Categories
Novel

Laura & Burung Hantu

Sebuah Novel Remaja oleh Ahmad Gaus

Genre: Horor-Komedi

– 1 –

 Awal Mula

Hari ini genap 17 tahun usia Laura. Tidak ada acara potong kue dan tiup lilin. Tidak ada acara bersama teman-temannya. Padahal dia sudah berjanji pada momen sweet seventeen ini bakal membuat kejutan besar untuk teman-temannya. “Pokoknya kalau ada yang pingsan atau bunuh diri jangan nyalahin aku.” Begitu ucapan Laura tentang kejutan besar yang direncanakan di pesta ulang tahunnya. Teman-temannya dibuat penasaran.

Sayangnya, rencana pesta itu dia abaikan begitu saja tanpa pemberitahuan kepada teman-temannya, demi sebuah pesta lain. Ya, sebuah pesta lain yang dirancang oleh Jodi, kekasih Laura, yang juga berulang tahun hari ini. Pesta itu akan diadakan di sebuah taman dimana mereka pernah mengadakan pesta ulang tahun bersama dan berdua saja, saat mereka masih kanak-kanak 10 tahun lalu. Laura tidak bisa menolak ajakan itu. Dia takut mengecewakan Jodi — pria yang menjadi temannya sejak kecil, karena mereka bertetangga, dan usianya dua tahun di atas Laura.

Sampai sekarang sebenarnya Laura tidak mengerti mengapa dia mencintai Jodi, seorang pria yang senang menyendiri dan cenderung dingin, jauh dari kesan romantis. Lauren, saudara sepupu Laura yang punya kemampuan menerawang alam gaib, pernah mengatakan bahwa Jodi memiliki “mata mistik”. Mata itu, kata Lauren, sejenis mata burung malam yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang luar biasa.

3dbb60f1cf1582a02e4cbf8ab8ded69c

Tidak sepenuhnya Laura memercayai kata-kata itu. Kadang justru terbetik rasa cemburunya kepada Lauren karena dia sangat intim bergaul dengan Jodi. Mungkin kelebihan Lauren yang bisa menerawang alam supranatural itu yang membuatnya dekat dengan Jodi.

Riwayat hidup Jodi memang misterius bagi Laura. Jodi pernah raib saat dilahirkan. Dia ditemukan tiga hari kemudian di tepi sungai oleh pencari ikan dalam kondisi tubuh dipenuhi bekas gigitan hewan. Tapi dia selamat. Ibunya meninggal dunia saat melahirkan dirinya. Sedangkan ayahnya telah pergi entah ke mana sejak Jodi masih dalam kandungan.

***

Laura terbangun dari tidur siangnya oleh sebuah suara yang memecahkan kaca jendela. Dia mengira itu suara halilintar karena di luar sedang turun hujan. Tapi ternyata bukan. Dengan jelas dia melihat sekelompok burung hantu melemparkan sesosok tubuh penuh darah ke kamarnya.

“Jodi..!!?” Teriaknya. Laura terhenyak. Dunia tiba-tiba menjadi gelap dalam pandangannya. Bagaimana mungkin kekasih yang dicintainya mengalami nasib setragis itu justru di hari ulang tahunnya. Ke mana burung-burung laknat itu sekarang? Apa pula salah Jodi sampai mereka melakukan perbuatan biadab itu pada kekasihnya? Laura marah, tapi kemarahan itu dikalahkan oleh kesedihannya.

f156f4544388cafe48a01608ab9bf859

Laura meraba pipinya, sebutir airmata meleleh. Dia mencubit-cubit tangannya, dan terasa sakit. Ternyata peristiwa barusan itu hanya mimpi buruk. Tidak ada tubuh Jodi yang tadi terlempar keras sekali. Kaca jendela pun masih utuh. Dia bersyukur.

Sambil menunggu hujan reda, Laura berdandan, memoles pipinya dengan bedak tipis, menyentuh bibirnya dengan lipstick merah tipis, lalu mengenakan T-Shirt dan celana jeans. Sebelum pergi dia menyempatkan diri membersihkan lantai kamar dengan tissu dari bercak-bercak darah yang berceceran. Sejurus kemudian dia keluar kamar, mengunci pintu dari luar pelan sekali, lalu mengendap-endap agar tidak ada penghuni rumah yang melihatnya.

