Pembacaan Puisi DOA PENAWAR RINDU oleh Nur Malika Maghfirah – SGU

Puisi “Doa Penawar Rindu” dibacakan oleh Nur Malika Maghfirah, mahasiswi saya di SGU (Swiss German University), Jurusan Communications and Public Relations, semester 5. Video pembacaan puisi ini awalnya merupakan tugas dalam mata kuliah bahasa dan budaya yang saya ampu.  Pemuatannya di sini atas seizin yang bersangkutan…

Selamat menikmati

Ahmad Gaus

 

Teks puisinya di sini -> Doa Penawar Rindu

VISCA BARCA: Kado Ultah untuk Elza

VISCA BARCA
Kado Ultah untuk Elza
 
Hidup adalah permainan sepak bola yang tak henti menghadirkan kompetisi
Setiap saat kita disodorkan daftar lawan yang harus dikalahkan
Setiap saat kita bergerak, mengikuti irama permainan
Atau menciptakan irama permainan
Menyuguhkan tontonan yang lebih asik dari film paling hebat sekalipun
Yang ujungnya sudah ditentukan oleh sutradara
Sepak bola melahirkan para pahlawan layaknya medan perang
Juga para pendukung fanatik lintas suku, gender, agama, dan negara
Dan mereka akan loyal sampai mati
Hidup adalah permainan sepak bola dimana kita harus berjuang mati-matian
Namun kadang harus puas dengan hasil akhir 0-0
Selamat ultah, Buya Elza
Kehormatan adalah kesetiaan pada apa yang kita cintai
Sekali Barca tetap Barca 🙂
Visca Barca !!
 
Ciputat, 18 Nopember 2020
Ahmad Gaus
 
 
 
 

Kado Ulang Tahun untuk Prof. Komaruddin Hidayat

MANUSIA DAMAI

Di negeri yang penuh dengan pergolakan
Kita membutuhkan tempat yang damai
Semacam kepompong bagi calon kupu-kupu
Bukan untuk bersembunyi
Tapi untuk memandang dengan jelas diri sendiri

Di negeri yang dihuni oleh para pemberang
Kita membutuhkan manusia-manusia yang memiliki jiwa yang damai
Sebab hanya manusia damai yang bisa memberi kedamaian pada dunia

Di negeri yang penuh dengan huru-hara
Kita tidak lagi membutuhkan kata-kata
Sebab setiap kata akan menjadi bara

Ketika setiap orang berbicara maka diam adalah sikap yang bijaksana
Tiada guna lagi kata-kata karena setiap orang hanya ingin bicara
Jumlah mulut lebih banyak daripada telinga

Di negeri yang dihuni oleh orang-orang yang ketakutan
Kita butuh tempat yang aman
Kalau tidak ada di alam kenyataan
Kita harus membangunnya di alam pikiran
Biarkan burung-burung menjadi arsiteknya
Biarkan risik dedaunan menjadi musiknya

Selamat ulang tahun, Prof Komar
Benih-benih pikiran yang kau tebarkan telah tumbuh menjadi bunga mawar
Saat ini tidak mudah mencari sosok seperti engkau
Sosok yang selalu menghindari konflik
Sosok yang selalu mengajak orang beragama masuk ke dalam jiwa-spiritual yang damai
Kalau mau berteriak, katamu, berteriaklah di dalam jiwa
Jangan di luar, apalagi di jalanan, karena tidak sopan dan mengganggu ketenangan.

Ciputat, 18/10/20
Ahmad Gaus

______________

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat adalah Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Beliau pernah menjadi Rektor UIN Jakarta dua periode (2006 – 2014). Penulis buku dan kolumnis di berbagai media massa.  Saya dan beliau pernah berkolaborasi menulis dan menerbitkan sejumlah buku antara lain: Passing Over: Melintasi Batas-batas Agama; Islam, Negara dan Civil Society; Menjadi Indonesia, dll. 

Taken from my FB status: https://www.facebook.com/gaus.ahmad.92

Menulis itu Gampang dan Mendatangkan Uang

 

 

Belum lama ini saya membaca pengakuan beberapa penulis muda tentang penghasilan yang mereka peroleh dari menulis. Mereka menyatakan, dalam beberapa bulan setelah karya mereka dipublikasikan secara online, saldo di rekening mereka bertambah hingga puluhan juta rupiah. Sungguh fantastis!

Saya tilik satu persatu nama-nama mereka. Tidak ada satu pun yang berada di jajaran penulis terkenal. Kebanyakan mereka adalah penulis baru [tidak perlu saya sebutkan di sini]. Saya tercengang. Bagaimana para penulis baru itu berani mempublikasikan karya mereka dan langsung menangguk pundi-pundi uang dalam jumlah yang sangat besar.

Selidik punya selidik, ternyata mereka adalah anak-anak muda yang rajin menulis di media online yang berbayar. Sebagian dari mereka adalah content writer, kolumnis, kontributor di portal daring, dan para penulis novel yang karyanya dipublikasikan di platform novel online yang kini banyak bermunculan. Melalui platform ini mereka bebas menulis apa saja dan tidak takut ditolak (yang penting tidak melanggar etika dan hukum).

Siapa yang menilai karya mereka? Bukan tim redaksi yang berkacamata tebal dan jarang tersenyum, tetapi…… para pembaca! Ya, yang menilai baik dan buruk, bagus dan jeleknya ialah publik, khalayak. Kalau publik menyukai karya mereka akan dibaca dan diberi penghargaan melalui hadiah, koin, atau bab-bab yang diseting berbayar. Semakin banyak pembaca yang tertarik dengan karya mereka maka semakin banyak uang yang mengalir ke rekening mereka. Itulah anak-anak muda yang tadi saya sebut berpenghasilan puluhan juta rupiah dari menulis. Hebat, ‘kan?

Computer-money

Para penulis muda itu menyesuaikan diri dengan era digital. Mereka tidak mau lagi karya mereka dinilai oleh dua-tiga orang editor penerbit yang mewarisi nilai-nilai otoriter dari sebuah zaman yang sudah lewat. Dengan begitu, bagi mereka, menulis atau mengarang menjadi sesuatu yang mengasikkan, mudah, dan sekaligus komersial.

Penerbit konvensional butuh waktu 3 sd 6 bulan untuk memutuskan novel kamu bisa terbit apa tidak. Apa nggak gila!? Waktu selama itu untuk menunggu keputusan sebuah novel bisa terbit apa tidak, di era digital sekarang ini terasa janggal. Sebab, apa yang telah selesai kamu tulis sekarang bisa diterbitkan sekarang juga. Itulah logika era IoT (Internet of Thing).

Ya, saya sedang berbicara mengenai platform-platform penerbitan yang kini berkecambah di dunia maya yang sungguh-sungguh percaya pada demokratisasi informasi dan opini publik. Mereka menerbitkan karya-karya para penulis tanpa bersikap cerewet dan sok tahu dengan karya-karya itu. Mereka hanya menyalurkan, memfasilitasi, mempublikasikan. Publik lah yang nantinya akan menilai karya-karya tersebut.

Di jajaran platform yang saya maksud itu ada Novelme, Noveltoon, Inovel, Wattpad, dll. Redaksi platform menerapkan “bab berbayar”. Wajar saja untuk menghargai jerih payah penulisnya. Tapi kalau anda tidak suka ya lewatkan saja.

Ini adalah tantangan yang menarik untuk anak-anak muda. Dengan menulis namamu akan dikenal orang, dan kamu mendapatkan uang.

kaboompics.com_Close-up-of-woman-typing-on-keyboard-of-laptop-min

Dunia tulis-menulis adalah dunia yang terbuka lebar sebagai lapangan pekerjaan. Semakin banyak orang yang menjadikan aktivitas tulis-menulis sebagai sumber penghasilan semakin baik, karena itu berarti mengurangi pengangguran dan meringankan beban pemerintah yang tidak selalu bisa menyediakan lapangan kerja.

Kamu tidak perlu ragu memulai karir di dunia tulis-menulis karena siapa pun bisa menjadi penulis. Ikutilah jejak anak-anak muda yang telah berhasil menjadi jutawan dengan menulis. Yang kamu perlukan hanya sedikit pengetahuan tentang teknik menulis secara benar, gampang, dan praktis. Agar tulisan kamu nggak malu-maluin waktu dipublikasikan.

Kalau kamu berani menyambut tantangan ini, ditunggu oleh Kak Windi di pelatihan menulis kreatif [lihat flyer]. Kak Windi sendiri pernah mengikuti pelatihan menulis yang saya fasilitasi di Manado, Sulawesi Utara, beberapa waktu lalu sebelum masa pandemi Covid-19.

img-20200924-wa0048.jpg
Kak Windi, Manajer Program Rumah Menulis Dunia (RMD), dan Host Pelatihan Menulis Kreatif.

“Wawasan saya tentang dunia menulis jadi lebih luas setelah mengikuti pelatihan ini. Dan saya jadi tahu juga cara menulis yang baik. Tapi yang paling menyenangkan, ternyata menulis itu menghasilkan uang,” ungkap Windi yang juga mahasiswi tingkat akhir IAIN Manado.  Dan sekarang sebagai Manajer Program Rumah Menulis Dunia (RMD), Kak Windi akan menjadi host acara pelatihan ini.

Pelatihan ini juga menghadirkan Deden Ridwan, seorang produser film dan konsultan media yang telah belasan tahun berkecimpung di dunia penerbitan buku sebagai direktur salah satu penerbit paling terkemuka  di negeri ini, Mizan Group.

IMG-20200927-WA0010
Deden Ridwan, Penulis dan Produser

Deden Ridwan akan memperkaya wawasan para peserta tentang bagaimana industri perbukuan bergerak, bagaimana para editor bekerja, bagaimana pasar media bergeliat, bagaimana tren buku dari masa ke masa, dan karya-karya seperti apa yang diburu oleh masyarakat, bagaimana pula prospek menjadi penulis di era digital seperti sekarang ini.

Saya sendiri sebagai penulis dan praktisi penerbitan telah mengadakan roadshow pelatihan menulis di berbagai sekolah, pesantren, kampus, lembaga pemasyarakat (Lapas), dan komunitas-komunitas literasi di Medan, Padang, Jambi, Bengkulu, Banten, Bogor, Bandung, Ambon, dll.

Materi yang saya ajarkan bukan teori yang rumit-rumit, melainkan cara menulis yang mudah dan praktis. Ada materi “Berlatih Menulis dalam Enam Tahap”, ada menu “Menulis dengan Metode Tiga Kata”, ada sajian “Memulai dengan banyak Kata”,  juga “Bagaimana Menambahkan Unsur Musik dalam Tulisan”,  “Konten Bagus, Teknik Bagus”, “Cara Mudah Mengembangkan Paragraf”, dan “Menyusun Karangan Kreatif.”  

Jadi, percayalah, menulis itu gampang, asik, membahagiakan, dan sekaligus menghasilkan uang. Ingat, pandemi Covid-19 telah menyebabkan 5 juta orang menganggur. Dunia tulis menulis membuka lapangan kerja baru setiap saat. Dengan sedikit meng-upgrade pengetahuanmu tentang teknik menulis yang benar dan praktis, kamu bisa memasuki dunia ini dengan penuh percaya diri.

Yuk, gabung dengan Kak Windi di Rumah Menulis Dunia:

Flyer RMD

Info dalam Flyer di atas bersifat umum, untuk info khusus mengenai waktu pelatihan lihat flyer di bawah

Pelatihan terdekat akan diadakan pada Sabtu, 31 Oktober 2020. Buruan daftar karena peserta dibatasi 100 orang.

IMG-20201020-WA0037

 

Selamat bergabung dan memasuki dunia yang tak terbatas.

Jika anda merasa informasi ini akan bermanfaat untuk orang lain, silakan di-share sebanyak-banyaknya. Terima kasih.

Salam

Ahmad Gaus

NOTE: Pelatihan Online di atas telah dilaksanakan pada 31 Oktober 2020 lalu yang diikuti oleh 98 peserta dari Jakarta, Tangerang, Bogor, Bandung, Cianjur, Yogtakarta, Medan, Bagansiapiapi, Batam, Lampung, dan Pontianak. Untuk jadwal selanjutnya sila hubungi Windi dengan nomor di atas. Terima kasih.

 

******************

Baca juga ulasan buku saya “Writerpreneurship” yang dijadikan pedoman dalam pelatihan menulis:

Apa itu WriterPreneurship?

 

Apa itu WriterPreneurship?

WriterPreneurship – Ahmad Gaus : Menjadi Pengusaha Penulisan + Praktekan Sekarang!

