Lagu Yang Tak Diputar

ada cerita tentang dinding yang diam
dan air mata yang mengambang
menghela langkah dan senyuman

rindu tidak menemukan jejak
dinding yang menyimpan ribuan cerita
tetap saja membisu
seperti lagu yang tak diputar

2018

———–

Kalau kamu suka novel bergenre komedi-horor jangan lupa baca ini ya, novel pendek dengan nilai-nilai spiritual: Laura dan Burung Hantu:

https://h5.novelme.com/bookinfo/18126

Pertemuan Hati

Menjalani hidup sebagai mantan selebriti tidaklah mudah bagi Sally. Beban psikologis yang diembannya nyaris membuatnya kehilangan akal sehat dan hampir saja menyeretnya ke dalam jeratan obat-obat terlarang. Dan itu sudah terjadi pada teman-temannya yang senasib setelah tersingkir dari dunia hiburan. Sementara itu beban ekonomi yang kian berat ditanggungnya memaksa Sally melakukan apa saja demi dapat bertahan dari kerasnya kehidupan di ibukota.

Sekali waktu pernah terlintas dalam pikiran Sally untuk pulang ke kampung. Ia ingin kembali menjadi Salimah, nama aslinya di kampung, yang hidup apa adanya, dan bergaul bersama warga desa yang bersahaja, tanpa obsesi-obsesi yang menyiksa. Namun kini ia merasa bahwa pilihan itu bukanlah yang terbaik, ketika orang-orang di kampung sudah kadung mengenalnya sebagai selebriti ibukota. Itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri, pikirnya.

Sally tidak bisa membayangkan peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu, saat dirinya pulang kampung, rumahnya tak henti-henti dikunjungi orang. Ada yang ingin mendengar kisah suksesnya menjadi artis di ibukota, ada yang minta tanda tangan di baju, berfoto, hingga yang meminta uang. Bukannya ia tidak ingin berbuat baik kepada orang-orang di kampungnya, tapi sekarang ini keadaannya sudah jauh berbeda. 

Kini Sally menyadari dirinya hanyalah orang biasa. Bukan selebriti. Bukan orang terkenal. Bahkan ia merasa nasibnya lebih buruk dari orang biasa yang menjalani hidup secara normal tanpa beban apapun. Sedangkan dia memikul beban moral, psikologis, dan ekonomi sekaligus. Tapi walaupun begitu, Sally tetap membulatkan tekad untuk melanjutkan hidup di Jakarta. Apapun yang terjadi, dan apapun yang harus dilakukan. Dari situlah dimulai petualangan Salimah, gadis kampung yang berusaha menjadi Sally, gadis modern yang terjebak di belantara ibukota.

***

Untuk kesekian kali, Sally melirik jarum jam di tangannya. Di atas meja, sepotong Quiche Lorraine masih tersisa. Sementara kopi tinggal ampasnya, mengendap di dasar gelas. Dan ini adalah batang rokok ketiga yang dinyalakannya. Pikirannya melayang seperti asap yang dihembuskan kuat-kuat dari celah bibirnya.

Aku tidak akan membiarkan airmata jatuh di pipimu. Aku akan memberikan bahuku untuk bersandar, jika engkau membutuhkannya.”

Berulang kali Sally membaca kata-kata itu di layar ponselnya. Orang yang mengirimkannya adalah Robby. Walaupun pria itu mengatakan bahwa ia salah mengirim pesan, Sally meyakini bahwa Robby sengaja menulis kata-kata itu untuk dirinya.

Sally mengenal Robby sebagai wartawan yang pernah menulis profil dirinya di majalah pria dewasa. Saat itu Sally masih berprofesi sebagai artis sinetron. Setelah 4 tahun lamanya menggeluti dunia perfilman, baru sekali itu Sally mendapat peran utama, karena itu Robby menuliskan profil dirinya sebagai cover story di media tempatnya bekerja. Nama Sally makin berkibar dan dikenal masyarakat. Sejak itu pula ia menjalin pertemanan akrab dengan Robby.

 Tapi itu dulu. Sejak 2 tahun lalu Sally tidak pernah lagi berakting di sinetron. Perannya tergeser oleh para pendatang baru. Dan sejak itu pula ia tidak pernah bertemu lagi dengan Robby. Kerap kali Sally menghubungi nomor ponsel Robby tapi selalu dijawab “tidak terdaftar” oleh operator. Mungkin ponselnya hilang atau sudah berganti nomor, pikir Sally. Di mata para selebriti, termasuk Sally, Robby adalah wartawan anti-gosip. Ia cenderung menghindari isu-isu sensasional. Tulisan-tulisannya apresiatif namun tajam, dan sering dijadikan rujukan berita infotainment televisi. Itulah yang membuat Robby disukai oleh para selebriti.

Suatu ketika tanpa sengaja Sally melihat status baru Robby di media sosial, padahal selama bertahun-tahun akun miliknya dibiarkan tidak aktif. Sally pun menyapanya via inbox, dan ternyata dijawab. Keduanya kembali bertukar nomor. Karena sudah berteman lama, mereka mudah menjadi akrab. Bahkan Sally sudah mulai sering curhat tentang kesedihan-kesedihannya. Kemudian Sally mengundang Robby untuk afternoon coffee. “Aku ingin bertemu Rob, ada hal penting yang mau aku bicarakan, tidak bisa di WA” tulis Sally. Tidak lupa ia menyebutkan tempat pertemuan – sebuah kafe di kawasan Kebayoran Baru. Dan Robby mengiyakan.

***

Pertemuan itu disepakati pukul 16.00, namun Sally sudah menunggu hampir satu jam di kafe itu, Robby tak juga menampakkan batang hidungnya. “Ingat, Rob, aku tidak pernah memaafkan orang yang tidak tepat waktu, apalagi mengingkari janji.” Begitu bunyi pesan pendek yang dikirimkan Sally kepada Robby pagi tadi.

“Aku siap dihukum apa saja kalau datang terlambat,” jawab Robby.

Dan sekarang sudah lebih dari satu jam Robby belum juga datang. “Ke mana pria itu? Apakah dia sengaja mengingkari janjinya, dan tidak takut dengan ancamanku,” Sally membatin.

Duduk sendiri menunggu orang yang kedatangannya tidak pasti, sementara telepon selulernya dimatikan, membutuhkan kesabaran ekstra. Dan Sally tampaknya bukan tipe orang yang bisa melakukan itu. Dihisapnya lagi rokok yang terselip di sela jarinya. Asapnya dihembuskan memenuhi ruangan kafe, menyatu dengan asap rokok para pengunjung yang lain.

Pandangannya kini beralih, memperhatikan setiap pengunjung yang datang dan pergi. Tak satu pun yang memperhatikannya, apalagi menyapanya. Apakah mereka sudah tidak mengenali aku lagi? Sally bertanya dalam hati. Dulu aku pesinetron, sekarang sudah tidak lagi. Apakah waktu dua tahun menghilang di depan publik terlalu lama, sehingga masyarakat sudah melupakanku? Pertanyaan demi pertanyaan berlintasan di kepala Sally.

“Ini zaman iklan, Sal, semua harus dipromosikan kalau ingin tetap eksis. Dunia hiburan penuh sesak oleh pendatang baru, dan yang lama akan dicampakkan, kecuali mereka yang rajin mempromossikan diri.” Nasihat itu pernah diucapkan rekan Sally sebelum casting di sebuah studio beberapa tahun lalu. Itulah untuk pertamakalinya ia berhasil mendapatkan peran utama. Namun, rupanya itu juga menjadi kontrak kerjanya yang terakhir berakting dalam sinetron.

Sekarang ia menyadari kebenaran dari nasihat rekannya. Dua tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk menghilang dari publik. Status selebriti yang melekat pada dirinya kini menjadi beban. Sementara tawaran job yang tak kunjung datang membuatnya kalang-kabut. Sally merasa dunia hiburan hanya memberi harapan hampa bagi dirinya. Tidak ada jaminan apapun. Jangankan masa depan, untuk sekarang saja ia sudah megap-megap. Ia memang masih mengajar kursus menari di sanggar yang dikelola oleh seorang kenalannya. Namun penghasilannya hanya cukup untuk dikirim ke kampung. Sementara kebutuhan hidup di ibukota tidak bisa dikompromikan. Semakin lama ia terbiasa menerima job dari Tante Vony, seorang perempuan setengah baya yang baik hati dan memiliki relasi dengan para pengusaha, politisi, dan pejabat tinggi.

Tiba-tiba Sally teringat ibunya di kampung dan dua adik perempuannya yang mulai beranjak remaja.

“Ibu tidak memaksamu bekerja, Nak, kebun warisan almarhum ayahmu masih ada sepetak, kalau kita menjualnya cukup untuk membuka warung di depan rumah.”

Kata-kata ibunya terngiang, diucapkan saat Sally meminta izin pergi ke Jakarta untuk melamar kerja sebagai model di sebuah agen iklan. Tatapan mata ibunya saat itu tak pernah bisa dilupakan. Menyapu seluruh tubuhnya. Seperti tidak rela ditinggal pergi oleh anak perempuan sulungnya.

“Tapi ibu tidak bisa mencegahmu kalau memang tekadmu sudah bulat. Ibu percaya kamu bisa menjaga diri karena kamu sudah besar.”

Kemudian ibu memeluknya erat. Sally melihat dari balik cermin yang terpasang di atas meja rias di kamarnya, ibunya sedang memilin-milin rambutnya yang terurai panjang.

“Kamu ingat pesan ayahmu, rambut anak perempuan tidak boleh dipotong pendek,” ujar ibunya sambil melepaskan pelukan. Ayahnya meninggal dunia akibat sakit yang terlambat ditangani.

***

Lamunan Sally terus melayang. Dihisapnya lagi rokok di tangannya dalam-dalam dan dihembuskan kuat-kuat. Rongga dadanya terasa hangat, tapi nafasnya berat, seperti ada beban yang menimpa di sekujur tubuhnya. Ia tertunduk lesu — tidak peduli lagi pada orang-orang yang lalu-lalang keluar masuk kafe; tidak ingat lagi pada Robby.

Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca. Saat-saat seperti itu ia sungguh membutuhkan bahu untuk bersandar. Tapi bahu siapa? Bahkan orang-orang di sekitarnya pun tidak ada lagi yang mengenali. Ia benar-benar menjadi Salimah kecil yang menangis meminta dibelikan boneka Barbie oleh ibunya—sebuah permintaan yang tak pernah terwujud, sampai ia mampu membelinya dari hasil keringat sendiri, dan memenuhi kamar apartemen sewaannya dengan boneka ciptaan Ruth Handler tersebut.

“Selamat sore, Sally!” Sally mendongakkan kepala menatap pria bertubuh atletis yang menyapanya dan berdiri tepat di depannya. Pria itu mengulurkan tangannya. Tanpa beranjak dari kursinya Sally menyambut uluran tangan itu. Lalu sekonyong-konyong ia berkata dengan nada setengah membentak

“Heh, Rob, kamu tahu…”

Belum lagi Sally menyelesaikan bicaranya, pria itu dengan sigap menyela.

“Ya, ya, aku tahu, aku mengaku bersalah, aku minta maaf karena datang terlambat.”

“Minta maaf? Enak sekali, dalam perjanjiannya tidak ada pasal minta maaf.”

“Ok, ok, kalau kamu mau, aku siap dihukum!”

Tatapan tajam Sally menyelidik pria itu: rambutnya dipotong pendek,  alis matanya tebal, dan tulang rahang yang menonjol — apakah orang ini sungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Ok, aku akan menghukummu, tapi tidak sekarang, dan tidak di sini,” tandas Sally serius. Ia merasa aneh bisa berkata begitu karena selama ini sudah cukup akrab dan terbiasa bercanda dengan pria tersebut.

Robby tidak bereaksi. Ia ragu-ragu memberi respon atas ancaman Sally karena melihat wajah perempuan itu tampak dingin. Namun ia tetap berusaha mencairkan suasana.

“Bolehkah aku duduk dan memesan minum?”

“Tidak. Kamu harus tetap berdiri di situ sampai aku selesai bicara. Ini adalah hukumanmu yang pertama.”

“Baiklah. Lanjutkan kalau masih ada yang harus aku dengarkan.” Robby mengurungkan niatnya untuk duduk di kursi.

“Begini,” lanjut Sally. Sekarang ia bangkit dari kursinya. “Kamu telah membuang-buang waktuku lebih dari satu jam, Rob. Itu membuatku merasa sangat bodoh. Mulai sekarang kamu menjadi tawananku.”

“Tawanan? Kok kayak film perang!”

‘Terserah.”

“Sampai kapan aku jadi tawananmu, Sal?”

“Sampai batas waktu yang tidak ditentukan.”

“Mengapa kamu tidak menghukum aku sekarang saja?”

“Ooo.. tidak secepat itu, Rob. Kamu harus melewati beberapa tahap penyiksaan, sebelum kamu merasakan ini.” Sally mengepalkan tangan dan menempelkannya ke wajah Robby. Pria itu tidak berusaha untuk berkelit. Ia sepertinya tahu Sally hanya berpura-pura marah. Kalau tidak, mengapa tangannya ditempelkan begitu lembut ke wajahnya.

“Aku tidak sabar ingin segera disiksa,” seloroh Robby.

Sally memonyongkan mulutnya tanpa menjawab. Tangannya meraih rokok putih dan pemantik api di atas meja, memasukkannya ke dalam tas, lalu memberi isyarat mengajak Robby pergi.

NOTE:

Baca juga: Laura dan Burung Hantu

Laura dan Burung Hantu

SINOPSIS

“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”

***

Laura (20) adalah seorang gadis pencemburu yang mudah terbawa oleh khayalannya sendiri. Dia sering membayangkan dirinya menjadi seseorang yang sempurna kecantikannya seperti bidadari. Dia menganggap dirinya bisa terbang dan tinggal di kerajaan kahyangan. Begitu kuat khayalannya dipatri dalam pikiran sehingga dia hidup seperti dalam mimpi. Akibatnya dia juga sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Bahkan dalam mimpi dan khayalannya itulah dia menciptakan kenyataan.

Setiap keburukan yang menimpanya atau ancaman yang mengintainya dikhayalkan sebagai burung hantu. Sehingga burung hantu itu selalu hadir dalam kehidupannya.

Note: Silakan baca novel ini sampai tuntas di platform NovelMe dalam tautan di bawah ya.

Terima kasih

https://h5.novelme.com/bookinfo/18126

Sementara Kita Saling Berbisik: Mengenang SDD

Pagi tadi saya membuka twitter dan mata saya tertumbuk ke trending topic di posisi paling atas: #PakSapardi. Saya curiga ada apa-apa, karena beberapa hari sebelumnya beliau masuk rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian, muncul lagi trending topic #EyangSapardi. Dengan tangan bergetar saya membuka trending topic tersebut, daaan… “kecurigaan” saya terbukti. Pak Sapardi Djoko Damono, sastrawan besar Indonesia yang akrab disapa SDD itu, meninggal dunia di Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan, pada hari Minggu, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB. Beliau meninggal di usia 80 tahun. Sebelumnya menderita beberapa penyakit (komplikasi).

Sastrawan-Sapardi-Djoko-Damono-Tutup-Usia-Foto-Prelo36496eb435756c1e

Deretan ucapan belasungkawa memenuhi linimasa twitter. Tidak sedikit juga yang mengutip sajak-sajaknya, atau mengungkapkan kenangan pribadinya bersama penyair “Hujan Bulan Juni” tersebut.  Dan hari ini di media sosial, orang seakan diberi tahu bahwa sajak SDD bukan hanya Hujan Bulan Juni, atau Aku Ingin, melainkan banyak, banyak sekali yang bagus, yang jarang diekspose, kecuali oleh mereka yang memang memiliki minat besar pada puisi, atau yang memiliki selera bahasa estetika. Memang yang terkenal dua sajak itu (Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin), bahkan saking terkenalnya sampai-sampai sajak Aku Ingin dicetak di surat-surat undangan pernikahan.

4Y6d1223

Sebenarnya selain dua sajak itu, sajak-sajak SDD yang lain juga tak kurang syahdunya, sebut saja misalnya Hatiku Selembar Daun, Pada Suatu Hari Nanti, Pertemuan, Dalam Diriku, Sementara Kita Saling Berbisik, dll. Sajak yang saya sebut terakhir itu, Sementara Kita Saling Berbisik (SKSB), adalah sajak favorit saya. Walaupun semua sajak SDD bagi saya selalu memiliki gema dalam diam, sajak SKSB bagi saya sangat istimewa karena seperti suara yang dibisikkan ke dalam jantung jiwa tentang apa yang tidak selalu saya pahami: hidup, cinta, perjalanan, waktu… !! Bahkan setiap kali saya berbicara dengan SDD saya merasa beliau sedang berbisik. Beliau memang tipe manusia yang lembut. Bicaranya lembut, tatapan matanya lembut, bahasa tubuhnya lembut. Itulah sebabnya puisi-puisi yang lahir dari tangan beliau juga puisi-puisi yang lembut.   

kita

Sebuah hukum alam mungkin berlaku, bahwa seorang pengarang akan lebih dikenal secara utuh setelah kematiannya. Sebab, setelah kematian itulah pengarang justru hidup selamanya. Karya-karyanya diburu, biografinya dibaca, legacy-nya diawetkan di museum ingatan.

Saya bergetar membaca salah satu bait sajak SDD yang satu ini: “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Larik sajak ini mengingatkan saya pada larik terkenal dari penyair “Binatang Jalang” Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Keduanya menegaskan kefanaan diri, namun melalui kefanaan itu ada keabadian.

tumblr_o85960FovT1vwv8yao1_640

Kenangan

Suatu hari di tahun 2011 saya berkunjung ke rumah Pak Sapardi Djoko Damono (SDD) di kompleks dosen UI di Ciputat, Tangerang Selatan. Setelah berbincang tentang segala hal dari soal kemacetan hingga kesehatan, saya menyerahkan sebuah naskah antologi puisi karya para mahasiswa saya di Swiss German University (SGU). Sejak tahun 2007 hingga sekarang saya mengajar mata kuliah bahasa dan budaya di kampus tersebut. Saya meminta beliau membacanya, dan kalau berkenan membuat kata pengantar, setidaknya membuat endorsemen barang satu dua kalimat. “Saya baca dulu,” ujarnya.

Keesokan harinya saya menerima pesan dari beliau, “Saya mau menulis kata pengantar, ya,” tulisnya. Alangkah senangnya saya. Saat saya masuk kelas,  saya beritahukan hal itu kepada mahasiswa saya, mereka pun senang. Sebab puisi-puisi SDD adalah puisi yang paling banyak dibaca oleh mahasiswa saya saat mereka harus tampil ke depan kelas membaca puisi.

Tidak sampai satu minggu Pak Sapardi  mengirimkan kata pengantar untuk buku itu ke email saya. Tidak sabar saya langsung membacanya. Di antaranya beliau menulis begini:

“Buku yang berisi kumpulan karangan mahasiswa SGU ini mengingatkan saya tentang pentingnya kebebasan siapa pun untuk mendapat akses ke pemahaman dan penciptaan bahasa. Boleh dikatakan bahwa para penulis ini belajar apa yang kita sebut “ilmu keras”, tetapi ternyata memiliki niat dan kemampuan untuk masuk ke dunia kreativitas yang mungkin dianggap “lembek”, yakni kesusastraan. Mungkin sekali sewaktu masih belajar di sekolah menengah, mereka dianggap tidak perlu mempelajari kesusastraan: tidak “sepantasnya” mengungkapkan pengalaman dan perasaan dalam karya sastra, tidak elok menulis esai tentang karya sastra. Namun, ternyata mereka memiliki minat dan kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut.”