 

– 2 –

Percakapan dengan Kupu-Kupu

Di Taman Aden, Laura duduk seorang diri, menunggu Jodi —  kekasih pujaan hati. Awan tipis turun di rambutnya. Pelangi sore menyelinap di bola matanya. Daun-daun seperti kaca. Memantulkan sisa air hujan di pipinya.

Rembang petang mulai mengambang, yang ditunggu tak kunjung datang. Lamunannya melayang, memandang seekor kupu-kupu hinggap di putik kembang.

“Hai, siapa namamu?” tanya gadis itu.

“Aku Luna, kamu siapa?” kupu-kupu itu balik bertanya.

“Aku Laura. Senang bisa berkenalan denganmu, Luna.”

Kupu-kupu bernama Luna itu hanya tersenyum.

“Sayapmu cantik sekali, Luna, bolehkah aku meminjamnya sebentar saja?”

Luna tidak menjawab. Bahkan tidak memedulikannya. Ia merapikan bajunya yang sempat tersangkut di dahan bunga. Tangannya direntangkan. Sayapnya diangkat. Pertanda siap terbang kembali.

“Luna, jika kau meminjamkan sayapmu, aku akan memberimu hadiah baju yang cantik.” Laura membujuk.

710197d181c0ae75af7f51eca104f3af

Kupu-kupu itu tetap bungkam. Kini ia terbang ke tangkai bunga yang lebih tinggi. Laura terus berusaha mendekatinya. Karena lalai, Luna hinggap di daun yang basah. Kakinya terpeleset, sepatunya terjatuh. Untung saja Laura berhasil meraihnya. Luna tersenyum.

“Karena kau telah menyelamatkanku, maka permintaanmu kupenuhi, ambillah sayap ini dan terbanglah ke mana suka, tapi ingat kau harus sudah ada di taman ini lagi sebelum hari menjadi gelap. Sebab kalau sudah malam, taman ini jadi tempat bermain kawanan burung hantu.

“Burung hantu?” Laura kaget. Luna menjelaskan bahwa taman ini dulunya adalah kuburan massal korban pembantaian tentara Jepang. Banyak di antara mereka yang bahkan belum benar-benar mati sudah dikuburkan di bawah todongan senjata.

Mendengar penuturan itu Laura jadi ragu untuk terbang dengan sayap kupu-kupu Luna. Namun Luna meyakinkan bahwa dia akan mendapatkan pengalaman menarik yang belum pernah dialaminya. Benar juga, pikir Laura. Tiba-tiba dia melompat senang. Dipeluknya kupu-kupu itu sambil diciuminya. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari tubuh Laura. Tapi tingginya hampir sama. Sesaat kemudian tubuh Laura melesat ke udara. Sayap-sayapnya terbentang indah bagai bidadari.

Seorang pria yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dari tempat tersembunyi, diam-diam mengikuti Laura dari belakang.

 

– 3 –

Perjumpaan dengan Bidadari

Dari ketinggian Laura memandangi taman-taman, melewati perbatasan kota, memasuki pedesaan, melintasi perbukitan. Akhirnya dia tiba di suatu tempat yang cukup jauh. Tempat yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya.

Pria yang mengintainya dari taman masih terus mengikutinya. Kadang dia berjalan, kadang berlari, mengikuti laju kecepatan Laura.

“Hai, suara apa itu,” bisik Laura sambil menengok ke arah datangnya suara. Lalu dia mencoba mendekat. Pada jarak tertentu dengan jelas dia menyaksikan pemandangan langka: perempuan-perempuan sedang asik bercengkrama di sebuah telaga. Jumlah mereka tujuh orang. Laura terus mendekat ke arah mereka. Warna pelangi berpendar di permukaan air. Tubuh-tubuh molek itu menyelam dan berenang ke sana kemari. Bagaikan kawanan angsa yang telah lama merindukan air.

Kini Laura telah berdiri di tepi telaga. “Haaaai.., bolehkah aku bergabung dengan kalian?” Dia berkata setengah berteriak.

IMG-20191025-WA0001

Perempuan-perempuan itu saling menatap satu sama lain. Tidak ada yang menjawab. Tapi dari cara mereka memandang tersirat rasa kagum. Gadis yang berdiri di hadapan mereka seperti bidadari bumi.

Air di permukaan telaga berkilauan. Meriak, memantulkan cahaya tubuh sang gadis. Perempuan-perempuan yang sedang mandi itu pun terpana. Mereka berseru secara bersamaan, “Ayo, kemari!” Laura tersenyum riang. Lalu menceburkan diri. Berenang bersama mereka.

