Burung Gereja dan Asal-Usul Toleransi Agama

– Untuk Pendeta Albertus Patty Burung gereja yang setiap pagi berkerumun di halaman rumahku, hari ini raib entah ke mana Tapi samar-samar kudengar kabar bahwa setiap minggu pagi mereka sibuk menyambut para jemaat yang akan melakukan misa-kebaktian di gereja Sungguh perbuatan yang mulia, mereka mau meramaikan ibadat orang-orang yang berbeda agama, tanpa takut kehilangan akidahContinue reading “Burung Gereja dan Asal-Usul Toleransi Agama”

[Puisi] Kota Yang Ditinggalkan

Kota Yang Ditinggalkan Kapan lagi angin gunung akan bertiup ke kota menaburkan benih pepohonan di tubuh kita agar tumbuh menjadi hutan! Sungai-sungai adalah nafas kita yang berhulu di cakrawala beribu-ribu tahun mengalir menuju muara jiwa beribu-ribu perahu berlayar di atasnya membawa sendiri mata air dari telaga dan kita masih saja bicara tentang kearifan purba melaluiContinue reading “[Puisi] Kota Yang Ditinggalkan”

[Puisi] ELEGI BULAN APRIL — Catatan kelam wabah Corona

  Elegi Bulan April (Catatan kelam wabah Corona)   Ahmad Gaus   Kuantar Maret ke pintu gerbang dengan tubuh menggigil Seperti melepas seekor burung merpati yang sakit pilek Hujan terakhir telah kucatat pada petang hari yang muram Pemakaman sepi dari orang-orang yang kehilangan keluarga, kekasih, dan sahabat mereka Tanah-tanah bercerita, kematian karena wabah penyakit begituContinue reading “[Puisi] ELEGI BULAN APRIL — Catatan kelam wabah Corona”

SEBUAH KAMAR

SEBUAH KAMAR Akhirnya kau pergi juga kulipat daun pintu dan diam-diam kumasukkan ke dalam tasmu suatu hari nanti kau akan teringat sebuah kamar di kepalaku yang pintunya selalu terbuka — menghadap ke laut tempat kau biasa berbaring seperti turis asing sambil menikmati suara ombak burung-burung camar menarik-narik rambutmu hingga kau tertidur dan bermimpi sedang beradaContinue reading “SEBUAH KAMAR”