Posted by: Ahmad Gaus | June 13, 2015

LANGIT MAKIN MENDUNG

buku langit mendung

Catatan Ahmad Gaus

KEHADIRAN KARYA-KARYA yang mengusung tema keagamaan menjadi fenomena tersendiri dalam kancah kesusastraan di tanah air.1)  Karya jenis ini biasanya muncul dalam dua corak: menjadikan agama sebagai pemecah persoalan atau menjadikan agama hanya sebagai latar belakang. Karya sastra corak pertama biasanya memperoleh sambutan positif dari khalayak, sementara corak kedua seringkali menimbulkan kontroversi. Cerpen Langit Makin Mendung masuk dalam kategori kedua. Ia bukan saja menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat, tapi juga memancing kontroversi di kalangan agamawan dan ahli hukum sampai kasusnya dibawa ke pengadilan.

Cerpen Langit Makin Mendung ditulis oleh seorang yang memakai nama samaran Kipandjikusmin. Cerpen ini dimuat di Majalah Sastra, Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968 yang dipimpin oleh HB Jassin. Kontroversi yang ditimbulkan oleh cerpen ini terkait dengan isinya yang terang-terangan mempersonifikasi Tuhan dan menggambarkan sosok Nabi Muhammad yang selama ini dianggap tabu oleh kaum Muslim.

Diceritakan bahwa Nabi Muhammad meminta izin kepada Tuhan untuk turun ke muka bumi dengan alasan ingin mengetahui apa yang menyebabkan umatnya akhir-akhir ini lebih banyak dimasukkan ke dalam neraka. Dan Tuhan memberinya izin karena alasan itu dianggap cukup kuat. Jutaan penduduk surga sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk melepas Muhammad ke bumi. Upacara pelepasan diadakan di sebuah lapangan terbang disaksikan seluruh penghuni surga dan dipimpin oleh Nabi Adam yang menyampaikan pidato pelepasan melalui sebuah alat pengeras suara. Di akhir pidatonya Nabi Adam mengatakan: “Akhir kata Saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad S.A.W harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, Saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif agar mereka semua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad! Hidup persatuan Rakyat Sorga dan Bumi!” “Ganyang!!!” (Berjuta suara menyahut serempak).

Muhammad segera menuju bumi menaiki buraq – kuda sembrani yang dulu menjadi kendaraannya sewaktu melakukan Mi’raj. Secepat kilat buraq melesat ke arah bumi, sementara itu Jibril yang digambarkan sudah tua terengah-engah mengikutinya di belakang. Mendadak, sebuah sputnik Rusia melayang di angkasa hampa udara. Dua kendaraan berbeda teknologi itu pun bertabrakan dan keduanya hancur tanpa sisa. Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas. Ketika menengok ke bawah Muhammad mengira itu adalah neraka. Maka Jibril segera meralatnya:  “Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka, Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh.”

Selanjutnya dikisahkan bahwa Muhammad dan Jibril mengubah diri mereka menjadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di Monas. Percakapan di puncak yang digambarkan sebagai menara emas bikinan pabrik Jepang itu menyindir Soekarno yang disebut sebagai nabi palsu dengan ajaran Nasakomnya yang telah menggerogoti jiwa prajurit-prajurit dan mendarah daging pada sebagian ulama.

Tidak hanya penggambaran tentang Muhammad dan Jibril, namun juga penggambaran tentang Tuhan, seperti kejadian yang mengisahkan para nabi yang protes kepada Tuhan: “Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal dan kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti….. Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia….”

Dialog-dialog terjadi antara Muhammad dan Jibril yang sarat dengan sindiran terhadap kondisi sosial tanah air masa pada masa itu. Diceritakan bahwa penduduk negeri ini 90 persen beragama Islam tetapi justru segala macam perilaku jahat, nista, lacur, munafik, tumbuh subur di mana-mana. Tidak lupa pula diselipkan sindiran tajam terhadap prilaku para pejabat pemerintah seperti kegemaran mereka berfoya-foya, minum alkohol, dan main perempuan.

“Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang sudah tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng yang spesial diundang. Patih-patih dan Menteri tak mau kalah gaya. Tinggal para hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.”

 “Tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas. Beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir…Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis. Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah. Anjing-anjing istana mendangkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!”

Setelah menyasar berbagai masalah dari ideologi, poligami, utang luar negeri, hingga kondisi rakyat yang kebanyakan hidup susah dan kelaparan, cerpen ini diakhiri dengan sebuah pernyataan: “Rakyat rata-rata memang pemaaf serta baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan lapang dada. Hati mereka bagai mentari, betapapun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi.”