Pria yang sejak tadi mengikuti Laura menyaksikan dari jauh. Menikmati suara kecipak air dan tawa renyah mereka. Seperti musik riang yang tak putus-putus.

***

Hari mulai senja. Cahaya matahari menipis. Warnanya memantul berkilauan di telaga. Perempuan-perempuan itu mulai menepi dan naik ke daratan. Samar-samar si pria melihat mereka tergesa-gesa mengenakan pakaian. Lalu memasangkan sayap pada lengan masing-masing.

“Kami pamit dulu ya, lain waktu kita bertemu lagi, sebab kami harus pulang sebelum gelap,” ujar mereka kepada Laura.  

Usai berkata mereka melesat terbang ke angkasa. Tinggallah gadis itu mematung seorang diri. Terpana, seakan tidak percaya apa yang baru saja terjadi: Dia mandi bersama perempuan-perempuan kahyangan yang selama ini hanya dia baca dari cerita legenda.

bidadari

Sementara itu pria yang sejak tadi mengikutinya, masih berada di kejauhan. Tiba-tiba dia teringat bahwa Laura harus segera kembali ke Taman Aden karena ditunggu oleh Luna. Dia ingin mengingatkan, kalau Laura terlambat kembali ke Taman Aden, kupu-kupu cantik itu bisa menjadi sasaran empuk kawanan burung hantu.

Segera dia menghampiri Laura, dan terpana menatap sosok tubuh di hadapannya. Tapi dengan cepat dia memalingkan wajah dan tubuhnya. Untuk menghindari tatap muka karena khawatir Laura mengenalinya.

“Laura, cepat kenakan pakaianmu dan kau harus segera mengembalikan sayap itu pada Luna, apakah kau lupa janjimu?” Dia berkata sambil membelakangi gadis itu.

“Hey, siapa kau, dan dari mana tahu namaku dan Luna?” sergapnya.

“Sudahlah, bukan waktunya untuk bertanya. Sekarang kau harus segera pulang karena Luna dalam bahaya.”

Tiba-tiba saja Laura menjerit kecil. Pria itu terkejut dan bertanya, “Kenapa Laura, ada apa?”

“Pakaianku hilang,” tegasnya.

Pria itu makin terkejut. Gila, pikirnya, ke mana pakaian itu, masak sampai terbawa oleh bidadari-bidadari tadi, tidak mungkin. Atau… jangan-jangan dicuri orang. Kalau ya, berarti ada orang lain di tempat ini selain dirinya saat para bidadari mandi. Tapi siapa pencuri itu, kurang ajar betul, umpatnya dalam hati.

“Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau Luna menderita gara-gara aku,” Laura berkata seperti meratap.

“Ya, jangan sampai dia menjadi makanan empuk burung hantu. Sangat mengerikan,” sahut si pria.

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Sebentar, apakah sayap itu masih ada?”

“Ada, hanya pakaianku yang hilang.”

“Kalau begitu kau tetap bisa ke sana, jadi pergilah sekarang juga dan segera temui Luna.”

“Apa? Maksudmu aku harus pergi dalam keadaan tanpa pakaian seperti ini?”

Pria itu terdiam. Benar juga, batinnya. Dia berpikir keras, apa yang harus dilakukan. Sementara waktunya tinggal beberapa saat saja menjelang gelap. Kasihan sekali kalau Luna — kupu-kupu yang cantik jelita itu — harus menjadi santapan burung hantu.

“Cepat katakan apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa lagi berpikir jernih sekarang. Atau… hhhmm.. aku curiga, jangan-jangan kau sendirilah yang menyembunyikan pakaianku.”

Betapa kagetnya pria itu mendapat serangan yang begitu mendadak dan tak terduga. Tapi sepertinya dia tidak hendak berdebat, karena tahu Laura sedang bingung.

“Terserah kalau kau menuduhku melakukan itu. Yang jelas kau tidak punya banyak waktu lagi. Kalau kau setuju, aku akan pinjamkan pakaianku.”

d7ccc2f6aceb0d239d0636e675aab7b7

Laura terdiam. Tidak memberi jawaban. Si Pria menduga bahwa Laura merasa ragu dengan pakaiannya, sehingga dia menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakannya itu, celana jeans dan kaos, model unisex jadi tidak masalah jika Laura memakainya.

