Categories
Puisi

SAIL AND LAND

 

br

 

 

SAIL

if I must sail later

I want to depart from your breasts

and land at your base

 

BERLAYAR

Kalau nanti aku harus pergi berlayar

aku ingin bertolak dari payudaramu

dan berlabuh di pangkalmu

 

Baca juga:

KAU

Categories
Puisi

[Puisi] SURAT CINTA UNTUK CORONA

Corona6

Surat Cinta untuk Corona

Dear Corona,

KUTULIS surat ini saat hujan turun di sore hari

Setelah panas terik yang membakar sepanjang siang tadi

Orang-orang berharap engkau tersungkur di tanah

Lalu bangkaimu diseret air hujan hingga jauh ke laut

Begitulah, sengaja kuawali surat ini dengan meringkas “kebencian kolektif” yang ditujukan kepadamu.

Agar engkau tahu di mana posisimu sejauh ini.

SEKARANG  tidak ada orang yang pergi ke taman untuk melihat pelangi

Atau mengikat janji dengan kekasihnya di sore hari yang indah

Mereka takut engkau ada di sana

Sebab saat ini engkau memang lebih menakutkan daripada nenek sihir dengan sapunya.

OH YA,  ngomong-ngomong soal nenek sihir, pernahkah kau mendengar cerita tentang penyihir yang seumur hidupnya tidak pernah tertawa?

Sekali waktu dia tertawa, seekor tikus bisa berubah menjadi gadis cantik. Alangkah saktinya.

ADA juga kisah tentang penyihir jahat yang jiwanya tersimpan dalam buah pir.

Begitu orang-orang tahu buah pir dapat menurunkan berat badan, penyihir itu mati berkali-kali. Karma bagi penjahat.

Kesaktianmu mungkin sama dengan para penyihir itu

(Dan mungkin juga kelemahanmu)

Abrakadabra!

Sekali tepuk engkau berhasil menaklukkan dunia

Mengubah aturan di semua negara

Memaksakan moralitas baru dalam hubungan sosial

Menghentikan kemacetan lalu lintas di kota-kota yang sibuk

Mengeluarkan orang-orang dari penjara dalam jumlah yang sangat besar

ENGKAU  juga memberi intrupsi pada pemahaman agama yang dogmatik

Mengusir kaum beriman dari rumah-rumah ibadah

Tapi memaksa orang untuk lebih dekat dengan Tuhan.

ENGKAU sebuah paradoks untuk kebatilan dan kebenaran

Nilai-nilai sekarang bukan hanya nisbi tapi jungkir balik

Banyak fenomena harus ditafsir ulang

JADI, engkau memang hebat, Corona

Tidak pernah ada yang bisa melakukan itu sebelumnya

Tapi tahukah kau bahwa seluruh dunia memusuhimu

Perang global sudah dideklarasikan untuk melawanmu

Dan engkau sendirian.

SAAT ini, bila kau lewat di kotaku

Orang-orang sudah mengenakan alat perlindungan diri

Kendaraan militer berjaga di setiap sudut dan tempat-tempat keramaian

Sesekali menyemprotkan tembakan ke udara dan pinggir jalan sehingga mengenai siapa saja

Seperti pasukan tempur yang menembak tanpa sasaran karena musuh tidak terlihat

ENGKAU telah membuat semua orang menjadi bodoh

Membuat malu negara-negara maju yang memiliki persenjataan paling canggih

Semua lumpuh, tidak berdaya di hadapanmu

Korban-korban kematian berjatuhan seperti daun-daun kering diterjang angin

ZAMAN yang murung bertambah murung

Kekerasan, kelaparan, kemiskinan, ada di mana-mana

Apalagi yang mau kau tambahkan

Menegakkan keadilan?

Silakan saja

Tapi lihat itu orang-orang yang kehilangan pekerjaan

Orang-orang yang dikuburkan tanpa didampingi keluarganya

Para malaikat pun tak sanggup berdiri di hadapan takdir mereka yang terasing

AAHHH… aku tidak tahu apalagi yang harus kutuliskan di sini, Corona

Tapi yang pasti sore ini sehabis hujan, aku ingin melihat kau menari bersama anak-anak di halaman

Tanpa mengancam

Tanpa ada korban

Itu saja.

WASSALAM

Ahmad Gaus

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Kepada Siapa Engkau Bicara

 

 

kubicki-woman-digital-art-portrait-computer-painting-photoshop-female-design

 

Kepada Siapa Engkau Bicara

 

Akhirnya kau tegakkan lagi kaki-kaki langit itu

Setelah hujan karbon, kiamat debu, dan tubuh-tubuh yang berubah jadi arang

Tapi kepada siapa engkau bicara jika pohon-pohon saja menutup telinga

Hewan-hewan piaraan mengungsi ke hutan

Sebab di sana mereka tidak perlu berpura-pura menjadi manusia.

 

Engkau tahu sejarah sedang berselisih paham dengan pikiran

Ia mengambil jalan lurus atau menikung

Tapi pikiran ingin berbalik arah

Maka duduk saja di persimpangan

Menunggu kereta lewat di keningmu.

 

Lihat, matahari keluar dari ruang pesta dengan tubuh limbung

Mungkin semalaman dicekoki minuman keras

Tapi mau bagaimana lagi, hari ini dia harus berangkat ke sekolah

Belajar lagi menghitung jumlah manusia di jalan raya, rumah ibadah,

gorong-gorong

Belajar lagi mengucapkan nama Tuhan dengan lidah yang lembut

Sementara kita tetap di sini

Mengenang mereka yang pernah menanam pohon-pohon cahaya

dengan wajah murung

Sebab kita tahu dunia sebenarnya sudah hancur

dalam pot bunga.

ahmadgaus

 

Kredit gambar:

Jarostaw Kubicki Mixes up the Media

Kredit Featured Image:

 

 

 

Categories
Puisi

KAMU DAN BUKU

Selamat Hari Buku Nasional

 

7db004b68cf48ed66353bde533b8cc5f

KAMU DAN BUKU

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku
Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku
Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman
Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.

Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu
Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan
Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu
Sebab waktuku tidak akan cukup.

Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu
Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain
Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks
Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan
Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu
Tapi itu salah kamu juga, sih
Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu
Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.

Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial
Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku
Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat
Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks

Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran
Banyak penerbit sudah gulung tikar
Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah

Tapi itu hanya kesedihanku belaka
Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.

Gedung Film, 17 Mei 2019
Ahmad Gaus
Baca juga: Jalan Terjal

Categories
Puisi

TAN EK TJOAN

 

20200621_080356

Tan Ek Tjoan

Sebuah bendera berkibar di atas sepotong roti
Melantunkan nada yang terus bertahan
Dari gegap-gempita nyanyian revolusi
Hingga huru-hara zaman yang bergerak makin ke kanan

Tanah airku, kisah Tan, berada di sebelah kiri jalan
Di antara deretan toko yang kerap menjadi sasaran penjarahan
Nasionalismeku terhimpit di halaman buku-buku sejarah yang tak pernah dibaca
Maka kucetak saja negeriku dengan roti gambang, bimbam, roti cokelat oles, dan nougat.

Roti-roti bernyanyi di atas gerobak dorong
Terseok-seok di gang-gang kecil pinggiran kota
Menyapa orang-orang kampung untuk menemani mereka minum teh di pagi dan sore hari

Roti, roti, roti...
Sebuah nyanyian dari masa lalu yang menyayat jiwa
Roti, roti, roti…
Sepenggal sejarah yang menitikkan airmata

(IG: ahmadgaus68)

 

Categories
Puisi

[Puisi] Elegi untuk Ibu Omi

 

omi1

ELEGI UNTUK IBU OMI *)

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di sisi jendela
Di tepi pagi yang sunyi
Memandangi bunga-bunga di taman
Tumbuh, merekah, kemudian layu dan jatuh ke bumi
Menikmati kicau burung-burung di halaman
Sebelum mereka terbang satu persatu menuju cakrawala

Seperti itu pula orang-orang yang kita cintai
Keluarga, sahabat, handai taulan
Satu demi satu mereka pergi meninggalkan kita
Sebagian telah berpulang menuju keabadian
Sebagian lagi masih menunggu antrian
Di simpang jalan kehidupan

Mereka yang pergi bukan tidak mencintai kita
Tapi masing-masing punya dunia sendiri
Dunia yang tidak bisa kita kunjungi sekalipun hanya dalam mimpi (begitu kata penyair Libanon-Amerika, Khalil Gibran, dalam puisi “On Children”)
Dunia yang dibangun untuk masa depan mereka yang lebih baik
Agar kelak, mereka pun dapat menikmati hidup bahagia seperti kita
Duduk dekat jendela
Ditemani secangkir teh di sore hari yang sunyi

Kesunyian bukanlah tragedi
Seperti ranting tua yang jatuh ke jalan
Dilindas roda kendaraan
Bukan!

Kesunyian itu seperti tsunami yang berdiam di dalam botol
Menunggu tangan-tangan malaikat menumpahkannya di kanvas kehidupan
Dari kesunyian lahir bayi-bayi mungil bernama kearifan, kebijakan, dan peradaban

Kesunyian adalah sahabat lama yang kita nantikan
Sebab dialah yang akan menemani kita
Mengumpulkan serpihan jiwa yang berserakan
Di sepanjang perjalanan

Kesunyian menguji kesabaran kita hingga batas terjauh
Untuk menghubungkan dua dunia
Yang fana dan yang baqa

Kesunyian bukanlah alasan untuk merasa sunyi
Sebab seluruh semesta ini, kata penyair sufi Jalaluddin Rumi, ada di dalam diri
Mengapa kita harus merasa sunyi

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di tepi jendela, di ujung senja yang sunyi
Tapi kita semua membutuhkan kesunyian
Sebab pada dasarnya kita memang harus belajar mempersiapkan diri
Menuju kesunyian yang abadi.

PIM 3 Jakarta, 26/01/2019

*) Ibu Omi Komaria Madjid adalah istri almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), cendekiawan, guru bangsa, dan pemimpin besar revolusi pemikiran yang pernah dimiliki bangsa ini.

Note:
Puisi ini dibacakan di acara pertemuan Caknurian II dan tasyakuran ulang tahun ke-70 Ibu Omi Madjid di Pondok Indah Mal 3, Jakarta. Terima kasih kepada Prof Komaruddin Hidayat sebagai host acara, dan Kiai Ulil Abshar Abdalla yang menginspirasi lahirnya puisi ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang hadir di acara ini. Ingatlah: Semua akan berpuisi pada waktunya. 😂

omi2

omi3

 

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Surat Kecil untuk Tuhan

surat kecil1

SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Anak-anak lahir dari rahim semesta. Tangisan mereka adalah musik paling tua yang diciptakan oleh hening. Hingga seisi alam hanyut dalam alunan isaknya. Langit ikut mendengar dan menumpahkan airmata. Anak-anak membawa alat musik, berlarian di jalan-jalan, karena hujan adalah isak tangis mereka sendiri. Setiap butirnya dikumpulkan dan diberikan kepada orang-orang yang lewat — mengira itulah orangtua mereka.

Anak-anak berasal dari negeri asing. Seperti para pengungsi yang datang bergelombang. Ada yang beruntung mendapat suaka, belaian tangan bapak, dan pasokan air susu yang berlimpah dari payudara ibunya. Namun sebagian lagi menjadi para pengungsi yang tersesat. Mereka dibesarkan oleh debu, tembok berduri, dan gerbong-gerbong kosong, tempat mereka memandang langit —  dari mana mereka dikirim.

Dan malam ini Kau lihat sendiri, mereka berusaha sembunyi-sembunyi, mencuri bulan dengan galah yang ujungnya diberi belati. 

puisi: ahmad gaus

(Terinspirasi oleh film “Surat Kecil untuk Tuhan” produksi Falcon Picture yang beredar di bioskop bulan Juni 2017)

20140615_215958_sekolah-kolong-jembatan

 

Categories
Puisi

[Puisi] MATA IBU

ibu-01

Mata Ibu

Dari apakah Tuhan menciptakan mata ibu
Begitu luas hingga mampu menampung isi semesta
Tempat matahari beredar
Dan bulan yang selalu purnama
Bintang-bintang bertaburan di sana

Di dalam mata ibu ada lautan
Tempat aku berlayar menuju pulau tujuan
Kota-kota yang pernah aku kunjungi
Ada di dalamnya

Setiapkali kutatap mata ibu
Aku menemukan potret diriku
Dari bayi hingga tumbuh dewasa
Aku tetaplah kanak-kanak di matanya

Mata ibu tidak pernah terpejam
Walaupun sedang tertidur ia tahu
Ke mana aku berjalan

Mata ibu terbit sebelum fajar
Dan tidak pernah terbenam
Sepanjang siang
Sepanjang malam

Mata ibu lebih terang dari matahari
Karena mata ibu tidak menciptakan bayangan
Sehingga aku tidak bisa bersembunyi dari pandangannya

Mata ibu lebih tajam dari mata pedang
Setiap kali menatapku
Aku tersungkur dengan darah bercucuran
Dan luka-luka yang tak ingin kusembuhkan

Kelak bila tiba masanya 
Aku ingin mati dalam tatapan matanya

Gedung Film, 14/01/19

Categories
Lomba menulis puisi Puisi

[Info] Lomba Menulis Puisi Natal

UNTUK ANDA YANG MENYUKAI PUISI, saya punya tawaran menarik:  Tulislah sebuah puisi yang berhubungan dengan Natal. Hadiahnya sudah saya siapkan tiga buku puisi saya yang berjudul SENJA DI JAKARTA untuk tiga penulis puisi terbaik (masing-masing satu ya, hehe). Buku ini terbit tahun 2017, sudah diluncurkan di Singapura (November 2017) dan didiskusikan di Malaysia (Desember 2017). Kirimkan puisi anda ke alamat email saya: gaus.poem@gmail.com Saya terima paling lambat tanggal 24 Desember 2018, supaya saya bisa posting di blog saya tepat pada hari Natal. Ok gaeess… selamat menulis puisi dan mendapatkan hadiah buku plus tanda tangan penulis.. 🙂

 

Berikut contoh 2 puisi saya yang berhubungan dengan Natal:

 

CERITA NATAL SEORANG GADIS KECIL

Aku berdiri di halaman gereja
Anak-anak bergaun palma
Menghias pohon Natal dengan lampu aneka warna
Bunga-bunga gladiola, langit merah saga.

Saat lonceng dibunyikan, mereka berlarian
Kemudian larut dalam doa yang dilantunkan
Damai dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kejauhan aku mendengar suara azan
Dibawa angin senja berteluk awan
Azan dan kidung Tuhan saling bersahutan
Menjalin nada, orkestra kehidupan.

Seorang gadis kecil menghampiriku

“Pakailah ini,” katanya menyodorkan topi santa

Aku terdiam. Lama. Kemudian dengan halus aku menolaknya
Ia nampak kecewa. Matanya berkaca-kaca
Aku membungkukkan badan dan berbisik ke telinganya

“Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi topi itu terlalu kecil buat kepalaku!”

Ia tersenyum mengerti

“Kalau begitu ambillah ini,” ujarnya menyodorkan replika pohon Natal, “Tanamlah di tubuhmu!”

