Teman Abadi Kerinduan

f7259957d7f54c67604ca02f39ed3da3

TEMAN ABADI KERINDUAN

Sekali waktu di tengah hujan
kita bertemu di sebuah persimpangan
bercerita tentang kehidupan
kau bilang, sayap-sayapmu hilang
dicuri kupu-kupu
dalam perjalanan menuju tempat terjauh
dalam hidupmu
sedang perahuku patah dayungnya
saat bertolak ke pulau
yang belum pernah kutempuh
dalam hidupku

Angin laut menyatukan kita
kau ikat rambutmu di layar perahuku
dan kusandarkan perahuku
dalam tidurmu

Ombak begitu lama
mercusuar tidak selalu menyala
tapi masih ada isyarat samar-samar
dari kelepak burung camar

Sayang, di darat pun tak ada peta
sebab perjalanan ini memang buta
itulah kenapa kita berpegangan tangan

Menanam flamboyan di tepi-tepi jalan
menunggu bunganya berguguran seperti bulan
dan menyerah begitu indah
pada penderitaan

Kita tahu di sana ada
keluh-kesah dan harapan
teman abadi kerinduan

 Baca juga: Jalan Terjal

PENYATUAN

PENYATUAN

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

Doa Penawar Rindu

e430c45c2a5452be915413e0638dd9ef

DOA PENAWAR RINDU

Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih
melebihi kerinduanku kepada-Mu
ampuni aku!
Sebab, aku bukan penguasa atas apapun
yang terbersit di hatiku
melainkan Engkau.
Dan jika kecintaanku pada kekasih
melebihi kecintaanku kepada-Mu
maafkan aku!
Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa
yang berdenyut di jantungku
melainkan Engkau.

Dalam zikir-zikir yang kulantunkan
untuk memuji nama-Mu
tanpa sadar kusebut pula namanya.
Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru!
Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku
melainkan atas izin-Mu juga.
Dan dalam sujud-sujud malamku
untuk mengagungkan-Mu
kuagungkan pula namanya di hatiku.
Jangan kutuk aku, Tuhan
walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!

Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu
kepada Engkau pula kelak akan bermuara
aku hanya pendayung waktu
rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu
untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku.
Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh
yang akan kujalani selama hidupku
dan rindu ini sebagai ibadah
yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.

Gedung Film, Maret 2016

Baca juga: HATI

SURAT CINTA UNTUK CORONA

Corona6

Surat Cinta untuk Corona

Dear Corona,

KUTULIS surat ini saat hujan turun di sore hari

Setelah panas terik yang membakar sepanjang siang tadi

Orang-orang berharap engkau tersungkur di tanah

Lalu bangkaimu diseret air hujan hingga jauh ke laut

Begitulah, sengaja kuawali surat ini dengan meringkas “kebencian kolektif” yang ditujukan kepadamu.

Agar engkau tahu di mana posisimu sejauh ini.

SEKARANG  tidak ada orang yang pergi ke taman untuk melihat pelangi

Atau mengikat janji dengan kekasihnya di sore hari yang indah

Mereka takut engkau ada di sana

Sebab saat ini engkau memang lebih menakutkan daripada nenek sihir dengan sapunya.

OH YA,  ngomong-ngomong soal nenek sihir, pernahkah kau mendengar cerita tentang penyihir yang seumur hidupnya tidak pernah tertawa?

Sekali waktu dia tertawa, seekor tikus bisa berubah menjadi gadis cantik. Alangkah saktinya.

ADA juga kisah tentang penyihir jahat yang jiwanya tersimpan dalam buah pir.

Begitu orang-orang tahu buah pir dapat menurunkan berat badan, penyihir itu mati berkali-kali. Karma bagi penjahat.

Kesaktianmu mungkin sama dengan para penyihir itu

(Dan mungkin juga kelemahanmu)

Abrakadabra!