“Tidak usah mengajari aku soal itu,” tandas Laura.

“Ok, kalau begitu aku anggap kau setuju. Sekarang berbaliklah karena aku mau melepaskan pakaianku untuk kau kenakan.”

Tanpa bertanya lagi Laura membalikkan badan. Tidak lama kemudian terdengar suara si pria.

“Sekarang kau boleh gunakan pakaianku dan segera temui Luna. Jangan lupa kembali lagi ke sini karena aku menunggu pakaianku.”

Suara itu terdengar dari atas. Laura mendongakkan kepala. Pria itu memang di atas pohon. Tanpa pakaian. Mungkin dia malu, atau takut serangan binatang malam. Samar-samar Laura mengingat suara pria itu, seperti suara seseorang yang pernah dia kenal. Tapi dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir, dan segera mengenakan celana jeans dan kaos milik pria tersebut. Dalam sekejap dia sudah melayang di udara.

Cover-1-1

 

– 4 –

Pengakuan Burung Hantu

Laura tiba di Taman Aden ketika hari mulai gelap. Matahari tinggal merahnya. Semu remang dan pudar. Bulan sudah naik ke singgasana malam. Laura mencari-cari dimana Luna. Di setiap sudut taman, tangkai-tangkai bunga. Tapi dia tidak menemukannya. Hatinya mulai gelisah.

“Luna, Luna, di mana kamu..?”

Tidak ada jawaban. Bulu kuduknya merinding mengingat kata-kata Luna sebelum dia pergi. Jadi santapan burung hantu!!

“Jangan sampai terjadi! Jangan sampai!”

Sekonyong-konyong dia mendengar suara burung hantu. Jantungnya seakan copot. Dia mendekati arah suara itu. Pada sebatang dahan yang nyaris tertutup daun. Di situlah seekor burung hantu bertengger. Sikap tubuhnya murung. Tatapannya layu.

“Hey, aku sedang mencari kupu-kupu bernama Luna, apa kau melihatnya?”

Burung hantu itu terdiam. Laura mulai curiga, jangan-jangan burung hantu itu yang menyantap Luna.

“Kamu sedang apa di sini?” Suara Laura terdengar emosi.

“Kalau siang hari taman ini memang milik kupu-kupu, tapi menjelang malam, tempat ini menjadi milik kami.” Burung hantu itu menjelaskan. “Dulu aku juga seekor kupu-kupu, seperti Luna, lalu dikutuk jadi burung hantu.”

544fcdca85d7193d6bdefad18193bd51

“Bagaimana bisa?” Tanya Laura penasaran.

“Ini ulah nenek sihir. Dia bilang ini tempatnya dari zaman penjajahan Jepang dulu.”

“Apa menurutmu, Luna juga disihir menjadi burung hantu?”

“Ya,” jawab burung hantu itu singkat.

“Lalu di mana dia sekarang?”

“Dia pergi ke arah utara, menuju sebuah telaga.”

“Telaga? Untuk apa?”

“Setiap kupu-kupu yang dikutuk jadi burung hantu akan pergi ke telaga untuk mencuri pakaian bidadari. Kalau dia berhasil, pakaian itu diberikan kepada nenek sihir. Sebagai imbalannya, nenek sihir akan mengubah wujudnya kembali menjadi kupu-kupu.”

Pikiran Laura semakin kalut mendengar penuturan burung hantu. Ingin sekali dia segera pergi ke telaga, tapi hatinya agak cemas. Bagaimana kalau yang dia temui bukan Luna tetap malah si nenek sihir. Salah-salah malah dia sendiri yang disihir menjadi burung hantu.

***

Pria di atas pohon masih menunggu Laura kembali. Suasana makin gelap. Tidak ada lagi sisa cahaya matahari. Pandangan di sekitar telaga benar-benar pekat. Perlahan-lahan muncul rembulan. Sinarnya menerobos daun-daun. Air telaga kembali terlihat.

Dan…. pria itu menggosok-gosok matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesosok tubuh perempuan berjalan mendekati tepian telaga. Astaga, dia memakai pakaian Laura yang hilang. Apakah itu Laura? Matanya dipicingkan untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bukan Laura. Ya, itu bukan Laura. Rambut Laura hanya sedikit di bawah bahu, tidak sepanjang itu.

