Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (V)

– 11 –

Kisah Pakaian Laura

Sementara itu pria yang berada di telaga masih berusaha mendekati pakaian perempuan yang tengah mandi. Dia merangkak dengan hati-hati sekali karena tidak ingin melakukan kesalahan dua kali, seperti saat dahan yang diinjaknya patah dan menimbulkan suara. Akibatnya perempuan itu sempat naik ke darat dan memperhatikan sekeliling. Untung saja perempuan itu tidak mendongak ke atas pohon di mana Ardi bersembunyi.

Kini jarak dirinya dengan pakaian perempuan itu tinggal satu meter. Dia makin mendekat, dan makin hati-hati. Begitu tangannya meraih pakaian itu, seekor katak melompat dan menjatuhkan tubuhnya persis di atas tumpukan pakaian. Refleks pria itu menarik kembali tangannya seraya matanya melihat ke arah telaga. Dia khawatir perempuan itu memergoki perbuatannya. Tapi rupanya perempuan itu tidak menyadari apa yang terjadi. Dia masih asik berenang ke sana ke mari. Kadang cukup lama menyelam, dan saat muncul di permukaan air tubuhnya melonjak ke atas seperti seorang perenang profesional yang tengah menunjukkan kepiawaiannya. Dia tidak peduli bagian pinggulnya mencuat ke pemukaan air.

1c93ae52f950fb958120362eab7a694d

Pria itu ragu-ragu untuk mengusir katak di atas pakaian. Dia takut katak itu terkejut dan melompat ke semak-semak hingga menimbulkan suara gaduh. Dia terdiam beberapa lama, sampai sebuah pikiran terlintas di kepalanya: Kalau aku ambil pakaian ini, lantas bagaimana perempuan itu nanti? Apakah dia harus meninggalkan tempat ini dalam keadaan bertelanjang? Kalau aku bisa menutup tubuhku dengan daun-daunan seperti yang kulakukan sekarang dan  bisa pulang dengan mengendap-endap? Tapi perempuan itu, bagaimana?

Tidak ada jalan keluar. Lebih tepatnya, pria itu tidak tega membiarkan perempuan tersebut nanti pergi tanpa busana. Dia menghela napas perlahan, dan mulai menggeser posisinya mendekati pohon tempat dia bersembunyi sejak sore tadi. Dia tercenung sambil menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. Pandangan matanya menerobos keremangan malam di pinggiran hutan yang letaknya tidak terlalu jauh dari perumahan penduduk itu. 

***

Hari semakin gelap. Bulan hanya sepotong, dan cahayanya redup tertutup awan. Suara kecipak air terdengar semakin jarang. Pria itu melongok ke arah telaga untuk melihat situasi. Rupanya perempuan itu masih berendam. Pria itu memakai kembali daun-daun penutup tubuhnya. Dan tanpa menengok lagi ke arah telaga ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati meninggalkan tempat tersebut tanpa peduli lagi dengan perempuan itu dan pakaian yang hendak dicurinya.

Namun baru beberapa meter kakinya melangkah tiba-tiba terdengar sebuah suara yang cukup keras dari telaga. “Huuuuuu….!!” Sontak pria itu menengok ke belakang. Ternyata suara itu berasal dari perempuan yang kini telah berada di darat. Suaranya seperti orang yang menghembuskan udara dari mulut karena kedinginan. Benar saja, perempuan itu terlihat seperti menyilangkan kedua tangan  menutupi tubuhnya seolah menahan gigil. Tapi anehnya, dia berada di daratan yang bersebrangan dengan tempat dia meletakkan pakaiannya.

Pria itu menjadi penasaran. Dia berbalik, dan sambil terbungkuk berjalan ke tempat pakaian. Semua pakaian masih ada di tempat semula. Lantas kenapa perempuan itu naik ke darat di seberang sana. Apakah dia lupa meletakkan pakaiannya di sini. Sekilas dia melihat perempuan itu mengeringkan rambut dengan sebuah kain sambil duduk di sebuah akar pohon besar. Gerimis yang datang tiba-tiba dihempaskan angin kencang membuat pandangan di sekitar menjadi kabur.

gerimis

Perempuan di seberang sana kini bahkan menghilang dari pandangan. Angin kencang berembus lagi melontarkan butir-butir gerimis menimpa dedauan menimbulkan bunyi kesiur. Ketika angin berhenti, samar-samar sosok itu muncul lagi dari balik pohon. Kini dia telah mengenakan pakaian putih. Namun ketika angin kencang berembus lagi, perempuan itu kembali menghilang di balik pohon.

Bersamaan dengan itu, sebuah suara lain terdengar — suara tangis bayi. Dan suaranya bukan dari seberang sana melainkan tidak jauh dari tumpukan pakaian. Pria itu menyelidik ke bawah rumpun tempat sebuah sosok bergerak-gerak dan mengeluarkan tangisan. Didekatinya sosok itu. Benar, bayi yang tampaknya baru berumur beberapa hari. Sebagian tubuhnya dipenuhi bekas gigitan hewan.

Tanpa memedulikan lagi perempuan yang berada di seberang sana, pria itu segera memakai pakaian yang berada di depannya, pakaian milik Laura. Setelah itu diambilnya si bayi tersebut dan didekapnya, lalu dia berlari sekencang-kencangnya.

D1167_17_001_0004_600

Pria itu tidak menengok ke belakang lagi. Pandangannya fokus pada jalan yang akan dilaluinya. Dia melewati jalan-jalan kecil di perkebunan yang hanya mendapat pencahayaan samar dari lampu-lampu jalan di kejauhan. Tapi rupanya dia sudah hapal benar jalan-jalan itu sehingga kecepatan berlarinya tidak membelokkan arah yang dituju.

Lima belas kemudian dia sudah tiba di halaman rumahnya. Tanpa mengetuk pintu rumah dia langsung membukanya dan berlari ke dalam. Lalu meletakkan bayi yang dibawanya di atas kursi sofa.

“Siapa itu yang kau bawa?” Seorang pria tua menegurnya dari arah belakang.

“Bayi, Kek. Aku menemukan dia di pinggir hutan.” Dia menjawab tanpa menengok. “Sekarang aku harus ke luar mencari susu untuk dia,” tambahnya. Hanya sekilas dia menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana bisa menemukan bayi itu kepada orang yang dia panggil kakek itu. Sesaat kemudian dia mengambil uang dari laci meja dan bersiap untuk ke luar mencari susu bayi. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

“Si Belang mana, Kek?” Dia menanyakan kucingnya.

“Eee.. begini..,” si kakek tampak grogi. “Tadi ada seorang perempuan datang ke sini bersama Si Belang, lalu dia izin membawa kucing itu ke rumahnya. Dia bilang besok akan datang lagi ke sini untuk bilang sama kamu.”

“Perempuan? Dia membawa Si Belang? Siapa dia, Kek?”

“Kakek tidak tahu, katanya dia kenal sama kamu.”

 “Ya sudahlah, nanti saja kita bahas lagi. Aku mau ke luar dulu mencari susu bayi.”

Pria itu segera beranjak pergi tanpa menutup pintu rumah. Si kakek mendekati bayi itu. Dia perhatikan bagian-bagian tubuhnya yang dipenuhi luka bekas gigitan hewan. “Jadi aku harus merawat lagi anak-anak hantu sampai besar, sampai mereka punya sayap dan pergi sendiri dari rumah ini,” bisik si kakek, sambil menatap tajam bayi itu.

BERSAMBUNG

  Laura & Burung Hantu (IV) <-  Cerita sebelumnya

 

 

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (IV)

– 10 –

Perjalanan Pulang

Dalam perjalanan pulang, Laura berusaha untuk tidak memikirkan Jodi. Dia bahkan menduga kekasihnya itu tidak lagi memedulikannya. Buktinya Jodi tidak datang di acara ulang tahun mereka di Taman Aden. Padahal, Jodi  sendiri yang merancang acara itu, sampai Laura harus mengorbankan perayaan ulang bersama teman-temannya.

Kini Laura justru memikirkan pria yang telah menolong dirinya di telaga. Berdasarkan penuturan si kakek di rumah itu, dia yakin bahwa pria yang meminjamkan pakaian kepadanya itu tidak lain adalah Ardi. Dia masih mengingat suaranya yang khas: parau.

Sejak lulus SMP Laura memang tidak pernah lagi bertemu dengan Ardi. Gosip terakhir  yang masih dia ingat ialah, Ardi menyukai Lauren, sepupunya. Tapi Lauren menganggap Ardi hanya teman biasa. Laura sudah menduga kalau Lauren akan bersikap seperti itu. Dia tahu sepupunya itu, kalau soal pria, punya selera “khusus”. Mungkin karena Lauren merasa memiliki kemampuan supranatural, maka dia hanya tertarik pada orang yang dia anggap tidak biasa. Dan sialnya, dalam dugaan Laura, pria yang tidak biasa itu adalah Jodi, kekasihnya.

imageslaur

Dari perilakunya Laura bisa menebak bahwa Lauren menyukai Jodi. Namun sejauh ini Jodi di matanya bersikap biasa saja pada Lauren. Walaupun mereka intim, Jodi terlihat masih menjaga jarak keintiman itu sebatas sahabat. Tapi tetap saja Laura merasa cemburu pada Lauren. Kadang dia bahkan merasa bahwa perasaan cemburunya itulah yang “membantu” memelihara hubungannys dengan Jodi. Selebihnya adalah misteri, karena dia tidak sepenuhnya dapat memahami sikap Jodi yang dingin dan tidak pedulian.

 

Dan sekarang, ketika Laura sadar bahwa Jodi tidak mempedulikannya, dia justru bersimpati pada Ardi. Jodi membiarkannya dalam bahaya, di saat seperti itu, Ardi datang menolongnya. Dia merasa wajar kalau sekarang memiikirkan Ardi dan mengkhawatirkan keselamatannya.

***

Selagi pikiran Laura dipenuhi oleh kekhawatiran tentang keselamatan Ardi, si Boy mengeong. “Ayo, Boy, perjalanan kita masih jauh,” ujar Laura melihat Si Boy berhenti. “Kenapa, Boy, ada apa?”

Si Boy sekarang berbalik arah, berjalan mendekati gerbang sebuah rumah. Laura mengikutinya. Si Boy mendekati seekor kucing yang sedang menggelepar di luar pagar dekat tempat sampah yang tertutup rapat. Laura memperhatikan gerakan tubuh kucing itu, memastikan bahwa dia memang masih hidup. Ya, masih ada napasnya. Tapi Laura tidak tahu harus berbuat apa. Dipegangnya tubuh kucing itu. Kurus sekali, nyaris tinggal tulang. Kucing itu memberi respon dengan suara mengeong, tapi sangat lemah. 

7b3431f4101a3e99d860a73e469c63810239c5a7

Si Boy mendorong plastik yang diletakkan di tanah oleh Laura, dengan mulutnya. Plastik itu berisi makanan kucing pemberian dari si kakek di rumah tua. Laura mengerti. Dia mengeluarkan makanan itu dari plastik dan memberikannya pada si kucing. Dengan tubuh gontai kucing itu berusaha untuk berdiri, tapi gagal. Dia kembali terjatuh. Apa karena dia kelaparan, pikir Laura. Tangan Laura membantu tubuh kucing itu berdiri dan menyorongkan makanan ke mulutnya. Benar saja. Kucing itu makan dengan lahapnya. Tergesa-gesa sampai napasnya ngos-ngosan.

Laura masih memegangi tubuh kucing itu karena masih terasa limbung di tangannya. Kalau dilepaskan pasti jatuh lagi. Si Boy sepertinya tidak tertarik untuk ikut mencicipi makanan itu. Dia hanya memperhatikan dari dekat. Sesekali kucing kurus itu menatap Si Boy dengan mata yang lemah. Mendapat tatapan seperti itu, Si Boy melengoskan kepalanya, melihat ke arah lain. Beberapa menit kucing itu masih melahap makanan hingga nyaris tidak tersisa. Laura masih memegangi dan mengelus-elus tubuhnya. Untung saja dia membawa makanan itu. Padahal waktu si kakek memberinya dia sempat menolak. “Bawa saja, nanti kamu akan membutuhkannya.” Begitu kata si kakek. Kok dia bisa tahu kalau aku bakal membutuhkan makanan kucing ini, batin Laura.

Setelah makanan di kantong plastik habis, napas kucing itu terengah-engah. Tapi sekarang tubuhnya sudah bisa berdiri tegak, sehingga Laura melepaskan tangannya. Tidak jauh dari pagar rumah itu dia melihat keran air. Dia terpikir untuk mengambil air dan memberi si kucing minum. Matanya mencari-cari tempat penampungan air. Baru saja dia berdiri, seseorang menghampirinya.

“Lagi apa, dik?” Tanyanya.

“Ini, Pak, habis ngasih makan kucing, kayaknya dia lapar, sekarang saya lagi cari tempat air untuk dia minum,” Jawab.

“Waduh, dik, jangan deh. Sebaiknya cepat pergi dari sini. Kalau majikan saya tahu dia akan marah. Dia engga suka kucing dikasih makan, nanti kebiasaan datang terus ke sini.”

Laura mengerti sekarang. Si bapak itu pasti asisten rumah tangga atau tukang kebun pemilik rumah besar ini. “Lho, tapi kucing ini kelaparan, Pak. Lihat, badannya kurus sekali.”

“Ya, saya juga tahu, dik. Tapi mau bagaimana lagi. Saya pernah ngambil makanan kucing ras di dalam rumah untuk ngasih makan kucing-kucing kampung yang datang ke sini. Tapi majikan saya tahu dan dia marah besar. Sejak itu saya tidak pernah lagi ngasih makan kucing kampung.” Bapak itu menjelaskan. Laura melirik ke teras rumah itu. Tampak beberapa kucing ras sedang bercengkrama. Sebagai penyuka kucing dia senang melihat tingkah mereka yang menggemaskan. Tapi kucing kampung yang dia beri makan juga lucu. Setelah makan kenyang, kucing itu menggesek-gesekan tubuhnya ke kaki Laura.

“Adik suka kucing, ya? Sama dengan anak saya,” ujar bapak itu lagi.

“Iya, Pak. Kalau begitu bapak bawa saja kucing ini ke rumah bapak biar dipelihara sama anak bapak,” usul Laura.

 “Wah, rumah saya jauh, dik, di Rangkas Bitung, bagaimana saya membawanya.”

 “O, begitu, bagaimana kalau kucing ini saya bawa ke rumah saya, boleh ‘kan, Pak?”

Baru saja selesai Laura mengatakan itu, sebuah mobil mendekati rumah. Lampunya yang menyorot tepat ke dirinya menyilaukan mata Laura sehinga dia harus menutupinya dengan siku.

“Cepat, dik, pergi dari sini. Itu anak majikan saya. Nanti dia memarahi saya,” kata bapak itu.

Laura menuruti kata-kata itu. Dia bersiap pergi. Namun sekonyong-konyong pintu mobil terbuka dan seorang pria turun langsung menyapanya. “Laura?!”

Tentu saja Laura terkejut. Dan lebih terkejut lagi begitu mengetahui orang yang menyapanya dengan suara parau. “Ardi? Kamu Ardi, ‘kan?”

“Iya, aku Ardi. Senang kamu masih ingat aku.”

“Lho, kok kamu di sini? Bukannya rumahmu di sana?” Laura menunjuk ke arah belakang, lokasi rumah tua milik si kakek. 

 “Dari dulu rumahku di sini, Laura, nggak pernah ke mana-mana,” jawab pria itu. “Kamu dari mana dan mau ke mana?”

“Aku dari… eeh, dari sana”. Laura menunjuk ke sembarang arah. “Dan sekarang aku mau pulang.”

Dari dalam rumah terdengar seseorang membuka pintu. Seorang perempuan setengah baya keluar dan memanggil Ardi. “Cepat, Ardi, obatnya ditunggu papa,” ujarnya.

“Sebentar, Ma,” sahut Ardi. Dia berjalan lebih dekat ke arah Laura.

“Oh ya, Laura, maaf papaku sedang sakit, aku harus masuk karena dia membutuhkan obat ini. Dan maaf lagi aku tidak bisa mengantarmu pulang. Lain waktu kita ketemu lagi ya. Salam untuk Jodi dan… Lauren.” Usai mengucapkan itu Ardi menjabat tangan Laura, kemudian dengan langkah tergesa melenggang ke dalam.