Sumber: https://nahason-ls.blogspot.com/2020/05/review-writerpreneurship-ahmad-gaus.html

Pernahkah membayangkan dirimu bisa menulis atau tidak sama sekali? Mungkin sesuatu yang susah memulai satu persatu kata yang akan dirangkai sekaligus menuangkan ide dan ilham yang akan dikerjakan. Demikian kita untuk menuliskan secarik kertas penuh dengan kata-kata yang penuh dengan makna dan konsep atau narasi. Maupun kita menguasahakan apa yang kita tulis saat ini.Itulah yang menjadi dilema maupun hoby yang dibawakan oleh para blogger maupun penulis pada umumnya.

Buku WriterPreneurship
© Ahmad Gaus / Referensi /
Foto sendiri

Sebuah buku yang mengajarkan arti pengusaha penulisan adalah suatu konsep baru di era Milenial sekarang. Bagaimaan pengalaman Ahmad Gaus dalam menuangkan kinerja dan pelayanan masyarkat melalui secarik buku dan pelatihan menulis. Apakah yang menjadi istimewanya buku ini sehingga sangat layak untuk dibaca atau hanya sekedar buku yang referensi sederhana?

Informasi Buku :

Buku : WriterPreneurship Bisnis dan Idealisme Dunia Penulisan
Penulis : Ahmad Gaus
Penerbit : Referensi
Kota Terbit : Tangerang Selatan
Tahun Terbit : 2013
Jumlah Halaman : 120 (xviii  + 102)
Bahasa : Bahasa Indonesia
Genre : Motivate, Referensi, Metodologi
Pembelian : Gramedia, Toko online, dan offline setempat

Kesan Awal

Pertama kali yang saya lihat dari buku ini adalah metode-metode untuk menulis blogger maupun penulisan yang sederhana. Bahkan secara awal ekspetasi gua hanya mencari buku untuk menyemangati blogger dan merupakan buku yang dijual dalam bazar buku Gramedia. Salah satu bahan materi yang menarik untuk dibahas bagi para penulis. Sehingga ada buku ini dalam tumpukan buku akhirnya saya beli. Oleh sebab itu akhirnya saya membeli buku ini.

Beberapa penulis keren
© Ahmad Gaus / Referensi /
Foto sendiri

Awalnya memang terlihat buku tipis sich. Penulis sendiri masih agak kurang ku kenal, namun karena buku ini salah satu buku yang ada di bazar itu, dan ingin mencari rekomendasi untuk mengisi materi sekaligus perlengkapan dan untuk mengisi ilmu dengan materi-materi dari para mastah. Sehingga sangat penting karena belajar adalah selalu berkembang. yang membuat buku ini yang sederhana cukup direkomendasikan bagi para pembaca saat ini?

Mengenal profesi WriterPreneurship

Sebelum mengenal namanya WriterPreneurship, mari kita melihat permasalahan negeri ini. Pernahkah kalian mengerti dan mengamati negeri kita saat ini yang masih kekurangan penulis? Atau kekurangan orang-orang yang menghargai tulisan? Itulah yang terjadi di jaman sekarang ini. Setelah saya berunding dan membaca buku ini, jelas orang indonesia sendiri kekurangan literasi yang saat ini diterapkan pemerintah maupun generasi anak muda. Bahkan sangat disayangkan kebanyakan pembaca tidak menghargai beberapa hasil kerja keras penulis.

Akan tetapi sangat disayangkan sarjana muda yang saat ini yang telah banyak pengganguran. Sama halnya dengan salah satu lagu legenda country Indonesia, Iwan Fals berjudul “Sarjana Muda” tahun1981. Sebuah karya yang mengkritisi para generasi muda yang belum siap berkarya. Sehingga dapat diibaratkan. Lu yang berilmu tinggi, bekerja sebagai petani kuliah, anak mahasiswa, pembawa skripsi, dan generasi penerus bangsa. TETAPI DI DALAM SETIAP Perusahaan tertulis “TIDAK ADA LOWONGAN”.
Untuk itulah buku ini terbentuk, bagaimaana mendidik beberapa penulis-penulis muda yang akan turun kepada dunia penulisan. Tetapi disini menekankan bukan hanya untuk idealisme tetapi juga membentuk mental pengusaha dalam bidang ini. Bagaimaan dirinya tidak hanya bisa menulis dengan indahnya irama nada yang diberikan, tetapi bermental teguh dalam satu usaha penulisan. Satu kata bagi WriterPreneurship –> Menulis tidak hanya sekedar HOBY. Tetapi jauh lebih tajam, yaitu Poin lebih bekerja keras dan pengusaha.

Sejujurnya ini yang agak baru bagi saya. Pertama dari abang Jefferly Helianthusonfri mengajarkan teknik Marketing, Ricky Rachmanto mengajarkan dasar-dasar blogger. Akan tetapi buku ini memberikan kita, jauh lebih bermental baja lagi. Mungkin salah satu penulis yang sudah ke titik itu adalah Jefferly yang terkenal dengan buku-buku mengenai komputer dan marketing. Bahkan salah satu solusinya adalah Writer ini.

Pengusaha Penulis?? Kuy Ikutan!!

Apa yang diberikan dalam Penulis Ahmad Gaus memiliki fokus yang mengarah pada pengusaha penulis. Pengalaman yang dilalui oleh Ahmad Gaus beserta beberapa penulis lainnya menjadikan kita untuk mengenal bagaimana metode-metode serta pengalaman setiap penulis sukses dibalik mahakarya mereka. Setiap masterpiece yang dihasilkan yang tercatat dan diadaptasi dalam berbagai film. Yang jelas memiliki sejarah dibalik penulisan yang sungguh gokil disitu.

Menurut beberapa peneliti. Bagaimana kita menulis
merupakan literatur terbaik untuk mengasah daya pikir kritikal
© Ahmad Gaus / Referensi /
Foto sendiri

Apakah itu WriterPreneurship? Secara sederhana kita dapat mengartikan sebagai pengusaha penulis. Berasal dari kata Writer yang berarti penulis, dengan Entrepreneurship yang berarti kewirausahaan. Yaitu pahlawan-pahlawan yang berani berinisiatif. Sehingga dalam perspektif ini, sang Gaus berusaha menyemangati kita-kita ini agar giat. Apalagi kutipan etika calvinist yang dikutip dalam pandangan Max Weber yang menciptakan Eropa ke next level di abad pertengahan.