Begitu tiba di pinggir telaga, perempuan itu melepaskan pakaiannya dan siap untuk menceburkan dirinya ke telaga. Pria itu semakin yakin bahwa perempuan itu bukan Laura.

Tapi siapa perempuan itu, kenapa dia mencuri pakaian Laura. Sejumput pertanyaan berkelebat di kepala pria itu. Matanya kembali memperhatikan perempuan itu berenang ke sana ke mari. Sendiri saja, namun dia kelihatan sangat lepas dan senang.

1c93ae52f950fb958120362eab7a694d

Terbetik pikiran untuk mengambil pakaian perempuan itu selagi dia menyelam, dan memberikannya pada Laura. Ide yang bagus, pikirnya. Maka dia mulai memindahkan pegangan tangan dan kakinya ke dahan yang lebih rendah. Sayang sekali dia kurang hati-hati. Dahan yang dipijaknya tidak kuat menahan beban tubuhnya, sehingga membuatnya patah, dan jatuh ke tanah, brukkk..!!!

Suara itu mengagetkan perempuan tersebut yang baru saja muncul dari dalam air. Matanya menyelidik dari mana datangnya suara. Dia bergerak ke tepian. Pria itu bersembunyi di balik dahan. Hati-hati sekali. Setelah merasa cukup aman, pandangannya kembali memperhatikan gerak-gerik perempuan tersebut yang mulai naik ke tepian telaga dan mendekati pakaiannya.

Air telaga masih bercucuran dari rambut dan tubuhnya. Benar-benar kecantikan yang sempurna, persis para bidadari yang telah terbang kembali ke kahyangan. Atau, jangan-jangan memang itu salah satu dari mereka yang sengaja kembali ke sini, tapi untuk apa? Mengapa pula memakai pakaian Laura.

Dan, byuurr… ternyata perempuan itu kembali menceburkan diri ke telaga. Berenang bebas ke sana ke mari. Muncul dan menyelam berkali-kali. Pria itu kini nekad untuk mencuri pakaiannya dan diberikan kepada pemiliknya: Laura.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (II)

Categories
Puisi

PENYATUAN

PENYATUAN

Kekasihku bulan purnama

datang dengan tergesa

mematahkan daun-daun jendela.

Aku tersungkur di beranda

di antara pecahan kaca.

Malam menyembunyikan bayangannya

di batang-batang pohon.

“Tidak perlu merasa bersalah,” ucapku sambil terhuyung

mendekap dada yang terluka.

Cahaya purnama terlalu terang

memancar dari tubuhnya yang telanjang

menyatu dengan darah yang mengucur

dari tubuhku

Kita saling mencintai

maka kita saling melukai

bukankah itu bukti

cinta sejati?!

—  Sol Marina,  Serpong –  Nopember  2015

Categories
Puisi

Doa Penawar Rindu

e430c45c2a5452be915413e0638dd9ef

DOA PENAWAR RINDU

Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih
melebihi kerinduanku kepada-Mu
ampuni aku!
Sebab, aku bukan penguasa atas apapun
yang terbersit di hatiku
melainkan Engkau.
Dan jika kecintaanku pada kekasih
melebihi kecintaanku kepada-Mu
maafkan aku!
Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa
yang berdenyut di jantungku
melainkan Engkau.

Dalam zikir-zikir yang kulantunkan
untuk memuji nama-Mu
tanpa sadar kusebut pula namanya.
Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru!
Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku
melainkan atas izin-Mu juga.
Dan dalam sujud-sujud malamku
untuk mengagungkan-Mu
kuagungkan pula namanya di hatiku.
Jangan kutuk aku, Tuhan
walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!

Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu
kepada Engkau pula kelak akan bermuara
aku hanya pendayung waktu
rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu
untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku.
Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh
yang akan kujalani selama hidupku
dan rindu ini sebagai ibadah
yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.

Gedung Film, Maret 2016

Baca juga: HATI

Categories
Puisi

KAU

Kau

Baca juga:

SAIL AND LAND

 

Categories
Puisi

SAIL AND LAND

 

br

 

 

SAIL

if I must sail later

I want to depart from your breasts

and land at your base

 

BERLAYAR

Kalau nanti aku harus pergi berlayar

aku ingin bertolak dari payudaramu

dan berlabuh di pangkalmu

 

Baca juga:

KAU

Categories
Puisi

[Puisi] SURAT CINTA UNTUK CORONA

Corona6

Surat Cinta untuk Corona

Dear Corona,

KUTULIS surat ini saat hujan turun di sore hari

Setelah panas terik yang membakar sepanjang siang tadi

Orang-orang berharap engkau tersungkur di tanah

Lalu bangkaimu diseret air hujan hingga jauh ke laut

Begitulah, sengaja kuawali surat ini dengan meringkas “kebencian kolektif” yang ditujukan kepadamu.

