Puisi Saya di Kalender 2022

Apakah anda pernah melihat sebuah kalender yang di dalamnya terdapat puisi? Biasanya foto/gambar, atau lukisan ya?

Kalau belum pernah, berarti puisi-puisi saya adalah yang pertama masuk kalender, dan bisa masuk MURI kan? Hehehee

Ya, kalender UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) tahun 2022 memuat 12 puisi saya. Tidak mudah membuat puisi-puisi itu karena harus sesuai dengan gambar/ilustrasi yang diminta. Tapi  berkat “tirakat” akhirnya jadi juga, dan kalendernya sudah terbit. Sayang sekali tidak ada versi digital sehingga tidak bisa saya bagikan.

Tapi kalau anda penasaran puisi-puisi seperti apa yang saya buat untuk 12 halaman kalender UIII tersebut, saya akan kirimkan ke email anda versi PDF nya.

Kirim email ke email saya, katakan bahwa anda ingin kelender itu. Email saya: gaus.poem@gmail.com, nanti kalender PDF akan saya kirimkan.

Contoh puisi saya dalam kalender ada di bawah

Terima kasih

Gaus

Beragama itu Bergembira

Guys, saya dipodcast oleh Maarif Institute untuk bicara mengenai agama dan ekspresi kegembiraan. Simak videonya di sini ya. Saya juga membaca puisi karya saya sendiri tentang sosok yang saya kagumi, Buya Ahmad Syafii Maarif, seorang Guru Bangsa yang tersisa.
Sebelum membaca puisi, saya dan pembawa acara Mohammad Shofan
berbincang seputar tema di atas. Beragama harus rileks, itu saja sih pesan perbicangan dengan bung Shofan ini. Sebab kalau terlalu serius nanti tersinggungan, baperan, disenggol sedikit marah, patung orang dirusak, sajen orang ditendang, musik diharamkan, dll perilaku yang bikin hayati lelah dan akhirnya minggat dari rumah. 😁😁
Karena beragama itu kegembiraan, maka para sufi menari, para pujangga bersyair, anak-anak santri bernyanyi dan berselawat, saya dan bung Shofan berduet membawakan lagu-lagu Rhoma Irama.. “Dang mari berdendang kita berdendang.. gembira ria, gembira riaaa..”
Terima kasih sudah mau menyimak, jangan lupa like dan comment ya.
Salam
Ahmad Gaus

Wahai Kekasihku

Numpang promo. Selain menerima order penulisan biografi, saya juga menerima panggilan untuk mengisi acara hajatan walimatul ursy, aqiqahan, pulang haji, sunatan massal, dll, hahahaa…

Kali ini saya menjajal bakat saya di bidang tarik suara dgn membawakan lagu yang sangat terkenal di Timur-Timur (Ya Umri, Wahai Kekasihku), ciptaan Sabah Fachri. Selamat menikmati. Kalau bagus kasih nilai 8 – 10 ya 🙂

Terima kasih

 

Meditasi Bulan Purnama

Selamat ulang tahun untuk teman yang sedang sakit, Indah Ariani semoga lekas sembuh; dan semoga berkah di usianya. Terima kasih telah menjadi host yang setia selama 2 tahun lebih di acara Caknurian Urban Sufism With Komaruddin Hidayat

 

Caknurian Review Edisi Khusus: Ultah Bu Omi

Hari ini, 25 Januari 2022, adalah hari ulang tahun Ibu Omi (istri almarhum Cak Nur). Walaupun usianya sudah terbilang senja (73 thn), beliau tetap aktif mengisi seminar dan forum-forum pemikiran Islam. Saat ini bahkan ada kader-kader pemikir muda Caknurian yang melanjutkan pemikiran-pemikiran progresif Nurcholish Madjid. Ibu Omi selalu menyemangati anak-anak muda ini untuk terus mengembangan pikiran Islam yang inklusif-pluralis sebagaimana dulu diperjuangkan oleh Cak Nur sepanjang hidupnya.

Selamat ulang tahun, Bu Omi, semoga sehat terus dan bahagia walau menjalani hari tua seorang diri, karena anak-anak (Mikel dan Nadia) di luar negeri.

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

 

 

Ketika Kebaya Diganti Hijab

Banyak orang Sunda marah kepada Arteria Dahlan (AD) karena politisi itu ingin memecat seorang pejabat yang berbicara bahasa Sunda dalam rapat.