Satu bulan kemudian buku yang memuat sekitar 80-an puisi itu terbit. Lalu saya mengantar beberapa mahasiswa SGU ke rumah Pak Sapardi untuk menyampaikan kado sebagai tanda ucapan terima kasih kepada beliau karena telah bersedia memberi kata pengantar buku mereka. Tentu mereka senang sekali; suatu kehormatan yang sangat besar bahwa buku antologi mahasiswa diberi kata pengantar oleh begawan sastra.

istana-angin-sgu

 

****

Puisi-puisi itu sendiri sebetulnya berasal dari tugas-tugas mahasiswa dalam kuliah yang saya ampu. Jumlah mahasiswa 250 orang dari semua jurusan, berarti ada 250 puisi yang saya seleksi dan terpilihlah 80 puisi yang dimuat dalam buku itu. Saya tidak tahu apakah sebelumnya pernah ada buku puisi yang terbit yang berasal dari tugas-tugas kelas. 

Saya teringat pesan yang disampaikan Pak Sapardi kepada para mahasiswa saya waktu berkunjung ke rumahnya itu. “Kalau kita mau mengembangkan bahasa Indonesia, kita harus menulis puisi, tidak ada cara lain,” ujarnya. Buku itu pun kemudian diluncurkan di kampus SGU dengan menghadirkan Pak Sapardi bersama penyair Agus R. Sardjono.

ClMEPg3VAAAIaD8

Pada Desember 2017 saya bertemu dengan SDD di Selangor, Malaysia,  dimana beliau dan saya diundang menjadi pembicara dalam suatu seminar tentang sastra Melayu. Saya berangkat bersama penyair Aan Mansyur. Dan di sana sudah ada beberapa sastrawan Indonesia yang juga diundang ke acara tersebut, antara lain Goenawan Mohamad, penyair Dorothea Rosa Herliani, novelis Nukila Amal, dll.

AAN - KL 08 des 17

Aan Mansyur, Penyair Ada Apa dengan Cinta 2

GM

Sarapan pagi bersama penyair senior Indonesia, Goenawan Mohamad dan seniman Malaysia, Pauline Fan

Begitu keluar dari ruang seminar, saya tunjukkan salah satu puisi saya di dalam buku Senja di Jakarta yang  berjudul Kursi Ruang Tunggu, sebagai “tanggapan” terhadap puisi beliau yang sangat terkenal, Hujan Bulan Juni, dan beliau membacanya terkekeh-kekeh..

SDD

KURSI RUANG TUNGGU

untuk SDD

kursi

tak ada yang lebih tabah dari kursi ruang tunggu;

dirahasiakannya resah rindunya pada kenangan

di bangsal tua itu.

tak ada yang lebih bijak dari kursi ruang tunggu;

dibiarkannya takdir meninggalkannya

di tempat terkutuk itu.

tak ada yang lebih arif dari kursi ruang tunggu;

dihapuskannya sisa-sisa airmatanya yang kering

di pelukan malam itu.

— Akasia Valley, Serpong – 5/8/17

Selamat jalan Eyang Sapardi

Yang fana adalah waktu, engkau abadi…

ahmadgaus-

Baca juga: Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

 

Hagia Shopia Siapa Punya?

Akhir-akhir ini banyak postingan beredar di grup-grup WA yang memuji-muji tindakan Erdogan yang mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid. Tindakan Presiden Turki itu dikaitkan dengan Sultan Muhamad al-Fateh di masa lalu yang lebih dulu merebut gereja Hagia Sophia itu dari umat Kristiani dan dijadikan masjid.

Gereja/Masjid Sophia itu selama ratusan tahun memang menjadi “rebutan” antara umat Kristiani dan umat Islam. Selama Kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia merupakan bangunan gereja. Era Kekaisaran Bizantium berakhir pada 1453 setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II dari Kekaisaran Ottoman. Kemudian status Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid.

200703-seibert-hagia-sophia-hero_awtsib

Setelah Turki menjadi republik, Presiden Kemal Attaturk “menetralkan” gereja/masjid itu menjadi museum pada 1934. Dengan demikian melepaskan kepemilikan emosional dari dua umat tsb. Bukan rumah ibadah Kristiani, bukan pula rumah ibadah Muslim. Melainkan situs warisan dunia milik peradaban Timur dan Barat, Islam dan Kristen.

Nah, pada 10 Juli lalu, Presiden Turki, Erdogan mengubah Hagia Shopia dari museum menjadi masjid. Padahal Hagia Sophia sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada 1985. Dengan status itu, maka perubahan fungsi bangunan harus dikonsultasikan dulu ke Unesco. Erdogan sama sekali mengabaikan itu. Tindakannya itu, yang mengatasnamakan kedaulatan negara, adalah tindakan sepihak, mengabaikan hak masyarakat internasional, tidak etis, dan sekaligus konyol.

Kalau diurut bahwa bangunan itu awal mulanya adalah gereja, tindakan itu juga sangat memalukan. Tidak menunjukkan sensitivitas dalam hubungan antar-agama. Tidak mendukung perdamaian dunia. Dan lebih serius lagi, tidak mencerminkan akhlak Nabi yang sangat menghornati rumah ibadah agama lain. Para khalifah dan sahabat Nabi pun tidak pernah ada yang melakukan itu.

Itulah mengapa banyak umat Islam tidak bahagia dengan keputusan Erdogan tsb. Karena ini menyangkut “perasaan’, hubungan baik Islam dan Kristen, serta masalah sopan santun. Coba bayangkan kalau Masjid Cordoba di Spanyol diubah menjadi gereja (karena dulunya memang gereja) oleh pemerintah di sana karena dia punya kuasa untuk melakukan itu. Bagaimana perasaan umat Islam. Begitulah sekarang yang dirasakan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia.

Dulu khalifah Umar bin Khatab menaklukkan Yerusalem. Pemimpin umat Katolik di sana sudah memberikan kunci gereja terbesar kepadanya untuk dijadikan masjid. Tapi Umar menolaknya. Beliau membiarkan gereja itu tetap sebagai gereja. Itulah akhlak Islam.

agiasofia-thumb-large-thumb-large-thumb-large

Ketika sahabat Nabi, Khalid bin Walid menaklukkan Damascus, beliau dan pasukannya membutuhkan tempat untuk shalat Jumat. Banyak gereja-gereja besar yang bisa dialihfungsikan menjadi masjid. Tapi beliau tidak mau melakukannya. Tidak terpikir untuk mengubah gereja menjadi masjid karena akan melukai hati orang-orang Kristen. Beliau mengajak pasukannya untuk membangun masjid sendiri. Begitulah akhlak Islam.

ckGJWLAsvj
Paus Fransiscus

Nah, Haga Shopia ini sudah lebih seribu tahun berdiri sebagai gereja, lalu orang Islam mengubahnya menjadi masjid. Attaturk pernah menjadikannya situs netral dengan menjadikannya museum yang berarti bisa diakses dan sekaligus dibanggakan oleh umat Islam maupun Kristen. Sekonyong-konyong, minggu lalu, Erdogan mengubahnya menjadi masjid. Dunia tersentak. Paus Fransiscus bersedih. Dan sebagai muslim, saya sungguh malu.[]

 

Tulisan ini juga dimuat di:

https://arrahim.id/gaus/tindakan-erdogan-untuk-hagia-sophia-cukup-memalukan/

-Ahmad Gaus-

Anak-Anak Panti Asuhan dan Cita-Cita Mereka

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit.. jikapun engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” ~ Ir. Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI

Kata-kata itu saya sampaikan kepada anak-anak Panti Asuhan Permate Batam, Kepulauan Riau, dalam suatu kunjungan di minggu petang lalu bersama para aktivis/ pekerja sosial Ilma Sovri Yanti Ilyas dan Farid Ari Fandi. Dengan anak-anak panti itu kami berbagi inspirasi seputar moto ‘man jadda wajada‘ (siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil). Rentang usia mereka dari pra sekolah hingga SMA.

IMG-20181202-WA0065

Saya bercerita tentang orang-orang besar yang hidupnya sangat sulit dan prihatin namun berkat kemauan kuat dan kerja keras akhirnya mereka berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak. Bung Karno, Bung Hatta, dll. Juga kisah seorang musisi terkenal Amerika yang keluar dari sekolah dan menjadi pedagang koran eceran, bekerja di toko sepatu, untuk menabung demi membeli gitar bekas. Tapi dari gitar bekas itulah Iahir lagu yang terkenal di seluruh dunia: I wanna lay you down on a bed of roses… (BJ).

Kuncinya adalah: man jadda wajada! Lalu anak-anak itu mengacungkan tangannya. Aku ingin jadi Bung Karno. Aku ingin jadi polisi. Aku ingin jadi pilot. Aku ingin jadi artis. Aku ingin sekolah ke Belanda. Aku ingin ke Amerika….

Lalu kami bersama-sama menyanyikan lagu “Di Timur Matahari” dan “Tukang Kayu”. Cukup satu kali saya memberi contoh, anak-anak itu langsung menghapal lirik lagunya: “Katakan padaku hai tukang kayu. Bagaimana caranya memotong kayu. Lihat, lihat, kawanku, beginilah caranya memotong kayu…..”

IMG-20181202-WA0049Anak-anak itu sangat manja, sangat menikmati saat kita mengelus kepalanya.. maka eluslah mereka walaupun dari jauh dengan doa dan dukungan nyata.

Rasulullah SAW bersabda: “Demi Yang Mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah). (Imam Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath, VIII/346. Hadist no. 8828).

Ditunggu uluran tangan Anda di:

YAYASAN PANTI ASUHAN PERMATE

NO REK BRI 033101000778533

No kontak ibu asuh panti, Ibu Siti: 085264400790

IMG_20181224_070547_091

Terima kasih, semoga Allah memberi kesehatan, keberkahan, umur panjang, dan rezeki yang berlimpah untuk anda yang mau berbagi dengan anak-anak yang bersemangat itu.

Wassalam,

Ahmad Gaus

Kenapa Anda perlu Berkunjung ke Bagansiapiapi?

KOTA CAHAYA

Di perahu itu api menyala
angin laut menampar muka
para pengungsi yang tersesat
di kesunyian samudera
doa-doa bergema di haluan
membujuk dewi penunjuk jalan.