Agar engkau tahu di mana posisimu sejauh ini.

SEKARANG  tidak ada orang yang pergi ke taman untuk melihat pelangi

Atau mengikat janji dengan kekasihnya di sore hari yang indah

Mereka takut engkau ada di sana

Sebab saat ini engkau memang lebih menakutkan daripada nenek sihir dengan sapunya.

OH YA,  ngomong-ngomong soal nenek sihir, pernahkah kau mendengar cerita tentang penyihir yang seumur hidupnya tidak pernah tertawa?

Sekali waktu dia tertawa, seekor tikus bisa berubah menjadi gadis cantik. Alangkah saktinya.

ADA juga kisah tentang penyihir jahat yang jiwanya tersimpan dalam buah pir.

Begitu orang-orang tahu buah pir dapat menurunkan berat badan, penyihir itu mati berkali-kali. Karma bagi penjahat.

Kesaktianmu mungkin sama dengan para penyihir itu

(Dan mungkin juga kelemahanmu)

Abrakadabra!

Sekali tepuk engkau berhasil menaklukkan dunia

Mengubah aturan di semua negara

Memaksakan moralitas baru dalam hubungan sosial

Menghentikan kemacetan lalu lintas di kota-kota yang sibuk

Mengeluarkan orang-orang dari penjara dalam jumlah yang sangat besar

ENGKAU  juga memberi intrupsi pada pemahaman agama yang dogmatik

Mengusir kaum beriman dari rumah-rumah ibadah

Tapi memaksa orang untuk lebih dekat dengan Tuhan.

ENGKAU sebuah paradoks untuk kebatilan dan kebenaran

Nilai-nilai sekarang bukan hanya nisbi tapi jungkir balik

Banyak fenomena harus ditafsir ulang

JADI, engkau memang hebat, Corona

Tidak pernah ada yang bisa melakukan itu sebelumnya

Tapi tahukah kau bahwa seluruh dunia memusuhimu

Perang global sudah dideklarasikan untuk melawanmu

Dan engkau sendirian.

SAAT ini, bila kau lewat di kotaku

Orang-orang sudah mengenakan alat perlindungan diri

Kendaraan militer berjaga di setiap sudut dan tempat-tempat keramaian

Sesekali menyemprotkan tembakan ke udara dan pinggir jalan sehingga mengenai siapa saja

Seperti pasukan tempur yang menembak tanpa sasaran karena musuh tidak terlihat

ENGKAU telah membuat semua orang menjadi bodoh

Membuat malu negara-negara maju yang memiliki persenjataan paling canggih

Semua lumpuh, tidak berdaya di hadapanmu

Korban-korban kematian berjatuhan seperti daun-daun kering diterjang angin

ZAMAN yang murung bertambah murung

Kekerasan, kelaparan, kemiskinan, ada di mana-mana

Apalagi yang mau kau tambahkan

Menegakkan keadilan?

Silakan saja

Tapi lihat itu orang-orang yang kehilangan pekerjaan

Orang-orang yang dikuburkan tanpa didampingi keluarganya

Para malaikat pun tak sanggup berdiri di hadapan takdir mereka yang terasing

AAHHH… aku tidak tahu apalagi yang harus kutuliskan di sini, Corona

Tapi yang pasti sore ini sehabis hujan, aku ingin melihat kau menari bersama anak-anak di halaman

Tanpa mengancam

Tanpa ada korban

Itu saja.

WASSALAM

Ahmad Gaus

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Kepada Siapa Engkau Bicara

 

 

kubicki-woman-digital-art-portrait-computer-painting-photoshop-female-design

 

Kepada Siapa Engkau Bicara

 

Akhirnya kau tegakkan lagi kaki-kaki langit itu

Setelah hujan karbon, kiamat debu, dan tubuh-tubuh yang berubah jadi arang

Tapi kepada siapa engkau bicara jika pohon-pohon saja menutup telinga

Hewan-hewan piaraan mengungsi ke hutan

Sebab di sana mereka tidak perlu berpura-pura menjadi manusia.