Lanjut membaca ->  Laura & Burung Hantu (V)

 Laura & Burung Hantu (III)  <-  Cerita sebelumnya

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (III)

– 9 –

Pertemuan dengan Si Boy

Sementara itu, Laura mulai siuman ketika mendengar sebuah suara mengeong di telinganya. Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Saat matanya dibuka, dia tersentak melihat seekor kucing di depan matanya. Kucing jantan yang sangat dikenalinya.

“Boy, kenapa kamu ada di sini?”  

“Meoong,” kucing itu menjawab.

“Kamu sama siapa, Boy?”

“Meong.” Lagi-lagi kucing itu mengeong, tapi kali ini dia membalikkan badan sambil berjalan. Laura mengerti isyarat itu. Dia mengikuti dari belakang ke mana kucing yang dirawatnya dari kecil itu berjalan. Laura teringat saat-saat dia pertama kali memelihara Boy bayi. Kucing itu belum diberi nama.

“Tolong kamu rawat dia ya, Laura, di rumahku sudah terlalu banyak kucing.” Begitu kata-kata Maudi, teman Laura yang mengantarkan kucing kecil itu ke rumahnya. Laura dan keluarga mencari-cari nama yang pas untuk kucing jantan kecil itu. “Bagaimana kalau kita kasih nama Si Boy,” usul Laura. Kebetulan waktu itu sedang ramai sinetron Anak Jalanan di sebuah stasiun televisi di mana pemeran utamanya sangat terkenal, Si Boy, namanya. Semua setuju. Sejak itulah kucing kecil mereka dipanggil Si Boy.

tumblr_mvib0xnIhG1s0y297o1_500

Setelah mulai besar, pada tahun kedua, Si Boy menghilang. Berhari-hari Laura mencoba mencarinya hingga ke ujung-ujung gang dan perumahan penduduk, namun tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya dia pasrah. Teman-temannya mengatakan, kucing jantan kalau sudah besar akan pergi, mencari pasangan.

Laura tidak menyangka bahwa akhirnya bisa bertemu kembali dengan Si Boy. Tubuhnya tidak jauh berbeda dengan dulu saat pergi dari rumah. Kalau manusia, dia ini posturnya six pack. Tampak kekar dan jantan.

Lamunan Laura buyar ketika Si Boy berhenti di depan sebuah rumah yang letaknya terpencil, jauh dari rumah-rumah yang lain. Bahkan rumah itu nyaris tidak terlihat dari depan karena ditutupi pohon-pohon besar yang tumbuh di halamannya. Tapi tanaman kecil dan rumput-rumput di halamannya tampak rapi, menandakan bahwa rumah itu ada penghuninya.  

Si Boy terus berjalan di depan seperti memberi isyarat agar Laura mengikutinya sampai ke dalam. Namun Laura tampak ragu. Saat kakinya menginjak lantai teras dari ubin tua, dia menghentikan langkahnya. Telinganya seperti mendengar suara yang memanggil namanya. Matanya menyelidik ke seantero ruang depan. Tidak semua terlihat karena suasana remang dan cenderung gelap. Di langit-langit hanya ada lampu neon kecil tergantung seperti sudah terlepas dari pegangannya. Laura melangkah pelan.

 

044787400_1508826803-3__Haunted-House-Facade-Home-Building-Old-House-578218__Max_Pixel

“Laura!” Suara itu lagi, terdengar samar tapi cukup jelas dari mana asalnya. Laura menengok ke sebelah kiri, arah datangnya suara. Tidak ada siapapun di sana. Hanya rimbun daun bergerak-gerak ditiup angin. Namun sekonyong-konyong sebuah sinar bulat menyala seperti memberi isyarat pada Laura tentang keberadaannya. Mata burung hantu. Laura terkejut. Belum sempat dia bereaksi lebih jauh, Si Boy mengeong dari dalam seolah memanggilnya. Ragu-ragu Laura melangkah ke dalam. Matanya masih sempat melirik ke arah burung hantu untuk memastikan bahwa bukan burung itu yang memanggil namanya.

Si Boy membawa Laura melewati ruang tamu menuju sebuah kamar. Seorang pria tua berbaring di atas tempat tidur dari kayu, beralaskan kasur dengan seprei warna gelap sehingga menimbulkan suasana suram. Rupanya dia mengetahui kedatangan Laura, dan menyambutnya dengan suara batuk yang tertahan. Si Boy melompat ke atas tempat tidur. Orang itu bangun dari tidurnya, lalu meletakkan punggungnya pada sandaran kayu tempat tidur. Tangannya mengelus-elus kepala Si Boy. Terbetik rasa iri di hati Laura melihat kemanjaan Si Boy pada “majikannya” itu. 

“Jadi selama ini Boy tinggal di sini sama Kakek?” Laura membuka percakapan.  “Oh iya, maaf, nama saya Laura, saya dibawa ke sini oleh Si Boy. Ini kucing saya,” tambah Laura.

“Oh, namanya Boy,” sahutnya. Tangannya masih mengelus-elus kepala Si Boy. “Namamu sendiri siapa tadi?”

“Saya Laura, Kek.” Lalu dia menceritakan kisah Si Boy yang dia rawat sejak kecil, menghilang, sampai bertemu lagi di Taman Eden. Orang itu menggut-manggut.

“Kakek di sini tinggal sama siapa?”

“Kakek tinggal sama cucu. Dia itu yang menemukan kucing ini terkapar di pinggir jalan karena dilindas sepeda motor yang melarikan diri. Dia membawanya ke sini dan merawatnya hingga sembuh. Laura kaget mendengar itu. Didekatinya Si Boy dan tangannya mengelus-elus kepalanya.

“Di mana cucu kakek sekarang?” Tanya Laura.

“Dia lagi ke apotik membeli obat untuk kakek. Tapi katanya mau pulang agak malam karena mau datang ke acara ulang tahun temannya dulu.”

Laura tersentak mendengar si kakek menyebut kata ulang tahun, teringat hari ulang tahunnya sendiri, hari ini, yang berantakan akibat peristiwa yang sama sekali tidak diduganya. Teringat Jodi yang entah dimana keberadaannya. Kesal juga dia mengingat pacarnya itu. Dia juga terbayang wajah teman-temannya yang pasti sangat kecewa karena dia tidak memberi tahukan pembatalan pesta ulang tahunnya.

“Siapa nama cucu kakek? Dan siapa temannya yang ulang tahun itu?” Tanya Laura bertubi seakan tidak sabar.

“Ardi. Kalau nama temannya, Kakek tidak tahu.”

“Ardi? Rasanya saya kenal. Apa dia yang suaranya agak parau, yang dulu sekolahnya di SMP Pondok Pinang, dan pernah naksir sama Lauren?”

“Iya, betul,” jawab si kakek. “Tapi kakek tidak tahu kalau dia naksir sama Mama Lauren. Bukannya dia sudah meninggal dunia?”

“Lauren, Kek, sepupu saya, bukan Mama Lauren yang paranormal itu.” 

“Oohh…” sungut si kakek.

Tidak salah lagi, pikir Laura, itu pasti Ardi yang ditemuinya di telaga. Pantas saja aku hampir mengingat suaranya yang khas. Tapi kenapa dia ada di telaga? Kenapa dia tidak mau menampakkan muka? Apa dia malu, takut aku mengenalinya? Astaga, bagaimana keadaan dia sekarang? Apa masih di atas pohon? Berjubel pikiran di kepala Laura.  Lagi-lagi dia merasa bersalah.

“Kenapa, Nak, kok bengong.”

“Ah, enggak apa-apa, Kek, saya lagi mencoba mengingat-ingat karena sudah lama tidak ketemu dia.”

“Oh begitu. Kalau nanti kamu ketemu Ardi di jalan, kamu pasti kaget karena pakaiannya waktu tadi keluar rumah, sama dengan yang kamu pakai sekarang.”

Demi apa, Laura seperti disengat kalajengking. “Oh, iya, eeh, apa iya, Kek? Mungkin kebetulan saja, Kek. Semoga Ardi cepat pulang ya, Kek. Biar obatnya bisa cepat diminum. Oh iya, ngomong-ngomong saya mau pamit dulu, Kek, takut kemalaman. Salam saja sama Ardi.”

“Ya sudah, nanti kakek sampaikan,” ujar si kakek sambil bangkit dari tempat tidur untuk mengantar Laura ke halaman. Walaupun sudah tua, mungkin sekitar 70 tahunan, si kakek tampak masih gagah, jalannya masih tegap. Hanya saja dia sedang sakit batuk-batuk jadi kelihatan pucat dan lelah.

“Si Boy boleh saya bawa ya, Kek?”

“Kalau itu, kamu harus bilang dulu sama Ardi. Nanti kalau dia nanya, kakek bingung jawabnya.”

“Tapi dia mau ikut saya tuh, Kek, lihat.”  Laura menunjuk Si Boy yang menggesek-gesekkan badan ke kakinya seperti tidak mau ditinggal. “Saya ‘kan sudah tahu rumah kakek, jadi nanti saya bisa ke sini lagi untuk bilang sama Ardi. Ya, Kek, pliss.”

“Ya sudah kalau begitu, tapi ini makanannya dibawa juga.”

“Tidak usah, Kek. Di rumah saya banyak makanan kucing. Saya selalu menyiapkan untuk kucing-kucing kampung yang suka datang ke rumah.”

“Sudah, bawa saja, nanti kamu akan membutuhkannya.”

Laura tidak bisa menolak. Diambilnya makanan kucing yang terbungkus kantong plastik itu. Mereka berjalan ke arah teras, beberapa meter dari kamar tidur, karena rumah itu cukup besar, namun terkesan sepi karena tidak ada siapa-siapa lagi selain si kakek, Ardi, dan Si Boy.

Pada dinding ruang tengah tergantung beberapa foto perempuan, laki-laki, dan anak-anak tanggung. Tapi Laura tidak berniat untuk menanyakan perihal mereka karena merasa harus cepat pergi. Mendekati pintu depan, tiba-tiba Laura mengambil posisi di sebelah si kakek, dan memegangi tangannya.  

“Kek, kenapa Kakek memelihara burung hantu?”

“Kakek tidak memelihara burung hantu, mereka yang datang sendiri ke sini, hehee.”

“Mereka? Berarti banyak dong?” Kejar Laura.

“Ya, banyak, tapi datang dan pergi. Mereka ke sini cuma numpang tidur karena di rumah kakek masih banyak pohon besar. Tapi sebenarnya mereka itu burung hantu jadi-jadian.”

“Maksud Kakek? Saya nggak ngerti.”

“Burung hantu jadi-jadian itu tadinya manusia, karena melakukan kesalahan maka dia dikutuk jadi burung hantu.”

“Kakek serius? Saya takut, Kek.”

“Hehehe… Nggak. Kakek cuma becanda.”

Secara refleks tangan Laura memukul bahu si kakek. Dan si kakek pura-pura meringis kesakitan. Mereka masih berdiri di pintu bagian dalam. Melanjutkan percakapan yang sebenarnya dibuat-buat oleh Laura untuk menekan perasaan takutnya.

ghosts-gespenter-spooky-horror-40748_bfxguc

Matanya kembali menerawang seisi ruangan rumah. Tidak ada kesan angker, hanya saja lampu penerangannya memang kurang. Di beberapa sudut bahkan terlihat ada vas bunga lengkap dengan isinya. Tapi dia tidak tahu itu bunga asli atau plastik. Kalau itu hasil tangan Ardi, berarti punya jiwa seni juga anak itu, pikir Laura.

“Kek, apa betul ada nenek tua d sekitar sini yang suka menyihir kupu-kupu jadi burung hantu.” Laura masih penasaran perihal burung hantu.

“Kalau itu memang ada riwayatnya. Tapi tidak semua jenis kupu-kupu. Hanya kupu-kupu yang dulunya jelmaan dari bidadari yang disihir jadi burung hantu. Karena si nenek itu iri hati, dia ingin jadi bidadari tapi sudah terlalu tua. Makanya kupu-kupu bidadara itu yang jadi korbannya.”

“Serius, Kek?”

“Enggak, kakek cuma becanda, hehehee.”

Lagi-lagi Laura melayangkan tinjunya ke bahu si kakek.  Di balik candaan-candaannya, Laura merasakan aura misteri pada diri si kakek, tapi dia mencoba untuk rileks dan akrab.

“Ya sudah, kalau mau pergi silakan, hati-hati di jalan. Nanti kalau ketemu Ardi tolong kasih tahu dia kakek nunggu obatnya, jangan terlalu malam. Nanti kakek keburu tidur.”

Setelah berpamitan sekali lagi, Laura meninggalkan halaman rumah itu diiringi Si Boy.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (IV)

Laura & Burung Hantu (II) ⇐  Cerita sebelumnya

 

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (II)

– 5 –

Dilema Laura

Laura masih berpikir apakah dia harus kembali ke telaga untuk mencari kupu-kupu Luna. Bagaimanapun dia merasa bersalah karena terlambat datang dan membuat Luna harus dikutuk menjadi burung hantu. Dia ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya.

Selain itu, dia juga punya janji untuk mengembalikan pakaian yang melekat di tubuhnya kepada pria misterius yang tiba-tiba muncul di dekat telaga. Orang itu pasti sedang menunggu-nunggu kedatangannya. Sebab berada di atas pohon di malam hari tanpa pakaian pasti tersiksa sekali.

Laura membulatkan hatinya untuk kembali ke telaga. Tapi itu berarti dia harus pulang dulu ke rumah untuk berganti pakaian, untuk dirinya sendiri. Apakah waktunya cukup? Sebab hari senakin gelap, dan dia tidak punya cukup keberanian untuk bepergian sendiri di malam hari. Belum lagi sayap kupu-kupu Luna yang masih dia pakai, mau disimpan di mana kalau dia pulang dulu ke rumah?

Sungguh dia berharap Jodi segera datang. Semua akan teratasi kalau pria itu ada di sini sekarang. Dalam penantian yang tidak pasti, dia memantapkan diri untuk pulang dulu ke rumahnya. Sementara dia mulai melepaskan sayap-sayap milik Luna. Hati-hati sekali karena takut tergores atau robek. Masalahnya kemudian, sayap-sayap itu mau diletakkan di mana, di tanah atau digantung di atas dahan. Sama-sama tidak aman.

Laura berpikir untuk menutup sayap-sayap itu dengan dedaunan. Agar aman. Paling tidak untuk sementara waktu, sampai dia kembali lagi dari rumah ke sini. Dia pun mulai memetik daun-daun di sekitar itu dalam jumlah yang cukup untuk menutupi sayap kupu-kupu Luna.

232928_620

Pekerjaannya hampir selesai ketika burung hantu yang tadi bercakap-cakap dengannya terbang menjauh sambil berbunyi. Suaranya sangat menyayat, seperti menangis, geuukk… geuuuuukkk.. geuuukkkkkk….!! Laura menghela nafas. Bulu kuduknya berdiri. Dia membayangkan, apa jadinya kalau nenek sihir datang ke situ. Dan dia sendirian di taman yang mulai gelap. Sementara Jodi tak kunjung datang.

Setelah selesai mengamankan sayap kupu-kupu Luna, kakinya mulai melangkah. Kelihatan sangat tergesa, karena ingin segera meninggalkan tempat itu. Belum sampai keluar dari pintu taman, tiba-tiba sesosok tubuh datang menyergapnya. Posturnya tinggi dan besar. Menyamai pohon-pohon di sekitar taman. Di antara perasaan takut dan nekat, Laura menabrak sosok tersebut — tindakan yang justru membuat tubuhnya terpental lagi ke belakang. Dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

– 6 –

 Di Negeri Kahyangan

Di pintu gerbang langit, para penjaga Negeri Kahyangan mencegah seorang perempuan yang akan masuk ke dalam istana.

“Stop! Stop!” Teriak mereka. “Siapa kau, dan mau ke mana?”

“Aku mau ke dalam, karena di sana tempatku.” Perempuan itu tetap melangkahkan kakinya seperti tidak peduli.

“Tunggu!” Para penjaga mulai emosi. “Kau pasti bukan bidadari karena bau parfummu sangat asing.”

“Parfum?” Perempuan itu terkejut. Tiba-tiba dia teringat sesuatu: ya, tas dan semua isinya, termasuk parfum, tertinggal di taman karena terburu-buru. Tapi dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya di depan para penjaga pintiu gerbang Negeri Kahyangan. Sejenak dia terdiam. Matanya menatap tajam para penjaga.

 

img_20140620171234_53a4091239b30

“Bagaimana aku harus membuktikan bahwa aku adalah seorang bidadari seperti mereka yang ada di dalam,” tukasnya.