Ketika perahu melaju ke utara
bulan muncul dari balik dermaga
nun di sana, ombak pasir berdesir
masa depan memanggil-manggil
kawanan ikan bernyanyi di bagan-bagan
api memercik dari rimbun pepohonan.

Sejarah bermula dari atas perahu
para pengungsi turun dan membakarnya
hingga tak tersisa
sebab mereka tak ingin kembali ke daratan China
api yang membubung ke angkasa
menjadi cahaya yang menerangi kota ini
sepanjang masa.

Bagan Siapiapi, 24/09/17

 

Note:

Dalam menulis puisi di atas saya berutang budi kepada Ika (Riska Syafitri), perempuan Melayu asli Bagan, bu dosen dan calon doktor, yang menceritakan kisah kota ini kepada saya. Ini orangnya:

IMG-20200619-WA0050

 

Bagansiapiapi: a Small Town, a Call to Visit

Pernahkah anda berkunjung ke Bagansiapiapi? Kalau belum, saya anjurkan segeralah pergi ke sana. Anda tidak akan menyesal. Ini kota kecil, memang.  Tapi justru di situ  keunikannya. Letaknya sangat strategis karena berdekatan dengan Selat Malaka  yang merupakan lalu lintas perdagangan internasional. Kalau Bandung dikenal dengan sebutan Paris van Java, Garut disebut Swiss van Java, maka Bagansiapiapi dijuluki sebagai Hong Kong van Andalas. Keren ‘kan? 

Bagansiapiapi adalah ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Dan merupakan kota terbersih ke-2 tingkat Provinsi Riau setelah kota Bengkalis. Nama Bagansiapiapi berhubungan dengan kisah kedatangan orang-orang Tionghoa ke kota ini. Syahdan, orang-orang Tionghoa pertama kali datang ke Bagansiapiapi menggunakan kapal tongkang. Mereka berasal dari daerah Songkhla di Thailand, yang sebenarnya juga merupakan perantau-perantau Tionghoa dari Tiongkok Selatan. Sampai sekarang, orang-orang Tionghoa ini menetap di Bagansiapiapi, bersama penduduk asli dari suku Melayu. Mereka kini hidup rukun. Setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir tak pernah terdengar ada gejolak.

Saya kira bagus kalau ada calon-calon sarjana yang membuat riset tentang akulturasi budaya di kota ini. Untuk tesis atau disertasi. Kalau Ambon bisa menjadi laboratorium toleransi agama, Bagan bisa menjadi laboratorium toleransi budaya.  Ambon, kita tahu, pernah dilanda kerusuhan agama (Islam dan Kristen) yang sangat keras pada 1999 – 2003). Tapi kemudian pulih dan kini menjadi percontohan toleransi agama dengan berbagai inisiatif dan inovasi perdamaian yang dibuat oleh warga.  Bagan pun pernah dilanda huru-hara etnik, seperti kerusuhan Melayu vs China (1998), dan Melayu vs Batak (2001). Pengalaman memberi banyak pelajaran. Sejarah memberi banyak ruang untuk begerak.  Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk masa lalu, tapi masa lalu bisa menjadi bahan untuk kita menciptakan masa depan yang lebih baik.

Ip Plaza Bagansiapiapi Rohil Rokan hilir raja baut
Plasa di Bagansiapiapi, keindahan di tengah kota

Setiap tahun, pada bulan Juni, selalu diadakan ritual Bakar Tongkang, untuk mengenang sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Bagansiapiapi. Pembakaran perahu Tongkang itu untuk menandai bahwa mereka tidak akan kembali ke kampung halamannya di Tiongkok. Ritual ini telah menjadi ikon dan andalan pariwisata Bagansiapiapi yang mampu menyedot puluhan ribu wisatawan dalam dan luar negeri setiap tahun.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Bagansiapiapi selalu meriah. Momen ini sekaligus juga merupakan tradisi pulang kampung bagi orang Tionghoa yang merantau ke luar daerah untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Perayaan Imlek di Bagansiapiapi berlangsung 15 hari sampai malam Cap Go Meh. Lampion beraneka bentuk dan ukuran menghiasi rumah-rumah penduduk, perkantoran, kelenteng dan vihara, bahkan di sepanjang jalan-jalan besar di pusat kota sehingga kota Bagansiapiapi seakan bermandikan cahaya lampion di malam hari.

702296_1200
Rumah Kapitan Tionghoa di Bagansiapiapi, peninggalan masa lalu

Bagansiapiapi terkenal sebagai penghasil ikan terpenting, sehingga dijuluki sebagai kota ikan. Menurut beberapa sumber, di antaranya surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa pada tahun 1928, Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia.

Setelah aktivitas perekonomian dari sektor perikanan semakin menurun, budidaya burung walet untuk diambil sarangnya telah menjadi alternatif usaha dan sangat jamak ditemukan di Bagansiapiapi, terutama di pusat kota, di mana banyak ruko-ruko dibangun 3 sampai 4 tingkat, dengan tingkat teratas dijadikan sebagai tempat budi daya burung walet, sedangkan tingkat 1-2 digunakan sebagai toko dan tempat tinggal.

96286077-54images
Rumah walet banyak dibangun di Bagansiapiapi

Waktu saya berkunjung ke sana pada September 2017 lalu, saya sempat kaget dengan cuacanya yang kadang tiba-tiba gelap, Saya pikir langit mendung dan akan turun hujan. ternyata langit ditutupi ribuan burung walet yang terbang bergerombol membentuk awan hitam. Suatu pemandangan yang menakjubkan.

Tipe-dan-jenis-suara-burung-walet-serta-manfaat-bagi-pengusaha-sarang-burung-walet

1536976227

Pada malam hari saya dan beberapa teman sempat ngopi di bundaran kota. Menikmati suasana malam kota kecil nun jauh di sana… anak-anak remaja hilir mudik berjalan kaki atau bermotor, kerlip  lampu di gedung-gedung tua, kafe-kafe sederhana yang berjejer rapi, warung-warung ikan bakar segar yang baru diangkat oleh nelayan.. 

Festival-bakar-tongkang
Festival Bakar Tongkang, Magnet Pariwisata Kota Bagansiapiapi

Saya tidak akan ceritakan semuanya di sini, supaya anda datang sendiri ke sana, hehe… Ya, buktikan sendiri, dan nikmati sendiri keindahan kota kecil ini. Jangan kuatir  dengan akomodasi, karena di Bagan tersedia sejumlah hotel yang cukup representatif. Bagaimana dengan transportasi? Nah ini. Anda harus siap menempuh perjalanan darat dengan mobil travel dari Pekanbaru ke Bagan dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Tarifnya Rp. 250 ribu. Mobil travel bisa dicarter di bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Alternatif lain bisa juga anda naik pesawat ke bandara Pinang Kampai,  Dumai, dan dari sini anda ambil mobil travel menuju Bagan. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam.

Terserah, enaknya yang mana. Yang penting bulatkan tekad dulu, liburan nanti anda  buat rencana perjalanan ke Bagan. Insya Allah, tidak akan menyesal, hehe.. 

IMG-20170923-WA0017-1

Oh ya betewe kunjungan saya ke Bagansiapiapi waktu itu untuk menjadi salah satu narasumber dalam seminar internasional tentang living values di kampus STAI Ar-Ridho. Saya datang terlambat karena ketinggalan pesawat dari Bandara Cengkareng. Jadi saya berangkat besok paginya. Alhasil pas saya datang sekitar Pk. 14.30 acara sudah hampir selesai hehe.. Tapi panitia yang baik tetap mempersilakan saya bicara walau cuma seorang diri. Sayang foto dokumen saya kurang bagus ya, maaf 🙂

Saya menginap di hotel Lion. Ini foto bersama para pegawai front office-nya. Maklum orang jauh dari Jakarta jadi sebelum pulang foto-foto dulu.

IMG-20170925-WA0000

Demikianlah, teman-teman, laporan perjalanan saya ke kota kecil Bagansiapiapi, Hongkong van Andalas. Kalau ada rezeki saya ingin ke sana lagi.  Pengen nongkrong lama-lama sambil ngopi di bundaran kota, dan lihat-lihat pelabuhan pantai. 

Saat menulis ini saya teringat pertanyaan teman saya saat berkomunikasi di medsos, “Bang, kapan ke Bagan lagi?” Dan saya tiba-tiba jadi sedih.

-o0o–

Beberapa data dalam tulisan ini bersumber dari: Wikipedia

 

 

 

Mata yang Indah

“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

(“Resah”, oleh Payung Teduh)

MATA YANG INDAH

Mata yang indah
adalah seribu kunang-kunang
yang berpindah dari lembah
ke taman pedestrian
dan membawaku kembali duduk
di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.

Walau langit gelap
mata itu tetap purnama
tapi aku tak ingin menatapnya
karena aku akan tersiksa
maka kubiarkan kaki berjalan
dalam kegelapan.

Mata yang indah adalah muara
pelabuhan bagi biduk-biduk
resah dan kebahagiaan
dalam mata yang indah
kehidupan selalu basah
karena di kelopaknya yang rawan
hanya ada musim penghujan.

03/09/17
Rumah Budaya Nusantara
PUSPO BUDOYO, Tangsel.

Baca juga: [Puisi] Z

Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi

Pada 24 Juni 2020 ini Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, berulang tahun yang ke-79. Berikut catatan saya untuk “penyair kapak” tersebut sebagai bahan diskusi di Sanggar Kaki Langit (Sangkala), Tangerang Selatan. (Ahmad Gaus)

Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi

 

Dalam hal eksperimentasi, puisi Indonesia dasawarsa 1970-an hampir-hampir identik dengan nama Sutardji Calzoum Bachri. Melalui puisi-puisi mantranya yang berideologi pembebasan kata dari makna, puisi Indonesia mendapatkan nafas baru setelah berpuluh tahun dibebani pesan-pesan moral atau perjuangan. Nama Sutardji kemudian tidak pernah dipisahkan dari perdebatan sastra kontemporer. Ia dianggap membawa corak baru dalam penulisan puisi yang didominasi oleh puisi lirik.[1]

Memang, dibandingkan puisi-puisi mainstream pada zamannya, puisi-puisi mantra ala Sutardji melampaui puisi lirik. Aku dalam puisi lirik menirukan kenyataan dan mengekspresikan perasaan individual. Dua hal itu nyaris lenyap dalam puisi-puisi mantra Sutardji. Jejaknya masih terlihat, tapi tidak dianggap penting. Sebab yang penting ialah kehadiran kata-kata itu sendiri, dan bukan representasinya atas kenyataan, apalagi pengertiannya.

tardji

Dalam puisi-puisi mantra Sutardji, kata yang dihadirkan adalah kata sebagai dirinya sendiri, bukan kata yang ke dalamnya sudah disusupkan makna tertentu oleh rezim bahasa. Dalam kredo puisinya, Sutardji mengatakan ingin membebaskan kata dari makna dan mengembalikan kata pada awal mulanya, yaitu mantera.

Selama rentang waktu satu dasawarsa (1970-1980), Sutardji bergumul dengan eksperimen puisi-puisi mantranya yang kemudian diterbitkan dalam antologi O yang terbit tahun 1973, kemudian Amuk yang terbit tahun 1977, dan menyusul Kapak yang terbit tahun 1979. Pada tahun 1981, ketiga antologi tersebut dikumpulkan menjadi satu dan diterbitkan kembali dengan judul O Amuk Kapak.[2] Buku setebal 133 halaman ini memuat 67 puisi.

Jika ada pernyataan “puisi ditulis tidak untuk dimengerti”, maka pernyataan itu absah sepenuhnya pada sosok penyair Sutardji. Kredo pembebasan kata dari makna menjadi ikon yang mengukuhkan penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, ini sebagai Sang Pembebas.[3] Karena kata sudah dibebaskan dari makna, maka kata-kata puisi benar-benar menjadi rahasia sebagaimana lazimnya ungkapan-ungkapan mantra. Makna yang terkandung di dalamnya menjadi berbau magisme yang biasa dihadirkan dalam sebuah komunikasi spiritual. Karena itu, penyair Abdul Hadi WM pernah menyebut puisi-puisi Sutardji sebagai puisi-puisi sufistik.[4]

Sutarji-O-Amuk-Kapak-1

Menangkap pesan dalam puisi-puisi sufistik—atau dalam istilah Sutardji, puisi mantra—tidak semudah membaca pesan dalam puisi lirik yang merepresentasikan pengalaman atau perasaan sang penyair. Dalam puisi Sutardji, makna itu ada, tapi seperti tiada, bagaikan semut hitam di atas batu hitam yang merayap pada suatu malam yang sangat gelap. Tetapi jelas bahwa semut itu ada. Hanya mata yang tajam yang sanggup melihatnya. Simaklah beberapa puisi Sutardji berikut:

Mantera

 

lima percik mawar

tujuh sayap merpati

sesayat langit perih

dicabik puncak gunung

sebelas duri sepi

dalam dupa rupa

tiga menyan luka

mengasapi duka

 

puah!

kau jadi Kau

Kasihku

 

O
 
dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O…

 

AMUK

…. aku bukan penyair sekedar
aku depan
depan yang memburu
membebaskan kata memanggilMu

pot pot pot
pot pot
kalau pot tak mau pot
biar pot semau pot
mencari pot
pot
hei Kau dengar manteraku
Kau dengar kucing memanggilMu
izukalizu
pot
hei Kau dengar manteraku
Kau dengar kucing memanggilMu
izukalizu mapakazaba itasatali
tutulita papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu
tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco zukuzangga
zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga
zegezegeze zukuzangga zegezegeze aahh…!
nama kalian bebas carilah tuhan semaumu

 

Doa

O Bapak Kapak
beri aku leherleher panjang
biar kutekak
biar ngalir darah resah
ke sanggup laut

Mampus!

 

Apa yang dinyatakan oleh puisi-puisi di atas selain pengekpresian pengalaman estetika penyairnya? Terlalu gegabah untuk menyimpulkan bahwa puisi-puisi di atas tidak bermakna. Makna tidak harus timbul dari rangkaian kata yang dapat dipahami. Sebab makna adalah senyawa bebas yang dapat direkatkan pada pengalaman individual. Dan individu dalam puisi-puisi Sutardji bukan aku-lirik dalam pengertian konvensional, melainkan subjek yang menyatakan diri dalam kata-kata yang sudah merdeka dari penjajahan makna. Setelah kata-kata dibebaskan dari makna, segenap makna yang dibangunnya justru menjadi mungkin.

tardji2

Seperti Chairil Anwar yang sangat berani menyimpang dari tradisi penulisan puisi pada zamannya, Sutardji juga mengambil jalan yang berbeda dari jalan umum. Tapi, berbeda dengan Chairil yang menegaskan konsep puisinya sebagai “sebuah dunia yang menjadi”, Sutardji lebih dari itu. Ia menyajikan konsep tentang dunia yang tak dikenal, persisnya, dunia metafisis yang dilupakan akibat modernitas yang membuat pemahaman manusia atas kenyataan menjadi terpecah. Kesatuan transendental manusia dan Tuhan dibatasi oleh teknologi, falsafah, dan ideologi, yang sesungguhnya asing dalam pengalaman primordialnya. Dunia kenyataan dalam pengalaman manusia modern bagaikan belantara topeng dan citra. Kata-kata biasa tidak sanggup lagi memberi petunjuk ke mana arah untuk menemukan jatidiri manusia yang hilang di belantara citra itu, maka dibutuhkan mantra—kata-kata sakti untuk menguak dunia gaib yang bebas dari pencitraan.

Mantra dalam puisi-puisi Sutardji menjadi metafora yang menggambarkan keresahan dan kepedihan jiwa manusia dalam kesepian dan keterasingan akibat modernitas. Simak puisi berikut:

Sepisausepi

 

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi

 

Puisi di atas sebenarnya berbicara tentang dua hal yang sangat akrab dalam kehidupan sehar-hari, yakni sepi dan pisau. Dengan meleburkan keduanya menjadi “sepisau” lalu “pisausepi” bukan saja memperlihatkan kelenturan sekaligus kejeniusan bahasa puisi ini, namun juga menghadirkan makna yang sama sekali tak terduga—makna baru yang dimungkinkan sebagai hasil pembebasan kata dari penjajahan makna. Sebelum membahas keunikan tipografi puisi dalam O Amuk Kapak, yang membedakannya dengan puisi-puisi mainstream, baik kita simak lagi puisi di bawah.

 

Batu

 

batu mawar

batu langit

batu duka

batu rindu

batu jarum

batu bisu

kaukah itu

            teka

                       teki

yang

tak menepati janji?

 

Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan

hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan

seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?

Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa

gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk

diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai se-

dang lambai tak sampai. Kau tahu?

 

batu risau

batu pukau

batu Kau-ku

batu sepi

batu ngilu

batu bisu

kaukah itu

                       teka

            teki

            yang

tak menepati

            janji?

 

 

Ah

 rasa yang dalam!

datang Kau padaku!

      aku telah mengecup luka

      aku telah membelai aduhai!

      aku telah tiarap harap

      aku telah mencium aum!

      aku telah dipukau au!

                      aku telah meraba

                                                 celah

                                                         lobang

                                                                    pintu

                       aku telah tinggalkan puri purapuraMu

                                    rasa yang dalam

rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala nyata sebab dari segala abad sungsang dari segala sampai duri dari segala rindu luka dari segala laku igau dari segala risau kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh dari segala guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari sega- la Anu puteri pesonaku!

datang Kau padaku!

 

apa yang sebab? jawab. apa yang senyap? saat. apa

yang renyai? sangsai! apa yang lengking? aduhai

apa yang ragu? guru. apa yang bimbang? sayang.

apa yang mau? aku! dari segala duka jadilah aku

dari segala tiang jadilah aku dari segala nyeri

jadilah aku dari segala tanya jadilah aku dari se-

gala jawab aku tak tahu

 

siapa sungai yang paling derai siapa langit yang paling rumit

siapa laut yang paling larut siapa tanah yang paling pijak si-

apa burung yang paling sayap siapa ayah yang paling tunggal

siapa tahu yang paling tidak siapa Kau yang paling aku kalau

tak aku yang paling rindu?

 

bulan di atas kolam kasikan ikan! bulan di jendela

kasikan remaja! daging di atas paha berikan bosan!

terang di atas siang berikan rabu senin sabtu jumat

kamis selasa minggu! Kau sendirian berikan aku!

 

Ah

rasa yang dalam

aku telah tinggalkan puri purapuraMu

 

yang mana sungai selain derai yang mana gantung selain sambung

yang mana nama selain mana yang mana gairah selain resah yang

mana tahu selain waktu yang mana tanah selain tunggu

yang mana tiang

                           selain

                                     Hyang

                                                mana

                                                         Kau

                                                                selain

                                                                          aku?

                                                              nah

rasa yang dalam

tinggalkan puri puraMu!

Kasih! jangan menampik

masuk Kau padaku!

 

Lagi-lagi pertanyaannya, apa yang hendak disampaikan dalam 2 puisi di atas? Kalau memang pengertian, tentunya bukan pengertian yang biasa.  Sebab tidak ada yang  dapat diindera dengan ungkapan “batu mawar”  atau “mengecup aduhai” atau “batu Kau-ku” atau “aku telah tinggalkan puri purapuraMU”. Namun karena kata telah dibebaskan dari makna, kemudian kembali ke fungsi awalnya sebagai mantra, maka keseluruhan bahasa yang digunakan hanya dapat dipahami sebagai kendaraan untuk menghadirkan sugesti kepada pembaca. Terang bahwa Kau dan Mu merujuk kepada Tuhan. Dan untuk mencapai Tuhan yang sudah terjajah oleh pemahaman diskursif pengetahuan dan falsafah tidaklah mudah. Si Aku lirik yang semula terjerembab dalam kebingungan dan hanya berteriak O… sekarang ia meng-Amuk, membawa Kapak untuk membabat semua rintangan yang menghalangi jalan menuju ke aras-Nya.