Tips Sederhana Awal Menulis

Kalau hanya penyemangat saja? Pasti hal tersebut tidak lengkap dari apa yang ingin dibahas oleh Ahmad Gaus. Ibarat lu masuk dalam kelas motivator. Lu hanya bayar seorang motivator 1 juta hanya memberikan semangat dan motivasi. Tetapi dalam dirilu sendiri, tidak melakukannya. Ibarat lu udah dipukul-pukul, tetapi lu sendiri tidak berjalan maupun merangkak maju. Lu masih rebahan mendengarkan radio motivasi tetapi lu tidak mau bangun dan bekarya. Lah buat apa dong???

Metode Write Now dan referensi novel-novel
berharga setiap jamannya
© Ahmad Gaus / Referensi /
Foto sendiri

Bukan berarti motivasi itu jelek, bahkan motivasi adalah dorongan dan gertakan bagi kita bangun dan siap berjalan. Kalau bukan jelek, terua apa dong? Sebenarnya kalau dijawab ya kita sendiri belum memperbaiki diri dan memulai usaha yang akan dijalani. Nah dalam bab ini menjelaskan sebuah Metode WriteNow yang sangat dibentuk oleh Ahmad Gaus dengan penerapan yang sederhana. Dari sinilah dapat dibilang. Metode yang sangat awal dan pemula bagi kita jalani bisnis penulisan ini.

Saya disini sedikit merangkum metode WriteNow sejenis metode yang sederhana, tetapi langsung pada orientasi mendapatkan ilham maupun langsung to the poin menulis. Alasan ini dilihat bagaimana metode ini disusun secara sederhana dan tidak bertele-tele. Jauh lebih bermanfaat ketika memulai suatu tulisan langsung. Sehingga WriteNow ala Gaus ini, langsung menulis! itulah yang ingin diterapkan.

Rekomendasi

Kalau dibilang rekomendasi? Bisa saja rekomendasi karena dapat dikaitkan dengan gaya kita menulis. Motivasi yang diberikan mungkin hampir sama dengan Ricky Rachmanto. Yaitu memberikan motivasi para penulis hebat Indonesia. Tetapi perbedaan sengit adalah disini memberikan metode sederhana dengan motivasi yang diberikan. Menurutku sebagai pelengkap dari review-review sebelumnya. Buku Ahmad Gaus jauh lebih kepada prakteknya bahkan seluk beluk kita menulis dicatat disini. Direkomendasikan bagi yang ingin mendekati masalah konten lebih luas.

Kesimpulan

Kesimpulan gua dalam buku ini sendiri, Gua rekomendasi buku ini sebagai sampingan anda yang memulai WriterPreneurship. Karena yang lebih ditonjolin dari buku ini sendiri adalah ayo WriteNow!. Itu yang sangat implikatif. Apalagi dengan motivasi segudang yang menonjolkan kelihaian bagi seorang penulis-penulis di dunia ini dengan krisis yang terjadi di Indonesia. Khususnya literasi dan literatur muda Indonesia. Sehingga ini bisa jadi lahan kita untuk menulis. Bahkan jika terbiasa dalam bidang menulis. Dapat dibilang banyak profesi yang akan digeluti oleh kita sendiri, sarjana muda pencetak Indonesia Maju.

Kutipan sang sastrawan Toni Morrison
© Ahmad Gaus / Referensi /
Foto sendiri

Kelebihan :

  • Buku yang ringan dan cepat dibaca
  • Lebih mengarah pada aplikasi penerapan teori WriteNow
  • Metode yang paling mendasar dalam menulis
  • Motivasi yang padat sekaligus mendasar bagi seorang penulis.
  • Pelengkap bagi pengisi konten mudah
  • Cangkupan buku ini cukup luas dan sederhana

Kekurangan

  • Kurang memberikan contoh hasil tulisan dalam metode ini
  • Bukan buku referensi dalam menulis sumber
  • Lebih enak buku ini dibaca satu hari lalu praktek dalam hari yang sama
  • Lebih kepada seorang yang ingin memulai startup penulis.

Penilaian : 8 / 10

==============================

Ingin tahu lebih jauh bagaimana cara menjadi seorang Writerpreneur dan memulai menulis dengan mudah dan praktis, yuk ikuti pelatihan ini. Catat jadwal terdekatnya, Sabtu, 31 Oktober 2020

IMG-20201020-WA0037

Selamat bergabung…

Ditunggu sama Kak Windi di Zoom ya gaess..

Baca juga: Menulis itu Gampang dan Mendatangkan Uang

International Webinar on Cak Nur’s Humanism Thought

Nurcholish Madjid (affectionately known as Cak Nur) is one of Indonesia’s leading public intellectual and a respected Islamic scholar and reformist. On 30.08.20, The Reading Group collaborated in an online discussion called “Agama Kemanusiaan Pasca Nurcholish Madjid” (Humanistic Religion Post-Nurcholish Madjid), with three other institutions who are at the forefront of keeping his legacy alive: the Nurcholish Madjid Society, Jakarta; Centre for the Study of Religion and Culture (CSRC), Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta; and the Centre for Pesantren Studies, Bogor.

The session featured Ahmad Gaus from CSRC; Dr Azhar Ibrahim from the National University of Singapore; and Huda Ramli from Sisters in Islam, Malaysia. Executive Director of Nurcholish Madjid Society, Fachrurozi Majid gave the Keynote Address and Nur Hikmah of The Reading Group moderated the session.
The session focused on Cak Nur’s key message of humanism that flows from his religious philosophy. Fachrurozi, in his Keynote Address spoke of Cak Nur’s main contributions to society and calls for the continuation of his message, particularly that of uplifting the conditions of the marginalised in society through the humanitarian approach.
Ahmad Gaus, who had written extensively on Cak Nur including a biography called ‘Api Islam’ (The Torch of Islam), emphasised the ‘tauhid’ (radical monotheism) of Cak Nur. Cak Nur’s ‘tauhid’ would not admit any form idolatry, including that of power, wealth or the state. This is where Cak Nur’s pluralism stands out: any denial of diversity in order to concentrate and monopolise truth and power, is to imitate God – hence, idolatrous.
There is no doubt that Cak Nur had brought religious thought beyond the ‘traditionalist’ and ‘modernist’ divide in the Malay-Indonesian world, exemplified by two mass-based movements, Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. Since his clarion call for ‘Pembaruan Pemikiran Islam’ (Renewal of Islamic Thought) in the 1970s, Cak Nur situates his project as that of ‘preserving from the past what is good, and taking from the present what is better’.
This project was realised through the formation of Paramadina, an organisation that promotes what Cak Nur calls as ‘masyarakat madani’ (civil society), a term no doubt, derived from his reading of American sociologist, Robert N. Bellah. This term had also inspired the concept of ‘Islam madani’ (civil Islam) that was later promoted by Anwar Ibrahim in Malaysia, although it took a different trajectory under the state-led project of Islamisation.
According to Dr Azhar Ibrahim, whose past postdoctoral research in Copenhagen University drew on Cak Nur’s public theology, the humanist agenda of Cak Nur has yet to be appreciated in its fullness. The humanistic approach is not confined to religious thought but must be realised in other sectors of society, including education. Cak Nur himself, is an educator par excellence, having studied under a leading Islamic scholar and reformist, Professor Fazlur Rahman in Chicago University.
Despite all these, Cak Nur’s reformist views remain controversial within certain segments of society. Huda Ramli, who works for Sisters in Islam in Malaysia, reminds the audience of attempts to discredit Cak Nur’s thought under the amorphous term ‘liberal Islam’. There is currently a standing fatwa against ‘liberal Islam’, which made people afraid to explore views propounded by the likes of Cak Nur. The attacks against ‘liberal Islam’, it was noted, came from within the environment of politicisation of Islam, whose proponents are known as ‘Islamists’.
Hence, it is crucial to first critique the ideas of political Islam before Cak Nur’s humanistic views can take root. It must not escape observers that Cak Nur had anticipated the hardening of political Islam back in the 1970s, hence his call for “Islam, Yes; Islamic Party, No!” – which caused a stir in Indonesian society that reverberated throughout the region, particularly in Malaysia where the ruling party, UMNO was faced with the challenge of the Islamist party, PAS who called for Islam to be the basis of governance.
In the final analysis, whether one agrees or not with Cak Nur’s reformism, he remains as one of the formidable ulama of the contemporary Malay-Indonesian world. His vision for a civil religion – one that is tolerant, compassionate, democratic and open to religious diversity – is suited for a modern world that has to grapple with a multitude of problems in the spheres of politics, economy, education and social relations.
At the end of the day, it is important to remember that Cak Nur’s core approach is to highlight the ‘good of religion’ more than the ‘truth of religion’. No one can disagree on the good that religion brings to human civilisation, but not all can agree on the truth in every religion. The good, therefore, is inclusive and can be a unifying factor; while truth remains subjective, contested and even personal to every individual. The focus on the good is also what makes us human.
Fifteen years after his passing on, Cak Nur’s message remains relevant. In fact, it is more urgent considering that humanity is currently faced with the problems of violent extremism, sectarianism, terrorism and threats to the environment, including the pandemic and global climate change. Cak Nur’s values-based approach to religion and society can be invigorating for those who want to go beyond the current impasse in Islamic thought.
Written by: Mohamed Imran, taken from Facebook:

Hujan dalam Pelukan

SINOPSIS

Salimah adalah gadis desa yang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kepergiaannya ke ibukota hanya berbekal nomor telepon seorang pejabat tinggi yang menjanjikan akan memberinya pekerjaan. Sebelumnya mereka bertemu dalam sebuah panen raya di desanya yang dibuka oleh sang pejabat. Tapi rupanya pejabat tinggi itu hanya ingin melampiaskan kesenangan daging. Setelah puas, Salimah dicampakkannya di ibukota tanpa diberi pekerjaan yang dijanjikan.

Perjuangan keras dimulai. Salimah menjadi pemain figuran dalam sinetron. Dalam waktu 4 tahun ia baru berhasil menjadi pemeran utama. Produser memberinya nama baru: Sally. Sayang ia kemudian tersingkir oleh para pendatang baru. Ia pontang-panting mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup.

Pertemuan Sally dengan seorang pria jurnalis investigasi kembali memutar haluan hidupnya. Pesona cinta sang jurnalis dan dorongan untuk bisa survive di ibukota membuat Sally rela melakukan apa saja, termasuk menjadi ‘umpan’ untuk mengungkap mafia impor pangan dan peredaran narkoba di kalangan pejabat. Akibatnya, ia pun menjadi buronan para mafia.

Sally tidak menyerah. Tekadnya untuk bertahan dan memperbaiki hidup mengantarkannya pada perjuangan yang keras dan penuh risiko. Pada saat yang sama ia pun dihadapkan pada pilihan yang sulit antara cinta atau cita-cita. Bagaimana Sally menghadapi pilihan-pilihan tersebut? Bagaimana pula hubungan mantan selebriti ini dengan para mafia dan pejabat-pejabat tinggi yang memandang perempuan semata-mata hanya seonggok daging? Temukan jawabannya dalam novel terbaru saya: Hujan dalam Pelukan. Novel 33 bab ini dikemas dalam bahasa yang ringan dengan alur cerita yang penuh kejutan dan mendebarkan 🙂

Novel ini dapat dibaca di platform Novelme, ini link-nya: https://h5.novelme.com/bookinfo/22983

Selamat menikmati.

 

 

 

Wassalam,

Ahmad Gaus

 

 

Teman Abadi Kerinduan

f7259957d7f54c67604ca02f39ed3da3

TEMAN ABADI KERINDUAN

Sekali waktu di tengah hujan
kita bertemu di sebuah persimpangan
bercerita tentang kehidupan
kau bilang, sayap-sayapmu hilang
dicuri kupu-kupu
dalam perjalanan menuju tempat terjauh
dalam hidupmu
sedang perahuku patah dayungnya
saat bertolak ke pulau
yang belum pernah kutempuh
dalam hidupku

Angin laut menyatukan kita
kau ikat rambutmu di layar perahuku
dan kusandarkan perahuku
dalam tidurmu

Ombak begitu lama
mercusuar tidak selalu menyala
tapi masih ada isyarat samar-samar
dari kelepak burung camar

Sayang, di darat pun tak ada peta
sebab perjalanan ini memang buta
itulah kenapa kita berpegangan tangan

Menanam flamboyan di tepi-tepi jalan
menunggu bunganya berguguran seperti bulan
dan menyerah begitu indah
pada penderitaan

Kita tahu di sana ada
keluh-kesah dan harapan
teman abadi kerinduan

 Baca juga: Jalan Terjal

Kunci Pembuka Hati


PAGI yang cerah. Sally membantu adik-adiknya mencabuti umbi kentang.

Sudah lama ia tidak melakukan itu sehingga beberapa kali melakukan kesalahan.

“Hati-hati Kak, pakai ini,” kata Fitria menyodorkan garpu tanah.

“Ambil yang daunnya sudah kuning saja, Kak,” tambah Mega.

“Ah iya, kakak sudah lupa, hihihik.” Sally menyingkirkan beberapa umbi kentang muda yang belum saatnya dipanen tapi sudah telanjur dicabut dari tanah. Suara tawanya mengundang perhatian para petani yang sedang sibuk memanen.

“Maklum Neng Limah sudah jadi orang terkenal, jadi sudah lupa cara memanen kentang,” ujar seorang ibu.

“Eeeeehh Bu Hapsah dengar saja. Saya tidak lupa kok bu, cuma tidak ingat, hehehehe,” jawab Sally berkelakar.

“Ya itu mah sama saja, lupa, tidak ingat, sarua keneh.” Tiga kakak-beradik itu tertawa mendengar logat sunda Bu Hapsah yang medok.

Panen kentang itu tidak dibuka oleh bapak gubernur, tidak dihadiri pejabat pertanian maupun petugas penyuluh. Itu memang panen biasa, bukan panen raya. Sudah lama tidak ada panen raya kentang karena sebagian lahan sudah alih fungsi menjadi ladang macam-macam sayuran, bahkan banyak yang tidak lagi ditanami karena para petani merugi dan gulung tikar.

“Panen sekarang beda ya dengan dulu, sekarang sepi,” ujar Sally lagi. Ia bicara kepada Bu Hapsah yang tampaknya sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya. Namun suara lain menyahut.

“Ya, sepi karena sudah lama kamu tidak pulang kampung.” Sally menoleh mencari arah datangnya suara. Seseorang sekonyong-konyong sudah berdiri di belakangnya.

“Kang Bahar.” Sally membalikkan badan.

“Saya kira kamu sudah lupa sama saya,” ucap Bahar

“Memangnya saya sudah kelihatan kayak nenek-nenek pikun?”

Keduanya tersenyum. Sally melepaskan sarung tangannya untuk menyambut jabat tangan Bahar. Sudah lama kedua tangan itu tidak saling bersentuhan. Waktu dan jarak yang memisahkan, menciptakan dorongan yang kuat dari dalam diri masing-masing untuk menyatu dalam getaran yang sama. Tidak ada kata yang terucap. Sally tertunduk. Bahar masih menggenggam tangan Sally yang dulu selalu menggelendot manja atau melingkar di pinggangnya saat duduk di belakang sepeda motornya.

“Wah, kok salamannya lama bener,” sergah Mega yang sejak tadi memperhatikan keduanya. Terburu-buru Sally menarik tangannya. “Usil saja kamu,” balasnya memelototi sang adik. Dan Mega paham, ia melirik Fitri dan mengedipkan matanya memberi isyarat. Lalu keduanya menjauh.

“Kapan kamu datang, Limah?”

“Baru kemarin, tapi besok harus berangkat ke Jakarta lagi.”

“Kok cepat sekali, saya sengaja menambah cuti lho, supaya bisa bertemu kamu.”

Kata-kata itu mengagetkan Sally, walaupun dalam hatinya terbersit perasaan senang. “Saya banyak pekerjaan Kang. Memangnya Kang Bahar cuti sampai kapan?”

“Saya menambah cuti satu minggu lagi, karena dapat kabar kamu mau datang, tapi kalau kamu mau pergi besok, saya juga akan pergi secepatnya.”

“Mengapa tergantung sama saya, Kang? Urusan kita kan beda.”

“Kamu masih saja bilang begitu. Kapan urusan kita akan sama?”

“Maksud Kang Bahar? Saya tidak paham.”

“Kamu sebenarnya sudah paham, Limah, hanya kamu selalu pura-pura tidak paham.”

Sally terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tapi benar kata Bahar, dia paham, bahkan sangat paham. Hanya saja tidak pernah berusaha untuk membuka hati untuk pria yang ia tahu sejak dulu mencintainya itu. Sekarang tiba-tiba ia disudutkan untuk memberi jawab atas pertanyaan yang tertunda bertahun-tahun, dan sudah dilupakannya.

“Saya dengar Kang Bahar bekerja di pelayaran ya, di mana itu, Kang?” Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Di kapal pesiar, perairan Malaka. Tapi pertanyaan saya belum dijawab, Limah, kapan kamu mau membuka hati untuk saya? Saya sudah lama sekali menunggu.”

“Kapan… ya terserah Kang Bahar dong, kalau ada kuncinya, buka saja sendiri,” jawab Sally seenaknya.

Naluri remajanya muncul. Ia berlari-lari di tengah ladang, di antara orang-orang yang sedang sibuk memanen kentang. Bahar segera mengejarnya. Di kaki bukit, di dekat perkebunan tomat, ia berhasil menangkap tubuh Salimah yang berusaha berontak. Guncangan yang keras dari Salimah dan dekapan yang erat dari Bahar membuat keduanya oleng. Lalu tubuh keduanya ambruk. Tertawa bergulingan di tanah, tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang memperhatikan dari kejauhan.

Kisah di atas adalah cuplikan dari novel terbaru saya Hujan dalam Pelukan. Novel ini terdiri dari 33 bab, selengkapnya dapat dibaca di platform Novelme. Link-nya ada di sini: Hujan dalam Pelukan

Lagu Yang Tak Diputar

ada cerita tentang dinding yang diam
dan air mata yang mengambang
menghela langkah dan senyuman

rindu tidak menemukan jejak
dinding yang menyimpan ribuan cerita
tetap saja membisu
seperti lagu yang tak diputar

2018

———–

Kalau kamu suka novel bergenre komedi-horor jangan lupa baca ini ya, novel pendek dengan nilai-nilai spiritual: Laura dan Burung Hantu:

https://h5.novelme.com/bookinfo/18126

Pertemuan Hati

Menjalani hidup sebagai mantan selebriti tidaklah mudah bagi Sally. Beban psikologis yang diembannya nyaris membuatnya kehilangan akal sehat dan hampir saja menyeretnya ke dalam jeratan obat-obat terlarang. Dan itu sudah terjadi pada teman-temannya yang senasib setelah tersingkir dari dunia hiburan. Sementara itu beban ekonomi yang kian berat ditanggungnya memaksa Sally melakukan apa saja demi dapat bertahan dari kerasnya kehidupan di ibukota.