Mereka bilang AD songong, tidak menghargai budaya Sunda. Ramai-ramai mereka meminta AD meminta maaf kepada masyarakat Sunda.

Pertanyaan saya, apakah mereka pernah marah dan menuntut ketika Rizieq Shihab mengganti ucapan salam yang sangat dimuliakan oleh orang Sunda, Sampurasun, menjadi CampurRacun?

Ketika KEBAYA Sunda dibuang dan diganti HIJAB syar’i, ketika sanggul dihinakan dan diganti dengan cadar, ketika tari Jaipong yang sangat fenomenal itu diharamkan, apakah mereka marah?

TIDAK. Karena mereka sendiri yang melakukannya. Sebagai orang Sunda saya kira kita lebih baik melakukan introspeksi diri, tidak perlu menyalah-nyalahkan orang lain yang merusak budaya kita, karena orang-orang dalam kita sendiri lebih sadis menghancurkan budaya Sunda kita.

Kita harus menyelamatkan budaya Sunda kita yang luhur dan agung dari kerusakan lebih jauh yang diakibatkan oleh penghambaan kita kepada budaya gurun,

Para nenek sepuh kita sudah ratusan tahun memeluk Islam, tapi mereka tetap menghargai budaya Sunda. Mereka tidak memakai hijab syar’i, apalagi cadar (ajaran dari mana ini) tapi memakai kebaya dan tiung/kerudung busana khas kita. Dan mereka tetap terlihat sopan.

Islam kita dari dulu ialah Islam yang ramah terhadap tradisi. Islam disebarkan melalui media-media seni dan budaya, maka Islam bisa diterima. Sebab kalau Islam dulu datang-datang menguasai dan berpretensi merusak budaya, pasti akan ditolak. Islam Sunda berbeda dengan Islam Arab, masing-masing punya keunikan dan lokalitas sendiri. Kita, orang Sunda, bisa menjadi Islam. Tidak perlu menjadi orang Arab di tanah Sunda. Budaya Sunda itu agung, luhur, mulia, itu warisan para karuhun yang harus kita jaga dan kembangkan.

Berikut surat saya untuk Nining, perempuan Sunda yang pindah ke Bulan karena ingin mengenalkan budaya Sunda ke negeri kahyangan.

 

 

Sumber: dari FB saya

https://www.facebook.com/photo/?fbid=10158973966342599&set=a.375767877598&notif_id=1642853225644273&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

Luhut Binsar Panjaitan tentang Peradaban Islam

Kemarin lusa (20/02/02022) Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), berkunjung ke kampus kami (UIII) di Depok. Saya pun segera menghampirinya untuk mengukur tinggi badan saya dibanding beliau. Ternyata saya kalah tinggi sekitar 20 cm, hahahaaa..

Kedatangan LBP untuk meninjau kesiapan kampus UIII yang akan diresmikan secara terbuka (grand launching) oleh Presiden Jokowi bulan Agustus tahun ini (2022).

LBP diajak berkeliling oleh Pak Rektor dan jajaran Warek. Beliau tampak terkagum-kagum melihat kampus yang sangat megah dan luas tersebut. Pandangan beliau tentang peradaban Islam sangat menarik, silakan baca, saya membuat beritanya di sini:

https://uiii.ac.id/news/headline/256/the-visit-of-luhut-binsar-panjaitan-to-uiii

 

 

Puisi dan Shalawat di Ultah Ulil Abshar Abdalla

Helo teman-teman bloger, saya suguhkan rekaman acara milad Gus Ulil Abshar Abdalla pada Jumat lalu (14/01/2022) yang menghadirkan narasumber Prof Musdah Mulia, Prof Mulyadi Kartanegara, Dr. Neng Dara Affiah, Pendeta Dr. Martin Sinaga, Dr. Rizal Malarangeng, KH Yahya C. Staquf (Ketum PB NU), dll.

Saya diminta membaca puisi yang saya tulis untuk Ulil di hari ultahnya tsb, yang berjudul “Jalan Berbelok ke Baitullah.”

Silakan anda simak testimoni para pakar tentang tokoh kontroversial Ulil Abshar Abdalla yang menggegerkan jagat raya keislaman selama 20 tahun terakhir. Tapi kalau mau langsung ke bagian saya membaca puisi dan melantunkan salawat silakan di menit ke 1.58.58.