20151207_10142720140929_123630_5428efde1ea04

Keberhasilan puisi-puisi Sutardji sebenarnya adalah kejernihannya dalam menggunakan bahasa mantra untuk menguak dimensi alam gaib.  Mantra, dan memang hanya bahasa mantra,  yang mampu berkomunikasi dengan dunia mistik. Gejala seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat. Saat kaum muslim, misalnya, memuja dan berkomunikasi dengan Allah, mereka membaca atau melafalkan ayat-ayat suci yang tak mereka pahami. Artinya, ayat-ayat suci berfungsi sebagai mantra, yang di dalamnya dipercaya menyimpan kekuatan magis.

Bahkan kalau kita mau sedikit menengok pada tradisi ilmu kanuragan dalam masyarakat kita, maka kita akan bertemu dengan apa yang disebut wafaq atau jimat. Yakni, tulisan-tulisan ayat suci pada sehelai kain yang disusun dalam pola tertentu sehingga menghasilkan kesaktian apabila dipakai, seperti bisa menghilang, kebal dari pukulan atau tembakan, dan sebagainya. Puisi-puisi Sutardji yang disusun dalam tipografi tertentu yang unik menyerupai tulisan pada jimat. Efek yang hendak dimunculkannya sudah pasti ialah sugesti yang bersifat magis, senafas dengan kata-kata mantra yang digunakannya. Dan sebagaimana dalam jimat yang tersusun dari kata-kata yang tidak merujuk pada makna konvensional. dalam puisi-puisi Sutardji pun kata-kata menyimpang dari fungsinya sebagai pengantar pengertian. Sutardji menandaskan hal ini dalam manifesto kepenyairannya sbb:

Kredo Puisi

 

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

 

Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

 

Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

 

Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor(obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bachri

Bandung, 30 Maret 1973.

 

 

Demikianlah, puisi mantra telah mengantarkan Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah satu penyair terpenting di tanah air — ia bahkan dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia. Perannya tidak bisa direduksi menjadi sekadar pionir pembebasan kata dari makna, yang untuk itu sering dijuluki sang pembebas, el libertador, atau penggagas puisi mantra yang membedakan dirinya dengan penyair-penyair lain[5] Lebih dari itu, ia menjalankan peran profetik untuk suatu perubahan yang mendasar dalam kesusastraan. Dalam suatu kesempatan, penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941, ini bahkan pernah menyatakan bahwa peran penyair dalam mencipta puisi secara ekstrem bisa disamakan dengan peran Tuhan dengan ciptaannya, yakni sama-sama tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.[6]

sutardjiistana
2008. Presiden SBY memberikan  penghargaan Bintang Budaya Parama kepada Sutardji sebagai penghargaan atas kiprahnya dalam bidang kebudayaan.

Sutardji tampaknya menyadari bahwa sastra sebagai sebentuk seni dalam budaya masyarakat tengah berada dalam gerusan modernitas yang memenjarakan kesadaran eksistensial manusia. Karena itu puisi-puisinya ditulis untuk memerdekakan manusia. Tak bisa lain, puisi mantra ialah puisi-puisi religius, yakni usaha transedental sang penyair untuk menemukan jalan lain menuju Tuhan, sekaligus jalan baru bagi estetika puisi untuk keluar dari kesunyian yang mencekam ala Nyanyi Sunyi (Amir Hamzah) atau kesunyian yang buas ala Binatang Jalang (Chairil Anwar).

Sebelum menutup uraian ini, mari kita nikmati lagi beberapa puisi dari Sutardji di bawah ini:

 

 

Walau

 

walau penyair besar

takkan sampai sebatas allah

 

dulu pernah kuminta tuhan

dalam diri

sekarang tak

 

kalau mati

mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat

jiwa membumbung dalam baris sajak

 

tujuh puncak membilang bilang

nyeri hari mengucap ucap

di butir pasir kutulis rindu rindu

 

walau huruf habislah sudah

alifbataku belum sebatas allah

 

1979

 

 

Tragedi Winka dan Sihka

 

kawin

           kawin

                      kawin

                                 kawin

                                            kawin

                                                       ka

                                                 win

                                              ka

                                      win

                                  ka

                           win

                      ka

              win

         ka

 winka

                       winka

                                 winka

                                           sihka

                                                    sihka

                                                             sihka

                                                                      sih

                                                                  ka

                                                             sih

                                                        ka

                                                   sih

                                               ka

                                          sih

                                      ka

                                 sih

                             ka

                                 sih

                                      sih

                                           sih

                                                sih

                                                     sih

                                                          sih

                                                               ka

                                                                   Ku

 

 

 

Hilang (Ketemu)

 

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

 

Kau kehilangan aku

 

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

 

Kamu ketemu aku

 

 

 

 Tapi

 

aku bawakan bunga padamu

tapi kau bilang masih

aku bawakan resahku padamu

tapi kau bilang hanya

aku bawakan darahku padamu

tapi kau bilang cuma

aku bawakan mimpiku padamu

tapi kau bilang meski

aku bawakan dukaku padamu

tapi kau bilang tapi

aku bawakan mayatku padamu

tapi kau bilang hampir

aku bawakan arwahku padamu

tapi kau bilang kalau

tanpa apa aku datang padamu

   wah!

 

1976

 

 

 

Para Peminum

 

di lereng-lereng

para peminum

mendaki gunung mabuk

kadang mereka terpeleset

jatuh

dan mendaki lagi

memetik bulan

di puncak

 

mereka oleng

tapi mereka bilang

– kami takkan karam

dalam laut bulan –

mereka nyanyi nyanyi

jatuh

dan mendaki lagi

 

di puncak gunung mabuk

mereka berhasil memetik bulan

mereka menyimpan bulan

dan bulan menyimpan mereka

 

di puncak

semuanya diam dan tersimpan

 

 

Sajak-sajak Sutardji telah diterjemahkan oleh Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (India),  Writing from the World  (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Selain menulis puisi, Sutardji juga menulis cerpen dan esai sastra. Kumpulan cerpennya diterbitkan oleh penerbit Indonesia Tera pada tahun 2001 dengan judul Hujan Menulis Ayam. Sementara itu, kumpulan esainya diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 2007 dengan judul Isyarat.

Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand. Beberapa penghargaan lain yang pernah diterimanya antara lain:  Penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau (1979); Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993); Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta. (1990); Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan anugrah gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).

Karya-karya Sutardji yang sudah terbit antara lain:

– O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun 1971).
– Kucing, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1973)
– Amuk (tahun 1977)
– Kapak
– Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1981)
– Aku Datang Padamu.
– Perjalanan Kubur David Copperfield.
– Realites’90 Tanah Air Mata.

Penghargaan:

– Anugerah Seni, dari Pemerintah Republik Indonesia (tahun 1990)
– Anugerah Seni atas karyanya berjudul Amuk, dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) (tahun 1977)
– Anugerah Sastra Chairil Anwar (tahun 1998),
– Anugerah Sastra Asia Tenggara (South East Asia Writer Awards), dari Ratu Sirikit, Thailand (tahun 1979).
– Seniman Perdana, dari Dewan Kesenian Riau (tahun 2001).
– Sebagai Pelopor Penyair Angkatan ’70.’

 

Catatan:

[1] Untuk melihat berbagai pandangan mengenai Sutardji Calzoum Bachri, lihat Maman S. Mahayana, ed., Raja Mentera, Presiden Penyair (Depok: Yayasan Panggung Melayu, 2007).

 

[2] Sutardji Calzoum Bachri,  O Amuk Kapak (Jakarta: Sinar Harapan, 1981)

[3] Lihat, “Sutardji Calzoum Bachri, Sang Pembebas”, dalam  Jamal D. Rahman, et al., Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjung Pinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan (Jakarta: Komodo Books, 2010), hal. 157

 

[4] Lihat dalam Ahmadun Yosi Herfanda, Inspiring stories: 30 kisah para tokoh beken yang menggugah (Solo: Tiga Serangkai, 2008) hal. 282

 

[5] Istilah puisi mantra belakangan tidak selalu berkonotasi sakral. Sebuah tudingan bahwa Sutardji bukan penyair melainkan tukang mantra tentu bermaksud menurunkan kesakralan posisi itu. Mengenai ini lihat, Nurel Javissarqi, Menggugat Tanggung Jawab  Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (Pustaka Pujangga dan Sastranesia, 2011)

[6] Lihat makalah Orasi Budaya Sutardji Calzoum Bachri, “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair”, dalam acara Pekan Presiden Penyair. Makalah ini dimuat di harian Republika, 9 September 2007.

 

Baca Juga: Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

Para Distopian Negara Syariah

 

Screenshot_010719_085402_AM

Para Distopian Negara Syariah

 

Oleh Ahmad Gaus AF

Artikel ini dibuat sebagai tanggapan terhadap tulisan Denny JA yang berjudul NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi? Tulisan tersebut juga telah ditanggapi (pro-kontra) oleh tokoh-tokoh agama, cendekiawan, akademisi, aktivis, dan para pengamat. Kalau boleh diringkaskan, intisari dari tulisan Denny JA ialah: menolak NKRI Bersyariah seperti yang selalu digaungkan oleh Habib Rizieq Shihab dkk dalam aksi 212 (2016 dan 2017), dan terus disuarakan melalui calon presiden hasil ijtima’ ulama 212, yakni Prabowo Subianto.

