Kematian Terindah

Kenangan untuk Sahabatku, alm. KH Ismail bin H. Djaelani, Mudir ‘l-Ma’had, Daar El-Huda, Curug, Tangerang
KEMATIAN TERINDAH
Kematian terindah adalah kepergian seseorang yang dilepas dengan cinta
Oleh keluarganya, kerabatnya, dan orang-orang di sekelilingnya.
Sebab setiap insan lahir dari rahim cinta
Berkelana di muka bumi untuk menemukan orang yang dicinta
Dan kelak akan meninggalkannya dengan cinta
Untuk mempertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pencinta
Yang Maha Rahman
Yang Maha Rahim
Kehidupan di dunia hanya peristiwa sesaat belaka
Ibarat burung yang melompat dari satu dahan ke dahan lainnya
Begitu pendek, dibandingkan dengan panjangnya perjalanan yang akan ditempuh oleh ruh
Yang terbentang antara langit dan bumi
Dan hari itu langit berkata, akan datang seorang tamu dari bumi
Langkahnya begitu ringan, dan senyumnya sangat menawan
Sebab ia diantar oleh amal kebaikannya
Dari rambutnya berguguran bintang-bintang
Yang darinya bumi bersinar terang
Para malaikat telah berkumpul di tujuh petala langit untuk menyambutnya
Jumlahnya seribu kali lipat dari anak-anak santri yang melepas kepergiannya dengan doa dan cucuran airmata
Jangan menangis, kata langit
Sebab orang yang kalian cintai telah kembali ke rumah yang dirindukannya
Meninggalkan kenangan kebaikan
Dan nama yang tidak akan dilupakan
Pada hari ia pergi, pohon-pohon merunduk diam
Awan berbaris mengenakan seragam hitam
Petang yang terang tiba-tiba menjadi kelam
Padahal matahari belum lagi terbenam
Kepergiannya menggoreskan sembilu di lubuk kalbu
Melelehkan danau airmata di hati yang pilu
Jangan menangis, kata langit
Suaranya bergetar seperti sangkakala yang siap ditiupkan
Menandai akhir zaman
Kemudian langit terdiam
Menundukkan kepala
Menitikkan air mata
Ya Allah biha, ya Allah biha
Ya Allah bi-husnil khatimah
Ciputat, Desember 2020
Ahmad Gaus
______
KH Ismail bin H. Djaelani lahir di Jakarta, 20 Januari 1967, dan wafat di Tangerang, 23 November 2020. Almarhum adalah alumnus Pondok Pesantren Modern Daar El Qolam, Jayanti, Tangerang, yang didirikan oleh Kiai Ahmad Rifa’i Arief, alumnus Gontor. Setelah lulus almarhum KH Ismail mendirikan dan sekaligus memimpin Pondok Pesantren Modern Daar El-Huda, Curug, Tangerang. Saya (Ahmad Gaus) adalah teman satu angkatan dan satu kelas dengan almarhum. Saya pun pernah mengajar di pondoknya, khususnya untuk kelas menulis kreatif/ mengarang.
Dari Facebook, Gaus Ahmad

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s