 

Engkau tahu sejarah sedang berselisih paham dengan pikiran

Ia mengambil jalan lurus atau menikung

Tapi pikiran ingin berbalik arah

Maka duduk saja di persimpangan

Menunggu kereta lewat di keningmu.

 

Lihat, matahari keluar dari ruang pesta dengan tubuh limbung

Mungkin semalaman dicekoki minuman keras

Tapi mau bagaimana lagi, hari ini dia harus berangkat ke sekolah

Belajar lagi menghitung jumlah manusia di jalan raya, rumah ibadah,

gorong-gorong

Belajar lagi mengucapkan nama Tuhan dengan lidah yang lembut

Sementara kita tetap di sini

Mengenang mereka yang pernah menanam pohon-pohon cahaya

dengan wajah murung

Sebab kita tahu dunia sebenarnya sudah hancur

dalam pot bunga.

ahmadgaus

 

Kredit gambar:

Jarostaw Kubicki Mixes up the Media

Kredit Featured Image:

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] ELEGI BULAN APRIL — Catatan kelam wabah Corona

lockdown01

 

Elegi Bulan April

(Catatan kelam wabah Corona)

 

Ahmad Gaus

 

Kuantar Maret ke pintu gerbang dengan tubuh menggigil

Seperti melepas seekor burung merpati yang sakit pilek

Hujan terakhir telah kucatat pada petang hari yang muram

Pemakaman sepi dari orang-orang yang kehilangan keluarga,

kekasih, dan sahabat mereka

Tanah-tanah bercerita, kematian karena wabah penyakit

begitu lengang, begitu tiada

Seperti hidup itu sendiri yang hanya dilalui

 

Kita yang terbiasa merayakan kesedihan tak sanggup

menerima kenyataan bahwa mati adalah kesunyian

Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja

kita mengingkarinya dengan keramaian

dan bunyi-bunyian

 

Kita yang selalu berdoa melalui pengeras suara

kini hanya bisa mengirim doa dari pintu rumah yang tertutup rapat

Kendaraan dikunci, pasar-pasar dikunci, kota-kota dikunci

Besok tidak pasti siapa lagi yang akan diantarkan

oleh wabah ini ke pemakaman

Kita gelisah membayangkannya,

karena kita adalah tawanan paling lemah

dari ketidakpastian.

Ciputat, 01 April 2020

 

 

CORONA (Dewi Kahyangan)

 

Ahmad Gaus

 

Begitu banyak cerita tentang dirinya

Tapi dia tetaplah misteri

Ada yang bilang dia mikro-organisma belaka

Ada yang percaya dia adalah setan yang melarikan diri dari neraka

Atau para dewa yang turun ke bumi untuk kembali menguasai dunia

 

Aku sendiri lebih suka membayangkannya sebagai dewi kahyangan yang

datang berselendang bianglala

Begitu lembut namun perkasa, membentangkan sayapnya

dari timur ke barat

seperti menantang manusia

 

Dewi kahyangan meradang karena dicampakkan

dan kini menjelma kuntum mawar yang mengembara

dalam pikiran manusia

menusukkan duri-durinya dalam tidur mereka

 

Setiap malam orang-orang gelisah membayangkan kematian

kerlip bintang hilang dari pandangan

sajak-sajak cinta terasing dari kehidupan

hanya sosok tak kasat mata yang terbayang

seperti dewi kahyangan dalam cahaya bulan  

berjalan mendekat dan mengatakan ‘aku mencintaimu’

 

Ciputat, 01 April 2020

 

Puisi-puisi di atas dimuat juga dalam:

https://cakradunia.co/news/puisi-puisi-covid-19-ahmad-gaus/index.html#

——————–

Ahmad Gaus, adalah seorang dosen dan penulis. Ia mengajar matakuliah bahasa dan budaya di Swiss German University (SGU), Tangerang. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Kutunggu Kamu di Cisadane (Puisi Esai, 2013), dan Senja di Jakarta (2017).

Categories
Puisi

BENARKAH CINTA ITU ADA?

beaach

Benarkah Cinta itu Ada?

Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last.
(Ronan Keating, If Tomorrow Never Comes)

Bumi bertanya kepada langit, ‘benarkah ada cinta di antara kita?’
Beribu tahun lamanya langit tidak menjawab
Namun terus mengirimkan airmata
Agar kehidupan di bumi tetap ada

Kalau cinta ada di bibir cakrawala
Aku akan melumatnya hingga berdarah
Agar senja menetes indah
Di tubuh kita

Kalau cinta ada di mata purnama
Aku akan memeras selaputnya yang indah
Agar pagi meneteskan darah
Di jiwa kita

Bahkan seandainya esok hari tak pernah tiba
Dan cinta di dunia ini ternyata tidak pernah ada
Aku tetap ingin bersama

–ahmadgaus

Baca juga:  Lukisan Flamboyan

 

 

Categories
Puisi

Tangsel Spring

Tangsel

TANGSEL SPRING

Kawan
Pintu gerbang selatan telah dibuka
Matahari telah menunggu lama untuk menyematkan bunga
Pada rambut gadis-gadis jelita
Pada celak mata para pemuda yang tertimbun lumpur peradaban kota

Di kafe-kafe pinggir jalan
Kita biasa berbagi masa depan dalam secangkir kopi hitam
Setiap impian selalu kandas sebelum azan magrib berkumandang

Lampu-lampu jalan bisa kau pindahkan ke tubuhmu
Taman-taman yang indah bisa kau lukis dalam pikiranmu
Tapi impian, tidak
Sebab ia hanya milik segelintir nyonya dan tuan

Aku tidak berbicara tentang kekuasaan
Sebab itu terlalu mewah untuk para gadis dan jejaka yang hanya butuh lapangan pekerjaan
Aku berbicara tentang tipu daya yang berdiri megah
Di lubuk-lubuk kesadaran

Turunlah ke jalan, kawan
Sebab kau tidak akan bisa melihat gelandangan dan pengangguran
Dari lantai atas menara yang menjulang
Juga tumpukan sampah yang menebarkan bau busuk dan penyakit
Tujuh turunan

Kita biasa melepas kejenuhan di taman jajan
Diiringi gitar para pengamen jalanan
Atau tertawa terbahak di kafe-kafe
Di antara dentuman musik cadas Scorpions hingga Iwan Fals — Wind of Change hingga Bento, Bongkar
Tapi kita lupa bahwa telinga punya saluran ke otak
Inilah tragedi kita

Kawan
Sekarang pintu gerbang selatan telah dibuka
Gadis-gadis berhijab atau berambut panjang tergerai
Para pemuda berpeci atau bertato
Orang-orang tua dan anak-anak
Siap berpesta menyambut musim semi yang akan datang

Ciputat, 9 Maret 2020
Ahmad Gaus AF

Categories
Puisi

SEBUAH KAMAR

room2

SEBUAH KAMAR

Akhirnya kau pergi juga
kulipat daun pintu dan diam-diam
kumasukkan ke dalam tasmu
suatu hari nanti kau akan teringat
sebuah kamar di kepalaku
yang pintunya selalu terbuka — menghadap ke laut
tempat kau biasa berbaring seperti turis asing
sambil menikmati suara ombak
burung-burung camar menarik-narik rambutmu
hingga kau tertidur dan bermimpi
sedang berada di salon kecantikan
kau berdandan begitu meriah
seperti kota yang tengah berulang tahun.

“Aku pergi sekarang,” Katamu melepas pelukan.
“Duniaku menunggu di sana.”

Kota telah bersiap menyambutmu
berhias dengan lampu dari kunang-kunang
jalan-jalannya terbuat dari lidah orang-orang
yang tak kau kenal
gedung-gedungnya menjulang tinggi
melebihi keangkuhanmu
masuklah ke sana melalui pintu yang kuletakkan
di dalam tasmu, dan carilah kamar kosong
yang menghadap ke laut.

Jakarta, Juli 2019
IG: ahmadgaus68

 

Categories
Puisi

KAMU DAN BUKU

Selamat Hari Buku Nasional

 

7db004b68cf48ed66353bde533b8cc5f

KAMU DAN BUKU

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku
Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku
Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman
Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.

Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu
Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan
Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu
Sebab waktuku tidak akan cukup.

Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu
Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain
Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks
Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan
Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu
Tapi itu salah kamu juga, sih
Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu
Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.

Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial
Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku
Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat
Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks

Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran
Banyak penerbit sudah gulung tikar
Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah

Tapi itu hanya kesedihanku belaka
Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.

Gedung Film, 17 Mei 2019
Ahmad Gaus
Baca juga: Jalan Terjal