Sebaiknya anda klik Watch on Youtube. Jangan lupa like, komen, dan subscribe kanal Caknurian Urban Sufism ya. Trm kasih, lho. 🙂

Islam Progresif di Singapura

Anak-anak muda Muslim (Melayu) di Singapura beruntung punya mentor seperti Mohamed Imran Mohamed Taib . Dia adalah benteng terhadap penetrasi ideologi ekstremisme dan sekaligus menjadi representasi muslim progresif dengan pergaulan lintas regional dan lintas iman.
Dalam 15 tahun terakhir Imran aktif mengembangkan jaringan dan membina hubungan dengan kalangan LSM/NGO, lembaga riset, kampus, aktivis pergerakan Islam, maupun intelektual bebas di Indonesia dan Malaysia.
Setidaknya dalam setahun dua kali dia membawa anak-anak muda muslim Singapura datang ke Indonesia dan berdialog dengan kalangan yang saya sebutkan di atas. Dengan begitu mereka mengetahui isu-isu mutakhir atau wacana yang tengah menjadi perbincangan publik. Mereka menyambangi Wahid Institute, Paramadina, CSRC UIN Jakarta, dan lain-lain termasuk sejumlah pesantren.
Imran sangat akrab dengan gagasan-gagasan Islam progresif dari tokoh-tokoh seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, KH Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, dll. Semula saya tidak menduga bahwa pikiran-pikiran kontroversial dari para pemikir seperti Harun, Cak Nur, Gus Dur, bisa diperkenalkan kepada kalangan Muslim Melayu di Singapura. Tapi Imran dengan rileks saja membawa pikiran mereka ke majelis pengajian Melayu hingga diskusi di kedai-kedai kopi pinggir jalan.
Belasan tahun hal itu ia lakukan melalui kelompok minoritas kreatif (creative minority) bernama The Reading Group (RG). Diskusi-diskusi di RG meluas dari masalah agama hingga sains, filsafat, sastra. Tak jarang para pemikir/aktivis dari Indonesia diundang ke forum ini.
Sekarang, entah sudah berapa banyak alumni RG di bawah mentoring Imran. Tapi yang pasti mereka adalah anak-anak muda yang sudah terbebaskan dari belenggu eksklusivisme religius yang rentan terhadap paparan ideologi ekstremis .
Maka saat ini, cara berpikir anak-anak muda Muslim Singapura tidak jauh berbeda dengan kaum muda NU dan Muhammadiyah yang progresif di Indonesia.
Jika anda, periset atau akademisi ingin mengetahui perkembangan Islam progresif di Singapura maka Imran adalah orang yang tepat untuk tempat bertanya. Dia adalah tokoh kunci dalam perkembangan ini, selain Azhar Ibrahim (NUS), teman seperjuangannya.
Selamat ulang tahun sahabatku, Imran, semoga selalu sehat dan dapat mempertahankan stamina dalam perjuangan yang masih panjang.
Jakarta, 10 Januari 2022
Ahmad Gaus
Mungkin gambar 1 orang dan teks

Menunggu Ulil Jilid Dua

Selamat ulang tahun untuk sahabat saya, Ulil Abshar Abdalla semoga selalu sehat, dan terus menginspirasi. Sebagai kado ultah kali ini saya persembahkan sebuah kolom berjudul “Menunggu Ulil Jilid Dua” di Geotimes.co
Selamat membaca.

NOBEL SASTRA UNTUK DENNY JA ?

Kawan saya, Denny JA sudah resmi menjadi salah satu kanditat dalam ajang penghargaan sastra paling bergengsi di dunia yakni Penghargaan Nobel (Nobel Prize) yang bermarkas di Swedia. Para pemenang biasanya diumumkan di akhir tahun.

Adalah Komunitas Puisi Esai Asean (KPEA) yang mendaftarkan nama Denny JA ke Swedish Academy, panitia Nobel bidang sastra. KPEA adalah komunitas sastra terbesar di dunia. Karena itu, wajar saja kalau mereka berkepentijngan akan lahirnya pemenang penghargaan Nobel Sastra dari kawasan Asia Tenggara, yang sejauh ini memang belum pernah ada. Padahal penghargaan Nobel sudah berusia 120 tahun.