“Kau jelas berbohong. Mana mungkin seorang bidadari memiliki tahi lalat di wajah,” tukas salah seorang penjaga.

Secara refleks perempuan itu meraba-raba wajahnya, dan menemukan tahi lalat yang terletak di dagu sebelah kiri. Dia bahkan tidak tahu dan tidak menyadari bahwa di wajahnya ada tahi lalat sebesar kacang hijau. Sejak kapan tahi lalat itu ada di sana, tanyanya dalam hati.

“Kau tahu, tahi lalat di wajah hanya dimiliki bidadari utama, Permaisuri Agung dari Yang Mulia Raja Kahyangan. Oh ya, satu lagi, setiap bidadari ada tanda merah di punggungnya. Coba sekarang buka pakaianmu.” Suara si penjaga meninggi.

“Heeh, aku tahu protokol resmi Istana Kahyangan. Kalian tidak berhak memintaku melepas pakaian. Kalau Raja tahu beliau pasti akan murka.”

Para penjaga kehilangan kesabaran. Dengan gerakan cepat mereka memaksa membuka pakaian yang melekat di tubuh perempuan itu. Namun perempuan itu pun tidak kalah cepat. Dengan sekuat tenaga dia menendang tubuh salah seorang penjaga hingga tersungkur menabrak pintu gerbang. Benturan itu menimbulkan suara keras hingga terdengar ke dalam. Beberapa pengawal istana keluar dan mendekati pintu gerbang. Dengan sigap mereka membangunkan si penjaga yang masih terkapar.

d1cjme0-598ab521-9584-48f6-b476-f7612abf566e

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Perempuan itu berlari ke dalam. Sang Raja Negeri Kahyangan yang tengah duduk di singgasana dilewatinya begitu saja. Tapi Raja itu tersenyum saja. Dia sudah terbiasa melihat tingkah laku aneh, manja, cuek, cengeng, dari para bidadarinya di Negeri Kahyangan.

Para pengawal dan penjaga istana masuk ke dalam dan memberi tahu Raja apa yang baru saja terjadi dan siapa sebenarnya perempuan tadi. Sang Raja lagi-lagi hanya tersenyum. “Biarkan saja, namanya juga anak perempuan,” begitu ujarnya. Para pengawal dan penjaga istana mundur satu persatu meninggalkan Raja.

Di bagian dalam istana, perempuan itu bertemu dengan bidadari-bidadari yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang tengah bersolek, merawat kuku, main congklak, ada juga yang tengah kerokan karena masuk angin.  

Tanpa menyapa mereka, perempuan itu masuk ke sebuah kamar. Para bidadari yang mengetahui itu saling pandang. Sebab aturan di sini tidak boleh masuk kamar kecuali pada saat jam tidur. Dan saat ini belum waktunya. Seorang bidadari menghitung jumlah mereka yang ada di ruangan. Ada tujuh. Berarti yang tadi masuk ke kamar bukan salah satu dari mereka. Keheranan menyelimuti wajah mereka. Tapi tidak ada yang berani masuk ke kamar karena itu melanggar aturan. Akibatnya bisa fatal, dijemur atau membersihkan semua toilet istana.

 

– 7 –

Misteri Cincin dan Burung Hantu

Seorang penasihat Istana Kahyangan berjalan tergopoh menuju ruang tengah, di mana Raja duduk di atas kursi kebesaran. Setelah membungkuk tanda hormat, dia duduk bersimpuh di hadapan Sang Raja. Tunduk. Tak ada kata terucap. Dia menunggu Sang Raja bicara.

“Ada apa, wahai penasihat istana yang budiman?”

“Mohon izin, Tuan Raja, saya mau melaporkan sesuatu yang penting.”

“Silakan.”

Penasihat itu terdiam sejenak, menarik napas, dan mulai bicara dengan kepala yang tetap tertunduk.

“Maaf, Tuan Raja, tadi hamba melihat seekor burung hantu masuk ke dalam istana, bahkan melewati Tuan Raja di sini, dan kemudian menyelinap ke ruang para bidadari. Jika Tuan Raja mengizinkan, hamba akan memeriksa keberadaan burung itu dan menanyakan apa tujuannya masuk ke dalam istana.”

Sang Raja terdiam. Dia menghubungkan kata-kata penasihat istana dengan laporan para penjaga pintu gerbang tentang seorang perempuan yang memaksa masuk ke dalam istana. Padahal, para penjaga dan pengawal istana sudah berusaha untuk mencegahnya.

Dia tidak salah dengar bahwa yang mereka laporkan itu adalah perempuan, bukan burung hantu. Bahkan dia sendiri melihat dengan mata kepalanya, orang yang lewat di hadapannya tadi adalah seorang perempuan. Bagaimana bisa penasihatnya mengatakan itu burung hantu. Apakah ada perisiwa lain, tanyanya dalam hati.

“Baiklah,” sang Raja mulia angkat bicara, “laporan saya terima. Untuk saat ini biar saya dan Permaisuri Agung yang akan menanganinya. Sementara penasihat yang budiman boleh meninggalkan ruangan. Terima kasih atas laporan yang sangat penting ini.”

Penasihat istana itu pergi meninggalkan Raja seorang diri. Sejurus kemudian Sang Raja bangkit dari kursi kebesarannya untuk menemui Permaisuri Agung di kamarnya. Mereka lalu mendiskusikan langkah-langkah yang akan diambil untuk membuktikan laporan penasihat dan para penjaga istana. Akhirnya disepakati, Permaisuri Agung yang akan menyelidiki keberadaan seorang perempuan yang dicurigai menyamar sebagai burung hantu tersebut.

***

Di ruangan yang sangat besar dan mewah para bidadari masih asik bergunjing tentang perempuan yang masuk ke kamar sebelum waktunya. Sebagian dari mereka ingin menerobos ke kamar dan melihat sendiri perempuan itu, namun yang lain mencegahnya dengan keras. “Sebaiknya segera kita laporkan ke Permaisuri Agung,” usul salah satu dari mereka.

“Jangan dulu,” sergah yang lain. “Kalau ingatanku tidak salah, orang itu adalah perempuan yang ikut mandi bersama kita di telaga pinggir hutan.”

Mendengar itu semua terkesiap. Beberapa bidadari lain membenarkan. Perempuan itu tidak lain adalah teman mandi mereka. Bahkan mereka telah merasa akrab dengan perempuan itu, dan memintanya untuk bergabung lagi saat mereka turun ke telaga.

“Sebaiknya kita tunggu waktu tidur, dan saat itu kita temui dia bersama-sama. Siapa tahu dia mau tinggal di sini. Kita punya teman baru.” Kata-kata itu diucapkan oleh bidadari berambut pirang dengan penuh semangat. Hampir saja yang lain ikut bersorak karena gembira. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Bidadari berambut coklat berdiri dan membukakan pintu. Ternyata Permaisuri Agung. Setelah mengucapkan salam, dia memasuki ruangan dengan langkah anggun. Para bidadari menundukkan kepala dalam posisi duduk.

images22

“Anak-anak, apakah benar tadi ada seekor burung hantu masuk ke ruangan ini?” Permaisuri Agung bertanya.

“Bukan burung hantu, Bu Suri.” Para bidadari itu berebut menjawab.

“Lantas, apa?”

“Yang kami lihat adalah seorang perempuan.”

“Perempuan? Di mana dia sekarang?”

Para bidadari serempak menunjuk salah satu kamar yang tertutup.

“Boleh ibu masuk ke sana?” Permaisuri Agung meminta izin, yang langsung direspon anggukan kepala oleh semuanya.

“Kalau Ibu Suri mengizinkan, saya mau ikut,” kata bidadari berambut biru.

“Lho, kenapa tidak. Ayo semuanya ikut Ibu.”

Ajakan itu disambut gembira. Para bidadari bangkit dari duduk mereka dan mengiringi Permaisuri Agung. “Ketuk pintunya pelan-pelan,” pinta Ibu Suri. Salah satu bidadari mengikuti petunjuk Ibu Suri. Beberapa kali pintu diketuk namun tidak ada jawaban. Diulang lagi. Namun tetap tidak ada respon.

“Bagaimana kalau kita buka saja pintunya, Bu Suri?”

“Hush, tidak sopan,” Jawab Ibu Suri. Dia lalu memejamkan mata. Cukup lama, seperti sedang berdoa. Bidadari yang berambut ungu dan yang berambut pink ikut memejamkan mata, sementara yang lain saling melempar senyum atau menutup mulutnya dengan tangan karena nyaris tak bisa menahan tawa melihat dua orang temannya serius berdoa.

Persis ketika Permaisuri Agung membuka matanya, pintu kamar ikut terbuka. 

“Woooww….” Seru mereka serempak

“Tidak usah teriak-teriak begitu. “Ayo, siapa yang mau masuk duluan?” Permaisuri Agung menawarkan. Tanpa dikomando, semua menyerbu ke dalam kamar, seolah ingin lebih dulu bertemu dengan perempuan yang mereka kenal di telaga itu.

Ternyata tidak ada siapa pun di kamar itu. Mereka menyisir seluruh ruangan, termasuk kolong tempat tidur, toilet, hingga dalam lemari. Yang mereka cari tidak ada. Sekonyong-konyong seorang dari mereka berseru, “Hai, lihat, aku menemukan sesuatu,” ujarnya sambil menunjukkan sebuah cincin yang diambilnya dari atas meja. Semua mata mengarah ke benda kecil namun terlihat manis itu.

cincin2

“Bagus, ya, coba aku pakai,” kata bidadari berambut coklat.

“Hush, jangan dulu, nanti ada apa-apanya lho,” sergah yang lain.

“Seperti cincin pernikahan, ya?.”

“Sok tahu, memangnya kamu pernah melihat orang ijab Kabul.”

“Bukan, itu cincin pengasihan.”

“Hahahahaaa…”

“Hadeuh. Sudah, sudah, kalian ini bercanda terus. Sini cincinnya ibu pegang. Sekarang coba kalian perhatian petunjuk-petunjuk yang ada di sini untuk mencari tahu ke mana perginya perempuan itu?” Permaisuri Agung mengeluarkan titah. Kembali semuanya menyelidiki sekeliling ruangan. Tidak ada petunjuk apapun yang mereka lihat. Kecuali, jendela. Ya, mereka baru sadar, mengapa jendela kamar itu terbuka.

“Apa mungkin dia keluar lewat jendela itu?”

“Ya, bisa saja.”

“Tapi kalau dia datang ke sini, kenapa harus melarikan diri?”

“Mungkin dia malu sama kita.”

“Huh, ada-ada saja.”

“Mungkin dia lagi mencari seseorang, tapi dikasih alamat palsu.”

“Kok, kayak lagu dangdut.”

“Hahahaaa…”

“Eh, jangan-jangan dia ke sini mau mencuri sesuatu.”

“Wah, kalau begitu kita harus lihat barang-barang kita.”

“Betul, aku mau periksa gaun yang aku beli di Pondok Indah tahun lalu, kalau sampai hilang, gawat.”

“Ya, aku juga menyimpan T-Shirt baruku di lemari. Itu hanya bisa dibeli di factory outlet di Bandung, di sini mana ada.”

Pertanyaan dan percakapan penuh keheranan tidak terbendung. Hanya Permaisuri Agung yang tampak tenang. “Anak-anak, coba lihat, apa itu yang bergerak-gerak di dahan di luar jendela.” Semua mata melongok ke luar. Seekor burung hantu mengibas-ibaskan sayapnya, kemudian terbang sambil berbunyi, geuuukk… geuuukk… geuuuuukk…. Suaranya makin jauh, lalu hilang ditelan kesunyian.

– 8 –

Rapat Terbatas di Istana Kahyangan

Di ruang tengah, Raja memanggil kembali penasihat istana untuk mengadakan rapat terbatas. Kali ini rapat dihadiri oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Raja memulai rapat terbatas itu dengan mempersilakan Permaisuri Agung menceritakan hasil penyelidikannya.

Semua peserta rapat mendengarkan dengan serius penuturan dari Permaisuri Agung. Tidak ada cerita yang terlewat, termasuk soal burung hantu temuan adanya cincin yang misterius.

Kemudian Sang Raja bicara: “Jadi apa yang dikatakan oleh penasihat itu benar, bahwa ada burung hantu masuk ke istana. Juga ada perempuan yang masuk ke ruangan bidadari. Bagaimana penasihat yang budiman menjelaskan hubungan antara perempuan dan burung hantu itu?”

“Baik, Tuan Raja. Menurut hasil terawangan hamba, perempuan dan burung hantu itu dua makhluk yang berbeda. Keduanya datang dari bumi. Tapi mereka datang bersamaan mengikuti rute para bidadari sepulang dari telaga.”

Penasihat itu berhenti sejenak, menarik napas dan melihat reaksi Sang Raja dan Bu Suri yang tampaknya masih ingin mendengarkan penjelasannya lebih jauh.

“Karena sekarang mereka sudah ada di sini. Kita harus mencari dan menemukan mereka. Sebab kalau tidak, dampaknya bisa mengancam pertahanan dan keamanan negeri kita.”

olympus1

Sang Raja terlihat antusias. Dia meminta seorang pengawal untuk memanggil kepala pasukan tempur istana. Sesaat kemudian Sang Raja melanjutkan rapat. Sekarang dia minta pendapat Ahli Hikmah tentang cincin yang ditemukan di kamar bidadari.

Orang yang dipanggil Ahli Hikmah itu menggeser posisi duduknya agak ke depan. Dengan kepala tertunduk dia mulai bicara.

“Dalam pandangan hamba yang dhaif ini, cincin itu bukan sembarang cincin. Di dalamnya tersimpan semacam chip dan alat penyadap untuk merekam semua denyut nadi kehidupan di negeri kita. Mungkin rapat kita ini juga sudah terekam datanya di sana. Tapi Tuan Raja tidak perlu khawatir, karena hamba bisa mengecoh data rekaman di dalamnya menjadi file-file yang tidak bisa dibaca.”

Raja dan Permaisuri Agung tersenyum lega. Bersamaan dengan itu kepala pasukan tempur istana tiba dengan atribut dan seragam resmi. Usai memberi hormat pada Raja dan Permaisuri Agung, dia mengambil posisi duduk di belakang penasihat istana.

Sebelum Raja kembali bicara, penasihat kedua mengangkat tangannya. “Maaf Tuan Raja, apakah saya boleh menyampaikan sesuatu.” Sang Raja mempersilakan.

“Begini Tuan Raja, beberapa kali hamba mengatakan agar Tuan Raja lebih keras lagi menerapkan disiplin kepada para bidadari. Sebab akhir-akhir ulah mereka sudah keterlaluan. Kalau mereka turun ke bumi, mereka bukan hanya mandi di telaga, tapi juga jalan-jalan ke mal. Bahkan ada yang belanja pakaian dan perhiasan.”

Mendengar itu Sang Raja hanya tersenyum. Begitu juga Permaisuri Agung. Hal ini menimbulkan kesan di mata mereka bahwa Raja dan Ibu Suri terlalu memanjakan para bidadari. Padahal ulah mereka belakangan ini dianggap berbahaya oleh para pengawal dan penjaga Istana Kahyangan. Kedatangan burung hantu dan perempuan itu bukti ulah mereka juga. Tapi Raja dan Bu Suri tidak pernah menegur mereka atau pura-pura tidak tahu. Ini membuat mereka kesal.

Penasihat kedua itu kembali melanjutkan. “Kalau ini terus-menerus kita biarkan, lama-lama mereka akan nonton di bioskop atau nongkrong di kafe. Ini sangat berbahaya bagi kedaulatan bangsa kita.”

Kali ini Sang Raja terdiam. Siku kanannya menyenggol tangan Bu Suri. Berharap dia menanggapi kata-kata penasihat kedua. Namun Ibu Suri tetap terdiam. Akhirnya Sang Raja juga yang bicara.

“Ya, saya dan Ibu Suri memang sengaja memberi kebebasan kepada para bidadari untuk berinteraksi dengan makhluk bumi. Mereka itu adalah mata dan telinga kita untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di bumi.”

Raja terdiam sejenak memperhatikan raut muka para peserta rapat. Wajah kepala pasukan tempur terlihat sumringah. Mungkin dia senang karena apa yang dipikirkan Raja sudah lama juga menjadi pikirannya. Pendidikan militer yang dijalaninya selama ini juga menekankan pentingnya menggunakan mata dan telinga ketiga untuk menyadap informasi dari pihak musuh. Sementara para penasihat dan pengawal istana tetap tertunduk.