Setelah pemuatannya di majalah Sastra bulan Agustus 1968, kontan cerpen ini menyulut kehebohan. Berbagai kecaman datang, terutama dari umat Islam yang menganggap karya Kipandjikusmin itu menghina Islam. Kantor majalah Sastra di Jakarta didemonstrasi oleh kelompok-kelompok masyarakat dan dindingnya dicoreti dengan kata-kata makian. Reaksi massa yang sangat keras muncul di Medan sehingga Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara melarang peredaran majalah edisi tersebut. HB Jassin selaku penanggung jawab majalah Sastra tutup mulut tentang siapa sebenarnya Kipandjikusmin itu. Akibat pilihan sikapnya itu akhirnya ia harus berhadapan dengan pengadilan untuk mempertanggungjawabkan pemuatan cerpen tersebut di majalahnya.

jassin

HB JASSIN

Ada yang menduga bahwa Kipandjikusmin tidak lain adalah HB Jassin sendiri yang menulis dengan nama samaran.

Di kalangan sastrawan sendiri terjadi polemik panjang baik menyangkut batas-batas imajinasi karya sastra maupun pengadilan atas kasus Langit Makin Mendung. Puluhan artikel bermunculan di media massa baik yang pro maupun kontra dengan melibatkan nama-nama besar: Goenawan Mohammad, Taufik Ismail, A.A. Navis, Wiratmo Soekito, Bur Rusuanto, Bahrum Rangkuti, Buya Hamka, dan lain-lain. Isu polemik berkembang dari persoalan sastra ke masalah agama, hukum, dan politik, yang berlangsung selama sekitar tiga tahun (1968-1970).2)

Dalam pledoinya di persidangan, HB Jassin menyatakan: “Kami telah dilain-tafsirkan dan karena perlainan tafsir itu orang mengira kami telah menghina mereka, menghina kepercayaan mereka yang adalah kepercayaan dan keyakinan kami juga. Kami dengan tulus ikhlas meminta maaf kepada mereka yang mengganggap bahwa kami telah menghina, dan kami pun memohon maaf kepada Allah Maha Kuasa, yang kami tahu adalah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.”

Setelah menyampaikan permohonan maaf, Jassin tetap dengan pendiriannya: “Saya berpendapat bahwa cerita pendek Langit Masih Mendung adalah hasil imajinasi, mempunyai dunia lain dan karena itu tidak bisa diukur dengan kaidah-kaidah agama.” Jassin pun mulai mempertanyakan tuntutan hukum atas karya sastra. Katanya, “Dengan kesadaran minta perhatian buat perbedaan antara dunia imajinasi seniman dan dunia realitas dengan hukum positifnya, karena keputusan Saudara Hakim yang kurang tepat akan mempunyai akibat merugikan bagi masa depan kreativitas para seniman, bukan saja di Ibukota, tapi terutama di daerah-daerah”.

hamkaa

HAMKA: “Murtad saya dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat di majalah saya.”

Pembelaan HB Jassin tampaknya sia-sia. Majelis Hakim tetap memvonisnya dengan pidana penjara selama satu tahun dengan masa percobaan dua tahun karena dianggap melakukan penodaan agama (pasal 156a KUHP). Ia menerima putusan tersebut tapi bukan berarti sikapnya surut dalam membela kebebasan imajinasi. Masih terkait kasus itu ia menulis dalam majalah Horison: “Sesuatu karya haruslah dianggap sebagai alat penggungah pikiran, disetujui ataupun tidak disetujui isinya, masing-masing orang berhak untuk menyenanginya atai tidak menyenanginya, tapi orang tidak berhak menghancurkannya, seperti orang juga tidak berhak membunuh penciptanya.”

Mengapa Jassin mau membela dan menanggung akibat dari perbuatan yang tidak dilakukannya? Jawabannya tentu karena dia lahir-batin mencintai sastra dan hidup untuk sastra. Begitu gigihnya ia membela Langit Makin Mendung dan menyembunyikan identitas penulisnya sampai-sampai ada yang menduga bahwa Kipandjikusmin tidak lain adalah HB Jassin sendiri yang menulis dengan nama samaran.

Dua bulan setelah heboh itu Kipandjikusmin bicara kepada majalah Kami edisi 22 Oktober 1968 bahwa ia tidak bermaksud menghina agama Islam melainkan hanya menertawakan aneka kebodohan di masa rezim Soekarno. Tentang personifikasi hal-hal yang selama ini dianggap tabu, ia menandaskan bahwa itu semata-mata hasrat pribadinya untuk mengadakan komunikasi langsung dengan Tuhan, Nabi Muhammad, sorga, dll.

