Putus”, dll. Tiga sajak itu pula yang menginspirasi saya menulis sajak ini.

Walaupun umur Chairil Anwar ‘hanya’ 27 tahun, tapi usianya panjang. Dan sejatinya dia tetap hidup karena karya-karyanya. Ini persis gambaran dari kata-kata Pramoedya Ananta Toer: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sumber FB:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159274168982599&set=a.375767877598

Puisi Ulang Tahun untuk Goenawan Mohamad

Selamat ulang tahun, penyair tua, Goenawan Mohamad

Semoga tambah panjang umur lagi, sehat selalu.

 

Sumber: FB

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159278258992599&set=a.375767877598

 

 

 

Hidup Terlalu Menarik untuk Dibenci

 
DISTORSI
Untuk A
 
Hidup terlalu menarik untuk dibenci. Janganlah berlebihan! Luka yang kau tanggung tidak pernah sebesar gunung.Kekecewaan sudah dibagi rata. Dan penderitaan, kau tahu, setiap pagi dan sore hari diangkut oleh tukang sampah, pemulung, dan pedagang keliling. Kepahitan hidup ada di gelas-gelas kopi yang tersaji di kafe-kafe tempat anak-anak muda bercengkrama.
 
Gerbong-gerbong kereta yang lalu lalang setiap saat di kotamu mengangkut berton-ton keringat dan air mata. Kalau engkau duduk saja di stasiun itu, dan menunggu dewa datang menjemputmu, engkau telah memutus persahabatan dengan kenyataan.
 
Bersikaplah toleran, beri sedikit kesempatan kepada hidup untuk membela diri. Percayalah pada kebohongan-kebohongan besar yang datang secara alami. Bukan kebohongan yang dipaksakan.
 
Sisakan sedikit kepercayaan pada cinta. Itu sudah cukup. Dan sekali-kali, bacalah puisi, agar jiwamu hidup, agar engkau tahu ada cara lain dalam memandang kehidupan.
 
Ciputat, 21 Juni 2022
 
Ahmad Gaus
Foto hanya pemanis, apa yang tertera di kaos bisa saja hanya fiksi.
 
Mungkin gambar 1 orang dan dalam ruangan
 
Sumber FB saya:
 

Lukisan Flamboyan-2

 

Sumber: FB saya:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10159197304167599&set=a.375767877598

 

 

Tuan Penyair

Selamat ulang tahun, Raja Penyair Lampung, Isbedy Stiawan ZS

 

Sumber FB saya:

Buya dan Sepeda

G O W E S

Untuk para goweser, atau teman-teman yang senang bergowes, saya mengucapkan:

SELAMAT HARI SEPEDA SEDUNIA
3 Juni 2022

Semoga sehat terus dan panjang umur seperti Buya Syafii.

Salam Gowes
Ahmad Gaus

#harisepedasedunia
#HariSepedaSedunia2022
#WorldBicycleDay2022
#June3WorldBicycleDay
#WorldBikeDay
#MembumikanSepeda
#MembirukanLangit
#SepedaSehat
#goweser
#goweserindonesia
#BuyaDanSepeda
#BuyaSyafiiBersepeda
#GuruBangsa

Penyair Hamid Jabbar dan Kematian yang Puitis

Penyair Hamid Jabbar meregang nyawa di atas panggung. Saat itu,  18 tahun silam (29 Mei 2004),  ia membacakan sajak-sajaknya di acara pentas seni dan orasi budaya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Bersama dia ada penyair Jamal D. Rahman, filsuf-budayawan Franz Magnis-Suseno, dramawan Putu Wijaya, dan musisi balada Franky Sahilatua .
Tepuk tangan bergemuruh saat ia menjatuhkan diri di akhir pembacaan sajaknya. Orang mengira itu adalah bagian dari atraksi panggung sang penyair. Padahal, ia tengah bergumul dengan maut.
Hamid Jabbar mungkin satu-satunya penyair yang menjemput ajal di atas panggung dengan tangan menggenggam sajak. Momen kematiannya dicatat sebagai peristiwa kesenian.
Memang setiap orang akan mati. Tapi, tidak setiap orang bisa beruntung mengalami kematian yang begitu indah dan puitis seperti Hamid Jabbar.
Selengkapnya kolom saya tentang penyair Hamid Jabbar dapat dibaca di sini:
Video berikut ini adalah cuplikan dari acara sabtu pekan lalu (21/5) yang dihelat oleh Komunitas Puisi Esai Asean bekerjasama dengan Badan Bahasa dan Sastera Sabah Malaysia. Judul acaranya: “Hamid Jabbar dan Sajak Sajaknya Sebelum Maut Itu Datang.”
Di acara ini Presiden Penyair, Sutardji Calzoum Bachri menjadi narasumber. Yang lainnya para penyair dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia, bergiliran membaca sajak-sajak karya Hamid Jabbar.
Salam,
Ahmad Gaus
Sumber FB:

Muazin Bangsa: Puisi untuk Buya Syafii Maarif

BUYA SYAFII MAARIF
ManusiaTerbaik Kiriman Tuhan
Duka cita mendalam atas wafatnya Buya Syafii (Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif) hari ini, 27 Mei 2022. Beliau almarhum adalah salah satu manusia terbaik yang dikirim oleh Tuhan untuk bangsa Indonesia. Beliau pemikir idealis. cendekiawan besar, pelaku hidup zuhud, dan muadzin bangsa..
MUAZIN BANGSA
— Untuk Buya Syafii Maarif
Suara azan yang meluncur dari bibirmu
Terdengar setiap saat
Mengingatkan orang-orang bahwa seluruh hidup adalah salat
Maka setiap orang dalam setiap aktivitasnya harus selalu menghadap kepada Tuhan
Seakan dia sedang menunaikan salat
Karena dia harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya di hadapan Tuhan
Takbir yang kau kumandangkan, Buya
Lebih keras dari suaramu yang ringkih
Bergumul dengan teriakan-teriakan takbir di jalan raya
Yang terlontar dari mulut para oportunis politik yang berkolaborasi dengan para penjual agama
Takbirmu, Buya, merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa
Menyebarkan kedamaian dan rasa aman pada semua orang
Sedangkan takbir mereka menyuarakan kesombongan, menebarkan ketakutan.
Takbirmu, Buya, sebuah pengakuan bahwa tidak ada yang berhak merasa besar
Sebab kebesaran hanya milik Tuhan Yang Maha Besar
Sedangkan takbir mereka, meringkus kebenaran menjadi milik mereka sendiri
Merampas kebesaran Tuhan ke tangan mereka sendiri.
Buya, Buya, tubuhmu renta, tapi jiwamu selalu muda, dan menyala-nyala
Membakar tempat tidur anak-anak muda
Hingga mereka berlompatan dari mimpi
Bangkit dan lemparkan selimutmu
Bangsa ini tidak sedang baik-baik saja
Korupsi, diskriminasi, intoleransi, masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini
Aku selalu ingat pesanmu, Buya, jadilah generasi yang lebih baik dari generasi kami
Terima kasih, Buya
Terima kasih atas keteladanan yang engkau wariskan
Sikap yang lurus, kesederhanaan, dan keberanian
Selamat jalan, Buya. Selamat berjumpa dengan Tuhan Yang Mahakasih yang selalu engkau rindukan.
Ciputat, 27 Mei 2022
Wassalam
Ahmad Gaus