Sekali tepuk engkau berhasil menaklukkan dunia

Mengubah aturan di semua negara

Memaksakan moralitas baru dalam hubungan sosial

Menghentikan kemacetan lalu lintas di kota-kota yang sibuk

Mengeluarkan orang-orang dari penjara dalam jumlah yang sangat besar

ENGKAU  juga memberi intrupsi pada pemahaman agama yang dogmatik

Mengusir kaum beriman dari rumah-rumah ibadah

Tapi memaksa orang untuk lebih dekat dengan Tuhan.

ENGKAU sebuah paradoks untuk kebatilan dan kebenaran

Nilai-nilai sekarang bukan hanya nisbi tapi jungkir balik

Banyak fenomena harus ditafsir ulang

JADI, engkau memang hebat, Corona

Tidak pernah ada yang bisa melakukan itu sebelumnya

Tapi tahukah kau bahwa seluruh dunia memusuhimu

Perang global sudah dideklarasikan untuk melawanmu

Dan engkau sendirian.

SAAT ini, bila kau lewat di kotaku

Orang-orang sudah mengenakan alat perlindungan diri

Kendaraan militer berjaga di setiap sudut dan tempat-tempat keramaian

Sesekali menyemprotkan tembakan ke udara dan pinggir jalan sehingga mengenai siapa saja

Seperti pasukan tempur yang menembak tanpa sasaran karena musuh tidak terlihat

ENGKAU telah membuat semua orang menjadi bodoh

Membuat malu negara-negara maju yang memiliki persenjataan paling canggih

Semua lumpuh, tidak berdaya di hadapanmu

Korban-korban kematian berjatuhan seperti daun-daun kering diterjang angin

ZAMAN yang murung bertambah murung

Kekerasan, kelaparan, kemiskinan, ada di mana-mana

Apalagi yang mau kau tambahkan

Menegakkan keadilan?

Silakan saja

Tapi lihat itu orang-orang yang kehilangan pekerjaan

Orang-orang yang dikuburkan tanpa didampingi keluarganya

Para malaikat pun tak sanggup berdiri di hadapan takdir mereka yang terasing

AAHHH… aku tidak tahu apalagi yang harus kutuliskan di sini, Corona

Tapi yang pasti sore ini sehabis hujan, aku ingin melihat kau menari bersama anak-anak di halaman

Tanpa mengancam

Tanpa ada korban

Itu saja.

WASSALAM

Ahmad Gaus


*****

ADULT ROMANCE:  Apa yang dilakukan oleh mantan-mantan seleb ketika mereka sudah tersingkir dari dunia hiburan karena kalah bersaing dengan para pendatang baru? Sally, salah satu dari mereka, terjebak dalam pelukan para pejabat tinggi yang menjanjikan uang dan kemewahan. Tapi ia menolak semata-mata dijadikan sebagai objek kesenangan daging. Ia  menggoreskan takdirnya sendiri dalam perjuangan yang keras dan penuh risiko. Simak kisahnya dalam novel ini:

Cover Hujan dalam Pelukan

Silakan dibaca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/22983

[Puisi] Kepada Siapa Engkau Bicara

 

 

kubicki-woman-digital-art-portrait-computer-painting-photoshop-female-design

 

Kepada Siapa Engkau Bicara

 

Akhirnya kau tegakkan lagi kaki-kaki langit itu

Setelah hujan karbon, kiamat debu, dan tubuh-tubuh yang berubah jadi arang

Tapi kepada siapa engkau bicara jika pohon-pohon saja menutup telinga

Hewan-hewan piaraan mengungsi ke hutan

Sebab di sana mereka tidak perlu berpura-pura menjadi manusia.

 

Engkau tahu sejarah sedang berselisih paham dengan pikiran

Ia mengambil jalan lurus atau menikung

Tapi pikiran ingin berbalik arah

Maka duduk saja di persimpangan

Menunggu kereta lewat di keningmu.

 

Lihat, matahari keluar dari ruang pesta dengan tubuh limbung

Mungkin semalaman dicekoki minuman keras

Tapi mau bagaimana lagi, hari ini dia harus berangkat ke sekolah

Belajar lagi menghitung jumlah manusia di jalan raya, rumah ibadah,

gorong-gorong

Belajar lagi mengucapkan nama Tuhan dengan lidah yang lembut

Sementara kita tetap di sini

Mengenang mereka yang pernah menanam pohon-pohon cahaya

dengan wajah murung

Sebab kita tahu dunia sebenarnya sudah hancur

dalam pot bunga.

ahmadgaus

 

Kredit gambar:

Jarostaw Kubicki Mixes up the Media

Kredit Featured Image:

 

 

 

[Puisi] ELEGI BULAN APRIL — Catatan kelam wabah Corona

lockdown01

 

Elegi Bulan April

(Catatan kelam wabah Corona)

 

Ahmad Gaus

 

Kuantar Maret ke pintu gerbang dengan tubuh menggigil

Seperti melepas seekor burung merpati yang sakit pilek

Hujan terakhir telah kucatat pada petang hari yang muram

Pemakaman sepi dari orang-orang yang kehilangan keluarga,

kekasih, dan sahabat mereka

Tanah-tanah bercerita, kematian karena wabah penyakit

begitu lengang, begitu tiada

Seperti hidup itu sendiri yang hanya dilalui

 

Kita yang terbiasa merayakan kesedihan tak sanggup

menerima kenyataan bahwa mati adalah kesunyian

Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja

kita mengingkarinya dengan keramaian

dan bunyi-bunyian

 

Kita yang selalu berdoa melalui pengeras suara

kini hanya bisa mengirim doa dari pintu rumah yang tertutup rapat

Kendaraan dikunci, pasar-pasar dikunci, kota-kota dikunci

Besok tidak pasti siapa lagi yang akan diantarkan

oleh wabah ini ke pemakaman

Kita gelisah membayangkannya,

karena kita adalah tawanan paling lemah

dari ketidakpastian.

Ciputat, 01 April 2020

 

 

CORONA (Dewi Kahyangan)

 

Ahmad Gaus

 

Begitu banyak cerita tentang dirinya

Tapi dia tetaplah misteri

Ada yang bilang dia mikro-organisma belaka

Ada yang percaya dia adalah setan yang melarikan diri dari neraka

Atau para dewa yang turun ke bumi untuk kembali menguasai dunia

 

Aku sendiri lebih suka membayangkannya sebagai dewi kahyangan yang

datang berselendang bianglala

Begitu lembut namun perkasa, membentangkan sayapnya

dari timur ke barat

seperti menantang manusia

 

Dewi kahyangan meradang karena dicampakkan

dan kini menjelma kuntum mawar yang mengembara

dalam pikiran manusia

menusukkan duri-durinya dalam tidur mereka

 

Setiap malam orang-orang gelisah membayangkan kematian

kerlip bintang hilang dari pandangan

sajak-sajak cinta terasing dari kehidupan

hanya sosok tak kasat mata yang terbayang

seperti dewi kahyangan dalam cahaya bulan  

berjalan mendekat dan mengatakan ‘aku mencintaimu’

 

Ciputat, 01 April 2020

 

Puisi-puisi di atas dimuat juga dalam:

https://cakradunia.co/news/puisi-puisi-covid-19-ahmad-gaus/index.html#

——————–

Ahmad Gaus, adalah seorang dosen dan penulis. Ia mengajar matakuliah bahasa dan budaya di Swiss German University (SGU), Tangerang. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Kutunggu Kamu di Cisadane (Puisi Esai, 2013), dan Senja di Jakarta (2017).

BENARKAH CINTA ITU ADA?

beaach

Benarkah Cinta itu Ada?

Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last.
(Ronan Keating, If Tomorrow Never Comes)

Bumi bertanya kepada langit, ‘benarkah ada cinta di antara kita?’
Beribu tahun lamanya langit tidak menjawab
Namun terus mengirimkan airmata
Agar kehidupan di bumi tetap ada

Kalau cinta ada di bibir cakrawala
Aku akan melumatnya hingga berdarah
Agar senja menetes indah
Di tubuh kita

Kalau cinta ada di mata purnama
Aku akan memeras selaputnya yang indah
Agar pagi meneteskan darah
Di jiwa kita

Bahkan seandainya esok hari tak pernah tiba
Dan cinta di dunia ini ternyata tidak pernah ada
Aku tetap ingin bersama

–ahmadgaus

Baca juga:  Lukisan Flamboyan

 

 

Tangsel Spring

Tangsel

TANGSEL SPRING

Kawan
Pintu gerbang selatan telah dibuka
Matahari telah menunggu lama untuk menyematkan bunga
Pada rambut gadis-gadis jelita
Pada celak mata para pemuda yang tertimbun lumpur peradaban kota

Di kafe-kafe pinggir jalan
Kita biasa berbagi masa depan dalam secangkir kopi hitam
Setiap impian selalu kandas sebelum azan magrib berkumandang

Lampu-lampu jalan bisa kau pindahkan ke tubuhmu
Taman-taman yang indah bisa kau lukis dalam pikiranmu
Tapi impian, tidak
Sebab ia hanya milik segelintir nyonya dan tuan

Aku tidak berbicara tentang kekuasaan
Sebab itu terlalu mewah untuk para gadis dan jejaka yang hanya butuh lapangan pekerjaan
Aku berbicara tentang tipu daya yang berdiri megah
Di lubuk-lubuk kesadaran

Turunlah ke jalan, kawan
Sebab kau tidak akan bisa melihat gelandangan dan pengangguran
Dari lantai atas menara yang menjulang
Juga tumpukan sampah yang menebarkan bau busuk dan penyakit
Tujuh turunan

Kita biasa melepas kejenuhan di taman jajan
Diiringi gitar para pengamen jalanan
Atau tertawa terbahak di kafe-kafe
Di antara dentuman musik cadas Scorpions hingga Iwan Fals — Wind of Change hingga Bento, Bongkar
Tapi kita lupa bahwa telinga punya saluran ke otak
Inilah tragedi kita

Kawan
Sekarang pintu gerbang selatan telah dibuka
Gadis-gadis berhijab atau berambut panjang tergerai
Para pemuda berpeci atau bertato
Orang-orang tua dan anak-anak
Siap berpesta menyambut musim semi yang akan datang

Ciputat, 9 Maret 2020
Ahmad Gaus AF

SEBUAH KAMAR

c5e20d2b-e736-4798-85cf-43f117ae6520

SEBUAH KAMAR

Akhirnya kau pergi juga
kulipat daun pintu dan diam-diam
kumasukkan ke dalam tasmu
suatu hari nanti kau akan teringat
sebuah kamar di kepalaku
yang pintunya selalu terbuka — menghadap ke laut
tempat kau biasa berbaring seperti turis asing
sambil menikmati suara ombak
burung-burung camar menarik-narik rambutmu
hingga kau tertidur dan bermimpi
sedang berada di salon kecantikan
kau berdandan begitu meriah
seperti kota yang tengah berulang tahun.

“Aku pergi sekarang,” Katamu melepas pelukan.
“Duniaku menunggu di sana.”

Kota telah bersiap menyambutmu
berhias dengan lampu dari kunang-kunang
jalan-jalannya terbuat dari lidah orang-orang
yang tak kau kenal
gedung-gedungnya menjulang tinggi
melebihi keangkuhanmu
masuklah ke sana melalui pintu yang kuletakkan
di dalam tasmu, dan carilah kamar kosong
yang menghadap ke laut.

Jakarta, Juli 2019
IG: ahmadgaus68

Novel terbaru saya

Sila baca sinopsisnya di sini Hujan dalam Pelukan

Cover Hujan dalam Pelukan

[Warning: for adult only]

KAMU DAN BUKU

Selamat Hari Buku Nasional

 

7db004b68cf48ed66353bde533b8cc5f

KAMU DAN BUKU

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku
Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku
Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman
Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.

Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu
Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan
Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu
Sebab waktuku tidak akan cukup.

Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu
Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain
Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks
Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan
Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu
Tapi itu salah kamu juga, sih
Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu
Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.

Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial
Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku
Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat
Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks

Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran
Banyak penerbit sudah gulung tikar
Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah

Tapi itu hanya kesedihanku belaka
Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.

Gedung Film, 17 Mei 2019
Ahmad Gaus
Baca juga: Jalan Terjal