Teka-teki tentang siapa Kipandjikusmin yang sebenarnya baru terkuak dua tahun kemudian (1970). Kepada Usamah, redaktur pelaksana Ekspress yang dipimpin Goenawan Mohamad, Kipandjikusmin mengaku nama aslinya adalah Soedihartono. Ia menempuh pendidikan di Akademi Pelayaran Nasional, dan selama 6 tahun menjalani wajib dinas di Jakarta. Setelah itu ia tidak pernah menulis lagi. Namanya ditelan oleh arus gelombang kesusastraan yang—meminjam kata-kata Goenawan Mohamad seputar kasus ini—menentramkan dan bukan yang menggelisahkan.3)

Posisi Kipandjikusmin memang terpojok. Para sastrawan pada umumnya tidak membela dirinya maupun karyanya yang dianggap buruk, melainkan membela kebebasan imajinasi. Sebagian, seperti Hamka, tidak membela dirinya dan karyanya melainkan membela HB Jassin yang harus menjadi tameng karena kepengecutan Kipandjikusmin yang tidak menampakkan batang hidungnya ketika kasus itu merebak ke permukaan. Para sastrawan seperti Bur Rasuanto, Ali Audah, Taufiq Ismail, menganggap Langit Makin Mendung sebagai karya yang buruk atau bermutu rendah.

Hanya HB Jassin yang membela ketiganya: penulisnya, mutu karyanya, dan kebebasan imajinasi. Dan tampaknya Jassin konsisten, sebab seandainya Langit Makin Mendung bukan karya sastra yang bermutu tentunya tidak akan dimuat di majalah Sastra yang dipimpinnya. Hal ini berbeda dengan Hamka, misalnya, yang mengatakan bahwa majalah Panji Masyarakat yang dipimpinnya tidak akan memuat karya semacam itu. “Murtad saya dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat.” Jadi alasannya ialah agama, bukan sastra.

Kalau kita setuju kepada penilaian sebagian sastrawan tentang buruknya mutu sastra Langit Makin Mendung, maka karya itu dengan sendirinya akan terhapus dalam lembaran sejarah sastra. Sialnya, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara banyak karya sastra yang dinilai bermutu tinggi tenggelam ditelan zaman dan dalam ingatan masyarakat, Langit Makin Mendung terus saja dibicarakan. Melintasi zaman. Rupanya keburukan sebuah karya tidak selalu identik dengan kesia-siaan atau mudah dilupakan. []

Catatan:

  1. Kajian mutakhir mengenai ini lihat, Marwan Saridjo, Sastra dan Agama (Jakarta: Penamadani, 2006).
  2. Duduk perkara dan polemik sekitar kasus ini kini telah dibukukan. Lihat, Muhidin M. Dahlan dan Mujib Hermani (eds.), Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen “Langit Makin Mendung” Ki Pandjikusmin (Jakarta: Melibas, 2004).
  3. Ibid., hal. 166.

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

******************************************

___________________________________________________

PELATIHAN MENULIS Bersama AHMAD GAUS

____________________________________________________________

Menulis itu menyenangkan. Banyak orang menemukan kembali gairah hidupnya setelah diperkenalkan dengan dunia tulis-menulis, sebab di dalam aktivitas itu ada energi gerak yang memutar baling-baling kehidupan menuju dunia tanpa batas: dunia imajinasi. Jika anda muak dengan realitas di sekeliling anda, ciptakanlah realitas lain yang menyenangkan di dunia imajinasi. Semakin banyak orang yang dapat anda bawa masuk ke dunia imajinasi anda, semakin besar kemungkinan imajinasi itu menjadi kenyataan. Bukankah sebelum menjadi tanah air yang riil, Indonesia ialah negeri yang diimajinasikan (imagined community, kata Ben Anderson) oleh penyair Muhammad Yamin, dll? Begitu juga Amerika Serikat yang pada mulanya dibentuk oleh imajinasi dalam Pocahontas, Rip van Winkle, dll.

Menulis itu menyenangkan. Ratusan orang (pelajar/santri, mahasiswa, dosen, umum) telah membuktikannya dalam berbagai pelatihan menulis yang saya pandu. Yuk ikuti pelatihan menulis, ada kelas regular, ada juga in house training. Hubungi: 0818-829-193

Para Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi Mengikuti Pelatihan Menulis Karya Ilmiah dan Karangan Kreatif, 23-24 Maret 2015

Para Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi Mengikuti Pelatihan Menulis Karya Ilmiah dan Karangan Kreatif, 23-24 Maret 2015

Para siswa/i SMP sekota Ambon mengikuti pelatihan menulis bersama Ahmad Gaus, 19  Nopember 2013

Para siswa/i SMP sekota Ambon mengikuti pelatihan menulis bersama Ahmad Gaus, 19 Nopember 2013 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: