Categories
Puisi

[Puisi] SURAT CINTA UNTUK CORONA

Corona6

Surat Cinta untuk Corona

Dear Corona,

KUTULIS surat ini saat hujan turun di sore hari

Setelah panas terik yang membakar sepanjang siang tadi

Orang-orang berharap engkau tersungkur di tanah

Lalu bangkaimu diseret air hujan hingga jauh ke laut

Begitulah, sengaja kuawali surat ini dengan meringkas “kebencian kolektif” yang ditujukan kepadamu.

Agar engkau tahu di mana posisimu sejauh ini.

SEKARANG  tidak ada orang yang pergi ke taman untuk melihat pelangi

Atau mengikat janji dengan kekasihnya di sore hari yang indah

Mereka takut engkau ada di sana

Sebab saat ini engkau memang lebih menakutkan daripada nenek sihir dengan sapunya.

OH YA,  ngomong-ngomong soal nenek sihir, pernahkah kau mendengar cerita tentang penyihir yang seumur hidupnya tidak pernah tertawa?

Sekali waktu dia tertawa, seekor tikus bisa berubah menjadi gadis cantik. Alangkah saktinya.

ADA juga kisah tentang penyihir jahat yang jiwanya tersimpan dalam buah pir.

Begitu orang-orang tahu buah pir dapat menurunkan berat badan, penyihir itu mati berkali-kali. Karma bagi penjahat.

Kesaktianmu mungkin sama dengan para penyihir itu

(Dan mungkin juga kelemahanmu)

Abrakadabra!

Sekali tepuk engkau berhasil menaklukkan dunia

Mengubah aturan di semua negara

Memaksakan moralitas baru dalam hubungan sosial

Menghentikan kemacetan lalu lintas di kota-kota yang sibuk

Mengeluarkan orang-orang dari penjara dalam jumlah yang sangat besar

ENGKAU  juga memberi intrupsi pada pemahaman agama yang dogmatik

Mengusir kaum beriman dari rumah-rumah ibadah

Tapi memaksa orang untuk lebih dekat dengan Tuhan.

ENGKAU sebuah paradoks untuk kebatilan dan kebenaran

Nilai-nilai sekarang bukan hanya nisbi tapi jungkir balik

Banyak fenomena harus ditafsir ulang

JADI, engkau memang hebat, Corona

Tidak pernah ada yang bisa melakukan itu sebelumnya

Tapi tahukah kau bahwa seluruh dunia memusuhimu

Perang global sudah dideklarasikan untuk melawanmu

Dan engkau sendirian.

SAAT ini, bila kau lewat di kotaku

Orang-orang sudah mengenakan alat perlindungan diri

Kendaraan militer berjaga di setiap sudut dan tempat-tempat keramaian

Sesekali menyemprotkan tembakan ke udara dan pinggir jalan sehingga mengenai siapa saja

Seperti pasukan tempur yang menembak tanpa sasaran karena musuh tidak terlihat

ENGKAU telah membuat semua orang menjadi bodoh

Membuat malu negara-negara maju yang memiliki persenjataan paling canggih

Semua lumpuh, tidak berdaya di hadapanmu

Korban-korban kematian berjatuhan seperti daun-daun kering diterjang angin

ZAMAN yang murung bertambah murung

Kekerasan, kelaparan, kemiskinan, ada di mana-mana

Apalagi yang mau kau tambahkan

Menegakkan keadilan?

Silakan saja

Tapi lihat itu orang-orang yang kehilangan pekerjaan

Orang-orang yang dikuburkan tanpa didampingi keluarganya

Para malaikat pun tak sanggup berdiri di hadapan takdir mereka yang terasing

AAHHH… aku tidak tahu apalagi yang harus kutuliskan di sini, Corona

Tapi yang pasti sore ini sehabis hujan, aku ingin melihat kau menari bersama anak-anak di halaman

Tanpa mengancam

Tanpa ada korban

Itu saja.

WASSALAM

Ahmad Gaus

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s