 

Mengapa Denny JA menolak NKRI Bersyariah? Alasannya, NKRI ber-Pancasila sebagai fondasi bangsa sudah cukup dan sudah final. Kita harus fokus ke sana, agar tidak banyak waktu terbuang untuk mempersoalkan hal-hal yang sudah selesai. Selain itu,  berdasarkan Islamicity Index maupun World Happiness Index, ternyata negara-negara Islam tidak ada yang masuk top 10 negara yang paling islami maupun yang paling tinggi skor Happiness Index-nya. Semua diisi oleh negara-negara non-Islam (Barat). Dengan kata lain, negara-negara Islam yang mendengung-dengungkan syariah ternyata gagal menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata mereka. Negara-negara Muslim tidak selalu identik dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

 

Melihat kenyataan tersebut, kita teringat pada kata-kata seorang pembaharu Islam Mesir, Syeikh Muhammad Abduh yang sangat terkenal: “Saya melihat orang Muslim di Mesir, tapi saya tak melihat Islam di sini. Adapun di Eropa saya tak melihat orang Muslim, namun saya melihat Islam di sana.” Apa nilai-nilai Islami yang dimaksud oleh Islamicity Index itu? Yakni: Economic Islamicity, Legal and Governance, Human and Political Rights, dan International Relation Islamicity Index. Denny JA meringkasnya menjadi “Ruang Publik yang Manusiawi”, yang menurutnya semua negara modern saat ini sedang menuju ke arah sana.

imageproxy

Dapat kita tambahkan bahwa negara-negara Islam bukan saja tidak mampu menerapkan nilai-nilai yang mendukung terciptanya ruang publik yang manusiawi, bahkan juga mengimplementasikan nilai-nilai yang bersebrangan dengan itu. Contoh yang paling kongkrit ialah terorisme. Tentu kita tidak boleh menuduh negara-negara Islam mendukung terorisme. Tapi juga tidak perlu membantah bahwa terorisme yang marak dalam 2 dasawarsa terakhir ini lahir dari rahim Islam — setidaknya dari komunitas Muslim. Aksi terorisme terbesar dalam sejarah yakni penyerangan World Trade Center di Amerika Serikat pada 11 September 2001 mencengangkan banyak orang, dan sekaligus menggugat klaim Islam sebagai agama damai. Yang muncul kemudian citra Islam yang agresif dan anti-kemanusiaan, serta kaum Muslim yang kasar, bengis, dan berdarah dingin.

 

Seorang sarjana Barat tercengang ketika bertemu dengan seorang Muslim Libya yang tinggal di Amerika yang mengatakan “11 September merupakan hari yang paling indah dalam hidup saya.” (Robert Spencer, 2002). Dia terfana kok ada orang Islam bergembira ketika orang lain tertimpa musibah. Kok bisa orang-orang Islam berpesta di jalan-jalan raya di Palestina, Baghdad dan Indonesia ketika ribuan orang meregang nyawa. Dia bingung, hati orang Islam itu terbuat dari apa? Ini yang membuat dia berusaha keras mencari akar-akar kekerasan dalam Islam. Kemudian dia membuka-buka al-Quran dan menemukan ayat yang bunyinya begini:

 

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka hantamlah batang leher mereka. Dan apabila mereka menyerah tawanlah mereka. Sesudah itu bolehlah dibebaskan atau mintakan tebusan sampai perang usai. (QS Muhammad/47:4)

 

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka karena mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kecam daripada pembunuhan (QS. 2: 190-191)

 

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana pun saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 9: 5)

 

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. 48: 29).

 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang antar sesama mereka. (QS. 48: 29).

9781893554771

 

Menurut Spencer, tidak ada ayat dalam al-Quran yang menjelaskan keharusan menyebarkan kedamaian kepada orang-orang kafir. Bahkan, ujarnya, penegasan surat 48: 29 di atas, umat Islam dibolehkan untuk tidak berlaku kasih dan sayang kepada non-Muslim. Atas dasar itu Spencer berkesimpulan bahwa kekerasan itu memang memiliki akar yang menghunjam kuat di dalam jantung Islam. Maka tindakan Osama bin Laden menyerang Amerika dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa itu tidak menyimpang dari Islam. Bahkan mendapatkan dukungan doktriner dan teologis. Dengan kata lain, Osama bin Laden tidak sedang membajak Islam sebagaimana dikatakan oleh banyak sarjana. Yang dilakukan oleh Bin Laden adalah mengamalkan Islam dengan sebenar-benarnya. Maka pertanyaan: Apakah Islam agama damai? Dijawab dengan tegas oleh Spencer: tidak!

 

Tentu saja kita tidak sedang membenarkan klaim-klaim Spencer yang tampaknya tidak mampu melihat konteks turunnya ayat-ayat tersebut (asbabun nuzul). Namun pandangan Spencer tidak boleh dianggap sepele karena telah menjadi bagian dari kesadaran mayoritas non-Muslim terhadap Islam dan kaum Muslim. Sebagai bahan introspeksi, pandangan seperti Spencer ini penting diperhatikan, terlebih saat sekarang sebagian kaum Muslim ingin menerapkan syariat Islam di tingkat negara dalam jargon NKRI Bersyariah.

 

NKRI Bersyariah?

 

Konsep NKRI Bersyariah memang belum dirumuskan secara gamblang oleh para pendukungnya. Namun praktik permulaan dari motiv semacam itu dapat dilihat dari Peraturan-Peraturan Daerah (Perda) Syariah yang banyak bermunculan dalam 20 tahun terakhir. Perda-perda Syariah ini pada umumnya difasilitasi oleh fraksi partai-partai Islam di DPRD di daerah bersangkutan dengan dukungan atau desakan dari kelompok-kelompok garis keras: Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan berbagai organisasi kelaskaran yang muncul dengan label Islam seperti Laskar Jihad, Laskar Jundullah, Laskar Fi Sabilillah, dan lain-lain. Tak jarang fraksi-fraksi partai berhaluan kebangsaan pun dengan terpaksa ikut membidani lahirnya Perda-perda Syariah tersebut, baik karena alasan mencari aman, takut dituduh anti-Islam, atau karena alasan-alasan pragmatis kekuasaan (oportunisme).

maxresdefault

Kelompok-kelompok garis keras punya taktik jitu untuk menundukkan para penentang Perda Syariah yaitu menyebut mereka sebagai anti-Islam. Dan tuduhan ini sangat efektif karena menciptakan rasa takut di kalangan sebagian orang Islam. Mantan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Bakar Ba’asyir bahkan pernah mengancam, “Jika pemberlakuan syariah Islam dihalang-halangi maka umat Islam wajib berjihad,” tegasnya seperti dikutip Andi Muawiyah Ramli dalam Demi Ayat Tuhan: Upaya KPPSI Menegakkan Syariah Islam (2006; 387).

 

Ba’asyir menambahkan bahwa berjihad untuk melawan kaum kufar yang menghalangi dan menentang berlakunya syariah Islam adalah wajib dan amal yang paling mulia. Ia menuding para penentang Perda Syariah sebagai kafir. Tentu saja anggota DPRD atau pemerintah daerah yang “lemah imannya” akan gentar mendengar ancaman semacam itu.

 

Kalangan Islam moderat yang memiliki visi kebangsaan menentang Perda-perda Syariah Islam. KH Abdurrahman Wahid pernah menyebut Perda-perda Syariah yang banyak bermunculan belakangan sebagai kudeta terhadap Konstitusi. Sementara sesepuh Muhammadiyah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maa’rif menanggapi maraknya Perda Syariah yang cenderung diskriminatif, menegaskan bahwa jika syariah Islam benar-benar diterapkan sebagai dasar hukum negara maka perpecahan tidak hanya terjadi antara kelompok Muslim dan non-Muslim tapi juga antara sesama umat Islam sendiri. (Syariat Islam Yes, Syariat Islam No, Paramadina, 2001). Syafii tidak berlebihan. Salah satu reaksi atas lahirnya Perda-perda Syariah adalah gagasan umat Kristiani menjadikan Manokwari, Papua Barat, sebagai “Kota Injil”, beberapa waktu lalu. Kemudian bergulir juga wacana untuk menerapkan “Perda Hindu” di Bali, “Perda Kristen” di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya Nasrani.

Abu-Bakar-Baasyir-20140805-johan

Jika logika penerapan syariah ini diteruskan maka yang disebut NKRI Bersyariah itu tiada lain ialah NKRI tanpa Papua, NTT, Bali, sebagian Maluku, sebagian Sulut, dan sebagian Sumut. Dengan kata lain,  penerapan syariah secara formal bukan hanya akan membelokkan Indonesia menjadi negara Islam namun juga menimbulkan perpecahan bangsa.

 

Mengapa sebagian kaum Muslim begitu terobsesi dengan penerapan Syariah secara formal? Benarkah Perda-perda Syariah mendorong kehidupan yang lebih baik seperti yang diyakini oleh faksi-faksi pendukung Prabowo seperti PKS, HTI, FPI? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Dalam penelitian yang diberi judul Syariah Islam dan HAM: Dampak Perda Syariah terhadap Kebebasan Sipil, Hak-hak Perempuan, dan Non-Muslim (Kamil dan Bamualim, 2007) tersebut terungkap bahwa tidak ada korelasi antara kesejahteraan masyarakat dengan penerapan Perda Syariah; kehidupan masyarakat tidak berubah antara sebelum dan sesudah diberlakukannya Perda-perda Syariah. Bahkan diungkapkan bahwa Perda-perda Syariah justru memicu terjadinya berbagai pelanggaran hak-hak sipil kalangan non-Muslim dan kaum perempuan.

islam ham

Kalangan non-Muslim terkena kewajiban untuk melaksanakan beberapa aspek dari Perda Syariah. Di Kabupaten Cianjur, misalnya, dilaporkan seorang perempuan non-Muslim mengaku dipaksa mengenakan jilbab di kantor setiap hari Jumat. Pemaksaan serupa juga menimpa seorang guru di sekolah negeri dan seorang siswi sebuah SMU. Bagi siswi yang menolak, orang tuanya diharuskan mengajukan permohonan dan pernyataan bahwa siswi tersebut adalah non-Muslim. Jilbabisasi juga diberlakukan terhadap keturunan Tionghoa yang bekerja di kantor BCA Cianjur. Kalangan non-Muslim tidak dilibatkan sama sekali dalam proses pengambilan keputusan penerapan syariah Islam di Cianjur, tetapi pada beberapa kasus ternyata konsep syariah Islam diberlakukan juga bagi kalangan non-Muslim.