“Maaf sayang, ini pun aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya lahan untuk menanamnya,
seluruh tubuhku sudah dipenuhi masjid!”

Ia terdiam. Aku yakin dia tidak mengerti apa yang kukatakan.

Tapi ia bertanya lagi, “Apakah di halaman masjid tidak boleh ditanami pepohonan?”

Aku tersentak. Akhirnya kuraih dia dalam pelukan
Kujelaskan bahwa halaman masjid sekarang penuh oleh kendaraan yang parkir. Tidak ada tempat untuk menanam pohon lagi.
Dia tertunduk. Sedih.

“Jangan kuatir, sayang, pohon Natal ini akan kutanam di samping masjid, dan akan kurawat, setuju?”

Dia mengangguk.

“Terima kasih, Om, Natal itu untuk anak-anak!” ucapnya tersenyum.

Aku pun tersenyum, walaupun tidak mengerti maksud ucapannya.

***

Tangerang Selatan, 24 Desember 2016
Ahmad Gaus

Rima

Ini hadiah buku untuk penulis puisi terbaik:

Senja di Jakarta

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Revolusi dalam Selimut

woman-sleeping-paris-19283419
Sumber Ilustrasi: https://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-woman-sleeping-paris-image19283419

 

REVOLUSI DALAM SELIMUT

Orang hilang menempelkan poster dirinya di pusat keramaian. Pagi hari ketika penduduk sibuk membangunkan pasar yang tertidur di bawah jembatan layang. Seseorang melihatnya berlari mengenakan baju perang, lalu menyelinap ke dalam kamar.

Jendela masih asik bercakap-cakap dengan halaman. Berarti Tuhan sudah pergi pagi ini, pikirnya. Maka diambilnya pedang yang tergantung di dinding dan diselipkan ke dalam selimut. Ia pun tertidur sambil memeluk guling yang terbuat dari kulit perempuan.

Dalam mimpi di pagi hari itu ribuan orang mengeluk-elukkannya sebagai raja. Duduk manis di singgasana dan berkhutbah tentang azab Tuhan bagi siapa saja yang tertidur saat api revolusi dikobarkan. Kemudian ia membujuk orang-orang untuk memenggal kepala mereka dan menggantungkannya di pintu kota.

Waspadalah! Orang-orang saling menyapa dalam rupa manusia. Tapi di tubuh mereka tidak ada siapa-siapa, kecuali api yang ragu-ragu mau membakar kota atau dirinya.

 

16/5/2017

 

 

Categories
Esai Puisi

Chairil Anwar dan Revolusi Puisi: Catatan di Hari Puisi Indonesia

Binatang jalang

Tanggal 28 April adalah hari kematian penyair besar Chairil Anwar, yang diperingati sebagai Hari Puisi Indonesia. Berikut catatan saya atas penyair pelopor Angkatan ’45 tersebut.

Chairil Anwar dan Revolusi Puisi Indonesia
Oleh Ahmad Gaus

RASANYA MUSTAHIL membicarakan jatidiri puisi Indonesia tanpa menyebut nama Chairil Anwar. Sama mustahilnya dengan membicarakan jatidiri bangsa Indonesia tanpa menyebut Bung Karno. Bukan kebetulan bahwa keduanya hidup di zaman yang sama, zaman revolusi, dan sama-sama menjadi patriot bagi revolusi itu sendiri, walaupun di antara keduanya ada selisih usia yang cukup jauh — Chairil Anwar lahir pada 1922 dan Bung Karno lahir pada 1901.

Daya ledak (“explosive power”) terkuat dalam sajak-sajak Chairil Anwar — yang membuatnya terus bergema keras hingga sekarang — sebenarnya juga karena di dalamnya ada mengandung spirit besar dari orang-orang besar semisal Bung Karno itu. Dalam hal anti-kolonialisme Chairil tidak tanggung-tanggung menempatkan dirinya satu barisan dan satu jiwa, dengan Bung Karno, sebagaimana dapat dibaca dalam sajak berikut:

Persetujuan dengan Bung Karno

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Posisi Chairil sebagai penyair-patriotik tidak bisa diabaikan karena sajak-sajaknya yang memberi kesaksian atas zaman yang sedang bergolak tersebut (Aku, Prajurit Jaga Malam, Krawang-Bekasi, 1943, Diponegoro, adalah sebagian dari sajak-sajak yang dimaksud). Bahkan lebih dari sekadar memberi kesaksian tapi juga mampu menghadirkan suasana dan emosi yang kuat pada saat sajak itu ditulis.
Dalam sajak Krawang-Bekasi yang merupakan sajak saduran dari The Young Dead Soldier karya Archibald MacLeish, Chairil juga menyebut tokoh-tokoh penting bangsa ini: Kenang, kenanglah kami/ Teruskan, teruskan jiwa kami/ Menjaga Bung Karno/ menjaga Bung Hatta/ menjaga Bung Sjahrir (1948). Sedangkan dalam sajak Diponegoro ia menulis: … /Di depan sekali tuan menanti/ Tak gentar/ Lawan banyaknya seratus kali/ …/ Sekali berarti/ Sudah itu mati.