Sekali waktu pernah terlintas dalam pikiran Sally untuk pulang ke kampung. Ia ingin kembali menjadi Salimah, nama aslinya di kampung, yang hidup apa adanya, dan bergaul bersama warga desa yang bersahaja, tanpa obsesi-obsesi yang menyiksa. Namun kini ia merasa bahwa pilihan itu bukanlah yang terbaik, ketika orang-orang di kampung sudah kadung mengenalnya sebagai selebriti ibukota. Itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri, pikirnya.

Sally tidak bisa membayangkan peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu, saat dirinya pulang kampung, rumahnya tak henti-henti dikunjungi orang. Ada yang ingin mendengar kisah suksesnya menjadi artis di ibukota, ada yang minta tanda tangan di baju, berfoto, hingga yang meminta uang. Bukannya ia tidak ingin berbuat baik kepada orang-orang di kampungnya, tapi sekarang ini keadaannya sudah jauh berbeda. 

Kini Sally menyadari dirinya hanyalah orang biasa. Bukan selebriti. Bukan orang terkenal. Bahkan ia merasa nasibnya lebih buruk dari orang biasa yang menjalani hidup secara normal tanpa beban apapun. Sedangkan dia memikul beban moral, psikologis, dan ekonomi sekaligus. Tapi walaupun begitu, Sally tetap membulatkan tekad untuk melanjutkan hidup di Jakarta. Apapun yang terjadi, dan apapun yang harus dilakukan. Dari situlah dimulai petualangan Salimah, gadis kampung yang berusaha menjadi Sally, gadis modern yang terjebak di belantara ibukota.

***

Untuk kesekian kali, Sally melirik jarum jam di tangannya. Di atas meja, sepotong Quiche Lorraine masih tersisa. Sementara kopi tinggal ampasnya, mengendap di dasar gelas. Dan ini adalah batang rokok ketiga yang dinyalakannya. Pikirannya melayang seperti asap yang dihembuskan kuat-kuat dari celah bibirnya.

Aku tidak akan membiarkan airmata jatuh di pipimu. Aku akan memberikan bahuku untuk bersandar, jika engkau membutuhkannya.”

Berulang kali Sally membaca kata-kata itu di layar ponselnya. Orang yang mengirimkannya adalah Robby. Walaupun pria itu mengatakan bahwa ia salah mengirim pesan, Sally meyakini bahwa Robby sengaja menulis kata-kata itu untuk dirinya.

Sally mengenal Robby sebagai wartawan yang pernah menulis profil dirinya di majalah pria dewasa. Saat itu Sally masih berprofesi sebagai artis sinetron. Setelah 4 tahun lamanya menggeluti dunia perfilman, baru sekali itu Sally mendapat peran utama, karena itu Robby menuliskan profil dirinya sebagai cover story di media tempatnya bekerja. Nama Sally makin berkibar dan dikenal masyarakat. Sejak itu pula ia menjalin pertemanan akrab dengan Robby.

 Tapi itu dulu. Sejak 2 tahun lalu Sally tidak pernah lagi berakting di sinetron. Perannya tergeser oleh para pendatang baru. Dan sejak itu pula ia tidak pernah bertemu lagi dengan Robby. Kerap kali Sally menghubungi nomor ponsel Robby tapi selalu dijawab “tidak terdaftar” oleh operator. Mungkin ponselnya hilang atau sudah berganti nomor, pikir Sally. Di mata para selebriti, termasuk Sally, Robby adalah wartawan anti-gosip. Ia cenderung menghindari isu-isu sensasional. Tulisan-tulisannya apresiatif namun tajam, dan sering dijadikan rujukan berita infotainment televisi. Itulah yang membuat Robby disukai oleh para selebriti.

Suatu ketika tanpa sengaja Sally melihat status baru Robby di media sosial, padahal selama bertahun-tahun akun miliknya dibiarkan tidak aktif. Sally pun menyapanya via inbox, dan ternyata dijawab. Keduanya kembali bertukar nomor. Karena sudah berteman lama, mereka mudah menjadi akrab. Bahkan Sally sudah mulai sering curhat tentang kesedihan-kesedihannya. Kemudian Sally mengundang Robby untuk afternoon coffee. “Aku ingin bertemu Rob, ada hal penting yang mau aku bicarakan, tidak bisa di WA” tulis Sally. Tidak lupa ia menyebutkan tempat pertemuan – sebuah kafe di kawasan Kebayoran Baru. Dan Robby mengiyakan.

***

Pertemuan itu disepakati pukul 16.00, namun Sally sudah menunggu hampir satu jam di kafe itu, Robby tak juga menampakkan batang hidungnya. “Ingat, Rob, aku tidak pernah memaafkan orang yang tidak tepat waktu, apalagi mengingkari janji.” Begitu bunyi pesan pendek yang dikirimkan Sally kepada Robby pagi tadi.

“Aku siap dihukum apa saja kalau datang terlambat,” jawab Robby.

Dan sekarang sudah lebih dari satu jam Robby belum juga datang. “Ke mana pria itu? Apakah dia sengaja mengingkari janjinya, dan tidak takut dengan ancamanku,” Sally membatin.

Duduk sendiri menunggu orang yang kedatangannya tidak pasti, sementara telepon selulernya dimatikan, membutuhkan kesabaran ekstra. Dan Sally tampaknya bukan tipe orang yang bisa melakukan itu. Dihisapnya lagi rokok yang terselip di sela jarinya. Asapnya dihembuskan memenuhi ruangan kafe, menyatu dengan asap rokok para pengunjung yang lain.

Pandangannya kini beralih, memperhatikan setiap pengunjung yang datang dan pergi. Tak satu pun yang memperhatikannya, apalagi menyapanya. Apakah mereka sudah tidak mengenali aku lagi? Sally bertanya dalam hati. Dulu aku pesinetron, sekarang sudah tidak lagi. Apakah waktu dua tahun menghilang di depan publik terlalu lama, sehingga masyarakat sudah melupakanku? Pertanyaan demi pertanyaan berlintasan di kepala Sally.

“Ini zaman iklan, Sal, semua harus dipromosikan kalau ingin tetap eksis. Dunia hiburan penuh sesak oleh pendatang baru, dan yang lama akan dicampakkan, kecuali mereka yang rajin mempromossikan diri.” Nasihat itu pernah diucapkan rekan Sally sebelum casting di sebuah studio beberapa tahun lalu. Itulah untuk pertamakalinya ia berhasil mendapatkan peran utama. Namun, rupanya itu juga menjadi kontrak kerjanya yang terakhir berakting dalam sinetron.