Raja melanjutkan: “Apa yang dikatakan penasihat kedua itu benar dan memang sudah terjadi. Jangan kira saya tidak tahu aktivitas para bidadari selama turun ke bumi. Mereka ikut meramaikan acara car free day, membawa-bawa bendera khilafah dalam aksi demo di Bundaran HI, dan menyaksikan Festival Musik Melayu di pantai Ancol. Saya tahu semua. Tapi saya perlu informasi itu. Karena itu saya biarkan.”

Ibu Suri tersenyum kecil. Tapi yang lain terdiam. Mereka mungkin tidak menyangka para bidadari itu turun ke bumi bukan semata-mata untuk mandi di telaga seperti kisah-kisah yang mereka sebarkan selama ini agar manusia berimajinasi tentang keajaiban negeri kahyangan. Rupanya mereka mengemban tugas yang cukup berat. Tak terbayang kalau mereka sampai tertangkap satpol PP saat mengikuti aksi demo, lalu digiring ke Polda Metro Jaya, apa yang akan terjadi.

Karena semua masih terdiam, Raja melanjutkan lagi: “Baiklah, berdasarkan masukan-masukan dalam rapat ini, saya perintahkan kepala pasukan tempur beserta anak buah untuk mencari dan menemukan perempuan dan burung hantu itu. Tangkap mereka hidup-hidup.”

Kalimat penutup itu diucapkan Raja dengan nada tinggi, membuat mereka yang hadir mendongakkan kepala, dan merasa sekarang mereka punya Raja yang tegas dan bijaksana.

“Sementara itu,” Raja melanjutkan, “saya akan mengutus dua orang bidadari turun ke bumi untuk mencari si pemilik cincin ini dan menyelidiki apa motiv mereka. Kalau benar ini aksi spionase, kita akan kirim pasukan tempur.”

Semua tercengang. Dari nada bicara dan muatan kata-katanya, mereka tahu Raja sedang tidak main-main.

Saat mereka terdiam, Ahli Hikmah mengacungkan tangan sehingga Raja mengurungkan niatnya untuk bicara lagi. Raja mempersilakan dia bicara. Rupanya dia meminta izin untuk memegang cincin yang tergeletak di depan Ibu Suri. Dia genggam cincin itu erat sekali, kemudian dilepas, dipindahkan letaknya hanya dipegang ujung telunjuk dan ibu jari. Dia pandangi cincin itu seperti tengah menerawang. Dan, katanya, “Tuan Raja, mereka sudah terjebak sendiri. Cincin ini mengandung data-data keadaan di bumi saat ini. Mungkin tujuan mereka semula, data-data itu untuk memancing respon kondisi Negeri Kahyangan. Tapi mereka salah, karena temperatur suhu dan cuaca di sini justru menimbulkan respon terbalik. Perangkat mereka tidak berfungsi, justru data-data bumi yang muncul di sini.”

Tak terkira senangnya Raja dan Ibu Suri mendengar penjelasan dari Ahli Hikmah. Tidak sia-sia dia mengangkat Ahli Hikmah itu menjadi cendekiawan istana. Namun kekaguman itu tidak keluar dari mulutnya. Memang bukan kebiasaan Raja untuk memuji orang. Dia manggut-manggut saja sudah dirasa cukup sebagai pujian. Sang Ahli Hikmah kemudian mengambil ballpoint dan membuat semacam peta dan sketsa yang tidak dimengerti oleh peserta rapat. Usai melakukan itu dia menjelaskan.

“Tuan Raja, kita harus hati-hati mengutus bidadari ke bumi, sebab saat ini bumi tengah dilanda wabah virus Corona. Apalagi Jakarta, termasuk daerah yang paling rawan terpapar virus mematikan tersebut. Hamba membaca file di cincin ini sudah banyak orang yang mati karena virus ini. Sebagian menampakkan gejala berat, dan sebagian lagi gejala ringan. Bahkan ada yang tidak menampakkan gejala sama sekali, tapi mereka terserang virus ini dan mati.”

virus_covid_19

Sang Ahli Hikmah menjelaskan panjang lebar. Sesekali tangannya membuat coretan pada kertas di tangannya. Tiba-tiba seorang pengawal istana menyela. “Maaf, hamba mendengar ada seorang bidadari yang masuk angin sehingga perlu dkerok dan minum wedang jahe. Jangan-jangan dia termasuk orang yang terpapar virus itu?”

“Oh, tidak,” sergah Ahli Hikmah. “Gejala virus Corona itu sesak napas dan demam tinggi. Tidak usah khawatir. Kalau masuk angin mungkin karena mereka terlalu lama berendam di air, atau minum es dawet yang terlalu dingin.”

Mereka manggut-manggut. Raja mengambil alih kendali rapat. Keputusan sudah dibuat bahwa dia memerintahkan pasukan untuk mencari perempuan penyusup dan burung hantu, dan satu hal lagi, dia akan mengutus dua orang bidadari ke bumi untuk menyelidiki pemilik cincin dan tujuannya mengirimkan cincin itu ke negerinya. Informasi dari Ahli Hikmah dicermati dan akan menjadi bagian dari kebijakannya tersebut.

“Pasukan pencari harus mulai bergerak dari sekarang. Saya tidak memberi batas waktu untuk menangkap mereka, tapi lebih cepat lebih baik. Tentang siapa bidadari yang akan diutus ke bumi akan kita bicarakan besok. Tapi teknisnya bisa kita bahas secara singkat sekarang. Apa ada usulan lain?” Tanya Sang Raja.

“Begini Tuan Raja,” Ahli Hikmah bicara lagi. “Sebaiknya rencana mengutus bidadari ke bumi itu ditunda dulu, mengingat semua wilayah sekarang sedang menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) akibat penyebaran virus Corona. Ini terlalu berisiko buat mereka. Kecuali  mereka mengikuti protokol kesehatan WHO seperti yang tertera di sini.” Ahli Hikmah menunjukkan cincin dan coretan-coretan yang dia buat. Lalu dia menjelaskan kewajiban memakai masker, social distancing, dan sering cuci tangan.

20200415102713-Picture1

Raja dan Bu Suri tertawa mendengar penjelasan itu, karena mereka tidak membayangkan bidadari memakai masker. Tapi apa boleh buat kalau memang itu protokolnya harus diikuti. Ahli Hikmah itu kemudian membentangkan peta. Ia menunjukkan beberapa daerah yang akan dijadikan tempat turun para bidadari di bumi. Sekonyong-konyong Sang Raja menunjuk dua titik yang paling terang.

“Mungkin bagus kalau turun di sini, atau di sini,” kata Sang Raja.

“Maaf, Tuan Raja, ini daerah Bekasi, zona merah. Dan ini Bogor, juga zona merah. Sangat beresiko kalau para bidadari itu turun di sini. Saya pribadi mengusulkan, sebaiknya mereka turun di sini.” Semua mata peserta rapat memperhatikan titik yang ditunjukkan oleh Ahli Hikmah. Tulisan di peta itu terbaca oleh mereka: Pondok Aren.

Setelah rapat yang memakan waktu sekitar satu jam itu, akhirnya kesepakatan dicapai. Raja dan Ibu Suri terlihat sangat gembira. Begitu juga para penjaga, pengawal, penasihat istana, kepala pasukan tempur, dan para ahli. Semua meninggalkan ruang rapat dengan perasaan berbunga, disaksikan oleh sepasang mata yang sejak tadi mengikuti rapat itu diam-diam, tanpa sepengetahuan mereka.

Lanjut baca Laura & Burung Hantu (III)

Laura & Burung Hantu (I)  Cerita sebelumnya

 

Categories
Novel

Laura & Burung Hantu

Sebuah Novel Remaja oleh Ahmad Gaus

Genre: Horor-Komedi

– 1 –

 Awal Mula

Hari ini genap 17 tahun usia Laura. Tidak ada acara potong kue dan tiup lilin. Tidak ada acara bersama teman-temannya. Padahal dia sudah berjanji pada momen sweet seventeen ini bakal membuat kejutan besar untuk teman-temannya. “Pokoknya kalau ada yang pingsan atau bunuh diri jangan nyalahin aku.” Begitu ucapan Laura tentang kejutan besar yang direncanakan di pesta ulang tahunnya. Teman-temannya dibuat penasaran.

Sayangnya, rencana pesta itu dia abaikan begitu saja tanpa pemberitahuan kepada teman-temannya, demi sebuah pesta lain. Ya, sebuah pesta lain yang dirancang oleh Jodi, kekasih Laura, yang juga berulang tahun hari ini. Pesta itu akan diadakan di sebuah taman dimana mereka pernah mengadakan pesta ulang tahun bersama dan berdua saja, saat mereka masih kanak-kanak 10 tahun lalu. Laura tidak bisa menolak ajakan itu. Dia takut mengecewakan Jodi — pria yang menjadi temannya sejak kecil, karena mereka bertetangga, dan usianya dua tahun di atas Laura.

Sampai sekarang sebenarnya Laura tidak mengerti mengapa dia mencintai Jodi, seorang pria yang senang menyendiri dan cenderung dingin, jauh dari kesan romantis. Lauren, saudara sepupu Laura yang punya kemampuan menerawang alam gaib, pernah mengatakan bahwa Jodi memiliki “mata mistik”. Mata itu, kata Lauren, sejenis mata burung malam yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang luar biasa.

3dbb60f1cf1582a02e4cbf8ab8ded69c

Tidak sepenuhnya Laura memercayai kata-kata itu. Kadang justru terbetik rasa cemburunya kepada Lauren karena dia sangat intim bergaul dengan Jodi. Mungkin kelebihan Lauren yang bisa menerawang alam supranatural itu yang membuatnya dekat dengan Jodi.

Riwayat hidup Jodi memang misterius bagi Laura. Jodi pernah raib saat dilahirkan. Dia ditemukan tiga hari kemudian di tepi sungai oleh pencari ikan dalam kondisi tubuh dipenuhi bekas gigitan hewan. Tapi dia selamat. Ibunya meninggal dunia saat melahirkan dirinya. Sedangkan ayahnya telah pergi entah ke mana sejak Jodi masih dalam kandungan.

***

Laura terbangun dari tidur siangnya oleh sebuah suara yang memecahkan kaca jendela. Dia mengira itu suara halilintar karena di luar sedang turun hujan. Tapi ternyata bukan. Dengan jelas dia melihat sekelompok burung hantu melemparkan sesosok tubuh penuh darah ke kamarnya.

“Jodi..!!?” Teriaknya. Laura terhenyak. Dunia tiba-tiba menjadi gelap dalam pandangannya. Bagaimana mungkin kekasih yang dicintainya mengalami nasib setragis itu justru di hari ulang tahunnya. Ke mana burung-burung laknat itu sekarang? Apa pula salah Jodi sampai mereka melakukan perbuatan biadab itu pada kekasihnya? Laura marah, tapi kemarahan itu dikalahkan oleh kesedihannya.

f156f4544388cafe48a01608ab9bf859

Laura meraba pipinya, sebutir airmata meleleh. Dia mencubit-cubit tangannya, dan terasa sakit. Ternyata peristiwa barusan itu hanya mimpi buruk. Tidak ada tubuh Jodi yang tadi terlempar keras sekali. Kaca jendela pun masih utuh. Dia bersyukur.

Sambil menunggu hujan reda, Laura berdandan, memoles pipinya dengan bedak tipis, menyentuh bibirnya dengan lipstick merah tipis, lalu mengenakan T-Shirt dan celana jeans. Sebelum pergi dia menyempatkan diri membersihkan lantai kamar dengan tissu dari bercak-bercak darah yang berceceran. Sejurus kemudian dia keluar kamar, mengunci pintu dari luar pelan sekali, lalu mengendap-endap agar tidak ada penghuni rumah yang melihatnya.

 

– 2 –

Percakapan dengan Kupu-Kupu

Di Taman Aden, Laura duduk seorang diri, menunggu Jodi —  kekasih pujaan hati. Awan tipis turun di rambutnya. Pelangi sore menyelinap di bola matanya. Daun-daun seperti kaca. Memantulkan sisa air hujan di pipinya.

Rembang petang mulai mengambang, yang ditunggu tak kunjung datang. Lamunannya melayang, memandang seekor kupu-kupu hinggap di putik kembang.

“Hai, siapa namamu?” tanya gadis itu.

“Aku Luna, kamu siapa?” kupu-kupu itu balik bertanya.

“Aku Laura. Senang bisa berkenalan denganmu, Luna.”

Kupu-kupu bernama Luna itu hanya tersenyum.

“Sayapmu cantik sekali, Luna, bolehkah aku meminjamnya sebentar saja?”

Luna tidak menjawab. Bahkan tidak memedulikannya. Ia merapikan bajunya yang sempat tersangkut di dahan bunga. Tangannya direntangkan. Sayapnya diangkat. Pertanda siap terbang kembali.

“Luna, jika kau meminjamkan sayapmu, aku akan memberimu hadiah baju yang cantik.” Laura membujuk.

710197d181c0ae75af7f51eca104f3af

Kupu-kupu itu tetap bungkam. Kini ia terbang ke tangkai bunga yang lebih tinggi. Laura terus berusaha mendekatinya. Karena lalai, Luna hinggap di daun yang basah. Kakinya terpeleset, sepatunya terjatuh. Untung saja Laura berhasil meraihnya. Luna tersenyum.

“Karena kau telah menyelamatkanku, maka permintaanmu kupenuhi, ambillah sayap ini dan terbanglah ke mana suka, tapi ingat kau harus sudah ada di taman ini lagi sebelum hari menjadi gelap. Sebab kalau sudah malam, taman ini jadi tempat bermain kawanan burung hantu.

“Burung hantu?” Laura kaget. Luna menjelaskan bahwa taman ini dulunya adalah kuburan massal korban pembantaian tentara Jepang. Banyak di antara mereka yang bahkan belum benar-benar mati sudah dikuburkan di bawah todongan senjata.

Mendengar penuturan itu Laura jadi ragu untuk terbang dengan sayap kupu-kupu Luna. Namun Luna meyakinkan bahwa dia akan mendapatkan pengalaman menarik yang belum pernah dialaminya. Benar juga, pikir Laura. Tiba-tiba dia melompat senang. Dipeluknya kupu-kupu itu sambil diciuminya. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari tubuh Laura. Tapi tingginya hampir sama. Sesaat kemudian tubuh Laura melesat ke udara. Sayap-sayapnya terbentang indah bagai bidadari.

Seorang pria yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dari tempat tersembunyi, diam-diam mengikuti Laura dari belakang.

 

– 3 –

Perjumpaan dengan Bidadari

Dari ketinggian Laura memandangi taman-taman, melewati perbatasan kota, memasuki pedesaan, melintasi perbukitan. Akhirnya dia tiba di suatu tempat yang cukup jauh. Tempat yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya.

Pria yang mengintainya dari taman masih terus mengikutinya. Kadang dia berjalan, kadang berlari, mengikuti laju kecepatan Laura.

“Hai, suara apa itu,” bisik Laura sambil menengok ke arah datangnya suara. Lalu dia mencoba mendekat. Pada jarak tertentu dengan jelas dia menyaksikan pemandangan langka: perempuan-perempuan sedang asik bercengkrama di sebuah telaga. Jumlah mereka tujuh orang. Laura terus mendekat ke arah mereka. Warna pelangi berpendar di permukaan air. Tubuh-tubuh molek itu menyelam dan berenang ke sana kemari. Bagaikan kawanan angsa yang telah lama merindukan air.

Kini Laura telah berdiri di tepi telaga. “Haaaai.., bolehkah aku bergabung dengan kalian?” Dia berkata setengah berteriak.

IMG-20191025-WA0001

Perempuan-perempuan itu saling menatap satu sama lain. Tidak ada yang menjawab. Tapi dari cara mereka memandang tersirat rasa kagum. Gadis yang berdiri di hadapan mereka seperti bidadari bumi.

Air di permukaan telaga berkilauan. Meriak, memantulkan cahaya tubuh sang gadis. Perempuan-perempuan yang sedang mandi itu pun terpana. Mereka berseru secara bersamaan, “Ayo, kemari!” Laura tersenyum riang. Lalu menceburkan diri. Berenang bersama mereka.

Pria yang sejak tadi mengikuti Laura menyaksikan dari jauh. Menikmati suara kecipak air dan tawa renyah mereka. Seperti musik riang yang tak putus-putus.

***

Hari mulai senja. Cahaya matahari menipis. Warnanya memantul berkilauan di telaga. Perempuan-perempuan itu mulai menepi dan naik ke daratan. Samar-samar si pria melihat mereka tergesa-gesa mengenakan pakaian. Lalu memasangkan sayap pada lengan masing-masing.