Salah satu kriteria Nobel ialah bahwa kandidat haruslah seorang inovator atau pembaharu di bidangnya. Dalam hal ini saya kira Denny JA sudah cukup mumpuni. Ia merintis apa yang disebut Puisi Esai. Berbeda dengan puisi lain, puisi esai ditulis berdasarkan fakta yang berdenyut dalam dinamika sosial dan sejarah. Ditulis panjang berbabak, tokoh-tokoh dalam puisi esai adalah manusia kongkret. Di tangan Denny JA, puisi menjadi media untuk menyuarakan isu-isu kemanusiaan seperti diskriminasi dan hak asasi manusia. Visinya ialah kesetaraan umat manusia. Puisi esai juga menjadi sastra diplomasi yang melibatkan sastrawan-sastrawan besar dari negeri-negeri jiran Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand. Di kalangan mereka, Denny JA disebut sebagai Bapak Puisi Esai. Dalam sepuluh tahun terakhir sudah terbit 150 buku puisi esai yang merekam dinamika dan isu-isu sosial dari 34 provinsi, termasuk buku-buku puisi esai dari negeri-negeri jiran di atas.

Beberapa tahun lalu, sebelum pandemi, saya sempat bertemu dan mengobrol dengan Denny, Elza, Jonminofri, Satrio, dll, di acara ulang tahun seorang teman. Di situ Denny sempat menanyakan perihal kriteria penghargaan Nobel Sastra. Jonminofri selaku wartawan senior menjelaskan prosedurnya, antara lain mendaftarkan atau didaftarkan oleh pihak lain. Karena tidak mungkin panitia mencari sendiri kandidat dari ribuan sastrawan di muka bumi.

Elza dan Satrio menambahkan bahwa karya-karya yang diajukan harus sudah dalam bahasa Inggris. Saya, karena awam dalam soal tersebut, hanya bilang bahwa kalau ingin mencapai kejayaan maka harus sering-sering puasa Nabi Daud. 😄

Setelah itu saya tidak pernah bertemu dia lagi. Tiba-tiba, akhir tahun lalu, ramai pemberitaan mengenai Denny JA kandidat Nobel Sastra. Saya pun mengecek. Ternyata benar, karya-karyanya sekitar 300-an sudah tersedia dalam bahasa Inggris. Dan nama Denny JA sudah didaftarkan oleh KPEA.
Kontroversi pun merebak, disertai sinisme dan caci maki.

Tapi saya sudah lama mengenal Denny. Dia bukan tipe orang yang gentar dengan polemik dan kritik. Dia putra Palembang yang mewarisi darah Sriwijaya yang bergolak di laut Karimata dan Melaka. Dia hanya fokus pada tujuan besarnya. Bahkan ada kesan, dia menikmati hujatan dan sumpah serapah yang ditujukan pada dirinya. Semakin dicecar semakin berkibar. Dia berpegang pada kata-kata “To avoid criticism say nothing, do nothing, and be nothing”. Dan dia menolak menjadi nothing.

Lagi pula, dalam kasus Nobel Sastra, banyak pemenangnya yang dihujat dan dianggap tidak pantas seperti belum lama ini dialami oleh Bob Dylan (Amerika Serikat), Abdulrazak Gumah (Tanzania), dll. Tokh mereka jalan saja. Dan dunia tetap berputar..

Saya senang mendengar cerita dari Elza bahwa Denny belakangan rajin melakoni puasa Nabi Daud. Alhamdulillah. Usaha sudah dilakukan, doa dipanjatkan, dan nama sudah didaftarkan. Soal kalah menang itu urusan belakangan. Yang penting ikut berlomba dulu. Sebab, hidup yang berguna memang harus diperjuangkan. Tidak ada makan siang yang gratis, bukan?

Hari ini Denny JA berulang tahun. Sebagai kawan saya berdoa semoga ia selalu dianugerahi kesehatan, keberkahan, dan panjang umur. Dan semoga apa yang dicita-citakan tercatat di lauhil mahfudz dan beroleh ridho dari Allah SWT. Puisi ultahnya saya posting ulang dari tahun lalu karena masih relevan. 😆

Jakarta, 4 Januari 2022
Ahmad Gaus

 

 

Simfoni untuk Boni

Selamat ulang tahun, Mas Boni (Dr. Nur Iman Subono) sehat selalu dan jangan lupa bahagia.