Requiem untuk Kang Jalal

Selamat jalan Kang Jalal, salah satu bintang cendekiawan, putra terbaik bangsa ini. Titip salam untuk Cak Nur, Gus Dur, Mas Tom, Mas Djohan, Mas Dawam, dll yang mungkin sedang menunggumu di Klub Kajian Agama (KKA) atau Majelis Reboan. Kita semua akan menyusulmu…

 

Yang Pergi di Hari Rabu

Kenangan untuk Sahabatku, Nanang Tahqiq
YANG PERGI DI HARI RABU
Dia telah pergi untuk selamanya
Aku terpana, kematian datang tanpa melihat kalender
Padahal tahun baru sudah di depan pintu
Masa pandemi mungkin juga akan segera berlalu
Dan kita bisa duduk bersama lagi, berdebat tentang teologi yang sudah lama mati
Sambil menyeruput kopi dan menghembuskan asap tembakau ke langit tinggi
Dia memiliki mata yang tajam
Seperti mata burung hantu di waktu malam
Setajam pikirannya yang bisa menguak gelapnya persoalan
Pandangannya jernih seperti air telaga
Tapi kadang dia juga menjadi orang yang paling rumit
Pikirannya berkelok-kelok di jalan lurus
Mencari jalan lain yang tak biasa
Membuat orang geleng-geleng kepala
Suatu pagi di musim hujan ia datang ke rumahku mengembalikan buku yang dia pinjam
Aku tidak terkejut saat dia mengambil buku itu dari dalam tas, dia juga mengeluarkan golok
Kata temanku, Irfan Abubakar, Nanang Tahqiq itu intelektual sekaligus jawara Banten.
Maka tidak heran bila buku dan golok disimpan di tas yang sama.
Dia punya tulang rahang yang keras dengan bibir yang cenderung bersungut
Mengesankan dia seorang yang bertemperamen keras
Padahal dari semua sahabatku, tidak ada yang lebih lembut dari dia
Tidak ada suara tawa yang keras melebihi kerasnya suara tawa dia
Menunjukkan bahwa dia orang yang sangat menyenangkan
Dia seorang agamawan dengan jiwa seni yang meruah
Dia berkhutbah, tapi juga menyanyi.
Aku masih ingat, puluhan tahun lalu di pondok, dia duduk di teras kamarnya sambil memetik gitar
Menyanyikan lagu Seruling di Lembah Sunyi
Suaranya melengking-menyayat
Dia jawara berhati lembut, intelektual berjiwa seniman, dosen yang aktivis, perekat tali silaturahmi dan sekaligus penggerak solidaritas.
Selamat jalan, Kak Nanang Tahqiq. Saya bersaksi engkau adalah salah satu orang terbaik yang pernah saya kenal.
Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bi husnil khatimah
Ciputat, 30 Desember 2020
Ahmad Gaus
Keterangan Foto:
Alm. Nanang Tahqiq bersama Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj dalam sebuah seminar.
Note: Nanang Tahqiq adalah dosen Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan dosen Program Studi Agama Islam Universitas Paramadina. Almarhum juga merupakan alumnus Pondok Pesantren Daar el Qolam, Banten. Saya (GA) adalah adik kelas dan sekaligus muridnya di pondok. Almarhum meninggal dunia hari ini, Rabu 30 Desember 2020/15 Jumadil Akhir 1442 H. Lahu ‘l-Fatihah

Kematian Terindah

Kenangan untuk Sahabatku, alm. KH Ismail bin H. Djaelani, Mudir ‘l-Ma’had, Daar El-Huda, Curug, Tangerang
KEMATIAN TERINDAH
Kematian terindah adalah kepergian seseorang yang dilepas dengan cinta
Oleh keluarganya, kerabatnya, dan orang-orang di sekelilingnya.
Sebab setiap insan lahir dari rahim cinta
Berkelana di muka bumi untuk menemukan orang yang dicinta
Dan kelak akan meninggalkannya dengan cinta
Untuk mempertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pencinta
Yang Maha Rahman
Yang Maha Rahim
Kehidupan di dunia hanya peristiwa sesaat belaka
Ibarat burung yang melompat dari satu dahan ke dahan lainnya
Begitu pendek, dibandingkan dengan panjangnya perjalanan yang akan ditempuh oleh ruh
Yang terbentang antara langit dan bumi
Dan hari itu langit berkata, akan datang seorang tamu dari bumi
Langkahnya begitu ringan, dan senyumnya sangat menawan
Sebab ia diantar oleh amal kebaikannya
Dari rambutnya berguguran bintang-bintang
Yang darinya bumi bersinar terang
Para malaikat telah berkumpul di tujuh petala langit untuk menyambutnya
Jumlahnya seribu kali lipat dari anak-anak santri yang melepas kepergiannya dengan doa dan cucuran airmata
Jangan menangis, kata langit
Sebab orang yang kalian cintai telah kembali ke rumah yang dirindukannya
Meninggalkan kenangan kebaikan
Dan nama yang tidak akan dilupakan
Pada hari ia pergi, pohon-pohon merunduk diam
Awan berbaris mengenakan seragam hitam
Petang yang terang tiba-tiba menjadi kelam
Padahal matahari belum lagi terbenam
Kepergiannya menggoreskan sembilu di lubuk kalbu
Melelehkan danau airmata di hati yang pilu
Jangan menangis, kata langit
Suaranya bergetar seperti sangkakala yang siap ditiupkan
Menandai akhir zaman
Kemudian langit terdiam
Menundukkan kepala
Menitikkan air mata
Ya Allah biha, ya Allah biha
Ya Allah bi-husnil khatimah
Ciputat, Desember 2020
Ahmad Gaus
______
KH Ismail bin H. Djaelani lahir di Jakarta, 20 Januari 1967, dan wafat di Tangerang, 23 November 2020. Almarhum adalah alumnus Pondok Pesantren Modern Daar El Qolam, Jayanti, Tangerang, yang didirikan oleh Kiai Ahmad Rifa’i Arief, alumnus Gontor. Setelah lulus almarhum KH Ismail mendirikan dan sekaligus memimpin Pondok Pesantren Modern Daar El-Huda, Curug, Tangerang. Saya (Ahmad Gaus) adalah teman satu angkatan dan satu kelas dengan almarhum. Saya pun pernah mengajar di pondoknya, khususnya untuk kelas menulis kreatif/ mengarang.
Dari Facebook, Gaus Ahmad