Sajak-sajak di atas menempatkan Chairil sebagai penyair paling penting sepanjang sejarah republik. Nama Chairil bukan semata-mata identik dengan sajak namun juga dengan perjuangan kemerdekaan. Tidak setiap penyair memiliki reputasi semacam itu – walaupun hidup di zaman yang sama. Sebagian ada yang tenggelam kemudian hilang ditelan waktu. Chairil terus hidup. Ia benar-benar perwujudan dari kepercayaan mistik bahwa karya seseorang membuatnya tak pernah mati.

Salah satu karya Chairil berjudul “Aku” terus dibaca hingga sekarang. Bahkan bisa dikatakan, sampai saat ini tidak ada puisi di Indonesia yang terkenal melebihi puisi “Aku”. Anak-anak sekolah tingkat dasar sampai pejabat tinggi sangat akrab dengan puisi ini. Dalam buku-buku pelajaran bahasa Indonesia, puisi ini juga masih dicantumkan, dihapalkan, dan dibaca (dideklamasikan) oleh para siswa dalam momen-momen tertentu. Di panggung-panggung agustusan yang tiap tahun digelar di seluruh pelosok negeri, puisi “Aku” masih menjadi pilihan paling favorit untuk dibacakan, selain Krawang-Bekasi.

Puisi “Aku” mengandung spirit pemberontakan terhadap penindasan (penjajahan Jepang). Itulah yang menempatkan Chairil tidak hanya dianggap sebagai penyair tapi juga pejuang. Kosakata yang digunakannya dalam sajak itu adalah kosakata keseharian yang mudah dipahami sehingga siapa saja bisa menikmatinya tanpa kendala bahasa. Itu pula yang membuka aksesnya pada pemahaman awam dan membuatnya sangat popular. Dan sebagaimana dituturkan seorang kritikus sastra, melalui sajak itu Chairil mendayagunakan bentuk, bunyi, dan metafora yang gamblang untuk menikamkan sentakan akustik pada pembacanya.1) Mari kita simak puisi tersebut:

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Sajak itu terdapat dalam antologi Deru Campur Debu 2) dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus,3) yang keduanya merupakan antologi sajak tunggal Chairil Anwar. Selama masa kepenyairannya yang terbilang pendek, Chairil telah menulis 70 sajak.4) Semuanya diterbitkan dalam buku yang berbeda. Selain dalam dua buku di atas, sajak-sajak Chairil juga terdapat dalam Tiga Menguak Takdir yang ditulis bersama Asrul Sani dan Rivai Apin,5) serta dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45.6)

Puluhan tahun kemudian seorang sastrawan dan editor, Pamusuk Eneste, mengumpulkan kembali sajak-sajak Chairil Anwar yang berserakan dalam berbagai antologi dan menerbitkannya di bawah judul Aku Ini Binatang Jalang, yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1986. Buku ini memuat seluruh sajak Chairil Anwar. Sangat beralasan bahwa judul buku ini tidak mengambil salah satu dari judul-judul sajak Chairil, melainkan dari salah satu baris dalam sajak “Aku” yang terkenal itu. Frase “Aku Ini Binatang Jalang” dengan jelas mewakili karakter kepenyairan Chairil Anwar yang diketahui publik sebagai seorang pendobrak yang revolusioner.

Dalam gaya pengucapan dan pilihan diksi sajak-sajak Chairil boleh dibilang tanpa preseden. Pendahulunya, Amir Hamzah, memang bisa disebut sang pendobrak juga. Bahkan Chairil juga menyebut Amir Hamzah sebagai puncak dari angkatan Pujangga Baru. Penyair tersebut diakuinya telah berhasil mendekonstruksi bahasa lama dan menyajikan bahasa Indonesia yang cemerlang.

Namun, di hadapan kebesaran Amir Hamzah, Chairil justru menjadi “binatang jalang” yang meletakkan gaya baru dalam pemakaian bahasa puisi dan membuat perbedaan yang cukup menonjol dengan pendahulunya tersebut. Dan karena itu sering disebut sebagai pelopor pembaruan bahasa puisi. Sejauhmana penyebutan ini absah, mari kita lihat dalam beberapa puisinya.

Pertama-tama di sini akan ditampilkan dua buah puisi karya Chairil yaitu Nisan, yang merupakan puisi awalnya, dan Derai-Derai Cemara,7) yang merupakan puisi terakhirnya. Setelah itu kita akan melihat puisi-puisinya yang lain.

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta..
Oktober 1942

Derai-Derai Cemara

cemara menderai sampai jauh
terasa hari jadi akan malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Membaca puisi Nisan dan Derai-Derai Cemara terasa seperti membaca pantun dengan rima berselang a-b-a-b. Puisi jenis ini mendominasi khazanah sastra Melayu dengan berbagai jenisnya: pantun nasihat, pantun muda-mudi, pantun agama, pantun adat, dan sebagainya. Penulisan puisi berpola pantun Melayu sebenarnya sudah mulai jarang dilakukan oleh para penyair sejak masa Pujangga Baru. Bahkan Sutan Takdir Alisjahbana mengejeknya sebagai ocehan nenek-nenek yang tidak ada kerja.8) Para penyair, termasuk Chairil, mulai menulis dalam bentuk soneta, yang merupakan tradisi sastra Eropa dengan jumlah baris empat belas (4-4-3-3). Setelah diejek dan ditinggalkan, kedudukan pantun bergeser dari tradisi tulis menjadi tradisi lisan. Lalu mengapa Chairil masih menulis puisi bergaya ucap pantun seperti di atas? Apakah dia tidak mendengar suara-suara miring terhadap puisi asli Nusantara tersebut? Bandingkan dua puisinya di atas dengan dua contoh pantun berikut:

Pantun Kiasan

Berburu ke padang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi

Pantun agama

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

Bunyi sajak akhir dua puisi Chairil serupa dengan bunyi sajak akhir dua pantun Melayu di atas. Bagaimana seorang Chairil yang menyebut diri binatang jalang dan disebut sebagai sang pemberontak terhadap pola pengucapan bahasa lama bergaya pantun bisa terjerumus menggunakan persajakan pantun itu sendiri? Kalau kita cermati dua contoh pantun di atas memang tampak serupa, tapi tidak sama, dengan dua puisi Chairil. Ciri pantun Melayu yang tiap barisnya terdiri atas dua periodus,9) dan tiap periodus terdiri atas dua kata (contoh: asam kandis, asam gelugur). tidak muncul secara konsisten dalam puisi Chairil, kecuali pada larik: cemara menderai sampai jauh, dan hidup hanya menunda kekalahan.

Dalam pantun Melayu selalu terdapat sampiran (dua baris pertama) dan isi (dua baris penutup). Lagi-lagi itu pun tidak terlihat dalam puisi Nisan maupun Derai-Derai Cemara. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua larik dalam puisi Chairil adalah isi. Jadi, walaupun puisi Nisan dan Derai-Derai Cemara, berima akhir a-b-a-b sehingga terasa seperti pantun, tampaknya rima itu hanya dimanfaatkan oleh Chairil untuk menghasilkan nada yang seirama supaya terdengar seperti musik yang mengalun indah. Alhasil, puisi Chairil bukanlah pantun dalam pengertian konvensional.

Juga, berbeda dengan puisi-puisi dari pujangga lain yang juga mulai “memberontak” terhadap pola persajakan Melayu konvensional seperti Roestam Effendi dan Amir Hamzah, yang sesungguhnya masih terasa kental kemelayuannya dengan bahasa mendayu-dayu, “puisi pantun” Chairil dibangun dengan susunan kata-kata yang hampir sepenuhnya berbunyi Indonesia yang sedang berteriak menegaskan kemandirian bahasanya sendiri.

Dalam Aku Ini Binatang Jalang yang menghimpun semua puisi Chairil Anwar, tergambar dengan jelas bagaimana pergumulan bahasa Indonesia yang sudah kadung diikrarkan sebagai bahasa persatuan (dalam Sumpah Pemuda) namun berdiri gamang di pundak kejayaan bahasa Melayu yang berabad-abad telah menjadi lingua franca. Bukan hanya citra adiluhung yang melekat dalam bahasa kawasan itu yang menjadi beban untuk ditinggalkan. Namun, estetika sastra yang dibangun dengan kosakata Melayu yang indah telah menempatan puisi ke posisi sakral dengan daya pukau yang mencekam seperti pada puisi-puisi Amir Hamzah.

Puisi-puisi dalam Aku Ini Binatang Jalang merupakan pemberontakan terhadap corak bahasa melankolis yang lazim muncul pada puisi para penyair sebelumnya. Kosakata “binatang jalang” adalah contoh—walaupun jelas bukan satu-satunya—yang menegaskan bahwa efek impresif puisi tidak harus bergantung pada kesakralan kosakata yang digunakannya. Kosakata yang tak suci, “duniawi”, dan dipungut dari jalanan, juga mampu menghadirkan kesan mendalam pada sebuah bangunan puisi. Kalau sampai waktuku/ Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu. Bait ini, kalau diartikan sebagai kepasrahan pada ajal yang bersemayam dalam misteri ilahiyah, sungguh merupakan ungkapan yang tak senonoh dan angkuh. Dan keangkuhan itu dipertegas lagi: Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih perih. Puisi ini ditutup dengan bait yang merupakan ungkapan antiklimaks: Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Apakah dengan memasukkan kosakata yang banal dan tak elok seperti “peluru”, “meradang”, “menerjang”, “luka”, “bisa”, “tidak peduli”, nilai puisi itu menjadi rendah dan kehilangan impresinya? Dengan menilik makna intrinsiknya, puisi itu bukan saja tidak kehilangan daya pukaunya, bahkan justru memberi efek yang lebih tajam pada pesan yang dikandungnya. Dua baris terakhir menegaskan elan vital bagi kehidupan yang ingin terus dijalani selamanya tanpa peduli bahwa ajal menanti persis di hadapannya dengan sikap sempurna.