 

Menurut laporan the Wahid Institute tahun 2008, kaum perempuan non-Muslim di Padang (Sumatera Barat) dan Bulu Kumba (Sulawesi Selatan) juga terkena kewajiban memakai jilbab setelah keluarnya Perda Syariah. Seorang wali murid Katolik yang 2 anak perempuannya dipaksa memakai jilbab di sekolah negeri di Padang mencoba membujuk anaknya bahwa jilbab hanya sekadar etika berpakaian, jadi sebaiknya ikuti saja peraturan itu. Namun, anak-anaknya merasakan bahwa kewajiban berjilbab itu lebih dari sekadar etika berpakaian. Mereka merasakan bahwa saat ini berada dalam suatu lingkungan yang memusuhi agama mereka. Beberapa siswi lain menyatakan bahwa saat ini mereka dipandang oleh rekan-rekannya sebagai telah pindah agama ke Islam karena memakai jilbab. Menanggapi kasus-kasus ini, seorang tokoh Katolik di Padang menyatakan bahwa Perda Syariah telah menimbukan dampak psikologis yang cukup serius terhadap kalangan siswi non-Muslim.

 

Hasil riset CSRC juga menyebutkan bahwa Perda-perda Syariah pada umumnya bersifat diskriminatif terhadap kaum perempuan. Perda jilbab, anti-prostitusi, dan larangan keluar malam bagi perempuan tanpa muhrim yang diberlakukan secara serampangan telah menimbulkan ketakutan bagi kaum perempuan untuk beraktivitas di luar rumah di malam hari. Di Aceh, kaum perempuan yang tidak berjilbab dipermalukan di depan umum dengan dipotong rambutnya. Peraturan mengenai jilbab dalam Perda telah mendiskreditkan perempuan yang tidak memakai jilbab, padahal hukum berjilbab itu sendiri masuk dalam ranah khilafiyah, ada ulama yang mewajibkan dan ada yang tidak.

 

Komoditas Politik

 

Selain alasan-alasan yang telah dikemukakan di atas, pragmatisme kekuasaan juga menjadi pintu masuk yang lain bagi formalisasi syariah Islam di daerah-daerah. Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada merupakan contoh penting dari kasus ini. Seorang calon Kepala Daerah tidak jarang menawarkan syariah sebagai “jualan” mereka untuk menarik perhatian pemilih. Cara ini juga ditempuh elit politik untuk meningkatkan legitimasi keagamaan mereka di mata publik.

 

Dalam kasus ini, syariah Islam tidak lebih dari sekadar komoditas politik. Kolaborasi antara elit politik oportunis dengan kelompok-kelompok garis keras telah menjadi gejala politik baru yang bertanggung jawab atas keluarnya banyak Perda Syariah Islam. Kepentingan politik di balik penerapan Perda-perda Syariah telah membutakan kalangan elit politik yang haus dukungan massa tentang keragaman tafsir Islam di masyarakat.

md-nkri-5d502e8b097f362f3d5bbe92

Semua penafsiran dibungkam, ditundukkan ke dalam satu pemahaman syariah versi kelompok garis keras. Itu sebabnya muatan Perda-perda Syariah yang bermunculan di berbagai daerah tidak jauh berbeda dengan aturan-aturan hukum yang diterapkan oleh rezim garis keras seperti Taliban di Afghanistan. Sayangnya banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut, atau telah terprovokasi oleh kelompok-kelompok garis keras yang selalu siap dengan senjata pamungkasnya: “Ikuti kami atau anda memang anti Islam, kafir, dan harus diperangi!”

 

Para Distopian

 

Dari hasil-hasil riset di atas tergambar bahwa para pengusung formalisme syariah bukan saja tidak pernah berpikir untuk menciptakan ruang publik yang manusiawi, bahkan juga terperosok pada pandangan dan tindakan anti-kemanusiaan. Tindakan ini serupa belaka dengan kaum distopian, yakni para penyelenggara rezim-rezim fasis-totaliter yang ingin mengontrol seluruh kehidupan individu warganya dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

 

Dalam novel terkenal “1984” yang terbit tahun 1949, George Orwell, penulisnya, menggambarkan rezim yang benar-benar menindas, di mana manusia tidak memiliki individualitas dan kebebasan. Rezim yang sungguh tidak manusiawi, dimana orang harus mematuhi serangkaian aturan yang ketat dan terus-menerus dipantau oleh Polisi Pikiran. Bahkan berpikir di luar aturan itu bisa dihukum. Sebelum Orwell, pernah terbit juga novel karya Yevgeny Zamyatin yang berjudul We (1920) yang dilarang oleh eks Uni Soviet. Gambaran dalam buku ini pun sama: segala sesuatu dikendalikan oleh kaum distopian, rezim penindas, termasuk ketika kita makan dan berhubungan seks. Tidak ada yang diizinkan berpikir sendiri.

 

Kita tidak bisa membayangkan jika syariah Islam diterapkan secara formal dalam negara dan dikendalikan oleh rezim tafsir tunggal versi salafi-wahabi atau taliban. Keragaman pandangan akan dibungkam. Dan para penguasa yang berbicara atas nama Tuhan sangat potensial menjadi kaum distopian yang merasa berhak untuk mengejar-ngejar orang lain yang berbeda.

 

Sementara itu para pendiri bangsa yang arif dan bijaksana dengan gagasan Pancasila menginginkan nilai-nilai Islam meresap ke dalam kehidupan nyata tanpa perlu diformalkan di level pemerintahan dan negara. Dengan begitu Islam menjadi agama yang berwajah humanis, sejalan dengan misinya sendiri sebagai agama rahmatan lil alamin (kasih-sayang untuk semua). []

 

NOTE:

Tulisan ini dimuat dalam buku “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi: Tanggapan 21 Pakar terhadap Denny JA”, Editor: Dr. Satrio Arismunandar, Jakarta: Cerah Budaya Indonesia, 2019.  Versi PDF nya lihat di sini:

Click to access denny-ja_nkri-bersyariah-atau-ruang-publik-yang-manusiawi-polemik.pdf

BIODATA:

Ahmad Gaus AF: Penulis, peneliti, dosen, dan aktivis. Lebih dari 20 buku telah lahir dari tangannya. Selain menulis buku ia juga menulis artikel dan kolom di berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Suara Karya, Majalah Gatra, Matra, Gamma, Panji, Jurnal Kultur, Jurnal Afkar, dan lain-lain. Sebagian besar bukunya bertema agama, politik, sastra, dan kebudayaan. Ia juga banyak menulis biografi tokoh-tokoh nasional seperti: Nurcholish Madjid (Cendekiawan), Djohan Effendi (tokoh pluralisme dan mantan Mensesneg), Utomo Dananjaya (Pakar Pendidikan), dll. Sejak 2007 sampai sekarang mengajar mata kuliah Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan di Swiss German Univesity (SGU), BSD City, Tangerang.

Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

Quote

“… selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.”

Ahmad Gaus yang bertindak sebagai pembicara utama berpendapat bahwa tidak ada perkembangan yang berarti dalam bahasa Indonesia sejak ia dibakukan, dipolakan dalam rumus bahasa yang baik dan benar. Yang terasa, ujarnya, justru kekakuan dalam berbahasa. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sangat formal yang hanya cocok digunakan di forum-forum resmi. Di luar itu, seperti dalam pergaulan, bahasa yang baik dan benar itu tidak bisa digunakan, “Lucu sekali kalau kita bercakap-cakap dengan teman menggunakan bahasa baku,” tandasnya.

Dijelaskan bahwa selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.

Ia mencontohkan bahasa dalam film-film Indonesia yang tidak maksimal mengeksplorasi kekayaan estetik bahasa Indonesia. Akibatnya film-film kita gagal menyajikan sentuhan seni yang paripurna, sebab kita hanya disuguhi cerita. Berbeda dengan film-film produksi luar yang mampu mengintegrasikan kecanggihan cerita, sinematografi, dan sekaligus keindahan bahasa. “Kalau film hanya mampu menampilkan bahasa yang sama dengan bahasa sehari-hari, lalu di mana unsur seninya. Bahasa film harusnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dari bahasa sehari-hari. Sebab salah satu fungsi film ialah mengedukasi, termasuk di dalamnya mengedukasi masyarakat agar memiliki selera bahasa yang berkelas.”

Tersingkirnya estetika dari bahasa Indonesia, menurut Gaus, disebabkan karena bahasa sudah dipisahkan dari sastra. Sehingga seperti jasad tanpa ruh, raga tanpa jiwa. Pendidikan sastra hanya menjadi bagian kecil dalam mata pelajaran bahasa. Ada komunitas sastrawan di satu pihak yang menjadi penguasa jagad sastra, di pihak lain ada masyarakat yang tidak mengenal sastra. Keduanya dipisahkan oleh tembok tinggi. Padahal di masa lalu masyarakat adalah pencipta karya sastra itu sendiri seperti yang terlihat dalam budaya berpantun. Saat ini pantun sudah hilang dari tradisi berbahasa, padahal anak-anak yang diajari pantun sejak dini akan tumbuh menjadi penutur bahasa yang baik. 

Akibat lebih jauh dari terpisahnya bahasa dan sastra ialah, bahasa kita menjadi sangat kaku dan kering. Belum lagi orientasi politik bahasa yang cenderung pada birokrasi dan peraturan. “Masak cuma mau memasukkan 3 perubahan sepele saja harus mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengubah EYD menjadi EBI. Ini menunjukkan rezim bahasa tidak mengerti persoalan dan minim wawasan,” tandas Gaus. Walhasil sejauh ini, bahasa Indonesia hanya dapat menjadi alat komunikasi dan tidak bisa menjadi ekspresi kebudayaan. Maka yang harus kita lakukan ialah memutus keterasingan masyarakat terhadap sastra. Bahasa butuh ruang untuk berkembang, dan salah satu medianya adalah karya sastra…”

Selengkapnya baca di sini: https://www.csrc.jalalon.com/news/diskusi-umum-masa-depan-bahasa-dan-sastra-indonesia-2