“Kami pamit dulu ya, lain waktu kita bertemu lagi, sebab kami harus pulang sebelum gelap,” ujar mereka kepada Laura.  

Usai berkata mereka melesat terbang ke angkasa. Tinggallah gadis itu mematung seorang diri. Terpana, seakan tidak percaya apa yang baru saja terjadi: Dia mandi bersama perempuan-perempuan kahyangan yang selama ini hanya dia baca dari cerita legenda.

bidadari

Sementara itu pria yang sejak tadi mengikutinya, masih berada di kejauhan. Tiba-tiba dia teringat bahwa Laura harus segera kembali ke Taman Aden karena ditunggu oleh Luna. Dia ingin mengingatkan, kalau Laura terlambat kembali ke Taman Aden, kupu-kupu cantik itu bisa menjadi sasaran empuk kawanan burung hantu.

Segera dia menghampiri Laura, dan terpana menatap sosok tubuh di hadapannya. Tapi dengan cepat dia memalingkan wajah dan tubuhnya. Untuk menghindari tatap muka karena khawatir Laura mengenalinya.

“Laura, cepat kenakan pakaianmu dan kau harus segera mengembalikan sayap itu pada Luna, apakah kau lupa janjimu?” Dia berkata sambil membelakangi gadis itu.

“Hey, siapa kau, dan dari mana tahu namaku dan Luna?” sergapnya.

“Sudahlah, bukan waktunya untuk bertanya. Sekarang kau harus segera pulang karena Luna dalam bahaya.”

Tiba-tiba saja Laura menjerit kecil. Pria itu terkejut dan bertanya, “Kenapa Laura, ada apa?”

“Pakaianku hilang,” tegasnya.

Pria itu makin terkejut. Gila, pikirnya, ke mana pakaian itu, masak sampai terbawa oleh bidadari-bidadari tadi, tidak mungkin. Atau… jangan-jangan dicuri orang. Kalau ya, berarti ada orang lain di tempat ini selain dirinya saat para bidadari mandi. Tapi siapa pencuri itu, kurang ajar betul, umpatnya dalam hati.

“Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau Luna menderita gara-gara aku,” Laura berkata seperti meratap.

“Ya, jangan sampai dia menjadi makanan empuk burung hantu. Sangat mengerikan,” sahut si pria.

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Sebentar, apakah sayap itu masih ada?”

“Ada, hanya pakaianku yang hilang.”

“Kalau begitu kau tetap bisa ke sana, jadi pergilah sekarang juga dan segera temui Luna.”

“Apa? Maksudmu aku harus pergi dalam keadaan tanpa pakaian seperti ini?”

Pria itu terdiam. Benar juga, batinnya. Dia berpikir keras, apa yang harus dilakukan. Sementara waktunya tinggal beberapa saat saja menjelang gelap. Kasihan sekali kalau Luna — kupu-kupu yang cantik jelita itu — harus menjadi santapan burung hantu.

“Cepat katakan apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa lagi berpikir jernih sekarang. Atau… hhhmm.. aku curiga, jangan-jangan kau sendirilah yang menyembunyikan pakaianku.”

Betapa kagetnya pria itu mendapat serangan yang begitu mendadak dan tak terduga. Tapi sepertinya dia tidak hendak berdebat, karena tahu Laura sedang bingung.

“Terserah kalau kau menuduhku melakukan itu. Yang jelas kau tidak punya banyak waktu lagi. Kalau kau setuju, aku akan pinjamkan pakaianku.”

d7ccc2f6aceb0d239d0636e675aab7b7

Laura terdiam. Tidak memberi jawaban. Si Pria menduga bahwa Laura merasa ragu dengan pakaiannya, sehingga dia menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakannya itu, celana jeans dan kaos, model unisex jadi tidak masalah jika Laura memakainya.

“Tidak usah mengajari aku soal itu,” tandas Laura.

“Ok, kalau begitu aku anggap kau setuju. Sekarang berbaliklah karena aku mau melepaskan pakaianku untuk kau kenakan.”

Tanpa bertanya lagi Laura membalikkan badan. Tidak lama kemudian terdengar suara si pria.

“Sekarang kau boleh gunakan pakaianku dan segera temui Luna. Jangan lupa kembali lagi ke sini karena aku menunggu pakaianku.”

Suara itu terdengar dari atas. Laura mendongakkan kepala. Pria itu memang di atas pohon. Tanpa pakaian. Mungkin dia malu, atau takut serangan binatang malam. Samar-samar Laura mengingat suara pria itu, seperti suara seseorang yang pernah dia kenal. Tapi dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir, dan segera mengenakan celana jeans dan kaos milik pria tersebut. Dalam sekejap dia sudah melayang di udara.

Cover-1-1

 

– 4 –

Pengakuan Burung Hantu

Laura tiba di Taman Aden ketika hari mulai gelap. Matahari tinggal merahnya. Semu remang dan pudar. Bulan sudah naik ke singgasana malam. Laura mencari-cari dimana Luna. Di setiap sudut taman, tangkai-tangkai bunga. Tapi dia tidak menemukannya. Hatinya mulai gelisah.

“Luna, Luna, di mana kamu..?”

Tidak ada jawaban. Bulu kuduknya merinding mengingat kata-kata Luna sebelum dia pergi. Jadi santapan burung hantu!!

“Jangan sampai terjadi! Jangan sampai!”

Sekonyong-konyong dia mendengar suara burung hantu. Jantungnya seakan copot. Dia mendekati arah suara itu. Pada sebatang dahan yang nyaris tertutup daun. Di situlah seekor burung hantu bertengger. Sikap tubuhnya murung. Tatapannya layu.

“Hey, aku sedang mencari kupu-kupu bernama Luna, apa kau melihatnya?”

Burung hantu itu terdiam. Laura mulai curiga, jangan-jangan burung hantu itu yang menyantap Luna.

“Kamu sedang apa di sini?” Suara Laura terdengar emosi.

“Kalau siang hari taman ini memang milik kupu-kupu, tapi menjelang malam, tempat ini menjadi milik kami.” Burung hantu itu menjelaskan. “Dulu aku juga seekor kupu-kupu, seperti Luna, lalu dikutuk jadi burung hantu.”

544fcdca85d7193d6bdefad18193bd51

“Bagaimana bisa?” Tanya Laura penasaran.

“Ini ulah nenek sihir. Dia bilang ini tempatnya dari zaman penjajahan Jepang dulu.”

“Apa menurutmu, Luna juga disihir menjadi burung hantu?”

“Ya,” jawab burung hantu itu singkat.

“Lalu di mana dia sekarang?”

“Dia pergi ke arah utara, menuju sebuah telaga.”

“Telaga? Untuk apa?”

“Setiap kupu-kupu yang dikutuk jadi burung hantu akan pergi ke telaga untuk mencuri pakaian bidadari. Kalau dia berhasil, pakaian itu diberikan kepada nenek sihir. Sebagai imbalannya, nenek sihir akan mengubah wujudnya kembali menjadi kupu-kupu.”

Pikiran Laura semakin kalut mendengar penuturan burung hantu. Ingin sekali dia segera pergi ke telaga, tapi hatinya agak cemas. Bagaimana kalau yang dia temui bukan Luna tetap malah si nenek sihir. Salah-salah malah dia sendiri yang disihir menjadi burung hantu.

***

Pria di atas pohon masih menunggu Laura kembali. Suasana makin gelap. Tidak ada lagi sisa cahaya matahari. Pandangan di sekitar telaga benar-benar pekat. Perlahan-lahan muncul rembulan. Sinarnya menerobos daun-daun. Air telaga kembali terlihat.

Dan…. pria itu menggosok-gosok matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesosok tubuh perempuan berjalan mendekati tepian telaga. Astaga, dia memakai pakaian Laura yang hilang. Apakah itu Laura? Matanya dipicingkan untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bukan Laura. Ya, itu bukan Laura. Rambut Laura hanya sedikit di bawah bahu, tidak sepanjang itu.

Begitu tiba di pinggir telaga, perempuan itu melepaskan pakaiannya dan siap untuk menceburkan dirinya ke telaga. Pria itu semakin yakin bahwa perempuan itu bukan Laura.

Tapi siapa perempuan itu, kenapa dia mencuri pakaian Laura. Sejumput pertanyaan berkelebat di kepala pria itu. Matanya kembali memperhatikan perempuan itu berenang ke sana ke mari. Sendiri saja, namun dia kelihatan sangat lepas dan senang.

1c93ae52f950fb958120362eab7a694d

Terbetik pikiran untuk mengambil pakaian perempuan itu selagi dia menyelam, dan memberikannya pada Laura. Ide yang bagus, pikirnya. Maka dia mulai memindahkan pegangan tangan dan kakinya ke dahan yang lebih rendah. Sayang sekali dia kurang hati-hati. Dahan yang dipijaknya tidak kuat menahan beban tubuhnya, sehingga membuatnya patah, dan jatuh ke tanah, brukkk..!!!

Suara itu mengagetkan perempuan tersebut yang baru saja muncul dari dalam air. Matanya menyelidik dari mana datangnya suara. Dia bergerak ke tepian. Pria itu bersembunyi di balik dahan. Hati-hati sekali. Setelah merasa cukup aman, pandangannya kembali memperhatikan gerak-gerik perempuan tersebut yang mulai naik ke tepian telaga dan mendekati pakaiannya.

Air telaga masih bercucuran dari rambut dan tubuhnya. Benar-benar kecantikan yang sempurna, persis para bidadari yang telah terbang kembali ke kahyangan. Atau, jangan-jangan memang itu salah satu dari mereka yang sengaja kembali ke sini, tapi untuk apa? Mengapa pula memakai pakaian Laura.

Dan, byuurr… ternyata perempuan itu kembali menceburkan diri ke telaga. Berenang bebas ke sana ke mari. Muncul dan menyelam berkali-kali. Pria itu kini nekad untuk mencuri pakaiannya dan diberikan kepada pemiliknya: Laura.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (II)

Categories
Humaniora

Anak-Anak Panti Asuhan dan Cita-Cita Mereka

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit.. jikapun engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” ~ Ir. Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI

Kata-kata itu saya sampaikan kepada anak-anak Panti Asuhan Permate Batam, Kepulauan Riau, dalam suatu kunjungan di minggu petang lalu bersama para aktivis/ pekerja sosial Ilma Sovri Yanti Ilyas dan Farid Ari Fandi. Dengan anak-anak panti itu kami berbagi inspirasi seputar moto ‘man jadda wajada‘ (siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil). Rentang usia mereka dari pra sekolah hingga SMA.

IMG-20181202-WA0065

Saya bercerita tentang orang-orang besar yang hidupnya sangat sulit dan prihatin namun berkat kemauan kuat dan kerja keras akhirnya mereka berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak. Bung Karno, Bung Hatta, dll. Juga kisah seorang musisi terkenal Amerika yang keluar dari sekolah dan menjadi pedagang koran eceran, bekerja di toko sepatu, untuk menabung demi membeli gitar bekas. Tapi dari gitar bekas itulah Iahir lagu yang terkenal di seluruh dunia: I wanna lay you down on a bed of roses… (BJ).

Kuncinya adalah: man jadda wajada! Lalu anak-anak itu mengacungkan tangannya. Aku ingin jadi Bung Karno. Aku ingin jadi polisi. Aku ingin jadi pilot. Aku ingin jadi artis. Aku ingin sekolah ke Belanda. Aku ingin ke Amerika….

Lalu kami bersama-sama menyanyikan lagu “Di Timur Matahari” dan “Tukang Kayu”. Cukup satu kali saya memberi contoh, anak-anak itu langsung menghapal lirik lagunya: “Katakan padaku hai tukang kayu. Bagaimana caranya memotong kayu. Lihat, lihat, kawanku, beginilah caranya memotong kayu…..”

IMG-20181202-WA0049
Berfoto di depan panti bersama ibu asuh panti, Bu Siti (baju hitam) dan suami, dan aktivis sosial Ilma Sovri Yanti (baju kuning)

Anak-anak itu sangat manja, sangat menikmati saat kita mengelus kepalanya.. maka eluslah mereka walaupun dari jauh dengan doa dan dukungan nyata.

Rasulullah SAW bersabda: “Demi Yang Mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah). (Imam Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath, VIII/346. Hadist no. 8828).

Ditunggu uluran tangan Anda di:

YAYASAN PANTI ASUHAN PERMATE

NO REK BRI 033101000778533

No kontak ibu asuh panti, Ibu Siti: 085264400790

IMG_20181224_070547_091

Terima kasih, semoga Allah memberi kesehatan, keberkahan, umur panjang, dan rezeki yang berlimpah untuk anda yang mau berbagi dengan anak-anak yang bersemangat itu.

Wassalam,

Ahmad Gaus

Categories
Travelogue

Kenapa Anda perlu Berkunjung ke Bagansiapiapi?

KOTA CAHAYA

Di perahu itu api menyala
angin laut menampar muka
para pengungsi yang tersesat
di kesunyian samudera
doa-doa bergema di haluan
membujuk dewi penunjuk jalan.

Ketika perahu melaju ke utara
bulan muncul dari balik dermaga
nun di sana, ombak pasir berdesir
masa depan memanggil-manggil
kawanan ikan bernyanyi di bagan-bagan
api memercik dari rimbun pepohonan.

Sejarah bermula dari atas perahu
para pengungsi turun dan membakarnya
hingga tak tersisa
sebab mereka tak ingin kembali ke daratan China
api yang membubung ke angkasa
menjadi cahaya yang menerangi kota ini
sepanjang masa.

Bagan Siapiapi, 24/09/17

 

Note:

Dalam menulis puisi di atas saya berutang budi kepada Ika (Riska Syafitri), perempuan Melayu asli Bagan, bu dosen dan calon doktor, yang menceritakan kisah kota ini kepada saya. Ini orangnya:

IMG-20200619-WA0050

 

Bagansiapiapi: a Small Town, a Call to Visit

Pernahkah anda berkunjung ke Bagansiapiapi? Kalau belum, saya anjurkan segeralah pergi ke sana. Anda tidak akan menyesal. Ini kota kecil, memang.  Tapi justru di situ  keunikannya. Letaknya sangat strategis karena berdekatan dengan Selat Malaka  yang merupakan lalu lintas perdagangan internasional. Kalau Bandung dikenal dengan sebutan Paris van Java, Garut disebut Swiss van Java, maka Bagansiapiapi dijuluki sebagai Hong Kong van Andalas. Keren ‘kan? 

Bagansiapiapi adalah ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Dan merupakan kota terbersih ke-2 tingkat Provinsi Riau setelah kota Bengkalis. Nama Bagansiapiapi berhubungan dengan kisah kedatangan orang-orang Tionghoa ke kota ini. Syahdan, orang-orang Tionghoa pertama kali datang ke Bagansiapiapi menggunakan kapal tongkang. Mereka berasal dari daerah Songkhla di Thailand, yang sebenarnya juga merupakan perantau-perantau Tionghoa dari Tiongkok Selatan. Sampai sekarang, orang-orang Tionghoa ini menetap di Bagansiapiapi, bersama penduduk asli dari suku Melayu. Mereka kini hidup rukun. Setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir tak pernah terdengar ada gejolak.

Saya kira bagus kalau ada calon-calon sarjana yang membuat riset tentang akulturasi budaya di kota ini. Untuk tesis atau disertasi. Kalau Ambon bisa menjadi laboratorium toleransi agama, Bagan bisa menjadi laboratorium toleransi budaya.  Ambon, kita tahu, pernah dilanda kerusuhan agama (Islam dan Kristen) yang sangat keras pada 1999 – 2003). Tapi kemudian pulih dan kini menjadi percontohan toleransi agama dengan berbagai inisiatif dan inovasi perdamaian yang dibuat oleh warga.  Bagan pun pernah dilanda huru-hara etnik, seperti kerusuhan Melayu vs China (1998), dan Melayu vs Batak (2001). Pengalaman memberi banyak pelajaran. Sejarah memberi banyak ruang untuk begerak.  Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk masa lalu, tapi masa lalu bisa menjadi bahan untuk kita menciptakan masa depan yang lebih baik.

