Teman Abadi Kerinduan

f7259957d7f54c67604ca02f39ed3da3

TEMAN ABADI KERINDUAN

Sekali waktu di tengah hujan
kita bertemu di sebuah persimpangan
bercerita tentang kehidupan
kau bilang, sayap-sayapmu hilang
dicuri kupu-kupu
dalam perjalanan menuju tempat terjauh
dalam hidupmu
sedang perahuku patah dayungnya
saat bertolak ke pulau
yang belum pernah kutempuh
dalam hidupku

Angin laut menyatukan kita
kau ikat rambutmu di layar perahuku
dan kusandarkan perahuku
dalam tidurmu

Ombak begitu lama
mercusuar tidak selalu menyala
tapi masih ada isyarat samar-samar
dari kelepak burung camar

Sayang, di darat pun tak ada peta
sebab perjalanan ini memang buta
itulah kenapa kita berpegangan tangan

Menanam flamboyan di tepi-tepi jalan
menunggu bunganya berguguran seperti bulan
dan menyerah begitu indah
pada penderitaan

Kita tahu di sana ada
keluh-kesah dan harapan
teman abadi kerinduan

 Baca juga: Jalan Terjal

Burung Gereja dan Asal-Usul Toleransi Agama

Untuk Pendeta Albertus Patty
pdt-albertus-patty-_141225181351-431
Burung gereja yang setiap pagi berkerumun di halaman rumahku, hari ini raib entah ke mana
Tapi samar-samar kudengar kabar bahwa setiap minggu pagi mereka sibuk menyambut para jemaat yang akan melakukan misa-kebaktian di gereja
Sungguh perbuatan yang mulia, mereka mau meramaikan ibadat orang-orang yang berbeda agama, tanpa takut kehilangan akidah
Dulu, kata sahibul hikayat, burung gereja itu sebenarnya adalah burung-burung masjid
Mereka senang berkerumun di sekitar menara untuk mendengarkan azan
Hikayat mengatakan, mereka itu hewan yang paling religius, yang kehidupannya tidak pernah jauh dari rumah ibadah
Suatu hari, di halaman masjid diadakan sunatan massal
Mereka terkejut melihat “burung” anak-anak dipotong-potong begitu rupa dan mengucurkan darah
Kalau anak orang saja bisa dibuat begitu, bagaimana dengan kita. Begitu pikir mereka
30063030-288-k521091
Sejak itu mereka berbondong-bondong pindah ke gereja
Bermain dengan bebas di halaman gereja tanpa rasa takut dipotong, dan membuat sarang di sekitarnya
Para pendeta dan pastur tidak pernah berpikir untuk membaptis mereka, karena
jumlahnya terlalu banyak dan sulit diidentifikasi
Maka sampai sekarang, konon, burung-burung gereja itu tetap muslim
Mereka bersahabat baik dengan pastur/ pendeta dan para jemaat
Dan tanpa diminta mereka akan ikut menjaga acara-acara penting gereja seperti misa atau kebaktian
Itulah asal-usul toleransi agama
Kadang mereka juga dicap burung kafir atau burung murtad
Tapi mereka tidak peduli
 
***
Baca juga:

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

Mata yang Indah

“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

(“Resah”, oleh Payung Teduh)

MATA YANG INDAH

Mata yang indah
adalah seribu kunang-kunang
yang berpindah dari lembah
ke taman pedestrian
dan membawaku kembali duduk
di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.

Walau langit gelap
mata itu tetap purnama
tapi aku tak ingin menatapnya
karena aku akan tersiksa
maka kubiarkan kaki berjalan
dalam kegelapan.

Mata yang indah adalah muara
pelabuhan bagi biduk-biduk
resah dan kebahagiaan
dalam mata yang indah
kehidupan selalu basah
karena di kelopaknya yang rawan
hanya ada musim penghujan.

03/09/17
Rumah Budaya Nusantara
PUSPO BUDOYO, Tangsel.

Baca juga: [Puisi] Z

[Puisi] Ketupat Lebaran

lebaranketupat

KETUPAT LEBARAN

Anak-anak membakar petasan di ujung gang dan dilemparkan begitu saja ke arahku

Senyampang ledakan persis di wajahku, aku terlempar jauh sekali

Ke masa kanak-kanak, di bawah pohon kelapa

Ketika nenekku mengajari menganyam ketupat.

“Nanti malam malaikat-malaikat akan turun,” katanya. “Kita beri mereka makanan enak supaya nanti kita ditunjuki jalan ke surga.”

Malam hari kulihat banyak sekali ketupat di mushalla tempat kami salat tarawih

Tapi usai qunut dan witir para jamaah melahap ketupat-ketupat itu dan sebagian dibawa pulang hingga tidak ada yang tersisa.

“Aku tidak melihat para malaikat makan ketupat, ke mana mereka?” Tanyaku.

Imam tarawih, yang tidak lain adalah kakekku, menjelaskan bahwa para malaikat akan datang di sepertiga malam. Maka malam itu aku dan teman-teman berjaga di mushalla. Sebagian memukul bedug dan yang lain saling memijat bergantian dengan cara menginjak badan. Tidak ada satu pun yang mengaji karena kami khawatir malaikat datang tanpa diketahui.

Lewat tengah malam listrik padam. Tapi langit begitu terang. Para malaikat beriringan membawa obor yang dibuat oleh nenekku. Menyebrangi sungai yang masih jernih dan luas di kampungku.

Penduduk mengikuti para malaikat itu dari belakang. Kakekku menyerukan agar semua berbaris rapi menuju sebuah bukit. Itulah tempat keutamaan, katanya, di mana para nabi telah menunggu ribuan tahun lamanya.

“Terus berjalan, terus!” Kakekku berseru lagi. Semua mengikuti perintahnya, menembus malam yang diterangi cahaya obor. Makin jauh kami berjalan suasana makin sunyi. Sampai ke lereng bukit. Kami mendengar rumputan dan batu-batu bertakbir.

Dari kejauhan aku mendengar sayup-sayup bunyi petasan berubah perlahan-lahan menjadi suara takbir. Melesap masuk ke lorong waktu yang sangat panjang, yang menghubungkan ruh dan jasadku.

Malam ini aku melihat almarhum kakek dan nenekku turun dari bukit membawa ketupat.

Ciputat, 04-06-2019

Ahmad Gaus

[Poem] Dust in the Shoes

 

Dust in the Shoes

Every time I ask how much you love me

you enter your shoes and tell me about the journey

to your dream home by sowing love throughout the seasons

of the years of suffering, but when you arrive at the

gate of the house there is nothing in

your shoes except dust.

(IG: ahmadgaus68)

Screenshot_2020-05-02-13-22-15-2

 

Puisi-puisi saya yang dipublikasikan di sini telah saya posting terlebih dulu di instagram. Untuk mendapatkan puisi saya lebih awal setiap harinya sila follow my IG and mention for following back. 

IG: ahmadgaus68