Puisi-puisi Aku, Nisan, Derai-Derai Cemara, Yang Terampas dan Yang Putus, bahkan juga Cintaku Jauh Di Pulau, berbicara tentang kematian sebagai teka-teki yang kadang dipertanyakan, kadang diterima dengan pasrah sebagai kemestian, dan bahkan ditunggu:

Yang Terampas dan Yang Putus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru
dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
berlaku beku

1949

kelam dan angin lalu

Pribadi si “Aku” yang tegar dalam sosok “binatang jalang” seakan lenyap ditelan kepasrahan dan penerimaan pada nasib manusia yang harus berjumpa dengan ajal di setiap tikungan. Bahkan jiwa yang revolusioner dan menggebu-gebu seperti tunduk menyerah tatkala si “Aku” diperbudak oleh perasaan cinta seperti pada: Hampa, Pemberian Tahu, dan Senja Di Pelabuhan Kecil. Dalam puisi-puisi cintanya yang lebih optimistik seperti Taman, Lagu Biasa, dan Sajak Putih, memang tidak ada ruang bagi kesedihan, dimana kesedihan sudah didendangkan: sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba/ meriak muka air kolam jiwa/ dan dalam dadaku memerdu lagu/ menarik menari seluruh aku (Sajak Putih). Namun jeritan sentimentil dalam puisi-puisi cinta itu tetap terasa kental. Dalam puisi berjudul Doa di bawah ini, si “Aku” bahkan tampak menyerah:

Doa
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal berkedip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpulang

13 November 1943

Kepasrahan semacam itu menjadi anomali pada jiwa yang selalu menikmati kegelisahan dan tidak pernah peduli, sehingga menimbulkan pertanyaan: Apakah ini merupakan kelemahan bagi si “Aku” yang mendakwa diri “binatang jalang”?10) Jawaban dari pertanyaan itu ialah pertanyaan yang lain: Jika bukan dari jiwa yang sentimentil, mungkinkah akan tumbuh cinta yang revolusioner terhadap tanah air? Apa yang bergelora dalam diri Chairil Anwar kalau bukan rasa cinta yang sentimentil terhadap negerinya, yang melahirkan puisi-puisi: Merdeka, Diponegoro, Cerita buat Dien Tamaela, Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, 1943, Catetan Tahun 1946, Prajurit Jaga Malam, dsb? Hanya jiwa yang sentimentil yang menggerakkan tangan seseorang untuk mampu menuliskan rasa cintanya yang mendalam pada tanah air. Pangakuan seperti ini disampaikan pula oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono dalam epilog buku Aku Ini Binatang Jalang: “Bagaimanapun, Chairil Anwar tampil lebih menonjol sebagai sosok yang penuh semangat hidup dan sikap kepahlawanan…. Bahkan sebenarnya… salah seorang penyair kita yang memperhatikan kepentingan sosial dan politik bangsa.”

Sampai sekarang ungkapan-ungkapan yang diambil dari sajak-sajak Chairil Anwar masih terus diingat dan dikutip: Sekali berarti, Sudah itu mati (Diponegoro), Hidup hanya menunda kekalahan (Derai-Derai Cemara), Nasib adalah kesunyian masing-masing (Pemberian Tahu), Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian (Karawang-Bekasi), Sedang dengan cermin aku enggan berbagi (Penerimaan), Orang ngomong anjing nggonggong (Kesabaran), Aku mau hidup seribu tahun lagi (Aku), dan lain-lain.

Sekali berarti

Tidak bisa dipungkiri bahwa puisi Aku merupakan puisi yang paling terkenal dari Chairil Anwar. Namun, mereduksi Chairil menjadi sekadar Aku tentu sebuah simplifikasi. Seluruh puisinya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena dalam keseluruhannya tergambar salah satu tonggak terpenting dalam perkembangan sastra Indonesia. Jika pada Nyanyi Sunyi-nya Amir Hamzah kita membaca kesepian yang mencekam, maka pada Aku Ini Binatang Jalang kita membaca kesepian yang menggelora. Dalam kata-kata Afrizal, sepi dihadirkan sebagai makhluk yang buas.11)

Dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, H.B. Jassin menyebut Chairil Anwar sebagai orang yang pertama-tama merintis jalan dan membentuk aliran baru dalam kesusastraan Indonesia. Para penyair yang lahir sesudahnya pun tidak luput dari pengaruhnya, baik dalam soal wawasan estetik maupun orientasi kepenyairan. Wawasan estetikanya yang membunyikan kesepian eksistensial manusia (sebagai hamba Tuhan maupun bangsa terjajah) menjadi lagu penuh gejolak mudah ditemukan pada generasi penyair sesudahnya.12)

Sajak-sajak Chairil Anwar memang tidak sama sekali memutus zamannya dengan zaman sebelumnya. Tetapi ia membuat perbedaan yang sangat besar, yang dapat diletakkan di atas “reruntuhan” gaya bahasa lama. Dan, boleh jadi hal ini juga terkait dengan hidupnya yang selalu berdiri di atas “reruntuhan”. Kedua orangtuanya bercerai saat ia masih remaja. Setelah dewasa dan menikahi Hapsah, pernikahan itu juga akhirnya kandas karena kesulitan ekonomi yang terus mendera. Ia pernah berjualan buku untuk menyambung hidup. Dan pernah mendekam dipenjara Cipinang karena kasus pencurian. Sekolahnya hanya sampai tingkat menengah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dan itu pun tidak selesai.