Ip Plaza Bagansiapiapi Rohil Rokan hilir raja baut
Plasa di Bagansiapiapi, keindahan di tengah kota

Setiap tahun, pada bulan Juni, selalu diadakan ritual Bakar Tongkang, untuk mengenang sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Bagansiapiapi. Pembakaran perahu Tongkang itu untuk menandai bahwa mereka tidak akan kembali ke kampung halamannya di Tiongkok. Ritual ini telah menjadi ikon dan andalan pariwisata Bagansiapiapi yang mampu menyedot puluhan ribu wisatawan dalam dan luar negeri setiap tahun.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Bagansiapiapi selalu meriah. Momen ini sekaligus juga merupakan tradisi pulang kampung bagi orang Tionghoa yang merantau ke luar daerah untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Perayaan Imlek di Bagansiapiapi berlangsung 15 hari sampai malam Cap Go Meh. Lampion beraneka bentuk dan ukuran menghiasi rumah-rumah penduduk, perkantoran, kelenteng dan vihara, bahkan di sepanjang jalan-jalan besar di pusat kota sehingga kota Bagansiapiapi seakan bermandikan cahaya lampion di malam hari.

702296_1200
Rumah Kapitan Tionghoa di Bagansiapiapi, peninggalan masa lalu

Bagansiapiapi terkenal sebagai penghasil ikan terpenting, sehingga dijuluki sebagai kota ikan. Menurut beberapa sumber, di antaranya surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa pada tahun 1928, Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia.

Setelah aktivitas perekonomian dari sektor perikanan semakin menurun, budidaya burung walet untuk diambil sarangnya telah menjadi alternatif usaha dan sangat jamak ditemukan di Bagansiapiapi, terutama di pusat kota, di mana banyak ruko-ruko dibangun 3 sampai 4 tingkat, dengan tingkat teratas dijadikan sebagai tempat budi daya burung walet, sedangkan tingkat 1-2 digunakan sebagai toko dan tempat tinggal.

96286077-54images
Rumah walet banyak dibangun di Bagansiapiapi

Waktu saya berkunjung ke sana pada September 2017 lalu, saya sempat kaget dengan cuacanya yang kadang tiba-tiba gelap, Saya pikir langit mendung dan akan turun hujan. ternyata langit ditutupi ribuan burung walet yang terbang bergerombol membentuk awan hitam. Suatu pemandangan yang menakjubkan.

Tipe-dan-jenis-suara-burung-walet-serta-manfaat-bagi-pengusaha-sarang-burung-walet

1536976227

Pada malam hari saya dan beberapa teman sempat ngopi di bundaran kota. Menikmati suasana malam kota kecil nun jauh di sana… anak-anak remaja hilir mudik berjalan kaki atau bermotor, kerlip  lampu di gedung-gedung tua, kafe-kafe sederhana yang berjejer rapi, warung-warung ikan bakar segar yang baru diangkat oleh nelayan.. 

Festival-bakar-tongkang
Festival Bakar Tongkang, Magnet Pariwisata Kota Bagansiapiapi

Saya tidak akan ceritakan semuanya di sini, supaya anda datang sendiri ke sana, hehe… Ya, buktikan sendiri, dan nikmati sendiri keindahan kota kecil ini. Jangan kuatir  dengan akomodasi, karena di Bagan tersedia sejumlah hotel yang cukup representatif. Bagaimana dengan transportasi? Nah ini. Anda harus siap menempuh perjalanan darat dengan mobil travel dari Pekanbaru ke Bagan dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Tarifnya Rp. 250 ribu. Mobil travel bisa dicarter di bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Alternatif lain bisa juga anda naik pesawat ke bandara Pinang Kampai,  Dumai, dan dari sini anda ambil mobil travel menuju Bagan. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam.

Terserah, enaknya yang mana. Yang penting bulatkan tekad dulu, liburan nanti anda  buat rencana perjalanan ke Bagan. Insya Allah, tidak akan menyesal, hehe.. 

IMG-20170923-WA0017-1

Oh ya betewe kunjungan saya ke Bagansiapiapi waktu itu untuk menjadi salah satu narasumber dalam seminar internasional tentang living values di kampus STAI Ar-Ridho. Saya datang terlambat karena ketinggalan pesawat dari Bandara Cengkareng. Jadi saya berangkat besok paginya. Alhasil pas saya datang sekitar Pk. 14.30 acara sudah hampir selesai hehe.. Tapi panitia yang baik tetap mempersilakan saya bicara walau cuma seorang diri. Sayang foto dokumen saya kurang bagus ya, maaf 🙂

Saya menginap di hotel Lion. Ini foto bersama para pegawai front office-nya. Maklum orang jauh dari Jakarta jadi sebelum pulang foto-foto dulu.

IMG-20170925-WA0000

Demikianlah, teman-teman, laporan perjalanan saya ke kota kecil Bagansiapiapi, Hongkong van Andalas. Kalau ada rezeki saya ingin ke sana lagi.  Pengen nongkrong lama-lama sambil ngopi di bundaran kota, dan lihat-lihat pelabuhan pantai. 

Saat menulis ini saya teringat pertanyaan teman saya saat berkomunikasi di medsos, “Bang, kapan ke Bagan lagi?” Dan saya tiba-tiba jadi sedih.

-o0o–

Beberapa data dalam tulisan ini bersumber dari: Wikipedia

 

 

 

Categories
Puisi

Mata yang Indah

“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

(“Resah”, oleh Payung Teduh)

MATA YANG INDAH

Mata yang indah
adalah seribu kunang-kunang
yang berpindah dari lembah
ke taman pedestrian
dan membawaku kembali duduk
di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.

Walau langit gelap
mata itu tetap purnama
tapi aku tak ingin menatapnya
karena aku akan tersiksa
maka kubiarkan kaki berjalan
dalam kegelapan.

Mata yang indah adalah muara
pelabuhan bagi biduk-biduk
resah dan kebahagiaan
dalam mata yang indah
kehidupan selalu basah
karena di kelopaknya yang rawan
hanya ada musim penghujan.

03/09/17
Rumah Budaya Nusantara
PUSPO BUDOYO, Tangsel.

Baca juga: [Puisi] Z

Categories
Esai

Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi

Pada 24 Juni 2020 ini Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, berulang tahun yang ke-79. Berikut catatan saya untuk “penyair kapak” tersebut sebagai bahan diskusi di Sanggar Kaki Langit (Sangkala), Tangerang Selatan. (Ahmad Gaus)

Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi

 

Dalam hal eksperimentasi, puisi Indonesia dasawarsa 1970-an hampir-hampir identik dengan nama Sutardji Calzoum Bachri. Melalui puisi-puisi mantranya yang berideologi pembebasan kata dari makna, puisi Indonesia mendapatkan nafas baru setelah berpuluh tahun dibebani pesan-pesan moral atau perjuangan. Nama Sutardji kemudian tidak pernah dipisahkan dari perdebatan sastra kontemporer. Ia dianggap membawa corak baru dalam penulisan puisi yang didominasi oleh puisi lirik.[1]

Memang, dibandingkan puisi-puisi mainstream pada zamannya, puisi-puisi mantra ala Sutardji melampaui puisi lirik. Aku dalam puisi lirik menirukan kenyataan dan mengekspresikan perasaan individual. Dua hal itu nyaris lenyap dalam puisi-puisi mantra Sutardji. Jejaknya masih terlihat, tapi tidak dianggap penting. Sebab yang penting ialah kehadiran kata-kata itu sendiri, dan bukan representasinya atas kenyataan, apalagi pengertiannya.

tardji

Dalam puisi-puisi mantra Sutardji, kata yang dihadirkan adalah kata sebagai dirinya sendiri, bukan kata yang ke dalamnya sudah disusupkan makna tertentu oleh rezim bahasa. Dalam kredo puisinya, Sutardji mengatakan ingin membebaskan kata dari makna dan mengembalikan kata pada awal mulanya, yaitu mantera.

Selama rentang waktu satu dasawarsa (1970-1980), Sutardji bergumul dengan eksperimen puisi-puisi mantranya yang kemudian diterbitkan dalam antologi O yang terbit tahun 1973, kemudian Amuk yang terbit tahun 1977, dan menyusul Kapak yang terbit tahun 1979. Pada tahun 1981, ketiga antologi tersebut dikumpulkan menjadi satu dan diterbitkan kembali dengan judul O Amuk Kapak.[2] Buku setebal 133 halaman ini memuat 67 puisi.

Jika ada pernyataan “puisi ditulis tidak untuk dimengerti”, maka pernyataan itu absah sepenuhnya pada sosok penyair Sutardji. Kredo pembebasan kata dari makna menjadi ikon yang mengukuhkan penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, ini sebagai Sang Pembebas.[3] Karena kata sudah dibebaskan dari makna, maka kata-kata puisi benar-benar menjadi rahasia sebagaimana lazimnya ungkapan-ungkapan mantra. Makna yang terkandung di dalamnya menjadi berbau magisme yang biasa dihadirkan dalam sebuah komunikasi spiritual. Karena itu, penyair Abdul Hadi WM pernah menyebut puisi-puisi Sutardji sebagai puisi-puisi sufistik.[4]

Sutarji-O-Amuk-Kapak-1

Menangkap pesan dalam puisi-puisi sufistik—atau dalam istilah Sutardji, puisi mantra—tidak semudah membaca pesan dalam puisi lirik yang merepresentasikan pengalaman atau perasaan sang penyair. Dalam puisi Sutardji, makna itu ada, tapi seperti tiada, bagaikan semut hitam di atas batu hitam yang merayap pada suatu malam yang sangat gelap. Tetapi jelas bahwa semut itu ada. Hanya mata yang tajam yang sanggup melihatnya. Simaklah beberapa puisi Sutardji berikut:

Mantera

 

lima percik mawar

tujuh sayap merpati

sesayat langit perih

dicabik puncak gunung

sebelas duri sepi

dalam dupa rupa

tiga menyan luka

mengasapi duka

 

puah!

kau jadi Kau

Kasihku

 

O
 
dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O…

 

AMUK

…. aku bukan penyair sekedar
aku depan
depan yang memburu
membebaskan kata memanggilMu

pot pot pot
pot pot
kalau pot tak mau pot
biar pot semau pot
mencari pot
pot
hei Kau dengar manteraku
Kau dengar kucing memanggilMu
izukalizu
pot
hei Kau dengar manteraku
Kau dengar kucing memanggilMu
izukalizu mapakazaba itasatali
tutulita papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu
tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco zukuzangga
zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga
zegezegeze zukuzangga zegezegeze aahh…!
nama kalian bebas carilah tuhan semaumu

 

Doa

O Bapak Kapak
beri aku leherleher panjang
biar kutekak
biar ngalir darah resah
ke sanggup laut

Mampus!

 

Apa yang dinyatakan oleh puisi-puisi di atas selain pengekpresian pengalaman estetika penyairnya? Terlalu gegabah untuk menyimpulkan bahwa puisi-puisi di atas tidak bermakna. Makna tidak harus timbul dari rangkaian kata yang dapat dipahami. Sebab makna adalah senyawa bebas yang dapat direkatkan pada pengalaman individual. Dan individu dalam puisi-puisi Sutardji bukan aku-lirik dalam pengertian konvensional, melainkan subjek yang menyatakan diri dalam kata-kata yang sudah merdeka dari penjajahan makna. Setelah kata-kata dibebaskan dari makna, segenap makna yang dibangunnya justru menjadi mungkin.

tardji2

Seperti Chairil Anwar yang sangat berani menyimpang dari tradisi penulisan puisi pada zamannya, Sutardji juga mengambil jalan yang berbeda dari jalan umum. Tapi, berbeda dengan Chairil yang menegaskan konsep puisinya sebagai “sebuah dunia yang menjadi”, Sutardji lebih dari itu. Ia menyajikan konsep tentang dunia yang tak dikenal, persisnya, dunia metafisis yang dilupakan akibat modernitas yang membuat pemahaman manusia atas kenyataan menjadi terpecah. Kesatuan transendental manusia dan Tuhan dibatasi oleh teknologi, falsafah, dan ideologi, yang sesungguhnya asing dalam pengalaman primordialnya. Dunia kenyataan dalam pengalaman manusia modern bagaikan belantara topeng dan citra. Kata-kata biasa tidak sanggup lagi memberi petunjuk ke mana arah untuk menemukan jatidiri manusia yang hilang di belantara citra itu, maka dibutuhkan mantra—kata-kata sakti untuk menguak dunia gaib yang bebas dari pencitraan.

Mantra dalam puisi-puisi Sutardji menjadi metafora yang menggambarkan keresahan dan kepedihan jiwa manusia dalam kesepian dan keterasingan akibat modernitas. Simak puisi berikut:

Sepisausepi

 

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi

 

Puisi di atas sebenarnya berbicara tentang dua hal yang sangat akrab dalam kehidupan sehar-hari, yakni sepi dan pisau. Dengan meleburkan keduanya menjadi “sepisau” lalu “pisausepi” bukan saja memperlihatkan kelenturan sekaligus kejeniusan bahasa puisi ini, namun juga menghadirkan makna yang sama sekali tak terduga—makna baru yang dimungkinkan sebagai hasil pembebasan kata dari penjajahan makna. Sebelum membahas keunikan tipografi puisi dalam O Amuk Kapak, yang membedakannya dengan puisi-puisi mainstream, baik kita simak lagi puisi di bawah.

 

Batu

 

batu mawar

batu langit

batu duka

batu rindu

batu jarum

batu bisu

kaukah itu

            teka

                       teki

yang

tak menepati janji?

 

Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan

hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan

seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?

Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa

gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk

diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai se-

dang lambai tak sampai. Kau tahu?

 

batu risau

batu pukau

batu Kau-ku

batu sepi

batu ngilu

batu bisu

kaukah itu

                       teka

            teki

            yang

tak menepati

            janji?

 

 

Ah

 rasa yang dalam!

datang Kau padaku!

      aku telah mengecup luka

      aku telah membelai aduhai!

      aku telah tiarap harap

      aku telah mencium aum!

      aku telah dipukau au!

                      aku telah meraba

                                                 celah

                                                         lobang

                                                                    pintu

                       aku telah tinggalkan puri purapuraMu

                                    rasa yang dalam

rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala nyata sebab dari segala abad sungsang dari segala sampai duri dari segala rindu luka dari segala laku igau dari segala risau kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh dari segala guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari sega- la Anu puteri pesonaku!

datang Kau padaku!

 

apa yang sebab? jawab. apa yang senyap? saat. apa

yang renyai? sangsai! apa yang lengking? aduhai

apa yang ragu? guru. apa yang bimbang? sayang.

apa yang mau? aku! dari segala duka jadilah aku

dari segala tiang jadilah aku dari segala nyeri

jadilah aku dari segala tanya jadilah aku dari se-

gala jawab aku tak tahu

 

siapa sungai yang paling derai siapa langit yang paling rumit

siapa laut yang paling larut siapa tanah yang paling pijak si-

apa burung yang paling sayap siapa ayah yang paling tunggal

siapa tahu yang paling tidak siapa Kau yang paling aku kalau

tak aku yang paling rindu?

 

bulan di atas kolam kasikan ikan! bulan di jendela

kasikan remaja! daging di atas paha berikan bosan!

terang di atas siang berikan rabu senin sabtu jumat

kamis selasa minggu! Kau sendirian berikan aku!

 

Ah

rasa yang dalam

aku telah tinggalkan puri purapuraMu

 

yang mana sungai selain derai yang mana gantung selain sambung

yang mana nama selain mana yang mana gairah selain resah yang

mana tahu selain waktu yang mana tanah selain tunggu

yang mana tiang

                           selain

                                     Hyang

                                                mana

                                                         Kau

                                                                selain

                                                                          aku?

                                                              nah

rasa yang dalam

tinggalkan puri puraMu!

Kasih! jangan menampik

masuk Kau padaku!

 

Lagi-lagi pertanyaannya, apa yang hendak disampaikan dalam 2 puisi di atas? Kalau memang pengertian, tentunya bukan pengertian yang biasa.  Sebab tidak ada yang  dapat diindera dengan ungkapan “batu mawar”  atau “mengecup aduhai” atau “batu Kau-ku” atau “aku telah tinggalkan puri purapuraMU”. Namun karena kata telah dibebaskan dari makna, kemudian kembali ke fungsi awalnya sebagai mantra, maka keseluruhan bahasa yang digunakan hanya dapat dipahami sebagai kendaraan untuk menghadirkan sugesti kepada pembaca. Terang bahwa Kau dan Mu merujuk kepada Tuhan. Dan untuk mencapai Tuhan yang sudah terjajah oleh pemahaman diskursif pengetahuan dan falsafah tidaklah mudah. Si Aku lirik yang semula terjerembab dalam kebingungan dan hanya berteriak O… sekarang ia meng-Amuk, membawa Kapak untuk membabat semua rintangan yang menghalangi jalan menuju ke aras-Nya.

20151207_10142720140929_123630_5428efde1ea04

Keberhasilan puisi-puisi Sutardji sebenarnya adalah kejernihannya dalam menggunakan bahasa mantra untuk menguak dimensi alam gaib.  Mantra, dan memang hanya bahasa mantra,  yang mampu berkomunikasi dengan dunia mistik. Gejala seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat. Saat kaum muslim, misalnya, memuja dan berkomunikasi dengan Allah, mereka membaca atau melafalkan ayat-ayat suci yang tak mereka pahami. Artinya, ayat-ayat suci berfungsi sebagai mantra, yang di dalamnya dipercaya menyimpan kekuatan magis.

Bahkan kalau kita mau sedikit menengok pada tradisi ilmu kanuragan dalam masyarakat kita, maka kita akan bertemu dengan apa yang disebut wafaq atau jimat. Yakni, tulisan-tulisan ayat suci pada sehelai kain yang disusun dalam pola tertentu sehingga menghasilkan kesaktian apabila dipakai, seperti bisa menghilang, kebal dari pukulan atau tembakan, dan sebagainya. Puisi-puisi Sutardji yang disusun dalam tipografi tertentu yang unik menyerupai tulisan pada jimat. Efek yang hendak dimunculkannya sudah pasti ialah sugesti yang bersifat magis, senafas dengan kata-kata mantra yang digunakannya. Dan sebagaimana dalam jimat yang tersusun dari kata-kata yang tidak merujuk pada makna konvensional. dalam puisi-puisi Sutardji pun kata-kata menyimpang dari fungsinya sebagai pengantar pengertian. Sutardji menandaskan hal ini dalam manifesto kepenyairannya sbb:

Kredo Puisi

 

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

 

Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

 

Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

 

Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor(obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bachri

Bandung, 30 Maret 1973.

 

 

Demikianlah, puisi mantra telah mengantarkan Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah satu penyair terpenting di tanah air — ia bahkan dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia. Perannya tidak bisa direduksi menjadi sekadar pionir pembebasan kata dari makna, yang untuk itu sering dijuluki sang pembebas, el libertador, atau penggagas puisi mantra yang membedakan dirinya dengan penyair-penyair lain[5] Lebih dari itu, ia menjalankan peran profetik untuk suatu perubahan yang mendasar dalam kesusastraan. Dalam suatu kesempatan, penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941, ini bahkan pernah menyatakan bahwa peran penyair dalam mencipta puisi secara ekstrem bisa disamakan dengan peran Tuhan dengan ciptaannya, yakni sama-sama tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.[6]

sutardjiistana
2008. Presiden SBY memberikan  penghargaan Bintang Budaya Parama kepada Sutardji sebagai penghargaan atas kiprahnya dalam bidang kebudayaan.

Sutardji tampaknya menyadari bahwa sastra sebagai sebentuk seni dalam budaya masyarakat tengah berada dalam gerusan modernitas yang memenjarakan kesadaran eksistensial manusia. Karena itu puisi-puisinya ditulis untuk memerdekakan manusia. Tak bisa lain, puisi mantra ialah puisi-puisi religius, yakni usaha transedental sang penyair untuk menemukan jalan lain menuju Tuhan, sekaligus jalan baru bagi estetika puisi untuk keluar dari kesunyian yang mencekam ala Nyanyi Sunyi (Amir Hamzah) atau kesunyian yang buas ala Binatang Jalang (Chairil Anwar).

Sebelum menutup uraian ini, mari kita nikmati lagi beberapa puisi dari Sutardji di bawah ini:

 

 

Walau

 

walau penyair besar

takkan sampai sebatas allah

 

dulu pernah kuminta tuhan

dalam diri

sekarang tak

 

kalau mati

mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat

jiwa membumbung dalam baris sajak

 

tujuh puncak membilang bilang

nyeri hari mengucap ucap

di butir pasir kutulis rindu rindu

 

walau huruf habislah sudah

alifbataku belum sebatas allah

 

1979

 

 

Tragedi Winka dan Sihka

 

kawin

           kawin

                      kawin

                                 kawin

                                            kawin

                                                       ka

                                                 win

                                              ka

                                      win

                                  ka

                           win

                      ka

              win

         ka

 winka

                       winka

                                 winka

                                           sihka

                                                    sihka

                                                             sihka

                                                                      sih

                                                                  ka

                                                             sih

                                                        ka

                                                   sih

                                               ka

                                          sih

                                      ka

                                 sih

                             ka

                                 sih

                                      sih

                                           sih

                                                sih

                                                     sih

                                                          sih

                                                               ka

                                                                   Ku

 

 

 

Hilang (Ketemu)

 

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

 

Kau kehilangan aku

 

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

 

Kamu ketemu aku

 

 

 

 Tapi

 

aku bawakan bunga padamu

tapi kau bilang masih

aku bawakan resahku padamu

tapi kau bilang hanya

aku bawakan darahku padamu

tapi kau bilang cuma

aku bawakan mimpiku padamu

tapi kau bilang meski

aku bawakan dukaku padamu

tapi kau bilang tapi

aku bawakan mayatku padamu

tapi kau bilang hampir

aku bawakan arwahku padamu

tapi kau bilang kalau

tanpa apa aku datang padamu

   wah!

 

1976

 

 

 

Para Peminum

 

di lereng-lereng

para peminum

mendaki gunung mabuk

kadang mereka terpeleset

jatuh

dan mendaki lagi

memetik bulan

di puncak

 

mereka oleng

tapi mereka bilang

– kami takkan karam

dalam laut bulan –

mereka nyanyi nyanyi

jatuh

dan mendaki lagi

 

di puncak gunung mabuk

mereka berhasil memetik bulan

mereka menyimpan bulan

dan bulan menyimpan mereka

 

di puncak

semuanya diam dan tersimpan

 

 

Sajak-sajak Sutardji telah diterjemahkan oleh Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (India),  Writing from the World  (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Selain menulis puisi, Sutardji juga menulis cerpen dan esai sastra. Kumpulan cerpennya diterbitkan oleh penerbit Indonesia Tera pada tahun 2001 dengan judul Hujan Menulis Ayam. Sementara itu, kumpulan esainya diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 2007 dengan judul Isyarat.

Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand. Beberapa penghargaan lain yang pernah diterimanya antara lain:  Penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau (1979); Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993); Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta. (1990); Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan anugrah gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).

Karya-karya Sutardji yang sudah terbit antara lain:

– O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun 1971).
– Kucing, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1973)
– Amuk (tahun 1977)
– Kapak
– Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1981)
– Aku Datang Padamu.
– Perjalanan Kubur David Copperfield.
– Realites’90 Tanah Air Mata.

Penghargaan:

– Anugerah Seni, dari Pemerintah Republik Indonesia (tahun 1990)
– Anugerah Seni atas karyanya berjudul Amuk, dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) (tahun 1977)
– Anugerah Sastra Chairil Anwar (tahun 1998),
– Anugerah Sastra Asia Tenggara (South East Asia Writer Awards), dari Ratu Sirikit, Thailand (tahun 1979).
– Seniman Perdana, dari Dewan Kesenian Riau (tahun 2001).
– Sebagai Pelopor Penyair Angkatan ’70.’

 

Catatan:

[1] Untuk melihat berbagai pandangan mengenai Sutardji Calzoum Bachri, lihat Maman S. Mahayana, ed., Raja Mentera, Presiden Penyair (Depok: Yayasan Panggung Melayu, 2007).

 

[2] Sutardji Calzoum Bachri,  O Amuk Kapak (Jakarta: Sinar Harapan, 1981)

[3] Lihat, “Sutardji Calzoum Bachri, Sang Pembebas”, dalam  Jamal D. Rahman, et al., Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjung Pinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan (Jakarta: Komodo Books, 2010), hal. 157

 

[4] Lihat dalam Ahmadun Yosi Herfanda, Inspiring stories: 30 kisah para tokoh beken yang menggugah (Solo: Tiga Serangkai, 2008) hal. 282

 

[5] Istilah puisi mantra belakangan tidak selalu berkonotasi sakral. Sebuah tudingan bahwa Sutardji bukan penyair melainkan tukang mantra tentu bermaksud menurunkan kesakralan posisi itu. Mengenai ini lihat, Nurel Javissarqi, Menggugat Tanggung Jawab  Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (Pustaka Pujangga dan Sastranesia, 2011)

[6] Lihat makalah Orasi Budaya Sutardji Calzoum Bachri, “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair”, dalam acara Pekan Presiden Penyair. Makalah ini dimuat di harian Republika, 9 September 2007.

 

Baca Juga: Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

Categories
Pemikiran Islam Teologi

Para Distopian Negara Syariah

 

Screenshot_010719_085402_AM

Para Distopian Negara Syariah

 

Oleh Ahmad Gaus AF

Artikel ini dibuat sebagai tanggapan terhadap tulisan Denny JA yang berjudul NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi? Tulisan tersebut juga telah ditanggapi (pro-kontra) oleh tokoh-tokoh agama, cendekiawan, akademisi, aktivis, dan para pengamat. Kalau boleh diringkaskan, intisari dari tulisan Denny JA ialah: menolak NKRI Bersyariah seperti yang selalu digaungkan oleh Habib Rizieq Shihab dkk dalam aksi 212 (2016 dan 2017), dan terus disuarakan melalui calon presiden hasil ijtima’ ulama 212, yakni Prabowo Subianto.

 

Mengapa Denny JA menolak NKRI Bersyariah? Alasannya, NKRI ber-Pancasila sebagai fondasi bangsa sudah cukup dan sudah final. Kita harus fokus ke sana, agar tidak banyak waktu terbuang untuk mempersoalkan hal-hal yang sudah selesai. Selain itu,  berdasarkan Islamicity Index maupun World Happiness Index, ternyata negara-negara Islam tidak ada yang masuk top 10 negara yang paling islami maupun yang paling tinggi skor Happiness Index-nya. Semua diisi oleh negara-negara non-Islam (Barat). Dengan kata lain, negara-negara Islam yang mendengung-dengungkan syariah ternyata gagal menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata mereka. Negara-negara Muslim tidak selalu identik dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

 

Melihat kenyataan tersebut, kita teringat pada kata-kata seorang pembaharu Islam Mesir, Syeikh Muhammad Abduh yang sangat terkenal: “Saya melihat orang Muslim di Mesir, tapi saya tak melihat Islam di sini. Adapun di Eropa saya tak melihat orang Muslim, namun saya melihat Islam di sana.” Apa nilai-nilai Islami yang dimaksud oleh Islamicity Index itu? Yakni: Economic Islamicity, Legal and Governance, Human and Political Rights, dan International Relation Islamicity Index. Denny JA meringkasnya menjadi “Ruang Publik yang Manusiawi”, yang menurutnya semua negara modern saat ini sedang menuju ke arah sana.

imageproxy

Dapat kita tambahkan bahwa negara-negara Islam bukan saja tidak mampu menerapkan nilai-nilai yang mendukung terciptanya ruang publik yang manusiawi, bahkan juga mengimplementasikan nilai-nilai yang bersebrangan dengan itu. Contoh yang paling kongkrit ialah terorisme. Tentu kita tidak boleh menuduh negara-negara Islam mendukung terorisme. Tapi juga tidak perlu membantah bahwa terorisme yang marak dalam 2 dasawarsa terakhir ini lahir dari rahim Islam — setidaknya dari komunitas Muslim. Aksi terorisme terbesar dalam sejarah yakni penyerangan World Trade Center di Amerika Serikat pada 11 September 2001 mencengangkan banyak orang, dan sekaligus menggugat klaim Islam sebagai agama damai. Yang muncul kemudian citra Islam yang agresif dan anti-kemanusiaan, serta kaum Muslim yang kasar, bengis, dan berdarah dingin.

 

Seorang sarjana Barat tercengang ketika bertemu dengan seorang Muslim Libya yang tinggal di Amerika yang mengatakan “11 September merupakan hari yang paling indah dalam hidup saya.” (Robert Spencer, 2002). Dia terfana kok ada orang Islam bergembira ketika orang lain tertimpa musibah. Kok bisa orang-orang Islam berpesta di jalan-jalan raya di Palestina, Baghdad dan Indonesia ketika ribuan orang meregang nyawa. Dia bingung, hati orang Islam itu terbuat dari apa? Ini yang membuat dia berusaha keras mencari akar-akar kekerasan dalam Islam. Kemudian dia membuka-buka al-Quran dan menemukan ayat yang bunyinya begini:

 

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka hantamlah batang leher mereka. Dan apabila mereka menyerah tawanlah mereka. Sesudah itu bolehlah dibebaskan atau mintakan tebusan sampai perang usai. (QS Muhammad/47:4)

 

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka karena mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kecam daripada pembunuhan (QS. 2: 190-191)

 

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana pun saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 9: 5)

 

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. 48: 29).

 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang antar sesama mereka. (QS. 48: 29).

9781893554771

 

Menurut Spencer, tidak ada ayat dalam al-Quran yang menjelaskan keharusan menyebarkan kedamaian kepada orang-orang kafir. Bahkan, ujarnya, penegasan surat 48: 29 di atas, umat Islam dibolehkan untuk tidak berlaku kasih dan sayang kepada non-Muslim. Atas dasar itu Spencer berkesimpulan bahwa kekerasan itu memang memiliki akar yang menghunjam kuat di dalam jantung Islam. Maka tindakan Osama bin Laden menyerang Amerika dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa itu tidak menyimpang dari Islam. Bahkan mendapatkan dukungan doktriner dan teologis. Dengan kata lain, Osama bin Laden tidak sedang membajak Islam sebagaimana dikatakan oleh banyak sarjana. Yang dilakukan oleh Bin Laden adalah mengamalkan Islam dengan sebenar-benarnya. Maka pertanyaan: Apakah Islam agama damai? Dijawab dengan tegas oleh Spencer: tidak!

 

Tentu saja kita tidak sedang membenarkan klaim-klaim Spencer yang tampaknya tidak mampu melihat konteks turunnya ayat-ayat tersebut (asbabun nuzul). Namun pandangan Spencer tidak boleh dianggap sepele karena telah menjadi bagian dari kesadaran mayoritas non-Muslim terhadap Islam dan kaum Muslim. Sebagai bahan introspeksi, pandangan seperti Spencer ini penting diperhatikan, terlebih saat sekarang sebagian kaum Muslim ingin menerapkan syariat Islam di tingkat negara dalam jargon NKRI Bersyariah.

 

NKRI Bersyariah?

 

Konsep NKRI Bersyariah memang belum dirumuskan secara gamblang oleh para pendukungnya. Namun praktik permulaan dari motiv semacam itu dapat dilihat dari Peraturan-Peraturan Daerah (Perda) Syariah yang banyak bermunculan dalam 20 tahun terakhir. Perda-perda Syariah ini pada umumnya difasilitasi oleh fraksi partai-partai Islam di DPRD di daerah bersangkutan dengan dukungan atau desakan dari kelompok-kelompok garis keras: Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan berbagai organisasi kelaskaran yang muncul dengan label Islam seperti Laskar Jihad, Laskar Jundullah, Laskar Fi Sabilillah, dan lain-lain. Tak jarang fraksi-fraksi partai berhaluan kebangsaan pun dengan terpaksa ikut membidani lahirnya Perda-perda Syariah tersebut, baik karena alasan mencari aman, takut dituduh anti-Islam, atau karena alasan-alasan pragmatis kekuasaan (oportunisme).

maxresdefault

Kelompok-kelompok garis keras punya taktik jitu untuk menundukkan para penentang Perda Syariah yaitu menyebut mereka sebagai anti-Islam. Dan tuduhan ini sangat efektif karena menciptakan rasa takut di kalangan sebagian orang Islam. Mantan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Bakar Ba’asyir bahkan pernah mengancam, “Jika pemberlakuan syariah Islam dihalang-halangi maka umat Islam wajib berjihad,” tegasnya seperti dikutip Andi Muawiyah Ramli dalam Demi Ayat Tuhan: Upaya KPPSI Menegakkan Syariah Islam (2006; 387).

 

Ba’asyir menambahkan bahwa berjihad untuk melawan kaum kufar yang menghalangi dan menentang berlakunya syariah Islam adalah wajib dan amal yang paling mulia. Ia menuding para penentang Perda Syariah sebagai kafir. Tentu saja anggota DPRD atau pemerintah daerah yang “lemah imannya” akan gentar mendengar ancaman semacam itu.

 

Kalangan Islam moderat yang memiliki visi kebangsaan menentang Perda-perda Syariah Islam. KH Abdurrahman Wahid pernah menyebut Perda-perda Syariah yang banyak bermunculan belakangan sebagai kudeta terhadap Konstitusi. Sementara sesepuh Muhammadiyah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maa’rif menanggapi maraknya Perda Syariah yang cenderung diskriminatif, menegaskan bahwa jika syariah Islam benar-benar diterapkan sebagai dasar hukum negara maka perpecahan tidak hanya terjadi antara kelompok Muslim dan non-Muslim tapi juga antara sesama umat Islam sendiri. (Syariat Islam Yes, Syariat Islam No, Paramadina, 2001). Syafii tidak berlebihan. Salah satu reaksi atas lahirnya Perda-perda Syariah adalah gagasan umat Kristiani menjadikan Manokwari, Papua Barat, sebagai “Kota Injil”, beberapa waktu lalu. Kemudian bergulir juga wacana untuk menerapkan “Perda Hindu” di Bali, “Perda Kristen” di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya Nasrani.

Abu-Bakar-Baasyir-20140805-johan

Jika logika penerapan syariah ini diteruskan maka yang disebut NKRI Bersyariah itu tiada lain ialah NKRI tanpa Papua, NTT, Bali, sebagian Maluku, sebagian Sulut, dan sebagian Sumut. Dengan kata lain,  penerapan syariah secara formal bukan hanya akan membelokkan Indonesia menjadi negara Islam namun juga menimbulkan perpecahan bangsa.

 

Mengapa sebagian kaum Muslim begitu terobsesi dengan penerapan Syariah secara formal? Benarkah Perda-perda Syariah mendorong kehidupan yang lebih baik seperti yang diyakini oleh faksi-faksi pendukung Prabowo seperti PKS, HTI, FPI? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Dalam penelitian yang diberi judul Syariah Islam dan HAM: Dampak Perda Syariah terhadap Kebebasan Sipil, Hak-hak Perempuan, dan Non-Muslim (Kamil dan Bamualim, 2007) tersebut terungkap bahwa tidak ada korelasi antara kesejahteraan masyarakat dengan penerapan Perda Syariah; kehidupan masyarakat tidak berubah antara sebelum dan sesudah diberlakukannya Perda-perda Syariah. Bahkan diungkapkan bahwa Perda-perda Syariah justru memicu terjadinya berbagai pelanggaran hak-hak sipil kalangan non-Muslim dan kaum perempuan.

islam ham

Kalangan non-Muslim terkena kewajiban untuk melaksanakan beberapa aspek dari Perda Syariah. Di Kabupaten Cianjur, misalnya, dilaporkan seorang perempuan non-Muslim mengaku dipaksa mengenakan jilbab di kantor setiap hari Jumat. Pemaksaan serupa juga menimpa seorang guru di sekolah negeri dan seorang siswi sebuah SMU. Bagi siswi yang menolak, orang tuanya diharuskan mengajukan permohonan dan pernyataan bahwa siswi tersebut adalah non-Muslim. Jilbabisasi juga diberlakukan terhadap keturunan Tionghoa yang bekerja di kantor BCA Cianjur. Kalangan non-Muslim tidak dilibatkan sama sekali dalam proses pengambilan keputusan penerapan syariah Islam di Cianjur, tetapi pada beberapa kasus ternyata konsep syariah Islam diberlakukan juga bagi kalangan non-Muslim.

 

Menurut laporan the Wahid Institute tahun 2008, kaum perempuan non-Muslim di Padang (Sumatera Barat) dan Bulu Kumba (Sulawesi Selatan) juga terkena kewajiban memakai jilbab setelah keluarnya Perda Syariah. Seorang wali murid Katolik yang 2 anak perempuannya dipaksa memakai jilbab di sekolah negeri di Padang mencoba membujuk anaknya bahwa jilbab hanya sekadar etika berpakaian, jadi sebaiknya ikuti saja peraturan itu. Namun, anak-anaknya merasakan bahwa kewajiban berjilbab itu lebih dari sekadar etika berpakaian. Mereka merasakan bahwa saat ini berada dalam suatu lingkungan yang memusuhi agama mereka. Beberapa siswi lain menyatakan bahwa saat ini mereka dipandang oleh rekan-rekannya sebagai telah pindah agama ke Islam karena memakai jilbab. Menanggapi kasus-kasus ini, seorang tokoh Katolik di Padang menyatakan bahwa Perda Syariah telah menimbukan dampak psikologis yang cukup serius terhadap kalangan siswi non-Muslim.

 

Hasil riset CSRC juga menyebutkan bahwa Perda-perda Syariah pada umumnya bersifat diskriminatif terhadap kaum perempuan. Perda jilbab, anti-prostitusi, dan larangan keluar malam bagi perempuan tanpa muhrim yang diberlakukan secara serampangan telah menimbulkan ketakutan bagi kaum perempuan untuk beraktivitas di luar rumah di malam hari. Di Aceh, kaum perempuan yang tidak berjilbab dipermalukan di depan umum dengan dipotong rambutnya. Peraturan mengenai jilbab dalam Perda telah mendiskreditkan perempuan yang tidak memakai jilbab, padahal hukum berjilbab itu sendiri masuk dalam ranah khilafiyah, ada ulama yang mewajibkan dan ada yang tidak.

 

Komoditas Politik

 

Selain alasan-alasan yang telah dikemukakan di atas, pragmatisme kekuasaan juga menjadi pintu masuk yang lain bagi formalisasi syariah Islam di daerah-daerah. Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada merupakan contoh penting dari kasus ini. Seorang calon Kepala Daerah tidak jarang menawarkan syariah sebagai “jualan” mereka untuk menarik perhatian pemilih. Cara ini juga ditempuh elit politik untuk meningkatkan legitimasi keagamaan mereka di mata publik.

 

Dalam kasus ini, syariah Islam tidak lebih dari sekadar komoditas politik. Kolaborasi antara elit politik oportunis dengan kelompok-kelompok garis keras telah menjadi gejala politik baru yang bertanggung jawab atas keluarnya banyak Perda Syariah Islam. Kepentingan politik di balik penerapan Perda-perda Syariah telah membutakan kalangan elit politik yang haus dukungan massa tentang keragaman tafsir Islam di masyarakat.

md-nkri-5d502e8b097f362f3d5bbe92

Semua penafsiran dibungkam, ditundukkan ke dalam satu pemahaman syariah versi kelompok garis keras. Itu sebabnya muatan Perda-perda Syariah yang bermunculan di berbagai daerah tidak jauh berbeda dengan aturan-aturan hukum yang diterapkan oleh rezim garis keras seperti Taliban di Afghanistan. Sayangnya banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut, atau telah terprovokasi oleh kelompok-kelompok garis keras yang selalu siap dengan senjata pamungkasnya: “Ikuti kami atau anda memang anti Islam, kafir, dan harus diperangi!”

 

Para Distopian

 

Dari hasil-hasil riset di atas tergambar bahwa para pengusung formalisme syariah bukan saja tidak pernah berpikir untuk menciptakan ruang publik yang manusiawi, bahkan juga terperosok pada pandangan dan tindakan anti-kemanusiaan. Tindakan ini serupa belaka dengan kaum distopian, yakni para penyelenggara rezim-rezim fasis-totaliter yang ingin mengontrol seluruh kehidupan individu warganya dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

 

Dalam novel terkenal “1984” yang terbit tahun 1949, George Orwell, penulisnya, menggambarkan rezim yang benar-benar menindas, di mana manusia tidak memiliki individualitas dan kebebasan. Rezim yang sungguh tidak manusiawi, dimana orang harus mematuhi serangkaian aturan yang ketat dan terus-menerus dipantau oleh Polisi Pikiran. Bahkan berpikir di luar aturan itu bisa dihukum. Sebelum Orwell, pernah terbit juga novel karya Yevgeny Zamyatin yang berjudul We (1920) yang dilarang oleh eks Uni Soviet. Gambaran dalam buku ini pun sama: segala sesuatu dikendalikan oleh kaum distopian, rezim penindas, termasuk ketika kita makan dan berhubungan seks. Tidak ada yang diizinkan berpikir sendiri.

 

Kita tidak bisa membayangkan jika syariah Islam diterapkan secara formal dalam negara dan dikendalikan oleh rezim tafsir tunggal versi salafi-wahabi atau taliban. Keragaman pandangan akan dibungkam. Dan para penguasa yang berbicara atas nama Tuhan sangat potensial menjadi kaum distopian yang merasa berhak untuk mengejar-ngejar orang lain yang berbeda.

 

Sementara itu para pendiri bangsa yang arif dan bijaksana dengan gagasan Pancasila menginginkan nilai-nilai Islam meresap ke dalam kehidupan nyata tanpa perlu diformalkan di level pemerintahan dan negara. Dengan begitu Islam menjadi agama yang berwajah humanis, sejalan dengan misinya sendiri sebagai agama rahmatan lil alamin (kasih-sayang untuk semua). []

 

NOTE:

Tulisan ini dimuat dalam buku “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi: Tanggapan 21 Pakar terhadap Denny JA”, Editor: Dr. Satrio Arismunandar, Jakarta: Cerah Budaya Indonesia, 2019.  Versi PDF nya lihat di sini:

Click to access denny-ja_nkri-bersyariah-atau-ruang-publik-yang-manusiawi-polemik.pdf

BIODATA:

Ahmad Gaus AF: Penulis, peneliti, dosen, dan aktivis. Lebih dari 20 buku telah lahir dari tangannya. Selain menulis buku ia juga menulis artikel dan kolom di berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Suara Karya, Majalah Gatra, Matra, Gamma, Panji, Jurnal Kultur, Jurnal Afkar, dan lain-lain. Sebagian besar bukunya bertema agama, politik, sastra, dan kebudayaan. Ia juga banyak menulis biografi tokoh-tokoh nasional seperti: Nurcholish Madjid (Cendekiawan), Djohan Effendi (tokoh pluralisme dan mantan Mensesneg), Utomo Dananjaya (Pakar Pendidikan), dll. Sejak 2007 sampai sekarang mengajar mata kuliah Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan di Swiss German Univesity (SGU), BSD City, Tangerang.

Categories
Seminar

Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

Quote

“… selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.”

Ahmad Gaus yang bertindak sebagai pembicara utama berpendapat bahwa tidak ada perkembangan yang berarti dalam bahasa Indonesia sejak ia dibakukan, dipolakan dalam rumus bahasa yang baik dan benar. Yang terasa, ujarnya, justru kekakuan dalam berbahasa. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sangat formal yang hanya cocok digunakan di forum-forum resmi. Di luar itu, seperti dalam pergaulan, bahasa yang baik dan benar itu tidak bisa digunakan, “Lucu sekali kalau kita bercakap-cakap dengan teman menggunakan bahasa baku,” tandasnya.

Dijelaskan bahwa selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.

Ia mencontohkan bahasa dalam film-film Indonesia yang tidak maksimal mengeksplorasi kekayaan estetik bahasa Indonesia. Akibatnya film-film kita gagal menyajikan sentuhan seni yang paripurna, sebab kita hanya disuguhi cerita. Berbeda dengan film-film produksi luar yang mampu mengintegrasikan kecanggihan cerita, sinematografi, dan sekaligus keindahan bahasa. “Kalau film hanya mampu menampilkan bahasa yang sama dengan bahasa sehari-hari, lalu di mana unsur seninya. Bahasa film harusnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dari bahasa sehari-hari. Sebab salah satu fungsi film ialah mengedukasi, termasuk di dalamnya mengedukasi masyarakat agar memiliki selera bahasa yang berkelas.”

Tersingkirnya estetika dari bahasa Indonesia, menurut Gaus, disebabkan karena bahasa sudah dipisahkan dari sastra. Sehingga seperti jasad tanpa ruh, raga tanpa jiwa. Pendidikan sastra hanya menjadi bagian kecil dalam mata pelajaran bahasa. Ada komunitas sastrawan di satu pihak yang menjadi penguasa jagad sastra, di pihak lain ada masyarakat yang tidak mengenal sastra. Keduanya dipisahkan oleh tembok tinggi. Padahal di masa lalu masyarakat adalah pencipta karya sastra itu sendiri seperti yang terlihat dalam budaya berpantun. Saat ini pantun sudah hilang dari tradisi berbahasa, padahal anak-anak yang diajari pantun sejak dini akan tumbuh menjadi penutur bahasa yang baik. 

Akibat lebih jauh dari terpisahnya bahasa dan sastra ialah, bahasa kita menjadi sangat kaku dan kering. Belum lagi orientasi politik bahasa yang cenderung pada birokrasi dan peraturan. “Masak cuma mau memasukkan 3 perubahan sepele saja harus mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengubah EYD menjadi EBI. Ini menunjukkan rezim bahasa tidak mengerti persoalan dan minim wawasan,” tandas Gaus. Walhasil sejauh ini, bahasa Indonesia hanya dapat menjadi alat komunikasi dan tidak bisa menjadi ekspresi kebudayaan. Maka yang harus kita lakukan ialah memutus keterasingan masyarakat terhadap sastra. Bahasa butuh ruang untuk berkembang, dan salah satu medianya adalah karya sastra…”

Selengkapnya baca di sini: https://www.csrc.jalalon.com/news/diskusi-umum-masa-depan-bahasa-dan-sastra-indonesia-2

Categories
Teologi Wawancara

Wawancara Bersama Ahmad Gaus seputar Perkembangan Islam Progresif di Indonesia

Quote:

“Islam progresif sebenarnya hampir setara dengan Islam liberal. Agenda yang diperjuangkannya sama belaka. Namun karena kampanye Islam fundamentalis berhasil meraih simpati massa Islam untuk membenci Islam liberal, maka sebagian besar orang Islam tidak mau disebut Islam liberal; mereka lebih suka mengidentifikasi diri sebagai Muslim progresif.

“Kelompok seperti ini banyak sekali, tapi mereka tidak merasa nyaman dengan kata ‘liberal’ yang disandangkan kepada agenda yang mereka kerjakan. Bagi saya, apapun sebutannya tidak masalah. Yang jelas mereka bekerja untuk Islam yang damai, sebagai antitesis terhadap wajah Islam yang keras dan kasar yang diperlihatkan oleh kelompok-kelompok radikal yang selalu berusaha memaksakan keyakinan dan kebenaran kepada orang lain atau kelompok lain, bahkan dengan cara-cara kekerasan seperti menyerang dan menghancurkan rumah-rumah ibadah agama lain.

RG

“Ini sekali lagi menunjukkan bahwa keberhasilan kaum fundamentalis dalam menstigmatisasi “Islam liberal” hanyalah keberhasilan semu dan bersifat superfisial. Nyatanya, kaum Muslim tidak mengubah posisi mereka, melainkan hanya berganti baju, dari yang warnanya mencolok menjadi lebih lembut.

“Islam progresif juga berarti Islam yang berorientasi ke masa depan. Ini penting dikatakan karena memang ada tendensi keislaman yang berorientasi ke masa lalu, menjadikan masa lalu sebagai idealisasi yang ingin diwujudkan di masa kini. Mereka menyerukan kembali ke Islam awal yang murni. Inilah inti dari ideologi kebangkitan Islam itu.

“Islam progresif tidak berbicara tentang kebangkitan Islam. Mereka merumuskan tantangan-tantangan masa kini lalu menyusun jawaban untuk masalah tersebut dengan bantuan akal yang merupakan anugerah Tuhan yang paling besar kepada manusia. Jadi, Islam progresif memiliki orientasi pada persoalan kontekstual dan mencari pemecahannya pada dialektika akal dan wahyu. Ia tidak bisa hanya bersandar pada wahyu yang terkurung dalam teks. Pesan wahyu harus ditarik keluar dari rumah teks dan bernegosiasi dengan konteks.

“Di sinilah peranan akal. Karena setiap persoalan bersifat kontekstual, maka agenda Islam progresif boleh berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain, disesuaikan kebutuhan lokal; sebab Islam progresif juga menghargai solusi lokal untuk persoalan-persoalan yang muncul di dalam masyarakat. Islam progresif justru menolak paradigma tunggal yang mengklaim kebenaran di tangannya sendiri. Masing-masing masyarakat punya mekanisme, tradisi, pandangan dunia, dan cara untuk melihat suatu persoalan dan memecahkannya…”

Selengkapnya baca di sini: http://www.thereadinggroup.sg/Conversations/Wawancara%20Bersama%20Ahmad%20Gaus.pdf