Puncak Tertinggi Ramadan

Puisi ini dibacakan oleh: Shahnaz Haque pada acara Halal Bihalal Cak Nurian Urban Sufism, Minggu 16 Mei 2021. Sayang saya belum mendapatkan rekaman audionya jadi belum bisa ditampilkan. Versi podcast akan dibuat menyusul ya 🙂

PUNCAK TERTINGGI RAMADAN

DARI Ramadan ke Ramadan, apa yang kita dapatkan

Selain berkurangnya umur dan bertambahnya usia

Ramadan hanya lewat di depan rumah seperti pedagang keliling

Kita membeli barang atau makanan yang dibutuhkan

Lalu membiarkan pedagang itu pergi

Tidak peduli kapan dia akan datang lagi

Besok, lusa, bulan depan, masa bodoh

SEMENTARA itu ada orang yang merasa sedih berpisah dengan bulan Ramadan

Kepergiannya ditangisi, kadang dengan emosi yang berlebihan

Agar semua orang tahu bahwa dia pencinta sejati bulan Ramadan

Dia meratap pilu karena harus menunggu Ramadan satu tahun lagi

Lama sekali

PADAHAL, Ramadan adalah waktu metafisik

Waktu yang tidak berdetak pada jam dinding

Waktu yang tidak bergantung pada kalender

Melainkan waktu yang berada di puncak kesadaran ruhaniyah

BAGI orang-orang yang sudah sampai ke puncak tertinggi Ramadan, setiap saat adalah Ramadan

Setiap malam adalah Lailatul Qadar

Dan setiap hari adalah Hari Raya

DI PUNCAK tertinggi Ramadan, seperti halnya di puncak gunung, semua terlihat indah

Karena dipandang dengan jiwa yang indah, yang berada di puncak ketinggian ruhani

Jiwa yang memancarkan cahaya kasih Tuhan ke segenap penjuru

TAPI, untuk sampai ke puncak itu tidaklah mudah, seperti halnya mendaki gunung

Wamaa adraaka mal ‘aqabah, Tahukah engkau apa itu jalan mendaki yang sulit

Fakku raqabah, yaitu melepaskan semua belenggu ragawiyah

Suatu pendakian menuju perjumpaan dengan Tuhan di atas gunung ruhani

ITULAH puncak tertinggi Ramadan dalam kehidupan sehari-hari

Di mana tidak ada lagi pertentangan antara ketuhanan dan kemanusiaan

Ketuhanan berarti kemanusiaan

Kemanusiaan berarti ketuhanan

Di puncak tertinggi Ramadan, manusia adalah umat yang satu, ummatan wahidah

Di antara mereka tidak ada batas, seperti langit yang terbuka tiada bertepi

DI PUNCAK tertinggi Ramadan kita telah melampaui al-‘aqabah, jalan mendaki yang sulit, untuk ber-fakku raqabah

Yaitu, melepaskan diri dari belenggu pandangan sempit dan sektarian

Yang membeda-bedakan manusia berdasarkan harta dan jabatan

Yang memilah-milah manusia berdasarkan suku dan keturunan

Yang memisah-misahkan manusia menjadi Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, Konghucu, Islam, dan lainnya

DI PUNCAK tertinggi Ramadan, umat manusia adalah satu, ummatan wahidah

Sebab mereka adalah penampakan wujud Tuhan yang Tunggal di muka bumi.

Terima kasih

Ahmad Gaus

Evie dan Fenomena Pindah Agama

Melintasi Batas Agama
Dulu Evie Yana Farida biasa dipanggil amoi, karena keturunan Tionghoa. Sekarang juga masih — kadang-kadang. Dulu dia tinggal di Karawaci Tangerang, daerah pecinan. Tapi sekarang rumah itu sudah menjadi kantor kelurahan. Keluarganya pindah ke Cianjur.
Dulu Evie beribadah di gereja dan kelenteng sekaligus, karena memang agamanya dua. Tapi belakangan tidak lagi, karena sudah memeluk Islam atau menjadi muallaf.
Walaupun pindah agama, Evie tidak meninggalkan agamanya sambil meludah, seperti banyak dilakukan oleh orang yang pindah agama. Maksud saya, ada para muallaf yang menjelek2kan agama sebelumnya, seperti ustadz YW yang mantan pendeta, ustadzah IH yang mantan biarawati, dll.
Memang orang-orang seperti ini akan diberi karpet merah dan tepuk tangan. Karena memang ada umat yang haus dengan “siraman rohani” semacam itu, tapi sebagian besar umat Islam tidak membutuhkannya. Cerita-cerita tentang kejelekan agama lain adalah sampah, masuk ke dalam tong sampah, dan yang menyampaikannya juga tidak akan lebih dari itu.
Setelah menjadi muallaf, Evie menjalankan agamanya dengan keyakinan yang penuh. Namun, sekali lagi, dia tetap memuliakan agama sebelumnya, dan juga agama-agama serta aliran/mazhab yang lain. Evie bahkan mendalami falsafah Budha, Hindu, Syeikh Siti Jenar, dll. Dia mendengarkan Buya Syakur, Gus Baha, Fahruddin Faiz, dll.
Dengan terus belajar dan membuka wawasan, Evie merasa (dalam kata-kata dia sendiri) “Lebih terang benderang sekarang bagaimana seharusnya kita mengamalkan agama kita.” Ia juga mengatakan babwa semakin banyak berteman dengan orang-orang dari agama/aliran lain, “semakin aku menyayangi dan konsisten dengan kepercayaanku.”
Evie mewakili apa yang dalam wacana teologi disebut “passing over” yakni melintas dari agama sendiri, mengenal dan menyelami agama-agama lain atau tradisi spiritualitas yang lain guna memperluas wawasan, memperkaya batin, dan mengerti orang lain. Secara sosiologis passing over juga berperan dalam menciptakan toleransi dan pembangunan perdamaian.
Hanya orang-orang yang memiliki keberanian, rasa kepercayaan diri yang kuat pada imannya, serta memiliki cinta yang tulus pada sesama, yang berani melakukan itu. Dan Evie memilikinya.
Atas keberaniannya itu, maka saya buatkan puisi khusus buat

Evie Yana Faridadi hari ulang tahunnya hari ini. Oh ya, Evie ini adik kelas saya waktu di pondok pesantren Daar el Qolam, Tangerang. Sekarang, atau sejak belasan tahun, dia mengajar di salah satu universitas ternama di Irak utara. Selamat ulang tahun Evie, semoga Allah selalu membimbingmu dan memberi yang terbaik untukmu.
Salam Passing Over
Ahmad Gaus.

 

Baca juga: Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son