Namun demikian, Chairil menguasai sejumlah bahasa asing yang memungkinkannya membaca karya-karya para pengarang internasional seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Karya-karya para pengarang itulah yang mempengaruhi tulisan-tulisannya.

Masa kepenyairan Chairil yang singkat sebanding belaka dengan usianya yang relatif pendek. Ia mati muda. Lahir di di Medan pada 25 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949. Jika masa kepenyairannya dihitung sejak publikasi sajaknya yang pertama “Nisan” pada tahun 1942 (ketika dia berusia dua puluh tahun) maka Chairil menulis sajak hanya selama 7 tahun (sampai ia wafat pada 1949). Selama masa yang pendek itu ia menulis 70 buah sajak asli, 10 terjemahan, 4 saduran, dan 6 prosa asli dan 4 terjemahan.

Karya sadurannya yang sangat popular ialah Kerawang-Bekasi, yang sering dianggap sebagai karyanya sendiri. Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide) dan Kena Gempur (1951, John Steinbeck). Karya Chairil sendiri bisa ditemukan dalam berbagai terjemahan bahasa asing seperti bahasa Inggris: “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); bahasa Spanyol: “Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); dan bahasa Jerman: Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978).

Tanggal lahir Chairil 26 Juli ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia yang selalu diperingati setiap tahun dengan berbagai acara sastra. Penetapan ini memperluas spektrum pengaruhnya di dunia perpuisian di tanah air, setelah sebelumnya dikukuhkan oleh Paus Sastra HB Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45. Menilik karya-karya dan pengaruhnya yang melintasi zaman, padahal rentang kepenyairannya terbilang sangat pendek (7 tahun), maka Chairil Anwar sangat pantas atas penghargaan-penghargaan tersebut.

Catatan:

1. Pernyataan ini dikemukakan esais Geger Riyanto ketika membandingkan puisi-puisi Afrizal Malna dan Chairil Anwar. Lihat tulisannya, “Afrizal dan Puisi Peristiwa”, Kompas, 10 Maret 2013.

2. Diterbitkan oleh Dian Rakyat, Jakarta, dan merupakan kumpulan puisi pertama Chairil Anwar. Buku ini memuat 45 judul puisi. Juga diterbitkan oleh Penerbit Pembangunan, Jakarta, 1966.

3. Diterbitkan oleh Dian Rakyat, Jakarta. Sampai tahun 2007 telah mengalami cetak ulang 16 kali. Dan sesuai judulnya buku ini dibagi dua bagian: Bagian I. Kerikil Tajam berisi 29 puisi, Bagian II. Yang Terampas dan Yang Putus berisi 9 puisi.

4. Jika dihitung dari puisi pertamanya, “Nisan”, yang bertanggal Oktober 1942 sampai meninggalnya pada 28 april 1949, maka masa kepenyairannya kurang dari 7 tahun.

5. Diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, 1950.

6. HB Jassin, ed., Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (Jakarta: Gunung Agung, 1983)

7. Dalam buku Aku Ini Binatang Jalang, sang editor Pamusuk Eneste, menurunkan puisi-puisi Chairil Anwar secara kronologis, yang menempatkan “Nisan” di awal dan “Derai-Derai Cemara” di akhir urutan.

8. Mengenai pudarnya tradisi penulisan pantun sejak tahun 1930-an, lihat pengantar Ajip Rosidi dalam bukunya Pantun Anak Ayam (Jakarta: Pustaka Jaya, 2006).

9. Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), hal. 8 dan 9.

10. Persoalan ini pernah dikemukakan, misalnya, oleh Arif Budiman yang menyatakan bahwa si Binatang Jalang itu sudah menyerah, sebab tanpa Tuhan ia akan “remuk dan hilang bentuk”, sehingga merasa perlu untuk mengetuk pintu Tuhan dan kemudian “tidak bisa berpaling”. Lihat Arief Budiman, Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)

11. Afrizal Malna, “Chairil dalam Kardus Masa Kini”, Kompas, 28 April 2013

12. Dalam sebuah esainya, penyair Afrizal Malna mengatakan bahwa mainstream puisi ala Chairil Anwar sangat sulit ditinggalkan pada masa-masa sesudahnya. Lihat, Afrizal Malna, “Kota Di Bawah Bayangan Api”, Kompas, 17 Maret 2013. Sastrawan Nur Zen Hae dalam sebuah ceramah pada peluncuran dua buku kumpulan puisi Goenawan Mohamad, 70 Puisi dan Don Quixote, di Jakarta, pada 27 Juli 2011 mengatakan bahwa perjalanan kepenyairan Goenawan Mohamad memperoleh pengaruh dari Chairil Anwar, selain dari Amir Hamzah dan Miguel de Cervantes Saavedra.

Note: Esai ini pernah dimuat dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh karya Jamal D. Rachman (ed), dkk (Kepustakaan Populer Gramedia, 2014).

_________

Ahmad Gaus adalah seorang penulis dan trainer #Writerpreneurship. Telah menulis 25 buku dan ratusan esai. Mengampu pelatihan menulis dengan metode #WriteNow di berbagai sekolah, pesantren, kampus, dan umum. Kontak email: gauslsf@gmail.com || twitter: @AhmadGaus – IG: ahmadgaus68 – FB: gaus ahmad