Sekarang ia menyadari kebenaran dari nasihat rekannya. Dua tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk menghilang dari publik. Status selebriti yang melekat pada dirinya kini menjadi beban. Sementara tawaran job yang tak kunjung datang membuatnya kalang-kabut. Sally merasa dunia hiburan hanya memberi harapan hampa bagi dirinya. Tidak ada jaminan apapun. Jangankan masa depan, untuk sekarang saja ia sudah megap-megap. Ia memang masih mengajar kursus menari di sanggar yang dikelola oleh seorang kenalannya. Namun penghasilannya hanya cukup untuk dikirim ke kampung. Sementara kebutuhan hidup di ibukota tidak bisa dikompromikan. Semakin lama ia terbiasa menerima job dari Tante Vony, seorang perempuan setengah baya yang baik hati dan memiliki relasi dengan para pengusaha, politisi, dan pejabat tinggi.

Tiba-tiba Sally teringat ibunya di kampung dan dua adik perempuannya yang mulai beranjak remaja.

“Ibu tidak memaksamu bekerja, Nak, kebun warisan almarhum ayahmu masih ada sepetak, kalau kita menjualnya cukup untuk membuka warung di depan rumah.”

Kata-kata ibunya terngiang, diucapkan saat Sally meminta izin pergi ke Jakarta untuk melamar kerja sebagai model di sebuah agen iklan. Tatapan mata ibunya saat itu tak pernah bisa dilupakan. Menyapu seluruh tubuhnya. Seperti tidak rela ditinggal pergi oleh anak perempuan sulungnya.

“Tapi ibu tidak bisa mencegahmu kalau memang tekadmu sudah bulat. Ibu percaya kamu bisa menjaga diri karena kamu sudah besar.”

Kemudian ibu memeluknya erat. Sally melihat dari balik cermin yang terpasang di atas meja rias di kamarnya, ibunya sedang memilin-milin rambutnya yang terurai panjang.

“Kamu ingat pesan ayahmu, rambut anak perempuan tidak boleh dipotong pendek,” ujar ibunya sambil melepaskan pelukan. Ayahnya meninggal dunia akibat sakit yang terlambat ditangani.

***

Lamunan Sally terus melayang. Dihisapnya lagi rokok di tangannya dalam-dalam dan dihembuskan kuat-kuat. Rongga dadanya terasa hangat, tapi nafasnya berat, seperti ada beban yang menimpa di sekujur tubuhnya. Ia tertunduk lesu — tidak peduli lagi pada orang-orang yang lalu-lalang keluar masuk kafe; tidak ingat lagi pada Robby.

Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca. Saat-saat seperti itu ia sungguh membutuhkan bahu untuk bersandar. Tapi bahu siapa? Bahkan orang-orang di sekitarnya pun tidak ada lagi yang mengenali. Ia benar-benar menjadi Salimah kecil yang menangis meminta dibelikan boneka Barbie oleh ibunya—sebuah permintaan yang tak pernah terwujud, sampai ia mampu membelinya dari hasil keringat sendiri, dan memenuhi kamar apartemen sewaannya dengan boneka ciptaan Ruth Handler tersebut.

“Selamat sore, Sally!” Sally mendongakkan kepala menatap pria bertubuh atletis yang menyapanya dan berdiri tepat di depannya. Pria itu mengulurkan tangannya. Tanpa beranjak dari kursinya Sally menyambut uluran tangan itu. Lalu sekonyong-konyong ia berkata dengan nada setengah membentak

“Heh, Rob, kamu tahu…”

Belum lagi Sally menyelesaikan bicaranya, pria itu dengan sigap menyela.

“Ya, ya, aku tahu, aku mengaku bersalah, aku minta maaf karena datang terlambat.”

“Minta maaf? Enak sekali, dalam perjanjiannya tidak ada pasal minta maaf.”

“Ok, ok, kalau kamu mau, aku siap dihukum!”

Tatapan tajam Sally menyelidik pria itu: rambutnya dipotong pendek,  alis matanya tebal, dan tulang rahang yang menonjol — apakah orang ini sungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Ok, aku akan menghukummu, tapi tidak sekarang, dan tidak di sini,” tandas Sally serius. Ia merasa aneh bisa berkata begitu karena selama ini sudah cukup akrab dan terbiasa bercanda dengan pria tersebut.

Robby tidak bereaksi. Ia ragu-ragu memberi respon atas ancaman Sally karena melihat wajah perempuan itu tampak dingin. Namun ia tetap berusaha mencairkan suasana.

“Bolehkah aku duduk dan memesan minum?”

“Tidak. Kamu harus tetap berdiri di situ sampai aku selesai bicara. Ini adalah hukumanmu yang pertama.”

“Baiklah. Lanjutkan kalau masih ada yang harus aku dengarkan.” Robby mengurungkan niatnya untuk duduk di kursi.

“Begini,” lanjut Sally. Sekarang ia bangkit dari kursinya. “Kamu telah membuang-buang waktuku lebih dari satu jam, Rob. Itu membuatku merasa sangat bodoh. Mulai sekarang kamu menjadi tawananku.”

“Tawanan? Kok kayak film perang!”

‘Terserah.”

“Sampai kapan aku jadi tawananmu, Sal?”

“Sampai batas waktu yang tidak ditentukan.”

“Mengapa kamu tidak menghukum aku sekarang saja?”

“Ooo.. tidak secepat itu, Rob. Kamu harus melewati beberapa tahap penyiksaan, sebelum kamu merasakan ini.” Sally mengepalkan tangan dan menempelkannya ke wajah Robby. Pria itu tidak berusaha untuk berkelit. Ia sepertinya tahu Sally hanya berpura-pura marah. Kalau tidak, mengapa tangannya ditempelkan begitu lembut ke wajahnya.

“Aku tidak sabar ingin segera disiksa,” seloroh Robby.

Sally memonyongkan mulutnya tanpa menjawab. Tangannya meraih rokok putih dan pemantik api di atas meja, memasukkannya ke dalam tas, lalu memberi isyarat mengajak Robby pergi.

NOTE:

Kisah di atas adalah cuplikan dari novel terbaru saya: Hujan dalam Pelukan. Novel ini terdiri dari 33 bab, selengkapnya bisa dibaca di platform Novelme. Link-nya ada di sini: Hujan dalam Pelukan

Baca juga: Laura dan Burung Hantu