Burung Gereja dan Asal-Usul Toleransi Agama

Untuk Pendeta Albertus Patty
pdt-albertus-patty-_141225181351-431
Burung gereja yang setiap pagi berkerumun di halaman rumahku, hari ini raib entah ke mana
Tapi samar-samar kudengar kabar bahwa setiap minggu pagi mereka sibuk menyambut para jemaat yang akan melakukan misa-kebaktian di gereja
Sungguh perbuatan yang mulia, mereka mau meramaikan ibadat orang-orang yang berbeda agama, tanpa takut kehilangan akidah
Dulu, kata sahibul hikayat, burung gereja itu sebenarnya adalah burung-burung masjid
Mereka senang berkerumun di sekitar menara untuk mendengarkan azan
Hikayat mengatakan, mereka itu hewan yang paling religius, yang kehidupannya tidak pernah jauh dari rumah ibadah
Suatu hari, di halaman masjid diadakan sunatan massal
Mereka terkejut melihat “burung” anak-anak dipotong-potong begitu rupa dan mengucurkan darah
Kalau anak orang saja bisa dibuat begitu, bagaimana dengan kita. Begitu pikir mereka
30063030-288-k521091
Sejak itu mereka berbondong-bondong pindah ke gereja
Bermain dengan bebas di halaman gereja tanpa rasa takut dipotong, dan membuat sarang di sekitarnya
Para pendeta dan pastur tidak pernah berpikir untuk membaptis mereka, karena
jumlahnya terlalu banyak dan sulit diidentifikasi
Maka sampai sekarang, konon, burung-burung gereja itu tetap muslim
Mereka bersahabat baik dengan pastur/ pendeta dan para jemaat
Dan tanpa diminta mereka akan ikut menjaga acara-acara penting gereja seperti misa atau kebaktian
Itulah asal-usul toleransi agama
Kadang mereka juga dicap burung kafir atau burung murtad
Tapi mereka tidak peduli
 
***
Baca juga:

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

[Puisi] Kota Yang Ditinggalkan

079521000_1581601682-shutterstock_1608967960

Kota Yang Ditinggalkan

Kapan lagi angin gunung akan bertiup ke kota
menaburkan benih pepohonan di tubuh kita
agar tumbuh menjadi hutan!

Sungai-sungai adalah nafas kita
yang berhulu di cakrawala
beribu-ribu tahun mengalir menuju muara jiwa
beribu-ribu perahu berlayar di atasnya
membawa sendiri mata air dari telaga
dan kita masih saja bicara tentang kearifan purba
melalui huruf dan angka-angka.

Berapa banyak kota yang dibangun di atas makam
kesunyian sukma-sukma manusia
Berapa banyak peradaban yang membusuk
dalam piramida kurban manusia.

Waktu berkejaran, mimpi terus disusun
dimasukkan ke dalam keranda
aku memandangi sepi menyergap jalan-jalan kota
musim kemarau diam-diam
menyusup lewat jendela.

– a poem by ahmad gaus

[Puisi] ELEGI BULAN APRIL — Catatan kelam wabah Corona

lockdown01

 

Elegi Bulan April

(Catatan kelam wabah Corona)

 

Ahmad Gaus

 

Kuantar Maret ke pintu gerbang dengan tubuh menggigil

Seperti melepas seekor burung merpati yang sakit pilek

Hujan terakhir telah kucatat pada petang hari yang muram

Pemakaman sepi dari orang-orang yang kehilangan keluarga,

kekasih, dan sahabat mereka

Tanah-tanah bercerita, kematian karena wabah penyakit

begitu lengang, begitu tiada

Seperti hidup itu sendiri yang hanya dilalui

 

Kita yang terbiasa merayakan kesedihan tak sanggup

menerima kenyataan bahwa mati adalah kesunyian

Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja

kita mengingkarinya dengan keramaian

dan bunyi-bunyian

 

Kita yang selalu berdoa melalui pengeras suara

kini hanya bisa mengirim doa dari pintu rumah yang tertutup rapat

Kendaraan dikunci, pasar-pasar dikunci, kota-kota dikunci

Besok tidak pasti siapa lagi yang akan diantarkan

oleh wabah ini ke pemakaman

Kita gelisah membayangkannya,

karena kita adalah tawanan paling lemah

dari ketidakpastian.

Ciputat, 01 April 2020

 

 

CORONA (Dewi Kahyangan)

 

Ahmad Gaus

 

Begitu banyak cerita tentang dirinya

Tapi dia tetaplah misteri

Ada yang bilang dia mikro-organisma belaka

Ada yang percaya dia adalah setan yang melarikan diri dari neraka

Atau para dewa yang turun ke bumi untuk kembali menguasai dunia

 

Aku sendiri lebih suka membayangkannya sebagai dewi kahyangan yang

datang berselendang bianglala

Begitu lembut namun perkasa, membentangkan sayapnya

dari timur ke barat

seperti menantang manusia

 

Dewi kahyangan meradang karena dicampakkan

dan kini menjelma kuntum mawar yang mengembara

dalam pikiran manusia

menusukkan duri-durinya dalam tidur mereka

 

Setiap malam orang-orang gelisah membayangkan kematian

kerlip bintang hilang dari pandangan

sajak-sajak cinta terasing dari kehidupan

hanya sosok tak kasat mata yang terbayang

seperti dewi kahyangan dalam cahaya bulan  

berjalan mendekat dan mengatakan ‘aku mencintaimu’

 

Ciputat, 01 April 2020

 

Puisi-puisi di atas dimuat juga dalam:

https://cakradunia.co/news/puisi-puisi-covid-19-ahmad-gaus/index.html#

——————–

Ahmad Gaus, adalah seorang dosen dan penulis. Ia mengajar matakuliah bahasa dan budaya di Swiss German University (SGU), Tangerang. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Kutunggu Kamu di Cisadane (Puisi Esai, 2013), dan Senja di Jakarta (2017).

SEBUAH KAMAR

c5e20d2b-e736-4798-85cf-43f117ae6520

SEBUAH KAMAR

Akhirnya kau pergi juga
kulipat daun pintu dan diam-diam
kumasukkan ke dalam tasmu
suatu hari nanti kau akan teringat
sebuah kamar di kepalaku
yang pintunya selalu terbuka — menghadap ke laut
tempat kau biasa berbaring seperti turis asing
sambil menikmati suara ombak
burung-burung camar menarik-narik rambutmu
hingga kau tertidur dan bermimpi
sedang berada di salon kecantikan
kau berdandan begitu meriah
seperti kota yang tengah berulang tahun.

“Aku pergi sekarang,” Katamu melepas pelukan.
“Duniaku menunggu di sana.”

Kota telah bersiap menyambutmu
berhias dengan lampu dari kunang-kunang
jalan-jalannya terbuat dari lidah orang-orang
yang tak kau kenal
gedung-gedungnya menjulang tinggi
melebihi keangkuhanmu
masuklah ke sana melalui pintu yang kuletakkan
di dalam tasmu, dan carilah kamar kosong
yang menghadap ke laut.

Jakarta, Juli 2019
IG: ahmadgaus68

Novel terbaru saya

Sila baca sinopsisnya di sini Hujan dalam Pelukan

Cover Hujan dalam Pelukan

[Warning: for adult only]